...

Ahmad Habibi Syahid Kajian bahasa merupakan kajian yang

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Ahmad Habibi Syahid Kajian bahasa merupakan kajian yang
Ahmad Habibi Syahid
PEMEROLEHAN BAHASA ASING
PERSPEKTIF PSIKOLINGUISTIK
PEMEROLEHAN BAHASA ASING PERSPEKTIF PSIKOLINGUISTIK
Ahmad Habibi Syahid
[email protected]
Abstrak
Kajian bahasa merupakan kajian yang bersifat sistematik. Sistematik
berarti sebuah kajian yang terdiri dari beberapa komponen yang tersusun
secara teratur. Beberapa ahli bahasa menyatakan bahwa bahasa adalah
ujaran. Sehingga sebuah kajian bahasa berarti mengkaji ujaran (bunyi)
sebagai sebuah komponen. Namun dalam pemerolehannya, ada yang berbeda
antara pemerolehan bahasa pertama atau yang disebuat dengan bahasa ibu
(mothers language) dan pemerolehan bahasa kedua (second language) atau
bahasa asing (foreign language). Di beberapa Negara, antara second language
dan foreign language memiliki makna yang berbeda. Seperti halnya di
Malaysia, selain bahasa melayu sebagai bahasa percakapan sehari-hari
(mothers language), bahasa inggris pun menjadi bahasa kedua sebagai bahasa
percakapan sehari-hari sehingga dalam hal ini bahasa inggris tidak lagi
dikategorikan sebagai foreign language akan tetapi disebut dengan second
language. Apakah ada perbedaan yang cukup signifikan terhadap
pemerolehan kedua bahasa tersebut jika dilihat dari perspektif
psikolinguistik?
Kata kunci : Pemerolehan Bahasa, Bahasa Asing, dan Psikolinguistik
A. PENDAHULUAN
Bahasa merupakan sebuah aspek psikologi, sosial serta budaya.
Bahasa bukan merupakan aspek biologis bagi setiap individu. Bahasa
merupakan sekumpulan simbol-simbol bunyi yang tersusun, sehingga bahasa
mampu dimengerti dan dapat digunakan oleh seseorang untuk berinteraksi.
Menurut Ali Ahmad Madkur bahwa bahasa adalah sistematika dalam
berfikir, ide untuk saling berkomunikasi dan memberikan informasi. Maka
budaya berbahasa terletak pada bahasa itu sendiri, asal mula sebuah bahasa,
107
107
al-Ittija>h
Vol. 05 No. 02 (Juli-Desember 2013)
jenis bahasa, pembentukan bahasa serta seni berbahasa. Oleh karena itu
seseorang tidak dikatakan modern tanpa memiliki bahasa.
Dalam pemerolehan sebuah bahasa tidak terlepas dari 3 aspek
penting antara lain adalah pertama bahwa pemerolehan bahasa dipengaruhi
oleh aspek internal yang mana kembali kepada individu masing-masing.
kedua bahwa lingkungan (aspek eksternal) juga mempengaruhi terhadap
pemerolehan bahasa. Katiga adalah bahwa bahasa secara natural manusia
sudah memiliki daya atau kemampuan berbahasa. Sejalan dengan hal tersebut
seperti yang dikatakan oleh John C.L Ingram dalam bukunya mengenai
neurolinguistik bahwa:
Any language may be viewed from three complementary
perspectives: (a) as an internalized body of ‘tacit’ knowledge, (b) as a
social constraction or set of conventions shared by a language
community or (c) as a natural object ‘out there’ in the external world
(the ‘E-language’).1 I-language (kemampuan gramatikal) atau dikenal
dengan
sebutan
daya
bahasa
(faculty
of
language).
Dalam sebuah pidato yang disampaikan oleh Syukur Ghazali dalam
Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Pembelajaran Bahasa pada Fakultas
Sastra di Universitas Negeri Malang bahwa :
Setidak-tidaknya ada tiga fakta tentang belajar bahasa yang tidak bisa
kita tolak kebenarannya, Pertama. semua anak bayi yang dilahirkan
normal akan menguasai bahasa yang dipergunakan oleh
lingkungannya. Ini terjadi tanpa melihat di mana bayi itu dilahirkan,
siapa yang melahirkan, bagaimana ia dilahirkan. Kenyataan ini terjadi
secara universal, sehingga hal tersebut menolak anggapan bahwa
bahasa adalah warisan sosial. Pemerolehan bahasa ini tumbuh secara
bertahap, yaitu mulai dari penguasaan bunyi-bunyi prabahasa,
kemudian muncul 'kalimat satu kata' (one word sentence). Selanjutnya
muncul 'kalimat dua kata', kalimat sederhana, dan kemudian kalimatkalimat yang strukturnya lebih kompleks. Menyuk (1988:24)
menyatakan bahwa, "Language development takes place in a set of
sequence and that this sequence is universal." Anak bayi di seluruh
dunia belajar menguasai beberapa aspek bahasa yang lebih sederhana
sebelum ia menguasai aspek bahasa yang lebih kompleks. Misalnya, ia
108
108
Ahmad Habibi Syahid
PEMEROLEHAN BAHASA ASING
PERSPEKTIF PSIKOLINGUISTIK
belajar mengucapkan bunyi-bunyi vokal terlebih dahulu sebelum ia
belajar mengucapkan konsonan, mengucapkan bunyi terlebih dahulu
sebelum ia bisa mengucapkan kata-kata, belajar mengucapkan kata
seperti papa, mama, kaka, sebelum ia mampu menggunakan rangkaian
kata dalam bentuk kalimat-kalimat sederhana seperti Papa datang,
mama duduk, atau kakak membaca buku.
Fakta kedua adalah bahwa waktu yang dipergunakan oleh seorang
anak untuk menguasai kaidah bahasa yang sangat kompleks terjadi
pada waktu yang relatif singkat dan sangat menakjubkan, karena
peristiwa belajar bahasa itu seakan-akan dialami oleh anak tanpa
kesulitan apa pun. Fenomena belajar bahasa ini bersifat semesta tanpa
ada pihak-pihak tertentu yang secara khusus memberikan pelajaran
kepadanya Dengan pernyataan filosofis, Boswel (1993) menyatakan
bahwa peristiwa belajar bahasa pertama yang dialami seorang anak
adalah conditio sine qua non yang terjadi pada saat anak tumbuh
secara alamiah. Karenanya, peristiwa yang menjadi tanda tanya besar
di kalangan filosof, ilmuwan, dan para orang tua ini mudah disikapi
sebagai hal yang biasa. Banyak orang menganggap bahwa kemampuan
berbahasa itu sebagai kehendak alam yang seharusnya memang
demikian tanpa ada seorang pun yang dapat mencegahnya. Hal yang
menakjubkan ini oleh Menyuk (1988) diungkapkan seperti berikut,"...
a great deal of knowledge about language is acquired over a fairly
short period of time."
Bahasa dapat dilihat dari berbagai perspektif salah satunya perspektif
psikolinguistik. Psikolinguistik adalah suatu studi mengenai penggunaan
bahasa dan perolehan bahasa oleh manusia.2 Levelt membagi Psikolinguistik
ke dalam tiga bidang utama yang mana akan menjadi cara untuk melihat
bagaimana bahasa itu diperoleh antara lain Psikolinguistik Umum,
Psikolinguistik Perkembangan, dan Psikolinguistik Terapan.
Kajian-kajian psikolinguistik berhubungan erat dengan pemerolehan
bahasa dari segi struktur bahasa, fungsi bahasa serta proses pemerolehan
bahasa. Serta hal yang paling penting adalah bagaimana mengajarkan bahasa
asing kepada anak.
109
109
al-Ittija>h
Vol. 05 No. 02 (Juli-Desember 2013)
B.
STRUKTUR DAN FUNGSI BAHASA
1. Struktur Bahasa3
Struktur bahasa terdiri dari unsur-unsur yang dihubungkan yaitu isi
bahasa dan bentuk bahasa. Isi bahasa adalah sesuatu yang menjadi
pembicaraan orang atau bahan pembicaraan, begitu pula apa yang kita
tangkap dari pembicaraan orang dalam hal ini berkaitan dengan obyek-obyek
ataupun kejadian-kejadian. Sedangkan bentuk bahasa adalah berhubungan
dengan linguistic seperti kata-kata, kalimat yang berfungsi dalam
penggunaan bahasa.
Struktur bahasa menyangkut beberapa bidang yaitu: bidang semantik
(mempelajari tentang arti suatu perkataan atau kalimat), bidang sintaksisn
(berhubungan dengan tatabahasa yang mempelajari dasar-dasar proses
pembentukan kalimat), bidang morfologi (mempelajari tentang morfem serta
bagaimana morfe tersebut dibentuk menjadi kata) dan bidang fonologi
(mempelajari tentang bunyi-bunyi bahasa dan termasuk kedalam bagian
tatabahasa.
2. Fungsi Bahasa4
Dalam fungsi bahasa memiliki tiga aspek penting yaitu:
a. Speech Act, sebenarnya adalah sebuah gambaran action pada saat
seseorang berbicara baik itu dengan maksud meminta, meyakinkan,
berjanji, menyuruh dan lainnya.
b. Proporsional Content, adalah kumpulan sebuah ide-ide yang akan
direfleksikan kedalam sebuah pembicaraan atau yang dimaksud dengan
speech act di atas.
c. Thematic Structure, adalah sebuah penilaian tentang keadaan mental
pendengar pada saat seseorang berbicara.
3. Language Acquisition
Acquisition dalam bahasa Indonesia disepadankan dengan
pemerolehan yaitu suatu istilah yang digunakan untuk mengkaji proses
penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu anak
belajar bahasa ibunya (native language) dan atau bahasa asing (Hof, 2005);
(Brown, 2007). Sejalan dengan itu, dikatakan bahwa:5
110
110
Ahmad Habibi Syahid
PEMEROLEHAN BAHASA ASING
PERSPEKTIF PSIKOLINGUISTIK
Language acquisition is the process by which humans acquire the
capacity to perceive, produce and use words to understand and
communicate. This capacity involves the picking up of diverse
capacities including syntax, phonetics, and an extensive vocabulary.
Secara sederhana pernyataan di atas dapat diartikan bahwa
pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang dilakukan manusia untuk
memperoleh kemampuan untuk menerima, memproduksi dan menggunakan
bahasa untuk memahami dan berkomunikasi..
Kemudian Waterson (1970) dalam Chaer (2003); mengatakan bahwa
pemerolehan bahasa adalah suatu proses sosial sehingga kajian lebih tepat
dilakukan di rumah dalam konteks sosial yang sebenarnya dari pada
pengkajian data-data eksperimen, lebih-lebih untuk mengetahui pemerolehan
fonologi. Kemudian, Kenworthy (1997) mengatakan bahwa lingkungan juga
menjadi faktor penentu tentang pemerolehan bahasa anak. Anak mencoba
mempersepsi bunyi yang didengarnya dengan benda-benda dan peristiwa
dalam lingkungnya. Sesudah itu mencoba memproduksi pola bunyi tersebut
tanpa marfologi dan sintaksis. Dengan demikian, menurut (Waterson, 1976)
pemerolehan bahasa anak dimulai dari pemerolehan semantik dan fonologi,
baru kemudian pemerolehan sintaksis.
Kembali ke hakikat pemerolehan bahasa anak, (Dardjowidjojo, 2003)
dan (Chaer, 2003) kemudian mengatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah
suatu proses yang berlangsung di dalam otak seorang ketika masih masa
kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya.
Dalam perkembangannya, istilah ini dibedakan dengan pembelajaran yang
merupakan padanan dari istilah Bahasa Inggris learning. Pembelajaran dalam
pengertian ini diartikan sebagai proses penguasaan bahasa yang dilakukan
dalam situasi dan kondisi formal yaitu di kelas, dan diajar secara regular dan
teratur oleh guru. Dengan demikian, proses anak menguasai bahasa ibunya
disebut pemerolehan atau proses pemerolehan (language acquisition process).
Kemudian, Carroll, (2008) menambahkan bahwa proses belajar yang
dilakukan umumnya oleh orang dewasa yang belajar secara teratur dan
sistematis pada kurun waktu tertentu adalah pembelajaran (learning process)
(Kess 1993); (Dardjowidjojo, 2003).
111
111
al-Ittija>h
Vol. 05 No. 02 (Juli-Desember 2013)
Berkaitan dengan proses pemerolehan, meskipun para ahli yang
menggeluti bahasa dan proses pemerolehan bahasa memiliki landasan
filosofis yang berbeda-beda, tetapi secara umum mereka berpandangan
bahwa anak di manapun mereka berada dalam memperoleh bahasa ibunya
menggunakan strategi yang sama. Kesamaan ini tidak hanya dilandasi oleh
faktor bilogis dan neurologi manusia yang sama tetapi juga dibekali dengan
bekal alamiah dan kodrati pada saat dilahirkan (Hoff, 2005); (Dardjowidjojo,
2003). Ini menunjukkan bahwa pada anak ada konsep universal secara
mental. Comsky dalam (Clark and Clark, 1977) mengibaratkan anak sebagai
entitas yang seluruh tubuhnya telah dipasang tombol dan kabel listrik. Alat
itu kemudian disebut Language Acquisiition Devices (LAD). LAD dalam
bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi ”Piranti Pemerolehan Bahasa”
(PPB). Jadi bahasa dan wujudnya seperti apa ditentukan oleh input dari
sekitarnya dan tidak selalu tergantung pada ibunya.
Konsep pemerolehan bahasa yang lain adalah konsep hipotesis
‟tabularasa.‟ Tabularasa secara leksikal berarti ‟kertas kosong‟ dalam arti
belum ‟ditulis‟ apa-apa. Konsep pemerolahan bahasa ini sebenarnya didasari
oleh John Locke, tokoh empirisme yang sangat terkenal yang kemudian
disebarluaskan oleh John Watson, seorang behaviorisme psikologi. Konsep
ini pada dasarnya menjelaskan bahwa anak (otak) pada waktu dilahirkan
seperti kertas kosong, yang nantinya akan ditulis atau diisi dengan
pengalaman-pengalaman dalam hidupnya. Ini berarti proses pemerolehan
bahasa lebih cenderung dipengaruhi oleh input yang berasal dari luar.
Perbedaan-perbedaan pendapat yang menyolok sehubungan dengan
mekanisme perolehan bahasa pada anak-anak, merupakan suatu mekanisme
yang memungkinkan terjadinya proses pada anak untuk mengembangkan
keterampilan bahasa. Dalam teori linguistik yang kontemporer mengenai
problem bahasa, menurut paham rasionalis 6 mereka menggunakan
Transformational Generative Grammar (TGT).
Menurut Chomsky seorang anak bukanlah suatu tabula rasa,
melainkan telah mempunyai faculty of language (faculty maksudnya adalah
kemampuan untuk berkembang atau untuk belajar). Faculty ini adalah khas
manusia sedangkan binatang tidak mempunyai faculty tersebut.
112
112
Ahmad Habibi Syahid
PEMEROLEHAN BAHASA ASING
PERSPEKTIF PSIKOLINGUISTIK
Pemerolehan bahasa ke asing/kedua (foreign/second language
acquisition-SLA) pada prinsipnya tidak terlalu berbeda dengan pemerolehan
bahasa pertama (first language acquisition-FLA). Misalnya pemerolehan
bahasa pertama dan kedua/asing dari perspektif waktu dilakukan ketika
pemeroleh bahasa masih pada usia anak-anak atau usia dini. Pemerolehan
bahasa pertama biasanya ditujukan pada pemerolehan bahasa ibu yang
umunya dilakukan oleh anak-anak sedangkan pemerolehan bahasa kedua
dilakukan oleh anak-anak dan juga orang dewasa sebagai bahasa tambahan.
http://en.wikipedia.org/wiki/Language_acquisition.2/1/2010.
Kemudian, Brown (2007) pada prinsipnya mengatakan bahwa
pemerolehan bahasa kedua/asing pada dasarnya menyangkut prinsip-prinsip
umum pembelajaran bahasa dan kecerdasan manusia. Dalam pembelajaran
bahasa kedua/asing, peranan bahasa pertama tidak dapat dilepaskan. Ini
artinya bahwa dalam proses pemerolehan bahasa kedua/asing, siswa harus
sudah memiliki kompetensi bahasa pertama di mana bahasa pertama menjadi
benchmarking dan sumber informasi awal dalam belajar/pemerolehan bahasa
kedua tersebut. Dengan demikian, bahasa kedua/asing merupakan
kompetensi tambahan yang diperoleh oleh siswa.
Sejalan dengan hakikat pemerolehan bahasa kedua, disebutkan
7
bahwa:
“Second language acquisition or second language learning is the
process by which people learn a second language in addition to their
native language(s). "Second language acquisition" refers to what the
learner does; it does not refer to what the teacher does.”
Kutipan di atas dapat diartikan bahwa pemerolehan bahasa kedua
adalah suatu proses dimana orang belajar bahasa kedua sebagai tambahan
dari bahasa pertama/asli mereka. Pemerolehan bahasa kedua juga berarti atau
merujuk pada apa yang pembelajar lakukan dan bukan merujuk pada apa
yang guru lakukan. Ini berarti bahwa dalam proses pemerolehan bahasa
kedua adalah suatu proses apa yang pembelajar lakukan dan kerjakan menjadi
hakikat utama dalam proses pemerolehan tersebut dan bukan dari suatu
desain instruksional yang dirancang dan dilakukan oleh guru. Pemerolehan
bahasa kedua lebih menitik beratkan pada aktivitas yang cenderung alamiahrealistik yang dilakukan oleh pembelajar dan bukan merupakan suatu produk
113
113
al-Ittija>h
Vol. 05 No. 02 (Juli-Desember 2013)
dari proses belajar mengajar yang dilakukan guru. Merujuk kepada langkahlangkah pemerolehan bahasa asing/kedua bagi anak usia dini.
Haynes
dalam
http://www.everythingesl.net/inservices_stages
mengatakan bahwa paling tidak ada lima tahapan umum dan utama dalam
proses pemerolehan bahasa kedua. Kelima tahapan tersebut memiliki
karakeristik dan tujuan serta esensi yang berbeda dalam konteks kuantitas
dan kualitas pemerolehan bahasa tersebut.
Catatan akhir dan referensi:
1
John C. L. Ingram, Neurolinguistics An Introduction to Spoken language
Processing and its Disorders (New York; Cambridge University Press, 2007), 15. Lihat
Chomsky bahwa ada sebuah konsep fundamental yang memiliki kemiripan dengan pengertian
“bahasa” menurut akal sehat: prosedur generatif yang membentuk deskripsi-deskripsi
structural (structural descriptions-SDs), masing-masing adalah sebuah himpunan dari unsurunsur fonetik, semantic, dan structural. Prosedur ini dijuluki sebagai I – language, yakni
sebuah istilah yang dipilih untuk mengindikasikan bahwa konsep bahasa bersifat internal,
individual, dan intensional (maka I-language yang berbeda boleh jadi, secara prinsip,
membangkitkan susunan SDs yang sama, kendati unsur-unsur bawaan yang amat dibatasi oleh
daya bahasa yang kadang-kadang tidak menyadari adanya kemungkinan ini), dalam buku
Cakrawala Baru Kajian Bahasa dan Pikiran, judul asli: The New Horizons in The Study of
Language of Mind, 2000. 41.
2
Samsunuwiyati Mar’at, Psikolinguistik Suatu Pengantar (Bandung; Refika
Aditama, 2005), 1. Seperti yang dikutip dari Levelt, 1975, bahwa psikolinguistik berkaitan
dengan dua aspek yaitu perolehan di mana seseorang terutama anak-anak belajar bahasa dan
penggunaan yang artinya bagaimana orang dewasa normal menggunakan bahasa.
3
Struktur bahasa adalah suatu sistem dimana unsur-unsur bahasa diatur dan
dihubungkan satu dengan yang lain (Bloom dan lahey, 1978, 132) seperti yang dikutip oleh
Samsunuwiyati.
4
Fungsi bahasa berhubungan dengan tujuan yang diharapkan dari pembicaraan.
Dalam komunikasi antarindividu fungsi dapat berubah-ubah. Kadang-kadang fungsinya adalah
memberitahu, menanyakan, atau memperingatkan tentang suatu fakta.
5
http://en.wikipedia.org/wiki/Language_acquisition/2/1/2010.
6
Paham rasioanalis diwakili oleh pengikut-pengikut N. Chomsky sedangkan paham
empiris yang diwakili oleh B.F. Skinner dan kawan-kawan beranggapan bahwa manusia
dilahirkan dengan struktur biologis. Kemampuan kognitif dan kapasitas linguistik tertentu dan
tidak berarti si anak mempunyai kemampuan khusus untuk bahasa seperti yang dikemukakan
oleh Chomsky.
7
http://en.wikipedia.org/wiki/Language_acquisition/2/1/2010.
114
114
Ahmad Habibi Syahid
PEMEROLEHAN BAHASA ASING
PERSPEKTIF PSIKOLINGUISTIK
Daftar Pustaka
Aronoff, Mark dan Miller R.Janie. eds. The Handbook of Linguistics.
Oxford: Blackwell Publisher. 2001.
Brown, Dean James. The Elements of Language Curriculum: A Systematic
Approach to Program Development. Boston: Heinle & Heinle
Publishers.1995.
Brown.H. Douglas. 2007. The Principles of Language Teaching and Learning.
New York: Pearson Education, Inc.
Chomsky, Noam. 1975, Reflections and Language. New York: Pantheon
Books.
Dardjowidjojo, Soejono. Echa: Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia.
Jakarta: Grasindo. 2000.
Ingram John C. L., Neurolinguistics An Introduction to Spoken language
Processing and its Disorders. New York: Cambridge University
Press. 2007.
Mar’at Samsunuwiyati, Psikolinguistik Suatu Pengantar. Bandung: Refika
Aditama. 2011.
http://en.wikipedia.org/wiki/curriculum8/12/2009.
http://en.wikipedia.org/wiki/Language_acquisition/2/1/2010.
Ahmad Habibi Syahid, S.Pd.I, adalah Mahasiswa SPs UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta pada bidang Pengkajian Islam, Konsentrasi
Pendidikan Bahasa Arab.
115
115
al-Ittija>h
Vol. 05 No. 02 (Juli-Desember 2013)
116
116
Fly UP