...

Hidup Sesuai Dhamma DC.pmd

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Hidup Sesuai Dhamma DC.pmd
Hidup Sesuai Dhamma
PANDUAN HIDUP DALAM BERKESADARAN
Bongkahan daging segar yang melapuk (decline) ini adalah
suatu kenyataan. Sang Buddha mengajarkan kita untuk
menrenungkan proses perubahan (melapuknya) tubuh dari waktu
ke waktu dan menghadapi kenyataan proses alami ini. Kita harus
mampu berada dalam keadaan damai dengan tubuh ini dalam
kondisi apapun. Sang Buddha mengajarkan bahwa hanya tubuhlah
yang boleh terpenjara, tetapi jangan membiarkan pikiran ikut
terpenjara.
Nah, sekarang dengan semakin menurunnya fungsi tubuhmu
sejalan dengan bertambahnya usia, jangan menolak hal itu, tetapi
jangan biarkan pikiranmu ikut mundur. Sang buddha telah
mengajarkan bahwa begitulah sifat alami tubuh, tidak ada sifat
lainnya. Setelah dilahirkan, menjadi tua, sakit dan akhirnya kita
mengalami kematian. Ini adalah suatu kesunyataan mulia yang
saat ini sedangkamu saksikan sendiri. Lihatkah tubuhmu dengan
kebijaksanaan dan sadarilah hal ini. Jika rumahmu kebanjiran,
biarkan banjir itu hanya mengganggu rumahmu, jangan biarkan ia
“membanjiri” pikiriranmu. Dan juga bila terjadi kebakaran, jangan
biarkan ia membakar hatimu.
DhammaCitta
Perpustakaan eBook Buddhis
http://www.DhammaCitta.org
Silahkan kunjungi website DhammaCitta
untuk eBook dan audio MP3 lainnya
Hidup Sesuai Dhamma
Judul
Hidup Sesuai Dhamma
Penerjemah
Kalyani Kumiayi, S.E.
Penulis
Ajahn Chah
Layout & Grafis
Suyoto
eBook
DhammaCitta
[email protected] dian dharma
Cetakan Pertama October 2006
Untuk Kalangan Sendiri
Tidak Diperjual-belikan
Ajahn Chah
Ajahn Chah dilahirkan dalam suatu keluarga besar yang
tak kurang suatu apa di pedesaan Thailand Timur Laut. Ia
ditahbiskan sebagai samanera pada usia muda dan ketika
telah mencapai usia dua puluh tahun menjalani upasampada
sebagai bhikkhu. Sebagai bhikkhu muda, ia mempelajari
dasar-dasar Dhamma, Vinaya dan kitab-kitab suci lainnya.
Belakangan ia berlatih meditasi lokal yang mengikuti tradisi
bertapa di hutan. Ia berkelana untuk beberapa tahun sebagai
bhikkhu petapa, tidur di hutan, gua dan tanah kuburan, dan
menyempatkan waktu yang tidak berapa lama, tetapi
merupakan periode yang mencerahkan, bersama Ajahn
Mun, salah seorang guru meditasi Thai yang paling terkenal
dan dihormati pada abad ini.
Selama beberapa tahun berkelana dan berlatih, ia
diundang untuk mendiami hutan lebat dekat tempat
kelahirannya. Hutan ini tidak bertuan, dan dikenal sebagai
tempat kobra, macan dan setan bersarang, sehingga seperti
katanya, menjadi lokasi yang sempurna bagi seorang bhikkhu
hutan. Di sekelilling Ajahn Chah, vihara yang besar
terbentuk perlahan-lahan dengan semakin banyaknya
bhikkhu dan umat awam yang dating mendengarkan
petunjuknya dan tinggal di sana untuk berlatih bersamanya.
Sekarang ada lebih dari empat puluh cabang vihara gunung
dan hutan di seluruh Thailand dan juga di Inggris dan
Australia.
Memasuki Wat Pah Pong seseorang akan segera melihat
bhikkhu-bhikkhu yang menimba air dari sumur, dan sebuah
tanda di tepi jalan yang berbunyai: “Anda dimohon tenang!
Kami sedang mencoba bermeditasi.”
Walaupun meditasi kelompok diselenggarakan dua kali
sehari, inti meditasinya adalah kehidupan sehari-hari. Para
bhikkhu mengerjakan pekerjaan dengan tangan mereka,
mencelup dan menjahit jubah mereka sendiri, membuat
sendiri kebanyakan kebutuhan mereka dan menjaga agar
bangunan vihara dan pekarangannya tetap bersih. Di sini
para bhikkhu hidup dengan sangat sederhana mengikuti janji
petapa yang hanya makan satu kali sehari dari mangkuk dana
makanan dan membatasi milik serta jubahnya. Terpencar di
hutan itu adalah gubuk-gubuk (kuti-kuti) untuk tiap bhikkhu,
tempat para bhikkhu hidup dan bermeditasi dalam
kesendirian, dan tempat mereka berlatih meditasi berjalan
di jalan-jalan yang bersih di bawah pohon.
Disiplinnya sangat ketat agar seseorang dapat terbimbing
ke dalam kehidupan yang sederhana dan suci dalam
masyarakat yang teratur dengan serasi sehingga kebajikan,
meditasi dan pengertian dengan terampil dapat dibina
berkesinambungan.
Cara mengajar Ajahn Chah yang sederhana, tetapi
agung itu, telah membuat orang Barat khususnya tertarik,
dan banyak yang telah dating untuk bertapa dan berlatih
bersamanya, bahkan beberapa di antaranya mencapai
beberapa tahun. Dalam tahun 1975 Wat Pat Nanachat
didirikan dekat Wat Pah Pong sebagai vihara pelatihan khusus
untuk orang Barat yang makin banyak berminat untuk
menjalani pelatihan dalam biara. Sejak itu banyak siswa Barat
yang senior dari Ajahn Chah memulai kerja
menyebarluaskan Dhamma ke Barat. Ajahn Chah sendiri
pernah dua kali mengunjungi Eropa dan Amerika Utara, dan
ia telah mendirikan cabang biara yang berkembang pesat di
Sussex, Inggris.
Kebijaksanaan merupakan landasan bagi kehidupan dan
keberadaan, dan Ajahn Chah telah berupaya untuk
melestarikan cara hidup sederhana para bhikkhu agar orang
dapat belajar dan berlatih Dhamma pada masa sekarang.
Cara mengajar sederhana dari Ajahn Chah yang
menakjubkan itu dapat memperdayakan. Seringkali hanya
setelah seseorang mendengar sesuatu darinya beberapa kali
barulah kemudian dengan tiba-tiba batin seseorang menjadi
matang dan ajaran itu bahkan menghasilkan makna yang
lebih dalam. Keterampilannya dalam cara menyesuaikan
penjelasan Dhammanya terhadap pemahaman dan kepekaan
pendengarnya, sungguh mengagumkan. Namun di atas kertas
kadang-kadang ia nampaknya tidak konsisten atau bahkan
bertentangan sendiri! Pada saat demikian para pembaca
hendaknya menyadari bahwa kata-katanya itu adalah
rekaman dari pengalaman hidup. Dengan cara yang serupa,
jika ajarannya sewaktu-waktu berlainan dengan tradisi,
hendaknya dicamkan baik-baik dalam pikiran anda bahwa
Yang Mulia Ajahn selalu berbicara dari hatinya, dari
kedalaman pengalaman meditasinya.
Ajahn Chah (Tan Chao Kun Bodhinyana Mahathera)
wafat pada tanggal 16 Januari 1992 dalam usia 73 tahun.
Banyak sudah buku-buku karya beliau yang diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia.
Semoga karma baik beliau senantiasa berbuah di alam
yang membahagiakan.
Kammabandhu
ABHINHAPACCAVEKKHANA
(Kerap Kali Direnungkan)
Jara dhammomhi
Aku akan menderita usia tua.
Jaram anatito
Aku belum mengatasi usia tua.
Byadidhammomhi
Aku akan menderita penyakit.
Byadhim anatito
Aku belum mengatasi penyakit.
Marana dhammomhi
Aku akan menderita kematian.
Maranam anatito
Aku belum mengatasi kematian.
Sabbehi me piyehi manapehi Segala milikku, yang kucintai dan
Nanabhavo vinabhavo
menyenangkanku, akan berubah
dan terpisah dariku.
Kammassakomhi
Aku adalah pemilik karmaku
sendiri.
Kammadayado
Pewaris karmaku sendiri.
Kammayoni
Lahir dari karmaku sendiri.
Berhubungan dengan karmaku
sendiri.
Kammapatisarano
Terlindung oleh karmaku sendiri.
Yam Kammam karissami
Apapun karma yang kuperbuat.
Kalyanam va papakam va
Baik atau Buruk.
Tassa dayado bhavissami
Itulah yang akan kuwarisi.
Evam amhehi abhinham
Hendaklah ini kerap kita
Paccavekkhitabbam.
renungkan.
Daftar Isi
Rumah Kita Sebenarnya ............................................. 1
Menagapa Kita Disini ................................................. 23
Meditasi ....................................................................... 43
Empat Kesunyataan Mulia .......................................... 63
Tucha Pothila ............................................................... 83
1
Rumah Kita
Yang Sebenarnya
1
Rumah Kita
Yang Sebenarnya
Khotbah kepada seorang umat menjelang Kematiannya.
Saat ini pusatkan pikiranmu untuk mendengarkan
Dhamma dengan seksama dan penuh hormat. Saat saya
berbicara, dengarkanlah seakan-akan Sang Buddha sendirilah
yang duduk dihadapanmu. Tutuplah matamu dan rilekslah,
pusatkan pikiranmu pada satu titik. Dengan rendah hati
biarkanlah Tiratana (The Triple Gem), kebijaksanaan,
kebenaran dan kemurnian, hadir di hatimu sebagai tanda
penghargaan kepada Sang Bhagava yang telah mencapai
Penerangan Sempurna.
Saya tidak membawa barang atau materi yang bisa saya
berikan, yang ada hanya Dhamma, ajaran dari Sang Buddha.
Pertama harus kamu pahami dengan seksama, bahwa setiap
ada kelahiran pasti ada kematian, Sang Buddha yang
mempunyai banyak jasapun tidak dapat menghindari kematian
secara fisik, begitu pula dengan kamu. Kamu harus dapat
berpuas hati, harus sudah merasa cukup dapat hidup
3
bertahun-tahun. Seperti halnya barang-barang rumah tangga
yang kalian miliki, pada awalnya barang-barang tersebut bersih
dan mengkilat, tetapi setelah dipakai beberapa waktu bendabenda tersebut mulai usang, bahkan ada yang telah pecah,
hilang dan yang masih tersisapun tidak seindah dan sebaik
ketika masih baru, bahkan ada yang sudah jelek atau rusak
wujudnya. Begitulah proses alaminya, demikian pula dengan
proses tubuhmu. Tubuh ini secara terus menerus mengalami
perubahan sejak dari lahir, tumbuh berkembang menjadi
muda belia, lalu melewati masa muda itu sampai saat ini, saat
memasuki usia tua. Kamu harus bisa menerima hal ini. Sang
Buddha mengatakan segala kondisi, baik kondisi dalam
(internal conditions), kondisi tubuh (bodily conditions)
ataupun kondisi luar (external conditions), bukanlah DIRI
(not self), sifat mereka adalah berubah . Renungkanlah
kebenaran ini dengan jelas.
Bongkahan daging segar yang melapuk (decline) ini
adalah suatu kenyataan. Sang Buddha mengajarkan kita untuk
merenungkan proses perubahan (melapuknya) tubuh dari
waktu ke waktu dan menghadapi kenyataan proses alami ini.
Kita harus mampu berada dalam keadaan damai dengan tubuh
ini dalam kondisi apapun. Sang Buddha mengajarkan bahwa
hanya tubuhlah yang boleh terpenjara, tetapi jangan
membiarkan pikiran ikut terpenjara.
Nah, sekarang dengan semakin menurunnya fungsi
tubuhmu sejalan dengan bertambahnya usia, jangan menolak
hal itu, tetapi jangan biarkan pikiranmu ikut mundur. Tetap
jagalah agar pikiran itu terpisah, berilah energi pada
4
pikiranmu dengan cara melihat kebenaran dalam segala
sesuatunya seperti apa adanya. Sang Buddha telah
mengajarkan bahwa begitulah sifat alami tubuh, tidak ada
sifat lainnya. Setelah dilahirkan, menjadi tua, sakit dan
akhirnya kita mengalami kematian. Ini adalah suatu
kesunyataan mulia yang saat ini sedang kamu saksikan sendiri.
Lihatlah tubuhmu dengan kebijaksanaan dan sadarilah hal
ini.
Jika rumahmu kebanjiran, biarkan banjir itu hanya
mengganggu rumahmu, jangan biarkan ia “membanjiri”
pikiranmu. Dan juga bila terjadi kebakaran, jangan biarkan
ia membakar hatimu. Biarkanlah rumahmu saja yang telah
terbakar, yaitu tubuh luarmu saja yang menurun tetapi bukan
hatimu. Saat ini sudah tiba masanya untuk melepaskan segala
macam kemelekatan.
Kamu sudah hidup cukup lama; matamu sudah melihat
banyak warna dan bentuk, telingamu telah mendengar
berbagai macam bunyi dan kamu sudah memiliki berbagai
macam pengalaman hidup. Dan itulah kenyataannya, hanya
pengalaman, kamu telah makan makanan yang lezat dan
semua rasa enak tersebut hanyalah rasa enak saja, tidak lebih.
Rasa yang tidak enak hanyalah rasa tidak enak, itu saja. Jika
mata ini melihat bentuk yang bagus hanyalah bentuk yang
bagus, dan bentuk yang jelek hanyalah bentuk yang jelek.
Telinga ini mendengar suara yang merdu, dan hanya itu saja.
Suara yang sumbang juga hanya suara yang sumbang, tidak
lebih.
5
Sang Buddha mengatakan bahwa kaya atau miskin, tua
atau muda, manusia atau binatang, tidak ada satu makhlukpun
yang dapat berada dalam satu keadaan tertentu terlalu lama.
Semua mengalami perubahan dan penyusutan. Ini adalah
kenyataan hidup yang tidak dapat kita hindari dengan cara
apapun. Sang Buddha mengatakan bahwa yang harus kita
lakukan adalah merenungkan tubuh dan pikiran untuk
melihat tidak adanya konsep DIRI, bahwa tidak ada istilah
“Milikmu” maupun “Milikku” . Semuanya hanyalah
kebenaran yang sementara saja. Sama halnya dengan rumah
ini, ia hanyalah secara nominal milikmu. Kamu tidak dapat
membawanya bersamamu setiap saat. Hal yang sama berlaku
bagi kekayaan, atau keluargamu: mereka adalah milikmu
hanya dalam nama, mereka tidak benar-benar milikmu,
mereka adalah milik alam.
Kenyataan ini tidak hanya berlaku untukmu, setiap
orang berada dalam posisi yang sama, bahkan terhadap Sang
Buddha dan murid-murid Beliau yang telah mencapai
penerangan. Perbedaannya hanya pada cara penerimaan saja,
Beliau menerima segala sesuatu seperti ada adanya.
Sang Buddha mengajarkan kita untuk menyelidiki dan
merenungkan tubuh ini mulai dari telapak kaki sampai ujung
rambut dan kembali lagi ke kaki. Cobalah lihat tubuh! Apa
saja yang kamu lihat? Apakah pada dasarnya ada yang bersih?
Dapatkah kamu menemukan suatu inti yang kekal? Sang
Buddha menjelaskan bahwa tubuh ini bukanlah milik kita.
Seluruh tubuh selalu mengalami kelapukan, itu adalah hal
yang alami, tubuh kitapun mengalami hal seperti itu, karena
6
semua fenomena yang terkondisi akan mengalami
perubahan. Jadi berdasarkan apakah kamu merasa memiliki
tubuhmu ini?
Pada dasarnya tidak ada apapun yang salah dengan tubuh
kita, bukan tubuh yang menyebabkan penderitaan, tetapi
pikiran yang salahlah yang menyebabkan penderitaan. Pada
saat kamu melihat segala sesuatunya dengan cara dan
pandangan yang salah, maka timbullah kebingungan,
timbullah kegelapan.
Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang
rendah, hal itu adalah sifat air. Jika seseorang berdiri di sisi
sungai dan menginginkan aliran untuk menuju tempat yang
tinggi, ia adalah orang bodoh. Kemanapun orang yang
mempunyai pola pikir seperti itu pergi, ia tidak akan pernah
mendapatkan kedamaian, ia akan menderita karena
pandangannya yang salah, pikiran yang melawan arus. Bila ia
mempunyai pandangan yang benar, ia akan mampu melihat
bahwa air pasti mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke
tempat yang rendah. Itu adalah hal yang tidak dapat
terhindarkan dan bila orang tersebut belum mampu melihat
hal ini, ia akan selalu frustasi dan bingung.
Air pasti mengalir ke bawah, sama dengan tubuh kalian.
Setelah melewati masa muda tubuhmu akan mengalami
penuaan dan menuju kematian. Jangan mencoba untuk
mengharapkan yang sebaliknya. Hal ini bukanlah sesuatu
yang dapat diubah. Sang Buddha menghimbau agar kita
melihat segala sesuatunya seperti apa adanya dan kemudian
7
melepaskan kemelekatan kita, ambillah pelepasan ini sebagai
perlindunganmu.
Tetaplah bermeditasi meskipun kamu merasa lelah dan
frustasi. Biarkan pikiranmu berjalan seirama dengan nafasmu.
Tariklah nafas panjang beberapa kali dan kemudian
kembalikan konsentrasimu pada nafasmu lagi, dengan
melafalkan kata-kata Bud-dho, buatlah latihan ini menjadi
kebiasaan. Semakin kamu lelah, perkuat dan perhalus
perhatianmu sehingga kamu dapat merasakan segala macam
sensasi sakit yang timbul. Ketika kamu mulai merasa sangat
letih, tahanlah nafasmu dan perhati-kan nafas yang tertahan
itu, lalu biarkanlah pikiranmu terfokus dengan sendirinya;
kemudian kembalilah bernafas normal. Tetaplah mengulang
kata-kata Bud-dho, Bud-dho.
Lepaskanlah segala sesuatu diluar dirimu, jangan berpikir
tentang anak-anak ataupun saudaramu, jangan berpikir
tentang apapun, lepaskan. Biarkanlah pikiran terpusat pada
satu titik dan biarkanlah titik itu menyatu dengan tarikan
nafasmu. Biarkanlah nafas menjadi obyek, berkonsentrasilah
sampai pikiran menjadi bertambah halus, sampai bentukbentuk pikiran tidak mengganggu lagi dan terdapat kejernihan
yang dalam serta terjaga (wakefulness). Dengan demikian setiap
rasa sakit yang timbul akan dapat hilang sesuai dengan
masanya.
Pada dasarnya kita harus melihat pernafasan sebagai
seorang saudara yang datang berkunjung, ketika mereka
pulang kita mengantar mereka ke depan pintu dan menanti
8
sampai mereka hilang dari pandangan kemudian kita masuk
ke dalam. Kita mengamati pernafasan dengan cara yang
sama, jika nafas itu berat kita tahu bahwa itu berat dan.bila
nafas itu halus kitapun akan tahu. Kita mengikuti saja jalannya
nafas sambil sekaligus membangunkan pikiran kita, pada
akhirnya nafas itu akan menghilang dan yang tertinggal hanya
kewaspadaan.
Lepaskanlah semuanya kecuali pengertian, jangan
terbodohi oleh suara atau bayangan yang mungkin timbul
selama meditasi. Letakkanlah semuanya, jangan terikat pada
apapun menyatulah dengan kewaspadaan, jangan khawatir
tentang masa yang akan datang atau yang telah berlalu.
Tetaplah tenang dan kamu akan mencapai suatu tempat
dimana tidak ada kemajuan, kemunduran dan perhentian,
tidak ada sesuatupun untuk dilekati dan diingini. Mengapa?
Karena disitu tidak ada lagi konsep diri, tidak ada apapun.
Sang Buddha mengajarkan kita untuk membuat diri kita
seperti itu, untuk tidak membawa apapun kemana-mana...
sudah cukup untuk mengetahui, dan setelah tahu, melepaskan
segala sesuatunya.
Menyadari Dhamma, jalan untuk menuju kebebasan
dari lingkaran kelahiran atau kehidupan dan kematian, tugas
pribadi kita masing-masing. Tetaplah berusaha untuk melepas
kemelekatan-kemelekatan, kekeliruan-kekeliruan dan
mengertilah akan ajaran-Nya, bersungguh-sungguh dalam
perenunganmu. Jangan khawatir tentang keluargamu, toh
mereka sama seperti kamu, di masa yang akan datang mereka
akan menjadi seperti kamu pula. Tidak ada seorangpun di
9
dunia yang dapat menghindari hal ini. Sang Buddha
mengajarkan kepada kita untuk meletakkan hal-hal yang tidak
benar-benar mempunyai inti yang kekal. Jika kamu mau
meletakkan segalanya kamu akan dapat melihat kesunyataan,
jika tidak mau, kamu tidak akan dapat melihat kesunyataan,
begitulah adanya. Dan hal ini berlaku sama bagi siapa-pun di
dunia ini, jadi jangan berpegang pada apapun juga sekalipun
pada saat kamu berpikir.
Tentunya baik jika kamu berpikir secara bijak, jangan
berpikir secara serampangan. Jika kalian memikirkan anakanakmu, pikirkan mereka dengan kebijaksanaan, kemanapun
pikiran berada, berpikirlah dengan bijaksana, waspadalah
dengan sifat alami. Cara untuk mengetahui tentang segala
sesuatu secara bijaksana adalah dengan melepaskan dan tidak
menderita karenanya.
Pikiran menjadi tenang, gembira dan damai, pikiran
berpaling dari gangguan dan tidak terpecah, yang dapat kamu
amati untuk membantu dan mendukungmu adalah nafasmu.
Ini adalah tugas yang harus kamu kerjakan sendiri, bukan
oleh orang lain. Biarkanlah orang lain mengerjakan tugas
mereka sendiri, kamu punya tugas dan tanggung jawab
sendiri, pelepasan ini akan membuatmu tenang. Tanggung
jawabmu saat ini adalah untuk memfokuskan pikiranmu dan
membuatnya damai. Tinggalkan yang lain pada orang lain,
bentuk, suara, aroma, rasa... serahkanlah segala macam hal
itu pada orang lain. Tinggalkan segalanya di belakangmu dan
lakukan pekerjaanmu sendiri, penuhilah tanggung jawabmu.
Pada apapun yang muncul dipikiranmu, baik yang berupa
10
Berpikirlah, hidup tanpa kebijaksanaan hanya akan
menyengsarakan dirimu sendiri, tetapi berpikir untuk mati
dengan segera atau dengan cepatpun tidak tepat. Itupun
penderitaan, kondisi bukan milik kita, ia mengikuti proses
alaminya sendiri. Tidak ada yang dapat kamu lakukan dengan
tubuhmu sehubungan dengan proses alami, memang untuk
sementara kamu dapat mempercantiknya.
tubuh ini, kamu tidak dapat membuatnya lain, yang dapat
kamu tingkatkan dan percantik adalah pikiranmu.
Siapa saja dapat nnembangun rumah dari kayu dan batu
bata, tetapi Sang Buddha mengajarkan bahwa rumah
semacam itu bukanlah rumah yang sebenarnya, hanya secara
materil ia milik kita. Ia adalah rumah di dalam dunia ini dan
karenanya iapun mengikuti proses alami. Rumah kita yang
sesungguhnya adalah ketenangan batin. Sebuah rumah di
luar diri kita memang bisa indah dan mahal tetapi ia tidaklah
begitu damai, ada kekhawatiran, ada kecemasan dan
sebagainya. Jadi kita katakan: itu bukan benar-benar rumah
kita, ia ada diluar kita. Cepat atau lambat kita harus
melepaskannya. Itu bukan-lah rumah yang dapat kita tinggali
secara permanen karena bukan betul-betul milik kita, itu
adalah milik dunia. Begitu juga dengan tubuh kita, kita
menganggapnya “aku” atau “milikku”, tetapi sebenarnya sama
sekali bukan demikian. Itu adalah salah satu bentuk rumah
duniawi. Tubuhmu telah mengikuti proses alami mulai dari
kelahiran, sampai saat ini tua dan sakit-sakitan, dan kamu
tidak dapat melarangnya agar tidak begitu, demikianlah
adanya. Menginginkannya menjadi lain adalah sama
bodohnya seperti menginginkan itik menjadi ayam. Ketika
kamu melihat bahwa hal tersebut adalah tidak mungkin,
kamu akan mendapat keberanian dan kekuatan.
Bagaimanapun inginnya kamu supaya tubuh ini awet, itu tidak
akan bisa.
Mereka yang masih gadis-gadis umumnya mewarnai
bibirnya dan membiarkan kukunya panjang, tetapi saat usia
tua datang, semua ada dalam keadaan yang sama. Begitulah
Sang Buddha bersabda:
Anicca vata sankhara, Uppada vaya dhammino,
Uppajjitva nirujjhan’ti. Tesam vupasamo sukho
ketakutan akan kesakitan, ketakutan akan.kematian,
kecemasan tentang orang lain atau apapun, katakan: “Jangan
ganggu aku, kamu tidak lagi jadi perhatianku.” Tetaplah
katakan hal itu saat Dhamma-Dhamma itu timbul.
Apa arti kata Dhamma itu? Segalanya adalah Dhamma,
tidak ada sesuatupun yang bukan Dhamma. Dan bagaimana
mengenai “dunia”? Dunia adalah suatu tahapan mental yang
menggerakkan kamu pada saat ini. “Apa yang akan mereka
lakukan? Bila saya pergi, siapa yang akan menjaga mereka?
Bagaimana mereka akan bisa mengatasi segala sesuatunya?”
Inilah “dunia”. Bahkan timbulnya rasa takut yang sangat
kecilpun tentang sakit atau kematian adalah “dunia”.
Buanglah dunia itu! Dunia ada sebagaimana adanya. Jika kamu
mengijinkannya mendominasi dirimu, ia menjadi tidak jelas.
Apapun yang timbul dalam pikiran, katakanlah “Ini semua
bukan urusanku. Ini adalah sesuatu yang tidak kekal dan tidak
memuaskan, sera bukan diri”.
11
12
Artinya:
Segala yang terbentuk tidak kekal adanya, bersifat timbul
dan tenggelam, setelah timbul akan hancur dan lenyap,
bahagia timbul setelah gelisah lenyap.
Sankhara adalah tidak kekal dan tidak stabil. Setelah
datang sebagai sesuatu (being) kemudian lenyap, setelah
timbul kemudian menghilang. Tetapi orang
menginginkannya untuk abadi. Ini adalah suatu kebodohan.
Lihatlah nafas, sesaat masuk, kemudian keluar, begitulah
memang seharusnya. Nafas yang masuk dan keluar harus
bergantian, harus ada perubahan, kondisi itu timbul melalui
perubahan, kamu tidak dapat menghalanginya. Pikirkan:
Dapatkah kamu menarik nafas tanpa menghembuskannya
keluar? Kita. ingin segala sesuatunya tetap tetapi tidak bisa
begitu, itu tidak mungkin. Sekali nafas itu masuk, ia harus
keluar. Dan setelah keluar toh mereka masuk lagi, alami
bukan? Setelah dilahirkan, kita menjadi dewasa, tua, sakit
dan kemudian mati, hal ini sepenuhnya alami dan normal.
Karena kondisi telah melakukan tugasnya, sebagaimana nafas
yang masuk dan keluar bergantian, demikianlah manusia
masih sampai saat ini.
Segera setelah kita dilahirkan, kita membawa kematian.
Kelahiran dan kematian kita adalah satu hal. Seperti pohon,
ketika ada akar maka akan ada cabang, dan saat ada cabang
maka akar harus ada. Kalian tidak bisa hanya menginginkan
satu sisi saja.
13
Agak lucu bila kita lihat bagaimana sedih dan
berdukanya seseorang pada saat ada kematian, dan bagaimana
bahagia dan senangnya mereka pada saat ada kelahiran. Itu
semua hanyalah salah pandangan, tidak melihat ini dengan
jelas. Saya rasa kalau kalian benar-benar ingin menangis,
saharusnya kalian lakukan hal itu pada saat datangnya
kelahiran. Kelahiran adalah kematian, kematian adalah
kelahiran, cabang adalah akar, dan akar adalah cabang. Jika
kamu harus menangis, menangis pada akarnya, menangislah
pada kelahiran. Lihatlah denan cermat: jika tidak ada
kelahiran, tidak akan ada kematian, dapatkah kalian
mengerti hal ini?
Jangan terlalu khawatir tentang segala sesuatunya, pikirlah
“Ya inilah adanya”. Ini adalah tugasmu, kewajibanmu, saat
ini tidak ada seorangpun yang dapat menolongmu. Tidak ada
yang bisa dilakukan, baik oleh sanak-saudara ataupun hartakekayaanmu, yang dapat menolongmu hanyalah kesadaran
yang jernih dan perbuatan baikmu.
Jadi jangan ragu-ragu, lepaskanlah-buanglah semua-nya.
Sekalipun tidak kau lepaskan, semuanya toh telah mulai
meninggalkanmu, dapatkah kau lihat itu, bagaimana bagianbagian tubuhmu mulai lepas? Lihatlah rambutmu, ketika
kamu masih muda rambut itu begitu lebat dan hitam,
sekarang mulai rontok, mulai pergi. Penglihatanmu dulunya
jelas dan kuat, tetapi sekarang mulai melemah. Saat organorgan tubuhmu sudah sampai waktunya, semuanya akan
pergi, karena tubuh itu bukan rumah mereka. Ketika kamu
masih kecil, gigi kalian masih sehat dan kuat. Tetapi sekarang
14
sudah goyah, atau bahkan kalian telah menggunakan gigi
palsu. Mata, hidung, telinga, lidah kalian semuanya mencoba
untuk pergi karena tubuh itu bukan rumah mereka. Karena
terkena kondisi, kamu tidak dapat membuat sesuatu itu
tidak berubah. Kamu hanya bisa tinggal sementara dan pada
saatnya harus pergi.
Jadi kamu tidak perlu khawatir mengenai apapun karena
tubuh ini bukanlah rumahmu yang sesungguhnya, ia hanyalah
tempat tinggal sementara. Setelah datang di dunia ini maka
kamu harus merenungkan tentang proses alaminya.
Segalanya yang ada disiapkan untuk lenyap, lihatlah tubuhmu
apakah masih ada yang memiliki wujud asli? Apakah kulitmu
masih sama seperti dahulu? Demikian pula rambutmu,
apakah masih sama? Tidak sama lagi, bukan? Kemanakah
perginya? Inilah hukum alam, begitulah adanya. Di dunia
ini tidak ada satupun yang bisa dijadikan pegangan, dunia
ini adalah lingkaran penderitaan, kesulitan dan sakit yang
tidak ada akhirnya. Tidak ada kedamaian.
Pada saat kita tidak memiliki rumah yang sesungguhnya,
kita seperti pengembara yang berada di jalanan, pergi kesana
kemari, berhenti sementara, untuk kemudian berjalan
kembali. Sebelum dapat kembali ke rumah kita yang
sesungguhnya, kita akan merasa tidak nyaman, seperti seorang
penduduk desa yang meninggalkan desanya. Hanya jika ia telah
sampai kembali ke desa asalnyalah maka ia dapat santai dan
berada dalam kedamaian.
15
Tidak ada satu tempatpun di dunia ini dimana kita dapat
menemukan kedamaian, yang miskin maupun yang kaya samasama tidak mempunyai kedamaian; mereka yang sudah dewasa
dan masih kecil juga sama-sama tidak menemukan
kedamaian; yang berpendidikan tinggi maupun rendah juga
tidak mempunyai kedamaian. Tidak ada kedamaian di dunia
ini, begitulah sifat alaminya. Mereka yang miskin menderita,
begitu juga yang kaya. Anak-anak, orang dewasa, tua dan
muda... semuanya menderita. Menderita karena
kemudaannya, menderita karena sudah tuanya, menderita
karena kayanya, menderita karena miskinnya... semua tidak
lain hanyalah penderitaan.
Jika kamu merenungkannya sedemikian rupa, kamu akan
melihat anicca - ketidakkekalan, dan dukkha - ketidakpuasan.
Kenapa hal-hal itu tidak kekal dan tidak memuaskan? Karena
semuanya itu adalah anatta – bukan diri.
Baik badanmu yang tergeletak dan menderita sakit,
maupun pikiranmu yang sadar akan kesakitanmu, semuanya
adalah Dhamma. Yang tidak berbentuk: pikiran, perasaan
dan persepsi, disebut NamaDhamma. Yang merasakan sakit,
disebut RupaDhamma. Yang berwujud adalah Dhamma, yang
tidak berwujudpun adalah Dhamma. Jadi kita hidup bersama
Dhamma-Dhamma, berada di dalam Dhamma, dan kita
sendiri adalah Dhamma. Dalam kesunyataan tidak ada
konsep diri yang dapat ditemukan. Yang ada hanya Dhamma
yang terus menerus muncul dan lenyap sesuai dengan sifatnya.
Setiap saat kita mengalami kelahiran dan kematian, beginilah
adanya.
16
Ketika kita berpikir tentang Sang Buddha, menyadari
kebenaran sabda Beliau, kita merasa betapa patutnya Beliau
menerima penghormatan dan sanjungan. Kapanpun kita
melihat kebenaran dari sesuatu, kita melihat Ajaran Beliau,
sekalipun jika kita belum pernah benar-benar
mempraktekkan Dhamma. Tetapi sekalipun kita sudah
mempunyai pengetahuan tentang ajaran Sang Buddha, telah
mempelajarinya dan mempraktekkannya, selama kita masih
belum mampu melihat kebenaran ini, berarti kita masih tuna
wisma.
Pahamilah hal ini: Semua, orang, semua makhluk,
semuanya dipersiapkan untuk pergi. Setelah hidup sesuai
masanya, suatu makhluk harus terus melanjutkan
perjalanannya. Kaya, miskin, tua, muda, semua harus
mengalami perubahan ini.
Bila menyadari bahwa begitulah dunia ini, kamu akan
merasa bahwa dunia adalah tempat yang melelahkan. Bila
kamu melihat bahwa tidak ada sesuatupun yang nyata dan
berisi (substansial) untuk dapat dijadikan pegangan, kamu
akan merasa lelah dan tidak terpesona. Menjadi tidak
terpesona bukan berarti kamu melawan, karnea pikiran tetap
jernih. Ia melihat bahwa tidak ada yang dapat dilakukan
untuk mengganti keadaan-keadaan tersebut, begitulah dunia
ini. Dengan pengertian semacam ini kamu dapat melepaskan
kemelekatan, melepaskan dengan tidak merasa bahagia
ataupun sedih, melainkan dengan kebijaksanaan yang damai
17
karena telah melihat kondisi yang berubah ini. Anicca vata
sankhara - semua yang terkondisi adalah tidak kekal.
Secara singkatnya, jika kita benar-benar melihat kondisi
yang tidak kekal itu, kita akan melihat kekekalan. Ia
permanen atau tetap dalam pengertian bahwa kondisi
tersebut selalu berubah dan hal ini tidak dapat diubah. Ini
adalah sesuatu yang permanen, yang dimiliki oleh makhluk
hidup. Ada perubahan yang terus menerus, dari masa kecil
sampai usia lanjut, dan ketidakkekalan tersebut, yaitu
kecenderungan untuk berubah, adalah permanen. Jika kamu
bisa melihat hal ini maka hatimu akan tenang. Bukan hanya
kamu yang harus mengalami hal ini, tetapi semua orang. Bila
kamu mempertimbang-kan hal-hal itu sedemikian rupa,
kamu akan melihatnya sebagai sesuatu yang melelahkan. Lalu
ketidakbahagiaan akan timbul. Kesukaanmu terhadap
kenikmatan duniawi akan hilang. Akan kamu lihat bahwa
jika kekayaanmu banyak maka kamu juga harus meninggalkan
banyak nantinya. Jika kekayaanmu hanya sedikit, kamu juga
hanya akan meninggalkan sedikit. Kekayaan hanyalah
kekayaan, umur panjang hanyalah umur panjang... tidak ada
istimewanya.
Yang penting, kita harus melakukan apa yang disabdakan
oleh Sang Buddha: membangun rumah kita, membangun
seperti metode yang baru saja saya jelaskan. Bangunlah
rumahmu sendiri, lepaskanlah kekotoran-kekotoran batin,
lepaskanlah segalanya sampai pikiran mencapai kedamaian
yang tidak membutuhkan kemajuan, bebas dari kemunduran
dan bebas dari kebodohan. Kesenangan bukanlah rumahmu,
18
kesedihan bukanlah rumahmu. Baik senang maupun susah,
semuanya akan menyurut dan lenyap.
Guru besar kita melihat bahwa semua kondisi tidaklah
kekal dan karena itu Beliau mengajarkan pada kita untuk
melepaskan kemelekatan kita. Ketika kita sampai pada akhir
hidup, toh tidak ada yang dapat kita bawa bersama kita. Jadi
tidakkah akan lebih baik untuk melepaskannya sekarang?
Semua itu hanyalah beban berat bagi kita, kenapa tidak kita
buang saja sekarang? Mengapa bersusah payah membawa
kesana kemari? Lepaskan, santailah dan biarkan sanak
saudaramu merawatmu.
Mereka yang merawat yang sakit menanam jasa
kebajikan dan berusaha menunjang untuk menuju jalan
kesucian, pasien yang memberikan kesempatan bagi yang
lain untuk merawat seharusnya tidak mempersulit mereka.
Jika ada rasa sakit atau ada masalah dll, beritahukanlah pada
mereka, dan teruslah menjaga agar pikiranmu tetap fokus
terjaga.
Seseorang yang merawat orang tua mereka harus
mengisi pikirannya dengan cinta kasih dan kehangatan, serta
tidak tergoda oleh perlawanan. Ini adalah merupakan saat
dimana kalian dapat membalas budi pada mereka. Sejak lahir
sampai masa kanak-kanak, juga semasa tumbuh dewasa, kalian
selalu tergantung pada orang tuamu. Bahwasanya kalian bisa
berada disini saat ini adalah karena kedua orang tuamu telah
banyak membantumu dengan berbagai cara, kalian banyak
berhutang jasa pada mereka.
19
Jadi hari ini, kalian semua anak-anak dan sanak saudara
berkumpul bersama disini. Amatilah bagaimana ibu kalian
telah menjadi anak kalian. Sebelumnya kalianlah anakanaknya, sekarang dia yang menjadi anakmu. Dia telah
menjadi tua dan semakin tua sampai kembali ia menjadi anak
lagi. Ingatannya telah melemah, penglihatannya sudah tidak
begitu jelas lagi, demikian pula dengan pendengarannya.
Terkadang ia meracau dalam berkata-kata, jangan biarkan
pikiran kalian semua menjadi susah karenanya, dan kalian
yang merawat harus tahu pula bagaimana untuk melepas,
jangan berpegang pada segala sesuatu, biarkan semua berjalan
menurut caranya sendiri.
Ketika seorang anak tidak patuh, terkadang orang
tuanya harus membiarkannya saja agar tidak ada
pertengkaran, sekarang ibumu sama seperti anak kecil itu,
ingatan dan persepsinya sudah melemah. Terkadang ia
memutarbalikkan namamu atau ia memintamu untuk
mengambil gelas, padahal yang diinginkan adalah piring. Ini
adalah hal yang wajar, jangan biarkan itu menjengkelkanmu.
Biarlah pasien mengingat dalam pikirannya kebaikan
orang-orang yang merawatnya dengan penuh kesabaran dan
ketelatenan. Lapangkanlah hatimu, jangan biarkan pikiran
menjadi ikut tercabik dan bingung.
Khusus untuk pasien, jangan membuat keadaan menjadi
sulit bagi mereka yang merawatmu. Biarlah mereka yang
20
merawat mengisi pikiran mereka dengan nilai-nilai luhur dan
kebaikan.
Saya merasa bahagia telah memberikan Dhamma untuk
kalian dan saya harap Dhamma akan memberikan kamu
kekuatan untuk mengatasi rasa sakitmu.
Bagi yang merawat jangan menolak sisi yang tidak
menyenangkan dalam pekerjaanmu, misalnya:
membersihkan lendir, air seni dan kotoran. Lakukanlah yang
terbaik, semua anggota keluarga berusahalah saling
membantu, ia adalah satu-satunya ibumu, dia memberikan
kehidupan bagimu, dia telah menjadi guru, dokter dan
perawat bagimu dia telah menjadi segalanya untukmu. la
telah membesarkanmu, membagi kekayaannya denganmu
dan menjadikanmu ahli waris adalah kebajikan-kebajikan
yang mulia dari orang tua. Itulah sebabnya Sang Buddha
mengajarkan kita tentang katannu dan katavedi, mengetahui
hutang-hutang jasa kita dan mencoba untuk membalasnya.
Dua dhamma ini saling melengkapi. Jika orang tua kita sedang
dalam kesulitan atau tidak sehat, kita harus mencoba
semampu kita untuk membantu mereka. Inilah katannu clan
katavedi, nilai-nilai luhur yang menopang dunia. Ini
mencegah keluarga dari perpecahan dan membuat mereka
stabil dan harmoni.
Hari ini saya telah memberikan Dhamma pada orang
sakit, saya memberikan pada kalian Dhamma yang tahan lama,
yang tidak dapat usang dan lapuk. Setelah kamu menerimanya,
kamu dapat meneruskannya pada siapa pun, toh Dhamma
itu tidak akan berkurang, itulah sifat Kebenaran.
21
22
2
Mengapa Kita Disini?
2
Mengapa Kita Disini?
Pada retret musim penghujan ini saya tidak mempunyai
banyak tenaga. Saya sedang tidak sehat, karena itulah saya
datang ke gunung ini untuk menghirup udara segar. Banyak
orang datang berkunjung tetapi saya tidak bisa bercakap-cakap
dengan mereka seperti biasanya, karena suara saya sudah habis
dan bahkan bernafas pun sudah mulai berat. Kalian semua
dapat menganggap bahwa sudah merupakan berkat kalau
kalian masih dapat melihat badan ini teronggok disini. Ini
sudah merupakan berkat tersendiri, segera kalian tidak akan
bisa melihatnya lagi. Nafas akan berhenti suarapun tidak
akan terdengar lagi. Itu semua akan pergi sejalan dengan
faktor-faktor penunjangnya, sama halnya dengan semua hal
yang terdiri dari perpaduan. Sang Buddha menyebut peristiwa
ini khaya vayam, pelapukan dan perpecahan (dissolution) dari
semua fenomena yang terkondisi.
Bagaimana mereka melapuk (decline)? Bayangkan ada
sebongkah es, pada mulanya es itu berasal dari air... setelah
dibekukan jadilah sebongkah es tetapi tidak terlalu lama
25
kemudian es itu mencair. Ambil sebongkah es yang katakanlah
sebesar kopor, dan letakkan di bawah sinar matahari, kamu
akan bisa melihat es itu mencair hampir sama dengan apa
yang terjadi pada tubuh ini. Es itu akan mencair dengan
perlahan, dalam waktu yang tidak terlalu lama yang terlihat
hanyalah air, inilah yang disebut khaya vayam, hal ini terjadi
sejak awal. Ketika dilahirkan kita membawa sifat seperti ini
dan tidak dapat dihindari, pada waktu lahir kitapun membawa
sekaligus ketuaan, sakit dan kematian. Inilah yang dimaksud
kaya vayam; pelapukan dan peleburan dari semua hal yang
terdiri dari perpaduan. Kita semua yang duduk disini, para
bhikkhu, orang awam tanpa kecuali adalah “bongkahbongkah yang siap hancur”. Saat ini bongkah tersebut masih
keras, sama seperti bongkah es, dimulai sebagai air, menjadi
es sebentar dan kemudian mencair lagi. Dapatkah kamu
melihat proses ini dalam dirimu sendiri? Lihatlah tubuh ini,
ia bertambah tua setiap hari... rambut, kuku... semua
bertambah tua.
Pada awalnya kalian tidak seperti ini, bukan? Dahulu
kalian menjadi anak-anak, kini kalian telah tumbuh dan
menjadi dewasa, setelah dewasa kondisi akan menuju pada
ketuaan dan akan terus menurun, mengikuti hukum alam.
Badan ini “mencair” seperti halnya bongkahan es dan segera
semuanya akan hilang, semua tubuh tersusun dari empat
komponen: tanah, air, angin dan api. Tubuh adalah perpaduan
dari tanah, air, api dan angin yang kemudian kita sebut
‘seseorang’. Kita menjadi jatuh cinta padanya dan
menyebutnya laki-laki atau perempuan, memberinya nama;
Tuan, Nyonya, sehingga kita lebih mudah mengidentifikasi
26
mereka. Tapi sebenarnya tidak ada siapapun disana, yang ada
adalah tanah, air, api dan angin. Ketika semua unsur itu
tergabung menjadi satu kita sebutlah “seseorang”. Bila kita
mau benar-benar melihat, kita akan menyadari bahwa tidak
ada siapa-siapa disitu.
Bagian tubuh yang padat: daging, kulit, tulang dsb, itulah
yang disebut elemen tanah. Aspek-aspek yang cair adalah
elemen air. Bagian yang hangat adalah elemen api, sementara
udara yang beredar dalam tubuh adalah elemen angin.
Di Wat Ba Pong kami mempunyai tubuh yang bukan
perempuan ataupun bukan lelaki, berupa kerangka yang
tergantung di ruang utama. Melihat kerangka itu kalian tidak
akan mendapatkan bayangan tentang jenis kelaminnya,
orang saling bertanya tentang jenis kelaminnya dan mereka
tidak mendapatkan jawabannya. Yang dapat mereka lakukan
hanyalah menatapnya, hanyalah kerangka, semua kulit dan
daging sudah tidak ada. Beberapa orang pergi ke Wat Ba Pong,
memasuki ruang utama, melihat kerangka itu... dan segera
saja berlari keluar, kembali secepatnya! Mereka” tidak tahan
melihatnya, mereka ketakutan, takut akan kerangka itu.
Saya membayangkan orang-orang tersebut pasti belum
pernah melihat diri mereka sendiri. Takut akan kerangka?
Mereka tidak pernah merefleksikan nilai dari kerangka.
Untuk bisa sampai ke Vihara mereka harus berjalan kaki atau
naik mobil... jika mereka tidak mempunyai tulang bagaimana
mereka akan bisa berjalan? Kenyataannya mereka dapat
sampai ke Wat Ba Pong, memasuki ruang utama, melihat
27
kerangka dan lari terbirit-birit keluar. Mereka belum pernah
melihat hal seperti ini sebelumnya, mereka dilahirkan
bersama kerangka tetapi belum pernah melihatnya. Adalah
suatu keberuntungan bila mereka dapat melihatnya sekarang,
bahkan orang-orang tuapun ketakutan melihat kerangka...
sebenarnya, apa sih yang diributkan? Ini menunjukkan
ketidaktahuan seseorang pada dirinya sendiri. Mungkin setelah
itu mereka pulang ke rumah masing-masing dan masih tidak
dapat tidur untuk beberapa hari... akan tetapi sebenarnya
mereka tidur dengan sebuah kerangka! Mereka berpakaian
bersamanya, makan bersamanya, melakukan segala macam
aktivitas dengannya... tetapi mereka takut.
Ini menunjukkan betapa asingnya seseorang terhadap
dirinya sendiri. Betapa menyedihkan! Mereka selalu
mengamati keluar; pada pepohonan, pada orang lain, pada
obyek-obyek external, mengomentari “yang ini terlalu besar”,
“yang itu kecil”, “itu pendek”, “itu panjang”. Mereka begitu
sibuknya sampai-sampai mereka tidak pernah melihat pada
dirinya sendiri. Secara jujur, manusia itu menyedihkan,
mereka tidak mempunyai tempat berlindung.
Pada upacara pentabhisan samanera, para peserta harus
mempelajari lima tema dasar meditasi: khesa-rambut kepala,
loma-rambut badan, nakha-kuku, danta-gigi, taco-kulit.
Beberapa murid dan orang-orang terpelajar mengatakan pada
dirinya sendiri ketika mereka mendengar bagian ini pada
upacara ordinansi... “Apa sih yang diajarkan oleh Guru?
Mengajarkan tentang rambut yang sudah kita punyai bertahuntahun. Dia tidak harus mengajarkan kami hal ini, kami sudah
28
tahu. Mengapa repot-repot mengajarkan hal yang sudah kami
ketahui?”
Orang yang takabur seperti itu mengira bahwa mereka
telah dapat melihat rambut. Saya katakan kepada mereka
bahwa ketika saya mengatakan “melihat rambut”, itu berarti
melihat rambut sebagaimana adanya. Lihatlah rambut tubuh
seperti adanya, lihat kuku, gigi dan kulit sebagaimana adanya.
Itulah yang saya sebut “melihat” bukannya melihat secara
permukaan, tetapi melihat sesuai dengan yang sesungguhnya.
Kita tidak akan terlalu tenggelam dalam sesuatu hal bila kita
mampu melihat segala sesuatu seperti apa adanya. Rambut,
kuku, gigi, kulit... bagaimanakah sebenarnya mereka itu?
Apakah indah? Apakah bersih? Apakah benar mempunyai
substansi? Apakah tetap? Tidak... semuanya tidak, semuanya
tidak indah tetapi anda tidak membayangkannya demikian,
mereka tidak bersubstansi, tetapi kita membayangkannya
sedemikian.
Rambut, kuku, gigi, kulit..., orang benar-benar
terpancang pada hal-hal semacam ini. Sang Buddha
menetapkan hal-hal seperti ini sebagai tema dasar meditasi.
Beliau mengajarkan kita untuk benar-benar mengetahui halhal seperti ini. Hal-hal tersebut adalah tidak sempurna, tidak
mempunyai kepemilikan dan transparan (transient); mereka
bukanlah “saya” atau “mereka”. Kita dilahirkan bersama halhal tersebut dan tertipu olehnya, misal kita tidak mandi selama
satu minggu, dapatkah kita tahan untuk saling berdekatan
satu sama lainnya? Kita akan berbau. Ketika orang banyak
berkeringat, seperti saat bekerja keras, maka bau badannya
29
akan sangat tidak enak. Kita pulang ke rumah dan menggosok
tubuh kita dengan sabun dan air, bau yang tidak enak tersebut
kemudian hilang digantikan oleh aroma sabun yang wangi.
Menggosokkan sabun pada tubuh seakan-akan membuat
badan menjadi wangi, akan tetapi sesungguhnya sumber bau
badan yang tidak enak masih berada di situ, hanya saja untuk
sementara waktu tertindih oleh wangi sabun tersebut. Saat
wangi sabun tersebut hilang, maka bau badan akan muncul
kembali.
Kita cenderung berpikir bahwa badan ini indah,
menyenangkan, tahan lama dan kuat. Kita cenderung berpikir
bahwa kita tidak akan pernah tua, sakit atau mati. Kita
terpesona dan dibodohi oleh tubuh ini, dan karenanya kita,
menjadi tidak peduli terhadap perlindungan yang
sesungguhnya di dalam diri kita. Tempat perlindungan yang
sesungguhnya adalah pikiran kita, perlindungan kita yang
sebenarnya adalah pikiran.
Tempat kita berada ini mungkin tampak cukup besar,
tetapi tidak dapat kita jadikan tempat berlindung yang
sesungguhnya. Burung berlindung disini, cicak juga... kita
mungkin berpikir bahwa ruang ini milik kita tetapi sebenarnya
tidak. Kita tinggal di ruang ini bersama dengan yang lain, ruang
ini hanyalah tempat perlindungan sementara, segera kita harus
meninggalkannya. Tetapi banyak orang menganggap tempattempat semacam ini sebagai tempat berlindung.
Sang Buddha mengajarkan kita untuk mencari tempat
berlindung pada diri masing-masing, Ini berarti kita harus
30
menemukan hati kita yang sebenarnya, hati adalah sesuatu
yang sangat penting tetapi orang sering tidak melihat hal-hal
yang sesungguhnya penting. Bahkan mereka melihat hal-hal
yang tidak penting. Sebagai contoh, saat mereka
membersihkan rumah mereka mungkin mengerjakan
dengan serius, atau saat mencuci piring dan sebagainya, tetapi
mereka tidak bisa melihat hati mereka sendiri. Mungkin hati
mereka sedang marah, jengkel atau bahkan dengki, dan
mereka mencuci dengan ekspresi wajah yang masam.
Bahwasanya hati sendiri tidaklah begitu bersih luput dari
perhatian mereka, inilah yang saya maksudkan dengan
“tempat perlindungan sementara”. Mereka mempercantik
rumah mereka tetapi lupa mempercantik hati mereka,
mereka tidak menganalisa penderitaan. Hati adalah hal yang
penting, Sang Buddha mengajarkan kita untuk mencari
tempat perlindungan dalam diri sendiri: Attahi attano nattho
- buatlah dirimu sendiri sebagai tempat perlindungan bagi
dirimu sendiri. Siapa lagi yang dapat menjadi tempat
perlindungan bagimu? Perlindungan yang sebenarnya adalah
hatimu, bukan yang lainnya. Kamu boleh mencoba
menggantungkan diri pada hal lain, tetapi semua itu tidak
pasti. Kamu hanya dapat menggantungkan diri pada hal lain
sesudah kamu menemukan perlindungan pada dirimu
sendiri, kamu harus menemukan perlindunganmu sendiri
sebelum kamu menggantungkan diri baik pada guru,
keluarga, teman--teman atau saudara.
Jadi baik orang awam dan piatu yang telah datang untuk
berkunjung hari ini, pikirkanlah ajaran ini baik-baik.
Tanyalah pada diri sendiri: “Siapakah aku? Mengapa aku
31
berada di sini?”. Tanyalah pada diri sendiri “Mengapa aku
dilahirkan?” Beberapa orang tidak tahu, mereka ingin
bahagia tetapi penderitaan tidak pernah berhenti. Kaya atau
miskin, tua atau muda, semuanya sama-sama menderita,
semua itu adalah penderitaan, mengapa? Karena mereka
tidak mempunyai kebijaksanaan. Yang miskin menderita
karena kekurangan, yang kaya tidak bahagia karena mereka
harus khawatir tentang hartanya.
Dulu sebagai samanera muda, saya memberikan
ceramah. Saya membicarakan tentang kebahagiaan
mempunyai kekayaan, mempunyai banyak pembantu dan
sebagainya... 100 pembantu pria, 100 pembantu wanita, 100
ekor gajah, 100 ekor sapi, dan 100 ekor kerbau... 100
segalanya! Umat awam benar-benar terhanyut tentang itu.
Tapi dapatkah kamu bayangkan merawat semua itu tadi?
Apakah juga akan menyenangkan? orang tidak
mempertimbangkan sisi yang ini, mereka mempunyai nafsu
keinginan untuk memiliki... sapi, kerbau, pembantu...
ratusan. Tetapi saya katakan bahwa punya 50 pun sudah
terlalu banyak, hanya untuk menyediakan tali pengikat bagi
sapi-sapi itupun sudah melelahkan. Hanya saja orang tidak
mempertimbangkan segi yang ini, mereka hanya mau
memikirkan sisi baiknya saja, yaitu memiliki. Mereka tidak
mempertimbangkan persoalan-persoalan yang timbul
karenanya, kalau kita tidak mempunyai kebijaksanaan, segala
di sekeliIing kita dapat menjadi sumber penderitaan,
sebaliknya jika kita bijaksana, hal-hal semacam ini akan dapat
membantu kita terbebas dari penderitaan. Mata, telinga,
hidung, tubuh dan pikiran... mata sebenarnya tidak selalu
32
merupakan sesuatu yang baik, bukan ? Misalnya jika kamu
sedang dalam suasana hati yang tidak baik, maka melihat
seseorang dapat membuatmu jadi marah dan tidak dapat
tidur atau dapat membuatmu jatuh cinta. Cinta juga
merupakan penderitaan kalau kamu tidak dapat memperoleh
yang kamu inginkan, baik cinta maupun benci, keduanya
adalah penderitaan, karena ini merupakan nafsu keinginan.
Keinginan untuk mendapatkan sesuatu... bahkan jika kamu
mendapatkannyapun kamu tetap akan menderita karena rasa
takut kehilangan. Hanya ada penderitaan, jadi bagaimana
kamu akan bisa hidup bila demikian? Kamu mungkin
mempunyai rumah yang besar dan mewah, tetapi jika hatimu
tidak baik maka selamanya keadaan itu tidak akan benar.
Karena itu kamu harus melihat dirimu sendiri, mengapa
kita dilahirkan? Apakah kita benar-benar pernah mencapai
sesuatu di dalam kehidupan? Di desa ini orang mulai bercocok
tanam sejak mereka masih kecil. Ketika mereka berusia 17
atau 18 tahun mereka cepat-cepat menikah, takut tidak punya
cukup waktu untuk mengumpulkan kekayaan. Mereka mulai
bekerja dari usia muda karena berpikir dengan begitu mereka
dapat menjadi kaya. Mereka menanam padi sampai umur kirakira 70 atau 80 tahun. Saya bertanya pada mereka “Kalian
telah bekerja dari saat kalian dilahirkan. Sekarang hampir
saatnya kalian pergi. Apa yang akan kalian bawa bersamamu?”
Mereka tidak bisa menjawab. Yang bisa mereka katakan adalah
“Tidak tahu”. Karena jawaban “Tidak tahu” inilah orang tidak
berada dimasa yang manapun.
Saat masih muda kamu berkata bahwa hidup seorang
diri tidaklah menyenangkan, kamu akan merasa kesepian. Jadi
kamu mencari pasangan hidup. Setelah hidup bersama lalu
timbul keretakan! Hidup sendiri terlalu sepi, hidup bersama
timbul keretakan.
Ketika anak-anak masih kecil, orang tua berpikir “Nanti
kalau anak-anak sudah dewasa pekerjaan kita akan lebih
ringan.” Mereka membesarkan anak-anak mereka, tiga, empat
atau bahkan lima, dengan pikiran bahwa saat anak-anak itu
dewasa beban mereka akan lebih ringan. Tetapi ketika anakanak itu bertambah dewasa, hidup bahkan bertambah berat.
Bagaikan ada dua batang kayu dan kalian membuang yang
kecil, mengambil yang besar, dengan berpikir bahwa yang besar
itu akan lebih ringan. Tentunya tidak demikian saudarasaudara, ketika anak-anak kalian masih kecil, mereka tidak
terlalu mengganggu. Yang dibutuhkan hanyalah semangkuk
bubur, atau kadang-kadang pisang. Ketika mereka dewasa, yang
mereka inginkan adalah sepeda motor atau mobil! Nah, karena
kalian sayang anak, maka kalian tidak dapat menolak. Jadi
kamu mencoba memberikan apa yang mereka minta, mulai
timbul masalah baru.... Terkadang Orang tua tidak setuju
dan harus berdebat dengan anak-anak mereka... “Jangan beli
mobil, uang kita tidak cukup!” Tetapi karena kamu cinta anak,
akhirnya kamu turuti permintaannya, walau kamu harus
berhutang, bahkan kadang ada orang tua yang harus mencuri
untuk anak mereka.
Kemudian pendidikan, “Saat anak-anak nanti sudah
selesai sekolah, tugas kita akan selesai.” Pendidikan tidak ada
33
34
akhirnya saudaraku! Apa yang akan selesai? Hanya didalam
Ajaran Buddha-lah ada titik penyelesaian, ilmu-ilmu yang lain
hanyalah berputar-putar. Pada akhirnya hanya menimbulkan
sakit kepala, jika ada rumah tangga dengan empat atau lima
orang anak, maka orang tua akan bertengkar setiap hari.
Penderitaan yang ada di hadapan kita luput dari
perhatian, karena kita mengira bahwa penderitaan tidak
akan pernah datang. Ketika terjadi kita baru tahu,
penderitaan yang ada dalam diri sulit untuk dilihat.
Ketika saya masih kecil, sambil memelihara kerbau saya
mengambil batu bara dan menggosoknya pada gigi untuk
membuatnya putih. Saat di rumah saya berkaca melihat betapa
putihnya gigi-gigi itu dan berbangga karenanya... saya tertipu
begitu saja oleh tulang saya sendiri, saat saya berusia 50 atau
60 tahun gigi saya mulai tanggal. Saat itu kamu akan mulai
merasakan penderitaan, baik saat makan ataupun tidak, saya
sudah mengalaminya. Jadi saya pergi ke dokter gigi untuk
mencabut semua gigi yang tertinggal. Sekarang saya
menggunakan gigi palsu. Gigi saya yang asli telah
menimbulkan masalah, jadi saya harus mencabut ke 16 gigi
yang masih tersisa. Dokter gigi itu keberatan mencabut 16
gigi sekaligus, tetapi saya katakan padanya: “Sudahlah cabut
saja, saya yang akan menanggung konsekuensinya.” Jadi
dicabutlah 16 gigi tersebut, benar--benar seperti memahami
dan melepaskan. Setelah itu saya tidak dapat makan selama
dua atau tiga hari.
35
Sebelumnya, sebagai penggembala kerbau saya biasa
berpikir bahwa memoles gigi adalah sesuatu hal yang hebat.
Saya mencintai gigi saya, menyangka bahwa mereka adalah
barang yang bagus. Tetapi pada akhirnya semuanya harus
pergi. Rasa sakit itu hampir membunuh saya. Saya menderita
sakit berbulan-bulan bahkan bertahun karena gigi, terkadang
gusi saya bengkak karenanya.
Beberapa dari kalian mungkin akan berkesempatan
untuk mengalami hal yang sama suatu saat nanti. Jika saat
ini gigi anda masih indah dan mengagumkan anda masih
suka menggosoknya agar putih dan bersih, tetapi hati-hatilah
gigi-gigi itu akan mempermainkan anda pada akhirnya nanti.
Saat ini saya hanya mencoba menggambarkan
penderitaan yang berasal dari diri kita sendiri, tidak ada
sesuatupun didalam diri kita ini yang dapat diandalkan.
Memang saat kita masih muda keadaan tubuh ini tidaklah
terlalu buruk, tetapi dengan bertambahnya usia bagian-bagian
tubuh itu akan mulai rusak. Kondisi berjalan secara alami,
walaupun kita dalam keadaan susah maupun senang, mereka
tetap berjalan apa adanya. Bagaimanapun reaksi kita, hal itu
tidak akan mengubah keadaan. Apakah kita berada dalam
kesakitan atau kesulitan, apakah kita hidup atau mati, tidak
jadi soal bagi proses alami ini. Dan tidak ada pengetahuan
atau ilmu yang dapat menahan proses alami ini. Kamu
mungkin dapat menyuruh dokter gigi merawat gigi kalian
tetapi pada akhirnya gigi itu juga harus pergi sesuai dengan
proses alam. Pada akhirnya bahkan gigi dokter itupun
36
mengalami masalah yang sama, pada akhirnya semua akan
hancur.
Hal-hal semacam inilah yang harus kita renungkan selagi
kita masih punya kekuatan, kita harus berlatih selagi kita
masih muda. Jika kita ingin melakukan persembahan,
bergegaslah dan lakukanlah. Jangan hanya memasrahkan
pada para orang tua. Banyak orang yang menunggu menjadi
tua sebelum mereka pergi ke vihara dan mempraktekkan
Dhamma, mereka mengatakan hal yang sama...”Nantilah
kalau sudah tua.” Saya tidak mengerti mengapa mereka
berkata seperti itu. Apakah orang tua masih punya banyak
energi? Biarkan mereka berlomba dengan yang muda dan
lihatlah perbedaannya, lihatlah hasilnya. Mengapa harus
menanti sampai tua dulu? Sepertinya mereka merasa tidak
akan mati. Ketika mereka berusia 60 atau 70 tahun... cucunya
berkata: “Ayolah, Kek! Kita pergi ke Vihara!”, “Kalian pergilah
sendiri, pendengaran kakek sudah tidak begitu jelas lagi.”
Kalian lihat maksud saya? Ketika pendengarannya masih
bagus apa yang didengarkannya? “Tidak tahulah” dan ketika
pendengarannya sudah tidak berfungsi lagi barulah ia pergi
ke Vihara, percumalah! Dia mendengarkan tetapi tidak tahu
apa yang dibicarakan. Untuk mempraktekkan Dhamma,
sementara orang menunggu sampai dirinya sudah usang dan
lapuk.
Percakapan hari ini akan berguna bagi mereka yang
mengerti. Hal-hal semacam inilah yang harus mulai
diperhatikan, mereka adalah warisan bagi kita, mereka akan
jadi beban yang makin lama makin bertambah berat bagi kita.
37
Pada masa yang lalu, kaki yang kuat ini dapat membawaku
berlari, sekarang hanya untuk berjalan saja sudah terasa berat.
Sebelumnya kaki ini yang membawa saya, sekarang sayalah
yang harus membawanya. Ketika saya masih kecil, saya
melihat orang-orang tua berdiri dari kursi mereka dengan
mengeluh: “Ahhh...” Bahkan sampai pada tahap inipun
mereka masih belum belajar dan mengerti. Ketika duduk
kembali mereka mengeluh: “Ahhh…” Selalu ada “Ahhh…”
ini. Tetapi mereka tidak mengerti apa yang membuat mereka
mengeluh seperti itu.
Bahkan sampai pada tahap ini mereka tidak dapat
melihat masalah yang ditimbulkan oleh tubuh ini. Kalian
tidak akan pernah tahu kapan akan berpisah dengan tubuh
ini. Semua yang menyebabkan penderitaan ini adalah kondisi
sesuai dengan proses alami. Orang menyebutnya reumatik,
sakit tulang dan sebagainya, dan dokter menuliskan resep
obat, yang tentunya tidak dapat menyembuhkan sepenuhnya.
Pada akhirnya semua hancur, termasuk dokternya sendiri!
Ini adalah kondisi yang berjalan sesuai dengan proses alami.
Begitulah jalannya, prosesnya.
Sekarang amatilah hal tersebut, jika kalian dapat melihat
jauh kalian akan menjadi lebih baik. Sama halnya bila kalian
melihat seekor ular berbisa yang ada dihadapanmu, jika kalian
melihatnya kalian dapat memilih jalan yang lain dan terhindar
dari gigitannya. Jika kalian tidak melihatnya maka
kemungkinan kalian akan terus berjalan dan menginjak ular
itu, maka kalian akan digigitnya.
38
Pada saat penderitaan timbul orang tidak tahu harus
berbuat apa? Kemana harus pergi? Mereka ingin menghindar
dari penderitaan, mereka ingin bebas tetapi tidak tahu
bagaimana harus menghadapinya bila hal itu terjadi. Dan
begitulah mereka hidup sampai mereka tua.. sakit.. dan mati.
Pada masa yang silam dikatakan bahwa bila ada saudara
yang sakit maka saudara dekat mereka harus membisikkan
“Buddho, Buddho” di telinga mereka. Apa yang akan mereka
lakukan dengan Buddho? Apa manfaatnya? Mengapa mereka
tidak mempelajarinya saat mereka masih muda dan sehat?
Sekarang dengan nafasnya yang tersengal-sengal kalian maju
dan membisikkan “Buddho, Buddho!”
Orang tidak tahu bagaimana cara memecahkan masalah
dalam diri mereka sendiri, mereka tidak punya perlindungan.
Mereka dengan gampang menjadi marah dan punya banyak
keinginan. Kenapa demikian? Karena mereka tidak punya
tempat untuk berlindung.
Ketika orang baru saja menikah mereka dapat mengerti
satu sama lain dengan baik. Tetapi saat mencapai usia 50
mereka tidak dapat lagi melakukan hal itu. Apapun yang
dikatakan oleh si istri tidak dapat diterima sang suami. Dan
apapun yang dikatakan oleh si suami tidak didengar oleh sang
istri, mereka saling menolak.
Disini saya hanya berkata demikian karena saya tidak
pernah punya rumah tangga sebelumnya. Kenapa tidak?
Cukup dengan melihat struktur kata “House hold” (ikatan
39
rumah tangga) saya tahu seperti apa itu. Apakah House hold
itu? Ini adalah suatu “Hold” (ikatan). Jika seseorang mengambil
tali dan mengikat kita pada kursi ini, bagaimana rasanya?
Inilah yang disebut “diikat”. Bagaimanapun kelihatannya,
“diikat” ya seperti itu, ada lingkaran batas; yang pria hidup
dalam batas-batas tertentu, demikian pula wanita.
Ketika saya membaca kata “Ikatan rumah tangga”... wah,
ini adalah suatu hal yang berat. Ini tidak sembarangan, benarbenar dapat membunuh. Kata “Ikatan” ini adalah simbol dari
penderitaan. Kamu tidak dapat pergi ke manapun, kamu
harus hidup di dalam batas-batas tertentu.
Sekarang kita beralih pada kata “House” yang berarti
sesuatu yang mengganggu (hassles). Kata “Ikatan rumah
tangga” ini membawa kebingungan, kebahagiaan semu yang
didapat tidak sepadan dengan kerepotan yang dihasilkan.
Karena kata inilah saya mampu melakukan pentahbisan dan
tidak lepas jubah. “Ikatan rumah tangga” menakutkan saya.
Kamu terikat dan tidak bisa pergi kemanapun, masalah dengan
anak-anak, uang dsb. Jadi kemana kamu dapat pergi? Kamu
terikat. Ada banyak anak laki-laki dan perempuan,
pertengkaran--pertengkaran yang tidak berujung pangkal
sampai akhir hayatmu, dan kamu tidak bisa keluar betapapun
menderitanya. Air mata terus berjatuhan, air mata tidak akan
berhenti dengan urusan tumah tangga ini. Jika tidak ada ikatan
rumah tangga, kamu mungkin akan berhenti menangis bukan
sebaliknya.
40
Pertimbangkan hal ini, bila kamu belum mengalami hal
ini sekarang kamu akan mengalaminya nanti. Beberapa orang sudah mengalaminya sampai tahap tertentu, bahkan
sebagian dari mereka telah sampai pada puncaknya...
penderitaan dan berpikir: “Haruskah saya tetap hidup atau
mati saja?”
Di Wat Ba Pong ada sekitar 70-80 kuti, ketika kuti-kuti
itu hampir penuh terisi saya memberitahukan kepada bhikkhu
yang mengurusnya untuk tetap mengosongkan beberapa,
untuk berjaga jaga jika kedatangan orang yang habis
bertengkar dengan pasangannya. Betul saja, tak lama
kemudian seorang wanita datang dengan tas-tasnya. “Saya
jenuh pada dunia, Bhante.” “Wah! Jangan berkata begitu,
kata-kata itu sungguh terlalu berlebihan.” Kemudian
suaminya juga datang dan mengatakan bahwa ia juga sudah
jenuh. Setelah dua sampai tiga hari di Vihara kekhawatirankekhawatiran duniawi mereka lenyap.
Mereka mengatakan behwa mereka jenuh tetapi
sebetulnya mereka menipu diri sendiri. Setelah mereka berada
dalam kuti masing-masing dan duduk dengan tenang, tak lama
kemudian berbagai pikiran datang... “Kapankah pasanganku
akan datang dan memintaku pulang?” Mereka tidak betulbetul tahu apa yang sedang terjadi. Apakah sebetulnya
kekhawatiran-kekhawatiran duniawi mereka itu? Mereka sedih
karena sesuatu kemudian datang ke vihara. Dirumah segala
sesuatunya terasa serba salah... suami salah, isteri salah...
Setelah tiga hari mereka berpikir... “ Hmm, betul juga isteri
saya, sayalah yang salah.” “Suami saya betul, saya yang
41
seharusnya tidak terlalu marah.” Mereka bertukar sisi. Inilah
yang menyebabkan saya tidak memikirkan keduniawian
dengan terlalu serius. Saya tahu datang dan perginya kejadiankejadian itu, dan inilah yang menyebabkan saya memilih
hidup sebagai bhikkhu.
Saya ingin menyajikan percakapan kali ini untuk kamu
semua sebagai pekerjaan rumah, tidak menjadi masalah
apakah kamu bekerja di ladang atau bekerja di kantor.
Perhatikan kata-kata ini dan pertimbangkanlah... “Mengapa
saya dilahirkan? Apakah yang dapat saya bawa serta?” Tanyalah
pada dirimu sendiri berulang kali, kamu akan menjadi
bijaksana. Jika kamu tidak bercermin pada hal-hal semacam
ini kamu akan tetap tidak peduli. Mendengarkan percakapan
hari ini, kamu mungkin akan mampu mendapatkan beberapa
pengertian. Jika tidak sekarang, mungkin nanti setelah kamu
tiba di rumah atau mungkin sore ini ketika kamu
mendengarkan percakapan ini, semuanya terasa jinak. Ketika
kamu akan pulang, mungkin banyak hal menunggumu di
mobil, ketika kamu masuk mobil mungkin masalah-masalah
itu masuk bersama ke dalam pikiranmu. Sesampainya di
rumah segalanya menjadi jelas... “Oh, inilah yang
dimaksudkan Bhante. Saya tidak dapat melihat hal itu
sebelumnya.”
Kiranya cukup sekian untuk hari ini. Jika saya berbicara
terlalu lama, badan tua ini terasa lelah.
42
3
Meditasi
3
Meditasi
Saudara-saudara pencari kebajikan yang hadir disini,
dengarkanlah Dhamma dalam damai. Mendengarkan
Dhamma dalam damai artinya mendengarkan dengan satu
pikiran yang terpusat, memperhatikan apa yang didengar
untuk kemudian melepaskan. Mendengarkan Dhamma
adalah salah satu berkah utama, sambil mendengarkan
Dhamma kita mendorong diri untuk membuat tubuh dan
pikiran berada dalam samadhi (salah satu bentuk latihan
Dhamma). Pada jaman Sang Buddha orang mendengarkan
Dhamma dengan penuh perhatian, dengan pikiran yang
bercita-cita mencapai pengertian yang benar, dan beberapa
orang benar-benar mengerti Dhamma sewaktu
mendengarkannya.
Tempat ini sesuai untuk berlatih. Setelah tinggal disini
beberapa hari saya dapat melihat betapa pentingnya tempat
ini. Dari luar tempat ini tampak sudah tenang, tinggal
dalamnya yaitu hati dan pikiranmu. Jadi saya minta kalian
berusaha memperhatikan dengan sungguh-sungguh.
45
Mengapa kalian berkumpul disini untuk berlatih
meditasi? Karena hati dan pikiran kalian tidak mengerti apa
yang seharusnya dimengerti. Dengan kata lain, kalian tidak
tahu benar-benar bagaimana sebenarnya sesuatu itu (How
things are) atau sesuatu itu sebenarnya apa (what is what),
kalian tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, apa
yang menyebabkan penderitaan dan yang menyebabkan
keraguan. Pertama, marilah menenangkan diri, tujuan kalian
datang kesini adalah untuk mengembangkan ketenangan dan
pengendalian diri karena hati dan pikiran kalian tidak
tenang. Pikiran kalian tidak tenang, tidak terkontrol,
terombang-ambing oleh keraguan dan keresahan, inilah
alasan mengapa kalian berada di sini dan sedang
mendengarkan Dhamma saat ini.
Saya ingin kalian memusatkan pikiran dan mendengar
baik-baik apa yang saya katakan, dan ijinkanlah saya berbicara
dengan terus terang karena memang begitulah adanya saya.
Mohon dimengerti bahwa meskipun saya berbicara dengan
kesan memaksa, saya melakukannya berdasarkan niat baik.
Saya mohon maaf jika saya mengatakan sesuatu yang
menjengkelkan anda, karena adat Thailand dan Barat tidaklah
sama. Sebenarnya berbicara keras bisa jadi baik karena itu
akan membantu menggugah orang yang mungkin mengantuk,
atau melamun, atau membiarkan pikiran mengembara
kemana-mana, bukannya mendengarkan Dhamma. Akibatnya
mereka tidak pernah mengerti apa pun.
Meskipun tampaknya ada banyak cara untuk berlatih,
namun sebenarnya hanya ada satu cara, seperti halnya pohon
46
yang berbuah, memang buahnya mungkin cepat dihasilkan
dengan sistem cangkok, tetapi pohon itu sendiri tidak akan
menjadi pohon yang kuat dan mampu bertahan lama. Cara
lain adalah dengan menanam dari biji, yang akan
menghasilkan pohon yang kuat dan ulet, demikian juga
dengan latihan.
Ketika saya dulu mulai berlatih, saya sulit memahami
hal ini. Selama saya masih belum mengerti apa sebagai apa,
meditasi duduk adalah suatu siksaan, bahkan terkadang
membuat saya menangis. Kadang saya menargetkan terlalu
tinggi, kadang terlalu rendah, tidak pernah seimbang.
Berlatih dalam damai berarti menempatkan pikiran tidak
terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, melainkan pada titik
keseimbangan.
Saya dapat melihat bahwa hal ini sangat membingungkan
kalian semua, yang datang dari berbagai tempat dan dengan
berbagai macam latar belakang latihan dari berbagai guru.
Ketika datang berlatih di sini kalian pasti terganggu dengan
berbagai macam keraguan. Guru yang satu mengatakan kalian
harus menggunakan metode ini, yang lain menganjurkan
metode yang lain lagi. Kalian bertanya-tanya metode mana
yang harus dipakai, ragu akan inti latihan hasilnya adalah
kebingungan. Begitu banyak guru dan Ajaran sehingga
seseorang tidak tahu bagaimana menyerasikan latihannya,
sebagai hasilnya ada banyak keraguan dan ketidakpastian.
Kalian harus berusaha agar tidak berpikir terlalu banyak,
jika kalian berpikir, lakukanlah dengan kesadaran. Tetapi
47
yang terjadi selama ini, pemikiran kalian belum didasari
kesadaran. Pertama kalian harus menenangkan pikiran kalian
dengan kesadaran dan tidak perlu lagi menanggapi bentukbentuk pikiran, lalu kesadaran otomatis akan timbul, dan
ini kemudian akan menjadi kebijaksanaan (Panna). Tetapi
pemikiran biasa bukanlah kebijaksanaan, itu hanyalah
pengembaraan pikiran yang tidak mempunyai kesadaran dan
tujuan, timbulnya keresahan tak lagi dapat dihindari ini
bukanlah kebijaksanaan.
Sampai tahap ini kalian tidak lagi perlu berpikir, kalian
telah banyak berpikir di rumah bukan? Berpikir hanya akan
mengacaukan hatimu. Kalian harus menanamkan suatu
kesadaran, pemikiran yang obsesif bahkan dapat membuatmu
menangis. Tersesat dalam suatu jalan pikiran tidak akan
membawamu menuju kebenaran, hal ini bukanlah
kebijaksanaan. Sang Buddha adalah seseorang yang sangat
bijaksana, Beliau telah belajar untuk mengendalikan pikiran.
Dengan cara yang sama kalian berada disini untuk belajar
mengendalikan pikiran dan mencapai suatu kedamaian. Jika
kalian telah tenang, tidak perlu berpikir sehingga
kebijaksanaan akan muncul.
Untuk meditasi kalian tidak perlu berpikir jauh, cukup
dengan tekad bahwa saat ini adalah saatnya melatih pikiran,
cuma itu saja. Jangan biarkan pikiran mengembara kemanamana, tugas kita satu-satunya saat ini adalah melatih kesadaran
pada pernafasan. Pusatkanlah perhatianmu pada kepala dan
gerakkanlah menuju ke ujung kaki kemudian kembali lagi
menuju kepala. Jalankanlah kesadaranmu ke sekujur
48
tubuhmu, amatilah dengan kebijaksanaan. Kita melakukan
ini untuk memperoleh pengertian tentang bagaimana adanya
tubuh ini. Kemudian mulailah meditasi, ingat bahwa saat ini
satu-satunya tugasmu hanyalah mengamati masuk keluarnya
nafas. Jangan memaksakan nafas menjadi lebih panjang atau
lebih pendek dari biasanya, biarkanlah saja, jangan menekan
nafas, biarkanlah ia mengalir dengan teratur, berlatihlah
tarikan dan hembusan nafas.
Sewaktu melakukan ini, kalian harus mengerti bahwa
kalian melepas, tetapi harus tetap ada kesadaran, kalian harus
terus menjaga kesadaran ini, biarkan nafas masuk dan keluar
dengan leluasa dan wajar. Pertahankan keteguhan hati bahwa
saat ini kalian tidak punya kewajiban dan tanggung jawab yang
lain, selain memusatkan perhatian pada obyek meditasi.
Pikiran tentang apa yang akan terjadi atau gambaran-gambaran
apa yang akan timbul selama meditasi akan terus
bermunculan, tetapi biarkan mereka menghilang sendiri,
jangan terpengaruh.
Selama meditasi kalian tidak perlu memperhatikan
kesan indera. Kapan saja pikiran dipengaruhi oleh perasaan,
kapan saja ada perasaan atau sensasi dalam pikiran,
lepaskanlah. Apakah sensasi-sensasi itu baik atau buruk tidak
penting, tidak perlu membuat asumsi apapun dari sensasisensasi itu, biarkanlah berlalu dan kembalikan perhatianmu
pada pernafasan, jagalah kesadaran pada pernafasan yang
masuk dan keluar. Jangan menciptakan penderitaan dengan
membuat nafas lebih panjang atau pendek, amati saja tanpa
mencoba mengatur atau menekannya dengan cara apapun,
49
dengan kata lain: jangan melekat. Biarkanlah pernafasan
berjalan seperti apa adanya dan pikiranpun akan menjadi
tenang, kemudian pikiranpun akan meletakkan segalanya
dan beristirahat. Nafas menjadi lebih ringan dan terenergi,
yang tertinggal hanyalah ‘mengetahui secara terpusat’. Kalian
dapat mengatakan bahwa pikiran telah berubah dan
mencapai suatu keadaan tenang.
Jika pikiran terganggu, tingkatkan kesadaran dan tarik
nafas dalam-dalam sampai tidak ada rongga yang tersisa,
kemudian hembuskanlah sampai tidak ada yang tersisa.
Ikutilah ini dengan tarikan nafas yang dalam lagi, kemudian
hembuskan. Lakukan ini dua sampai tiga kali, kemudian
susun kembali konsentrasi. Pikiran akan kembali tenang. Jika
ada gangguan lagi, ulangi proses itu kembali. Sama halnya
dengan meditasi jalan, jika sewaktu berjalan muncul bentuk
pikiran yang lain dan mengganggu maka tenangkan pikiran,
pusatkan konsentrasi dan kemudian teruskan berjalan.
Meditasi duduk dan berjalan pada intinya adalah sama,
perbedaannya hanya dalam postur fisik saja.
Kadang kala ada keraguan, jadi kalian harus mempunyai
sati (kesadaran), mempunyai kesadaran jeli terus-menerus
mengikuti dan mengawasi pikiran yang resah dalam bentuk
apapun. Begitulah untuk mempunyai sati, sati mengawasi dan
menjaga pikiran. Kalian harus tetap menjaga pengetahuan
ini dan tidak sembrono atau serampangan, bagaimanapun
kondisi pikiranmu.
50
Caranya biarkan sati (kesadaran) mengatur dan
menguasai pikiran, sekali pikiran telah berpadu dengan sati,
semacam kesadaran baru akan muncul. Pikiran yang telah
mengembangkan ketenangan senantiasa diawasi oleh
ketenangan itu, sama seperti seekor ayam yang terkurung di
kandangnya... ayam itu tidak dapat berkeliaran di luar, tetapi
masih dapat mondar-mandir dalam kandangnya. Mondarmandir itu tidak akan menimbulkan masalah karena dibatasi
oleh kandang. Demikian juga kesadaran yang timbul saat
pikiran mempunyai sati dan tenang tidak akan menimbulkan
masalah. Pemikiran atau sensasi yang terjadi pada pikiran
yang tenang tidak dapat menyebabkan gangguan atau
kerusakan.
Kalian harus terus menjaga kesadaran dengan sati dan
menarik pikiran kalian kembali. Meskipun saya
menggunakan kata-kata “menarik kembali”, sebenarnya
pikiran itu tidak pergi kemana-mana. Hanya obyek
kesadarannya yang telah berubah. Kalian harus membuat
pikiran tinggal disini dan saat ini. Sepanjang ada sati maka
pikiran akan hadir, tampaknya kalian menarik balik pikiran
tetapi sebenarnya pikiran itu tidak pergi hanya sedikit
berubah. Tampaknya pikiran pergi dari satu tempat ke
tempat yang lain, tetapi sebenarnya perubahan itu terjadi
tepat pada satu titik. Ketika sati ditegakkan kembali, dengan
sekejap kalian akan kembali pada pikiran tanpa harus
menariknya dari manapun.
Beberapa orang tidak ingin mengalami pikiran atau
perasaan sama sekali. Ini keterlaluan, perasaan tetap timbul
sekalipun pada waktu pikiran tenang. Pikiran mengalami
sekaligus perasaan maupun ketenangan, tanpa terganggu, pada
saat ada ketenangan semacam ini tidak akan ada akibat yang
merugikan. Masalah timbul saat “ayam” lepas dari
“kandangnya”. Sebagai contoh, kalian mungkin sedang
mengamati nafas kalian ketika tiba-tiba pikiran kalian
melayang kembali ke rumah atau mengembara ke tempat
lain, yang mungkin setelah setengah jam atau lebih baru
kalian sadari bahwa sebenarnya kalian harus berlatih
meditasi. Kemudian kalian menyesali diri karena kurangnya
sati dalam dirimu, disinilah kalian harus hati-hati, karena
disinilah ayam meninggalkan kandangnya - pikiran
meninggalkan ketenangan.
Bila ada pengetahuan total, berarti ada suatu kesadaran
yang terus-menerus serta tidak terpatahkan, inilah yang disebut
kehadiran pikiran. Jika perhatian kalian beralih dari nafas ke
tempat yang lain, pengetahuan itu terpatahkan. Kapanpun
ada kesadaran pada pernafasan, pikiran ada disitu, hanya
dengan nafas dan kesadaran yang terus-menerus ini kalian
mempunyai kehadiran pikiran.
51
Harus ada sati dan sampajanna, sati adalah perhatian
dan sampajanna adalah kesadaran diri. Saat ini kalian dengan
jelas sadar akan pernafasan. Latihan mengamati nafas ini
membantu sati dan sampajanna berkembang bersama.
Mereka saling bagi tugas. Mempunyai sati dan sampajanna
itu sama halnya seperti mempunyai dua orang pekerja untuk
mengangkat kayu yang berat. Misalkan ada dua orang yang
mencoba mengangkat kayu yang sangat berat, tetapi begitu
52
beratnya sampai-sampai mereka merasa tidak kuat lagi.
Kemudian ada orang lain yang dikaruniai niat baik, melihat
mereka dan cepat-cepat menolong. Demikian pula, bila ada
sati dan sampajanna, maka panna (kebijaksanaan) akan
muncul di tempat yang sama untuk membantu, kemudian
ketiganya saling mendukung.
Dengan panna (kebijaksaan) akan didapatkan
pengertian mengenai obyek sensasi. Misalnya, selama meditasi
obyek sensasi muncul dan menyebabkan timbulnya perasaan
dan suasana hati. Kalian mungkin mulai memikirkan seorang
teman, tetapi kemudian panna (kebijaksaan) harus segera
muncul dan mengatakan, “tidak jadi masalah”, “lupakan”
atau “berhenti”. Atau jika timbul pikiran ke mana kalian
akan pergi besok, maka reaksi yang terjadi seharusnya “Saya
tidak tertarik, saya tidak ingin membebani diri dengan halhal semacam itu”. Mungkin kalian akan mulai memikirkan
tentang seseorang maka kalian harus mengatakan, “Tidak,
saya tidak mau terlibat”, “Lepaskan saja” atau “Semua ini tidak
pasti dan tidak akan pernah pasti”. Beginilah kalian harus
menghadapi hal-hal yang timbul selama meditasi, mengenali
mereka sebagai “tidak pasti, tidak pasti”, dan tetap menjaga
kesadaran.
Kalian harus melepaskan segala bentuk pemikiran,
percakapan batin dan keragu-raguan. Jangan terperosok dalam
hal-hal semacam ini selama meditasi. Pada akhirnya yang
tinggal dalam pikiran adalah bentuk termurni dari sati,
sampajanna dan panna (kebijaksaan). Kapan saja ketiga hal
ini melemah, keraguan akan muncul. Tetapi cobalah untuk
53
segera meninggalkan segala macam keraguan itu, sisakan saja
sati sampajanna dan panna. Cobalah untuk mengembangkan
sati sampai ia bisa tetap ada setiap waktu. Dengan begitu
kalian akan memahami sepenuhnya sati, sampajanna dan
samadhi.
Memusatkan perhatian pada tahap ini, kalian akan
melihat sati, sampajanna, samadhi dan panna bersama. Setiap
kali kalian terpesona atau tertarik oleh obyek sensasi luar,
kalian akan mampu mengatakan “ini tidak pasti”.
Bagaimanapun juga mereka hanyalah halangan-halangan
yang harus disingkirkan sampai pikiran menjadi bersih. Yang
harus tertinggal hanyalah sati (kesadaran), sampajanna
(kesadaran) yang jernih, samadhi (pikiran) yang teguh dan
tidak ragu-ragu, dan panna (kebijaksanaan). Untuk sementara
waktu saya hanya akan mengatakan ini saja tentang subyek
meditasi.
Sekarang tentang alat bantu dalam berlatih meditasi,
harus ada metta (cinta kasih) dalam hatimu, dengan kata lain:
kualitas kebaikan hati, kemurahan hati dan sifat suka
membantu. Ini semua harus dijaga sebagai fondasi bagi
pemurnian mental. Misalnya, mulai menyingkirkan lobha atau
keserakahan, ketika orang egois mereka tidak bahagia.
Keegoisan membawa rasa tidak tenteram, tetapi orang terus
saja cenderung menjadi egois tanpa menyadari bagaimana
pengaruhnya terhadap mereka.
Kalian dapat mengalami hal ini kapan saja, khususnya
saat kalian lapar. Misalkan kalian mempunyai beberapa buah
54
apel dan mempunyai kesempatan untuk membaginya dengan
teman-teman; kalian mempertimbangkannya sebentar, dan
memang niat untuk memberi sudah ada, tetapi memberi apel
yang lebih kecil. Memberikan yang besar... sayang (sulit untuk
berpikiran lurus). Kalian menyuruh mereka langsung saja
mengambil tetapi kemudian kalian berkata, “Ambillah yang
ini!” dan memberi apel yang kecil! Ini adalah salah satu
bentuk keegoisan yang jarang diperhatikan. Pernahkah kalian
seperti ini?
Kalian harus benar-benar melawan arus-memberi
semacam itu, meskipun kalian benar-benar ingin memberikan
apel yang kecil, kalian harus memaksa diri untuk memberikan
yang besar. Tentu saja, segera setelah kalian memberikan apel
yang besar kalian akan merasa senang dalam hati. Melatih
pikiran untuk melawan arus seperti ini membutuhkan
disiplin, kalian harus tahu bagaimana memberi dan bagaimana
melepaskan, tidak membiarkan keegoisan melekat. Segera
setelah kalian belajar bagaimana memberi pada orang lain,
pikiran kalian akan menjadi riang. Jika kalian masih belum
tahu bagaimana memberi, jika masih ragu-ragu buah mana
yang diberikan, maka bila kalian memaksakan diri dan
meskipun kalian akhirnya memberikan apel yang lebih besar,
akan tetap ada perasaan enggan. Tetapi segera setelah kalian
dengan tegas memutuskan untuk memberikan yang lebih
besar, masalahnya terselesaikan dan terlewatkan. Inilah
melawan arus dengan cara yang benar.
Dengan melakukan hal ini, kalian memenangkan
penguasaan terhadap diri sendiri. Jika tidak dapat melakukan
55
hal ini, kalian akan menjadi korban dan terus menjadi egois.
Kita semua telah menjadi egois dimasa yang lalu. Ini adalah
kekotoran batin yang harus dihilangkan. Dalam bahasa Pali,
kata ‘memberi’ adalah ‘dana’, yang artinya: membawa
kebahagiaan pada orang lain. Ini adalah salah satu cara untuk
membantu membersihkan pikiran dari kekotoran batin.
Renungkanlah hal ini dan kembangkanlah dalam latihanmu.
Kalian mungkin menganggap bahwa cara berpikir seperti
ini melibatkan pemburuan diri sendiri, tetapi sebenarnya
tidak seperti itu. Sebenarnya ini adalah pemburuan terhadap
kemelekatan dan kegelapan batin. Jika kegelapan itu timbul
kalian harus melakukan sesuatu untuk menggantinya.
Kekotoran batin sama halnya seperti kucing liar, jika kalian
memberinya makanan ia akan terus datang. Tetapi jika kalian
berhenti memberinya makan, setelah beberapa hari mereka
akan berhenti berdatangan. Sama halnya dengan kekotoran
batin, dia tidak akan datang untuk mengganggu, sehingga
pikiran kalian berada dalam damai. Jadi jangan takut
menghadapi kekotoran batin itu, melainkan buatlah
kekotoran batin itu takut padamu, untuk membuat
kekotoran batin takut, kalian harus melihat Dhamma dalam
pikiranmu sekarang juga.
Dimana Dhamma muncul? la muncul bersama
pengertian dan pengetahuan kita. Semua orang bisa dan
mampu mengerti Dhamma, ini bukanlah sesuatu yang harus
tergantung di buku-buku. Kalian tidak harus belajar banyak
untuk bisa melihatnya, renungkanlah sekarang uraian yang
tadi saudara dengar maka kalian akan bisa melihat Dhamma,
56
semua dapat melihatnya karena ia berada dalam hati kita
masing-masing. Semua mempunyai kegelapan batin bukan?
Jika kalian mampu melihatnya, kalian akan mengerti.
Dahulu kalian melihat kekotoran tersebut dan
memanjakannya, tetapi sekarang kalian harus mengenali
kekotoran batinmu dan tidak mengijinkannya datang dan
mengganggumu lagi.
Latihan pokok yang lain adalah pengendalian moral
(sila), sila memperhatikan dan menjaga latihan sama seperti
orang tua memperhatikan dan menjaga anaknya. Menjaga
kontrol moral tidak hanya menghindari perbuatan
mencelakai orang lain, melainkan juga membantu dan
mendukung mereka. Paling tidak kalian harus menjaga lima
aturan yaitu:
1. Bukan hanya tidak membunuh atau dengan sengaja
melukai orang lain, tetapi juga menyebarkan cinta kasih
pada semua makhluk.
2. Jujur, mengendalikan diri agar tidak melanggar hak
orang lain, atau dengan kata lain tidak mencuri.
3. Mengetahui keseimbangan dalam hubungan seksual: dalam
kehidupan rumah tangga ada struktur di dalamnya, yang
berdasarkan pada isteri dan suami. Mengenali siapa
suamimu dan siapa isterimu adalah mengenali
keseimbangan, mengetahui ikatan yang layak dalam
aktivitas seksual. Beberapa orang tidak tahu batasannya;
Satu suami atau satu isteri tidak cukup, mereka harus
mempunyai yang kedua, ketiga. Menurut saya, satu
partnerpun cukup, jadi punya dua atau tiga semata-mata
hanyalah pemanjaan diri. Kalian harus berusaha
57
membersihkan pikiran dan melatihnya untuk mengerti
keseimbangan, mengetahui keseimbangan adalah
kemurnian sejati, tanpa ini maka tingkah laku kalian tidak
ada batasnya lagi.
4. Jujur dalam berkata-kata ini adalah salah satu alat untuk
menghilangkan kekotoran batin, kalian harus jujur dan
lurus, harus berkata-kata yang benar dan nyata, tidak
memfitnah.
5. Menahan diri agar tidak terlibat dengan yang
memabukkan, atau yang mendatangkan ketagihan. Kalian
harus bisa menguasai diri dan memilih untuk tidak terlibat
dalam hal-hal semacam ini sama sekali. Orang sudah cukup
dimabukkan oleh saudara, teman, harta benda dan
sebagainya. Itu saja sudah cukup, tanpa harus
memperburuk keadaan dengan memakai barang-barang
yang memabukkan. Hal-hal semacam itu hanya
menggelapkan pikiran. Mereka yang sudah memakai
dalam jumlah besar harus mencoba untuk perlahan-lahan
mengurangi dosis dan pada akhirnya berhenti sama sekali.
Ketika memakan makanan yang lezat jangan terlalu larut
dalam kelezatan, perhitungkan jumlah yang harus
dikonsumsi menurut kebutuhan. Jika telalu banyak kalian
akan mengalami kesulitan. Mungkin saya harus meminta
maaf, tetapi perkataan saya ini adalah demi kepentingan
anda, supaya kalian bisa mengerti apa yang baik dan apa
yang buruk bagi kalian. Kalian perlu tahu sesuatu itu
sebenarnya apa. Apakah hal-hal yang menekan kalian
setiap saat? Tindakan-tindakan apa yang menyebabkan
tekanan ini? Perbuatan baik membawa akibat yang baik
58
dan perbuatan buruk membawa akibat yang buruk. Inilah
penyebab-penyebabnya.
Setelah pengendalian diri menjadi murni, akan timbul
kejujuran dan kebaikan terhadap orang lain, kalian akan
tenteram dan terbebas dari kekhawatiran dan penyesalan.
Tidak akan ada tindakan yang agresif dan mencelakakan
sehingga tidak akan ada penyesalan yang timbul, ini adalah
bentuk kebahagiaan, hampir sama seperti keadaan surga,
nyaman. Kalian dapat makan dan tidur dengan nyaman yang
timbul dari pengendalian diri, inilah buahnya, sedangkan
menjaga pengendalian diri adalah penyebabnya. Inilah
prinsip latihan Dhamma, mengendalikan diri agar tidak
melakukan perbuatan buruk sehingga timbullah kebaikan.
Jika pengendalian diri dijaga seperti ini, kejahatan akan
hilang dan niat baik akan timbul. lni adalah hasil latihan
yang benar.
Tetapi bukan ini akhir ceritanya, setelah orang mencapai
sedikit kebahagiaan mereka cenderung untuk tidak lagi
memperhatikan dan tidak lagi berusaha untuk maju dalam
latihan. Mereka terhanyut dalam kebahagiaan, mereka tidak
mau lagi maju, mereka memilih kebahagiaan “surga”.
Memang nyaman, tetapi itu bukan pengertian yang
sebenarnya, kalian harus terus melakukan perenungan untuk
menghindar dari khayalan, teruslah merenungkan kerugian
kebahagiaan ini. Semuanya hanya sementara, bukan hal yang
pasti, tidak bertahan selamanya, segera kalian akan terpisah
darinya. Begitu kebahagiaan lenyap, penderitaan akan timbul
59
dan air mata mengalir lagi, bahkan makhluk-makhluk
surgapun akhirnya menangis dan menderita.
Sang Buddha mengajarkan kita untuk melihat kerugian,
dari sisi kebahagiaan yang tak memuaskan. Biasanya ketika
kebahagiaan semacam ini dialami, tidak ada pengertian yang
benar, kedamaian yang tahan lama tertutup oleh kebahagiaan
semu semacam ini. Kebahagiaan yang semu bukanlah
kedamaian yang pasti, melainkan hanya salah satu bentuk
kekotoran batin, saringan dari kekotoran batin yang kita
lekati. Semua ingin bahagia, kebahagiaan timbul karena rasa
suka kita akan sesuatu. Segera setelah rasa suka itu hilang,
penderitaan muncul. Kita harus merenungkan kebahagiaan
tersebut untuk melihat ketidakpastian dan keterbatasannya.
Begitu sesuatu berubah, penderitaan muncul. Penderitaan
inipun tidak pasti, jangan berpikir bahwa itu tetap atau
mutlak. Perenungan semacam ini disebut Adinavakatha,
perenungan tentang ketidakpuasan dan keterbatasan dunia
yang terkondisi. Lebih baik merenungkan kembali daripada
hanya menerima kebahagiaan begitu saja. Melihat bahwa
sesuatu tidak pasti, kalian seharusnya tidak melekat erat-erat
padanya, kalian harus memegangnya tetapi kemudian
melepaskan, melihat baik keuntungan maupun kerugian
kebahagiaan. Untuk dapat bermeditasi dengan trampil kalian
harus melihat kerugian yang ada dalam kebahagiaan,
renungkanlah hal ini; ketika kebahagiaan timbul,
merenunglah sampai kerugiannya itu tampak jelas.
Bila kalian melihat bahwa segalanya tidak sempurna,
hati kalian akan mengerti tentang Nekkhammakatha,
perenungan tentang pembebasan dari nafsu. Pikiran menjadi
60
tidak tertarik dan mencari jalan keluar. Ketidaktertarikan
ini timbul karena telah melihat sebagaimana adanya,
bagaimana rasa itu adanya, bagaimana cinta dan benci
adanya. Tidak tertarik artinya kita tidak lagi mempunyai
keinginan untuk melekat pada sesuatu. Ada penarikan diri dari
kemelekatan, pada suatu titik dimana kalian diam dengan nyaman,
mengawasi dengan kestabilan yang bebas dari kemelekatan,
Ini adalah kedamaian yang timbul dari latihan.
61
62
4
Empat Kesunyataan Mulia
4
EmpatKesunyataan Mulia
Hari ini saya diundang kepala biara untuk membabarkan
Ajaran pada anda, jadi saya minta anda duduk dengan tenang
dan memusatkan pikiran. Karena kendala bahasa, kita harus
menggunakan seorang penerjemah, tanpa perhatian yang
seksama anda mungkin tidak akan mengerti.
Selama saya tinggal disini saya merasa senang, baik guru
maupun anda semua, para muridnya, telah memperlakukan
saya dengan ramah, dengan penuh senyum, sepertinya anda
telah mempraktekkan Dhamma yang sesungguhnya. Tempat
kalian ini juga sangat mengagumkan, dan begitu luas! Saya
mengagumi dedikasi anda yang berusaha merenovasinya dan
menyediakan tempat untuk berlatih Dhamma.
Selama menjadi guru beberapa tahun ini, banyak masa
sulit yang telah saya alami. Saat ini kurang lebih ada 40 (empat
puluh) cabang vihara salah satunya Wat Nong Ba Pong. Tetapi
sampai hari inipun masih ada murid saya yang sulit dipahami
65
Ada yang sudah mengerti tetapi tidak mau berlatih, dan
ada yang tidak mengerti dan tidak mencoba mengerti.
Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan terhadap
mereka. Mengapa manusia mempunyai pola pikir demikian?
Sikap tidak peduli itu tidak begitu baik, tetapi meskipun
demikian mereka tetap tidak mau memahami. Banyak
orang yang diliputi keraguan saat berlatih, mereka selalu ragu.
Mereka semua ingin menuju Nibbana, tetapi mereka tidak
mau melalui jalurnya, ini membingungkan. Ketika saya
menyuruh mereka meditasi mereka ketakutan atau kalau
tidak mereka mengantuk. Sering kali mereka ingin
melakukan hal-hal yang tidak saya ajarkan. Ketika saya
bertemu dengan yang terhormat Kepala Biara di sini, saya
menanyakan tentang murid-murid beliau. Beliau mengatakan
hal yang sama terjadi disini. Inilah yang membuat luka hati
seorang guru.
Ajaran yang akan saya babarkan untuk anda hari ini
adalah jalan untuk mengatasi masalah pada saat ini, pada
hidup ini. Beberapa orang mengatakan mereka begitu sibuk
sampai-sampai tidak punya waktu untuk berlatih Dhamma,
“Apa yang dapat kami lakukan?” tanya mereka. Saya bertanya,
“Apakah kalian bernafas saat bekerja?” Jawab mereka, “Tentu
saja!” “Jadi bagaimana kalian bisa punya waktu untuk bernafas
kalau kalian begitu sibuk?” Mereka tidak tahu harus
menjawab apa. “Jika kalian punya sati (perhatian,
kewaspadaan) saat bekerja, kalian akan punya cukup banyak
waktu untuk berlatih.”
66
Berlatih meditasi sama halnya dengan bernafas. Saat
bekerja kita bernafas, saat tidur kita bernafas, saat duduk
kita bernafas... mengapa kita punya waktu untuk bernafas?
Karena kita melihat betapa pentingnya bernafas, jadi kita
selalu dapat menyediakan waktu untuk bernafas. Begitu pula
jika kita melihat pentingnya berlatih meditasi, maka kita
akan mempunyai waktu untuk itu.
Pernahkah anda menderita?... pernahkah anda
bahagia?... disinilah kebenaran, disinilah anda harus berlatih
Dhamma. Siapakah itu yang berbahagia? Pikiran yang
berbahagia. Siapa yang menderita?... Pikiran. Dimanapun
hal-hal semacam itu muncul, disitu pulalah mereka lenyap.
Sudahkah anda mengalami penderitaan?... sudahkah kalian
mengalami kebahagiaan?... mengapa demikian? apa yang
menyebabkan semua ini?... inilah masalah kita. Jika kita
mengetahui penderitaan, penyebab penderitaan, hilangnya
penderitaan dan jalan yang menuju ke akhir penderitaan,
kita dapat memecahkan masalah itu.
Ada dua macam penderitaan: penderitaan biasa dan
penderitaan tidak biasa. Penderitaan biasa adalah penderitaan
yang memang menjadi sifat dari semua kondisi; berdiri adalah
penderitaan, duduk adalah penderitaan, berbaring adalah
penderitaan. Ini adalah penderitaan yang memang ada
didalam setiap fenomena yang terkondisi. Bahkan Sang
Buddha pun mengalami hal-hal semacam itu. Beliau
mengalami rasa nyaman dan rasa sakit, tetapi mengenalinya
sebagai kondisi alami. Beliau tahu bagaimana mengatasi
perasaan-pera-saan yang timbul dari rasa nyaman dan rasa
67
sakit ini lewat pengertian terhadap sifat alami. Karena
pengertian inilah maka perasaan-perasaan yang timbul tidak
mengganggu Beliau.
Jenis penderitaan yang ke dua inilah yang penting, yaitu
penderitaan yang masuk dari luar, penderitaan yang tidak
biasa. Jika kita sakit mungkin kita akan memerlukan suntikan
dokter, saat jarum suntik disuntikan ada sedikit rasa sakit,
ini hal yang wajar. Saat jarum dicabut rasa sakit itupun ikut
lenyap. Ini adalah penderitaan yang biasa, tidak ada masalah,
semua mengalami, penderitaan yang tidak biasa adalah
penderi-taan yang timbul dari apa yang kita sebut upadana,
kemelekatan pada sesuatu, ibarat mendapat suntikan yang
berisi racun, ini bukan lagi rasa sakit biasa, melainkan rasa
sakit yang berakhir dengan kematian. Demikian juga
penderitaan yang timbul karena kemelekatan.
Pandangan yang salah, tidak mengetahui bahwa segala
sesuatu yang terkondisi itu tidak kekal, adalah masalah yang
lain lagi. Keadaan yang terkondisi adalah alam samsara. Bila
kita tidak menginginkan adanya perubahan kita pasti
menderita. Ketika kita berpikir bahwa badan ini adalah kita
atau milik kita, rasa takut timbul saat kita melihat badan ini
berubah menjadi tidak lebih baik. Lihatlah nafas: sesudah
masuk ia harus keluar, sesudah keluar ia harus masuk lagi.
Begitulah sifatnya. Dan karena sifat inilah kita mampu
bertahan hidup. Jika kita hanya menghembuskan nafas keluar
atau hanya menghirup masuk saja kita tidak dapat hidup,
segala sesuatu tidak berjalan seperti itu, begitulah kondisi,
tetapi kita tidak menyadari hal itu.
68
Misalnya, kita kehilangan sesuatu benda, jika kita
berpikir bahwa benda itu benar-benar milik kita, kita akan
berlarut-larut bersedih karenanya, dan jika kita tidak dapat
melihatnya sebagai sesuatu yang terkondisi, yang menjalani
sifat alaminya, maka kita akan menderita. Jika kita hanya
menghirup nafas dan tidak menghembuskannya,
menghembuskan nafas saja tanpa menghirupnya, dapatkah
kita hidup? Hal yang terkondisi memang harus berubah.
Melihat hal ini adalah melihat Dhamma, melihat aniccam
(perubahan). Hidup kita tergantung dari perubahan semacam
itu. Bila kita mengetahui segala sesuatunya seperti apa adanya,
kita dapat melepaskannya.
Tujuan latihan Dhamma adalah mengembangkan
pengertian tentang bagaimana berlangsungnya proses hukum
alam, dan dengan demikian penderitaan tidak muncul. Jika
kita mempunyai pola pikir yang salah, maka kita akan
berselisih dengan dunia, dengan Dhamma dan dengan
kebenaran. Misalkan anda sakit dan harus dirawat di rumah
sakit. Kebanyakan orang berpikir, “Tolong, jangan biarkan
saya mati, saya tidak mau mati, saya ingin sembuh.” Ini adalah
cara berpikir yang salah, yang akan membawa penderitaan.
Anda harus berkata pada diri sendiri: “ Saya berusaha
mengobati jasmani ini, jika saya akan sembuh, ya sembuh.
Dan Jika saya akan mati, ya mati.” Ini adalah cara berpikir
yang benar, karena kita tidak dapat sepenuhnya mengatur
keadaan. Jika kita berpikir seperti ini, sembuh atau tidak
sembuh tidak jadi soal. Kita tidak bisa salah, dan kita tidak
perlu khawatir. Ingin sembuh dengan segala cara dan takut
menghadapi kematian... ini adalah pikiran yang tidak
69
mengerti kondisi. Kita harus berpikir, “Jika saya sembuh, itu
bagus, Jika tidak itupun bagus”. Dengan begitu kita tidak
dapat salah. Kita tidak perlu menangis atau takut, karena
kita telah menyesuaikan diri dengan segala sesuatu seperti
apa adanya.
Sang Buddha melihat dengan jelas, Ajaran Beliau selalu
relevan, tidak pernah ketinggalan zaman. Tidak pernah
berubah, pada zaman sekarang pun masih tetap benar seperti
dulu, belum ketinggalan zaman. Segala sesuatunya masih tetap
benar seperti dulu, belum ketinggalan zaman, segala
sesuatunya masih seperti apa adanya, belum berubah. Dengan
membawa Ajaran ini ke dalam sanubari maka kita dapat
memperoleh ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan.
Dalam Ajaran, ada gambaran mengenai “bukan diri”:
‘ini bukanlah aku, bukan milikku’. Tetapi orang tidak suka
mendengarkan Ajaran-ajaran seperti ini karena mereka
terikat pada konsep diri, inilah penye-bab penderitaan. Kita
harus merenungkannya.
Hari ini seorang wanita bertanya tentang bagaimana cara
menghadapi kemarahan. Saya katakan bahwa jika lain kali
kemarahan itu timbul, pasanglah jam weker dan taruhlah di
depan mata. Kemudian sediakan dua jam untuk mengusir
kemarahan itu. Jika kemarahan itu benar-benar miliknya maka
ia mungkin bisa mengusir kemarahan itu dengan berkata,
“Pergilah dalam waktu dua jam!”. Tetapi nyatanya kita tidak
berkuasa memerintah seperti itu. Kadang kala dalam dua jam
kemarahan itu belum berlalu, sedangkan pada kesempatan
70
lain satu jam saja sudah cukup. Berpegangan pada kemarahan
sebagai milik pribadi akan membawa penderitaan. Jika ia
benar-benar milik kita seharusnya ia patuh. Jika tidak, berarti
itu hanyalah tipuan. Jangan terpedaya. Jangan tertipu baik
oleh pikiran sedih atau gembira, jangan tertipu baik oleh
pikiran mencinta atau membenci, semuanya hanyalah
sementara.
penderitaan muncul, Kita hanya sedih tanpa belajar darinya.
Kita harus benar-benar memperhatikan penderitaan yang
timbul, penyebabnya dan jalan menuju lenyapnya
penderitaan, untuk mengembangkan ke-Buddhaan.
Perhatikanlah baik-baik, saya akan memberikan
Dhamma diluar kitab, beberapa di antara anda mungkin
tidak menyadari bahwa ini adalah Ajaran Dhamma.
Kebanyakan orang melihat kitabnya tetapi tidak melihat
Dhamma. Hari ini saya akan memberikan ajaran diluar kitab,
beberapa orang mungkin akan melewatkan intinya atau
bahkan tidak mengerti.
Pernahkah anda marah? Ketika anda marah, bagaimana
rasanya: nyaman atau tidak? Jika terasa tidak enak mengapa
tidak dibuang saja perasaan itu, mengapa repot-repot
disimpan? Bagaimana Anda dapat menyebut diri pandai dan
bijaksana jika anda melekati hal-hal semacam itu? Semenjak
lahir sudah berapa kali anda ditipu oleh pikiran sehingga
menjadi marah? Ada hari-hari dimana pikiran bahkan dapat
menyebabkan seluruh anggota keluarga bertengkar, atau
menyebabkan anda menangis semalaman. Tetapi masih saja
marah, kita masih melekat pada ini dan itu, kemudian
menderita. Jika anda tidak melihat ke dalam penderitaan
maka anda akan tetap menderita. Jika anda melihat
penderitaan dalam kemarahan hari ini, buanglah! Jika tidak
dibuang kemarahan itu akan terus menerus dan pasti
membawa penderitaan. Tidak ada kesempatan untuk
beristirahat, dunia samsara memang seperti ini. Jika kita tahu
sebagaimana adanya, kita dapat memecahkan masalahnya.
Misalkan, ada dua orang yang sedang berbicara, dan
kemudian melihat seekor ayam dan seekor itik. Yang satu
berkata: “Mengapa ayam itu tidak seperti itik; mengapa itik
itu tidak seperti ayam?” Dia ingin agar ayam itu menjadi seperti
itik dan itik menjadi seperti ayam. Ini adalah sesuatu yang
tidak mungkin. Meskipun orang tersebut berharap sepanjang
hidupnya maka hal itu tidak akan terjadi, karena ayam adalah
ayam dan itik adalah itik. Selama orang berpikir semacam
itu ia akan menderita. Orang yang satu mungkin melihat
bahwa ayam adalah ayam dan itik adalah itik, begitu saja. Tidak
ada masalah, ia melihat dengan benar. Jika anda menginginkan
ayam menjadi itik atau sebaliknya, anda pasti akan menderita.
Sang Buddha bersabda Bahwa untuk mengatasi
penderitaan adalah melihat. bahwa “Ini bukanlah aku”, “Ini
bukanlah milikku”. Ini adalah metode yang sempurna. Tetapi
biasanya kita tidak memperhatikan hal ini. Ketika
Demikian juga, hukum aniccam menyatakan bahwa
segala sesuatunya tidak kekal. Jika anda menginginkan segala
sesuatunya menjadi kekal, anda akan menderita. Tiap kali
ketidakkekalan menampakkan diri, anda akan kecewa.
71
72
Seseorang yang melihat bahwa segala sesuatu memang bersifat
tidak kekal akan tenang. Dia tidak akan berada dalam
konflik, sebaliknya yang menginginkan segala sesuatunya
kekal tidak akan tenang, bahkan mungkin tidak bisa tidur.
Itu adalah ketidak pedulian tentang aniccam, ketidakkekalan.
Jika anda ingin mengenal Dhamma, kemana harus
mencari? Kita harus mencarinya dalam tubuh dan pikiran
ini. Anda tidak akan menemukannya di rak-rak buku. Untuk
benar-benar melihat Dhamma kita harus melihat pada
tubuh dan pikiran, hanya dua hal ini. Pikiran memang tidak
terlihat oleh mata fisik, ia harus dilihat dengan “mata batin”.
Sebelum Dhamma dapat direalisasikan, kita harus tahu
kemana harus mencari. Dhamma yang ada didalam tubuh
harus dilihat pada tubuh. Dan dengan apa kita melihat tubuh?
Dengan pikiran. Kita tidak akan melihat Dhamma jika
mencari ke arah lain, karena baik kebahagiaan maupun
penderitaan selalu muncul disini. Atau sudah pernahkah
anda melihat kebahagiaan tumbuh di pepohonan, sungai,
atau cuaca? Kebahagiaan dan penderitaan adalah perasaan
yang muncul dari tubuh dan pikiran kita sendiri.
Maka dari itu Sang Buddha mengatakan pada kita untuk
mengenali Dhamma persis disini, Dhamma ada disini dan
disinilah kita harus melihat. Guru anda mungkin menyuruh
anda mencarinya di buku-buku, tetapi jika anda benar-benar
mengira bahwa disitulah Dhamma sebenarnya berada, anda
tidak akan pernah melihatnya. Setelah melihat buku-buku itu
anda harus merenungkan Ajaran itu. Dengan demikian anda
akan mengerti Dhamrna, dimana letak Dhamma yang
73
sebenarnya? la berada persis disini, didalam tubuh dan
pikiran kita. Gunakanlah pikiran kita untuk merenungkan
tubuh jasmani dan inti dari latihan perenungan ini.
Bila kita melakukan hal ini, kebijaksanaan akan muncul
dalam pikiran, bila ada kebijaksanaan dalam pikiran kita,
maka segala sesuatu akan lebih baik, kemanapun kita melihat
akan ada Dhamma. Kita akan melihat aniccam, dukkham
dan anatta setiap saat. Aniccam artinya sementara (transient).
Dukkham - jika kita melekat pada hal-hal yang sementara
kita pasti menderita, karena mereka bukan kita atau
kepunyaan kita (anatta), tetapi jika kita tidak melihat hal ini,
kita akan selalu melihatnya sebagai kita atau milik kita.
Ini artinya kita tidak melihat kebenaran dari konvensi
(kesepakatan bersama), kita harus mengerti tentang konvensi.
Sebagai contoh, semua yang hadir di sini mempunyai nama.
Apakah nama-nama itu dilahirkan bersama kita atau
diberikan sesudahnya? Mengertikah kalian? Inilah konvensi.
Apakah konvensi itu berguna? Tentu saja. Sebagai contoh,
misalkan ada empat orang lelaki yaitu A, B, C, dan D. Mereka
semua harus punya nama sendiri-sendiri untuk memudahkan
komunikasi dan kerja bersama. Jika kita ingin berbicara
kepada Pak A kita dapat memanggil “Pak A” dan beliau akan
datang, bukan yang lain. Ini adalah kemudahan yang
diberikan konvensi. Tetapi jika kita melihat dalam-dalam kita
akan melihat kekosongan. Yang ada hanya empat elemen
(tanah, air, angin dan api), hanya inilah tubuh kita.
74
Tetapi kita tidak melihatnya seperti itu karena kekuatan
kemelekatan-Attavadupadana. Jika kita mau melihat dengan
jelas, kita akan melihat bahwa yang disebut manusia itu
tidaklah seberapa. Bagian yang padat adalah elemen tanah,
bagian yang cair adalah elemen air, bagian yang bergerak
adalah elemen angin dan bagian yang panas adalah elemen
api. Perpaduan keempat elemen itulah yang kita sebut
manusia. Bila dipisah-pisahkan, kita hanya akan melihat
tanah, air, angin dan api. Lalu dimana orangnya? Tidak ada.
Itulah sebabnya mengapa Sang Buddha mengajarkan
bahwa tidak ada latihan yang lebih tinggi dari pada melihat
bahwa “Ini bukan aku dan bukan milikku”. Semuanya
hanyalah konvensi. Jika kita memahami segala sesuatunya
dengan jelas seperti ini kita akan berada dalam kedamaian.
Jika saat ini kita menyadari ketidakkekalan, bahwa segala
sesuatu bukanlah kita atau milik kita, ketika mereka hancur
kita tidak akan terganggu, karena toh mereka bukan milik
siapapun. Mereka hanyalah elemen tanah, air, angin dan api.
Sulit bagi orang untuk melihat hal ini, tetapi bukan
berarti tidak mungkin jika kita dapat melihat hal ini kita
akan merasa tenteram, tidak akan ada begitu banyak
kemarahan, ketamakan atau khayalan
Jika kita dapat melihat kebenaran Ajaran Sang Buddha,
kita tidak akan memerlukan terlalu banyak guru! Tidak perlu
mendengarkan ajaran setiap hari. Jika mengerti, maka kita
akan mengerjakan apa yang dituntut dari kita. Apa yang
membuat orang sulit dipahami adalah mereka tidak mau
75
menerima nasehat-nasehat guru. Di depan guru, mereka
bertindak lebih baik, tetapi mereka menjadi pencuri
dibelakangnya. Manusia memang sulit dipahami. Orangorang Thailand pun seperti ini, itulah sebabnya mereka harus
mempunyai banyak guru.
Waspadalah, jika tidak waspada anda tidak akan melihat
Dhamma, anda harus tanggap terhadap situasi.
Dengarkanlah nasehat-nasehat, dan pertimbangkan baikbaik, apakah bunga ini indah? Apakah anda dapat melihat
keburukan bunga ini?... Berapa lama mereka akan tetap
indah?... Akan jadi seperti apakah nantinya?... Mengapa itu
berubah?... Dalam waktu tiga atau empat hari anda harus
membuang bunga itu bukan? Ia kehilangan keindahannya.
Orang melekat pada keindahan dan kebaikan. Jika sesuatu
tampak baik mereka langsung saja melekat. Sang Buddha
mengajar kita untuk melihat sesuatu yang indah sebagai
sesuatu yang indah tanpa terikat padanya. Jika ada perasaan
menyenangkan ja-ngan terpedaya. Kebaikan (goodness),
keindahan bukan-lah sesuatu yang pasti, tidak ada sesuatupun
di dunia ini yang pasti, inilah kesunyataan. Hal-hal yang
bukan benar adalah hal-hal yang berubah, misalnya
kecanti-kan. Kebenaran yang ada pada hal-hal semacam itu
adalah bahwa semuanya berubah terus. Jika kita perca-ya
bahwa sesuatu itu benar-benar indah, maka saat
keindahannya hilang, pikiran kita ikut kehilangan
kein-dahannya. Ketika sesuatu tidak lagi baik, pikiran kita
ikut kehilangan kebaikannya. Kita “menginvestasikan”
pikiran kita dalam hal-hal materi seperti ini. Ketika mereka
rusak atau hancur kita menderita karena kita merasa memiliki,
76
Sang Buddha mengatakan pada kita untuk melihat hal-hal
ini semata-mata sebagai struktur alam. Keindahan muncul
dan dalam beberapa hari akan lenyap. Bisa melihat ini berarti
mempunyai kebijaksanaan.
Maka dari itu kita harus melihat ketidakkekalan, jika
melihat sesuatu yang indah, kita harus berkata kepada diri
kita sendiri: “Itu tidak indah.” Jika berpikir, bahwa sesuatu
jelek kita harus mengatakan pada diri sendiri: “Itu tidak
jelek.” Cobalah untuk melihat seperti ini, teruslah merenung
seperti ini. Kita akan melihat kebenaran pada hal-hal yang
tidak benar, melihat kepastian pada hal-hal yang tidak pasti.
Hari ini saya telah menerangkan jalan untuk mengerti
penderitaan, apa yang menyebabkan penderitaan, hilangnya
penderitaan dan jalan menuju akhir penderitaan. Jika kalian
mengerti penderitaan, kalian harus membuang penderitaan,
jika kalian mengerti penyebab penderitaan, kalian harus
membuang penyebab penderitaan. Berlatihlah untuk melihat
hilangnya penderitaan. Lihatlah aniccam, dukkham dan
anatta maka penderitaan pun akan berkurang.
Ketika penderitaan menghilang kemana kita harus
pergi? Untuk apa latihan yang kita jalankan? Kita berlatih
untuk melepaskan, bukan untuk mendapatkan. Ada seorang
wanita yang sore tadi memberitahukan pada saya bahwa dia
sangat menderita. Saya bertanya padanya apa yang diinginkan
dan dia menjawab ia ingin penerangan (enlightenment). Saya
berkata, “Selama kamu masih menginginkan penerangan
kamu tidak akan pernah mencapai penerangan. Jangan
77
menginginkan apapun.” Ketika kita mengerti kebenaran
penderitaan kita membuang penderitaan. Ketika kita
mengerti sebab-sebabnya kita tidak menciptakan sebab-sebab
tersebut, kita berlatih untuk membawa penderitaan pada
akhir jalan le-nyapnya penderitaan. Latihan yang menuju ke
penghen-tian itu adalah dengan melihat “Ini bukanlah diri”,
“Ini bukan aku atau mereka”. Melihat dengan cara seperti
ini memungkinkan penderitaan untuk hilang. Ini seperti
mencapai tujuan dan berhenti. Itulah penghentian,
mendekati Nibanna. Dengan kata lain, maju adalah
penderitaan, mundur adalah penderitaan, berhenti adalah
penderitaan. Tidak maju, tidak mundur, tidak berhenti... apa
yang tersisa? tubuh dan pikiran berhenti disini. Inilah
berhentinya penderitaan. Sulit untuk dimengerti, bukan? Jika
kita rajin terus menerus mempelajari Ajaran ini kita akan
melampaui segala sesuatu dan mencapai pengertian. Akan
ada penghentian. Inilah Ajaran utama Sang Buddha: titik
akhir, Ajaran Sang Buddha berakhir pada titik tercapainya
pelepasan total.
Hari ini saya menguraikan nasehat ini pada kalian semua
dan juga Y.M. Kepala Biara. Jika ada yang salah mohon
dimaafkan. Tetapi jangan terburu-buru menghakimi benar
atau salah, dengarkan saja dulu. Jika saya memberi anda buah
dan mengatakan bahwa buah itu enak, kalian catat saja
komentar saya itu, tetapi jangan langsung percaya, karena
kalian belum mencicipinya sendiri. Ajaran yang saya berikan
hari ini, juga demikian. Jika Anda ingin tahu apakah “buah”
ini manis atau masam, kupas lalu cicipi. Kemudian anda akan
tahu apakah itu manis atau masam. Lalu anda dapat
78
mempercayai saya karena telah membuktikannya sendiri. Jadi
tolong jangan buang “buah” ini, simpan dan rasakan,
kenalilah rasanya sendiri.
kemudian ada penderitaan ada penderitaan kemudian ada
kebahagiaan; ada untung kemudian ada rugi, ada rugi
kemudian ada untung, beginilah segala sesuatunya.
Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi
kita semua. Saya telah berkesempatan untuk bertemu dengan
anda semua dan juga para guru terhormat lainnya. Anda
tadinya tidak berpikir bahwa kita akan bisa bertemu seperti
ini karena kita tinggal berjauhan. Saya rasa pasti ada alasan
khusus kenapa kita bisa bertemu seperti ini. Sang Buddha
mengajarkan bahwa segala sesuatunya pasti mempunyai
sebab. Jangan lupakan ini. Pasti ada beberapa sebab, mungkin
dalam kehidupan yang lalu kita semua adalah saudara,
mung-kin karena guru yang lain tidak datang saya yang datang,
mengapa demikian? Mungkin karena kita membuat
penyebabnya sendiri saat ini.
Pada masa Sang Buddha ada seorang murid yang tidak
suka pada Sang Buddha, karena Sang Buddha selalu
menuntun mereka untuk tekun berlatih, untuk selalu mawas
diri. Mereka yang malas takut kepada Sang Buddha dan
menolak Beliau, ketika Sang Buddha mahaparinibbana, satu
kelompok murid menangis dan sedih karena Sang Buddha
tidak bisa membimbing mereka lagi, kelompok ini belum
bijak. Kelompok yang lain merasa bahagia dan lega karena
Sang Buddha tidak akan bisa mendorong-dorong mereka dan
memerintah mereka untuk berlatih dengan rajin dan
sebagainya. Kelompok yang ketiga tetap tenang, mereka
merenungkan bahwa apa yang muncul pasti akan lenyap
sebagai konsekuensinya. Ada tiga kelompok ini. Kalian ingin
menjadi kelompok yang mana? Kelompok yang menangis
adalah kelompok yang masih belum mengerti Dhamma,
kelompok yang kedua adalah kelompok yang menolak Sang
Buddha. Beliau selalu melarang mereka melakukan hal-hal
tidak bermanfaat yang mereka inginkan, mereka hidup dalam
ketakutan akan nasehat-nasehat Sang Buddha, pada saat
Buddha mahaparinibbana mereka merasa sangat lega.
Saya akan meninggalkan anda semua dengarn Ajaran
ini, semoga anda tekun dalam latihan. Tidak ada yang lebih
baik dari pada berlatih Dhamma, Dhamma adalah pedoman
kehidupan. Orang bingung sekarang ini karena mereka tidak
mengerti Dhamma. Jika kita mempunyai Dhamma kita akan
tenteram. Saya merasa berbahagia berkesempatan
membantu anda dan para guru untuk mengembangkan
latihan Dhamma. Saya meninggalkan anda dengan hati yang
berisi harapan-harapan yang baik bagi anda. Besok saya akan
pergi, saya tidak yakin ke mana. Ini adalah hal yang wajar,
ada kedatangan harus ada kepergian, ada kepergian harus
ada kedatangan. Beginilah dunia. Kita jangan terlalu
terpengaruh oleh perubahan yang ada, ada kebahagiaan
79
Sekarang ini keadaan tidak begitu banyak berubah, ada
kemungkinan guru-guru di sini mempunyai murid-murid yang
menolak mereka, mungkin tidak secara langsung, hanya
dalam hati. Memang wajar bagi orang yang masih mempunyai
kekotoran batin untuk bertindak seperti itu. Bahkan Sang
80
Buddha pun ada yang membenci. Saya juga mempunyai
murid yang seperti itu, saya mengatakan kepada mereka untuk
berhenti berbuat jahat tetapi mereka menyayangi perbuatan
jahat. Jadi mereka membenci saya, banyak yang seperti ini,
semoga kalian semua pandai membawa diri dalam berlatih
Dhamma.
81
82
5
Tuccha Pothila
Bhikkhu Kit
ab K
osong
Kitab
Kosong
Tuccha Pothila - Venerable Empty – Scripture
5
Tuccha Pothila
Bhikkhu Kit
ab K
osong
Kitab
Kosong
Ada dua cara untuk mendukung pengembangan Ajaran
Buddha, salah satunya yaitu yang disebut amisapuja,
mendukung melalui persembahan barang-barang materi.
Persembahan tersebut dapat berupa makanan, pakaian,
tempat tinggal, dan obat-obatan. Ini adalah cara mendukung
Ajaran Buddha dengan memberikan benda-benda materi
kepada Bhikkhu Sangha dan Viharawati, sehingga mereka
bisa hidup layak dalam pelayanan terhadap Dhamma. Hal
ini akan mendasari realisasi nyata ajaran Sang Buddha, yang
secara langsung akan membawa kemajuan bagi agama
Buddha.
Ajaran Buddha dapat disamakan seperti pohon,
sebatang pohon mempunyai akar, batang, cabang, dahan serta
daun. Daun, cabang, ranting tergantung pada akar dalam
menyerap nutrisi dari tanah dan menyebarkannya ke seluruh
bagian. Seperti halnya pohon tergantung pada akarnya untuk
bertahan, tindakan dan perkataan kita adalah ‘cabang’ dan
‘daun’, yang tergantung pada pikiran, si ‘akar’, yang menyerap
85
nutrisi dan kemudian mengedarkannya ke seluruh bagian
‘batang’, ‘dahan’ dan ‘daun’. Ini kemudian akan
menghasilkan buah yaitu ucapan dan perbuatan, bagaimana
tingkat pikiran, trampil atau tidak, diekspresikan oleh ucapan
dan perbuatan kita.
Karena itu dukungan yang paling penting bagi ajaran
Sang Buddha adalah melalui penerapan ajaran itu sendiri.
Sebagai contoh, dalam upacara penetapan aturan-aturan pada
hari-hari observasi, Sang Guru akan menggambarkan
tindakan-tindakan yang harus dihindari, tetapi jika anda hanya
sekedar mendengarkan dan mengikuti jalannya upacara
tanpa merenungkan artinya, anda akan sulit maju dan
berkembang. Anda tidak akan mampu menemukan latihan
yang sesungguhnya. Karena itu dukungan bagi agama Buddha
harus dilakukan melalui Patipattipuja, pemberian
‘persembahan’ berupa latihan, pengendalian diri, konsentrasi
dan kebijaksanaan. Dengan begitu anda akan tahu Ajaran
Buddha yang sesungguhnya. Jika kita belum bisa mengerti
lewat latihan maka meskipun kita mempelajari seluruh isi
Tipitaka kita tetap tidak akan mengerti.
Pada jaman Sang Buddha ada seorang bhikkhu yang
bernama Pothila, yang diberi gelar Tuccha yang artinya kosong,
Tuccha Pothila adalah seorang bhikkhu yang sangat terpelajar.
la sangat terkenal dan mempunyai 18 (delapan belas) cabang
vihara. Ketika orang mendengar nama ‘Pothila’ mereka semua
kagum dan tidak ada seorangpun yang berani
mempertanyakan segala yang diajarkannya, mereka begitu
86
memujanya. Tuccha Pothila adalah salah satu murid Sang
Buddha.
Pada suatu hari ia datang untuk menghormat Sang
Buddha, sewaktu ia melakukan penghormatan, Sang Buddha berkata, “Apa kabar Bhikkhu Kitab Kosong!.... Hanya
begitu! Mereka berbicara sejenak. Dan kemudian sewaktu
Tuccha Pothila berpamitan, Sang Buddha berkata: “Pergilah
sekarang, Bhikkhu Kitab Kosong?”
Sang Buddha hanya berkata seperti itu. Pada saat datang,
“Apa kabar Bhikkhu Kitab Kosong?” dan waktu pulang “Pergi
sekarang Bhikkhu Kitab Kosong?” Sang Buddha tidak
menjelaskan lebih jauh, hanya itulah ajaran yang diberikan.
Tuccha Pothila, guru yang terkenal itu bingung, “Mengapa
Sang Buddha berkata demikian? Apa maksudnya?” la berpikir
keras, mengeluarkan semua Ajaran yang pernah dipelajari,
sampai akhirnya ia menyadari... “Benar! ‘Bhikkhu Kitab
Kosong’ seorang bhikkhu yang belajar tetapi tidak
mempraktekkan...” Ketika ia melihat dalam hatinya, ia
menyadari bahwa ia tidak berbeda dari kebanyakan orang
awam. Apapun yang disukai mereka, ia juga suka, apapun
yang dinikmati oleh orang-orang awam ia ikut menikmati.
Tidak ada samana yang benar pada dirinya, tidak ada kualitas
yang baik dalam diri untuk membawa menuju Jalan Mulia
dan menemukan kedamaian.
la memutuskan untuk berlatih, tetapi ia tidak tahu harus
pergi kemana. Semua guru yang ada disekitarnya adalah
murid-muridnya, tidak ada yang berani menerimanya sebagai
87
murid. Biasanya ketika seseorang bertemu dengan si guru,
mereka menjadi penakut dan hormat, jadi tidak ada
seorangpun yang berani menjadi gurunya.
Akhirnya ia pergi untuk menemui seorang samanera
muda yang telah mencapai tingkat kesucian untuk meminta
petunjuk. Samanera itu berkata, “Baiklah, kamu bisa berlatih
bersama saya, tetapi kamu harus tulus. Jika kamu tidak tulus
saya tidak akan menerimamu.”
Samanera itu kemudian menyuruh Tuccha Pothila untuk
mengenakan jubahnya dengan lengkap. Ada tanah berlumpur
di sekitar situ. Ketika Tuccha Pothila telah mengenakan
jubahnya dengan lengkap, samanera itu berkata, “Baiklah,
sekarang berjalanlah di tanah berlumpur itu, jika saya tidak
menyuruh untuk berhenti, jangan berhenti. Jika saya tidak
memintamu untuk meninggalkannya, jangan tinggalkan.
Sekarang bersiaplah dan….. jalan!”
Tuccha Pothila yang berjubah rapi, masuk ke dalam tanah
berlumpur itu. Samanera tidak menyuruh berhenti sampai ia
betul-betul rata berlumuran lumpur. Akhirnya ia berkata,
“Kamu dapat berhenti sekarang”... dan Tuccha Pothila
berhenti. “Baiklah, tinggalkan tempat itu!” Lalu ia pergi.
Ini jelas menunjukkan bahwa Tuccha Pothila telah
meninggalkan keangkuhannya. la siap menerima ajaran, jika
ia tidak siap untuk belajar ia tidak akan mau berjalan dalam
lumpur seperti itu. Tetapi walaupun dia seorang guru yang
terkenal, ia mau melakukannya. Samanera muda itu melihat
88
bahwa Tuccha Pothila benar-benar tulus dan berniat kuat
untuk berlatih.
Setelah Tuccha Pothila keluar dari lumpur itu dan
membersihkan diri, samanera muda memberikan Ajarannya.
la mengajar Tuccha untuk mengamati obyek sensasi,
mengetahui pikiran dan mengenali obyek-obyek sensasi.
Digunakan perumpamaan seseorang yang akan menangkap
kadal yang bersembunyi dalam lubang yang bercabang. Jika
lubang itu mempunyai enam jalan keluar, bagaimana
caranya menangkap kadal tersebut? Tentunya dengan
menutup lima jalan keluar yang lain. Dengan demikian ia
hanya perlu melihat dan menunggu satu lubang. Ketika kadal
itu keluar dengan mudah ia bisa menangkapnya.
Begitu juga cara mengamati pikiran; menutup mata,
telinga, hidung, lidah dan tubuh, kita hanya menyisakan
pikiran. Yang dimaksud dengan menutup indera adalah
menahan serta menatanya, dan hanya mengamati pikiran.
Meditasi sama seperti menangkap kadal. Kita
menggunakan sati untuk mengamati nafas. Sati adalah kualitas
perenungan, sama halnya seperti bertanya pada diri sendiri,
“Apa yang saya lakukan?” Sampajanna adalah kesadaran bahwa
‘saat ini saya sedang melakukan ini dan itu’. Kita mengamati
nafas yang masuk dan keluar dengan menggunakan sati dan
sampajanna.
Kualitas perenungan semacam ini adalah sesuatu yang
timbul dari latihan dan bukan sesuatu yang dapat dipelajari
89
lewat buku-buku. Ketahuilah pikiran-pikiran yang timbul,
pikiran dapat menjadi tidak aktif sebentar dan kemudian
perasaan akan timbul. Sati bekerja sebagai penghubung bagi
perasaan-perasaan ini, dan mengumpulkannya. Ada sati, yaitu
kumpulan “Saya akan berbicara”, “Saya akan pergi” dan
sebagainya, kemudian ada sampajanna, kesadaran bahwa
‘Sekarang saya sedang berjalan’, ‘Saya sedang berbaring”,
‘Saya sedang mengalami perasaan ini dan itu’. Dengan dua
hal ini; sati dan sampajanna, kita dapat mengetahui pikiran
kita saat ini. Kita akan mengetahui bagaimana pikiran
bereaksi terhadap rangsangan.
Sesuatu yang menyadari akan adanya obyek sensasi
itulah yang disebut ‘pikiran’. Obyek sensasi itu berkelana
masuk ke dalam pikiran. Sebagai contoh ada suara, suara itu
masuk melalui telinga dan berkelana ke dalam menuju
pikiran, yang mengenali suara apakah itu. Yang mengenali
suara itulah yang disebut ‘pikiran’. Pikiran yang mengenali
suara itu masih termasuk pikiran dasar. Pikiran kejengkelan
dapat timbul pada sesuatu yang mengenali. Kita harus melatih
‘yang mengenali’ ini lebih jauh lagi agar menjadi
‘mengetahui’ sesuai dengan kebenaran yang disebut Buddho.
Jika kita tidak mengetahui sesuai dengan kebenaran kita akan
jadi marah dengan suara mobil, orang dan sebagainya. Ini
hanyalah pikiran yang mengenali suara dengan kobodohan.
la mengetahui menurut pilihan, bukan menurut kebenaran.
Kita harus melatihnya lebih jauh untuk mengenali gambaran
dan pandangan terang (insight) nanadassana, kekuatan dan
pikiran yang tersaring, sehingga mengenali suara hanya
sebagai suara. Jika kita tidak melekat pada suara, tidak akan
90
ada kebencian Suara timbul dan kita hanya mengetahui saja.
Inilah yang disebut benar-benar mengenali timbulnya suara,
dengan begitu kita tidak akan marah. Suara itu timbul
menurut kondisi, bukan makhluk (being), individu, diri, kita
atau ‘mereka’. Hanya suara, pikiran harus melepas.
Pengenalan semacam ini disebut Buddho. Dengan
pengetahuan seperti ini kita dapat membiarkan suara sebagai
hanya suara. la tidak akan mengganggu kita kecuali jika kita
mengganggunya dengan berpikir, ‘Saya tidak 1ngin
mendengar suara itu, itu menjengkelkan’. Penderitaan
timbul karena pemikiran semacam itu. Inilah penyebab
penderitaan: saat kita tidak mengenali kebenaran suatu
masalah, saat kita belum mengembangkan Buddho, kita
belum menyadari, belum waspada. Inilah pikiran yang
mentah, belum terlatih. Pikiran semacam itu belum benarbenar berguna bagi kita.
Maka dari itu Sang Buddha mengajarkan bahwa pikiran
harus dilatih dan dikembangkan. Kita harus mengembangkan
pikiran seperti kita mengembangkan tubuh, hanya tentu saja
lewat cara lain. Untuk mengembangkan tubuh; kita berlatih
lari, jogging pada pagi hari dan sore atau olah raga lain. Itu
semua adalah latihan fisik. Hasilnya: tubuh menjadi sehat,
kuat, pernafasan dan sistem syaraf menjadi lebih efisien.
Untuk
melatih
pikiran
kita
tidak
perlu
memindah-mindahkannya, melainkan membawanya ke
suatu perhentian, membawanya beristirahat.
91
Sebagai contoh, ketika berlatih meditasi, kita
mengambil suatu obyek, misalnya pernafasan sebagai dasar.
Pernafasan ini menjadi pusat perhatian dan perenungan kita.
Kita mengamati pernafasan. Mengamati artinya mengikuti
pernafasan dengan penuh kesadaran, mengetahui iramanya,
keluar masuknya. Kita menempatkan kesadaran pada
pernafasan. mengikuti jalannya pernafasan secara alami dan
melepaskan segala yang lain. Sebagai hasil dari kesadaran
mengamati hanya satu obyek, pikiran kita menjadi segar
kembali. Jika kita membiarkan pikiran memikirkan ini dan
itu, kesadaran kita mengamati banyak obyek, pikiran tidak
menyatu, tidak beristirahat.
Mengatakan bahwa pikiran berhenti artinya seakan-akan
rasanya pikiran itu berhenti, tidak berkelana ke sana ke mari.
Sama halnya seperti memiliki pisau yang tajam. Jika kita
menggunakan pisau itu untuk memotong-motong segala
sesuatu tanpa membedakan, misalnya batu, rumput dan batu
bata, pisau kita akan cepat menjadi tumpul. Kita harus
menggunakannya untuk memotong hanya benda-benda yang
sesuai dengan kegunaannya. Demikianlah juga dengan pikiran
kita. Jika kita membiarkan pikiran berkelana dari satu
pemikiran ke pemikiran lain yang tidak berguna, pikiran akan
menjadi lemah dan lelah. Jika pikiran tidak lagi mempunyai
kekuatan, kebijaksanaan tidak akan timbul, karena pikiran
tanpa energi adalah pikiran tanpa samadhi.
Jika pikiran belum berhenti, kita belum mampu melihat
obyek sensasi sebagaimana adanya. Pengetahuan bahwa pikiran
92
adalah pikiran dan obyek. sensasi adalah obyek sensasi, adalah
akar dari pertumbuhan dan perkembangan ajaran Buddha.
Kita harus mengolah, mengembangkan dan melatih
pikiran ini dalam ketenangan dan pandangan terang (insight). Kita melatih pikiran agar mempunyai pengendalian
diri dan kebijaksanaan dengan cara membiarkan pikiran
tenang dan membiarkan kebijaksanaan timbul, dengan
mengenali pikiran sebagaimana adanya.
Anda tahu, cara kita manusia hidup, bagaimana kita
melakukan segala sesuatunya, sama seperti anak--anak. Seorang
anak tidak mengetahui apapun. Bagi orang dewasa yang
mengamati tingkah laku anak-anak, bagaimana ia bermain dan
berlari serta melompat ke sana ke mari, tampaknya tindaktanduk anak-anak itu tidak banyak tujuannya. Jika pikiran
kita tidak terlatih, sama halnya seperti anak-anak. Kita
berbicara tanpa kesadaran dan bertindak tanpa
kebijaksanaan. Kita mungkin akan jatuh dan merusakkan
sesuatu atau menyebabkan kerugian yang tidak
terbayangkan, semuanya terjadi tanpa kita sadari. Seorang
anak tidak peduli, ia bermain sebagaimana anak-anak,
demikian juga dengan pikiran kita.
Jadi kita harus melatih pikiran ini. Sang Buddha melatih
kita untuk melatih pikiran, mengajar pikiran. Biarpun kita
mendukung Ajaran Buddha dengan empat kebutuhan pokok,
dukungan kita masihlah secara permukaan, dukungan itu
hanya mencapai ‘kulit keras’ sang pohon. Dukungan yang
sesungguhnya haruslah dilakukan lewat praktek, bukan yang
93
lain, melatih tindakan, ucapan dan pikiran kita menurut
ajaran. Ini lebih bermanfaat, jika kita jujur dan lurus,
memiliki pengedalian diri dan kebijaksanaan, latihan kita
akan membawa kedamaian. Kebencian dan keirihatian tidak
punya sebab untuk timbul.
Jika kita menentukan berbagai aturan semata-mata
berdasarkan tradisi, maka meskipun Guru Besar sendiri yang
mengajar kita tentang kebenaran, latihan kita akan kurang
baik. Kita mungkin akan bisa mempelajari ajaran-ajaran itu
dan menghormatinya, tetapi jika kita ingin benar-benar
mengerti kita harus melatih ajaran-ajaran tersebut. Jika kita
tidak mengembangkan latihan, kita akan terhambat dalam
menembus inti Ajaran Buddha pada beribu kehidupan yang
akan datang. Kita tidak akan mengerti inti Ajaran Buddha.
Karena itu latihan bagaikan kunci, kunci dari meditasi,
jika kita mempunyai kunci yang tepat di tangan kita,
bagaimanapun kuatnya gembok suatu peti, ketika kita
mengambil kunci dan memutarnya, peti itu akan terbuka.
Jika kita tidak mempunyai kunci kita tidak dapat
membukanya. Kita tidak akan. bisa melihat apa yang ada di
dalam peti itu.
Sebenarnya ada dua jenis pengetahuan, seseorang yang
mengetahui Dhamma tidak berbicara hanya melalui ingatan,
ia mengatakan yang sebenarnya. Manusia biasanya berbicara
melalui ingatan, dan seringnya mereka biasanya berbicara
dengan kesombongan. Sebagai contoh, misalkan ada dua
orang yang sudah lama tidak bertemu, mungkin karena hidup
94
berjauhan, suatu hari bertemu di kereta api... diantara
mereka berkata: “Oh, kebetulan. Saya sebenarnya
berkeinginan untuk menjengukmu!”... padahal tidak
demikian, Sebenarnya mereka tidak pernah saling
memikirkan, tetapi karena gembira mereka berkata seperti
itu. Dan hal itu menjadi suatu kebohongan. Ya, berbohong
karena kecerobohan, berbohong tanpa mengetahuinya. Ini
adalah salah satu jenis kekotoran batin yang halus dan
seringkali terjadi.
Jadi masih mengenai pikiran, Tuccha Pothila mengikuti
petunjuk dari samanera: menarik nafas, menghembuskan...
dengan kesadaran mengikuti tiap nafas... sampai ia melihat
kebohongan dalam dirinya, kebohongan dari pikirannya, ia
melihat kekotoran batin saat timbul, sama seperti kadal yang
keluar dari lubang yang bercabang, ia melihatnya dan
menerima sifat alaminya segera setelah muncul. la mengamati
bagaimana pikiran berpindah dari hal yang satu ke hal yang
lain tiap saat.
Berpikir adalah sankhata Dhamma, sesuatu yang tercipta
dari kondisi yang mendukung. Ini bukan asankhata
Dhamma, yang tidak terkondisi. Pikiran yang terlatih dengan
baik, yang mempunyai kesadaran yang sempurna, tidak
menciptakan tahapan mental. Pikiran semacam ini
menembus Kesunyataan Mulia dan melampaui semua
kebutuhan yang bergantung pada keadaan eksternal.
Mengetahui Kesunyataan Mulia adalah mengetahui
kebenaran. Pikiran yang bercabang mencoba menghindari
kebenaran ini, dan mengatakan ‘itu baik’ atau ‘ini indah’,
95
tetapi jika ada Buddho dalam pikiran, hal-hal semacam itu
tidak akan bisa menipu kita lagi, karena kita mengenali
pikiran seperti apa adanya. Pikiran tidak dapat lagi
menciptakan keadaan mental yang tertutup khayalan, karena
ada kesadaran yang jernih bahwa semua keadaan mental yang
tertutup semacam itu tidak stabil, tidak sempurna dan
merupakan sumber penderitaan bagi yang melekat padanya.
Kemanapun ia pergi, kesadaran selalu mengikuti pikiran
Tuccha Pothila. Ia mengamati berbagai macam variasi ciptaan
dan percabangan pikiran dengan pengertian. la melihat
bagaimana pikiran menipu dengan berbagai cara. Ia
menangkap inti dari latihan dengan melihat bahwa “Pikiran
yang ada inilah yang mengamati - inilah yang membawa kita
pada kebahagiaan dan penderitaan yang ekstrim dan
menyebabkan kita terus berputar-putar pada lingkaran
samsara tanpa henti, dengan segala kenikmatan dan
penderitaannya. Baik dan jahat, semua karena pikiran ini.
“Tuccha Pothila menyadari kebenaran dan menangkap inti
dari latihan seperti seseorang yang menangkap ekor kadal.
Ia melihat cara kerja pikiran yang diselubungi khayalan.
Pada saat itu, ia melihat bayangan Sang Buddha sehingga
Tuccha Pothila semakin bersemangat dan tekun. Dan pada
akhirnya ia mencapai tingkat kesucian Arahat.
Karena itu, penting untuk melatih pikiran. Sekarang
jika pikiran adalah pikiran itu sendiri, dengan apa kita bisa
melatihnya? Dengan terus menerus mempunyai sati dan
sampajanna kita akan mampu terus-menerus mengenali
96
pikiran. Sati dan sampajanna berada satu langkah diatas
pikiran, inilah yang mengetahui tahapan pikiran. Pikiran
adalah pikiran. Yang mengenali pikiran adalah sati dan
sampajanna. Ia berada diatas pikiran. Karena sati dan
sampajanna berada diatas pikiran, maka ia dapat menjaga
pikiran, mengajar pikiran agar mengetahui mana yang salah
dan benar. Pada akhirnya semua kembali pada percabangan
pikiran. Jika pikiran terperangkap dalam percabangannya,
maka tidak akan ada kesadaran. Akibatnya, latihan akan
menjadi sia-sia.
Jadi kita harus melatih pikiran untuk mendengar
Dhamma, untuk mengolah Buddho, kesadaran yang bersinar
dan jernih, yang berada diatas dan melewati pikiran yang biasa
dan mengenali apa yang terjadi dalam pikiran biasa tersebut,
inilah sebabnya kita bermeditasi dengan mantra Buddho,
sehingga kita bisa mengenali pikiran yang berada di atas
pikiran. Amati saja pergerakan pikiran baik atau buruk, sampai
menyadari bahwa pikiran hanyalah pikiran, bukan diri, bukan
seseorang. Ini disebut cittanupassana, perenungan pikiran.
Melihat dengan cara seperti ini kita akan mengerti bahwa
pikiran tidak kekal (transient), tidak kekal dan tidak berkonsep
diri. Pikiran ini bukan milik kita.
Jadi dapat kita simpulkan demikian: Pikiranlah yang
mengenali obyek sensasi; obyek sensasi adalah obyek sensasi,
sesuatu yang berbeda dari pikiran; Yang Tahu adalah yang
mengenal baik pikiran maupun obyek sensasi sebagaimana
adanya. Kita harus terus menerus menggunakan sati untuk
membersihkan pikiran. Semua orang mempunyai sati, bahkan
97
kucingpun punya sati saat akan menangkap tikus. Anjing
mempunyai sati saat ia menggonggong pada seseorang. Ini
adalah bentuk sati, tetapi bukan sati menurut Dhamma.
Semua mempunyai sati, hanya tingkatnya yang berbeda, sama
halnya seperti perbedaan pendapat yang terjadi pada waktu
mengamati sesuatu. Sama halnya seperti saat saya menyuruh
merenungkan tubuh, beberapa orang akan berkata, “Apa
yang harus direnungkan pada tubuh? Semua orang dapat
melihatnya. Kesa, kita dapat melihatnya; loma, kita juga
sudah dapat melihatnya... Rambut, kuku, gigi dan kulit kita
telah melihatnya, Jadi apa?”
Begitulah manusia, mereka memang bisa melihat tubuh,
tetapi melihat dengan cara yang salah. Mereka tidak melihat
dengan menggunakan Buddho, Yang Tahu, Yang Terjaga.
Mereka hanya melihat tubuh dengan cara biasa, dengan cara
visual. Melihat tubuh dengan cara seperti itu tidak cukup.
Jika kita hanya melihat tubuh begitu saja akan timbul masalah.
Kalian harus melihat tubuh didalarn tubuh, dengan begitu
segala sesuatu akan tampak lebih jelas. Kalau hanya melihat
tubuh, kalian akan tertipu olehnya, terpesona oleh
penampilan. Karena tidak melihat ketidakkekalan,
ketidaksempurnaan, dan Tidak Adanya Diri, maka
kamachanda (hawa nafsu) timbul. Kalian menjadi terpesona
oleh bentuk, suara, aroma, rasa dan perasaan. Melihat dengan
cara begitu adalah melihat dengan mata fisik. Akibatnya kalian
mencinta, membenci dan membedakannya menjadi
menyenangkan dan tidak menyenangkan.
98
Sang Buddha mengajarkan bahwa itu tidak cukup. Kalian
harus melihat dengan menggunakan “mata batin”: melihat
tubuh dalam tubuh. Jika kalian benar--benar melihat tubuh...
Ugh! Menjijikan, ada barang kemarin hari dan hari ini,
semua tercampur baur, tidak dapat dibedakan satu sama lain.
Melihat seperti ini lebih jelas dari pada melihat dengan mata
fisik. Merenunglah, lihatlah dengan mata batin, dengan mata
kebijaksanaan.
Beginilah perbedaan pengertian pada manusia.
Beberapa orang tidak mengetahui apa yang harus
direnungkan dalam Meditasi, rambut kepala, rambut tubuh,
kuku, gigi dan kulit. Mereka berkata telah dapat melihat halhal tersebut, tetapi mereka hanya bisa melihatnya dengan
mata fisik, dengan “mata gila” yang hanya melihat yang ingin
dilihat. Untuk melihat tubuh dalam tubuh, kalian harus
melihatnya dengan lebih jelas.
Inilah latihan yang dapat menghilangkan kemelekatan
pada Panca Khanda (bentuk, perasaan, persepsi, pikiran dan
kesadaran). Menghilangkan kemelekatan adalah
menghilangkan penderitaan, karena melekat pada Panca
Khanda adalah penyebab penderitaan. jika penderitaan
muncul disinilah ia muncul: pada kemelekatan terhadap Panca
Khanda, bukan dalam Panca Khanda. Bukan dalam Panca
Khanda itu sendiri terletak penderitaan, melainkan pada
kemelekatan yang menganggap mereka merupakan milik
pribadi... itulah penderitaan.
99
Jika kalian melihat dengan jelas kebenaran tentang
segala sesuatu melalui latihan meditasi, penderitaan akan
terlepas, seperti baut. Ketika baut dibuka, ia mundur.
Demikian juga pikiran, melepas, mundur dari obsesi terhadap
kebaikan dan kejahatan, kepemilikan, pujian dan kedudukan,
kebahagiaan dan penderitaan.
Jika kita tidak tahu kebenaran akan segala sesuatu, sama
halnya seperti kita mengencangkan baut dan terus
mengencangkannya sampai baut tersebut menjadi rusak.
Begitu pula bila kita tidak tahu akan kebenaran dan
selamanya tidak tahu maka akan membuat kita menderita
terhadap apapun dan dalam kondisi bagaimanapun. Jika kita
tahu sebagaimana adanya, berarti kita melepaskan baut.
Dalam bahasa Dhamma kita menyebutnya: timbulnya
nibbida, ketidak--terpesonaan. Kalian akan menjadi bosan
terhadap berbagai hal dan meletakkan keterpesonaan. Jika
kita melepas dengan cara seperti ini, kita akan menemukan
kedamaian.
Terkadang orang saling membunuh karena berbagai
masalah. Semua masalah; baik pribadi, keluarga maupun
masyarakat, timbul dari satu akar ini, tidak ada yang menang...
mereka saling membunuh tetapi pada akhirnya tidak
seorangpun mendapatkan manfaat. Saya tidak mengerti
mengapa orang terus membunuh tanpa menyadarinya.
Kekuasaan, kepemilikan, kedudukan, pujian,
kebahagiaan dan penderitaan... ini adalah Dhamma duniawi,
dan Dhamma-Dhamma duniawi ini menelan makhluk
100
duniawi. Makhluk duniawi diputar oleh Dhamma duniawi:
untung dan rugi, kepemilikan dan perampasan, kedudukan
dan hilangnya kedudukan, kebahagiaan dan penderitaan.
Dhamma-Dhamma semacam ini membuat masalah. Jika anda
tidak merenungkan pada sifat alaminya, anda akan
menderita. Orang bahkan bunuh diri demi kedudukan,
kekayaan, kekuatan. Mengapa? Karena menanggapinya
terlalu serius. Mereka mempunyai kedudukan tertentu dan
itu masuk kedalam kepala mereka, seperti misalnya menjadi
kepala desa. Setelah pengangkatannya ia menjadi ‘mabuk
kekuasaan’. Jika ada teman lama yang datang berkunjung, ia
akan berkata, “Jangan terlalu sering datang, segala sesuatunya
sudah tidak sama lagi.”
Sang Buddha mengajarkan agar kita mengerti sifat dari
kepemilikan, kedudukan, pujian dan kebahagiaan. Terima
mereka sewaktu hadir tetapi biarkan saja. Jangan biarkan
mereka masuk ke pikiran. Jika anda tidak benar-benar
mengerti akan hal-hal seperti itu, anda akan tertipu oleh
kekuasaanmu, anak-anakmu dan saudara-saudaramu... oleh
segalanya! Jika anda mengerti dengan jelas, anda tahu bahwa
mereka semua adalah kondisi yang tidak kekal. Jika anda
melekat padanya, mereka menjadi ternoda.
Semua itu akan timbul nantinya, ketika orang lahir, yang
ada hanyalah nama dan rupa, hanya itu. Kemudian dalam
bisnis kita menambahkan “Tuan Jones”, “Nona Smith”, atau
apapun, ini dilakukan menurut konsesi (kesepakatan).
Kemudian ada lagi “Kolonel”, “Jendral” dan lain sebagainya.
Jika kita tidak benar-benar memahami hal-hal seperti ini, kita
101
akan berpikir bahwa semua itu nyata dan kita akan
membawanya kemana--mana. Kita membawa harta, status,
nama dan pangkat kemana-mana. Jika kalian mempunyai
kekuasaan kalian dapat berkata... “Tangkap orang ini dan
hukum mati, yang itu masukkan penjara”... pangkat
memberikan kekuasaan. Kata ‘pangkat’ inilah pokok dimana
kemelekatan mengikat. Segera setelah orang mendapatkan
pangkat mereka bertindak dan memberi perintah; benar atau
salah, mereka bertindak hanya menurut perasaan hati.
Kemungkinan mereka berbuat kesalahan lama, yang
menyimpang jauh dan lebih jauh dari jalan benar.
Seseorang yang mengerti Dhamma tidak akan berlaku
seperti itu. Baik dan jahat telah ada di dunia ini sejak entah
kapan... jika kepemilikan dan kedudukan datang pada anda,
biarkanlah mereka menjadi status dan kedudukan, jangan
biarkan mereka menjadi identitas anda. Gunakan mereka
untuk memenuhi tugas anda dan biarkan saja, Anda harus
tetap sama, jika kita telah bermeditasi dalam hal-hal semacam
ini, maka apapun yang datang tidak akan bisa memperdayai,
kita tidak akan terganggu, terpengaruh, tetap sama, segala
sesuatu pada dasarnya hanyalah sama saja.
Beginilah Sang Buddha meminta kita untuk mengerti
tentang segala sesuatunya, apapun yang anda terima, pikiran
jangan menambah. Mereka mengangkat anda menjadi
penasehat kota... “Baik, saya jadi penasehat... tapi saya bukan
itu!” Mereka menunjuk anda sebagai kepala kelompok...
“Tentu saja, tapi saya bukan itu!” Diangkat sebagai apapun
anda... “Ya, tapi saya bukan itu!” Pada akhirnya siapakah kita?
Kita semua hanya akan meninggal pada akhirnya. Tidak
102
menjadi soal mereka mengangkat anda sebagai apa, pada
akhirnya semua akan sama saja. Apa yang dapat anda katakan?
Jika Anda dapat melihat segala sesuatu dengan cara semacam
ini, Anda akan mempunyai ketentraman yang benar dan
kekal. Tidak ada yang berubah.
Begitulah yang tidak tertipu. Apapun yang datang pada
anda semuanya hanyalah kondisi. Tidak ada apapun yang
dapat membuat pikiran semacam ini menjadi bercabang,
membuatnya tamak, berlawanan atau berangan-angan.
Inilah pendukung ajaran Buddha yang benar, walaupun
anda menjadi yang didukung (misalnya Sangha) ataupun yang
mendukung (masyarakat awam), harap pertimbangkan hal
ini dengan seksama. Kembangkanlah Sila-Dhamma didalam
diri anda, ini adalah cara yang paling tepat untuk
mendukung ajaran Buddha. Mendukung ajaran Buddha
dengan mempersembahkan makanan, tempat berlindung,
jubah dan obat-obat juga baik, tetapi persembahan semacam
itu hanya akan mencapai lapisan luar ajaran Buddha. Harap
jangan lupakan hal ini. Sebatang pohon mempunyai lapisan
luar, daging pohon, dan inti pohon, dan bagian-bagian ini
saling berhubungan. Inti pohon itu harus bergantung pada
daging dan kulit pohon. Kulit pohon tergantung pada inti
dan dagingnya. Mereka semua saling bergantung sama seperti
ajaran disiplin moral, konsentrasi dan kebijaksanaan. Disiplin
moral dalam bentuk pikiran dan perbuatan. Konsentrasi
untuk memantapkan pikiran, kebijaksanaan adalah
pengertian tentang sifat alami kondisi. Pelajari dan latihlah
ini dan anda akan mengerti ajaran Buddha pada jalur yang
paling penting.
103
Jika anda tidak mengerti hal-hal ini, anda akan tertipu
oleh kepemilikan, kedudukan, dan pangkat. Tertipu oleh
apapun yang anda temui. Mendukung hanya dengan cara
eksternal saja, tidak akan menghentikan pertempuran dan
pergulatan, dendam dan kebencian, penembakan dan
pembunuhan. Jika kita ingin mengurangi hal-hal semacam
itu, kita harus merenungkan sifat alami kepemilikan,
pangkat, pujian, kebahagiaan dan penderitaan. Kita harus
mempertimbangkan hidup kita dan menempatkannya pada
jalur ajaran. Kita harus merenungkan bahwa semua
makhluk di dunia ini adalah bagian dari satu kesatuan. Kita
seperti mereka, mereka seperti kita. Mereka merasakan
kebahagiaan dan penderitaan seperti kita juga, jika kita
merenungkan dengan cara seperti ini, kedamaian dan
pengertian akan muncul. Inilah dasar Ajaran Buddha.
104
Pesan kepada sahabat,
Marilah turut berdana Dhamma dengan
memberikan eBook ini kepada saudara atau teman
anda. Semoga dàna Dhamma anda dapat berguna
bagi mereka.
DhammaCitta
Fly UP