...

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI JENIS JAMUR PADA UBI KAYU

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI JENIS JAMUR PADA UBI KAYU
160 Biopendix, Volume 1, Nomor 2, Maret 2015, hlm. 160-165
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI JENIS JAMUR
PADA UBI KAYU (Manihot esculenta Crants.) DALAM PROSES
PEMBUATAN UBI KAYU HITAM SECARA TRADISIONAL
OLEH MASYARAKAT BANDA
Alwi Smith (1) dan Agnes Hursepuny (2)
(1) Staff Pengajar Program Studi Pendidikan Biologi
(2) Alumni Program Studi Pendidikan Biologi
E-mail: [email protected]
Abstract
Background: One of the roles fungi also in the manufacture of cassava black is one of the food products
in addition to the public Banda, cassava black produced by cassava (Manihot esculenta Crants.) The
levels of HCN (Hydrogen Cyanide) high through a process of soaking and fermentation drying, assisted
by a fungus that is capable of binding the HCN.
Methods: The process of making cassava samples conducted in Banda black. Isolation and
identification of fungi carried on Basic Laboratory Pattimura University.
Results: from isolation in cassava (Manihot esculenta Crantz) in the process of making cassava
traditional black communities Banda fungal isolates obtained 5 with 3 different genus is Rhizopus,
Aspergillus, and Penicillium. Based on observations of macroscopic and microscopic morphology isolat1
belonging to the genus Rhizopus, isolat2, isolat3, isolat4 belonging to the genus Aspergillus and isolat5
belonging to the genus Penicillium. Results of macroscopic observation while hanging in the
manufacturing process cassava spread of colonies of black mold growing cassava which dominates in
the genus Rhizopus and Aspergillus genus.
Conclusion: Based on research results isolation and identification of fungi that grow on cassava
(Mahinot esculenta Crantz) in the process of making cassava traditionally black community can Banda
in 5 isolates identified are included in 3 different genus is Rhizopus, Aspergillius, and penicillium.
Keywords: isolation and identification, the type of fungus, cassava (Manihot esculenta Crants.)
traditional, Banda.
Abstrak
Latar Belakang: Salah satu peranan jamur juga dalam pembuatan ubi kayu hitam yang merupakan
salah satu produk makanan tambahan bagi masyarakat banda, ubi kayu hitam dihasilkan oleh ubi kayu
(Manihot esculenta Crants.) yang berkadar HCN (Hydrogen cyanide) tinggi melalui proses perendaman
dan fermentasi pengeringan dengan dibantu oleh jamur yang mampu mengikat HCN.
Metode: Proses pembuatan sampel ubi kayu hitam dilakukan di Banda. Isolasi dan identifikasi jamur
dilaksanakan pada Lobaratorium Dasar Universitas Pattimura.
Hasil: dari isolasi pada ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) dalam proses pembuatan ubi kayu hitam
secara tradisional oleh masyarakat Banda diperoleh 5 isolat jamur dengan 3 genus yang berbeda yaitu
Rhizopus, Aspergillus, dan Penicillium. Berdasarkan hasil pengamatan makroskopis dan mikroskopis
morfologi isolat1 termasuk dalam genus Rhizopus, isolat2, isolat3, isolat4 termasuk dalam genus
Aspergillus dan isolat5 termasuk dalam genus Penicillium. Hasil pengamatan makroskopis saat
penggantungan dalam proses pembuatan ubi kayu hitam penyebaran koloni jamur yang tumbuh
mendominasi pada ubi kayu yaitu pada genus Rhizopus dan genus Aspergillus.
Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian isolasi dan identifikasi jamur yang tumbuh pada ubi kayu
(Mahinot esculenta Crantz) dalam proses pembuatan ubi kayu hitam secara tradisional oleh masyarakat
Banda di dapat 5 isolat diidentifikasi termasuk dalam 3 genus yang berbeda yaitu Rhizopus, Aspergillius,
dan penicillium.
Kata Kunci: isolasi dan identifikasi, jenis jamur, ubi kayu (manihot esculenta crants.) tradisional.
Banda.
Alwi Smith dan Agnes Hursepuny, Isolasi dan Identifikasi Jenis … 160
161 Biopendix, Volume 1, Nomor 2, Maret 2015, hlm. 160-165
PENDAHULUAN
Jamur merupakan tumbuhan tingkat
rendahn yang tidak mempunyai zat hijau,
untuk hidup jamur berperan sebagai
parasite saprofit (Tambunan dan Nandika,
1989). Jamur tingkat tinggi maupun tingkat
redah mempunyai ciri yang khas, yakni
berupa benang tunggal atau bercabangcabang yang disebut hifa, kumpulan akan
membentuk miselium, mempunyai spora,
memproduksi spora, dapat berkembangbiak
secara seksual dan aseksual, tubuh
berfilamen dan dinding sel mengandung
kitin, glukan, selulosa dan manan. Jamur
dibedakan menjadi dua golongan yaitu
kapang merupakan jamur yang berfilamen
atau mempunyai miselium, sedangkan
khamir merupakan jamur bersel tunggal dan
tidak berfilamen (Waluyo, 2004).
Divergensi kingdom jamur (fungi) dari
Choanoflagellates diperkirakan dimulai
sekitar 900 juta tahun lalu. Berdasarkan
analisis data Molekuler, yang termasuk true
fungi adalah divisi Chytridiomycetes,
Zygomycetes,
Ascomycetes,
and
Basidiomycetes. Deuteromycetes (Fungi
Imperfectil mitosporic fungi conidial fungi)
juga termasuk true fungi, akan tetapi
Deuteromycetes secara filogenetik bukan
merupakan suatu kelompok taksonomi
(Gandjar, 2006).
Jamur hidup pada lingkungan yang
beragam namun sebagian besar jamur
hidup ditempat yang lembab. Habitat jamur
berada didarat (terestrial) dan di tempat
lembab dengan suhu optimal berkisar
antara 22 derajat Celsius sampai 35 derajat
Celsius, suhu maksimumnya berkisar
antara 27 derajat Celsius sampai 29 derajat
Celsius, dan suhu minimum kurang lebih 5
derajat Celsius. Meskipun demikian banyak
pula jamur yang hidup pada organisme atau
sisa-sisa organisme di laut atau di air tawar.
Jamur juga dapat hidup di lingkungan yang
asam (Dwidjoseputro, 2003). Bahan
makanan adalah subsrat yang rata-rat
cocok
untuk
pertumbuhan
dan
perkembangbiakan jamur, misalnya apabila
subsratnya nasi, atau singkong, atau
kentang, maka jamur tersebut harus mampu
mengekresikan enzim @-amilase untuk
mengubah amilum menjadi glukosa
(Gandjar, 2006).
Jamur juga memiliki peranan yang
merugikan dan menguntungkan, jamur
dapat
menimbulkan
penyakit
yang
dibedakan menjadi dua golongan, yakni (1)
Mikosis,
infeksi
kapang
dan
(2)
Mikotoksikosis yaitu gejala keracunan yang
disebabkan
tertelanya
suatu
hasil
metabolisme beracun dari kapang atau
jamur. Dari golongan tersebut umumnya
disebarkan
melalui
makanan
pada
mikosikosi.
Senyawa
beracun
yang
diproduksi oleh fungi di sebut mikotoksin.
Toksin ini dapat menimbulkan gejala sakit
yang kadang-kadang fatal dan beberapa
diantaranya mempunyai sifat karsinogenik,
yakni dapat menimbulkan kanker (Waluyo,
2004).
Peranan jamur yang menguntungkan
dalam penigkatan nilai gizi atau nutrisi
makanan. Pada proses pembuatan tempe
misalnya dua jenis jamur yang berperan,
yaitu Rhizopus oligosporus dan Rhizopus
storoiferus mempunyai kemampuan untuk
mengubah kedele menjadi asam amino dan
protein (Supardi, 1999). Ada beberapa jenis
jamur yang tumbuh pada ubi kayu, baik itu
ubi kayu yang masih mentah maupun yang
sudah diolah menjadi bahan pangan.
Misalnya biokimia mikro-jamur pada
fermentasi tepung singkong yang di
produksi dari ubi singkong dengan kultivar
sianida
menengah
dilakukan
pada
kemampuan strain murni oleh jamur
Rhizopus sp dan Saccharomyces cerevisae
untuk mengubah kualitas gizi tepung kayu
(Dwidjoseputro).
Salah satu peranan jamur juga dalam
pembuatan ubi kayu hitam yang merupakan
salah satu produk makanan tambahan bagi
masyarakat banda, ubi kayu hitam
dihasilkan oleh ubi kayu(Manihot esculenta
Crants.) yang berkadar HCN (Hydrogen
cyanide) tinggi melalui proses perendaman
dan fermentasi pengeringan dengan dibantu
oleh jamur yang mampu mengikat HCN
tersebut. Setelah proses fermentasi menjadi
ubi kayu hitam akan diolah lebih lanjut
menjadi sunu-sunu yang merupakan
makanan khas banda, dengan cara ubi kayu
hitam dicuci bersih, dipotong dan dimasak,
pada proses pemasakan diatas suhu 39°C
untuk mematikan jamur pada ubi kayu
hitam. Kemudian disajikan dengan kelapa
parut dan gula merah. Makanan ini ternyata
memiliki nilai nutrisi yang bisa dijadikan
sumber
kalori
alternative
utama.
Keungguulan berdasarkan aspek nutrisi
Alwi Smith dan Agnes Hursepuny, Isolasi dan Identifikasi Jenis … 161
162 Biopendix, Volume 1, Nomor 2, Maret 2015, hlm. 160-165
dibandingkan dengan pati adalah lemak,
kalsium, zat besi, vitamin A dan C (Assegaff,
2010).
Berdasarkan hasil penelitian ini
menunjukan lama perendaman ubi kayu
mempenggaruhi pertumbuhan jamur dalam
proses pembuatan ubi kayu hitam. Dapat
dilihat dari data yang diperoleh perendaman
48 jam menghaasilkan 41 titik tumbuh jamur
39% yang paling bagus (Assagaff, 2010).
Namun masyarakat tidak mengetahui
tentang jenis jamur pada ubi kayu hitam dan
tidak ada penelitian lanjut tentang jenis
jamur pada makanan olahan ubi kayu hitam.
METODE
Sampel Penelitian
Proses pembuatan sampel ubi kayu
hitam dilakukan di Banda. Isolasi dan
identifikasi jamur dilaksanakan pada
lobaratorium Universitas Pattimura Fakultas
Keguruan dan ilmu Pendidikan Program
Studi Biologi Ambon.
Produser Penelitian
a. Proses pembuatan ubi kayu hitam
1) Ubi kayu varietas bogor ditimbang 4 kg (
1 kg untuk tiap perlakuan )
2) Ubi kayu kemudian dikupas, dicuci dan
direndam dalam baskom dengan air laut.
peneliti memberi label untuk masing –
masing baskom (untuk perlakuan 4
variasi waktu perendaman yang paling
lama sehingga pada proses pengeringan
secara bersamaan)
3) Setelah
perendaman
peneliti
mengangkat ubi kayu tersebut dan,
menggantung sesuai labelnya dengan
tali arafia, (ubi kayu ini digantung pada
tirisan rumah) dalam proses ini ubi kayu
tersebut dalam proses pengeringan tidak
boleh terkena sengatan matahari secara
langsung.
4) Dibiarkan 3 minggu ubi kayu telah
ditumbuhi jamur dan berubah warnanya
menjadi hitam, maka jamur pada ubi
kayu hitam telah siap dipakai diisolasi.
b. Pembuatan PDA (Potatoes dextrose
Agar)
1) Media PDA 39 g dimasukan dalam
Erlenmeyer dan ditambahkan air suling
1000 ml
2) Kemudian dipanaskan hingga mendidih
selama 1 jam dengan menggunakan hot
plate.
3) Disterilkan dalam otoklaf pada suhu
121oC selama 15-20 menit
c. Isolasi dan Identifikasi Jamur
1) Ubi kayu hitam yang telaah ditumbuhi
jamur dari 4 sampel perendaman yang
berbeda 12 jam, 24 jam, 36 jam, 48 jam
dilakukan identifikasi awal sesuai ciri dan
warna koloni.
2) Setelah itu tahapan isolasi dimulai
dengan mengambil sedikit hifa dari 4
sampel
perendaman
kemudian
digoreskan menggunakan jarum ose (
streak metode ) pada media PDA
didalam caawan petri untuk masingmasing
sampel
perendaman
,
diinkubasikan selam 2-3 hari sebagi
kultur campuran .
3) Jamur-jamur telah tumbuh dalam kultur
campuran dipisahkan lagi hingga
mendapatkan isolasi murni yang disebut
dengan
tahapan
ferifikasi
dan
selanjutnya dinokulasi kedalam media
miring sebagai kultur stok.
4) Setelah isolate menjadi biakaan murni,
sebelum dididentifikasi digoreskan pada
cawan petri berisi media PDA kemudian
diinkubasi selama 2-3 hari yang
merupakan tahap observasi setelah itu
diidentifikasi secara makroskopis dann
mikroskopis.
5) Pengamatan
morfologi
secara
mikroskopis
dari
koloni
tersebut
dilakukan dengan cara mengambil
sedikit miselium yang bersporulasi dan
diletakkan pada kaca preparat. Sampel
tersebut kemudian ditetesi dengan
methylene blue (Gandjar, 2006).
6) Pengamatan mikroskopis juga dilakukan
dengan cara teteskan media PDA pada
object glass secara aseptis lalu tunggu
memadat ulasan spora jamur yang akan
diamati pada media tersebut ditutupi
dengan cover lass tepat diatas media
dan tekan hingga merata. Inkubasi 2 x 24
jam. Amati dengan menggunakan
mikroskop.
Data yang didapat dalam penelitian ini
akan dianalisis secara deskriptis dengan
menggunakan tabel identifikasi.
Alwi Smith dan Agnes Hursepuny, Isolasi dan Identifikasi Jenis … 162
163 Biopendix, Volume 1, Nomor 2, Maret 2015, hlm. 160-165
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Dari hasil isolasi dan identifikasi jamur
yang tumbuh pada ubi kayu (Mohinot
esculenta Crantz) yang dilakukan selama 2
bulan dengan perlakuan waktu perendaman
yang berbeda yaitu 12 jam, 24 jam, 36 jam
dan 48 jam jenis-jenis jamur yang adalah
sama, setelah melakukan pengamatan
makroskopis dan mikroskopis diperoleh 5
isolat yang termasuk dalam 3 genus yang
berbeda. Tabel dibawah ini merupakan hasil
pengamatan
isolasi
jamur
dan
kedudukannya dalam taksonomi.
Tabel 1. Hasil
Pengamatan
Isolasi
Jamur Dan Kedudukannya
Dalam Taksonomi Menurut
Gilman J (1957).
Isolat
murni
Isolat
1
Isolat
2
Isolat
3
Isolat
4
Isolat
5
Genus
Aspergillus
Aspergillus
Aspergillus
Penicillium
Klasifikasi
Class
:
Phycomycetes
Ordo : Mucorales
Family : Mucoraceae
Genus : Rhizopus
Class
:
Fungi
Imperfecti
Ordo : Moniliales
Family
:
Monileaceae
Genus : Aspergillus
Class
:
Fungi
Imperfecti
Ordo : Moniliales
Family
:
Monileaceae
Genus : Penicilium
Keterangan:
Isolat1 : Rhizopus dengan warna koloni seperti kapas
dan sporangium bewarna hitam.
Isolat2 : Aspergillus dengan warna koloni seperti
kapas dan kepala konidiofor bewarna hitam.
Isolat3 : Aspergillus dengan warna koloni cokelat dan
kepala konodiofor berwarna cokelat.
Isolat4 : Aspergillus dengan warna koloni cream dan
kepala konodiofor berwarna cream.
Isolat5 : Penicillium dengan warna koloni hijau dan
kepala konodiofor berwarna hijau.
Dari tabel 1 hasil diperoleh dari isolasi
pada ubi kayu (Manihot esculenta Crantz)
dalam proses pembuatan ubi kayu hitam
secara tradisional oleh masyarakat Banda
diperoleh 5 isolat jamur dengan 3 genus
yang berbeda yaitu Rhizopus, Aspergillus,
dan
Penicillium.
Berdasarkan
hasil
pengamatan makroskopis dan mikroskopis
morfologi isolat1 termasuk dalam genus
Rhizopus, isolat2, isolat3, isolat4 termasuk
dalam genus Aspergillus dan isolat5
termasuk dalam genus Penicillium. Hasil
pengamatan
makroskopis
saat
penggantungan dalam proses pembuatan
ubi kayu hitam penyebaran koloni jamur
yang tumbuh mendominasi pada ubi kayu
yaitu pada genus Rhizopus dan genus
Aspergillus.
Pembahasan
Hasil isolasi jamur pada ubi kayu
(Manihot esculenta Crantz) yang melalui
proses pembuatan ubi kayu hitam secara
tradisional oleh masyarakat Banda, dengan
perlakuan perendaman 12 jam, 24 jam, 36
jam dan 48 jam diperoleh jenis-jenis jamur
yang berdasarkan pada penampakkan
makroskopis
dan
mikroskopis
yang
ditunjukkan pada lampiran 1 halaman 47.
Diperoleh 5 isolat jamur dengan 3 isolat
yang berbeda yaitu genus Rhizopus,
Aspergillus,
dan
Penicillium.
Hasil
pengamatan
makroskopis
saat
pengantungan dalam proses pembuatan ubi
kayu hitam penyebaran koloni jamur yang
tumbuh mendominasi pada ubu kayu yaitu
pada genus Rhizopus dan genus
Aspergillus, sehingga membuat permukaan
ubi kayu menjadi hitam dan disebut
masyarakat Banda untuk makanan olahan
ini adalah ubi kayu hitam.
Ubi kayu hitam merupakan makanan
khas masyarakat Banda yang sudah lama
dikonsumsi secara turun temurun, dan
selama ini pengolahan makanan ini tidak
memiliki efek yang mematikan. Jamur
genus
Rhizopus,
Aspergillus,
dan
Penicillium yang tumbuh pada ubi kayu
(Manihot esculenta Crantz) berasal dari
spora yang bebas di udara, spora-spora
tersebut melekat pada permukaan potongan
ubi kayu yang digantung. Berdasarkan hasil
penelitian
Assegaff
(2010)
lama
perendaman ubi kayu mempengaruhi
pertumbuhan
jamur
dalam
proses
pembuatan ubu kayu hitam, Hasilnya
menunjukkan bahwa perendaman 48 jam
memperlihatkan 41 titik tumbuh jamur 39%
yang paling bagus.
Secara ilmiah belum dibuktikan bahwa
jamur genus Rhizopus, Aspergillus, dan
Alwi Smith dan Agnes Hursepuny, Isolasi dan Identifikasi Jenis … 163
164 Biopendix, Volume 1, Nomor 2, Maret 2015, hlm. 160-165
Penicillium, bisa mengkonvensi senyawa
beracun Hydrogen cyanide (HCN) yang
terkandung dalam ubi kayu (Manihot
esculenta Crantz), dugaan sementara
menunjukkan pengolahan ubi kayu hitam
secara tradisional yang dilakukan oleh
masyarakat Banda cukup efektif dalam
mengkonvensi racun pada ubu kayu
(Manihot
esculenta
Crantz),
tanpa
perlakuan
perendaman
dan
pengantunganterlebih dahulu masyarakat
yang mengkonsumsi ubi kayu (Manihot
esculenta
Crantz)
akan
mengalami
keracunan.
Adanya
peranan
jamur
genus
Rhizopus, Aspergillus, dan Penicillium
dalam mngkonvensi senyawa beracun juga
dikuatkan oleh Leplepen. J (2005) bahwa
genus Rhizopus dapat menetralkan racun
cycasin pada pakis haji dalam proses
pembuatan
makanan
tradisional
masyarakat
Aru.
Genus
Rhizopus
menghasilkan enzim yang berfungsi untuk
mengkonvensi racun tersebut menjadi
senyawa lain yang tidak beracun. Beberapa
species dari genus Rhizopus sudah
diketahui menghasilkan enzim-enzim yang
berperan dalam mengkonvensi suatu
senyawa kimia menjadi senyawa kimia
lainnya. Sebagai contoh Rhizopus sp untuk
mengubah kualitas gizi tepung ubi kayu
yang dihasilkan dari berbagai sianida ubi
singkong (Dwidjoseputro, 2003).
Jamur genus Rhizopus, Aspergillus,
dan Penicillium yang tumbuh pada ubi kayu
(Manihot
esculenta
Crantz)
dalam
pengolahan ubi kayu hitam juga mempunyai
peranan
menguntungkan
yang
dimanfaatkan untuk olahan makanan
fermentasi tradisional lainnya. Rhizopus
berguna dalam industry bahan pangan
dalam pembutan temped an oncom,
Rhizopus oryzae membantu dalam proses
fermentasi tape singkong. Rhizopus
nigricans digunakan dalam pembuatan roti.
Selain itu genus Aspergillus dimanfaatkan
untuk pembuatan tempe, Aspergillus wentii
dapat dimanfaatkan dalam pembuatan
kecap, sake, tauco dan asam oksalat.
Penicillium roquenforti dalam pembuatan
aneka keju di Eropa (Gandjar, 2006).
Selain peranan menguntungkan dari
jamur genus Rhizopus, Aspergillus, dan
Penicillium dalam pembuatan makanan
olahan fermentasi juga memiliki kerugian
misalnya kerusakan pada bahan pangan
yang mengandung karbohidrat, bahan
pangan tersebut mengalami perubahan
fisik, yaitu menggumpal, berbau apek dan
berubah warna. Adanya jamur (fungi) pada
bahan makanan cukup membahayakan
karena mikotoksin yang dapat dihasilkan
seperti aflatoksin B1, B2, G1, G2,
ochratokin, patulin dan lain sebagainya
(Gandjar I, 2006). Salah satu efek akibat
mikotoksin jamur adalah keracunan
makanan, dan penyakit paru-paru pada
manusia (Waluyo L, 2004). Untuk
menghindari keracunan akibat mikotoksin
yang dihasilkan jamur, dalam proses
pembuatan ubi kayu hitam sebaiknya
proses pengantungannya maksimal 2-3
minggu, Menurut Tambunan dan Nandika
(1989) suhu maksimum tumbuhnya jamur
berkisar antara 27°C sampai 39°C.
Sehingga jamur pada ubi kayu hitam akan
mati ketika melalui proses pemasakkan dan
pengolahannya
menjadi
makanan
tambahan Sunu-sunu oleh masyarakat
Banda ini aman untuk dikonsumsi.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian isolasi dan
identifikasi jamur yang tumbuh pada ubi
kayu (Mahinot esculenta Crantz) dalam
proses pembuatan ubi kayu hitam secara
tradisional oleh masyarakat Banda di dapat
5 isolat diidentifikasi termasuk dalam 3
genus yang berbeda yaitu Rhizopus,
Aspergillius,
dan
penicillium.
Hasil
pengamatan
mikroskopis
saat
penggantungan dalam proses pembuatan
ubi kayu hitam penyebaran koloni jamur
yang tumbuh mendominasi pada ubi kayu
yaitu pada genus Rhizopus dan genus
Aspergillius. Dimana Rhizopus akan
menghasilkan enzim yang berfungsi untuk
mengkonvensi racun HCN pada ubi kayu
(Mahinot esculenta Crantz), dan ketiga
genus ini akan mati pada suhu 100 derajat
Celsius dalam proses pemasakan dan
proses pengolahannya.
Alwi Smith dan Agnes Hursepuny, Isolasi dan Identifikasi Jenis … 164
165 Biopendix, Volume 1, Nomor 2, Maret 2015, hlm. 160-165
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
2008.
Klasifikasi
Jamur.
http://cixers.blogspot.com.html . 19
Februari 2011
Anonim.
2011.
http://Biologimantaya.blogspot.com/.
19 februari 2011
Anonim, 2009. Penuntun Praktikum Ilmu
Penyakit.http://mobrian.blogspot.com.h
tml. 19 Februari 2011.
Anonim, 2008. Mengisolasi Biakan Murni
Makalah dan Skripsi. http://makalah
dan
skripsi.blogspot.com.html.
19
Februari 2011
Anonim.
2010.
Media
Mikroba.
http://trenatus.blogspot.com.html.
19
Februari 2010
Anonim.
2011.
Tag
Methlylene
Blue.http://science-query.com.
19
Februari 2011 Assegaff, S.2010.
Pengaruh Lama Perendaman Ubi Kayu
(Mahinot esculenta Crantz) Terhadap
Daya Serang Jamur Dalam Proses
Pembuatan Ubi Kayu Hitam. Skripsi
tidak dipublikan.FKIP: Ambon
Dwijoseputro, D. 2003. Dasar-Dasar
Mikrobiologi. Cetakan kelima belas.
Djambatan: Jakarta
Gandjar I, dkk. 1999. Pengenalan Kapang
Tropic
Umum.
Yayasan
Bogor
Indonesia: Jakarta.
Ganjar I, 2006. Mikologi Dasar Dan
Terapan. Yayasan Bogor Indonesia:
Jakarta.
Gilman J, C.1957.A Manual of Soil Fungi
Revised Second Edition. The Lowa
State University Press. Ames Lowa:
USA.
Hadioetomo, Ratna S. 1983. Mikrobiologi
Dasar Dalam Praktek. Gramedia:
Jakarta.
Hidayat, Nur. Masdira. C. P. Sri. S.2006.
Mikrobiologi Industri. Penerbit ANDI:
Jakarta.
Leplepem, J. 2005. Analisa Kadar
karbohidrat dan identifikasi jenis jamur
yang diduga menetralkan senyawa
beracun pada biji pakis haji (Cycas
rumphii Miq) secara tradisional oleh
masyarakat kepulauan Aru. Skripsi
tidak dipublikan.FMIPA.Ambon.
Rumana, R. 1997. Ubi Kayu, Budidaya dan
pascapanen. Kanisius: Jakarta.
Sarles, et al, 1956. Microbiology. 5th ed
McGraw-Hill Book.Company, Inc. New
York, pp. 203,107-112.
Supradi, I. 1999. Mikrobiologi Dalam
Pengelolaan Dan Keamanan Pangan.
Alumi/1999/Bandung: Bandung.
Tambunan, B dan Dodi Nandika. 1989.
Deteriorasi Kayu Oleh Faktor Biologis.
IPB-Press.Bogor.
Alwi Smith dan Agnes Hursepuny, Isolasi dan Identifikasi Jenis … 165
Fly UP