...

Penghormatan terhadap Santu dari Lembah Badia

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Penghormatan terhadap Santu dari Lembah Badia
Aprile 2008
Missionari Verbiti
nr. 3
Segretariato
S. Giuseppe
Società del Verbo Divino (SVD)
Provincia italiana
Penghormatan terhadap Santu dari Lembah Badia.
Perayaan Seratus Tahun wafatnya Santu Yosep Freinademetz.
Santo Yosep Freinademetz dan Doa
Orang-orang Cina mengenalnya sebagai orang penuh kasih, terbuka dan percaya. Mereka tertarik
dengan kesederhanaan, ketenangan dan kemanisannya. Hal itu dibenarkan oleh kesaksian Kardinal Tien
lewat kotbahnya di Badia, tanah kelahiran Santu, tanggal 2 Mai 1963: „Sudah bertahun-tahun saya
berkeinganan untuk mengunjungi tanah kelahiran misionaris kalian yang kudus...Saya perlu
mengunjungi kalian untuk bercerita tentang dia, beruntung saya pernah bersama dia 8 tahun...Dia
seorang misionaris sempurna, bukan hanya karena harus memikul sebuah salib yang berat, melainkan
juga karena dia telah menjadi segalanya untuk semua orang di tanah airku“. Kardinal Tien lebih dari itu
mengenangnya sebagai manusia pendoa. „Selama bertahun-tahun di seminari Yenchowfu saya sering
bertemu dengan P. Freinademetz, karena sudah jadi kebiasaaan bahwa setiap hari minggu sesudah
ibadat meriah saya pergi berbicara dengan dia. Adalah satu pengalaman yang luar biasa bagi kami yang
melihatnya berlutut di tempat koor di dalam gereja dan berdoa. Bayangan tentang imam yang berlutut
itu tidak pernah hilang dari ingatan saya. Ada kesan bahwa tak satu apa pun bisa mengalihrkan
perhatiannya“.
P. Freinademetz tahu menyatukan doa dan kerja. Dia berjaga sampai larut malam dalam doa di depan
tabernakel. Dalam semua suratnya kepada semua kaum keluarga dan teman-temannya dia tidak pernah lupa
meminta mereka berdoa untuk dia dan untuk “orang-orang cinanya”. Dia sadar akan penting, dan bahkan
rasa butuh akan doa. “ Perlu sekali bahwa kita selalu banyak bedoa – tulisnya – Hidup tanpa doa adalah
jalan ke neraka. Kalian jangan lupa berdoa untuk kami dan untuk semua misionaris”.
Dari pihaknya dia menitip semua orang yang dikasihinya kepada hati Yesus dan Bunda Maria. Dia
berdoa untuk semua, tiap hari, tetapi juga memohon agar mereka juga berdoa untuk dia. Di hadapan tugas
misionernya yang luas, dia merasa perlu didukung oleh kaum keluarganya dengan doa, untuk dirinya dan
semua temannya di tanah misi: “Berdoalah selalu dan terlebih kepada Allah dan Perawan Maria agar
memberkati usaha-usaha kami…”. “Kiranya kita selalu ingat bahwa sekarang waktu untuk bekerja,
untuk berjuang dan bukan untuk beristirahat, mari kita melayani Tuhan dengan segenap hati dan nanti
kita akan bertemu kembali di Firdaus mungkin lebih cepat dari yang kita sangka. Saya berdoa banyak,
banyak sekali untuk kalian, bantulah saya dengan doa-doa kalian dan mintalah yang lain juga berdoa
agar Allah membantu saya”.
Bagi P. Yosep Freinademetz doa adalah kekuatan untuk hidup dan kegembiraan. Dua tempat
utama dalam hidup rohaninya ditempati oleh: Perayaan Misa harian dan doa Brevir. Juga dalam perjalanan
misioner yang jauh dan melelahkan, dia tidak pernah mengabaikan dua tugas ini. Juga pada saat-saat yang
paling sukar dalam kerja, dia selalu mencari waktu untuk berdoa, dan hal itu dilakukannya dengan berlutut di
hadapan Sakramen Maha Kudus atau sambil berjalan. Dia tampak berlutut di depan altar selama berjam-jam
dan berulang kali sepanjang hari, segalanya dijiwai dengan doa. Boleh ditegaskan dengan baik bahwa
terbanyak dari waktu terpakai untuk tugas-tugas yang penting, selebihnya dipersembahkan untuk doa. Dia
adalah manusia pendoa. Terkadang dia juga berjalan berjam-jam untuk sampai di tempat di mana dia dapat
mempersembahkan Misa Kudus, tetap berpuasa hingga hari berikutnya. Dia melihat doa sebagai kewajiban
untuk suatu karya kerasulan yang subur: “Pertobatan dari Cina tidak dapat terwujud tanpa doa, karena doa
bagi karya misi orang katolik adalah hujan bagi beni”.
Situasi di mana dia hidup selalu menakutkan: ancaman, perampokan, sampai merasuk bahaya
kematian: “Sekarang kami semua sudah mempersembahkan hidup kami kepada Allah dan kami tidak
takut. Kalau kami mati, kami mati untuk Allah, jika tidak sungguh menyedihkan untuk karya misi
kami…Saya menulis semua hal ini hanya supaya kalian berdoa banyak untuk kami dan untuk orangorang kristen yang terkasih ini agar mereka memperoleh ketahanan dan keberanian. Entah kami hidup,
entah kami mati, kami ada di dalam Tuhan! Hanya ada satu hal yang ada di dalam hati saya, yakni
bahwa kami tidak pernah lelah juga setitik pun dari kehendak Allah yang kudus! Mintalah untuk saya
rahmat ini, saya tidak minta yang lain…Sebutlah nama saya kepada semua warga sekampung yang
terkasih di Badia, yang saya sangat rindu untuk bertemu entah di dunia ini atau paling lambat pasti di
Firdaus. Kiranya mereka berdoa untuk saya, saya akan berdoa untuk mereka agar kita semua tidak
salah jalan”.
Tetapi lebih dari pada untuk dirinya dan untuk para misionaris, P. Josep Freinademetz terutama minta
doa untuk orang-orang cinanya: “Di Cina kami selalu ada di dalam medan perjuangan. Tahun lalu kami
mendapat satu penganiayaan yang hebat, yang berharga nyawa banyak orang kristen. Kami juga sering
berada dalam bahaya yang sangat besar lantaran banyak pencuri; tahun lalu ada dua misionaris dibawa
pergi…sampai sekarang Tuhan selalu tetap ada di pihak kami. Misi berjalan berkat rahmat
Allah…Tuhan menghibur kami di tengah banyak salib dan sengsara. Jangan pernah lupa bersama
seluruh keluargamu untuk menjadikan saya sedekah dengan doa-doamu...Sedekah dengan doa-doa itu
lebih penting ketimbang segala hal yang lain…”
Dia menghendaki bahwa semua saudara dan saudari orang Ladin melibatkan diri dalam
sebuah doa yang hidup dan tak terputus agar kiranya dia mendapat kekuatan di hadapan banyak
penganiayaan dan kesulitan.
Bertambahnya banyak pertobatan, minat baru untuk agama kristen yang lahir dalam diri orang-orang
yang bukan cina berkat pengorbanan tanpa takut dari para misionaris, kebencian yang menjelma menjadi
rasa hormat dan terkadang rasa kagum, telah membuat sebagian besar orang Cina beralih kepada pertobatan.
Selebihnya bagi Allah tidak ada yang mustahil dan segalanya sudah Dia janjikan dalam doa manusia. P.
Yosep Frenademetz merasa bahwa telah tiba saat pertobatan bagi seluruh umat di sana…Situasi agama
memburunya, masalah moral…bagaimana dia belajar ada di hadapan tugas yang dipercayakan kepadanya.
Hidup terasa asing dan dekat pada kematian. Biar begitu P. Freinademetz tidak berputus asa. Dia
mengandalkan Tuhan, untuk itu senjatanya adalah doa. Pasti pertama-tama doanya sendiri, tapi juga doa dari
semua orang yang hendak menyatukan diri dalam tugas kerasulannya.
Doa itu basis hidup dari orang-orang saleh, dari orang-orang yang benar kristen, untuk para
misionaris, untuk siapa saja yang ingin menjadi kudus, untuk orang yang ingin hidup layak dalam
masyarakat dan hidup dalam damai. Doa, mencari ketenangan, diam untuk mendengarkan kebenaran dari
Allah, inilah satu pesan penting lain dari Santu Freinademetz. Orang-orang Cina mengenalnya sebagai orang
yang baik tanpa mengenal lelah, dia menarik semua orang karena kesederhanaan dan kerendahan hatinya,
karena keutamaan-keutamaan hidupnya dia disamakan dengan Konfuzius, tapi lebih dari itu mereka kagum
karena semangat doanya. Karya misinya berada dalam adanya sebagai “pendoa dalam karya Misi”. Iman,
nilai-nilai hidup yang benar dan Injil Yesus Kristus tidak bisa diwartakan, tanpa menjadi pendoa-pendoa dan
misionaris-misionaris pada saat bersamaan.
Refleksi pribadi dan Komunitas:
1. “Dunia bisa berlalu, Allah tidak membiarkan doa sia-sia”. (1891) “Dalam doa hal yang paling
mendasar adalah sikap rendah hati, kemiskinan dan percaya.” (1877) Apakah doa mendapat tempat
dalam hidup saya? Saya yakin akan pentingnya doa?
2. “Renungan dan Meditasi. Jika engkau ingin menjadi bijaksana... kesepian kiranya menjadi
sekolahmu, Kristus menjadi gurumu, langit dan bumi menjadi bukumu, meditasi dan doa kiranya
menjadi studimu”. (1877) Apakah kita memiliki waktu dan tempat untuk mendengarkan Allah?
Dapatkah Dia masuk dalam hidup kita?
3. Untuk menghindari agar bunga-bunga hati kita – hormat kepada Allah, kerendahan hati, cinta –
tidak sampai pudar, hendaklah kita mencari sumber air yang jernih dan baik yang mengalir secara
tetap. Air itu adalah doa yang tetap dan khusuk. Saya tidak maksudkan formulasi-formulasi doa lisan
tertentu melainkan lebih tepat pada semaangat doa yang menjiwai seluruh hari kita, bahkan makan,
tidur, bermain dan bernafas kita melakukannya sebagai suatu pelayanan kepada Allah”. (1879) Doa
dan hidup, hidup dan doa: suatu pasangan yang tak terpisahkan untuk kematangan orang kristen
dan misionaris.
___________________________________
Casa natale di S. Giuseppe Freinademetz
Oies 6
39036 Badia - Bolzano Italia
E-mail: [email protected]
Missionari Verbiti – Provinciale
Via Venezia 47
38066 Varone -Riva del Garda - Trento Italia
E-mail: [email protected]
www.missionariverbiti.it
Fly UP