...

lihat - Informasi Keracunan - Badan Pengawas Obat dan Makanan

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

lihat - Informasi Keracunan - Badan Pengawas Obat dan Makanan
Penggunaan Rhodamin B pada Kosmetik
Dalam era globalisasi, peredaran produk kosmetik cenderung terus meningkat dan
kebutuhan masyarakat terhadap kosmetika juga semakin bertambah. Hal ini memicu
persaingan bisnis diantara produsen untuk berlomba-lomba menawarkan berbagai
khasiat yang dapat menarik minat konsumen untuk memakainya. Persaingan
tersebut juga menimbulkan banyak produsen-produsen yang tidak bertanggung
jawab menyalah gunakan penggunaan zat aktif yang dilarang seperti antibiotik dan
steroid, bahan yang melampaui batas penggunaan seperti halnya hidroquinon dan
vitamin A ataupun juga bahan tambahan yang dilarang seperti zat pewarna
rhodamin. Hal ini bertujuan untuk dapat menimbulkan hasil yang cepat terlihat oleh
konsumen dan juga menekan biaya produksi.
Berdasarkan hasil Investigasi Badan POM tahun 2014, ditemukan produk kosmetik
sebanyak 9817 satuan yang tidak memenuhi ketentuan yaitu mengedarkan produk
tanpa Ijin Edar dan mengedarkarkan produk dengan bahan yang
berbahaya/dilarang. Bahan berbahaya yang ditemukan pada pemeriksaan saat itu
adalah, merkuri, hydroquinon dan vitamin A
Penggunaan Rhodamin B Pada Kosmetik
Salah satu pewarna sintetis yang dilarang digunakan sebagai bahan tambahan
kosmetik menurut peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik
Indonesia Nomor HK.03.1.23.08.11.07517 Tahun 2011 Tentang Persayaratan
Teknis Bahan Kosmetika adalah Rhodamin B.(1) FDA dan ETSI (European
Telecommunications Standard Institute) juga telah mengatur regulasi penggunaan
Rhodamin pada Industri kosmetik, menilik penggunaanya yang sering sebagai
pewarna dekoratif pada kosmetik seperti blush on, eye shadow dan lipstik dan juga
efeknya yang karsinogenik. (2)(3)
Bahan Tambahan yang Diperbolehkan dan Tidak Diperbolehkan Berdasarkan
Peraturan BPOM Nomor HK.03.1.23.08.11.07517 Tahun 2011
Yang
diperbolehkan
Yang tidak
diperbolehkan
12490
Pigment Red 5
12075
Pigment
5
orange
12700
Solvent Yellow 16
12140
Solvent Orange 7
14270
Acid Orange 6
13065
Metanil yellow
14720
FD&C Red No. 4
15585
D&C Red No. 8
14815
Food Red 2, garam
disodium
26105
Scarlet red [NF
X]
15510
D&C Orange No. 4
42535
Basic violet 1
15800
D&C Red No.31
42555
Gentian violet
42555:1
Basic Violet 3
42555:2
Crystal
tannate
violet,
28440
Briliant Black 1
42640
Benzyl Violet
42045
Acid Blue 1, garam
sodium
45170
Rhodamine B
45170:1
stearic acid
Acid Green 9
61554
Solvent Blue 35
42100
*selengkapnya dapat dilihat pada peraturan BPOM nomor HK.03.1.23.08.11.07517
Tahun 2011
Rodhamin B merupakan pewarna sintetis berbentuk serbuk kristal, berwarna hijau
atau ungu kemerahan, tidak berbau, dan dalam larutan akan berwarna merah terang
berpendar/berfluorosensi. Rodhamin B merupakan zat warna golongan xanthenes
yang digunakan pada industri tekstil dan kertas. Nama lain rhodamin B adalah D and
C Red no 19, ADC Rhodamine B, Aizen Rhodamine, dan Brilliant Pink. (4)
Penggunaan rhodamin B pada kosmetik sangat bergantung pada jumlah dari bahan
yang digunakan dan yang dapat diabsorbsi (2). Paparan jangka pendek penggunaan
rhodamin B pada kulit dapat menyebabkan iritasi pada kulit, Selain itu, penggunaan
rhodamin B pada kulit dapat juga mengakibatkan efek sistemik dikarenakan
karakteristik dari pewarna yang dapat berikatan dengan protein dan makromolekul
organik sehingga dapat memperbanyak penyerapan sistemik rhodamin B. Rhodamin
B dapat mengikat ke lapisan luar kulit, ketika rhodamin B mengikat kulit, kulit dapat
berfungsi sebagai reservoir (tempat penyimpanan) dari rhodamin B, yang
mengakibatkan penyerapan secara sistemik.(5)
Apabila digunakan pada bibir manusia, ditunjukan bahwa rhodamin B dapat
menghambat proses dari sintesis protein non-spesifik yang dapat berakibat
mengurangi kandungan kolagen dari lapisan sel fibroblast pada bibir manusia.
Selain itu rhodamin B juga dapat menghambat proliferasi (perkembangan) fibroblas
pada bibir manusia. Fibroblast merupakan bagian jaringan yang memiliki peran
penting dalam produksi matriks ekstraseluler. Pada Fibroblas dapat dihasilkan
senyawa GAG (glycosaminolycans) yang sangat penting dalam pemeliharaan
jaringan dan menjaga elastisitas kulit. Di jelaskan bahwa Rhodamine B dapat
menghambat produksi GAG (glycosaminoglycans). Apabila produksi GAG menurun,
elastisitas kulit akan menurun dan kulit menjadi tidak terpelihara sehingga rentan
terjadi luka. Terlebih apabila proliferasi (perkembangan) fibroblast terhambat maka
pembentukan sel baru yang menutup luka juga ikut terhambat sehingga luka akan
sulit sembuh (4)(6).
Rhodamine B juga memiliki aktivitas mutagenik, dimana ditunjukan pada suatu
percobaan in vitro yang meperlihatkan bahwa rhodamin B aktif secara genetikal dan
menyebabkan kerusakan DNA pada sel hidup (7), Ditunjukan juga bahwa rodhamin
B mampu untuk memproduksi lokal sarkoma pada tikus. (6)
Penanganan Pertama Keracunan
Efek terhadap kesehatan dari paparan rhodamin B memang bergantung pada
jumlah dari bahan yang digunakan, namun apabila saat penggunaan pada kulit
muncul gejala gejala seperti gatal, iritasi dan kemerahan segera lakukan pertolongan
pertama dengan membawa segera pasien ke air pancuran terdekat, cuci segera
bagian kulit yang terkena dengan air mengalir yang dingin atau hangat serta sabun
minimal 10 menit. Jika tidak ada air, sekalah kulit dengan kain atau kertas secara
lembut dan Jangan digosok. Keringkan dengan handuk yang kering dan lembut. (8)
Apabila pada saat menggunakan kosmetik secara tidak sengaja mengenai mata dan
menunjukan gejala kemerahan dan iritasi pada mata lakukan pertolongan dengan
cara posisikan pasien duduk atau berbaring dengan kepala tengadah dan miring ke
sisi mata yang terkena atau terburuk kondisinya. Secara perlahan bukalah kelopak
mata yang terkena dan cuci dengan sejumlah air bersih dingin yang mengalir atau
larutan NaCl 0,9% diguyur perlahan selama 15-20 menit. Hindarkan bekas air cucian
mengenai wajah atau mata lainnya. Jika masih belum yakin bersih, cuci kembali
selama 10 menit. Jangan menggosok-gosokan mata, tutuplah mata dengan kain
kassa steril dan segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat dan
konsultasikan ke dokter mata. (8)
Hentikan penggunaan kosmetik anda, hubungi rumah sakit apabila gejala yang
dirasakan makin parah atau tidak kunjung sembuh. Selain itu, laporkan kejadian
tersebut kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan sebagai bentuk pengaduan
untuk dapat ditindak lanjuti dan ditelusuri.
Cerdas dalam Memilih Kosmetik
Dalam rangka melindungi masyarakat dari bahaya yang mungkin timbul karena
penggunaan bahan-bahan tambahan kosmetik tersebut, diperlukan system
pengawasan terpadu yang melibatkan pemerintah, produsen, dan konsumen sendiri.
Pengawasan oleh produsen dilakukan dengan cara mengontrol produk mereka yang
beredar di pasaran. Sedangkan konsumen turut berperan serta dalam hal
melaporkan produk-produk yang diduga membahayakan, peran aktif masyarakat
dalam hal ini sangat diperlukan, masyarakat juga harus mulai cerdas dalam memilih
kosmetik yang baik untuk digunakan berikut disampaikan beberapa cara memilih
kosmetik yang baik diantaranya:
1. Teliti Sebelum Membeli
Belilah kosmetik yang sudah dipastikan asli dan yang terjamin mutu kualitasnya.
Jangan mudah tergiur dengan barang bermerk yang dijual dengan harga murah,
atau jauh dibawah harga normal. Selektif dalam memilih dan pertimbangkan
keuntungan dan kerugian dalam memilih kosmetik
2. Teliti Legalitas Kosmetik
Sebelum diedarkan, produsen kosmetik harus mendaftarkan produknya ke
BPOM. Setelah mendapatkan persetujuan dari BPOM, produsen akan
mendapatkan nomor registrasi. Pastikan Nomor registrasi yang dicantumkan
ada dan benar dengan mengecek pada web Badan POM.
3. Teliti Komposisi Kosmetik
Sebagai konsumen, teliti juga mengenai ada tidaknya bahan berbahaya dalam
kosmetik pada komposisi produk
4. Teliti Pembuat dan Penyalur Kosmetik
Patikan pembuat dan penyalur kosmetik adalah yang terpercaya . Biasanya Baik
produsen maupun penyalur kosmetik harus mencantumkan nama dan
alamatnya di kemasan kosmetik. Hal ini dapat memudahkan pengawasan baik
dari instansi pemerintah maupun para konsumen.
5. Teliti Masa Pakai Kosmetik
Pastikan di kemasan produk kosmetik terdapat nomor batch atau kode produksi,
dan waktu kadaluarsa sebelum menggunakan
Daftar Istilah:
Sarkoma
Matriks Ekstraseluler
: Tumor ganas yang tumbuh dari jaringan ikat, seperti
tulang rawan, lemak, otot, atau tulang
: Merupakan komponen paling besar pada kulit normal
dan memberikan sifat yang unik pada kulit dari
elastisitas daya rentang dan pemadatannya.
Daftar Pustaka
1. Republik Indonesia. 2011. Peraturan Kepala Badan Pengawasan Obat dan
Makanan No. HK.03.1.23.08.11.07517 Tahun 2011 tentang Persyaratan
Teknis Bahan Kosmetika
2. Gagliardi L, De Orsi D., Cavazzutti G, Multari G, Tonelli D. HPLC
Determination of Rhodamine B (C.I.45170) in Cosmetic Product.
Chromatographia. 1996 July;43(1/2):76-78.
3. Wang C.C, Masi A.N, Fernandez L. On-Line micellar-enhanced
spectroflourometric determination of rhodamine dye in cosmetics. Talanta.
2007 Nov 1; 75:135-140
4. Rhodamin B. U.S. National Library of Medicine. [Internet] 2014 Sept 10
[updated 2002 Jan 14; cited 2014 Sept 10]. Available from:
http://toxnet.nlm.nih.gov/cgibin/sis/search/
5. Rubin L, Use and Assesment of Marker Dyes ; Rhodamine B. Syracuse
Environmental Research. Newyork: 1997
6. Kaji T, Kawashima T, Sakamoto M, Rhodamine B Inhibition of
Glycosaminoglycan Production by Cultured Human Lip Fibroblasts. Toxicol
Appl Pharmacol. 1991 April 9;111:82-89.
7. Earle R. Nestmann, George R. Douglas, Tibor I. Matula, et al. Mutagenic
Activity of Rhodamine Dyes and Their Impurities asDetected by Mutation
Induction in Salmonella and DNA Damage in Chinese Hamster Ovary Cells.
Cancer Res. 1979; 39: 4412-4417.
8. Sentra Informasi Keracunan (SIKer). Pedoman Penatalaksanaan Keracunan
untuk Rumah Sakit. Jakarta : 2001.
Fly UP