...

Menggali Hikmah Setiap Saat

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Menggali Hikmah Setiap Saat
Menggali Hikmah Setiap Saat
Siapa yang mengatakan ilmu tasawuf
adalah sesat berarti mereka berilmu tapi
sama sekali tidak berakhlak, karena inti
dari ilmu tasawuf adalah adab dan
akhlak. Dan orang-orang yang paling
banyak mengamalkan ilmu tasawuf adalah
orang yang berpikiran sangat sederhana,
santun, dan selalu menggali setiap Hikmah dari setiap kejadian
baik terhadap dirinya sendiri, orang lain maupun dari hewan
sekalipun.
Seperti yang dikatakan oleh Al-Imam Al-Fudhail bin Iyadh :"Orang
yang berguru kepada orang yang tidak mengamalkan ilmunya akan semakin bertambah
kebodohannya. Orang yang mengajar orang yang tidak mengamalkan ilmunya hanya
menyia-nyiakan umurnya".
Dahulu beliau seorang penyamun (perampok) jahat berubah
menjadi seorang ulama’ dan hamba yang sholeh, Al-Imam AlFudhail bin Iyadh sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hafizh
Adz-Dzahabiy dalam kitabnya Siyar A’lam An-Nubala’ (8/423)
Yahya bin Muadz berkata, "Hikmah adalah pengetahuan suci yang
diturunkan dari langit. Hikmah tidak akan masuk ke dalam hati orang yang
memiliki salah satu dari empat sifat:
1. Mengutamakan dunia di atas segalanya,
2. Tidak percaya pada jaminan rezeki dari Allah,
3. Hasud (iri dengki) kepada saudaranya,
4. Mencintai keluhuran dalam pandangan manusia."
Abu Hasan Al Harawi berkata,
"Hikmah akan muncul dari empat keadaan:
1. Selalu sedih atas dosa,
2. Selalu siap menghadapi kematian,
3. Suka mengosongkan perut (berpuasa),
4. Senang bergaul dengan orang-orang zuhud.
Ibn Al Mubarak sering tampak gelisah seperti orang yang sakit
kepala jika dia tidak mendapatkan tambahan ilmu dalam waktu
sehari. Sebab, setiap saat dia mengisi waktunya dengan
menggali hikmah (pengetahuan). Dia tidak merasa malu duduk
bersama anak-anak kecil yang sedang mendengarkan pengajian
dari ustadznya.
Suatu hari Ibn Al Mubarak terlihat sedang duduk di dalam
masjid, "Sedang apa engkau, wahai Ibn Mubarak?" tanya
seseorang kepadanya. "Menunggu ustadzku untuk belajar",
Jawabnya. "Bukankah engkau ulama kesohor yang diakui keluasan
ilmunya? Mengapa engkau masih mau belajar kepada orang lain
yang boleh jadi ilmunya lebih sedikit daripada ilmumu?" lanjut
si penanya.
Ibn Al Mubarak menjawab,
"Belajar itu bukan untuk orang pintar atau orang
Andaikan saja aku telah hafal
ilmu orang-orang dahulu dan orang-orang akan datang, aku akan
tetap belajar kepada orang lain. Sebab, mencari ilmu itu bukan untuk
bodoh, melainkan untuk semua orang."
menumpuk ilmu, melainkan melaksanakan kewajiban syariat. Mencari ilmu itu tidak
Jika
ruhmu telah meninggalkan jasadmu, saat itulah engkau tidak
berkewajiban lagi menuntut ilmu".
terbatas oleh kepintaran. Yang membatasi pencarian ilmu adalah umur.
"Apakah engkau tidak merasa malu ikut berdesak-desakan dengan
orang awam untuk mendapatkan ilmu?" lanjut penanya.
"Seseorang justru harus malu jika tidak mampu menimba ilmu.
Ketahuilah, engkau harus malu kepada Tuhanmu dan dirimu
sendiri. Pantaskah engkau malu melakukan sesuatu yang
diperintahkan oleh Tuhanmu?" tanya Ibn Mubarak.
"Cukup sulit mencari orang sepertimu. Aku percaya ilmumu sudah
sangat berlimpah. Namun engkau masih mau duduk bersama orangorang biasa untuk mencari ilmu. Aku Kagum kepadamu." kata
penanya.
Ibn Mubarak berkata,"Aku tidak butuh pujianmu. Tampaknya akan
sangat baik jika engkau pergi sekarang juga dan tidak
memujiku. Aku takut pujianmu akan membuat diriku ujub (bangga
pada diri sendiri). Tidak sedikit orang yang celaka karena
pujian. Ingatlah bahwa pujian itu bagaikan pisau tajam yang
bisa menyembelih leher seseorang. Jika engkau ingin memuji,
pujilah Allah."
Penanya tersebut lalu pergi dalam keadaan penuh kekaguman
kepada Ibn Mubarak. Sepanjang jalan ia merenung untuk dapat
menjadi murid beliau. Suatu saat ia pun ditakdirkan menjadi
orang yang dekat dengan Ibn Mubarak sebelum wafatnya. Si
Penanya itu adalah Syaikh Abd As Salam.
Sufyan Ats Tsauri berkata, "Hati-hatilah engkau dengan ilmu
zahir. Sebab, ia dapat mewariskan permusuhan. Sibukkanlah
dirimu dengan beramal, janganlah engkau menyibukkan diri
dengan berdebat. Jika engkau tidak dapat menahan emosi dan
nafsu, janganlah banyak berdiskusi dengan temanmu."
Imam Ali RA berkata :
"Aku hampir tidak pernah kalah dalam berdebat jika lawan bicaraku orang pintar.
Namun, aku tidak pernah menang berdebat dengan orang-orang yang bodoh dan
emosional."
Tradisi kental para sufi adalah mereka tidak segan untuk menerima hikmah dari mana atau
siapapun yang mengeluarkannya.
Hatim As Ashamm berkata :
"Pungutlah hikmah dari mana pun engkau menemukannya. Sebab, ia adalah perkara
yang hilang dari orang-orang mukmin. Jika engkau telah mendapatkannya, Maka
ikatlah ia."
Sungguh indah dan dalam nasihat-nasihat para sufi di atas
semoga aku dan kalian setidak-tidaknya termasuk orang yang
suka dengan majelis ilmu, semakin tinggi ilmu semakin bijak,
tawadlu, dan selalu Menggali Hikmah yang terjadi di sekeliling
kita agar bisa menjadi manusia yang senantiasa bersyukur
kepada Allah Yang Maha Agung, Aamiin Yaa Robbal 'alamiin…
(Oleh: Habib Quraisy bin Ali Al-Aidid, Pembina Majelis Ta'lim
Dzikrullah Maula 'Aidid)
Fly UP