...

Sekilas Tentang Bentuk Umpatan Dalam Bahasa Indonesia

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Sekilas Tentang Bentuk Umpatan Dalam Bahasa Indonesia
2nd International Seminar on Quality and Affordable Education (ISQAE 2013)
Sekilas Tentang Bentuk Umpatan Dalam Bahasa Indonesia
Bambang Sumadyo
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Indraprasta PGRI, Jalan Nangka 58 C Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Indonesia
Email : [email protected]
Abstrak
Mengumpat berarti melontarkan kata-kata negatif dan cenderung mendepersonifikasikan seseorang. Umpatan mempunyai nilai rasa
yang cenderung menyamakan atau memberlakukan seseorang dengan/ seperti sesuatu (misalnya binatang) dan lebih
mengedepankan kekurangan seseorang. Umpatan dalam bahasa Indonesia dapat berbentuk sebuah kata, frase, dan kalimat. Bentukbentuk tersebut biasanya digunakan dalam keadaan yang membangkitkan emosi seseorang. Akan tetapi, ada juga umpatan yang
dipergunakan untuk menjalin ”keharmonisan” sebuah proses komunikasi.
Kata kunci: bentuk umpatan
PENDAHULUAN
Sebagian judul di atas penulis ambil dari sebuah sinetron yang setiap hari disiarkan di salah satu stasiun TV
swasta. Sebenarnya masih ada yang lain, seperti pemuda madesu, dasar pengérétan, anak bau amis, dan lain-lain.
Paling tidak, kata-kata seperti itu saat ini sangat sering digunakan dalam komunikasi lisan sehari-kari. Bentuk seperti
itu dalam bahasa Indonesia disebut dengan bentuk umpatan. Bentuk umpatan ini sering kali kita dengar dalam
pergaulan sehari-hari, baik dalam media elektronik maupun dalam kehidupan praktis sehari-hari.
Bentuk umpatan dalam bahasa Indonesia cukup heterogen. Ada yang pendek, sedang, dan panjang (kata,
frase, dan kalimat). Selain untuk mengklasifikasikan bentuk umpatan yang ada, penulis juga ingin melihat apakah
bentuk ini selalu digunakan saat seseorang dalam keadaan marah?
PEMBAHASAN
Pada awal pembahasan, akan dideskripsikan beberapa hal menurut sumber yang terkait, seperti hakikat kata,
frase, kalimat, dan umpatan (mengumpat).
Kata (Kridalaksana, 2008: 110) adalah 1) morfem atau kombinasi morfem yang oleh para bahasawan dianggap
sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas, 2) satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri,
terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem, dan 3) satuan terkecil dalam sintaksis yang berasal dari leksem
yang telah mengalami proses morfologis.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:633):
Kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan
dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa dapat juga diartikan sebagai morfem atau kombinasi
morfem yang oleh kebahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk
yang bebas atau satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri.
Kata adalah morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat
diujarkan sebagai bentuk yang bebas (Kamus Linguistik,98:2001). Apa–apa yang dilahirkan oleh ucapan
(KUBI,526:2007). Kata adalah kumpulam bunyi ujaran yang mengandung arti. Di dalam bahasa tulis, kata
dinyatakan sebagai susunan huruf–huruf abjad yang mengandung arti dan sangat jelas (EYD,21:2003). Satuan bebas
terkecil yang memiliki makna (Chaer,163:2003).
Ramlan (1983:138) merumuskan frase sebagai satuan gramatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih dan tidak
melampaui batas fungsi, misalnya buku baru, mahasiswa Unindra, kampus baru saya, besar-kecil, dan sebagainya.
Mengumpat berasal dari kata dasar umpat yang artinya perkataan keji (kotor dan sebagainya), yang diucapkan
karena marah (jengkel, kecewa dan sebagainya), cercaan, makian dan sesalan (KBBI,1526:2008).
Mengumpat berarti mengeluarkan umpatan memburuk-burukkan orang mengeluarkan kata- kata keji (kotor)
karena marah (jengkel, kecewa dan sebagainya). Mengumpat adalah memburuk–burukkan orang, memfitnah,
mencerca, mencela keras, mencomel, memaki, mengutuki orang karena merasa diperlakukan kurang baik
(KUBI,1336:2007).
Chaer (2003:240) mengatakan kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang
biasanya berupa klausa, dilengkapi konjungsi jika diperlukan, disertai dengan intonasi final. Alwi (2000:315)
menambahkan bahwa unsur wajib sebuah kalimat adalah subjek (S) dan predikat (P).
Setelah melakukan pengamatan terhadap data yang terkumpul dapat dideskripsikan bahwa bentuk umpatan
dalam bahasa Indonesia cukup bervariasi, meliputi (berbentuk) kata, frase, dan (penggalan) kalimat.
197
2nd International Seminar on Quality and Affordable Education (ISQAE 2013)
Umpatan Berbentuk Kata
1. Nama Binatang
1.
babi (ngepet)/ bapet—ibab---bilu (babi lu)
2.
anjing---anying—(n)jing---anjrit---kirik---asu
3.
monyet---nyet----nyemot---kunyuk---nyuk
4.
bangsat---sat
5.
buaya
6.
kerbau (kebo)
7.
jerapah
8.
sapi
9.
bajingan
10.
kampret
11.
(kutu) kupret
12.
bagong
13.
kambing---wedus
2. (Kekurangan/ Ciri/ kondisi) Fisik Seseorang
1.
hitam---item---keling
2.
pesek
3.
jangkung
4.
gendut—ndut---gendas--gembrot
5.
kerempeng--ceking
6.
pincang
7.
budeg/ tuli/ congek
8.
buta
9.
dower
10.
caplang
11.
tembem
12.
kribo
13.
botak
14.
merongos---tongos
15.
buncit
16.
buluk
17.
autis
18.
kontet—bogel--bantet
19.
bengek
20.
stres
21.
ingusan
22.
idiot
3. Nomina
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
4. Adjektif
1.
2.
3.
4.
ember
dodol
najis (tra lala)--najong
tahi---tai---tokai
“alat vital”
jablay(i)--- pecun --- lonte--- perek
pembokat--jongos
playboy
playgirl
okem
setan/ iblis
bego
goblog (k)
parah
lelet/ lemot/ lambreta
198
2nd International Seminar on Quality and Affordable Education (ISQAE 2013)
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
5. Verba
1.
2.
3.
4.
5.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
lebai (y)
cerewet
kere
katro
banci
jutek
nora
ndeso
brengsek
pengecut
sarap
konyol
matre
sialan
dongo---dungu
sotoi(y)
tengek/ tengik
kismin—miskin---gembel---marjinal
5L-- letih,lesu,lemah,lebar,lebai (y)
gembel
udik
bloon---oon---oneng
penakut—cemen
tolol
bolot
pengok
sableng
sinting--- gila--- gelo---orgil---pe’a--- miring
ganjen---lenjeh
rebek
senga---sepa
jijai (jijik)
ngemeng
ngocol
nyebelin
mampus---modar
klepto
Umpatan Berbentuk Frase
pemuda madesu
anak bau amis
omdo (omong doang)
ojan (orang gak jelas)
tablo (tampang bloon)
telmi (telat mikir)
masteng (mas-mas) tengil
males (manusia lesbi)---lesbong
lola (loading lama)
kuper (kurang pergaulan)
alay (anak lebai(y))
amis (anak miskin)
jabluk (jablai) buluk)
gaptek (gagap teknologi)
badan gajah
banyak bacot
kecoa bunting
199
2nd International Seminar on Quality and Affordable Education (ISQAE 2013)
18.
19.
Anak kurang ajar
dari Hongkong
1.
2.
3.
4.
Umpatan Berbentuk (Penggalan) Kalimat
babi lu
setan kau
anjing lu
Hadiah dari Hongkong
Dari data yang terkumpul terlihat bahwa bentuk umpatan cenderung singkat (pendek), berupa kata. Hal ini
terjadi karena mengumpat terkait dengan keadaan atau kondisi yang serba emosional (dalam hal ini: marah, kesal,
benci, dan sebagainya). Orang yang dalam keadaan seperti itu kurang dapat mengontrol ucapannya dan cenderung
lebih suka dengan kata-kata yang bercitra rasa negatif, seperti setan, bangsat, babi, anjing, dan sebagainya.
Kata-kata yang bercitra rasa negatif dipilih untuk mendepersonifikasikan seseorang. Artinya, manusia
diibaratkan seperti setan, bangsat, babi, anjing, dan sebagainya. Mengapa setan bukan malaikat, bangsat bukan
kucing, babi bukan lumba-lumba, dan anjing bukan merpati? Jawabannya adalah karena bentuk umpatan digunakan
untuk menghina, memojokkan, dan menyerang seseorang, bukan memuji.
Bentuk umpatan, karena diucapkan dengan disertai rasa kesal, marah benci, dendam, dan sebagainya, selalu
digambarkan dengan intonasi naik (dilambangkan dengan tanda seru [!]), kata negatif + tanda seru (!), misalnya:
1. Sialan!
2. Setan!
3. Kecebong anyut!
4. ........dari Hongkong!
Selain itu, bentuk umpatan juga lazim menggunakan pola: dasar + kata negatif + tanda seru (!), seperti:
1. Dasar merakbal!
2. Dasar orang kismin (miskin)!
3. Dasar orang gila!
Ada beberapa dugaan mengapa orang sering mengumpat. Yang pertama adalah untuk melampiaskan rasa
kesal, benci, marah, dendam, dan lain-lain pada orang lain. Dengan mengumpat, secara psikologis, beban yang ada
dalam diri seseorang akan berkurang karena telah dilampiaskan secara verbal.
Kedua, untuk “menjaga keharmonisan” komunikasi antara peserta tutur yang telah lama terikat dengan
bentuk komunikasi lamanya, misalnya:
A :
Nyet! Kemana (s)aja, lama tidak muncul?
B :
Ada, di rumah. Dasar cerewet!
A :
Bukan begitu, nyukI Kita ada kerjaa baru nih!
Sebenarnya A dan B adalah dua orang sahabat (di sebuah terminal bus kota) yang telah lama tidak bertemu.
Dahulu, bentuk komunikasi yang mereka gunakan adalah ragam bahasa rendah. Karena sudah lama terbiasa dengan
ragam seperti itu, baik A maupun B tidak ingin mengubah gaya berbahasanya. Kalau mereka mengubah cara
berkomunikasinya, akan dianggap telah ada suatu masalah di antara mereka. Oleh karena itu, bentuk nyet (monyet),
nyuk, dan dasar cerewet (dan umpatan yang lain) selalu mereka gunakan.
Ketiga, penulis pernah sempat menyimak percakapan siswa-siswa sekolah menengah di taman dan di kantin
sebuah sekolah yang setiap kalimat selalu diakhiri dengan bentuk umpatan, misalnya: dasar jablai(y), anjing, babi,
monyet, kunyuk, dan lain-lain. Padahal, mereka berada di sekolah dan mengenakan seragam sekolah, berteriak-teriak
dengan kata umpatan yang sangat kasar. Dalam hal ini penulis berpendapat bahwa hal tersebut karena faktor
kebiasaan (latah) yang sukar dikendalikan.
Keempat, dalam pertunjukkan tertentu, seperti lawak (lenong, misalnya) dan hiburan yang lain, bentuk
umpatan digunakan tidak untuk mencerca, menghujat, atau mencemooh orang lain, tetapi lebih pada usaha
membangkitkan gelak tawa dari penonton yang ada dengan umpatan yang berkaitan dengan ciri fisik lawan
bicaranya, misalnya kecoa bunting, GMM (gigi maju mundur), karung beras, dan ciri fisik lainnya. Singkatnya, tidak
ada kebencian diantara mereka. Mereka hanya bertugas untuk menghibur penonton dengan usahanya masingmasing.
PENUTUP
Bentuk umpatan dalam bahasa Indonesia cukup bervariatif, yaitu berupa kata, frase, dan kalimat. Akan tetapi,
bentuk singkatlah yang lebih banyah dipilih karena faktor kepraktisan tuturan dan mental seseorang. Struktur bentuk
200
2nd International Seminar on Quality and Affordable Education (ISQAE 2013)
umpatan ada dua, yaitu: kata, frase, kalimat (negatif) + tanda seru (!) dan dasar + kata negatif+ tanda seru (!)Ada
beberapa alasan mengapa seseorang mengumpat, yaitu dalam keadaan marah, “menjaga keharmonisan” komunikasi,
kebiasaan (latah), dan menyegarkan suasana.
RUJUKAN
Alwasilah, A. Chaedar.1985. Sosiologi Bahasa. Bandung: Penerbit Angkasa.
---------------, dkk. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Alwi, Hasan, dkk.. 2000. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
--------------- 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Chaer, Abdul.1993. Pembakuan Bahasa Indonesia. Penerbit Jakarta : Rineka Cipta.
-----------------. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
----------------- dan Agustine Leoni. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta : Rineka Cipta.
Dubois, Jean. 1973. Dictionnaire de Linguistique. Penerbit Paris : Larousse.
Henne, Helmut. 1968. Jugend Und Ihre Sprache : Darstellung, Materialen, Kritik. Penerbit New York : De
Gruyter.
Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Pei, Mario & Graynor. 1954. Dictionnary of Linguistics. Penerbit New Jersey : Litle-field.
Ramlan, M. 1983. Ilmu Bahasa Indonesia; Sintaksis. Yogyakarta: CV Karyono.
201
Fly UP