...

ANDRAGOGI SUATU ORIENTASI BARU

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

ANDRAGOGI SUATU ORIENTASI BARU
ANDRAGOGI SUATU ORIENTASI BARU
Oleh : Muhammad Isnaini
email: [email protected]
http//www.muhammadisnain.blogsopt.com
Abstract: Istilah Pedagogi nampaknya tidak cocok dipakai untuk
menjelaskan tentang ilmu dan seni dalam membantu orang dewasa
belajar. Hal ini memunculkan suatu masalah yang tidak disadari bahwa
dalam istilah pedagogi terdapat kata “Paid” yang berarti anak.
Demikian juga dalam istilah pedagogi tentang konsep tujuan
pendidikan, yaitu penyampaian pengetahuan pada anak-anak. Atas
dasar itulah sehingga pendidikan kemudian diartikan sebagai proses
penyampaian pengetahuan. Mendefinisikan pendidikan sebagai proses
penyampaian ternyata kurang sesuai dengan perkembangan dan
kehidupan manusia. Oleh karena itu dewasa ini telah muncul suatu
teori baru cara membelajarkan orang dewasa yang dikenal dengan
istilah Andragogi, yaitu suatu ilmu dan seni dalam membantu orang
dewasa belajar, yang secara prinsip asumsi yang digunakan berbeda
dengan Pedagogi, terutama mengenai konsep diri, pengalaman,
kesiapan belajar, dan orientasi terhadap belajar.
Kata kunci: Andragogi, orientasi baru, Pembelajaran
Pendahuluan
Pengetahuan tentang belajar kebanyakan diperoleh dari pengalaman atau
penelitian tentang belajar pada anak-anak ataupun binatang. Demikian pula halnya
dengan pengetahuan tentang pengajaran, kebanyakan diperoleh dari pengalaman
pengajaran anak-anak dalam situasi di mana anak-anak tersebut diwajibkan untuk
mengikuti suatu proses belajar-mengajar yang berlangsung di lembaga-lembaga
pendidikan formal. Pelaksanaan proses belajar-mengajar tersebut didasarkan pada
definisi
pendidikan
sebagai
suatu
proses
penyampaian
kebudayaan.
Definisi pendidikan tersebut pada dasarnya bersumber dari suatu istilah
pendidikan yaitu Pedagogi. Istilah pedagogi ini berasal dari bahasa Yunani “paid”
artinya anak dan “agogos” artinya membimbing. Itulah sebabnya istilah pedagogi
dapat diartikan sebagai “ilmu dan seni mengajar anak (the art and science of
teaching children).
Dalam perkembangan penggunaan istilah tersebut, muncul suatu masalah
yaitu kata “anak” sebagai bagian integral dari pengertian istilah pedagogi telah
hilang, sehingga dalam pemikiran manusia yang juga telah ditulis dalam buku
Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang.
buku pendidikan dan kamus, di mana istilah pedagogi diartikan sebagai seni dan
ilmu mengajar. Bahkan dalam buku-buku tentang pendidikan orang dewasa
ditemukan istilah “Pedagogy of Adult Education”.
Orang rupanya tidak menyadari bahwa dalam istilah pedagogi terdapat
kata “paid” yang berarti anak, sehingga istilah pedagogi sangat tidak cocok
dipakai untuk menjelaskan tentang ilmu dan seni dalam membantu orang dewasa
belajar. Masalah lain yang muncul sehubungan dengan pengertian yang ditarik
dari istilah pedagogi ialah tentang konsep tujuan pendidikan, yaitu penyampaian
pengetahuan pada anak-anak. Atas dasar itu pendidikan kemudian diartikan
sebagai proses penyampaian pengetahuan. Mendefinisikan pendidikan sebagai
proses penyampaian ternyata kurang sesuai dengan perkembangan dan kehidupan
manusia.
Selain itu masalah yang timbul dalam pengertian pedagogi adalah adanya
pandangan yang mengemukakan bahwa tujuan pendidikan itu bersifat
mentransmisikan pengetahuan. Tetapi di lain pihak perubahan yang terjadi seperti
inovasi dalam teknologi, mobilitas penduduk, perubahan sistem ekonomi, politik
dan sejenisnya begitu cepat terjadi. Dalam kondisi seperti ini pengetahuan yang
diperoleh seseorang ketika ia berumur 20 tahun akan menjadi usang ketika ia
berumur 40 tahun. Jika demikian halnya, maka pendidikan sebagai suatu proses
transmisi pengetahuan sudah tidak sesuai dengan kebutuhan modern. Oleh karena
itu
pendidikan
sekarang
tidak
lagi
dirumuskan
sebagai
upaya
untuk
mentransmisikan pengetahuan, tetapi dirumuskan sebagai suatu proses penemuan
sepanjang hayat terhadap apa yang dibutuhkan untuk diketahui.
Dewasa ini di kalangan para ahli pendidikan orang dewasa telah
berkembang baik di Eropa maupun di Amerika, suatu teori mengenai cara
mengajar orang dewasa. Untuk membedakan dengan pedagogi, maka teori baru
tersebut di kenal dengan nama Andragogi yang berasal dari bahasa Yunani yaitu
“andr” yang berarti orang dewasa dan “agogos” yang berarti memimpin atau
membimbing. Dengan demikian andragogi dirumuskan sebagai suatu ilmu dan
seni dalam membantu orang dewasa belajar.
Asumsi Andragogi Dan Pedagogi
Ada perbedaan mendasar mengenai asumsi yang digunakan oleh
Andragogi dan Pedagogi terutama dari aspek konsep diri, pengalaman, kesiapan
belajar dan orientasi terhadap belajar. Asumsi itu dapat dikemukakan sebagai
berikut:
Konsep Diri.
Menurut Knowles, dalam pendekatan pedagogi peranan peserta didik
bergantung pada guru. Dalam hal ini guru diharapkan oleh masyarakat memegang
tanggungjawab penuh untuk menentukan apa yang akan dipelajari oleh pada
peserta didik, kapan waktunya belajar, bagaimana cara mempelajarinya, dan
apakah suatu bahan telah selesai dipelajari atau belum. Sedangakan dalam
pendekatan andragogi, proses pematangan manusia merupakan kewajaran bagi
seorang individu untuk bergerak dari ketergantungan ke arah kemandirian.
Perpindahan ini secara bertahap dan dengan kecepatan yang berbeda-beda sesuai
dengan
orang
dan
dimensi
kehidupannya.
Para
guru
orang
dewasa
bertanggungjawab untuk menggalakkan dan memelihara gerakan ini. Orang
dewasa mempunyai kebutuhan psikologis yang dalam untuk mandiri, meskipun
dalam situasi-situasi tertentu bergantung pada pihak lain.
Pengalaman.
Peranan pengalamn yang dibawa peserta didik ke situasi belajar kurang
bernilai. Hal itu mungkin hanya sebagai titik tolak. Pengalaman yang akan
menjadi sumber belajar yang utama bagi peserta didik adalah pengalaman para
guru, penulis buku, pencipta Audio-Visual Aids dan ahli-ahli lainnya. Karena itu
teknik utama yang digunakan adalah teknik penerusan atau pemindahan (ceramah,
tugas dan sebagainya). Dalam andragogi, selama manusia tumbuh dan
berkembang mereka menyimpan banyak pengalaman dan karena itu akan menjadi
sumber yang tak habis-habisnya untuk belajar, baik bagi mereka secara pribadi
maupun bagi orang lain. Lagi pula orang memberikan arti yang lebih besar kepada
pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman daripada yang diperoleh secara
pasif. Karena itu teknik utama yang digunakan adalah teknik pengalaman
(eksperimen, laboratorium, diskusi, pemecahan persoalan, pengalaman lapangan
dan sebagainya).
Kesiapan Belajar.
Orang siap mempelajari apapun yang dikehendaki masyarakat terutama
sekolah untuk mereka pelajari, asalkan tekanan ini cukup berat bagi mereka.
Sebagian orang yang sebaya siap untuk mempelajari bahan yang sama. Karena itu
pelajaran hendaknya diatur ke dalam suatu kurikulum yang benar-benar baku,
dengan suatu penjenjangan yang seragam bagi semua peserta didik. Dalam
andragogi, orang menjadi siap untuk mempelajari sesuatu bila mereka merasakan
kebutuhan untuk mempelajari hal itu. dengan tujuan agar dapat menyelesaikan
tugas atau persoalan hidup mereka dengan yang lebih memuaskan. Pendidik
memegang tanggungjawab menciptakan kondisi dan menyediakan alat-alat serta
prosedur untuk membantu para peserta didik menemukan kebutuhan atau
keingintahuan mereka. Dengan demikian program belajar hendaknya disusun
menurut kategori penerapan hidup dan diurutkan sesuai dengan kesiapan belajar
peserta didik.
Orientasi Terhadap Belajar.
Para peserta didik melihat pendidikan sebagai suatu proses untuk
memperoleh bahan pelajaran, yang sebagian besar mereka anggap hanya akan
berguna di kemudian hari. Karena itu kurikulum seharusnya diatur menjadi
satuan-satuan
pelajaran
yang
mengikuti
urutan
logika
mata
pelajaran
bersangkutan. Jadi orientasi mereka berpusat pada mata pelajaran. Sebaliknya
dalam andragogi, para peserta didik memandang pendidikan sebagai suatu proses
pengembangan kemampuan untuk mencapai potensi kehidupan yang paripurna.
Mereka ingin dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan apapun yang
mereka peroleh saat ini untuk kehidupan esok yang lebih efektif. Karena itu,
pengalaman belajar seharusnya disusun menurut kategori-kategori pengembangan
kemampuan. Jadi orientasi mereka terhadap belajar berpusat pada karya atau
prestasi. Dari asumsi dasar tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa: 1) orang
dewasa mempunyai konsep diri, yaitu suatu pribadi yang tidak tergantung kepada
orang lain yang mempunyai kemampuan mengarahkan dirinya sendiri dan
kemampuan mengambil keputusan, 2) orang dewasa mempunyai kekayaan
pengalaman yang merupakan sumber yang penting dalam belajar, 3) Kesiapan
belajar orang dewasa berorientasi kepada tugas-tugas perkembangannya sesuai
dengan peranan sosialnya, 4) orang dewasa mempunyai perspektif waktu dalam
belajar, dalam arti secepatnya mengaplikasikan apa yang dipelajarinya.
Fungsi Pendidik Orang Dewasa.
Pendidik orang dewasa mempunyai fungsi antara lain:
1.
Menilai kebutuhan belajar individu, lembaga dan masyarakat untuk
pendidikan orang dewasa yang sesuai dengan lingkungan organisasinya
(fungsi diagnostik).
2.
Menetapkan dan mengelola struktur organisasi untuk pengembangan dan
pelaksanaan yang efektif dari suatu program pendidikan orang dewasa (fungsi
organisasi).
3.
Merumuskan tujuan yang sesuai dengan kebutuhan belajar yang telah
ditetapkan, dan merencanakan suatu program kegiatan untuk mencapai tujuan
tersebut (fungsi perencanaan).
4.
Menciptakan
dan
mengawasi
prosedur
yang
diperuntukan
bagi
pelaksanaan suatu program secara efektif, termasuk memilih dan melatih
ketua-ketua kelompok belajar, tutor, mengatur fasilitas
dan proses
administrasi, seleksi dan penerimaan pebelajar, dan pembiayaan (fungsi
administrasi).
5.
Menilai efektivitas program pendidikan yang dilaksanakan (fungsi
evaluasi).
Misi Pendidik Orang Dewasa
isi pendidik orang dewasa dapat digambarkan dengan mengaitkan antara
kebutuhan dan tujuan individu. Misi setiap pendidik orang dewasa adalah
membantu individu untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, membantu
individu untuk mengembangkan sikap bahwa belajar itu adalah kegiatan yang
berlangsung
sepanjang
hayat,
dan
dengan
pendidikan
itu
dapat diperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dapat digunakan untuk
bekerja secara mandiri serta dapat mengembangkan potensi-potensi yang kita
miliki. Dalam proses belajar ini dapat dimanfaatkan oleh orang dewasa untuk
mengembangkan dirinya, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama dengan
orang dewasa lainnya.
Pendidik orang dewasa dalam merencanakan program pembelajarannya
hendaknya didasarkan pada kebutuhan belajar yang diinginkan oleh orang
dewasa, tanpa demikian pendidikan orang dewasa akan mengalami kegagalan.
Teknik dan Metode Pembelajaran Orang Dewasa
Penjabaran rancangan belajar ke dalam urutan kegiatan belajar
memerlukan adanya pengambilan keputusan mengenai teknik dan bahan belajar
apa yang paling bermanfaat digunakan untuk mencapai tujuan pembelajarn. Dan
selanjutnya menentukan strategi pembelajaran dengan mengikutsertakan peserta.
Posisi pelatih dalam proses ini hanyalah sebagai pemberi saran dan sebagai
narasumber.
Ada beberapa teknik atau metode yang dapat digunakan untuk membantu
orang dewasa belajar, antara lain:
1.
Presentasi. Teknik ini meliputi antara lain: ceramah, debat, dialog,
wawancara, panel, demonstrasi, film, slide, pameran, darmawisata, dan
membaca.
2.
Teknik Partisipasi peserta. Teknik ini meliputi antara lain: tanyajawab,
permainan peran, kelompok pendengar panel reaksi, dn panel yang diperluas.
3.
Teknik Diskusi. Teknik ini terdidi atas diskusi terpimpin, diskusi yang
bersumberkan dari buku, diskusi pemecahan masalah, dan diskusi kasus.
4.
Teknik Simulasi. Teknik ini terdiri atas: permainan peran, proses insiden
kritis, metode kasus, dan permainan.
Implikasi dalam Pembelajaran Orang Dewasa
Dari asumsi-asumsi yang telah dikemukakan di atas, dapat dikemukakan
bahwa ketiga pendapat tersebut di atas memiliki kesamaan di dalam memandang
pebelajar, baik dalam pembelajaran pedagogi maupun andragogi terutama dalam
konsep diri, pengalaman, kesiapan untuk belajar, dan orientasi belajar. Oleh
karena itu dapat dikemukakan bahwa dalam pembelajaran orang dewasa perlu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.
Iklim belajar perlu diciptakan sesuai dengan keadaan orang dewasa. Baik
ruangan yang digunakan maupun peralatan (kursi, meja, dan sebagainya)
diatur sesuai dengan selera orang dewasa agar dapat memberi kenyamanan
bagi mereka. Selain itu, dalam iklim belajar tersebut, perlu diciptakan
kerjasama yang saling menghargai antara para peserta dengan peserta lain
maupun dengan para pelatih/fasilitator. Ini berarti bahwa setiap peserta diberi
kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengemukakan pandangannya tanpa
ada rasa takut dihukum maupun dipermalukan. Iklim belajar seperti ini akan
sangat tergantung kepada pelatih/fasilitator.
2.
Peserta diikutsertakan dalam mendiagnosa kebutuhan belajarnya. Mereka
akan merasa terlibat dan termotivasi untuk belajar apabila apa yang akan
dipelajarinya itu sesuai dengan kebutuhan yang ingin dipelajari.
3.
Peserta
dilibatkan
dalam
proses
perencanaan
belajarnya.
Dalam
perencanaan ini fasilitator lebih banyak berfungsi sebagai pembimbing dan
manusia sumber.
4.
Dalam proses belajar-mengajar merupakan tanggungjawab bersama antara
pelatih/failitator dan peserta. Kedudukan pelatih/fasilitator lebih banyak
berperan sebagai manusia sumber, pembimbing, dan katalist dari pada sebagai
guru.
5.
Evaluasi belajar lebih menekankan pada cara evaluasi diri sendiri dalam
mengetahui kemajuan belajar peserta.
6.
Karena orang dewasa merupakan sumber belajar yang lebih kaya
dibandingkan anak-anak, maka proses belajarnya lebih ditekankan kepada
teknik yang sifatnya menyadap pengalaman mereka seperti: kelompok diskusi,
metode kasus, simulasi, permainan peran, latihan praktek, demonstrasi,
bimbingan konsultasi, seminar, dan sebagainya.
7.
Penekanan dalam proses belajar bagi orang dewasa adalah pada aplikasi
praktis dan atas dasar pengalaman mereka.
8.
Urutan kurikulum dalam proses belajar orang dewasa disusun berdasarkan
tugas perkembangannya dan bukan atas dasar urutan logik mata pelajaran atau
kebutuhan kelembagaan. Misalnya suatu program latihan orientasi untuk para
pekerja baru, bukan dimulai dengan sejarah atau filsafat perusahaan, tetapi
dimulai dengan kehidupan nyata yang menjadi perhatian para pekerja baru,
seperti: di mana saya harus bekerja, dengan siapa saya bekerja, apa yang
diharapkan dari saya, dan sebagainya.
9.
Adanya konsep mengenai tugas-tugas perkembangan pada orang dewasa
akan memberi petunjuk dalam belajar secara kelompok. Untuk tugas-tugas
perkembangan, maka belajar secara kelompok yang anggota kelompoknya
bersifat homogen akan lebih efektif.
10.
Pendidik orang dewasa tidak boleh berperan sebagai seorang guru yang
mengajarkan mata pelajaran tertentu, tetapi ia berperan sebagai pemberi
bantuan kepada orang yang belajar.
11.
Kurikulum dalam pendidikan untuk orang dewasa tidak berorientasi
kepada mata pelajaran tertentu, tetapi berorientasi kepada masalah. Hal ini
karena orang dewasa cenderung berorientasikan kepada masalah dalam
orientasi belajarnya.
12.
Oleh karena orang dewasa dalam belajar berorientasi kepada masalah,
maka pengalaman belajar yang dirancang berdasarkan pula pada masalah atau
perhatian yang ada dalam benak mereka.
Daftar Rujukan
Amalius Sahide. 1990. Pendidikan Orang Dewasa. Ujungpandang: FIP IKIP
Knowles, Malcolm. 1977. The Modern Practice of Adult Education, Andragogy
Versus Pedagogy. New York: Assosiation Press.
Zainuddin Arif. 1984. Andragogi. Bandung: Angkasa.
Fly UP