...

ARTIKEL KEHIDUPAN SOSIAL KOMUNITAS BURUH GENDONG

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

ARTIKEL KEHIDUPAN SOSIAL KOMUNITAS BURUH GENDONG
ARTIKEL
KEHIDUPAN SOSIAL KOMUNITAS BURUH GENDONG WANITA DI
PASAR BERINGHARJO
Oleh :
TIFANO ARDIANTO
NPM. 10144400073
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
TAHUN 2015
ABSTRAK
TIFANO ARDIANTO. Kehidupan Sosial Komunitas Wanita Buruh Gendong di
Pasar Beringharjo, Yogyakarta Tahun 2014-2015. Skripsi. Yogyakarta. Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas PGRI Yogyakarta, Maret 2014.
Penelitian ini dilaksanakan di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta,
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1) latar belakang buruh gendong di Pasar Beringharjo. 2) faktor-faktor yang
berperan dalam pemilihan profesi buruh gendong tersebut. 3) Nilai-nilai historis
pedagogis dalam fenomena kehidupan wanita buruh gendong.
Penelitian dilakukan dengan deskriptif kualitatif cara teknik pengumpulan
data melalui metode observasi, metode wawancara, metode dokumentasi dan
metode kepustakaan. Metode observasi dilakukan dengan pengamatan langsung di
lokasi di Pasar Beringharjo Yogyakarta. Metode wawancara dilakukan dengan
mewawancarai 13 narasumber. Metode kepustakaan dilakukan dengan panduan
buku-buku yang berhubungan dengan buruh gendong. Teknis analisis yang
digunakan adalah dengan model analisis interaktif Mathew B. Miles dan M.
Huberman. Teknis analisis yang dilakukan mencakup tiga proses yakni reduksi
data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa faktor ekonomi merupakan alasan
utama dalam pemilihan profesi buruh gendong. Selain itu, mayoritas buruh
gendong tidak memiliki pendidikan yang tinggi sehingga pekerjaan yang
dilakukan hanya menjadi buruh yang tidak memerlukan kemampuan khusus.
Pasar Beringharjo merupakan warisan budaya Indonesia yang telah melewati tiga
fase, yaitu masa kerajaan, masa penjajahan, dan masa kemerdekaan. Itulah yang
menjadi nilai historis pedagogis dari Pasar Beringharjo.
Kata Kunci : Buruh Gendong Wanita di pasar Beringharjo
2
ABSTRACT
TIFANO ARDIANTO. Social life of Women Poters Community in Beringharjo
Market, Yogyakarta year 2014-2015. Thesis. Yogyakarta. Faculty of Teacher
Training And Education. PGRI Yogyakarta University, March 2015.
The research was conducted in Beringharjo, Yogyakarta, Yogyakarta
Special Region. This study purpose to discover : 1) the background of women
poters in Beringharjo. 2) factor that support womens choose the profession. 3) The
values of historically pedagogic women poters.
Qualitative descriptive study was conducted with techniques for collecting
data through observation, interviews, documentation and library research
methods. Observation method is done by direct observation in Yogyakarta
upstream location on the headland. Method 13 interviews conducted by
interviewing informants. Library method done with a guide books related to
Women Poters. Technical analysis is the interactive model M. Mathew B. Miles
and Huberman. Technical analysis is done includes three processes namely data
reduction, data presentation and conclusion.
The study concluded that the economic factor is the main reason in the
selection of women poters profession. In addition, the majority of workers do not
carry a high education so that the work carried out only a worker who does not
require special skills. Beringharjo an Indonesian cultural heritage that has been
passed through three phases, kingdom, colonialism, and independence. That is the
historical value of Beringharjo pedagogical.
Keywords: Women Poters in Beringharjo market
3
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pasar Beringharjo memiliki nilai historis dan filosofis dengan Kraton
Yogyakarta karena telah melewati tiga fase, yakni masa kerajaan, penjajahan,
dan kemerdekaan. Pembangunan Pasar Beringharjo merupakan salah satu
bagian dari rancang bangun pola tata kota Kesultanan Yogyakarta yang
disebut Catur Tunggal. Pola tata kota ini mencakup empat hal yakni keraton
sebagai pusat pemerintahan, alun-alun sebagai ruang publik, masjid sebagai
tempat ibadah, dan pasar sebagai pusat transaksi ekonomi (Sukendro,
2009:108).
Kemiskinan merupakan suatu adaptasi atau penyesuaian dan sekaligus
merupakan reaksi kaum miskin terhadap kedudukan marginal mereka di dalam
masyarakat yang berstrata kelas, sangat individualistik, dan berciri kapitalisme
(Lewis : 1959).
Dieter Evers (1980) dalam studinya tentang Produksi Subsistensi dan
"Masa Apung" di Jakarta mensinyalir terbentuknya kelas baru, yaitu golongan
yang kuat ekonominya dan golongan yang lemah ekonominya. Golongan yang
lemah ekonominya ini merupakan sebagian besar jumlah populasinya, yang
disebut sebagai "masa apung". Berbeda dengan golongan yang kuat
ekonominya, masa apung hidup dalam ketidakstabilan.
Menurut Suparlan (1986), pemukiman liar, gelandangan dan kaum
miskin merupakan akibat dari pengembangan perkotaan. Suparlan
juga
menambahkan bahwa gelandangan dan kaum miskin terjadi karena adanya
tekanan-tekanan ekonomi dan rasa tidak aman sebagian warga desa yang
kemudian terpaksa harus mencari tempat yang diduga dapat memberi
kesempatan yang lebih baik di kota. Kemiskinan merupakan salah satu
penyebab wanita bekerja dan mereka bersedia bekerja dalam kondisi apapun
(Malik 2004:4).
4
Menurut Abdullah ( 2003:222) bidang pekerjaan yang dipilih perempuan
desa umumnya sebagai pekerja atau buruh. Bekerja sebagai buruh bagi
perempuan desa umumnya tidak memerlukan pendidikan tinggi, tidak
mementingkan keahlian khusus dan rata-rata dekat dengan tempat tinggal atau
rumah sehingga perempuan dapat bekerja tanpa harus meninggalkan
pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga.
B. Fokus Penelitian
Agar memperjelas judul dan tidak menimbulkan multi tafsir, maka peneliti
memberikan penegasan ataupun batasan mengenai kehidupan sosial komunitas
buruh gendong di Pasar Beringharjo. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk
mendeskripsikan mengenai kehidupan sosial buruh gendong wanita.
C. Rumusan Masalah
Dalam penulisan skripsi dengan judul “Kehidupan Sosial Komunitas
Wanita Buruh Gendong di Pasar Beringharjo’’ Agar dalam pembahasannya
lebih jelas dan terarah maka dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana latar belakang kehidupan para buruh gendong wanita di
Pasar Beringharjo?
2. Faktor-faktor apa yang berperan dalam pemilihan profesi buruh
gendong tersebut?
3. Nilai historis pedagogis apa yang dapat diambil dalam fenomena
kehidupan wanita buruh gendong di Pasar Beringharjo?
D. Metode Penelitian
Penyusunan skripsi ini penulis menggunakan metode sebagai berikut:
1. Latar Penelitian
Pada latar penelitian ini yang menjelaskan tempat dan peristiwa
dimana penelitian ini akan dilakukan.
2. Observasi Pendahuluan
Observasi
adalah
suatu
cara
pengumpulan
data
dengan
mengadakan pengamatan langsung terhadap suatu obyek dalam suatu
5
periode tertentu dan mengadakan pencatatan secara sistematis tentang
hal-hal tertentu yang diamati.
3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Pasar Beringharjo Kota Yogyakarta.
4. Sumber Data
Sumber-sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah:
a. Informan: wawancara untuk memperoleh informasi tersebut
diperoleh dari secretariat dinas pengelola pasar, bagian monitoring
YASANTI dan buruh gendong.
b. Arsif atau Dokumen: Catatan-catatan sumber berupa arsip dan
dokumen yaitu arsip dari Kantor Dinas Pengelola Pasar dan
YASANTI.
c. Tempat dan peristiwa: Pasar Beringharjo Kota Yogyakarta.
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah: Wawancara Mendalam, menggunakan narasumber dengan
percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh
dua pihak, pewawancara (interveiewer) yang mengajukan pertanyaan
dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas
pertannyaan itu (Moeleong, 2007:186).
6. Pemeriksaan Keabsahan Data
Dalam penelitian ini menggunakan kriteria derajat kepercayaan
(credibility) dengan teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan
triangulasi. Menurut Lexy J. moeloeng (2007:330) triangulasi adalah
teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang
lain. Diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai
pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling banyak
digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lain. Denzin (1978)
membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan
yang memanfaatkan sumber, metode, penydik, dan teori.
6
7. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif
Mathew B. Miles dan M. Huberman. Teknik analisis yang dilakukan
dengan menggunakan teknik analisis data Miles dan Huberman
mencangkup tiga proses, yaitu :
a. Reduksi data
Reduksi data merupakan suatu proses penelitian, pemusatan
perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi
data “kasar” yang muncul dari catatatan-catatan tertulis di lokasi
penelitian.
b. Penyajian data
Penyajian data merupakan sekumpulan informasi tersusun yang
memeberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan
pengambilan tindakan.
c. Penarikan kesimpulan ( verifikasi )
Pada proses ini peneliti mulai mencari arti benda – benda , mencatat
keteraturan, pola – pola, penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin,
alur sebab-akibat dan proporsisi.
E. Paparan Data
1. Latar Belakang Pemilihan Profesi Sebagai Buruh Gendong
Menjadi buruh gendong merupakan pekerjaan yang biasa sudah dikenal
sebagai pekerjaan umumnya perempuan pedesaan untuk membantu menopang
kehidupan keluarganya. Umumnya para buruh gendong memilih pekerjaan ini
karena tidak mempunyai pendidikan yang cukup untuk mendukung bekerja di
sektor formal. Tingkat pendidikan yang hanya sampai dengan SD bahkan ada
yang tidak mengenyam pendidikan sama sekali menyebabkan perempuan
buruh gendong tidak memiliki keterampilan yang cukup.
7
2. Profil Perempuan Buruh Gendong
Ada perbedaan istilah tentang buruh gendong, karena buruh gendong tidak
sama dengan buruh-buruh yang lain seperti : buruh bangunan, buruh pabrik
ataupun buruh tani. Meskipun pekerjaannya hampir sama yaitu memberikan
pelayanan jasa untuk mengangkut atau menggendongkan barang untuk orang
lain, namun sebutan laki-laki berbeda dengan perempuan. Bagi laki-laki
disebut dengan kuli, sedangkan perempuan dikenal dengan sebutan buruh
gendong.
Buruh gendong tidak berada dibawah naungan Dinas Pengelolaan Pasar
tetapi mereka berada dibawah naungan YASANTI (Yayasan Annisa Swati).
YASANTI adalah wadah yang dibentuk atas prakarsa masyarakat sebagai
mitra perangkat daerah yang menampung dan mewujudkan aspirasi dan
kebutuhan masyarakat di bidang buruh.
3. Pembagian Peran Sebagai Buruh Gendong dan Ibu Rumah Tangga
Buruh gendong di Pasar Beringharjo memulai aktivitas bekerja dengan
waktu yang berbeda-beda, tergantung dari masing-masing pekerjaan yang
dilakukan sebelumnya di rumah. Mereka masih tetap harus mengurusi urusan
rumah tangga seperti mencuci baju, masak, membersihkan rumah, merawat
anak. Hanya saja perlu pembagian kerja atau kerjasama dari suami atau
keluarga. Dua kewajiban yang sekarang dilakukan oleh perempuan yang
bekerja sebagai buruh gendong dalam waktu yang hampir bersamaan
sebenarnya adalah beban ganda,
namun kebanyakan mereka tidak
menganggap hal ini sebagai beban ganda, melainkan tanggung jawab.
4. Faktor Pendorong Perempuan Buruh Gendong yang bekerja di Pasar
Beringharjo
Faktor utama yang menjadi pendorong perempuan bekerja sebagai buruh
gendong, adalah faktor ekonomi. Yaitu keinginan untuk membantu
perekonomian keluarga. Uang hasil bekerja sebagai buruh, dapat digunakan
untuk memenuhi kebutuhan pokok dan juga sebagai biaya pendidikan anakanaknya yang masih bersekolah.
8
5. Faktor Penghambat Perempuan Buruh Gendong yang bekerja di
Pasar Beringharjo
Selama bekerja sebagai buruh gendong terkadang mempunyai hambatan
yang dihadapi. Hambatan-hambatan yang ada lebih banyak dialami oleh
pekerja perempuan yang usianya sudah tua. Mereka lebih sering merasa capek
dan sakit ketika membawa beban yang terlalu berat. Hambatan lain yang
dihadapi oleh perempuan buruh gendong adalah status mereka sebagai ibu
rumah tangga. Setelah mereka bekerja di pasar, sepulang bekerja pun mereka
mengerjakan pekerjaan di rumah seperti mengurus anak, memasak,
membersihkan rumah dan lain-lain.
6. Nilai Historis Pedagogis yang dapat diambil dari fenomena Wanita
Buruh Gendong di Pasar Beringharjo
Pasar Beringharjo merupakan warisan budaya Indonesia yang sampai saat
ini masih tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Sehingga sudah
sepantasnya masyarakat luas mengetahui tentang sejarah pasar. Terutama
karena Pasar Beringharjo telah melewati berbagai masa perkembangan
Indonesia yang sampai sekarang masih kental dengan seni dan budayanya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Irwan. 2001. Sangkan Paran Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Affifufin. Dan Saebani, Beni Ahmad. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: Pustaka Setia
Anwar, Rosihan. 2004. Wanita Berperan Ganda. Id.wikipedia.org
Conyers, Diana. 2000. Pembangunan Ekonomi Dunia Ketiga. Jogjakarta: Gadjah
Mada University Press.
D. Daniel. 2002. Indonesia Dalam Krisis. Jakarta: PT. Kompas Indonesia
Effendi, Noer Tajuddin. 1987. Konsep dan Ukuran Tenaga Kerja. Jogjakarta
9
Evers, Hans-Dieter. 1980. Produksi Subsistensi dan Masa Apung di Jakarta.
Jakarta. Prisma
UGM Press Fakih, M. 2006. Analisis Gender dan Transformasi Sosial.
Yogyakarta: Pustaka Belajar
. 1995. Sumber Daya Manusia Peluang dan Kemiskinan.
Jogjakarta: PT. Tiara Wacana Yogyakarta
Harmoko. 1984. Perjuangan Wanita Indonesia 10 Windu Setelah Kartini 19041984. Jakarta: Departemen Penerangan RI
Koentjaraningrat. 1993. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Pustaka
Utama
Lewis, Oscar. 1993. Kebudayaan Kemiskinan, dikutip dari Parsudi Suparlan,
Kemiskinan di Perkotaan. Jakarta: Yayasan Obor
Mahardika, Kartika. 2011. Buruh Perempuan dan Peran Suami dalam Keluarga.
Semarang: Skripsi Unnes
Miles, B. Matthew, dan A. Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif.
Jakarta: UI Press
Moleong, Lexy. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Ridjal, Fauzie. 1993. Dinamika Gerakan Perempuan di Indonesia. Jogjakarta: PT.
Tiara Wacana Yogyakarta
Sugiarti, 2003. Pembangunan Dalam Perspektif Gender. Malang: UMM Press
Sugiyono, 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Alfabeta
Suparlan, Parsudi. 1986. Gelandangan: Sebuah Konsekuensi Perkembangan
Kota, dalam Gelandangan: Pandangan Ilmuan Sosial. Jakarta. LP3ES
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2003Tentang Tenaga Kerja
2003. Jakarta
10
BIODATA PENULIS
Nama
: Tifano Ardianto
NPM
: 10144400073
Tempat & Tanggal Lahir
: Kendal, 30 November 1992
Alamat
:-
Nitipuran Rt 09, Kasihan, Bantul
(Alamat di Jogja)
-
Tlangu Timur
-
Rt/Rw 02/06
-
Kel/desa Sukorejo
-
Kecamatan Sukorejo
-
Kabupaten Kendal
(Alamat asal)
Riwayat Pendidikan
:-
SDN 2 Sukorejo
-
SMPN 1 Sukorejo
-
SMAN 1 Sukorejo
-
Universitas PGRI Yogyakarta
11
Fly UP