...

Sanggar Anak Alam, Sekolah untuk Kehidupan

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Sanggar Anak Alam, Sekolah untuk Kehidupan
Sanggar Anak Alam, Sekolah untuk Kehidupan
Oleh: Sri Wahyaningsih
Foto: Sanggar Anak Alam
ada buku paket dan lembar kerja siswa
(LKS) yang harus dibeli anak-anak.
”Waduh, sekolah macam apa
ini?“ Banyak orang mempertanyakan
dan tidak sedikit yang meragukan.
Namun kami tetap pada pendirian
bahwa Salam berupaya menyajikan
pendidikan layak yang bisa merangkul
anak-anak kurang mampu secara
ekonomi.
T
idak seperti sekolah-sekolah pada umumnya, ada
gedung yang kokoh, meja-kursi, serta anak-anak dan
guru berseragam lengkap dengan sepatu, Sanggar Anak
Alam, yang akrab disebut Salam, lebih menyerupai tempat
bermain. Kami bersekolah di tengah sawah, di Nitiprayan,
Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Ruang yang ada hanyalah
saung-saung dari bambu, dan kami duduk lesehan di
atas karpet. Anak-anak dan guru tidak ada yang memakai
seragam dan kebanyakan hanya memakai sandal jepit.
Topi yang kami pakai adalah caping.
25 Oktober 2008
Mengapa demikian? Ini bukan pilihan yang asal-asalan.
Semuanya kami lakukan dengan penuh pertimbangan
matang. Ini adalah wujud dari keprihatinan terhadap
pendidikan di Indonesia. Pendidikan makin mahal dan
sulit diakses orang-orang miskin. Ini mengakibatkan
terpinggirkannya warga yang kurang mampu untuk
mendapatkan pendidikan layak.
Pendidikan untuk Semua
Sejak awal berdiri, Salam sudah sepakat untuk tidak
melakukan pemborosan dengan membuat gedung
megah. Dipilihnya saung bambu karena kemampuan
Salam terbatas dan ternyata bambu cukup kokoh ketika
diguncang gempa berkekuatan 5,9 SR. Tidak hanya itu,
biaya pembuatan dan perawatannya pun ringan sehingga
terjangkau oleh komunitas Salam yang notabene dari
golongan masyarakat menengah ke bawah.
Mengapa anak-anak juga tidak berseragam? Ini adalah
langkah awal untuk menghargai keberagaman, agar anakanak dapat melihat bahwa berbeda itu indah. Juga tidak
22
Contohnya adalah uang sekolah di
Salam. Sumbangan penyelenggaraan
Pendidikan (SPP) per bulan untuk
Kelompok Bermain Rp 30.000, Taman
Anak Rp 40.000, dan Sekolah Dasar
Rp 50.000. Sedangkan uang pangkal
untuk Kelompok Bermain, Taman
Anak, dan Sekolah Dasar berturut-turut
adalah Rp 200.000, Rp 300.000, dan
Rp 500.000. Jumlah ini tidak mengikat; ada yang bayar
lebih, ada yang kurang, dan ada yang sama sekali tidak
membayar.
Solidaritas terkait pembiayaan pendidikan dari orang
tua murid, kami tumbuhkan melalui subsidi silang. Anakanak kurang beruntung, yang orang tuanya tidak punya
penghasilan tetap dan tidak cukup menopang kehidupan
sehari-hari bisa gratis atau membayar sesuai kemampuan.
Kekurangannya disubsidi orang tua murid lain yang lebih
mampu secara ekonomi. Atau juga ditanggung oleh orang
di luar Salam yang mempunyai kepedulian terhadap
pendidikan.
Dalam pertemuan orang tua murid yang kami lakukan
satu bulan sekali, kami membahas hal yang berhubungan
dengan sekolah sampai ke masalah pembiayaan.
Ternyata melalui keterbukaan ini para orang tua dengan
sukarela mengeluarkan biaya sesuai kemampuan mereka.
Sehingga jumlah anak yang bersekolah gratis atau subsidi
juga disesuaikan dengan kemampuan Salam saat itu.
Yang digratiskan pun ketika mempunyai uang, mereka
membayar. Ada yang membayar harian sesuai penghasilan
hari itu. Ada juga yang tiga bulan sekali waktu mereka
panen.
Sumbangan orang tua murid tidak terbatas uang.
Mereka dapat menyumbang dengan hasil kebun seperti
pisang, pepaya, beras, dan aneka makanan. Juga
buku-buku, kertas baru maupun bekas, dus-dus bekas
makanan, bahkan alat-alat peraga, fasilitas sekolah seperti
televisi, kipas angin, dan karpet. Ada juga orang tua
Foto: Sanggar Anak Alam
Anak-anak belajar dari sesuatu yang nyata dan
mereka temui sehari-hari. Karena sekolah kami berada
di lingkungan persawahan, maka anak-anak belajar
mengolah tanah, membuat pupuk, menanam, merawat
tanaman, panen, bahkan sampai ke pengolahan hasil
panen yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan
ataupun usianya. Anak-anak di KB sudah dibiasakan
membuang sampah sesuai kriteria sampah organik dan
nonorganik, mengamati sampah organik yang diproses
menjadi kompos, melihat proses daur ulang kertas bekas,
menyemai bibit tanaman ke dalam polybag, hingga panen
sayuran organik.
Anak-anak di TA sudah ikut memroses kertas daur
ulang, membuat kompos, menanam dalam bedengan,
menyirami/merawat tanaman, panen, mengolah hasil
panen, dan memberi makan hewan peliharaan. Untuk
anak-anak SD-nya, kegiatan merawat kebun, hewan
peliharaan, mengatur kelas sudah secara rutin dilakukan
sebagai ritual pagi secara kelompok dan bergilir. Kegiatan
yang mereka lakukan, kemudian mereka tulis/gambar
dalam buku catatan masing-masing dan setiap anak diberi
kesempatan mempresentasikan apa yang telah mereka
temukan/lakukan.
Keceriaan anak-anak yang sedang bermain sambil memperagakan
salah satu tarian tradisional.
murid yang menyumbang tenaga dan pikiran dengan ikut
mengajar sesuai kemampuannya, seperti musik, teater,
memasak, pertanian, peternakan, dan pengetahuan umum
lainnya. Tak heran bila di Salam, bisa Anda temui anak
dari berbagai latar belakang, mulai dari anak pemulung,
pengamen, tukang parkir hingga dosen, pengusaha, dan
seniman besar. Hanya orang-orang yang sepakat dengan
model pembelajaran kami yang menggabungkan diri di
Salam.
Belajar dari Alam Sekitar: Lingkungan dan Pertanian
Salam yang merintis kiprahnya sejak tahun 2000,
hingga saat ini telah mendidik anak-anak mulai dari usia
2—4 tahun (kelompok bermain atau KB), usia 4,1—6 tahun
(Taman Anak atau TA), dan mulai tahun 2008, anak-anak
usia 6,1 tahun masuk kelompok Sekolah Dasar (SD).
Untuk tahun ajaran 2008—2009 ada seratus anak usia
2—7 tahun yang bergabung di Salam. Jumlah fasilitator 12
orang dan 5 orang sukarelawan, cukup ideal mendampingi
anak-anak.
Belajar dari Aktivitas Sehari-Hari: Makan dan Makanan
Makanan juga kami jadikan media belajar. Sejak dini
lidah anak-anak kami biasakan dengan makanan lokal
olahan sendiri tanpa bahan pengawet, penyedap rasa,
maupun zat aditif lainnya yang tidak sehat. Kami berupaya
bersama orang tua murid secara bergilir menyediakan
camilan untuk anak-anak. Tahapan pengenalan masingmasing kelompok juga berbeda. Anak-anak KB setiap dua
minggu sekali makan bersama, sedangkan anak-anak TA
setiap seminggu sekali. Anak-anak TA sudah dilibatkan
untuk memilih dan menyiapkan menu camilan bersama
orang tua mereka.
Kami seminimal mungkin menyajikan makanan
berbahan terigu karena tidak dapat ditanam di Indonesia.
Untuk pengadaannya kita harus impor, maka harus
23
25 Oktober 2008
Upaya memberikan pendidikan murah, tidak membuat
Salam mengabaikan pentingnya pendidikan yang
berkualitas. Namun, Salam bukanlah sekolah hafalan.
“Buku yang hidup” adalah semua peristiwa seharihari yang dihadapi. Para fasilitator dituntut untuk jeli
menghadirkan peristiwa-peristiwa sebagai bahan ajar/
kajian karena proses belajar di Salam berkeyakinan bahwa
semua orang di sekitar kita adalah guru. Semua tempat
adalah sekolah.
Proses belajar langsung dengan alam terbukti
membuat anak merasa senang dan belajar tanpa beban.
Dengan mengamati apa yang terjadi di sekitarnya telah
mengantarkan anak-anak peka terhadap lingkungan,
dapat menghargai yang mereka hasilkan, dapat bekerja
sama, dan mempunyai rasa percaya diri yang kuat.
Mengasyikkan sekali mengamati anak-anak dalam
kegiatan lapangan. Seperti Bagas misalnya, anak usia
enam tahun kelas 1 SD yang ketika menemukan ubi cukup
besar, langsung berteriak, “Aku berhasil menemukan
sesuatu dalam tanah, nanti akan kubawa pulang, mamaku
harus tahu.“ Kami percaya hal ini pasti akan dibahas di
rumah dengan orang tuanya. Tanpa harus menyebutkan
mata pelajaran matematika, IPA, IPS, atau bahasa, anakanak sudah mempelajari semuanya dengan nyaman
sehingga tidak ada lagi pelajaran yang menjadi momok.
dikurangi. Sebaiknya dihindari dan menggantinya dengan
tepung yang dihasilkan di Indonesia. Jadi, baik orang tua
maupun anak-anak diajak mempelajari dan kritis pada apa
yang mereka makan.
Untuk anak-anak SD, selain ada camilan dan makan
siang bersama, mereka sudah mulai menyiapkan alat
makan sendiri dan mencucinya setelah dipakai. Mereka
juga membahas dan mempelajari apa yang mereka
makan. Penekanan dalam pembahasan disesuaikan
dengan tema saat itu. Anak-anak juga dilatih selektif
terhadap makanan yang beredar di pasar, mereka kami
ajak mendiskusikan makanan yang banyak dijajakan dan
diiklankan secara gencar di televisi, seperti kandungannya,
sejauh mana bahayanya jika dikonsumsi terusmenerus, dan akibatnya terhadap kesehatan. Sehingga
anak-anak sadar dan mengambil keputusan sendiri
untuk tidak mengonsumsi makanan tersebut. Mereka
tidak mengonsumsi karena sadar akan bahaya yang
ditimbulkan, jadi bukan karena dilarang.
Menurut pengamatan kami dan juga orang tua
mereka, anak-anak sudah jarang dan hampir tidak pernah
mengonsumsi makanan yang masuk kategori junk food
(makanan tidak sehat). Ibu Endang, ibunda Thea, pernah
menuturkan dalam pertemuan orang tua murid: “Awalnya
kami sering malu dengan tetangga. Karena setiap kali
Thea pulang sekolah bajunya selalu kotor, dan lusuh
tidak bersepatu. Anak-anak tetangga sekolah dengan
baju seragam bagus dan bersepatu. Tetapi sekarang
saya bangga anak saya bisa diajak berdialog dan diskusi.
Banyak bertanya dan yang lebih membanggakan lagi,
dia selektif memilih jajanan, tidak mudah terpengaruh
iklan. Dia bisa membedakan makanan sehat dan tidak
sehat. Sekalipun di dekat rumah banyak jajanan, dia tidak
terpengaruh. Dia juga selalu bangga kalau mendapat
giliran menyediakan camilan. Mulai dari menandatangani
kuitansi dana dari sekolah, memilih menu, menyiapkan,
menyajikan untuk teman-teman dan yang paling ditunggutunggu ucapan terima kasih dari teman-temannya.
Dibanding dengan anak-anak seusianya Thea kelihatan
lebih matang pemikirannya. Jadi sekarang saya tidak
malu lagi, malah bangga.” Maka SD-nya pun Thea tetap
memilih Salam (Thea bergabung sejak usia dua tahun di
KB, sekarang kelas 1 SD).
Pendidikan Berkualitas dan Bersahaja
Salam menerapkan pembelajaran selapis demi selapis
sehingga tidak membebani memori otak anak. Teknologi
akan dikenalkan pada jenjang berikutnya seiring dengan
kemampuan motoriknya. Pangan dan kesehatan menjadi
pendekatan awal dalam proses pembelajaran karena
keduanya dihadapi langsung setiap hari oleh anak-anak.
Anak-anak sangat bangga mengonsumsi hasil panen/
masakan mereka sendiri. Pengenalan dunia pertanian
sebagai basis kehidupan, melalui kegiatan menyiapkan
tanah, menanam dan mengolah sendiri bahan alami
yang banyak tersedia di lingkungan, memberikan anak
pembelajaran bahwa di bumi tercinta ini tanaman dapat
tumbuh subur dan menghasilkan pangan yang bisa
mereka olah sendiri. Sawah dan kebun milik sendiri, serta
toko untuk menjual hasil dari lahan dan karya anak-anak,
menjadi sarana belajar sekaligus pembiayaan kegiatan
belajar. Salam juga mengajak beberapa remaja rentan
mantan anak jalanan untuk mengelola sawah dan kebun.
Salam berangkat dari kegiatan sehari-hari yang
dihadapi anak-anak. Belajar melalui kearifan lokal
menghantarkan anak-anak melihat kekayaan alam,
keragaman budaya, dan hidup saling menghargai.
Kekritisan mereka juga terasah dari pengalaman,
mencermati yang ada di sekitarnya, dari interaksi dengan
teman, fasilitator dan masyarakat, karena mereka belajar
tidak hanya dalam kelas. Proses belajar yang bersahaja,
dari sesuatu yang nyata, tanpa direkayasa, telah
menghantarkan anak-anak memahami dan menemukan
ilmu pengetahuannya sendiri. Anak-anak pun belajar
mandiri, dalam berpikir dan mengambil keputusan.
Tak ada yang menyulitkan, tak ada yang menakutkan
karena semua berangkat dari keseharian, sehingga anakanak selalu merasa nyaman, dan senang belajar. Sekolah
di Salam tidak hanya anaknya, tetapi juga orang tua, guru/
fasilitator, dan penyelenggara. Semua ikut menjadi peserta
didik dan ikut dalam proses belajar. Pendidikan selayaknya
untuk semua orang, dan sepatutnya dimulai dari anakanak. Dengan menciptaan ruang kesempatan bagi anak,
sesungguhnya sedang membangun proses belajar bagi
orang dewasa.
25 Oktober 2008
Sri Wahyaningsih
Pendiri dan salah seorang pendidik di Sanggar Anak Alam
Nitiprayan RT. 4 Jomegatan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta
Telp: 0274- 417964
E-mail: [email protected]
Blog: www.salamjogja.wordpress.com
Belajar dari lingkungan dan pertanian dalam kesehariannya akan
mengasah kekritisan anak. Semua tempat adalah sekolah.
24
Fly UP