...

berpikir kreatif suatu pendekatan menuju berpikir arsitektural

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

berpikir kreatif suatu pendekatan menuju berpikir arsitektural
DIMENSI TEKNIK ARSITEKTUR Vol. 28, No. 1, Juli 2000: 8 - 16
BERPIKIR KREATIF SUATU PENDEKATAN MENUJU BERPIKIR
ARSITEKTURAL
Istiawati Kiswandono
Staf Pengajar Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur − Universitas Kristen Petra
ABSTRAK
Tulisan ini bermaksud membahas berpikir kreatif yang selalu terkait dengan gagas dan penemuanpenemuan baru. Secara umum diketahui bahwa memperoleh gagas pertama terjadi melalui kilatan yang begitu
cepat dengan pengalaman sebagai acuannya. Cara berpikir dalam lingkup yang lebih spesifik ‘cara berpikir
arsitektural’ tidak jauh berbeda. Dalam studi mengenai kreativitas yang berkaitan erat dengan kegiatan
mendesain, sebenarnya ada tiga hal yang perlu mendapatkan perhatian: produk, proses dan individu
manusianya. Mencermati potensi otak yang berfungsi sebagai pemisah bagi pesan-pesan yang relevan dan yang
tidak relevan kemudian membaginya ke dalam dua cara berpikir, dicoba dicari keterkaitannya dengan
operasionalisasi berpikir kreatif. Setelah mengamati pula suatu terapan ‘model berpikir gabungan’, maka akan
memungkinkan diwujudkan ‘formulasi‘ sebagai arahan kasar bagi berpikir arsitektural.
Kata kunci: ideologi, jenis pendekatan, jenis masalah
ABSTRACT
This article discusses about “creative thinking” which always has connection with new ideas and
finding.It is generally known that the first idea often comes in flash like a lightning, with a reference to
experience. A method of thinking in a more specific scope, in this case “thinking architecturally” also occurs in
a similar way. In a study on “creativity” which has relation to design, there are three main subject:the
product,the process and the person. By analysing the potensialities of human brain in separating relevant
messages from unrelevant ones,and by dividing them into two ways of thinking.And with a study on the
application of “a model of mixed thinking”,the writer hopes that ‘a formula” might be set up as a rough
guidance towards thinking architecturally.
Keywords: ideology, type of approach, type of problem
PENDAHULUAN
Bahasan dengan judul “Berpikir Kreatif,
Suatu Pendekatan Menuju Berpikir Arsitektural”
ini bertujuan memberikan suatu pendekatan
(approach) bagi pemula yang mengoperasionalkan berpikir arsitektural dalam mendesain.
Berkaitan dengan tujuan tersebut, paper ini
bermaksud menyampaikan ‘analisis-sintesis’,
bukan mengenai berpikir kreatif secara umum
tetapi ditekankan pada berpikir arsitektural,
terutama tentang cara berpikirnya.
Tulisan ini dibatasi pada bahasan proses
berpikir kreatif (creative thinking as a process)
yang diperlukan dalam lingkup berpikir arsitektural yang dapat dijelaskan. Istilah pendekatan,
dalam hal ini dimaksudkan sebagai suatu
kemampuan keterampilan berpikir arsitektural.
Dalam suatu proses berpikir kreatif yang
perlu dicermati adalah bentukan atau wujudnya.
8
Bentukan tidak nyata berupa formulasi cara
berpikir kreatif penting diketahui agar mudah
mengoperasionalisasikan berpikir kreatif ke
dalam proses pemecahan masalah. Kemudahan
mengoperasionalisasikan berpikir kreatif dalam
pemecahan masalah arsitektural diharapkan
dapat memberikan arahan (‘design guidelines’)
bagi kemampuan keterampilan berpikir secara
arsitektural.
Berdasar pengertian di atas, maka pembahasan dibagi ke dalam urutan sebagai berikut:
- Membahas cara berpikir untuk mengetahui
bentukan serta macam-macam cara berpikir
- Mengadakan telaah pustaka mengenai
tahapan-tahapan proses kreatif dan prosedur
pemecahan masalah secara kreatif sebagai
terapannya
- Membahas kemungkinan mengoperasionalisasikan cara berpikir kreatif ke dalam suatu
pendekatan berpikir secara arsitektural yang
Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/
BERPIKIR KREATIF SUATU PENDEKATAN MENUJU BERPIKIR ARSITEKTURAL(Istiawati Kiswandono)
dapat dijelaskan, yang mengacu kepada
adanya keterkaitan antara cara berpikir
dengan proses pemecahan masalah
TINJAUAN TERHADAP PROSES
BERPIKIR KREATIF
Bagian ini akan membahas bentukan
berpikir kreatif dengan meninjau perbedaan cara
berpikir kreatif. Sebenarnya ada dua macam
pengaruh bagi munculnya kilatan ide: faktor
penghambat dan pendorong kreativitas. Oleh
karenanya wujud bentukan kreatif akan lebih
nyata bila ditelusuri dari macam-macam cara
berpikir.
Cara Berpikir
Fungsi otak serta kondisi otak manusia
mempunyai peluang yang ikut mewarnai cara
berpikir seseorang. Mendukung pernyataan ini,
Sahlan (1988) menggambarkan bahwa,
Bagian otak manusia ada dua, yaitu: judical
mind and creative mind. Judical mind,
adalah bagian yang melakukan penganalisisan, pembandingan dan pemilihan,
sedangkan creative mind yang mengadakan
penggambaran, peramalan dan penghasilan
ide ……. Usaha yang berkaitan dengan
pengambilan keputusan dan usaha yang
kreatif sama-sama memerlukan analisis dan
sintesis. Judical mind dapat mengklasifikasikan fakta-fakta, mempertimbangkannya, memperbandingkan, dan kadangkadang juga membuang beberapa fakta yang
dianggap tidak penting, dan kemudian
menyatukan unsur-unsur yang tersisa
menjadi suatu kesimpulan. Creative mind
juga melakukan hal serupa, hanya perbedaannya hasil akhirnya bukan berupa keputusan, tetapi berupa ide.
‘Hemisfer kiri’ cenderung menangani
masalah matematis, ‘hemisfer kanan’ berurusan
dengan imajinasi. Artinya dengan kondisi otak
yang memang sudah berpotensi ‘membatasi’
masalah, sebenarnya operasionalisasi kreativitas
berada di ambang kejelasan. Kemunduran
penggunaan (terapan) ‘Design Method’, adalah
contoh nyata dari terapan cara berpikir yang
mengabaikan peran (pemisahan) dan fungsi otak
manusia. Aditjipto (1981) dalam tulisannya
menjelaskan:
Dalam awal tahun 1970-an, kebenaran dari
‘Design Method’ sangat dipertanyakan.
Keraguan dan kontradiksi bahkan datang
dari beberapa pelopor, seperti Christopher
Jones dan Christopher Alexander, ….……..
bahwa setiap usaha untuk mengukur ihwal
kemanusiaan dan penggunaan matematik
dalam desain mengarah kepada hasil-hasil
yang tidak insani (‘inhuman’) ……., karena
‘Design Method’ dengan pendekatannya
yang rasional dan ilmiah hanyalah berurusan dengan persoalan-persoalan yang
dapat dihitung (computable ). Desain arsitektur haruslah berurusan dengan manusia
secara utuh fisik dan emosi.
Berpedoman pada uraian di atas, maka perlu
membedakan beberapa macam cara berpikir agar
porsi berpikir kreatif dalam proses berpikir
arsitektural dapat diketahui pada tabel 1.
TERAPAN PROSES BERPIKIR KREATIF
PADA PROSES PEMECAHAN MASALAH
Pemecahan masalah akan selalu berkaitan
dengan kemampuan berpikir kreatif, untuk
mampu berpikir kreatif haruslah dilalui beberapa
tingkatan atau tahapan dalam proses kreatif itu
sendiri. Pentingnya kreativitas bagi pemecahan
masalah diungkapkan pula oleh Einstein dalam
Sahlan (1988).
Perumusan suatu masalah seringkali lebih
penting daripada penyelesaiannya yang
mungkin hanya merupakan persoalan ketrampilan matematis dan eksperimental
semata.
Pemecahan masalah selain berorientasi pada
perumusannya juga diartikan penyelesaian
masalahnya, perbedaan pendapat diungkapkan
secara jelas oleh Guilford (Munandar, 1986)
yang mengatakan bahwa,
Berpikir kreatif, sebagai kemampuan
untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah, merupakan bentuk pemikiran yang
sampai saat ini masih kurang mendapatkan
perhatian dalam pendidikan formal.
Oleh karenanya pemecahan masalah harus
dipandang secara utuh sebagai ‘proses’, dan
melibatkannya ke dalam tahapan-tahapan proses
berpikir kreatif. Dari uraian di atas perlu sekali
dicermati langkah atau tahapan proses berpikir
Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/
9
DIMENSI TEKNIK ARSITEKTUR Vol. 28, No. 1, Juli 2000: 8 - 16
kreatif karena langkah tersebut disajikan semata
sebagai alat bantu dalam memahami beberapa
fase dari ‘creative problem solving’.
Pada bagian selanjutnya akan diadakan
telaah pustaka baik mengenai tahapan-tahapan
proses berpikir kreatif maupun fase-fase atau
prosedur yang dilalui dalam proses pemecahan
secara kreatif.
Setelah menghayati tahapan-tahapan yang
berlangsung secara berurutan pada proses berpikir kreatif, maka diharapkan akan lebih mudah
untuk mengoperasionalisasikan berpikir kreatif
ke dalam proses pemecahan masalah.
Tahapan-tahapan proses berpikir kreatif
Penulis-penulis kreativitas sering mengungkapkan misteri mengenai pencetusan ide yang
memang sulit untuk dipahami. Arsitektur yang
bergelut dengan penemuan-penemuan baru jelas
terlibat dalam pencetusan ide dengan hampir
semua masalah non-matematis yang dipenuhi
ketidakpastian. Untuk menentukan proses mental
dari kreasi matematis, dapat dilakukan secara
tepat, hanya dengan memadukan unsur-unsur
nyata dan tepat sifatnya. Pada prakteknya proses
kreatif dilangsungkan tidak secara berurutan
karena dianggap cukup tepat untuk tidak dikatakan ilmiah, tidak ada rumusan tepat, alasan
utama yang dikemukakan Sahlan (1988)
Langkah-langkah itu sebenarnya bukan
ilmiah ataupun sebuah formulasi…….
Banyak daftar lain mengenai langkahlangkah itu yang dibuat orang …., bahwa
daftar menyebutkan dua fase proses kreatif
……
Penelitian oleh para pakar psikologi dan
menghasilkan beberapa deskripsi melakukan
upaya juga untuk mengklasifikasikan tahapantahapan tersebut. Lawson (1980) mengemukakan
hal yang sama hanya berbeda pada jumlah
langkah,
Walaupun terminologi yang bervariasi,
kebanyakan
penulis
sepakat
untuk
menyebutkan adanya lima proses tahapan
yang terdiri atas ……..
Mengenai terminologi yang bervariasi dan
jumlah tahapan atau langkah yang berbeda,
diuraikan pada tabel 2.
Pemecahan Masalah Kreatif
Proses pemecahan masalah kreatif idealnya
harus melalui prosedur-prosedur pada tabel 3.
10
KETERKAITAN ANTARA CARA
BERPIKIR DENGAN PROSES
PEMECAHAN MASALAH KREATIF
Telaah terhadap macam-macam cara
berpikir, tahapan-tahapan proses berpikir kreatif
yang bervariasi serta pandangan berbeda
terhadap terapannya dengan melihat perbedaannya, merupakan hal menarik tetapi ruwet.
Perbedaannya memang sangat mendasar karena
prosesnya juga berbeda. Ternyata dengan
membandingkannya bukan untuk melihat bahwa
yang satu lebih efektif terhadap yang lainnya,
justru masalahnya menyadari perbedaan tersebut
karena semuanya dapat digunakan bersama
secara efektif. Tidak terlepas dari anggapan para
penulis bahwa berpikir lateral dan divergen
mendorong kreativitas, dan pada tahapan
inkubasi hanya terbentuk sintesis dari segala
jalur dan arus pemikiran.
Jadi, keterkaitan di antaranya dapatlah
digambarkan sebagai berikut:
1. Berpikir lateral dan berpikir vertikal akan
saling melengkapi (tidak bertentangan)
Berpikir lateral
Berpikir vertikal
• menghasilkan gagasan
• mengembangkan gagasan
dan ide
dan ide
• meningkatkan ke-efektif- • melipat gandakan kean berpikir vertikal untuk efektif-an berpikir lateral
menghasil-kan banyak
dengan memanfaat-kan
pilihan
gagasan yang dihasilkan
2. Berpikir divergen dan konvergen dapat
digabung, yang satu mengikuti atau
mendahului yang lain:
Berpikir divergen
• Mencetuskan ide
sebanyak mungkin atau
melihat bermacammacam alternatif
Berpikir konvergen
• Meninjau secara kritis
semua gagasan yang
muncul untuk memilih
salah satu/beberapa
gagasan yang terbaik
Cerminan kemampuan berpikir secara
arsitektural yang melibatkan pemecahan masalah
secara kreatif dengan operasionalisasi berpikir
kreatif menjadi dasar bagi penemuan-penemuan
baru di dalam kegiatan mendesain, dan hanya
dapat dilakukan melalui kerja keras, ketekunan
dan latihan-latihan secara ketat di studio
arsitektur.
Mengapa harus di studio arsitektur?
Pendekatan terhadap masalah selalu diikuti
bahasa serta keterampilan, berlangsung efektif
secara tidak langsung melalui pengalaman
Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/
BERPIKIR KREATIF SUATU PENDEKATAN MENUJU BERPIKIR ARSITEKTURAL(Istiawati Kiswandono)
daripada secara langsung dengan penjelasan
(Ledewitz, 1985). Terampil adalah mahir dan
terlatih menggunakan kedua cara berpikir,
sedangkan pengalaman adalah bahan bakar
pencetusan ide, seperti yang diungkapkan Sahlan
(1988):
Untuk mengembangkan kreativitas, pikiran
tidak hanya perlu mendapatkan latihan saja,
tetapi harus juga diisi dengan bahan-bahan
yang dapat menjadi bahan untuk mencetuskan ide. Bahan yang terbaik untuk pencetusan ide adalah ‘pengalaman’.
Pernyataan Sahlan senada dengan Lawson
(1980) yang mengatakan bahwa, pengalaman dan
pengenalan kemungkinan merupakan faktor
penting kreativitas sebagai rangsangan individu
terhadap permasalahan yang diberikan.
Sebenarnya dengan ‘studio teaching’ forum
kreatif akan lebih mudah terbentuk, merupakan
salah satu teknik berpikir kreatif. Sahlan (1988)
menambahkan:
Pengalaman yang dialami sendiri merupakan bahan bakar yang terkaya, karena
pengalaman ini cenderung selalu kita ingat
dan akan muncul setiap diperlukan.
Pengalaman yang dialami sendiri seperti
membaca, mendengarkan atau melihat,
merupakan pengalaman yang kurang
menguntungkan.
Pengalaman yang didapatkan dari belajar
’dari pengalaman orang lain’ memang merupakan salah satu faktor pendorong kreativitas,
Schon (1985) mendefinisikannya sebagai
‘Reflection-in-Action’.
Pernyataan serupa ditulis pula oleh Kneller
(Lawson, 1980) bahwa, salah satu paradoks dari
kreativitas adalah: dalam upaya untuk berpikir
secara orisinal, maka harus mengenal diri sendiri
dengan ide-ide dari orang lain …… Ide-ide ini
kemudian dapat membentuk batu loncatan untuk
meluncurkan ide-ide pencipta.
Dari uraian-uraian di atas, lebih dapat
dipastikan bahwa ‘kunci’ berpikir kreatif adalah
pada pemanfaatan fungsi otak (pemisahan fungsi
otak) dan pengalaman, sehingga melalui rutinitas
dan disiplin ketat dapat dioperasionalisasi-kan
dengan mengandalkan ‘formulasi’. Meskipun
menurut Heath (1984) asal-usul teori, desain atau
hipotesis atau gagasan awal yang mendorong
dimulainya desain tidak bersifat metafisis.
Bahkan proses yang terlibat dalam penemuan
harus dilihat sebagai proses normal dari kegiatan
pikiran kebanyakan manusia, dan bahkan juga
akal hewan, demikian yang diungkapkan Kohler
(Heath, 1984).
Memang pada kenyataannya dikatakan tidak
metafisis atau merupakan proses normal karena
kebanyakan orang dan hewan berpikir hanya
divergen saja atau konvergen saja. Persis seperti
yang dikatakan Lawson (1980), bahwa bagi
kebanyakan orang lebih mudah untuk berpikir
secara konvergen dibandingkan divergen menurut tuntutan. Akal lebih mudah untuk dikontrol
dibandingkan dengan imajinasi, nantinya pada
evaluasi rasional hasil dari pemikiran imajinatif
bebas dapat diarahkan.
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Berpikir kreatif kemudian dapat dipandang
sebagai suatu keseimbangan antara kemampuan
berpikir lateral dan vertikal atau kemampuan
berpikir divergen dan konvergen, artinya pertimbangan, pengambilan keputusan cenderung
membatasi diri hanya pada fakta yang ada saja,
sedangkan imajinasi harus selalu melipatgandakan gagasan. Sebagai suatu arahan (‘design
guidelines’) kasar, tampaknya memungkinkan
bahwa, semakin penting pembatasan yang
disadari si arsitek, maka semakin perlu si arsitek
mengoperasionalisasikan berpikir kreatif yang
melebur bersama berpikir arsitektural (gambar
1).
Gambar 1. Model Siklus
Setiap siklus terdiri atas dua fase, berpikir
divergen (kreatif) dengan mencetuskan ide, atau
Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/
11
DIMENSI TEKNIK ARSITEKTUR Vol. 28, No. 1, Juli 2000: 8 - 16
12
Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/
BERPIKIR KREATIF SUATU PENDEKATAN MENUJU BERPIKIR ARSITEKTURAL(Istiawati Kiswandono)
Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/
13
DIMENSI TEKNIK ARSITEKTUR Vol. 28, No. 1, Juli 2000: 8 - 16
melihat bermacam-macam alternatif disebut juga
berpikir lateral. Fase berpikir divergen diikuti
oleh fase berpikir konvergen atau dengan
berpikir vertikal secara kritis semua gagasan
yang muncul ditinjau untuk dipilih beberapa
gagasan terbaik, begitu seterusnya: pemecahan
desain bergerak mundur sedangkan pengem14
bangannya bergerak maju (analisis sekaligus
sintesis).
Secara ringkas dapat dijelaskan sebagai
berikut (gambar 2):
a. first insight (tahap mengumpulkan fakta)
1. fase divergen : pengenalan masalah
2. fase konvergen : pendalaman masalah
Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/
BERPIKIR KREATIF SUATU PENDEKATAN MENUJU BERPIKIR ARSITEKTURAL(Istiawati Kiswandono)
b. preparation (tahap menemukan masalah)
1. fase divergen : identifikasi masalah
2. fase konvergen : perumusan masalah
c. incubation (tahap melepaskan diri dari
masalah)hanya fase divergen: berpikir ‘di
bawah sadar’, mencari inspirasi
d. illumination (tahap menemukan gagasan)
1. fase divergen : memperoleh ide
2. fase konvergen: pemecahan masalah
e. verification (tahap mencari pembuktian)
1. tahap konvergen : mengkritik semua gagasan
2. tahap divergen : pengembangan desain
melalui pelatihan-pelatihan. Gambar 2 menunjukkan porsi yang lebih besar dari bidang A,
maksudnya adalah otak kanan yang terkait
dengan berpikir kreatif harus dioperasionalkan
lebih aktif daripada otak kiri. Di sini telrihat jelas
bidang B dengan porsi kecil diharapkan dapat
menyeimbangkan berpikir arsitektural secara
holistik.
Bagian akhir dari tulisan menyimpulkan,
formulasi yang ditemukan sebagai hasil
pembahasan dapat digunakan sebagai arahan
untuk melatih keterampilan berpikir arsitektural.
Adapun wujudnya adalah sebuah program
pelatihan yang terfokus pada tahapan-tahapan
aktivitas yang berurutan saling bergantian (baca:
selang-seling), sehingga dapat diketahui pada
tahap aktivitas mana harus berpikir kreatif dan
pada tahap berikutnya berpikir rasional.
Dengan demikian berpikir arsitektural
semakin dapat dijelaskan, teruatama yang terkait
dengan operasionalisasi berpikir kreatif.
DAFTAR PUSTAKA
Aditjipto, M.I. Arsitektur dan Perkembangan
Pendidikannya. Penerbit Universitas Kristen
Petra, Surabaya, 1980.
Campbell, D. Mengembangkan Kreativitas,
sebuah saduran oleh Mangunhardjana
(1986), Kanisius, Yogyakarta, 1986.
De Bono, Edward. Lateral Thinking. Ward Lock
Educational, London, 1988.
Heath, T. Method in Architecture. John Wiley &
Sons, New York, 1984. pp.43-52.
Olson, R.W. The Art of Creative Thinking: A
Practical Guide, sebuah terjemahan (1988),
Erlangga, Jakarta, 1980.
Gambar 2. ‘Formulasi’ Proses Pemecahan Masalah Secara Kreatif
Memang perlu diakui mengoperasionalkan
kedua cara berpikir yang memadukan berpikir
kreatif dan rasional bukanlah hal mudah, tetapi
membutuhkan keterampilan. Artinya secara
umum kesulitan yang dialami adalah tidak
diketahuinya bilamana harus berpikir kreatif dan
bilaman
diperlukan
berpikir
rasional.
Keterampilan yang dimaksud akan didapatkan
Kirk, S.J. dan K.F. Spreckelmeyer. Creative
Design Decisions, A Systematic Approach to
Problem Solving in Architecture. Van
Nostrand Reinhold Company, New York,
1988
Lawson, B. How Designer Think. The Architectural Press Ltd., London, 1980. pp. 108-118.
Ledewitz, S. Models of Design in Studio
Teaching. JAE, No. 38, 1985, edisi winter,
pp. 2-8.
Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/
15
DIMENSI TEKNIK ARSITEKTUR Vol. 28, No. 1, Juli 2000: 8 - 16
Munandar, S.C. Utami. Mengembangkan Bakat
dan Kreativitas. Penerbit Gramedia, Jakarta,
1985.
Munandar, S.C. Utami. Kreativitas sebagai
Aktualisasi Diri: Suatu Tinjauan Psikologis,
dalam Alisyahbana S.T., Dian Rakyat,
Jakarta, 1983. pp. 68-83.
Sahlan, S. dan Maswan. Multi Dimensi Sumber
Kreativitas Manusia . Sinar Baru, Bandung,
1988.
Schön, D. The Design Studios. MIT and RIBA,
London, 1985.
Zeisel, J. Inquiry by Design: Tools for
Environment Behavior Research. Cambridge University Press, London, 1981.
16
Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/
Fly UP