...

Penting, Keselarasan Sektor ESDM dengan Sektor Lain

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Penting, Keselarasan Sektor ESDM dengan Sektor Lain
Penting, Keselarasan Sektor ESDM dengan Sektor Lain
Oleh
Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memiliki posisi yang penting pembangunan
ekonomi nasional. Untuk itu keselarasan atau harmoni antara kebijakan pengembangan ESDM
dengan sektor lain dalam kerangka kebijakan pembangunan ekonomi nasional menjadi sangat
penting sekaligus krusial.
Demikian antara lain rangkuman sesi pertama seminar nasional bertema 'Kebijakan
Pembangunan Ekonomi Nasional dan Strategi Pembangunan ESDM: Kinerja, Prospek dan
Tantangan' yang berlangsung di Bali, Rabu (31/10). Acara ini merupakan bagian dari Seminar
Nasional berseri yang diadakan juga di sejumlah kota di Indonesia.
Tampil sebagai pembicara Dr. Hariant (Brighten) dengan judul : Kebijakan Pembangunan
Ekonomi Nasional; The Triple Track Strategy. Dr. R. Sukhyar (SAMESDM) Infokom dengan
judul : Strategi Pembangunan ESDM dalam Kerangka Kebijakan Ekonomi Nasional. Dr. Bamby
Uripto (Bappenas) dengan judul : Pembangunan ESDM, Kinerja, Prospek dan Tantangan.
Sebagai moderator : Dr. Taufik Sumawinata (Brighten).
Pengalaman menunjukkan isu sektor ESDM mempengaruhi kinerja perekonomian.
Terhambatnya penurunan kemiskinan dan pengangguran pada tahun 2005 tidak dapat
dilepaskan dari shock eksternal pada sektor ini. Sedang kenaikan harga minyak dunia
akhir-akhir ini dapat menjadi ancaman perekonomian dan ketahanan energi nasional jika tak
ada kemampuan mengantisipasinya secara tepat.
Di lain pihak, pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) yang digagas pemerintah merupakan
suatu peluang besar yang dapat dimanfaatkan dalam upaya mengurangi kemiskinan dan
pengangguran, terutama di wilayah pedesaan. Sehingga ada peluang sekaligus tantangan yang
besar.
Kontribusi Positif Bioenergi
Di antara berbagai program yang dicanangkan oleh pemerintah adalah program bioenergi. Dari
aspek sosial, ekonomi, dan budaya, program ini memberikan kontribusi positif. Dari sisi sosial,
program ini akan melibatkan jutaan keluarga Indonesia. Dari sisi ekonomi akan memberikan
tambahan pendapatan, dan dari sisi budaya akan merubah perilaku seperti semakin banyak
orang yang menggunakan energi terbarukan.
Dengan kata lain program ini sangat selaras dengan triple tract strategy yang dicanangkan
presiden beberapa waktu yang lalu. Gagasan ini semakin kuat ketika didalam Perpres No. 5
Tahun 2006 mengenai tujuan kebijakan energi nasional, adalah untuk mengarahkan
upaya-upaya dalam mewujudkan keamanan pasokan energi dalam negeri.
Program ini akan terwujud apabila memenuhi aspek-aspek: (1) kepastian terjaminnya
ketersediaan lahan bagi program BBN ini; (2) Ada harmonisasi antara misi ketahanan energi
1/2
Penting, Keselarasan Sektor ESDM dengan Sektor Lain
Oleh
dengan ketahanan pangan dalam jangka panjang; dan (3) Program ini dapat menjadi sumber
kemakmuran baru yang sustainable bagi rakyat.
Pada beberapa kasus, Desa Mandiri Energi, atau Pengembangan potensi BBN oleh setiap
daerah, dan Kawasan Khusus pengembangan BBN, perlu didorong agar semakin
memasyarakat di lapangan. Dengan demikian, program ini diharapkan dapat menjadi peluang
besar terjadinya titik temu antara kebijakan dan realitas sosial.
Perlu Intervensi Pemerintah
Agar dapat mengelola peluang tersebut, terdapat prasyarat yang harus dipenuhi.
Pengembangan BBN tidak hanya melibatkan sektor ESDM, tetapi juga sektor-sektor lainnya
(pertanian, kehutanan, dll). Pengembangan BBN, apalagi dengan misi jangka pendek untuk
mengurangi kemiskinan dan pengangguran, memerlukan disain kelembagaan yang baik.
Disamping itu juga diperlukan intervensi pemerintah yang tepat porsinya sehingga
pengembangan BBN ini dapat dikendalikan sesuai dengan tujuan awalnya. Bahkan intervensi
pemerintah seringkali dapat menjadi kunci implementasi suatu program.
Dalam konteks pengembangan bahan bakar nabati ini, intervensi yang proporsional dibutuhkan
untuk memberikan kepastian (1) terjaminnya ketersediaan lahan bagi program BBN ini, (2)
adanya harmonisasi antara misi ketahanan energi dengan ketahanan pangan dalam jangka
panjang.
Selanjutnya adalah (3) terjaganya prioritas untuk mendukung sepenuhnya upaya mengurangi
pengangguran dan kemiskinan (terutama di pedesaan) dalam jangka pendek, dan (4)
memastikan bahwa program ini dapat menjadi sumber kemakmuran baru yang sustainable bagi
rakyat.
Dalam kerangka konsep berfikir itulah, peran program reforma agraria menjadi sangat
strategis.(*)
2/2
Fly UP