...

Contoh Abstrak - Kementerian Keuangan

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Contoh Abstrak - Kementerian Keuangan
INOVASI PENGGUNAAN BENFORD’S LAW DALAM AUDIT KEPABEANAN
UNTUK MENEMUKAN FRAUD DALAM NILAI IMPOR
Ujang Trengganu1)
1
Politeknik Keuangan Negara STAN, Jalan Bintaro Utama Sektor 5 Bintaro Jaya,
Tangerang Selatan 15222
[email protected]
Abstract
This study is an extension of previous research that has been conducted by researcher. The
purposes of this study are (i) seek empirical evidence that Benford's Law can be applied to
data sets Import value and can be used to predict, and the amount of the bill audit, (ii) seek
empirical evidence variables that can be used to predict the amount of audit bill. The
analysis method used in this study using Benford's Law, Descriptive Statistics and Logistic
Regression. Samples are companies audited in 2013 and 2014 based on the audit report in
2014.
Keywords: Benford's Law, Customs Audit, Fraud
Abstrak
Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian sebelumnya yang telah dilakukan
oleh peneliti. Tujuan penelitian ini adalah (i) mencari bukti empiris bahwa Benford’s Law
dapat diterapkan pada data set Nilai Impor dan dapat digunakan untuk memprediksi, dan
besaran tagihan audit, (ii) mencari bukti empiris variabel-variabel yang dapat digunakan
untuk memprediksi besaran tagihan audit. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian
ini menggunakan Benford’s Law, Statistik Deskriptif dan Regresi Logistik. Sampel adalah
perusahaan yang diaudit pada tahun 2013 dan 2014 berdasarkan laporan hasil audit 2014.
Kata Kunci: Benford’s Law, Audit Kepabeanan, Fraud
PENDAHULUAN
Sebagaimana diketahui bahwa Benford’s Law dapat digunakan untuk memprediksi
frekuensi kemunculan sebuah angka dalam serangkaian data numerik. Berdasarkan
kemampuannya dalam menganalisis anomali data pada sebuah data set, Benford’s Law
banyak digunakan dalam berbagai bidang. Hal ini dijelaskan oleh Nigrini (2000). Lebih
lanjut, anomali data tersebut dapat membantu dalam mendeteksi fraud. Arkan (2010)
memaparkan bahwa Nigrini merupakan peneliti pertama yang secara ekstensif
menggunakan Benford’s Law dalam data akuntansi untuk tujuan mendeteksi fraud.
Benford’s Law terbukti efektif dalam mendeteksi fraud dalam data akuntansi (Durtschi
et al.,2004). Anomali yang terjadi pada suatu set data dapat mengindikasikan terjadinya
1
fraud. Dengan demikian Benford’s Law dapat menjanjikan kinerja yang lebih baik
apabila dapat diterapkan pada perencanaan audit kepabeanan.
Berdasarkan data Direktorat Audit DJBC transaksi impor periode tahun 2011,
2012 dan 2013, khusus untuk nilai temuan audit dengan nilai di atas 500 juta
menunjukkan adanya fakta yang kurang sinkron. Perusahaan-perusahaan yang masuk
kategori low risk memiliki rata-rata nilai temuan sebesar Rp 5.322.592.233 dengan ratarata nilai temuan yang lebih besar dari perusahaan-perusahaan yang masuk kategori
high risk yang memiliki rata-rata nilai temuan sebesar Rp 3.999.502.579. Sementara
untuk perusahaan-perusahaan yang masuk kategori very high risk memiliki rata-rata
nilai temuan audit per perusahaan sebesar Rp. 44.372.435.400, fakta ini menunjukkan
adanya sinkronitas dibandingkan dengan rata-rata nilai temuan audit pada perusahaanperusahaan yang masuk kategori high risk, medium risk, dan low risk.
Penelitian ini diarahkan untuk membantu tugas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
(DJBC) yang merupakan unsur pelaksana tugas pokok dan fungsi Kementerian
Keuangan di bidang kepabeanan dan cukai, yakni sebagai Revenue Collector,
Community Protector, Trade Facilitator, dan Industrial Assistance.
Audit kepabeanan, sebagaimana yang dijelaskan dalam UU Nomor 17 Tahun 2006
tentang Kepabeanan, merupakan sebuah konsekuensi logis atas diberlakukannya sistem
self-assesment, ketentuan nilai pabean berdasarkan nilai transaksi, dan ketentuan
pemberian fasilitas dalam bidang kepabeanan.
Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini dirumuskan menjadi: (i)
Apakah Benford’s Law dapat diterapkan pada data set Nilai Impor? (ii) Apakah
penggunaan Benford’s Law pada Nilai Impor dapat digunakan untuk memprediksi
besaran tagihan audit? (iii) Apakah variabel moderat (wajar-tidaknya data set nilai
pabean terhadap Benford’s Law) mempengaruhi perilaku hubungan variabel bebas
lainnya (a.l. periode pelaksanaan audit, profil risiko, pengalaman tim audit, serta ada/
tidaknya fasilitas kepabeanan) dengan variabel terikatnya (tagihan audit)?
METODE PENELITIAN
Definisi operasional variabel dalam penelitian ini terdiri dari 1 (satu) variabel
moderat, 4 (empat) variabel bebas, dan 1 (satu) variabel terikat. Variabel moderat
tersebut adalah wajar-tidaknya set data nilai pabean terhadap Benford’s Law (X1),
2
sedangkan variabel-variabel bebasnya adalah periode pelaksanaan audit (X2), profil
resiko (X3), pengalaman tim audit (X4), serta ada/ tidaknya fasilitas kepabeanan (X5).
Terakhir, variabel terikatnya (Y) adalah besaran tagihan audit (asumsi: seluruh temuan
audit menjadi tagihan audit).
Populasi penelitian ini meliputi nilai pabean dari perusahaan yang telah selesai
diaudit oleh tim audit kepabeanan dan ditampilkan dalam bentuk Laporan Hasil Audit
(LHA). LHA yang menjadi populasi penelitian adalah LHA yang diterbitkan sepanjang
tahun 2013 s.d. 2014. Rentang waktu tersebut merupakan rentang waktu yang krusial,
mengingat kebijakan sentralisasi auditor efektif diimplementasikan sejak tahun 2013.
Analisis data mencakup analisis persyaratan Benford’s Law, analisis statistika
deskriptif data, dan analisis model persamaan regresi logistik. Model regresi yang
digunakan adalah:
Yi = eu/(1+eu)
Dimana Yi adalah probabilitas kelompok temuan audit dan u berupa regresi:
u = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + Ɛ
Analisis tambahan berupa analisis model persamaan regresi logistik ini dilakukan
oleh penulis untuk mengetahui pengaruh variabel bebas berupa wajar-tidaknya data-set
nilai pabean terhadap Benford’s Law (X1), periode pelaksanaan audit (X2), profil resiko
(X3), pengalaman tim audit (X4), dan ada/ tidaknya fasilitas kepabeanan (X5) terhadap
variabel terikat berupa tagihan audit (Y). Sehingga, persamaan regresi logistiknya
menjadi:
Y=ß0+ ß1X1+ ß2X2+ ß3X3+ ß4X4+ ß5X5+Ɛ
dimana Y = besaran tagihan audit;
Ɛ = error/ residual
ß0= konstanta regresi;
ß1 S.D. ß3= koefisien regresi;
X1= wajar-tidaknya data-set nilai pabean terhadap Benford’s Law;
X2= periode pelaksanaan audit;
X3= profil resiko;
X4= pengalaman tim audit;
X5= ada/ tidaknya fasilitas kepabeanan.
Daftar Pustaka
3
Arkan, Muhamad Mufti. 2010. Analisis Penggunaan Benford’s Law Dalam
Perencanaan Audit pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Simposium
Nasional Akuntansi XIII. Purwokerto.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 2012. Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai
Nomor PER-09/BC/2012 tanggal 09 Maret 2012 tentang Tatalaksana Audit
Kepabeanan dan Audit Cukai. Jakarta.
Durtschi, C., Hillison, W. and Pacini, C,. 2004. The Effective Use of Benford’s Law
to Assist in Detecting Fraud in Accounting Data. Journal of Forensic
Accounting Vol. V (2004), pp. 17-34.
Nigrini, Mark J.. Benford’s Law: Applications for Forensic Accounting, Auditing,
and Fraud Detections. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.. 2012.
4
Fly UP