...

PERPUSTAKAAN BUKAN SEGALANYA... W - E

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

PERPUSTAKAAN BUKAN SEGALANYA... W - E
PERPUSTAKAAN BUKAN SEGALANYA...
W. Sudrajad Ari Nugroho
Staf Perpustakaan Universitas Sanata Dharma
[email protected]
A. Pendahuluan
Judul di atas dapat diubah sesuka hati kita. Kata “Perpustakaan” pada judul di atas
dapat diganti dengan kata benda apa saja menurut selera kita dan akan menjadi kalimat
yang penuh rasa optimis. ” ...” Bukan Segalanya, tetapi segalanya dapat dimulai dari “... “ .
Artikel ini berusaha mengupas rasa optimis tersebut. Mengapa? Penulis merasa bahwa
perpustakaan di Indonesia, pada umumnya, masih belum dimanfaatkan secara optimal.
Entah itu oleh pemegang kebijakan, pengelola ataupun oleh para penggunanya (sebagian
besar masyarakat). Sudah saatnya, pemegang kebijakan, pengelola dan masyarakat perlu
bertindak lebih baik lagi dalam mengapresiasi kehadiran perpustakaan.
Bulan Juni yang lalu, Perpustakaan Universitas Kristen Petra Surabaya mengadakan
seminar nasional bertemakan “Tantangan Pustakawan di Abad 21”. Ada empat pembicara
yang tampil dalam seminar nasional satu hari tersebut. Salah satu pembicara itu adalah
Henny Linggawati Holbrook yang membawakan artikel berjuul “Quo Vadis Perpustakaan”.
Quo vadis artinya “mau dibawa ke mana”, dengan demikian judul dalam bahasa Indonesia
berbunyi “Mau di bawa ke mana perpustakaan”. Henny memaparkan pengalamannya
sebagai pustakawan di Cobb County Public Library System (CCPLS), Marietta-Georgia,
Amerika Serikat, sebuah perpustakaan umum di daerah setingkat kabupaten.
Secara ringkas, Henny memaparkan bahwa perpustakaan di Amerika Serikat pada
umumnya beroientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Perpustakaan sebagai
inkubator ekonomi untuk peningkatan karir dan pertumbuhan ekonomi yang dapat
memberikan peluang sukses bagi banyak orang. Masyarakat Amerika memandang
perpustakaan sebagai institusi atau lembaga tempat mereka bertanya tentang apapun.
Sekedar menyebut contoh yang dipaparkan Henny bahwa ketika salah satu masyarakat di
sana akan mendirikan kafe mereka bertanya ke perpustakaan, bukan ke tempat lain. Mereka
bertanya bagaimana prospek tentang kafe tersebut. Perpustakaan merespon dengan
memberikan berbagai macam data, yang memang sudah tersedia di perpustakaan dan
keterangan, tentang masyarakat di sekitar calon kafe. Pertanyaan tentang bagaimana tingkat
konsumsi masyarakat sekitar, apakah sudah ada kafe sejenis di sekitarnya, dan lain-lain.
Bahkan ketika ada masyarakat yang tidak tahu cara mengonversi satuan berat dari kilogram
ke pon mereka bertanya juga ke perpustakaan. Henny menyebutkan bahwa 96,4%
masyarakat di Amerika menjadi anggota perpustakaan. Menurut Biro Sensus Amerika
Serikat, seperti dilansir situs resmi VOA (voice of america), seksi Bahasa Indonesia,
menyebutkan bahwa jumlah penduduk Amerika Serikat pada tahun 2015 ini mencapai 320
juta (www.voaindonesia.com). Artinya hanya 3,6% atau sekitar 11,5 juta yang belum
menjadi anggota perpustakaan.
Penulis, dengan data tersebut tentu tidak merasa heran. Sebagai sebuah negara maju
memang sudah layak dan pantas bahwa perpustakaan dan masyarakatnya juga sangat maju.
Justru petanyaan yang muncul adalah bagaimana dengan negara kita yang notabene masih
termasuk dalam golongan negara ketiga (negara sedang berkembang)? Marilah kita kupas
dengan semangat rasa optimis bahwa kita dapat sejajar dengan mereka. Dari sinilah kita
dapat memulai. Perpustakaan bukan segalanya, tetapi segalanya dapat dimulai dari
perpustakaan.
B. Peran Pemegang Kebijakan atau Pemerintah
Melalui UU No.43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, pemerintah menginginkan
perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan
rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa (pasal 3). Lebih lanjut,
pasal 4 menyebutkan bahwa: Perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada
pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan
pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebuah landasan yang sudah sangat
lengkap, menyeluruh dan mengakomodasi berbagai hal seputar kepustakawanan. Hanya
saja menurut hemat penulis, jika berkaca dari pengalaman perpustakaan di negeri Paman
Sam, maka Pasal 4 dapat sedikit diubah menjadi “Perpustakaan bertujuan memberikan
layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, memperluas wawasan dan
pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta berperan dalam meningkatkan
pertumbuhan ekonomi masyarakat”.
Secara teknis penerapan pasal 4 ini sangat membutuhkan sumber daya manusia
yang benar-benar kompeten atau setidaknya sumber daya yang sangat concern dengan
dunia kepusakawanan. Artinya mulai dari level tertinggi, yaitu pemerintah dan para wakil
rakyat (DPR dan DPRD), hingga pada level terendah yaitu staf yang langsung berhadapan
dengan pemustaka, harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat dalam rangka
peningkatan taraf hidupnya. Pemerintah dan wakil rakyat harus mampu memperjuangkan
hadirnya perpustakaan yang lengkap (koleksi dan layanan) dengan fasilitas yang memadai
(tempat, ruang dan tata letak) di setiap daerah. Cara yang harus dilakukan dan dana yang
diperlukan tentu tidak sedikit. Sudah selayaknya pemerintah pusat dan pemerintah daerah
bersama dengan DPR/DPRD membuat terobosan-terobosan modern yang inovatif dan
kreatif. Salah satunya dengan menaikkan anggaran untuk perpustakaan yang didapat dari
pendapatan negara (pajak dalam negeri, sumber daya alam, pajak perdagangan
internasional, dan penerimaan bukan pajak). Penerimaan terbesar negara berasal dari pajak
dalam negeri (pajak yang dibayarkan oleh masyarakat dikembalikan dalam bentuk
penyediaan perpustakaan yang lengkap dengan fasilitas yang memadai). Jika hal ini
terealisasi, penulis optimis bahwa tujuan perpustakaan, seperti tertuang dalam Pasal 4 UU
No.43 Tahun 2007, akan tercapai. Tentu saja tujuan tersebut tidak dapat langsung tercapai.
Mungkin manfaatnya baru terasa dalam waktu 5 sampai 10 tahun ke depan. Mengapa?
Karena perpustakaan adalah sebuah investasi bagi terbentuknya masyarakat yang lebih
cerdas dan lebih berbudaya atau lebih beradab.
C. Peran Swasta
Membentuk masyarakat yang lebih cerdas dan lebih berbudaya tentu bukan
merupakan pekerjaan rumah bagi pemeritah dan DPR saja. Pemerintah dan DPR, dalam
membuat terobosan-terobosan inovatif dan kreatif, dapat mengajak pihak-pihak swasta.
Pihak-pihak swasta yang dimaksud di sini adalah perusahaan-perusahaan besar, baik
perusahaan swasta dalam negeri atau perusahaan luar negeri yang menanamkan
inverstasinya di Indonesia. Sebut saja perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di
bidang telekomunikasi. Selain itu perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang
pengembangan/konstruksi, pertambangan, perkebunan, dan perusahaan besar lainnya.
Mereka wajib diajak untuk membantu masyarakat di sekitar wilayah operasi perusahaan
dengan penyediaan akses informasi sebagai bentuk dari tanggung jawab sosial perusahaan
terhadap masyarakat dan negara.
Perusahaan jasa telekomunikasi, baik yang dimiliki oleh orang Indonesia atau
dimiliki oleh pihak asing, wajib membantu masyarakat dengan memberikan akses layanan
internet gratis bagi perpustakaan dengan kapasitas yang besar. Penulis merasa bahwa
negara berhak membuat kesepakatan tersebut dan perusahaan wajib memenuhinya. Hal
tersebut dikarenakan bahwa keuntungan finansial yang didapat oleh perusahaan
telekomunikasi sangatlah besar. Pernahkah kita membayangkan bahwa pulsa yang kita
gunakan sebagai sarana komunikasi sehari-sahari (telepon, sms, mms, data) sangat banyak.
Berapa biaya rata-rata belanja pulsa setiap bulan per orang? Semua biaya pembelian
“barang maya” (baca: pulsa) tersebut masuk sebagai pendapatan perusahaan
telekomunikasi. Padahal hampir semua masyarakat saat ini menggunakan gawai atau
telepon pintar.
The Archway Foundations adalah sebuah lembaga di bawah bendera Garden Cities,
sebuah perusahaan besar di Afrika Selatan, yang bergerak dalam bidang pengembang
perumahan dan konstruksi bangunan, merupakan kepanjangan tangan perusahaan dalam
membantu masyarakat sekitar. Pemeritah Afrika Selatan menggandeng Garden Cities
dengan The Archway Foundation-nya, sejak berdiri 95 tahun yang lalu, telah berhasil
mendirikan lima sekolah. Selain itu mereka juga berhasil mendampingi beberapa
perpustakaan dalam proyek pengembangan dan pendampingan kegiatan membaca
(Denton, 2015).
Jadi, bagaimana kerjasama kemitraan antara Pemerintah Indonesia dengan
perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Indonesia dalam bidang kepustakawanan?
Menurut hemat penulis ada dua hal yang dapat dilakukan. Pertama, kerjasama
menggandeng perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi, dan kedua, kerjasama
menggandeng perusahaan besar yang bergerak di bidang non-telekomunikasi. Perusahaan
yang bergerak di bidang telekomunikasi diajak bermitra untuk dapat menyediakan akses
internet gratis pada perpustakaan dengan kapasitas yang memadai. Mekanisme atau pola
kemitraan yang diusung sebaiknya yang bersifat sama-sama menguntungkan. Artinya
pemerintah, sebagai pemilik perpustakaan, mendapat keuntungan dangan tersedianya
layanan internet gratis untuk masyarakat anggota, sebaliknya perusahaan telekomunikasi
mendapat keuntungan berupa promosi layanan data sesuai dengan kesepakatan bersama.
Sementera kerjasama kemitraan dengan perusahaan non telekomunikasi seperti
perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan/konstruksi, pertambangan, perkebunan
dapat berupa bekerjasama membangun gedung perpustakaan yang memadai. Tentu dengan
desain dan arsitektur yang modern dan dinamis. Mekanisme atau pola kemitraan yang
diusung sebaiknya juga yang bersifat sama-sama menguntungkan. Sebagai contoh:
pemerintah, baik pusat maupun daerah, dengan persetujuan DPR/DPRD, bekerjasama
membiayai pembangunan perpustakaan. Keuntungan bersama yang didapat menurut
penulis adalah:
1.
2.
Bagi pemerintah, pemerintah tidak terlalu banyak mengeluarkan anggaran untuk
mendirikan gedung perpustakaan yang baru. Anggaran dapat dialihkan untuk
penyediaan bahan bacaan.
Bagi perusahaan, perusahaan mendapatkan hak untuk memberi nama gedung
perpustakaan dengan nama pemilik perusahaan atau nama perusahaan, misalnya:
Gedung Perpustakaan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Daerah Istimewa
Yogyakarta didirikan atas kerjasama Badan Perpustkaan dan Arsip Daerah dengan
Ary Petro Energy.
D. Peran Perpustakaan
Adanya gedung perpustakaan yang baru dan memadai tentu harus didukung oleh
peran aktif dari pihak perpustakaan, sebagai pihak yang menerima hasil dari kerjasama
tersebut. Peran aktif yang dimaksud di sini yaitu adanya terobosan baru yang inovatif dan
kreatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Peran aktif perpustakaan dapat
berupa:
1. Promosi atas gedung baru
Menurut penulis promosi terhadap gedung baru ini sangat penting. Masyarakat
sebaiknya mengetahui bahwa di daerahnya telah berdiri perpustakaan yang cukup
modern dan memadai hasil kerjasama antara pemerintah dengan perusahaan.
2. Promosi layanan yang diberikan
Adanya gedung baru sebaiknya diimbangi dengan layanan yang baru pula. Layanan
perpustakaan yang sifatnya tradisional perlu ditambah dengan layanan terkini. Misal
layanan referensi berbasis internet dengan menyediakan sejumlah basis data, baik
ilmiah ataupun populer, dapat juga yang bersifat menghibur.
3. Promosi kegiatan perpustakaan
Kegiatan promosi perpustakaan yang inovatif dan kreatif dapat berupa penyediaan
mobil perpustakaan keliling yang khusus menyediakan informasi berbasis internet.
Mobil perpustakaan keliling dilengkapi dengan jaringan wifi berkecepatan tinggi dan
mampu menjangkau wilayah yang luas. Selain itu mobil perpustakaan keliling juga
dilengkapi sejumlah komputer yang tersambung dengan internet. Keuntungan dari
mobil perpustakaan keliling ini yaitu dapat menjangkau wilayah-wilayah yang
bermedan sulit. Tentu saja mobil ini juga dilengkapi dengan penyediaan koleksi buku
bacaan yang bersifat solutif (tepat guna).
4. Kerjasama dengan pihak lain dalam menyelenggarakan kegiatan di perpustakaan.
Perpustakaan dapat menyediakan tempat bagi pementasan atau pameran seni atau
pameran produk lokal dengan biaya sewa tempat yang murah. Hal ini perlu dilakukan
atau dicoba karena penulis berpendapat bahwa salah satu usulan penulis di awal tulisan
bahwa kegiatan tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
5. Staf Perpustakaan yang kompeten dan bermental tangguh.
Adanya gedung perpustakaan yang memadai lengkap dengan layanan yang inovatif
dan kreatif tentu diperlukan staf yang kompeten dan bermental tangguh. Staf
perpustakaan haruslah mampu:
a. Menjawab pertanyaan masyarakat dengan baik, benar dan simpatik
b. Mengatasi permasalahan kepustakawanan dengan baik yang mungkin muncul.
Peran perpustakaan, menurut hemat penulis, awalnya dapat berupa promosi secara
aktif, kreatif, dan inovatif. Promosi awal dapat berupa penampilan/display wajah gedung
baru perpustakaan, layanan yang ditawarkan ke masyarakat, kegiatan-kegiatan unggulan,
serta fasilitas melalui videotron yang banyak tersebar di pusat kota. Display lewat
videotron menjadi alternatif baru dan menarik. Kelebihan menggunakan videotron untuk
display promosi, seperti dikutip dari www.videotronindonesia.com, adalah kemampuan
dalam menampilkan gambar bergerak sehingga materi promosi dapat terlihat lebih menarik.
Adapun kelebihan yang lain, masih dikutip dari sumber yang sama, selain sebagai sarana
iklan komersial, saat ini juga mulai banyak dimanfaatkan oleh pemerintah daerah, kantor
instansi, dan kantor swasta untuk melakukan promosi. Kegiatan promosi perpustakaan
dapat dilakukan dengan cara bekerjasama dengan pemerintah daerah sebagai alat
penyampaian program layanan masyarakat.
Selain itu perpustakaan dapat juga bekerjasama dengan stasiun radio, baik dengan
Radio Republik Indonesia (RRI) ataupun dengan radio-radio swasta yang tergabung dalam
Persatuan Radio Swasta Nasional Indonesia (PRSNI) yang ada di setiap daerah.
Perpustakaan dapat membuat kesepakatan untuk menyiarkan iklan program-program dan
layanan-layanan perpustakaan baik secara ad lib (disampaikan oleh penyiar secara langsung
berupa siaran kata saja, durasi biasanya tidak lebih dari satu menit) atau secara spot
(disampaikan dengan teknik perekaman sebelumnya, sehingga membutuhkan naskah
terlebih
dahulu,
durasi
berkisar
antara
15
sampai
60
detik
(https://riskarostikan.wordpress.com)). Promosi baik melalui videotron maupun radio
idealnya berlangsung selama 6 bulan. Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat, selaku
pihak yang menjadi target promosi, dapat benar-benar terpengaruh. Senada dengan hal
tersebut, Michael mengatakan bahwa perpustakaan perlu menjadi tempat dimana orangorang dapat mengalami hal-hal baru dan menarik melalui ide-ide dan teknologi terbaru
(Michael, 2015).
E. Peran Masyarakat
Kerjasama antara pemeritah dengan pihak swasta dalam mengapresiasi kehadiran
perpustakaan dapat dikatakan berhasil tentunya jika masyarakat, selaku pihak yang lebih
diuntungkan, berperan aktif sebagai anggota perpustakaan. Peran aktif masyarakat dapat
berupa:
1. Aktif sebagai anggota
Masyarakat semestinya mendaftarkan diri sebagai anggota perpustakaan
2. Aktif meminjam koleksi
Masyarakat semestinya sering meminjam koleksi perpustakaan sehingga wawasan dan
pengetahuan menjadi bertambah
3. Aktif berkunjung
Masyarakat semestinya kemudian menjadi aktif pergi berkunjung ke perpustakaan
untuk melihat dan mendapatkan pengetahuan baru.
F. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, penulis beranggapan bahwa perpustakaan adalah sebuah
investasi bagi terbentuknya masyarakat yang lebih cerdas dan lebih berbudaya atau lebih
beradab. Perpustakaan menjadikan masyarakat lebih cerdas dalam menghadapi tantangan
jaman yang semakin kompleks. Perpustakaan menjadikan masyarakat lebih berbudaya
dalam berperilaku dan bertindak (tidak korupsi, misalnya). Perpustakaan menjadikan
masyarakat lebih beradab dalam bergaul dengan sesama masyarakat sebagai bangsa. Sekali
lagi, perpustakaan bukan segalanya tetapi segalanya dapat dimulai dari perpustakaan.
Daftar Pustaka
Denton, Theresa. (2015). Partnership: a successful strategy for libraries. IFLA World
Libraries International Conferences. Cape Town, South Africa.
http://library.ifla.org/1202/1/076-denton-en.pdf. Diakses pada tanggal 7 Agustus 2015.
Holbrook, Henny Linggawati. (2015). Quo Vadis Perpustakaan. Makalah Seminar
Nasional “Challenges Of The 21st Century Librarians: Listening What The Digital
Natives Want From Their Library”, 8 Juni 2015. Perpustakaan Universitas Kristen
Petra. Surabaya.
Jumlah Penduduk Dunia Terus Menanjak . http://www.voaindonesia.com/content/jumlahpenduduk-dunia-terus-menanjak/2580715.html. Diakses pada tanggal 7 Agustus 2015.
Michael, Keith. (2015). Welcome to the future at yout library. American Libraries
Magazine. http://americanlibrariesmagazine.org/2015/03/06/welcome-to-the-future-atyour-library/. Diakses 7 Agustus 2015.
Penjelasan tentang vidoetron. http://www.videotronindonesia.com/2014/08/penjelasantentang-videotronled-display.html#.Vc2dV_nj_p6. Diakses pada tanggal 14 Agustus
2015
Rostika, Riska. Definisi iklan dan jenis iklan.
https://riskarostikan.wordpress.com/2013/11/03/definisi-iklan-dan-jenis-iklan/. Diakses
pada tanggal 14 Agustus 2015.
Fly UP