...

Survei Baru Mengungkapkan Ribuan Perempuan di Indonesia

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

Survei Baru Mengungkapkan Ribuan Perempuan di Indonesia
Survei Baru Mengungkapkan Ribuan Perempuan di Indonesia Menderita
Gangguan Tiroid
Hasil survey mengungkapkan bahwa lebih dari separuh wanita di Indonesia tidak pernah
mendengar tentang gangguan tiroid dan sembilan dari sepuluh orang tidak mengetahui
adanya pengobatan untuk penyakit tersebut. 1
Penyakit yang disebabkan oleh gangguan fungsi kelenjar tiroid ini kerap tidak terdeteksi
karena gejalanya sering disalahtafsirkan sebagai gejala penyakit lain, bahkan diabaikan
sama sekali. 2 Bila tidak ditangani dengan benar, gangguan tiroid dapat mengakibatkan
masalah kesehatan lain seperti penyakit jantung, osteoporosis, depresi dan cemas, infeksi,
disfungsi seksual, peningkatan risiko keguguran yang berulang serta infertilitas.
Survey dilakukan dengan mendata 1,220 wanita dan tanggapan dari 500 dokter di enam
kota besar di Indonesia: Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan Yogyakarta.
Hasil survei mengungkapkan bahwa 55% responden wanita tidak pernah mendengar
tentang gangguan tiroid dan 89% tidak mengetahui bahwa pengobatan untuk tiroid sudah
ada.1
Lebih dari separuh (57%) wanita memiliki pendapat yang salah dengan mengira bahwa
kelainan ini terkait dengan fungsi dan kondisi kelenjar getah bening. Yang lain berpikir
bahwa gangguan tiroid adalah salah satu jenis radang sendi yang menyebabkan inflamasi
kronis di tulang belakang (14%) atau penyakit nyeri kronis yang disebabkan inflamasi otak
(6%). Hanya 22% yang berhasil mengidentifikasi dengan benar bahwa gangguan tiroid
berkaitan dengan produksi hormon di kelenjar tiroid.1
Indonesia adalah negara dengan tingkat gangguan tiroid tertinggi di Asia Tenggara dengan
jumlah penderita lebih dari 1,7 juta. Wanita adalah penderita terbanyak yang mengalami
masalah yang ditimbulkan oleh gangguan tiroid.3,4,5 Dari jumlah penderita gangguan tiroid
yang menyadari gangguan kesehatan mereka, hanya satu persen yang menjalani
pengobatan. Ini tidak termasuk mereka yang belum terdiagnosa.1 Tentunya hal ini
menyebabkan diri mereka dan anak-anak mereka dalam risiko yang lebih besar lagi.
Prof. Dr. dr. Achmad Rudijanto, SpPD KEMD, Ketua PERKENI mengatakan, "Indonesia
mempunyai beberapa daerah endemis gangguan tiroid. Tentunya kita berharap agar situasi
ini tidak berlanjut di masa depan. Oleh sebab itu bersama-sama kita perlu mensosialisasikan
pentingnya deteksi dini gangguan tiroid. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah
dengan melakukan skrining gangguan tiroid pada bayi yang baru lahir. Skrining ini penting
karena jika gangguan tiroid pada seorang anak tidak terdeteksi lebih dari 2 tahun setelah
kelahirannya, maka gangguan tiroid yang ia alami dapat berubah menjadi gangguan tiroid
permanen dan anak pun bisa menderita gangguan perkembangan otak. Jika skrining
dilakukan dalam waktu 2-3 hari setelah kelahiran dan sang bayi terdeteksi memiliki
gangguan tiroid, penyakit ini masih bisa dikelola. Setiap orang punya peran dalam
mempromosikan deteksi dini gangguan tiroid kepada seluruh masyarakat Indonesia."
Survei yang merupakan bagian dari kampanye yang lebih luas berjudul “Bebaskan
dirimu dari gangguan tiroid” ini membuka permasalahan-permasalahan yang lebih kompleks,
khususnya bagi wanita dengan gangguan tiroid. Gejala yang paling umum dialami adalah
sakit kepala (76%), sulit tidur (45%), cemas dan mudah marah (44%), letih dan lemah otot
(40%), serta mual (40%).1
Selain gejalanya yang sangat luas, terungkap pula bahwa separuh responden wanita tidak
mencari pertolongan medis. Beragam alasannya. Lebih dari separuh (53%) responden
wanita mengatakan bahwa mereka hanya pergi ke dokter kalau sudah benar-benar sakit.
Mereka tidak menyangka bahwa gejala-gejala yang mereka alami diakibatkan oleh penyakit
yang lebih serius (46%). Kurang lebih seperempat (20%) dari mereka mengungkapkan
bahwa biaya menjadi penyebab mereka tidak mencari petolongan medis.1
Sebagian besar dari penderita mengaku harus mengambil cuti dari kerja akibat gejala-gejala
tersebut. Empat dari lima penderita akhirnya mengambil cuti karena depresi (82%), dua dari
tiga penderita (64%) mengambil cuti karena kelelahan dan lemah otot dan lebih dari
setengah (55%) mengambil cuti karena mual-mual.1
Gangguan tiroid pada anak-anak
Gangguan tiroid memiliki potensi bahaya sangat besar bagi bayi dan anak-anak dan dapat
mempengaruhi pertumbuhan fisik, intelektual, serta perkembangan sosial mereka. Gejala
yang paling umum dilaporkan oleh ibu yang memiliki anak dengan gangguan tiroid adalah
kesulitan makan (67%), kelelahan (62%), sulit tidur (49%), dan kenaikan berat badan yang
sangat rendah karena kurangnya nafsu makan (40%).1
Para ibu yang disurvei juga melaporkan bahwa perkembangan sosial anak-anak mereka
dapat terpengaruh oleh gangguan tiroid. Lebih dari setengahnya (55%) mengatakan bahwa
anak mereka enggan untuk bermain dengan teman-teman dan keluarga. Yang lain
mengatakan bahwa anak mereka akhirnya cuti sekolah (45%), merasa kurang percaya diri
yang diakibatkan oleh gejala-gejala yang mereka alami (41%), dan hampir seperempat
(24%) melaporkan bahwa anak mereka tidak memiliki teman.1
Berkaitan dengan perkembangan sosial dan kesejahteraan, anak-anak bisa sangat
terpengaruh oleh gangguan tiroid terutama di Surabaya dan Medan: 30% dari anak-anak
yang disurvei merasa tertekan akibat dari gejala yang mereka alami.1
Selain gejala-gejala tersebut, hampir 20% orang tua di seluruh Indonesia mengakui bahwa
anak mereka tidak mendapatkan pengobatan untuk gangguan tiroid. Meskipun demikian,
Semarang ternyata sangat progresif: 100% orang tua membawa anak-anak mereka ke
tenaga profesional kesehatan untuk berobat. Bandung dan Surabaya berada di belakang:
30% dari anak-anak yang menderita gangguan tiroid tidak mendapatkan pengobatan sama
sekali.1
Kesadaran tenaga profesional kesehatan dan tingkat diagnosa
Dari hasil pengumpulan tanggapan para dokter, yaitu dari 350 yang bekerja di tempat
praktek umum dan 150 di rumah sakit, ditemukan bahwa rata-rata dokter penyakit dalam
mendiagnosa jauh lebih banyak pasien gangguan tiroid dalam sebulan dibandingkan
dengan dokter–5,4 banding tiga. Sembilan dari sepuluh pasien yang diduga menderita
gangguan tiroid ternyata terbukti menderita gangguan tiroid.1
Gejala yang paling umum ditemukan oleh dokter adalah tangan gemetar (100%), keringat
berlebih (93%), perubahan berat badan meskipun makan dengan normal (92%), denyut
jantung sangat cepat (88%), dan meningkatnya sensitivitas pada suhu hangat dan dingin
(86%). Depresi berada di bagian bawah daftar gejala gangguan tiroid (55%), meskipun fakta
menyatakan bahwa ini adalah masalah besar bagi wanita dan salah satu gejala gangguan
tiroid paling umum.1
Ketika para dokter ditanya mengapa pasien tidak mencari bantuan awal untuk gangguan
tiroid, hampir separuh (49%) mengakui wanita sering enggan untuk mencari bantuan medis
untuk gejala non-spesifik, seperti kecemasan.1 Hal ini meningkatkan risiko wanita untuk
tidak terdiagnosa. Di lain pihak wanita dari kelompok ini juga melaporkan bahwa sebagian
besar dokter (94%) tidak proaktif membahas gangguan tiroid dengan mereka.1
Sejumlah besar dokter (67%) setuju terhadap kebutuhan skrining tiroid rutin untuk gangguan
tiroid. Namun, banyak dokter tidak mengetahui adanya program ini di Kementerian
Kesehatan: 83% dokter di Bandung dan 44% dokter di Surabaya mengatakan bahwa
mereka tidak pernah mendengar tentang program ini.1
Hasil survei menggarisbawahi adanya kesenjangan yang cukup besar mengenai bagaimana
kita mengenali, mendiagnosa, dan mengobati gangguan tiroid di Indonesia. Mereka yang
mengalami gejala-gejala tiroid dan para ibu yang khawatir bahwa anak mereka mungkin
mengidap gangguan tiroid harus bertanya kepada tenaga profesional kesehatan tentang tes
untuk gangguan tiroid. Bagi kepentingan kesehatan bangsa, kita harus mengatasi masalah
ini: gangguan tiroid adalah masalah yang sangat serius namun sangat mungkin untuk
diobati.
#####
Untuk informasi lebih lanjut:
Catatan untuk Editor
Survei ini dilakukan oleh IMS Health, antara bulan Januari dan Maret 2015. Survei
mencakup 1.720 orang: 660 wanita berisiko tinggi yang tidak terdiagnosa karena usia (lebih
dari 50), kehamilan, atau depresi; 180 wanita yang terdiagnosa gangguan tiroid; 150
perempuan dengan anak-anak terdiagnosa gangguan tiroid, 230 wanita yang melahirkan
dalam 6 bulan terakhir.
Terkait domisili responden, 240 berasal dari Jakarta, 180 dari Bandung, 180 dari Semarang,
220 dari Surabaya, 220 dari Medan, dan 180 dari Yogyakarta. Dari jumlah tersebut, 55%
mengunjungi fasilitas kesehatan pemerintah dan 45% adalah pasien swasta.
Tiga puluh dua persen dari responden perempuan berusia 25-35 tahun dan 68% berusia
antara 36-45 tahun.
Survei ini juga melibatkan 500 tenaga professional kesehatan - 350 dokter umum dan 150
internis. Dari jumlah tersebut, 140 berasal dari Jakarta, 60 dari Bandung, 45 dari Semarang,
130 dari Surabaya, 80 dari Medan, dan 45 dari Yogyakarta.
Survei ini diselenggarakan oleh Merck Serono.
Tentang Merck Serono
Merck Serono adalah divisi biofarmasi dari Merck. Berkantor pusat di Darmstadt, Jerman,
Merck Serono memproduksi obat-obat dengan merek terkemuka di 150 negara, untuk
membantu pasien kanker, multiple sklerosis, infertilitas, endokrin dan gangguan
metabolisme serta penyakit kardiovaskular. Di Amerika Serikat dan Kanada, EMD Serono
beroperasi sebagai anak perusahaan terpisah dari Merck Serono.
Merck Serono menemukan, mengembangkan, memproduksi, dan memasarkan obat-obat
resep baik yang berasal dari senyawa kimia dan maupun biologis untuk indikasi khusus.
Kami mempunyai komitmen jangka panjang untuk memberikan terapi terkini di bidangbidang yang merupakan fokus utama kami yaitu neurologi, onkologi, immune-onkologi, dan
imunologi.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi website kami di http://merckserono.com.
Tentang Penyakit Tiroid
Lebih dari 1,7 juta orang di Indonesia menderita beberapa jenis gangguan tiroid dan
meskipun masalah ini menjadi kondisi kesehatan umum, gangguan tiroid pada beberapa
pasien bisa tidak terdiagnosa selama bertahun-tahun. 3,4,5,6
Gangguan tiroid serius dapat mempengaruhi kualitas hidup dan memiliki dampak yang
besar pada kehidupan sehari-hari.6 Penting bagi wanita Indonesia untuk menyadari tandatanda dan gejala gangguan tiroid serta mencari bantuan untuk gangguan tersebut.
Gangguan tiroid mengacu pada kondisi yang disebabkan oleh kelenjar tiroid yang tidak
berfungsi dengan normal yang menyebabkan terlalu sedikit atau terlalu banyak hormon tiroid
dalam darah. 7
Dua jenis utama gangguan tiroid yaitu hipertiroidisme atau kadar tiroid darah yang
berlebihan dan hipotiroidisme atau kadar tiroid darah yang kurang dari normal, disebabkan
oleh produksi hormon tiroid yang berlebihan atau kurang. Hipertiroidisme dapat
menyebabkan kerja organ tubuh menjadi lebih cepat sementara hipotiroidisme dapat
menyebabkan kerja organ tubuh menjadi lebih lambat. 8,9
1
Data on file: Thyroid Disease Study, conducted by IMS Health on behalf of Merck Serono, January to March
2015 in 1,720 people in six Indonesian cities
2
3
4
5
6
7
8
9
British Thyroid Association. 2006. UK Guidelines for the Use of Thyroid Function Tests. Available at:
http://www.british-thyroid-association.org/info-for-patients/Docs/TFT_guideline_final_version_July_2006.pdf.
Last accessed May 2015
Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Ri Tahun. 2013. Riskesdas 2013.
Worldbank. Population, total. Available at: http://data.worldbank.org/indicator/SP.POP.TOTL. Last accessed
May 2014.
Purnamasari D, et al. 2013. Indonesian Clinical Practice Guidelines for the Management of Thyroid
Dysfunction During Pregnancy. JAFES 28(1):18-20
Watts T, et al. Confirmatory factor analysis of the thyroid-related quality of life questionnaire ThyPRO. Health
Qual Life Outcomes, 2014; 12:126.
Khan A, et al. Thyroid Disorders, Etiology and Prevalence. J Med Sci, 2002; 2: 89-94.
The American Thyroid Association. 2012. Hyperthyroidism. Available at: http://www.thyroid.org/wpcontent/uploads/patients/brochures/Hyper_brochure.pdf. Last accessed May 2014.
The American Thyroid Association. 2012. Hypothyroidism. Available at: http://www.thyroid.org/wpcontent/uploads/patients/brochures/Hypothyroidism_web_booklet.pdf. Last accessed May 2014.
Fly UP