...

this PDF file - E

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

this PDF file - E
122
PEMIKIRAN KALAM MUH}AMMAD ‘ABDUH
DALAM TAFSI>R AL-MANA<R
Moh. Bachrudin
Abstract: The opening of ijtihad and taqlid eradication based on the power of
reason is the work done by Muh}ammad ‘Abduh. Believing in the power brought
Muh}ammad ‘Abduh to understand that human beings have free willing and action
(free willing and free action). This called as Qadariyah. Therefore, Muh}ammad
‘Abduh argued that human can do everything. According to him, God's power is
not absolute but limited by His sunnah. In explaining about God's deeds, ‘Abduh
said that basically everything is good or bad is all happening because of the will
of God in accordance with the Sunnah (law of nature) and the order of causality.
Humans are given the ability to do many things. But that ability is limited by the
laws of nature. This concept relates to the concept of justice, namely the lack
dhalim of Allah (nafy al-z}ulm) is absolute, including the believers and
unbelievers. The concept is that those who labor, then his deeds will affect the
psyche. A charity which is able to affect the soul will get a reply (Jaza> ') good or
bad.
Keywords: Akal, Kebebasan Manusia, Keadilan Tuhan dan Perbuatan Tuhan.
PENDAHULUAN
Sesungguhnya kemajuan peradaban umat manusia itu tergantung dari pemikiran
para ulama, pemikir, dan pemimpin umat. Cahaya pemikiran mereka tersebar ke
berbagai sisi kehidupan yang berbeda, menembus kedalam berbagai sendi-sendi
kehidupan, membuka rahasia-rahasianya, memberi solusi atas berbagai kesulitan,
permasalahan, dan segala macam problem kehidupan, menunjukkan arah yang
benar, menebarkan berbagai manfaat, memberikan jalan terbaik yang harus
ditempuh dalam kehidupan.
Cikal bakal peradaban umat muncul dari dasar pemikiran mereka. Dasar
pemikiran itulah yang memberikan warna pengetahuan umat. Warna pengetahuan
itu menjalar dan menyebar ke berbagai sendi-sendi kehidupan, menunjukkan dan
menanamkan benih-benih pemikiran dan peradaban manusia, setelah sempurna
dan matang, maka mendorong dan memberikan buah-buah kebaikan di antara
mereka.
Pengetahuan itu apa pun macamnya, tidak akan mampu mengantar
manusia sampai pada hal yang sedemikian rupa, kecuali dengan pengarahan yang
benar sehingga manfaatnya bisa dirasakan dan dinikmati oleh setiap individu dan
umat manusia. Lebih dari itu, tidak ada jalan untuk mengarahkan dan
mengendalikan jalan pemikiran tersebut kecuali dengan akidah dan agama yang
kuat yang Allah telah menurunkan kitab-kitabnya sebagai petunjukkan yang
membawa kabar gembira dan menata kehidupan mereka.

Dosen IAIN Pangeran Diponegoro Nganjuk.
123
Ketika manusia tidak memiliki akidah dan agama yang kuat dengan segala
pertimbangan samawinya, maka peradabannya tercampur dengan kesemenamenaan sehingga memisahkan antara ilmu dan agama, menyisihkan agama dari
kehidupan, dan akhirnya menjatuhkan manusia pada dilema kehidupan seperti
kesengsaraan jiwa, guncangan batin, dan kehilangan arah diri.
Allah yang menentukan jalan kehidupan telah menanggung umat ini untuk
memberi orang-orang yang kuat pada setiap masa untuk melangsungkan
pembelajaran Islam dalam kehidupannya dan mengembalikan keremajaan,
semangat, dan tenaga baru.
Oleh karena itu tidak tampak umat ini pada setiap masa kemasa sepi dari
pembaru agama, pemimpin dalam ilmu, pembaharu pemikiran, tokoh dalam jihad,
tanda-tanda kemaslahatan, yang tidak di ketemukan bandingan kekuatan dan
caranya dari umat ke umat.1
Muh}ammad „Abduh disebut-sebut sebagai salah seorang modernis Islam
dan reformis yang mempunyai pemikiran yang berbeda dengan para ulama‟
klasik.2 Menurutnya, sikap yang menyebabkan Islam mundur adalah paham
jumud yang terdapat di kalangan umat Islam. Umat Islam harus kembali ke alQur‟an dan Hadis dan ajaran asli keduanya harus disesuaikan dengan keadaan
modern sekarang. Untuk itu perlu interpretasi baru. Oleh karena itu pintu ijtihad
harus dibuka. Dengan demikian taklid kepada ulama lama tidak perlu
dipertahankan dan harus diperangi.
Pendapat tentang pembukaan pintu ijtihad dan pemberantasan taklid
berdasarkan pada kekuatan akal hendaknya terus dikumandangkan. Menurutnya,
Islam memandang akal mempunyai kedudukan yang tinggi. Allah menunjukkan
perintah dan larangannya kepada akal. Penggunakan akal adalah salah satu dasar
dari Islam. Iman seseorang tidaklah sempurna kalau tidak didasarkan pada akal.
Menurutnya, dalam Islamlah akal dan iman mengikat tali persaudaraan.
Bagi Muh}ammad „Abduh, akal mempunyai kedudukan yang tinggi.3
Wahyu tidak dapat membawa hal-hal yang bertentangan dengan akal. Kalau lahir
„Abd Al-Ghaffa>r „Abd Al-Rah}i>m, Al-Ima>m Muh}ammad ‘‘Abduh Wa Manhajuh Fi> Al-Tafsi>r
(Kairo: Da>r Al-Ans}ar, t t), 2-3.
2
Bahwa Muh}ammad „Abduh disebut sebut sebagai tokoh modernisme Islam, Nurchalis Madjid
mengatakan: “Sekali didorong oleh al-Afgha>ni> dan dilicinkan oleh Muh}ammad „Abduh,
modernisme Islam menemukan momentumnya dan menstimulasi para intelektual Muslim untuk
mengemukakan pemikiran pemikiran modernistik mereka”. Rif‟at Shawqi> Nawa>wi>, Rasionalitas
Tafsir Muh}ammad ‘Abduh Kajian Masalah Akidah dan Ibadah (Jakarta: Paramadina, 2002), 7.
Lihat juga Madjid, Khazanah Intelektual Islam (Jakarta: Bulan Bintang), 60. Dan Muh}ammad
„Abduh menempati posisi amat penting dalam konstalasi gerakan modernisme Islam. Kata Madjid,
“Wawasan modern yang dimiliki Muh}ammad „Abduh membuatnya sebagai bapak modernisme
Islam yang pengaruhnya nampak seperti tidak ada habisnya, sampai detik ini. Lihat dalam Ibid., 8.
Lihat pula Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan Perdapan, Sebuah Telaah Kritis Tentang
Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina,
1992), Cet I, 174.
3
Tokoh modernis yang wawasan teologinya dapat disamakan dengan teologi rasional Mu‟tazilah
ini sangat menghargai kekuatan akal manusia. Akal, menurut Muh}ammad „Abduh adalah sesuatu
yang memperbedakan antara manusia dengan mahluk lainnya. Akal adalah tonggak kehidupan
manusia dan merupakan dasar bagi kelanjutan wujudnya. Lihat Muh}ammad „Abduh, Risa>lah
Tawh}i>d (Kairo:Da>r Al-Mana>r, 1366), Cet xii, 91.
1
124
ayat bertentangan dengan akal haruslah dicari interpretasi baru yang membuat
ayat itu sesuai dengan pendapat akal.4 Kepercayaan pada kekuatan akal membawa
Muh}ammad „Abduh selanjutnya pada paham bahwa manusia mempunyai
kebebasan kemauan dan perbuatan (free will dan free act) yaitu paham
Qodariyah.5 Di sisi lain Muh}ammad „Abduh yang mempunyai pemikiran liberal
tersebut di atas tidak mau tunduk pada salah satu aliran dan mazhab dalam Islam
itu juga pernah dituduh menganut aliran Mu‟tazilah, dan tuduhan tersebut
ditentang dengan keras oleh muridnya Ra>shid Rid}a>. Dia menjelaskan bahwa ia
telah terlepas dari aliran dan madzhab yang pernah dianutnya karena ingin bebas
dalam pemikiran. Pindah dari satu aliran ke aliran bukanlah suatu kebebasan
tetapi berarti terikat pada ikatan yang baru.6
Akan tetapi „Abduh juga sangat menonjolkan paham Ibn Taimiyah bahwa
ajaran-ajaran Islam terbagi menjadi dua kategori ibadah dan muamalah. Ia melihat
bahwa ajaran al-Qur‟an dan Hadis mengenai ibadah itu bersifat tegas, jelas, dan
terperinci. Sebaliknya ajaran mengenai hidup kemasyarakatan umat hanya
merupakan dasar-dasar dan prinsip-prinsip yang dapat umum dan tidak terperinci.
Seterusnya ia melihat bahwa ajaran-ajaran yang terdapat dalam al-Qur‟an dan
Hadis itu hanya sedikit jumlahnya. Karena prinsip-prinsip itu bersifat umum tanpa
perincian. Muh}ammad „Abduh berpendapat bahwa semua itu dapat disesuikan
dengan tuntutan zaman. Dan sebaliknya ibadah menurutnya bukanlah lapangan
ijtihad sebenarnya pada masa modern ini.7
Dengan melihat kepecayaan „Abduh pada kekuatan akal yang
menyebabkannya „Abduh terbawa pada paham Qodariyah8 dalam satu sisi, di sisi
yang lain karena kebebasan berpikir dan tidak mau terikat pada salah satu aliran
dan madzhab yang menyebabkan ia dituduh mengikuti aliran Muktazilah,9 dan
4
Tidaklah mengherankan pula kalau dirinya memegangi satu prinsip, yang sudah barang tentu
terkait erat dengan pola tafsirnya, yaitu jika wahyu membawa sesuatu yang pada lahirnya kelihatan
bertentangan dengan akal, maka wajib bagi akal untuk meyakini bahwa apa yang dimaksudkan
bukanlah arti harfiyah, akal mempunyai kebebasan untuk memberi interpretasi kepada wahyu, atau
menyerahkan maksud sebenarnya dari wahyu yang bersangkutan kepada Allah Lihat Muh}ammad
„Abduh, Risa>lah,19.
5
Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran Dan Gerakan (Jakarta: Bulan
Bintang, 1992), 62-66.
6
Ibid, 75-7l.
7
Ibid, 63-64.
8
Aliran Qodariyah dipelopori oleh Ma‟bad Al-Juha>n> dan Ghaila>n Al-Dimashq>. Pahamnya lebih
moderat dalam teologi Islam dibanding Jabariyah. Ajaran Qodariyah tentang perbuatan manusia
berbeda dengan paham Jabariyah. Qodariyah berpendapat bahwa manusia bukanlah robot yang
dikendalikan langsung oleh Tuhan. Tetapi manusia mempunyai kebebasan untuk memilih
perbuatan mana yang akan dilakukannya. Suatu perbuatan mestilah terjadi menurut maksud dan
motivasi manusia itu sendiri. Dengan demikian, manakala suatu pebuatan tidak terjadi, menurut
paham ini hal itu disebabkan oleh keengganan manusia sebagai pelaku dan pemilik perbuatannya.
Lihat Harun Nasution, Theologi Islam: Sejarah Analisa Perbandingan (Jakarta: Universitas
Indonesia, 1988), 43.
9
Mu‟tazilah adalah aliran theologi yang bersifat rasional dan liberal, dan dikenal dengan nama
kaum rasionalisme Islam. Peran akal bagi Mu‟tazilah menjadi sangat penting dan berpengaruh
terhadap konteks pemikirannya, sehinngga sangat wajar bila paham theologi ini disebut rasionalis.
Sebelum turunnya wahyu, sebelum turunnya wahyu, akal manusia dapat mengetahui Tuhan,
mengetahui yang baik dan yang jahat, mengetahui kuwajiban melaksanakan yang baik dan dan
125
melihat penekanannya pada paham Ibn Taimiyah tentang ajaran agama itu dibagi
menjadi dua katagori ibadah dan muamalah. Kemudian ia berpendapat bahwa
pintu ijtihad itu masih terbuka, akan tetapi ia juga berpendapat bahwa ibadah itu
bukanlah lapangan ijtihad yang sebenarnya di era modern ini.
Inilah yang mendasari penulis untuk mengkaji pemikiran tokoh
Muh}ammad „Abduh. Walaupun banyak alasan mengapa tokoh ini menarik untuk
dibahas terutama karya tafsirnya yaitu Tafsi>r Al-Mana>r.
Selanjutnya persoalan keagamaan yang menjadi pusat perhatian „Abduh
adalah aspek akidah atau teologi dan aspek shari‟ah. Aspek akidah atau teologi
dan syariah agama dibangun dan diletakkan dalam menjalani kehidupan untuk
menggapai kebahagiaan didunia dan diakhirat. Jika pondasi tauhidnya kuat, lurus,
dan benar, maka niscaya bangunan syariatnya juga akan kokoh dan lurus. Dan
sebaliknya jika pondasi tauhidnya rapuh dan bengkok, tentunya bangunan
syariatnya juga tidak akan mampu berdiri kokoh dan lurus, dan yang pasti akan
mudah roboh.
SEJARAH PEMIKIRAN KALAM
Dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam, terdapat berbagai aliran pemikiran
kalam.10 Diawali oleh pertentangan politik antara „Ali> bin Abi> T}a>lib dan
Mu‟a>wiyah bin Abi> Sofya>n yang berujung pada peristiwa tah}ki>m11 mencuatlah
pertentangan-pertentangan teologis di kalangan umat Islam. Sebagai akibat
adanya consensus tah}ki>m tersebut, muncullah aliran teologi (kalam) yang pertama
dalam sejarah Islam, yaitu khawarij.12
Dalam pandangan Khawarij, penyelesaian sengketa antara „Ali> bin Abi>
T}a>lib dengan Mu‟a>wiyah yang berakhir dengan tah}ki>m tersebut bukanlah
penyelesaian yang sesuai dengan tuntunan Allah dalam al-Qur‟an. Dengan
menjauhi yang jahat. Dengan demikian daya akal manusia bagi kaum Mu‟tazilah mampu
mengetahui keempat persoalan tersebut. Mereka lebih memuji akal mereka dibanding dengan ayatayat suci dan hadis-hadis nabi. Segala sesuatu ditimbangnya lebih dahulu dengan akalnya, mana
yang tidak sesuai dengan akalnya dibuang. Walaupun ada Hadis dan ayat al-Qur‟an yang bertalian
dengan masalah itu, tetapi berlawanan dengan akalnya. Jadi jelasnya menurut kaum Mu‟tazilah
fungsi akal lebih tinggi ketimbang wahyu. Jadi menurut kaum Mu‟tazilah, fungsi wahyu dibawah
fungsi akal.
10
Istilah Kalam muncul pertama kali pada masa Khalifah al-Ma‟mu>n yang diciptakan oleh
Mu‟tazilah. Lihat Abu> al-Fath} Muh}ammad al-Kari>m Ibn Abu> bakar Ahmad al-Shahrasta>ni>, alMila>l wa al-Nihal, IV (Beirut: Da>r al-Ma‟rifah,1974), 20. Lihat pula Junaidi, Rasionalitas Kalam,
1
11
Tah}ki>m merupakan konsensus atau kesepakatan untuk dilakukan perundingan di antara dua
pihak yang bertikai dengan saling mengutus delegasi diplomasi. Namun, tah}ki>m yang
dilaksanakan itu berjalan pincang dan tidak adil, yang merugikan pihak „Ali> bin Abi> T}a>lib. Lihat
Junaidi, Rasionalitas Kalam, 1.
12
Mereka pada mulanya adalah para pendukung „Ali> bin Abi> T}a>lib yang tidak menyetujui
dilaksanakannya tah}ki>m. Mereka berjumlah dua ribu orang tersebut berkumpul di desa Harura dan
mengangkat Abd Alla>h Ibn Wahb al-Ra>shi>di> menjadi Imam mereka dan menyatakan keluar dari
barisan „Ali> bin Abi> T}a>lib. Lihat harun Nasution, Teologi Islam (Jakarta: UI Press, 1986), 11;
Bandingkan Muh}ammad Abu Zahrah, Sejarah Aliran-aliran dalam Islam Bidang Politik dan
Akidah, Terj. Shobahussurur (Ponorogo: PSIA-ISID Gontor, 1991) 75-77. Lihat pula Junaidi,
Rasionalitas Kalam, 1.
126
berpijak pada QS. Al-Ma>idah, 5: 44, mereka menganggap orang-orang yang
menerima tahkim sebagai pelaku dosa besar dan dihukumi telah kafir.
Dari pernyataan aliran Khawarij tersebut, kemudian muncul aliran kedua,
yaitu Murji‟ah,13 sebagai antitesa bagi Khawarij. Aliran ini berpendapat bahwa
orang mukmin yang melakukan dosa besar tidaklah menjadi kafir melainkan tetap
mukmin, karena ia masih memiliki harapan mendapatkan ampunan dari Allah.
Sedangkan pembicaraan mengenai statusnya pun harus ditangguhkan sampai hari
di akhirat nanti.14
Perdebatan kedua aliran tersebut, kemudian memunculkan aliran
Mu‟tazilah15 dengan paham posisi tengah.16 Aliran ini tidak menyebut pelaku
dosa besar sebagai kafir sebagaimana aliran Khawarij juga tidak menyebut mukin
sebagaimana golongan Murji‟ah. Namun memberikan predikat kepada pelaku
dosa besar sebagai fasiq.17
1. Kehendak dan Kekuasaan Mutlak Tuhan
Aliran Mu‟tazilah dengan tegas menolak kehendak dan kekuasaan Allah yang
mutlak dan absolut. Artinya, mereka meyakini adanya batasan kehendak dan
kekuasaan Allah tersebut.
Maturidiyah Samarkand, sebagaimana Mu‟tazilah, mempunyai keyakinan
bahwa kehendak dan kekuasaan Allah itu tidak lagi mutlak, tetapi sudah terbatas,
walaupun batasan yang diberikan aliran ini tidak sebanyak batasan yang diberikan
aliran mu‟tazilah.
Menurut al-Ash‟ari>, bahwa kehendak Allah pasti berlaku, apabila
kehendak Allah tidak terlaksana (tidak berlaku) berarti Allah alpa, lalai dan lemah
Menurut Muh}ammad Abu> Zahrah, Murji‟ah berasal dari kata (Irja>’), sebuah ajaran
pengembalian urusan-urusan kepada Allah yang telah dilakukan oleh para sahabat; Sa‟ad bin Abi>
Waqas, Abdulla>h bin Umar, dll. Lihat Muh}ammad Abu> Zahrah, Tari>kh Al-Maza>hib Al-Isla>miyah
(Kairo:Da>r al-fikr al-Arabi,2009), 127-131. Bandingkan dengan Muh}ammad „Ima>rah, T}ayyarat
Al-Fikr Al-Isla>mi> (Kairo: Dar al-Shuruq, 2008), 35-43. Lihat pula Junaidi, Rasionalitas Kalam, 2.
14
Muh}ammad Abu> Zahrah, Tari>kh al-Maza>hib al-Isla>miyah (Kairo:Dar al-Fikr al-Arabi, 2009),
127-131; Ahmad al-Amin, Fajr al-Isla<m (Kairo: Maktabah al-Nahd}ah al-Mis}riyah, 1989), 279280; Harun Nasution, Teologi Islam (Jakarta: UI Press, 1986), 22-23; Fazlur Rahman, Islam, terj.
Ahsin Muh}ammad (Bandung: Pustaka,1984), 117-118. Lihat pula Junaidi, Rasionalitas Kalam, 1.
15
Pada dasarnya banyak perbedaan pendapat tentang asal mula munculnya aliran Mu‟tazilah.
Cerita tentang kejadian Was}il bin Ata>‟ yang memisahkan diri dari gurunya, H{asan al-Bas}ri>,
menjadi pendapat yang paling masyhur tentang titik awal munculnya aliran ini. Lihat „Abd alQa>hir al-Baghda>di>, Al-Farq bai>n al-Fira>q (Kairo:Maktabah Ibn Si>na>, t.t.), 20-21. Lihat pula
Junaidi, Rasionalitas Kalam, 1.
16
Paham posisi Mu‟tazilah ini disebut dengan (posisi di antara dua posisi). Hal itu merupakan satu
dari lima prinsip dasar aliran Mu‟tazilah. Walaupun terdapat perbedaan pendapat mengenai prinsip
dasarnya, aliran ini secara umum dianggap memiliki lima prinsip dasar itu, yaitu; al-Tawh}i>d; al‘Adl; Wa’d wa al-Wa’i>d; al-Manzilat bayn al-Manzilatayni; dan Amr bi Al-Ma’ru>f wal al-Nahy
‘an al-Munkar. Lihat Fays}al, al-Us}u>l al-Khamsah al-Mansu>b Ila> al-Qa>di> Abd al-Jabba>r (Kuwait:
Universitas Kuwait Press, 1998), 18-19 Lihat pula Junaidi, Rasionalitas Kalam, 3.
17
Menurut Ibnu Qutaybah, pemberian nama fasiq bagi pelaku dosa besar tersebut di samping
sebagai reaksi bagi aliran Khawarij dan Murji‟ah adalah sebagai jawaban bagi pendapat H}asan alBas}ri> yang mengatakan pelaku dosa besar sebagai munafiq. Setelah kejadian inilah Wasi>l bin Ata>‟
memisahkan diri dari gurunya tersebut. Lihat Abu> Qa>sim al-Barkhi dkk., Fad}l al-I’tiza>l wa
Thabaqa>t al-Mu’tazilah (Mesir: Da>r al-Kutub, t.t.), 19. Lihat Junaidi, Rasionalitas Kalam, 3.
13
127
terhadap kehendak-Nya. Jika Allah alpa, lalai, dan lemah, maka itu berarti Allah
menyandang kecacatan, dan itu tidak mungkin (mustah}i>l) bagi Allah. Kehendak
Allah di atas segala kehendak. Ketika manusia memiliki kehendak adalah setelah
Allah memberikan daya baginya untuk berkehendak, maka manusia tidak akan
memiliki kehendak apapun.18
Semisal dengan pendapat Ash‟ariyah di atas, bahwa Maturidiyah Bukha>ra>
juga berpandangan, sesungguhnya Tuhan memiliki kekuasaan yang mutlak dan
absolut. Dengan demikian, Tuhan mampu berbuat apa saja sesuai kehendak-Nya
tanpa ada yang membatasi.
2. Perbuatan Tuhan
Mu‟tazilah berpendapat bahwa Allah hanya melakukan hal-hal yang bersifat baik
dan tidak yang sebaliknya. Maturidiyah Samarkand berpandangan hampir sama
dengan pendapat aliran, Mu‟tazilah. Bagi Maturidiyah Samarkand, bahwa
perbuatan Allah hanyalah menyangkut apa-apa yang baik saja dan Allah tidak
mungkin melakukan perbuatan buruk.
Al-Ash‟ari> menjelaskan bahwa Allah berkuasa mutlak dan tidak wajib
berbuat Adil, yang keadilan tersebut dalam pandangan dan penilaian manusia.
Keadilan Allah adalah ketika Dia mampu dan Kuasa berbuat apa saja secara
mutlak. Dengan demikian perbuatan Allah, apapun bentuknya tidak bersifat wajib.
Tidak jauh berbeda dengan pandangan Ash‟ariyah, aliran Maturidiyah Bukhara
menilai, bahwa segala sesuatu yang bersumber dari Allah itu baik. Ketidakbaikan
hanya sebagai akibat dari keterbatasan pandangan penilai, yaitu manusia.
3. Keadilan Tuhan
Aliran Mu‟tazilah berpendapat, bahkan menjadi salah satu azas pokok ajaran
mereka, bahwa Tuhan wajib berbuat adil. Hal ini sebagaimana dijelaskan dala
lima azas aliran Mu‟tazilah yang disebut dengan Us}u>l Al-Khamsah.
Selaras dengan pendapat aliran rasional Mu‟tazilah di atas, aliran
Maturidiyah Samarkand juga mengemukakan bahwa keadilan Allah adalah lawan
dari sifat dzalim. Mereka berpendapat dengan menegaskan bahwa Tuhanpun
wajib berbuat adil kepada setiap manusia. Karena Allah wajib bersifat adil kepada
manusia, maka Allah pun terlarang berlaku aniaya (dzalim) kepada manusia.
Al-Ash‟ariah meninjau hakikat keadilan Tuhan dari segi atau aspek
kepentingan Tuhan sebagai pemilik penuh terhadap segala sesuatu yang
diciptakan-Nya. Di samping itu, juga bertitik tolak dari keyakinan mereka bahwa
Tuhan mempunyai kehendak dan kekuasaan yang mutlak, absolut dan tidak
terbatas. Kekuasaan Tuhan tidak terbatas. Kekuasaan Tuhan tidak terbatas karena
tidak ada yang di atas Tuhan dan membatasi-Nya. Keadilan Tuhan ukurannya
adalah perspektif Tuhan, bukan perspektif manusia, karena Tuhan memiliki
dominasi terhadap manusia, sehingga manusia tidak memiliki kebebasan apalagi
menghakimi (menilai) keadilan Tuhan.
Abu> al-H}asan al-Ash‟ari>, al-Luma>’ fi Radd ahl al-Ziyagh wa al-Bida>’, 57 . Lihat pula Junaidi,
Rasionalitas Kalam, 131-132.
18
128
4. Akal dan Wahyu
Karena memberikan porsi yang besar kepada akal, maka menurut aliran
Mu‟tazilah, segala pengetahuan, baik tentang Tuhan maupun tentang baik dan
buruk dapat diperoleh dengan perantara akal.19 Mengenai akal dan wahyu, Aliran
Maturidiyah Samarkand berpendapat, bahwa mengetahui Tuhan dan mengetahui
yang baik dan yang buruk dapat dilakukan oleh akal. Bagi aliran Ash‟ariyah,
mengetahui adanya Tuhan memang dapat diketahui oleh akal, namun, sama sekali
tidak dapat memahami-Nya.
5. Free Will, Free Act, dan Predistanitation
Dalam pandangan Mu‟tazilah, manusia memiliki kebebasan berbuat dalam
menentukan jalan hidupnya. Aliran Maturidiyah Samarkand, tentang kehendak
dan kerelaan Tuhan,20 membedakan daya dan perbuatan. Aliran ini membagi
perbuatan ke dalam dua bagian, yaitu perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia.
Aliran Ash‟ariyah berpandangan, bahwa seluruh perbuatan manusia diciptakan
oleh Tuhan. Manusia dalam kehidupannya banyak bahkan selalu bergantung pada
kehendak dan kekuasaan Tuhan.
Aliran Maturidiyah Bukhara, pada dasarnya berpandangan menyerupai
pendapat Ash‟ariyah di atas.
PENAFSIRAN KALAM MUH{AMMMAD ‘ABDUH DALAM TAFSIR ALMANA<R.
1. Kebebasan kehendak dan Kekuasan Mutlak Tuhan
Ketika menafsiri surat al-Baqarah ayat 253, Muh}ammad „Abduh menunjukkan
perbedaan manusia dengan mahluk lainnya yaitu manusia dikaruniai akal yang
manusia bebas melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan
menggapai kebahagiaannya dengan cara belajar, berlatih, dan pengaruh situasi
lingkungan manusia berkembang dengan hidayah dan petunjuk agama. Artinya
menurut Muh}ammad „Abduh kekuasaan Tuhan itu tidak mutlak atau tidak absolut
tetapi dibatasi sunnahnya yang mengikuti hikmah disyariatkannya agama yang
semuanya tergantung pada kehendak dan perbuatan manusia. Karena manusia
diberi akal, hati, perasaan, dan pancaindra yang sempurna yang tidak dimiliki oleh
mahluk lain dengan itu semua ia mampu mengusahakan segala macam
kebutuhannya dan menolak segala macam yang mampu mencegah terjadinya halhal yang tidak dikehendaki dengan banyak belajar, mencari pengetahuan latihan
yang maksimal, termasuk di dalam mengatasi terjadinya persilisihan dan
peperangan.
Selanjutnya ketika Muh}ammad „Abduh menafsirkan surat al-An‟a>m ayat
149, Muh}ammad „Abduh menjelaskan bahwa kemusrikan, kekufuran itu karena
kesalahan manusia yaitu tidak adanya pengetahuan bagi mereka tentang agama.
Selanjutnya ketika menafsiri lanjutan surat tersebut ia menafsirinya senada
dengan sebelumnya bahwa Muh}ammad „Abduh berpendapat bahwa kekuasaan
Abu> al-Fath} Muh}ammad al-Kari>m Ibn Abu> Bakar Ahmad al-Shahrasta>ni>, al-Milal Wa al-Nih}a>l
(Beiru>t: Da>r al-Ma‟rifah, 1974), 45. Lihat pula Junaidi, Rasionalitas Kalam, 171.
20
Al-Bazdawi>, Kita>b Us}u>l al-Di>n, 42.
19
129
Allah tidak absolut melainkan dibatasi oleh sunnatullah, kesesuaian akal, dan
fitrah manusia.
Adapun ketika menafsirkan surat al-An‟a>m ayat 111 ia menjelaskan hal
yang senada dengan pernyataan sebelumnya yang pada prinsipnya Muh}ammad
„Abduh berpendapat bahwa kehendak dan kekuasaan Allah itu tidak absolut
walaupun tidak menutup kemungkinan terjadinya sesuatu itu terjadi diluar sunnah,
syariat, dan akal manusia atau istilah kha>riq al-‘a>dah. Semuanya terjadi sesuai
dengan kehendaknya.
Ketika menafsiri ayat berikutnya dari ayat ini yakni surat al-An‟a>m ayat
112 Muh}ammad „Abduh menjelaskan, Allah menghendaki bahwa perbuatan
manusia itu tidak terpaksa tetapi Allah menciptakan mereka dengan kehendaknya
mereka mengerjakan perkara yang mereka kerjakan dengan kehendak mereka.
Ketika menafsiri surat al-Mai>dah ayat 52 Muh}ammad „Abduh menjelaskan senada
dengan pernyataan sebelumnya bahwa Muh}ammad „Abduh berpendapat bahwa
kehendak dan kekuasaan Allah itu tidak absolut tetapi mengikuti sunnahnya
dalam masyarakat, kesesuaian akal sehat, syariat, dan hikmahnya.
Dari beberapa komentar Muh}ammad „Abduh di atas dapat disimpulkan
bahwa kehendak dan kekusaan Allah itu tidak mutlak atau absolut tetapi
mengikuti sunnahnya dalam masarakat, kesesuian akal sehat, syariat dan hikmah
Allah.
2. Perbuatan Tuhan
Muh}ammad „Abduh ketika menjelaskan surat al-Nisa>‟, 4: 78 yang membahas
mengenai perbuatan Tuhan menjelaskan bahwa pada dasarnya segala sesuatu itu
baik atau buruk semua terjadi karena kehendak Allah sesuai dengan sunnah
(hukum alam) dan tatanan sebab musababnya.
Ketika menjelaskan hakikat kebaikan atau kejelekan dan asalnya, yaitu
ketika menjelaskan Wa in tus}ibhum h}asanah ha>dzi>hi> min ‘ind Alla>hi, Muh}ammad
„Abduh berpandangan bahwa perkara yang baik adalah kesenangan, kebahagiaan,
mendapatkan sesuatu, mendapatkan harta rampasan perang, sebagimana
penjelasannya: Perkara yang baik menurut pemiliknya seperti senang, bahagia,
mendapat sesuatu, dan mendapat harta ghanimah.21 Ketika menjelaskan: Wa in
as}abathum sayyiah yaqu>lu> ha>dzi>hi> min ‘indik ia menjelaskan perkara yang jelek
adalah kesulitam, malapetaka, kemiskinan, luka, dan peperangan sebagimana
penjelasannya: Kejelekan adalah pekara yang membuat jelek pemiliknya, seperti
kesulitan, malapetaka, kemiskinan, luka, dan perang.22 Menurut „Abduh dalam
ayat ini menjelaskan asal kebaikan menurut mereka itu berasal dari Allah.
Sedangkan segala kejelekan yang terjadi pada mereka adalah akibat pengaruh
buruk Muh}ammad.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Muh}ammad „Abduh dalam
ayat ini berpandangan sebagaimana berikut: Semua yang terjadi dialam semesta
apakah baik atau buruk itu berasal dari Allah. Allahlah yang menciptakan hukum
alam sebab musabbab terjadinya segala sesuatu yang ada di alam semesta.
21
22
Ibid, 266-267.
Ibid, 267.
130
Dalam surat al-Nisa>‟ ayat 79 ini „Abduh masih berbicara mengenai
perbuatan Tuhan, tapi dalam sisi yang lain. Ia melanjut penafsiranya tentang
perbuatan Tuhan yang pada intinya senada dengan ayat sebelumnya yaitu bahwa
hakikat segala sesuatu itu berasal dari sisi Allah dengan makna sesungguhnya
Allah adalah zat yang menciptakan bahan-bahan perkara yang memberikan
manfaat dan yang memberikan madharat, dan dialah yang menciptakan tatanan
dan sunnah-sunnah (hukum alam) sampainya sesuatu ini dengan perbuatan
manusia.
Konsep praktisnya, sesungguhnya seluruh perkara baik dan buruknya
disandarkan kepada Allah dan dikatakan semua perkara tersebut dari sisinya,
dengan makna Allah adalah dzat yang menciptakan bahan-bahan dan menciptakan
dan meletakkan hukum alam sebab dan disandarkan pada manusia dari sesuatu
tersebut setiap perkara terdapat padanya usaha dan amal ihtiar manusia baik itu
baik atau buruk. Faedah disandarkan perkara yang baik itu pada Allah dan yang
buruk pada manusia:
Pertama, menghilangkan pengaruh jelek (shu’um) dan sangkaan yang
tidak jelas (tat}ayyur) dan membatalkan keduanya yaitu supaya manusia tahu
sesungguhnya hal buruk yang menimpa mereka tidak menimpa mereka karena
pengaruh buruk seseorang yang terdapat pada mereka. Keduanya merupakan
perilaku orang jahiliyah dan termasuk katagori khurafat.
Kedua, konsep praktisnya sebaiknya bagi orang yang tertimpa kejelekan
untuk mencari sebab dari dirinya, semua terjadi karena kesalahnnya sendiri.
Dari uraian kedua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa Muh}ammad
„Abduh menyampaikan konsep kalam tentang perbuatan Tuhan itu secara teoritis,
terdapat beberapa tempat dan dengan redaksi yang berbeda-beda dan memberikan
pemahaman yang berbeda-beda pula sebagaimana berikut:
1. Katakan ini wahai rasul, bahwa setiap kebaikan dan kejelekan itu dari
kehendak Allah terjadinya dalam kerajaannya menurut sunnah (hukum
alam) dalam susunan sebab musababnya
2. Maknanya ketika kebaikan mengenai kamu, maka murni dari
anugerah Allah yang telah menundukkan manfaat-manfaat kepadamu
yang baik menurutmu tidak dengan hak terdahulu bagi disisinya. Jika
tidak, maka dengan alasan apa kamu berhak, atas Allah untuk
menundukkan udara yang bersih yang membersihkan darahmu,
menjaga hidupmu, menundukkan air tawar yang memanjangkan hidup
kamu dan hidup setiap perkara yang hidup yang kamu mengambil
manfaatnya dan membuat jodoh-jodoh yang banyak dari tumbuhan
bumi dan hewan-hewannya dan selain dari bahan-bahan makanan dan
sebab keenakan dan ketenangan.
3. Yang pertama Sesungguhnya segala sesuatu itu berasal dari sisi Allah,
dengan makna sesungguhnya Allah yang menciptakan segala sesuatu
yang merupakan bahan-bahan kemanfaatan dan kemadaratan.
Sesungguhnya Allah yang menentukan tatanan dan sunnah (hukum
alam) bagi sebab-sebab sesuatu ini dengan perbuatan manusia. Segala
sesuatu itu baik, dengan melihat ungkapan ini, karena ia merupakan zat
yang menciptakan dan menyusun sesuatu.
131
4. Sesungguhnya seluruh perkara baik dan buruknya disandarkan kepada
Allah. Dikatakan semua perkara tersebut dari sisinya, dengan makna
Allah adalah zat yang menciptakan bahan-bahan, menciptakan dan
meletakkan hukum alam, sebab musababnya dan disandarkan pada
manusia dari sesuatu tersebut setiap perkara terdapat padanya usaha
dan amal ihtiar manusia baik itu baik atau buruk.
Dari keempat tersebut dapat disimpulkan sebagaimana berikut:
Secara teorits, semua perkara baik itu perkara baik atau buruk asalnya
murni kehendak dan keutamaan dari Allah dan pada hakikatnya semuanya
disandarkan kepada Allah. Dengan penjelesan rasional yakni Allah adalah yang
menciptakan bahan setiap perkara, menciptakan dan meletakkan hukum alam
sebab musabab terjadi segala sesuatu tersebut.
Sedangkan secara praktis dapat dilihat pada dua hal, yaitu:
a) Menghilangkan shuum (pengaruh buruk) dan tat}ayyur (sangkaan yang
tidak jelas asal-usulnya) yang dikatagorikan sebagai khurafat
b) Bagi orang yang tertimpa musibah supaya mencari sebabnya dari dirinya.
Kalau menurut istilah menumbuhkan kesadaran analitis masyarakat.
3. Keadilan Tuhan
Muh}ammad „Abduh dalam surat al-Nisa>‟,4: 40, ia menjelaskan konsepnya
tentang keadialan Tuhan pada ayat ini yaitu nafy al-z}ulm. Sesungguhnya dhalim
itu tidak terjadi pada Allah karena dhalim termasuk sesuatu yang kurang yang
Allah disucikan darinya. Allah adalah dzat yang mempunyai kesempurnaan yang
mutlak dan keutamaan yang agung. Muh}ammad „Abduh menegaskan tidak
adanya dhalim dari Allah (nafy al-z}ulm) di sini mutlak termasuk padanya orang
mukmin dan kafir. Konsepnya bahwa orang yang beramal, maka amalnya akan
mempengaruhi jiwa. amal yang mampu mempengaruhi jiwa itulah yang akan
mendapatkan balasan (jaza>’) baik ataupun buruk.
Jadi dari ayat empat puluh surat al-Nisa>‟ dapat diketahui bahwa pemikiran
kalam Muh}ammad „Abduh tentang keadilan Tuhan sebagaimana berikut:
Pertama, Muh}ammad „Abduh dalam masalah keadilan Tuhan mempunyai
konsep nafy al-z}ulm. Konsep nafy al-z}ulm ini terkait dengan al-jaza> (balasan amal
perbuatan manusia) yang termasuk didalamnya orang mukmin dan kafir.
Kedua, makna konsep nafy al-z}ulm tersebut bahwa Allah tidak akan
mengurangi pahala seseorang sedikitpun walaupun sebiji zarrah (biji sawi). Jika
baik akan dibalas dengan balasan semisalnya jika bagus Allah akan melipat
gandakan pahalanya.
Ketiga, mengenai jaza>‟ (balasan amal) menurutnya ada dua: (yang pertama)
Pahala merupakan balasan amal yaitu satu amal buruk dibalas dengan semisalnya
tidak kurang tidak lebih dan perbuatan baik dibalas dengan sepuluh kali lipat.
Kemudian (yang kedua) bukan hanya merupakan balasan amal, tetapi merupakan
fad}l tambahan anugrah pemberian dari sisi Allah yang disebut ajr yang diberikan
kepada orang yang suka berbuat baik (al-muhsini>n) dan disebut al-‘Ala>wah bagi
orang yang suka berbuat jelek (al-musi>n).
Kemudian dalam menafsiri surat Al-An‟a>m ayat 160, Muh}ammad „Abduh
menjelaskan yang senada dengan keterangan pada surat al-Nisa>‟ ayat 40 bahwa
132
sesungguhnya pemikiran kalam Muh}ammad „Abduh mengenai keadilan Tuhan
berkaitan mengenai jaza>’ yang umum diakhirat. Intinya jaza>‟ merupakan balasan
amal pada hari kiamat.
Setelah selesai memberikan muqaddimah ayat ini, ia menafsirkan ayatnya
dan menjelaskan pada konsepnya balasan amal itu diberikan atas sifat yang
mampengarui jiwa yaitu menjadi watak pada diri seseorang dan amal shaleh. Jika
tidak, maka tentunya tidak akan mendapatkan balasan amal tersebut. Jika baik
dibalas dengan sepuluh kali lipat. Tegasnya balasan (jaza>’) akan ditentukan
dengan menimbang pengaruhnya pada jiwa yang tidak dipisahkan oleh maut dan
ia menjelaskan bahwa ditulisnya amal jelek menjadi amal baik bahwa penulisan
itu tidak hanya terkait dengan sesuatu negatif yang murni tetapi karena amal jiwa
yaitu melawan nafsu dan mencegahnya dari berbuat buruk karena mencari ridho
Allah.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keadilan Tuhan menurut
Muh}ammad „Abduh itu berkaitan dengan jaza atau balasan amal baik atau buruk
konsepnya adalah sebagaimana berikut:
Pertama, amal yang mendapatkan balasan adalah amal yang mampu
mempengaruhi jiwa yang tidak bisa dipisahkan oleh maut. Amal tersebut bukan
hanya amal perbuatan nyata tetapi amal jiwa seperti meninggalkan sesuatu karena
Allah
Kedua, jika amal itu jelek itu dibalas dengan semisal sedangkan amal baik
dibalas dengan sepuluh kali lipat.
Ketiga, konsep „Abduh adalah nafy al-z}ulm, konsep ini berlaku umum
kepada orang mukmin dan orang kafir. Mereka pada hari tidak akan didolimi oleh
Allah atau yang lainnya. Maksudnya amalnya tidak akan dikurangi walaupun
hanya sebiji dzarrah. Orang kafir yang baik balasan berbeda dengan orang kafir
yang jelek.
Keempat, menurut Muh}ammad „Abduh berpendapat dasar dari konsep
keadilan Allah ini sifat rahma>n (kasih sayang) Allah
4. Akal dan Wahyu
Dalam menafsiri surat „A{li> „Imra>n ayat 117, ketika membahas tentang s}irrun,
setelah memberikan muqaddimah yang panjang ia menjelas yaitu ketika ayat
Mas}al ma> yunfiku>na fi> ha>zihi al-h}ayat al-dunya kamasali ri>hin as}a>bat h}arsa
qawmin z}alamu> anfusahum fa ahlakathu, Muh}ammad „Abduh menunjukkan
posisi penting akal. Sesungguhnya akal dan ahlakh yang baik adalah pokok dan
asal segala manfaat yang oleh Allah diumpamakan al-h}arh (harta yang
dinafkahkan pada jalan sebagiamana disebutkan.
Sebagai bukti yang lain di sini dapat dilihat bahwa Muh}ammad „Abduh
menjelaskan mengenai petir dengan penjelasan ilmiah, walaupun ia juga tidak
menyangkal faedahnya yang tidak bisa dijelas secara ilmiah yaitu adanya petir itu
untuk melempar syetan yang naik untuk mendengar mengetahui wahyu yang
merupakan bahasan perkara yang ghaib.
Walaupun Muh}ammad „Abduh sangat mengagungkan akal akan ia juga
mengakui kemampuan akal itu terbatas sebagaimana komentarnya dalam
menafsiri surat A<li „Imra>n ayat 9. Dalam ayat ini Muh}ammad „Abduh
133
menjelaskan penting menggunakan akal yaitu dengan menguat ilmu dan akidah,
sebagaimana penafsirannya tentang perkara yang dikatakan orang tertancap
ilmunya (al-Ra>s}ih fi> al-‘ilmi) Muh}ammad „Abduh juga menegaskan bahwa
manusia akal dan kemampuannya terbatas. Terdapat kekuatan yang lebih di atas
segalanya termasuk akal dan kemampuan manusia. Oleh karena itu ia menyaran
supaya menyerahkan semuanya kepada Allah.
Lalu ketika menafsiri menafsiri surat al-A‟ra>f ayat 185 yang mana Allah
menyanggah tuduhan orang kafir bahwa Nabi adalah orang gila, Muh}ammad
„Abduh menjelaskan terkaitnya akal dengan iman. Di sini menjelaskan betapa
tingginya posisi akal dalam terkaitnya iman kepada rasul dan yang dibawanya
yaitu agama Islam dengan penggunaan akal. Dalam penafsirannya tentang asalusal alam, menurutnya alam ini sebagaimana penafsirannya di atas tidak mungkin
berasal dari tidak ada yang murni. Setelah menjelaskan alasannya, maka
menandaskan bahwa alam ini harus keluar dari wujud lain yang selainnya yaitu
Allah yang wajib wujudnya.
Kemudian dalam menafsiri surat Hu>d ayat 24 yang menjelaskan tentang
iman yakni perumpamaan orang kafir dan orang mukmin, Muh}ammad „Abduh
menjelaskan secara pararel bahwa proses kinerja akal itu dari penggunaan panca
indra. Dengan panca indra manusia mampu menperoleh ilmu dari ayat-ayat Allah
berupa ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat al-Qur‟an yang menjadi perantara ilmu
dan petunjuk bagi akal. Orang kafir dalam ayat ini, menurut Muh}ammad „Abduh
disamakan dengan orang buta karena tidak mau menggunakan penglihatannya
untuk melihat tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah dan orang yang tuli
karena tidak mau menggunakan telinga untuk mendengarkan berita yang dibawa
nabi Muh}ammad dengan kitab sucinya yaitu al-Qur‟an sehingga akalnya tidak
berfungsi. Artinya manusia harus menggunakan seluruh potensi diri terutama
panca indra dan akal dalam mendapatkan segala sesuatu yang bermanfaat didunia
dan akhirat.
Dalam menafsiri surat al-Nisa>‟ ayat 165 yang membahas tentang
diutusnya seorang rasul. Dari penafsiran ayat di atas dapat dilihat bahwa
Muh}ammad „Abduh yang pertama menjelaskan bahwa pentingnya diutusnya
seorang rasul adalah memberi kabar gembira bagi orang yang beriman dan
beramal saleh dengan adanya pahala yang besar dan menakuti orang yang kafir
dengan adzab yang sangat pedih.
Kemudian hikmah diutusnya rasul adalah memutus orang kafir untuk
beralasan bahwa mereka tidak tahu akan adanya siksa ketika mereka dihisab
(dihitung amal perbuatan manusia) dan di azab. Lalu ia menjelaskan bahwa agama
itu hanya dapat diketahui dengan wahyu. Akal itu tidak akan bisa sampai
memahami agama tanpa adanya petunjuk wahyu. Oleh karena itu agama itu sesuai
dengan sunnah fitrah dalam membersihakan jiwa dan mempersiapkannya untuk
hidup dialam yang suci. Itu cipataan Tuhan yang menuntut beramal dan
meninggalkan larangan karena adanya balasan yang yang telah ditentukan oleh
Allah .
Di sini Muh}ammad „Abduh menjelaskan pentingnya posisi akal dalam
mencari petunjuk tentang adanya Tuhan, kekuasaan dan kebesarannya.
Muh}ammad „Abduh juga menjelaskan bahwa akal tidak akan mampu sampai pada
134
petunjuk agama dengan sendirinya tanpa petunjuk wahyu dan diutusnya seorang
rasul. Tegasnya akal saja tidak akan mampu mendapatkan petunjuk agama tanpa
adanya wahyu dari Tuhan. Pendapat ini berbeda dengan pendapat Mu‟tazilah yang
mengatakan bahwa dengan akal saja manusia mampu menemukan Tuhannya.
Dalam menafsiri surat „A<li> Imra>n ayat 191-192 yang menjelaskan tentang
orang yang dzikir kepada Allah, Muh}ammad „Abduh sebelum mengakhiri
penafsirannya pada ayat 191 dan diteruskan 192 mejelaskan bahwa akal
dinamakan sebagai lub. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa orang mukmin
tidak cukup hanya berzikir akan tetapi Allah mensyaratkan bersamanya berfikir
supaya mampu mendapatkan petunjuk dari ayat-ayat Allah. Dan banyak orang
yang berfikir kepada cipataan Allah lupa kepada Tuhannya karena akal hanya
merasakan lezatnya ilmu tetapi ruhnya terhalangi dari lezatnya berzikir.
Hendaklah orang yang beriman berfikir disertai dengan dzikir supaya merasakan
manfaat keduanya di dunia dan akhirat.
5. Free Will, Free Act dan Predistination
Komentar Muh}ammad „Abduh tentang perbuatan manusia nampak diantaranya
dalam menafsiri surat Yu>nus ayat 99. Muh}ammad „Abduh menjelaskan pada
dasarnya manusia mempunyai kebebasan untuk berkehendak dan berbuat,
memilih sesuai dengan yang di kehendakinya. Selanjut Muh}ammad „Abduh
menjelaskan keterangan sebelumnya pada ayat seratus yang dapat dipahami
bahwasanya manusia itu diberi kemampuan untuk melakukan sesuatu sesuai
dengan kehendaknya sendiri. Akan tetapi kemampuan itu dibatasi oleh hukum
alam. Konsepnya adalah manusia berdiri sendiri tanpa ada campur tangan Allah.
Manusia diberi kebebasan untuk memilih pada daerah sebab musababnya. tetapi
dalam memilih ia tidak benar berdiri sendiri, tetapi dibatasi oleh sunnah Allah
(hukum alam) dan taqdir. Selanjutnya ia menjelaskan semuanya itu kufur atau
iman ditentukan oleh penggunaan akal. Orang yang tidak mau menggunakan
akalnya, tidak mau berfikir dan mengikuti hawa nafsunya pasti akan memilih
kufur atas iman dan fujur atas taqwa.
Dalam menafsirkan surat al-Nisa>‟ 79 dalam menjelaskan kejelekan yaitu
ketika menafsiri wa in tus}ibka sayyiah fa min nafsika, Muh}ammad „Abduh
menjelaskan bahwa pada prinsipnya sesungguhnya manusia itu sebenarnya diberi
kemampuan untuk berkehendak dan berbuat. Artinya manusia mempunyai
kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya baik atau buruk. Akan tetapi
kebebasan tersebut dibatasi oleh hukum alam dan pengetahuan manusia dalam
mengenal dan memahami hukum alam dengan sebab musababnya tersebut. Ketika
tejadi kejelekan, maka semua itu karena keteledorannya sendiri.
Kemudian dalam menafsiri lanjutan ayat tersebut Muh}ammad „Abduh
menegaskan Qul kull min ‘ind Alla>h menjelaskan konsep kebebasan kehendak
dan berbuat atas manusia, sesengguhnya Allah adalah zat yang menciptakan
segala sesuatu yang ada didunia ini baik itu yang memberikan kebaikan dan
kejelekan bagi manusia. Allah juga yang menciptakan tatanan dan hukum alam
(natural laws) sebagai sebab terjadinya sesuatu. Pada awalnya semua baik dalam
arti semua yang ada dan terjadi itu ada manfaat dan hikmahnya.
135
Dari uraian tadi dapat disimpulkan bahwa menurut Muh}ammad „Abduh
manusia mempunyai kebebasan berkehendak dan berbuat sesuatu. Manusia harus
mau menggunakan akal pikirannya dan segala potensi budi-dayanya dengan
petunjuk syariat agama untuk mencapai kebahagiaan hidup baik didunia atau
akhirat dan menjauhkan diri dari segala macam perkara yang menyebab celaka
dan sengsara. Oleh karena itu manusia harus mau belajar dan terus belajar
menggali potensi diri meningkatkan SDM-nya untuk menggapai keinginan dan
kebahagiaannya.
PENUTUP
Dari seluruh pembahasan mengenai pemikiran kalam Muh}ammad „Abduh dalam
Tafsi>r Al-Mana>r dapat disimpulkan sebagaimana berikut:
Mengenai kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan menurut Muh}ammad
„Abduh, kehendak dan kekuasaan Allah itu tidak mutlak atau absolut tetapi
mengikuti sunnahnya dalam masyarakat, kesesuian akal sehat, syariat, dan hikmah
Allah. Ini identik dengan Mu‟tazilah. Di sisi lain Muh}ammad „Abduh tidak
menutup kemungkinan terjadinya sesuatu itu terjadi di luar sunnah, shari‟at, dan
akal manusia. Hal ini hampir sama dengan Ash‟ariyah.
Mengenai perbuatan Tuhan menurut Muh}ammad „Abduh, semua yang
berasal dari Allah itu baik dalam arti Allah yang menciptakan bahan-bahannya
dan menciptakan hukum alamnya, dan sebab musababnya semua berasal dari
Allah, disandarkan kepada Allah dan dikembalikan kepada Allah. Selanjutnya di
situ terdapat ihtiar dan usaha manusia. Perbuatan yang baik disandarkan pada
Allah sedangkan perbuatan jelek disandarkan pada manusia. Muh}ammad „Abduh
menyanggah bahwa manusia mempunyai hak dari Allah dalam arti Allah wajib
berbuat baik dan adil kepada manusia.
Tentang keadilan Tuhan menurut Muh}ammad „Abduh itu berkaitan
dengan jaza>’ atau balasan amal baik atau buruk di hari kiamat. Konsepnya adalah
sebagaimana berikut: Amal yang mendapatkan balasan adalah amal yang mampu
mempengaruhi jiwa yang tidak bisa dipisahkan oleh maut. Amal tersebut bukan
hanya amal perbuatan nyata tetapi amal jiwa seperti meninggalkan sesuatu karena
Allah. Jika amal itu jelek, maka dibalas dengan semisal. Sedangkan amal baik
dibalas dengan sepuluh kali lipat. Konsep Muh}ammad „Abduh adalah nafy alz}ulm, konsep ini berlaku umum kepada orang mukmin dan orang kafir. Mereka
pada hari tidak akan dizalimi oleh Allah atau yang lainnya. Maksudnya amalnya
tidak akan dikurangi walaupun hanya sebiji zarrah. Orang kafir yang baik balasan
berbeda dengan orang kafir yang jelek. Memang hampir sama dengan Mu‟tazilah
tetapi konsepnya berbeda, disisi lain juga mengadopsi pendapat Asha>riyah.
Mengenai wahyu dan akal, menurut Muh}ammad „Abduh akal adalah
sumber segala kebaikan dalam kehidupan manusia termasuk dalam beriman dan
beragama. Muh}ammad „Abduh memberikan porsi kedudukan akal yang sangat
tinggi. Akan tetapi menurutnya kemampuan akal itu terbatas, untuk mengetahui
tentang ajaran agama masih diperlukan wahyu atau utusan karena akal tidak akan
sampai tentang masalah itu.
Tentang kebebasan kehendak menurut Muh}ammad „Abduh manusia
mempunyai kebebasan berkehendak dan berbuat sesuatu. Manusia harus mau
136
menggunakan akal pikirannya dan segala potensi budidayanya dengan petunjuk
syariat agama untuk mencapai kebahagiaan hidup baik didunia atau akhirat dan
menjauhkan diri dari segala macam perkara yang menyebab celaka dan sengsara.
Oleh karena itu manusia harus mau belajar dan terus belajar menggali potensi diri
meningkatkan SDM-nya untuk menggapai keinginan dan kebahagiaannya.
Hampir sama dengan Mu‟tazilah dan Maturidiah Samarkand.
Dari seluruh pembahasan di atas bahwa pada dasarnya pemikiran kalam
Muh}ammad „Abduh dalam Tafsi>r al-Mana>r tidak dapat digolongkan kepada
kelompok rasionalis murni tetapi tergolong rasionalis yang moderat. Dengan
demikian penafsiran Muh}ammad „Abduh terhadap ayat-ayat tentang kalam
termasuk tafsiran Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah Rasional atau Sunni Rasionalis.
DAFTAR PUSTAKA
„Abd Al-Rahi>m, „Abd Al-Ghaffa>r, Al-Ima>m Muh}ammad ‘‘Abduh Wa Manhajuh
Fi<> Al-Tafsi>r, Kairo: Da>r Al-Ans}ar, t t.
„Abduh, Muh}ammad, Risa>lah Tawh}i>d, Kairo:Da>r Al-Mana>r, 1366, Cet xii.
„Ima>rah, Muh}ammad, T}ayyarat Al-Fikr Al-Isla>mi>, Kairo: Da>r al-Shuruq, 2008.
A.Hanafi, Pengantar Theologi Islam, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1992.
Abd al-Qa>hir al-Baghda>di>, Al-Farq bai>n al-Firaq Kairo:Maktabah Ibnu Sina, t.t.
Abu> al-fath} Muh}ammad al-Kari>m Ibn Abu> bakar Ahmad al-Shahrasta>ni>, al-Milal
wa al-Nihal, IV Beiru>t: Da>r al-Ma‟rifah,1974.
Ghaza>li > (al), al-Iqtis}a>d fi> al-I’tiqa>d Beiru>t:Da>r al-Kutub al-„Ilmiyah, 1983.
Hamda>ni>, Al-Qa>d}i> Abd al-Jabba>r Ibn Ahmad>, Mustasha>bih al-Qur’a>n (ed) Adnan
Muhamad Zaewazar. Kairo:Dar al-Turath.
Kramers, H.A.R. Gibb dan J.H, Shorter Encyclopedia Of Islam Ithaca, New York:
Cornel University Press.
Muh}ammad Muhy al-Di>n Ad al-Hami>d (Kairo : Nahd}ah al-Mas}dariyah, 1950.
Mutawalli (al), Al-Mughni li al Imam al-Mutawalli> (Tahqiq) Meribarnan Kairo:
Bibliotheca Alexandria, 1986.
Nasution, Harun, Akal dan Wahyu. Jakarta:UI Press, 1985.
Nasution, Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan Jakarta:
Bulan Bintang, 1975.
Said, Busthomi M., Pembaharu dan Pembaharuan dalam Islam, Terj. Mahsun alMundzir (Ponorogo: PSIA-ISID Gontor, 1992.
Shahrasta>ni> (al), Abu> al-Fath} Muh}ammad al-Kari>m Ibn Abu> Bakar Ah}mad>, alMilal wa al-Nih}a>l, Beiru>t:Da>r al-Ma‟rifah, 1974.
Shahrasta>ni> (al), Niha>yat al-Iqda>m fi> Ilm al-Kala>m, ed. Alferd Guilame, London,
Oxford Unversity Press, t.t.
Yusuf, Yunan, Corak kalam Tafsir Al-Azhar. Jakarta:Pustaka Panjimas, 1990.
Zahrah, Abu>, Tari>kh Al-Maza>hib Al-Isla>miyah, Kairo:Da>r al-fikr al-Arabi, 2009.
137
Zahrah, Muh}ammad Abu, Sejarah Aliran-aliran dalam Islam Bidang Politik dan
Akidah. Terj. Shobahussurur, Ponorogo: PSIA-ISID Gontor, 1991.
Fly UP