...

10 - pengaruh kuat medan magnet terhadap struktur mikro dan

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

10 - pengaruh kuat medan magnet terhadap struktur mikro dan
Available online at Website http://ejournal.undip.ac.id/index.php/rotasi
PENGARUH KUAT MEDAN MAGNET TERHADAP
STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN BESI COR KELABU
Dwi Basuki Wibowo, Yusuf Umardhani, Didi Sugiarto *
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
*Email: [email protected]
ABSTRAK
Besi cor kelabu tergolong baja karbon tinggi yang memiliki kandungan karbon sekitar 2,5-3,5%
sehingga nilai keuletannya relatif rendah. Proses pembentukan logam yang umum digunakan untuk besi
cor kelabu adalah proses pengecoran (Casting). Sifat mekanis dari besi cor kelabu dipengaruhi oleh laju
pendinginan, tebal coran, perlakuan panas, penambahan unsur paduan dan perlakuan saat cairan. Suatu
paduan dengan komposisi yang sama akan memiliki struktur mikro dan sifat mekanis yang berbeda
tergantung pada proses perlakuannya.
Dalam paper ini telah diteliti pengaruh penambahan medan magnet (NdFeB) di dalam rongga
cetakan yang akan mempengaruhi proses pembentukan struktur mikro dan kekerasan besi cor kelabu.
Material yang diuji adalah besi cor kelabu dan perlakuan kuat medan magnet sebesar 16,43 mT sampai
dengan 6,54 mT. Perbandingan kekerasan antara spesimen hasil pengecoran tanpa pengaruh medan
magnet dan pengaruh medan magnet meningkat 30% dari 176,4 HB menjadi 227,7 HB pada perlakuan
medan magnet 16,43 mT. Hasil mikrografi menunjukan struktur mikro dari besi cor kelabu relatif
didominasi adanya struktur mikro dengan matrik perlitik yang membuat sifat mekanisnya menjadi lebih
keras.
Kata kunci: magnet neodymium (NdFeB), pengecoran magnet
PENDAHULUAN
Ilmu bahan logam digolongkan dalam kelompok
logam Ferro yaitu logam yang mengandung unsur besi
dan Non-Ferro merupakan logam bukan besi. Proses
pengolahan bahan logam harus memperhatikan jenisjenis dan sifatnya terutama pada proses pembentukan
dan perilaku selama penggunaannya seperti, sifat
mampu las, mampu bentuk, mampu dikerjakan dengan
mesin, stabilitas listrik, ketahanan terhadap korosi,
perbaikan dan perawatannya[1].
Pengecoran dapat diartikan sebagai suatu proses
manufaktur dengan menggunakan materi cair dan
cetakan untuk menghasilkan bagian-bagian dengan
bentuk yang mendekati bentuk geometri akhir produk.
Pengecoran dapat berupa material logam cair,
termoplastik, material yang terlarut air misalnya beton
atau gips, dan material lain yang dapat menjadi cair
atau pasta ketika dalam kondisi basah seperti tanah liat
yang akan menjadi keras apabila dalam kondisi kering
[1]
.
Pembentukan struktur internal logam terjadi
pada saat logam mengalami proses perlakuan.
Perlakuan bahan dengan menggunakan medan magnet
sebagai sarana untuk mengontrol perilaku logam cair
selama proses solidifikasi sudah banyak dilakukan.
Medan magnet dihasilkan dengan sistem solenoida
yang dirancang pada skema pengecoran akan
mempengaruhi pembentukan struktur internal logam
dengan kekuatan Lorentz yang dihasilkan [12].
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk
menganalisa struktur mikro dan sifat mekanik dari besi
cor kelabu hasil proses pengecoran dengan cara
menambahkan magnet eksternal di bawah cetakan
pasir. Medan magnet yang terjadi di dalam rongga
cetakan diharapkan mampu mempengaruhi proses
pembentukan struktur mikro logam hasil pengecoran.
Pengujian ini diharapkan dapat memperoleh sifat yang
baru dalam proses pelakuan bahan logam yang lebih
baik dan sebagai upaya untuk meningkatkan hasil dari
proses pengecoran logam sesuai kebutuhan.
TINJAUAN PUSTAKA
Besi cor merupakan paduan besi yang
mengandung karbon, silisium, mangan, fosfor dan
belerang. Unsur karbon dalam besi cor dapat berupa
sementit, karbon bebas atau grafit. Besi cor memiliki
keuletan yang relatif rendah sehingga tidak dapat
ditempa, diroll atau didrawing. Penggunaan besi cor
cukup luas karena besi cor memiliki sifat khusus
seperti, mudah dituang pada saat kondisi cair sehingga
banyak digunakan khususnya di industri pengecoran
logam [2].
Kandungan karbon pada besi cor kelabu antara
2,5% - 3,5% dan sebagian besar besi cor kelabu
memiliki grafit dalam bentuk serpih yang biasanya
dikelilingi oleh ferit atau perlit. Besi cor kelabu
memiliki nilai keuletan yang sangat rendah sehingga
apabila mengalami gaya tarik akan terbentuk bidang
perpatahan karena grafit yang menyerupai mika sangat
rapuh dan getas. Besi cor kelabu merupakan bahan
peredam getaran yang baik atau kapasitas redamnya
tinggi dan memiliki struktur mikro perlitik, feritik,
martensit dan bainitik setelah mengalami perlakuan
panas yang sesuai [2].
Grafit adalah kumpulan karbon yang dihasilkan
selama proses pembekuan dan pendinginan lambat
disebut grafit. Grafit memiliki kekerasan sekitar 1 HB,
- 10 -
Dwi Basuki Wibowo dkk., Pengaruh Kuat Medan Magnet Terhadap Struktur Mikro Dan Kekerasan Besi Cor Kelabu
kekuatan tariknya sekitar 2 kgf/mm2 (N/mm2) dan
masa jenisnya kira-kira 2,2 Kg/dm3. Grafit memberikan
pengaruh sangat besar terhadap sifat-sifat mekanik besi
cor kelabu. Grafit dalam besi cor dapat berada dalam
keadaan bebas sebagai grafit. Struktur besi cor
jumlahnya dapat mencapai 85% dari seluruh bentuk
kandungan karbon tetapi sekitar 6%-17% dari volume
total besi sebagai akibat dari berat jenisnya yang
rendah. Sifat mekanik dari besi cor banyak dipengaruhi
oleh bentuk, ukuran, disrtibusi dan banyaknya grafit di
dalamnya [2].
Gambar 1. Bentuk khusus distribusi grafit pada besi
cor kelabu [2].
Tipe A: memilki serpih-serpih grafit yang
terbagi rata dan orientasinya sembarang, struktur
seperti ini timbul pada besi cor kelas tinggi dengan
matriks perlit dan ukuran grafit yang cocok. Selain itu
terdapat juga potongan-potongan grafit yang bengkok
yang memberikan kekuatan tertinggi pada besi cor.
Grafit bengkok ini diperoleh dengan cara
meningkatkan pengendapan kristal-kristal sepanjang
austenit proeutektik.
Tipe B: Potongan ini memiliki bentuk seperti
bunga ros (rosette) dengan orientasi sebarang, struktur
ini merupakan salah satu sel eutektik yang bagian
tengahnya mempunyai potongan-potongan eutektik
halus dari grafit dan sepih-serpih grafit radial di
sekitarnya. Struktur seperti ini biasanya ditemukan
pada produk coran tipis yang mengalami pendinginan
cepat. Tipe C : Struktur ini muncul pada
sistemhipereutektik, pada tipe C ukuran serpihsaling
menumpuk dengan orientasisebarang. Hal ini
disebabkan oleh jumlahgrafit yang begitu banyak
sehingga Ferritsangat mudah mengendap tetapi,
pengendapan Ferritmengakibatkan struktur menjadi
lemahsehingga besi cor dengan tipe grafit seperti ini
sangat jarang dipakai.
Tipe D: Struktur ini mempunyai potonganpotongangrafit eutektik yang halus yangmengkristal di
antara dendrit-dendrit kristalAustenit, karena itu
potongan grafit tipe inidikenal juga sebagai penyisihan
antardendrit denga orientasi sebarang. Keadaanini
disebabkan oleh pendinginan lanjut padaproses
pembekuan Eutektik seperti oksidasidalam pencairan.
Potongan grafit seperti inimenyebabkan besi cor
memiliki kekuatanyang tinggi dengan keuletan yang
rendah.
Tipe E: Potongan grafit tipe E munculapabila
kandungan karbon agak rendah,halini akan mengurangi
kekuatan karena jarakyang dekat antara potonganpotongan grafitterdistribusi seperti pada type D.
ROTASI – Vol. 14, No. 1, Januari 2012: 10−15
Kekuatannya tinggi yangdisebabkan karena kandungan
karbon yang[2]
Sifat suatu bahan bergantung pada jenis dan
bentuk fasa yang terjadi pada proses pembentukan
logam, sejumlah data mengenai perubahan fasa
berbagai sistem paduan telah dikumpulkan dan dicatat
dalam bentuk diagram atau yang dikenal dengan
diagram fasa, juga disebut dengan diagram
keseimbangan atau diagram equilibrium. Diagram fasa
besi dan baja merupakan diagram untuk perlakuan
panas bagi logam dan diagram fasa besi karbon
diberlakukan untuk baja. Memahami diagram fasa
menjadi sebuah tuntutan karena terdapatnya hubungan
struktur mikro dengan sifat mekanis suatu material
yang berhubungan dengan karakteristik diagram
fasanya. Diagram fasa juga memberikan informasi
penting tentang titik lelah, titik kristalisasi, dan
fenomena lainnya [3].
Pemanfaatan medan magnet untuk mengubah
struktur internal logam dengan proses pengecoran
logam telah banyak dilakukan. Salah satu cara untuk
mendapatkan struktur dan sifat logam dengan
mengkondisikan atau mengkontrol struktur mikro
pembentuk logam, karena struktur mikro merupakan
cerminan dari sifat mekanik dari bahan logam, dengan
tujuan agar material logam hasil pengecoran memiliki
struktur dan sifat yang berbeda dari hasil pengecoran
logam secara umum [12].
Struktur mikro logam merupakan kontrol
kualitas dari sifat mekanik bahan, salah satu metode
untuk membentuk struktur yang sesuai dengan yang
diharapkan diperlukan perlakuan yang khusus pada
saat pengolahan dan perlakuan harus disesuaikan
dengan prosedur, salah satunya adalah dengan
mengkondisikan struktur internal logam pada saat
proses pembentukan. Proses pengkodisian logam lebih
efektif pada saat logam dalam fasa cair menjadi padat
atau proses solidifikasi [1].
Penggunaan medan magnet dalam proses
pengecoran logam dan semikonduktor dengan tujuan
untuk mengontrol perilaku logam cair selama proses
solidifikasi. Solidifikasi menggambarkan fenomena
cairan berubah menjadi padatan sebagai akibat dari
penurunan suhu cair. Medan magnet yang dihasilkan
magnet eksternal dapat mempengaruhi pembentukan
struktur logam cair akibat adaya kekuatan Lorentz yang
terjadi di dalam cetakan. Medan magnet juga dapat
digunakan untuk mengurangi aliran turbulen yang tidak
diinginkan selama pemadatan serta untuk membantu
meminimalisir terjadinya cacat pada hasil pengecoran
[10]
.
METODOLOGI PENELITIAN
Pada penelitian ini langkah-langkah pengujian
mengacu pada diagram alir berikut:
11
Dwi Basuki Wibowo dkk., Pengaruh Kuat Medan Magnet Terhadap Struktur Mikro Dan Kekerasan Besi Cor Kelabu
Pembuatan Spesimen
Hasil dari proses pengecoran akan diuji untuk
meneliti sifat mekanis dan struktur mikro yang
terbentuk dengan perlakuan magnet dan tanpa
perlakuan magnet. Proses preparasi dilakukan di
Laboratorium Metalurgi Fisik Universitas Diponegoro
sekaligus menguji kekerasan dengan metode Hardness
Rockwell (HR) dan pengujian struktur mikro dilakukan
di Laboratorium Teknik Mesin Program DIII
Universitas Gajah Mada Yogyakarta.
Spesimen hasil proses preparasi untuk pengujian
Kekerasan dan Mikrografi adalah sebagai berikut:
Gambar 4. Spesimen pengujian.
Gambar 2. Diagram alir proses penelitian.
Proses Pengecoran Medan Magnet
Proses pengecoran diawali dengan pembuatan
desain untuk pemberian efek magnet didalam ruang
yang akan dituangkan logam cair, agar dapat
memberikan efek medan magnet yang dapat
mempengaruhi hasil struktur mikro dan mendapatkan
sifat mekanis yang berbeda. Penempatan medan
magnet permanen tepat dibawah cetakan cor dengan
menggunakan magnet jenis Neodymium (NdFeB) yang
memiliki nilai medan maksimal 19,59 mT. Material
pengecoran menggunakan besi cor kelabu yang diambil
dari PT. Suyuti Sido Maju Ceper-Klaten.
Proses pengecoran divariasikan terhadap besar
medan yang dihasilkan oleh medan magnet yang terjadi
didalam rongga cetakan. Ketebalan cetakan adalah 12,5
mm, skema pengecoran adalah sebagai berikut.
Pengujian Kekerasan
Proses pengujian kekerasan diambil dari titik
yang mendekati medan magnet yaitu titik 10 mm
diaambil 3 titik yaitu dengan ukuran 3 mm, 6 mm dan
9 mm dari bagian bawah hingga ke atas. Posisi
pengambilan data kekerasan adalah sebagai berikut:
Gambar 5.Titik pengujian kekerasan.
Pengujian Mikrografi
Pengujian mikrografi dilakukan dengan
mengambil 10 titik dengan interval 10 mm ke arah
vertikal. Titik pengambilan data mikrografi adalah
sebagai berikut:
Gambar 3. Skema proses pengecoran medan magnet
pada penelitian.
12
ROTASI – Vol. 14, No. 1, Januari 2012: 10−15
Dwi Basuki Wibowo dkk., Pengaruh Kuat Medan Magnet Terhadap Struktur Mikro Dan Kekerasan Besi Cor Kelabu
70
80
90
100
Gambar 6. Titik pengambilan gambar struktur mikro.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data Pengukuran Medan Magnet
Tabel 1. hasil pengukuran medan magnet
menggunakan Tesla Meter dilaboratorium teknologi
nuklir FMIPA UNDIP.
No Titik Jarak (mm) Neodymium (mT)
1.
A
12,5
16,43
2
B
22,5
14,91
3.
C
32,5
13,26
4.
D
42,5
11,77
5.
E
52,5
10,41
6.
F
62,5
9,61
7.
G
72,5
8,46
8.
H
82,5
7,33
9.
I
92,5
6,61
10.
J
102,5
6,54
Perlitik
Grafit tipe C, Memiliki matrik
perlitik
Grafit tipe C, Memiliki matrik
perlitik
Grafit tipe B, memiliki matrik
perlitik
Grafit tipe B, memiliki matrik
Perlitik
188,9
180,3
170,8
162,2
Tabel 3. Data spesimen II perlakuan magnet.
Jarak Medan
Kekerasan
(mm)
(mT)
Mikrografi
(HB)
Grafit tipe D,
memiliki matrik
10
16,43
Perlitik
227,7
Grafit tipe A dan C,
memiliki matrik
20
14,91
Perlitik
185,3
Grafit tipe C, memiliki
30
13,26
matrik Perlitik
176,2
Grafit tipe B, memiliki
40
11,77
matrik Perlitik
173,6
Grafit tipe C, memiliki
50
10,41
matrik Perlitik
211,1
Grafit tipe C, memiliki
60
9,61
matrik Perlitik
174,7
Grafit tipe A, memiliki
matrik Perlitik dan
70
8,46
Feritik
188,9
Grafit tipe C, memiliki
80
7,33
matrik Perlitik
185
Grafit tipe B, memiliki
90
6,61
matrik Perlitik
167
Grafit tipe B, memiliki
100
6,54
matrik Perlitik
165,7
Hasil uji mikrografi
1) Ttik A dengan jarak 10 mm.
Pengujian Kekerasan dan Mikrografi
Tabel hasil pengujian kekerasan dan Mikrografi adalah
sebagai berikut:
A1
A2
Tipe D
Tipe C
Tabel 2. Data spesimen I tanpa perlakuan.
Jarak
Kekerasan
(mm)
Mikrografi
(HB)
Grafit tipe C, memiliki matrik
10
Perlitik dan Feritik
176,4
Grafit tipe B, Memiliki matrik
20
perlitik
151,9
Grafit tipe B, memiliki matrik
30
Perlitik
175,8
Grafit tipe B, memiliki matrik
40
perlitik
168,9
Grafit tipe C, memiliki matrik
50
perlitik
201,1
60
Grafit tipe B, neniliki matrik
170,7
ROTASI – Vol. 14, No. 1, Januari 2012: 10−15
Perbesaran 100x tanpa Etsa
A1
Perlit
Grafit
A2
Grafit
Ferit
Perlit
Ferit
Perbesaran 200x Etsa
13
Dwi Basuki Wibowo dkk., Pengaruh Kuat Medan Magnet Terhadap Struktur Mikro Dan Kekerasan Besi Cor Kelabu
2) Titik E dengan jarak 50 mm.
terpusat pada satu titik (rossete)yang memiliki sifat
rapuh. Setelah dilakukan etsa didapatkan struktur
mikro yang didominasi dengan matrik perlitik.
E2
E1
Tipe C
Tipe C
227.7
240
211.1
220
188.9
185.3
185
200
176.2 173.6
174.7 172.8
167 165.7
201.1
180
180.3
160 176.4
175.8
170.8
170.7
168.9
162.2
140
151.9
120
100
80
60
40
20
0
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
E1
Grafit
Nilai Kekerasan Brinell
Perbesaran 100x tanpa Etsa
Perlit
E2
Grafit
Perlit
Ferit
Ferit
Perbesaran 200x Etsa
3) Ttik J dengan jarak 100 mm.
Tipe B
J1
J2
Tipe B
Perbesaran 100x tanpa Etsa
Perlit
J2
J1
Ferit
Perlit
Grafit
Ferit
Grafit
Perbesaran 200x Etsa
Analisa struktur Mikro
1. Titik A jarak 10 mm
Pada titik A1 adalah spesimen hasil pengecoran tanpa
perlakuan dan A2 adalah hasil spesimen dengan
perlakuan medan magnet 16,43 mT. Dari data yang
didapatkan distribusi grafit dengan tipe C dan D. Grafit
dengan tipe C menyebabkan material bersifat rapuh,
kemudian grafit tipe D memiliki sifat yang relatif keras
karena merupakan distribusi grafit yang relatif halus.
Setelah dilakukan etsa didapatkan matrik perlitik.
2.
Titik E jarak 50 mm
Pada titik E1 adalah spesimen hasil pengecoran
tanpa perlakuan dan E2 adalah hasil spesimen dengan
perlakuan medan magnet 10,41 mT. Dari data yang
didapatkan terdapat distribusi grafit dengan tipe C,
grafit ini merupakan kumpulan grafit yang terlalu
banyak sehingga terjadi pengendapan. Hal ini
menyebabkan material bersifat rapuh, karena memiliki
serpih grafit yang panjang sehingga mudah mengalami
pemusatan apa bila mendapat gaya dari luar dan
memiliki matrik perlitik.
3.
Titik J jarak 100 mm
Pada titik J1 adalah spesimen hasil pengecoran
tanpa perlakuan dan J2 adalah hasil spesimen dengan
perlakuan medan magnet 6,54 mT. Dari data yang
didapatkan, titik ini memiliki distribusi grafit dengan
tipe B. Grafit ini merupakan distribusi grafit yang
14
NON-MAGNET
Titik
A
16,
47
B
14,
91
C
13,
96
D
11,
77
E
10,
41
F
9,6
1
G
8,4
6
H
7,3
3
I
6,6
1
J
6,5
4
Gambar 7. Grafik perbandingan nilai kekerasan besi
cor kelabu dengan pengaruh medan magnet dan tanpa
perlakuan medan magnet.
Berdasarkan
grafik
perbandingan
nilai
kekrasan di atas terlihat perbedaan nilai kekerasan
antara spesimen hasil pengecoran dengan penambahan
medan magnet dengan pengecoran secara umum. Pada
hasil spesimen pengecoran dengan penambahan
medan magnet mengalami kenaikan nilai kekerasan
sekitar 30% pada titik dengan jarak 10 mm (titik A)
dari 176,4 menjadi 227,7 HB apabila dinbandingkan
dengan nilai kekerasan pada hasil pengecoran tanpa
perlakuan medan. Pada titik dengan jarak 20 mm (titik
B) juga mengalami kenaikan nilai kekerasan sekitar
22% dibandingkan dengan hasil pengecoran tanpa
medan magnet yaitu 185,3 HB dari 151,9 HB.
Pada titik selanjutnya tidak terlalu memiliki
perbedaan yang signifikan, dikarenakan jarak medan
magnet yang terlalu jauh. Maka dapat disimpulkan
bahwa medan magnet Neodymium (NdFeB) yang
digunakan hanya mempengaruhi pada jarak 10 mm
dan 20 mm (titik A dan B).
KESIMPULAN DAN SRAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil data dan analisa dari
pengujian kekerasan dan mikrografi pada besi cor
kelabu hasil pengecoran dengan penambahan magnet
eksternal dibawah cetakan, dapat diambil kesimpulan
adalah sebegai berikut :
1. Penambahan magnet eksternal pada proses
pengecoran besi cor kelabu belum sepenuhnya
berpengaruh terhadap perubahan struktur mikro dan
sifat mekanisnya, meskipun demikian nilai
kekerasan pada jarak 10 mm (titik A)mengalami
perbedaan sekitar 30% pada hasil perlakuan medan
magnet 16,43 mT, apabila dibandingkan dengan
hasil pengecoran tanpa medan magnet dari 176,4
HB menjadi 227,7 HB.
ROTASI – Vol. 14, No. 1, Januari 2012: 10−15
Dwi Basuki Wibowo dkk., Pengaruh Kuat Medan Magnet Terhadap Struktur Mikro Dan Kekerasan Besi Cor Kelabu
2. Pengaruh medan magnet terhadap pembentukan
struktur mikro besi cor kelabu yang terlihat adalah
distribusi grafit pada jarak 10 mm dan 20 mm (titik
A dan B). Struktur mikro hasil pengujian
mikrografi didapatkan hampir seluruh titik
didominasi dengan adanya matrik perlitik yang
menyebabkan material bersifat keras.
3. Distribusi grafit yang dihasilkan pada jarak 10 mm
(titik A) memiliki kemiripan dengan penelitian
yang dilakukan sebelumnya, yaitu distribusi grafit
yang terbentuk akibat adanya medan magnet yang
memiliki potongan grafit halus dan mengkristal
sehingga mengakibatkan besi cor kelabu memiliki
kekuatan yang relatif tinggi dan keuletan yang
rendah.
Saran
Dari pengujian dan analisa pembahasan yang
telah dilakukan, terdapat beberapa hal yang mungkin
menjadi masukan untuk penelitian selanjutnya antara
lain:
1. Perlu penelitian lanjutan mengenai pengaruh kuat
medan magnet terhadap sifat mekanis besi cor
kelabu
diantaranya
Kekuatan
(Strenght),
Kekenyalan (Elasticity), Kelelahan (Fatique) dan
Plastisitas (Plasticity).
2. Untuk mendapatkan pengaruh dari kuat medan
magnet pada srtuktur mikro dan nilai kekerasan
besi cor kelabu yang lebih besar, disarankan
menggunakan magnet yang memiliki kekuatan
medan yang besar.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Engineering Volume 34 ISSUE1. Silesian
University of Technology, Polandia.
9. Patrick, K., 2007, “Microstructure and
Caracterization of Electromagnetic Casting Al
2024 Alloy Ingots”. Journal Metalurgy ISSN
0543-5846. New york.
10. Li, B.Q., 1998 “Solidification Processing of
Materials in Magnetic Fields”. Jurnal Mechanical
Engineering vol-50. Washington State University.
Washington.
11. Umardani, Yusuf dan Erwin Sudrajat., 2007,
”Analisa Penggunaan Fly ash sebagai material
cetakan pasir pada pengecoran Besi cor ditinjau
dari campuran Cetakan”. Jurnal. Universitas
Diponegoro. Semarang.
12. Swaldi., 2006, ”Analisa Kekuatan Tarik dan
Struktur Mikro dari Baja Konstruksi bangunan
Terhadap Perubahan Temperatur”. Jurnal. Teknik
Mesin Universitas Islam Riau. Riau.
DAFTAR PUSTAKA
Daryanto., 2010, ”Proses Pengolahan Besi dan
Bajaja (Ilmu Metalurgi)”. Sarana Tutorial Nurani,
Bandung.
Surdia, Tata., 2000, ”Teknik Pengecoran Logam
edisi ke 8”. Pradnya Pratama, Jakarta.
Callister, William D., 1993. Materials Science
and Engineering”, 8rd edition. New Jersey: John
Willey & Sons, Inc.
Saripudin, AIP., 2009, ”Fisika III untuk
Universitas”. Fisindo Media Persada, Jakarta.
Furlani, Edwards., 2001, ”Permanent Magnet and
Electromechanical Devices”. Academik Press.
New York.
Afza, Erini., 2011, “Pembuatan Magnet
Permanent Ba-Hexa Ferrite (BaO.6Fe2O3)
dengan
Metode
Koorpresipitasi
dan
Karakterisasinya”. Tugas Akhir. Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA)
Universitas Sumatra Utara. Sumatra.
Djamal, Mitra dan Rahmondia Nanda Setiadi.,
2006. “Pengukuran Medan Magnet Lemah
Menggunakan Sensor Magnetik Fluxgate dengan
Satu Koil Pick-Up”. Jurnal. FMIPA. Institut
Teknologi Bandung. Bandung.
Szajnar, dkk., 2009, ”Influence of electromagnetic
field on pure metals and alloys structure”. Journal
of Achievements in Materials and Manufacturing
ROTASI – Vol. 14, No. 1, Januari 2012: 10−15
15
Fly UP