...

PEMBELAJARAN, MAKHLUK HIDUP ATAU BENDA MATI: SUATU

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

PEMBELAJARAN, MAKHLUK HIDUP ATAU BENDA MATI: SUATU
PEMBELAJARAN, MAKHLUK HIDUP ATAU BENDA MATI:
SUATU ANALOGI
Hadi Suwono
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang
Jl. Semarang 5 Malang Telp: 0341-588077
E-mail: [email protected]
Abstract
Artikel ini membuka diskusi tentang analogi pembelajaran. Pembelajaran dianalogikan sebagai
makhluk hidup, khususnya pembelajaran sains, dengan fokus pada pembandingan ciri-ciri makhluk hidup
dengan pembelajaran. Dengan harapan para pendidik lebih mengenal sosok pembelajaran sehingga
tidak memperlakukan pembelajaran sebagai benda mati yang statis tetapi sebagai “makhluk” yang
dinamis. Pembelajaran “tumbuh, berkembang, berkembangbiak, dan beradaptasi terhadap lingkungan”
selayaknya makhluk hidup. Pembelajaran juga memerlukan “nutrisi” dan “nutrisi” tersebut dapat
berperan menjadi faktor pembatas bagi pembelajaran. Pandangan bahwa pembelajaran sebagai
”makhluk hidup” akan memudahkan pendidik dalam mengenal, menelaah, dan mengembangkan
pembelajaran yang memfasilitasi siswa menguasai kosep, berpikir kritis, dan memecahkan masalah.
Kata-kata Kunci: Analogi, Pembelajaran, Makhluk Hidup.
Learning, Living Things or Non-living Things: an Analogy. This article opens a discussion
about the analogy of learning. Learning analogous as living things, especially the learning of science,
focusing on comparison the characteristics of living things and learning. When the teachers know the
nature of learning, they do not treat learning as a static objects but as dynamic living thing. Learning
"grow, reproduce, and adapt to the environment" like living things. Learning also requires a "nutrition"
and "nutrition" can play as limiting faktor for learning. View of learning as a "living things" will
facilitate teachers in identifying, analyzing, and developing the learning to facilitate students on concept
mastery, thinking critically, and solve problems.
Keywords: Analogy, Learning, Living Things.
1. PENDAHULUAN
Menarik, tulisan Mergel (1998)
tentang analogi biologik dalam klasifikasi
teori belajar. Mergel menulis bahwa
klasifikasi teori-teori belajar agak analog
dengan sistem klasifikasi yang dikembangkan oleh para ahli biologi dalam memilah
dan mengelompokkan makhluk hidup. Ahli
biologi mengklasifikasi makhluk hidup
berdasarkan persamaan dan perbedaan ciriciri. Klasifikasi dimulai dengan mendefinisikan
ciri-ciri,
menyusun
kategori,
menetapkan kriteria, kemudian dilakukan
pengelompokan makhluk hidup. Makhluk
hidup yang memiliki ciri yang sama
dimasukkan dalam unit yang sama (unit
disebut takson), makhluk hidup yang
memiliki ciri berbeda dipisahkan dalam unitunit yang berbeda pula. Awalnya makhluk
hidup diklasifikasi ke dalam dua kerajaan
SEMNAS MIPA 2010
(kingdom), yaitu kerajaan tumbuhan dan
kerajaan hewan. Pada tahap berikutnya
setelah ditemukannya mikroskop diketahui
bahwa ada organisme yang mengandung
klorofil dan mobile (dapat bergerak aktif),
yang tidak memenuhi kriteria untuk dapat
dimasukkan ke dalam kerajaan hewan atau
tumbuhan sehingga perlu dimunculkan
kerajaan protista untuk menampung
oragnisme berklorofil dan mobile tersebut.
Kriteria yang tepat untuk protista masih
belum dibentuk, tetapi itu adalah wadah
yang memberi tempat untuk semua
organisme yang tidak cocok untuk
dikelompokkan baik pada kerajaan hewan
maupun kerajaan tumbuhan.
Ahli biologi terus memodifikasi
sistem klasifikasi sebagai respons terhadap
munculnya penemuan-penemuan organisme
baru dan sifat-sifatnya yang didukung oleh
BIO - 109
kemajuan teknologi. Munculnya teknologi
baru seperti mikroskop elektron memungkinkan pengamatan secara mendetail pada
bakteri sehingga diperlukan penambahan
kerajaan baru, yakni Monera. Kemudian
setelah itu, ciri-ciri khas jamur telah
membawa pada upaya dimunculkan satu
kerajaan lagi, yaitu Kerajaan Jamur.
Perkembangan klasifikasi dalam
biologi analog dengan yang terjadi pada
teori belajar. Mula-mula dikenal teori belajar
behaviorisme dan kognitivisme. Identifikasi
karakteristik lebih jauh pada teori-teori
belajar, memunculkan pengembangan dan
penyesuaian taksonomi lebih dari satu teori
belajar yaitu teori belajar diklasifikasi ke
dalam behaviorisme, kognitivisme, konstruktivisme, postmodernisme, kontekstualisme, dan lain-lain.
Artikel ini membuka diskusi tentang
analogi
pembelajaran.
Pembelajaran
dianalogikan sebagai makhluk hidup,
khususnya pembelajaran sains dengan fokus
pada pembandingan ciri-ciri makhluk hidup
dengan pembelajaran. Dengan harapan para
pengembang pendidikan (baca: pendidik)
lebih mengenal sosok pembelajaran
sehingga tidak memperlakukan pembelajaran sebagai benda mati yang statis tetapi
sebagai “makhluk” yang dinamis. Tentu saja
analogi tidak selalu tepat, tetapi diharapkan
pemikiran ini menumbuhkan semangat
pendidik untuk selalu mengembangkan
pembelajaran yang dinamis, interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, dan
memotivasi peserta didik; selain itu juga
pembelajaran
yang
menumbuhkan
partisipasi aktif serta menumbuhkan ruang
yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan
perkembangan fisik serta psikologis peserta
didik; seperti yang diharapkan dalam
Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang
Standar Proses.
Analogi adalah suatu cara untuk
membangun pengetahuan, membangun teori,
dan mengenali dunia (Aubusson, 2006).
Analogi merupakan alat berpikir yang
membimbing pendengar dan pembaca untuk
melihat,
mengenal,
mengidentifikasi,
membandingkan, memaknai, menginterpretasi, dan mengelaborasi pengetahuan
baru. Analogi biasanya digunakan untuk
mempelajari konsep baru sehingga pebelajar
dapat menghubungkan antara apa yang
SEMNAS MIPA 2010
dipelajari dengan konsep yang dimilikinya
(Harrison dan Treagust, 2006).
2. APA, MENGAPA, BAGAIMANA
PEMBELAJARAN SAINS
Sains atau Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA) merupakan pengetahuan tentang sifatsifat alam yang dikumpulkan oleh manusia
melalui serangkaian proses yang dilakukan
secara sistematis (Abruscato, 1996). Brown
dan Shavelson (2001) menyatakan bahwa
IPA merupakan organisasi enam domain
yaitu konsep, proses, penerapan, sikap
positif, dan kreativitas.
Carin (1993)
menyatakan bahwa IPA tersusun atas
produk, proses, dan nilai atau sikap.
Pernyataan Abruscato, Brown dan
Shavelson, serta Carin tersebut secara jelas
menunjukkan bahwa IPA memiliki tiga
komponen yaitu produk, proses, dan sikap.
IPA sebagai produk memiliki pengertian
bahwa IPA terdiri atas fakta-fakta, konsep,
prinsip, teori, dan hukum. Produk IPA inilah
yang dipelajari siswa melalui kurikulum
yang secara konseptual dirangkai untuk
mengembangkan
pemahaman
siswa
terhadap sifat-sifat alam. Produk IPA
merupakan inti dari pembelajaran IPA.
Pemahaman siswa tentang produk IPA
merupakan pembelajaran yang penting
karena tanpa memahami konsep, prinsip,
teori, dan hukum IPA siswa tidak dapat
mengikuti perkembangan IPA dan teknologi
(Brown dan Shavelson, 2001).
IPA sebagai proses menunjukkan
bahwa penemuan IPA melalui serangkaian
proses
yang
melibatkan
penerapan
keterampilan proses, oleh sebab itu
pembelajaran IPA juga melatih siswa
menggunakan keterampilan proses untuk
menemukan konsep-konsep IPA. Ada dua
kelompok keterampilan proses yang perlu
dilatihkan di sekolah, yaitu keterampilan
proses
dasar
meliputi
observasi,
membandingkan,
mengklasifikasikan,
mengukur dan menggunakan peralatan,
mengkomuni-kasikan, menganalisis, dan
mengevaluasi; serta keterampilan proses
terintegrasi,
yaitu
berpikir
kritis,
memecahkan masalah secara kreatif,
membuat keputusan, dan melakukan
investigasi. Keterampilan proses IPA juga
perlu dipelajari oleh siswa karena
kompetensi menggunakan keterampilan
BIO - 110
proses akan membantu siswa mampu
menerapkan pengetahunnya baik di kelas
maupun di luar kelas dan membangun
keterampilan berpikir kritis dan pemecahan
masalah bagi siswa yang penting untuk
hidup di dunia nyata.
IPA sebagai kumpulan nilai memiliki
makna bahwa penemuan IPA dilandasi oleh
sikap ilmiah. Sikap ilmiah ini perlu
dilatihkan kepada siswa agar siswa memiliki
sikap ilmiah. Siswa yang memiliki sikap
ilmiah memiliki rasa ingin tahu yang tinggi,
dapat
mengambil
keputusan,
mengembangkan hasrat untuk mencari
jawaban, mendekati masalah dengan pikiran
yang terbuka,
berlatih memecahkan
masalah, objektif, jujur, teliti, mampu
bekerjasama,
dan
senang
meneliti.
Penemuan IPA secara moral ditujukan untuk
perbaikan hidup manusia, oleh sebab itu
pembelajaran IPA yang melatih siswa
menghasilkan penemuan serta mempelajari
dampak dan penyebab dari penemuan IPA
tersebut mampu mendorong siswa memiliki
kepekaan sosial.
Pada hakikatnya tujuan belajar IPA
tidak hanya untuk menghafal seperangkat
fakta, konsep, prinsip, teori, dan hukum,
tetapi yang penting adalah melatih belajar
menemukan sendiri konsep, prinsip, hukum
IPA, serta menggunakan hasil penemuan
untuk berpikir kritis dan memecahkan
masalah sehingga siswa dapat sukses
menerapkan pengetahuan
IPA
dalam
kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, tugas
guru dalam pembelajaran IPA tidak sekedar
menjadikan siswa hafal konsep-konsep IPA
saja tetapi yang lebih penting adalah
memfasilitasi penemuan konsep dan prinsipprinsip IPA, serta melatih siswa memecahkan masalah, berpikir kritis, dan memiliki
sikap IPA.
Proses pembelajaran IPA didasarkan
pada teori-teori belajar yang dikemukakan
oleh para ahli pendidikan. Piaget, Vygotsky,
Bloom, Gagne, Bruner, dan Ausubel adalah
pakar teori belajar yang teorinya banyak
mempengaruhi pembelajaran IPA di
sekolah. Pembelajaran IPA hendaknya
sesuai dengan tahap perkembangan anak,
misalnya untuk siswa pendidikan dasar
pembelajaran
IPA
dilaksanakan
menggunakan contoh-contoh kongkrit dan
sebanyak mungkin melibatkan pengalamanpengalaman
fisik
yaitu
melibatkan
SEMNAS MIPA 2010
penyentuhan, perakitan, pengeksperimenan,
dan pengecapan.
Gagné (1985) dengan teori hirarki
belajar menjelaskan bahwa kemampuan
belajar memiliki urutan yang hirarkis.
Kemampuan kompleks hanya akan dikuasai
jika kemampuan sederhana yang menjadi
prasyaratnya telah dikuasai. Pembelajaran
IPA hendaknya dimulai dari hal-hal yang
sederhana ke hal-hal yang kompleks. Gagné
memandang pemecahan masalah merupakan
kemampuan belajar yang paling tinggi,
untuk mencapai kemampuan memecahkan
masalah, siswa perlu menguasai tingkat
kemampuan yang lebih sederhana misalnya
diskriminasi, mempelajari konsep, dan
mempelajari aturan. Bloom, dkk., (1956)
juga menekankan penguasaan berpikir
tingkat
rendah
untuk
memperoleh
penguasaan berpikir tingkat tinggi.
Pembelajaran IPA jangan hanya
mempelajari dan menghafal konsepnya saja,
tetapi proses untuk mendapatkan konsep
juga penting karena melatih anak
berketrampilan proses. Bruner (Arends,
1997)
memberikan
tekanan
pada
“bagaimana caranya agar siswa memahami
sesuatu”
dengan
kata
lain Bruner
menekankan pada proses. Oleh sebab itu,
Bruner
menyarankan
pembelajaran
dilakukan dengan metode belajar penemuan
(discovery learning) di mana siswa secara
aktif melakukan pencarian pengetahuan.
Dalam pandangan konstruktivisme
pengetahuan bersifat personal dan dibangun
oleh individu melalui pengalaman (Arends,
1994).
Belajar
adalah
penyusunan
pengetahuan dari pengalaman konkrit,
aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta
interpretasi. Agar pemeblaajran berhasil,
lingkungan harus ditata agar pebelajar
termotivasi dalam menggali makna.
Pebelajar akan memiliki pemahaman yang
berbeda terhadap pengetahuan tergantung
pada pengalamannya dan perspektif yang
dipakai dalam menginterpretasikannya.
Berdasarkan pandangan konstruktivisme
pembelajaran IPA disarankan, (a) menggunakan benda-benda nyata, (b) menggunakan pendekatan yang sesuai dengan
perkembangan anak, (c) memperkenalkan
kegiatan yang menarik, (d) memberikan
pertanyaan-pertanyaan dan masalah untuk
dipecahkan, (e) menganjurkan siswa untuk
saling berinteraksi, (f) menghindari istilahBIO - 111
istilah teknis, (g) menekankan pada
kemampu-an berpikir kritis, (h) menekankan
pada pemberian pengalaman belajar secara
langsung
melalui
penggunaan
dan
pengembangan keterampilan proses, (i)
melatih siswa berpikir dengan caranya
sendiri, (j) melatih siswa menghasilkan
karya yang kreatif dan inovatif.
3. ANALOGI
PEMBELAJARAN
DENGAN MAKHLUK HIDUP
Makluk hidup memiliki ciri yang berbeda
dengan benda mati. Makhluk hidup
memerlukan nutrisi, beradaptasi terhadap
lingkungannya,
tumbuh,
berkembang,
melakukan aktivitas metabolisme, peka
terhadap rangsang, dan memiliki sifat-sifat
biologik lainnya. Sedangkan, benda mati
tidak
memiliki
sifat-sifat
biologik.
Pembelajaran adalah benda mati, tetapi jika
kita memandang pembelajaran sebagai
”makhluk hidup” akan memudahkan bagi
kita
dalam
mengenal,
menelaah,
mengembangkan pembelajaran sebagai
suatu cara yang penting untuk membelajarkan siswa.
3.1 Makhluk Hidup dan Pembelajaran
Memerlukan “Nutrisi”
Makhluk hidup memerlukan nutrisi
sebagai sumber energi, pembangun tubuh,
tumbuh, berkembang, dan berkembangbiak.
Tumbuhan memerlukan tanah sebagai
sumber hara untuk membangun tubuh,
memerlukan
sinar
matahari
untuk
berfotosintesis.
Hewan
memerlukan
makanan yang berasal dari hewan lain dan
tumbuhan sebagai nutrisi untuk tumbuh,
berkembang, dan berkembangbiak.
Pembelajaran
juga
memerlukan
nutrisi untuk bisa tumbuh dan berkembang.
Tanpa nutrisi pembelajaran akan mandeg,
membosankan, dan tidak memberikan hasil
yang maksimal. Nutrisi bagi pembelajaran
terutama berupa informasi dan pengetahuan
yang menjadi bagian utama dari kompetensi
yang harus dikuasai siswa.
Jika
pembelajaran hanya memiliki nutrisi
minimal (informasi/ pengetahuan terbatas)
maka hasil belajar yang diperoleh oleh
siswa sebagai pebelajar juga terbatas. Nutrisi
bagi pembelajaran ada yang bersifat esensial
ada yang bersifat non esensial. Nutrisi yang
esensial
adalah
informasi/pengetahuan
SEMNAS MIPA 2010
utama yang harus dikuasai (kompetensi
utama) sedangkan yang non esensial adalah
informasi/ pengetahuan tambahan untuk
memperkaya khasanah siswa.
Dengan
demikian,
di
dalam
pembelajaran pendidik harus menghadirkan
sumber belajar yang cukup dan beragam
agar siswa mampu mendapatkan informasi
yang cukup untuk
mengembangkan
kompetensinya.
“Nutrisi” penting lain yang juga
diperlukan bagi pembelajaran adalah
kesiapan siswa, kesiapan guru/pendidik,
media, dan sumber belajar. Oleh sebab itu
dalam pembelajaran kesiapan pendidik dan
siswa, ketersediaan media dan sumber
belajar menjadi bagian yang penting.
Dalam suatu waktu saya berpikir
tentang "apa yang membatasi belajar dan
bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas
hasil belajar”. Kemudian saya teringat
konsep "Hukum Minimum” dari Liebig
yang banyak dibahas di Fisiologi
Tumbuhan, juga di Ekologi (dalam bahasan
Hewan dan Lingkungan). Hukum minimum
Liebig menyatakan bahwa pertumbuhan
suatu organisme dipengaruhi oleh nutrisi
yang jumlahnya minimum atau dengan kata
lain produksi organisme sebanding dengan
jumlah gizi yang paling membatasi. Dari
teori ini, dapat disimpulkan bahwa jika
nutrisi yang jumlahnya kurang tersebut
dilengkapi maka hasil dapat ditingkatkan
sampai pada titik jika jumlah nutrisi tersebut
terpenuhi.
Analoginya adalah hasil pembelajaran
berbanding lurus dengan ketersediaan
“nutrisi”. Seorang pendidik hendaknya dapat
mengidentifikasi/mendefinisikan
hasil
belajar serta nutrisi apa yang diperlukan
dalam pembelajaran, serta nutrisi apa
dimungkinkan mampu membatasi hasil
belajar.
Belajar merupakan proses aktif ,
bermakna,
dan
berkelanjutan,
oleh
karenanya faktor-faktor pembatas perlu
dipenuhi.
1. Kualitas belajar harus difokuskan pada
kesiapan manusia sebagai pendukung
utama sistem yaitu kesiapan pebelajar
dan
kesiapan
pendidik.
Karena
kekurangsiapan faktor manusia akan
menentukan hasil belajar
2. Inti pembelajaran utamanya adalah
mengkonstruk pemahaman, berpikir
BIO - 112
kritis, dan memecahkan masalah, oleh
karena
itu
pembelajaran
harus
mengangkat
masalah nyata dalam
kehidupan sehari-hari untuk dipecahkan.
3. Lingkungan belajar sebaiknya diperkaya
dengan berbagai media dan sumber
belajar serta memberi kesempatan
pebelajar untuk belajar dengan gaya
belajar yang berbeda.
4. Peran
pendidik
adalah
sebagai
fasilitator/moderator; pendidik memberikan kesempatan dan menyediakan ruang
yang luas untuk terjadinya interaksi
multiarah.
5. Kolaborasi
yang
memungkinkan
pebelajar berinteraksi satu sama lain
diterapkan di dalam proses belajar
mengajar, sehingga pebelajar mampu
mencapai potensi yang maksimal yang
dimilikinya.
3.2 Pembelajaran Tumbuh dan Berkembang
Makhluk
hidup
tumbuh
dan
berkembang.
Demikian pula dengan
pembelajaran. Pembelajaran juga tumbuh
dan berkembang. Pembelajaran selalu
mengalami partum-buhan karena teori-teori
belajar yang mendasari pembelajaran pun
mengalami perkembangan.
Tumbuhan dan hewan tumbuh dari
satu sel menjadi banyak sel. sel-sel tersebut
berdiferensiasi menjadi jaringan, jaringan
menyusun organ, organ-organ membentuk
sistem organ, sistem organ menjalankan
fungsi suatu makhluk hidup. Hewan dan
tumbuhan yang pada saat embrio hanya
terdiri atas beberapa sel, setelah dewasa
tumbuh dan berkembang menjadi organisme
yang kompleks. Tumbuhan memiliki akar
dan batang yang bercabang-cabang, serta
daun, bunga, biji, dan buah. Hewan juga
tumbuh dan berkembang menjadi suatu
sistem yang rumit.
Belajar
adalah
mengumpulkan,
menyaring,
mengkonstruk
informasi,
pengetahuan, opini, dan pikiran-pikiran.
Pembelajaran
hendaknya
merangsang
pertumbuhan mental pebelajar melalui
proses memahami, mencontoh, mengktitisi,
berbuat, dan berkolaborasi. Oleh sebab itu
perancang pembelajaran perlu memahami
bahwa pembelajaran harus selalu tumbuh
dan berkembang dan menjadi wahana bagi
SEMNAS MIPA 2010
pebelajar untuk mengembangkan potensinya
secara
maksimal.
Makhluk
hidup
berkembang dari satu sel menjadi jaringan
dan organ yang rumit; pembelajaran dimulai
dari yang sederhana dan dilanjutkan dengan
hal yang rumit.
3.3 Pembelajaran “Berkembangbiak”
Semua
makhluk
hidup
berkembangbiak, dan setiap makhluk hidup
ingin keturunannya mampu bertahan hidup
di lingkunganya. Tidak ada induk yang
menginginkan keturunan yang cacat, tidak
survive, dan tidak adaptif. Hewan dewasa
melahirkan anak-anak, anak-anak ini kelak
berkembang
menjadi
dewasa
dan
melahirkan
keturunan-nya.
Tumbuhtumbuhan berbunga tumbuh dewasa dan
menghasilkan bunga dan biji. Biji
disebarkan dan tumbuh menjadi individu
baru.
Demikianlah, setiap makhluk hidup
akan tumbuh dari kecil menjadi besar.
Setelah berkembang menjadi dewasa
makhluk
hidup
akan
menghasilkan
keturunan baru. Dengan bertumbuh makhluk
hidup dapat berkembang dari usia muda
menjadi usia dewasa, dan dengan
berkembangbiak makhluk hidup dapat
meneruskan kelestarian jenisnya.
Pembelajaran
juga
tumbuh,
berkembang
dan
berkembangbiak.
Pembelajaran seharusnya
mengajarkan
pebelajar sebagai cara untuk belajar
sehingga pembelajaran menjadi milik
pebelajar; dan pebelajar memahami bahwa
apa yang telah dipelajari memiliki makna
bagi
kehidupannya.
Dalam
proses
pembelajaran yang ditransfer bukan hanya
informasi, konsep, cara berpikir, sikap,
psikomotorik, tetapi juga cara belajar itu
sendiri.
Hasil belajar (yang terdiri dari
informasi, konsep, prinsip, cara berpikir,
cara
belajar,
sikap,
psikomotorik)
selanjutnya diterapkan oleh siswa dalam
kehidupan sehari-hari dan hasil belajar ini
bisa ditransfer dari satu pebelajar ke
pebelajar lain. Seperti sebuah ovum dan
sperma
yang
mengandung
DNA,
pembelajaran mengandung kompetensi
berupa
pengetahuan,
nilai,
sikap,
keterampilan dan cara belajar yang dapat
BIO - 113
diwariskan dari pendidik kepada pebelajar,
dari satu pebelajar ke pebelajar lainnya.
3.4 Makhluk Hidup dan Pembelajaran:
Beradaptasi
Dahulu para guru beranggapan bahwa
murid atau pebelajar sudah belajar jika apa
yang disampaikan guru di dalam kelas bisa
disampaikan ulang oleh murid persis seperti
apa yang diinginkan guru. Murid dianggap
tidak belajar kalau tidak bisa menghafalkan
apa yang sudah diajarkan guru kepadanya.
Hubungan guru dan siswa di kelas adalah
guru mengajar dan siswa mendengar dan
mencatat. Tidak pernah ada yang
mengatakan bahwa guru belajar dari murid.
Jika murid menjawab pertanyaan guru
dengan menggunakan kata-kata mereka
sendiri dan isinya berbeda dari yang
dikehendaki guru maka murid tersebut
dianggap tidak belajar. Agar murid “belajar
dengan benar” maka perlu bagi guru untuk
menyampaikan (mengajarkan) semua yang
“guru inginkan supaya diketahui murid”
secara langsung. Guru (aktif) menyiarkan
informasi dan murid (pasif) menyerap
informasi tersebut. Murid diperlakukan
sebagai objek yang harus melakukan semua
apa yang dikehendaki oleh guru. Murid
menjadi tertekan karena tututan guru belum
tentu sama dengan yang dikehendaki murid.
Suasana belajar di sekolah bagi sebagian
besar murid menjadi pengalaman yang
membangkitkan rasa cemas, tertekan dan
tidak menyenangkan.
Pandangan para ahli pendidikan saat
ini yang berlandaskan pada filosofi
konstruk-tivisme menentang pandangan
yang mengatakan bahwa belajar adalah
proses menyerap yang bersifat pasif.
Menurut konstruktivisme belajar adalah
kegiatan yang dilakukan oleh murid secara
aktif. Murid tidak sekedar menyerap
informasi dari guru dan kemudian
memantulkan kembali apa yang diterima.
Murid secara aktif menyeleksi informasi,
memberi arti pada informasi tersebut
walaupun informasi tersebut belum secara
lengkap tersedia. Jadi inti dari belajar
adalah, (1) kegiatan yang dilakukan secara
aktif oleh pebelajar, (2) kegiatan aktif
mengkonstruksi pengetahuan dari informasi
yang diterima indera dan telah melewati
proses seleksi, (3) kegiatan dilakukan secara
SEMNAS MIPA 2010
sadar dan selektif (bermanfaat, penting, dan
masuk akal). Orang dikatakan sudah belajar
jika dalam pikiran orang tersebut terjadi
proses penyusunan kembali (restrukturisasi)
kerangka pengetahuannya. Jadi menghafal
materi pelajaran bukanlah kegiatan belajar.
Pendidikan diselenggarakan sebagai
proses pembudayaan dan pemberdayaan
peserta didik yang berlangsung sepanjang
hayat. Dalam proses tersebut diperlukan
pendidik yang memberikan keteladanan,
membangun kemauan, dan mengembangkan
potensi dan kreativitas peserta didik.
Implikasi dari prinsip ini adalah pergeseran
paradigma proses pendidikan, yaitu dari
paradigma pengajaran ke paradigma
pembelajaran. Pembelajaran adalah proses
interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan
belajar.
Proses
pembelajaran
perlu
direncanakan, dilaksanakan, dinilai, dan
diawasi agar terlaksana secara efektif dan
efisien. Proses belajar dikelas digerakkan
oleh pembelajaran. Filosofi, teori, dan
praktik-praktik pembelajaran telah tumbuh
dan berkembang.
Pembelajaran haruslah beradaptasi
terhadap
perkembangan
jaman.
Pembelajaran dikembangkan sesuai dengan
perkembangan
teori
belajar
dan
perkembangan teknologi. Pembelajaran
harus mampu menyiapkan siswa agar
memiliki kemampuan berpikir dan bekerja
kritis, kreatif, kolaboratif, memahami
budaya asing, dapat berkomunikasi, dapat
menggunakan komputer, berkarir, dan
mempelajari kemampuan diri. Perubahan
paradigma pembelajaran yang perlu
diterapkan adalah: dari peran pendidik
sebagai sumber pengetahuan menjadi
pendidik
sebagai
fasilitator
yang
memfasilitasi penguasaan pengetahuan; dari
belajar menguasai kurikulum secara
langsung menjadi belajar menerapkan apa
yang dipelajari dalam kurikulum ke dalam
pemecahan masalah sehari-hari; dari belajar
pengetahuan faktual menjadi belajar
memecahkan
masalah;
dari
belajar
memahami pengetahuan menjadi belajar
berpikir kritis; dari belajar sesuai prosedur/
resep menjadi belajar untuk menemukan dan
menciptakan hal baru; dari belajar individual
menjadi belajar kolaboratif; dari belajar
menggunakan monomedia menjadi belajar
BIO - 114
menggunakan multimedia; dari belajar
monodisiplin menjadi belajar multidisiplin.
3.5 Peka terhadap Rangsang
Makhluk hidup memiliki kemampuan
menanggapi rangsang yang disebut sebagai
iritabilita. Karena adanya rangsangan,
mahkhluk
hidup
harus
“bereaksi”.
Adakalanya reaksinya itu berupa gerakan.
Gerak berarti perpindahan sebagian atau
seluruh bagian tubuh makhluk hidup. Jadi
sebenarnya gerak
merupakan suatu
perwujudan dari kepekaan makhluk hidup
terhadap rangsang dari luar. Umumnya,
hewan dapat bergerak aktif sedangkan
tumbuhan bergerak secara pasif.
Pembelajaran juga harus peka
terhadap rangsang dalam arti pembelajaran
harus berubah secara cepat untuk
menanggapi variabel lingkungan yang
berubah.
Stimulus
yang
dapat
mempengaruhi pembelajaran dapat berasal
rangsang dari luar, misalnya perkembangan
kebijakan
pendidikan
nasional,
perkembangan teknologi, dan tuntutan
masyarakat; selain itu juga rangsangan dari
dalam, misalnya kondisi siswa di kelas,
ketersediaan media dan sumber belajar, dan
situasi kelas/sekolah.
Kebijakan kurikulum dari kurikulum bersifat
nasional menjadi kurikulum tingkat satuan
pendidikan, haruslah dimaknai bahwa
pembelajaran (tujuan, proses, evaluasi)
sesuai standar mutu nasional, disesuaikan
dan diperkaya dengan sumberdaya lokal.
Sumberdaya lokal ini meliputi potensi siswa,
keragaman potensi daerah, peran serta dan
dukungan masyarakat, sosio-budaya lokal,
ketersediaan sumber belajar, nilai-nilai
masyarakat lokal, dan perkembangan
IPTEKS.
3.6 Metabolisme Pembelajaran
Di dalam tubuh makhluk hidup
berlangsung reaksi penyusunan dan
penguraian
(metabolisme).
Reaksi
penyusunan dikenal sebagai anabolisme,
misalnya sel-sel tubuh menyusun protein,
lemak; sel tumbuhan menyusun zat organik
melalui fotosintesis. Reaksi penguraian
dikenal sebagai katabolisme, misalnya selsel tubuh melakukan penguraian gula
menjadi karbondioksida, air, dan energi.
SEMNAS MIPA 2010
Metabolisme sosial (Padovan, 2000)
adalah the particular form in which societes
establish maintain their materials input from
and output to nature; the mode in which they
organize the exchange of matter and energy
with their natural environment. Metabolisme
pembelajaran
memiliki
karakteristik:
pembelajaran adalah suatu sistem; terjadi
pertukaran materi dan energi dengan
lingkungannya (suprasistemnya);
terjadi
transformasi materi dan energi dalam
sistem; organisasi untuk mengatur agar
sistem berfungsi optimal.
3.7 Pendidik adalah ”ADN”pembelajaran
Pendidik adalah agen pembaruan
pembelajaran karena pendidik memiliki
kompetensi
pedagogik,
kompetensi
kepribadian, kompetensi profesional, dan
kompetensi sosial. Pendidik memiliki
kompetensi
profesional
jika
selalu
meningkatkan
dan
mengembangkan
kompetensi secara berkelanjutan sejalan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni. Pendidik harus
senantiasa berusaha memperbaiki kinerjanya
dan
mengatasi
masalah-masalah
pembelajaran dan senantiasa mengikuti
perubahan.
Proses pembelajaran inspiratif yang
diselenggarakan
hendaknya
dapat
mendorong semangat untuk belajar dan
menumbuhkan inspirasi pada peserta didik
untuk
memunculkan
ide
baru,
mengembangkan inisiatif, dan kreativitas.
Proses pembelajaran juga diusahakan agar
dapat mengarahkan siswa untuk mencari
pemecahan
masalah,
mengembangkan
semangat pentang menyerah, melakukan
percobaan untuk menjawab keingintahuannya. Proses pembelajaran harus dapat
memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif,
mendorong siswa untuk terlibat dalam setiap
peristiwa belajar yang sedang dilakukan.
Pembelajaran aktif dimaksudkan bahwa
dalam proses pembelajaran pendidik harus
menciptakan suasana sedemikian rupa
sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.
Belajar harus merupakan suatu proses
aktif dari siswa dalam membangun
pengetahu-annya, bukan hanya proses pasif
yang hanya menerima penjelasan dari guru
tentang pengetahuan. Pendapat ini sejalan
BIO - 115
dengan pendapat Vygotsky bahwa ada
keterkaitan antara bahasa dan pikiran.
Dengan aktif berbicara siswa lebih mengerti
konsep atau materi yang dipelajari.
Pembelajaran harus kreatif artinya
menumbuhkan daya cipta. Peran aktif siswa
dalam
proses
pembelajaran
akan
menghasilkan generasi yang kreatif, artinya
generasi yang mampu menghasilkan sesuatu
untuk kepentingan dirinya dan orang lain.
Kreatif juga dimaksudkan agar pendidik
menciptakan kegiatan-kegiatan belajar yang
beragam sehingga memenuhi berbagai
tingkat kemampuan siswa.
Guru adalah pembaharu pembelajaran
dan mewariskan cara-cara belajar yang baik
kepada siswanya. Jadi guru adalah semacam
”ADN” yang mentranslasi ide yang
terwujudkan sebagai interaksi proses belajar
mengajar di kelas.
Aubusson, P.J. 2006. Can Analogy Help in
Science Education Research? Dalam: Methaphor
Analogy in Science Education. Aubusson, P.J.,
Harrison, A.G., dan Ritchie, S.M (Eds).
Springer:
Dordrecht,
the
Netherlands.
http://books.google.co.id/books?id=xZW7o2i_R
HgC&pg=PA169&lpg=PA169&dq=the+analogy
+of+constructivisms+on+organisms+characterist
ic&source=bl&ots=J3sVP6QiNa&sig=r5nUOJc
QaWxbETtXTwYhrin9ifw&hl=id&ei=KyTOT
M7AFIqMvQPprwN&sa=X&oi=book_result&ct
=result&resnum=7&ved=0CDkQ6AEwBg#v=on
epage&q&f=false. Diakses 30 Oktober 2010.
4. KESIMPULAN
Carin, A.A. 1993. Teaching Modern Science.
New York: McMillan Publishing Company.
Pembelajaran memiliki ciri yang
analog
dengan
makhluk
hidup.
Pembelajaran bukan benda mati yang statis
tetapi sebagai “makhluk” yang dinamis.
Pembelajaran
“tumbuh,
berkembang,
berkembangbiak, dan beradaptasi terhadap
lingkungan” selayaknya makhluk hidup.
Pembelajaran juga memerlukan “nutrisi”
dan “nutrisi” tersebut dapat berperan
menjadi faktor pembatas bagi pembelajaran.
Pandangan bahwa pembelajaran sebagai
”makhluk hidup” akan memudahkan
pendidik dalam mengenal, menelaah, dan
mengembangkan
pembelajaran
yang
memfasilitasi siswa menguasai kosep,
berpikir kritis, dan memecahkan masalah.
Guru memiliki peran penting dan
menentukan terhadap mutu pembelajaran.
Guru adalah semacam ”ADN” yang
mentranslasi ide yang terwujudkan sebagai
interaksi proses belajar mengajar di kelas.
5.
Blooms, B.S., Engelhart, D.M., Hill, W.H., dan
Krathwohl, D.R. 1956. Taxonomy of Educational
Objectives, The Clasification of Educational
Goal. Handbook 1. Cognitive Domain. London:
Longkam Group, Ltd.
Brown, J.H. dan Shavelson, R.J. 2001. Assesing
Hands-on Science, a Teacher Guide to
Performance Assesment. Thousand Oaks,
California: Corwin Press, Inc.
Gagne, R.M. 1985. The Condition of Learning.
New York: Holt, Rinehart and Winston.
Harrison, A.G. dan Treagust, D.F. 2006.
Teaching and Learning with Analogies. Dalam:
Methaphor Analogy in Science Education.
Aubusson, P.J., Harrison, A.G., dan Ritchie, S.M
(Eds). Springer: Dordrecht, the Netherlands.
http://books.google.co.id/books?id=xZW7o2i_R
HgC&pg=PA169&lpg=PA169&dq=the+analogy
+of+constructivisms+on+organisms+characterist
ic&source=bl&ots=J3sVP6QiNa&sig=r5nUOJc
QaWxbETtXTwYhrin9ifw&hl=id&ei=KyTOT
M7AFIqMvQPpr-wN&sa=X&oi=book_result&
ct=result&resnum=7&ved=0CDkQ6AEwBg#v=
onepage&q&f=false. Diakses 30 Oktober 2010.
Padovan, D. 2000. The Concept of Social
Metabolism in Classical Sociology. Revista
Theomay (edicion electronica), Numero 2.
Argentina: Red Internacional de Estudios sobre
Sociedad, Naturaleza Desarrollo Universidad
Nacional de Quilmes.
DAFTAR PUSTAKA
Abruscato, J. 1996. Teaching Children Science,
A Discovery Approach. Boston: Allyn and
Bacon.
Arends, R.I. 1994. Learning to Teach. New
York: McGraw-Hill Comapnies, Inc.
Arends, R.I. 1997. Classroom Instruction and
Management.
New
York:
McGraw-Hill
Comapnies, Inc.
SEMNAS MIPA 2010
BIO - 116
Fly UP