...

Sedikit Kata-Katanya, Luas Maknanya

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Sedikit Kata-Katanya, Luas Maknanya
http://sumut.kemenag.go.id/
Sedikit Kata-Katanya, Luas Maknanya
Oleh : H.M. Sazli Nasution
BILA kita membuka lembaran sejarah, diriwaytkan, suatu ketika dibacakan sahabat ayatayat ayat-ayat suci Al-Qur’an termaksud dalam surat Al-Zalzalah, menetes air mata mereka.
Kenapa demikian? rupanya ada hal yang sangat menyentuh perasaan mereka. Surah tersebut
mengingatkan kedahsyatan hari akhirat, hari pembalasan terhadap amal manusia dipermukaan
bumi ini. Terjemahan QS Al-Zalzalah : Apabila bumi digoncang dengan goncangan yang
dahsyat. Dan bumi mengeluarkan beban berat yang dikandungnya, termasuk mayat-mayat
manusia di seantero alam.dan manusia bertanya, apa yg terjadi pada hari ini? Pada hari ini
menyampaikan beritanya, termasuk tentang apa yang dibuat manusia sewaktu hidupnya diatas
permukaan bumi. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompokkelompok untuk diperlihatkan kepada mereka segala perbuatannya. Maka barang siapa
mengerjakan kebaikan meskipun seberat dzarrah, ia akan mengetahuinya. Dan barang siapa
mengerjakan kejahatan, meskipun seberat dzarrah, ia juga akan melihat balasannya.
Murtadha Muthahhari dalam kitabnya Durus Min Al-Quran menyebutkan dzarrah dalam
bahsa Arab adalah ungkapan untuk benda yang sangat kecil, yakni tidak ada lagi yang lebih kecil
dari itu, dzarrah-dzarrah ini sangat kecil dan keras para ulama dan filosof yakin dzarrah ini tidak
bisa dibagi lagi. Dan dalam ilmu modern dikenal sebagai atom.
Kalau ada disinggung tentang ukuran dan berat amal tentu ada yang disebut al-Mizan
atau timbangan amal. Siapapun yang menyadari akan adanya hari pembalasan, akan tergetar
hatinya. Ia akan melakukan Muhasabah, berhitung tentang apa yang sudah dan akan
dilakukannya berupa amal sholeh, sebagai bekal di dunia maupun akhirat.
Ayat yang bunyinya singkat tapi mengandung makna yang luas ini disebut juga
mengandung makna jawami’. Sedikit kata-katanya namun sangat luas maknanya. Katsirul
ma’ani, qalilul alfazh.
http://sumut.kemenag.go.id/
Empat Dasar Akhlak
Umat Islam diharapkan memahami 3 hal yang saling berkaitan dan menjadi masalah
pokok dalam ajaran Islam yakni akidah, syariat dan akhlak. Dan dalam tulisan ini, penulis sekilas
mengaris bawahi masalah akhlak.
Akhlak adalah keadaan rohaniah manusia yang bersendikan agama, tercermin dalam
tingkah laku, baik yang ditujukan kepada Al-Khalik (Allah SWT) maupun terhadap manusia dan
lingkungan.
Ada 4 dasar akhlak muslim yang tergambar dalam QS Al ‘Ashar, singkat tapi luas
maknanya. Surah Al-‘Ashar seringkali dikutip oleh para khatib diakhir khutbahnya. Artinya:
Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal sholih serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk
kesabaran.
Orang yang tidak merugi, tapi memperoleh kebahagiaan dan keberuntungan ialah orang
yang benar-benar beriman kepada Allah yang akan tergambar dalam ucapan dan perbuatannya
yakni beramal sholih, juga saling menasehati untuk kebenaran yang berdasarkan Al-Quran serta
saling menasehati untuk kesabaran, sabar menjalankan perintahNya dan meninggalkan
laranganNya, sabar pula ketika diperintah musibah.
Disini juga kita melihat sebagaimana kaum muslimin diperintahkan untuk selalu
melaksanakn amal sholih. Gunakan waktu dengan sebaik-baiknya mengisi waktu di dunia yang
fana ini.
Allah SWT menjanjikan kehidupan yang baik di dunia dan balasan pahala bagi mukminin
yang beramal sholih seperti disebutkan dalam QS An-Nahl ayat 97 : Artinya : Barang siapa
beramal sholih baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami
berikan balasan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Kehidupan bahagia itu tidak mesti dalam ukuran material yang melimpah. Sebab
mungkin saja seseorang mempunyai harta yang melimpah, tapi ia tidak bahagia, selalu gelisah
karena hartanya diperoleh dari jalan tidak halal, tidak thyayyib. Ia takut entah satu waktu nanti
penyelewengannya terbongkar sehingga ia diseret ke pengadilan. Hal seperti ini tidak mustahil.
http://sumut.kemenag.go.id/
Barapa banyak pejabat yang menjadi tersangka korupsi milyaran rupiah,termasuk pejabat-pejabat
di kabupaten pemekaran di Sumut. Nama-namanya di beberkan di mass media, sehingga tidak
saja memalukan dirinya, tapi juga keluarganya.
Amar Makruf Nahi Mungkar
Kembali pada ayat-ayat dalam QS Al-‘Ashr, sesudah perintah dan beriman dan beramal
sholih, dalam seruan saling menasehati untuk kebenaran secara implisit terkandung perintah agar
kontinu, terus menerus menegakkan amar makruf nahi mungkar. Namun kebenaran yang
ditegakkan bukanlah menurut ukuran akal manusia belaka. Tapi kebenaran yang berasal dari
Allah yang dapat dirujuk dalam QS Ali’Imran ayat 60 : Kebenaran itu berasal dari Tuhanmu,
oleh karena itu engkau jangan ragu.
Ketika menafsirkan ayat ini penafsir Assa’di dalam kitab tafsirnya menyatakan kebenaran
disini tidak hanya terkait dengan masalah akidah, tapi semua hal yang digariskan Allah SWT
adalah al-haqq atau kebenaran dan yang bertentangan dengan itu disebut batil.
Lebih jelas lagi dalam QS Arra’d ayat 1 Allah SWT berfirman : Al-Quran yang
diturunkan kepadamu itu adalah Al-haqq dengan arti isinya mencangkup kebenaran, keyakinan
dan keadilan yang merupakan unsur pokok guna melestarikan kebenaran itu sendiri.
Seiring dengan perkembangan zaman, dalam merealisasi amar makruf nahi mungkar,
turut dipertimbangkan UU dalam peraturan yang diterapkan suatu Negara. Contohnya :Indonesia
bukan merupakan Negara Islam. Namun pemerintah memberikan perhatian yang besar
menangani urusan kehidupan umat beragama dalam menjalankan ajaran agamanya. Bagi umat
Islam ada UU perkawinan, UU perhajian, UU tentang zakat, UU tentang Wakaf Indonesia,
aturan tentang pendirian rumah ibadah, dll.
Namun kita cermati sekarang ini muncul keinginan untuk merevisi UU perkawinan
supaya lebir berkeadilan bagi wanita, merevisi UU perhajian, tidak terkecuali juga mungkin
menyempurnakan UU Wakaf dengan tetap berlandaskan kebenaran dalam Al-Quran dan Sunnah
Rasulullah Saw.
Kita katakan perlu menyempurnaan UU Wakaf kerena di Medan misalnya sedang marak
kasus perubuhan mesjid karena kepentingan bisnis. Dalam kasus tertentu UU Wakaf
http://sumut.kemenag.go.id/
memungkinkan terjadinya alih fungsi benda wakaf untuk kepentingan umum, dengan nilai yang
sama dan pertimbangan cermat lainnya. Tentunya bukan untuk kepentingan bisnis dan
mengabaikan kemuliaan keberadaan mesjid pada lokasi strategis. Oleh karena itu kita
mendukung kebijakan Pemko Medan dan Pemprovsu yang akan mengeluarkan surat edaran atau
membuat Perda, sehingga tidak terjadi lagi perubuhan mesjid. Tidak hanya itu tapi juga ahli
fungsi benda wakaf, madrasah dan Alih fungsi tanah wakaf perkuburan hanya untuk kepentingan
bisnis kapitalis.
Diutus Dengan Jawani’ Al-Kalim
Kembali kepada masalah sedikit kata-katanya, tapi luas maknanya, Nabi Muhammad
Saw dalam salah satu hadistnya yang diriwayatkan Al-Bukhari bersabda : Bu’itstu bijawami’il
kalim, aku diutus dengan kemampuan menyampaikan kata-kata yang sedikit, tapi mempunyai
makna yang luas. Inilah keistimewaan Nabi Muhammad Saw yang disebut sebagai orang paling
Fasih dalam bahasa Arab.
Sebagai contoh, kepada orang yang suka meminta-minta, Nabi Saw bersabda : Aliyadul
‘ulya khairum min alyadissulfa, tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah : orang member
lebih baik dari orang yang menerima. Orang yang menerima nasehat seperti ini, tentu akan
terdorong untuk mencari pekerjaan guna memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kepada orang yang meminta nasehat tentang apa pekerjaan terbaik yang harus
dilakukannya, Ayyul kasbi athyab ya Rasullullah ? Rasul singkat menjawab : Amallurrajuli biyadihi, yakni usaha seseorang dengan mengandalkan tangannya. Maknanya tentu sangat luas. Bisa
jadi supir, pilot pesawat terbang, polisi, tentang yang memegang senjata, pedagang, guru, dosen,
penulis, pejabat yang sangat berharga tanda tangannya, dlsb.
Nasihat singkat lainnya yang disampaikan Nabi Saw mendorong kita untuk lebih bagus
diam dari pada banyak bicara, tapi tidak bermanfaat, falyaqul khairan awilyashmut.
Nasihat Rasullah Saw itu ternyata juga diamalkan oleh para pemberi fatwa.
Diriwayatkan, suatu ketika Imam Syafi’i ditanyakan tentang suatu masalah. Tapi dia diam. Si
penanya berkata : Lima la tajib. Kenapa engkau tidak menjawab. Ia berkata : Hatta a’lamal
http://sumut.kemenag.go.id/
fadhla fi sukuti au fi jawabi. Aku diam sampai aku mengetahui mana yan g lebih baik, diam atau
memberi jawaban.
Terakhir, ada juga unsur jawami’, kata-katanya sedikit tapi maknanya luas dalam doa al
Maktsur, maksudnya doa yang diriwayatkan berasal dari Nabi Saw. Dalam sebuah hadist
diriwayatkan Tirmidzi disebutkan suatu ketika Abu Umamah RA berkata kepada Rasulullah
Saw: wahai Rasulullah engkau banyak sekali membaca doa sehingga kami tidak hafal lagi
sedikitpun. Rasullullah Saw bersabda : maukah kalian ku tunjukkan semua doa yang mencakup
semua itu. Bacalah: Allohhumma inni as-aluka min khairi ma saalaka minhu Nabiyyuka
Muhammaddun Shallallahu ‘allahi wasallam, wa na’udzu bika min syarri masta’adjaka minhu
Nabiyyuuka Muhammadun shollallahu” alaihi wasallam wa antal musta’an wa’alaikal balagh wa
la haula wa la quwwata illa billahi ‘aliyyil ‘azhim.
Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadamu segala kebaikan yang dimohonkan
Nabimu Muhammad Saw. Dan kami berlindung kepadamu dari segala macam keburukan yang
dimohonkan Nabimu Muhammad Saw. Kepadamulah pertolongan dimohonkan dan kepadamu
pula permohonan disampaikan. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan izinmu ya Allah.
Doa yang singkat kata-katanya, tapi sangat luas maknanya. Ini lagi kelebihan Rasullah
Saw.
http://sumut.kemenag.go.id/
Kepustakaan :
1. Akhlak Al-Quran, Drs H. Answar Masy’ari, MA, PT. Bina Ilmu, Surabaya 1990.
2. Al Minhaju Assawiy, Al Habib Zein bin Ibrahim bin Sumath, Daar Al Ulum Al Islamiyah,
Surabaya, Indonesia, 2008
3. Al Wafa Biahwal Al Musthofa Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, Ibnu Al Jauzi, terj. Pustaka AL
Kautsar, Jakarta, 2008
4. Fikih Nasehat, Fariq Gazim Anuz, Darus Sunnah Press, Jakarta, 2005
5. Al Adzkar, Imam AN Nawawi, terj. PT Maarif Bandung, 1984
6. Asysyifa bita’rif huquq al Musthofa, AL Qadhi ‘Iyadh, Daar AL Kutub Al Ilmiyyah, Beirut,
Libanon, 2002
7. Lisan Al ‘Arab, Ibnu Manshur, jilid 8, Daar Al Fikr, Beirut, tt
8. Tafsir As Sa’di Daar Ibn Hazm, Beirut, 2003
9. Syarh Al ‘Araba’in Annawawiyyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, terj.
Pustaka Al Inabah, Bogor, 2005
10. Tafsir Surah Ar Rahman wa Suwar Qashar, Addoktor Syauqi Dhaif, Daar Al Maarif, Al
Qahirah, tt
11. Fadhail Suwar Al Qur’an Al Karim, Addoktor Ibrahim Assayid Ali Isa, Daar Assalam, AL
Qahirah, 2010
12. Al Qur’an dan terjemahannya, Depag RI, 2004
13. Durus Min Al-Qur’an, Murtadha Muthahhari, terj. Pustaka Hidayah, 2007
14. Mu’jam Mufradat Alfazhil Quran, Arraghib Al Ashafahani, Daar Al Fikr, tt
Fly UP