...

Ketika Aku Bertanya

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Ketika Aku Bertanya
Ketika
Aku Bertanya
98
Namaku Bara, lahir di Yogyakarta. Dua adikku,
lahir di Jakarta.
Bapak berasal dari Jawa, Ibu dari Sumatra.
Aapakah aku orang Indonesia?
Bial kau bilang “YA”
Memang seharusnya “IYA”
Tapi mana buktinya?
Akta kelahiran pun aku belum punya.
99
Orang pintar bilang:
“Bukti yang sah secara hukum atas nama
dan kewarganegaraan tercatat
dalam akta kelahiran”
UNICEF, lembaga PBB menyatakan sebagai
“hak pertama seorang anak”
AKU tahu, penting sekali memiliki
akta kelahiran.
100
AKU bernasib sama dengan 70 prosen anak
Indonesia, jutaan jumlahnya yang belum
memiliki akta kelahiran.
Jadi,
Nama dan kewarganegaraan masih belum
sah secara hukum.
101
AKU tahu Ibu pernah mengeluh, bagaimana
susahnya mengurus akta kelahiran.
Dipersulit Bapak Lurah dan pegawai Catatan
Sipil, besar pula biayanya.
Ibu akhirnya malah memilih, uang digunakan
untuk makan saja.
AKU menjadi bertanya-tanya, mengapa
susah mengurus akta kelahiran, dan
mengapa perlu biaya? Terutama bagi kami
yang tak punya. Bukankah itu hak pertama?
102
Kebingungan ku pula, ada perbedaan biaya
antara anak pertama, kedua dan ketiga.
Selain biaya, ada perbedaan perlakukan
terhadap kelompok etnis tertentu.
Layakkah bila kau bertanya, mengapa harus
ada perbedaan? Bukankah hak anak untuk
tidak dibeda-bedakan?
Bukankah memiliki identitas dan
kewarganegaraan harus dipenuhi
oleh negara?
103
Kepadamu aku bertanya, siapa salah apabila
kami tak punya akta kelahiran
Orangtua atau Negara?
Tapi percayalah, semua tetap merasa
sebagai warga negara Indonesia.
Tapi kami butuh jaminan Perlindungan
dari Negara.
104
Pertanyaan sebagai bahan diskusi:
1. Apakah kami sudah memiliki akta kelahiran?
Bila belum, mengapa? Tanyakanlah kepada
orangtuamu
2. Bila orang belum memiliki akta kelahiran berarti ia
belum dianggap sah secsra hukum atas nama dan
kewarganegarannya. Sebutkan akibat-akibat yang
ditimbulkan apabila kita belum memiliki akta
kelahiran.
3. Cobalah bersama teman-temanmu mencari tahu
cara dan proses mengurus akta kelahiran. Lalu hasil
yang kamu peroleh, diskusikanlah bersama-sama.
105
SELINTAS YAYASAN AULIA
Yayasan Aulia adalah sebuah lembaga Swadaya Masyarakat
yang secara formal berdiri pada tanggal 18 April 1995 melalui Akte
Notaris Nomor 81 dari Notaris Trinawati SH. Berdirinya yayasan ini
merupakan kelanjutan dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara
informal kepada anak-anak jalanan di berbagai tempat di Jakarta
sejak tahun 1978.
Dengan misi memberikan pelayanan bagi orang-orang yang
ditolak atau merasa ditolak, Yayasan Aulia memfokuskan diri pada
tiga bentuk program, yaitu pendidikan (formal dan informal),
kesehatan dan pengembangan kemandirian. Pada saat ini tercatat
ada 1040 anak terfasilitasi dalam program yang dipusatkan di
sembilan perkampungan kumuh di Jakarta dan tiga buah rumah
perlindungan bagi 58 bayi dan balita di Yogyakarta.
Yayasan Aulia menyadari bahwa keberhasilan program
yang dilaksanakan sangat ditentukan oleh adanya peran serta dari
orangtua, masyarakat dan anak-anak sendiri sebagai subyek
perubahan. Oleh karena itu Yayasan Aulia berupaya keras
mendorong lahirnya kelompok-kelompok masyarakat dan organisasi
anak. Sejauh ini Yayasan Aulia telah berhasil mengembangkan
kelompok masyarakat yang mengelola dana sehat dan Posyandu
alternatif, serta mengembangkan organisasi anak yang terhimpun
dalam Remaja Aulia (REMALIA).
106
Adanya hak-hak anak menjadi perhatian dari Yayasan Aulia
sejak tahun 1996. Berbagai kegiatan memasyarakatkan hak-hak anak
telah dilakukan baik kepada orangtua, masyarakat, para guru dan
anak-anak, melalui pertemuan dan pelatihan.
Demikian pula seluruh staf Yayasan Aulia telah mendapatkan
pelatihan KHA untuk meningkatkan kepekaan didalam perencanaan
dan pelaksanaan program yang berpusat pada hak anak.
Selama ini Yayasan Aulia telah melakukan kerjasama dengan
bebagai LSM di Indonesia, Pemerintah DKI dan Lembaga-lembaga
Internasional, seperti Terre des Hommes Netherland, Save the Children
US, Jakarta Japan Networks, Peace Winds Japan, United Nations
Children’s Fund (UNICEF), Lestari Stichting Holland, German Private Group
dan Lembaga lainnya yang memiliki kepedulian yang sama.
107
KOMENTAR-KOMENTAR
Buku saku ini bagus dan isinya dapat dimengerti oleh anak-anak.
Dalam cerita disini dapat diambil atau ditiru yang baik dan jauhi yang
buruk seperti kabur dari rumah dan homo. (Dwi Nugroho, 12 tahun,
kelas VI SD)
Buku ini sangat baik dibaca oleh anak-anak karena menggambarkan
tentang hak-hak seorang anak. Setelah membaca buku ini, saya
menjadi tahu tentang hak-hak seorang anak. (Tri Suryani, 10 tahun,
kelas V SD)
Menurutku, KHA memang penting perlu disebar luaskan pada semua
orang. Apalagi melihat orangtua yang menghajar anak-anaknya
(kekerasan). Dari buku ini, bisa menambah wawasan dan pandangan
masyarakat terhadap hak-hak anak. (Sulastri, orang tua anak di
kawasan Semper-Jakarta)
Setelah membaca dan memahami buku ini, terus terang secara
pribadi dan seorang guru, saya telah “melanggar” hak-hak anak baik
dirumah maupun disekolah. Saya sungguh mendukung adanya buku
ini dan mengucapkan selamat kepada Yayasan Aulia yang sudah
begitu besar perhatiannya pada anak. (Seorang guru peserta pelatihan
KHA bagi pendidik, Cisarua, Oktober 2002)
Buku “AKU Anak Dunia” ditulis dengan apik dan menarik. Saya yakin
Remalia sangat bangga dengan karya yang sangat baik ini. Saya
akan merekomendasikan buku ini untuk anak-anak saya dan sekolah
dari anak-anak saya. (Dr. Irwanto PhD, PKPM Unika Atmajaya-Jakarta)
108
Buku ini adalah contoh yang baik dari partisipasi anak yang asli.
Seperti tercantum pada ketetapan 12 dan 13 dalam KHA anak
mempunyai hak untuk mendapat informasi yang memadai dan hak
untuk menyuarakan pendapatnya dalam setiap keputusan yang
mempengaruhi kesejahteraannya. Sebagai pemegang hak, di dalam
buku ini anak-anak mengekspresikan dengan kreatif melalui gambargambar hasil karyanya dan komentar bagaimana mereka
memandang hak anak secara universal dan bagaimana mereka
bertugas untuk memenuhi kewajibannya. (Julie Lebegue, UNICEF)
Buku ini merupakan buku tentang hak anak yang bagus, baik dari
segi cakupan materi teknik penyajian, maupun ilustrasi-ilustrasinya
yang orisinal. Penguasaan materi yang memadai disertai proses
penyusunan yang dikerjakan secara serius kiranya menjadikan buku
ini dapat tampil dalam keadaannya seperti yang sekarang ini.
(Mohammad Farid, Aktivis hak-hak anak, anggota Komnas HAM)
Buku ini sungguh merupakan karya kreatif Remalia dalam
menerjemahkan KHA dalam bahasa anak. Isinya mudah dipahami,
menarik dan jelas. Sebaiknya para orang tua dan pendidik ikut
membaca agar dapat mendiskusikan bersama anak-anak dalam
upaya mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
(Dr. Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak)
109
Buku mengenai hak-hak anak bagi anak, sejauh kami ketahui
memang belum ada di Indonesia. Kami dengan senang hati
mendukung penyusunan buku yang dipenuhi gambar-gambar
menarik sehingga mudah dimengerti oleh anak. Kami pikir hak itu
bukan untuk ditonjolkan tetapi diberikan kepada semua orang supaya
bisa hidup dengan adil dan dijaga oleh semua orang. (Yoshimi, Keiko,
dan Yuko)
Selamat bagi Remalia yang telah dengan sungguh-sungguh
menyusun buku Aku Anak Dunia: bacaan hak anak bagi anak. Sebuah
sumbangan yang sangat bermanfaat dan kreatif dalam penyediaan
bahan informasi hak anak bagi anak-anak Indonesia. (Laurel
MacLaren, Save the Children US)
Secara singkat buku “AKU Anak Dunia”menjelaskan dengan hakhak anak secara mendasar dan mudah dipahami. Buku ini harus
dibaca tidak hanya dibaca oleh anak-anak dan remaja tetapi juga
para orangtua, para guru dan mereka yang bekerja yang langsung
dengan anak. (Frans van Dijk, Terre des Hommes Netherland)
Buku ini menjelaskan Konvensi Hak Anak (KHA) secara sederhana
sehingga mudah dicerna oleh siapa saja, dari kalangan mana saja.
Juga dibuat secara menarik dengan gagasan orisinal yang membuat
orang dengan mudah memahami hal-hal konkret dibalik pasal-pasal
yang rumit. Sebuah buku yang sangat cerdas! (Maria Hartiningsih,
Jurnalis pemerhati anak, wartawan Kompas)
110
Fly UP