...

Teknik Mengairi Padi Kalau macak

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Teknik Mengairi Padi Kalau macak
Teknik Mengairi Padi
Kalau macak-macak cukup, mengapa harus digenang?
Oleh : Ir. Iwan Juliardi, MS dan Ir. Ade Ruskandar, MS
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan air untuk padi sawah sebanyak 0,74 –
1,2 l/det/ha, atau 6,39 – 10,37 mm/hari/ha. Kebutuhan air terbanyak pada saat penyiapan
lahan sampai tanam dan memasuki fase bunting sampai pengisian bulir padi.
Kebutuhan air untuk pengolahan tanah sampai siap tanam (30 hari) mengkonsumsi air
20% dari total kebutuhan air untuk padi sawah dan fase bunting sampai pengisian bulir
(15 hari) mengonsumsi air sebanyak 35 %. Berdasar data tersebut sebetulnya sejak tanam
sampai memasuki fase bunting tidak membutuhkan air banyak, demikian pula setelah
pengisian bulir. Oleh karenanya 15 hari sebelum panen, padi tidak roboh dan ditinjau dari
aspek pemberian air memang tidak perlu lagi.
Pengefisienan penggunaan air di petakan dapat dilakukan dengan mengairi sawah dalam
keadaan macak-macak. Setelah tanaman padi berumur 14 hari sampai periode bunting
tidak memerlukan air yang banyak. Kebiasaan petani menggenangi sawahnya sampai 5
cm bahkan lebih karena petani tidak membayar air yang digunakan tersebut, sehingga
cenderung bermewah-mewah dengan air. Berdasar hasil penelitian menggunakan air pada
padi sawah menunjukkan bahwa sawah yang digenangi setinggi 5 cm sejak tanam sampai
bunting tidak memberikan perbedaan hasil gabah dengan sawah yang diairi macakmacak. Hanya biasanya sawah yang diairi macak-macak populasi gulma lebih banyak
terutama rumput-rumput berdaun sempit. Dengan irigasi macak-macak sampai periode
bunting, maka air dapat dihemat penggunaannya, Tabel 1.
Tabel 1. Hasil gabah dan konsumsi air pada berbagai pengairan
Pola Pengairan
Digenang terus
Digenang (7-35)-macak macak
(36-50)-digenang (50-85)
Digenang (7-50)-macak macak
(50-85)
Digenang (7-35)-macak macak
(36-85)
Macak-macak terus menerus
Hasil gabah (t/ha)
MH
MK
7,21 a
4,40 a
7,09 a
4,44 a
Konsumsi air (m3)
MH
MK
6758
7358
5966
6536
6,92 a
4,54 a
5853
6375
6,38 a
4,52 a
4025
4903
6,99 a
4,46 a
2457
4355
Sumber : Didiek Setiobudi, 1987
Keterangan
Nilai hasil gabah dan konsumsi air merupakan rata-rata dari varietas IR 36, IR 52, IR 54 dan
Bogowonto. Angka dalam kurung menunjukkan hasil setelah
Berdasarkan tabel diatas, irigasi macak-macak mampu menghemat air sebanyak 41% dan
49% masing-masing pada musim kemarau dan penghujan. Di samping itu pematang
sering-sering ditambal dengan lumpur agar air tidak hilang melalui retakan-retakan
pematang. Yuyu merupakan binatang yang banyak menyebabkan kehilangan air melalui
pematang, sehingga perlu dicegah keberadaannya. Dengan demikian bila pematang selalu
dalam keadaan rapat, maka kehilangan air dapat dicegah. Dengan petakan irigasi sebelah
menyebelah juga salah satu cara mengurangi kehilangan air. Pengairan padi sawah
dengan sistem bergilir dapat dilakukan, terutama pada musim kemarau. Hal ini
mengingat suplai air dari sungai-sungai semakin menipis, hujan pun semakin sedikit
padahal luas tanaman padi gadu tetap sama dengan luas tanaman padi rendeng.
Akibatnya ketersediaan air ataupun bendung tidak mencukupi untuk mengairi padi seperti
halnya musim penghujan. Bila debit air yang keluar dari bendung atau waduk < 40% dari
debit normal, maka dapat dilakukan irigasi gilir giring. Sedangkan bila debit air >60%
dari debit normal, maka gilir glontor dapat disarankan untuk sistem pengairannya. Irigasi
gilir giring ataupun gilir glontor pada prinsipnya sama, yaitu bergilir dengan interval
waktu tertentu dalam suatu blok sawah, hanya yang membedakan adalah volume air yang
disalurkan ke blok tersebut. Untuk padi sawah, irigasi dengan interval waktu 7 – 10 hari
tidak menunjukkan perbedaan hasil padi dibanding tanpa digilir.
Efisiensi penggunaan air tidak hanya untuk tanaman padi, namun juga untuk tanaman
palawija. Pada daerah tadah hujan, pengefisienan penggunaan air penting sekali,
mengingat daerah tersebut tidak mempunyai air irigasi. Pada daerah ini penanaman padi
dua kali membawa resiko yang besar, terutama kekurangan air pada saat tanaman
membutuhkan air banyak (periode bunting samapai pengisian bulir), yang dapat berakibat
terjadinya perununan hasil padi secara dastis. Untuk itu biasanya petani menanam
palawija yang tidak membutuhkan air banyak. Kebanyakan palawija baik itu kacang
tanah, kedelai, kacang hijau ataupun jagung hanya mengkonsumsi air sebanyak 0,25 –
0,30 dari padi sawah, tergantung umur tanamannya.
Ir. Iwan Juliardi, MS dan Ir. Ade Ruskandar, MS
Penulis dari BB Penelitian Padi
Dimuat pada Tabloid Sinar Tani, 13 September 2006
Fly UP