...

produksi benih sumber mentimun varietas mars

by user

on
Category: Documents
10

views

Report

Comments

Transcript

produksi benih sumber mentimun varietas mars
PRODUKSI BENIH SUMBER MENTIMUN VARIETAS MARS
(1804.13.A.3)
U Sumpena, Rinda Kirana dan Ahsol Hasjim
ABSTRAK, U Sumpena, Rinda Kirana dan Ahsol Hasjim 2011. Produksi Benih Sumber
Mentimun Varietas Mars. Untuk memenuhi kebutuhan Pengguna dan melayani kebutuhan
instansi yang terkait,maka dilakukan penyediaan benih sumber yang bermutu. Untuk itu pada
bulan Maret sampai bulan Juli 2011 telah di lakukan perbanyakan benih sumber di Subang
dan di Laboratorium BALITSA. Bahan terdiri dari 1 varietas Mentimun Mars. . Luas lahan
1.000 m.
Hasil perbanyakan benih menunjukan bahwa rata-rata daya berkecambah awal
98 %.
Kemurnian awal dilihat dari penotipenya 98 % serta diskripsi tanaman ( terlampir ) .
Sayur sayuran pada dasarnya pengembangbiakan dan perbanyakan nya dari generatif, melalui
biji. Produksi bahan bahan tersebut selain dengan benih infort,sat ini dilakukan oleh penagkar
maupun oleh para petani yang dalam proses produksinya tergantung keahlian masing masing
serta mutu benihnya ditentukan oleh masing masing setelah mencoba dari petani lainnya.
Dalam memproduksi benih sayuran di Indonesia khususnya benih yang di peroleh secara
generatif, kebijakan penanganan benih sumbernya dilakukan oleh
a. Produksi benih Penjenis ( BS ) oleh Balai / Swasta / Pemulia
b. Produksi benih Dasar
( FS ) oleh BBI / Swasta / Penangkar
c. Produksi benih Berlabel ( SS ) oleh BBU / Swasta / Penangkar
d. Produksi benih Sebar
( ES ) oleh BBP / Swasta / Penangkar
e. ( Direktorat Bina Produksi Horti. Dirjen. Pertanian, 1990 ).
Benih bermutu tinggi adalah benih yang memenuhi standar kulaitas yang dinyatakan
dengan daya kecambah minimal 86% memiliki benih murni minimal 95% ,kotoran maximal
2%. Tidak cacat, identitasnya dikenal dengan baik (AOSA 1983).
Benih penjenis (BS) merupakan benih awal yang tinggi mutunya berasal dari pemulia dan
dalam memproduksi benih ini tercakup kegiatan sleksi yang ketat sesuai dengan identitas
varietasnya.
Pada saat ini penyediaan benih BS (Breeder Seed) oleh pemulia dalam jumlah yang
terbatas kebutuhan penelitian dan perbanyakan FS. Balai Penelitian Tanaman Sayuran
melalui Breedernya telah mempunyai galur kultivar hasil introduksi, seleksi maupun
hibridisasi yang perlu dikembangkan sebagai calon varietas dan beberapa varietas dari
masing-masing komoditas yang sudah dilepas sehingga perlu dipertahankan ketersediaan
benihnya.
Adapun varietas – varietas sayuran yang sudah dilepas diantaranya :
1 Cabai
: varietas Lembang 1, Tanjung 1 dan Tanjung 2
2 Tomat
: Varietas intan, Ratna, Mutiara, Berlian, Oval, Mirah dan Zmrut
3 Mentimun
: Varietas Saturnus, Mars dan Pluto
4 Bayam
: Vatieras Giti Hijau dan Giti Merah
5 Kacang panjang
: Varietas Kp1, Kp2
6 Kangkung darat
: Sutra
7 Petsai
: Varietas Granat, Taulud dan Sangihe
8 Bawang Merah
: Varietas Bima, Maja, Keling, Medan, Kramat 1 dan Kramat 2
9 Bawang putih
: Varietas Lumbu Putih, Lumbu kuning, Lumbu hijau, Tawangmangu
10 Buncis rambat
: Horti 1, Horti 2, dan Horti 3
11 Kentang
: Varietas Cipanas, Cosima, Segunung, MB17, Amudra, Granola,
Crespo , Manohara, Repita ,Balsa , Tenggo dll nya.
Fokus kegiatan penyediaan benih sayuran yang paling urgent adalah untuk pengembangan
areal di dataran rendah. Dimana penggunaan benih sayuran OP (Open Polination) sangat
digemari, dibandingkan dengan minat petani di dataran tinggi yang lebih menyenangi jenis
sayuran hibrida. Upaya pengembangan jenis sayuran hasil BALITSA baru tampak di
masyarakat, apabila benih sumber bermutu tersedia dalam jumlah yang memadai untuk
penyebarluasannya ke berbagai provinsi khususnya untuk ekosistem dataran rendah.
BAHAN DAN METODA
Bahan terdiri dari 1 varietas Mentimun Mars).
Produksi benih dari Bulan Maret sampai dengan bulan Juli 2011 di KP. Subang di
lapangan dan laboratorium Balitsa.
Metoda yang Dilakukan
1. Pemupukan
Benih berkualitas tinggi diperoleh bila selama penanamannya, kebutuhan akan unsur
hara dapat dipenuhi sehingga pertumbuhan tanaman menjadi optimal, selain pupuk daun
(Pupuk kandang), benih – benih sayuran memerlukan unsur hara macro terutama fosfor dan
Kalium, beberapa peneliti menyebutkan bahwa aplikasi unsur fosfor meningkatkan vigor
benih, perkecambahan benih, menghasilkan tanaman yang lebih kuat dibanding dengan
tanaman yang kekurangan fosfor, setiap komoditas sayuran tidak sama responnya terhadap
unsur hara.
Tabel1. Penggunaan pupuk Kandang, pupuk Buatan dan aplikasinya di Lapangan
Ppk.kandang/ha
Komoditas
Pupuk buatan/Ha
Aplikasi/Kali
Kuda/kambing
Urea
TSP
Kcl
Pupuk
(Ton)
(Kg)
(Kg)
(Kg)
kandang
Urea
TSP
Kcl
Cabai
30
422
555
333
1
4
1
2
Tomat
20
225
398
206
1
3
1
2
Timun
10
150
200
100
1
3
1
2
Kangkung
10
200
250
100
1
3
1
2
Kc.Panjang
15
200
350
178
1
3
1
2
Bayam
10
180
250
125
1
2
1
2
Sumber: A.Hidayat dan U Sumpena,99.,Yusdar Hilman dan U Sumpena 1999
2. Pemangkasan
Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi benih dan kualitas benih, selain faktor
genetik, salah satu teknik budidaya yang dapat dilakukan untuk menghasilkan benih
berkualitas tinggi adalah dengan pemangkasan..
Timun
: Dipelihara 3 buah mentimun per pohon dan sisanya dipangkas/dibuang sedini
mungkin.
Pemangkasan bermanfaat pula dalam hal mengurangi persaingan diantara daun, buah dan
polong.
3. penggunaan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) Atonik
ZPT yaitu senyawa organik bahan termasuk nutrisi, baik alamiah maupun sintesus pada
konsentrasi yang sangat rendah dapat menciptakan kondisi tanaman yang lebih produktif dan
bermutu melalui terjadinya perubahan-perubahan pertumbuhan dan perkembangan baik
secara kualitatif maupun kuantitatif.
Tabel2. penggunaan ZPT pada produksi Benih
Komoditi
ZPT Atonik (ml/l)
Aplikasi umum (HST)
Cabai
0.1 – 0.2
3 x (umur 45, 60,75)
Tomat
0.1 – 0.2
2 x (umur 45, dan 75
Timun
0.1 – 0.2
2 x (umur 45, dan 60)
Kangkung
0.1 – 0.2
2 x (umur 45dan 75)
Kacang panjang
0.1 – 0.2
2 x (umur 45, dan 60)
Caisin/Bayam
0.1 – 0.2
2 x (umur 30 dan 60)
4. Seleksi
Memilih tanaman, buah, polong, atau biji yang sehat tidak cacat sesuai dengan identitas
varietasnya atau seleksi bisa juga diartikan membuang tanaman, buah, polong, atau biji, yang
tidak sehat, cacat atau mrnyimpang dari identitas varietasnya. Seleksi dilakukan pada vase
vegetatif, generatif saat panen buahpolong, dan pada saat prosessing. Sleksi dilakukan di
lapangan dengan membuang atau mencabut tanaman yang tidak sesuai dengan identitas
varietasnya, membuang tanaman yang tesrang penyakit, virus, penyakit layu dan antracnose,
sleksi buah, polong, dilakukan pada saat panen, sedangkan sleksi biji dilakukan pada saat
prosessing.
5. Isolasi
Tanaman sayuran pada umumnya mempunyai sifat menyerbuk sendiri (self polination) dan
menyerbuk silang (cross polination) namun morfologi bunmga tidak mendukung untuk
melakukan penyerbukan sendiri 100%. Hal ini disebabkan karena tepung sarinya yang
ringan dan stigmanya yang terbuka, adanya sifat [rotogeni dan sifat protendi, serta
penyrbukannya bersifat entono filious.
Dengan adanya sifat-sifat tanaman tersebut, menyebabkan terjadinya persilangan antar
varietas atau antar spesies oleh angin atau serangga, derajat persilangannya antara 10 – 36%
untuk tanaman yang bersifat menyerbuk silang (metimun).
Isolasi jarak, dengan mengatur jarak antara varietas yang satu dengan yang lainnya
sehingga tepung sari tidak mengotori varietas yang kita usahakan, atau meskipun tepung sari
varietas lain mengotori yang dibawa angin atau serangga.
Fermentasi dalam prosessing benih
mentimun bertujuan untuk memudahkan pemisahan
antara daging buah kulit buah dan lendir dengan biji.
6. pengeringan
selain dengan panas alami (sinar matahari) untuk menurunkan kadar air benih, panas buatan
menggunaka blower, fan dan hiter dengan suhu 35 c.
7. Uji mutu benih
Uji mutu benih dilakukan terhadap kadar iar benih dan viabilitas benih, di Laboratorium
teknologi benih BALITSA.
8. uji kesehatan benih
uji kesehatan benih dilakukan di laboratorium penyakit BALITSA, terhadap kandungan
penyakit Antracnose.
9. penyimpanan
beni- benih cabai. Tomat, mentimun dan bayam, setelah kadar airnya mencapai 6-9%
dipacking dengan menggunakan alumuniun foil sedangkan biji kacang panjang, kacang
buncis, dan kangkung setelah kadar air mencapai 10-14 % dimasukan kedalam tong-tong
plastik dengan tutup yang rapat dan disimpan di gudang yang mempunyai RH 32 dan
temperatur 18 c. atau dalam gudang dengan RH 40-50 dan tempratur 5-10 c.
PARAMETER YANG DIAMATI
1. presentase kemurnianya dilihat dari penotipenya
2. jumlah buah
3. bobot buah/
4. bobot benih
5. uji kadar air benih
6. uji daya brkecambah benih
7. distribusi benih
HASIL
1. Presentase kemurnian dilihat dari penotipenya 98%
2. Jumlah buah 1682 buah
3. Bobot buah 1698 kg
4. Bobot Benih kering 9 600 gram
5. daya berkecambah awal 100 %
6. Kadar air benih 7 sampei 9 %
.
KESIMPULAN
1. Total produksi benih 9 600 gram.
2. kemurnian awal 98%
3. daya berkecambah awal 100%
4. kadar air benih 7.3 % sampai 9%
DAFTAR PUSTAKA
Anggoro Hadi P., Hendro S. dan Sudjoko Sahat, 1990. Liku – liku Penemuan dan
Penciptaan varietas Unggul Sayuran “Pemacu Varietas Unggul dan Benih Sayuran”
Balai Penelitian Hortikultura Lembang.
Aosa, 1983. Seed vigour testing, J.J Of Seed Tecknology 32 (1)
Bressani, R.A.S, Maroquis, E. Moreles, 1992. Chemical Comosition of grain amarant
cultivars and effect of processing on their nutritional quality. Food Reviews
International 8 (1)
Copeland L.O. and M.B.Mc Donald,1985. Prenceples of Seed science an technology seed
adition. Burgess Publish Co. Mineapolis USA.
Direktorat Bina Program, 1990. Program pengembanga produksi dan Benih Sayuran
Departemen Penelitian Jakarta.
DITJENTAN,1990. Kebijakan Tanaman Sayuran dalam Menyongsong Industri Benih
sayuran di Indonesia.
Etty Sumiati,1982. Pengaruh Konsentrasi Dharmasil SEC (Triakontanol) terhadap Buah
Cabai Besar Kultivar Barito. Bull. Penel.Hort 15 (2).
Josep van Ballen,1991. A Quantitive and Qualitative Apporoach of the Prosfect of the
Vegetable Seed Industry in Indonesia Prossiding. Dukungan Sektor Perbenihan
dalam Menunjang Agro Industri Hortikultura.
Karta Saputra A. G., 1986. Teknologi Benih Pengolahan Benih dan Tuntunan Praktikum
Bina Aksara, Jakarta Indonesia.
Sumarni N. dan Etty Sumiaty, 1986. Peran zat pengatur tumbuh terhadap Nisbah bung berina
dan jantan serta Produksi Tanaman Mentimun. J.Hort.Vol 6 (1)
Toto Sutater dan Supriadi, 1988. pengaruh Pemberian Kapur, Pupuk Kandang terhadap hasil
viabilitas dan vigor benih bayam. Buletin ilmiah INSTIPER vol.6 no.2
----------------, dan kadarwati,1999. Pengaruh Dosis Pupuk NPK terhadap Hasil Viabilitas
dan vigor benih bayam. Buletin ilmiah INTISPER vol.6 no.2
----------------, 1999. Pengaruh Pemberian Triakontanol pada cabai merah LV 3044 terhadap
Komponen Hasil dan Kualitas benih,J. Agrotropika. Vol.IV No.1
Areal produksi benih Mentimun varietas Mars
Buah Muda Mentimun Varietas Mars
Buah Tua Mentimun Varietas Mars
Alat Sortasi, Ruang pengering, Alat uji kadar air benih
Uji vigor dan uji viabilitas benih
Prosesing Benih Mentimun
Fermentasi benih Mentimun
Fly UP