...

Perjalanan MeMaTiKan - Amnesty International

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Perjalanan MeMaTiKan - Amnesty International
Perjalanan
Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
adalah
gerakan
globalof more
Amnesty International is
a global
movement
terdiri7 million
dari tujuh
juta who
orang
lebih yang
than
people
campaign
forberkampanye
a world where
untuk dunia
mana hak
human
rightsyang
are enjoyed
byasasi
all. manusia (HAM)
dinikmati oleh semua orang.
Our vision is for every person to enjoy all the rights
enshrined
in the Universal
Declaration
Human Rights
Visi kami adalah
agar setiap
orang bisaofmenikmati
and
other
human
rights
standards.
semua
hakinternational
yang tercantum
dalam
Deklarasi
Universal
Hak Asasi Manusia dan standar HAM internasional
We are independent of any government, political
lainnya. Kami independen dari setiap pengaruh
ideology, economic interest or religion and are funded
pemerintah, ideologi politik, kepentingan ekonomi
mainly by our membership and public donations.
atau agama dan didanai sebagian besar dari anggota
kami dan sumbangan publik.
Hakrights
ciptareserved.
dilindungi.This
Publikasi
ini dilindungi
hak cipta,
tapibeboleh
All
publication
is copyright,
but may
reproduced
diproduksi
ulang
dengan
apapun tanpa
biaya demiand
kepentingan
by
any method
without
feecara
for advocacy,
campaigning
teaching
advokasi, kampanye
pengajaran, namun tidak untuk dijual.
purposes,
but not fordan
resale.
Pemegang hak cipta meminta penggunaan semacam itu agar didaftarkan
The copyright holders request that all such use be registered with
kepada mereka untuk tujuan analisis dampak. Untuk penyalinan di
them for impact assessment purposes. For copying in any other
situasi yang berbeda, atau penggunaan ulang dipublikasi lain, atau untuk
circumstances, or for reuse in other publications, or for translation
penerjemahan atau adaptasi, izin tertulis harus didapat terlebih dahulu
or adaptation, prior written permission must be obtained from the
dari penerbit, dan kemungkinan ada biaya yang perlu dibayar. Untuk
publishers, and a fee may be payable. To request permission, or for any
memohon izin, atau pertanyaan lainnya hubungi [email protected]
other inquiries, please contact [email protected]
Foto
Migran
Rohingya
yangthat
dijatuhkan
oleh
Coversampul
photo:depan:
Nigerian
troops
inspectmengoper
the formermakanan
emir's palace
was used
by
helikopter
tentara Thailand kepada sesama mereka yang berada di atas perahu
$QMQ*CTCOCUVJGKTJGCFSWCTVGTUDWVYCUDWTPVFQYPYJGPVJG[ƃGF$COC
di
Thailand,
dekat Pulau
Koh has
Liperetaken
di Laut the
Andaman
pada 14
Meiof
onperairan
March 25,
2015. Nigeria's
military
northeastern
town
2015.
perahu
dipenuhi
sesak
sekelompok
Bama Sebuah
from Boko
Haram,
but signs
of mass
killings migran
carried Rohingya—termasuk
out by Boko Haram
banyak
anak-anak—ditemukan
mengapung
perairan
pada 14by
Mei,
earlier this
year remain Approximately
7,500 di
people
haveThailand
been displaced
the
para
penumpang berkata beberapa orang telah meninggal dalam beberapa hari
ƂIJVKPIKP$COCCPFUWTTQWPFKPICTGCU
sebelumnya.
AFP PHOTO / Christophe
© Nichole Sobecki/AFP/Getty
Images ARCHAMBAULT
Sumber Foto: © CHRISTOPHE ARCHAMBAULT/AFP/Getty Images
© Amnesty International 2015
© Amnesty International 2015
Dipublikasikan
First
published pertama
in 2015 kali pada
tahun
2015 oleh
by
Amnesty
International Ltd
by Amnesty
International
Peter
Benenson
House, 1 Ltd
Easton
Peter Benenson
House,
1 Easton
Street,
London WC1X
0DW,
UK
Street, London WC1X 0DW, UK
amnesty.org
amnesty.org
Indeks:AFR
ASA44/1657/2015
21/2574/2015 Bahasa Indonesia
Index:
Bahasa asli:
InggrisEnglish
Original
language:
Dicetak by
oleh
Amnesty
International,
Printed
Amnesty
International,
Sekretariat Internasional,
Inggris
International
Secretariat, UK
DAFTAR ISI
Ringkasan Eksekutif ......................................................................................................3
Metodologi ................................................................................................................5
Bab 1: Latar Belakang Krisis Mei 2015 ...........................................................................7
Bab 2: Melarikan Diri dari Kengerian di Myanmar ...........................................................10
Persekusi dan Kekerasan yang Meluas .......................................................................10
Kesimpulan .............................................................................................................14
Bab 3: Dianiaya dan Ditelantarkan di Laut .....................................................................16
Pola Perjalanan .......................................................................................................16
Penganiayaan Berat di Perahu ...................................................................................19
Disandera, Dipukul, dan Dibunuh untuk Tebusan ....................................................19
Pembunuhan .......................................................................................................20
Pemukulan dan Perlakuan Buruk Lainnya ...............................................................21
Kondisi Tidak Manusiawi dan Merendahkan Martabat...............................................22
Perdagangan Manusia para Rohingya .........................................................................24
Kedekatan dan Prevalensi Jaringan Perdagangan Manusia ........................................25
Eksploitasi ...........................................................................................................26
Perjalanan Berbiaya Rendah atau Gratis .................................................................27
Penculikan ..........................................................................................................27
Awak Perahu yang Terorganisir dengan Baik ............................................................28
Perdagangan Manusia Warga Bangladesh ...................................................................29
Didorong Kembali ke Laut ........................................................................................30
Pencarian dan Penyelematan yang Tidak Memadai ......................................................31
Kesimpulan ............................................................................................................ 32
Bab 4: Tempat Penampungan Sementara di Indonesia ................................................... 35
Respon Awal yang Mengagumkan .............................................................................. 35
Kehawatiran Jangka Panjang .................................................................................... 37
Kurangnya Dukungan Regional dan Internsional ......................................................... 41
Kesimpulan ............................................................................................................ 42
Bab 5: Kesimpulan dan Rekomendasi .......................................................................... 44
Kesimpulan ............................................................................................................ 44
Rekomendasi .......................................................................................................... 45
Untuk Pemerintah Myanmar .................................................................................. 45
Untuk Pemerintah Indonesia ................................................................................. 45
Untuk Pemerintah Indonesia, Malaysia dan Thailand ............................................... 46
Untuk Pemerintah Bangladesh .............................................................................. 46
Untuk Pemerintah Australia .................................................................................. 47
Untuk IOM and UNHCR........................................................................................ 47
Untuk ASEAN ...................................................................................................... 47
Untuk Komunitas Internasional ............................................................................. 47
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
3
RINGKASAN EKSEKUTIF
“Kami merasa sedih ketika kami lihat orang
meninggal dan dilempar ke laut. Orang-orang
meninggal di darat di Myanmar […] dan mereka
meninggal di laut juga.”
Anak perempuan berusia 15 tahun, Aceh, Indonesia, 12 Agustus 2015
Pada bulan Mei 2015, tiga perahu yang berisi 1.800 perempuan, laki-laki dan anak-anak
mendarat di Aceh, Indonesia. Semua yang tiba berada dalam kondisi ketakutan, kelaparan,
dan kecapaian. Mereka menjalani berminggu-minggu atau berbulan-bulan di lautan, di
perahu yang dikontrol pedagang manusia yang keji atau penyelundup manusia yang kejam.
Perahu-perahu yang mencapai Aceh adalah satu diantara puluhan perahu yang ditelantarkan
oleh awak perahunya setelah pihak berwenang Thailand meluncurkan aksi razia
pemberantasan perdagangan manusia.
Setelah awak meninggalkan perahu yang terdampar di laut, Indonesia, Malaysia, dan
Thailand pada awalnya mendorong perahu-perahu penuh tersebut dari perairan mereka dan
mecegah ribuan orang yang putus asa tersebut dari mendarat. Walau ada beberapa laporan
dari Organisasi Non-Pemerintah (Ornop) dan media tentang perahu-perahu yang butuh
pertolongan, pemerintah-pemerintah di wilayah tersebut lambat membentuk operasi
pencarian dan penyelamatan. Kejadian di Teluk Bengal dan Laut Andaman serta
kesengsaraan mereka yang berada di perahu menarik perhatian media global. Akibat tekanan
internasional, Indonesia dan Malaysia mengizinkan orang-orang tersebut mendarat, namun
secara tegas mengatakan hanya akan menampung mereka secara sementara. Keputusan
membolehkan perahu-perahu tersebut mendarat disambut baik, namun menurut UNHCR
ratusan orang mungkin telah meninggal di laut pada saat itu. Namun karena tidak ada cara
menelusuri jejak perahu-perahu tersebut, tidak mungkin mengetahui secara pasti dan ada
kekhawatiran jumlahnya bisa lebih banyak.
Laporan ini berdasarkan wawancara dengan 179 pencari suaka, serta juga puluhan
wawancara lain dengan warga lokal, organisasi masyarakat sipil, pejabat pemerintahan, dan
badan internasional. Amnesty International melaksanakan wawancara tersebut pada Agustus
2015. Laporan ini juga mengambil data dari PBB, dan sumber pemerintah dan nonpemerintah tentang lalu lintas perahu tidak resmi di Teluk Bengal dan Laut Andaman.
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
4
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
Kebanyakan orang yang mencapai Indonesia pada Mei 2015 adalah Muslim Rohingya,
sebuah kelompok agama dan etnis minoritas dari Myanmar yang didominasi penganut
Buddha. Pihak berwenang Myanmar menyangkal keberadaan Rohingya - menyebut mereka
sebagai orang Bengal - dan telah menerapkan perundang-undanganan diskriminatif yang
sebenarnya membuat mayoritas warga Rohingya menjadi tanpa kewarganegaraan. Orangorang ini telah menjadi korban kekerasan oleh aktor negara dan non-negara selama puluhan
tahun, termasuk di tahun 2012, ketika kekerasan sektarian yang keji pecah di Negara Bagian
Rakhine di Myanmar Barat, di mana mayoritas Rohingya tinggal. Lebih dari 125.000
Rohingya dan kelompok Muslim lainnya terusir dari rumahnya.
Kesaksian para Rohingya yang diwawancarai di Aceh menunjukkan gambaran mengerikan
serangan massa, kematian, dan penghilangan. Seorang guru mengatakan 25 muridnya
meninggal ketika berusaha melindunginya dari gerombolan massa; ia menangis sembari
menjelaskan tangan salah seorang muridnya putus tertebas pisau panjang. Menimbang skala
dan buruknya pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Myanmar, Amnesty International
menganggap hampir semua Rohingya yang berada di luar negaranya sebagai pengungsi.
Namun mereka yang melarikan diri dari Myanmar dengan perahu pada tahun 2015 hanya
menukar satu mimpi buruk dengan yang lainnya. Rohingya yang diwawancarai Amnesty
International mendeskripsikan kondisi mengejutkan yang mereka alami di laut selama
beberapa minggu dan terkadang berbulan-bulan. Orang-orang tersebut mengatakan mereka
dipukul berulang kali hingga keluarga mereka membayar tebusan untuk melepas mereka ke
perahu yang lain. Amnesty International mewawancara anak perempuan berusia 15 tahun
yang menceritakan bagaimana awak perahu menelepon keluarganya, membuat mereka
mendengarnya menangis sembari memukulnya, dan memerintahkaan keluarganya membayar
tebusan. Mereka yang diwawancarai mengatakan mereka yang tidak bisa membayar ditembak
atau dilempar keluar perahu.
Hampir semua Rohingya - perempuan, laki-laki, dan anak-anak - yang berbicara dengan
Amnesty International mengatakan mereka telah dipukuli oleh awak perahu atau telah
menyaksikan penumpang lainnya dipukul. Orang-orang dipukuli karena bergerak, karena
memohon makanan atau minum, atau meminta menggunakan toilet. Anak-anak dipukuli
karena menangis. Amnesty International berbicara dengan satu orang yang dipukuli secara
keji hingga kehilangan kesadaran hingga beberapa jam, dan masih menderita efek fisik dan
psikologis akibat pemukulan tersebut. Semua yang diwawancarai mendeskripsikan kondisi
perahu yang masuk kategori tidak manusiawi dan merendahkan martabat, dan orang
Indonesia yang menyelamatkan penumpang di salah satu perahu mengatakan baunya sangat
buruk hingga mereka tidak bisa masuk perahu tersebut.
Jenis kekerasan mengerikan ini mengubah apa yang dimulai sebagai perjalanan
penyelundupan- yang mana orang-orang yang mencari keselamatan secara sukarela masuk ke
perahu dengan biaya tertentu - menjadi perdagangan manusia dengan tujuan eksploitasi.
Ornop dan jurnalis telah melaporkan perdagangan manusia di Asia Tenggara selama
beberapa tahun, walau informasi terperinci tentang mekanisme perdagangan tersebut masih
langka. Korban perdagangan manusia ini termasuk pengungsi dari Myanmar dan orang-orang
yang melarikan diri dari kemiskinan di negara seperti Bangladesh.
Orang-orang yang diwawancarai Amnesty International di Indonesia telah ditelantarkan oleh
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
5
orang-orang yang membawa mereka. Karena perjalanan mereka terganggu ketika mereka
sedang transit sebelum sampai ke tujuan mereka (biasanya Malaysia), maka tidak
memungkinkan untuk memastikan mereka sedang diperdagangkan untuk situasi kerja paksa
atau bentuk eksploitasi lainnya. Namun, karena beberapa faktor, termasuk pemukulan keji
untuk mendapatkan uang, Amnesty International memandang kebanyakan - bila tidak semua
- Rohingya yang mencapai Aceh pada Mei 2015 adalah korban perdagangan manusia.
Sekitar 1.000 Rohingya di Aceh kini menghadapi masa depan yang tidak menentu. Indonesia
telah menyediakan dukungan yang diperlukan - mencurahkan sumber daya nasional dan lokal
(Aceh), dan bekerjasama dengan organisasi masyarakat sipil dan organisasi internasional
demi memenuhi kebutuhan dasar mereka. Namun, para Rohingya masih belum tahu apakah
mereka boleh diizinkan menetap lebih dari batas waktu mereka diharapkan pergi pada Mei
2016, atau akankah mereka dipindahkan ke negara tiga (resettle). Indonesia belum
meratifikasi Konvensi PBB tentang Status Pengungsi (United Nations Convention Relating to
the Status of Refugees), dan tidak memiliki kerangka hukum yang operasional dan jelas serta
memadai untuk pengungsi dan pencari suaka. Badan PBB yang mengurus pengungsi –
UNHCR – bertanggungjawab untuk semua prosedur penentuan status pengungsi (refugee
status determination) di Indonesia, dan kini kekurangan staf dan pendanaan.
Musim berlayar di Asia Tenggara mulai berlanjut ketika laporan ini diselesaikan pada Oktober
2015, setelah musim hujan berakhir. Pedagang manusia dan penyelundup bisa dipastikan
akan melanjutkan perdagangan mereka dan pelanggaran HAM akan dilakukan lagi di lautan
Asia Tenggara.
Amnesty International menyerukan tindakan darurat untuk mengatasi krisis pengungsi dan
perdagangan manusia di Asia Tenggara. Pemerintahan di wilayah tersebut - terutama di
Indonesia, Malaysia, dan Thailand - harus bekerjasama membentuk tindakan yang efektif
untuk memerangi perdagangan manusia dan melindungi pelanggaran HAM oleh pedagang
manusia dan penyelundup. Dan sembari negara menginvestigasi dan membawa ke hadapan
pengadilan mereka yang terlibat perdagangan orang, pemerintah juga harus memastikan
tindakan penegakan hukum tidak membahayakan nyawa di lautan, atau menjebak orang di
Myanmar atau Bangladesh tanpa cara melarikan diri.
Komponen penting upaya penegakkan hukum melawan mereka yang terlibat perdagangan
manusia di Teluk Bengal dan Laut Andaman adalah implementasi operasi pencarian dan
penyelamatan yang terkoordinasi, dilengkapi dengan prosedur pendaratan yang aman dan
bisa diprediksi. Diharuskan bagi negara-negara di Asia Tenggara untuk belajar dari krisis Mei
2015 agar bisa menghindari masalah serupa di laut.
Komunitas internasional harus menyediakan bantuan teknis dengan pencarian dan
penyelamatan maritim, serta pendanaan untuk memastikan penerimaan manusiawi dari
orang-orang yang baru saja mendarat dan menolong pengungsi dan warga lokal memenuhi
kebutuhan dasar mereka.
METODOLOGI
Laporan ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan delegasi Amnesty International di
Indonesia pada Agustus 2015, juga studi pustaka serta komunikasi berkelanjutan melalui
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
6
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
telepon dan email. Delegasi tersebut mengunjungi Blang Adoe dan Kuala Cankoi (Kabupaten
Aceh Utara), Bayeun (Kabupaten Aceh Timur), Kuala Langsa (Kota Langsa), dan Gampong
Peuntet serta Lhokseumawe di Provinsi Aceh.
Para peneliti berjumpa dengan 115 Rohingya yang tiba di Aceh pada Mei 2015: wawancara
dalam kelompok kecil dengan 75 Rohingya; dan tambahan 40 wawancara individual dengan
12 orang lelaki, 14 perempuan, 10 anak lelaki, dan empat anak perempuan. Amnesty
International juga mewawancara tujuh warga Bangladesh yang tiba di Aceh pada Mei 2015.
Di Cisarua dan Jakarta, organisasi ini melakukan 34 wawancara mendalam dengan pengungsi
dan pencari suaka yang telah berada di Indonesia selama beberapa bulan dan beberapa
tahun. Mereka berasal dari berbagai negara, termasuk Afghanistan, Ethiopia, Iran, Myanmar,
Pakistan, dan Somalia. Di Kupang, delegasi melakukan wawancara kelompok dengan 30
orang Afghanistan, dan wawancara individual dengan dua orang Afghanistan. Nama semua
orang yang diwawancarai - dan dalam beberapa kasus, rincian lainnya - disembunyikan untuk
perlindungan mereka.
Amnesty International bertemu dengan pejabat dari berbagai tingkatan pemerintahan,
termasuk perwakilan pemerintah lokal di Kuala Cankoi, Kota Langsa, dan Lhokseumawe di
Provinsi Aceh. Para peneliti juga berbicara dengan perwakilan Direktorat Jenderal Imigrasi
Indonesia, Kementerian Luar Negeri, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM),
serta Komisi Nasional Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).
Delegasi juga bertemu dengan staf dari puluhan organisasi masyarakat sipil di Aceh dan
Jakarta, juga dengan organisasi masyarakat sipil internasional dan kelompok kemanusiaan. Di
Kuala Cankoi, organisasi ini berbicara dengan warga lokal yang membantu penyelamatan
Rohingya pada bulan Mei 2015, serta petugas kesehatan yang merawat mereka segera
setelah pendaratan mereka. Sebagai tambahan, Amnesty International juga bertemu dengan
staf lokal dan nasional dari International Organization for Migration (IOM) serta dengan
United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR).
Amnesty International mengucapkan terima kasih kepada semua yang membantu
terlaksananya penelitian ini, khususnya kepada rekanan masyarakat sipil lokal yang
menyediakan dukungan dan keahlian yang luar biasa, serta kepada pengungsi dan migran
yang bermurah hati dengan waktu dan kesaksian mereka.
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
7
BAB 1: LATAR BELAKANG KRISIS MEI
2015
Dalam beberapa tahun terakhir, puluhan ribu orang dari Myanmar dan Bangladesh
melakukan perjalanan berbahaya menggunakan perahu untuk melarikan diri dari
penganiayaan atau kemiskinan. Komisioner Tinggi PBB Untuk Urusan Pengungsi (UNHCR)
memperkirakan bahwa dalam enam bulan pertama tahun 2015, 31.000 orang meninggalkan
Teluk Bengal dengan perahu melalui perjalanan tidak resmi.1 Para penumpang perahu
tersebut terdiri dari pencari suaka Rohingya - penduduk Muslim yang sebagian besar tinggal
di negara bagian Rakhine di Myanmar yang hidup tertindas - serta orang-orang yang
melarikan diri dari kemiskinan di Bangladesh. Pada tahun 2014 sekitar 63.000 orang telah
melakukan perjalanan tidak resmi dan berbahaya dengan perahu di Teluk Bengal dan Laut
Andaman.2
Perjalanan dengan perahu ini diatur oleh jaringan terorganisir pelaku penyelundupan dan
perdagangan manusia. Pelapor Khusus PBB tentang Situasi Hak Asasi Manusia di Myanmar
mengatakan bahwa pelanggaran HAM di Myanmar "menghasilkan sejumlah besar pencari
suaka dan mendorong penyelundupan dan perdagangan manusia"3 Setelah kunjungan
Pelapor Khusus ke negara itu pada awal tahun 2015, ia mengatakan bahwa orang-orang
Rohingya memiliki dua pilihan: "tetap tinggal di situ dan mati, atau meninggalkan negara itu
dengan perahu."4
Pada awal tahun 2015, perjalanan perahu berbahaya ini menjadi makin berbahaya pasca
aksi penumpasan perdagangan manusia di tingkat regional. Pada awal Mei tahun 2015,
puluhan makam pengungsi Rohingya dan Bangladesh ditemukan di Thailand, dekat
perbatasan Malaysia5 (setelahnya, masih di bulan yang sama, kuburan juga ditemukan di
1
UNHCR, “UNHCR Urges States to Help Avert Bay of Bengal Boat Crisis in Coming Weeks [UNHCR
Desak Negara-Negara untuk Membantu Mencegah Krisis Perahu Teluk Benggala di Minggu-Minggu
Selanjutnya],” 28 Agustus 2015, tersedia di http://www.unhcr.org/55e063359.html.
2 UNHCR, IOM dan UNODC, Bay of Bengal and Andaman Sea: Proposals for Action [Teluk Benggala dan
Laut Andaman: Usulan Tindakan], Mei 2015, tersedia di http://www.unhcr.org/55682d3b6.html, hal. 1.
3 Pelapor Khusus PBB Tentang Situasi HAM di Myanmar, Report of the Special Rapporteur on the
situation of human rights in Myanmar [Laporan Pelapor Khusus Tentang Situasi HAM di Myanmar],
Yanghee Lee, UN Doc. A/HRC/28/72, 23 Maret 2015, tersedia di
http://www.ohchr.org/EN/HRBodies/HRC/RegularSessions/Session28/Documents/A_HRC_28_72_en.doc,
paragraf. 48.
4 Pusat Berita PBB, “UN Rights Expert Urges Myanmar Authorities to Address Signs of Backtracking
[Pakar HAM PBB Mendesak Otoritas Myanmar Untuk Menangani Tanda-Tanda Backtrackin]),” 18 Maret
2015, tersedia di http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=50364#.Vg-glflVhBd.
5 Human Rights Watch, Thailand: Mass Graves of Rohingya Found in Trafficking Camp [Thailand:
Kuburan massal Rohingya ditemukan di Kamp Perdagangan Manusia], 1 Mei 2015, tersedia di
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
8
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
wilayah Malaysia di sisi perbatasan).6 Pihak berwenang menyatakan kuburan-kuburan
tersebut ditemukan di lokasi kamp-kamp yang digunakan oleh pelaku perdagangangan
manusia. Pada tanggal 7 Mei, Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-chat memerintahkan
untuk dilakukan investigasi jaringan perdagangan manusia, menuntut agar semua kamp dan
kuburan ditemukan dalam waktu 10 hari. 7 Mendengar kabar ini, para pelaku perdangan
manusia bereaksi cepat, dan sejak 9 Mei mereka mulai menelantarkan perahu-perahu yang
penuh dengan orang di perairan terbuka.8
Peristiwa mengerikan dalam minggu-minggu berikutnya menjadi berita utama di dunia,
ribuan pengungsi dan migran terlantar di laut dan membutuhkan makanan, air dan
perawatan medis.9 Hanya tiga negara di Asia Tenggara - Kamboja, Filipina, dan Timor-Leste
– yang telah meratifikasi Konvensi PBB Tentang Status Pengungsi (Konvensi Pengungsi),10
dan sebagian besar pemerintah di wilayah tersebut enggan untuk membantu orang-orang
yang terlantar di perahu. Awalnya, Indonesia, Malaysia, dan Thailand terlibat dalam
serangkaian operasi "pushback"11 (mendorong kembali ke laut), di mana pihak berwenang
mencegah perahu untuk mendarat dan kadang membawa perahu-perahu itu keluar dari
wilayah perairan negara mereka.12 Skala bencana kemanusiaan ini mengejutkan. Organisasi
Internasional untuk Migrasi (IOM) memastikan sebanyak 8.000 orang diperkirakan telah
ditelantarkan di laut pada Mei 2015.13
Setelah adanya kritik dari tingkat regional dan internasional (termasuk dari Amnesty
International),14 pada 20 Mei pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Thailand mengubah
https://www.hrw.org/news/2015/05/01/thailand-mass-graves-rohingya-found-trafficking-camp; Emanuel
Stoakes, “Thailand human trafficking death toll far greater than feared, claims rights group” [Jumlah
Kematian Perdagangan Manusia Thailand dikhawatirkan lebih besar, ungkap kelompok HAM], The
Guardian, 6 Mei 2015, tersedia di http://www.theguardian.com/globaldevelopment/2015/may/06/thailand-human-trafficking-mass-grave-burma-rohingya-people.
6 Todd Pitman dan Jocelyn Gecker, “Malaysia migrant graves reveal 139 human skeletons at site where
Rohingya Muslims ‘Kept by traffickers [ 139 Kerangka Manusia di Kuburan Migran Malaysia],” The
Independent, 25 Mei 2015, tersedia di http://www.independent.co.uk/news/world/asia/malaysia-migrantgraves-reveal-139-human-skeletons-at-site-where-rohingya-muslims-kept-by-10273915.html.
7
The Nation, “Ten-Day Deadline to Find Migrant Camps [Batas Waktu 10 Hari Untuk Menemukan
Kamp-Kamp Migran],” 7 Mei 2015, tersedia di http://www.nationmultimedia.com/national/Ten-daydeadline-to-find-migrant-camps-30259476.html.
8 UNHCR, South-East Asia: Mixed Maritime Movements [Asia Tenggara: Perpindahan Campuran Melalui
Laut], Juni 2015, tersedia di http://www.refworld.org/docid/55e6c1994.html, hal. 3.
9 International Organization for Migration, “IOM Appeals for USD 26 million for Migrants in SE Asian
Boat Crisis (IoM Mengajukan Dana 26 Juta US Dolar Untuk Migran dalam Krisis Perahu Asia Tenggara),”
26 Mei 2015, tersedia di http://www.iom.int/news/iom-appeals-usd-26-million-migrants-se-asian-boatcrisis.
10 United Nations Convention Relating to the Status of Refugees [Konvensi PBB Tentang Status
Pengungsi], 28 Juli 1951, [1969] Can. T.S. No. 6 [Refugee Convention].
11 Hal ini kadang secara eufimisme disebut sebagai operasi “bantuan”.
12 UNHCR, South-East Asia: Mixed Maritime Movements [Asia Tenggara: Perpindahan Campuran Melalui
Laut], Juni 2015, tersedia di http://www.refworld.org/docid/55e6c1994.html, hal. 3-5.
13 International Organization for Migration, “IOM Appeals for USD 26 million for Migrants in SE Asian
Boat Crisis [IOM Mengajukan Dana 26 Juta US Dolar Untuk Migran dalam Krisis Perahu Asia
Tenggara],” 26 Mei 2015, tersedia di http://www.iom.int/news/iom-appeals-usd-26-million-migrants-seasian-boat-crisis.
14 Lihat Amnesty International, “South East Asia: Immediately Step Up Efforts to Rescue Thousands at
Grave Risk at Sea [Asia Tenggara: Secepatnya meningkatkan upaya untuk Menyelamatkan Ribuan Orang
yang Berisiko Mati di Laut},” 13 Mei 2015, tersedia di
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
9
pendekatan mereka, dan Indonesia dan Malaysia menawarkan "penampungan sementara"
hingga 7.000 orang, dengan syarat bahwa pada Mei 2016, para pencari suaka akan
dipindahkan kembali ke negara lain (proses di mana negara-negara ketiga menerima
pengungsi) 15 dan para migran akan dipulangkan ke negara asalnya.16 Antara 10 dan 20 Mei
2015, 1.800 orang dari tiga perahu mendarat di Indonesia, dan pada 11 Mei, 1.100
penumpang dari dua perahu mendarat di Malaysia.17
Banyak orang kehilangan nyawa mereka selama krisis ini. Pada pertengahan 2015, UNHCR
memperkirakan bahwa lebih dari 1.100 orang tewas di Teluk Bengal dan Laut Andaman
sejak tahun 2014, termasuk 370 orang tewas antara Januari dan Juni 2015.18 Lebih dari
1.000 manusia perahu di sepanjang rute ini tetap belum ditemukan.19 Ratusan, bahkan
mungkin ribuan orang, mungkin telah meninggal karena sengatan matahari, kekerasan,
kelaparan, atau tenggelam. Mengingat sulitnya mengukur kematian di laut,20 skala penuh
dari tragedi itu tidak akan pernah diketahui.
Pada saat laporan ini sedang diselesaikan pada pertengahan Oktober 2015, musim hujan
telah berakhir, yang memungkinkan ribuan orang lagi untuk mencoba perjalanan berbahaya
dengan perahu di Teluk Bengal. Ada resiko serius akan terjadi krisis hak asasi manusia
lainnya di laut pada akhir 2015.
https://www.amnesty.org/en/latest/news/2015/05/south-east-asia-immediately-step-up-efforts-to-rescuethousands-at-grave-risk-at-sea/.
15 “Resettlement involves the selection and transfer of refugees from a State in which they have sought
protection to a third State which has agreed to admit them – as refugees – with permanent residence
status. The status provided ensures protection against refoulement and provides a resettled refugee and
his/her family or dependants with access to rights similar to those enjoyed by nationals. Resettlement
also carries with it the opportunity to eventually become a naturalized citizen of the resettlement country
[Perpindahan ke negara ketiga mencakup pemilihan dan pemindahan pengungsi dari negara di mana
mereka mencari perlindungan ke negara ketiga yang telah setuju untuk mengakui mereka -sebagai
pengungsi- dengan status penduduk permanen. Status ini menjamin perlindungan terhadap refoulement
[pemulangan secara paksa] dan memberikan akses untuk si pengungsi dan keluarganya atau
tanggungannya yang telah dipindahkan ke negara ketiga ini akan hak yang sama dengan hak yang
dinikmati oleh warga negara. Perpindahan ke negara ketiga ini juga disertai kesempatan untuk menjadi
warga naturalisasi dari negara tersebut pada akhirnya].” UNHCR, UNHCR Resettlement Handbook,
2011, tersedia di www.unhcr.org/46f7c0ee2.pdf.
16
Ministers of Foreign Affairs of Malaysia, Indonesia and Thailand, Joint Statement: Ministerial Meeting
on Irregular Movement of People in Southeast Asia [Pernyataan Bersama: Pertemuan Tingkat Menteri
Tentang Perpindahan Orang Secara Tak Resmi di Asia Tenggara], 20 Mei 2015, tersedia di
http://reliefweb.int/report/myanmar/joint-statement-ministerial-meeting-irregular-movement-peoplesoutheast-asia.
17 UNHCR, South-East Asia: Mixed Maritime Movements [Asia Tenggara: Perpindahan Campuran Melalui
Laut], Juni 2015, tersedia di http://www.refworld.org/docid/55e6c1994.html, hal. 6.
18 UNHCR, South-East Asia: Mixed Maritime Movements [Asia Tenggara: Perpindahan Campuran Melalui
Laut], Juni 2015, tersedia di http://www.refworld.org/docid/55e6c1994.html, hal. 2.
19 UNHCR, South-East Asia: Mixed Maritime Movements [Asia Tenggara: Perpindahan Campuran Melalui
Laut], Juni 2015,tersedia di http://www.refworld.org/docid/55e6c1994.html, hal. 1.
20
IOM, Fatal Journeys: Tracking Lives Lost during Migration [Perjalanan Fatal: Menelusuri Nyawa yang
Hilang Selama Migrasi], 2014, tersedia di
http://publications.iom.int/bookstore/free/FatalJourneys_CountingtheUncounted.pdf, hal. 11.
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
10
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
BAB 2: MELARIKAN DIRI DARI
KENGERIAN DI MYANMAR
“Pemerintahan orang-orang Buddha mengatakan
bahwa tidak ada Muslim yang boleh tinggal di
Myanmar. Mereka bilang ‘Pergi ke tempat lain.’
Saya bilang ‘Saya mau pergi.’ Mereka bilang
‘Pergilah ke laut.’”
Perempuan Rohingya, Aceh, Indonesia, 14 Agustus 2015
Pada Mei 2015 tiga perahu yang membawa 1.800 perempuan, lelaki, dan anak-anak
terdampar di Aceh, Indonesia. Perahu ini adalah satu diantara banyak perahu yang telah
ditinggalkan oleh awaknya setelah adanya tindakan penumpasan perdagangan manusia di
tingkat regional, menyebabkan ribuan penumpang terdampar di laut selama bermingguminggu. Mayoritas manusia dalam perahu ini adalah orang Rohingya yang melarikan diri dari
Myanmar. Semua yang terdampar di Aceh berada dalam kondisi lemah karena lapar,
kelelahan, dan ketakutan. Mereka telah menderita selama berminggu-minggu atau berbulanbulan di laut, di dalam perahu yang dikendalikan oleh pelaku perdagangan atau
penyelundupan manusia yang kejam dan kasar. Bab ini membahas kondisi mereka ketika
melarikan diri dari Myanmar.
PERSEKUSI DAN KEKERASAN YANG MELUAS
Orang-orang Rohingya, yang beragama Islam, adalah minoritas agama dan etnis dari
mayoritas Buddha di Myanmar. Mereka sebagian besar tinggal di negara bagian Rakhine,
Myanmar. Pihak berwenang pemerintah menyangkal keberadaan Rohingya, dan merujuk
mereka sebagai orang Bengal, menyiratkan bahwa mereka adalah pendatang dari negara
tetangga Bangladesh.
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
11
Sebagian besar orang Rohingya tak memiliki kewarganegaraan. UU Kewarganegaraan
Myanmar Tahun 1982 melucuti kewarganegaraan dari semua (kecuali 40.000 orang) 1,33
juta orang Rohingya di negara itu. Menurut UU ini, hanya individu yang termasuk dalam
delapan kelompok "warganegara" dan 135 kelompok "etnis" –lah yang dapat memperoleh
kewarganegaraan yang penuh.21
Orang Rohingya telah menjadi korban kekerasan aktor negara dan non-negara selama
beberapa dekade. Terutama dalam episode brutal ketika dipindahkan secara paksa dengan
kekerasan, yang dipimpin oleh militer Myanmar pada tahun 1978 dan 1991, di mana
setelahnya 250.000 orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh,22 dan ketika serangan
massa Buddha Rakhine ke masjid-masjid dan sekolah-sekolah Rohingya pada tahun 2001.23
Pelapor Khusus PBB tentang Situasi Hak Asasi Manusia di Myanmar menyatakan: "pola
pelanggaran hak asasi manusia yang luas dan sistematis di negara bagian Rakhine
kemungkinan merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan sebagaimana didefinisikan dalam
Statuta Roma tentang Mahkamah Pidana Internasional." 24
Pada Juni dan Oktober 2012, kekerasan sektarian meletus antara umat Buddha dan
Rohingya (serta Muslim lainnya) di negara bagian Rakhine, dipicu oleh perkosaan dan
pembunuhan seorang perempuan etnis Burma pada tanggal 28 Mei yang dilakukan tiga lelaki
Muslim.25 Serangan terhadap Rohingya sebagian besar dipimpin oleh warga sipil, rahib
Buddha setempat, dan aparat keamanan negara. 26 Sejumlah lebih dari 125.000 Muslim
Rohingya dan Muslim lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke kamp
pengungsi internal (Internally Displaced People) yang penuh sesak dan pelayanannya
buruk.27 Pihak berwenang belum melakukan investigasi yang memadai terhadap kekerasan
Amnesty International, Myanmar: The Rohingya Minority: Fundamental Rights Denied, [Myanmar:
Minoritas Rohingya: Hak-hak dasar disangkal] ASA 16/005/2004, 19 Mei 2004, tersedia di
https://www.amnesty.org/en/documents/ASA16/005/2004/en/.
22
UNHCR, UNHCR Global Appeal 2012-2013: Bangladesh, [Permohonan Dana Global UNHCR 20122013:Bangladesh] tersedia di http://www.unhcr.org/4ec231060.html, hal. 208.
23 Human Rights Watch, All You Can Do Is Pray: Crimes Against Humanity and Ethnic Cleansing of
Rohingya Muslims in Burma’s Arakan State [Yang bisa kamu lakukan hanya berdoa: Kejahatan atas
kemanusiaan dan pembersihan etnis Muslim Rohingya di Negara Bagian Arakan di Burma], 2013,
tersedia di https://www.hrw.org/sites/default/files/reports/burma0413webwcover_0.pdf, hal. 16.
24 Report of the Special Rapporteur on the situation of human rights in Myanmar, Tomás Ojea Quintana,
[Laporan Pelapor Khusus PBB tentang situasi HAM di Myanmar], 2 April 2014, UN Doc A/HRC/25/64,
tersedia di http://www.refworld.org/docid/532068854.html, paragraf. 51.
25
Human Rights Watch, All You Can Do Is Pray: Crimes Against Humanity and Ethnic Cleansing of
Rohingya Muslims in Burma’s Arakan State [Yang bisa kamu lakukan hanya berdoa: Kejahatan atas
kemanusiaan dan pembersihan etnis Muslim Rohingya di Negara Bagian Arakan di Burma], 2013,
tersedia di https://www.hrw.org/sites/default/files/reports/burma0413webwcover_0.pdf, hal. 7.
26 Fortify Rights, Testimony of Matthew Smith: House Committee on Foreign Affairs [Kesaksian Matthew
Smith: Komite Parlemen untuk Hubungan Luar Negeri], 22 April 2015, tersedia di
http://www.fortifyrights.org/downloads/FR_TIP_Testimony_April_2015.pdf, hal. 3.
27 Human Rights Watch, All You Can Do Is Pray: Crimes Against Humanity and Ethnic Cleansing of
Rohingya Muslims in Burma’s Arakan State [Yang bisa kamu lakukan hanya berdoa: Kejahatan atas
kemanusiaan dan pembersihan etnis Muslim Rohingya di Negara Bagian Arakan di Burma], 2013,
tersedia di https://www.hrw.org/sites/default/files/reports/burma0413webwcover_0.pdf, hal. 6.
21
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
12
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
itu, atau membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan.28
Pada kekerasan yang terjadi pada tahun 2012 yang menimbulkan ratusan orang mengungsi,
termasuk sebagian besar orang yang diwawancarai Amnesty International di Indonesia pada
bulan Agustus 2015. Mereka yang diwawancara menggambarkan kekerasan teror Juni 2012,
beberapa dari mereka yang diwawancara menunjukkan tanda-tanda trauma. Dua bersaudara
lelaki dan perempuan mengatakan kepada para peneliti Amnesty International: "Di depan
kami rumah dibakar dan gadis-gadis dibawa keluar oleh penjaga perbatasan dari blok jalan
dan massa Rakhine untuk menjadi sasaran kekerasan seksual di bawah todongan senjata."
Sang adik, berumur 15 tahun, mengatakan: "Jika desa kami tidak mengikuti aturan penjaga
perbatasan, mereka akan menghina kami, mengatai kami kala [istilah merendahkan yang
berarti orang asing], dan menendang kami dengan sepatu mereka. Mereka menendang saya
berkali-kali, tak terhitung." 29
Seorang lelaki berusia 25 tahun dari Sittwe mengatakan pada Amnesty International bahwa
ia diperingatkan oleh temannya yang juga seorang biksu Buddha bahwa "akan ada masalah
yang segera terjadi, dalam waktu dua hari." Lelaki Rohingya itu, yang adalah seorang guru di
madrasah lokal (sekolah agama), segera membunyikan bel sekolah dan mendiskusikan
dengan siswa dan staf tentang apa yang harus dilakukan. Tapi peringatan itu tidak memberi
mereka cukup waktu untuk melakukan persiapan. Dia mengatakan: "desa mulai terbakar hari
itu. Setelah massa menyerang, polisi mengeluarkan tembakan ke udara, dan kemudian mulai
menembaki warga Rohingya." Ketika menceritakan peristiwa itu, si guru mulai menangis,
menjelaskan bahwa hampir 25 muridnya tewas saat mencoba melindungi dirinya dari massa,
dan salah satu dari mereka lengannya terpotong karena pisau panjang.30
Beberapa orang yang diwawancarai mengatakan bahwa anggota keluarga mereka tewas
dan/atau menghilang selama kekerasan di tahun 2012 itu. Seorang pengusaha Rohingya dari
Molek mengatakan kepada Amnesty International bahwa bibinya yang berusia 50 tahun
dibunuh oleh polisi pada Juni 2012; saksi mata mengatakan kepadanya bahwa bibinya
ditikam dengan pisau dari samping, dan mayatnya dibawa ke biara tetapi tidak pernah
dikembalikan ke keluarganya. Pada sekitar waktu yang sama, dua keponakannya yang masih
remaja ditangkap oleh massa dan tidak pernah terlihat lagi. Dia menelepon polisi untuk
menanyakan keberadaan keponakannya, tetapi petugas mengatakan padanya: "Kala, saya
tidak bisa berbuat apa-apa untuk Anda."31 Seorang perempuan berusia 19 tahun dari desa
Sakki mengatakan bahwa pada Juni 2012 suaminya terluka oleh serangan pisau ketika
kekerasan itu terjadi, dan ia percaya bahwa suaminya meninggal: "Kami tidak dapat
menemukan mayatnya. Ia menghilang."32 Seorang perempuan dari desa Santolli mengatakan
kepada Amnesty International bahwa anak-anaknya yang berusia delapan dan tujuh tahun
menghilang selama kekerasan Juni 2012; ia takut bahwa mereka telah tewas, ia mengatakan:
Amnesty International, Myanmar Must Look Beyond 'Flawed' Report to Stop Cycle of Buddhist-Muslim
Violence [Myanmar harus melihat ke belakang laporan “keliru” untuk menghentikan lingkaran kekerasan
Buddhis-Muslim], 20 April 2013, tersedia di https://www.amnesty.org/en/latest/news/2013/04/myanmargovernment-report-will-not-stop-cycle-buddhist-muslim-violence/.
29 Wawancara di Aceh, 12 Agustus 2015.
30 Wawancara di Aceh, 13 Agustus 2015.
31 Wawancara di Aceh, 11 Agustus 2015.
32
Wawancara di Aceh, 12 Agustus 2015.
28
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
13
"Saya tidak pernah melihat mayat mereka"33
Selama kekerasan Juni 2012, organisasi HAM melaporkan bahwa meskipun beberapa
pasukan keamanan bertindak untuk meminimalkan kekerasan pada orang-orang Rohingya misalnya dengan mengawal masyarakat untuk pindah ke lokasi yang lebih aman - warga lain
memiliki andil atas penghancuran masjid, pemblokiran akses Rohingya pada bantuan
kemanusiaan, dan melakukan penangkapan massal yang kejam. 34 Hal ini terungkap dalam
kesaksian yang dikumpulkan oleh Amnesty International di Aceh; mereka yang diwawancarai
mengatakan bahwa ada saat ketika polisi dan tentara melindungi orang-orang Rohingya dari
kekerasan massa, dan ada saat ketika mereka turut serta melakukan kekerasan pada orangorang Rohingya.
Setelah kekerasan tahun 2012, pemerintah Myanmar terus menganiaya orang-orang
Rohingya. Pada tahun 2014, Departemen Penerangan menginstruksikan semua warga
Rohingya untuk mendaftarkan diri sebagai orang Bengali, yang secara efektif mengecualikan
mereka dari sensus penduduk nasional.35 Pada Februari 2015, Presiden Thein Sein
mengumumkan pencabutan semua Temporary Registration Certificates (Sertifikat
Pendaftaran Sementara), menyangkal segala bentuk dokumen identitas sebagian besar warga
Rohingya dan secara efektif mencegah mereka untuk dapat memilih dalam pemilu
mendatang, November 2015.36 Baru-baru ini pihak berwenang juga telah memberlakukan
empat UU "ras dan agama" yang diskriminatif, di bawah tekanan dari organisasi nasionalis
Buddha garis keras yang dikenal sebagai Ma Ba Tha (Asosiasi untuk Perlindungan Ras dan
Agama).37
Saat ini, situasi kemanusiaan bagi warga Rohingya di Myanmar sangatlah suram. PBB
memperkirakan bahwa di negara bagian Rakhine, sebanyak 416.600 orang terkena dampak
konflik atau kekerasan antar-kelompok dan membutuhkan bantuan kemanusiaan serius,38
termasuk 140.000 orang yang berada di kamp-kamp pengungsi internal (IDP) di negara
bagian Rakhine, serta lainnya yang hidup dalam kondisi menyedihkan dan dengan kebebasan
bergerak terbatas.39 Hingga September 2015, ada lebih dari 98.000 orang yang tinggal di
Wawancara di Aceh, 13 Agustus 2015.
Human Rights Watch, All You Can Do Is Pray: Crimes Against Humanity and Ethnic Cleansing of
Rohingya Muslims in Burma’s Arakan State [Yang bisa kamu lakukan hanya berdoa: Kejahatan atas
kemanusiaan dan pembersihan etnis Muslim Rohingya di Negara Bagian Arakan di Burma], 2013,
tersedia di: https://www.hrw.org/sites/default/files/reports/burma0413webwcover_0.pdf, hal. 35.
35 Amnesty International, Annual Report 2014/15: Myanmar [Laporan Tahunan 2014/2015], 2015,
tersedia di https://www.amnesty.org/en/countries/asia-and-the-pacific/myanmar/report-myanmar/.
36
Amnesty International, “Why are the Rohingya Fleeing Myanmar?” [Kenapa Rohingya melarikan diri
dari Myanmar?] 28 Mei 2015, tersedia di https://www.amnesty.org/en/latest/news/2015/05/why-are-therohingya-fleeing-myanmar/.
37 Amnesty International and the International Commission for Jurists, Myanmar: Parliament Must Reject
Discriminatory ‘Race and Religion’ Laws [Myanmar: Parlemen harus menolak Undang-Undang ‘Ras dan
Agama’ yang diskriminatif], ASA 16/1107/2015, 3 Maret 2015, tersedia di
https://www.amnesty.org/en/documents/asa16/1107/2015/my/.
38 UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs, 2015 Humanitarian Response Plan: Myanmar
[Rencana Respon Kemanusiaan: Myanmar], 12 Desember 2014, tersedia di
http://reliefweb.int/report/myanmar/myanmar-humanitarian-response-plan-2015.
39 UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs, Myanmar: Crisis Overview [Myanmar:
Peninjauan tentang Krisis], 2015, tersedia di http://www.unocha.org/myanmar/about-ochamyanmar/crisis-overview-0.
33
34
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
14
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
21 kamp-kamp IDP di kota Sittwe (negara bagian Rakhine) saja.40
Di luar dari warga Rohingya yang dianiaya di Myanmar, ribuan Rohingya lainnya juga hidup di
Bangladesh dalam kondisi sangat miskin. Pada tahun 2012 PBB memperkirakan bahwa
lebih dari 29.000 pengungsi Rohingya tinggal di Bangladesh, terkonsentrasi khususnya di
dua kamp, Kutupalong dan Nayapara, di Distrik Cox Bazar.41 UNHCR mengatakan bahwa
kondisi hidup para pengungsi di kamp-kamp ini tidak memenuhi standar minimum
internasional, dengan 17% dari anak usia enam bulan sampai lima tahun, dan 15% dari ibu
hamil, menderita kekurangan gizi akut.42 Lebih dari itu, Pemerintah Bangladesh
memperkirakan bahwa mereka menampung 200.000 "orang yang menjadi perhatian"43 yang
tak terdaftar dari Myanmar -banyak dari mereka adalah orang Rohingya.44 Sebagian besar
mereka yang tinggal di pemukiman informal ini tidak menerima bantuan kemanusiaan. 45
Ketika di Aceh, Amnesty International bertemu beberapa orang Rohingya yang bertolak dari
Bangladesh, termasuk seorang lelaki 23 tahun dari kota Buthidaung yang telah tinggal di
Teknaf, Bangladesh selama 10 tahun. Lelaki itu mengatakan bahwa ia melarikan diri karena
"disana tidak ada kebebasan [...] sama dengan Myanmar." 46
KESIMPULAN
Penganiayaan dan kekerasan terjadi secara meluas terhadap Rohingya di Myanmar.
Mengingat skala dan tingkat buruknya pelanggaran hak asasi manusia di Myanmar, mayoritas
orang Rohingya di luar negeranya cenderung berstatus pengungsi. Seperti disebutkan di atas,
hanya tiga negara di Asia Tenggara - Kamboja, Filipina, dan Timor-Leste - yang telah
meratifikasi Konvensi Pengungsi; instrumen ini menetapkan sistem perlindungan
internasional di dunia untuk pengungsi, dan harus diratifikasi oleh negara-negara lainnya di
kawasan itu.
UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs, Myanmar: Internal Displacement in Rakhine
State (Aug 2015) [Myanmar: Pengungsian internal di Negara Bagian Rakhine], 8 September 2015,
tersedia di
http://reliefweb.int/sites/reliefweb.int/files/resources/Affected_Map_IDP_Sites_Rakhine_OCHA_Aug2015_
A4.pdf.
41 UNHCR, UNHCR Global Appeal 2012-2013: Bangladesh [Permohonan Dana Global UNHCR 20122013: Bangladesh], tersedia di http://www.unhcr.org/4ec231060.html, hal. 208.
42
UNHCR, UNHCR Global Appeal 2012-2013: Bangladesh [Permohonan Dana Global UNHCR 20122013: Bangladesh], tersedia di http://www.unhcr.org/4ec231060.html, hal. 209.
43 Orang yang menjadi perhatian “berisikan secara umum lima kategori orang yang jatuh dalam
kompetensi Komisioner Tinggi. Kelompok ini adalah (a) mereka yang masuk dalam kategori definisi
Statuta/ Konvensi 1951 sehingga berhak menikmati serangkaian fungsi dari kantor tersebut; (b) mereka
yang berada dalam kategori lebih luas namun diakui negara berhak atas perlindungan dan bantuan
kantor; (c) mereka yang Komisioner Tinggi berikan "itikad baik kantor ", terutama namun bukan saja
untuk memfasilitasi bantuan kemanusiaan; (d) pengungsi yang kembali, yang mana Komisioner Tinggi
bisa menyediakan bantuan reintegrasi dan perlindungan lainnya; dan (e) orang tanpa kewarganegaraan
yang bukan pengungsi yang mana UNHCR memiliki mandat terbatas untuk membantunya.” UNHCR,
Protection of Persons of Concern to UNHCR Who Fall Outside the 1951 Convention: A Discussion Note,
[Perlindungan orang yang menjadi perhatian UNHCR yang jatuh diluar Konvensi 1951: Sebuah catatan
diskusi] 2 April 1992, tersedia di http://www.unhcr.org/3ae68cc518.html, paragraf. 11.
44
Dikutip di UNHCR, UNHCR Global Appeal 2012-2013: Bangladesh [Permohonan Dana Global
UNHCR 2012-2013: Bangladesh], tersedia di http://www.unhcr.org/4ec231060.html, hal. 208.
45 Refugees International, “Where We Work: Bangladesh” [Dimana kami bekerja: Bangladesh], 2015,
tersedia di https://www.refintl.org/where-we-work/asia/bangladesh.
46 Wawancara di Aceh, 13 Agustus 2015.
40
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
15
Untuk sementara, terlepas dari apakah suatu negara telah meratifikasi Konvensi Pengungsi,
ia tetap terikat oleh prinsip non-refoulement (perlindungan dari pemulangan paksa).47 Ini
adalah prinsip hukum internasional yang melarang pemindahan individu ke negara atau
yurisdiksi lain di mana mereka akan menghadapi risiko nyata pelanggaran HAM serius. 48
Larangan refoulement pada penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya telah berstatus hukum
kebiasaan internasional, yang berarti bahwa hal itu mengikat semua negara, terlepas dari
apakah mereka telah meratifikasi instrumen internasional yang relevan. 49
47
UNHCR, IOM dan UNODC, Bay of Bengal and Andaman Sea: Proposals for Action [Teluk Bengal dan
Laut Andaman: Usulan Aksi], Mei 2015, tersedia di http://www.unhcr.org/55682d3b6.html, hal. 4-5.
48 Konvensi Pengungsi, Pasal. 33(1); Konvensi Menentang Penyiksaan dan Tindakan serta Hukuman
Lainnya yang Kejam, Tidak Manusiawi dan Merendahkan Martabat], 10 Desember 1984, [1987] 1465
U.N.T.S. 113, hal.85, Pasal. 3(1); Konvensi Internasional Perlindungan Semua Orang dari Penghilangan
Paksa, Pasal. 16(1).
49 UNHCR, The Principle of Non-Refoulement as a Norm of Customary International Law: Response to
the Questions Posed to UNHCR by the Federal Constitutional Court of the Federal Republic of Germany
in Cases 2 BvR 1938/93, 2 BvR 1953/93, 2 BvR 1954/93, [Prinsip Non-Refoulement sebagai norma
Hukum Kebiasaan Internasional: respon terhadap pertanyaan yang diajukan ke UNHCR oleh Mahkamah
Konstitusi Federal Republik Federal Jerman dalam Kasus 2 BvR 1938/93, 2 BvR 1953/93, 2 BvR
1954/93], 31 Januari 1994; UNHCR, Advisory Opinion on the Extraterritorial Application of NonRefoulement Obligations under the 1951 Convention relating to the Status of Refugees and its 1967
Protocol [Opini Saran untuk penerapan ekstra-teritorial kewajiban Non-Refoulement berdasarkan
Konvensi 1951 tentang Status Pengungsi dan Protokol 1967], 26 Januari 2007, paragraf. 15;
Conclusion No. 6 (XXVIII) Non-refoulement, ExCom, UNHCR, 28th Session, 1977, para. (a); Sir Elihu
Lauterpacht dan Daniel Bethlehem, “The Scope and Content of the Principle of Non-Refoulement:
Opinion” [Cakupan dan Isi Prinsip Non-Refoulement], dalam Refugee Protection in International Law:
UNHCR's Global Consultations on International Protection (Diedit oleh Erika Feller, Volker Türk dan
Frances Nicholson, Cambridge University Press, 2003), paragraf. 216.
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
16
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
BAB 3: DIANIAYA DAN
DITELANTARKAN DI LAUT
“Saya dipukuli karena uang. Saya dipukul lima
kali setiap pagi. Saya beruntung.”
Anak perempuan Rohingya berusia 15 tahun mendeskripsikan penganiayaan yang dialami di laut, 16 Agustus 2015
POLA PERJALANAN
Amnesty International mengumpulkan kesaksian dari wawancara para Rohingya (perempuan,
laki-laki, dan anak-anak), yang datang dari berbagai lokasi di Myanmar atau Bangladesh, dan
telah menghabiskan waktu dalam serangkaian perjalanan perahu sebelum akhirnya mencapai
Indonesia. Walau kenyataannya orang-orang ini berpergian dalam perahu yang berbeda
dengan awak perahu yang berlainan, mereka menyampaikan cerita yang mirip tentang
pengalaman mereka di atas perahu, sebagaimana juga penganiayaan hak asasi manusia yang
mereka alami di tangan para awak selama perjalanan mereka.
Di Myanmar atau Bangladesh, kebanyakan Rohingya tersebut dihampiri oleh orang lokal yang
menawarkan membawa mereka pergi ke Malaysia. Sering biaya perjalanannya kecil, dan
terkadang tanpa biaya. Para Rohingya semua memulai perjalanan dalam perahu kecil,
memuat beberapa hingga beberapa puluh orang, dan kemudian dipindahkan ke perahu yang
lebih besar yang menunggu sedikit jauh di lautan, memuat beberapa ratus penumpang.
Beberapa orang yang diwawancara mengalami perpindahan beberapa kali, melalui berbagai
perahu yang berbeda; tidak jelas kenapa perpindahan ini terjadi, atau ada pertukaran uang
terjadi antar awak perahu. Menurut mereka yang diwawancarai, awak perahu ini berasal dari
Bangladesh, Myanmar, dan Thailand. Hampir semua Rohingya memberitahu Amnesty
International jika mereka menyaksikan atau mengalami perlakuan mengerikan di laut,
termasuk pembunuhan dan pemukulan (kasus-kasus ini akan dijabarkan secara rinci di
bawah). Banyak dari mereka yang diwawancara mengatakan sepanjang perjalanan mereka
melihat perahu yang mirip dengan mereka, masing-masing berisikan ratusan orang.
Rohingya di Aceh telah menghabiskan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan di
laut. Berdasarkan wawancara dengan 600 Rohingya yang mencapai Indonesia pada Mei
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
17
2015, UNHCR mengkalkulasi mereka menghabiskan waktu ratas-rata 76 hari di lautan.50
Rohingya yang diwawancarai yang bersama dalam satu perahu ketika mencapai Indonesia
mengatakan pada Amnesty International bila mereka menghabiskan antara dua hingga empat
bulan dalam perahu yang terakhir, walau mereka bisa jadi telah berada di laut untuk jangka
waktu yang lebih lama.51
Walau beberapa Rohingya mengatakan pada Amnesty International mereka meninggalkan
Myanmar tanpa pengetahuan yang jelas akan kemana, semua dengan tujuan yang jelas
memberitahu delegasi Amnesty International bahwa mereka hendak menujuk ke Malaysia.
Negara ini adalah salah satu negara tujuan utama di Asia Tenggara - kebanyakan migrasi ini
tidak resmi, dan negara tersebut menjamu antara 1.9 hingga 5 juta pekerja migran tidak
resmi.52
Amnesty International berbicara dengan sejumlah anak tanpa pendamping yang berusaha
mencapai Malaysia untuk bekerja. Beberapa dari mereka adalah pencari nafkah tunggal bagi
keluarga mereka di Myanmar dan berharap bergabung dengan sanak keluarga yang sedang
bekerja di Malaysia. Seorang anak lelaki tanpa pendamping berusia 15 tahun sedang
berusaha mencapai sepupunya yang berusia 16 tahun. Upah yang dia harap akan dapatkan
direncanakan untuk menopang keluarganya di Maungdaw (Negara bagian Rakhine): orangtua,
lima saudara laki-laki dan enam saudara perempuan.53 Sekelompok perempuan Rohingya
mengatakan pada Amnesty International kalau mereka ingin bergabung dengan suami atau
tunangan mereka. Seorang perempuan berkata: “Kami takut akan dimasukkan penjara ketika
pertama kali tiba [di Indonesia]. Kami tidak tahu di mana kami. Namun sekarang perasaan
kami adalah: kapan kami bisa bergabung dengan keluarga kami, suami kami?”54
TERBONGKARNYA KAMP PERDAGANGAN MANUSIA DAN KUBURAN
DI THAILAND DAN MALAYSIA PADA MEI 2015
Sebuah investigasi oleh kantor berita Reuters mengungkapkan bahwa pada 1 Mei 2015 seorang penyintas
perdagangan manusia Rohingya55 mengarahkan gugus tugas militer-polisi Thailand ke kamp yang biasa
digunakan pedagang manusia di Thailand Selatan, beberapa ratus meter dari perbatasan Malaysia.56 Polisi
menemukan setidaknya 30 mayat dikubur di kuburan dangkal, juga kandang bambu buatan, bukti orangorang ditahan di kandang tersebut dan tanda-tanda kamp tersebut dievakuasi beberapa hari sebelumnya.57
UNHCR, South-East Asia: Mixed Maritime Movements [Asia Tenggara: Perpindahan Campuran di
Laut], JuniJuni 2015, tersedia ditersedia di http://www.refworld.org/docid/55e6c1994.html, hal. 5.
51 Wawancara di Aceh, 12 Agustus 2015, 14 Agustus 2015.
52 UN Office on Drugs and Crime, Migrant Smuggling in Asia: Current Trends and Challenges
[Penyelundupan Migran di Asia: Tren dan Tantangan terkini] April 2015, tersedia di
https://www.unodc.org/documents/southeastasiaandpacific/Publications/2015/som/Current_Trends_and_
Related_Challenges_web.pdf, hal. 57.
53 Wawancara di Aceh, 14 Agustus 2015.
54 Wawancara di Aceh, 14 Agustus 2015.
55 Pembahasan tentang perdagangan manusia, dan perbedaan antara perdagangan manusia dan
penyelundupan, akan dibahas nanti di bab ini.
56 Amy Sawitta Lefevere dan Andrew Marshall, “Special Report - Inside Thailand's Trafficking
Crackdown,” [Laporan Khusus- didalam Pemberantasan Perdagangan Manusia di Thailand], Reuters, 9
Juli 2015, tersedia di www.reuters.com/article/2015/07/09/uk-thailand-trafficking-specialreportidUKKCN0PJ13V20150709.
57 ABC News, “Mass Grave Believed to Belong to Migrants Found in Southern Thailand, Officials Say”
50
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
18
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
Dua kamp lain ditemukan dalam rentang waktu empat hari, dan pihak berwenang Thailand menemukan
beberapa penyintas dalam kondisi kesehatan yang buruk. Informasi yang didapatkan dari para penyintas
mengindikasikan Rohingya dari Myanmar dan Bangladesh, juga warga negara Bangladesh, telah
diperdagangkan, ditahan, dan dianiaya hingga keluarga mereka bisa membayar tebusan untuk pembebasan
mereka. Namun, para penyintas mengatakan banyak orang yang meninggal karena kelaparan, penyakit atau
pemukulan ketika menunggu pembayaran keluarga.58 Pada 4 Mei 2015, Polisi Thailand menangkap tiga
petugas Thailand dengan tuduhan terlibat perdagangan manusia, dan tuntutan diarahkan kepada makelar
yang diduga bertanggungjawab mengoperasikan kamp perdagangan manusia. 59
The Arakan Project, sebuah Organisasi Non-Pemerintah (Ornop) yang memonitor perlintasan perahu di Teluk
Bengal dan Laut Andaman, menyatakan pada 5 Mei 2015 ketika serbuan oleh polisi mencari pedagang
manusia meningkat, para pedagang manusia memindahkan kamp mereka dan menelantarkan mereka yang
terlalu sakit untuk berjalan. Chris Lewa dari Arakan Project mengatakan pada media ada “kondisi leher botol
besar di laut” menciptakan situasi yang lebih berbahaya, karena pedagang manusia telah berubah pola
dengan menahan ribuang orang di perahu-perahu di perairan internasional ketimbang mengambil risiko
dengan membawa mereka ke Thailand.60
Pada 7 Mei 2015, Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-chat memerintahkan pihak berwenang lokal di
semua provinsi untuk “memusnahkan” semua kamp Rohingya dan aktivitas terkaitnya di wilayah mereka
dalam 10 hari.61 Pada 9 Mei 2015, Arakan Project melaporkan para pedagang manusia telah menelantarkan
beberapa perahu, mengakibatkan ribuan orang kemungkinan terdampar di lautan.62
Jendral Polisi Somyot Poompanmuang, Kepala Kepolisian Kerajaan Thailand, mengumumkan pada 25 Mei
2015 sekitar 50 polisi telah “dipindahtugaskan” karena dugaan keterlibatan dengan jaringan perdagangan
[Kuburan masal dipercaya milik migran ditemukan di Thailand Selatan, ungkap pihak berwenang], 1 Mei
2015, tersedia di www.abc.net.au/news/2015-05-01/mass-grave-of-migrants-found-in-south-thailandrescuer-says/6439028; Human Rights Watch, “Thailand: Mass Graves of Rohingya Found in Trafficking
Camp” [Thailand: Kuburan Masal Rohingya ditemukan di kamp perdagangan manusia], 1 Mei 2015,
tersedia di www.hrw.org/news/2015/05/01/thailand-mass-graves-rohingya-found-trafficking-camp.
58 Bangkok Post, “Thailand Trafficking Death Camp ‘Just the Tip of the Iceberg’” [Kamp Kematian
Perdagangan Manusia Thailand hanya ujung dari gunung es], 4 Mei 2015, tersedia di
www.ucanews.com/news/thailand-trafficking-death-camp-just-the-tip-of-the-iceberg/73507, Al Jazeera
America, “Thai Police Find New Human Trafficking Camps” [Polisi Thailand menemukan Kamp
Perdagangan Manusia baru], 5 Mei 2015, tersedia di
http://america.aljazeera.com/articles/2015/5/5/thai-police-find-new-human-trafficker-camps.html; Terry
Fredrickson, “Border Camp Horrors Revealed, Official Arrested (Updated)’” [Horor Kamp di Perbatasan
terungkap, pejabat ditangkap], Bangkok Post, 4 Mei 2015, tersedia di
http://www.bangkokpost.com/learning/learning-from-news/549355/suspected-migrant-graveyarddiscovered-in-songkhla.
59 Al Jazeera America, “Thai Police Arrest Man Suspected of Running Deadly Jungle Camp” [Polisi
Thailand menangkap orang yang diduga mengelola Kamp Kematian di hutan], 4 Mei 2015, tersedia di
http://america.aljazeera.com/articles/2015/5/4/thai-police-arrest-rohingya-man-suspected-of-runningdeadly-jungle-camp.html.
60 Jerome Taylor, “Thai People Smuggling Crackdown Creates Fresh Dangers” [Pemberantasan
Perdagangan Manusia Thailand menciptakan bahaya baru], AFP, 5 Mei 2015, tersedia di
http://www.ucanews.com/news/thai-people-smuggling-crackdown-creates-fresh-dangers/73518.
61 Bangkok Post, “PM Orders Camp Cleanup” [Perdana Menteri Thailand memerintahkan pembersihan
kamp], 7 Mei 2015, tersedia di www.bangkokpost.com/news/politics/553247/pm-orders-camp-cleanup.
62 UNHCR, South-East Asia: Mixed Maritime Movements [Asia Tenggara: Perpindahan Campuran di
Laut], Juni 2015, tersedia di http://www.unhcr.org/554c6a746.html.
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
19
manusia.63
Pihak berwenang Malaysia membawa reporter ke kamp yang ditelantarkan di Malaysia Utara (berbatasan
dengan Thailand) pada 26 Mei 2015, yang berisikan apa yang diduga sebagai lubang penahanan dengan
kawat duri, tiang jaga dan tangki air besar- semua mengindikasikan orang-orang telah ditahan disana. Pihak
berwenang menggali mayat dari 37 kuburan dangkal yang ditemukan dekat kamp. Situs ini adalah satu dari
dimana pihak berwenang Malaysia telah, per Mei 2015, mengidentifikasi 139 kuburan yang dipercaya
berisikan jenazah migran dan pencari suaka, termasuk para Rohingya.64 Pihak berwenang Malaysia
mengatakan pada reporter beberapa dari sekitar 28 kamp yang mereka temukan sepanjang 50 km dekat
perbatasan Thailand telah digunakan sejak 2013, dan dua kamp telah ditelantarkan dua atau tiga minggu
sebelumnya (bersamaan dengan waktu Thailand meluncurkan razia pemberantasan perdagangan manusia).
Pada 27 Mei 2015, Malaysia menahan 12 petugas polisi dengan dugaan keterlibatan dalam perdagangan
manusia.65
PENGANIAYAAN BERAT DI PERAHU
Rohingya yang diwawancara di Aceh menceritakan pada Amnesty International bagaimana
perlakuan mengerikan yang mereka alami dan saksikan di laut.
DISANDERA, DIPUKUL, DAN DIBUNUH UNTUK TEBUSAN
Beberapa Rohingya menceritakan pada Amnesty International dalam satu titik dalam
perjalanannya, mereka dibawa ke perahu yang besar dan memiliki beberapa lantai, mereka
dipukuli berulang kali hingga kerabat mereka membayar sejumlah uang untuk pembebasan
mereka- baik di perahu lain yang mana penganiayaan menjadi kurang buruk atau lebih
jarang, dan dimana mereka berharap bisa mencapai tujuan yang diinginkan, atau langsung di
daratan di Malaysia. Tidak jelas jika ada satu atau lebih perahu besar yang mana pemukulan
untuk tebusan ini terjadi, dan jika lebih, ada berapa banyak mereka.
Seorang lelaki Rohingya berusia 20 tahun dari Nagir Para mengatakan ia menghabiskan
delapan bulan di perahu yang sangat besar dan melepas jangkar di lepas pantai Thailand,
bersama 1.500 orang Rohingya dan Bangladesh. Ia mengatakan pada Amnesty International
bila ia dipukuli berulang kali dengan pipa plastik pendek berisi besi, dan menunjukkan pada
para delegasi sejumlah luka. Para pedagang manusia menuntut 7.500 Ringgit (setara dengan
1.700 USD), yang keluarganya bayarkan dengan mengirim uang ke sebuah nomor rekening
63
ABC News, “Over 50 Thai Police Officers Punished Over Suspected Links to Human Trafficking
Networks” [Lebih dari 50 polisi Thailand dihukum akibat diduga terkait dengan jaringan perdagangan
manusia], 25 Mei 2015, tersedia di www.abc.net.au/news/2015-05-07/over-50-thai-police-punishedover-links-to-human-trafficking/6453326.
64
Chris Buckley dan Thomas Fuller, “Jungle Camp in Malaysia Yields Graves and Signs of Migrant
Abuse” [Kamp Hutan di Malaysia menunjukkan kuburan dan tanda penganiayaan migran], New York
Times, 26 Mei 2015, tersedia di www.nytimes.com/2015/05/27/world/asia/jungle-camp-in-malaysiayields-graves-and-signs-of-migrant-abuse.html.
65 ABC News, “Malaysian Police Begin Exhuming Bodies at Jungle Camps Near Thai Border; Air, Sea
Operation Launched to Rescue Abandoned Migrants” [Polisi Malaysia mulai mengangkat mayat di Kamp
Hutan dekat Perbatasan Thailand; Operasi udara dan laut diluncurkan untuk menyelamatkan migran
yang terlantar], 27 Mei 2015, tersedia di www.abc.net.au/news/2015-05-26/malaysian-police-beginexhuming-bodies-at-jungle-camps/6498930; ABC News, “Malaysia Detains 12 Police Officials in Thai
Border People-Smuggling Camps Probe” [Malaysia menahan 12 polisi di perbatasan Thailand dalam
penyelidikan Kamp Penyelundup], 27 Mei 2015, tersedia di http://www.abc.net.au/news/2015-0527/malaysia-detains-12-police-in-people-smuggling-camps-probe/6502596.
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
20
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
bank, setelah meminjam sejumlah uang dari warga desa lainnya. Ia dibawa dengan perahu
motor cepat dengan dua anak muda lainnya dan dipindahkan ke perahu lain, yang akhirnya
mencapai Indonesia pada Mei 2015.
Dua anak muda yang menemaninya membayar jumlah tebusan yang sama untuk keluar dari
perahu besar yang sama, dan mendeskripsikan pengalaman yang mirip kepada Amnesty
International.66
Seorang perempuang Rohingya 15 tahun mengatakan awak perahu meminta jumlah yang
mirip agar ia dilepas dari perahu besar tempat ia sering dipukul; ia berkata awak perahu
menelepon ayahnya di Kamp Pengungsi Kutupalong di Bangladesh, membuatnya
mendengarkannya menangis sembari dipukul, dan menyuruhnya membayar mereka 7.500
Ringgit Malaysia.67
Seorang lelaki Rohingya berusia 22 tahun dari Desa Paike Therani, mengatakan ia dipukuli
dan disekap untuk tebusan dalam sebuah perahu besar selama enam bulan,68 sebagaimana
juga seorang lelaki berusia 18 tahun yang dipukul berulang kali di sebuah perahu besar,
sampai pamannya membayar pelepasan dirinya.69
Seorang Pria Rohingya berusia 23 tahun dari Bangladesh mengatakan ia disekap di perahu
besar di perairan Thailand selama satu setengah bulan; keluarganya harus membayar
150.000 Myanmar Kyat (sekitar 110 USD) agar ia ditransfer ke perahu lain.70
Seorang pemuda Rohingya berusia 17 tahun dari Kamp Nayapara di Bangladesh berkata ia
menyaksikan seorang lelaki ditembak dan dibuang ke laut setelah keluarganya tidak bisa
membayar tebusan dalam kurun waktu sebuah bulan yang ditentukan oleh awak perahu.71
PEMBUNUHAN
Beberapa Rohingya yang menghabiskan waktu di beberapa perahu yang berbeda mengatakan
pada Amnesty International jika mereka melihat awak perahu membunuh penumpang.
Seorang pemuda berusia 22 tahun dari Desa Paike Therani mengatakan pada Amnesty
International: “Jika seseorang sakit atau mereka tidak bisa bayar [tebusan], mereka dibunuhterkadang ditembak dulu, terkadang langsung dilempar ke laut.”72 Seorang pemuda Rohingya
berusia 15 tahun dari Myanmar dan perempuan Rohingya berusia 35 tahun dari kamp
Pengungsi Musoni di Bangladesh, yang diwawancarai terpisah, mengatakan pada Amnesty
International bahwa mereka melihat orang dilempar ke laut dalam beberapa kesempatan;
para korban dibawa kembali ke atas perahu setelah dua atau tiga jam- walau ada beberapa
yang selamat, yang lain tenggelam.73 Tidak jelas kenapa orang-orang tersebut dilempar keluar
perahu.
66
67
68
69
70
71
72
73
Wawancara
Wawancara
Wawancara
Wawancara
Wawancara
Wawancara
Wawancara
Wawancara
di
di
di
di
di
di
di
di
Aceh, 11 Agustus
Aceh, 16 Agustus
Aceh, 11 Agustus
Aceh, 14 Agustus
Aceh, 13 Agustus
Aceh, 14 Agustus
Aceh, 11 Agustus
Aceh, 15 Agustus
Amnesty International Oktober 2015
2015.
2015.
2015.
2015.
2015.
2015.
2015.
2015, 16 Agustus 2015.
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
21
Penumpang lain dilaporkan meninggal karena kurangnya air. Seorang anak perempuan
Rohingya berusia 15 tahun berkata: “Saya melihat orang mati karena dehidrasi. Ketika
seseorang meninggal mereka diberikan upacara oleh yang lain di perahu kemudian dibuang
ke laut oleh awak perahu.”74 Saudara lelakinya, yang berpergian dengannya, mengatakan
pada Amnesty International, mereka melihat empat atau lima orang meninggal. Tidak jelas
kenapa beberapa orang meninggal sementara yang lain selamat.
PEMUKULAN DAN PERLAKUAN BURUK LAINNYA
Hampir setiap Rohingya - perempuan, laki-laki, dan anak-anak- yang berbicara dengan
Amnesty International berkata mereka telah dipukul oleh awak perahu atau menyaksikan
penumpang lainnya dipukul. Orang-orang dipukul karena bergerak, karena memohon
makanan atau minum, dan karena meminta menggunakan toilet. Anak-anak dipukul karena
menangis. Seorang bibi dari seorang anak perempuan, yang menderita penyakit kejiwaan,
dipukul karena tidak bisa diam.75 Pemukulan dilakukan dengan tongkat plastik atau besi,
juga dengan potongan karet dari ban.
Sangat mengejutkan berapa banyak pemukulan terjadi secara rutin, hampir situasi yang
mekanis. Seorang anak perempuan berusia 15 tahun mengatakan pada Amnesty
International behwa awak perahu memukulnya lima kali setiap pagi,76 juga seorang ibu muda
yang disekap dalam perahu besar selama enam bulan.77 Mirip dengan mereka, seorang anak
lelaki tanpa pendamping berusia 15 tahun berkata: “Pagi hari kamu dipukul tiga kali. Di sore
hari dipukul tiga kali. Malam hari kamu dipukul sembilan kali.”78 Anak lelaki ini mengatakan
pada Amnesty International dalam kurun waktu sebulan, awak kapal telah melemparnya ke
laut 15 kali, untuk beberapa jam setiap kali: “Mereka melempar kami ke laut. Kami harus
berenang berjam-jam - jika kami berusaha berpegangan pada perahu mereka akan pukul
kami. Jika kami nyaris tenggelam mereka akan tarik kami ke perahu dan dipukul.”79
Penganiayaan fisik mengakibatkan beberapa orang mengalami permasalahan kesehatan
jangka panjang. Banyak orang yang diwawancara Amnesty International menunjukkan luka
hasil pemukulan para awak perahu (lihat foto terlampir). Seorang anak lelaki berusia 15
tahun berkata ia masih mengalami sakit di pinggul dan dadanya akibat pemukulan yang
dialami.80 Seorang lelaki berusia 18 tahun mengungkapkan: “Lukanya hilang, tapi punggung
saya masih sakit setiap saya berdiri.”81 Amnesty International mendengar pemukulan kejam
tertentu, yang dikonfirmasi secara independen oleh dua saksi, yang mana awak perahu
memukuli seorang penumpang hingga hilang kesadaran selama beberapa jam. Korban, yang
berbicara dengan delegasi Amnesty International, masih menderita efek fisik dan psikologis
akibat pemukulan.82
Wawancara di Aceh, 11 Agustus 2015.
Wawancara di Aceh, 11 Agustus 2015.
76 Wawancara di Aceh, 16 Agustus 2015.
77 Wawancara di Aceh, 16 Agustus 2015.
78 Wawancara di Aceh, 15 Agustus 2015.
79 Wawancara di Aceh, 15 Agustus 2015.
80 Wawancara di Aceh, 15 Agustus 2015.
81 Wawancara di Aceh, 14 Agustus 2015.
82 Rincian lebih jauh tentang serangan tersebut disimpan untuk melindungi mereka yang diwawancara.
Wawancara di Aceh, 13 Agustus 2015.
74
75
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
22
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
Lebih lanjut, berdasarkan informasi yang diungkap mereka yang diwawancarai soal
penganiayaan fisik dan kehamilan, Amnesty International juga khawatir beberapa orang di
atas perahu menjadi korban perkosaan dan bentuk lain kekerasan seksual. Namun tidak
mungkin menanyakan secara rinci tentang masalah ini karena situasi wawancara yang tidak
memungkinkan.
KONDISI TIDAK MANUSIAWI DAN MERENDAHKAN MARTABAT
Kondisi semua perahu yang dideskripsikan para Rohingya, masuk dalam kategori tidak
manusiawi dan merendahkan martabat. Geladak bawah, yang mana para lelaki ditempatkan,
sangatlah panas, tidak ada sirkulasi udara dan sangat sesak. Geladak atas, yang mana
perempuan dan anak-anak cenderung ditempatkan, tidak ada perlindungan dari elemen luar.
Kepenuhan yang parah dilaporkan semua orang; orang-orang tidak bileh beridir, namun
dipaksa duduk di posisi yang berdesakan dengan kaki disilang dan lutut diangkat (lihat foto
terlampir).83 Seorang perempuan berusia 25 tahun dari Maungdaw, Myanmar mengatakan
kedua anak kecilnya harus duduk bersandar lutut sepanjang perjalanan yang berlangsung
selama beberapa minggu.84 Perahu-perahu tersebut sangat kotor, seorang yang lelaki yang
membantu menyelamatkan perahu yang mendarat di Aceh pada 10 Mei mengatakan perahu
itu sangat bau hingga penyelamat tidak bisa masuk, ia jelaskan: “Bau tersebut berasal dari
orang-orang yang tidak bisa ke toilet atau mandi.”85 Seorang anak lelaki Rohingya berusia 15
tahun berkata tentang perahu itu: “Kami tidak bisa ke toilet ketika perlu.”86 Hanya ada dua
toilet di perahu ini, yang membawa hampir 600 penumpang.87
Berdasarkan cerita hampir semua Rohingya yang diwawancarai di Aceh, makanan dan
minuman yang disediakan di perahu yang berbeda-beda yang mereka gunakan sama sekali
tidak memadai. Orang yang diwawancarai dari satu perahu secara konsisten mengatakan
pada Amnesty International mereka diberikan makanan sekali sehari- terkadang dua kali- dan
ini berisikan seporsi kecil nasi dan setengah gelas air. Seorang lelaki berusia 23 tahun
berkata soal makanan: “Setelah tiga suap, semuanya habis.”88 Seorang perempuan berusia
19 tahun yang hamil tua di perahu (dan sejak saat itu telah melahirkan) mengatakan ia
diberikan jumlah makanan dan minuman yang sama dengan penumpang lain, kecuali dalam
dua kesempatan selama berbulan-bulan di laut, ketika ia menerima makanan sedikit lebih
banyak dari penumpang lainnya.89
Staf dari rumah sakit di Kuala Cankoi yang merawat orang-orang yang tiba pada 10 Mei
2015 mengkonfirmasi banyak yang datang dengan kondisi kesehatan buruk. Seorang pekerja
kesehatan mengatakan kepada Amnesty International para Rohingya dan Bangladesh
menderita dehidrasi, kurang gizi, bronkhitis, dan flu. Banyak dari mereka kesulitan berjalan,
hingga harus diangkat keluar perahu.90 Seorang anak lelaki Rohingya berusia 15 tahun
Wawancara di Aceh, 11 Agustus 2015, 12 Agustus 2015.
Wawancara di Aceh, 12 Agustus 2015.
85
Wawancara di Aceh, 13 Agustus 2015.
86 Wawancara di Aceh, 15 Agustus 2015.
87 Wawancara di Aceh, 12 Agustus 2015.
88 Wawancara di Aceh, 13 Agustus 2015.
89
Wawancara di Aceh, 12 Agustus 2015.
90
Wawancara di Aceh, 13 Agustus 2015. Pekerja medis mengatakan bahwa kesulitan dalam
berjalankaki disebabkan karena mereka tinggal di tempat sempit pada beberapa minggu atau bulan,
tetapi menurut UNHCR ini disebabkan oleh kekurangan gizi yang dihasilkan dalam kekurangan vitamin
83
84
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
23
mengatakan pada Amnesty International ketika perahunya merapat di Aceh, beberapa orang
tidak sadarkan diri dan yang lainnya dehidrasi; ia berkata seorang dokter merawat mereka.91
Organisasi masyarakat sipil lokal menunjukkan Amnesty International foto-foto Rohingya dan
Bangladesh, yang diambil sesaat setelah mereka tiba, yang menunjukkan puluhan orang
kekurusan, juga orang-orang yang menggunakan kantung cairan infus (intravenous).
PERDAGANGAN MANUSIA VS. PENYELUNDUPAN
Persekusi dan kekerasan yang meluas, yang membuat Rohingya melarikan diri, sebagaimana dibahas di Bab
2, telah menciptakan pasar besar bagi penyelundup orang dan membuat Rohingya rentan bagi pedagang
manusia.
Perdagangan manusia dan penyelundupan, keduanya adalah kejahatan transnasional, dilarang berdasarkan
Konvensi PBB menentang Kejahatan Terorganisir Transnasional (United Nations Convention Against
Transnational Organized Crime /Transnational Crime Convention), yang telah diratifikasi hampir semua
negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Thailand.92 Perdagangan manusia dan
penyelundupan diatur dalam dua protokol yang berbeda dalam Konvensi Kejahatan Transnasional
(Transnational Crime Convention), dan- walau terkadang sulit dibedakan dalam praktiknya- didefinisikan
sebagai fenomena yang berbeda.93
Sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 3 Protokol Perdagangan Manusia (Trafficking Protocol),
“perdagangan manusia” berisikan:
“(a) perekrutan, pengiriman, pemindahan, menyembunyikan atau menerima individu-individu;
(b) dengan cara mengancam atau penggunaan paksaan atau bentuk-bentuk kekerasan lainnya, penculikan,
penipuan, kebohongan, penyalahgunaan kekuasaan atau pemanfaatan posisi yang rentan atau pemberian
atau penerimaan terhadap orang lain;
(c) Tujuan eksploitasi, mencakup pada paling minimum, eksploitasi prostitusi terhadap seseorang atau
bentuk-bentuk lain dari eksploitasi seksual, kerja paksa, perbudakan, atau praktik-praktik yang serupa
dengan perbudakan, penghambaan atau penghilangan organ.”94
Berdasarkan Protokol Perdagangan Manusia, pihak negara wajib memidanakan pedagang manusia dan
membentuk tindakan komprehensif untuk mencegah dan memberantasnya, juga melindungi orang-orang dari
menjadi korban lagi.95 Protokol Perdagangan Manusia mensyaratkan negara “mempertimbangkan
B1
91 Wawancara di Aceh, 15 Agustus 2015.
92
United Nations Convention Against Transnational Organized Crime, [Konvensi PBB tentang Kejahatan
Terorganisir Transnasional], G.A. Res. 25, annex I, U.N. GAOR, 55th Sess., Supp. No. 49, at 44, U.N.
Doc. A/45/49 (Vol. I) (2001), berlaku sejak 29 September 2003.
93 Protocol Against the Smuggling of Migrants by Land, Sea and Air, [Protokol menentang
penyelundupan Migran melalui darat, laut dan udara], G.A. Res. 55/25, annex III, U.N. GAOR, 55th
Sess., Supp. No. 49, at 65, U.N. Doc. A/45/49 (Vol. I) (2001), berlaku sejak 28 Januari 2004 [Protokol
Penyelundupan]; Protocol to Prevent, Suppress and Punish Trafficking in Persons, Especially Women and
Children [Protokol mencegah, menekan dan menghukum perdagangan manusia, khususnya perempuan
dan anak], G.A. Res. 25, annex II, U.N. GAOR, 55th Sess., Supp. No. 49, at 60, U.N. Doc. A/55/49
(Vol. I) (2001), berlaku sejak 25 Desember 2003 [Protokol perdagangan manusia],
94 UN Office on Drugs and Crime, Legislative Guides for the Implementation of the United Nations
Convention Against Transnational Organized Crime and the Protocol Thereto [Panduang Legislatif untuk
mengimplementasikan Konvensi PBB menentang Kejahatan Terorganisir Transnasional dan Protokol
terkaitnya] 2004, hal. 268.
95
Protokol Perdagangan Manusia, Pasal. 5, 9.
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
24
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
menerapkan langkah-langkah penyediaan pemulihan fisik, psikologis and sosial bagi para korban.”96
Penyelundupan manusia, di sisi lain, dipahami sebagai transaksi berdasarkan kesepakatan; Protokol
Penyelundupan mendefinisikannya sebagai “mencari untuk mendapat, langsung ataupun tidak langsung,
keuntungan finansial atau materi lainnya, dari masuknya seseorang secara illegal ke suatu bagian negara
dimana orang tersebut bukanlah warga atau memiliki izin tinggal.”97 Mereka yang lari dari konflik atau
persekusi di berbagai belahan dunia sering menggunakan jasa penyelundup manusia untuk melintasi batas
suatu negara secara tidak resmi, ketika mereka tidak bisa menemukan rute resmi untuk mencapai negara
aman.98 Para ahli mengakui bahwa “kebanyakan pencari suaka membutuhkan jasa penyelundup, di
beberapa, jika tidak semua, tahapan perjalanan mereka.”99 Protokol Penyelundupan Orang mewajibkan
negara mencegah dan memerangi penyelundup manusia serta melindungi hak-hak orang yang
diselundupkan.100
Penyelundupan itu sendiri bukanlah pelanggaran hak asasi manusia walaupun bisa melibatkan unsur
kekerasan. Badan PBB tentang Obat-Obatan dan Kejahatan (UN Office on Drugs and Crime) mengakui
perdagangan manusia dan penyelundupan bisa timpang tindih dan perbedaan antaranya terkadang tipis.
Kriteria hukum kunci untuk membedakan antara penyelundupan dan perdagangan manusia adalah
penyelundupan melibatkan kesepakatan walaupun berjalan di kondisi yang berbahaya dan merendahkan
martabat, dan bukan untuk tujuan eksploitasi.101
Orang yang diperdagangkan atau diselundupkan bukanlah pelanggar hukum.
PERDAGANGAN MANUSIA PARA ROHINGYA
Mereka yang diwawancarai oleh Amnesty International di Indonesia telah ditelantarkan oleh
orang-orang yang mengangkut mereka. Karena perjalanan mereka tertangguhkan dalam
perjalanan dari negara keberangkatan (Myanmar atau Bangladesh) ke negara tujuan mereka,
tidaklah mungkin menyebut secara pasti bahwa mereka sedang diperdagangkan untuk kerja
paksa atau untuk jenis eksploitasi lainnya. Namun, lima faktor yang dibahas di bagian
berikutnya menunjukkan bahwa banyak - jika tidak sebagian besar - dari orang-orang
Rohingya yang tiba di Aceh pada Mei 2015 adalah korban perdagangan manusia. Seperti
yang akan dibahas di bawah ini, Amnesty International juga memiliki kekhawatiran bahwa
mungkin ada korban perdagangan manusia diantara penumpang Bangladesh.
Protokol Perdagangan Manusia, Pasal. 6(3).
Protokol Penyelundupan, Pasal. 3.
98 Dalam konteks krisis pengungsi Mediterania, misalnya, Amnesty International menganggap sebagian
besar orang yang menggunakan perahu mencapai Eropa adalah diselundupkan. Lihat Amnesty
International, Libya is Full of Cruelty: Stories of Abduction, Sexual Violence and Abuse from Migrants
and Refugees [Libya penuh dengan kekejaman: Kisah penculikan, kekerasan seksual dan penganiayaan
dari migran dan pengungsi], MDE 19/1578/2015, 2015, tersedia di
https://www.amnesty.org/en/documents/mde19/1578/2015/en/, hal. 12.
99 Sharon Pickering, “Transnational Crime and Refugee Protection,” [Kejahatan Transnasional dan
Perlindungan Pengungsi], Social Justice Vol. 34, No. 2 (2007) tersedia di
http://www.socialjusticejournal.org/archive/108_34_2/108_05Pickering.pdf, hal. 53.
100 Protokol Penyelundupan, Pasal. 2.
101
UN Office on Drugs and Crime, “Migrant Smuggling FAQs” [Tanya jawab soal penyelundupan
migran], tersedia di https://www.unodc.org/unodc/en/human-trafficking/faqs-migrantsmuggling.html#Overlaps_and_differences.
96
97
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
25
KEDEKATAN DAN PREVALENSI JARINGAN PERDAGANGAN MANUSIA
Pertama, kedekatan dan prevalensi jaringan perdagangan manusia di wilayah Asia Tenggara
ini menimbulkan kekhawatiran bahwa mereka yang mengambil orang-orang Rohingya dari
perahu, memperdagangkannya ke dalam eksploitasi buruh di darat atau di laut.
Selama beberapa tahun, industri perikanan Thailand telah terlibat dalam eksploitasi dan
penyalahgunaan yang meluas, termasuk kerja paksa dan perdagangan manusia.102 Pekerja
yang menjadi korban perdagangan dalam industri ini didominasi laki-laki dari Myanmar dan
Kamboja.103 Labour Rights Promotion Network memperkirakan bahwa 80% hingga 90%
warga Myanmar yang bekerja di sektor pengolahan hasil laut di provinsi Samut Sakhon,
Thailand, berada dalam jeratan hutang yang eksploitatif. 104 Selama beberapa tahun terakhir,
wartawan investigasi telah menemukan bukti bahwa lelaki Rohingya dijual oleh pelaku
perdagangan manusia ke kapal nelayan Thailand untuk kerja paksa, terutama jika keluarga
mereka tidak mampu membayar tebusan yang dituntut oleh pelaku perdagangan manusia. 105
Wartawan menemukan keterlibatan pejabat Thailand yang diduga memfasilitasi atau
menutup mata akan perdagangan manusia ini demi imbalan pembayaran.106 Banyaknya
kuburan orang-orang Rohingya dan Bangladesh yang ditemukan di kamp-kamp perdagangan
manusia dekat perbatasan Thailand-Malaysia pada bulan Mei 2015 memberikan bukti lebih
lanjut akan skala jaringan perdagangan manusia di wilayah Asia Tenggara ini.107
Kesaksian dari orang-orang Rohingya di Aceh menunjukkan bahwa banyak dari mereka
International Labour Organization, Employment Practices and Working Conditions in Thailand’s
Fishing Sector, 2013 [Praktik kerja dan kondisi kerja di sektor perikanan Thailand], tersedia di
http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---asia/---ro-bangkok/documents/publication/wcms_220596.pdf,
hal. ix.
103 International Labour Organization, Employment Practices and Working Conditions in Thailand’s
Fishing Sector, 2013 [Praktik kerja dan kondisi kerja di sektor perikanan Thailand], tersedia di
http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---asia/---ro-bangkok/documents/publication/wcms_220596.pdf,
hal. 30.
104
Cited in International Labour Organization, Employment Practices and Working Conditions in
Thailand’s Fishing Sector [Praktik kerja dan kondisi kerja di sektor perikanan Thailand], 2013, tersedia
di http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---asia/---robangkok/documents/publication/wcms_220596.pdf, hal. 29.
105
Jason Szep and Stuart Grudgings, “Special Report: Thai Authorities Implicated in Rohingya Muslim
Smuggling Network” [Laporan Khusus: Pihak berwenang Thailand terlibat dalam jaringan penyelundupan
Rohingya Muslim], Reuters, 17 Juli 2013, tersedia di http://www.reuters.com/article/2013/07/17/usmyanmar-exodus-specialreport-idUSBRE96G02520130717; Jason Szep and Andrew R.C. Marshall,
“Special Report – Thailand Secretly Dumps Myanmar Refugees into Trafficking Rings” [Laporan Khusus:
Thailand secara diam-diam membuang pengungsi Myanmar ke jaringan perdagangan manusia], 5
Desember 2013, tersedia di http://uk.reuters.com/article/2013/12/05/uk-thailand-rohingya-specialreport-idUKBRE9B400920131205; Emanuel Stoakes, Chris Kelly, Annie Kelly, “Sold from a Jungle
Camp to Thailand’s Fishing Industry: ‘I Saw 13 People Die’” [Dijual dari Kamp Hutan ke industri
perikanan Thailand: ‘saya lihat 13 orang meninggal’], The Guardian, 20 Juli 2015, tersedia di
www.theguardian.com/global-development/2015/jul/20/sold-from-jungle-camp-thailand-fishing-industrytrafficking.
106 Jason Szep and Stuart Grudgings, “Special Report: Thai Authorities Implicated in Rohingya Muslim
Smuggling Network” [Laporan Khusus: Pihak berwenang Thailand terlibat dalam jaringan penyelundupan
Rohingya Muslim] Reuters, 17 Juli 2013, tersedia di http://www.reuters.com/article/2013/07/17/usmyanmar-exodus-specialreport-idUSBRE96G02520130717.
107 Emanuel Stoakes, “Thailand Human Trafficking Death Toll Far Greater than Feared, Claims Rights
Group,” [Jumlah kematian di perdagangan manusia Thailand dikhawatirkan jauh lebih besar, ungkap
kelompok HAM] The Guardian, 6 Mei 2015, tersedia di http://www.theguardian.com/globaldevelopment/2015/Mei/06/thailand-human-trafficking-mass-grave-burma-rohingya-people.
102
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
26
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
menghabiskan waktu yang lama di perairan Malaysia atau perairan Thailand di dekat kamp
kerja paksa di mana kuburan massal ditemukan pada Mei 2015. Beberapa narasumber
mengatakan bahwa mereka melakukan beberapa kali perjalanan ke dan dari pulau, yang oleh
beberapa orang diidentifikasi sebagai Langkawi. Langkawi adalah nama pulau terbesar di
kepulauan Malaysia di negara bagian Kedah, tidak jauh dari perbatasan daratan antara
Malaysia dan Thailand di mana kuburan massal korban trafficking ditemukan pada Mei
2015. Seorang lelaki Rohingya yang dapat berbicara bahasa Burma, menanyakan nama
pulau tersebut pada kapten perahu, dan si kapten mengatakan bahwa pulau itu bernama
Langkawi. Lelaki itu mengatakan kepada Amnesty International: "Kami menghabiskan tujuh
hari di Langkawi – pulau itu milik Malaysia, dan dekat dengan Thailand. Kapten kapal
mengatakan kepada saya bahwa kita tidak bisa pergi ke Malaysia dan Thailand karena
pemerintah Malaysia dan Thailand saling berdebat satu sama lain." 108 Menurut lelaki
tersebut, hal ini terjadi pada April atau Mei 2015. Serupa dengan yang dikatakan lelaki
tersebut, seorang anak berusia 16 tahun di perahu yang sama mengatakan bahwa kapten
perahu berkata kepada penumpang: "Kita tidak bisa pergi ke perbatasan Thailand [Malaysia]. Ada banyak masalah disana. Kita sedang dalam masalah."109 Pernyataan awak
perahu ini merujuk pada tindakan keras regional terhadap perdagangan manusia yang
dimulai sekitar 9 Mei (seperti yang dijelaskan dalam teks dalam kotak di atas).
Sekelompok perempuan juga mengatakan kepada Amnesty International bahwa mereka
ditempatkan dalam perahu yang berlabuh di Langkawi dalam periode waktu yang sama,
meskipun tidak jelas apakah ini adalah perahu yang sama atau perahu yang berbeda dari
orang-orang yang diwawancarai lainnya. Perempuan-perempuan ini mengatakan bahwa
mereka melihat sekitar 50 perahu lain dengan ukuran yang sama seperti perahu mereka
(masing-masing berisi beberapa ratus orang), serta sebuah perahu yang sangat besar,
tingginya beberapa tingkat, semuanya berada di dekat pulau. Pada akhirnya, mereka
mengatakan, semua perahu meninggalkan Langkawi pada awal Mei kecuali perahu besar itu,
yang mereka percayai berdiam di dekat pulau.110
Laporan-laporan media sejak Juni 2015 tampaknya membenarkan pernyataan narasumber di
Aceh yang mengatakan pada Amnesty International tentang sebuah kapal yang sangat besar
yang tinggal di Langkawi setelah semua perahu lainnya pergi. Seorang pejabat polisi Malaysia
mengatakan kepada media bahwa perahu yang berisi 1.158 Bangladesh dan Rohingya telah
mendarat di Langkawi pada 10 Mei. 111 Ini satu hari setelah tanggal yang dikatakan beberapa
narasumber Rohingya pada Amnesty International bahwa mereka telah melewati perahu yang
sangat besar dekat Langkawi.
EKSPLOITASI
Sebuah tujuan eksploitatif adalah indikator kedua dari perdagangan manusia. Trafficking
Protocol (Protokol Perdagangan Manusia) tidak memberikan daftar lengkap dari semua tujuan
eksploitatif, melainkan daftar terbuka, merinci apa yang negara harus, minimal, perlakukan
Wawancara di Aceh, 14 Agustus 2015.
Wawancara di Aceh, 13 Agustus 2015.
110
Wawancara di Aceh, 16 Agustus 2015.
111 The Malaysian Insider, “Boat Used to Smuggle Rohingya to Langkawi Owned by Local Man, Say
Police” [Perahu yang digunakan untuk menyelundupkan Rohingya ke Langkawi dimiliki orang lokal, ujar
polisi], 25 Juni 2015, tersedia di http://www.themalaysianinsider.com/malaysia/article/boat-used-tosmuggle-rohingya-to-langkawi-owned-by-local-man-say-police.
108
109
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
27
sebagai eksploitasi.112 Pemukulan atau ancaman kematian untuk mendapatkan uang
tebusan bisa dianggap sebagai bentuk eksploitasi. Fakta bahwa penumpang dipukuli atau
dibunuh untuk tebusan menunjukkan bahwa tujuan mengambil orang dari perahu itu tidak
untuk memfasilitasi masuk secara tidak resmi ke suatu negara dengan imbalan pembayaran,
tapi untuk mengambil uang tebusan. Kesimpulan bahwa keuntungan finansial untuk awak
perahu tidak dari pengadaan masuk secara tidak resmi tetapi dari eksploitasi kerentanan
penumpang juga didukung oleh bukti-bukti (yang dikumpulkan oleh pemerintah, badanbadan PBB dan wartawan) dari awak perahu yang menjual beberapa orang, termasuk orang
yang tidak mampu membayar uang tebusan, untuk kerja paksa. Selain itu, pemukulan yang
hampir dilakukan secara rutin, yang disebut oleh narasumber dilakukan oleh awak perahu,
menunjukkan bahwa awak perahu mungkin telah mempersiapkan orang untuk
diperdagangkan dalam kerja paksa.
PERJALANAN BERBIAYA RENDAH ATAU GRATIS
Sebuah indikasi ketiga bahwa orang-orang Rohingya sedang diperdagangkan adalah
rendahnya biaya perjalanan. Meskipun beberapa orang mengatakan kepada Amnesty
International bahwa mereka membayar mulai dari 150.000 Myanmar Kyat (116 USD)113
untuk seorang ibu dan anak hingga 7.000 Ringgit Malaysia (1.650 USD)114 untuk satu
orang penumpang, perjalanan beberapa orang lainnya bebas biaya. Beberapa orang Rohingya
tidak membayar dimuka, dengan pengertian bahwa mereka akan membayar di Malaysia,
sedangkan orang Rohingya lainnya tak membayar sedikitpun, dan diberitahu bahwa
perjalanannya gratis. Perjalanan berbiaya rendah atau gratis ini menunjukkan bahwa awak
perahu akan menutup biaya transportasi (termasuk perahu, peralatan, bahan bakar, dan
ransum), dan membuat keuntungan dengan cara lain, kemungkinan dengan
memperdagangkan orang untuk kerja paksa atau dengan memukul penumpang sampai
keluarga mereka membayar uang untuk membebaskan mereka.
Wawancara UNHCR dengan beberapa ratus penumpang menguatkan kesaksian ini: "biaya
awal perjalanan seringkali rendah dan dalam beberapa kasus, beberapa orang digratiskan
dengan syarat bahwa mereka membayar utang dengan gaji bekerja di masa datang di
Malaysia. Mungkin ada beberapa janji-janji kerja palsu dan bahkan penawaran insentif tunai
dalam jumlah kecil. Mereka yang berubah pikiran dan meminta turun dari perahu dipaksa
untuk tetap naik. Kami mendengar bahwa ada anak-anak yang diculik dari jalanan atau saat
memancing, dan dipaksa naik ke perahu. Orang tidak menyadari bahwa mereka nanti akan
diperas di tengah perjalanan dan apa yang dimulai dengan penyelundupan akan segera
berubah menjadi perdagangan manusia." 115
PENCULIKAN
Diculik secara paksa adalah indikator keempat perdagangan manusia. Organisasi-organisasi
112 Pasal 3(a) menyatakan: “…eksploitasi prostitusi terhadap seseorang atau bentuk-bentuk lain dari
eksploitasi seksual, kerja paksa, perbudakan, atau praktik-praktik yang serupa dengan perbudakan,
penghambaan atau penghilangan organ.”
113 Wawancara di Aceh, 12 Agustus 2015.
114 Wawancara di Aceh, 14 Agustus 2015.
115 UNHCR, “Some 25,000 Risk Sea Crossings in Bay of Bengal over First Quarter, Almost Double from
Year Earlier” [Sekitar 25,000 mengambil risiko menyeberangi laut di Teluk Bengal dalam kuartal
pertama, hampir dua kali lipat tahun sebelumnya], 8 Mei 2015, tersedia di
http://www.unhcr.org/554c9fae9.html.
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
28
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
HAM telah mendokumentasikan beberapa kasus penculikan di antara orang-orang Rohingya
yang terdampar di laut pada bulan Mei 2015.116 Di Aceh, Amnesty International mendengar
ada tiga kasus dugaan penculikan - satu orang Rohingya dan dua orang Bangladesh. Seorang
anak Rohingya berusia 17 tahun yang tinggal di dekat bandara Sittwe di Myanmar
mengatakan kepada Amnesty International bahwa ia sedang dalam perjalanan mengunjungi
kerabat di kamp pengungsi internal (IDP) Sittwe ketika lima lelaki membawanya dengan
paksa ke kebun kelapa terpencil. Mereka memukulinya ketika ia mencoba melarikan diri dan
memaksanya naik ke sebuah perahu kecil, yang membawanya ke sebuah perahu besar di
mana ia ditahan untuk tebusan. Dia diculik sekitar awal Maret 2015, dan tiba di Indonesia
pada bulan Mei.117 Serupa dengan yang akan dibahas di bawah, dua migran Bangladesh
mengatakan kepada Amnesty International bahwa mereka diculik dari Teknaf.118
AWAK PERAHU YANG TERORGANISIR DENGAN BAIK
Faktor kelima yang menunjukkan bahwa orang-orang Rohingya menjadi korban jaringan
perdagangan manusia, adalah awak perahu yang terorganisir dengan baik. Kesaksian yang
dikumpulkan oleh Amnesty International menunjukkan bahwa perahu yang berisi orang-orang
Rohingya dijalankan oleh awak yang terorganisir dengan baik, didanai dan dilengkapi dengan
perangkat komunikasi dan peralatan navigasi yang baik.
Kemampuan awak perahu untuk menghindari kapal angkatan laut sangat mengejutkan.
Seorang lelaki berusia 20 tahun dari Nagir Para mengatakan bahwa kapal angkatan laut
berada cukup dekat dengannya hingga ia bisa melihat bahwa kapal itu mengibarkan bendera
Thailand, namun perahu yang ditumpanginya itu bisa lolos dari penangkapan.119 Demikian
pula, seorang lelaki berusia 48 tahun mengatakan bahwa pada beberapa titik, perahu berada
dekat dengan tiga kapal angkatan laut yang berbeda; ia secara akurat menggambarkan
mereka sebagai kapal besar, berwarna abu-abu, terbuat dari logam, dan memiliki peralatan
satelit. Lelaki ini mengenali bendera kapal angkatan laut tersebut –bendera Thailand dan
Indonesia. Dia tidak melihat kapal angkatan laut Malaysia, tapi pada satu titik kapalnya
berubah arah selama 15 hari dan awak perahu mengatakan kepadanya bahwa mereka
menghindari penangkapan oleh angkatan laut Malaysia. 120 Banyak narasumber lain
mengatakan kepada Amnesty International bahwa awak perahu mereka sering melakukan
tindakan mengelak, termasuk mengubah arah dan menuju ke laut selama berminggu-minggu,
melakukan beberapa perjalanan ke dan dari sebuah pulau dekat perbatasan Thailand dan
Malaysia (kemungkinan pulau Langkawi), serta memaksa semua penumpang pergi ke bawah
geladak ketika ada kapal angkatan laut di dekatnya.
Ada kemungkinan bahwa kemampuan awak perahu untuk menghindari deteksi pemerintah,
terkait dengan korupsi, sepengetahuan atau keterlibatan oleh pihak berwenang. Seperti yang
telah dibahas sebelumnya, pada Mei 2015, beberapa pejabat Thailand dan Malaysia telah
Human Rights Watch, Southeast Asia: Accounts from Rohingya Boat People [Asia Tenggara:
kesaksian dari manusia perahu Rohingya], 27 Mei 2015, tersedia
di http://www.refworld.org/docid/556868b94.html.
117 Wawancara di Aceh, 14 Agustus 2015.
118 Wawancara di Aceh, 15 Agustus 2015.
119 Wawancara di Aceh, 11 Agustus 2015.
120
Wawancara di Aceh, 14 Agustus 2015.
116
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
29
ditangkap atau dihukum atas dugaan keterlibatan mereka dalam perdagangan manusia.121
Bukti lebih lanjut bahwa para awak perahu ini terorganisir dengan baik adalah deskripsi
narasumber tentang penelantaran perahu secara cepat di laut.
Puluhan orang Rohingya yang berada dalam satu perahu yang sama memberikan kesaksian
konsisten tentang bagaimana awak perahu meninggalkan perahu mereka di suatu tempat di
perairan antara Malaysia dan Indonesia, hanya dua hari setelah Thailand mengumumkan
tindakan keras terhadap pelaku perdagangan manusia.122 Selama satu hari pada 9 Mei 2015,
beberapa kapal motor cepat (speedboats) datang ke perahu, dan laki-laki dengan senjata mengenakan pakaian sipil- naik ke perahu. Beberapa orang yang diwawancarai mengatakan
bahwa orang-orang itu berteriak dalam bahasa Thailand dan menembakkan senjata mereka
ke udara. Para lelaki tersebut melepas semua peralatan perahu, termasuk lampu, tali,
jangkar, peralatan navigasi, dan memberikan jatah ransum terakhir penumpang. Orang-orang
itu kemudian meninggalkan perahu dengan speedboats. Setelah matahari telah terbenam,
speedboats itu kembali dan pergi dengan awak perahu. Kepergian awak perahu menimbulkan
kepanikan di antara penumpang. Sebelum pergi, menurut beberapa narasumber, awak
perahu mengikat kemudi dan mengarahkan perahu ke Indonesia. Pada pagi hari 10 Mei,
perahu terdampar sekitar 100 meter dari pantai, dekat desa Kuala Cankoi di Aceh Utara.
PERDAGANGAN MANUSIA WARGA BANGLADESH
Dari 1.800 orang yang mendarat di Aceh pada Mei 2015, diperkirakan hampir setengahnya sekitar 800 orang - adalah warga Bangladesh,123 dan berada dalam perahu yang sama
dengan orang-orang Rohingya. Warga Bangladesh telah diberi kesempatan untuk mendaftar
ke UNHCR untuk perlindungan internasional, tetapi mereka tidak berminat melakukannya.
Pada akhir Agustus 2015, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengatakan kepada
Amnesty International bahwa lebih dari 600 warga Bangladesh telah dipulangkan, dan
sisanya sebanyak 200 orang atau lebih akan dipulangkan pada akhir 2015.124
Warga Bangladesh di Aceh ditempatkan terpisah dari Rohingya, dan meskipun Amnesty
International mengalami kesulitan mendapatkan akses penuh kepada mereka, Amnesty
International berhasil mengumpulkan tujuh125 kesaksian dari 56 orang yang tersisa di lokasi
(sekitar 280 orang lain sudah dipulangkan).
Mereka yang diwawancarai mengatakan pada Amnesty International tentang penyiksaan yang
ABC News, “Malaysia Detains 12 Police Officials in Thai Border People-Smuggling Camps Probe”
[Malaysia menahan 12 polisi di perbatasan Thailand dalam penyelidikan penyelundupan manusia di
perbatasan Thailand], 27 Mei 2015, tersedia di http://www.abc.net.au/news/2015-05-27/malaysiadetains-12-police-in-people-smuggling-camps-probe/6502596; Al Jazeera America, “Thai Police Arrest
Man Suspected of Running Deadly Jungle Camp” [Polisi Thailand menahan orang yang diduga mengelola
kamp hutan mematikan], 4 Mei 2015, tersedia di http://america.aljazeera.com/articles/2015/5/4/thaipolice-arrest-rohingya-man-suspected-of-running-deadly-jungle-camp.html
122 The Nation, “Ten-Day Deadline to Find Migrant Camps” [Batas waktu 10 hari untuk menemukan
kamp migran], 7 Mei 2015, tersedia di http://www.nationmultimedia.com/national/Ten-day-deadline-tofind-migrant-camps-30259476.html.
123 UNHCR Indonesia, Monthly Statistical Report: July 2015 [Laporan Statistik Bulanan: Juli 2015], hal.
3.
124 Wawancara di Jakarta, 24 Agustus 2015.
125
Kecuali disebutkan lain, bagian ini bersumber dari wawancara di Aceh, 15 Agustus 2015.
121
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
30
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
mereka alami dalam perjalanan menuju Indonesia.
Dua dari tujuh orang yang diwawancarai mengatakan bahwa mereka diculik dari Bangladesh.
Seorang lelaki berusia 32 tahun mengatakan bahwa dia bersama tiga temannya sedang
berjalan di jalan-jalan Teknaf, ketika sekitar 15 orang dengan revolver dan pisau panjang
memaksanya masuk ke dalam rumah dan kemudian, memaksa naik ke perahu. Seorang lelaki
berusia 35 tahun menceritakan kisah yang sama: dia berada di sebuah pasar di Teknaf ketika
dua orang dengan senjata dan lima orang lain dengan pisau panjang menculiknya,
membawanya ke sebuah rumah, dan kemudian membawanya ke perahu yang besar.
Seorang lelaki Bangladesh lainnya, berusia 21 tahun dari Dhaka, mengatakan dia dipukuli
dengan kejam di perahu besar demi tebusan. Dia sedang berjalan di pantai saat dia didekati
oleh seorang lelaki yang menawarkan untuk membawanya ke Malaysia. Setelah berdiskusi
dengan orang tuanya, dia setuju untuk membayar 230.000 Taka Bangladesh (sekitar 2.500
USD) setelah dia mencapai Malaysia. Dia melakukan perjalanan ke Cox Bazaar, dan tinggal
di sebuah rumah yang dikelola oleh empat dalal (agen). Dia dibawa ke sebuah perahu kecil,
di mana ia menunggu dengan 21 orang lainnya selama empat hari, dan kemudian dibawa ke
sebuah perahu yang lebih besar dekat Myanmar, yang pergi ke arah ke pantai Thailand. Dia
mengatakan bahwa perahunya berdiam dekat Thailand selama tujuh bulan.
Selama kurun waktu tersebut, dia berkata: "Beberapa dalal mulai memukuli penumpang
untuk memaksa mereka membayar. Mereka memukuli penumpang dua kali sehari, pada pagi
dan sore hari." Dia mengatakan kepada Amnesty International bahwa orang yang keluarganya
membayar tebusan diambil oleh speedboat dan dibawa ke Malaysia, meskipun tidak jelas apa
yang terjadi pada mereka setelah mereka mendarat.
Dia diperintahkan untuk menelpon orang tuanya; dalal mengatakan kepada orang tuanya
untuk segera mentransfer sejumlah uang, kalau tidak, dia akan dipukuli setiap hari. Dia
mengatakan kepada Amnesty International: "Saya tidak tahan dipukuli. Saya coba melompat
dari kapal satu kali - saya pikir lebih baik melompat dan dimakan oleh ikan kemudian mati,
daripada menderita karena dipukul setiap hari. Dalal mencoba menembak saya, tapi mereka
tidak berhasil." Setelah dia dibawa kembali ke perahu, dia digantung terbalik dengan tangan
terikat di belakang punggungnya, dan dipukuli selama satu jam. Lelaki itu menunjukkan
bekas luka di punggung (lihat foto terlampir) dan perutnya pada Amnesty International.
Pada akhirnya, dia dipindahkan ke perahu besar lain yang berisi sekitar 1.100 penumpang,
yang dimaksudkan untuk mendarat di Malaysia, tapi setelah 21 hari kapal kembali ke pantai
Thailand. Para awak kemudian meninggalkan perahu, yang akhirnya terdampar di Indonesia
pada Mei 2015.
Berdasarkan kesaksian-kesaksian ini, serta bukti-bukti yang diberikan oleh orang-orang
Rohingya yang berada di perahu yang sama, yang terdampar di Indonesia, Amnesty
International khawatir bahwa beberapa penumpang Bangladesh juga adalah korban
perdagangan manusia.
DIDORONG KEMBALI KE LAUT
Antara 9 Mei -ketika Arakan Project melaporkan bahwa penyelundup telah menelantarkan
beberapa perahu, meninggalkan ribuan orang terdampar di laut - dan 20 Mei 2015 - ketika
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
31
pemerintah Indonesia dan Malaysia sepakat untuk menawarkan penampungan sementara
hingga 7.000 orang- wartawan, badan-badan PBB dan organisasi HAM menyoroti bahwa
pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Thailand terlibat dalam "ping-pong maritim" kehidupan
manusia, mendorong kembali perahu dari pantai mereka. 126 Kewajiban non-refoulement yang
mengikat, yang telah dibahas sebelumnya dalam laporan ini, melarang negara melakukan
tindakan "dorong kembali (push-backs)," karena tindakan ini memiliki resiko inheren yakni
orang-orang dalam perahu tersebut dikirim ke suatu tempat di mana mereka mungkin akan
mendapat pelanggaran HAM serius.
Pada 10 Mei 2015, sebuah perahu kandas di Aceh Utara, dan 578 orang diselamatkan oleh
nelayan setempat. Pada 11 Mei, dua kapal tiba di Langkawi, Malaysia. Namun, dari 11 Mei
dan seterusnya, laporan berita mengindikasikan bahwa Indonesia, Malaysia, dan Thailand
menarik perahu keluar dari perairan mereka atau mengusir mereka. Sebagai contoh, pada 15
Mei, wartawan melaporkan bahwa perahu sebuah berwarna hijau ditarik dari perairan
Thailand oleh otoritas Thailand hanya untuk dicegat oleh otoritas Malaysia, yang kemudian
menarik perahu itu ke Indonesia.127 Angkatan Laut Indonesia juga dituduh menarik perahu
yang berisi sekitar 400 Rohingya kembali ke laut, di lepas pantai Aceh.128
Seorang Rohingya di Aceh mengatakan kepada Amnesty International bahwa perahunya telah
diusir oleh sebuah kapal pemerintah. Seorang anak lelaki berusia 17 tahun mengatakan
bahwa pada Mei 2015 perahu itu dicegat oleh Angkatan Laut Indonesia, yang memberi
mereka makanan dan menarik mereka menuju Malaysia, tapi mereka kemudian perahu
mereka ditangkap oleh angkatan laut Malaysia, yang menarik mereka kembali ke
Indonesia.129 Anak ini kemungkinan menumpang perahu yang membawa 800-900
penumpang yang dilaporkan UNHCR sebagai mengikuti lintasan identik: intersepsi oleh
Indonesia, penyediaan makanan dan air, penarikan perahu menuju Malaysia, dan kemudian
pengusiran oleh pemerintah Malaysia.130 Perahu ini akhirnya terdampar di Aceh pada 15
Mei 2015, di mana nelayan setempat menyelamatkan 820 penumpangnya.131
PENCARIAN DAN PENYELEMATAN YANG TIDAK MEMADAI
Informasi yang tersedia tentang operasi pencarian dan penyelamatan yang berlangsung di
Teluk Bengal dan Laut Andaman pada Mei dan Juni 2015 menunjukkan bahwa operasi ini
tidak memadai, meskipun kelangkaan informasi yang tersedia secara umum membuat
Aubrey Belford dan Reza Munawir, “Migrants in ‘Maritime Ping-Pong’ as Asian Nations Turn Them
Back” [Migran di ‘ping-pong maritim’ ketika negara-negara asia mendorong mereka kembali], Reuters,
16 Mei 2015, tersedia di www.reuters.com/article/2015/05/16/us-asia-migrantsidUSKBN0O105H20150516.
127 UNHCR, South-East Asia: Mixed Maritime Movements [Asia Tenggara: Perpindahan Campuran di
Laut], Juni 2015, tersedia di http://www.refworld.org/docid/55e6c1994.html, p. 4.
128 Amnesty International, “South East Asia: Immediately Step up Efforts to Rescue Thousands at Grave
Risk at Sea” [Asia Tenggara: Secepatnya meningkatkan upaya untuk menyelamatkan ribuan orang
dengan risiko besar di lautan], 13 Mei 2015, tersedia di
https://www.amnesty.org/en/latest/news/2015/05/south-east-asia-immediately-step-up-efforts-to-rescuethousands-at-grave-risk-at-sea/.
129 Wawancara di Aceh, 14 Agustus 2015.
130 UNHCR, South-East Asia: Mixed Maritime Movements [Asia Tenggara: Perpindahan Campuran di
Laut], Juni 2015, tersedia di http://www.refworld.org/docid/55e6c1994.html, hal. 3.
131
UNHCR, South-East Asia: Mixed Maritime Movements [Asia Tenggara: Perpindahan Campuran di
Laut], Juni 2015, tersedia di http://www.refworld.org/docid/55e6c1994.html, hal. 4.
126
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
32
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
penilaian menyeluruh dan independen berjalan sulit. UNHCR melaporkan bahwa angkatan
laut Bangladesh dan Myanmar menyelamatkan ratusan penumpang pada tanggal 12, 21, dan
29 Mei. Amerika Serikat (AS) melakukan misi bersama pengintaian udara di atas Laut
Andaman dengan Malaysia (antara 25 Mei dan 13 Juni) dan Thailand (antara 30 Mei dan 11
Juni). Negara-negara lain memberikan bantuan; misalnya sebuah kapal Turki bergabung
dalam upaya pencarian dan penyelamatan,132 Namun, UNHCR tidak mencatat adanya
penyelamatan apapun di laut oleh pemerintah Indonesia, Malaysia dan Thailand.133
Orang-orang Rohingya yang berbicara dengan Amnesty International tidak diselamatkan oleh
kapal pemerintah, melainkan oleh nelayan Aceh. Banyak diantara mereka yang diwawancarai
menumpang sebuah perahu yang mengangkut 578 orang Rohingya dan Bangladesh (difoto
oleh perwakilan nelayan pada bulan Agustus 2015, lihat foto terlampir), yang terdampar di
Aceh pada 10 Mei.134
Mengingat bahwa hanya ada total lima pendaratan perahu yang dikonfirmasi di Indonesia dan
Malaysia pada Mei 2015, Amnesty International khawatir bahwa lebih banyak nyawa yang
hilang di laut pada tahun 2015 dari perkiraan UNHCR yakni 370 orang.135 Orang Rohingya
yang berbicara dengan Amnesty International mengatakan bahwa mereka melihat banyak
perahu lain yang penuh dengan migran dan pencari suaka. Seorang lelaki berusia 25 tahun
dari Sittwe bersaksi melihat 30 perahu yang bersimpang jalan dengan kapalnya dalam dua
hari terakhir dari perjalanan bulan Mei. 136 Seorang anak berusia 16 tahun dari Maungdaw
mengatakan bahwa ia berada di sebuah perahu yang melakukan perjalanan bersama-sama
dengan 11 perahu lain, dan bahwa ia juga melihat perahu-perahu lainnya, kadang-kadang
dua perahu per hari.137 Seorang anak berusia 15 tahun mengatakan kepada Amnesty
International bahwa perahunya berjalan bersama dengan delapan perahu lain, yang
semuanya sangat penuh sesak.138
KESIMPULAN
Mengingat bukti rinci dalam bab ini, ada kemungkinan bahwa banyak -jika tidak sebagian
besar- dari orang-orang Rohingya yang terdampar di Aceh pada Mei 2015 adalah korban
perdagangan manusia.
Pemerintah Asia Tenggara harus bekerja sama untuk menyusun langkah-langkah efektif
untuk memerangi perdagangan manusia dan melindungi orang-orang dari pelanggaran HAM
oleh para pedagang dan penyelundup manusia. Hal ini memerlukan, antara lain, bahwa
132 Hurriyet Daily News, “Turkish Military Ship Joins Efforts to Reach Rohingya Muslims” [Kapal Militer
Turki bergabung dalam upaya menemukan Rohingya muslim], 19 Mei 2015, tersedia di
http://www.hurriyetdailynews.com/turkish-military-ship-joins-efforts-to-reach-rohingyamuslims.aspx?PageID=238&NID=82639&NewsCatID=510&_sm_au_=iVVqDWZr7wV0sk0Q.
133 Kecuali disebutkan lain, paragraf ini bersumber dari UNHCR, South-East Asia: Mixed Maritime
Movements [Asia Tenggara: Perpindahan Campuran di Laut], Juni 2015, tersedia di
http://www.refworld.org/docid/55e6c1994.html, hal. 3-6.
134 UNHCR, South-East Asia: Mixed Maritime Movements [Asia Tenggara: Perpindahan Campuran di
Laut], Juni 2015, tersedia di http://www.refworld.org/docid/55e6c1994.html, hal. 3.
135
UNHCR, South-East Asia: Mixed Maritime Movements [Asia Tenggara: Perpindahan Campuran di
Laut], Juni 2015, tersedia di http://www.refworld.org/docid/55e6c1994.html, hal. 1, 6.
136 Wawancara di Aceh, 13 Agustus 2015.
137 Wawancara di Aceh, 13 Agustus 2015.
138 Wawancara di Aceh, 15 Agustus 2015.
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
33
pemerintah terus memantau dan mencari perahu dan kamp-kamp di mana manusia
kemungkinan diperdagangkan, dijadikan tebusan dan mengalami pelanggaran HAM serius.
Negara-negara Asia Tenggara juga harus membantu pemulihan fisik dan psikososial orangorang Rohingya dan Bangladesh yang menjadi korban perdagangan manusia.139
Sementara negara-negara Asia Tenggara harus menyelidiki dan mengadili mereka yang
terlibat dalam perdagangan manusia di pengadilan yang adil, negara-negara ini juga harus
memastikan bahwa inisiatif terhadap para pelaku perdagangan manusia tidak membahayakan
kehidupan orang-orang di laut, dan tidak membuat orang-orang terjebak di Myanmar dan
Bangladesh tanpa jalan keluar. Ini sangat penting, mengingat bukti dari Mei 2015 bahwa
pelaku perdagangan manusia menelantarkan penumpang mereka di laut segera setelah
langkah-langkah penegakan hukum diumumkan. Untuk memastikan bahwa tindakan
terhadap pelaku perdagangan manusia tidak membuat orang terpapar bahaya lebih besar,
diperlukan koordinasi antar pemerintah negara untuk memastikan bahwa langkah-langkah
yang diterapkan di suatu tempat tidak menyebabkan orang-orang terpapar risiko di tempat
lain. Memang semua negara di Asia Tenggara secara hukum wajib memastikan bahwa
tindakan terhadap perdagangan manusia tidak secara sengaja atau tidak sengaja melanggar
HAM yang telah ditetapkan.140
Dalam hal ini, komponen penting dari respon anti perdagangan manusia yang efektif di Asia
Tenggara adalah operasi pencarian dan penyelamatan yang terkoordinasi, dikombinasikan
dengan mekanisme yang efektif untuk mengidentifikasi tempat disembarkasi aman secara
cepat. Pencarian dan penyelamatan tidak hanya penting bagi kemanusiaan; ia juga
merupakan kewajiban hukum internasional di bawah Konvensi PBB tentang Hukum Laut,
yang Bangladesh, Indonesia, Malaysia, dan Thailand merupakan negara pihak.141 Agar
efektif, penyelamatan harus diikuti dengan prosedur pendaratan yang aman dan dapat
diprediksi.142 Mengingat tidak adanya data yang tepat akan jumlah korban jiwa selama krisis
Mei 2015, negara-negara di kawasan tersebut juga harus membentuk mekanisme
akuntabilitas untuk mendukung dan meneliti kepatuhan akan kewajiban pencarian dan
penyelamatan, serta metode pelacakan dan pengidentifikasian orang-orang yang mati atau
hilang di laut.
Protokol Perdagangan Manusia, Pasal. 6, 9.
Anne T. Gallagher, The International Law of Human Trafficking [Hukum Internastional Perdagangan
Manusia], Cambridge University Press, 2010, hal. 455-456.
141 UN Convention on the Law of the Sea [Konvensi Hukum Laut PBB], UN Doc. A/CONF.62/122, Pasal.
98(2): “Setiap negara pantai harus mempromosikan pembentukan, pengoperasian dan pemeliharaan
jasa pencarian dan penyelamatan yang memadai dan efektif terkait keselamatan di laut dan di atas laut,
ketika situasi membutuhkan, dengan cara pengaturan kerja sama regional yang saling menguntungkan
dengan negara tetangga untuk tujuan tersebut.”
142 UNHCR, The Treatment of Persons Rescued at Sea: Conclusions and Recommendations From Recent
Meetings and Expert Roundtables Convened by UNHCR [Perlakuan terhadap Orang yang diselamatkan di
Laut: Kesimpulan dan Rekomendasi dari pertemuan dan diskusi ahli baru-baru ini yang diselenggarakan
oleh UNHCR], 28 November 2007, tersedia di http://www.refworld.org/docid/4782500d2.html, hal. 3-4;
UNHCR, “IMO Maritime Safety Committee, 95th Session: Remarks by José Riera, Special Adviser
Reporting to the Assistant High Commission for Protection” [Komite Keselamatan Maritim IMO, sessi ke95: Pidato oleh José Riera, Penasihat Khusus yang melapor ke Asisten Komisioner Tinggi untuk
Perlindungan], 9 Juni 2015, tersedia di
http://www.imo.org/en/MediaCentre/HotTopics/seamigration/Documents/UNHCR%20final%20%20riera.p
df.
139
140
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
34
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
Musim berlayar di Asia Tenggara kembali berlanjut saat laporan ini diselesaikan pada
Oktober 2015, setelah musim hujan berakhir. UNHCR mengeluarkan peringatan pada
Agustus bahwa keberangkatan melalui jalur laut diduga akan berlanjut setelah cuaca
membaik. Mengingat perhatian internasional tentang perdagangan manusia, ada
kemungkinan bahwa pelaku perdagangan akan mengubah pola mereka dan menggunakan
rute baru untuk menghindarkan diri dari pengawasan.
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
© Amnesty International
Perahu ini mencapai Indonesia
pada 10 Mei 2015, mengangkut
578 penumpang Rohingya dan
Bangladesh, yang diselamatkan
oleh nelayan lokal. Seorang
pemuda lokal yang terlibat
penyelamatan mengatakan perahunya sangat bau sehingga para
penyelamat tidak
bisa masuk.
© Amnesty International
Para Rohingya mendemonstrasikan
bagaimana mereka harus duduk
berdesakan di dalam perahu.
Ketika mereka mencapai
Indonesia, banyak yang
mengalami kesulitan berjalan
akibat harus mempertahankan
posisi sempit selama bermingguminggu hingga berbulan-bulan
dan pada akhirnya, harus diangkat keluar perahu.
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
© Amnesty International
Seorang anak perempuan Rohingya mempraktikan keahlian
menyulam di sebuah tempat
penampungan di Aceh. Rohingya,
yang merupakan Muslim, adalah
kelompok minoritas keagamaan
dan etnis di Myanmar yang
didominasi beragama Buddha.
Mereka kebanyakan tinggal di
Negara Bagian Rakhine di Myanmar. Pihak berwenang pemerintah menyangkal keberadaan
Rohingya, dan merujuk mereka
sebagai Bengali, menunjukkan
mereka adalah migran dari negara tetangga, Bangladesh.
Amnesty International Oktober 2015
© Amnesty International
Seorang pria Bangladesh berusia
21 tahun menunjukkan luka yang ia
dapat dari pemukulan terus menerus
di atas perahu besar yang berlokasi
di dekat pesisir Thailand selama
tujuh bulan. Ia mengatakan pada
Amnesty International: “Saya tidak
tahan dipukuli. Pernah saya mencoba
loncat dari perahu- saya berpikir
lebih baik loncat dan dimakan ikan
lalu mati, daripada menderita akibat
pemukulan setiap hari.”
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
© Amnesty International
Seorang pemuda Rohingya
menunjukkan luka yang ia dapat
dari serangan pisau yang terjadi
di Myanmar pada tahun 2012,
ketika kekerasan sektarian pecah
antara kaum Muslim dan Buddha.
Rohingya menjadi korban penganiayaan aktor negara dan nonnegara selama puluhan tahun.
© Amnesty International
Tiga anak laki-laki Rohingya di
Aceh. Ada sejumlah besar
anak-anak diantara Rohingya
yang mencapai Indonesia pada
Mei 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
© Amnesty International
© Amnesty International
Lorong penampungan perempuan di
tempat penampungan pencari suaka
Rohingya di Aceh. Indonesia layak
mendapat pujian karena mengakomodasi ratusan Rohingya pada
Mei 2015. Namun secara jangka
panjang, komunitas internasional
harus menyediakan pendanaan
yang memadai agar komunitas
penjamu (seperti Aceh) dan organisasi internasional bisa memenuhi
kebutuhan dasar Rohingya serta
juga warga lokal.
Pria Rohingya dan seorang anak-anak
di sebuah tempat penampungan di
Aceh, Indonesia. Ratusan Rohingya
Aceh kini menunggu permohonan
suaka dan pemindahan ke negara
ketiganya agar diproses.
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
35
BAB 4: TEMPAT PENAMPUNGAN
SEMENTARA DI INDONESIA
“Kami berikan apa yang kami punya.”
Warga Indonesia mendeskripsikan perlakuan orang-orang lokal terhadap Rohingya yang diselamatkan dekat Kuala Cankoi pada 10
Mei 2015
Pada Mei 2015, Indonesia mengizinkan mendaratnya sekitar 1.800 orang di Aceh, yang
telah terdampar di laut dalam tiga perahu. Dari kelompok ini, UNHCR meregistrasi sekitar
1.000 pencari suaka dari Myanmar,143 dan 115 dari mereka telah berbicara dengan Amnesty
International. Penumpang lainnya dinyatakan sebagai migran Bangladesh, dan pemulangan
mereka secara bertahap dijalankan dengan bantuan IOM. Per 10 Agustus 2015, Rohingya
yang baru saja tiba diakomodasikan di lima lokasi di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara: 315
di Lhokseumawe, 102 di Kuala Langsa, 159 di Lhok Bani, 331 di Bayeun, dan 43 di
Medan.144
RESPON AWAL YANG MENGAGUMKAN
Indonesia harus dipuji dalam peran yang diperankannya dalam mengakomodasi ratusan
Rohingya rentan yang tiba pada Mei 2015.
Sepengetahuan Amnesty International tidak ada dari mereka yang dipulangkan ke Myanmar.
Ini merupakan pemenuhan kewajiban kebiasan hukum internasional Indonesia untuk
menghormati prinsip non-refoulement [perlindungan dari pemulangan paksa], yang melarang
pemindahan individu ke Negara atau yurisdiksi lain yang mana mereka akan menghadapi
risiko pelanggaran atau penyelewengan serius hak asasi manusia. Lebih lanjut, pemerintah
pusat telah berkomitmen menampung para Rohingya hingga Mei 2016, dan telah
menyediakan sumber daya untuk memberikan akomodasi dan membantu memenuhi
kebutuhan pokok mereka.
143
3.
UNHCR Indonesia, Monthly Statistical Report: July 2015, [Laporan Statistik Bulanan: Juli 2015] hal.
UNHCR, Current Population of Rohingya Boat Arrivals in Aceh and North Sumatera, [Populasi terkini
Kedatangan Perahu Rohingya di Aceh dan Sumatera Utara], 10 Agustus 2015. Pada 20 Oktober,
UNHCR menyampaikan ke Amnesty International bahwa dari kira-kira 1,000 Rohingya yang datang ke
Aceh, hanya 640 masih berada.
144
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
36
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
Secara khusus, respons rakyat Aceh sangatlah mengagumkan dalam beberapa hal. Warga
lokal menyelamatkan Rohingya dan menyediakan mereka penampungan, makanan, dan
pakaian kering. Pemerintah lokal Aceh membantu dalam bantuan kemanusiaan, dan
beberapa pihak berwenang lokal turut mengambil langkah-langkah bantuan tambahan.
Misalnya, pihak berwenang di Lhokseumawe mendonasikan lahan untuk mengakomodasi
ratusan orang yang dating dalam sebuah penampungan komunitas yang terintegrasi
(intergrated community shelter, ICS) di Blang Adoe, yang dibangun untuk mengakomodasi
Rohingya. Juga, banyak organisasi masyarakat sipil dari seantero wilayah turut bekerja
membantu kebutuhan pokok Rohingya, seperti papan, pangan, air, kesehatan, dan
pendidikan.
Kemudian, walau pemerintah pusat Indonesia hanya mengizinkan perahu mendarat sejak 20
Mei, pihak berwenang lokal di Aceh mengizinkan 578 orang mendarat pada 10 Mei (dengan
bantuan warga lokal), dan nelayan Aceh menyelamatkan 820 penumpang pada 15 Mei dan
409 orang pada 20 Mei.145 Di Kuala Cankoi, warga lokal yang turut membantu aksi
penyelamatan pada 10 Mei mengatakan 10 perahu nelayan digunakan untuk membawa
orang-orang tersebut ke daratan: “Kami membantu mereka berdasarkan rasa kemanusiaan,
bukan agama. Kami melihat mereka dalam kondisi sangat buruk,”146 ungkap mereka. Staf di
sebuah organisasi masyarakat sipil Indonesia memuji respon warga lokal yang mereka
saksikan di Kuala Cankoi, mengatakan” Warga lokal membantu para pengungsi seperti
mereka membantu keluarga mereka sendiri.”147 Staf tersebut mengatakan beberapa
persahabatan terjalin antara Rohingya dan warga Kuala Cankoi, yang mana para Rohingya
ditampung selama beberapa minggu.
Memang, beberapa Rohingya yang diwawancara menyatakan rasa terima kasih atas perlakuan
yang mereka terima setelah tiba di Aceh, seorang perempuan mengatakan: “Mereka berbuat
banyak untuk kami- mereka memberikan kami baju, makanan, dan air. Bagaimana saya bisa
mengucapkan terima kasih untuk ini? Mereka bahkan tidak kenal kami.”148 Seorang anak
laki-laki berusia 17 tahun dari Sittwe mengatakan saat perahu mereka merapat ke daratan
pertama kali, mereka takut terhadap warga lokal, namun “mereka menunjukan
keramahtamahan, kami senang- mereka bantu kami begitu banyak.” Seorang perempuan dari
Kuala Cankoi terus mengunjunginya di penampungan Blang Adoe, membawakannya hadiah
seperti buah leci: “Saya memanggilnya Ibu,’” ungkapnya.149
Respon rakyat Aceh ini mengejutkan mengingat konteks lokal. Area ini digunjang konflik
yang menghancurkan dari 1989 hingga 2004, yang mana pihak berwenang Indonesia
menjalankan operasi militer untuk menekan tuntutan separatisme; antara 10.000 hingga
30.000 orang terbunuh dalam konflik, kebanyakan warga sipil.150 Aceh juga hancur porakporanda akibat tsunami Desember 2004, yang mengakibatkan ratusan ribu orang meninggal,
UNHCR, South-East Asia: Mixed Maritime Movements [Asia Tenggara: Perpindahan Maritim
Campuran] Juni 2015, tersedia ditersedia di http://www.refworld.org/docid/55e6c1994.html, p. 3-5.
146
Wawancara Aceh, 13 Agustus 2015.
147 Wawancara Aceh, 14 Agustus 2015.
148 Wawancara Aceh, 14 Agustus 2015.
149 Wawancara Aceh, 14 Agustus 2015.
150 Amnesty International, Time to Face the Past: Justice for Past Abuses in Indonesia’s Aceh Province,
[Waktunya menghadapi masa lalu: Keadilan bagi pelanggaran masa lampau di Provinsi Aceh, Indonesia]
ASA 21/001/2013, tersedia di https://www.amnesty.org/en/documents/ASA21/001/2013/en/, hal. 9.
145
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
37
hilang atau terusir dari asalnya.151 Sebelas tahun kemudian, Aceh tetap menjadi salah satu
provinsi termiskin di Indonesia, dengan tingkat putus sekolah dan pengangguran pemuda
yang tinggi.152 Sebuah organisasi masyarakat sipil memperkirakan pengangguran lokal di
Aceh sekitar 40%, dengan banyak orang Aceh meninggalkan Indonesia untuk mencari
pekerjaan di Malaysia.153
KEHAWATIRAN JANGKA PANJANG
Secara jangka panjang, Amnesty International memiliki kekhawatiran mengenai situasi
Rohingya di Aceh.
Pemerintah pusat belum mengkonfirmasi apakah Rohingya yang tiba sejak Mei 2015 akan
terus diizinkan tinggal melebihi waktu yang ditetapkan pada Mei 2016, walaupun penentuan
permohonan suaka dan pemindahan ke Negara ketiga (resettlement) akan memakan waktu
bertahun-tahun. Berdasarkan prinsip non-refoulement, situasi buruk di Myanmar bisa
mendorong Indonesia untuk menawarkan perlindungan jangka panjang kepada para
Rohingya.
Lalu, pemberian akomodasi para Rohingya di Aceh masih terkonseptualisasi sebagai respon
yang reaktif dan darurat. Pada Agustus 2015, pihak berwenang lokal mengatakan mereka
kesulitan membuat rencana bagi warga Rohingya karena pemerintah pusat belum
meninformasikan mereka tentang jangka waktu.154 Lalu, walau ada kelompok kerja dengan
berbagai pemangku kepentingan di wilayah tersebut,155 seorang pejabat tinggi mengatakan
pada Amnesty International, dengan syarat dijadikan anonim, bahwa hanya sedikit terjadi
koordinasi peran dan tanggungjawab.
Kurangnya kejelasan ini bisa disebabkan tidak adanya kerangka hukum operasional yang
jelas untuk pengungsi dan pencari suaka di Indonesia. Konstitusi Indonesia mengakui hak
mencari suaka,156 dan sejak 2011, pihak berwenang telah menyusun Peraturan Presidan
tentang pencari suaka dan pengungsi.157 Sumber yang dapat dipercaya, yang telah membaca
rancangan yang paling akhir, per April 2015, mengatakan rancangannya positif.158
Sementara itu, mereka yang bekerja terkait pengungsi di negara tersebut, beroperasi
Abdur Rofi, Shannon Doocy, dan Courtland Robinson, “Tsunami Mortality and Displacement in Aceh
Province, Indonesia,” [Moralitas Tsunami dan Perpindahan paksa di Provinsi Aceh, Indonesia], Disasters
30.3 (2006): hal. 340.
152 UN Indonesia, “Where We Work: Aceh,” [Di mana kami bekerja: Aceh] 2015, tersedia di
http://www.un.or.id/en/where-we-work/geographic-focus/aceh.
153 Wawancara Aceh, 13 Agustus 2015.
154
Wawancara Aceh, 11 Agustus 2015.
155 Keputusan Bupati Aceh Utara No. 100/855/2015. Tentang pembentukan Taskforce pencari suaka di
Kabupaten Aceh Utara.
156 Republik Indonesia, Undang-Undang dasar 1945 Republik Indonesia, sebagaimana diamendemen
oleh Amendemen pertama tahun 1999, Amendemen kedua tahun 2000, Amendemen ketiga tahun
2001, dan Amendemen kedua tahun 2002, tersedia di
http://www.wipo.int/wipolex/en/text.jsp?file_id=200129, Pasal. 28(G).
157 Suaka, “Legal Framework and Role of UNHCR to RSD,” [Kerangka kerja dan peran UNHCR dalam
RSD] 9 Juli 2015, tersedia di http://suaka.or.id/2015/07/09/legal-framework-and-role-of-unhcr-torsd/#more-474.
158 Sumber-sumber ini berbicara dalam kondisi anonimitas. Wawancara di JakartaWawancara di Jakarta,
22 dan 24 Agustus 2015.
151
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
38
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
berdasarkan Peraturan tahun 2010, yang mana semua pengungsi dan pencari suaka
berdasarkan dugaan, diperlakukan sebagai “migran ilegal” dan pada masa-masa awal
menjadi subjek penahanan wajib.159
Kapasitas UNHCR, yang menentukan laju pemindahan ke negara ketiga (resettlement) dan
penentuan status pengungsi (refugee status determination, RSD), merupakan penyebab
kekhawatiran lainnya. Di Indonesia, yang belum meratifikasi Konvensi Pengungsi, UNHCR
bertanggungjawab penuh untuk RSD; ini adalah negara dengan populasi 250 juta jiwa
tersebar di ribuan pulau, dan saat ini menjamu 13.170 “orang-orang yang menjadi
perhatian”160 (persons of concern) bagi UNHCR.161 Badan ini harus melakukannya dengan
anggaran 4,2 juta USD (untuk 2015), dan staf berjumlah 68 orang.162 Waktu rata-rata untuk
menyelesaikan prosedur RSD pada tahun 2012 berkisar 34-47 bulan.163 Tidak ada data yang
tersedia secara publik tentang waktu rerata antara keputusan positif RSD dan keberangkatan
ke negara ketiga, namun UNHCR melaporkan 898 orang meninggalkan Indonesia untuk
pemindahan ke negara ketiga pada 2013, dan 838 keberangkatan pada 2014.164
HIDUP DALAM PENANTIAN
Selain investigasi di Aceh, Amnesty International melakukan riset di kelompok lain di Indonesia. Delegasi
Amnesty International bertemu dengan 34 pengungsi dan pencari suaka di Cisarua dan Jakarta yang yang
telah berada di Indonesia selama beberapa bulan dan beberapa tahun, dan tinggal di penampungan yang
dikelola oleh lembaga-lembaga kemanusiaan. Mereka berasal dari berbagai negara, termasuk Afghanistan,
Ethiopia, Iran, Myanmar, Pakistan, dan Somalia. Di Kupang, delegasi Amnesty International melakukan
wawancara kelompok dengan 30 orang Afghan dan tambahan dua wawancara mendalam dengan orang
Afghanistan.
Pernyataan-pernyataan mereka membuktikan penderitaan yang dialami oleh mereka yang hidupnya dalam
penantian di Indonesia, ketika mereka menunggu keputusan penentuan status pengungsi (refugee status
Republik Indonesia, Indonesia: Peraturan Direktorat Jenderal Imigrasi No. IMI.1489.UM.08.05 tahun
2010 Tentang Penanganan Imigran Ilegal, 17 September 2010, tersedia di
http://www.refworld.org/docid/3ed8eb5d4.html.
160 Orang yang menjadi perhatian “berisikan secara umum lima kategori orang yang jatuh dalam
kompetensi Komisioner Tinggi. Kelompok ini adalah (a) mereka yang masuk dalam kategori definisi
Statuta/ Konvensi 1951 sehingga berhak menikmati serangkaian fungsi dari kantor tersebut; (b) mereka
yang berada dalam kategori lebih luas namun diakui negara berhak atas perlindungan dan bantuan
kantor; (c) mereka yang Komisioner Tinggi berikan "itikad baik kantor ", terutama namun bukan saja
untuk memfasilitasi bantuan kemanusiaan; (d) pengungsi yang kembali, yang mana Komisioner Tinggi
bisa menyediakan bantuan reintegrasi dan perlindungan lainnya; dan (e) orang tanpa kewarganegaraan
yang bukan pengungsi yang mana UNHCR memiliki mandat terbatas untuk membantunya.” UNHCR,
Protection of Persons of Concern to UNHCR Who Fall Outside the 1951 Convention: A Discussion Note,
[Perlindungan orang yang menjadi perhatian UNHCR yang jatuh diluar Konvensi 1951: Sebuah catatan
diskusi] 2 April 1992, tersedia di http://www.unhcr.org/3ae68cc518.html#_ftn1, paragraf. 11.
161 UNHCR Indonesia, Monthly Statistical Report: July 2015, [Laporan Statistik Bulanan: Juli 2015] p.
1.
162 Wawancara di Jakarta, 24 Agustus 2015.
163 Jesuit Refugee Services, Sebuah Penarian: Ruang Perlindungan di Malaysia, Thailand, Indonesia,
Kamboja dan Filipina [The Search: Protection Space in Malaysia, Thailand, Indonesia, Cambodia and the
Philippines], 2012, tersedia di http://www.jrs.net/Assets/Regions/APR/media/files/The_Search.pdf, hal.
34.
164 UNHCR Indonesia, Monthly Statistical Report: July 2015, [Laporan Statistik Bulanan: Juli 2015] p.
5.
159
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
39
determination, RSD) dan pemindahan ke negara ketiga, karena mereka tidak diizinkan bekerja dan tidak
menerima bantuan sosial.165
Mereka yang diwawancara sering mengekspresikan keputusasaan mereka karena harus selama berbulanbulan - dan terkadang tahunan- mereka menanti keputusan RSD dan pemindahan ke negara ketiga. Seorang
lelaki Afghanistan yang menerima ancaman mati dari Taliban pergi ke Indonesia tahun 2012. Dia
mengatakan pada delegasi Amnesty International: “Saya melarikan diri dari kematian kilat, namun di sini
saya mati hari demi hari.”166 Dia menerima keputusan RSD positif, namun sebulan setelah wawancara
pemindahan negara ketiga dengan Kedutaan besar Australia, staf kedutaan meneleponnya dan mengatakan
ia ditolak. Dia mengatakan pada Amnesty International: “Aku belum tahu alasannya apa.” Seorang lelaki
Afghanistan, peternak berusia 30 tahun, juga mengatakan permohonan pemindahan negara ketiganya ditolak
oleh Australia dengan alasan yang tidak jelas baginya. Dia mengatakan telah menerima surat dengan
serangkaian pasal hukum, tidak ada yang lain.167 Orang-orang ini percaya permohonan pemindahan negara
ketiga mereka akan dikirim ke kedutaan negara lain, dan sedang menunggu keputusan.
Penantian ini sangat meletihkan bagi semua pencari suaka, namun terutama tak tertahankan bagi anak
muda. Seorang lelaki muda Afghanistan berusia 17 tahun yang tumbuh di Quetta, Pakistan menceritakan
pada Amnesty International: “Pada fase kehidupan kami saat ini, seharusnya kami mengembangkan keahlian
kami, kami seharusnya mendapatkan pendidikan namun yang bisa kami lakukan hanya makan dan tidur.[…]
Semua berhenti. Yang berlalu hanya hidup saya.”168 Seorang perempuan berusia 30 tahun yang pernah
menjadi akuntan mengatakan: “Bagiku, ini seperti mengulang dari kelas nol. Saya telah kehilangan semua
energi dan potensi saya. Kami tidak bisa melanjutkan pendidikan kami.”169 Seorang pemuda Afghanistan di
Kupang mengutarakan kefrustrasiannya dan teman-temannya atas keterpaksaan tidak bisa melakukan apaapa; tidak ada yang bisa mereka lakukan di tempat mereka tinggal, dan mereka tidak diizinkan pergi: “Kami
merasa depresi dan sangat sedih- kami tidak bisa pergi keluar, dan tidak ada aktivitas.”170
Secara khusus, Amnesty International khawatir terhadap kebutuhan psikososial anak-anak pengungsi dan
pencari suaka yang tinggal di penampungan yang dikelola lembaga kemanusiaan. Delegasi Amnesty
International berjumpa dengan sejumlah anak yang kesehatan kejiwaannya tampak sangat rapuh.
Misalnya, anggota delegasi berbicara dengan anak lelaki tanpa pendampingan berusia 15 tahun dari
Mogadishu, Somalia. Pada tahun 2012 keluarganya lari ke Yemen setelah dua pamannya dibunuh oleh Al
Shabab. Pada bulan Maret 2014 ia kembali dari pekerjaannya mencuci mobil dan menemukan rumahnya
telah hancur; tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan keluarganya. Dia mengatakan penyeludup
membawanya ke Indonesia melalui Malaysia. Dia berkata: “Pada malam hari saya hanya menangis dan
bermimpi buruk.”171
Anak lelaki tanpa pendampingan berusia 15 tahun lain mengatakan dia hidup tuna wisma selama tiga bulan
Suaka, “Refugees and Asylum Seekers in Indonesia,” [Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia] 6
Juli 2015, tersedia di http://suaka.or.id/2015/07/06/refugees-and-asylum-seekers-in-indonesia/#more415.
166 Wawancara di Cisarua, 19 Agustus 2015.
167 Wawancara di Kupang, 18 Agustus 2015.
168 Wawancara di Jakarta, 20 Agustus 2015.
169 Wawancara di Jakarta, 19 Agustus 2015.
170 Wawancara di Kupang, 22 Agustus 2015.
171 Wawancara di Jakarta, 20 Agustus 2015.
165
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
40
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
ketika pertama datang ke Indonesia, hingga dia mendengar adanya penampungan yang dikelola sebuah
lembaga kemanusiaan. Dia mengatakan: “Saya telah tinggal di penampungan selama dua minggu dan ini
lebih baik dari sebelumnya, namun saya terus membayangkan masa lampau, saya tidak bisa menghapusnya
dari pikiran saya.” Ketika ditanya soal masa depannya dia menjawab: “Saya sudah kehilangan harapan.”172
Ketika ditanya pertanyaan yang sama, seorang anak lelaki yatim piatu Tamil dari Sri Lanka berusia 15 tahun
hanya menggelengkan kepala, berkata: “Ibuku, bapakku.” Dia melihat orangtuanya terbunuh tahun 2009
ketika sebuah bom menghancurkan rumah mereka.173
Penyebab kekhawatiran lainnya adalah memenuhi kebutuhan Rohingya yang baru saja datang
di Aceh, hingga mereka dipindahkan ke negara ketiga. Di satu sisi, sebagaimana diketahui
oleh para Rohingya, Aceh memiliki tingkat pengangguran tinggi. Beberapa yang diwawancara
oleh Amnesty International mengatakan mereka khawatir, jika diizinkan bekerja, mereka tidak
bisa menyokong diri mereka sendiri. Seorang lelaki berusia 22 tahun berkata: “Saya
bersyukur bisa berada di Indonesia. Namun warga setempat sendiri pergi ke Malaysia untuk
bekerja, jadi saya tidak merasa bisa menyokong keluarga saya.”174 Di sisi lain, jika Rohingya
terus diberi bantuan papan dan pangan, warga lokal bisa cemburu. Seorang perempuan Aceh
dilaporkan mengeluh pada pekerja organisasi non-pemerintah (Ornop) bahwa tingkat
kehidupan di Penampungan Komunitas Terintegrasi Blang Adoe lebih baik daripada orang
lokal.175
Amnesty International memiliki kekhawatiran kebutuhan dasar Rohingya di beberapa lokasi
di Aceh tidak terpenuhi. Delegasi memperhatikan standar buruk sanitasi, kurangnya
perlindungan dari elemen luar, serta fasilitas masak yang tidak bersih. Rohingya di beberapa
lokasi mengeluhkan kualitas makanan. Dukungan psikososial tampaknya minim, terutama
untuk lelaki dan anak lelaki, serta tiadanya penerjemah membuat penyediaan jasa tersebut
menjadi sulit.
Sebagian besar Rohingya yang baru saja tiba adalah anak-anak; dari populasi sekitar 950
orang, 521 – atau 55% – adalah anak-anak, dan 328– atau 34% – adalah anak tanpa
pendampingan atau anak yang terpisah dari keluarganya.176 Walau tempat para Rohingya
tinggal di Aceh secara resmi tidak disebut fasilitas tahanan, dalam praktik perpindahan
penghuni dibatasi dan mereka bisa dianggap ditahan. Amnesty International khawatir akan
berlangsungnya penahanan atas anak, karena tahanan tidak pernah menjadi kepentingan
terbaik bagi mereka.177 Efek jangka panjang penahanan imigrasi bagi anak cukup dikenal
luas; dalam salah satu penelitian, sepertiga anak yang ditahan di Australia mengalami
Wawancara di Jakarta, 21 Agustus 2015.
Wawancara di Jakarta, 20 Agustus 2015.
174 Wawancara Aceh, 14 Agustus 2015.
175 Wawancara Aceh, 13 Agustus 2015.
176 UNHCR, Current Population of Rohingya Boat Arrivals in Aceh and North Sumatera , [Populasi terkini
Kedatangan Perahu Rohingya di Aceh dan Sumatera Utara] 10 Agustus 2015.
177 Konvensi Hak Anak, UNTS, vol. 1577, p. 3 (20 November 1989), Pasal. 3(1); Komite Hak Anak
PBB, Laporan 2012, hari diskusi umum tentang hak anak dalam konteks migrasi internasional, Februari
2013, paragraf. 78, tersedia di
www2.ohchr.org/english/bodies/crc/docs/discussion2012/2012CRC_DGDChildrens_Rights_InternationalMigration.pdf.
172
173
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
41
gangguan kesehatan mental sehingga membutuhkan dukungan psikiater.178
Amnesty International juga khawatir dengan keselamatan Rohingya di Aceh. Seorang lelaki
Rohingya memberitahu Amnesty International bahwa gerombolan warga lokal memasuki
wilayah mereka untuk merampok dan memukuli para Rohingya.179 Banyak orang
mengeluhkan tentang staf keamanan di wilayah para Rohingya diakomodasi. Petugas
keamanan dituduh melakukan penganiayaan dan intimidasi, dan petugas polisi lelaki lokal
dituduh melakukan perogohan badan secara tidak senonoh kepada pencari suaka Rohingya
perempuan.180 Kemudian, orang yang tinggal di lokasi yang dikunjungi Amnesty International
tampak tidak terlindungi dengan layak, dari jangkauan penyelundup dan pedagang manusia
yang ingin mengambil keuntungan dari mereka, yang putus asa dan tidak sabar dengan
kondisi kehidupan mereka, untuk segera mencapai Malaysia.
Beberapa minggu setelah penelitian Amnesty International ke penampungan Blang Adoe di
Aceh, ada pemberitaan tentang pemukulan dan pemerkosaan Rohingya oleh warga lokal.
Menyusul tuduhan pemerkosaan tersebut, termasuk terhadap seorang perempuan berusia 14
tahun, lebih dari 200 Rohingya meninggalkan lokasi tersebut namun akhirnya kembali.
Ketika laporan ini sedang diselesaikan pada pertengahan Oktober 2015, polisi lokal
mengatakan mereka sedang menginvestigasi laporan ini.181
KURANGNYA DUKUNGAN REGIONAL DAN INTERNSIONAL
Dukungan regional dan internasional pada masa dan setelah krisis di laut pada Mei 2015
tidaklah cukup. Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (Association of Southeast Asian
Nations, ASEAN) menggelar beberapa pertemuan multilateral semasa dan setelah krisis,
namun gagal mengambil tindakan cepat dan koheren. 182 UNHCR mengajukan permohonan
pendanaan 13 Juta USD untuk menangani krisis, namun hingga akhir Agustus 2015,
permohonan ini hanya didanai sebanyak 20%.183 Walau Australia memberikan 749.000 USD
untuk permohonan UNHCR,184 Australia tidak menggelar sedikitpun dari kekuatan lautnya
yang besar untuk membantu pencarian dan penyelamatan. Kemudian, Australia menolak
Australian Human Rights Commission, The Forgotten Children: National Inquiry into Children in
Immigration Detention, [Anak-anak yang terlupakan: Penyelidikan nasional terhadap anak di tahanan
imigrasi] 2014, tersedia di
https://www.humanrights.gov.au/sites/default/files/document/publication/forgotten_children_2014.pdf.
179 Wawancara Aceh, 14 Agustus 2015.
180 Wawancara di Jakarta, 24 Agustus 2015.
181
Associated Press, “Alleged Rapes Spur Rohingya Upheaval in Indonesia Camp” [Tuduhan
pemerkosaan mengakibatkan gejolak Rohingya di Kamp Indonesia], The Irrawaddy, 30 September 2015,
tersedia di http://www.irrawaddy.org/asia/alleged-rapes-spur-rohingya-upheaval-in-indonesia-camp.html.
182 Amnesty International, “South East Asia: Inaction Paves the Way for Future Refugee Disaster,” [Asia
Tenggara: Tidak adanya tindakan akan membuka jalan bagi bencana pengungsi di masa depan] 2 Juli
2015, tersedia di https://www.amnesty.org/en/latest/news/2015/07/south-east-asia-inaction-paves-theway-for-future-refugee-disaster/; Mong Palatino, “ASEAN’s Response to Rohingya Crisis Falls Short,”
[Respon ASEAN terhadap krisis Rohingya masih kurang] The Diplomat, 2 Juni 2015, tersedia di
http://thediplomat.com/2015/06/aseans-response-to-rohingya-crisis-fallsshort/?_sm_au_=iVV9zrkprV9LjbDP.
183 UNHCR, “UNHCR Urges States to Help Avert Bay of Bengal Boat Crisis in Coming Weeks,” [UNHCR
mendesak negara agar membantu menghindari krisis perahu Teluk Bengal dalam minggu-minggu ke
depan] 28 Agustus 2015, tersedia di http://www.unhcr.org/55e063359.html.
184
UNHCR, South-East Asia: Mixed Maritime Movements, [Asia Tenggara: Perpindahan Campuran di
Laut] Juni 2015, tersedia di http://www.refworld.org/docid/55e6c1994.html, hal. 7.
178
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
42
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
menerima perpindahan sebagai negara ketiga atas Rohingya yang tiba di Indonesia pada Mei
2015,185 atau mencabut kebijakannya yang menghentikan menerima pemindahan pengungsi
yang mendaftar dengan UNHCR- Indonesia setelah 1 Juli 2014.186 Mirip dengannya, India,
yang kekuatan angkatan lautnya terlibat dalam operasi penyelamatan Rohingya di Teluk
Bengal di masa lampau,187 tidak mengambil peran dalam krisis Mei 2015. Tidak juga Cina,
yang telah membangun kekuatan angkatan lautnya di Teluk Bengal dan Laut Andaman.188
KESIMPULAN
Indonesia layak mendapatkan pengakuan untuk responnya atas kedatangan Rohingya pada
Mei 2015. Sebagaimana dibahas dalam bab ini, pihak berwenang Indonesia telah
mencurahkan sumber daya mereka dan bekerja sama dengan IOM, UNHCR dan masyarakat
sipil, bekerja untuk penghormatan HAM dan pemenuhan kebutuhan dasar mereka.
Namun, untuk respon jangka panjang yang memadai, komunitas Internasional harus
mematuhi prinsip berbagi tanggung jawab yang tersirat dalam Konvensi Pengungsi, dan
menyediakan pendanaan yang cukup agar komunitas tuan rumah (seperti Aceh) dan lembaga
internasional, bisa memenuhi kebutuhan para Rohingya dan juga warga lokal. Sebagai bagian
dari respon yang memadai, permohonan pendanaan regional UNHCR sebesar 13 Juta USD
harus dipenuhi. Sebagai tambahan, komunitas internasional harus meningkatkan alokasi
perpindahan negara ketiga bagi pengungsi Rohingya, termasuk bagi anak tanpa
pendampingan, dan Australia harus mengizinkan permohonan pemindahan pengungsi yang
terdaftar di Indonesia. ASEAN dan negara-negara Asia Pasifik- seperti Australia, Cina, dan
India – sebagaimana juga Amerika Serikat, yang sudah memberikan komitmen bantuan
sumber daya- harus menyediakan bantuan teknis untuk membantu pencarian dan
penyelamatan, serta membantu pendanaan agar menjamin berlangsungnya penerimaan
secara kemanusiaan atas mereka yang baru saja mendarat.
Selanjutnya, Indonesia harus menegaskan bahwa Rohingya di Aceh tetap diizinkan tinggal
melebihi Mei 2016, dalam rangka memberikan waktu yang cukup untuk memproses
permohonan suaka dan pemindahan negara ketiga. Indonesia juga perlu terus
mengembangkan kerangka kerja operasional yang jelas bagi pengungsi dan pencari suaka di
negeri tersebut.
IOM dan UNHCR harus terus bekerjasama dengan pihak berwenang Indonesia untuk
menyediakan alternatif atas penahanan bagi Rohingya yang baru tiba di Aceh, termasuk bagi
Shalailah Medhora, “‘Nope, Nope, Nope’: Tony Abbott Says Australia Will Take No Rohingya
Refugees,” [“Tidak, tidak, tidak”: Tony Abbot berkata Australia tidak akan mengambil pengungsi
Rohingya, The Guardian, 21 May 2015, tersedia di
http://www.theguardian.com/world/2015/may/21/nope-nope-nope-tony-abbott-says-australia-will-take-norohingya-refugees.
186 Kedutaan Besar Australia di Thailand, “Changes to Resettlement Another Blow to People Smugglers,”
[Perubahan atas pemindahan negara ketiga pukulan baru bagi pedagang manusia], 18 November 2014,
tersedia di http://thailand.embassy.gov.au/bkok/PR2014_resettlement_people_smugglers.html.
187 K. Yhome, “Rohingyas Adrift, Far From the Shores of Asia’s Conscience,” [Rohingya terombangambing, jauh dari daratan kesadaran Asia] The Wire, 21 Mei 2015, tersedia di
http://thewire.in/2015/05/21/rohingyas-adrift-far-from-the-shores-of-asias-conscience-2149/.
188 Namrata Goswami, “China’s Second Coast: Implications for Northeast India,” [Pantai kedua Cina:
Implikasi bagi Timur Laut India] Institute for Defence Studies and Analysis, 19 Juni 2014, tersedia di
http://www.idsa.in/idsacomments/ChinasSecondCoast_ngoswami_190614.html.
185
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
43
anak-anak tanpa pendampingan. Badan-badan tersebut juga harus menjamin keamanan
Rohingya di Aceh, termasuk dengan memastikan pelatihan dan pengawasan yang layak atas
petugas keamanan dan polisi, menginvestigasi tuduhan tindakan yang salah, dan
meningkatkan jumlah petugas keamanan perempuan.
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
44
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
BAB 5: KESIMPULAN DAN
REKOMENDASI
KESIMPULAN
Dalam beberapa tahun terakhir, puluhan ribu orang yang putus asa telah melakukan
perjalanan berbahaya dengan perahu di Teluk Bengal dan Laut Andaman. Mereka yang
banyak melarikan diri adalah warga Rohingya, populasi Muslim teraniaya dari Myanmar, yang
terus mengalami diskriminasi dan pelanggaran HAM yang luas. Mengingat skala dan tingkat
keparahan pelanggaran HAM di Myanmar, Amnesty International menganggap bahwa
kebanyakan orang Rohingya yang berada di luar negaranya kemungkinan besar adalah
pengungsi.
Pelaku penyelundupan dan perdagangan manusia yang kejam telah mengeksploitasi
kerentanan dan keputusasaan warga Rohingya. Banyak dari mereka yang melarikan diri
Myanmar dengan perahu pada tahun 2015 hanya mendapatkan mimpi buruk. Mereka
mengalami penganiayaan mengerikan di tangan awak perahu - termasuk pembunuhan,
pemukulan, dan pemukulan untuk tebusan - dan disekap selama beberapa minggu atau
bulan dalam kondisi tidak manusiawi dan merendahkan derajat manusia.
Perjalanan mengerikan ini bahkan menjadi lebih berbahaya pada Mei 2015, setelah tindakan
keras pemerintah Thailand untuk memberantas perdaganganan manusia, awak perahu
meninggalkan perahu di perairan terbuka. Ribuan pengungsi dan migran terdampar di laut
selama berminggu-minggu, dan akhirnya diizinkan ditampung sementara oleh Indonesia dan
Malaysia.
Dengan berakhirnya musim hujan dan antisipasi keberangkatan manusia perahu dalam
perjalanan berbahaya yang akan mulai lagi pada bulan Oktober 2015, Amnesty International
menyerukan pada pemerintah untuk mengambil tindakan segera untuk mengatasi krisis
pengungsi dan perdagangan manusia di Asia Tenggara. Myanmar harus menghentikan
diskriminasi terhadap Rohingya dan memberikan mereka akses yang sama terhadap hak-hak
kewarganegaraan dan perlindungan yang sama di bawah hukum. Pemerintah Asia Tenggara
dan Selatan -terutama Bangladesh, Indonesia, Malaysia, dan Thailand - harus bekerja sama
untuk menyusun langkah-langkah efektif untuk memerangi perdagangan manusia dan
melindungi orang dari pelanggaran HAM oleh para pedagang dan penyelundup manusia.
Sangat penting bagi pemerintah Asia Tenggara untuk belajar dari krisis 2015 Mei untuk
mencegah krisis HAM lainnya di laut. Mereka juga harus memastikan bahwa inisiatif
terhadap para pelaku perdagangan manusia tidak membahayakan kehidupan manusia di
lautan, dan tidak menjebak orang di Myanmar dan Bangladesh tanpa cara melarikan diri.
Amnesty International menyerukan kepada negara-negara Asia Tenggara untuk memastikan
bahwa dalam setiap upaya penegakan hukum terhadap para pelaku perdangan manusia,
pemerintah melakukan pemantauan dan identifikasi terus menerus untuk menyelamatkan
korban perdagangan manusia, dan melakukan operasi pencarian dan penyelamatan yang
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
45
efektif ditambah dengan prosedur pendaratan yang aman dan dapat diprediksi. Semua
korban perdagangan manusia harus diberikan bantuan yang layak.
Negara yang menjadi tuan rumah, termasuk Indonesia, harus menghormati larangan nonrefoulement dan tidak memindahkan individu ke negara atau wilayah lain di mana mereka
akan menghadapi risiko nyata pelanggaran HAM atau kekerasan serius. Indonesia harus terus
mengembangkan kerangka hukum dan operasional yang jelas untuk semua pengungsi dan
pencari suaka di negara ini dan bekerja sama dengan lembaga-lembaga internasional dan
masyarakat sipil untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Amnesty International juga
mendesak masyarakat internasional untuk memberikan bantuan teknis, dukungan dana, dan
komitmen pemindahan ke negara ketiga kepada Asia Tenggara.
REKOMENDASI
UNTUK PEMERINTAH MYANMAR
Menghentikan kekerasan aparat keamanan terhadap orang-orang Rohingya dan
melindungi Rohingya dari kekerasan oleh aktor non-negara seperti para rahib;

Memastikan Rohingya memiliki akses yang sama akan hak-hak kewarganegaraan
berdasarkan kriteria objektif yang sesuai dengan prinsip non-diskriminasi, termasuk dengan
mengubah Undang-Undang Kewarganegaraan 1982 (1982 Citizenship Act);

Memastikan bahwa warga Rohingya memiliki perlindungan hukum yang sama tanpa
diskriminasi dan menghapus semua pembatasan yang bersifat diskriminatif atas kebebasan
bergerak di negara bagian Rakhine;

Melakukan investigasi independen, imparsial dan efektif atas semua insiden kekerasan
sektarian, termasuk kekerasan di negara bagian Rakhine pada tahun 2012, dan mengadili
dengan pengadilan yang adil semua orang yang diduga bertanggung jawab atas kejahatan
atau provokasi kebencian rasial atau agama yang merupakan hasutan untuk melakukan
diskriminasi, permusuhan atau kekerasan;


Mencabut UU Pernikahan Khusus Perempuan Buddha (Buddhist Women’s Special
Marriage Law) dan UU Hukum Konversi Agama dan (Religious Conversion Law) dan
mengubah UU Kontrol Kesehatan Populasi (Population Control Healthcare Law) dan UU
Monogami (Monogamy Law) agar sejalan dengan hukum dan standar HAM internasional
UNTUK PEMERINTAH INDONESIA
Membiarkan Rohingya untuk tetap tinggal di negara itu hingga permohonan pengajuan
suaka dan pemindahan ke negara ketiga mereka selesai diproses;

Mempublikasikan dan menerapkan rancangan Peraturan Presiden tentang pencari suaka
dan pengungsi dan mengembangkan kerangka hukum operasional yang jelas untuk pencari
suaka dan pengungsi;


Memberikan bantuan yang tepat untuk semua pencari suaka dan pengungsi untuk
memastikan bahwa kebutuhan dasar mereka terpenuhi;

Benar-benar menginvestigasi tuduhan pemerkosaan dan pemukulan di penampungan
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
46
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
warga Rohingya di Blang Adoe;
UNTUK PEMERINTAH INDONESIA, MALAYSIA DAN THAILAND

Menghormati prinsip-prinsip non-refoulement (tidak memulangkan paksa);

Meratifikasi Konvensi Pengungsi dan menjamin akses ke prosedur penentuan status
pengungsi (RSD);

Memastikan bahwa individu tidak dikriminalisasi, ditahan atau dihukum semata-mata
karena cara kedatangan mereka di sebuah negara;
Mempertimbangkan untuk memperluas akses bagi alur migrasi reguler, seperti migrasi
untuk tujuan reunifikasi keluarga dan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja;

Bekerja sama untuk menempatkan langkah-langkah efektif untuk memerangi
perdagangan manusia dan melindungi orang-orang dari pelanggaran HAM oleh para pedagang
dan penyelundup manusia. Hal ini memerlukan antara lain, sistem untuk memantau kapal di
perairan teritorial dan di laut lepas, untuk mengidentifikasi dan menyelamatkan korban
perdagangan manusia atau lainnya yang sedang mengalami pelanggaran HAM serius;

Mengembangkan operasi pencarian dan penyelamatan terkoordinasi di Teluk Bengal dan
Laut Andaman, dengan prosedur pendaratan yang aman dan dapat diprediksi, dan bekerja
sama dengan lembaga-lembaga internasional dan organisasi-organisasi kemanusiaan untuk
memastikan orang-orang yang baru mendarat mendapat penerimaan manusiawi;


Menetapkan mekanisme akuntabilitas untuk mendorong dan mengawasi kepatuhan
terhadap kewajiban pencarian dan penyelamatan, dan berkomitmen untuk melaksanakan
penyelidikan imparsial dan independen untuk setiap kegagalan dalam melindungi kehidupan
di laut dan untuk bekerja sama dengan penyelidikan tersebut;
Menyelidiki dan membawa mereka yang bertanggung jawab, yang terlibat dalam, atau
memfasilitasi perdagangan manusia ke hadapan pengadilan, dan membantu pemulihan fisik
dan psikososial korban perdagangan manusia;

Memastikan bahwa setiap tindakan terhadap pelaku penyelundupan dan perdagangan
manusia dilakukan melalui langkah-langkah penegakan hukum, yang diatur oleh hukum dan
standar HAM internasional, dan bahwa hal itu tidak membahayakan kehidupan para
pengungsi dan migran di laut, atau tidak menjebak orang-orang di Myanmar dan Bangladesh
tanpa jalan keluar;


Bekerja sama untuk mengembangkan sistem pelacakan dan identifikasi pengungsi dan
migran yang mati atau hilang di laut;
UNTUK PEMERINTAH BANGLADESH

Menghormati prinsip-prinsip non-refoulement;

Memberikan bantuan yang tepat untuk korban perdagangan manusia yang dipulangkan;
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
47
Bekerja sama dengan lembaga-lembaga internasional dan organisasi-organisasi
kemanusiaan untuk memastikan bahwa kebutuhan dasar Rohingya terpenuhi;

UNTUK PEMERINTAH AUSTRALIA

Mengubah kebijakan non-resettlement (tidak lagi menerima pemindahan ke negara
ketiga) bagi pengungsi yang terdaftar di UNHCR-Indonesia setelah 1 Juli 2014;
UNTUK IOM AND UNHCR
Memastikan pelatihan dan pengawasan yang tepat bagi staf keamanan dan polisi di
Indonesia;

Benar-benar menyelidiki tuduhan kesalahan yang dilakukan oleh staf keamanan dan
polisi dan memastikan jumlah staf keamanan perempuan yang memadai di fasilitas
penahanan di Indonesia;

Terus bekerja dengan pihak berwenang Indonesia untuk memberikan alternatif untuk
penahanan, termasuk untuk anak-anak yang tak memiliki pendamping, seraya memastikan
keselamatan mereka;

UNTUK ASEAN
Mendukung negara dalam menyusun langkah-langkah bersama yang efektif dan
terkoordinasi untuk memerangi perdagangan manusia dan melindungi orang-orang dari
pelanggaran HAM oleh para pedagang dan penyelundup manusia. Memastikan bahwa setiap
tindakan terhadap pelaku penyelundupan dan perdagangan manusia dilakukan melalui
langkah-langkah penegakan hukum, yang diatur oleh hukum dan standar HAM internasional,
dan bahwa hal itu tidak membahayakan kehidupan para pengungsi dan migran di laut;

Mendukung negara dalam mengembangkan operasi pencarian dan penyelamatan
terkoordinasi di Teluk Bengal dan Laut Andaman, dengan prosedur pendaratan yang aman
dan dapat diprediksi;

UNTUK KOMUNITAS INTERNASIONAL
Memberikan bantuan dan peralatan teknis untuk membantu operasi pencarian dan
penyelamatan di Teluk Bengal dan Laut Andaman;

Meningkatkan pendanaan untuk UNHCR, termasuk dengan memenuhi permohonan
regional sebesar 13 juta USD untuk merespon dan mencari solusi bagi krisis maritim yang
terjadi baru-baru ini;

Meningkatkan pendanaan untuk mendukung baik pengungsi dan masyarakat lokal yang
menjadi tuan rumah dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka akan tempat tinggal,
makanan, air, pendidikan, dan kesehatan;

Menyediakan dana yang memadai untuk Indonesia, Malaysia dan Thailand untuk
memastikan penerimaan manusiawi bagi orang-orang yang baru mendarat; dan


Meningkatkan angka pemindahan ke negara ketiga bagi pengungsi dari Indonesia khususnya untuk anak-anak yang tak memiliki pendamping.
Indeks: ASA 21/2574/2015
Amnesty International Oktober 2015
48
Perjalanan Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
Amnesty International Oktober 2015
Indeks: ASA 21/2574/2015
IT
IS BETTER
LEBIH
BAIK
TO
LIGHT A CANDLE
MENYALAKAN
LILIN DARIPADA
THAN
TO CURSE
MENGUTUK
THE
DARKNESS
KEGELAPAN
CONTACT US
HUBUNGI
KAMI
JOIN THE
CONVERSATION
IKUT
DALAM
PERCAKAPAN
[email protected]
www.facebook.com/AmnestyGlobal
+44 (0)20 7413 5500
@AmnestyOnline
Perjalanan
Mematikan
Krisis Pengungsi dan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara
Pada bulan Mei 2015 tiga perahu berisi 1,800 perempuan,
laki-laki, dan anak-anak mendarat di Aceh, Indonesia. Kebanyakan penumpang tersebut adalah Rohingya Muslim, sebuah
kelompok minoritas agama dan etnis dari Myanmar.
Mereka yang tiba telah melewati berminggu-minggu bahkan
berbulan-bulan di laut, dalam perahu yang penuh sesak, dikontrol oleh pedagang manusia yang kejam dan penyelundup yang
keji. Laporan ini mencakup kesaksian para Rohingya tentang
kondisi mengejutkan dan penganiayaan hak asasi manusia
yang mereka derita di perahu selama berminggu-minggu hingga
berbulan-bulan sebelum berakhir, termasuk pembunuhan dan
pemukulan ketika mereka disekap untuk diminta tebusan.
Perahu-perahu yang mencapai Aceh merupakan bagian dari puluhan perahu yang telah ditelantarkan di laut oleh awak mereka
setelah Thailand mengumumkan razia pemberantasan perdagangan manusia pada awal bulan Mei 2015. Setelah mendapat
kritik secara internasional, Indonesia dan Malaysia mengizinkan
orang-orang tersebut mendarat, namun hanya sementara hingga
Mei 2016. Indonesia telah memberikan dukungan yang sangat
diperlukan dan bekerja sama dengan kelompok masyarakat sipil
lokal dan badan-badan internasional untuk memenuhi kebutuhan dasar para Rohingya namun masa depan mereka tetap
tidak menentu.
Musim berlayar Asia Tenggara berlanjut ketika laporan ini diselesaikan pada Oktober 2015, setelah musim monsoon berakhir.
Pemerintah, khususnya Indonesia, Malaysia dan Thailand, harus
mengambil tindakan darurat untuk mengatasi krisis pengungsi
dan perdagangan manusia Asia Tenggara. Pemerintah di wilayah
tersebut harus mengambil tindakan terkoordinasi melawan
perdagangan manusia dengan cara yang tidak menempatkan
nyawa atau hak asasi manusia seseorang dalam bahaya. Komunitas internasional harus memberikan bantuan teknis, dukungan
pendanaan dan komitmen pemindahan ke negara ketiga pada
tingkat yang bermakna.
Indeks: ASA 21/2574/2015
Oktober 2015
amnesty.org
Fly UP