...

Gender and forests in Nicaragua`s autonomous regions

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Gender and forests in Nicaragua`s autonomous regions
November 2015
Mengelola Lanskap Perkebunan
Kelapa Sawit Berkelanjutan/
Governing Oil Palm Landscapes for
Sustainability (GOLS)
Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan United States Agency for International
Development (USAID)
Pesan kunci
••
••
••
••
Semakin banyak perusahaan swasta saat ini mengadopsi prinsipprinsip keberlanjutan di dalam proses tata kelola perusahaan mereka
dan berusaha untuk menerapkan praktik-praktik lingkungan dan sosial
terbaik di dalam kegiatan mereka.
Peran sektor swasta dalam perubahan tata guna lahan dan deforestasi
hutan mendapat sorotan belakangan ini ketika sejumlah perusahaan
ritel, manufaktur, dan perdagangan terbesar dunia berkomitmen untuk
menghapuskan deforestasi dari rantai pasokan mereka. Upaya-upaya
ini dikukuhkan pada bulan September 2014 ketika sejumlah organisasi
masyarakat sipil, perusahaan swasta dan pemerintah bersama-sama
menandatangani Deklarasi New York tentang Hutan (New York
Declaration on Forests).
Komitmen ini berpotensi memberi manfaat besar pada lingkungan
hidup global, serta kehidupan jutaan masyarakat pedesaan. Namun cara
implementasi komitmen inilah yang akan menentukan apakah manfaat
lingkungan hidup dan sosial yang dikehendaki dapat sepenuhnya
terwujud.
Program CIFOR/USAID Governing Oil Palm Landscapes for Sustainability
(GOLS) akan mendukung implementasi komitmen tersebut secara efektif
dan berkeadilan dengan membantu menyelaraskan kebijakan dan tindakan
pemerintah dan swasta, dan dengan menyampaikan temuan penelitian
kepada para pemangku kepentingan utama dan praktisi.
Perkembangan kelapa sawit di Indonesia
Indonesia berada pada dua dari 25 titik pusat keanekaragaman hayati teratas
di dunia, namun ekspansi perkebunan karet, hutan tanaman, dan perkebunan
kelapa sawit di areal hutan primer dan sekunder telah mengancam keberadaan
keanekaragaman hayati. Konversi hutan menjadi perkebunan juga berkontribusi
terhadap emisi gas rumah kaca (GRK) dari stok karbon di dalam biomasa, tanah dan
terutama lahan gambut.
Sekitar 10 juta hektar kelapa sawit saat ini ditanam di lahan mineral dan lahan
gambut di Indonesia, dan luas perkebunan diperkirakan akan bertambah sebanyak
3-4 juta hektar hingga tahun 2020. Pertumbuhan ini merupakan elemen penting
dalam strategi pembangunan ekonomi Indonesia, yang berkontribusi terhadap
penerimaan negara dengan efek pengganda penting di tingkat lokal.
Namun demikian, pengembangan kelapa sawit dapat memiliki dampak sosial yang
berbeda-beda. Petani kecil membudidayakan hampir setengah dari luas perkebunan
kelapa sawit di Indonesia, namun cenderung produktivitanya lebih rendah, terutama
disebabkan karena keterbatasan finansial dan teknis. Walaupun perkebunan kelapa
sawit banyak melibatkan penduduk lokal dan pendatang melalui berbagai macam
bentuk kemitraan, yang memberikan mata pencaharian kepada petani kecil,
ketentuan kontrak seringkali berujung pada timpangnya pembagian keuntungan.
Kaum wanita paling rentan akibat kehilangan mata pencaharian dan berkurangnya
pendapatan. Selain itu, pemilik lahan tradisional seringkali tergusur ketika
perkebunan kelapa sawit berskala besar dibuka, yang berakibat pada konflik sosial.
Peluang perbaikan tata kelola hutan sektor publik semakin terbuka. Pemerintah
Indonesia telah mulai mengambil tindakan mitigasi perubahan iklim, termasuk
melindungi hutan alam dan lahan gambut, memberikan akses lahan
yang lebih besar kepada masyarakat, dan mendorong pengembangan
kelapa sawit berkelanjutan. Selain itu, beberapa perusahaan besar di
sektor kelapa sawit telah mengadopsi standar keberlanjutan yang lebih
tinggi dalam kegiatan mereka, di bawah Roundtable on Sustainable
Palm Oil (RSPO) dan komitmen pada “deforestasi nol/zero deforestation”.
Terlepas dari kemajuan yang dicapai, sejumlah persoalan harus
dipecahkan sebelum Indonesia dapat mencapai sektor kelapa sawit yang
lebih berkelanjutan dan inklusif.
Tantangan ke depan
•• Meskipun sudah ada kebijakan dan regulasi untuk melindungi
hutan dan masyarakat lokal, konversi hutan primer dan sekunder
menjadi perkebunan kelapa sawit masih terus berlangsung. Regulasi
pemerintah dan standar sektor swasta seringkali mempunyai
tujuan dan kriteria yang berbeda dalam mendorong pembangunan
perkebunan kelapa sawit berkelanjutan. Rekonsiliasi diperlukan
sebagai bagian dari perbaikan tata kelola pemerintah-swasta.
•• Dengan perusahaan-perusahaan menjalankan komitmen deforestasi
nol, dampak lingkungan dari ekspansi kelapa sawit (emisi gas
rumah kaca, kehilangan keanekaragaman hayati) dapat berkurang.
Namun dikhawatirkan akan ada dampak tidak langsung seperti
meningkatnya permintaan lahan tidak berhutan yang ditempati
petani kecil atau tereliminasinya mereka dari rantai pasok bebasdeforestasi.
•• Komitmen perusahaan kelapa sawit tersebut juga dapat
berkontribusi terhadap peningkatan sistem produksi petani kecil
dan pembagian keuntungan yang lebih adil dari rantai pasok bebasdeforestasi; namun demikian, persoalan kelembagaan, finansial, dan
teknis harus dipecahkan.
•• Keputusan masa depan seputar pengembangan kelapa sawit akan
menghasilkan konfigurasi lanskap yang berbeda, yang akan memberi
dampak sosial, ekonomi dan lingkungan yang berbeda. Namun
pertanyaannya adalah konfigurasi lanskap mana saja yang paling
sesuai dengan prinsip-prinsip keberlanjutan?
Bagaimana GOLS berkontribusi
Tujuan kami adalah mendukung tata kelola hutan dan lanskap yang
menyelaraskan kebijakan dan tindakan pemerintah, perusahaan swasta
dan organisasi masyarakat sipil melalui cara-cara yang lebih efektif
berkontribusi pada konservasi keanekaragaman hayati dan pengurangan
emisi gas rumah kaca, sekaligus mengakomodasi kepentingan para
pemangku kepentingan, termasuk masyarakat miskin.
Program ini dilakukan melalui penelitian ilmiah, pengembangan kapasitas
dan pelibatan pemangku kepentingan di tingkat nasional dan lokal, dan
akan dilaksanakan selama periode tiga tahun dimulai dari bulan Oktober
2015. Penelitian akan fokus pada sejumlah lanskap kaya keanekaragaman
hayati di Kalimantan Barat dan Tengah dimana ekspansi kelapa sawit
terus terjadi.
Mengelola Lanskap Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan
Penelitian
1. Pengaturan tata kelola efektif
Komponen ini akan menggali posisi dan persepsi para pemangku kepentingan,
mengidentifikasi kesamaan dan peluang untuk menjalin kerjasama. Komponen
ini akan mengklarifikasi berbagai tantangan, celah, dan risiko yang dihadapi
oleh kelompok dan aktor korporat di sepanjang rantai nilai yang terkait dengan
implementasi deforestasi nol. Komponen ini juga akan mengidentifikasi tindakan
dan pengaturan tata kelola pemerintah dan kemasyarakatan yang diperlukan
untuk mengatasi tantangan dan risiko institusional, ekonomi, dan operasional.
Keluaran dari komponen ini adalah:
•• analisis seputar aktor dan proses yang mempengaruhi sektor kelapa sawit
•• opsi pengaturan institusional yang mendukung pasokan yang inklusif
secara sosial dan berkelanjutan
•• perangkat dan pendekatan untuk memitigasi konflik lahan.
2.Keberlanjutan lingkungan hidup dalam lanskap
kelapa sawit
Komponen ini akan mengevaluasi status keanekaragaman hayati dan
jasa ekosistem di beberapa lanskap tertentu, serta bagaimana menjaga
keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem di lanskap perkebunan kelapa
sawit. Selain itu, komponen ini akan mengevaluasi perbedaan stok karbon di
antara berbagai penggunaan lahan dan tutupan lahan. Keluaran dari komponen
ini adalah:
•• peta areal dengan nilai konservasi tinggi/stok karbon tinggi (HCV/HCS) di
dalam dan di luar area konsesi
•• pedoman perencanaan tata guna lahan
•• penilaian keanekaragaman hayati dan strategi pengelolaan
berorientasi proses
•• penghitungan emisi gas rumah kaca dan emisi yang dihindari.
3.Model bisnis yang sosial inklusif
Komponen ini akan mengevaluasi karakteristik petani kecil kelapa sawit
di berbagai tipe lanskap perkebunan kelapa sawit, berbagai tantangan
yang mereka hadapi serta upaya untuk mengatasinya dan meningkatkan
kemampuan mereka dalam menerapkan praktik berkelanjutan dan
meningkatkan produktivitas. Komponen ini akan mengidentifikasi dinamika
tata kelola yang mempengaruhi rantai nilai petani kecil, bagaimana hal-hal
tersebut menghalangi dan/atau mendorong keberlanjutan dan produktivitas,
serta kemitraan seperti apa yang dapat membantu mengatasi tantangan
produktivitas dan keberlanjutan petani kecil. Keluaran dari komponen ini adalah:
•• tipologi petani kecil dan rintangan dalam melakukan upaya perbaikan dan
peningkatan kapasitas
•• analisis jender dari sistem produksi petani kecil
•• analisis berbagai perspektif tentang kelayakan opsi tata kelola dan model
bisnis alternatif
•• analisis dinamika dan tata kelola rantai nilai.
4.Skenario untuk mengelola pertimbangan
untung-rugi sosial dan lingkungan
Komponen ini akan mengevaluasi dampak sosioekonomi dan lingkungan yang
terkait dengan keputusan spesifik tentang penggunaan lahan dan sumberdaya
dalam berbagai skenario, dan menganalisis untung-rugi sosial, ekonomi, dan
lingkungan yang diakibatkan oleh keputusan tersebut. Keluaran dari komponen
ini adalah:
•• peta spasial yang menampilkan kesesuaian lahan untuk berbagai
penggunaan lahan dalam lanskap perkebunan kelapa sawit
•• skenario untung-rugi tata guna lahan yang didefinisikan oleh pemangku
kepentingan atas berbagai jasa ekosistem pada lanskap perkebunan
kelapa sawit.
Pelibatan pemangku kepentingan
Program ini juga mencakup kegiatan pelibatan dan penjangkauan (outreach)
pemangku kepentingan melalui strategi yang terfokus dan berbasis hasil
penelitian, dalam rangka memastikan manfaat dari hasil-hasil keempat
komponen penelitian tersebut, dan tercapainya hasil-akhir-program yang
diinginkan.
Pelibatan pemangku kepentingan di dalam program ini akan memastikan
bahwa pengetahuan yang dihasilkan dapat diimplementasikan di lapangan
dan menjadi opsi kebijakan bagi pengembangan kelapa sawit yang
inklusif, adil, dan berkelanjutan, serta bagi pendekatan inovatif konservasi
keanekaragaman hayati dan tata kelola lanskap hutan. Program ini akan
didukung oleh sebuah komite penasihat yang terdiri dari berbagai pemangku
kepentingan, yang akan membantu mengevaluasi konteks politik, ekonomi,
dan sosial, mengidentifikasi eksponen terbaik, dan menjangkau target audiens.
Pengembangan kapasitas
Program beasiswa CIFOR-USAID Master’s Degree Fellowships in the
United States menyediakan peluang meraih gelar Master bagi 20 kandidat
berkualifikasi tinggi dari Indonesia untuk mempelajari konservasi hutan,
pengelolaan sumber daya alam, dan berbagai disiplin terkait di Amerika Serikat.
Beasiswa gelar Master ini, yang didanai oleh USAID, akan mencari dan merekrut
kandidat yang memenuhi kualifikasi dengan universitas-universitas mitra di
Amerika Serikat, dan menyediakan peluang bagi mereka untuk melakukan
penelitian tesis lapangan dalam proyek GOLS atau proyek-proyek penelitian
CIFOR lainnya.
Untuk informasi lebih lanjut tentang program beasiswa ini, harap hubungi:
Untuk informasi lebih lanjut tentang proyek penelitian GOLS, harap hubungi:
Dina [email protected]
Pablo [email protected]
Rogier [email protected]
Diproduksi oleh CIFOR sebagai bagian dari Program Penelitian CGIAR pada Hutan, Pohon dan Wanatani (CRP-FTA). Program
kolaboratif ini bertujuan untuk meningkatkan pengelolaan dan pemanfaatan hutan, wanatani, dan sumber daya genetis
pohon yang mencakup lanskap dari hutan sampai ke lahan budidaya. CIFOR memimpin CRP-FTA melalui kemitraan dengan
Bioversity International, CATIE, CIRAD, International Center for Tropical Agriculture dan World Agroforestry Centre.
Fund
Persiapan flyer ini didukung oleh dana USAID untuk CIFOR dalam
melaksanakan proyek Lanskap Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan/
Governing Oil Palm Landscapes for Sustainability (GOLS)
cifor.org | blog.cifor.org
Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)
CIFOR memajukan kesejahteraan manusia, konservasi lingkungan dan kesetaraan melalui penelitian yang membantu membentuk
kebijakan dan praktik kehutanan di negara berkembang. CIFOR adalah anggota Konsorsium CGIAR. Kantor pusat kami berada di Bogor,
Indonesia, dengan kantor wilayah di Asia, Afrika dan Amerika Latin.
Fly UP