...

Ketika Suka dan Duka Bersatu Begitu Padu

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Ketika Suka dan Duka Bersatu Begitu Padu
Ketika Suka dan Duka Bersatu Begitu Padu ...
Ditulis oleh Krismariana
Jumat, 24 April 2009 15:14
"Apa enaknya tinggal di asrama?" Itu adalah pertanyaan
yang biasa dilontarkan
kepadaku dulu semasa tinggal di asrama. Mmm
... apa ya? Aku sendiri dulu juga
bingung bagaimana menjawab
pertanyaan itu.
Semasa kuliah aku "terpaksa" tinggal di asrama Syantikara,
Jogja. Terpaksa?
Ya, barangkali itu kata yang agak tepat. Waktu itu
sebenarnya aku sudah agak
terlambat mendaftar ke asrama. "Sudah
penuh," begitu kata Suster Ben, sang ibu
asrama. "Tapi
coba saja datang ke sini lagi barang tiga hari lagi. Siapa tahu ada
anak yang membatalkan masuk sini." Mendengar jawaban itu
sebenarnya aku merasa
senang. Senang? Ya, karena kalau aku nggak
jadi tinggal di asrama, aku akan tinggal
bersama kakakku di rumah
Nenek. Aku biasa berlibur di rumah Nenek bila liburan tiba,
dan aku
cukup senang tinggal di sana. Tapi kakak dan orangtuaku terus
mendorongku untuk tinggal di asrama. "Kamu akan mendapat banyak
hal positif di
sana. Kamu akan punya banyak teman dan ikut kegiatan
macam-macam," begitu kata
mereka. Jujur saja, aku ngeri masuk
asrama. Lihat bangunannya saja, aku sudah
deg-degan. Besar ... dan
iiihhh, kesannya dingin. Tiga hari kemudian aku datang ke asrama lagi. Dan ... yak! aku
diterima masuk
asrama. Senang? Entahlah. Yang jelas aku deg-degan
menghadapi hal baru itu. Aku
tidak biasa tinggal bersama orang
banyak. Semasa di rumah, aku punya kamar sendiri
yang cukup besar.
Aku tidak bisa membayangkan sekamar dengan orang banyak.
Bagaimana
kalau aku lagi BT dan ingin sendirian? Bagaimana kalau meja belajar
dan almariku kecil? Apakah barang-barangku bisa tertampung?
Bagaimana kalau
kakak-kakak asramaku galak? Bagaimana kalau teman
sekamarku norak? Ah ... pusing!
Akhirnya aku toh tinggal di asrama selama lima tahun! Mulai dari
pertama
masuk kuliah sampai lulus, aku menghabiskan waktu di sana.
Mulai dari hari pertama
Penataran P4 di kampus sampai ketika aku
diguyur oleh teman-teman seusai
pendadaran.
Yah, kenangan tidak enak memang selalu ada. Pertengkaran dengan
teman
satu unit. (Di sana memakai istilah unit untuk tempat tinggal.
Semacam paviliun kecil,
diisi empat sampai delapan anak.) Dimarahi
suster. Jam tamu yang terbatas. Makanan
yang cuma itu-itu saja. Ada
hal-hal yang tidak bisa aku nikmati karena aku tinggal di
asrama.
Misalnya saja, Suster begitu tegas bila kami hendak ikut acara tahun
baru di luar asrama. Kalau mau keluar untuk menikmati acara tahun
baru, jam 22.00
sudah harus tiba di asrama. Nah, jam segitu dapat
apaan di luar?
Salah satu acara yang "panas" di asrama tuh acara Dies
Natalis. Dalam proses
perwujudan acara itu sungguh membuat syaraf
tegang dan hati panas. Bentrok dengan
teman dan suster tak
terhindarkan. Entah itu urusan cari dana, susunan acara, sampai
urusan hati karena merasa kerja kerasnya tak berarti.
Aku sempat menyesal tinggal di asrama. "Ugh, mendingan kost
daripada
tersiksa begini." Sungguh, aku sempat merasa putus asa
tinggal di sana, bergaul
dengan anak-anak yang membuat jengkel dan
harus mematuhi peraturan-peraturan
1/3
Ketika Suka dan Duka Bersatu Begitu Padu ...
Ditulis oleh Krismariana
Jumat, 24 April 2009 15:14
asrama benar-benar membuat hatiku
capek.
Tapi setelah kupikir-pikir, di asrama itu juga aku mendapatkan
banyak
"kekayaan". Di Syantikara aku mendapat teman-teman
dekat yang bisa diajak bicara
dari hati ke hati serta bertukar
pikiran. Ada Nining, Nana, dan Yuni yang sampai
sekarang selalu
meneguhkan aku. Ada Mbak Tutik, teman sekamar, tempat aku biasa
curhat. Ada Mbak Astrid yang penuh canda dan selalu bersemangat. Ada
Adelia,
Era, Mila, Sinta, Galuh yang manja dan lucu. Ada Enok, teman
seperjuangan. Ada
Metta dan Domin yang mengajakku ikut bergabung
dalam berbagai aktivitas mereka
baik di kampus, maupun di luar
kampus. Ada Metti, mace Irian yang genit. Ada Suster
Ben, Mas
Ko Ping Ho, Mbak Bendot, Mbak Yanti, dan karyawan asrama lain yang
selalu setia melayani anak-anak asrama yang bandel-bandel (tapi baik
... hehehe).
Dan masih banyak kawan dan warga asrama lain, saking
banyaknya nggak akan cukup
kalau disebut satu per satu di sini!
Suka duka tinggal di asrama itu begitu lekat, tak terpisahkan,
seperti sisi-sisi
koin. Suka duka itulah mungkin yang mengikatkan
kami satu sama lain. Barangkali tidak
bisa dibilang dekat secara
fisik, tetapi secara batin, aku yakin, pasti ada. Aku sendiri
juga
heran akan hal itu karena aku baru saja merasakannya baru-baru ini.
Ketika
adik asramaku, Tini, meninggal, aku tiba-tiba saja merasa
kehilangan. Padahal kalau
dipikir-pikir, aku tidak dekat dengan dia.
Yang kuingat, anak itu tomboy. Sangat tomboy.
Terakhir bertemu dia
sewaktu aku ke asrama mencari temanku Sinta, dan Sinta tidak
ada.
Dia yang menemuiku. "Sintanya nggak ada, Mbak. Titip pesan
aja."
Seingatku cuma itu yang dikatakannya padaku. Tak
ada obrolan. Tak ada ungkapan
kedekatan lain. Tapi begitu ada kabar
bahwa dia meninggal, ... mak deg! Seolah ada
yang terlepas dari
hatiku. Aku tak tahu apa itu. Kenangan tinggal di Syantikara dan rasa persaudaraan yang melekat di
hatiku
mungkin seperti pemandangan Rawa Pening dan persawahan yang
bisa kulihat dari
jendela rumah kakekku. Yang terlihat hanyalah
pemandangan yang enak dipandang.
Padahal aku tahu, di sepanjang
jalan menuju Rawa Pening itu terdapat jalan berlubang,
ada jalan
aspalan yang tak rata, ada banyak colt Ambarawa-Salatiga yang
selalu mengepulkan knalpot tebal, dan berbagai hal tidak enak
lainnya. Tapi dari jendela
kakekku, semuanya begitu manis terpadu.
Dan aku masih bingung kalau ada yang bertanya, "Apa sih enaknya
tinggal di
asrama?" Apakah aku harus menyuruhnya tinggal di
sana? Atau cukup dengan
mendengarkan
"petualangan-petualanganku" selama aku tinggal di
Syantikara?
Entahlah. Yang jelas, aku bersyukur sempat tinggal di
sana.
Aku yakin, kita semua punya "Syantikara-Syantikara" dalam
bentuk lain; suatu
tempat atau peristiwa yang menyatukan suka duka
dengan begitu erat. Tempat kita
belajar dan tumbuh. Dan yang jelas,
di tempat atau pada peristiwa seperti itu Tuhan
sungguh-sungguh
berkarya.
Jogja, 01 April 2003.
2/3
Ketika Suka dan Duka Bersatu Begitu Padu ...
Ditulis oleh Krismariana
Jumat, 24 April 2009 15:14
kenangan atas Ignace Tini Solihin. Selamat jalan ... semoga
menyatukanmu dalam kedamaian-Nya yang abadi.
Tuhan
3/3
Fly UP