...

9. SUBIYANTORO

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

9. SUBIYANTORO
Profil Cerita untuk Meningkatkan Kecerdasan Emosional... (Subiyantoro)
PROFIL CERITA UNTUK MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL:
APLIKASI ANCANGAN PSIKOLINGUISTIK
Subyantoro
Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS - UNNES
ABSTRACT
This article aims to describe story profile which can improve emotional
intellegence of cognate growth phase child of concrete operational. This Research
subjek consist of: (a) cognate growth phase child of concrete operational and (b)
narrator (in this case teacher). The Research was conducted in Semarang Town.
The Instruments in this research are: (1) instrument to know story profile enthused
by cognate growth phase child of concrete operational, (2) instrument to measure
emotional intellegence of cognate growth phase child of concrete operational before and after getting story based on figure function analysis at child story, (3)
instrument to know executed narrating profile by narrator (teacher). Telling a story,
based on figure function analysis in the reality can give picture and assist activity
of telling a story that can develop emotional intellegence. The mentioned seen
from tendency the increasing of emotional intellegence of child. Narrating execution shall pay attention psychological aspect of child, including type, way of, theme,
figure, path, and story background; existence of interaction braid in course of narrating between narrator and hearer; and giving of follow-up having a meaning of
to child.
Key words: children story, narrating, and emotional intellegence.
1. Pendahuluan
Kehidupan anak-anak Sekolah Dasar
(SD) dewasa ini semakin mencemaskan. Mereka diperdaya oleh televisi, dengan tayangantayangan yang sarat eksploitasi dan bertendensi
kepentingan komersial. Minimnya pertunjukan
kesenian dan dongeng, membuat kehidupan
anak-anak SD semakin mencemaskan. Dengan kondisi tersebut, kalau tidak diantisipasi
secara dini, dikhawatirkan anak-anak SD itu
akan tumbuh dengan kepribadian menyimpang
dan keras (Kompas, 30 Juli 1997: 4).
Hal tersebut disebabkan tayangan di
televisi lebih banyak memasung kreativitas dan
bahkan memasung hak asasi anak-anak.
Anak-anak disuruh berdandan, berias, bernyanyi, dan melakukan gerak-gerik seperti
orang dewasa. Selain itu, anak-anak tidak diberikan kesempatan memberikan respon aktif.
Hal itu akan dapat menimbulkan apatisme dan
hilanglah daya kreativitasnya. Anak-anak tidak
dituntut berpikir dan menjawab pertanyaan
secara aktif.
Keadaan di atas diperkuat oleh laporan
yang menyatakan bahwa pada dasawarsa
terakhir ini telah tercatat rentetan peristiwa yang
183
Kajian Linguistik dan Sastra, Vol. 18, No. 35, 2006: 183-195
mencerminkan meningkatnya suasana emosi,
rasa keputusasaan, dan rapuhnya moral dalam,
masyarakat, serta kehidupan bersama. Tahuntahun terakhir ini telah terekam meningkatnya
tindak kekerasan dan frustrasi/ kekecewaan,
baik berupa rasa kesepian anak-anak yang
terpaksa ditinggal sendiri atau diasuh babysitter
dan televisi, atau dalam kepahitan anak-anak
yang dipinggirkan, disia-siakan, atau diperlakukan dengan kejam, atau dalam keintiman tidak
lazim dari tindakan kekerasan dalam perkawinan. Meluasnya gejala penyimpangan
emosional terlihat pada melonjaknya angka
tingkat depresi di seluruh dunia dan pada
tanda-tanda tumbuhnya agresivitas (Goleman
1996: xi).
Kondisi masyarakat di atas dipertegas
oleh penelitian-penelitian yang mengungkapkan
bahwa kini masyarakat berusaha keras membuat anak lebih cerdas, atau paling tidak menghasilkan nilai lebih baik dalam ujian-ujian IQ
standar. Menurut James R Flynn, seorang
pakar filsafat politik di Universitas of Otago,
New Zealand, angka IQ telah meningkat lebih
dari dua puluh poin sejak pertama kali pada
awal abad ini. Namun ironisnya, sementara dari
generasi ke generasi anak-anak semakin cerdas, sebaliknya keterampilan emosional dan
sosialnya merosot tajam (Shapiro 1995: 5).
Terkait dengan upaya meningkatkan
kecerdasan emosional, seperti harapan pada
penelitian-penelitian di atas, salah satunya
dapat dilakukan dengan pelibatan anak secara
emosional melalui penjelajahan karya sastra.
Sebagaimana dikatakan oleh Kayam (1988)
peran karya sastra sebagai salah satu sarana
mengembangkan kecerdasan emosional anak,
tidak terlepas dari konsep karya sastra sebagai
model kehidupan. Artinya, karya sastra menggambarkan dunia imajiner yang memiliki hubungan secara langsung maupun tidak langsung
dengan kehidupan dalam dunia nyata. Dalam
hal ini keberadaan karya sastra yang diciptakan
seorang sastrawan memang tidak dapat dilepaskan dari sastrawan dan kehidupan nyata.
Melalui karya sastra, seorang sastrawan merekam sebuah dunia kehidupan, karena ia ingin
memahami kehidupan dengan membangun
sebuah model dan menjelaskan berbagai
kemungkinan dalam kehidupan dari model
tersebut (Kayam 1988: 124). Di samping itu,
di dalam karya sastra ditampilkan gambaran
kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah
suatu kenyataan sosial, yang mencakup hubungan antarmanusia yang terjadi dalam dunia
nyata. Dengan demikian, peristiwa-peristiwa
yang terjadi dalam batin seseorang maupun
dalam hubungan antarmanusia, yang sering
menjadi bahan karya sastra adalah pantulan
hubungan seseorang dengan orang lain dan
dengan masyarakat (Damono 1978: 1).
Kecerdasan emosional bukanlah sesuatu
yang dimiliki seorang anak secara genetis atau
bawaan. Akan tetapi, merupakan sesuatu yang
dapat dipelajari dan dikembangkan (Dulewicz
dan Higgs 2000: 1). Oleh karena itu, perlu
dilakukan upaya-upaya yang dapat mengembangkannya secara sehat agar masa-masa yang
akan datang lahir generasi yang lebih baik
daripada generasi sekarang. Ungkapan penyair
Libanon Khalil Gibran bahwa anak itu seperti
anak panah yang telah lepas dari busurnya dan
dia adalah milik sang hidup itu sendiri, tidak
diartikan secara ‘harafiah’ bahwa anak setelah
lahir dibiarkan begitu saja. Akan tetapi, di dalam kelepasannya itu tetap ada peran orang
tua untuk mendidik dan mengarahkan. Apalagi
bila dikaitkan dengan realitas bahwa anak
dalam kesehariannya terus melakukan interaksi
dengan kedua orang tuanya. Salah satu cara
yang relevan dengan tuntutan tersebut antara
lain dengan mengajarkan karya sastra.
Cerita merupakan medium yang sangat
baik untuk menginspirasikan suatu tindakan;
membantu perkembangan apresiasi kultural;
kecerdasan emosional; memperluas pengetahuan anak-anak; atau hanya menimbulkan
kesenangan. Mendengarkan cerita, membantu
anak-anak memahami dunia mereka, dan
bagaimana mereka berhubungan dengan or-
184
Profil Cerita untuk Meningkatkan Kecerdasan Emosional... (Subiyantoro)
ang lain (Raines dan Isbell 2002: vii). Ketika
anak-anak mendengar cerita, mereka menggunakan imajinasi mereka. Mereka menggambarkan isi cerita dari deskripsi pembaca cerita.
Kreativitas ini bergantung pada bagaimana
pembaca cerita dapat menghidupkan ceritanya,
dan bagaimana pendengar aktif menginterpretasikan apa yang didengarnya. Anak-anak
mendapat kesenangan dari seluruh pengalaman
itu.
Dari uraian di atas jelas kiranya keterkaitan antara pengembangan kecerdasan
emosional dan penjelajahan dialog antartokoh
dalam cerita. Setidaknya melalui penelitian ini
akan ditemukan model yang dapat memperkaya pengalaman anak dari contoh-contoh
model kehidupan para tokoh yang ada dalam
cerita. Anak tidak perlu belajar dan berlatih
untuk kecerdasan emosional dari kehidupan
nyata yang memerlukan sekian banyak waktu
untuk mendapatkannya. Cerita sebagai cermin
kehidupan masyarakat, dapat menjadi sarana
pengembangan kecerdasan emosional yang
efektif dan efisien bagi anak.
Masalah utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran profil
cerita anak-anak yang dapat meningkatkan
kecerdasan emosional anak tahap perkembangan kognitif operasional konkret. Masalah
utama penelitian tersebut dirinci ke dalam
masalah penelitian: (1) Bagaimanakah gambaran profil cerita anak-anak yang diminati oleh
anak tahap perkembangan kognitif operasional
konkret?, (2) Bagaimanakah gambaran profil
penceritaan yang dilaksanakan pencerita (guru)
kepada anak tahap perkembangan kognitif
operasional konkret?, dan (3) Bagaimanakah
tingkat kecerdasan emosional anak-anak tahap
perkembangan kognitif operasional konkret
sebelum diberikannya penceritaan yang berbasis analisis fungsi tokoh cerita anak-anak?
Adapun tujuan utama penelitian ini adalah
mendeskripsikan gambaran profil cerita anakanak yang dapat meningkatkan kecerdasan
emosional anak tahap perkembangan kognitif
operasional konkret. Tujuan utama penelitian
tersebut dirinci ke dalam tujuan penelitian untuk
mendeskripsikan: (1) gambaran profil cerita
anak-anak yang diminati oleh anak tahap
perkembangan kognitif operasional konkret,
(2) gambaran profil penceritaan yang dilaksanakan pencerita (guru) kepada anak tahap
perkembangan kognitif operasional konkret,
dan (3) tingkat kecerdasan emosional anakanak tahap perkembangan kognitif operasional konkret sebelum diberikannya penceritaan yang berbasis analisis fungsi tokoh cerita
anak-anak.
Cerita adalah bagian dari hidup. Setiap
orang adalah bagian dari sebuah cerita. Kelahiran, pekerjaan, perjumpaan, usaha, ketegangan, penyakit, perkawinan, dan lain-lain adalah sebuah rentetan kejadian dan kisah kemanusiaan yang amat menarik (Sarumpaet 2003:
3). Bahkan, cerita adalah narasi pribadi setiap
orang, dan setiap orang suka menjadi bagian
dari satu peristiwa, bagian dari satu cerita, dan
menjadi bagian dari sebuah cerita adalah
hakikat cerita. Otak manusia juga disebut sebagai alat narasi yang bergerak dalam dunia
cerita. Semua pengetahuan yang disimpan
dalam otak dan bagaimana akhirnya setiap
orang dapat mengingat dan mengenal dunia
adalah karena keadaan cerita itu. Kalau semua
pengetahuan itu tidak disimpan dalam bentuk
cerita, tak akan bisa diingat. Itulah sebabnya
segala yang disimpan dalam bentuk cerita jauh
lebih bermanfaat dan bermakna daripada
segala yang dijejalkan ke dalam otak hanya
dalam bentuk fakta-fakta atau sekuen-sekuen
yang sama sekali sulit dicari antarhubungannya.
Rampan (2003 : 89) mendefinisikan cerita
anak-anak sebagai cerita sederhana yang
kompleks. Kesederhanaan itu ditandai oleh
syarat wacananya yang baku dan berkualitas
tinggi, namun tidak ruwet, sehingga komunikatif. Di samping itu, pengalihan pola pikir
orang dewasa kepada dunia anak-anak dan
kebe-radaan jiwa dan sifat anak-anak menjadi
syarat cerita anak-anak yang digemari. Dengan
185
Kajian Linguistik dan Sastra, Vol. 18, No. 35, 2006: 183-195
kata lain, cerita anak-anak harus berbicara
tentang kehidupan anak-anak dengan segala
aspek yang berada dan mempengaruhi mereka
Menurut Huck at al. (1987: 6) ciri
esensial sastra anak, termasuk cerita anak ialah
penggunaan pandangan anak atau kaca mata
anak dalam menghadirkan cerita atau dunia
imajiner Hal yang senada diungkapkan oleh
Sarumpaet (2003: 108), bahwa sastra anak,
termasuk di dalamnya cerita anak adalah cerita
yang ditulis untuk anak, yang berbicara
mengenai kehidupan anak dan sekeliling yang
mempengaruhi anak, dan tulisan itu hanyalah
dapat dinikmati oleh anak dengan bantuan dan
pengarahan orang dewasa.
Berdasarkan batasan itu, bukan saja
dunia atau kehidupan anak-anak yang boleh
diceritakan, dunia remaja dan dunia orang
dewasa pun dapat diceritakan. Syaratnya, yang
tidak boleh ditawar-tawar, cara dan cerita
dunia remaja atau orang dewasa itu harus
disajikan dengan tolok ukur kaca mata anakanak. Selain itu, bukan hanya kehidupan atau
dunia manusia yang boleh dikisahkan dalam
cerita anak. Dunia hewan dan tumbuhan pun
dapat dilukiskan pada cerita anak-anak.
Bahkan, hasilnya sering menakjubkan. Banyak
cerita anak yang unggul karya Anderson yang
berkisah tentang hewan dan tetumbuhan.
Cerita anak-anak yang bersumber dari
bacaan anak-anak dapat dilacak asal-usulnya
berdasarkan isinya, bentuk penulisannya,
fungsinya, dan dari bahannya. Berdasarkan
isinya, cerita anak-anak dapat berasal dari
sastra tradisional, fantasi modern, fiksi realistis,
fiksi sejarah, dan puisi. Menurut bentuk
penulisannya, cerita anak-anak diklasifikasikan
ke dalam buku bacaan bergambar (picture
book), komik, buku ilustrasi, dan novel. Dilihat
dari fungsinya, ada pula buku untuk pemula
yang disebut sebagai buku konsep, buku
partisipasi, dan toybooks. Bila dilihat dari
bahannya, selain kertas, buku untuk pemula
ada yang terbuat dari kain, plastik, foam, dan
karton tebal. Dilihat dari ukurannya, selain yang
biasa seperti umumnya, ada yang berukuran
mini, midi, dan maksi (Bunanta 1998: 41).
Berkenaan dengan pembahasan cerita
anak yang telah dilakukan pada bagian
sebelumnya, cerita anak yang dimaksudkan
dalam penelitian ini adalah salah satu bentuk
karya sastra, yang ditulis dengan berorientasi
pada dunia anak-anak. Kriteria berorientasi
pada dunia anak-anak dapat dilihat dari (1)
penulis atau penutur cerita, (2) tokoh/penokohan, (3) alur, (4) latar, dan (5) tema.
Cerita anak dapat ditulis atau dituturkan
oleh anak-anak atau orang dewasa. Tokohtokoh yang terdapat dalam cerita anak-anak
adalah anak-anak dan dapat pula orang
dewasa, tetapi tokoh utamanya adalah anakanak, sedangkan tokoh bawahannya selain
tokoh anak-anak, ada juga tokoh remaja,
dewasa, dan orang tua. Bentuk alur dalam
cerita anak dapat alur lurus atau alur kilas balik.
Unsur-unsur dalam alur, seperti penampilan
peristiwa masa lalu atau pembayangan cerita
tidak banyak ditampilkan karena dalam cerita
anak tidak diperlukan kerumitan dan anakanak cenderung masih sukar membayangkan
masa lalu, masa depan, masa tadi, atau masa
nanti. Latar cerita anak adalah latar yang jelas
dan mudah dipahami oleh anak, yaitu latar
tempat, seperti rumah, kelas, pasar, lapangan,
jalan, stasiun, terminal, dan rumah sakit, yang
dominan digunakan pengarang adalah latar
rumah dan kelas. Penampilan itu berkaitan pula
dengan banyaknya masalah anak-anak yang
berkisar di rumah dan di kelas. Tema yang
dikemukakan pada cerita anak-anak beragam.
Beragamnya tema itu karena masalah yang
dikemukakan juga beragam. Masalah universal mengenai kehidupan anak-anak, hubungan
anak-anak dengan alam dan orang lain
dikemukakan dalam berbagai masalah, seperti
dalam masalah keluarga, kepedulian, kejujuran,
kesombongan, ketegaran, kesabaran, kepercayaan, lingkungan hidup, dan kerja keras.
Adapun penceritaan atau teknik bercerita
adalah pemindahan cerita dari pencerita
186
Profil Cerita untuk Meningkatkan Kecerdasan Emosional... (Subiyantoro)
kepada penyimak atau pendengar. Bercerita
merupakan suatu seni yang alami sebelum
menjadi sebuah keahlian. Pencerita yang alami
cenderung lebih kuat daripada pencerita yang
mengikuti sekolah/kursus resmi. Namun
demikian, kemampuan bercerita tersebut dapat
dikembangkan melalui berlatih dengan
sungguh-sungguh (Majid, 2001: 8).
Berkaitan dengan uraian di atas, bercerita
adalah suatu kegiatan yang disampaikan oleh
pencerita kepada siswanya, ayah dan ibu
kepada anak-anaknya, juru bercerita kepada
pendengarnya. Bercerita juga merupakan suatu
kegiatan yang bersifat seni, karena erat kaitannya dengan keindahan dan bersandar kepada
kekuatan kata-kata. Kekuatan kata-kata inilah,
yang dipergunakan untuk mencapai tujuan
bercerita.
Lewis Carroll menyebut cerita sebagai
“hadiah cinta”, karena bercerita adalah
memberi dan membagi. Ketika bercerita,
pencerita menunjukkan kerelaan menjadi
sangat terbuka bahkan mudah diserang
ataupun dicela, mau memajankan perasaan
yang terdalam serta nilai-nilai yang dipercaya.
Kegembiraan berbagi cerita (yang serupa) ini
juga sangat bermanfaat bagi perkembangan
anak-anak. Misalnya, dengan cerita yang
diceritakan, anak-anak dapat menikmati
permainan bunyi dan kata yang menciptakan
suasana yang membangkitkan tanggapan dan
menciptakan citraan yang sangat menyenangkan bagi mata hati. Cerita juga memperkenalkan anak pada pola-pola bahasa sekaligus
memperluas kosa katanya. Anak dengan begitu
juga menjadi terlatih dengan visualisasi,
kemampuan melihat dan menjadikan seperti
gambar semua pengalamannya (dalam Sarumpaet 2003: 5).
Pengertian atau pengetahuan yang
terbentuk pada anak didik mengenai bentuk,
atau karakter dari berbagai tokoh dapat
dihasilkan dari mendengarkan cerita yang
dituturkan pencerita. Sambil mendengarkan
cerita, anak dapat berfantasi dan menerima
kesan-kesan yang membuat jiwanya menjadi
aktif. Cerita yang menarik dapat membantu
memberikan ide dan membangkitkan asosiasi
anak didik pada pengalaman mereka. Seperti
dikemukakan Hurlock (1988: 335-336)
bahwa pada masa usia sekolah, anak menyukai
cerita tentang hal-hal yang nyata. Dengan kata
lain, mereka lebih menyukai cerita-cerita yang
nyata dengan dibumbui sedikit khayal,
daripada yang tidak terjadi sebenarnya atau
tentang sesuatu yang jauh di luar jangkauan
pengalamannya, sehingga tidak dapat mereka
pahami.
Terdapat perbedaan besar antara pembacaan cerita dan penceritaan. Penceritaan
atau bercerita yang baik akan menyebarkan
ruh baru yang kuat dan menampakkan
gambaran yang hidup di hadapan pendengar,
dengan memberikan potret yang jelas dan
menarik, adanya intonasi, disertai gerak-gerak,
dan adanya kandungan emosi di dalamnya. Ia
dapat menghidupkan setiap tokoh dengan
karakter seperti yang dituntut dalam cerita.
Sebaliknya, orang yang membaca sendiri buku
cerita, peristiwa-peristiwa dalam cerita akan
berlalu dengan cepat dalam benaknya.
Terkadang bahkan tanpa kesan sama sekali,
kecuali terbaca huruf-huruf berwarna hitam
yang mewadahi ide pengarang. Tetapi, tidak
setiap penceritaan lebih baik dari pembacaan.
Penceritaan yang buruk akan menghilangkan
apa yang seharusnya indah dalam cerita.
Sukadi berpendapat bahwa pencerita
harus dapat menciptakan suasana tenang dan
akrab bersama pendengarnya seolah-olah
mereka itu teman. Ia memposisikan dirinya
seperti tuan rumah yang menyambut ramah
tamunya. Dalam penceritaan, terkadang
sebuah kalimat bisa menjadi dua kalimat atau
lebih daripada cerita yang tertulis. Setiap
orang memiliki kemampuan yang berbeda
dalam bercerita. Pengaruh sebuah cerita bagi
pendengar juga berbeda-beda bergantung
pada siapa yang menjadi penceritanya (2002:
38-39).
187
Kajian Linguistik dan Sastra, Vol. 18, No. 35, 2006: 183-195
Bahan-bahan cerita dapat diambilkan dari
cerita-cerita daerah yang berupa dongeng,
fabel, legenda, dan lain-lain, serta lingkungan
sekitarnya. Isi cerita hendaknya yang mengandung pendidikan dan menanamkan nilai-nilai
keimanan dan budi pekerti luhur serta membangkitkan motivasi siswa untuk giat belajar
dan bekerja.
Agar penceritaan tersebut lebih hidup,
siswa diajak ikut serta di dalamnya sehingga
mereka aktif baik emosinya/ perasaannya
maupun pikirannya. Sekali-kali mereka diajak
berdialog atau tanya jawab, tentang isi cerita,
diminta menirukan kata atau kalimat yang
diucapkan dalam cerita, memperagakan tokohtokoh yang terdapat dalam cerita dan mengekspresikan sesuatu dalam tingkah laku, dan
sebagainya. Apabila sudah selesai bercerita,
pencerita memberikan pertanyaan kepada
siswa untuk dijawabnya dan siswa juga diberi
tugas untuk menceritakan kembali dengan
bahasanya sendiri, atau disuruh menyimpulkan
isi cerita tersebut.
Kecerdasan emosional merupakan wacana baru di wilayah psikologi dan paedagogi,
setelah bertahun-tahun masyarakat sangat
meyakini bahwa faktor penentu keberhasilan
hidup seseorang adalah kecerdasan intelektual
(IQ). Temuan penelitian di bidang psikologi oleh
Howard Gardner tentang Multiple Intelligence, yang menyatakan bahwa manusia
memiliki banyak kecerdasan, bukan hanya
kecerdasan intelektual saja, telah membuka
cakrawala baru tentang potensi manusia yang
belum dieksplorasi untuk mendorong
keberhasilan hidup. Riset di bidang psikologi
terus berkembang sampai akhirnya Solovey
dan Mayer (1996) menemukan kecerdasan
emosional sebagai salah satu faktor penting bagi
kesuksesan hidup manusia. Temuan Solevey
dan Mayer (1996) tersebut disempurnakan
oleh Patton (1997) dan Goleman (1999)
(dalam Nugroho 2003: 1).
Pengertian tentang kecerdasan emosional
sampai saat ini masih dalam perdebatan.
Menurut Hein (1999: 3), masih dipertentangkan apakah kecerdasan emosional
merupakan suatu potensi bawaan ataukah
serangkaian kemampuan, kompetensi, atau
keterampilan. Senada dengan itu, Mayor &
Salovey menyatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk merasakan
secara akurat, memahami, dan mengekspresikan emosi; kemampuan untuk mengetahui
dan menjelaskan perasaan ketika perasaan
tersebut mempengaruhi pikiran; kemampuan
memahami emosi; dan kemampuan mengarahkan emosi guna perkembangan emosi dan
intelektual. Daniel Goleman cenderung
mengikuti definisi Mayor & Salovey ini dalam
mendefinisikan kecerdasan emosional.
Pendapat lain menyatakan bahwa kecerdasan emosional adalah suatu keterampilan
(skill) memahami diri sendiri, kemampuan
mengatur diri sendiri, memotivasi dan empati,
yang merupakan predikator yang sangat kuat
dan dapat dipercaya untuk meraih keberhasilan
di tempat kerja. Oleh karena itu, seseorang
yang mempunyai kecerdasan emosional adalah
seseorang yang menyadari emosinya sendiri
dan emosi orang lain dan menyesuaikan perilakunya berdasarkan pengetahuannya tentang
kecerdasan emosional tersebut (Dulewicz dan
Higgs 2000: 1). McCluskey (1997: 2-3) juga
menyatakan bahwa kecerdasan emosional
berkaitan dengan keterampilan emosi, ada
enam keterampilan emosi yang esensial, yaitu
memahami diri sendiri (selfawareness),
mengelola emosi (managing emotions),
empati (emphaty), komunikasi (communicating), kerjasama (co-operation), mengatasi
konflik (resolving conflicts).
Sampai saat ini belum ada paper and
pencil test yang sudah tervalidasi dengan baik
untuk mengukur kecerdasan emosional sebagaimana halnya IQ. Pengukuran kecerdasan
emosional dilakukan oleh para ahli melalui tes
maupun evaluasi diri (self-report inventory)
dengan menggunakan kuesioner. Tes, dengan
beberapa pilihan jawaban digunakan oleh ahli
188
Profil Cerita untuk Meningkatkan Kecerdasan Emosional... (Subiyantoro)
yang mendefinisikan kecerdasan emosional
sebagai kemampuan (ability) memahami dan
mengolah emosi, sedangkan kuesioner yang
jawabannya, umumnya, menggunakan skala
rating dipakai oleh ahli yang mendefinisikan
kecerdasan emosional sebagai keterampilan
(skill) memahami dan mengolah emosi.
Pengukuran melalui evaluasi diri umumnya digunakan untuk mengukur kebiasaan
ataupun keterampilan seseorang, serta disajikan dalam bentuk skala tingkat. Agar hasil
pengukuran dapat lebih dipertanggungjawabkan, keinginan responsden untuk terlibat
baik diusahakan melalui instruksi agar responden menjawab sejujurnya.
Berdasarkan uraian di atas, kecerdasan
emosional secara konseptual didefinisikan
sebagai keterampilan, yang merupakan hasil
kerjasama kekuatan emosional dengan pikiran
rasional, untuk mengendalikan diri, semangat,
ketekunan, serta kemampuan memotivasi diri,
dan kemudian menggunakannya sebagai inti
daya hidup sehingga sukses dalam membina
hubungan dengan orang lain, sukses dalam
pekerjaan serta sukses dalam hidup.
Adapun dimensi kecerdasan emosional
dalam penelitian ini adalah (1) kemampuan
untuk mengenal emosi diri, (2) kemampuan
untuk mengelola dan mengekspresikan emosi,
(3) kemampuan untuk memotivasi diri, (4)
kemampuan untuk mengenali emosi orang lain,
dan (5) kemampuan untuk membina hubungan
orang lain.
Dimensi kemampuan untuk mengenal
emosi diri mencakup indikator: (1) keterampilan mengenali dan merasakan emosi sendiri,
(2) memahami penyebab timbulnya perasaan
tersebut, dan (3) menghargai kata hati yang
biasanya menjadi dasar dalam bertindak.
Dimensi kemampuan untuk mengelola
dan mengekspresikan emosi terdiri atas
indikator: (1) mempunyai toleransi yang tinggi
terhadap frustrasi dan amarah, (2) dapat
mengungkapkan perasaan dan pandangan
secara positif dan jelas, (3) terampil meng-
ekspresikan diri tentang faktor penyebab suatu
keberhasilan dan kegagalan yang dialami tanpa
menyalahkan diri sendiri, (4) mempunyai
perasaan yang lebih positif tentang diri sendiri,
dan (5) tidak larut dalam ketegangan dan
kesedihan.
Dimensi kemampuan untuk memotivasi
diri mengandung indikator: (1) lebih bertanggung jawab, (2) memusatkan pada tugas yang
dikerjakan, (3) dapat menguasai diri dan tidak
impulsif, dan (4) mempunyai prestasi kerja
yang baik. Dimensi kemampuan untuk mengenali emosi orang lain terdiri atas indikator:
(1) bersedia menerima pendapat orang lain,
(2) menampung perasaan, (3) kebutuhan dan
kehendak orang lain, dan (4) bersedia mendengarkan orang lain.
Dimensi kemampuan untuk membina
hubungan orang lain mencakup indikator: (1)
kemampuan berbagi peran dan tanggung
jawab untuk kesuksesan organisasi, (2) aktif
dan bertanggung jawab dalam setiap perubahan organisasi, (3) menghindari terjadinya
konflik, (4) mendorong kebiasaan berbagi ide,
(5) perasaan dan informasi, (6) terampil dan
tegas dalam berkomunikasi, (7) mampu mengakomodasi aspirasi individu dan tujuan profesional, dan (8) membentuk tim yang bersinergi.
2. Metode Penelitian
Subjek penelitian ini terdiri atas: (1) anak
tahap perkembangan kognitif operasional
konkret, (2) pencerita (dalam hal ini guru yang
bercerita kepada anak tahap perkembangan
kognitif operasional konkret), dan (3) ahli
pembelajaran bercerita.
Penelitian dilakukan di Kota Semarang.
Dengan menggunakan teknik pengambilan
sampel bertujuan (purpossive sampling),
ditentukan dua daerah yang menjadi sampel
penelitian, yaitu daerah perkotaan dan daerah
pinggiran. Berdasarkan pengundian dari semua
SD yang berada di kedua kecamatan tersebut
terpilih SD Pangudi Luhur Don Bosko 01 dan
189
Kajian Linguistik dan Sastra, Vol. 18, No. 35, 2006: 183-195
02 yang mewakili kecamatan di daerah
perkotaan, sedangkan SD Sampangan 03 dan
04 yang mewakili kecamatan di daerah
pinggiran. Adapun SD yang digunakan untuk
uji coba adalah SD Petompon 05 dan 06. SD
Petompon 05 dan 06 memiliki karakter yang
dapat mewakili SD Pangudi Luhur Don Bosko
01 dan 02 serta SD Sampangan 05 dan 06.
Para siswa tersebut akan dipakai sebagai sumber data, baik pada tahap penjajakan, percobaan model, maupun uji efektivitas model.
Instrumen yang dikembangkan dan
diujicobakan dalam penelitian ini adalah: (1)
instrumen untuk mengetahui profil cerita yang
diminati oleh anak tahap perkembangan kognitif
operasional konkret, (2) instrumen untuk
mengukur kecerdasan emosional anak tahap
perkembangan kognitif operasional konkret
sebelum dan setelah mendapatkan cerita yang
berbasis analisis fungsi tokoh pada cerita anak,
(3) instrumen untuk mengetahui profil penceritaan yang dilaksanakan oleh pencerita
(guru). Adapun teknik analisis data yang
digunakan pada penelitian ini adalah teknik
kuantitatif dan kualitatif.
3. Hasil dan Pembahasan
Pada bagian ini akan diuraikan hasil
penelitian yang berupa: (1) profil cerita yang
diminati anak tahap perkembangan kognitif
operasional konkret, (2) profil penceritaan yang
dilaksanakan oleh pencerita (guru); (3) kecerdasan emosional anak tahap perkembangan
kognitif operasional konkret sebelum dan
setelah diberikannya penceritaan melalui
analisis fungsi tokoh pada cerita. Uraian dari
ketiga hal tersebut sebagai berikut.
3.1 Profil Cerita yang Diminati Anak
Tahap Perkembangan Kognitif
Operasional Konkret
Profil cerita yang diminati oleh anak tahap
perkembangan kognitif operasional konkret
berkaitan dengan 8 aspek cerita, yaitu: (1) jenis
cerita, (2) cara bercerita, (3) tema cerita, (4)
tokoh cerita, (5) latar cerita, (6) alur cerita,
(7) penyajian cerita, dan (8) tindak lanjut
penceritaan. Uraian dari kedelapan aspek
cerita tersebut sebagai berikut.
Jenis cerita yang diminati oleh anak tahap
perkembangan kognitif operasional konkret,
untuk cerita tradisional adalah legenda dan
mite. Berkenaan dengan cerita realistis, mereka
menyukai cerita yang berjenis cerita petualangan dan cerita yang berjenis cerita
keagamaan (nabi dan para sahabatnya).
Cara penceritaan yang diminati oleh anak
tahap perkembangan kognitif operasional
konkret adalah mendengarkan cerita melalui
VCD dan cerita yang dibacakan dari buku.
Apabila pencerita bercerita dengan menggunakan buku, mereka menginginkan pencerita
membacakan buku, mengajak berdialog, dan
menggunakan alat peraga untuk mendukung
cerita. Penceritaan yang dilakukan secara lisan
(tanpa menggunakan buku), mereka menginginkan pencerita mengajak dialog dan menggunakan alat peraga untuk mendukung cerita.
Penceritaan yang dilakukan dengan menggunakan tape recorder, mereka menginginkan
setelah mendengarkan tape recorder, mereka
diajak berdialog dan pencerita memberikan
simpulan cerita. Penceritaan yang dilakukan
dengan menggunakan VCD, mereka menginginkan setelah memirsa VCD, mereka diajak
berdialog dan pencerita memberikan simpulan
cerita.
Tema cerita yang diminati anak tahap
perkembangan kognitif operasional konkret,
berkaitan dengan cerita yang bertema sikap
positif seorang anak, mereka menyukai tema
kejujuran pada diri seorang anak. Berkaitan
dengan cerita yang bertema kehidupan di
keluarga, mereka menyukai tema cerita tentang
anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Adapun yang terkait dengan tema cerita
tentang masalah lingkungan, mereka menyukai
cerita tentang menjaga kelestarian alam.
Berkaitan dengan tokoh cerita, anak
tahap perkembangan kognitif operasional
190
Profil Cerita untuk Meningkatkan Kecerdasan Emosional... (Subiyantoro)
konkret memiliki kecenderungan sebagai berikut. Anak tahap perkembangan kognitif operasional konkret menyukai tokoh cerita yang
diperankan oleh binatang. Tokoh binatang yang
disukai adalah tokoh binatang berkaki empat
yang buas (harimau, beruang, serigala, dll.) dan
tokoh binatang berkaki empat yang tidak buas
(kelinci, kancil, musang, dan lain-lain).
Jika cerita itu bertokohkan anak-anak,
berdasarkan kemampuan ekonomi keluarganya, mereka menyukai anak-anak yang berasal
dari keluarga yang tidak mampu dan anak-anak
yang berasal dari keluarga yang sedang-sedang saja. Berdasarkan asal tempat tinggalnya,
tokoh cerita anak-anak yang disukai mereka
adalah anak-anak yang berasal dari perkotaan
dan anak-anak yang berasal dari pedesaan.
Adapun berdasarkan sifat tingkah lakunya,
tokoh cerita anak-anak yang mereka sukai
adalah anak-anak yang suka menolong,
penyabar, dan mudah berteman.
Cerita yang bertokohkan orang dewasa,
berdasarkan kemampuan ekonomi keluarganya, mereka menyukai cerita orang dewasa
yang berasal dari keluarga sedang-sedang
saja. Berdasarkan asal tempat tinggalnya,
tokoh orang dewasa yang disukai mereka
adalah orang dewasa yang berasal dari perkotaan. Adapun tokoh orang dewasa berdasarkan sifat tingkah lakunya, mereka menyukai
orang dewasa yang bersifat penyayang,
penyabar, dan penyantun.
Cerita yang bertokohkan robot, berdasarkan bentuk kemiripannya, mereka menyukai
robot yang menyerupai binatang. Adapun
berdasarkan sifat tingkah lakunya, tokoh robot yang mereka sukai robot yang penyayang,
penyabar, dan penyantun.
Anak tahap perkembangan kognitif
operasional konkret, berkaitan dengan latar
cerita, berkecenderungan dalam hal waktu
dikisahkannya cerita, mereka menyukai cerita
tentang kejadian masa depan dan cerita tentang
kejadian masa lalu. Dalam kaitannya dengan
lingkungan tempat diceritakannya kehidupan
tokoh cerita, mereka menyukai cerita yang
terjadi di negeri antah berantah atau negeri
cerita.
Berdasarkan alur penceritaan anak tahap
perkembangan kognitif operasional konkret
menghendaki cerita yang diceritakan secara
urut dari lahir sampai mati.
Berkaitan dengan penyajian cerita apakah
di sekolah atau di rumah, anak tahap perkembangan kognitif operasional konkret memiliki memiliki karakteristik sebagai berikut.
Apabila mereka mendapatkan cerita, baik di
sekolah maupun di rumah, menghendaki pencerita sebelum bercerita memberikan gambaran dan tujuan cerita, suara pencerita jelas
terdengar, penyajian cerita secara urut dan
sesekali memberikan kesempatan bertanya
jawab, pencerita menirukan tingkah laku tokoh
cerita, pencerita menggunakan alat peraga
(boneka, gambar, dll.), pencerita memberikan
kesempatan berinteraksi antara pendengar dan
pencerita, pencerita memberikan kesempatan
interaksi antara pendengar dan pendengar,
serta pencerita memberikan kesempatan
berinteraksi antarpendengar dan pencerita.
Berkaitan dengan waktu dilaksanakannya
penceritaan di sekolah, mereka menghendaki
penceritaan dilaksanakan pada waktu tengah
pelajaran (setelah istirahat pertama). Adapun
yang terkait dengan waktu penceritaan di
rumah, mereka menghendaki penceritaan pada
waktu malam hari (menjelang tidur malam).
Tindak lanjut setelah dilaksanakan
penceritaan, bagi anak tahap perkembangan
kognitif operasional konkret menghendaki
diajak bertanya jawab memahami isi cerita dan
nilai-nilai yang dapat diambil, serta diberikannya simpulan akhir cerita dan nasihat yang
berkenaan dengan isi cerita.
3.2 Profil Penceritaan yang Dilaksanakan oleh Pencerita (Guru)
Profil penceritaan yang dilaksanakan oleh
pencerita (guru) berdasarkan lima aspek, yaitu:
(1) kemampuan dasar bercerita dari pencerita
191
Kajian Linguistik dan Sastra, Vol. 18, No. 35, 2006: 183-195
(guru), (2) kesiapan pendengar menerima
cerita, (3) interaksi dalam proses bercerita, (4)
materi penceritaan, dan (5) tindak lanjut setelah
penceritaan. Uraian kelima aspek tersebut
sebagai berikut.
Berkaitan dengan kemampuan dasar
bercerita dari pencerita (guru), dapat diuraikan
bahwa dalam hal pemberian apersepsi pada
saat penceritaan mereka sangat setuju kalau
sebelum penceritaan hendaknya pencerita
memberikan gambaran dan tujuan bercerita
kepada para pendengar agar pendengar
memperoleh gambaran menyeluruh apa yang
akan didapat setelah penceritaan. Berkenaan
dengan kemampuan menyampaikan cerita
mereka sangat setuju pada saat pencerita
bercerita dibutuhkan suara yang jelas sehingga
dapat terdengar di seluruh ruang. Pencerita
tidak setuju kalau penyampaian alur cerita
dengan melompat-lompat karena akan menyebabkan pendengar tidak dapat memahami
isi cerita dengan baik. Pencerita juga tidak
setuju kalau tanya jawab tidak diperbolehkan
pada saat penceritaan berlangsung. Pencerita
sangat setuju kalau saat penceritaan diselingi
dengan peniruan tingkah laku tokoh cerita
sehingga isi cerita akan lebih mudah dipahami
oleh pendengar.
Berkaitan dengan kesiapan pendengar
menerima cerita, dapat dilihat bahwa terjadi
perbedaan pandangan berkenaan dengan
kesempatan yang diberikan kepada pendengar
untuk bertanya saat cerita berlangsung,
sebagian dari pencerita berpendapat bahwa itu
boleh dilakukan oleh pendengar dan sebagian
lagi tidak boleh dilakukan oleh pendengar.
Namun, mereka sepakat untuk setuju kalau
ada pertanyaan saat cerita berlangsung, yang
diberikan kesempatan menjawab pertama kali
adalah pendengar. Demikian juga, mereka juga
setuju dengan pemberian kesempatan kepada
pendengar untuk menceritakan kembali isi
cerita setelah proses penceritaan.
Berkaitan dengan interaksi dalam proses
bercerita, pencerita sangat setuju kalau adanya
kesempatan berinteraksi antara pendengar dan
pencerita sehingga penceritaan tidak hanya
terjadi secara monolog. Mereka tidak setuju
kalau interaksi antarpendengar pada saat
penceritaan akan mengganggu jalannya
penceritaan. Sebaliknya, mereka setuju kalau
penceritaan akan lebih hidup apabila terjadi
interaksi antarpendengar dan pencerita atau
interaksi multiarah.
Berkaitan dengan materi penceritaan, ada
perbedaan pendapat pada satu sisi mereka
menginginkan bahan cerita dari pencerita, dan
sebagian lagi mereka tidak setuju dengan itu.
Mereka lebih setuju kalau pada suatu saat
pendengar diberikan kesempatan mengajukan
judul cerita yang akan diceritakan. Mereka
juga setuju kalau penceritaan akan lebih
menarik kalau judul cerita berasal dari kesepakatan pendengar dan pencerita. Berkaitan
dengan waktu penyajian cerita, mereka setuju
kalau daya konsentrasi mendengarkan cerita
anak tahap perkembangan kognitif operasional
konkret antara 15 s.d. 30 menit. Mereka
sepakat kalau penceritaan akan lebih menarik
apabila dilaksanakan pada pagi hari (setelah
jam istirahat pertama) karena pendengar masih
dalam kondisi yang segar. Ada perbedaan
pendapat jika penceritaan dilaksanakan pada
akhir jam pelajaran, sebagian setuju dan
sebagian lagi tidak setuju. Berkaitan dengan
tema cerita, mereka sepakat bahwa cerita yang
bertema dunia kebinatangan, petualangan,
dunia fantasi (robot dan ruang angkasa) adalah
cerita yang disukai oleh anak tahap perkembangan kognitif operasional konkret. Adapun
tema yang berkaitan dengan keagamaan dan
kehidupan keluarga, ada perbedaan pendapat.
Pada satu pihak setuju dan pada pihak lain
tidak setuju kalau itu merupakan tema yang
disukai oleh anak tahap perkembangan kognitif
operasional konkret. Cara penyajian cerita
menurut mereka yang akan lebih menarik kalau
dilakukan secara lisan dan dengan cara memutarkan kaset rekaman tape recorder,
sedangkan penceritaan dengan membacakan
192
Profil Cerita untuk Meningkatkan Kecerdasan Emosional... (Subiyantoro)
buku menurut mereka kurang menarik minat
pendengar.
Berkaitan dengan tindak lanjut setelah
penceritaan, khususnya aktivitas yang dilakukan pendengar setelah penceritaan, mereka
setuju kalau pendengar melaksanakan aktivitas
berupa tanya jawab isi cerita, menceritakan
kembali isi cerita secara lisan di depan kelas,
dan menuliskan kembali isi cerita. Berkenaan
dengan simpulan isi cerita, mereka setuju kalau
pemberian simpulan nilai-nilai yang dapat
dipetik dari cerita akan memudahkan pendengar memahami maksud diberikannya cerita.
3.3 Kecerdasan Emosional Melalui
Analisis Fungsi Tokoh pada Cerita
Sebelum dan Setelah Diberikan
Penceritaan
Kecerdasan emosional melalui analisis
fungsi tokoh cerita, pada anak tahap perkembangan kognitif operasional konkret
sebelum dilaksanakannya penceritaan
menunjukkan 0,6% perlu mengubah perilaku;
32,9% perlu pengembangan perilaku lebih
lanjut; 66,5% kecerdasan emosionalnya telah
berkembang dengan baik, dan 0% yang
memiliki kecerdasan emosional tinggi. Setelah
dilaksanakannya penceritaan yang berbasis
analisis fungsi tokoh cerita, kecerdasan emosional mereka menunjukkan 0,6% perlu mengubah perilaku; 23,6% perlu pengembangan
perilaku lebih lanjut; 75,2% kecerdasan emosionalnya telah berkembang dengan baik, dan
0,6% memiliki kecerdasan emosional tinggi.
Uraian kecerdasan emosional anak tahap
perkembangan kognitif operasional konkret
setelah mendapatkan cerita yang berbasis
analisis fungsi tokoh pada cerita anak-anak
ternyata menunjukkan adanya peningkatan
kecerdasan emosionalnya. Hal tersebut terlihat
dari meningkatnya jumlah anak yang memiliki
kategori telah berkembang dengan baik (naik
8,7%) dan yang berkategori telah memiliki
kecerdasan emosional tinggi naik 0,6%.
Berdasarkan hasil perhitungan statistik
dengan menggunakan uji z terhadap perbedaan
kecerdasan emosional total sebelum dan
setelah penceritaan, diperoleh hasil analisis
yang tertuang pada Tabel 1. berikut ini.
Berdasarkan hasil perhitungan pada
Tabel 1. tampak bahwa rata-rata skor kecerdasan emosional secara keseluruhan sebelum
penceritaan sebesar 87,6335 dan setelah
penceritaan sebesar 92,4658 dengan beda
rata-rata sebesar 4,8323. Perbedaan rerata
kecerdasan emosional aspek mengenal emosi
diri tersebut pada taraf signifikansi a= 0,05
menunjukkan nilai zo sebesar 3,155, sedangkan
zt sebesar 1,65. Dengan demikian, ada perbedaan secara signifikan rata-rata kecerdasan
emosional secara keseluruhan sebelum dan
sesudah penceritaan. Kecerdasan emosional
sesudah penceritaan lebih tinggi secara
signifikan daripada sebelum penceritaan.
4. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian, dapat diberikan tiga
simpulan penelitian ini. Ketiga simpulan penelitian tersebut sebagai berikut.
Pertama, profil cerita yang diminati oleh
anak tahap perkembangan kognitif operasional
Tabel 1. Hasil analisis Uji z Kecerdasan Emosional Total Sebelum dan Setelah Penceritaan
Pelaksanaan Penceritaan
Setelah Penceritaan
Sebelum penceritaan
Mean
N
92.4658
161
87.6335
161
193
Beda Mean
α
zo
Zt
4.8323
0.05
3.155
1.65
Kajian Linguistik dan Sastra, Vol. 18, No. 35, 2006: 183-195
konkret berkaitan dengan 8 aspek cerita, yaitu:
(1) jenis cerita, (2) cara bercerita, (3) tema
cerita, (4) tokoh cerita, (5) latar cerita, (6) alur
cerita, (7) penyajian cerita, dan (8) tindak lanjut
penceritaan.
Kedua, profil penceritaan yang dilaksanakan oleh pencerita (guru) dirinci
berdasarkan lima aspek, yaitu: (1) kemampuan
dasar bercerita dari pencerita, (2) kesiapan
pendengar menerima cerita, (3) interaksi dalam
proses bercerita, (4) materi penceritaan, dan
(5) tindak lanjut setelah penceritaan.
Ketiga, Kecerdasan emosional anak
tahap perkembangan kognitif operasional
konkret sebelum dan setelah mendapatkan
penceritaan yang berbasis analisis fungsi tokoh
pada cerita anak-anak ternyata menunjukkan
adanya peningkatan kecerdasan emosionalnya.
Hal tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah
anak yang memiliki kategori telah berkembang
dengan baik (naik 8,7%) dan yang berkategori
telah memiliki kecerdasan emosional tinggi naik
0,6%.Perbedaan rerata kecerdasan emosional
aspek mengenal emosi diri tersebut pada taraf
signifikansi a= 0,05 menunjukkan nilai zo
sebesar 3,155, sedangkan zt sebesar 1,65. Dengan demikian, ada perbedaan secara signifikan
rata-rata kecerdasan emosional secara keseluruhan sebelum dan sesudah penceritaan.
Kecerdasan emosional sesudah penceritaan
lebih tinggi secara signifikan daripada sebelum
penceritaan.
DAFTAR PUSTAKA
A.M., Sukadi. 2002. “Bagaimana Mengajarkan Bercerita dan Mengarang di Kelas Rendah”,
dalam Fasilitator: Wahana Informasi dan Komunikasi Pendidikan Taman Kanakkanak dan Sekolah Dasar, Edisi 4.
Bunanta, Murti. 1998. Problematika Penulisan Cerita Rakyat: untuk Anak Di Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka, 1998.
Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Dulewicz, Vic dan Malcolm Higgs. 2000. Emotional Intelligence You can’t Afford to Ignore
It, ASE (http://www.ase-solutions.co.ak/ei/Default. htm).
Goleman, Daniel. 1996. Emotional Intelligence. New York: Bantam Books, 1996.
Hein, Steve. 1999. Emotional Intelligence, ect., Emotional Intelligence (EQ) (http: //eqi,org).
Huck, Charlotte S., Susan Hepler, dan Janet Hickman. 1987. Children’s Literature. New
York: Holt, Rinehart dan Wiston, Inc.
Hurlock, Elizabeth B. 1988. Perkembangan Anak, alih bahasa oleh Meitasari Tjandrasa dan
Muslichah Zarkasih. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Kayam, Umar. 1988. “Memahami Roman Indonesia Modern sebagai Pencerminan dan Ekspresi
Masyarakat dan Budaya Indonesia: Suatu Refleksi,” Menjelang Teori dan Kritik
Susastra Indonesia yang Relevan, ed. Mursal Esten. Bandung: Angkasa.
194
Profil Cerita untuk Meningkatkan Kecerdasan Emosional... (Subiyantoro)
Kompas, 30 Juli 1997. “Minimnya Pertunjukan Kesenian dan Dongeng: Kehidupan Anakanak SD Kian Mencemaskan”.
Majid, Abdul Aziz Abdul. 2001. Mendidik dengan Cerita, terjemahan Neneng Yanti Kp. dan
Iip Dzulkifli Yahya. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
McCluskey, Alan. 1997. Emotional Intelligence in Schools (http://www. connected.org/lern/
school.htm).
Nugroho. 2003. “Meningkatkan Kecerdasan Emosional Anak Usia Dini Melalui Cerita”, makalah
disampaikan dalam Seminar Nasional ‘Pengembangan Kompetensi Berbahasa dan
Kecerdasan Emosional Melalui Bercerita pada Anak Usia Dini’, Semarang, 21
Juni 2003.
Raines, Shirley C. dan Rebecca Isbell. 2002. 17 Cerita Moral dan Aktivitas Anak, terjemahan
Susi Sensusi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Rampan, Korrie Layun. 2003. “Dasar-dasar Penulisan Cerita Anak”, Teknik Menulis Cerita
Anak, ed. Sabrur R. Soenardi. Yogyakarta: Pinkbook.
Sarumpaet, Riris K. Toha. 2003. “Struktur Bacaan Anak”, Teknik Menulis Cerita Anak, Ed.
Sabrur R. Soenardi. Yogyakarta: Pinkbook.
195
Fly UP