...

studi daya dukung pondasi dangkal pada tanah gambut

by user

on
Category: Documents
8

views

Report

Comments

Transcript

studi daya dukung pondasi dangkal pada tanah gambut
STUDI DAYA DUKUNG PONDASI DANGKAL PADA TANAH
GAMBUT MENGGUNAKAN KOMBINASI PERKUATAN ANYAMAN
BAMBU DAN GRID BAMBU DENGAN VARIASI LEBAR DAN JUMLAH
LAPISAN PERKUATAN
Angelina Usman
Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Universitas Sriwijaya
Jl. Raya Prabumulih KM 32 Indralaya, Sumatera Selatan
E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Pembangunan konstruksi di atas tanah gambut semakin sering dilakukan karena kebutuhan lahan untuk pembangunan
yang semakin lama semakin sempit. Kendala yang dihadapi pada pembangunan di tanah gambut diantaranya adalah daya
dukung tanah yang rendah. Dalam penelitian ini, anyaman bambu dan grid bambu digunakan sebagai material perkuatan yang
diharapkan dapat menjadi alternatif material perkuatan untuk meningkatkan daya dukung tanah gambut yang digunakan
sebagai tanah dasar dari pondasi dangkal dengan variasi lebar perkuatan dan jumlah lapis perkuatan. Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui peningkatan daya dukung dari setiap variasi dengan nilai daya dukung tanpa perkuatan.
Metodologi peneltian yang digunakan adalah pengujian dengan skala laboratorium. Data yang didapatkan dari pengujian
tersebut kemudian dianalisa dengan membandingkan nilai daya dukung antara tanah tanpa perkuatan dengan menggunakan
perkuatan yang dinyatakan dalam Bearing Capacity Ratio (BCR). Dari studi model di laboratorium diperoleh hasil bahwa
dengan adanya penambahan dimensi perkuatan dan penambahan jumlah lapis perkuatan akan memberikan angka rasio daya
dukung (BCR) yang semakin besar. Setelah diuji variasi lebar perkuatan 2B, 3B, dan 4B dengan jumlah lapisan 1 lapis, 2 lapis
dan 3 lapis diperoleh kombinasi yang memberikan nilai daya dukung tertinggi adalah penggunaan 3 lapis perkuatan dengan
lebar 4B (B adalah lebar pondasi). Nilai daya dukung tersebut sebesar 23,11 kPa dengan rasio daya dukung (BCR) sebesar
4,272 atau persen peningkatannya sebesar 327,2%.
Kata Kunci : BCR, daya dukung tanah, grid bambu, anyaman bambu, tanah gambut
ABSTRACT
The constructions on peat soil are increasingly being carried out due to the need of land for the construction narrowed.
The problem that faced in construction of peat soils is low soil bearing capacity. In this research, woven bamboo and bamboo
grid is used as a reinforcement material that is expected to be an alternative to increase the bearing capacity of peat soil which
is used as the based of shallow foundation with a wide and the layer’s number variation of reinforcement. The purpose of this
study is to determine the increase in the bearing capacity of each variation to the value of bearing capacity without
reinforcement. The research methodologies used is laboratory-scale testing. The data obtained from these tests were analyzed by
comparing the value of bearing capacity between unreinforced soils and reinforced soils referred as Bearing Capacity Ratio
(BCR). From the model in laboratory studies indicate that the increasing of reinforcement dimensions and reinforcement layers
is propotional with the increasing of BCR. After tested, the variation of reinforcement dimensions 2B, 3B and 4B with
reinforcement layers one layer, two layers and three layers shown that the combination that gives maximum BCR is the use of
three layer reinforcement with width 4B ( B is the width of the foundation ) . The maximum value of qu is 23,11 kPa with a
bearing capacity ratio ( BCR ) 4.272 or the increasing persent 327.2 % .
Keywords : BCR , soil bearing capacity , grid bamboo, woven bamboo, peat soil
1.PENDAHULUAN
Kebutuhan lahan akan pembangunan yang
semakin lama semakin sempit, menyebabkan banyak
bangunan didirikan pada lapisan tanah dengan kondisi
yang kurang baik seperti tanah lunak. Salah satu jenis
tanah lunak adalah tanah gambut. Tanah gambut
mempunyai daya duung yang rendah, sehingga
pembangunan konstruksi di atas tanah gambut akan
menimbulkan beberapa permasalahan. Oleh sebab itu,
perbaikan tanah gambut harus dilakukan sebelum
melakukan pembangunan konstruksi.
Salah satu teknik perbaikan tanah yang umum
digunakan lunak adalah perbaikan secara fisik, yaitu
ISSN : 2355-374X
dengan penggunaan material geotextile. Namun
penggunaan geotextile untuk mengatasi permasalahan
diatas dapat mendatangkan masalah baru apabila lokasi
pembangunan berada di daerah daerah terpencil, karena
untuk mendatangkan geotextile akan mengeluarkan
biaya yang cukup besar.
Permasalahan tersebut dapat diatasi apabila
dilakukan penelitian terhadap sumber-sumber bahan
lokal yang ada untuk dimanfaatkan sebagai bahan
pengganti geotextile seperti penggunaan anyaman
bambu yang berfungsi sebagai pemisah (separator)
tanah dasar dengan timbunan, yaitu tanah gambut
dengan pasir, dan juga penggunaan grid bambu yang
297
Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan
Vol. 2, No. 3, september 2014
Usman,A. : Studi Daya Dukung Pondasi Dangkal pada Tanah Gambut Menggunakan Kombinasi Perkuatan
Anyaman Bambu dan Grid Bambu dengan Variasi Lebar dan Jumlah Lapisan Perkuatan
Tipe keruntuhannya hampir sama dengan
keruntuhan geser umum. Akan tetapi bidang
runtuh yang terbentuk tidak berkembang sehingga
tidak mencapai permukaan tanah. Pada keruntuhan
geser lokal ini terjadi sedikit penggembungan
tanah di sekitar pondasi tetapi tidak sampai terjadi
penggulingan pondasi.
mempunyai fungsi sama seperti geogrid, yaitu sebagai
perkuatan.
Pada Penelitan ini akan digunakan teknik
perbaikan menggunakan anyaman bambu dan grid
bambu sebagai perkuatan untuk meningkatkan daya
dukung tanah gambut pada bangunan dengan pondasi
dangkal. Pengujian yang dilakukan adalah Pemodelan
pondasi dangkal diatas tanah gambut yang diberikan
perkuatan dengan variasi lebar perkuatan dan variasi
jumlah lapisan perkuatan dengan skala laboratorium.
Dengan penelitian ini diharapkan penggunaan anyaman
bambu dan grid bambu dapat menjadi alternatif sebagai
bahan pengganti geotextile dan geogrid untuk
meningkatkan daya dukung tanah gambut yang
digunakan sebagai tanah dasar dari pondasi dangkal.
c.
Keruntuhan Penetrasi (Punching Shear Failure)
Keruntuhan penetrasi merupakan kondisi
dimana pondasi hanya menembus dan menekan
tanah ke samping yang menyebabkan pemampatan
tanah di dekat pondasi. Penurunan pondasi
bertambah secara linier dengan penambahan
bebannya. Pada saat terjadi keruntuhan, bidang
runtuh tidak terlihat sama sekali.
Perancangan pondasi harus mempertimbangkan
adanya keruntuhan geser dan penurunan yang
berlebihan, oleh karena itu kriteria stabilitas dan kriteria
penurunan harus dipenuhi. Dalam perencanaan pondasi
dangkal perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut.
Faktor keamanan terhadap keruntuhan akibat
terlampauinya kapasitas dukung tanah harus dipenuhi.
Penurunan pondasi harus berada dalam batas-batas
nilai yang ditoleransikan. Untuk penurunan yang tidak
seragam, tidak boleh terjadi kerusakan pada struktur.
Untuk memenuhi stabilitas jangka panjang,
perletakan dasar pondasi perlu diperhatikan. Pondasi
harus diletakkan pada kedalaman yang cukup untuk
menanggulangi resiko erosi permukaan, gerusan,
kembang susut tanah dan gangguan lainnya pada tanah
di sekitar pondasi.
2.TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui besarnya daya dukung dan penurunan
pondasi dangkal di atas tanah gambut sebelum
diberi perkuatan.
2. Mengetahui besarnya daya dukung dan penurunan
pondasi dangkal di atas tanah gambut setelah
diberi perkuatan dengan variasi lebar perkuatan
dan variasi jumlah lapisan yang digunakan.
3. Membandingkan daya dukung dari setiap variasi
dengan nilai daya dukung tanpa perkuatan.
2.1 TINJAUAN PUSTAKA
1.Pondasi
Pondasi adalah bagian struktur paling bawah dari
suatu bangunan yang berfungsi sebagai penopang
bangunan. Pondasi yang merupakan konstrusi bangunan
bagian paling bawah dapat di klasifikasikan menjadi
dua jenis, yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam.
Contoh pondasi dangkal antara lain pondasi telapak,
pondasi memanjang dan pondasi rakit. Sedangkan
pondasi dalam didefinisikan sebagai pondasi yang
meneruskan beban struktur di atasnya ke tanah keras
atau batuan yang terletak jauh dari permukaan. Contoh
pondasi dalam antara lain pondasi tiang dan pondasi
sumuran.
Pondasi dangkal adalah pondasi yang ditempatkan
dengan kedalaman D dibawah permukaan tanah yang
kurang dari lebar minimum pondasi (B), dengan kata
lain pondasi dangkal merupakan pondasi yang
kedalamannya dekat dengan permukaan tanah (D/B≤1).
Perencanaan pondasi sangat memperhatikan faktor
daya dukung tanah. Kurangnya daya dukung pada
pondasi dapat menyebabkan keruntuhan pondasi.
Berdasarkan hasil uji model, Vesić (1963) membagi
mekanisme keruntuhan pondasi menjadi tiga macam,
yaitu:
a. Keruntuhan Geser Umum (General Shear Failure)
Keruntuhan geser umum adalah keruntuhan
yang terjadi pada tanah yang tidak mudah mampat,
yang mempunyai kekuatan geser tertentu atau
dalam keadaan terendam. Keruntuhan ini terjadi
dalam waktu yang relatif mendadak yang
kemudian diikuti dengan penggulingan pondasi.
b.
2.Tanah Gambut
Gambut (Peat) merupakan campuran dari fragmen
material organik yang berasal dari tumbuh–tumbuhan
yang telah berubah sifatnya secara kimiawi dan menjadi
fosil. Material gambut yang berada dibawah permukaan
mempunyai daya mampat yang tinggi dibandingkan
dengan material tanah yang umumnya (Mac Farlane,
1958).
Tanah Gambut memiliki sifat fisik yang berbeda
dengan jenis tanah lainnya. Dari beberapa penelitian
yang dilakukan menunjukkan bahwa, sifat fisik tanah
gambut yang rendah (angka pori besar, kadar air tinggi
dan berat volume tanah kecil), terlebih tanah gambut
merupakan tanah non kohesi.
Menurut Mac Farlane (1969), berdasarkan kadar
serat tanah gambut dapat digolongkan menjadi :
a. Fibrous Peat, merupakan tanah gambut yang
mempunyai kandungan serat sebesar 20% atau
lebih, dan gambut ini mempunyai dua jenis pori
yaitu makropori (pori diantar serat) dan mikropori
(pori yang ada didalam serat-serat yang
bersangkutan). Fibrous peat mempunyai perilaku
yang sangat bebeda dengan tanah lempung
disebabkan adanya serat-serat dalam tanah
tersebut.
b. Amorphous Granular Peat, merupakan gambut
yang mempunyai kandungan serat kurang dari
20% dan terdiri dari butiran dengan ukuran
koloidal (2µ), serta sebagian besar air porinya
Keruntuhan Geser Lokal (Local Shear Failure)
ISSN : 2355-374X
298
Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan
Vol. 2, No. 3, Septembar 2014
Usman,A. : Studi Daya Dukung Pondasi Dangkal pada Tanah Gambut Menggunakan Kombinasi Perkuatan
Anyaman Bambu dan Grid Bambu dengan Variasi Lebar dan Jumlah Lapisan Perkuatan
Daya dukung ultimit untuk pondasi memanjang:
Qu =cNc + PoNq + 0,5γBNγ..................................(Pers.6.)
terserap di sekeliling permukaan butiran gambut.
Karena kondisi tersebut, tanah gambut jenis ini
mempunyai sifat yang menyerupai tanah lempung.
Von Post mengklasifikasikan tanah gambut
berdasarkan ciri fisik yang dinamakan sebagai Von Post
Scale yaitu metode lapangan dengan melihat tingkat
dekomposisi, warna, struktur dan jumlah materi
mineral. Von Post Scale membagi gambut menjadi 10
kategori.
dimana:
Qu
= daya dukung ultimit untuk pondasi
memanjang (kN/m2)
c
= kohesi tanah (kN/m2)
Df
= kedalaman pondasi (m)
γ
= berat volume tanah (kN/m3)
= Df.γ = tekanan overburden pada dasar
Po
pondasi (kN/m2)
Nc, Nq, Nγ = faktor daya dukung Terzaghi
3.Daya Dukung Tanah
Daya dukung tanah adalah parameter tanah yang
berkenaan dengan kekuatan tanah yang menopang suatu
beban di atasnya. Daya dukung tanah dipengaruhi oleh
jumlah air yang terdapat di dalamnya, kohesi tanah,
sudut geser dalam, dan tegangan normal tanah.
Daya dukung tanah merupakan salah satu faktor
penting dalam perencanaan pondasi beserta struktur
diatasnya. Daya dukung yang diharapkan untuk
mendukung pondasi adalah daya dukung yang mampu
memikul beban struktur, sehingga pondasi mengalami
penurunan yang masih berada dalam batas toleransi.
Tanah memiliki sifat untuk meningkatkan
kepadatan dan kekuatan gesernya apabila mendapat
tekanan berupa beban. Apabila beban yang bekerja pada
tanah pondasi telah melampaui daya dukung batasnya,
tegangan geser yang ditimbulkan di dalam tanah
melampaui ketahanan geser pondasi, maka akan terjadi
keruntuhan geser pada tanah pondasi.
Daya dukung ultimit didefinisikan sebagai tekanan
terkecil yang dapat menyebabkan keruntuhan geser pada
tanah pendukung tepat di bawah dan di sekeliling
pondasi. Daya dukung ultimit suatu tanah terutama di
bawah beban pondasi dipengaruhi oleh kuat geser tanah.
Nilai kerja atau nilai izin untuk desain akan ikut
mempertimbangkan
karakteristik
kekuatan
dan
deformasi.
1. Analisis Skempton
Analisa Skempton mengenai daya dukung ultimit
pondasi memanjang Qu dan daya dukung ultimit neto
Qun dinyatakan dalam persamaan-persamaan berikut.
Qu = cu Nc + Df γ................................................(Pers.1.)
Qun = cu Nc ..........................................................(Pers.2.)
Untuk bentuk – bentuk pondasi yang lain Terzaghi
memberikan pengaruh faktor bentuk terhadap daya
dukung ultimit yang didasarkan pada analisis pondasi
memanjang sebagai berikut:
a.
b.
c.
Untuk pondasi bujur sangkar
Qu = 1,3 c Nc + Po Nq + 0,4 γ B Nγ.............(Pers.7.)
Untuk pondasi lingkaran
Qu = 1,3 c Nc + Po Nq + 0,3 γ B Nγ.............(Pers.8.)
Untuk pondasi persegi panjang
Qu = c Nc (1+0,3B/L) + Po Nq + 0,5 γ B Nγ (1-0,2
B/L)....................................................(Pers.9.)
dimana:
Qu
c
γ
Df
Po
= daya dukung ultimit (kN/m2)
= kohesi tanah (kN/m2)
= berat volume tanah (kN/m3)
= kedalaman pondasi (m)
= γ. Df = tekanan overburden pada dasar
pondasi (kN/m2)
B
= lebar atau diameter pondasi (m)
L
= panjang pondasi (m)
Nc, Nq, Nγ = faktor daya dukung Terzaghi
4. Perkuatan
Perkuatan tanah didefenisikan sebagai suatu
inklusi elemen- elemen penahan ke dalam massa tanah
yang bertujuan untuk menaikan perilaku mekanis tanah.
Perkuatan tanah adalah salah satu cara atau metode
perbaikan tanah yang dimaksudkan untuk meningkatkan
daya dukung tanah.
Menurut Jones (1996), aplikasi perkuatan tanah
meliputi permasalahan pekerjaan jembatan, bendungan,
timbunan pondasi, jalan dan jalan kereta api.
dimana:
= daya dukung ultimit (kN/m2)
Qu
= daya dukung ultimit neto (kN/m2)
Qun
Df
= kedalaman pondasi (m)
γ
= berat volume tanah (kN/m3)
= kohesi tak terdrainase (kN/m2)
cu
= faktor daya dukung Skempton
Nc
1.
Untuk pondasi empat persegi panjang (dengan
panjang L dan lebar B), daya dukung ultimit dinyatakan
dengan persamaan sebagai berikut:
Qu = (0,84+0,16 B/L)cu Nc(bs) + Dfγ....................(Pers.3.)
dan daya dukung ultimit neto:
Qun = (0,84 + 0,16 B/L)cu Nc(bs)...........................(Pers.4.)
2.
2. Analisis Terzaghi
Qu = ...............................................................(Pers.5.)
Jenis – jenis material perkuatan yang ada:
Strip Reinforcement
Perkuatan tipe ini merupakan elemen yang
fleksibel, biasanya memiliki lebar (b) yang lebih
besar dari tebalnya (t). Biasanya tebalnya berkisar
3-20 mm dan b = 30-100 mm. Yang paling luas
digunakan adalah strip logam. Strip juga dapat
dibuat dari alang – alang atau bambu.
Grid
Perkuatan grid dibentuk member arah tanversal
dan longitudinal. Tujuan utama dari member
longitudinal adalah untuk menahan agar member
ISSN : 2355-374X
299
Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan
Vol. 2, No. 3, Septembar 2014
Usman,A. : Studi Daya Dukung Pondasi Dangkal pada Tanah Gambut Menggunakan Kombinasi Perkuatan
Anyaman Bambu dan Grid Bambu dengan Variasi Lebar dan Jumlah Lapisan Perkuatan
3.
tranversal tetap pada posisinya. Grid dapat dibuat
dari baja atau polimer.
Perkuatan
Bentuk
Lembaran
(Sheet
Reinforcement)
Material perkuatan lembaran yang umum dipakai
adalah geotekstil. Geotekstil dibagi menjadi dua
tipe yaitu woven dan non woven. Geotekstil non
woven terdiri dari susunan yang acak dari serat
yang terikat akibat panas yang diberikan dalam
proses pembuatannya. Geotekstil woven terdiri atas
serat yang disusun dengan cara dianyam.
Pengujian dilakukan dengan memberikan beban
kepada tanah menggunakan dongkrak, besar beban yang
diberikan pada tanah akan dibaca oleh load cell yang
kemudian akan disambungkan ke data logger
bersamaan dengan penurunan yang dibaca oleh LVDT.
Sketsa model pengujian dapat dilihat pada Gambar 1.
5. Bearing Capacity Ratio (BCR)
Bearing Capacity Ratio (BCR) adalah nilai yang
didapat setelah dilakukan analisis dimensionless. BCR
sendiri merupakan rasio antara daya dukung ultimit
tanah pondasi yang diperkuat dengan daya dukung
ultimit tanah pondasi yang tidak diperkuat yang
dinyatakan dalam persen (%). Nilai BCR ini nantinya
digunakan untuk mengetahui kinerja perkuatan dalam
menaikkan daya dukung tanah pondasi.
BCR
= .......................................(Pers.11.)
Gambar 1. Pemodelan Benda Uji
Dari pengujian didapat nilai penurunan dan beban.
Sehingga dengan korelasi antara beban dan penurunan
dapat diketahui nilai daya dukung tanah ultimate pada
masing-masing variasi perkuatan.
Setelah didapat daya dukung dengan perkuatan
maka dibandingkan antara daya dukung tanpa perkuatan
dengan daya dukung menggunakan perkuatan sehingga
didapat nilai BCR. Nilai BCR untuk melihat
peningkatan yang terjadi pada daya dukung tanah tanpa
perkuatan dengan daya dukung tanah menggunakan
perkuatan.
dimana:
qr
qo
= Daya dukung ultimit tanah pondasi yang
diperkuat
= Daya dukung ultimit tanah pondasi yang
tidak diperkuat
6. Bambu
Bambu adalah material jenis kayu yang dapat
dipergunakan sebagai bahan konstruksi, baik sebagai
bahan primer ataupun sekunder. Bambu merupakan
salah satu jenis kayu yang bisa didapatkan hampir di
seluruh daerah di Indonesia. Jenis kayu ini banyak
dipakai sebagai struktur bangunan karena harganya
yang relatif murah. Bila dibandingkan dengan bahan
lainnya bambu memiliki beberapa kelebihan
diantaranya batangnya kuat, ulet, lurus, rata dan keras.
Selain itu bambu juga mudah dibelah, dibentuk dan
dikerjakan, serta ringan sehingga mudah untuk diangkut
dan dapat dikerjakan dengan alat-alat yang sederhana.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Daya Dukung Tanah Tanpa Perkuatan
Daya dukung tanah tanpa perkuatan didapat dari
perhitungan menggunakan persamaan Terzaghi. Kondisi
tanah gambut dengan nilai :
cu = 0,01 kg/cm2
γ = 0,07 gr/cm3 = 7.10-5 kg/cm3
Df = 0
B = 15 cm
Ø = 1,57°
Menghasilkan daya dukung sebesar 5,41 kPa.
3. METODOLOGI PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
merupakan metode penelitian dengan pemodelan dan
pengujian laboratorium yang dilakukan di Laboratorium
Mekanika Tanah, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas
Teknik, Universitas Sriwijaya.
Tanah yang digunakan dalam penelitian ini adalah
tanah gambut di Palem Raya, Indralaya. Pada penelitian
ini menggunakan model pondasi terbuat dari pelat baja
berukuran 15cm x 15cm x 2cm sedangkan bak uji
berukuran 90cm x 90cm x 100cm.
Material yang digunakan sebagai perkuatan adalah
grid bambu dan anyaman bambu. Bambu yang
digunakan adalah jenis bambu tali dari daerah Tanjung
Sejaro, Ogan Ilir.
Pemodelan dilakukan dengan menggunakan variasi
lebar perkuatan 2B, 3B, dan 4B (B adalah lebar
pondasi) dan variasi jumlah lapis perkuatan dengan
kedalaman tetap.
ISSN : 2355-374X
4.2 Daya Dukung Menggunakan Perkuatan
Setelah dilakukan pengujian pembebanan dengan
variasi lebar perkuatan 2B;3B;4B, dan jumlah lapisan
perkuatan dengan kedalaman tetap yaitu 0,5B,
didapatkan daya dukung terbesar terdapat pada variasi
lebar perkuatan 4B dengan 3 lapisan perkuatan yaitu
senilai 23,11 kPa. Grafik hubungan beban-penurunan
dapat dilihat pada Gambar 2 dan nilai daya dukung
ultimit untuk masing – masing variasi tersebut dapat
dilihat pada Tabel 1.
300
Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan
Vol. 2, No. 3, Septembar 2014
Usman,A. : Studi Daya Dukung Pondasi Dangkal pada Tanah Gambut Menggunakan Kombinasi Perkuatan
Anyaman Bambu dan Grid Bambu dengan Variasi Lebar dan Jumlah Lapisan Perkuatan
Tabel 2. Rekapitulasi daya dukung, BCR dan
persentase peningkatan BCR
Variasi
Tanpa
Perkuatan
-
-
2B
(30cmx30cm)
Variasi
Lebar
(kedalaman
tetap
sebesar
0,5 B)
3B
(45cmx45cm)
2B
(60cmx60cm)
Gambar 2. Grafik Hubungan Penurunan – Beban
Menggunakan 3 Lapis Perkuatan
dengan Lebar 4B
Jumlah
Lapis
Sampel
qu
(kPa)
5,41
1
10,67
2
13,78
3
15,11
1
13,33
2
16,00
3
19,11
1
15,56
2
20,44
3
23,11
Tabel 1. Rekapitulasi Nilai Daya Dukung Ultimit
qu
BCR
Peningkatan
(%)
Tanpa Perkuatan
5,41
1
-
1
1 lapis
2
10,67
1,972
97,2
2
2 lapis
3
13,78
2,547
154,7
3
3 lapis
4
15,11
2,793
179,3
4
1 lapis
2
13,33
2,464
146,4
5
2 lapis
3
16,00
2,957
195,7
6
3 lapis
4
19,11
3,532
253,2
7
1 lapis
2
15,56
2,876
187,6
8
2 lapis
3
20,44
3,778
277,8
9
3 lapis
4
23,11
4,272
327,2
N
o
Jumlah
Lapisan
L/B
Gambar 3. Diagram Batang Kenaikan Nilai BCR
dengan Variasi Lebar
Berdasarkan rekapitulasi nilai daya dukung ultimit
pada Tabel 1 diperoleh bahwa semakin besar dimensi
perkuatan dan semakin banyak jumlah lapisan perkuatan
maka daya dukung yang dihasilkan akan semakin besar
pula.
Nilai BCR (Bearing Capacity Ratio)
Dari hasil percobaan serta analisa data yang telah
dilakukan pada grid dan anyaman bambu yang
digunakan sebagai material perkuatan tanah, dapat
dikatakan bahwa penggunaan perkuatan ini dapat
meningkatkan nilai BCR. Berdasarkan hasil uji, nilai
BCR akan meningkat seiring dengan bertambah
besarnya dimensi perkuatan dan bertambahnya jumlah
lapis perkuatan. Rekapitulasi hasil perhitungan nilai
BCR dan persen peningkatan BCR dapat dilihat pada
Tabel 2.
ISSN : 2355-374X
Gambar 4. Diagram Batang Kenaikan Nilai BCR
dengan Variasi Jumlah Lapis
Perkuatan
Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa nilai BCR
selalu meningkat seiring dengan bertambahnya lebar
perkuatan. Seperti pada penggunaan 2 lapis perkuatan
dengan variasi lebar perkuatan 2B, 3B, dan 4B
memberikan nilai BCR masing-masing sebesar 2,547;
2,957; dan 3,778.
Pada Gambar 4 terlihat bahwa nilai BCR selalu
meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah lapis
perkuatan. Seperti pada lebar perkuatan 2B dengan
variasi jumlah lapis perkuatan sebanyak 1 lapis, 2 lapis,
dan 3 lapis memberikan nilai qultimit masing-masing
301
Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan
Vol. 2, No. 3, Septembar 2014
Usman,A. : Studi Daya Dukung Pondasi Dangkal pada Tanah Gambut Menggunakan Kombinasi Perkuatan
Anyaman Bambu dan Grid Bambu dengan Variasi Lebar dan Jumlah Lapisan Perkuatan
sebesar 1,972; 2,547; dan 2,793 atau dengan persentase
kenaikan nilai BCR masing-masing sebesar 97,2%,
154,7%, dan 179,3%.
ASTM D 1194 – 94, 2012, Standard Test Method for
Bearing Capacity of Soil for Static Load and
Spread Footings, Google.
5.KESIMPULAN
Berdasarkan analisa data dan pembahasan hasil
pengujian pembebanan pada masing-masing benda uji,
penelitian ini mencapai beberapa kesimpulan, yaitu
sebagai berikut :
1. Pengujian daya dukung pondasi dangkal di atas
tanah gambut sebelum diberi perkuatan tidak dapat
dilakukan karena tanah terlalu lunak, sehingga
daya dukung dihitung menggunakan metode
Skempton dan Terzaghi. Nilai qultimit dengan
metode Skempton didapat sebesar 6,2 kPa
sedangkan metode Terzaghi sebesar 5,41 kPa.
2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkuatan
grid dan anyaman bambu yang memberikan daya
dukung maksimal adalah pada rasio L/B= 4
dengan 3 lapis perkuatan. Daya dukung maksimal
tersebut sebesar 23,11 kPa dengan rasio daya
dukung (BCR) sebesar 4,272 atau persen
peningkatannya 327,2%.
3. Penggunaan lapisan perkuatan berupa grid dan
anyaman bambu memberikan peningkatan daya
dukung yang signifikan pada tanah gambut.
Semakin lebar perkuatan dan semakin banyak
jumlah lapis perkuatan, maka semakin besar pula
rasio daya dukung (BCR) tanah tersebut.
ASTM D 2607-69, 2012, Classification of Peats,
Mosses, Humus, and Related Products, Google.
Ayesha, Aghnia Alia, 2013, Pengaruh Perkuatan Grid
Bambu dan Anyaman Bambu dengan Variasi
Lebar dan Jumlah Lapisan Perkuatan Terhadap
Daya Dukung Tanah pada Tanah Lempung Lunak,
Tugas Akhir Teknik Sipil, Jurusan Teknik Sipil
Fakultas
Teknik
Universitas
Sriwijaya,
Palembang.
Macfarlane, I.C, 1969, Engineering Characteristics of
Peat. Muskeg Eng HB, Ottawa, Canada, 3-30.
Mochtar, Noor Endah, 1997, Perbedaan Perilaku Teknis
Tanah Lempung dan Tanah Gambut, Jurnal
Geoteknik, HATTI, Jakarta.
S.A. Nugroho, Arief Rachman, 2009, Pengaruh
Perkuatan Geotekstil Terhadap Daya Dukung
Tanah Gambut Pada Bangunan Ringan dengan
Pondasi Dangkal, Jurnal Sains dan Teknologi 8
(2), Jurusan Teknik Sipil Universitas Riau,
Pekanbaru.
Siopongco, J.O, Munandar M, 1987, Technology
Manual on Bamboo as Building Material, Forest
Products Research and Development Institute,
Filiphina.
5.1 SARAN
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait
dengan jarak spasi antar perkuatan yang optimal
dan spasi horizontal grid bambu untuk
mendapatkan daya dukung yang maksimal.
2. Analisis yang lebih lanjut perlu dilakukan untuk
mengetahui segi ekonomis penggunaan grid dan
anyaman bambu sebagai alternatif bahan
perkuatan.
Wayne, M.H, Jie Han, Ken Akins, 1998, The Design of
Geosynthetic
Reinforced
Foundations,
Proceedings of Sessions of Geo-Congress 98.
6.DAFTAR PUSTAKA
Budi, Gogot Setyo, 2011, Pondasi Dangkal, Andi,
Yogyakarta.
Bowles, Joseph E, 1997, Analisa dan Disain Pondasi
Jilid 1, Edisi Keempat, Erlangga, Jakarta.
Das, Braja M, 1991, Mekanika Tanah (Prinsip-prinsip
Rekayasa Geoteknik) Jilid 1, Erlangga, Jakarta.
Hardiyatmo, Harry Christady, 2003, Mekanika Tanah I,
Edisi ketiga, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Hardiyatmo, Harry Christady, 1996, Teknik Pondasi I,
PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Terzaghi, Karl dan Ralph B.Peck, 1967, Mekanika
Tanah dalam Praktek Rekayasa Jilid 2, Erlangga,
Jakarta.
ISSN : 2355-374X
302
Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan
Vol. 2, No. 3, Septembar 2014
Fly UP