...

Jejak Spasial di Ruang Publik

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Jejak Spasial di Ruang Publik
Jejak Spasial di Ruang Publik
Oleh: Fakhruddin Mustofa
Pahatan semen membentuk deretan kepulauan masih tersaji pada bagian bawah sebuah tugu
berketinggian kurang lebih 7 meter di Nusakambangan. Tidak ada keterangan, riwayat atau legenda
apapun di pahatan itu, apalagi angka koordinat di bagian tepinya. Bentuk 7 pulau besarpun tak
beraturan sebagaimana mestinya bentuk Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali dan Nusa
Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Hanya warna kuning simbol lautan dan warna biru muda
simbol daratan, berpadu dengan warna abu-abu akibat semen yang telah mengelupas, cukup
menggambarkan bahwa pahatan itu adalah ruang nusantara bernama Indonesia. Tugu bergambar
Indonesia di gerbang Nusakambangan seakan menyapa bagi setiap orang yang menginjakkan kaki di
pulau cantik ini. Tak perlu mengkritisi lebih mendalam bentuk pahatannya, tetapi justru perlu angkat
topi untuk pemahat gambar yang mungkin berprofesi tukang batu untuk memberikan info keruangan
(spasial) tentang Indonesia di sebuah ruang terbuka/publik.
Berkeliling kota, bertamasya ke tempat menarik, atau beranjangsana ke sanak saudara di
pelosok desa, merupakan aktivitas yang lazim bagi setiap orang sesuai tingkat keperluan masing-masing.
Berbagai pemandangan siap tersaji apabila aktivitas tersebut dilakukan, misalnya hiruk pikuk kota,
taman nan asri, atau pemandangan kesederhanaan kehidupan desa. Selain pemandangan lazim
tersebut, seseorang yang melakukan perjalanan, secara langsung atau tidak langsung pasti akan melihat
pemandangan lain berupa informasi-informasi dalam bentuk reklame, baliho, papan pengumuman,
papan penunjuk arah, gapura selamat datang, monumen/tugu, dan sebagainya. Secara umum, posisi
informasi tersebut berada di ruang terbuka. Sebagai catatan, ruang terbuka dalam tulisan ini adalah
ruang yang dapat diakses semua publik, bukan di dalam sebuah ruangan.
Ruang terbuka atau tempat yang dapat dilihat oleh setiap orang/publik menjadi pilihan dalam
penempatan dan pemilihan lokasi. Para pemasang informasi mengetahui secara pasti apabila tempat
informasi berada pada posisi strategis maka akan berpotensi besar diketahui oleh publik dibanding
apabila pemilihan lokasi tidak tepat. Dari sisi finansial, keberadaan papan informasi telah menjadi nilai
tersendiri bagi pemerintah karena ada pemasukan daerah berupa pajak. Posisi strategis akan
menentukan besaran pajak yang harus ditanggung pihak pemasang. Dampak yang diharapkan tentu
mudah ditebak antara lain produk dikenal, omzet produk bertambah, atau bila musim pemilihan umum
tiba maka melalui iklan di ruang terbuka diharapkan akan memperoleh dukungan suara agar dapat
menduduki posisi atau jabatan tertentu. Secara umum, keuntungan akan diperoleh oleh para pemasang
informasi dan pemerintah daerah, dimana akan terjadi umpan balik berupa pembelian produk dan
pemasukan pendapatan daerah.
Ditengah gencarnya informasi berupa iklan, reklame, baliho pencalonan pemimpin, dan yang
sejenis, ada semacam oase informasi lain yang memberikan info berupa pengetahuan keruangan kepada
publik. Kehadirannya jauh dari upaya untuk memperoleh keuntungan sepihak, tetapi lebih pada upaya
untuk memberi pengetahuan, pemberitahuan, bahkan info peringatan kepada publik berbasis
keruangan. Dari sisi jumlah, keberadaan info tersebut di suatu wilayah sangat sedikit dibanding iklaniklan lain, bahkan dapat di hitung dengan jari. Informasi tersebut adalah info spasial di ruang
terbuka/publik berwujud peta, sketsa peta, dan yang sejenis. Merujuk pada Undang-undang Nomor 4
Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial, definisi spasial adalah aspek keruangan suatu objek atau
kejadian yang mencakup lokasi, letak, dan posisinya.
Berbagai tipe tampilan info spasial hadir di ruang terbuka mulai dari cetakan hasil analisis spasial
plus informasi koordinat (geospasial), tulisan tangan dan komputer membentuk info keruangan
berwujud sketsa peta, sampai bentuk sederhana berupa goresan atau pahatan logam dan semen.
Tulisan ini tidak dalam posisi mengkritisi gambar dari aspek kartografi, tetapi mencoba mengurai
manfaat yang dapat diperoleh dari info tersebut kepada publik. Perjalanan penulis ke berbagai daerah
menemukan beberapa informasi spasial yang disajikan di ruang publik, cukup menarik untuk dicermati.
1. Peta RDTR di Paringin
Peta Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) berdiri ditempat strategis di
pusat kota Paringin, Ibukota Kabupaten Balangan, Kalimantan
Selatan. Inisiatif Bappeda setempat patut diacungi jempol dalam
mensosialisasikan pola pemanfaatan ruang dan struktur kepada
publik melalui media peta. Peta tidak tersimpan rapi dalam bentuk
CD yang hanya dapat diakses kalangan tertentu, tetapi dipajang
diruang terbuka sehingga setiap orang dapat melihatnya. Tentu saja,
pemerintah setempat berharap pola pemanfaatan ruang dapat
ditaati oleh setiap warga dan memupus seminimal mungkin
pelanggaran terhadap tata ruang kota Paringin.
2. Peta Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD)
Bintan
Kawasan pantai timur Pulau Bintan di sepanjang
Pantai Trikora terkenal karena keindahan
pantainya. Eksotisme pantai berpadu dengan
kekayaan laut berupa padang lamun dan terumbu
karang menjadikan kawasan ini sebagai daerah
tujuan wisata Bintan. Untuk mengelola kawasan
agar tetap lestari maka kawasan ini ditetapkan
sebagai kawasan konservasi laut daerah. Peta
KKLD dipasang di tepi jalan Pantai Trikora Bintan,
peta menunjukkan pada publik tentang kawasan
yang dilindungi dari gangguan yang bersifat
merusak lingkungan pantai, terumbu karang, dan
padang lamun.
3. Peta Evakuasi Tsunami Pantai Sanur, Bali
Setelah merasakan getaran kuat dan lama, segera
tinggalkan ZONA MERAH. Jika anda berada di
ZONA KUNING, bergegas menuju tempat
berlindung di lantai yang lebih tinggi. Dua kalimat
tersebut menjadi keterangan tepi sebuah Peta
Evakuasi Tsunami yang berdiri tegak di pinggir
pantai Sanur, salah satu pesona pantai Pulau Bali.
Zona merah sangat jelas tergambar di peta sampai
radius tertentu, sedangkan zona kuning berada
agak jauh dari pantai. Boleh jadi, dari peta ini akan
menyelamatkan ribuan orang apabila terjadi
tsunami di Sanur, walaupun tsunami tidak
diharapkan kedatangannya dan belum diketahui
kapan datangnya.
4. Peta Wisata Pacitan
Produk peta wisata sangat banyak tersebar dalam
berbagai bentuk terutama buku, CD, internet,
brosur, dan lainnya. Tetapi, tidak banyak yang
dituangkan ke dalam peta berukuran besar dan
ditampikan di ruang terbuka. Inisiatif Dinas
Pariwisata Kabupaten Pacitan layak diapresiasi
dalam rangka mempromosikan tujuan wisatanya.
Kabupaten ‘seribu gua’ ini memang memikat
karena memiliki arsitektur alam yang lengkap
mulai dari laut, pantai, hingga kawasan perbukitan
karst yang melahirkan ratusan gua. Peta wisata
Pacitan berada di depan mulut Gua Tabuhan, siap
memberi informasi lanjut kepada pelancong untuk
menikmati sisi wisata lain di bumi Pacitan.
5. Peta Kali Opak
‘Kali’ merupakan bahasa Jawa berarti sungai. Peta
Kali Opak berdiri tepat di Jembatan Kali Opak di Jalan
Raya Yogya-Solo, berisi informasi statistik data Kali
Opak antara lain koordinat rambu, panjang sungai,
luas DAS, dan kode wilayah sungai. Meminjam istilah
dari Badan Pusat Statistik bahwa data mencerdaskan
bangsa, maka diharapkan peta dan data statistik Kali
Opak dapat memberikan pengetahuan bagi publik.
6. “Map Baby Zoo”
Pernahkah anda berkunjung di Taman Safari di
Puncak, Bogor? Kalau belum, mungkin sekecil
informasi dalam sebuah sketsa peta mini disamping
dapat menarik minat anda dan keluarga berkunjung ke
Puncak dan mampir sejenak di Taman Safari. Sketsa
peta ini cukup bagus untuk pembelajaran bagi anakanak mengenal ruang dalam lingkup kecil dalam
kompleks kebun binatang mini. Logika spasial anak
akan terbangun apabila membaca sketsa yang
terpampang di ruang terbuka di salah satu sudut
Taman Safari.
7. Tugu Khatulistiwa Sulawesi Tengah
Bila berjalan sambil membawa GPS dari Parigi ke arah
Moutong di Sulawesi Tengah, pasti akan menemui
koordinat 0 derajat, 0 menit, 0 detik di sebuah tugu
Khatulistiwa. Tugu diresmikan oleh Jenderal Tri Sutrisno
sebagai tanda bahwa daerah ini tepat pada garis
khatulistiwa. Ada yang unik dari tugu yaitu puncak tugu
berupa miniatur bentuk Provinsi Sulawesi Tengah mengapit
garis imajiner khatulistiwa. Tugu berminiatur sketsa peta ini
seakan memberi pesan kepada publik yang melewati Jalan
Raya Parigi ke arah Moutong bahwa Sulawesi Tengah
adalah satu diantara banyak wilayah di dunia yang dilewati
garis khatulistiwa.
Sekelumit cerita tentang informasi spasial di ruang publik diatas, hanya contoh kecil dari
beberapa info spasial yang tersebar di nusantara, yang mungkin pembaca sekalian berkenan
memperhatikannya tatkala melakukan perjalanan. Kehadirannya tidak untuk kepentingan finansial
sepihak, tetapi justru memberi peran sekecil apapun untuk menyelamatkan aset yang bernilai tinggi,
baik aset infrastruktur maupun lingkungan yang kadang terabaikan.
Papan informasi berisi info spasial pasti akan luntur dan rusak di terpa hawa panas dingin,
terjangan angin, terkelupas, atau dirusak oleh tangan-tangan jahil. Tetapi, keberadaannya telah
meninggalkan jejak-jejak spasial yang mengisi ruang pikir bagi para pembaca info tersebut di ruang
terbuka, sebuah ruang yang tidak mengenal kasta.
Fly UP