...

this PDF file

by user

on
Category: Documents
3

views

Report

Comments

Transcript

this PDF file
Jurnal Publikasi Pendidikan
http://ojs.unm.ac.id/index.php/pubpend
Volume VI Nomor 1 Januari 2016
ISSN 2088-2092
MENYOAL REALISME SOSIAL DALAM NOVEL GADIS PANTAI KARYA
PRAMOEDYA ANANTA TOER DENGAN ANALISIS STRATEGI NARATIF
Rukayah
Program Studi PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan UNM
[email protected]
ABSTRAK
Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini, adalah memosisikan posisi Pramoedya Ananta
Toer dalam perdebatan realisme sosial. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, maka akan dilakukan
analisis strategi naratif untuk mengetahui elemen sastra yang dapat digunakan dalam mempertanyakan
kembali posisi Pramoedya dalam realisme sosial. Kurniawan menganalisis dan membagi tiga fase
kepenulisan Pramoedya, yaitu priode praLekra ketika Pramoedya berdiri sebagai pejuang kemanusiaan
dan keadilan. Kedua, periode Pramoedya aktif bersama Lekra. Ketiga adalah masa setelah
pemberangusan PKI setelah penahanan Pram yang dalam pandangan Kurniawan merupakan fase
sintesis yang melahirkan kedewasaan dalam menulis. Objek kajian yang dianalisis Gadis Pantai
merupakan fase ketiga dalam kepenulisan Pramoedya, sehingga analisis ini secara signifikan mencoba
untuk mempertanyakan posisi realisme sosial dalam fase ketiga kepenulisan Pramoedya. Analisis ini
akan mencoba mempertentangkan permasalahan bentuk dan isi. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa
terdapat keberpihakan narator di dalam teks. Meski demikian narator juga berusaha menampilkan
dengan alamiah tanpa memperlihatkan tendensinya dengan jelas. Karya Pram berjudul Gadis Pantai
merupakan bentuk dari realisme sosialis yang lebih tepat berada dalam pengertian realisme sosial
pascaStalin dan Gorky.
Kata Kunci: Pramoedya, realisme sosial, dan strategi naratif
PENDAHULUAN
Rosidi yang menggunakan simbolime dan
metafor untuk ditarik ke dalam unsur-unsur
budaya lokal dan bahkan pengalaman lokal.
Para kritikus Gelanggang menganggap karyakarya yang demikian tidak memiliki nilai
kesusasteraan karena tidak memiliki model
formalistik. Scherer menyebut para kritikus ini
dengan para kritkus yang terasing dari rakyat
dan tradisi mereka sendiri. Perbedaan cara
pandang dan kritik dari kritikus ini pada
akhirnya berujung pada berpindahnya Pram
pada kelompok Lekra yang banyak membantu
para
seniman
pinggiran
yang
tidak
mendapatkan pengakuan dari para seniman
elitis.
Salah satu penyebab yang menurut penulis
cukup mendasar sehingga Pram memiliki cara
pandang yang berbeda dengan para
sastrwan/kritikus Gelanggang adalah ketika
Pram menghadiri sebuah diskusi sastra di
Amsterdam. Dari pandangan seorang sarjana
Marxis, Prof. Wertheim yang menawarkan
penafsiran lain atas kesusasteraan Indonesia.
Menurut Wertheim, Sastrawan Indonesia
menurutnya tidak berhak untuk mengadopsi
pesimisme Barat dalam meninjau masyarakat
Indonesia. Hal ini dikarenakan Indonesia baru
Pram Lahir di Blora, 6 Februari 1925.
Wafat di Jakarta, Minggu, 30 April 2006. Di
dalam buku Savitri Scherer yang berjudul
Pramoedya Ananta Toer Luruh dalam Idiologi
banyak menjelaskan tentang pandanganpandangan Pramoedya atau Pram. Pram di
dalam kesusasteraan Indonesia dijelaskan pada
mulanya termasuk di dalam kelompok
Gelanggang. Hingga akhirnya keluar dari
kelompok
tersebut
akibat
perbedaan
pandangan.
Perbedaan
tersebut
hadir
dikarenakan Pram menulis lebih cenderung
mirip dengan model penulisan Lekra yang
sering kali mengangkat isu kelokalan maupun
bentuk-bentuk seni lokal. Isi tulisan Pram
cenderung mengambil nilai-nilai budaya yang
tertanam dalam tradisi rakyat setempat
ketimbang mempertanyakan kebudayaankebudayaan tersebut.
Berbeda halnya dengan beberapa tokoh
Gelanggang yang melihat karya-karya yang
mencerminkan kebudayaan lokal sebagai
primitif, sederhana dan inferior dibandingkan
dengan kebudayaan barat yang telah dianggap
lebih unggul. Lain halnya menurut Scherer
yang melihat tulisan Pram, Utuy dan Ajip
14
Jurnal Publikasi Pendidikan | Volume VI No 1 Januari 2016 | 15
saja telah melaksanakan revolusi sehingga
karya sastranya idealnya mencoba untuk
mengungkapkan sukacita dan optimisme
masyarakat mereka sendiri. Sedangkan
pesimisme barat hadir karena adanya perang
dunia.
Cara pandang Pram menolak hadirnya
sebuah karya sastra yang diciptakan demi
keindahan semata. Menurut Pram keadilan,
kemanusiaan, kebudayaan dan idealisme lebih
penting bagi manusia dari pada sekedar
keindahan. Dalam hal ini Pram menolak
pandangan formalis yang hanya berkutat pada
permasalahan bentuk dan struktur karya sastra.
Pram pada akhirnya berpaling pada Lekra dan
turut serta mengamini realisme sosialis yang
diklaim
oleh
PKI.
Scherer
sendiri
menyayangkan hal tersebut
Yang disayangkan dalam “penerimaan
sastra” alternatif, para aktivis Lekra yang
lebih naif, terutama (nantinya) Pramoedya,
akihirnya menggunakan istilah “realisme
sosialis”.Untuk menggambarkan pilihan
alternatif mereka.Dengan ini mereka
berpaling pada slogan-slogan politik
Sukarno pada saat itu, di antaranya ajakan
ke arah “Sosialisme Indonesia”.Namun
penggunaan istilah ini membuat mereka
rentan terhadap dugaan bahwa kepentingan
mereka bukan sastrawi, melainkan politis,
dan politik yang dimaksud adalah PKI.
(Scherer, 2012: 45)
Scherer lebih lanjut menjelaskan bahwa Pram
menulis dalam sebuah makalah ketika
menjabat sebagai wakil ketua Lekra yang
menuliskan tentang penyangkalan Pram
terhadap gaya alternatif penulisan realis. Bagi
Pram satu-satunya realis yang sahih adalah
yang telah sesuai dengan dikte dan dogma
sosialis.Jenis realisme yang tidak sesuai
dengan aturan partai sosialis tidak diizinkan
untuk diungkapkan.
Lain halnya dengan Eka Kurniawan dalam
bukunya Pramoedya Ananta Toer dan Sastra
Realisme Sosialis membagi tiga tahap
kepengarangan Pram.Pertama adalah priode
pra Lekra ketika Pram berdiri sebagai pejuang
kemanusiaan dan keadilan.Ungkapan politik
Pram lebih banyak berkisar sebagai produk
kekecewaan
atas
dunia
yang
dihadapinya.Priode kedua, adalah periode
Pram aktif bersama Lekra.Periode ketiga
adalah masa setelah pemberangusan PKI
setelah penahanan Pram yang dalam
pandangan Kurniawan merupakan fase sintesis
yang melahirkan kedewasaan dalam menulis.
Analisis Eka Kurniawan memperlihatkan
adanya perubahan pandangan realisme sosialis
Pram.Dari realisme sosialis yang menjadi
slogan partai menjadi realisme sosialis yang
beridiologi dan bermutu estetis. Hal ini yang
diungkapkan Pram dalam salah satu tulisannya
yang dikutip oleh Kurniawan
Realisme sosialis itu sendiri bukan hanya
penamaan satu metode di bidang sastra,
tapi lebih tepat dikatakan hubungan filsafat,
metode penggarapan dengan apresiasi
estetik sendiri; penamaan satu politik
estetik dibidang sastra yang sekaligus juga
mencakup
adanya
front,
adanya
perjuangan,
adanya
kawan-kawan
sebarisan dan lawan-lawan di seberang
garis, adanya militansi, adanya orangorang yang mencoba menghindarkan diri
dari front ini untuk memenangkan
ketakacuhan. (Kurniawan 2006:144)
Pandangan ini jelas berbeda dengan
pandangan Pram sebelumnya yang meletakkan
sastra di dalam slogan partai politik.
Ketundukkan sastra di dalam partai politik atau
dalam istilah Kurniawan sebagai sastra sebagai
propaganda murahan. Pandangan kutipan di
atas dijelaskan oleh Kurniawan sebagai bentuk
sintesa pemikiran Pram atas sastra dan politik.
Kurniawan menjelaskan di dalam bukunya
bahwa novel “Gadis Pantai” muncul sebagai
cerita bersambung dalam Lentera (Bintang
Timur) dan pertama kali di terbitkan sebagai
novel pada tahun 1987. Kurniawan
mengelompokkan novel Gadis Pantai dalam
fase/periode ketiga kepenulisan Pram. Sebuah
fase sintesis kedewasaan Pram dalam menulis.
Gadis
Pantai
merupakan
titik
awal
kecenderungan menuju fase ketiga dalam
kepengarangan Pram.Salah satu ciri fase ketiga
Pram adalah kecendrungannya untuk menulis
dengan mengeksplorasi latar sejarah di dalam
novelnya. Walaupun novel “Gadis Pantai”
tidak mengambil latar sejarah “besar” seperti
karya Pram yang lain setelah Gadis Pantai.
Gadis Pantai tetap dapat digolongkan ke
dalam novel sejarah Pram. (2006: 143-144).
Fase ketiga dalam kepengarangan Pram
sepertinya Pram hadir sebagai usaha untuk
mengubah pandangan sastra politik sebagai
bentuk propaganda murahan.
A. Teeuw juga menyebut karya “Gadis
Pantai” tetap sebagai roman Idiologis. Akan
tetapi sebagai novel idiologis hadir sebuah
Jurnal Publikasi Pendidikan | Volume VI No 1 Januari 2016 | 16
bentuk sintesa yang halus antara pesan dan
citra. Sebuah bentuk perwujudan ideal tentang
bagaimana seharusnya sebuah roman menjadi
(becoming). Terdapat perpaduan antara
pemahaman
individu
dan
kebenaran
manusiawi. Dalam hal ini Pram berhasil
menyajikan suatu yang umum akan tetapi
memiliki
kekhasan. A. Teeuw juga
menambahkan, yang utama dalam Gadis
Pantai adalah bukan pesan yang sekedar
dilekatkan pada cerita, atau lebih buruk lagi
cerita yang digantungkan pada pesan,
melainkan terdapat makna yang dapat
ditemukan dan digali dari cerita itu sendiri
(Kurniawan, 2006:143-144)
Novel Gadis Pantai bercerita tentang
seorang perempuan yang berstatus bukan
priyai/dianggap sahaya yang derajatnya
diangkat melalui pernikahan dengan seorang
priyai. Selain itu novel ini mengisahkan
keterpisahan antara tokoh utama dari latar
masyarakat pesisir ke kota. Gadis Pantai
memasuki dunia baru yang belum pernah dia
bayangkan. Hal ini dijelaskan di dalam novel,
dikarenakan usia Gadis Pantai masih tergolong
muda. Gadis Pantai menyadari bahwa
derajatnya tidak akan bisa sama dengan
keluarga langsung dengan priyai akan tetapi di
satu sisi derajatnya yang sekarang dia harus
memerintah dan mengatur para pembantu yang
memiliki latar belakang derajat yang sama.
Pada akhirnya Gadis Pantai dipaksa keluar dari
rumah sang Priyai setelah melahirkan. Gadis
Pantai dikembalikan ke rumah orang tuanya.
Di akhir cerita Gadis Pantai memutuskan tidak
kembali ke desa asalnya dan akan pergi ke
Blora.
Ada banyak pertentangan yang hadir
melalui sudut pandang Gadis Pantai.
Pertentangan antara desa dan kota dalam sudut
pandang Gadis pantai bahkan latar/suasana
juga sering kali digambarkan dalam bentuk
pertentangan sehingga memberikan sugesti
atau suspence
tertentu.
Begitu pula
pertentangan antara kaum Sahaya dan kaum
Priyai. Gadis Pantai menjadi tokoh yang
memiliki kesadaran baru dalam melihat
pertentangan kelas yang ada.
Pertentangan-pertentangan yang terdapat di
dalam novel akan menjadi analisis penulis.
Akan tetapi sebelum menyentuh lebih jauh
pertentang tersebut penulis akan menguraikan
bentuk yang terdapat di dalam novel dan
sekaligus menjadi pembatasan analisis.
KAJIAN PUSTAKA & PEMBAHASAN
a. Realisme Sosial
Kritikus
sastra
M.H.
Abrams
mendefinisikan realisme sebagai sebuah gaya
penulisan, yang bisa ditemukan dalam apa saja,
dimana
representasi
kehidupan
dan
pengalaman manusia menjadi tujuan penulisan
yang paling penting. Fiksi realis dan fiksi
romantik tentunya berbeda, fiksi romantik
akan menggambarkan kehidupan seperti yang
kita impikan sedangkan fiksi realis berusaha
untuk menggambarkan kehidupan atau realitas
sosial seperti yang dikenal pembaca pada
umumnya. Realisme kemudian berkembang
menjadi dua subgenre yang dikenal dengan
realisme sosial dan realisme magic.
1. Realisme sosial adalah terminologi
yang dipakai para kritikus sastra
Marxis.
Realisme
sosial
menggambarkan atau merefleksikan
pandangan marxis bahwa pertentangan
antar kelas sosial merupakan dinamika
esensial masyarakat.
2. realismemagic adalah istilah yang
dipakai untuk menggambarkan realitas
tetapi juga menggambarkan unsurunsur fantasi yang mengakibatkan
terjadinya kekaburan antara serius dan
main-main.
Doktrin realisme Sosialis dalam penjelasan
Terry Eagleton dalam bukunya Marxism and
Literary Criticism menjelaskan bahwa doktrin
tersebut biasanya diklaim berasal dalam tradisi
Marx
dan
Engel.Eagleton
kemudian
menjelaskan bahwa ide tersebut pada dasarnya
lebih tepat dialamatkan kepada Belinsky,
Chernyshevsky, dan Dobrolyubov yang
merupakan kritikus sastra Rusia abad ke
sembilan belas (2002: 52). Doktrin realisme
sosialis dicetuskan oleh Stalin dan Gorky pada
kongres penulis soviet pada tahun 1934.
Pandangan ini kemudian dibakukan dan
dipraktekkan dalam lingkaran kekuasaan
Stalinis dan Zhdanov.
Dalam pidato Gorky ke kongres yang
membahas tema estetika marxis.Gorky
menejalaskan bahwa kewajiban penulis untuk
melihat bahwa aktivitas kesusasteraannya
sesuai
dengan
aktivitas
kesuluruhan
masyarakat dan dengan demikian memberikan
kontribusi terhadap perjuangan yang harus
dikobarkan oleh umat manusia terhadap
hambatan-hambatan yang ditimbulkan oleh
alam. Lebih lanjut Gorky memploklamirkan
realisme sosial secara gigih dan mendorong
Jurnal Publikasi Pendidikan | Volume VI No 1 Januari 2016 | 17
sastrawan untuk menunjukkan eksistensi
realisme sosial (Arvon, 2010: 89).
Realisme sosial membicarakan masalah
utama tentang evolusi kesusasteraan, cerminan
hubungan kelas-kelasnya, dan fungsi sosialnya
dalam masyarakat. Karangan Lenin tahun 1905
“Organisasi Partai dan Sastra Partai” pada
dasarnya buku Lenin tidak membahas sastra
secara eksplisit tetapi ada tiga hal pokok
bagaimana sastra diyakini oleh Lenin.
1. Sastra harus mempunyai fungsi sosial;
2. Sastra harus mengabdi kepada rakyat
banyak (dalam hal ini menunjukkan
bagaimana sastra menjadi sebuah
kendaraan politik);
3. Sastra harus merupakan suatu bagian
dalam kegiatan partai komunis.
Realisme sosial di Uni Soviet di bawah
menteri
kebudayaan
Andrey
Zhdanov
menyatakan dengan terus terang “Bahwa
kesusasteraan Uni Soviet itu tendensius,
karena dalam zaman perjuangan kelas, tidak
ada dan tidak boleh ada sebuah kesusasteraan
yang bukan kesusasteraan kelas, tidak
tendensius, dan dinyatakan nonpolitis” (Selden,
1993:26).
Pandangan Selden berbeda dengan
Eagleton yang menjelaskan bahwa Lenin pada
dasarnya
memang
konservatif
amat
menganggungkan realisme dan tidak tertarik
pada sastra futuristik ataupun ekspresionis.
Meskipun demikian Eagleton menilai Lenin
menolak karya yang jelas-jelas tendensius
seperti pada karya Gorkhy The Mother.
Terry Eagleton menjelaskan doktrin
realisme sosialis sebagai doktrin yang
mewajibkan penulis membentuk kebenaran.
Gambaran konkrit sejarah tentang realitas ada
dalam perkembangan revolusi yang membawa
problema perubahan idiologi dan tingkat
pendidikan pekerja dalam spirit sosialis yang
menjadikan karya sastra tendensius, partai
minded, optimisme dan heroik. Penulis pada
akhirnya digiring untuk menghasilkan karya
sastra yang mengagungkan mesin (2002: 46).
Pandangan Leon Trotsky dalam penjelasan
Eagleton agak berbeda dengan pandangan
realisme sosialis yang dibangun Stalinis dan
Zhedonov.Bagi Trotsky realisme sebetulnya
adalah “sebuah filsafat hidup” yang tidak
seharusnya dibatasi menjadi teknik-teknik
suatu sekolah khusus. Dalam hal ini pandangan
Trotsky lebih fleksibel.
Pada dasarnya Marx dan Engel sendiri
menolak pandangan kaum utilitarian yang
menganggap sastra sebagai alat untuk
mencapai tujuan. Menurut Marx sastra adalah
tujuan itu sendiri. Begitu pula Engels menulis
kalau dia sama sekali tidak menolak karya fiksi
yang bertendensi politik tetapi akan
bermasalah jika pengarang bersikap partisan.
Tendensi
politik
menurut
Engels
kemunculannya haruslah samar-samar dari
situasi yang didramatisir (Eagleton, 2002: 5455).
Engels juga menegaskan bahwa komitmen
politik pada karya sastra tidaklah penting
(bukan berarti dapat diterima) karena tulisan
realis itu sendiri sesungguhnya mendramitisir
kekuatan signifikan kehidupan sosial, memutus,
melebihi baik yang dapat diobservasi secara
fotografis dan penekanan retorik dari sebuah
“solusi politik.” Konsep dari Engels, kemudian
bagi kritikus Marxis dikenal dengan
keberpihakan objektif. Pengarang perlu
menyelipkan pandangan politik pada karyanya
karena apabila mengungkapkan kekuatan real
(nyata) dan potensi secara objektif dalam karya
pada suatu situasi, dia telah berpihak.
Keberpihakan yang diwarisi dari realita itu
sendiri, muncul dalam sebuah metode yang
lebih
memperlakukan
realitas
sosial
dibandingkan dengan perilaku subjektif
(Eagleton, 2002:56).
Pandangan Eagleton menjelaskan bahwa
realitas historis haruslah objektif dimana
pandangan
pengarang
masuk
dan
menerjemahkan
realitas
sekaligus
menelanjangi realitas dalam karyanya sehingga
menghasilkan kesadaran pada saat membaca
karya tersebut. Berbeda halnya dengan
realisme sosialis yang menjadi subjektif murni
yang langsung saja meletakkan karya sastra di
dalam kerangka kesadaran yang baku, diterima
begitu saja. Realitas/objek langsung menjadi
subjektif tanpa proses. Stalin pada dasarnya
menolak keberpihakan objektif/objektifisme
dan kemudian menghadirkan subjektifisme
murni. Dalam hal ini, telah meletakkan sastra
menjadi dogmatis sesuai dengan doktrin yang
ada dalam sosialisme.
Menurut Lukas di dalam buku Soetomo
Krisis Seni Krisis Kesadaran menjelaskan
bahwa tradisi realis yang matang mampu
mendobrak kesadaran palsu borjuis sekaligus
menjadi bentuk estetika secara penuh. Oleh
karena itu, lukas lebih mengarahkan bentuk
realis pada misi melukiskan estetika yang utuh
Mengenai kesadaran yang benar (2003:66).
Lukasc memperkenalkan istilah “refleksi”
(Istilah dari terjemahan Pradopo dalam buku
Raman Selden Panduan Pembaca Teori Sastra
Jurnal Publikasi Pendidikan | Volume VI No 1 Januari 2016 | 18
Masa Kini). Seorang pengarang dianggap tidak
lepas dari adanya dunia luar atau kenyataan.
Pengarang melakukan refleksi kenyataan
dalam gagasan, gambar, perasaan, dan
seterusnya di dalam karyanya.Menurut Lukasc
seorang sastrawan dan seniman harus
menampilkan kenyataan dalam keseluruhannya.
Di dalam kenyataan tersebut pengarang akan
melibatkan diri dan mengambil sikap. Terry
Eagleton menjelaskan pula beberap konsep
Lukas yang lain adalah ‘totality’, ‘typicality’,
‘world-historical’.
World
historical
Lukasc
menolak
pengarang-pengarang
naturalis,
karena
naturalis hanya melukiskan kenyataan secara
dangkal atau typical. Tidak seperti halnya
dengan realis, keterlibatan pengarang membuat
karya bercerita secara utuh atau totality dan
mengarahkan pembaca untuk memahami
realitas pertama (permukaan) dan realitas
kedua (realitas sesungguhnya). Lukasc juga
menolak para kaum surrealis karena sangat
terpaku pada teknik kepengarangan sehingga
tidak menyentuh hakikat dari kenyataan dan
hanya bermain pada tingkatan gejala-gejala
realitas.
Lukasc
banyak
dipengaruhi
pandangan
dialektis
marxis
Hegelian.
Perkembangan dalam sejarah tidak acak atau
kacau pun bukan kemajuan yang datar dan
lurus, melainkan lebih merupakan sebuah
perkembangan yang dialektis (Selden, 1993:
28). Oleh karena itu, sastra seharusnya
menggam-barkan sejarah yang dialektis.
Jadi Realisme sosialis sering diidentikkan
dengan sastrawan dan kritikus sastra Marxis.
Realisme sosialis dalam sudut pandang Gorky
dan Stalin telah menempatkan dan menjadikan
realisme sosialis menjadi sebagai sastra
tendensius. Akan tetapi istilah realisme sosialis
bergeser dalam perkembangannya tidak lagi
tendensius akan tetapi menjadi bagian bentuk
penulisan dalam kerangka filsafat Marxis dan
Hegelian.
b. Strategi Naratif: Analisis Narator dan
Fokalisator
Dengan memosisikan novel Gadis Pantai
sebagai karya Pramoedya yang merupakan fase
ketiga penulisannya, analisis ini lebih
memberatkan pada persoalan bentuk dalam
melihat permasalahan keterasingan dan
permasalahan kelas sosialnya.
Sebuah narasi dibentuk agar mengarahkan
dan meyakinkan pembaca kepada suatu
pemahaman, tindakan, atau kejadian tertentu.
Seorang pengarang melalui cerita berusaha
melalui strategi tertentu untuk meyakinkan
pembaca agar ceritanya dapat dianggap
sebagai sebuah kebenaran. Usaha tersebut
merupakan staretegi naratif, yang terkait
dengan naratologi. Bal (1997: 3) menjelaskan
bahwa naratologi adalah teori naratif, kejadiankejadian, gambar-gambar, kacamata, artefak
budaya yang bercerita. Teori naratologi ini
membantu untuk memahami, menganalisis,
dan mengevaluasi suatu narasi.
Narator salah satu bagian terpenting dalam
sebuah narasi sebagaimana menurut Bal (1997:
19) menyebutkan bahwa narrator adalah
konsep sentral guna menganalisis teks naratif.
Narator adalah agen yang bercerita dan
menghubungkan cerita dengan berbagai media
tertentu seperti bahasa, citra, suara, atau
kombinasinya yang membentuk fabula.
Narator juga terkait erat dengan fokalisasi,
karena narator dan fokalisator berperan penting
untuk menentukan yang disebut dengan
narasi.Meski demikian peran narator lebih
penting karena narator yang menggunakan
bahasa dalam membentuk jalinan narasi berupa
cerita.
Bal (1997 :22) membagi dua jenis narator,
yaitu extern narrator (narator orang ketiga)
dan character bound narrator (narator orang
pertama). Perbedaan narator orang ketiga dan
narator orang pertama terletak pada objek
ucapannya, ketika dalam teks narator tidak
secara eksplisit merujuk pada tokoh, maka
disebut sebagai narator orang ketiga.
Sedangkan jika subjek aku diidentifikasi
sebagai tokoh dalam fabula, disebut sebagai
narator orang pertama.
Fludernik (2009: 21) lebih jauh
menjelaskan kompleksitas permasalahan antara
narator orang pertama dan narator orang ketiga
dengan menjelaskan bahwa narator bisa saja
merupakan tokoh di dalam plot atau disebut
juga narasi orang pertama, yaitu narator
melaporkan apa yang dialaminya sendiri, atau
bisa juga yang jauh dari dunia tokoh dan
menggambarkan dunia fiksional tokoh tersebut
dari perspektifnya sebagai narator orang ketiga.
Selanjutnya,
Fludernik
(2009:27)
memaparkan fungsi narator secara teknis
adalah menyajikan dunia fiksi. Narator bisa
jadi tetap dirahasiakan, artinya tidak menjadi
tokoh yang terang-terangan sebagai narator.
Narator juga berfungsi dalam narasi untuk
mengomentari, menguraikan, dan menjelaskan
peristiwa yang terjadi, menggambarkan situasi
dan
kondisi
sosial
politik,
dan
Jurnal Publikasi Pendidikan | Volume VI No 1 Januari 2016 | 19
mengindikasikan motif-motif yang mendorong
tokoh melakukan sesuatu. Tujuan utama
narator adalah untuk membangkitkan simpati
dan antipati pembaca kepada seorang tokoh
dan untuk mengembangkan kerangka normatif
di dalam dunia cerita dan penerimaan pembaca
terhadapnya. Kemudian, narator berfungsi
sebagai
filsuf
atau
moralis
yang
mengartikulasikan proposisi universal yang
valid. Dengan demikian penjelasan Fludernik
berperan penting dalam analisis ini untuk
menunjukkan cara.
Fokalisasi tidak lepas kaitannya dengan
narator. Fokalisasi adalah hubungan antara
penglihatan dengan objek yang dilihat dan
dirasakan, atau hubungan antara sebuah
penglihatan dengan agen yang melihatnya,
serta objek yang dilihat. Subjek dari fokalisasi
disebut focalizor (Bal secara spesifik menyebut
focalizor), yaitu agen yang menjadi titik atau
tumpuan dari mana sebuah objek terlihat. Titik
tersebut dapat terletak pada tokoh, atau di luar
itu. Jika yang menjadi focalizor adalah tokoh,
maka tokoh tersebut akan memiliki
keuntungan atas tokoh lain, karena pembaca
dapat melihat melalui pandangan tokoh dengan
mata tokoh dan akan cenderung menerima visi
yang disajikan oleh tokoh itu (Bal, 1997:142146).
Bal (1997:148-149) membagi fokalisasi ke
dalam dua jenis, yaitu character-bound
focalization (fokalisasi tokoh) dan extern
focalization(fokalisasi narator). Fokalisasi
tokoh adalah fokalisasi yang bervariasi dan
dapat beralih dari satu tokoh ke tokoh yang
lain, bahkan ketika naratornya tetap dan
konstan. Dalam kasus tersebut, gambaran
mengenai asal usul konflik dapat terlihat, yaitu
bagaimana tokoh yang berbeda-beda melihat
satu objek yang sama sehingga tercipta
netralitas pada semua tokoh. Sementara itu,
fokalisasi narator adalah fokalisasi yang
terletak pada sebuah agen yang tidak dikenal
yang berada di luar fabula dan berfungsi
sebagai focalizor.
Menurut Nurgiyantoro (2010) Sudut
pandang orang ketiga (dia) dibagi menjadi dua,
yaitu sudut pandang orang ketiga serba tahu
dan sudut pandang orang kletiga sebagai
pengamat.
Pengarang,
narator
dapat
menceritakan apa saja hal-hal yang
menyangkut tokoh ”dia” tersebut. Narator
mengetahui segalanya, ia bersifat mahatahu
(omniscient). Ia mengetahui berbagai hal
tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan,
termasuk motivasi yang melatarbelakang-inya.
Ia bebas bergerak dan menceritakan apa saja
dalam lingkup waktu dan tempat cerita,
berpindah-pindah dari tokoh ”dia” yang satu
ke ”dia” yang lain, menceritakan atau
sebaliknya ”menyembunyikan” ucapan dan
tindakan tokoh, bahkan juga yang hanya
berupa pikiran, perasaan, pandangan, dan
motivasi tokoh secara jelas, seperti halnya
ucapan dan tindakan nyata.
Novel Gadis Pantai menggunakan sudut
pandang
orang
ketiga.Sudut
pandang
penceritaan orang ketiga memudahkan
pengarang untuk menjelaskan karakter dan
lakuan tokoh yang dihadirkan di dalam novel.
Itu sebabnya, sudut pandang orang ketiga
sering kali disebut eyes god karena
kemampuan membentuk karakter, suasana,
latar dll. Sudut pandang orang ketiga bercerita
tentang tokoh mengenai Gadis Pantai.
Pembahasan
Analisis isi dan bentuk
Peran narator ketiga dalam novel Gadis Pantai
mendominasi jalan cerita sekaligus merangkai
alur cerita. Adapun tokoh utama Gadis Pantai
kisahnya dinarasikan oleh narator orang ketiga.
Peran narator ini juga menjadi pembentuk
karakterisasi tokoh-tokoh di dalam novel,
memberikan suasana dan ketegangan, terutama
terkait
dengan
pertentangan
kelas.
Sebagaimana yang telah dijelaskan Fludernik
bahwa narator berfungsi untuk mengambarkan
kondisi sosial politik. Pertentangan kelas yang
terdapat dalam novel Gadis Pantai merupakan
kinerja dari narator yang kemudian tekait
dengan proses simpati dan antipati pembaca
terhadap tokoh di dalam novel. Pertentangan
kelas dihadirkan oleh narator ketiga dengan
tidak secara spesifik menyebutkan nama
misalnya dua tokoh penting antara Bendoro
(Bangsawan) dan Gadis Pantai (Rakyat Jelata).
Berbeda halnya dengan tokoh-tokoh yang lain
sering kali disebutkan namanya seperti
Mardikun, Tuan Guntur, Si Dul Pendongeng,
Lasem Pembuat Terasi, Mak Pin Tukang Pijit
dll. Terdapat keunikan sendiri ketika Pram
menghadirkan tokoh dari golongan bangsawan
yang disebutkan namanya tetapi derajatnya
diturunkan setara dengan tokoh gadis, yaitu
Mardinah. Tindak pemberian nama ini menjadi
lebih bersifat idiologis dalam perkembangan
tokoh terutama tokoh Gadis Pantai.
Tindak pemberian nama dalam novel
Gadis Pantai menghadirkan jarak antara
narator ketiga dengan tokoh-tokoh yang
dikisahkan. Narator ketiga tidak pernah
Jurnal Publikasi Pendidikan | Volume VI No 1 Januari 2016 | 20
menyebutkan nama asli dari Gadis Pantai.
Narator
hanya
menyebutnya
Gadis
Pantai/Gadis. Berbeda halnya ketika fokalisasi
tokoh-tokoh dalam novel menyebut atau
memberi nama Gadis Pantai dengan panggilan
yang berbeda-beda. Orang tua Gadis Pantai
menyebut “Nak”. Pelayan Tua dan Bendoro
menyebutkan dengan Mas Nganten, dan Kusir
menyebutkan dengan Bendoro Putri. Adapun
Gadis Pantai di depan Bendoro menyebut
dirinya Sahaya. Hal ini menunjukkan adanya
oposisi yang kuat antara narator dan
fokalisator
tokoh.
Oposisi
tersebut
menghasilkan suasana yang sama antara
oposisi antarkelas Bendoro “Bangsawan” dan
Gadis Pantai “rakyat jelata”. Suasana yang
ditampilkan dari pertentangan kelas tersebut,
adalah
keberpihakan
narator
untuk
memposisikan Gadis Pantai sebagai tokoh
yang tertindas, dan Bendoro sebagai tokoh
yang menindas. Adanya pertentangan dengan
tanpa menyebutkan nama secara khusus dapat
menimbulkan efek tersendiri bagi pembaca.
Secara
sadar
pembaca
akan
mudah
menemukan adanya pertentangan kelas.
Narasi dengan intens mempertahankan
oposisi
narator/fokalisator
dan
bangasawan/rakyat jelata, penyebutan Gadis
Pantai oleh narator pada dasarnya narator
sedang mempertajam kelas yang hadir di
dalam novel. Gadis Pantai seperti menjadi
representasi dari kelasnya yaitu kelas dari
rakyat jelata. Sebagaimana pula Bendoro
merupakan orang-orang yang masuk ke dalam
kelas Priyai karena sepanjang kisah nama dari
setiap golongan priyai disebut dengan Bendoro.
Sikap narator yang juga tidak menyebut nama
Gadis Pantai, bahkan secara konsisten
menyebut Gadis Pantai, maka narator berusaha
menghadirkan sosok polos yang dalam
perkembangannya memiliki tingkat kesadarankesadaran yang berbeda. Kesadaran Gadis
Pantai selaku perempuan desa, kesadaran
Gadis Pantai sebagai perempuan yang berada
di lingkungan Priyai, dan terakhir dialektika
kesadaran antara pengetahuannya sebagai
perempuan desa dan perempuan di lingkungan
bangsawan yang memberikan kesadaran baru.
Hal ini dengan meyakinkan pula hadir dalam
penceritaan ketika narator menghadirkan
Pelayan tua untuk menggugat Bendoro.
Hanya Bendoro yang tak terungkit di sini.
Begitu kata pelayan tua dahulu.Hanya
dewa-dewa yang tak terungkit dalam
kehidupan ini, yang lain-lain goyah tanpa
pegangan. Kelahiran sahaya sudah satu
hukuman! Terngiang suara pelayan tua itu.
Ia meradang-apakah dosa suatu kelahiran
di tengah-tengah orang kebanyakan?
Mengapa? Apa dosa? Dan tanpa disadari
airmatanya telah mengembang-kan cairan
dukacita buat seluruh orang yang berasal
dari kampung, terutama kampung nelayan
(Pram, 2011:133)
kutipan tersebut hadir dari narator ketika
menjelaskan tentang perasaan dan kesadaran
Gadis Pantai yang menggugat kesadaran kelas
rakyat jelata, tetapi strategi naratif yang
digunakan pada kutipan tersebut adalah ketika
narator yang bernarasi kemudian melebur
dengan penokohan Gadis Pantai, seakan-akan
Gadis Pantai yang menjadi narator seperti yang
terlihat pada kutipan yang ditandai dengan
tanda tanya ketika narator/gadis pantai
mempertanyakan dan sekaligus menggugat
para priyai. Hal ini menunjukkan adanya
tendensi narator pada tokoh, meski demikian
terdapat kebijakan narasi karena kesadaran
Gadis Pantai tidak hadir dengan sendirinya
tetapi menggunakan fokalisasi eksternal dari
Pelayan Tua sehingga tidak berkesan
tendensius pula.
Gugatan model ini sering kali dihadirkan
di dalam teks. Gugatan yang menggunakan
fokalisasi eksternal dan penggabungan suara
antara narator dan kesadaran Gadis Pantai. Jadi,
dengan demikian meski terkesan tendensius
dalam menunjukkan kelas dan kesadaran kelas
para tokoh, Pram menggunakan teknik narasi
yang tidak tendensius dalam menyampaikan
permasalahan ideologis. Strategi narasi
tersebut mampu menghadirkan tokoh Gadis
Pantai yang menyadari dirinya sebagai tokoh
yang mampu mempertanyakan dan sekaligus
melawan ketertindasannya.
Selain teknik narasi, salah satu hal yang
membuat kesan tendensius tidak terlalu
dihadirkan adalah ketika sosok Gadis Pantai
tidak mampu untuk merebut kembali anaknya.
Jika Pram menjadi tendensius sebagaimana
realisme sosial, akhir cerita novel Gadis Pantai
akan memiliki akhir, yang mana Pram
memenangkan.
Gadis
Pantai
selaku
representasi kelas untuk mendapatkan kembali
anaknya. Akan tetapi Pram lebih memilih
untuk mengakhiri cerita dengan kekalahan
Gadis Pantai. Gejala ini menurut Kurniawan
sebagai bentuk kedewasaan Pram. Pram tidak
harus memenangkan sosok tokoh utama. Justru
dari akhir cerita yang demikian pembaca
menyadari adanya ketidakadilan dalam sistem
feodal dan kolonial.
Jurnal Publikasi Pendidikan | Volume VI No 1 Januari 2016 | 21
Dalam menghadirkan permasalahan kelas,
Pram tidak hanya terpaku pada oposisi antara
Priyai dan rakyat jelata, tetapi juga melihat
kompleksitas dari permasalahan kelas, yaitu
pertentangan kelas antara Gadis Pantai dan
Bujang/Pelayan Tua/Wanita Tua. Pada awal
cerita narator lebih sering menyebutnya
Bujang. Akan tetapi seiring perkembangan
cerita narator kemudian menyebutkan Wanita
Tua dan Pelayan Tua. Dalam hal ini narator
sedang memperlihatkan bahwa di dalam kelas
masyarakat
bawah
sendiri
terdapat
pertentangan kelas.
Pada tahap-tahap awal perkembangan
cerita pertentangan kelas yang hadir adalah
pertentangan antara Gadis Pantai dan
Bujang/Pelayan Tua/Wanita Tua. Hal ini dapat
dilihat pada kutipan di bawah ini
Dan dengan demikian bujang itu setapak
mulai berhasil menyabarkan keliaran
Gadis pantai dan menertibkannya sebagai
wanita utama. Buat kesekian kali ia
mendongeng. Lebih dari empat wanita
telah ia dongengi dengan dongeng yang
itu-itu juga…. (Pram, 2011: 59)
Kutipan di atas merupakan suara narator ketika
menjelaskan tokoh Bujang. Suasana yang
dihadirkan memiliki kontradiksi antara Gadis
Pantai dan Bujang. Suasana tersebut hadir
dengan pilihan diksi yang menyebutkan
“keliaran Gadis Pantai” dan “menertibkannya
sebagai wanita utama”. Pertentangan ini hadir
dalam narasi dengan memperlihatkan bahwa
Bujang merupakan sosok yang bekerja untuk
Priyai dari kelas rendahan. Bujang berusaha
mempertahankan
eksistensinya
dengan
menaklukkan sosok Gadis Pantai agar menjadi
patuh sedangkan usaha perlawanan Gadis
Pantai seakan-akan tidak mendapat dorongan
atau bantuan dari tokoh lain dari kelasnya
sendiri. Akan tetapi seiring perkembangan
cerita tokoh Bujang perlahan memihak pada
Gadis Pantai dan narator mengubah
penyebutan, tidak lagi dengan Bujang akan
tetapi Wanita Tua/Pelayan Tua.
Peralihan perubahan penyebutan nama
Bujang ke Pelayan Tua adalah ketika Bujang
telah bersimpati terhadap Gadis pantai. Dalam
hal ini narator sepertinya berusaha berpihak
terhadap tokoh Bujang dengan melakukan
penghalusan penyebutan dengan menyebut
Pelayan Tua. Seperti terlihat pada kutipan di
bawah ini;
Gadis Pantai dan pelayan tua itu kini
terhenti memunggungi pintu, meng-hadapi
pemuda-pemuda itu. Gadis Pantai tetap
menunduk ketakutan, sedang pelayan tua
itu meradang menan-tang. Dengan suara
perlahan, sopan, dan hati-hati pelayan tua
mengacarai, “Apa masih dirundingkan?”
(Pram, 2011:113).
Konteks narasi ini hadir ketika Bujang/Pelayan
Tua membela tokoh Gadis Pantai dari pemudapemuda yang menyalahkan Gadis Pantai
karena permasalahan kehilangan uang. Narator
tidak lagi menyebut tokoh Bujang tetapi
menyebutnya dengan Pelayan Tua. Bahkan di
narasi yang lain, Pelayan Tua kadang di sebut
sebagai Wanita Tua. Pemberian nama ini
bukan merupakan tindak inkonsistensi narator
dalam memberikan nama atau penyebutan
tetapi terkait dengan penghilangan batas kelas
antara tokoh Gadis Pantai, dengan tokoh
Bujang/Pelayan Tua/Wanita Tua. Hal ini
terkait dengan rujukan budaya dalam
pemberian nama, Jika dirujuk wanita tua
memiliki konotasi yang lebih prestise
dibangdingkan dengan pelayan tua. Sedangkan
pelayan tua lebih baik dibandingkan bujang.
Dengan demikian tindak perubahan nama
terkait dengan pendamaian kompleksitas kelas
antara tokoh Gadis Pantai dengan tokoh
Bujang, yang ditandai dengan perubahan nama
dari bujang menjadi pelayan tua, dan dari
pelayan tua menjadi wanita tua.
Dinamika kelas yang dialami tokoh Gadis
Pantai adalah tokoh yang terasing di dalam
kelasnya dia yang berasal dari kelas bawah
mendapatkan strata kelas Priyai sehingga
mendapatkan perlakuan yang berbeda.
Perbedaan perlakuan yang dialami Gadis
Pantai menjadi suatu kesadaran baru untuk
memperlihatkan kebobrokan priyai itu sendiri.
Dan sekarang Gadis Pantai tertegun.Ia
mulai mengerti di sini ia tak boleh punya
kawan
seorangpun
yang
sederajat
dengannya. Ia merasai adanya jarak yang
begitu jauh, begitu dalam antara dirinya
dengan wanita yang sebaik itu yang
hampir-hampir tak pernah tidur menjaga
dan mengurusnya, selalu siap lakukan
keinginannya, selalu siap terangkan segala
yang ia tak paham…. (Pram 2011: 46).
Pada awalnya penulis terganggu dengan
kutipan di atas karena narator terlalu
menjelaskan bentuk dari kesadaran tokoh
Gadis Pantai yang terlalu gamblang. Seperti
tendensius, akan tetapi dalam perkembangan
cerita model ini tidak pernah lagi hadir dengan
tendensius sehingga kutipan di atas tidak
terlalu berpengaruh terhadap keutuhan novel.
Seandainya saja model kutipan ini terus hadir
Jurnal Publikasi Pendidikan | Volume VI No 1 Januari 2016 | 22
di dalam novel tantu karya novel Gadis Pantai
dapat digolongkan di dalam sastra yang
bertendensius.
Dari
kutipan
tadi
memperlihatkan
keterasingan tokoh Gadis Pantai. Keterasingan tersebut menjadi suatu modal utama
dalam novel Gadis Pantai. Keterasingan yang
hadir di dalam bentuk kesadaran baru.
Keterasingan yang hadir dikarenakan ada
pertentangan-pertentangan di dalam novel.
Gadis Pantai tidak pernah mendapatkan
dukungan penuh terhadap posisinya sendiri
sebagai orang bawah yang menjadi priyai.
Tidak mendapatkan pengakuan dari Priyai
sendiri seperti yang dilakukan Mardinah.
Sementara
untuk
kembali
bersama
golongannya dia diperlakukan seperti priyai.
Hal ini dapat dilihat pada pertentangan antara
Gadis Pantai dengan Pelayan tua begitu pula
antara Gadis pantai dan Orang tuanya.
Adapun pertentangan yang hadir pada
tokoh Mardinah cukup unik. Mardinah
merupakan golongan Priyai yang atas perintah
Bendoro Demak diperintahkan untuk melayani
Gadis Pantai dan mengawasi Bendoronya agar
menikah dengan orang yang setingkat
dengannya. Pertengan yang hadir di sini adalah
pertentangan antara Gadis Pantai dari golongan
bawah yang diangkat statusnya akibat
pernikahan dengan seorang priyai yang
diturunkan statusnya menjadi pelayan. Meski
demikian
Mardinah
tetap
berusaha
menunjukkan bahwa dirinya lebih berkuasa
dibandingkan Gadis Pantai. Narator dengan
menyebutkan nama langsung Mardinah seperti
sedang menunjukkan keberadaan kelas
tersendiri bagi Mardinah yang berasal dari
kelas Priyai akan tetapi menjadi pelayan. Di
satu sisi akibat kebutuhan cerita untuk
menghadirkan resolusi konflik dengan
kehadiran tokoh Mardikun yang dianggap
kerabat Mardinah. Satu-satunya kemenangan
Gadis
Pantai
adalah
ketika
mampu
mengalahkan ego dari Mardinah.
Pada
mulanya
tokoh
Mardinah
dimenangkan oleh narator, akan tetapi seiring
perkembangan tokoh Gadis Pantai, dapat
meluluhkan ego dari Mardinah. Kemenagan
tersebut hadir di dalam latar pedesaan ketika
Gadis Pantai berkunjung ke rumah orang
tuanya. Gadis Pantai bersikeras untuk tetap
tinggal sementara itu dia menyuruh Mardinah
pulang.
“Bawa Bendoro Putri ini pulang ke kota,”
“Sahaya Bendoro.”
“Mas Nganten juga mesti balik.”
…
Dengan demikian di pagi hari itu juga
Mardinah kembali ke kota… (Pram,
2011:173-174).
Penggalan kutipan di atas memperlihatkan
sebuah bentuk ejekan yang diutarakan Gadis
Pantai
terhadap
Mardinah
dengan
menyebutkan bendoro putri kepada Mardinah.
Narator sendiri tidak pernah menyebutkan
Bendoro Putri secara langsung dalam
narasinya kecuali dalam dialog. Pertentangan
antara Mardinah dan Gadis pantai lebih banyak
dalam
bentuk
dialog
dibandingkan
monolog/narasi narator. Kekalahan ego
Mardinah di sebabkan keinginannya untuk
membunuh Gadis Pantai dan berkat bantuan
dari masyarakat desa perbuatan tersebut
berhasil digagalkan. Mardinah terpaksa tinggal
di desa dan menikah dengan Dul seorang juru
dongeng yang suka menabuk rebana.
“Mardinah, bukan kehendakku semua ini.”
“Sahaya, Mas Nganten.”
“Ini semua barangkali akibat niatmu
sendiri.”(Pram, 2011: 225).
Kemenangan Gadis Pantai digambarkan tidak
sendiri.Kemenangannya hadir berkat bantuan
masyarakat desa. Hal ini tentu dapat
dipermasalahkan atau dipertanyakan. Kutipan
di atas kurang lebih dapat menjelaskan bahwa
kekalahan Mardinah adalah kekalahan
masyarakat Priyai yang menghalalkan segala
cara untuk mendapatkan kemenangannya.
KESIMPULAN & SARAN
a. Kesimpulan
Dari strategi naratif penceritaan novel Gadis
Pantai
telah
memperlihatkan
adanya
pertentangan kelas antara Priyayi dan rakyat
Jelata. Penyebutan Gadis Pantai tanpa nama
memperuncing pertentangan kelas yang ada.
Pertentangan antara Priyai dan masyarakat
bawah. Bahkan yang menarik masyarakat
kelas bawah sendiri juga saling bertentangan di
dalam strata kelasnya sendiri. Analisis ini
menunjukkan bahwa terdapat keberpihakan
narator di dalam teks. Meski demikian narator
juga berusaha menampilkan dengan alamiah
tanpa memperlihatkan maksudnya dengan jelas.
Karya Pram berjudul Gadis Pantai menurut
penulis merupakan bentuk
dari realisme sosialis yang lebih tepat berada
dalam pengertian realisme sosial pasca Stalin
dan Gorky. Dengan demikian meski karya
Pramoedya dapat digolongkan dengan realisme
sosial, persoalan bentuk tetap menjadi
perhatian Pramoedya. Hal ini menghadirkan
Jurnal Publikasi Pendidikan | Volume VI No 1 Januari 2016 | 23
pendewasaan Pramoedya dalam menuliskan
karyanya.
b. Saran-saran
Diharapkan kepada para penulis untuk
dapat menempatkan kembali karya Pram yang
berjudul ”Gadis Pantai” ke dalam kesusastraan
Indonesia
karena
model
struktur
penceritaannya lebih sastrawi memperhatikan
unsur-unsur pembangun sastra dan tidak
tendensius menghadirkan pertentangan kelas.
Untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat
menganalisis karya Pram “Gadis Pantai” dari
segi cara Pram merepresen-tasikan perempuan.
DAFTAR PUSTAKA
Arvon,
Henry. 2010. Estetika Marxis.
Terjemahan Ikramullah dari Marxist
Esthetics (1970). Yogjakarta: Resist
Book.
Austin.
1977.
Teori
Kesusasteraan.
Terjemahan MelaniBudianta. 1990.
Jakarta: PT Gramedia.
Bal, Mieke. 1997. Narratology. Introduction
To The Theory of Narrative. 2nd
Edition. Toronto: University of
Toronto Press.
Eagleton, Terry. 2002. Marxisme dan Kritik
Sastra. Terjemahan Roza Muliati dkk.
Dari Marxism aand Literary Criiticism.
Yogyakarta.Sumbu.
Fludernik, Monika. 2009. An Introduction to
Narratology
Terjemahan
Patricia
Häusler-Greenfield
dan
Monika
Fludernik. New york: Routledge.
Kurniawan, Eka. 2006. Pramoedya Ananta
Toer dan Sastra Realisme Sosial.
Jakarta: Gramedia.
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian
Fiksi. Yogyakarta: UGM Press.
Selden, Raman. 1993. Panduan Membaca
Teori Sastra Masa Kini. Terjemahan
dari Rachmat Djoko Pradopo dari A
Reader Guide to Contemporary Literary
Theory.
Cetakan
ketiga
(1985)
Yogyakarta: Gadja Mada University
Press.
Scherer, Savitri. Pramoedya Ananta Toer
Luruh Dalam Idiologi. Terjemahan
Dalih Sambiring, Astrid Reza, dan Abmi
Handayani dari From Culture to Politics:
The Writing of Pramoedya Ananta Toer.
1950-1965 (1981). Jakarta: Komunitas
Bambu.
Soetomo, Greg. 2003. Krisis Seni Krisis
Kesadaran. Yogyakarta: Kanisius.
Toer, Pramodya Ananta. 2011. Gadis Pantai.
Jakarta: Lentera Dipantara.
Toolan, Michael. 1998. Language in Literature:
An Introduction to Stylistics. London:
Arnold. Wellek,Rene dan Warren,
Fly UP