...

Dapat Apa Sih dari Universutas_Prelims

by user

on
Category: Documents
23

views

Report

Comments

Transcript

Dapat Apa Sih dari Universutas_Prelims
i
ii
iii
iv
v
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
©2009 oleh Romi Satria Wahono
Hak cipta yang dilindungi undang-undang ada pada Penulis.
Hak penerbitan ada pada Zip Books.
Cetakan I, Muharram 1430H/Januari 2009
Penulis
Romi Satria Wahono
Editor
Suherman, M.Si.
Deny Riana
Penata Letak & Desainer Sampul
Endang Dedih
Diterbitkan oleh
ZIP BOOKS
Jl. Padaringan No. 39A
KPAD Gegerkalong - Bandung 40153
Telp. (022) 2003235, 2013145 Faks. (022) 2015240
e-mail: [email protected]
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Wahono, Romi Satria
Dapat Apa Sih Dari Universitas/Abdullah Gymnastiar-–
Bandung: Khas MQ, 2006
vi + 74 hlm; 11,5 cm x 17,5 cm
ISBN 979-3373-15-6
1. Umum
I. Judul
II. Riana, Deny
vi
Catatan Editor:
Dari KUTU KUPRET Menjadi
KUTU BUKU dan Akhirnya
Menjadi KUTU LONCAT
Sebenarnya lebih enak membaca tulisan Mas Romi secara
langsung, tanpa harus diedit. Terutama artikel-artikelnya yang
merupakan jawaban atas pertanyaan para fans-nya di situs beliau
(RomiSatriaWahono.Net). Tulisan-tulisan Mas Romi terasa segar,
gaul dan cukup populis. Tentu saja ini merupakan cerminan dari
jiwa beliau sebagaimana kata Abul Hasan Ali Nadwi “kata adalah
sepotong jiwa”. Akan tetapi supaya Mas Romi terlihat lebih
terpelajar dan tereksplisitkan kepakarannya, maka saya edit
sedikit-sedikit disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia yang
baik dan benar tetapi tetap terasa enak. Kadang-kadang
pekerjaan saya hanya memiringkan saja kata-kata asing yang
belum sempat Mas Romi miringkan.
Kesederhanaan, adalah kata yang terasa sangat pas mewakili
keberwujudan Mas Romi, baik di alam nyata maupun di alam
baqa, eh... alam maya. Bahasa kesederhaan ini sering beliau pakai
dalam setiap show dalam keluruyan ilmiahnya maupaun dalam
tulisannya di alam maya. Sebuah persoalan teknologi yang
biasanya dibahas dengan bahasa eksposisi yang kaku dapat beliau
bahasakan kedalam bahasan yang sederhana bahkan mendekati
vii
“guyonan teknologi”. Jadi, kecanggihan Mas Romi adalah
keberhasilannya dalam menyederhakan kecanggihan. Mungkin
suatu saat kita dapat membuat sebuah program dengan
tersenyum atau mengaplikasikan software dengan terpingkalpingkal. Akankah gaya beliau ini akan berbalik menjadi “senjata
makan tuan” untuk sebuah demarketisasi kredibilatas beliau
sebagai ilmuwan? Mari kita wait and see saja.
Untuk merepresentasikan kesederhanaan yang lain, beliu
sering mengidentifikasikan dirinya dengan kutu kupret. Kutu
kupret bukanlah makhluk biologis, akan tetapi merupakan
makhluk sosiologis untuk menggambarkan sosok individu yang
berada dalam kelas terendah dalam masyarakat. Individu yang
tidak memiliki kekuatan (powerless) dan harapan (hopeless), atau
manusia tertindas dan ditindas (mustad’afin) menurut terminologi
Islam. Kita tahu bahwa Mas Romi bukan dari kelas sosial seperti
itu, akan tetapi ini adalah sikap keberpihakan beliau terhadap
mereka. Kutu kupret semakin menyeruak ke penatas kebudayaan
Indonesia ini tidak terlepas dari jasa Tukul Arwana melalui acara
Empat Mata.
Sekarang kita “kembali ke laptop” eh... ke Mas Romi. Dari
keberadaaan beliau sebagai kutu kupret menjadi “wong” seperti
sekarang ini tidak terlepas dari hasil belajar yang sangat keras
sehingga beliau mengistilahkannya dengan kata “perjoengan”.
Sebuah kata nostalgia yang tetap beliau pertahanakan untuk
membawa alam pikiran kita teringat kepada para pahlawan
pendiri republik ini. Minat beliau yang sangat rakus terhadap
berbagai bidang, yang tergambar dalam tulisan-tulisannya,
menjadikan Mas Romi sebagai kutu buku. Dan kalau kita
perhatikan sejarah atau peradaban manusia, melalui “kutu” yang
satu inilah tragedi “lingkaran setan” kutu kupret dapat dipotong
menjadi individu yang berdaya.
viii
Walaupun dunia Mas Romi adalah dunia maya, akan tetapi
beliau pelahap buku yang paling rakus. Dalam hal ini beliau tetap
menjadi kutu buku bukan kutu internet. Dahulu, pada tahun
delapan puluhan, memang ada seorang futurolog (tukang ramal
masa depan, jangan diartikan ilmu tentang ke-futur-an ya) yang
memprediksikan bahwa buku dalam bentuk tercetak akan
musnah, “buku sedang sekarat melepaskan nafas terakhirnya
ditelan gelombang elektromagnetik”, kata Miles M. Jackson dalam
artikelnya “The Future of Book in Electronic Era”. Ramalah rersebut
alhamdulillah tidak menjadi kenyataan. Malah sekarang ini
industri perbukuan semakin meningkat. Sepertinya, sampai kapan
pun buku tidak akan tergantikan oleh media elektronik, kedua
jenis media informasi ini saling melengkapi satu sama lain.
Berkaca dari kesuksesan orang-orang besar (Mas Romi jangan
ge-er dulu ya), program pemerintah yang paling pasti untuk
mengentaskan kemiskinan di atas bumi Indonesia—”karena tidak
sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”—adalah
beternak kutu buku atau membudayakan minat baca. Program
pemerintah yang selama ini digulirkan seperti JPS, P2K, dan BLT
adalah kontraproduktif. Dengan melihat kondisi psiko-sosial
masyarakat miskin Indonesia, diberikan uang sebesar apapun tidak
akan dapat mengangkat keadaan mereka. Bantuan yang diberikan
oleh pemerintah ibarat air yang disiramkan pada pasir, semua
diserap tanpa bekas. Melalui tulisan-tulisannya tentang budaya
masyarakat Jepang, Mas Romi telah bercerita banyak kepada kita
tentang pengaruh minat baca bagi kemajuan sebuah bangsa.
Dengan semangat bushido dalam membaca, pada akhirnya
Mas Romi dapat mentransformasikan dirinya dari kutu kupret
menjadi seorang kutu loncat. Jadi, kutu buku adalah sebuah katalis
untuk mengakselerasi transformasi kutu kupret menjadi kutu
ix
loncat. Yang saya maksud “kutu loncat” di sini adalah untuk
menggambarkan seorang individu yang memiliki multitalenta
sehingga bisa “berbicara” lebih dari satu disiplin ilmu pengetahuan
secara mendalam, atau dalam istilah yang sering disebut Mas Romi
adalah versatilist. Individu semacam ini jelas dapat hinggap di
medan apa saja, dapat loncat ke sana- ke mari, jadilah si kutu
loncat.
Kekutuloncatan Mas Romi ini dapat kita lihat sangat beragam
topik bahasan tulisan-tulisannya, tidak melulu Teknologi Informasi.
Dalam blog-nya dapat kita lihat berbagai pertanyaan yang diajukan
kepadanya tidak terbatas pada masalah komputer tetapi melebar
kepada berbagai problematika kehidupan terutama yang dialami
oleh para mahasiswa. Dengan demikian Mas Romi juga berperan
bukan hanya menjadi konsultan bidang komputer (IT) tetapi juga
dijadikan konsultan kehidupan, atau lebih tapatnya “dukun ilmiah.”
(Bagi Anda yang memiliki masalah jodoh ketik REG …. hehe). Itu
semua dapat dilakukan tidak terlepas dari berkat pengalamannya
yang banyak dalam melakukan keluyuran ilmiah.
Dengan melihat latar seperti di atas maka tidak terlalu heran
apabila Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah - Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (PDII- LIPI), tempatnya bekerja dan
berjoeang, sangat kesukaran untuk “mengandangi” Mas Romi.
Dan jangan dilupakan, Mas Romi pun, setelah didiagnosis, karena
kurang tidur (sekitar 3 jam setiap hari) dan terlalu banyak membaca
buku ternyata otaknya agak miring ke sebelah kanan, yang kadangkadang dihinggapi halusinasi yang berlebihan, dan karenanya dia
sangat doyan keluyuran ilmiah. Tentu saja ini kurang bisa ditolerir
oleh institusi semacam LIPI yang biasanya menggunakan ramburambu ilmiah yang cocok dengan orang-orang yang otaknya miring
ke sebelah kiri. Jadi, harap dimaklumi saja.
x
PENGANTAR PENULIS
MERINDING DAN HERAN, begitulah perasaan saya ketika sahabat
saya, kang Herman menelepon dan menawarkan diri untuk
menjadi editor dan membukukan tulisan-tulisan saya di blog saya
RomiSatriaWahono.Net. Saya merasa tidak pantas dan saya
berharap penerbit tidak akan kesulitan balik modal kalau tulisantulisan saya dibukukan J Tujuan utama saya menulis di blog
sebenarnya adalah untuk bercerita pengalaman pribadi dan
menyampaikan pesan ke generasi muda, adik-adik pelajar dan
mahasiswa khususnya, bagaimana harus berdjoeang dalam
menempuh kehidupan di dunia yang semakin fana ini.
Kalau banyak penulis memiliki pemikiran, “supaya tulisan
lebih enak dibaca, maka menulislah dengan hati”, jujur saja
menurut saya ini tidak cukup. Saya sendiri selama ini berusaha
menulis dengan hati, kaki, kepala, badan dan berbaga bagian
tubuh saya yang lain dalam artian pengalaman mereka semua itu
dalam menempuh kehidupan, baik ketika jaman sekolah, kuliah,
kerja atau menjadi entrepreneur. Saya juga berusaha untuk
menulis dengan bahasa “manusia” yang baik dan benar.
xi
Tulisan saya juga kadang datang dari kegiatan sehari-hari
saya, tema diskusi seminar yang saya bawakan, nasehat guru SD,
SMP atau SMA saya, nasehat saya ke mahasiswa saya, nasehat
istri saya, nasehat anak saya, komplen terhadap layanan suatu
perusahaan, hasil baca buku atau jurnal, dari berbagai fenomena
yang aneh dan bahkan mungkin dari pengalaman tetangga saya.
Menulis di blog alias blogging, bagi saya adalah hobi, karir,
branding dan kehidupan saya.
Terima kasih untuk kang Herman yang sudah meluangkan
waktu mengedit tulisan-tulisan saya, istri saya yang selama ini
selalu sabar mendampingi saya baik dalam keadaan susah maupun
senang, anak-anak saya yang selalu memahami kesibukan
bapaknya yang sedang berdjoeang melakukan perbaikan ke
republik ini, para aktifis IlmuKomputer.Com dan Brainmatics.Com
yang pantang menyerah belajar dan menemani keangkuhan saya
yang tidak mau pulang sebelum jam dinding berdentang 12 kali,
tetangga-tetangga saya di perumahan Puri Gading Vila Besakih
yang selalu menyapa saya dengan hangat meskipun kadang saya
sendiri lupa nama teman-teman ;)
Terima kasih juga untuk keluarga saya di Semarang, bapak,
ibu, auk, dan juga yang menjadi tetangga saya dikna dan catur.
Juga terima kasih kepada keluarga istri, bapak mertua saya yang
datang ke Jakarta selalu pada timing yang tepat, misalnya pas
mobil sudah tidak dicuci sebulan atau mobil sudah kelewat
5000km dari waktu service J
Mudah-mudahan buku ini bermanfaat untuk teman-teman
dan adik-adik mahasiwa semua dalam menempuh kehidupan di
dunia, khususnya yang bergerak di bidang teknologi informasi.
Saya berharap bahwa perdjoeangan dan kerja keras kita semua
akan membawa republik ke arah kebaikan.
Tetap dalam perdjoeangan!
xii
DAFTAR ISI
CATATN EDITOR —
PENGANTAR PENULIS —
BAB I : MENUJU KAMPUS HARU BIRU —
Branding University —
Tips dan Trik Memilih Jurusan —
Beralih Trend ke Jurusan Desain —
DKV: Sekolah Calon Animator dan Desainer Grafis —
Dapat Apa Sih Dari Universitas —
Empat Jenis Mahasiswa —
Bagaimana Mahasiswa Belajar —
Tiga Kiat Jitu Mengatur Waktu —
Kiat Meningkatkan Nilai IPK —
Tips Menjadi Mahasiswa Sukses —
BAB II : BEDA ANTARA KEBENARAN DAN KEBETULAN —
Hakikat Kebenaran —
Penelitian Tugas Akhir Itu Mudah (1) —
Penelitian Tugas Akhir Itu Mudah (2): Identifikasi masalah —
xiii
Menengok Arah Penelitian Teknologi Informasi dan
Komunikasi di Indonesia —
Analisis UU ITE —
Antara HaKi, Islam, dan Teknologi Informasi —
Berilah Mataharimu Sinar Takwa —
BAB III : MENJADI ENTREPRENEUR ITU MUDAH —
Arah dan Trend SDM TI (1) —
Arah dan Trend SDM TI (2) —
Jadi Pebisnis TI, Siapa Takut? —
Sepuluh Kiat Menjadi Entrepreneur Untuk Mahasiswa Lugu —
Sepuluh Resep Sukses Bangsa Jepang —
Gaji Profesor = Gaji Helpdesk Analyst? —
Keberhasilan Dalam Kesederhanaan —
Kinerja Itu Makhluk Apa Sih? —
Teknik Mempengaruhi Orang Lain —
Tips Hidup 600 Tahun —
Software Engineer Sebagai Sebuah Profesi —
BAB IV : KNOWLEDGE (MESTINYA) IS POWER —
Kemerdekaan Teknologi —
Kekuatan Kata Para Pemimpin —
Genesis Kekuasaan —
Komunitas Terdidik: Belajar dari Jepang —
Komik Pendidikan —
Langkah Para Ilmuwan Mempopulerkan Ilmu Pengetahuan —
Knowledge Management dan Kiat Praktisnya —
Konflik Dunia, Perang, dan Gap Sosial —
Mempererat Kohesi Sosial Antar Elemen Bangsa:
Refleksi 57 Tahun Indonesia —
xiv
BAB 1
MENUJU
KAMPUS
HARU
BIRU
1
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
2
BRANDING
UNIVERSITY
MENARIK MEMBACA buku terbitan Tempo
berjudul Panduan Memilih Perguruan
Tinggi (2008), khususnya masalah jurusan
dan universitas terbaik menurut
pandangan masyarakat. Ceritanya Pusat Data
dan Analisis Tempo (PDAT) membuat penelitian
berbentuk survey yang mencoba melihat
seberapa jauh branding sebuah universitas
terbentuk di kepala masyarakat. Survey ini
menjadi menarik karena hasilnya ditampilkan
dalam bentuk grafik perangkingan universitas.
Jujur saja, hasil perangkingan universitas
memang tidak menggunakan pendekatan
akademik seperti yang ditempuh oleh ARWU,
THES maupun Webometrics. Tapi terpentalnya
universitas-universitas besar seperti UI dan ITB
menjadi menarik dikaji lebih dalam. Universitas
adalah sebuah institusi yang mencari
mahasiswa, dan ini sebenarnya mirip dengan
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 3
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
perusahaan yang mencari pelanggan. Universitas juga pasti
memerlukan marketing dan brand (image building). Yang akhirnya
institusi menjadi matang dan kuat setelah institution buildingnya juga dikerjakan dengan baik. Apakah universitas di Indonesia
menuju ke Branding University? Ikuti terus tulisan ini
Ada dua hal yang menarik dari survey yang dilakukan PDAT.
Yang pertama adalah tentang tingkat awareness terhadap
universitas pada suatu jurusan, sedangkan yang kedua adalah
persepsi masyarakat dan dunia kerja tentang universitas terbaik
pada suatu jurusan. Karena core competence saya hanya di bidang
computing, tentu yang saya bahas dan ambil dari hasil survey
Tempo adalah untuk bidang computing atau teknologi informasi
saja. Untuk bidang yang lain, silakan baca baca sendiri yah!
Pada survey tingkat awareness terhadap universitas
digunakan model survey branding seperti umumnya, dimana
tingkat awareness diukur dari tiga level:
1.
Top of Mind (ToM): Nama universitas yang disebut pertama
kali, yang paling menancap di benak responden
2.
Spontan (Unaided Awareness): Nama universitas yang dapat
diingat spontan dan tanpa bantuan
3.
Dibantu (Aided Awareness): Nama universitas yang berhasil
disebut karena dibantu atau dipandu
Kita bisa hasilnya dari gambar di bawah. ITB secara
ToM tercatat paling tinggi (28%), meskipun ketika
4
dihitung total terpental ke urutan ke-4. Tiga universitas yang
menguasai brand untuk jurusan computing dan teknologi
informasi di Indonesia adalah Binus, UI, Gunadarma. Sedangkan
ITS, UGM dan Unibraw terpental lebih jauh Universitas Trisakti
dan UPH tercatat sebagai universitas swasta yang ikut muncul
dalam percaturan brand university khususnya untuk jurusan
komputer. Semua data dan grafik diambil dari referensi[1].
Survey kedua dari PDAT adalah persepsi masyarakat dan
dunia kerja tentang universitas terbaik pada suatu jurusan, dalam
hal ini yang saya kutip adalah jurusan computing atau teknologi
informasi. PDAT menggunakan teknik analisis Thurstone untuk
menggambarkan fenomena ini. Hasilnya juga cukup
mencengangkan
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 5
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
1.
Persepsi masyarakat berhubungan dengan universitas terbaik
untuk jurusan computing seperti gambar paling kiri. Binus
meninggalkan ITB dan UI yang secara jarak relatif dekat.
Gunadarma menyusul dibawahnya. ITS, UGM, UPH,
Budiluhur, Trisakti, dan Unpad berebut tempat klasemen
bawah dengan nilai yang berdekatan.
2.
Persepsi dunia kerja menempatkan ITB pada skor tertinggi,
disusul Binus, UI dan Gunadarma. Lihat gambar sebelah
kanan.
3.
Ketika kedua parameter itu digabung, hasilnya adalah seperti
pada gambar paling bawah. Binus dan ITB berkuasa, disusul
UI dan Gunadarma. Sedangkan ITS, UGM, Trisakti, UPH,
Budiluhur, dan Unpad susul menyusul di bawahnya.
Hasil penelitian PDAT ini tentu debatable, karena hampir
tidak menggunakan pendekatan dan parameter akademis apapun
dalam penentuan rangking universitas. Tapi perlu kita perhatikan
bahwa dalam dunia nyata yang semakin fana ini, faktor image
building menjadi faktor penting dalam terbentuk dan berjalannya
suatu organisasi, selain faktor institution building.
6
SMA Taruna Nusantara adalah contoh menarik, saya masuk
sebagai angkatan pertama tahun 1990. Dari sisi logika tentu
tidaklah mungkin sekolah ini akan menjadi sekolah yang baik dan
berprestasi di kemudian hari. Masih terekam di kepala, ketika saya
pertama kali menginjakkan kaki ke SMA Taruna Nusantara,
bangunan belum banyak yang jadi, status sekolah terdaftarpun
mungkin tidak, guru hasil transfer dari SMA lain yang belum tentu
siap dengan pendidikan gaya militer, dan kalau kita lihat dari
sisi kurikulum pendidikan pun belum tertata dengan baik. Terlepas
dari semua itu, brand sekolah dibentuk dengan sangat dahsyat
melalui berbagai media massa, bahwa ini adalah sekolah terbaik,
berkualitas, bahkan diberi brand sekolah calon pemimpin bangsa.
Pembukaan tahun ajaran dilakukan oleh Panglima ABRI dengan
diiringi oleh kunjungan para menteri, pengusaha dan duta besar
negara asing. Saya yakin ini adalah penerapan konsep image
building yang sangat brilian.
Terus bagaimana dengan institution building? Gaya
Pendidikan dengan theraphy positive khas militer diterapkan
untuk membentuk disiplin dan mental. Beberapa spesialis
pembimbing mental (bintal) Taruna Akabri didatangkan. Jargonjargon yang tersebar dalam proses image building digunakan dan
dikemas dalam bentuk lagu dan mars, yang dinyanyikan setiap
siswa pada saat baris berbaris, lari, konvoi, apel atau kalau perlu
pada acara makan. Semua untuk memacu adrenalin siswa,
mengajak semua siswa untuk belajar lebih keras dan keras lagi.
Berbagai metode influence tactic diterapkan oleh guru (pamong)
dan pengajar. Tidak sampai setahun setelah itu semua, hasil
proses institution building ternyata mulai bisa mengiringi hasil
image building. Media massa mulai menampilkan berbagai
prestasi siswa yang bukan hanya klaim dan brand semata, tapi
terbukti dalam berbagai kompetisi nasional maupun international.
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 7
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Kembali ke masalah branding di universitas, dari berbagai
data PDAT yang kita bahas di atas, harus diakui secara jujur bahwa
brand Binus menancap cukup lekat ke dalam benak masyarakat
dalam bidang computing. Ini adalah buah sukses keberhasilan
proses marketing dan branding yang digarap serius oleh Binus.
Dan ini harus diikuti oleh proses institution building, memperbaiki
kualitas dosen dan mahasiswa. Binus harus mulai
mengembangkan investasi ke SDM, meningkatkan kesejahteraan
dosen, memberi insentif dan beasiswa untuk melanjutkan kuliah
ke S2 dan S3, dsb. sehingga cap comot SDM sana sini tidak
ada lagi Rasio mahasiswa-dosen di kelas juga mulai harus
diperhatikan, tidak hanya mengejar kuantitas mahasiswa saja tapi
juga kualitas belajar mengajar.
Di lain pihak, untuk universitas negeri yang selama ini merasa
berada di comfort zone, mulai harus bergerak dan memikirkan
kembali strategi branding dan marketing yang efektif dan efisien.
Jaman sudah berubah total, kefavoritan ITB, UI, ITS, UGM, dsb
sudah mulai tergerus oleh kekuatan branding yang dilakukan
secara profesional oleh universitas-universitas swasta. Menunggu
mahasiswa mendaftar adalah kuno, mengenalkan diri, berpromosi
dan proyek jemput bola harus mulai digulirkan untuk
mendapatkan mahasiswa-mahasiswa yang berkualitas.
Time will tell, siapa yang akan menjadi pemenang dari
kompetisi ini. Yang pasti, dari sudut pandang (calon) mahasiswa,
tentu ini arah yang positif, karena sudah diposisikan sebagai
pelanggan. Universitas juga tidak bisa semena mena terhadap
mahasiswa seperti dulu lagi. Infrastruktur harus dilengkapi,
perpustakaan, internet, komputer harus banyak disediakan untuk
memberi layanan yang baik kepada mahasiswa. Dosen juga harus
mulai berpikir bagaimana menyampaikan mata kuliah yang diajar
8
dengan baik dan benar serta “terang benderang” kepada
mahasiswa. Dosen yang sak karepe dewe dan pinter untuk dirinya
sendiri akan tergerus oleh dosen-dosen muda yang enerjik,
terampil dan punya berbagai teknik untuk memahamkan mata
ajar ke mahasiswa
Untuk sahabat-sahabatku sivitas akademika universitas
dimanapun berada, jalan yang kita pilih mungkin sukar, gelap dan
mendaki. Tapi mudah-mudahan kita semua tetap dalam
perdjoeangan …
REFERENSI:
[1] Sri Indrayati et al, Sri Malela et al (editor), Panduan Memilih
Pergurauan Tinggi 2008, Pusat Data dan Analisa Tempo, 2008
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 9
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
10
Perlu kita garis bawahi dulu bahwa “secara
konsep” kurikulum bidang komputer di
Indonesia sudah cukup baik. Kurikulum
Indonesia mengacu dan mengadaptasi
TIPS DAN TRIK MEMILIH JURUSAN
Juli dan agustus adalah musim orang
mendaftar kuliah. Jadi setiap tahun di kedua
bulan ini saya ada ritual menerima banyak
pertanyaan lewat YM atau email tentang
pemilihan jurusan di bidang komputer
(computing). Saya coba rangkumkan beberapa
jawaban yang biasanya saya berikan.
KOMPUTER
MAS, SAYA baru mo masuk kuliah, tapi saya
sedang bingung mo ngambil jurusan apa? Apa
sih sebenarnya bedanya jurusan Teknik
Informatika, Sistem Informasi, Teknik
Komputer dan Manajemen Informatika? Dan
yang mana menurut mas Romi yang ke
depannya bagus? (Adoy Chumaidi)
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 11
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Computing Curricula, yaitu panduan kurikulum bidang komputer
(computing) yang diterbitkan secara bersama oleh ACM (The
Association for Computing Machinery), AIS (The Association for
Information System) dan IEEE-CS (the IEEE Computer Society).
Beberapa dokumen usulan kurikulum yang diajukan APTIKOM
(Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer) saya lihat
juga mengacu ke Computing Curricula 2001 dan 2005. Kalau
kemudian ada pertanyaan kok pelaksanaan di lapangan tidak
sebagus konsepnya. Ya banyak faktor yang masih menjadi masalah
di Indonesia, kualitas SDM pengajar, infrastruktur, minimnya
textbook yang baik, dsb. Mari kita perbaiki bersama-sama dan
tidak perlu saling menyalahkan.
Sekali lagi, Indonesia hanya mengadaptasi dan bukan
mengadopsi Computing Curricula, artinya bahwa tidak semua nama
jurusan dan nama mata kuliah di Indonesia sama persis dengan apa
yang ada di Computing Curricula. Computing Curricula memberikan
panduan tentang penyelenggaraan, penamaan mata kuliah beserta
pembobotannya dan penyusunan kurikulum pada 5 jurusan, yaitu:
Computer Engineering (CE, Teknik Komputer), Computer Science
(CS, Ilmu Komputer), Information Systems (IS, Sistem Informasi),
Information Technology (IT, Teknologi Informasi), Software
Engineering (SE, Rekayasa Perangkat Lunak).
Adaptasi dan acuan kurikulum di Indonesia adalah:
1.
2.
3.
12
Computer Science untuk program studi (jurusan) Teknik
Informatika atau Ilmu Komputer
Computer Engineering untuk program studi (jurusan) Sistem
Komputer atau Teknik Komputer
Information System untuk Sistem Informasi atau Manajemen
Informatika
Sedangkan Software Engineering dan Information Technology,
di Indonesia dianggap bukan merupakan program studi
(jurusan) karena masih bisa masuk salah satu bagian dari Teknik
Informatika atau Ilmu Komputer.
Lha, terus dimana letak perbedaan jurusan-jurusan diatas?
Semua jurusan (program studi) sebenarnya memiliki mata
kuliah yang boleh dikatakan “sama”, hanya pembobotannya
berbeda. Bobot inilah yang nantinya menentukan jalur karier dan
bidang kerja lulusan. Kompetensi lulusan setiap jurusan biasanya
di desain seperti di bawah:
1.
Computer Engineering (CE) (Jurusan Sistem Komputer atau
Teknik Komputer) diharapkan menghasilkan lulusan yang
mampu mendesain dan mengimplementasikan sistem yang
terintegrasi baik software maupun hardware.
2.
Computer Science (CS) (Jurusan Teknik Informatika atau
Ilmu Komputer) diharapkan menghasilkan lulusan dengan
kemampuan yang cukup luas dimulai dari penguasaan teori
(konsep) dan pengembangan software.
3.
Information System (IS) (Jurusan Sistem Informasi atau
Manajemen Informatika) diharapkan menghasilkan lulusan
yag mampu menganalisa kebutuhan (requirement) dan
proses bisnis (business process), serta mendesain sistem
berdasarkan tujuan dari organisasi
4.
Information Technology (IT) diharapkan menghasilkan
lulusan yang mampu bekerja secara efektif dalam
merencanakan, mengimplementasikan, mengkon-figurasi
dan memaintain infrastruktur teknologi informasi dalam
organisasi.
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 13
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
5.
Software Engineering (SE) diharapkan menghasilkan lulusan
yang mampu mengelola aktivitas pengembangan software
berskala besar dalam tiap tahapannya (software development
life cycle).
Computing Curricula membuat suatu komparasi umum dan
pembobotan mata kuliah tiap jurusan dengan visualisasi grafis
seperti di bawah. Sumbu horizontal menggambarkan arah
pengembangan (apakah lebih teoritis atau lebih praktis),
sedangkan sumbu vertikal menggambarkan topik dan desain mata
kuliah yang diajarkan. Pembobotan ditandai dengan warna abuabu tua pada visualisasi gambar.
14
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 15
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
16
Mudah-mudahan tulisan ini bisa memberikan pemahaman
untuk adik-adik sekalian yang baru lulus dan ingin melanjutkan
kuliah di bidang komputer (computing). Masalah jurusan yang
mana yang baik, ini tergantung “minat, keinginan, dan potensi”
adik-adik sekalian. Saya yakin tidak seorangpun yang bisa
menghakimi suatu jurusan lebih baik daripada jurusan lain.
Sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa “peluang” lebih utama
daripada “minat, keinginan dan potensi”. Toh, saya dulu berangkat
ke Jepang dan masuk ke jurusan yang sebenarnya bukan minat,
keinginan atau potensi saya. Ya prioritas berpikir saya adalah
peluang dapat beasiswa ke luar negeri, sehingga dapat membantu
meringankan beban orang tua. Kebetulan pada saat saya lulus
SMA tahun 1993, perekonomian orang tua saya mengalami masa
suram. Jurusan apapun, bahkan kalau saya ditunjuk untuk
mengambil jurusan ekonomi, politik, dsb, tetap saya akan ambil
karena prioritas peluang lebih tinggi.
Yang terakhir, perlu diperhatikan bahwa ada beberapa irisan
bidang computing dengan bidang lain yang sepertinya mirip tapi
sebenarnya beda. Misalnya, bagi yang ingin mendalami desain
grafis dan animasi secara mendalam, saya sarankan tidak masuk
ke salah satu dari lima jurusan computing diatas. Akan lebih baik
apabila masuk ke jurusan desain komunikasi visual (DKV), yang
biasanya ada di bawah fakultas
seni rupa. Saya jamin lebih pas
untuk yang berminat di animasi
dan desain grafis. Banyak
mahasiswa yang cita-citanya
menjadi animator dan graphics
designer akhirnya harus melongo
dan menyesal karena salah masuk
ke jurusan computing.
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 17
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
18
Beralihnya Trend ke
JURUSAN DESAIN
MASIH TERINGAT di kepala bagaimana dulu
jurusan pertanian gampang sekali mencari
mahasiswa. Kemudian meningkatnya bisnis
minyak yang berimplikasi ke kesejahteraan
pegawai perusahaan minyak membawa motivasi
anak muda ke jurusan perminyakan dan
pertambangan. Tidak berakhir sampai disitu,
trend beralih lagi ke teknik elektro dan teknik
mesin. Perubahan trend berlanjut lagi karena
sejak sekitar tahun 1995, terjadi perubahan
besar minat mahasiwa ke jurusan computing
(komputer), baik jurusan teknik informatika,
sistem informasi maupun ilmu komputer.
Jurusan komputer termasuk yang fenomenal
karena booming-nya sangat (terlalu) besar.
Bahkan ada universitas yang bisa menampung
jurusan teknik informatika sampai 2000
mahasiswa per tahun, alias lebih dari 20 kelas
per angkatan. Apakah single majority ini akan
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 19
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
terus bertahan. Menurut saya kok sudah
ada tanda tanda mau berubah .
Saya sebagai computer scientist
tentu secara personal berharap jurusan
computing ini terus booming, ya supaya
“nggedabrusan” saya juga bisa laku …
hehehe. Tapi kenyataan dunia tidak selamanya akan mengikuti
kehendak hati kita. Saya justru melihat bahwa pelan tapi pasti
sudah mulai ada pergeseran trend dari computing ke bidang lain.
Saya lihat yang menjadi alternatif saat ini adalah di jurusan desain,
dan bukan desain yang murni ke seni rupa (otak kanan), tapi yang
menggabungkan aspek teknologi (otak kiri) ke dalam desain.
Perkembangan produk multimedia untuk game, animasi dan
kartun saat ini terpecah menjadi dua madzab besar. Madzab yang
pertama adalah yang mengandalkan kekuatan karakter dan
kedalaman cerita sebagai faktor terpenting, ini diwakili oleh
Jepang. Madzab kedua yang berorientasi ke teknologi,
kedigdayaan alat, dan pemakaian 3D yang semakin halus dan
sempurna, ini diwakili oleh Amerika. Kalau Jepang punya Miyazaki
Cartoon, Amerika punya Pixar yang telah melegenda. Dulu jurusan
desain di seni rupa, dan bidang computer graphics di computer
science hanya bergerak sampai disini. Dan sekarang, creative
industry pelan tapi pasti bergeser dari masalah toy problems ke
arah permasalahan yang lebih riil, baik untuk memberi solusi
masalah entertainment, pendidikan dan bisnis.
Majalah Business Week cukup tajam membaca trend ini. Edisi
November 2007 lalu mengupas bagaimana lulusan jurusan dan
sekolah desain ini mulai banyak dicari oleh perusahaanperusahaan besar di Amerika. Intinya, banyak perusahaan
melakukan pergeseran paradigma, dimana masalah “pengelolaan
20
demi efisiensi” yang menjadi fokus lulusan sekolah teknik dan
bisnis tidak terlalu relevan lagi. Mereka lebih memerlukan lulusan
memberi solusi “bagaimana memaksimalkan peluang”. Sekolah
desain ternyata lebih bisa membentuk generasi baru manajer yang
lebih kreatif dan inovatif, dan bahkan kadang-kadang memiliki
pemikiran cerdas yang “out of the box”. Perusahaan besar seperti
Renault, Boeing, Levi Strauss, Estee Lauder, Ford dan Steelcase
sudah membuktikan bahwa terjadi perkembangan perusahaan
yang signifikan setelah mereka mencoba merekrut SDM yang
memiliki latar belakang desain. Dari sinilah bergeseran dimulai.
Intinya adalah bagaimana menggabungkan orang teknik, orang
bisnis dan orang desain ini supaya bisa bekerjasama dan
memberikan solusi masa depan dengan lebih baik.
Royal College of Art bekerjasama dengan Tanaka Business
School dan sekolah teknik Imperial College London mulai
membuat program studi baru berhubungan dengan ini. Carnegie
Mellon University malah mencoba menggabungkan mahasiswa
desain, teknik dan bisnis dalam satu tim untuk mengerjakan
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 21
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
beberapa project. Rotman School of Management, Universitas
Toronto juga mencoba menggandengkan mahasiswa MBA dengan
mahasiswa desain dalam kelas-kelas pengembangan produk.
Richard Boyko, pemimpin program pascasarjana periklanan di
Virginia Commonwealth University meluncurkan program
pascasarjana baru bernama “manajemen merek kreatif”, yang
diharapkan menjadi MBA alternatif bagi yang tertarik menjadi
chief marketing officer atau account manager. Richard Boyko
berkomentar bahwa pebisnis adalah orang-orang yang ibaratnya
hanya berurusan dengan uang tapi mereka tidak dilatih untuk
memperhatikan konten kreatif. Institute of Design di Illinois
Institute of Technology juga menawarkan program master bisnis
dan desain baru khususnya dalam masalah manajemen lingkungan
hidup.
Bagaimana dengan Asia? Shih Chien University dan National
Cheng Kung University di Taiwan, National Institute of Design di
India, Tsinghua University di China, Hongkong Polytechnic mulai
bergerak membangun jurusan atau sekolah yang diberi nama
“manajemen kreativitas”.
Bagaimana universitas di Indonesia? Adakah yang tertarik
membuat program gabungan teknik, bisnis dan desain ini?
Biasanya universitas di Indonesia lebih memilih menjadi safety
player, wait and see dulu baru setelah booming nanti ngikut …
hehehe.
Akhir kata, paling tidak langkah yang dilakukan teman-teman
di poros barat (ITB) dan poros timur (ITS) yang mulai membangun
konsentrasi dan jurusan game technology dengan perpaduan
aspek technical dan design cukup menarik. Saya sedang
membantu teman-teman di Semarang untuk mencoba men-create
program serupa di poros tengah. Kita tunggu tanggal mainnya.
22
DKP: Sekolah Calon animator dan
Lho, kan ada mata kuliah computer graphics
di jurusan teknik informatika?
DESAINER GRAFIS
MELANJUTKAN ARTIKEL saya tentang tips dan
trik memilih jurusan komputer, banyak
mahasiswa yang cita-citanya menjadi animator
(pembuat animasi dan karakter) dan graphic
designer (desainer grafis) akhirnya harus
melongo dan menyesal karena salah masuk
ke jurusan komputer (computing). Atau akhirnya
malah DO karena memang tidak senang dengan
ilmu logika, pemrograman dan algoritma. Ya,
jurusan komputer (computing) bukanlah tempat
bagi orang yang ingin belajar lebih dalam
tentang desain grafis, animasi, ilustrasi,
periklanan, dsb. Tempat yang paling tepat
adalah di jurusan atau program studi Desain
Komunikasi Visual (DKV) atau bahasa inggrisnya
Visual Communication Design (VCD).
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 23
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Benar, hanya jangan sampai salah paham, seharusnya mata
kuliah computer graphics itu mengajarkan tentang teori, konsep
dan pengembangan algoritma computer graphics. Bukan malah
ngajari mahasiswa bagaimana menggunakan Adobe Photoshop,
Coreldraw, Gimp, Flash atau software grafis/animasi lainnya,
karena itu semua tugas orang desain komunikasi visual. Jadi
kesimpulannya, benar bahwa orang komputer-lah yang
mengembangkan berbagai teori dan algoritma computer graphics,
tapi yang memikirkan bagaimana cara membuat gambar desain
dan animasi yang baik, cantik dan berseni adalah orang desain
komunikasi visual.
Sayangnya banyak calon mahasiswa yang merasa gengsi
masuk ke jurusan DKV karena biasanya ada di bawah fakultas Seni
Rupa. Padahal sebenarnya ini bidang yang tepat untuk para calon
desainer grafis dan animator. Secara disiplin ilmu, Desain
Komunikasi Visual ini memiliki cabang ilmu diantaranya adalah:
Ilustrasi, Fotografi, Tipografi, 3 Dimensi, Multimedia, Elektronik
Media, Animasi, Periklanan, Percetakan, Penerbitan, dsb. Dan
punya irisan yang sinergis dengan bidang ilmu komunikasi, ilmu
sosial budaya, ilmu ekonomi, ilmu psikologi dan ilmu komputer.
Jangan takut bahwa nanti kalau masuk jurusan DKV terus
jadi “gaptek” komputer, justru di jurusan DKV itulah kita diajari
konsep seni, visual, ilustrasi, animasi yang semuanya menggunakan komputer sebagai alat bantunya. Mahasiswa akan tetap
ngoprek komputer, hanya yang dioprek berhubungan dengan
pengembangan produk-produk seni, desain dan grafis, termasuk
diantaranya belajar membuat animasi, desain gambar,
iklan, fotografi, dsb. Bidang Seni Rupa saat ini bukan hanya
tentang patung atau lukisan seperti yang kita bayangkan.
Pengembangan konten e-Learning seperti di bawah ini adalah
termasuk garapan orang Desain Komunikasi Visual.
24
This movie requires Flash Player 8
Jangan sampai salah jurusan hanya karena gagah-gagahan,
gengsi, ikutan teman atau alasan-alasan konyol lain. Pilih karena
memang sesuai dengan yang kita cita-citakan selama ini.
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 25
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
26
Dik Novi, kita belajar itu, baik di sekolah, di
kampus, di universitas dan di lembaga pelatihan
Dapat Apa Sih Dari
Ini termasuk juga pertanyaan yang banyak
masuk ke kotak email saya. Sudah keterima di
universitas dan mulai belajar, tapi kadang masih
tidak ngeh hakekat belajar. Lha, katanya
disuruh menimba air eh.... ilmu, nah ilmunya ini
sebenarnya apa sih?
UNIVERSITAS
“SAYA MAHASISWI semester 4 jurusan Teknik
Informatika di sebuah univesitas di Semarang.
Sudah hampir 2 tahun saya kuliah, cuman saya
kadang merasa nggak tambah pinter, kalau
tambah sibuk sih iya karena tugas dari dosen
yang kayak tsunami. Pingin dengar pendapat
mas Romi yang kabarnya waktu kuliah IPKnya
4.0 terus. Sebenarnya di kampus itu apa yang
kita dapat sih mas?” (Novi - Tembalang,
Semarang).
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 27
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
untuk meningkatkan KSTAE atau kata orang betawi PeKTeSiPeng,
waduh apaan tuh? KSTAE itu Knowledge, Skill, Technique,
Attitude, Experience alias PeKTeSiPeng (Pengetahuan,
Keterampilan, Teknik, Sikap dan Pengalaman). Ini kalau kita ambil
contoh orang belajar naik motor dan belajar di kampus, mungkin
penjelasannya seperti di bawah:
Knowledge (Pengetahuan): Kita jadi tahu bahwa di motor
ada lampu, stang kemudi, rem, gas, spion, bel. Kita juga tahu cara
bagian motor itu bekerja termasuk bagaimana menjalankannya.
Kalau kita belajar pemrograman, ya kita mengerti lah apa itu
fungsi, apa itu variable, juga apa itu object, apa itu method, dan
apa itu attribute. Kita juga diajarin banyak lagi pengetahuan,
sistem basis data, rekayasa perangkat lunak, pemrograman
berorientasi objek, software project management, dan
sebagainya. Pokoknya yang selama ini bikin pusing itulah
knowledge. Lho kenapa bikin pusing? Soalnya kampus kadang
tidak berimang dalam memberikan knowledge dan keterampilan,
alias banyak teori daripada praktek.
28
Skill (Keterampilan): Kita mengerti cara menghidupkan
motor. Supaya motor maju harus masukan gigi ke satu dan tekan
gas. Kecepatan mulai tinggi masukin ke gigi dua, kalau ada
halangan di depan injek rem. Kalau mau belok tekan lampu sen.
Di kampus, tugas mandiri, misalnya disuruh buat kalkulator atau
program deteksi bilangan prima di mata kuliah OOP itu semua
untuk melatih keterampilan. Semakin banyak tugas, harusnya
makin terampil, cuma kalau menyontek, ya makin bego aja
mahasiswa. Usahakan untuk mengerjakan sendiri tugas, karena
tujuannya untuk melatih keterampilan kita, sayang masa depan
kita kalau kita sering nyontek dalam tugas mandiri. Nah, IPK itu
hanya untuk mengukur mahasiswa di level knowledge dan skill.
Jadi peran IPK sebenarnya hanya sampai di sini.
Technique (Teknik): Ternyata keterampilan saja tidak cukup,
karena kita perlu menguasai teknik misalnya supaya motor
kecepatan tinggi tidak ngepot. Kita ngeremnya harus dari jauh
dan pakai rem tangan plus rem kaki berbarengan. Mau belok juga
harus ambil ancang-ancang, kecepatan diturunkan, baru belok.
Nah kalau di kampus, karena mata kuliah banyak dan di setiap
mata kuliah ada tugas coding, keterampilan bahasa Java kita jadi
meningkat. Kita bisa bahasa “Java kromo inggil”, ngoko, eh….
bukan maksud saya kita jadi punya banyak teknik supaya program
kita lebih rapi, program kita lebih cepat terwujud, punya teknik
untuk bisa reuse code, coding jalan terus walaupun pakai notepad
atau emacs, dan sebagainya.
Attitude (Sikap): Wah ternyata pengetahuan, keterampilan,
teknik saja belum cukup membuat kita bisa survive di dunia. Kita
perlu sikap yang baik dalam mengendarai motor. Lampu lalu lintas
itu kalau merah berhenti, jangan nyelonong saja. Kalau nyalip
orang juga jangan dari kiri. Hormati pengendara lain, dahulukan
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 29
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
perempuan atau yang membawa anak-anak. Jangan asal ngebut
di kampung orang, kalau nggak mau benjol tuh kepala. Sikap ini
kalau di kampus, ya kalau jadi programmer jangan terus buat virus,
atau merusak sistem orang, atau malah maling code orang. Nah,
ini semua adalah sikap. Kampus yang hanya mengajari orang untuk
punya pengetahuan, teknik dan keterampilan tanpa
memperhatikan attitude (sikap) artinya mendidik orang pinter tapi
sesat di jalan.
Experience (Pengalaman): Pengalaman ini seperti jam
terbang. Hanya bisa kita dapatkan kalau kita pernah mengalami
kejadian dan pengalaman. Contohnya, karena sering bolak-balik
ke Puncak untuk jualan pisang, kita jadi mengerti sekali
memainkan gigi supaya mesin tidak rontok meskipun naik gunung
terjal dan macet. Contoh lain, karena rumah sering kebanjiran,
kita jadi mengerti sekali kira-kira banjir berapa senti yang bikin
motor kita tidak bisa jalan. Bagaimana kalau jatuh, sebaiknya
posisi tubuh seperti apa yang membuat luka tidak parah. Semua
kita dapatkan dari pengalaman. Pengalaman itu mahal, ya pasti
karena kadang ada harga yang harus dibayar. Terus kalau di
kampus, pengalaman kan tidak ada? Hmm, pengalaman itu tetap
ada, kita KKN, magang, kerja paruh waktu, mengerjakan TA itu
adalah supaya punya pengalaman. Banyak membuat project
(software) yang bisa dijual, mulai belajar jualan, melatih jiwa
entrepreneurship adalah keharusan untuk bekal hidup di dunia IT
yang ganas dan kejam.
Untuk adik-adikku mahasiswa dan mahasiswi di manapun
berada, jangan cepat menyerah, nikmati pahit dan manis
kehidupan kampus, jalani penuh dengan rasa tanggung jawab.
Orang tua kita dan juga negeri ini menanti karya kita semua.
30
Mahasiswa Yang T idak Sadar Akan
Ketidakmampuannya (Unconsciously
Incompetent)
Empat Jenis
1.
MAHASISWA
PADA SAAT menjadi mahasiswa baik di program
S1, S2 maupun S3 di Jepang, saya mengalami
berbagai proses pembelajaran yang kadang
bikin geli kalau mengingatnya sekarang. Proses
belajar ternyata membuat jenis dan karakter
saya berubah-ubah. Kadang saya tidak sadar
dengan ketidak-mampuan saya, tapi kemudian
kenya-taan menyadarkan saya bahwa saya tidak
mampu, dan akhirnya setelah saya belajar keras
saya jadi sadar apa saja kemampuan saya. Di
sisi lain agak sedikit berbahaya ketika saya tidak
sadar dengan kemampuan saya. Jadi kayak
bunglon dong? Hmm lebih tepatnya bunglon
darat. Terus saat ini anda termasuk jenis
mahasiswa yang mana? Mari kita lihat bersama.
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 31
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Tahun 1994, kehidupan saya di Jepang di mulai. Saya beserta
14 orang yang lain sekolah bahasa Jepang di Shinjuku, nama
sekolahnya Kokusai Gakuyukai. 1 tahun belajar bahasa Jepang,
kita berhasil menghapal sekitar 1000 kanji. Kemampuan bahasa
Jepang level 1 menurut Japanese Language Proficiency Test alias
Nihongo Noryoku Shiken. Kebetulan karena saya senang
nggombalin orang ngomong, percakapan bahasa Jepang saya
cukup terasah (pera-pera). Di Kokusai Gakuyukai, kita juga diajari
pelajaran dasar untuk matematika, fisika dan kimia. Ini juga tidak
masalah. Kurikulum Indonesia yang padat merayap plus rumusrumus cepat ala bimbel, membuat soal-soal jadi relatif mudah
dikerjakan. Karena saya newbie di dunia komputer, padahal harus
masuk jurusan ilmu komputer, saya beli komputer murah untuk
saya oprek. Newbie? yah bener, saya gaptek (gagap Iptek)
komputer waktu itu. Saya kerja keras, saya bongkar PC, saya copoti
card-card-nya karena ingin tahu, sampai akhirnya rusak. Terus
nyoba mulai install Windows 3.1. Lebih dari 3 bulan, tiap malam
saya keloni terus itu komputer, jadi lumayan mahir lah. Tahun
1995, masuk ke Saitama University dengan sangat PD dan
semangat membara. Nah, pada tahap ini saya sebenarnya masuk
ke jenis mahasiswa yang tidak sadar akan ketidakmampuannya.
Saya kira semua sesuai dengan yang dibayangkan dan diangankan,
ternyata tidak.
2.
Mahasiswa yang Sadar akan Ketidakmampuannya
(Consciously Incompetent)
Masuk kampus, ternyata bekal kanji seribu huruf tidak cukup.
Seribu kanji itu level anak SD atau SMP di Jepang. Saya perlu lebih
dari 30 menit untuk membaca satu halaman buku teks pelajaran,
padahal orang Jepang hanya perlu 2 sampai 3 menit. Kemahiran
percakapan juga tidak banyak menolong karena mahasiswa
Jepang membentuk grup-grup. Saya satu-satunya mahasiswa asing
32
di jurusan, tidak kebagian teman, meskipun sudah kerja keras
tegur sapa, mengajak kenalan, menanyakan jam, menanyakan
mata pelajaran, dan sebagainya. Matematika, fisika, dan kimia
sebenarnya mudah, hanya masalahnya karena kanji terbatas,
kadang saya tidak mengerti yang ditanyakan apa. Jadi kadang saya
kerjasama dengan mahasiswa Jepang disamping saya, dia
mengerti apa yang ditanyakan, tapi tidak bisa mengerjakan.
Sebaliknya saya tidak menrti yang ditanyakan, tapi sebenarnya
bisa mengerjakan … hehehe. Untuk praktek di lab komputer
ternyata semua pakai terminal Unix (Sun), sama sekali tidak ada
mesin yang jalan under (Microsoft) Windows. Yang pasti, harus
sering memainkan command line di shell, untuk mengedit file
hanya bisa memakai emacs, browsing hanya bisa memakai mosaic,
laporan harus pakai latex, buat program harus pakai bahasa C
atau perl (CGI) untuk yang berbasis web. Kenyataan membuat saya
sadar akan ketidakmampuan saya.
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 33
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
3.
Mahasiswa yang Sadar akan Kemampuannya (Consciously
Competence)
Karena sadar bahwa banyak hal yang ternyata saya belum mampu,
yang saya lakukan adalah belajar keras. Saya kurangi tidur, saya
perbanyak baca, perbanyak beli buku, beli kamus elektronik, banyak
diskusi dengan teman-teman mahasiswa Jepang. Saya mulai banyak
bermain-main dengan Linux dan FreeBSD di rumah untuk
kompatibilitas dengan tugas kampus. Nyambung internet dengan
dial-up, mulai belajar mengelola server, mulai membuat program
kecil-kecilan dengan bahasa C dan Perl. Banyak bekerja paruh
waktu, mulai dari menyuci piring, interpreter, code tester dan
programmer. Saya mulai aktif di dunia kemahasiswaan, baik di
dalam kampus maupun di luar kampus, termasuk ikut mengurusi
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Jepang sampai pernah terpilih
jadi ketua umumnya. Pengetahuan (knowledge) dan keterampilan
(skill) di kampus terasah, pengalaman dan manajemen
keorganisasian juga terasah. Alhamdulillah saya mulai memiliki
banyak teman Jepang, kadang makan bareng, main bareng atau
ngoprek komputer bareng di asrama mereka. Untuk
menambah ilmu kadigdayaan (sebenarnya sih untuk
keperluan kerja paruh waktu), saya menambah peliharaan
komputer di apartemen dengan Apple Macintosh dan beberapa
Unix machine.
Tahun pertama dan kedua dilewati dengan baik, nilai lumayan
dengan nuansa penuh kegembiraan. Saya berusaha semaksimal
mungkin “menjual” kemampuan saya, baik dalam bentuk jasa alias
sebagai interpeter, lecturer, programmer, software engineer,
maupun dalam kemasan produk software yang saya buat (sistem
informasi rumah sakit, sistem informasi periklanan, web
application, network management system, dsb.). Alhamdulillah
34
saya sudah bisa mandiri dan mendapat banyak pengalaman dan
keuntungan finansial mulai tahun ketiga kehidupan saya di Jepang,
sehingga akhirnya saya putuskan menikah “dini” supaya
lebih tenang, aman dan sehat. Nah pada masa ini jenis saya adalah
semakin sadar akan kemampuan saya.
4.
Mahasiswa yang Tidak Sadar akan Kemampuannya (Unconsciously Competence)
Saya banyak mengejar kredit di tahun 1 dan 2, dengan harapan
bisa loncat tingkat (tobikyu), meskipun saya kemudian tidak minat
lagi karena ternyata di Jepang kalau kita loncat langsung ke
program Master (S2), ijazah S1 tidak diberikan oleh
Universitas. Resiko besar kalau saya balik Indonesia tanpa ijazah
S1, urusan birokrasi pemerintahan (PNS) akan merepotkan,
apalagi kalau nanti menyalonkan diri jadi walikota Semarang, bisa
kena pasal ijazah palsu … hehehe. Akhirnya tingkat 3 kuliah banyak
kosong (sudah terambil di tingkat sebelumnya). Part-time juga
saya lebih selektif, hanya di bidang garapan saya saja, yang bisa
kerja remote dan lebih bebas waktunya. Tidak ada lagi tempat
untuk kerja kasar mencuci piring atau angkat karung. Saya terpaksa
ambil mata kuliah jurusan lain untuk menjaga ritme kampus.
Meskipun kadang ditolak profesor pengajar, karena saya
mengambil mata kuliah semacam combustion, teknologi
pendidikan, sistem tata kota, dan sebagainya yang tidak ada
hubungan dengan computer science. Akhirnya karena keasyikan
mengambil kredit, tidak sadar sampai kelebihan kredit. Total
terambil 170 kredit, padahal syarat lulus S1 hanya 118 kredit.
Sehari hampir 18 jam di depan komputer, kecuali tidur sekitar
enam jam, tugas kampus juga saya kerjakan dengan baik. Akhirnya
masuklah saya ke masa, “tidak mengerti lagi mau ngapain di
Internet”. Saya mulai suka iseng dan banyak aktif di dunia
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 35
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
underground dengan berbagai nama samaran. Saya kadang
membuat program looping tanpa stop untuk membangunin admin
kampus, alias men-down-kan server karena overload CPU dan
memori. Kadang nge-brute force account teman untuk ambil
password-nya, sehingga bisa baca email-email cintanya. Sampai
akhirnya saya pernah kena skorsing tiga bulan karena nge-crack
account profesor-profesor di kampus. Nah di masa ini, saya
berubah jenis sebagai mahasiswa yang tidak sadar bahwa punya
kemampuan untuk berbuat negatif dan merusak kestabilan
kampus.
Di sisi lain, saya banyak mendapatkan knowledge di
Universitas, formal language dan automata, software project
management, software metrics, requirement engineering, dan
sebaginya yang pada saatnya nanti tidak tahu mau dipakai
dimana. Tapi ternyata semua itu bekal yang cukup berguna ketika
harus masuk ke dunia industri dan menggarap proyek-proyek yang
lebih riil. Kondisi seperti ini juga termasuk dalam posisi yang tidak
sadar akan kemampuannya.
Bagaimanapun juga mahasiswa sebaiknya di arahkan untuk
menjadi jenis ke-3, yang sadar akan kemampuannya dan
menggunakan kemampuannya untuk hal-hal positif. Kalaupun ada
mahasiswa yang dengan skill-nya terjebak tindakan
negatif, pembimbing ataupun dosen juga harus bijak mensikapi.
Bagaimanapun juga ini semua adalah proses belajar dan proses
pematangan diri. Sebagai tambahan, empat hal diatas
diformulasikan orang dan terkenal dengan nama teori Experiential
Learning. Lalu anda termasuk yang mana? Silakan dijawab sendiri.
Yang paling penting, apapun jenis anda, jangan pernah
menyerah dan tetap dalam perdjoeangan!
36
Bagaimana Mahasiswa
BELAJAR
SEPULANG DARI studi di Jepang tahun 2004,
saya banyak mengajar di beberapa Universitas
di Jakarta, terutama di fakultas atau jurusan yang
berhubungan dengan ilmu komputer dan teknik
informatika. Saya mengajar mata kuliah yang
memang saya kuasai, dan terkait langsung
dengan tema penelitian saya. Diantaranya
adalah mata kuliah Software Engineering
(Rekayasa Perangkat Lunak), Algoritma dan
Bahasa Pemrograman (Algorithm and
Programming Language), dan Basis Data
(Database). Kebanyakan mata kuliah tersebut
diajarkan setelah semester 5 (tingkat 3 atau 4).
Dalam interaksi belajar mengajar di kelas, saya
menemukan beberapa fenomena menarik
berhubungan pengetahuan mahasiswa dan
kurikulum yang diajarkan di universitas.
Saya menemukan tipe mahasiswa yang ketika
saya terangkan dia kesulitan menangkap beberapa
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 37
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
konsep yang seharusnya sudah dia dapat di semester sebelumnya.
Katanya, itu tidak diajarkan di universitas tersebut. Fenomena ini
terjadi dalam universitas yang memotong (mengubah) beberapa
kurikulum yang seharusnya diajarkan, karena tidak ada SDM pengajar
(dosen). Di lain pihak, saya menemukan fenomena lain dimana
mahasiswa mengatakan bahwa dia mengenal beberapa konsep yang
saya singgung, hanya dia lupa mata kuliah yang mengajarkannya.
Fenomena ini terjadi di universitas yang mencekoki mahasiswanya
dengan mata kuliah berlebih, dengan argumentasi bahwa supaya
mahasiswa mendapat pengetahuan secara lengkap. Sering dosen
mengajar bukan pada bidang yang dikuasai, hal itu terpaksa dilakukan
oleh universitas untuk mengejar mata kuliah yang harus jalan. Duaduanya ternyata membuat mahasiswa jadi linglung, yang satu linglung
karena memang tidak pernah diajarkan, dan yang lain linglung karena
terlalu banyak yang diajarkan. Intinya sih kedua-duanya sama-sama
tidak mengerti.
Fenomena aneh lain tentunya masih banyak, misalnya
mahasiswa tingkat 3 jurusan teknik informatika (atau ilmu
komputer) yang tidak kenal siapa Dennis Ritchie, tidak bisa
membuat program meskipun hanya untuk sebuah fungsi untuk
memunculkan Hello World (apalagi mengkompilenya), tidak
paham tentang paradigma pemrograman, juga tidak paham apa
itu kompiler, shell, pointer, fungsi, array, dan tentu semakin mualmual kalau saya sebut algoritma atau struktur data.
Bagaimana seorang mahasiswa Ilmu Komputer belajar? Saya
mencoba memberi gambaran umum dengan mengambil studi
kasus bagaimana jurusan ilmu komputer di Saitama University
mengatur kurikulumnya. Saitama University bukan termasuk
universitas yang terbaik untuk ilmu komputer, umurnya masih
sangat muda dengan SDM pengajar (professor) yang juga terbatas,
bahkan beberapa profesor diambil dari jurusan elektro untuk
38
beberapa mata kuliah tertentu. Ini tidak mengurangi keseriusan
universitas untuk menyajikan pendidikan dan kurikulum terbaik
untuk mahasiswa-mahasiswanya.
Saya mulai program undergraduate (S1) di Department of
Information and Computer Sciences, Saitama Univesity tahun
1995. Tingkat I (semester 1 dan 2), mata kuliah dasar (kiso
kamoku) sangat dominan. Kalkulus, statistik, probabilitas, fisika
dasar, kimia dasar, discrete mathematics, dan mata kuliah dasar
lain banyak diajarkan. Semester 2 sudah ada beberapa mata kuliah
jurusan (senmon kamoku) yang diajarkan, diantaranya adalah
bahasa pemrograman, bahasa C (prosedural), HTML, dengan
praktek lab untuk mengenal Unix, shell, text editor (emacs), laTeX
(TeX), gnuplot, kompiler, teknik typing 10 jari, dsb. Pada saat masuk
tingkat II (semester 3), saya menyadari bahwa mata kuliah tingkat
I membekali saya dengan beberapa tool dan konsep dasar,
sehingga saya bisa survive mengikuti proses belajar mengajar di
tingkat selanjutnya. Lab komputer hanya berisi Unix terminal.
Seluruh laporan dan tugas harus ditulis dengan laTeX dengan text
editor emacs, apabila memerlukan bahasa pemrograman harus
dibuat dalam bahasa C dan dikompilasi dengan GCC. Apabila ada
data yang harus ditampilkan dalam bentuk grafik, bisa
menggunakan Gnuplot. Setiap mahasiswa harus mempunyai situs
web (homepage), dimana selain berisi aktivitas pribadi, juga berisi
seluruh laporan dan tugas yang dikerjakan. Selain lewat situs web,
laporan harus dikirim dengan menggunakan email ke profesor
pengajar, dalam format PS atau PDF dengan source dari laTeX.
Yang menarik, bahwa gaya pendidikan yang ditempuh
menganut konsep korelasi, berhubungan, saling mendukung dan
terarah dari semester satu sampai akhir. Skill terhadap komputer
dan bahasa pemrograman juga cukup dalam, karena ada
kewajiban menguasai bahasa C, HTML, Unix, Linux, Shell, dsb yang
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 39
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
bukan untuk ritualitas mata kuliah semata, tapi untuk bekal sang
mahasiswa supaya bisa survive di jenjang semester berikutnya.
Apakah tidak diajarkan paradigma dan bahasa pemrograman lain?
Jawabannya adalah diajarkan, tetapi untuk konsumsi mahasiswa
tingkat 3 (semester 5 dan 6). Pemrograman berorientasi objek
(Java), functional programming (LISP dan Scheme), dan Prolog
diajarkan pada semester 5 dan 6 untuk membidik supaya sang
murid “nyantol” ketika mengikuti mata kuliah Kecerdasan Buatan
(Artificial Intelligence) dan Rekayasa Perangkat Lunak (Software
Engineering). Dan dengan sebelumnya menguasai bahasa
prosedural seperti C, kita semakin “ngeh” tentang pentingnya
paradigma berorientasi objek ketika mendalami mata kuliah
tentang pemrograman berorientasi objek.
Korelasi mata kuliah ini nampak juga dari deretan gaya
pengajaran, setelah mahir berbahasa C, kita diminta ngoprek
Minix yang terbuat dari bahasa C (sistem operasi buatan Andrew
S. Tanenbaum, yang menginspirasi Linus Torvald membuat Linux)
pada mata kuliah Operating System (Sistem Operasi), membuat
sendiri shell (dengan fungsi yang mendekati bash dan shell) di
atas sistem operasi yang sudah kita oprek, dan diminta mendesain
dan mengembangkan bahasa pemrograman sendiri di mata kuliah
Compiler Engineering (teknik kompilasi). Berurutan, berhubungan, tetap fokus dan mendalam, itu mungkin resep desain
kurikulum yang diajarkan.
Pada saat tingkat 2 dan 3 itulah sang mahasiswa diarahkan
untuk menuju arah kompetensi sesuai dengan yang diinginkan. Dan
yang pasti, hampir seluruh mahasiswa mendapatkan “bekal” dan
“skill” yang relatif sepadan untuk bergerak. Mahasiswa yang ingin
melanjutkan karier menjadi seorang Programmer, disiapkan mata
kuliah Struktur Data, Algorithm, Programming Language, Compiler
Engineering, Automaton dan Formal Language. Yang ingin jadi
40
Software Engineer, harus fokus mengikuti mata kuliah Software
Engineering, Industrial Software Engineering, System Development
Engineering, Software Project Management, dsb. Yang ingin
berkarier di perusahaan animasi dan grafis, harus serius mengikuti
mata kuliah Computer Graphics, Image Processing, CAD Enginering,
Pattern Recognition, dsb. Yang siap bergelut di perusahaan
Telekomunikasi, harus melahap mata kuliah Information Theory,
Communication System, Signal Processing, Speech Processing, dsb.
Yang ingin ke arah Hardware, harus menguasai mata kuliah
Electronic Circuits, Electronic Devices, Computer Architecture,
Quantum Mechanics, Logic Circuits, dsb. Bagaimana dengan yang
tertarik dengan Kecerdasan Buatan? harus mau berpusing-pusing
ria di mata kuliah Artificial Intelligence, Expert System, Knowledge
Engineering, Neural Network, dsb.
Rencana pengembangan karier ini semakin matang dan
tertata ketika masuk ke tingkat 4, seluruh mahasiswa harus
menjalani 1 tahun terakhir di grup penelitian yang dipimpin oleh
seorang profesor. Penelitian dan thesis (tugas akhir) sifatnya wajib
dilakukan, untuk memperdalam dan memahami implementasi riil
dari bidang ilmu peminatan yang direncanakan dan dicita-citakan
sang mahasiswa. Apa itu bidang ilmu peminatan? Ya bidang yang
sudah saya sebut diatas tadi. Programming, Software Engineering,
Communication System, Computer Graphics, Artificial Intelligence,
Computer Hardware, Networking, dsb. Masing-masing professor
dengan grup penelitian biasanya fokus di satu atau dua bidang
ilmu peminatan, termasuk didalamnya penelitian yang dilakukan
dan mata kuliah yang diajar. Tidak ada seorang professor Software
Engineering yang mendapat jatah mengajar mata kuliah Computer
Graphics, karena memang bukan bidangnya. Kalaupun bisa
memberikan, tentu tidak menguasai the root problem (akar
permasalahan) yang ada di bidang tersebut, ini yang membuat
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 41
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
mata kuliah jadi hambar, tidak mendalam dan mahasiswa jadi
bingung memahami apa hakekat dari mata kuliah tersebut.
Jadi masing-masing mata kuliah ada arah, ada desain yang ingin
dicapai, dan ini yang dijelaskan di awal perkuliahan. Tidak ada
kegiatan OSPEK yang berisi penyiksaan dan penghinaan, tidak ada
hura-hura pesta masuk perguruan tinggi, yang ada adalah
penjelasan tentang kurikulum secara komprehensif. Sang
mahasiswa ingin menjadi apa, tertarik di bidang apa, itu yang dibidik
dan diarahkan oleh universitas dengan penjelasan desain kurikulum
beserta dengan mata kuliah apa yang sebaiknya diambil oleh sang
mahasiswa. Jumlah kredit untuk syarat kelulusan S1 juga tidak
sepadat Indonesia, hanya sekitar 118, sudah termasuk didalamnya
penelitian dan tugas akhir yang dihitung sekitar 10-12 kredit. Jadi
total kredit dari mata kuliah hanya sekitar 106. Kelonggaran waktu
yang ada dapat kita gunakan untuk kerja part-time di perusahaanperusahaan IT, mengasah kemampuan jadi programer, network
engineer, admin, software designer, dsb. Mahasiswa mendapatkan
konsep di kelas, dan mematangkan diri di lapangan, tempat kita
menggarap proyek maupun tempat kerja. Itu adalah strategi
penting dalam mengkader para computer scientist.
Universitas di Indonesia yang membuka fakultas/jurusan Ilmu
Komputer dan Teknik Informatika harus berbenah. Tidak hanya
berambisi mengejar jumlah murid karena konsep aji mumpung
(mumpung TI sedang booming, terima mahasiswa sebanyak
banyaknya), tapi juga harus bertanggungjawab terhadap figur dan
karakter hasil didikan dan lulusan universitasnya. Untuk para calon
mahasiswa, pilihlah Universitas yang memiliki kurikulum dan
dosen pengajar yang baik. Jangan memilih jurusan karena trend,
ikut-ikutan teman, atau alasan tidak logis lainnya. Pilihlah karena
memang kita berminat untuk berkarier di bidang tersebut.
42
Kiat Meningkatkan
Haaareee geenee IPK masih rendah? Untuk
siswa atau mahasiswa yang bermasalah dengan
nilai raport dan IPK, sepertinya perlu mengikuti
kiat yang selama ini saya lakukan. Kiat yang saya
lakukan adalah best practice, terbukti bin
manjur bisa meraup dolar eh… maksud saya
nilai yang memuaskan, sudah saya buktikan
sejak saya bersekolah di SMA dan 10 tahun di
jurusan computer science di Saitama University.
Kiatnya pasti banyak ya? Oh tidak, justru sangat
sedikit, cuma ada dua. Kiatnya pasti nyontek
ulangan atau copy paste tugas mandiri? Tidak
sama sekali. Kiat saya halal dan toyib, jauh dari
unsur kemaksiatan dan perbuatan tidak terpuji
lain. Tertarik? Ikuti terus artikel ini.
NILAI IPK
MAS ROMI, bagaimana ya teknik meningkatkan
nilai IPK saya. Selama ini nilai IPK saya di bawah
3 terus nih. Tolong saya mas. (Nanang, Padang)
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 43
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Nah kiat mendapatkan nilai raport dan IPK tinggi itu hanya
ada dua:
1.
Kejar nilai untuk mata pelajaran atau mata kuliah yang secara
umum tidak terlalu disenangi siswa/mahasiswa. Apa itu? Oh
banyak, contohnya geografi, agama, kesenian, dsb. atau
untuk yang kuliah di jurusan computing, ada fisika dasar,
teknik kompilasi, automaton/formal language, dsb. Lakukan
survey kecil-kecilan ke temen seangkatan atau kakak
angkatan, saya yakin banyak sekali mata kuliah yang tidak
digemari mahasiswa. Intinya di mata kuliah yang diemohi
mahasiswa itu, mereka biasanya down nilainya. Nah ini dia
kesempatan kita, di saat nilai mereka “pasti rendah”, kita
berdjoeang untuk nilai “pasti tinggi” … hehehe. Nah hasil
dari tahap satu yaitu kalau ada IPK khusus untuk “mata kuliah
tidak populer” kita pasti nomor satu.
2.
Sudah mantab dengan langkah satu? Langkah dua adalah
jangan berhenti, lanjutkan mengejar nilai untuk mata
pelajaran atau mata kuliah yang secara umum disenangi
siswa/mahasiswa … hehehe. Belajar keras, kerjakan semua
tugas, kalau perlu kejar terus dosen kalau ada yang masih
tidak mengerti di mata kuliah “populer” itu. Kalaupun kita
tidak bisa mendapatkan nilai sempurna alias sedang-sedang
saja ya tidak apa-apa, asal sudah berusaha. Yang pasti karena
IPK adalah nilai kumulatif dari mata kuliah “tidak populer”
dan “populer”, total nilai kita akan tetap tinggi tho. Lha, kan
kita sudah jadi the first rank untuk mata kuliah “tidak
populer” … hihihi.
Akhir semester silakan dilihat nilai IPK atau raportnya, saya
yakin nilai anda akan meningkat. Kalau masih belum naik,
lanjutkan tahap 1 dan 2 di semester berikutnya. Kalaupun sampai
44
akhir kuliah tidak naik-naik juga, ya apa boleh buat, memang level
kekuatan anda seperti itu. Mungkin anda kurang berdoa, kurang
sholat malam atau kurang puasa Senin-Kamis, sehingga ridha dan
“lucky” dari yang Diatas tidak menyertai anda. Tapi jangan
khawatir, IPK bukan segalanya, masih banyak cara lain dan perlu
juga dicatat banyak orang sukses yang IPKnya hancur kok. Untuk
yang sudah ber-IPK bagus, jangan cepat puas apalagi sombong
dan takabur, karena faktor-faktor itulah yang membuat orang
seperti anda tidak sukses ketika masuk ke dunia kerja.
Terakhir, sekali lagi, IPK tidak penting karena hanya masalah
dasar saja. Makanya, kalau IPK yang dasar saja sudah jatuh duluan,
bagaimana yang lain … hehehe.
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 45
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
46
Tiga Kiat Jitu
Pertanyaan yang sangat sering muncul
kepada saya. Yang pasti, sehari tidak akan bisa
kita perpanjang supaya lebih dari 24 jam. Kuliah
beserta tugas-tugasnya ataupun pekerjaan
beserta lembur-lemburnya tentu juga sudah
memakan waktu tersendiri. Benar ungkapan
seorang pemikir besar Islam bernama Hasan Al
Banna bahwa, “Kewajiban kita lebih banyak
daripada waktu yang tersedia”. Supaya saya bisa
tetap produktif diantara kesibukan pekerjaan,
belajar dan urusan rumah tangga yang sudah
menjadi kewajiban kita, saya memilki tiga kiat
jitu untuk mengatur waktu. Alhamdulillah
selama ini terbukti efektif dan manjur ketika
saya terapkan. Nah apa sih tiga kiat jitu itu?
MENGATUR WAKTU
KALO BOLEH tahu, mas Romi sehari tidur berapa
jam ya? Meski jadwal padat koq masih bisa
produktif nulis di blog, ngajar di sana sini gitu
(Guntur)
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 47
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Tiga kiat jitu mengatur waktu itu adalah:
1.
2.
3.
Kurangi tidur
Kurangi tidur
Kurangi tidur
Sejak masuk SMA Taruna Nusantara tahun 1990, saya
membiasakan diri untuk hanya 3 sampai 4 jam tidur dalam sehari.
Waduh pusing dong? Ya awalnya pusing dan sering tidur di kelas.
Tapi setelah itu terbiasa, yang pasti terbiasa pusing dan tidur di kelas
… hehehe … Masuk kuliah di Jepang, kebiasaan itu masih saya bawa,
dan sekali lagi alhamdulillah ini bisa mengejar banyak ketertinggalan
masalah bahasa dan mengatasi berbagai masalah lain. Rasulullah SAW
juga tidak terlalu banyak tidur, tapi beliau masih bisa menjadi
pedagang, pendakwah dan kepala pemerintahan yang sangat baik
dan handal. Beliau bahkan tetap menjadi panglima perang, mengikuti
dan memenangkan berbagai peperangan yang dilakukan bersama
sahabat-sahabatnya. Malu kita dengan beliau, tidur sering lebih dari
8 jam, jangankan ikut perang, di kelaspun masih sering tertidur, kena
angin atau hujan sedikit langsung demam plus pilek, dan bahkan
membantu tetangga mengejar ayamnya yang lepas juga tidak bisa.
Generasi muda, hayo jangan kayak gini!
Nah, setelah mempunyai modal banyak waktu, sekarang
tinggal mengatur jadwal supaya bisa memanfaatkan dan
mengalokasikan berbagai kegiatan dengan baik. Saya sendiri, pagi
sampai sore untuk urusan bisnis, mengajar dan penelitian. Mulai
sore hari saya buat jadwal untuk menulis, mempersiapkan bahan
mengajar atau ngajari teman-teman IlmuKomputer.Com supaya
mahir melakukan presentasi, mengajar di kelas dan public
speaking. Di sela-sela waktu, saya masih bisa membimbing tugas
akhir mahasiswa, menerima curhat konsultasi mahasiswa lewat
YM (Yahoo Masanger), dari masalah memilih jurusan, memilih
48
universitas, memilih software sampai kadang memilih jodoh.
Kadang untuk refreshing sambil menunggu download file, saya
menerima tantangan om Yadi, om Slamet atau om Udin untuk
bermain FIFA 2008 atau WE. Sayangnya, sampai saat ini gocekan
Messi dan Henry plus freekick Ronaldinho lewat jempol saya masih
terlalu tangguh untuk mereka. Hoi om-om sekalian, sekali-sekali
beri saya kekalahan dong, belajarlah dari kekalahan! … hehehe
Terus karena saya hidup di Jakarta yang jalanan selalu macet
oleh kendaraan, supaya tidak tua di jalan saya sedikit ubah style
waktu kerja. Saya berangkat agak siang setelah jalanan mulai cair,
dan pulang agak malam ketika lalu lintas sepi. Hidup di Jakarta
lebih nikmat dan terasa bermakna … hehehe
Ketika dalam perjalanan “keluyuran ilmiah”, saya manfaatkan
waktu idle sebelum naik panggung atau ketika nongkrong di
executive lounge bandara sambil menunggu delay pesawat untuk
ngikuti berita, browsing, blogwalking, baca e-book atau menulis
kalau lagi dapat ide.
Saya pernah baca dari jurnal di bidang kesehatan, ngurangi tidur
itu akan ngurangi usia kita. Wah ini gimana dong mas? (Nia,
Depok)
Ya, mungkin benar dan mari kita asumsikan bahwa penelitian
itu benar. Saya sendiri berprinsip bahwa tidak masalah mati muda
asal meninggalkan banyak karya dan hasil perdjoeangan yang
bermanfaat untuk masyarakat. Daripada berumur panjang tapi
banyak melakukan kegiatan yang tidak berguna. Lha, kalau umur
sampai 80 tahun tapi cuman jadi tanggungan orang, tidak bisa
membuka lapangan kerja baru, tidak mau share knowledge ke
teman-teman yang lain, pinter dipakai sendiri, kaya dipakai sendiri,
habis itu ternyata hasil korupsi, kelihatan pinter juga ternyata karena
suka copy paste alias plagiat, kok menurut saya tidak terlalu berarti
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 49
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
ya hidup itu. Target umur pendek selalu saya sampaikan ke temanteman aktivis IlmuKomputer.Com, meskipun masih banyak yang
belum ngeh atau malah ngacir ketakutan. Saya sendiri yakin tidak
akan lama hidup, diberi sampai 35 tahun alhamdulillah, kalaupun
ditakdirkan sampai 40 atau 50 tahun ya berarti saya anggap ini suatu
tantangan dari Yang Diatas untuk lebih keras berdjoeang mewarnai
perbaikan di republik ini. Saya sejak SMA sekolah dibiayai oleh
rakyat. Karena bisa pinternya karena dibiayai oleh rakyat jadi ya
harus saya cicil pelan-pelan untuk mengembalikan kepada rakyat.
Terus diantara kesibukan, gimana mengelola waktu untuk
keluarga mas? (Budi, Malang)
Orang bijak mengatakan, “Di samping orang besar, ada
perempuan besar yang mendukungnya”. Artinya karena saya
banyak makan, jadi istri saya mengikuti pola makan saya, sehinggu
ikutan gemuk alias sama-sama jadi orang besar hehe. Aktivitas
saya alhamdulillah didukung penuh oleh istri saya yang sudah
setia menemani saya ikut “perang Badar” menempuh kehidupan
di Jepang. Kalaupun “kuantitas” pertemuan dengan istri dan anak
berkurang, sebenarnya tidak menjadi masalah asal “kualitas”
pertemuannya ditingkatkan. Karena hari Sabtu dan Minggu
kadang saya harus “keluyuran ilmiah” ke luar kota, hari kerja sering
saya pakai untuk mengantar lima prajurit saya jalan-jalan ke Dufan,
Kebun Raya Bogor, Taman Safari, dsb. Pergi ke Kebun Raya Bogor
di hari kerja nikmat lho, mobil bisa masuk dan kita bisa eksplorasi
seluruh lokasi kebun raya sampai puas.
Bagi saya kehidupan adalah ladang jihad alias usaha sungguhsungguh, ini sering saya bahasakan dengan “perdjoeangan”.
Waktu tidak banyak, karena sekali lagi, “Kewajiban kita lebih
banyak daripada waktu yang tersedia”. Jadi, mudah-mudahan kita
semua tetap dalam perdjoeangan!
50
Bangun tidur, berdiri di depan kaca,
ucapkan bahwa Andalah yang terbaik di
Tips Menjadi
1.
MAHASISWA SUKSES
ANDA MAHASISWA yang luntang-luntung kurang
kerjaan? Sudah mulai mual mendengarkan kuliah
pak dosen? Mulai bete dengan suasana koskosan? Apalagi teman dekat sudah mulai pindah
kos karena tidak tahan Anda utangin terus
hehehe.Iingin teriak sekeras-kerasnya tapi takut
ditimpukin tetangga? Atau dahulu punya mimpi
pingin ikut membangun republik tercinta, tapi
jangankan itu, membangun diri sendiri
saja susah. Apa salah jurusan yah? Padahal
sudah baca-baca tulisan “Tips dan Trik Memilih
Jurusan”. Bingung karena tidak mendapatkan
apa-apa dari universitas. Jadi makin terseok-seok
dan tanpa ruh kalau membaca tulisan tentang
empat jenis mahasiswa. Hmmm … coba deh ikuti
tulisan ini, siapa tahu ada tips yang cocok dan
bisa bikin semangat bangkit.
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 51
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
kos-kosan ini (Ya, soalnya anda sendirian sekarang) Kalau
anda merasa itu kurang, ucapkan bahwa andalah yang terbaik
di kelas anda atau terganteng di kampus anda. Yakinilah
bahwa anda adalah manusia pilihan, paling tidak terpilih
sebagai wakil desa anda yang bisa kuliah di universitas ini.
Atau kalau lebih pede lagi, katakan bahwa Andalah makhluk
terbaik di muka bumi, ya memang benar, paling tidak
dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan.
2.
Mandi yang bersih, sisir dan rapikan rambut Anda. Ambil
handphone, bikin senyuman paling manis, foto wajah anda.
Ulangi lagi kalau masih kurang enak dilihat. Kalau sampai 10
kali jepretan masih juga kurang enak di lihat, ambil secara
acak saja. Mungkin wajah anda memang tidak terlalu enak
dilihat.
3.
Nyalakan komputer, akses internet, tidak usah ke manamana, langsung saja buka http://wordpress.com. Bikin
account blog di sana.
4.
Renungi hidup anda, ingat-ingat lagi perjalanan hidup dari
kecil sampai sekarang dan apa yang telah anda lakukan.
Masuk ke menu administrasi http://wordpress.com, klik
Write->Page. Buat tulisan dengan judul About Me, tuliskan
resume, kisah hidup dan Curriculum Vitae (CV) anda. Tuliskan
“apa saja” seluruh kegiatan anda di sana. Dari lahir, SD, SMP,
SMA dan kuliah. Pernah jadi ketua OSIS, sekretaris,
bendahara atau pesuruh OSIS? Atau pernah ikutan
menyembelih kambing qurban, pernah jadi penjaga masjid,
pernah bikin workshop komputer, pernah menang lomba
balap karung, cerdas cermat atau lomba gambar di kampung.
Tulis semuanya. Kerahkan seluruh ingatan anda, anggap saja
nostalgia. Sekali lagi, tulis semua, apapun yang anda lalui di
52
“Page” berjudul About Me tadi. Sudah puas? Klik “Publish”.
Kalau ada yang kurang tambahi lagi, kalau merasa halaman
itu tidak cukup dan harus tulis dalam OO Writer atau MS
Word, copy and paste saja draft tadi. Jangan lupa convert ke
PDF dan upload di halaman About Me. Perbaiki terus CV anda
setiap ada kegiatan yang anda lakukan, sekecil apapun. Beri
juga skrinsyuut kalau diperlukan. Oh ya, foto manis anda tadi
jangan lupa dipasang di halaman About Me, kalau pingin
contoh, termasuk bagaimana menempatkan CV versi PDF cek
di http://romisatriawahono.net/aboutme/.
5.
Sekarang ayo berdiri, jalan ke meja belajar Anda. Kenangi
kehidupan kampus Anda, senangnya ketika diterima di
universitas ini, semangatnya ikutan Ospek (atau apa ya
namanya sekarang?), dosen-dosen Anda yang baik dan
menyenangkan, nilai mata kuliah Anda yang naik turun (yang
pasti lebih banyak turunnya), dan mungkin juga teman-teman
mahasiswi Anda yang sudah menolak cinta anda. Kenang
semua. Olala, ada kenangan manis disaat Anda berjaya
dengan satu mata kuliah yang Anda senangi, dosennya juga
maknyus kalau mengajar, dan akhirnya Anda mendapatkan
berkah nilai A diantara tumpukan nilai C, D dan E.
6.
Mata kuliah apa itu ya, yang dulu anda senangi? Cari buku
catatan anda, obrak abrik meja belajar untuk mencari buku
textbook mata kuliah itu. Ketemu? Oalah, anda ternyata
jagoan Rekayasa Perangkat Lunak. Oke, sekarang lihat lagi
tulisan di buku catatan Anda yang sudah lusuh. Cocokan
dengan buku textbook. Sekarang tulis kenangan anda tentang
mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak itu. Jangan tulis yang
lain, konsentrasi saja ke satu mata kuliah itu. Tulisan apapun
asal berhubungan dengan Rekayasa Perangkat Lunak. Satu
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 53
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
topik tulisan cukup 4-6 paragraf saja, jangan terlalu panjang.
Kalau belum puas, buat lagi topik lain, batasi juga 4-6
paragraf. Menuliskannya di Write->Post lho ya, jangan lupa.
7.
Kurang bahan? Dulu kayaknya pernah pinjem buku bagus
tentang Rekayasa Perangkat Lunak di perpustakaan? Oke,
kebetulan dah masuk waktu dzhuhur dan makan siang.
Jangan lupa mampir dulu untuk sholat dzhuhur di masjid di
samping tempat kos, dan makan siang di warteg andalan.
Oke, genjot sepeda ke kampus, langsung ke perpustakaan.
Cari buku kenangan anda tadi. Juga cari banyak berita dan
tulisan populer tentang software dan metode
pengembangan. Kalau di perpustakaan ada internet, balik
lagi ke http://wordpress.com Anda. Lanjutkan tulisan-tulisan
Anda.
8.
Opss, tidak terasa sampai maghrib di perpustakaan. Sholat,
makan malam dan pulang. Ingat-ingat dahulu kayaknya
pernah mengerjakan Tugas Mandiri berhubungan dengan
software? Oke, kumpulin file-file-nya. Dari mata kuliah apa
saja, bisa Rekayasa Perangkat Lunak, Dasar Pemrograman,
Pemrograman berorientasi Objek, atau apapun. Kalau ada
program yang dulu dibuat juga kumpulkan. Dibahas saja
program yang pernah dibuat, sekaligus dibagi gratis kodenya.
Walah bisa jadi satu kategori baru tuh di blog.
9.
Sebelum tidur, baca basmallah, dan ucapkan syukur hari ini
anda sudah melakukan kegiatan yang sangat baik dan
produktif, kegiatan yang bisa membanggakan orang tua,
teman, tetangga, dan dosen Anda. Dan Insya-Allah bisa
menjadi bekal kontribusi Anda ke republik tercinta ini.
10. Bangun pagi, jangan terlalu banyak tidur, Anda bukan bayi
lagi. Sholat shubuh dan lanjutkan petualangan hidup Anda.
54
11. Sebelum masuk kuliah baca-baca buku dulu
deh, hari ini pak dosen mau mengajar apa, siapa
tahu bisa jadi bahan tulisan. Kalau ada waktu
pagi bikin resume atau rangkuman bab yang
pak dosen akan ajarkan. Insy-Allah saya jamin
Anda akan masuk ke kelas dengan suasana yang
berbeda. Anda tidak lagi tidur. Horeeee! Lho kok
bisa, ya soalnya Anda jadi pingin konfirmasi ke pak dosen,
yang Anda pahami dari rangkuman tadi bener tidak. Dan
Anda akan nyimak karena Anda berharap bisa jadi bahan
tulisan. Ada kemungkinan Anda akan lebih pinter dari pak
dosen, karena kadang saking sibuknya mengerjakan proyek,
pak dosen kadang lupa belajar … hihihi. Kalau ada pertanyaan
yang tidak bisa dijawab pak dosen, Anda angkat tangan saja,
katakan bahwa pernah mengupas tuntas masalah
itu, sebutkan URL blog Anda. Bantu dosen Anda dan
jawablah, siapa tahu malah nanti diminta bantu dosen
mengerjakan proyek atau malah jadi asisten dosen. Cuman
jangan galak-galak sama adik kelas yah. Zaman dosen merasa
bangga karena tidak meuluskan mahasiswa sudah kuno. Yang
trend sekarang adalah dosen gaul, kayak si Broer sang dosen
flamboyan (mengajar di semua kampus di Jakarta) dan mbah
IMW dari Gundar.
12. Lanjutkan perdjoeangan. Mudah-mudahan semester ini
tumpukan nilai A Anda semakin banyak. Dan Insya-Allah saya
jamin, Anda tidak akan kesulitan mengerjakan skripsi atau
TA (tugas akhir) di semester akhir. Kok bisa? Ya, Anda sudah
terbiasa banyak membaca dan menulis, ini modal penting
membuat skripsi. Logikanya kalau Anda banyak nulis, pasti
banyak baca tho. Jangan lupa untuk submit artikel-artikel
anda di IlmuKomputer.Com. Ini penting karena kabarnya
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 55
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
numpang-nampang di IlmuKomputer.Com bisa membawa
hoki, bisa dapat jodoh, pekerjaan, project atau ketularan
gemuk dari foundernya. Yang pasti bisa membantu
meningkatkan traffic blog Anda.
13. Kalau kebiasaan nomor 1 sampai12 sudah Anda lakukan
sampaiclulus, Insya- Allah Anda tidak akan kesulitan mencari
pekerjaan. Justru pekerjaan yang akan mencari Anda. Tulisantulisan Anda di blog sudah diindeks oleh banyak mesin
pencari. Bahkan mungkin kalau orang googling dengan
keyword “Rekayasa Perangkat Lunak Indonesia”, yang
muncul nomor satu adalah blog anda. Anda tidak perlu
membawa CV (biodata) ke mana-mana karena sudah
menuliskannya di blog Anda. Tentu Anda akan semakin
surprise kalau ada penerbit yang menawarkan membukukan
tulisan-tulisan Rekayasa Perangkat Lunak yang anda telateni
selama ini. Kesempatan jadi dosen bukan mimpi lagi, lha
wong yang menulis bukunya Anda. “Wajar sekalian ngajar”.
Malah anda mungkin sudah ditokohkan oleh masyarakat
Indonesia di bidang Rekayasa Perangkat Lunak? Amiiin.
Cuman jangan sombong, sombong itu temannya setan.
14. Akhirnya, alhamdulillah Anda telah sukses melewati
kehidupan mahasiswa dengan baik. Bukan
karena siapa-siapa, tapi karena
perdjoeangan Anda sendiri, karena
tangan anda sendiri, dan tentu saja
pertolongan dari Yang Mahakuasa
Jangan lupa, tetap lanjutkan
perdjoeangan di kehidupan
baru.
56
BAB 2
BEDA ANTARA
KEBENARAN
DAN KEBETULAN
BAB 1: Menuju Kampus Haru Biru — 57
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
58
Hakikat
KEBENARAN
MENCARI HAKEKAT
kebenaran mungkin sering
kita ucapkan, tapi susah
dilaksanakan. Makhluk apa itu
kebenaran, juga kita kadang masih
tidak mengerti. Yang pasti bahwa “benar” itu
pasti “tidak salah”. Pertanyaan-pertanyaan kritis
kita di masa kecil, misalnya mengapa gajah
berkaki empat, mengapa burung bisa terbang,
dsb. kadang tidak terjawab secara baik oleh
orang tua kita. Sehingga akhirnya sering sesuatu
kita anggap sebagai yang memang sudah
demikian wajarnya (taken for granted). Banyak
para ahli yang memaparkan ide tentang sudut
pandang kebenaran termasuk bagaimana
membuktikannya. Saya mencoba ulas masalah
hakekat kebenaran ini dari tiga sudut pandang
yaitu: kebenaran ilmiah, kebenaran non-ilmiah
dan kebenaran filsafat.
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 59
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Harus kita pahami lebih dahulu bahwa
meskipun kebenaran ilmiah sifatnya lebih
sahih, logis, terbukti, terukur dengan
parameter yang jelas, bukan berarti bahwa
kebenaran non-ilmiah atau filasat selalu salah.
Malah bisa saja kebenaran non-ilmiah dan
kebenaran filsafat terbukti lebih “benar”
daripada kebenaran ilmiah yang disusun
dengan logika, penelitian dan analisa ilmu yang
matang. Contoh menarik adalah kasus patung
Kouros yang telah diteliti dan dibuktikan keasliannya oleh puluhan
pakar selama lebih dari 1,5 tahun di tahun 1983, bahkan juga
dianalisis dengan berbagai alat canggih seperti mikroskop
elektron, mass spectrometry, x-ray diffraction, dsb. Namun
beberapa pakar lain (George Despinis, Angelos Delivorrias)
menggunakan pendekatan intuitif sebagai ahli geologi dan
mengatakan bahwa patung tersebut palsu (terlalu fresh, seolah
tidak pernah terkubur, kelihatan janggal). Akhirnya patung itu
dibeli dengan harga tinggi oleh museum J. Paul Getty di California
dengan asumsi kebenaran ilmiah lebih bisa dipertanggungjawabkan. Kenyataan kemudian membuktikan bahwa semua
dokumen tentang surat tersebut palsu, dan patung itu dipahat
disebuah bengkel tempa di Roma tahun 1980. Cerita ini menjadi
pengantar buku best seller berjudul Blink karya Malcolm Gladwell.
KEBENARAN ILMIAH
Kebenaran yang diperoleh secara mendalam berdasarkan proses
penelitian dan penalaran logika ilmiah. Kebenaran ilmiah ini dapat
ditemukan dan diuji dengan pendekatan pragmatis, koresponden,
koheren.
60
„
Kebenaran Pragmatis: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar
apabila memiliki kegunaan/manfaat praktis dan bersifat
fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, Yadi
mau bekerja di sebuah perusahaan minyak karena diberi gaji
tinggi. Yadi bersifat pragmatis, artinya mau bekerja di
perusahaan tersebut karena ada manfaatnya bagi dirinya,
yaitu mendapatkan gaji tinggi.
„
Kebenaran Koresponden: Sesuatu (pernyataan) dianggap
benar apabila materi pengetahuan yang terkandung
didalamnya berhubungan atau memiliki korespondensi
dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Teori
koresponden menggunakan logika induktif, artinya metode
yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal
khusus ke umum. Dengan kata lain kesimpulan akhir ditarik
karena ada fakta-fakta mendukung yang telah diteliti dan
dianalisa sebelumnya. Contohnya, Jurusan teknik elektro,
teknik mesin, dan teknik sipil Undip ada di Tembalang. Jadi
Fakultas Teknik Undip ada di Tembalang.
„
Kebenaran Koheren: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar
apabila konsisten dan memiliki koherensi dengan pernyataan
sebelumnya yang dianggap benar. Teori koheren
menggunakan logika deduktif, artinya metode yang
digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal umum
ke khusus. Contohnya, seluruh mahasiswa Undip harus
mengikuti kegiatan Ospek. Luri adalah mahasiswa Undip, jadi
harus mengikuti kegiatan Ospek.
KEBENARAN NON-ILMIAH
Berbeda dengan kebenaran ilmiah yang diperoleh berdasarkan
penalaran logika ilmiah, ada juga kebenaran karena faktor-faktor
non-ilmiah. Beberapa diantaranya adalah:
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 61
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
„
Kebenaran Karena Kebetulan: Kebenaran yang didapat dari
kebetulan dan tidak ditemukan secara ilmiah. Tidak dapat
diandalkan karena kadang kita sering tertipu dengan
kebetulan yang tidak bisa dibuktikan. Namun satu atau dua
kebetulan bisa juga menjadi perantara kebenaran ilmiah,
misalnya penemuan kristal Urease oleh Dr. J.S. Summers.
„
Kebenaran Karena Akal Sehat (Common Sense): Akal sehat
adalah serangkaian konsep yang dipercayai dapat
memecahkan masalah secara praktis. Kepercayaan bahwa
hukuman fisik merupakan alat utama untuk pendidikan
adalah termasuk kebenaran akal sehat ini. Penelitian psikologi
kemudian membuktikan hal itu tidak benar.
„
Kebenaran Agama dan Wahyu: Kebenaran mutlak dan asasi
dari Allah dan Rasulnya. Beberapa hal masih bisa dinalar
dengan panca indra manusia, tapi sebagian hal lain tidak.
„
Kebenaran Intuitif: Kebenaran yang didapat dari proses luar
sadar tanpa menggunakan penalaran dan proses berpikir.
Kebenaran intuitif sukar dipercaya dan tidak bisa dibuktikan,
hanya sering dimiliki oleh orang yang berpengalaman lama
dan mendarah daging di suatu bidang. Contohnya adalah
kasus patung Kouros dan museum Getty diatas.
„
Kebenaran Karena Trial dan Error: Kebenaran yang diperoleh
karena mengulang-ulang pekerjaan, baik metode, teknik,
materi dan paramater-parameter sampai akhirnya
menemukan sesuatu. Memerlukan waktu lama dan biaya
tinggi.
„
Kebenaran Spekulasi: Kebenaran karena adanya
pertimbangan meskipun kurang dipikirkan secara matang.
Dikerjakan dengan penuh resiko, relatif lebih cepat dan biaya
lebih rendah daripada trial-error.
62
„
Kebenaran Karena Kewibawaan: Kebenaran yang diterima
karena pengaruh kewibawaan seseorang. Seorang tersebut
bisa ilmuwan, pakar atau ahli yang memiliki kompetensi dan
otoritas dalam suatu bidang ilmu. Kadang kebenaran yang
keluar darinya diterima begitu saja tanpa perlu diuji.
Kebenaran ini bisa benar tapi juga bisa salah karena tanpa
prosedur ilmiah.
KEBENARAN FILSAFAT
Kebenaran yang diperoleh dengan cara merenungkan atau
memikirkan sesuatu sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya, baik
sesuatu itu ada atau mungkin ada. Kebenaran filsafat ini memiliki
proses penemuan dan pengujian kebenaran yang unik dan dibagi
dalam beberapa kelompok (madzab). Bagi yang tidak terbiasa
(termasuk saya) mungkin terminologi yang digunakan cukup
membingungkan. Juga banyak yang oportunis alias menganut
madzab dualisme kelompok, misal mengakui kebenaran realisme
dan naturalisme sekaligus.
„
Realisme: Mempercayai sesuatu yang ada di dalam dirinya
sendiri dan sesuatu yang pada hakekatnya tidak terpengaruh
oleh seseorang.
„
Naturalisme: Sesuatu yang bersifat alami memiliki makna,
yaitu bukti berlakunya hukum alam dan terjadi menurut
kodratnya sendiri.
„·
Positivisme: Menolak segala sesuatu yang di luar fakta, dan
menerima sesuatu yang dapat ditangkap oleh pancaindra.
Tolok ukurnya adalah nyata, bermanfaat, pasti, tepat dan
memiliki keseimbangan logika.
„
Materialisme Dialektik: Orientasi berpikir adalah materi,
karena materi merupakan satu-satunya hal yang nyata, yang
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 63
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
terdalam dan berada diatas kekuatannya sendiri. Filosofi
resmi dari ajaran komunisme.
„
Idealisme: Idealisme menjelaskan semua obyek dalam alam
dan pengalaman sebagai pernyataan pikiran.
„
Pragmatisme: Hidup manusia adalah perjuangan hidup terus
menerus, yang sarat dengan konsekuensi praktis. Orientasi
berpikir adalah sifat praktis, karena praktis berhubungan erat
dengan makna dan kebenaran.
REFERENSI
1.
2.
3.
4.
64
Moh. Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Agustus
2003.
Sulistyo-Basuki, Metode Penelitian, Fakultas Ilmu
Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, April 2006.
Logika, http://id.wikipedia.org/wiki/Logika
Penalaran, http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran
Penelitian Tugas Akhir Itu
Sedikit mengulang dari apa yang saya tulis
di artikel tentang hakekat kebenaran dan
hakekat penelitian. Hakekat penelitian
bagaimanapun juga adalah untuk “memecahkan masalah yang dihadapi”. Penelitian adalah
MUDAH (1)
PUYENG DENGAN skripsi atau tugas akhir?
Jangan kuatir, semua orang memang pernah
mengalaminya. Nikmati dan warnai kehidupan
akhir kampus dengan membuat tugas akhir yang
bagus dan berkualitas. Sayang empat tahun
proses pembelajaran kita kalau diakhiri dengan
tugas akhir berkualitas rendah atau bahkan
mengotorinya dengan membajak skripsi orang
lain. Tugas akhir itu secara umum seharusnya berupa penelitian, meskipun beberapa
jurusan ada yang mensyaratkan cukup dengan
desain produk. Seri artikel ini sifatnya
wajib dibaca bagi mahasiswa yang sedang
mengerjakan tugas akhir
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 65
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
terjemahan dari bahasa Inggris “research” yang secara bahasa
mengandung makna: re (kembali) dan to search (mencari). T.
Hillway merangkumkan definisi penelitian adalah “studi yang
dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan
sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh
pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut”.
Sebelum melangkah lebih jauh, kita diskusi dulu tentang jenis
penelitian. Intinya jenis penelitian bisa dilihat dari beberapa sudut
pandang.
1.
2.
3.
4.
Tingkat Penerapan (Penelitian Dasar, Penelitian Terapan)
Jenis Informasi Yang Diolah (Penelitian Kuantitatif, Penelitian
Kualitatif)
Perlakuan Terhadap Data (Penelitian Konfirmatori,
Penelitian Eksploratori)
Tujuan (Penelitian Deskripsi, Penelitian Korelasi, Penelitian
Eksperimen)
Kalau kita gambarkan hubungan dan himpitan antara jenis
penelitian, bentuk mudahnya akan seperti di bawah (ditulis ulang
dari Ronny Kountur, 2007) . Secara umum, setiap penelitian
memberi efek kecenderungan ke jenis dibawahnya. Contoh,
penelitan deskripsi itu biasanya kualitatif dan sifatnya eksplanatori.
66
Sebaliknya penelitian eksperimen dan korelasi biasanya pengolahan
datanya kuantitatif, dan sifatnya konfirmatori.
Untuk jurusan computing (teknik informatika, sistem
informasi, ilmu komputer) biasanya berupa penelitian terapan
(bukan penelitian dasar) yang sifat pengolahan datanya
kuantitatif. Penelitian lebih banyak ke arah konfirmatori (bukan
eksploratori) yaitu dengan melakukan pengujian terhadap
hipotesis atau kerangka konsep yang sudah ditentukan. Dan tujuan
penelitian biasanya untuk melihat korelasi antar variabel yang
diteliti atau melakukan suatu eksperimen. Tahapan penelitian
sebenarnya hanya ada empat:
1.
2.
3.
4.
Identifikasi (Penemuan) Masalah
Perumusan Hipotesis
Pengujian Hipotesis dan Analisis
Kesimpulan
Kalau kita konversikan ke dalam struktur susunan tugas akhir
mungkin tahapan penelitian itu akan terbagi seperti tabel di
bawah:
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 67
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Perlu diingat, tugas akhir di beberapa bidang ilmu bisa tidak
berbentuk penelitian, tapi hanya berupa desain produk. Contoh
desain produk misalnya:
„
Desain Bangunan atau Mesin
„
Desain Sistem
„
Pengembangan Sistem Tanpa Didahului Identifikasi Masalah
„
Perencanaan Strategis Bisnis
Jadi implikasi dari hal diatas, beberapa kegiatan di bawah
bukan termasuk penelitian.
„
Mengembangkan situs portal
„
Mengembangkan situs web pribadi
„
Mengembangkan sistem informasi
„
Mengembangkan multimedia pembelajaran
Untuk yang lagi bikin skripsi tentang pengembangan sistem
informasi atau multimedia pembelajaran, jangan keburu stress
dulu. Desain produk bisa menjadi penelitian ketika produk dibuat
karena adanya “suatu masalah atau kebutuhan riil”. Tapi jangan
lupa, produk tersebut juga harus diuji dengan beberapa
parameter, dan kemudian dianalisis seberapa jauh terbukti bisa
memecahkan masalah yang disetting di awal.
Beberapa contoh pengembangan situs portal yang termasuk
penelitian misalnya di bawah ini::
„
Judul: Mengembangkan Situs Portal Traffic Tinggi dengan
Teknik Search Engine Optimization (SEO)
„
Identifikasi Masalah: Situs portal sepi pengunjung
„
Perumusan Hipotesis: Teknik SEO dapat meningkatkan traffic
situs
68
„
Buat Model atau Kerangka Konsep: Lakukan studi literatur
tentang SEO dan rumuskan model serta teknik SEO yang tepat
untuk situs portal yang sedang dibangun
„
Pengujian Hipotesis: Terapkan model SEO yang sudah dibuat.
Uji parameter dalam model SEO
„
Analisa Hasil Pengujian: Terbukti bahwa model SEO kita
kembangkan dapat meningkatkan traffic situs portal
Pengembangan multimedia pembelajaran yang berbasis
penelitian, misalnya:
„
Judul: Multimedia pembelajaran Berbasis “Real
Constructivisme” untuk Mata Kuliah Bahasa Formal dan
Automata
„
Identifikasi Masalah: Mata Kuliah Bahasa Formal dan
Automata sulit dipahamkan ke siswa dengan sistem kuliah
konvensional, harus ditempuh teknik baru untuk
memahamkan ke siswa
„
Perumusan Hipotesis: Multimedia pembelajaran harus
dibuat berdasarkan teoi “real constructivisme” untuk
mempermudah pemahaman siswa
„
Buat Model atau Kerangka Konsep: Lakukan studi literatur
tentang “real construtivisme” dan rumuskan model khusus
untuk multimedia pembelajaran tersebut
„
Pengujian Hipotesis: Terapkan dengan penelitian tindakan
kelas (action research)
„
Analisa Hasil Pengujian: Terbukti multimedia berbasis “real
constructivisme” dapat meningkatkan pemahaman siswa
Perlu dicatat bahwa penelitian itu berawal di masalah dan
berakhir di pemecahan masalah. Kualitas penelitian ditentukan
oleh kualitas “masalah” yang diteliti, bukan karena ketinggian
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 69
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
teknologi yang digunakan. Reviewer jurnal internasional
menjadikan “masalah penelitian” sebagai parameter utama proses
review. Usahakan memilih “masalah penelitian” yang orisinil kita
temukan. Meneliti masalah yang sudah diteliti orang lain
membuat kita harus melakukan komparasi dengan approach
orang lain tersebut
Oke, sudah mulai paham? Sekarang bagaimana sih
sebenarnya cara menemukan atau mengidentifikasi masalah itu?
Masalah bisa kita temukan melalui studi literatur, baik dari
artikel-artikel di jurnal ilmiah atau proceedings conference. Untuk
level D3 dan S1, bisa juga identifikasi masalah ini dari artikel di
textbook, majalah ilmiah, proceedings seminar atau surat kabar.
Cara menemukan masalah yang kedua dan sebenarnya cara
terbaik adalah melalui pengamatan lapangan. Tidak usah terlalu
rumit-rumit, cukup fokuskan ke masalah yang ada di sekitar kita.
Kalau kita mahasiswa ya sekarang perhatikan, mahasiswa, dosen
atau kampus itu punya masalah apa yang belum dipecahkan dan
kira-kira bisa dipecahkan dengan teknologi informasi. Ini kalau
kita di jurusan computing, beda jurusan masalahnya bisa lain lagi.
Pengamatan lapangan ini bisa juga dilakukan dengan menghadiri
pameran industri, bedah buku, dsb. Intinya kejar masalah
penelitian ini dari manapun, dan jangan lupa bahwa masalah
penelitian ini benar-benar menjadi masalah yang harus
dipecahkan, bukan masalah yang kita ada-adakan.
Oh iya, masalah yang kita bidik bisa datang dari tiga hal:
„
„
„
70
Masalah yang ada di manusianya sendiri (People and
Problem)
Masalah di cara dan struktur kerja (Program)
Fenomena yang terjadi (Phenomenon)
Baiklah, sudah semakin paham? Selanjutnya bagaimana kita
bisa menentukan referensi untuk penelitian yang shahih?
Khususnya untuk tinjauan pustaka (studi literatur) pada saat
menyusun hipotesis dan kerangka konsep atau model, usahakan
untuk menggunakan jurnal ilmiah (internasional). Urutan dari
yang terbaik untuk bidang computing adalah:
1.
2.
Jurnal ilmiah yang diterbitkan IEEE dan ACM
Jurnal ilmiah yang diterbitkan asosiasi ilmiah Lain. Biasanya
bisa didapatkan dari elsevier.Com, EBSCOhost.Com atau
sciencedirect.com
3. Proceedings Conference (utamakan yang diterbitkan oleh
IEEE Computer dan ACM)
Apabila kita punya rencana untuk bermain di level
internasional, usahakan tidak menggunakan jurnal ilmiah
Indonesia, meskipun sudah diakreditasi oleh Dikti.
Tida punya uang untuk langganan jurnal ilmiah? Atau di kampus
juga tidak tersedia jurnal online? Tidak usah khawatir, kita bisa
menggunakan salah satu dari banyak jurnal ilmiah gratis yang sudah
saya tulis lengkap di bab lain buku ini. Paling tidak yang wajib dikunjungi
oleh mahasiswa miskin tapi punya semangat penelitian seperti profesor
adalah:
„
„
„
„
„
http://citeseer.ist.psu.edu/
http://www.doaj.org/
http://scholar.google.com/
http://libra.msra.cn/
http://www.jstor.org/
Masih belum nyantol juga? Lebih paham kalau saya ceritakan
dengan banyak contoh-contoh? Ikuti seri tulisan ini
berikutnya.
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 71
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
72
Penelitian Tugas Akhir Itu
Identifikasi Masalah
MUDAH (2)
SEPERTI SAYA singgung di tulisan bagian
pertama, identifikasi masalah adalah salah satu
proses penelitan yang boleh dikatakan paling
penting diantara proses lain. Masalah penelitian
akan menentukan kualitas dari penelitian,
bahkan juga menentukan apakah sebuah
kegiatan bisa disebut penelitian atau tidak.
Masalah penelitian secara umum bisa kita
temukan melalui studi literatur atau
pengamatan lapangan (observasi, survey, dsb).
Skripsi untuk level S1 seharusnya didesain untuk
memecahkan masalah yang lebih riil dan
sifatnya terapan (applied). Mahasiswa
cukup fokus ke masalah yang ada di sekitarnya.
Kalau jurusan kita di computing, kita lakukan
saja observasi di lingkungan kita. Misalnya universitas, dosen, dan mahasiswa itu
punya masalah apa yang kira-kira bisa kita
pecahkan dengan teknologi informasi dan
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 73
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
aplikasinya. Intinya kita harus kejar terus masalah penelitian ini,
dan jangan lupa bahwa masalah yang kita identifikasi tersebut
benar-benar menjadi masalah yang harus dipecahkan, bukan
masalah yang kita ada-adakan. Masih agak bingung? Oke, saya
coba jelaskan secara detail dan pelan-pelan bagaimana proses
identifikasi masalah ini.
Masalah penelitian bisa didefinisikan sebagai pernyataan
yang mempermasalahkan suatu variabel atau hubungan antara
variabel pada suatu fenomena. Sedangkan variabel itu sendiri
dapat didefinisikan sebagai pembeda antara sesuatu dengan yang
lain. Ketika kita mengambil topik penelitian untuk membedakan
raut muka mahasiswa yang lagi “bokek” dengan mahasiswa yang
lagi banyak uang, kita punya variabel “raut muka” dan variabel
“keadaan keuangan”. Nah kita ingin tahu hubungan dua variabel
ini, jadilah itu sebuah masalah penelitian
Lha terus sumber masalahnya dari mana datangnya? Sumber
masalah penelitian bisa muncul dari tiga hal (Ranjit Kumar, 1996):
1.
Masalah Yang Ada di Manusianya Sendiri (People and
Problem)
Kita harus hati-hati supaya tidak terjebak ke masalah di sekitar
manusia yang bukan penelitian. Tapi juga jangan “saklek”, karena
masalah manusia yang tadinya bukan masalah penelitian bisa kita
“goyang sedikit” menjadi masalah penelitian. Contoh, mahasiswa
mempunyai masalah pokok yaitu “kekurangan uang”. Ini bisa kita
“konversi” menjadi masalah penelitian misalnya menjadi:
74
„
Mendeteksi raut muka mahasiswa “bokek” dengan face
recognition system
„
Model bisnis di Internet dengan modal kecil untuk
mahasiswa
2.
Masalah di Cara, Teknik dan Struktur Kerja (Program)
Teknik dan struktur kerja yang bermasalah tentu juga bisa menjadi
masalah penelitian. Contoh, dosen-dosen saking sibuknya
ternyata kesulitan menemukan satu waktu yang pas untuk
meeting bulanan di universitas. Nah, ini jadi masalah penelitian,
approach-nya nanti kita bisa kembangkan satu aplikasi scheduling
dengan sedikit sistem pakar didalamnya yang secara otomatis
memberikan beberapa alternatif waktu meeting yang pas untuk
semua. Masalah lain misalnya, sistem informasi manajemen di
universitas kita ada masalah. Tidak bisa online bekerjanya dan
tidak sesuai dengan business process sebenarnya yang dilakukan
oleh para staff dalam mengelola administrasi sekolah. Nah,
software dan sistem ini kita perbaiki supaya sesuai dengan yang
dibutuhkan. Sistem parkir di Mall yang tidak bisa mendeteksi mana
area parkir yang kosong, bisa jadi masalah penelitian yang menarik
juga.
3.
Fenomena yang Terjadi (Phenomenon)
Fenomena yang ada di sekitar kita juga bisa menjadi masalah
penelitian yang menarik. Contoh, fenomena bahwa situs portal
yang dikembangkan di perusahaan-perusahaan ternyata sepi
pengunjung. Nah ini adalah sebuah fenomena, untuk
meningkatkan traffic, misalnya bisa dengan memainkan beberapa
teknik supaya search engine mau menengok situs kita, ini sering
disebut dengan Search Engine Optimization. Nah, dari sini kita
sudah dapat judul: “Mengembangkan situs portal traffic tinggi
dengan teknik Search Engine Optimization (SEO)”. Fenomena lain
lagi, proses pendeteksian golongan darah untuk skala besar
(massal) misalnya untuk seluruh mahasiswa universitas yang
mencapai 5000 orang ternyata memakan waktu yang sangat lama.
Ini sebuah fenomena, kita beri solusi dengan software sistem yang
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 75
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
menggunakan beberapa teknik artificial intelligence yang
memungkinkan pendeteksian golongan darah ini. Sehingga 5000
orang bisa kita proses dalam beberapa jam misalnya.
Supaya masalah penelitian yang kita pilih benar-benar tepat,
biasanya masalah perlu dievaluasi. Evaluasi masalah penelitian
biasanya berdasarkan beberapa parameter di bawah (Ronny
Kountur, 2007) (Moh. Nazir, 2003):
76
1.
Menarik. Masalah yang menarik membuat kita
termotivasi untuk melakukan penelitian dengan serius.
2.
Bermanfaat. Penelitian harus membawa manfaat baik
untuk ilmu pengetahuan maupun peningkatan
kesejahteraan dan kualitas kehidupan manusia.
Penelitian juga diharapakan membawa manfaat bagi
masyarakat dalam skala besar (secara nasional maupun
internasional), maupun secara khusus di komunitas kita
(kampus, sekolah, kelurahan, dsb). Hindari penelitian
yang tidak membawa manfaat kepada masyarakat.
3.
Hal Yang Baru. Ini hal yang cukup penting dalam
penelitian, bahwa penelitian yang kita lakukan adalah
hal baru, solusi yang kita berikan adalah solusi baru yang
apabila kita komparasi dengan solusi lain, bisa dikatakan
lebih efektif, murah, cepat, dsb. Bisa juga kebaruan ini
diwujudkan dengan perbaikan dari sistem dan
mekanisme kerja yang sudah ada. Hindari redundant
research, meneliti hal yang sama persis dengan yang
dilakukan oleh orang lain. Ya ini namanya nyontek alias
plagiasi skripsi.
4.
Dapat Diuji (Diukur). Ini biasanya hal yang terlupakan,
supaya proses penelitian kita sempurna, masalah
penelitian beserta variabel-variablenya harus
merupakan sesuatu yang bisa diuji dan diukur secara
empiris. Kalau kita melakukan penelitian korelasi, nah
korelasi antara beberapa variabel yang kita teliti juga
harus diuji secara ilmiah dengan beberapa parameter.
5.
Dapat Dilaksanakan. Nah ini juga faktor penting.
Masalah yang bagus berkualitas, jadi lucu dan naif kalau
akhirnya secara teknik penelitian tidak bisa dilakukan.
Dapat dilakukan ini berkaitan erat dengan keahlian,
ketersediaan data, kecukupan waktu dan dana. Hindari
research impossible
6.
Merupakan Masalah Yang Penting. Ini agak sulit
mengukurnya, tapi paling tidak ada gambaran di kita
bahwa jangan sampai melakukan penelitian terhadap
suatu masalah yang tidak penting.
7.
Tidak Melanggar Etika. Yang terakhir adalah masalah
etika. Penelitian harus dilakukan dengan kejujuran
metodologi, prosedur harus dijelaskan kepada obyek
penelitian, tidak melanggar privacy, publikasi harus
dengan persetujuan obyek penelitian, tidak boleh
melakukan penipuan dalam pengambilan data maupun
pengolahan data.
Bagaimana, sudah ada bayangan kira-kira masalah apa yang
akan diteliti? Kalau sudah oke dan mantab dengan masalah
penelitian, kita lanjutkan ke seri artikel berikutnya. Intinya konsep
seri tulisan tentang penelitian ini memberi opini bahwa penelitian
dan tugas akhir itu hal yang mudah, tidak bikin takut, apalagi
bikin stress, kita tinggal jalankan saja sesuai dengan tahapan
penelitian. Nikmati permasalahan yang muncul, tekuni solusi dan
eksperimen yang kita rencanakan, dan jreng.. jreng... jreng …. Insya
Allah tugas akhir kita akan selesai sesuai dengan waktu yang
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 77
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
ditetapkan, tanpa nyontek, tanpa membeli dari penjual skripsi
dan tanpa kutukan dosa dari Tuhan.
REFERENSI
1.
2.
3.
4.
5.
78
Ronny Kountur, Metode Penelitan, Penerbit PPM, 2007
Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kencana
Prenada Media Group, 2005
Ranjit Kumar, Research Methodology: A Step-by-Step Guide
for Beginners, Melbourne: Addison Wesley Longman, 1996
Moh. Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Agustus
2003
Sulistyo-Basuki, Metode Penelitian, Fakultas Ilmu
Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, April 2006
2.
Teknologi Energi: Energi Alternatif dan
Terbarukan
3.
Teknologi Transportasi
4.
Teknologi Informasi dan Komunikasi
5.
Teknologi Kesehatan dan Obat-Obatan
6.
Teknologi Pertahanan
Dan pada tanggal 26 Juli 2006 diadakan
acara penyempurnaan draft final buku putih
untuk ke 6 bidang di atas, dimana Menristek
(pak Kusmayanto Kadiman) dalam keynote
Menengok Arah Penelitian
Teknologi Ketahanan Pangan dan Pertanian
Informasi dan Komunikasi di Indonesia
1.
TEKNOLOGI
SEJAK AKHIR tahun 2005, kebetulan saya
diminta membantu Kementrian Negara Riset
dan Teknologi (KNRT) dalam kegiatan
pembuatan buku putih penelitian dan
pengembangan Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) di Indonesia. Sebenarnya
kegiatan KNRT untuk pembuatan buku putih
tidak hanya dalam bidang TIK, tetapi juga
beberapa bidang lain yang disebut dengan 6
bidang prioritas pembangunan Iptek 20052025, yang terdiri dari:
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 79
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
speech-nya memaparkan beberapa panduan dan filosofi mengapa
buku putih harus ada. Tentu dalam tulisan ini saya tidak akan
mengupas isi buku putih ke 5 bidang lain selain TIK, karena tugas
saya memang hanya di buku putih TIK. Ada satu catatan menarik
bahwa sedikit perdebatan hangat terjadi pada pertemuan tanggal
26 Juli 2006, khususnya tentang posisi buku putih ini sendiri. Pak
Kusmayanto menyebut bahwa muara kerangka pikir buku putih
berasal dari Jakstranas Iptek 2005-2009 dan Agenda Riset Nasional
(ARN). Sedangkan pemikiran rekan-rekan penyusun ARN, bahwa
justru ARN yang seharusnya disusun berdasarkan Buku Putih,
karena lingkup tahun buku putih yang lebih panjang yaitu 20052025. Kedua pemikiran ini berlandaskan pada dokumen yang
resmi, meskipun saya sendiri kurang jelas, mana madzab yang
lebih shohih
Penyusunan buku putih yang lengkapnya bernama Buku
Putih Penelitian Pengembangan dan Penerapan Iptek Bidang
Teknologi Informasi dan Komunikasi Tahun 2005-2025, sempat
tertatih-tatih dan mengalami beberapa pergantian tim nara
80
sumber. Saya mengikuti beberapa pertemuan yang diadakan di
Jakarta akhir tahun 2005 dan kemudian camp selama 2 hari di
Bandung di awal tahun 2006. Tim terdiri dari 22 orang, cukup
lengkap dan berimbang karena ada wakil dari KNRT ( Engkos
Koswara dan Richard Mengko), LIPI ( Tigor Nauli, Handoko,
Mashuri dan saya sendiri), Depkominfo (Ashwin Sasongko dan
Hadwi Sanjoyo), BPPT ( Sulistyo dan Hary Budiarto), dari
Universitas ada Abdullah Alkaf (ITS), ada juga wakil dari BATAN,
LAPAN, dan yang menarik diundang juga beberapa wakil vendor
misalnya pak Harry Kaligis (Sun Microsystems) dan pak Goenawan
Lukito (Oracle). Saya secara pribadi juga ingin memberi applaus
khusus kepada Agus Sediadi, Sabartua Tampubolon, Kemal
Prihatman dan teman-teman di KNRT yang bekerja secara
“underground” menyusun dan mengedit narasi sehingga
berbentuk draft yang matang.
Tentu dalam pembahasan terjadi tarik ulur dan diskusi
hangat, yang saya pikir terjadi karena pengaruh beragamnya latar
belakang bidang pendidikan, kompetensi inti (core competence)
dan institusi tempat bekerja. Pengaruh lain adalah seperti saya
duga di awal, sangat sulit membuat grand design penelitian
sampai 25 tahun ke depan untuk bidang yang sangat (terlalu) cepat
berkembang seperti TIK. Sampai detik inipun saya belum yakin
100% bahwa poin-poin yang disusun sudah menggambarkan peta
penelitian yang sebaiknya dilakukan sampai 2025 di Indonesia.
Saya pikir sifat buku putih ini lebih dinamis dan memungkinkan
terjadinya revisi ketika kebutuhan dan teknologi berkembang di
luar lingkup yang dibahas di buku putih. Draft awal pada
pertemuan di Jakarta diperbaiki secara menyeluruh dengan
mengubah format dan poin-poin utama pembahasan pada
pertemuan dua hari di Bandung.
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 81
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Saya mencatat hal menarik dari buku putih TIK ini, yang
pertama bahwa hasil penelitian TIK di Indonesia diharapkan
mampu berperan dalam:
1. Meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan
masyarakat
2. Meningkatkan daya saing bangsa
3. Memperkuat persatuan dan kesatuan nasional
4. Mewujudkan pemerintahan yang transparan
5. Meningkatkan jati diri bangsa di tingkat internasional
Dapat kita simpulkan bahwa para peneliti bidang TIK
diharapkan lebih melihat user needs (kebutuhan pengguna atau
stakeholder), lebih membumi dan memprioritaskan penelitian ke
arah mencari solusi kebutuhan riil masyarakat. Tentu peneliti
bidang TIK akan semakin sibuk karena disamping harus memilih
tema penelitian yang siap terap untuk masyarakat, juga unggul
dan dapat bersaing secara internasional, dan apabila diperlukan
dapat membantu mewujudkan sistem pemerintahan yang bersih.
Bahasa lainnya, penelitian yang dilakukan harus menjawab
kepentingan beberapa stakeholder, yaitu:
1.
Masyarakat dan publik, untuk menuju masyarakat
berbasis pengetahuan (knowledge based society) dan
layanan elektronik (eServices)
2.
Pemerintah, untuk menuju eGovernment
3.
Industri, untuk menuju industri TIK yang global dan
berdaya saing
4.
Lembaga Iptek, untuk menuju lembaga Iptek kelas dunia
Kemudian apa prioritas tema penelitian TIK yang
direkomendasikan dalam buku putih tersebut? Ada 5 prioritas
82
utama yang masing-masing memiliki bidang garapan seperti di
bawah:
1.
Infrastruktur Informasi: jaringan informasi dan
telekomunikasi, information exchange, digital
broadcasting, perangkat keras komputer dan device
pendukungnya, community access point
2.
Perangkat Lunak: sistem operasi, sistem aplikasi, bahasa
pemrograman dan development tool, opensource,
simulasi dan komputasi
3.
Kandungan (Content) Informasi: respositori dan
information sharing, creative digital, data security,
eServices
4.
Pengembangan SDM dan Kelembagaan: edukasi dan
research center, sertifikasi dan kurikulum TIK,
pengembangan software house lokal, inkubator bisnis
dan competence center, pengembangan ICT park
5.
Regulasi dan Standardisasi: regulasi konvergensi TIK,
pengembangan sistem insentif, standardisasi peralatan
TIK, universal service obligation (USO)
Informasi lengkap masing-masing tema dapat didownload
langsung dari draft buku putih yang ada di situs KNRT.
Di Indonesia sebenarnya dokumen-dokumen semacam
Jakstranas Iptek, ARN dan buku putih ini masih menyisakan
pekerjaan rumah. Di antaranya yang paling mencolok adalah
bagaimana kita bisa mensinkronkan arah penelitian dan
pengembangan, karena beberapa kementrian maupun
departemen lain juga membuat kajian, kebijakan dan buku putih
yang meskipun bertema sama tetapi sering isinya berbeda dan
susah mencari titik temunya. Masalah yang timbul kemudian
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 83
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
adalah tentang sosialisasi, mungkin perlu dipikirkan teknik
sosialisasi yang lebih efektif secara kualitas dan kuantitas, karena
seminar dan workshop sepertinya kurang efektif dalam proses
diseminasi informasi dari kebijakan-kebijakan pemerintah.
Draft dokumen buku putih ini dapat di-download melalui
situs http://www.ristek.go.id. Terutama bagi peneliti yang
bergerak di bidang TIK, mudah-mudahan bisa menjadi bahan
rujukan dalam penentuan tema dan prioritas penelitian. Saat ini
KNRT masih membuka diri untuk menerima masukan
berhubungan dengan buku putih ini, masukan dapat dilayangkan
melalui halaman Kirim Masukan Buku Putih.
84
Analisis
UU ITE
UU ITE datang membuat situs porno bergoyang
dan sebagian bahkan menghilang? Banyak situs
porno alias situs lendir ketakutan dengan denda
1 miliar rupiah karena melanggar pasal 27 ayat
1 tentang muatan yang melanggar kesusilaan.
Padahal sebenarnya UU ITE (UndangUndang Informasi dan Transaksi Elektronik)
tidak hanya membahas situs porno atau
masalah asusila. Total ada 13 Bab dan 54 Pasal
yang mengupas secara mendetail bagaimana
aturan hidup di dunia maya dan transaksi yang
terjadi didalamnya. Apakah UU ITE sudah
lengkap dan jelas? Ternyata ada beberapa
masalah yang terlewat dan juga ada yang belum
tersebut secara lugas didalamnya. Ini adalah
materi yang saya angkat di “Seminar dan
Sosialisasi Undang-Undang Informasi dan
Transaksi Elektronik” yang diadakan oleh BEM
Fasilkom Universitas Indonesia tanggal 24 April
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 85
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
2008. Saya berbicara dari sisi praktisi dan akademisi, sedangkan
di sisi lain ada pak Edmon Makarim yang berbicara dari sudut
pandang hukum.
CYBERCRIME DAN CYBERLAW
UU ITE dipersepsikan sebagai cyberlaw di Indonesia, yang
diharapkan bisa mengatur segala urusan dunia Internet (siber),
termasuk didalamnya memberi punishment terhadap pelaku
cybercrime. Nah, kalau memang benar cyberlaw perlu kita
diskusikan apakah kupasan cybercrime sudah semua terlingkupi?
Di berbagai literatur, cybercrime dideteksi dari dua sudut pandang:
1.
Kejahatan yang Menggunakan Teknologi Informasi Sebagai
Fasilitas: Pembajakan, Pornografi, Pemalsuan/Pencurian
Kartu Kredit, Penipuan melalui Email (Fraud), Email Spam,
Perjudian Online, Pencurian Account Internet, Terorisme, Isu
Sara, Situs Yang Menyesatkan, dsb.
2.
Kejahatan yang Menjadikan Sistem Teknologi Informasi
Sebagai Sasaran: Pencurian Data Pribadi, Pembuatan/
Penyebaran Virus Komputer, Pembobolan/Pembajakan Situs,
Cyberwar, Denial of Service (DOS), Kejahatan Berhubungan
Dengan Nama Domain, dsb.
Cybercrime menjadi isu yang menarik dan kadang
menyulitkan karena:
86
„
Kegiatan dunia cyber tidak dibatasi oleh teritorial negara
„
Kegiatan dunia cyber relatif tidak berwujud
„
Sulitnya pembuktian karena data elektronik relatif mudah
untuk diubah, disadap, dipalsukan dan dikirimkan ke
seluruh belahan dunia dalam hitungan detik
„
Pelanggaran hak cipta dimungkinkan secara teknologi
„
Sudah tidak memungkinkan lagi menggunakan hukum
konvensional. Analogi masalahnya adalah mirip dengan
kekagetan hukum konvensional dan aparat ketika awal
mula terjadi pencurian listrik. Barang bukti yang
dicuripun tidak memungkinkan dibawah ke ruang
sidang. Demikian dengan apabila ada kejahatan dunia
maya, pencurian bandwidth, dsb.
Contoh gampangnya rumitnya cybercrime dan cyberlaw:
„
Seorang warga negara Indonesia yang berada di
Australia melakukan cracking sebuah server web yang
berada di Amerika, yang ternyata pemilik server adalah
orang China dan tinggal di China. Hukum mana yang
dipakai untuk mengadili si pelaku?
„
Seorang mahasiswa Indonesia di Jepang, mengembangkan aplikasi tukar menukar file dan data elektronik
secara online. Seseorang tanpa identitas meletakkan
software bajakan dan video porno di server dimana
aplikasi di-install. Siapa yang bersalah? Dan siapa yang
harus diadili?
„
Seorang mahasiswa Indonesia di Jepang, meng-crack
account dan password seluruh professor di sebuah
fakultas. Menyimpannya dalam sebuah direktori publik,
mengganti kepemilikan direktori dan file menjadi milik
orang lain. Darimana polisi harus bergerak?
INDONESIA DAN CYBERCRIME
Paling tidak masalah cybercrime di Indonesia yang sempat saya
catat adalah sebagai berikut:
„
Indonesia meskipun dengan penetrasi Internet yang
rendah (8%), memiliki prestasi menakjubkan dalam
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 87
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
cyberfraud terutama pencurian kartu kredit (carding).
Menduduki urutan kedua setelah Ukraina
(ClearCommerce)
„
Indonesia menduduki peringkat keempat masalah
pembajakan software setelah China, Vietnam, dan
Ukraina (International Data Corp)
„
Beberapa cracker Indonesia tertangkap di luar negeri,
Singapore, Jepang, Amerika, dsb
„
Beberapa kelompok cracker Indonesia ter-record cukup
aktif di situs zone-h.org dalam kegiatan pembobolan
(deface) situs
„
Kejahatan dunia cyber hingga pertengahan 2006
mencapai 27.804 kasus (APJII)
„
Sejak tahun 2003 hingga kini, angka kerugian akibat
kejahatan kartu kredit mencapai Rp 30 milyar per tahun
(AKKI)
„
Layanan e-commerce di luar negeri banyak yang
memblok IP dan credit card Indonesia. Meskipun
alhamdulillah, sejak era tahun 2007 akhir, mulai banyak
layanan termasuk payment gateway semacam PayPal
yang sudah mengizinkan pendaftaran dari Indonesia dan
dengan credit card Indonesia
Indonesia menjadi tampak tertinggal dan sedikit terkucilkan
di dunia internasional, karena negara lain misalnya Malaysia,
Singapore dan Amerika sudah sejak 10 tahun yang lalu
mengembangkan dan menyempurnakan Cyberlaw yang mereka
miliki. Malaysia punya Computer Crime Act (Akta Kejahatan
Komputer) 1997, Communication and Multimedia Act (Akta
Komunikasi dan Multimedia) 1998, dan Digital Signature Act (Akta
88
Tandatangan Digital) 1997. Singapore juga sudah punya The
Electronic Act (Akta Elektronik) 1998, Electronic Communication
Privacy Act (Akta Privasi Komunikasi Elektronik) 1996. Amerika
intens untuk memerangi child pornography dengan: US Child
Online Protection Act (COPA), US Child Pornography Protection
Act, US Child Internet Protection Act (CIPA), US New Laws and
Rulemaking.
Jadi kesimpulannya, cyberlaw adalah kebutuhan kita
bersama. Cyberlaw akan menyelamatkan kepentingan nasional,
pebisnis Internet, para akademisi dan masyarakat secara umum,
sehingga harus kita dukung. Nah, masalahnya adalah apakah UU
ITE ini sudah mewakili alias layak untuk disebut sebagai sebuah
cyberlaw? Kita analisa dulu sebenarnya apa isi UU ITE itu.
MUATAN UU ITE
Secara umum, bisa kita simpulkan bahwa UU ITE boleh disebut
sebuah cyberlaw karena muatan dan cakupannya luas membahas
pengaturan di dunia maya, meskipun di beberapa sisi ada yang
belum terlalu lugas dan juga ada yang sedikit terlewat. Muatan
UU ITE kalau saya rangkumkan adalah sebagai berikut:
1.
Tanda tangan elektronik memiliki kekuatan hukum yang sama
dengan tanda tangan konvensional (tinta basah dan
bermaterai). Sesuai dengan e-ASEAN Framework Guidelines
(pengakuan tanda tangan digital lintas batas)
2.
Alat bukti elektronik diakui seperti alat bukti lainnya yang
diatur dalam KUHP
3.
UU ITE berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan
hukum, baik yang berada di wilayah Indonesia maupun di
luar Indonesia yang memiliki akibat hukum di Indonesia
4.
Pengaturan nama domain dan Hak Kekayaan Intelektual
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 89
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
5
Perbuatan yang dilarang (cybercrime) dijelaskan pada Bab
VII (pasal 27-37):
„
„
„
„
„
„
„
„
Pasal 27 (Asusila, Perjudian, Penghinaan, Pemerasan)
Pasal 28 (Berita Bohong dan Menyesatkan, Berita
Kebencian dan Permusuhan)
Pasal 29 (Ancaman Kekerasan dan Menakut-nakuti)
Pasal 30 (Akses Komputer Pihak Lain Tanpa Izin,
Cracking)
Pasal 31 (Penyadapan, Perubahan, Penghilangan
Informasi)
Pasal 32 (Pemindahan, Perusakan dan Membuka
Informasi Rahasia)
Pasal 33 (Virus?, Membuat Sistem Tidak Bekerja (DOS?))
Pasal 35 (Menjadikan Seolah Dokumen Otentik
(phising?))
PASAL KRUSIAL
Pasal yang boleh disebut krusial dan sering dikritik adalah Pasal
27-29, khususnya Pasal 27 ayat 3 tentang muatan pencemaran
nama baik. Terlihat jelas bahwa pasal tentang penghinaan,
pencemaran, berita kebencian, permusuhan, ancaman dan
menakut-nakuti ini cukup mendominasi di daftar perbuatan yang
dilarang menurut UU ITE. Bahkan sampai melewatkan masalah
spamming, yang sebenarnya termasuk masalah vital dan sangat
mengganggu di transaksi elektronik. Pasal 27 ayat 3 ini yang juga
dipermasalahkan juga oleh Dewan Pers bahkan mengajukan judicial
review ke mahkamah konstitusi. Perlu dicatat bahwa sebagian pasal
karet (pencemaran, penyebaran kebencian, penghinaan, dsb) di
KUHP sudah dianulir oleh Mahkamah Konstitusi.
Para blogger patut khawatir karena selama ini dunia blogging
mengedepankan asas keterbukaan informasi dan kebebasan diskusi.
90
Kita semua tentu tidak berharap bahwa seorang blogger harus
didenda semiliar rupiah karena mem-publish posting berupa
komplain terhadap suatu perusahaan yang memberikan layanan
buruk, atau posting yang meluruskan pernyataan seorang “pakar”
yang salah konsep atau kurang valid dalam pengambilan data.
Kekhawatiran ini semakin bertambah karena pernyataan dari
seorang staff ahli DEPKOMINFO bahwa UU ITE ditujukan untuk
blogger dan bukan untuk pers. Pernyataan ini bahkan keluar setelah
pak Nuh (Mohamad Nuh, menteri Komunikasi dan Informasi)
menyatakan bahwa “blogger is a part of depkominfo family”.
Padahal sudah jelas bahwa UU ITE ditujukan untuk setiap orang.
YANG TERLEWAT DAN PERLU PERSIAPAN DARI UU ITE
Beberapa yang masih terlewat, kurang lugas dan perlu didetailkan
dengan peraturan dalam tingkat lebih rendah dari UU ITE
(Peraturan Menteri, dsb) adalah masalah:
„
Spamming, baik untuk email spamming maupun
masalah penjualan data pribadi oleh perbankan,
asuransi, dsb.
„
Virus dan worm komputer (masih implisit di Pasal 33),
terutama untuk pengembangan dan penyebarannya
„
Kemudian juga tentang kesiapan aparat dalam
implementasi UU ITE. Amerika, China dan Singapore
melengkapi implementasi cyberlaw dengan kesiapan
aparat. Child Pornography di Amerika bahkan diberantas
dengan memberi jebakan ke para pedofili dan
pengembang situs porno anak-anak
„
Terakhir ada yang cukup mengganggu, yaitu pada bagian
penjelasan UU ITE kok persis plek alias copy paste dari
Bab I buku karya Prof. Dr. Ahmad Ramli, SH, MH berjudul
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 91
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Cyberlaw dan HAKI dalam Sistem Hukum Indonesia.
Kalaupun pak Ahmad Ramli ikut menjadi staf ahli
penyusun UU ITE tersebut, seharusnya janganlah terus
langsung copy paste buku Bab I untuk bagian Penjelasan
UU ITE, karena nanti yang tanda tangan adalah Presiden
Republik Indonesia. Mudah-mudahan yang terakhir ini
bisa direvisi dengan cepat. Mahasiswa saja dilarang
copas apalagi dosen hehehehe.
KESIMPULAN
UU ITE adalah cyberlaw-nya Indonesia, kedudukannya sangat
penting untuk mendukung lancarnya kegiatan para pebisnis
Internet, melindungi akademisi, masyarakat dan mengangkat citra
Indonesia di level internasional. Cakupan UU ITE luas (bahkan
terlalu luas?), mungkin perlu peraturan di bawah UU ITE yang
mengatur hal-hal lebih mendetail (peraturan mentri, dsb). UU ITE
masih perlu perbaikan, ditingkatkan kelugasannya sehingga tidak
ada pasal karet yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan yang tidak
produktif.
Download materi lengkap: romiuuite-fasilkomui-24april2008.zip
Download UU ITE: uu-ite.zip
UPDATE (25 April 2008): UU ITE
telah mendapatkan nomor dan
ditandatangani oleh Presiden
SBY pada tanggal 21 April 2008.
UU ITE menjadi UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik, Lembaran Negara No 58 dan Tambahan
Lembaran Negara No 4843
92
Antara HaKI, Islam dan Teknologi
Diskusi saya mulai dengan memberikan
gambaran bagaimana Hak atas Kekayaan
INFORMASI
HAK CIPTA bukanlah lawan dari open source.
Open source bukanlah software tanpa lisensi.
Lho kok bisa begitu? Ya, ini diskusi yang coba
saya angkat di acara seminar bertema “Haki dan
Bagaimana Islam Mensikapinya” yang diadakan
oleh Studi Islam Teknik Computer (SITC), Jurusan
Teknik Informatika, ITS Surabaya tanggal 22
Maret 2008 lalu. Saya membawakan materi
bersama mas Fahmi Amhar (Bakorsurtanal).
Saya kebagian untuk HaKI dan teknologi
informasinya, sedangkan mas Fahmi Amhar dari
sudut pandang Islamnya. Materi saya berikan
komprehensif, mulai dari mengenalkan apa itu
HaKI, bagaimana pandangan Islam dan juga
bagaimana HaKI masuk ke ranah teknologi
informasi, khususnya masalah software.
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 93
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Intelektual atau sering disebut orang dengan HAKI, HaKI, HKI atau
IPR (Intellectual Property Rights) mengitari bisnis Amazon.Com.
Ada yang di-patent-kan seperti 1-click patent, ada yang dicopyright-kan, ada yang trademerk-nya didaftarkan, dan
sebagainya. Intinya ternyata ada banyak ragam HaKI itu. HaKI kalau
kita kupas satu persatu bisa membawa arti sebagai berikut:
1.
Hak: kemilikan, kepunyaan, kewenangan, kekuasaan
untuk berbuat sesuatu menurut hukum
2.
Kekayaan: sesuatu yang dapat dimiliki, dialihkan, dibeli,
maupun dijual
3.
Kekayaan Intelektual: Kekayaan atas segala hasil
produksi kecerdasan daya pikir seperti teknologi,
pengetahuan, seni, sastra, lagu, karya tulis, karikatur,
dsb.
Kesimpulannya HaKI adalah hak dan kewenangan untuk
berbuat sesuatu atas kekayaan intelektual, yang diatur oleh
norma-norma atau hukum-hukum yang berlaku. Dan HaKI
bukanlah hak azasi, tapi merupakan hak amanat karena diberikan
oleh masyarakat melalui peraturan perundangan.
Sejarah HaKI dimulai di Venice, Italia tahun 1470 ketika
mereka mengeluarkan UU HaKI pertama yang melindungi Paten.
Peneliti semacam Caxton, Galileo dan Guttenberg menikmati
perlindungan dan memperoleh hak monopoli atas penemuan
mereka. Hukum Paten di Venice diadopsi oleh kerajaan Inggris di
tahun 1623 (Statute of Monopolies). Amerika Serikat sendiri baru
memiliki UU Paten tahun 1791.
Terbentuklah konvensi untuk standarisasi, pembahasan
masalah baru, tukar menukar informasi, perlindungan dan
prosedur mendapatkan hak, yaitu:
94
1.
Paris Convention (1883) untuk masalah paten, merek
dagang dan desain
2.
Berne Convention (1886) untuk masalah copyright atau
hak cipta
Konvensi ini memutuskan membentuk United International
Bureau for the Protection of Intellectual Property yang kemudian
dikenal dengan nama World Intellectual Property Organization
(WIPO). Setelah itu WIPO menjadi badan administratif khusus PBB,
dan WIPO menetapkan 26 April sebagai Hari Hak Kekayaan
Intelektual Sedunia di tahun 2001. Muncul persetujuan umum
tentang tarif dan perdagangan (GATT) di Maroko (15 April 1994).
Dan Indonesia sepakat untuk melaksanakan persetujuan tersebut
dengan mengeluarkan UU No 7 tahun 1994 tentang Persetujuan
Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Nah, semua
undang-undang HaKI di Indonesia, baik berupa Paten, Hak Cipta,
Merek Dagang, dan sebaginya nanti merujuk ke WIPO dan WTO.
Sekarang pertanyaannya adalah ragam HaKI itu apa saja? Di
Indonesia HaKI diakui ragamnya seperti di bawah ini.
1.
Hak Cipta (Copyright) : UU No 19 Tahun 2002. Hak cipta
melindungi karya (ekspresi ide)
2.
Paten (Patent): UU No 14 Tahun 2001. Paten melindungi
ide
3.
Merk Dagang (Trademark): UU No 15 tahun 2001.
Contoh: Kacang Atom merk Garuda, Minuman merek
Coca Cola
4.
Rahasia Dagang (Trade Secret): UU No 30 Tahun
2000. Contoh: Rahasia dari formula Coca Cola
5.
Service Mark. Contoh: Lampu Phillips dengan service
mark “Terus Terang Phillips Terang Terus”
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 95
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
6.
Desain Industri: UU No 31 Tahun 2000
7.
Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu:UU No 32 Tahun 2000
Bagaimana HaKI menurut pandangan Islam? Saya tidak
memiliki kafaah syar’i (keahlian dalam bidang hukum Islam-ed.),
sehingga saya hanya mengutip dua pandangan di bawah:
1.
Rangkuman dari Qarar Majma Al-Fiqh Al-Islami No 5,
Muktamar Kelima, 10-15 Desember 1988, Kuwait. HaKI
adalah merupakan urf (kebiasaan di masyarakat) yang diakui
sebagai jenis dari suatu kekayaan di mana pemiliknya berhak
atas semua itu. Boleh diperjual-belikan dan merupakan
komoditas
2.
Rangkuman dari sahabat saya Ust. Ahmad Sarwat, Lc dari
Eramuslim.Com. Islam mengakui hak cipta sebagai hak milik
atau kekayaan yang harus dijaga dan dilindungi. Membajak
hasil karya orang lain termasuk pencurian dan tindakan yang
merugikan hak orang lain. Bagaimana jika seseorang terpaksa
menggunakan program khusus (belum ada pilihan lain)
karena harganya tidak terjangkau, padahal manfaatnya vital
dan berhubungan dengan hajat hidup orang banyak?
beberapa ulama memberikan keringanan. Sedangkan
membajak program secara massal dan profesional? haram
secara mutlak.
Berikutnya kita akan bahas tentang HaKI dalam teknologi
informasi khususnya dalam perlindungan terhadap perangkat
lunak (software).
Di Indonesia, HaKI dalam Perangkat Lunak dimasukkan dalam
kategori Hak Cipta (Copyright). Di negara lain, selain Hak Cipta,
perangkat lunak juga bisa dipatenkan, meskipun sebenarnya yang
dipatenkan adalah ide alias business model-nya (Business Model
Patent), contohnya Amazon dengan 1-Click Patent.
96
Perlu kita berikan catatan bahwa hak cipta memberi hak
kepada pencipta untuk membuat salinan dari ciptaannya tersebut,
membuat produk derivatif dan menyerahkan hak-hak tersebut
ke pihak lain (lisensi). Hak cipta berlaku seketika setelah ciptaan
tersebut dibuat. Hak cipta tetap dilindungi oleh hukum meskipun
tidak didaftarkan ke Ditjen HAKI.
Pada paragraf diatas saya sebut bahwa proses penyerahan
hak tersebut kepada orang lain adalah dengan sistem lisensi.
Misalnya, Microsoft membuat sebuah perangkat lunak bernama
Microsoft Office. Microsoft menjual produknya ke publik, artinya
Microsoft memberi hak kepada seseorang yang membeli Microsoft
Office untuk “memakai” perangkat lunak tersebut, ini yang disebut
dengan lisensi. Orang tersebut tidak diperkenankan membuat
salinan Microsoft Office untuk kemudian dijual kembali atau
bahkan memodifikasinya, karena hak tersebut tidak diberikan oleh
Microsoft (hanya hak memakai yang diberikan).
Nah, serah terima hak cipta (lisensi) tidak harus berhubungan dengan pembelian/penjualan seperti kasus Microsoft Office
diatas. Kita ambil contoh lisensi GPL (GNU Public License) yang
umum digunakan pada perangkat lunak open source. Lisensi GPL
memberikan hak kepada orang lain untuk menggunakan,
mengubah, bahkan menjual sebuah ciptaan asalkan modifikasi atau
produk derivasi dari ciptaan tersebut memiliki lisensi yang sama.
Ini yang saya sebut pada kalimat pembuka bahwa open source-pun
memiliki lisensi dan sebenarnya juga dilindungi oleh hukum hak
cipta. Adalah sebuah kesalahan menyebut software open source
sebagai software tanpa lisensi atau nirlisensi.
Jadi kebalikan atau lawan dari hak cipta bukanlah open
source. Kebalikan dari hak cipta adalah public domain. Ciptaan
yang sudah masuk ke ranah public domain dapat digunakan
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 97
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
sekehendaknya oleh pihak lain. Sebuah karya adalah public
domain jika pemilik hak ciptanya menghendaki demikian. Selain
itu, hak cipta memiliki waktu kadaluwarsa yang membawanya ke
public domain. Contoh: lagu-lagu klasik sebagian besar adalah
public domain karena sudah melewati jangka waktu kadaluwarsa
hak cipta.
Pertanyaan berikutnya, bagaimana dengan paten dalam
perangkat lunak?
Saya perjelas bahwa paten melindungi sebuah ide, bukan
ekspresi dari ide tersebut (karya). Pada hak cipta, orang lain berhak
membuat karya lain yang fungsinya sama asalkan tidak dibuat
berdasarkan karya orang lain yang memiliki hak cipta. Sedangkan
pada paten, seseorang tidak berhak untuk membuat sebuah karya
yang cara bekerjanya sama dengan ide yang dipatenkan. Paten
berasal dari ide yang orisinil. Jika suatu saat ditemukan bahwa
sudah ada yang menemukan ide tersebut sebelumnya, maka hak
paten tersebut dapat dibatalkan.
Contoh paten dalam perangkat lunak adalah algoritma
Pagerank dipatenkan oleh Stanford University, trademerk atas
nama Google. Pagerank dipatenkan di kantor paten Amerika
Serikat. Pihak lain di Amerika Serikat tidak dapat membuat sebuah
karya berdasarkan algoritma Pagerank, kecuali ada perjanjian
dengan Stanford University (Google).
Paten dalam software apakah merugikan atau menguntungkan? Ini jadi perdebatan besar dan masalahnya sangat pelik. Saya
akan bahas di lain posting saja.
98
Dalam perjalanan, kami lewat di depan
rumah Oyasan (pemilik rumah yang kami sewa).
Saya lihat dia sedang siap memanen sayur dan
buah-buahan di kebun kecil di depan rumahnya
yang selalu dia rawat dengan baik. Saya sapa
dia dengan melambaikan tangan karena
Berilah Mataharimu
“Ohayo gozaimasu (selamat pagi)”, sapa
gadis kecil tetangga rumah, ketika saya hendak
mengayuh sepeda mengantar Irsyad, anak saya
yang paling besar, ke yochien (TK Jepang). Saya
tersenyum karena tanpa sadar ternyata Irsyad
sudah menganggukkan kepala dan balik
menyapa gadis kecil tadi. Yochien tempat Irsyad
sekolah letaknya tak jauh dari rumah, naik
sepeda sekitar 5 menit.
SINAR TAKWA
POTRET ORANG Jepang dari dekat, sebuah kisah
kecil yang kebetulan saya tulis sewaktu tinggal
di Jepang.
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 99
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
posisinya agak jauh.
Tiba-tiba Irsyad
m e n e p u k- n e p u k
punggung saya dan
mengatakan, “Abi,
hari ini kita bisa
makan tomat segar
nih.”, dengan mimik
muka
yang
bersemangat. Saya tersenyum, ya memang pada saat musim
panen, sering sekali Oyasan memberi kami satu plastik besar berisi
tomat, bawang ataupun wortel dari hasil panenan kebunnya.
Sampai di Yochien, Irsyad sudah lari masuk ke kelasnya dengan
bawaan yang menurut saya agak kurang pantas untuk seorang anak
TK berumur 4 tahun. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian
ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku,
handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya.
Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan
sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri.
Dan si anak juga harus bisa mengenali sendiri mana barang yang
milik dia. Saya biasa langsung berangkat ke kampus setelah
mengantar Irsyad. Pulang ke rumah sore hari, sudah menunggu
istri yang tersenyum dan bercerita bahwa hari
ini mendapat kiriman bawang dan tomat dari
Oyasan.
Ingin kembali memotret Jepang dari
dekat beserta perilaku kehidupan
masyarakatnya. Saya sering becanda ke
teman-teman bahwa kadang-kadang orang
Jepang itu berperilaku lebih Islami daripada
saya. Sifat ihtirom (hormat) terhadap orang
100
tua, akhlak terhadap
tetangga, saling memberi hadiah kepada orang
lain selagi mendapatkan
rejeki lebih, kemudian
juga dengan sistem pendidikan formal yang
mengajarkan moral dan
perilaku hidup mandiri
dan sopan santun.
Tentu saja dari sisi lain, kita bisa melihat bahwa ada perilaku
orang Jepang yang tidak Islami, misalnya budaya minum sake
(minuman keras), makan daging babi, kehidupan free sex pada
generasi-generasi mudanya, dsb. Pada sisi ini memang cahaya
Islam belum sampai kepada mereka. Namun ada sesuatu yang
menarik disini bahwa faktor “tidak tahu” itu lebih besar daripada
“tidak mau melaksanakan”. Ini terbukti ketika kita cermati perilaku
teman-teman Jepang yang akhirnya masuk Islam. Mereka masuk
Islam dengan total, dan mereka buang apa yang salah menurut
Islam, dan hebatnya mereka sangat teguh dan istiqomah
menjalankan ajaran Islam yang baru saja mereka masuki.
Adalah seorang imam masjid Ichinowari, masjid di sebuah
kota kecil di pinggiran prefecture Saitama. Ibrahim Okubo,
begitulah kita biasa memanggilnya. Beliau adalah orang Jepang
yang “baru masuk Islam” belasan tahun yang lalu. Dengan sorban
yang selalu tertata rapi di kepala, senyum yang selalu terhias,
kegesitannya dalam berdakwah, bagusnya bacaan dan hapalan
Qur’an beliau, kita akan semakin tertegun dengan kata-kata penuh
hikmah yang keluar dari mulutnya. Sungguh sulit membayangkan
bahwa belasan tahun yang lalu, beliau adalah orang Jepang yang
suka sekali minum sake ataupun makan daging babi.
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 101
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Istri saya yang suatu saat
mendapat kesempatan mengajar ngaji di sebuah masjid di
daerah Tokyo, sering merasa
kewalahan memberikan jawaban terhadap rasa ingin
tahu muslimah Jepang yang
besar, berhubungan dengan
hakekat cara baca Qur ’an
maupun ajaran Islam secara umum. Banyak hal-hal prinsip yang
seharusnya wajib kita kuasai tapi luput dari pengetahuan kita
karena kita terlena dan terlalu taklid terhadap Islam yang kita
peluk dari “warisan” orang tua dan kakek nenek kita. Saya juga
tertegun dengan komentar istri saya pada suatu ketika dia berkata,
“Orang Jepang meskipun sudah masuk Islam sifatnya tetap seperti
orang Jepang. Mereka tetap sopan dan hormat terhadap orang
lain, merasa tidak enak kalau anaknya mengganggu anak orang
lain, tarbiyah (pendidikan) terhadap anak-anaknya supaya bisa
hidup mandiri, dsb”.
Padahal sebenarnya semua ini adalah juga ajaran Islam, milik
Islam, dan sudah seharusnya dilaksanakan dengan baik oleh orang
Islam. Kita juga sudah terlalu sering mendengarkan nasehatnasehat seperti ini lewat pengajian di masjid, di radio ataupun
siraman rohani di televisi. Mengapa ini semua bisa dilaksanakan
dengan baik oleh orang Jepang, tapi kita malah sering sekali
melupakannya ?
Mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah dari tulisan
ini untuk semakin memotivasi diri kita dalam berakhlak dan berIslam secara total. Tak lupa marilah kita doakan saudara kita dari
negeri Matahari Terbit ini untuk segera memperoleh sinar takwa
dari Allah.
102
BAB 3
MENJADI
ENTREPRENEUR
ITU MUDAH
BAB 2: Beda Antara Kebenaran dan Kebetulan — 103
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
104
Arah dan Trend
Mengapa ada perubahan arah SDM TI
seperti ini? Faktor terbesar adalah meningkatnya persaingan bisnis seiring dengan semakin
kompleksnya perkembangan teknologi informasi
sendiri. TI semakin dibutuhkan untuk memecahkan permasalahan di berbagai bidang, diperlukan solusi multidisiplin, multiplatform dan
sesuai dengan konteks permasalahan yang
SDM TI (1)
MENARIK MEMBACA laporan khusus
Gartner tentang prediksi 2006 (Gartner
Predictcs 2006 Special Report), yang
kebetulan juga dibahas di majalah
eBizzAsia bulan pebruari 2006.
Diramalkan bahwa pada tahun 2010 pasar
kerja para spesialis Teknologi Informasi
(TI) akan berkurang hingga 40%. Para
spesialis (specialist) ini akan digantikan
oleh versatilis (versatilist), yang mampu mengkombinasikan kompetensi dan keahlian
teknis, dengan pengalaman bisnis dan kemampuan memberikan solusi komprehensif. Siapa itu
spesialis? Siapa itu versatilis? kita coba bahas
dalam tulisan ini.
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 105
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
dihadapi. Disinilah Gartner menyebut istilah “IT versatilist”, yaitu
orang-orang yang memiliki pengalaman, kemampuan
menjalankan berbagai tugas yang beragam dan multidisiplin
(versatile), dimana semua itu untuk menciptakan suatu
pengetahuan (baru), kompetensi dan keterkaitan (context) yang
kaya dan padu guna mendorong peningkatan nilai bisnis.
Sifat sang versatilis adalah fleksibel terhadap teknologi,
orientasi utamanya adalah untuk memberikan solusi sesuai
requirement (kebutuhan) yang diminta oleh sang customer.
Versatilis bukan seorang generalis yang mengenal semua bidang
dan teknologi tapi hanya kulitnya (dangkal). Versatilis tidak terlahir
tiba-tiba, tapi karena pengalaman matang menjadi seorang
spesialis. Versatilis juga bukan spesialis yang hanya mengerti
cakupan bidang yang sempit, meskipun dalam. Versatilis
adalah seorang spesialis yang berpikir lebih luas, berwawasan,
matang, penuh perhitungan, mengerti tentang bisnis, orientasi kerja
untuk memberi solusi, mampu bekerjasama (membangun jejaring)
dengan orang-orang TI lain maupun non TI, dan yang pasti tidak
mengkotakkan dirinya pada sebuah teknologi, tool atau platform.
Prediksi Gartner ini diperkuat oleh beberapa data, misalnya
tentang 80% profesional TI di Amerika bekerja di perusahaanperusahaan yang menerapkan TI, dan bukan perusahaanperusahaan TI sendiri (hardware, software, service). Wajarlah
seorang profesional TI dituntut untuk memiliki kemampuan verbal
dalam menyampaikan konsep-konsep teknologi informasi dalam
bahasa yang dimengerti oleh banyak orang. Inilah dia sang
Versatilis!
Sebelum membaca laporan Gartner ini sebenarnya saya
sudah mendapatkan pencerahan dari pengalaman pribadi selama
10 tahun di Jepang. Keluar masuk bekerja paruh waktu maupun
106
semi full-time di berbagai perusahaan TI
Jepang, mulai dari menjadi teknisi, engineer,
developer, konsultan sampai lecturer. Saya mungkin
tidak menyebut sebuah terminologi seperti
versatilis, hanya saya mencoba memberi gambaran
tentang figur SDM TI Indonesia dalam kesempatan
berbicara di seminar dan workshop di berbagai
tempat. Mudah-mudahan yang sering mengikuti
seminar saya mengingat kembali tentang hal ini.
Pesan yang saya sampaikan khusus untuk para generasi muda
SDM TI Indonesia adalah: Perlahan tapi pasti, dengan modal
pengalaman, skill, kompetensi, dan sertifikasi spesialis yang kita
miliki, marilah kita berlatih menjadi seorang versatilis.
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 107
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
108
Arah dan Trend
SDM TI (2)
SABTU KEMARIN (22 September 2007) saya
diminta Mas Dana Kusumo (Dosen STT Telkom)
untuk mengisi kapita selekta di STT Telkom
Bandung. Berangkat bareng Alex dan Udin dari
Jakarta jam 7 pagi dan alhamdulillah jam 9
kurang sedikit sudah sampe di kampus biru STT
Telkom. STT Telkom ini kampus kenangan, karena
dulu saya sempat 2 bulan di sana, masuk jurusan
elektro tahun 1993, ikut Ospek dan penataran
P4, meskipun setelah itu keterima di program
beasiswa STAID (BPPT) dan terbang ke Jepang.
Tema kapita selektanya sendiri mungkin bukan
tema baru, karena sudah sering saya bawakan
di berbagai kampus, terutama ketika audiensnya
adalah mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir.
Diskusi saya buka dengan ulasan tentang apa
yang sedang terjadi di dunia ini. Dunia ini sedang
didatarkan, begitu kata Thomas Friedman dalam
bukunya berjudul The World is Flat.
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 109
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Menurut Friedman ada 10 kekuatan pendatar dunia, yang 6
diantaranya berhubungan erat dengan teknologi informasi, yaitu
WWW, Opensourcing (linux, blogging, wikipedia), Software
Revolution (people collaboration), Informing (yahoo and google),
Outsourcing dan Steroid (PDA, mobile apps). Hal ini diperkuat
bagaimana pengguna Internet dunia yang sudah menembus angka
1 miliar, Indonesia menduduki peringkat 13 dunia dengan jumlah
pengguna
Internet
mencapai
18
juta
orang
(internetworldstats.com).
Friedman melanjutkan bahwa ada fenomena menarik dimana
perubahan yang terjadi di dunia ini sejak era 1990, bukan lagi
dilakukan oleh negara (globalisasi versi 1) atau perusahaan
(globalisasi versi 2), tapi dilakukan oleh individu atau komunitas
kecil (globalisasi versi 3). Globalisasi versi 3 begitu kata Friedman,
tokoh utamanya adalah individu yang dengan menggunakan alat
pendatar dunia, seseorang atau sekelompok kecil bisa melakukan
perubahan. Ternyata pendapat Friedman ini diamini oleh majalah
Times yang pada penghujung tahun 2006 seperti biasa
mempublikasikan “Time Person of the Year”, yang anehnya di
tahun 2006 majalahnya diberi cermin kecil dimana kita disuruh
berkaca. Lho? Ya benar, 2006 “Time Person of the Year” adalah
YOU ! (Anda). Ya, Anda yang mau melakukan knowledge sharing
di Internet, mengisi dunia maya dengan konten-konten yang
bermanfaat untuk orang lain. Inilah yang saya sebut sebagai trend
SDM yang pertama.
Trend SDM yang kedua saya ambilkan dari rangkuman
laporan IDC dan Gartner Predict 2006, yang intinya adalah pada
tahun 2010 keatas, pasar kerja akan didominasi oleh:
1.
110
Para versatilist, para spesialis yang memiliki skill verbal
dan bisa menawarkan produk ke pihak lain dengan baik.
Ini dulu pernah saya bahas di artikel berjudul “Dari
Spesialist ke Versatilist”.
2.
SDM IT yang memiliki keunggulan defacto (creativity dan
real work) dan dejure (degree, certification). Yang ini
saya pernah bahas di artikel berjudul “Raih Keunggulan
Defacto dan Dejure!”.
Di akhir materi saya berikan studi kasus bagaimana sebuah
keunggulan defacto bisa membawa kita menuju jalur
entrepreneur (industri) dan bahkan mungkin side effect-nya bisa
masuk ke wilayah selebritis dengan tetap konsisten di jalur
teknologi.
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 111
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
112
Jadi Pebisnis TI,
SIAPA TAKUT
PADA SUATU pagi di musim dingin tahun 1974,
dalam perjalanan mengunjungi sahabatnya Bill
Gates, Paul Allen membaca artikel majalah
Popular Electronics dengan judul “World’s First
Microcomputer Kit to Rival Commercial
Models.” Artikel ini memuat tentang komputer
mikro pertama Altair 9090. Allen kemudian
berdiskusi dengan Bill Gates, dan mereka
menyadari bahwa era “komputer rumah” akan
segera hadir dan meledak, membuat
keberadaan software untuk komputerkomputer tersebut sangat dibutuhkan. Bill Gates
kemudian meng-hubungi perusahaan pembuat
Altair, yaitu MITS (Micro
Instrumentation and
Telemetry Systems). Dia
mengatakan bahwa dia
dan
Allen,
telah
membuat BASIC yang
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 113
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
dapat digunakan pada Altair. Tentu saja ini adalah bohong. Bahkan
mereka sama sekali belum menulis satu baris kode pun. MITS,
yang tidak mengetahui hal ini, sangat tertarik pada BASIC. Dan
hebatnya dalam waktu 8 minggu BASIC telah siap
diimplementasikan dan bekerja sempurna di Altair. Setahun
kemudian Bill Gates meninggalkan Harvard, dan bersama dengan
Paul Allen mendirikan Microsoft.
Kisah berbeda datang dari Jerry Yang,
yang pada tahun 1990 menjalani program
doktor di Stanford University. Bersama
dengan sahabatnya David Filo, mereka
lebih menyukai kegiatan surfing di Internet,
daripada aktifitas dan penelitian program
doktor yang mereka ikuti. Mereka mulai
mengumpulkan link situs-situs yang
menarik, sampai akhirnya list yang mereka
buat telah menjadi terlalu panjang dan
terlalu banyak. Mereka kemudian
membaginya menjadi banyak kategori dan subkategori. Inilah
peristiwa bersejarah yang mengawali lahirlah perusahaan besar
bernama Yahoo!. Yahoo merupakan singkatan dari Yet Another
Hierarchical Officious Oracle. Awalnya, yang mengakses ke
direktori Yahoo! hanya Yang, Filo, dan beberapa teman dekat
mereka di Stanford University. Namun, dari obrolan mulut ke
mulut, orang mengakses ke Yahoo! menjadi semakin banyak.
Mengetahui bahwa orang yang mengakses ke Yahoo! menjadi
sangat banyak, mereka akhirnya menjadikan Yahoo! sebagai
bisnis.
Dua kisah diatas tercatat dalam sejarah bagaimana sebuah
bisnis Information Technology (IT) dapat terlahir. Dan masih
banyak kisah-kisah lain tentang kesuksesan bisnis IT, yang kadang
114
dimulai dari sesuatu yang sederhana, dari sebuah hobi atau
kemampuan kita membaca kebutuhan masyarakat terhadap suatu
solusi. Bidang IT termasuk bidang yang unik, karena banyak sekali
pebisnis dan tokoh-tokoh IT lahir justru karena kekuatan karakter
dan kreativitas.
Nah, keunggulan yang diperoleh seseorang karena
pengakuan dan penghargaan publik terhadap hasil karya, produk,
ide dan perjoeangan yang dilakukan adalah merupakan
keunggulan defacto. Sebaliknya keunggulan yang diperoleh
seseorang karena gelar (degree), sertifikasi (certification) dan
pengakuan formal, sering saya sebut sebagai keunggulan dejure.
Bisnis dan peluangnya bisa lahir dari keunggulan defacto maupun
dejure, dan keduanya bisa saling melengkapi.
Bill Gates, Kevin Mitnik, Steve Jobs, dan William Joy, adalah
nama-nama yang besar di dunia IT karena keunggulan defacto
mereka. Orang mungkin juga lupa bahwa Jerry Yang adalah
seorang akademisi yang menguasai dengan baik teori-teori dasar
komputasi. Meskipun dia lebih terkenal
karena sebagai founder dari Yahoo.Com.
William Joy yang lulusan The University of
California Barkeley, justru lebih terkenal
karena sebagai pendiri dari Sun
Microsystems. Bill Gates dan Kevin Mitnik
juga memberikan nyata bagaimana
keunggulan defacto menjadi sesuatu hal
yang dominan dalam terlahirnya sebuah
bisnis.
Menariknya fenomena ini juga dikaji secara mendalam dalam
laporan khusus Gartner 2006 (Gartner Predictcs 2006 Special
Report), meskipun dengan terminologi yang berbeda. Diramalkan
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 115
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
bahwa pada tahun 2010 pasar kerja para
spesialis IT akan berkurang hingga 40%. Para
spesialis (specialist) ini akan digantikan oleh
versatilis (versatilist), yang mampu
mengkombinasikan kompetensi dan keahlian
teknis, dengan pengalaman bisnis dan
kemampuan
memberikan
solusi
komprehensif. Dengan degree dan sertifikasi,
kita mungkin akan bisa menjadi seorang spesialis dalam suatu
bidang (keunggulan defacto). Tapi ternyata ini saja tidak cukup,
diperlukan kemampuan verbal, komunikasi memberi solusi dan
berhubungan dengan orang lain (keunggulan defacto). Ini yang
disebut dengan seorang versatilis, dan versatilis bukanlah generalis
yang tahu banyak hal tapi dangkal atau hanya kulit-kulitnya saja.
Inilah jalan untuk survive dan menjadi seorang entrepreneur
di dunia IT. Dan Sumber Daya Manusia (SDM) IT Indonesia, sejak
dini sebaiknya diarahkan untuk memiliki kombinasi kedua
keunggulan tersebut. Di satu sisi kita selalu mendorong
mahasiswa-mahasiswa kita untuk melanjutkan sekolah ke jenjang
yang lebih tinggi. Di sisi lain kita ajak mereka untuk aktif dan kreatif
lewat kerja-kerja unik yang dibutuhkan oleh masyarakat secara
luas. Memberi kesempatan mereka untuk mengerjakan berbagai
project atau mengembangkan produk yang bisa mereka jual. Dan
pengalaman itu mematangkan teori dan konsep yang mereka
dapatkan di bangku kuliah. Saya sendiri sejak duduk di tingkat 2
program studi S1 di Saitama University, sudah mulai mencoba
kerja paruh waktu, bergabung ke berbagai perusahaan IT di
Jepang, menjadi programmer, engineer, atau lecturer. Bekerja
bersama dan berkomunikasi dengan rekan-rekan di industri
ternyata mematangkan dan memberikan ruh ke ilmu pengetahuan
konseptual yang saya dapatkan di bangku kuliah.
116
Ada sesuatu yang menarik, dari
ratusan tawaran mengajar, seminar,
maupun kesempatan bisnis yang
mampir ke saya, sebagian besar
datang karena aktivitas saya di dunia
maya, karena IlmuKomputer.Com yang
saya buat, karena tulisan-tulisan saya di
media cetak, elektronik, dan di situs blog
RomiSatriaWahono.Net, ataupun karena
pendapat saya di milis-milis. Ini semua (defacto). Sebagian lagi
datang karena saya peneliti di LIPI atau karena degree saya
(dejure).
Pesan terakhir untuk rekan-rekan generasi muda yang ingin
mendaki jalan hidup sebagai seorang entrepreneur di bidang IT:
„
Sistem operasi, bahasa pemrograman, software dan
teknologi hanyalah sebuah tool (alat) yang harus kita kuasai
dan gunakan untuk memecahkan masalah. Tool tersebut
bersifat tidak kekal, dan bukanlah agama yang harus dianut
dengan fanatik seumur hidup. Ketergantungan terhadap
sebuah tool adalah kebodohan. Debat kusir tentang tool
dan saling mengumpat atau membela mati-matian sebuah
tool adalah tindakan sia-sia, karena mereka masing-masing
memiliki kelebihan dan kekurangan.
„
Setiap peluang memiliki nilai untung dan rugi, setiap
keputusan yang diambil dalam hidup harus
memperhitungkan opportunity cost yang harus dibayar.
Ketika kita harus mengambil cuti kuliah untuk
mengerjakan sebuah proyek IT, harus diperhitungkan
benar seberapa besar cost yang kita keluarkan untuk
mendapatkan pengalaman tesebut.
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 117
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
„
Pembelian buku dan komputer harus kita anggap
sebagai sebuah investasi. Kita harus produktif
menggunakan buku dan komputer untuk menghasilkan
keuntungan baik material maupun pengalaman.
„
Cerdas dalam mengambil berbagai peluang yang ada
dan usahakan mengemasnya dalam sebuah karya dan
produk yang menjadi solusi bagi orang lain.
„
Mengambil kesempatan kerja paruh waktu ataupun fulltime sebagai proses pembelajaran dan melatih diri
secara riil di dunia industri.
„
Latihlah kemampuan verbal. Diantara kesibukan
berkomunikasi dengan mesin (komputer) sempatkan
waktu untuk tetap latih teknik dan strategi berkomunikasi dengan manusia. Berlatihlah menyampaikan
pengetahuan dan teknologi yang kita kuasai dengan
bahasa sederhana dan dapat dipahami dengan mudah
oleh orang awam sekalipun.
„
Bangun jaringan (networking) dan kerjasama dengan
berbagai pihak. Setiap pertemuan dengan orang lain,
siapapun dia, akan membawa manfaat bagi kita,
meskipun kadang-kadang tidak langsung datang
seketika.
Siapapun kita, apapun degree kita, apapun bidang pekerjaan
kita, asal kita sudah berniat untuk terjun di bisnis dan industri IT,
kita bisa mulai dari keunggulan defacto dan dejure yang kita miliki.
Jadi pebisnis IT, siapa takut?
118
Dua pertanyaan yang sering muncul ketika
saya mengisi seminar dan workshop di kampuskampus tentang entrepreneurship. Pertanyaan
yang harus kita hargai karena generasi muda
kita punya semangat untuk hidup mandiri dan
10 Kiat Menjadi Entrepreneur untuk
Aku ini kutu kupret mas, mahasiswa teknik
informatika tapi kemampuan coding lemah.
Kalau buat-buat desain sih lumayan mas,
photoshop dan coreldraw itu peganganku tiap
hari. Aku mimpi pingin berbisnis sendiri, cuman
nggak ngerti gimana dan apa yang harus aku
pelajari sekarang. Bantu aku dong mas. (Irwan,
Bandung)
MAHASISWA LUGU
MAS ROMI, selama kuliah kan kita sebagai
mahasiswa nggak sempat latihan berbisnis.
Padahal aku tuh pinginnya begitu lulus langsung
bisa mandiri alias bikin perusahaan sendiri.
Gimana ya caranya. (Maria, Samarinda)
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 119
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
tidak tergantung kepada belas kasihan orang lain. Banyak cara
saya menjawab (baca , hanya mungkin untuk mahasiswa yang
masih polos dan lugu, saya beri 10 kiat mudah seperti berikut ini.
1.
Pelajari latar belakang teman satu angkatan. Bapak dan
ibunya kerja sebagai apa misalnya. Apakah ada yang menjadi
dokter, mengelola klinik, rumah sakit atau apotik? Atau
mungkin ada yang punya toko buku atau pengelola
perpustakaan? Oh mungkin ada yang bekerja di bengkel?
Pelajari semua dan cari informasi sebanyak mungkin? Lha,
untuk apa? Hush diam dulu, ikuti kiat kedua
2.
Ok, sekarang pilih, cari teman yang bisa diajak kompromi,
yang cukup dekat atau bahkan sahabat, dan punya semangat
sama untuk terjun bebas memulai berbisnis. Anggap kita pilih
yang kebetulan bapaknya punya atau mengelola apotik. Lho,
terus mau digimanain tuh?
3.
Cari buku di toko buku, ada tidak buku tentang belajar bahasa
pemrograman yang menggunakan contoh membangun
aplikasi atau sistem informasi manajemen (SIM) untuk
apotik? Cari buku sampai yang terselip di rak-rak toko buku.
Kadang ada buku yang meskipun desain covernya jelek, tapi
studi kasusnya lengkap, bahkan source code-nya dibagi.
Nggak dapat juga? Ok, ayo cari yang open source saja, coba
cek dari sf.net, saya yakin bisa ditemukan. Lha, kalau belum
menemukan juga? Coba Googling deh…
4.
Sekarang mulai oprek SIM untuk apotik tadi. Mulai pelajari
kodenya, oprek dan tambahkan fungsi-fungsi yang
diperlukan. Masih sederhana dulu tidak apa-apa. Buka semua
file image, baik gif, jpg, dan png. Lakukan editing atau buat
image baru yang unik dan khas. Intinya percantik desainnya,
ini enteng kan, apalagi anda jagoan manipulasi image dan
120
foto (asal jangan porno) :) Jangan lupa cek lisensinya supaya
tidak melanggar, dan juga beri credit ke pengembang asal
kalau itu open source. Tidak perlu risih untuk memasukkan
satu kalimat “Powered by …. “ atau “Engine by …” pada SIM
Apotik yang kita oprek tadi.
5.
Eng-ing-eng … kita sudah punya produk berupa software yang
siap ditawarkan nih, meskipun sederhana dan engine-nya
ngambil dari contoh di buku atau open source. Nah, obrolkan
dengan teman yang kita pilih tadi, minta dia “merayu”
bapaknya supaya mau pakai software SIM itu di apotik milik
beliau. Tidak perlu bayar kok, gratis, tinggal nyediakan PC
atau laptopnya saja, itupun tidak perlu canggih-canggih.
Komputer tua saja toh SIM kita juga belum banyak fitur-nya.
6.
Hore… berhasil diimplementasikan! Berdua dengan sahabat
kita tadi, bantu pegawai apotik untuk entri data yaitu data
daftar obat yang disediakan oleh apotik. Jangan lupa buat
spanduk kecil dan brosur diatas komputer tadi, beri
tulisan:”Apotik ini Dikelola dengan Sistem Informasi
Manajemen Apotik (SIMAPO) ver 1.0"
7.
Jangan puas sampai disitu, buat situs untuk promosi, kalau
tidak punya modal pakai saja blog gratisan dengan
Wordpress.Com atau Blogspot.Com. Ngeblog deh, ceritakan
bagaimana SIMAPO itu dikembangkan. Tulis juga pengantar
tentang sistem informasi manajemen, tentang obat-obatan,
tentang apotik, tentang kenapa apotik harus memanfaatkan
IT. Kalau perlu manjakan pengunjung dengan daftar apotik
seluruh Indonesia, data dari mana? Ya cari dari Yellow Page
atau Googling yo…Ops…, jadi kelupaan, jangan lupa beri
tulisan yang agak besar: “SIMAPO ver 1.0 Telah
diimplementasikan di Salah Satu Apotik di Kota Besar di
Indonesia”.
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 121
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
8.
Masih belum boleh puas. Rayu teman lain yang punya
tetangga, kakek, nenek, bapak, ibu, paman atau saudaranya
baik jauh maupun dekat yang mengelola apotik. Minta
supaya mau install, gratis, tapi kalau mau bayar juga nggak
nolak, Rp 500.000 deh, kalau ditawar Rp 50.000 ya nggak
masalah. Anggap saja ada ongkos naik angkot untuk install
SIM-nya. Jangan lupa update spanduk dan brosur, “Apotik
Ini Dikelola dengan SIMAPO ver 1.0, Sistem Informasi
Manajemen untuk Apotik yang telah Diimplementasikan
di Beberapa Kota Besar di Indonesia”.
9.
Alhamdulillah sudah dapat dua customer coz! Meskipun
masih gratisan, tapi lumayan untuk nambahi Portfolio. Mulai
oprek-oprek lagi aplikasi apotik kita, tambahkan fitur
berdasarkan feedback dari apotik yang sudah menggunakan.
Benahi lagi user interface, percantik lagi, buat yang lebih
segar dan unik, beri versi baru 1.1. Mulai tawarkan lagi, hanya
jangan lagi gratis, Rp 300.000 atau Rp 700.000 gitu deh, tapi
kalau teman sendiri yang minta asal ada ongkos jalan juga
oke. Mudah-mudahan bisa terus berkembang, atau dalam
1-2 tahun jangan-jangan sudah mulai bisa ikutan tender
Departemen Kesehatan dengan pagu Rp 100 juta tuh untuk
SIM Apotik … hehehe
10. Kalau sudah matang dengan satu produk, terus perbaiki
produk itu sampai lengkap fitur-nya. Dan kalau tertarik untuk
mengembangkan produk lain, mulai lagi dari tahap pertama,
cari teman lagi yang bapaknya punya bengkel, pengelola
perpustakaan, punya toko buku, dan sebagainya. Lha, siapa
tahu bisa membuat aplikasi untuk bengkel, perpustakaan
atau toko buku.
122
T idak
terasa….,
setelah melewati tahapan ke 10, dua mahasiswa
lugu kita telah menjelma
menjadi dua orang entrepreneur. Di saat temanteman yang lain masih pontang-panting membawa surat lamaran
pekerjaan, kedua mahasiswa ini ketika lulus sudah bisa mandiri,
punya produk yang mapan, yang siap dijual dan ditawarkan ke
berbagai institusi atau perusahaan. Ternyata masuk universitas
tidak sia-sia lho, ilmu yang dipelajari di kampus alhamdulillah bisa
digunakan untuk kehidupan kita, bahkan bisa membuka lapangan
kerja baru.
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 123
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
124
10 Resep Sukses Bangsa
JEPANG
SETELAH HIROSHIMA dan
Nagasaki luluh lantak
terkena bom atom
sekutu
(Amerika),
Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau
tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama
China dan Korea Selatan sudah menjelma
menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan
ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya
mencoba memotret Jepang dari satu sisi (Bab
Komunitas Terdidik: Belajar dari Jepang). Kali ini,
saya mencoba merumuskan 10 resep yang
membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti
sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi
agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup,
studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang
di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba,
Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi
Jepang yang baik yang bisa diambil untuk
membangun republik ini. Kalau ditanya apakah
semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu
jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif
yang tidak harus kita contoh.
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 125
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
1.
KERJA KERAS
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah
pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450
jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957
jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun),
dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa
menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai
di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang
bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa
melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang.
Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak
memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai
tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.
Di kampus, profesor juga biasa pulang malam (tepatnya pagi),
membuat mahasiswa nggak enak pulang duluan. Fenomena
mati karena kerja keras yang disebut karoshi mungkin hanya
ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa
dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan
kemakmuran Jepang bisa tercapai.
2.
MALU
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa
Jepang. Bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut
(harakiri) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika
mereka kalah dalam pertempuran. Masuk ke dunia modern,
wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan
diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat
masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya.
Budaya ini juga telah menular kepada anak-anak SD dan SMP
yang kadang bunuh diri karena nilainya jelek atau tidak naik
kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang
126
memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi
di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan.
Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk
antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan,
pembelian tiket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak
bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di
stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran.
Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka
melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi
kesepakatan umum.
3.
HIDUP HEMAT
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam
keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak
dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai
kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan
banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada
sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah
menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan
memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar
setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa
Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.
Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik
sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya
karena lebih murah 20 atau 30 yen. Banyak keluarga Jepang
yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi
karena lebih hemat menggunakan bus dan kereta untuk
bepergian. Termasuk saya dulu sempat berpikir kenapa
pemanas ruangan menggunakan minyak tanah yang
merepotkan masih digandrungi, padahal sudah cukup dengan
AC yang ada mode dingin dan panas. Alasannya ternyata satu,
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 127
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
minyak tanah lebih murah daripada listrik. Para profesor
Jepang juga terbiasa naik sepeda tua ke kampus, bareng
dengan mahasiswa-mahasiswanya.
4.
LOYALITAS
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan
berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan
sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang
berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di
satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin
implikasi dari industri di Jepang yang sebagian besar hanya
mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih
dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core
business) perusahaan. Kota Hofu mungkin sebuah contoh
nyata. Hofu dulunya adalah kota industri yang sangat
tertinggal dengan penduduk yang terlalu padat. Loyalitas
penduduk untuk tetap bertahan (tidak pergi ke luar kota) dan
punya komitmen bersama untuk bekerja keras siang dan
malam akhirnya mengubah Hofu menjadi kota makmur dan
modern. Bahkan saat ini kota industri terbaik dengan
produksi kendaraan mencapai 160.000 per tahun.
5.
INOVASI
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai
kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian
memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat.
Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan
Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak
ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip
Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming
selama puluhan tahun adalah Akio Morita, pendiri dan CEO
128
Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari
300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai
150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga
bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang
Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa
mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih
cepat dan murah. Mobil yang dihasilkan juga relatif lebih
murah, ringan, mudah dikendarai, mudah dirawat dan lebih
hemat bahan bakar. Perusahaan Matsushita Electric yang dulu
terkenal dengan sebutan “maneshita” (peniru) punya legenda
sendiri dengan mesin pembuat rotinya. Inovasi dan ide dari
seorang engineernya bernama Ikuko Tanaka yang berinisiatif
untuk meniru teknik pembuatan roti dari sheef di Osaka
International Hotel, menghasilkan karya mesin pembuat roti
(home bakery) bermerk Matsushita yang terkenal itu.
6.
PANTANG MENYERAH
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa
yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun
dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses
ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi.
Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang
cepat beradaptasi dan menjadi pembelajar cepat (fastlearner). Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat
Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak
bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi
Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Kabarnya
kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka
30% wilayah Jepang akan gelap gulita. Rentetan bencana
terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima
dan Nagasaki, disusul dengan kekalahan perang, dan
ditambah dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo.
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 129
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun
berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri
otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen).
Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita
Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari
bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu
merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri
sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita
juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan
produk Cassete Tape-nya yang mungil ke berbagai negara lain.
Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang
juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus
belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di
Jepang dengan nama ilmu kegagalan (shippaigaku). Kapankapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini
7.
BUDAYA BACA
Jangan kaget kalau Anda datang ke Jepang dan masuk ke
kereta listrik (densha), sebagian besar penumpangnya baik
anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau
koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang
memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak
penerbit yang mulai membuat manga (komik bergambar)
untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP
maupun SMA. Pelajaran sejarah, biologi, bahasa, dan lainlain disajikan dengan menarik yang membuat minat baca
masyarakat semakin tinggi. (Lihat tulisan tentang komik
pendidikan di bab selanjutnya). Budaya baca orang Jepang
juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan
buku-buku asing (bahasa Inggris, Perancis, Jerman, dsb).
Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing
130
sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya
lembaga penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman
modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah
tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya
diterbitkan. Saya biasa membeli buku literatur terjemahan
bahasa Jepang karena harganya lebih murah daripada buku
asli (bahasa Inggris).
8.
KERJASAMA KELOMPOK
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang
terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan,
biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut.
Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan
lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah
biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok
mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada
anekdot bahwa “1 orang profesor Jepang akan kalah dengan
satu orang profesor Amerika, akan tetapi 10 orang profesor
Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang profesor Jepang
yang berkelompok”. Musyawarah mufakat atau sering disebut
dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan
strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.
9.
MANDIRI
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak
saya yang paling besar sempat merasakan masuk TK (yochien)
di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian
ganti, bungkusan makan siang (bento), sepatu ganti, bukubuku, handuk dan sebotol besar minuman yang
menggantung di lehernya. Di yochien setiap anak dilatih
untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung
jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 131
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta
biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu
di Saitama University mengandalkan kerja part-time untuk
biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan
uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang nanti
akan mereka kembalikan di bulan berikutnya.
10. JAGA TRADISI
Perkembangan teknologi dan ekonomi tidak membuat
bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya
perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja
masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf
masih menjadi refleks orang Jepang. Kalau suatu hari Anda
naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki, maka
jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf
duluan. Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari
berkata “tidak” untuk
apabila mendapat tawaran
dari orang lain. Jadi kita
harus hati-hati dalam
pergaulan dengan orang
Jepang karena ”hai” belum
tentu “ya” bagi orang
Jepang. Pertanian
merupakan tradisi leluhur
dan asset penting di Jepang.
Persaingan keras karena
masuknya beras Thailand
dan Amerika yang murah,
tidak menyurutkan langkah
pemerintah Jepang untuk
132
melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan
lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang
signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang
yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang
merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.
Mungkin seperti itu 10 resep sukses yang bisa saya
rangkumkan. Bangsa Indonesia punya hampir semua resep orang
Jepang diatas, hanya mungkin kita belum mengasahnya dengan
baik. Di Jepang mahasiswa Indonesia termasuk yang unggul dan
bahkan mengalahkan mahasiswa Jepang. Orang Indonesia juga
memenangkan berbagai award bertaraf internasional. Saya yakin
ada faktor “non-teknis” yang membuat Indonesia agak terpuruk
dalam teknologi dan ekonomi. Mari kita bersama mencari solusi
untuk berbagai permasalahan republik ini. Dan terakhir kita harus
tetap mau belajar dan menerima kebaikan dari siapapun juga.
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 133
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
134
Gaji Profesor = Gaji
HELPDESK ANALYST
MENARIK SEKALI membaca dan mengamati
Peraturan Pemerintah dan Presiden berhubungan dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS)
tahun 2006. Tahun 2006 ini ada 5 Peraturan
Pemerintah dan 58 Peraturan Presiden baru
berkaitan dengan PNS. Peraturan Pemerintah
(No: 15, 16, 17, 18, 25) kebanyakan mengatur
tentang tunjangan untuk para veteran, perintis
pergerakan, pensiunan dan masalah gaji ke 13.
Sedangkan Peraturan Presiden (No: 1-64)
berhubungan dengan gaji pokok PNS, tunjangan
struktural (eselon 1-5) dan fungsional (dosen,
peneliti, widyaiswara, dsb). Sebenarnya banyak
terjadi perubahan pada peraturan PNS 2006 ini
dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,
khususnya tentang masalah struktur gaji dan
tunjangan, meskipun secara kuantitatif jumlah
kenaikan belum terlalu signifikan.
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 135
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Yang pertama, bahwa menurut peraturan
presiden no 1 2006, ada kenaikan gaji pokok
PNS sebesar Rp. 90.000-200.000 (tergantung
golongan). Gaji pokok terendah adalah golongan I-a (masa kerja
0 tahun) sebesar Rp. 661.300 (sebelumnya Rp. 575.500),
sedangkan gaji pokok tertinggi adalah golongan IVe (masa kerja
32 tahun) sebesar Rp. 2.070.000 (sebelumnya Rp. 1.800.000).
Kemudian sedikit perubahan pada tunjangan jabatan struktural,
eselon I (setingkat dirjen) menerima Rp. 4.500.000, eselon II
(setingkat kepala pusat) menerima Rp. 2.500.000, eselon III
(setingkat kepala bidang) menerima Rp. 900.000, dan eselon IV
(setingkat kepala subbidang atau seksi) menerima Rp. 360.000.
Berita menarik untuk PNS yang tidak memiliki jabatan
fungsional maupun struktural, ada tunjangan baru yang disebut
tunjangan umum sesuai dengan Peraturan Presiden No 12 2006,
besarnya adalah Rp. 175.000-190.000 (sesuai golongan). Meskipun
sering disindir sebagai tunjangan pengangguran saya pikir di satu
sisi tunjangan umum ini positif untuk mengurangi kecemburuan
sesama PNS. Dan alangkah lebih bijaknya apabila ini hanya
diberikan untuk golongan I dan II, karena golongan III keatas
sebenarnya bisa secara aktif mengurus jabatan fungsional sesuai
dengan kompetensi unit kerja masing-masing.
136
Bagaimana dengan tunjangan jabatan fungsional? Supaya
gampang dipahami saya ambilkan dua jabatan fungsional saja
yaitu peneliti dan dosen. Untuk peneliti, Peneliti Pertama
(golongan IIIa-b) akan menerima tunjangan sebesar Rp. 278.000,
Peneliti Muda (golongan IIIc-d)menerima Rp. 660.000, Peneliti
Madya (golongan IVa-c) Rp. 1.094.000 dan Peneliti Utama
(golongan IVd-e) Rp. 1.230.000. Kemudian bagaimana dengan
bapak/ibu dosen-dosen kita? Asisten Ahli akan menerima
tunjangan Rp. 297.000, Lektor Rp. 552.200, Lektor Kepala
menerima Rp. 709.000 dan Guru Besar akan menerima tunjangan
sebesar Rp. 990.000.
Kalau ada komentar, waduh besar dong tunjangannya?
hehehe kita coba analisa lagi secara mendetail, Peneliti Utama
yang sudah sampai ke golongan IVe akan menerima gelar Profesor
Riset, sedangkan Guru Besar juga adalah Profesor. Kalau kita hitung
kembali, berapa yang sebenarnya mereka terima. Asumsi gaji
pokok dan tunjangan saya hitung maksimal untuk golongan dan
masa kerja, sesuai dengan peraturan presiden no 1, 24 dan 59.
Tunjangan lain (anak, istri, beras, kesehatan, proyek, dsb) saya
hitung secara rata-rata, mungkin ada PNS yang menerima
tunjangan proyek sebulan diatas Rp. 1.000.000, tapi banyak juga
yang menerima hanya Rp. 90.000
Gaji Profesor = Gaji Pokok + Tunjangan Fungsional + Tunjangan lain
Gaji Profesor = Rp. 2.070.000 + Rp. 990.000 + Rp. 900.000
(asumsi maksimal)
Gaji Profesor = Rp. 3.960.000
Gaji Peneliti Utama = Rp. 2.070.000 + Rp. 1.230.000 + Rp. 900.000
Gaji Peneliti Utama = Rp. 4.200.000
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 137
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Saya jadi ingin membandingkan standar gaji Indonesia yang
dikeluarkan oleh organisasi atau konsultan swasta, saya ambil satu
penelitian yang dilakukan oleh Kelly Services tentang Indonesia
Salary Guide 2006. Silakan download dan buka file PDF tersebut
dan buka halaman 5 tentang salary pekerja IT (Information
Technology). Gaji paling rendah adalah Helpdesk Analyst dengan
standar gaji untuk pengalaman kerja 1-3 tahun antara Rp. 3-6 juta.
Kalaupun kita ambil tengahnya Rp. 4.500.000, waduh ternyata
masih lebih tinggi dari gaji profesor
Memang benar bahwa daftar gaji dari Kelly Services ini
diambil dari perusahaan-perusahaan besar yang sudah mapan.
Saya pikir untuk perusahan di wilayah Jabotabek sepertinya sudah
cukup mewakili, meskipun mungkin standar gaji tersebut terlalu
tinggi untuk perusahaan-perusahaan di daerah. Baiklah, sekarang
kita ubah sedikit formulanya, kita hanya akan ambil 50% dari
angka tengah standar gaji menurut Kelly Services. Misalnya
Software Engineer dengan pengalaman kerja 2-3 tahun Rp. 6-10
juta, kita hitung 50% dari angka tengah, yaitu Rp. 8.000.000 x 50%
= Rp. 4.000.000. Inipun masih lebih tinggi daripada gaji Profesor
yang hanya Rp. 3.960.000 … weleh.
Perlu saya garis bawahi bahwa segala asumsi perhitungan
yang saya gunakan adalah gaji dan bukan income (pendapatan).
Karena pendapatan relatif agak sulit diukur karena bisa didapat
dari proyek sampingan, bisnis, part time, dsb dan itu
memungkinkan dilakukan oleh semua orang, baik oleh seorang
guru besar, konsultan maupun seorang programmer. Saya tentu
ikut bergembira kalau banyak PNS yang “bad salary good income”
Saya yakin bahwa gaji bukan tujuan utama orang hidup
dan bekerja, tapi perlu kita renungkan salah satu teori A.H.
Maslow (1960) tentang hirarki kebutuhan. Maslow mengatakan
138
bahwa kebutuhan akan penghargaan dan aktualisasi diri adalah
kebutuhan yang memikili hirarki teratas, dan akan tercapai ketika
kebutuhan fisiologis (basic needs) terpenuhi. Orang menjadi sulit
bekerja secara cerdas, penuh ide dan profesional ketika kebutuhan
fisiologis tidak tercukupi. Meskipun guyonan teman saya, “satusatunya penduduk di dunia yang bisa mendobrak teori Maslow
adalah orang Indonesia, karena tetap bisa aktualisasi diri
meskipun basic needs tidak tercukupi”. Alhamdulillah kalau
memang itu suatu kenyataan.
Bagaimanapun juga meskipun tentu belum memuaskan
semua pihak, langkah pemerintah mengadakan revisi masalah gaji
dan tunjangan PNS patut kita hargai. Mudah-mudahan republik
ini menuju ke jalan dan arah yang semakin baik.
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 139
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
140
Keberhasilan dalam
Iwan Fals telah menjadi legenda dalam
permusikan Indonesia. Padahal seperti
pengakuan mas Iwan di awal-awal karirnya, dia
hanya bisa memainkan tiga chord gitar. Lagunya
juga sederhana-sederhana, kekuatan dan
KESEDERHANAAN
KEBERHASILAN DAN KESUKSESAN seseorang
kadang belum tentu karena penguasaan
teknologi tinggi, lulusan universitas terkemuka,
kemenarikan “user interface” (baca: tampan atau
cantik), kewibawaan, kejeniusan, kepandaian,
atau karena atribut-atribut hebat dan keren yang
lain. Banyak jalan untuk sukses, saking banyaknya
jalan, membuat “teknik menjadi sukses” menjadi
sulit untuk dibuatkan formulanya. Kita tentu tidak
bisa menduga bahwa apa yang dilakukan oleh
seorang mahasiswa bernama Jerry Yang dengan
mengumpulkan link-link situs, membuat kategori
dan fitur pencarian akan menjadikannya situs
portal dan search engine terkemuka di dunia
(Yahoo.Com). Itu adalah sekelumit diskusi di
Kuliah Umum Universitas Widyatama Bandung,
dimana saya diminta menjadi pembicara untuk
tema “Trend SDM dan Jalur Karir IT”.
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 141
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
keunikannya justru adalah di lirik. Justru dengan kesederhanaan
penggunaan chord gitar, saya yang waktu itu masih SMP bisa
dengan mudah menyanyikan lagu-lagu “Sarjana Muda”, “Aku
Antarkan”, “Buku ini Aku Pinjam” milik Iwan Fals dengan gitar
murah yang dibelikan orang tua saya. Demikian juga dengan anakanak yang biasa berkumpul di post ronda di kampung, yang belajar
gitar asal-asalan, tetap bisa dengan merdu menyanyikan lagu-lagu
mas Iwan. Dan akhirnya lagu-lagu sederhana mas Iwan menggema
di seantero republik, terkenal dan melegenda. Mirip dengan mas
Iwan, Kangen Band sering dicibir orang karena musiknya low
quality, dalam lagunya “Antara Aku, Engkau dan Dia” hanya
bermodal 3-4 chord gitar. Tapi kenyataan membuktikan bahwa
penjualan lagu tersebut mencapai lebih dari 400 ribu keping
(meraih dua platinum). Dengan kesederhanaan (atau bahkan
kekurangan) yang kita miliki kita tetap bisa berkreasi untuk menuju
suatu keberhasilan.
Tukul Arwana menjadi satu ikon baru dalam dunia talkshow
di Indonesia. Mas Tukul mendobrak atribut host talkshow yang
biasanya cerdas, pintar, keren dan berwibawa. Padahal Mas Tukul
sendiri adalah “wong ndeso” dengan logat bahasa Indonesia medok
ala Perbalan Semarang dan ditambah dengan bahasa Inggris yang
blepotan. Tukul Arwana adalah trend setter baru, kalimat sederhana
seperti “kembali ke laptop”, “puas kamu puas” atau olok-olok ala
semarang seperti “kutu kupret”, “katrok”, “asem ik”, dsb menyebar
secara nasional. Mas Tukul berhasil menjadikan kesederhanaan dan
kekurangannya menjadi kapital untuk meraih sukses.
Google.Com termasuk “perusak mitos” web design dunia.
Penampilannya yang terlalu sederhana, tentu akan sulit
memenangkan kontes web design di level dunia atau bahkan di
level Indonesia. Tapi sebenarnya secara teori software
engineering, Google.Com adalah contoh terbaik bagaimana
142
sebuah sistem dan software dikembangkan. Kalau tujuannya
adalah membuat mesin pencari alias sistem yang menjadi solusi
untuk pencarian informasi, kenapa top page harus menampilkan
yang lain selain kolom untuk pencarian? Google.Com
membuktikan keberhasilannya dengan meraup 60-70% market
share mesin pencari.
IlmuKomputer.Com dulu sering diejek orang karena terlalu
sederhana dalam teknologi web, hanya menggunakan static html,
tanpa desain yang menarik dan bahkan tanpa CMS. Saya bukan
desainer yang baik, dan saya memang ingin fokus memberi solusi di
permasalahan yang ada (sebagai referensi bisa baca tulisan saya
tentang Membangun Komunitas Maya). Setelah empat tahun
menggunakan static html, di awal tahun 2007 IlmuKomputer.Com
saya ubah menggunakan dynamic html dengan CMS yang sederhana
yaitu Wordpress. Sederhana karena ukuran kecil, business process
tidak rumit dan saya tidak repot kalau ada security hole karena saya
cukup update dengan versi terbaru CMS dari Wordpress.Org. Dengan
kenyamanan itu saya bisa konsentrasi ke konten dan solusi yang ingin
saya tawarkan. Saya yakin IlmuKomputer.Com belum sukses, tapi
jumlah visitor dan daily hits yang tinggi membuktikan bahwa
penggunanya banyak (dan semakin banyak).
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 143
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Kegigihan dan kejelian kita mengubah suatu kesederhanaan
dan bahkan kelemahan atau kekurangan, menjadi sebuah
kekuatan adalah kunci keberhasilan. Jangan minder, jangan rendah
diri, dan jangan hiraukan ejekan orang lain hanya karena kita
sekolah di universitas yang tidak terkemuka ataupun di universitas
kecil yang ada di kota kecil. Toh Linus Torvald yang bukan lulusan
Standford University atau MIT berhasil membuktikan bahwa
LINUX dapat menjadi sistem operasi handal dan terkenal, bahkan
mengalahkan kampiun sistem operasi dunia Prof. Andrew S.
Tannenbaum yang sebelumnya membuat MINIX.
Kreativitas menghasilkan produk yang diakui dan bermanfaat
untuk masyarakat harus terus diasah, ini sering saya sebut
keunggulan defacto. Sekolah setinggi mungkin juga penting
karena ini adalah keunggulan dejure. Jadi keunggulan defacto dan
dejure adalah termasuk faktor keberhasilan. Targetting untuk
menjadi seorang specialist yang mumpuni harus terus dikejar,
karena di era ke depan semakin sedikit wilayah kerja untuk kaum
generalis (mengerti banyak hal tapi hanya kulit-kulitnya). Tapi
jangan lupa juga bahwa kita harus menjadi seorang spesialis yang
punya kemampuan verbal dan bisa “menjual” dan “bernegosiasi”
dengan orang lain tentang produk dan keunggulan kita. Spesialis
semacam ini yang sering disebut dengan Versatilist.
144
Kinerja itu Makhluk
APA SIH?
DUNIA SEPAK bola Inggris dikejutkan oleh
kekalahan Manchester United (MU) dari
Portsmouth pada Piala FA pekan lalu (Maret
2008). MU, klub terkaya di dunia yang dipenuhi
pemain bintang dengan kemampuan tinggi
harus takluk dengan tim yang beberapa tahun
lalu langganan bermain di Liga Championship
alias liga di bawah Liga Premier. Kaget kita
bertambah lagi, karena tiga hari setelah MU
kalah, Chelsea lebih parah lagi karena tumbang
oleh klub Liga Championship papan bawah yang
saat ini masih menduduki posisi buncit (urutan
19) bernama Barnsley. Lho... lho… kok bisa sih?
Apa kurangnya Chelsea? Klub kaya dan
dipenuhi pemain berkemampuan tinggi, yang
gaji sebulan Frank Lampard mungkin bisa
membiayai operasional bulanan tim Barnsley.
Kok bisa berkinerja buruk alias jadi kutu kupret
dan ndeso ketika berhadapan dengan Barnsley?
Nah ini topik bahasan kita kali ini.
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 145
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Kinerja seseorang ataupun sebuah organisasi ternyata tidak
hanya ditentukan oleh masalah kemampuan (skill) tapi ada faktor
lain yang mempengaruhi. Jerry Gray dan Frederick Starke di tahun
1984 mengeluarkan satu rumus bahwa:
KINERJA = MOTIVASI x KEMAMPUAN
Motivasi adalah entusiasme, semangat dan persistensi
seseorang dalam melakukan suatu tugas atau kewajiban yang dia
emban. Kemampuan pemain Barnsley maupun Portsmouth, bisa
saja jauh di bawah MU dan Chelsea, tapi mereka memiliki motivasi
yang tinggi dan mengebu-gebu untuk mengalahkan tim besar yang
kaya dan terkenal seperti MU dan Chelsea. Tingginya motivasi
bisa juga karena kekuatan karakter manajer atau sang leader yang
memiliki pengaruh mental ke pemain. Akhirnya kinerja yang
dihasilkan oleh Portsmouth dan Barnsley lebih baik, dan berhasil
maju ke babak semi final piala FA.
Saya sering sampaikan ke mahasiswa-mahasiswa saya bahwa
“punggung parang pun kalau kita punya motivasi dan semangat
mengasah, akan bisa jadi tajam”. Saya sendiri juga cah ndeso dan
kutu kupret, yang sejak SD susah membedakan huruf “b” dan “d”,
dan yang masuk ke SMA Taruna Nusantara dengan NEM SMP yang
sangat rendah. Saya bukan lulusan terbaik SMP Negeri 8
Semarang, ditambahi memang SMP saya tercinta ini juga bukan
SMP favorit di Semarang. SMP yang di tahun 1990 dan mungkin
juga sampai sekarang, orang Semarang pun jarang yang tahu
dimana posisinya. Tapi saya punya modal penting, yaitu
”semangat”. Saya punya motivasi lebih untuk mendongkrak kinerja
saya, saya tidak mau tahun berikutnya dipulangkan karena tidak
naik kelas. Di SMA Taruna Nusantara, tidak naik berarti dikeluarkan
dari sekolah.
146
Apa yang saya lakukan? Saya kurangi tidur, saya tetap terjaga
dan belajar ketika teman-teman sudah terlelap tidur, dan saya
bangun lebih cepat daripada siapapun di asrama SMA Taruna
Nusantara. Alhamdulillah kinerja saya yang dinilai bapak ibu guru
dalam bentuk angka-angka menunjukkan grafik meningkat tiap
triwulan. Cah ndeso, kutu kupret dan mbeling kayak saya pun
akhirnya bisa menikmati nilai raport yang baik lho.
Tahun 1995, masuk kampus di Jepang juga harus ngos-ngosan
lagi. Masalah pertama adalah kanji yang diajarkan di sekolah bahasa
Jepang ternyata hanya selevel anak SMP. Semakin parah
karena kemampuan otak terbatas, awal-awal kuliah saya
memerlukan waktu satu jam untuk memahami satu halaman buku
textbook mata kuliah, yang mahasiswa Jepang hanya perlu 5 menit
… hehehe. Ya kemampuan mereka harus saya kejar dengan
semangat dan motivasi. Saya atur jadwal, saya buat logika
sederhana saja, kalau mahasiswa Jepang dalam 1 jam bisa pahami
12 halaman, ya saya berarti juga harus pahami 12 halaman,
meskipun resikonya 12 jam mata pedes karena melototin buku.
Alhamdulillah kinerja saya sebagai mahasiswa di Saitama University
Jepang tidak terlalu mengecewakan kok. Di akhir kelulusan program
S1, alhamdulillah masih bisa masuk tiga besar di jurusan, dan bisa
melanjutkan ke program Master dan Doktor tanpa tes plus ditawari
berbagai beasiswa penuh termasuk dari Mombusho.
Anda merasa jadi siswa atau mahasiswa tidak berprestasi?
Kemampuan otak terbatas? Atau susah banget nangkep
pelajaran atau lebih parah lagi karena merasa tidak dapat apaapa di kampus? Jangan menyerah, tingkatkan motivasi, jangan
mau jadi pecundang, jangan mau kalah, tamaklah dalam ilmu tapi
jangan tamak dalam harta, tahta atau wanita. Insya-Allah hasilnya
akan mengikuti, lha mau berharap ke siapa lagi, teman, saudara,
sahabat? Ingat !, tidakk ada yang bisa mengubah diri Anda kecuali
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 147
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Anda sendiri, sesuai dengan janji Yang Diatas, “innallaha laa
yughaiyiru maa biqaumin, hatta yughaiyiru maa bianfusihim”.
Mungkin sebenarnya rumus kinerja itu tidak hanya MOTIVASI
x KEMAMPUAN, tapi juga adanya ridha Allah karena kekuatan doa
kita. Ridha Allah kadang sering kita terjemahkan dalam bentuk
kata-kata “untung”, “lucky”, dsb.
Orang bijak sering mengatakan:
“Knowledge is power, but character is more”
Biasanya saya tambahi menjadi:
“Knowledge is power, and character is more, but lucky is
everything”
Ayo susun dan rapikan hidup kita sekarang juga. Anda punya
modal dan bekal yang lebih baik daripada seorang Romi Satria
Wahono. Jangan sampai kalah sama si katrok satu ini.
148
Teknik Mempengaruhi
Bagaimanapun juga pemahaman terhadap teknik mempengaruhi (influence tactics)
orang lain menjadi satu spektrum penting, tidak
hanya untuk seorang politikus, tetapi juga untuk
para pemimpin baik formal maupun informal,
pelatih bola, saleman, dan juga diperlukan
ORANG LAIN
SAYA BUKAN orang yang berpengaruh, itu sudah
pasti, karena saya tidak punya apa-apa? Bukan
konglomerat, bukan pejabat elit, tapi saya hanya
seorang PNS golongan rendah di sebuah
lembaga bernama LIPI. Yang pasti ada yang
menarik, bahwa sebenarnya orang lain terpengaruh dengan kita, bukan hanya karena
kedudukan atau kekayaan kita, tapi masih
banyak faktor lain sehingga sampai pada kondisi
dimana kita bisa mempengaruhi orang lain.
Bahasa gampangnya, bagaimana sih cara
mempengaruhi orang lain? Itu yang akan kita
bahas kali ini. Ambil nafas dulu dan klik
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 149
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
bagi para pedjoeang IT yang sedang dalam
usaha memperdjoeangan ide-idenya. Usaha
mengubah sikap, opini, dan perilaku orang lain
(target person) dalam satu kerangka proses
yang fitrah, smooth dan tanpa pertentangan,
adalah muatan penting dari taktik atau teknik
mempengaruhi.
Sebenarnya taktik mempengaruhi orang lain telah
diformulasikan oleh banyak pakar dan peneliti, tentu bukan di
desain untuk mempengaruhi orang dalam perbuatan kejahatan.
Pelakunya diharapkan tetap ada dalam rel kebenaran, dan
diimplementasikan ke dalam spektrum berpikir menuju
kepemimpinan yang efektif (effective leadership). Misalnya dalam
manajemen organisasi, dimana seorang manajer dituntut untuk
mengajak seluruh elemen organisasi bersama-sama dalam
menyelesaikan permasalahan organisasi, menuju tujuan organisasi
yang ingin dicapai. Seorang pelatih dan manajer bola yang
memimpin pemain-pemain kelas dunia dan ingin mereka semua
bisa bersatu, berdjoeang memenangkan pertandingan.
Beberapa teori dan formulasi tentang taktik atau teknik
mempengaruhi telah bermunculan sejak 20 tahun yang lalu (Kipnis1980; Schriesheim-1990; Yukl-1992, Ferris-1997). Dari perseteruan
pendapat yang ada, boleh dikata yang banyak diterapkan dan
dimutasikan dalam penelitian lanjutan adalah metode Influence
Behavior Questionanaire (IBQ). Suatu metode yang dikembangkan
oleh peneliti yang bernama Gary Yukl (1992), profesor di University
at Albany, Amerika. Metoda IBQ memformulasikan sembilan strategi
dan teknik mempengaruhi orang lain.
„
150
Rational Persuasion: Adalah siasat meyakinkan orang
lain dengan menggunakan argumen yang logis dan
rasional. Seorang dokter yang memberi nasehat kepada
pasien yang perokok berat, dengan menjelaskan efek
buruk merokok bagi paru-paru dan hasil penelitian yang
membuktikan bahwa para perokok lebih rentan
menderita penyakit kronis lain. Adalah salah satu contoh
rational persuasion ini.
„
Inspiration Appeals Tactics: Adalah siasat dengan
meminta ide atau proposal untuk membangkitkan rasa
antusias dan semangat dari target person. Contoh nyata
penerapannya adalah, seorang menteri yang
membawahi departemen komunikasi dan informasi
(kominfo), yang membuka kesempatan kepada seluruh
komunitas IT untuk membuat proposal dan ide tentang
pengembangan e-government di suatu negeri.
„
Consultation Tactics: Terjadi ketika kita meminta target
person untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang
kita agendakan. Misalnya adalah menteri kominfo diatas
yang kembali berkonsultasi kepada seluruh komunitas
IT di suatu negeri dalam upaya mengajak partisipasi aktif
dalam implementasi cetak biru e-government yang telah
diproduksi oleh departemennya.
„
Ingratiation Tactics: Adalah suatu siasat dimana kita
berusaha untuk membuat senang hati dan tentram
target person, sebelum mengajukan permintaan yang
sebenarnya. Senda gurau seorang salesman terhadap
langganan, pujian seorang pimpinan terhadap bawahan
sebelum memberi tugas baru, ataupun traktiran makan
seorang partner bisnis adalah termasuk dalam
ingratiation tactics ini.
„
Personal Appeals Tactics: Terjadi ketika kita berusaha
mempengaruhi target person dengan landasan
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 151
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
hubungan persahabatan, pertemanan atau hal yang
bersifat personal lainnya. Kita bisa mengimplementasikannya dengan memulai pembicaraan misalnya
dengan, “Budi, saya sebenarnya nggak enak mau
ngomong seperti ini, tapi karena kita sudah bersahabat
cukup lama dan saya yakin kamu sudah paham
mengenai diri saya …”
152
„
Exchange Tactics: Adalah mirip dengan personal appeal
tactics namun sifatnya adalah bukan karena hubungan
personal semata, namun lebih banyak karena adanya
proses pertukaran pemahaman terhadap kesukaan,
kesenangan, hobi, dsb. diantara kita dan target person.
„
Coalition Tactics: Adalah suatu siasat dimana kita
berkoalisi dan meminta bantuan pihak lain untuk
mempengaruhi target person. Strategi kemenangan
karena jumlah pengikut dipakai dalam siasat ini.
„
Pressure Tactics: Terjadi dimana kita mempengaruhi
target person dengan peringatan ataupun ancaman
yang menekan. Seorang komandan pasukan yang
memberi ancaman penurunan pangkat bagi prajuritnya
yang mengulangi kesalahan serupa merupakan contoh
implementasi pressure tactics ini.
„
Legitimizing Tactics: Adalah satu siasat dimana kita
menggunakan otoritas dan kedudukan kita untuk
mempengaruhi target person. Presiden yang meminta
seorang menteri untuk menyusun rancangan undangundang, kepala sekolah yang meminta guru menyusun
kurikulum pendidikan adalah beberapa contoh
penerapan legitimizing tactics.
Tips Hidup
600 TAHUN
SAYA AKHIRNYA memutuskan untuk membuka
rahasia besar saya di posting ini. Ya, jujur saja,
saya telah merasakan bagaimana hidup lebih
dari 600 tahun. Saya bisa berpindah lokasi secara
cepat layaknya jagoan pada film The Jumper,
mengatur waktu dan posisi dimana saya harus
berada pada suatu waktu. Saya ada di dekat
pangeran Diponegoro ketika sang pangeran
tinggi besar yang berjubah dan bersorban ini
berdjoeang mengenyahkan bangsa penjajah.
Saya turut menyaksikan bagaimana seorang
anak bernama Konosuke Matsushita terlahir di
desa Wakayamashi Sendan, Jepang. Ikut
bersedih ketika satu persatu kakak adiknya
meninggal karena kelaparan. Umur 10 tahun
sudah harus bekerja di bengkel, berpindah
menjadi teknisi listrik, ketika bisnisnya sudah
mulai hidup, gempa 1 September 1923
membuyarkan semua mimpinya. Toh
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 153
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
perdjoeangan tetap berlanjut, produksinya berkembang dari
peralatan elektronik sederhana seperti radio, setrika, senter, kipas
angin, sampai ke kapal laut dan bahkan pesawat udara. National
dan Panasonic adalah dua brand besar milik Konosuke Matsushita.
Pada masa yang lain, saya ikut menunggu Bill Gates yang lagi
antre sejak subuh supaya bisa menggunakan Teletype, jenis
komputer pertama dan satu-satunya di SMP Lakeside,
Seatle. Saya juga melihat Bill Gates bersama sahabatnya Paul Allen
sedang merayu Ed Robert, sang pembuat Altair 8080, supaya mau
menggunakan bahasa pemrograman BASIC yang mereka ciptakan
di mesin Altair 8080 itu. Lahirlah Microsoft di musim panas tahun
1975, yang menjadi perusahaan software terbesar sekaligus paling
kontroversial dalam sejarah komputer di dunia.
154
Altair 8080
Olalah…, saya kok melihat sekelebatan penampakan si Kevin
Mitnick yang lagi menyusup ke komputer perusahaan Santa Cruz
Organization di tahun 1987. “The Condor” ini jugalah yang
merusak komputer milik DEC setelah dipenjara karena kasus Santa
Cruz. Sipir penjara di Lompoc ketakutan dengan legenda Kevin
Mitnick dan menyangka dia bisa masuk ke komputer hanya dengan
modal telepon, sampai sipir penjara memasukkan Kevin ke ruang
isolasi penjara selama berbulan-bulan. Menyedihkan dan saya
turut prihatin karena manusia brilian yang sedang mencari jati
diri ini terpaksa mengalami gangguan jiwa karena isolasi penjara
itu. Keluar dari penjara, semakin banyak korban berjatuhan,
termasuk server perusahaan sekelas Sun Microsystem.
Petualangannya berakhir ketika berhadapan dengan seorang
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 155
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
hacker bernama Shimomura yang dibantu FBI. Kisah penangkapannya sangat legendaris, dramatis dan sempat diangkat dalam
sebuah film dokumenter berjudul Takedown. Bebas dari penjara
tahun 2000, Kevin baru boleh menyentuh komputer dan
Internet tahun 2003. Menulis banyak buku selama dipenjara
dengan nama “Anonymous” dan mendirikan perusahaan keamanan komputer setelah keluar dari penjara.
Waduh keasyikan cerita, saya malah kelupaan membagi tips
supaya bisa hidup 600 tahun. Tips dan triknya hanya ada dua:
1.
Banyak minum air putih, usahakan pagi, siang dan
malam masing-masing dua gelas
2.
Baca biografi tokoh. Tokoh apapun yang anda ingin
pahami. Dalam perdjoeangan hidupnya tiap tokoh
memiliki sisi gelap dan sisi baik kehidupan. Rasakan,
nikmati, ikuti dan bayangkan kehidupan mereka. Ambil
yang positif dan tinggalkan yang negatif. Apabila seorang
tokoh kira-kira berumur 60 tahun, maka anda cukup
membaca 10 biografi tokoh untuk bisa hidup 600 tahun.
Dengan banyak membaca biografi para tokoh, anda bisa lebih
bijak dalam berbuat. Kita bisa menggunakan berbagai strategi
para tokoh dalam berbagai masalah yang anda hadapi di dunia.
Kita bisa menjadi The Jumper dalam arti yang sebenarnya,
berpindah dari satu kehidupan tokoh ke tokoh yang lain, dari suatu
masa ke masa yang lain. Anda bisa mengetahui tips dan trik
mereka dalam menempuh pendidikan, mendapatkan pekerjaan,
melakukan bisnis, atau akhirnya mungkin anda bisa mengetahui
bagaimana mempersingkat waktu untuk mendapatkan kesuksesan
hidup.
Selamat menikmati hidup 600 tahun!
156
Software Engineer sebagai Sebuah
PROFESI
SAYA MENDAPAT satu slot waktu untuk
berbicara tentang profesi Software Engineer
pada acara PHP Developers Day 2008 di PDII LIPI
tanggal 19 Juni 2008 kemarin. Sebenarnya
bingung juga mau nbicara apa. Karena yang ke
arah technical sudah cukup diwakili om Luri, om
Rama, om Irving, om Riyogarta dan om Risman,
akhirnya saya putuskan untuk menarik proyeksi
ke titik lebih tinggi, “nggedabrus” masalah yang
lebih strategis, relatif abstrak dan mungkin
buram alias tidak jelas… hehehe. Acara PHP
Developers Day 2008 yang diselenggarakan LIPI,
IlmuKomputer.Com, dan Zend ini memang unik.
Diskusi saya awali dengan data yang
menarik, 10 orang terkaya di Indonesia dan 10
orang terkaya di Amerika. Di Indonesia, ada
nama nama Aburizal Bakri, Sukanto Tanoto, dsb.
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 157
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Sedangkan di Amerika, Bill Gates tak tergoyahkan, diikuti Paul Allen,
Larry Ellison (Oracle), dsb. Ada sesuatu fenoma unik apabila kita
lakukan komparasi pada kedua data ini. Oalala, orang terkaya di
Indonesia sebagian besar karena bisnis yang berhubungan dengan
sumber daya alam (minyak, batubara, emas, dsb), sebagian lagi
adalah broker, dan boleh dikatakan sebagian besar kaya karena
keturunan. Di sisi laini, sebagian besar orang Amerika yang masuk
daftar sebagai orang terkaya, hampir tidak ada yang berbisnis
sumber daya alam, semuanya bermain di knowledge capital alias
berbasis pengetahuan. Bahkan data menunjukkan bahwa mereka
memang orang besar yang memulai bisnis dari kecil, pekerja keras,
berkubang lumpur, dan di waktu mudanya mereka sangat
memahami masalah teknis berhubungan dengan bisnisnya.
Bagaimanapun juga, sumber daya alam akan habis dalam waktu
dekat, otomatis bisnis dengan cara seperti ini tidak akan bertahan
lama. Indonesia dan SDM-nya mau tak mau harus memikirkan untuk
mencoba bermain di bisnis berbasis knowledge capital yang relatif
bisa bertahan lebih lama. Software engineer adalah profesi dan
peluang baru yang saya yakin akan menjadi besar di Indonesia. Di
Amerika sendiri, dalam beberapa tahun ini software engineer
bertahan di nomor urut pertama untuk 50 best jobs in America.
Bahkan dominasi software engineer mengalahkan profesi university
professor, financial adviser dan human-resources manager.
Tidak bisa dipungkiri bahwa seperti juga negara berkembang
lain dalam fase pembangunan fisik (infrastruktur), mungkin
network engineer lebih “laku dijual” daripada software engineer.
Tapi kalau kita mau mempelajari laporan IDC Professional
Developer Model pada tahun 2004, diperkirakan jumlah
pengembang profesional di Indonesia adalah 56.500 orang
(menyumbang 0.5% dunia) dan akan meningkat sampai 71.600
orang di tahun 2008. Jumlah software house di Indonesia juga
158
tercatat meningkat ke arah diatas 250 perusahaan, dan
diperkirakan akan menjadi dua kali lipat pada 5 tahun mendatang.
Ini modal besar dan tentu peluang yang sangat besar yang sayang
kalau dilewatkan.
Setelah menyajikan analisa berbagai data, saya masuk ke
sedikit sejarah dan teori bagaimana terminologi software
engineering muncul. Diawali sebuah conference bertema
pengembangan software di tahun 1969, yang dipicu terjadinya
software crisis di dunia. Software crisis muncul karena lahirnya
komputer generasi ketiga yang sudah mulai menggunakan IC,
bentuk komputer lebih kecil dan perubahan berbagai teknologi
semakin memudahkan kita mengembangkan software berskala
besar. Masalahnya, ini tidak diimbangi oleh adanya metodologi yang
tepat berhubungan dengan bagaimana software yang kompleks
dikembangkan. Industri dan pengembangan software tidak bisa
lagi dipandang lagi seperti industri kerajinan tangan atau
perkebunan. Pendekatan informal tidak cukup efektif baik secara
biaya, waktu dan kualitas dalam pengembangan software.
Metodologi dan proses yang standar, termasuk juga software
engineering body of knowledge kemudian disusun dan
dikembangkan sesuai dengan perkembangan riset dan teknologi.
Software engineering menjelma menjadi sebuah disiplin ilmu baru.
Pekerjaan yang berhubungan dengannya akhirnya mengkristal
menjadi suatu profesi unik yang sangat di cita-citakan para
mahasiswa jurusan computing di berbagai belahan dunia. Apa
itu? Software Engineer ? Ya iya lah, masak ya iya dong … hehehe.
Diskusi saya tarik kembali ke Indonesia, ada banyak hal yang
harus disiapkan dalam membentuk SDM dengan profesi software
engineer ini. Paling tidak yang saya perhatikan perlu kita benahi
dan soroti adalah sebagai berikut:
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 159
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
„
„
„
„
„
Memperbaiki kurikulum pendidikan jurusan
computing, khususnya bidang Software Engineering
termasuk untuk development technique, standard
methodology, certification, management, dan
entrepreneurship
Keterlibatan pemerintah diperlukan dalam membuat
pipa antara software developer dan pasar, juga masalah
kebijakan proteksi ke perusahaan software lokal
Mengarahkan SDM software engineer kita untuk
memiliki keunggulan defacto (kreativitas) dan
keunggulan dejure (degree) sekaligus, dalam level
sesuai dengan kemampuan yang bisa diraih
Membina para spesialis software engineer kita untuk
menjadi seorang versatilist, karena Gartner Group
memperkirakan dalam laporan khususnya bahwa dalam
tahun 2010, pasar IT dunia akan dikuasai oleh para
versatilist, yang menggerus 40% lapangan kerja spesialis
Yang terakhir, manfaatkan Internet sebagai alat soft
marketing, personal branding dan knowledge sharing.
Dengan populasi lebih dari 1 miliar pada tahun 2008
ini, mau tidak mau, suka tidak suka, kita akan masuk,
bersentuhan dengan Internet dan secara tidak sadar
Internet membentuk kultur dan behavior baru dalam
kehidupan sehari hari. Sekali lagi tidak ada satu media
massa pun yang akan bisa menandingi oplah media
bernama Internet ini.
Lima poin diatas seperti biasa, saya jelaskan, uraikan dan
argumentasikan kepada audien secara riil dengan mengambil
contoh apa yang saya lakukan saat ini baik dalam kerangka bisnis,
education dan social-networking. Selamat berdjoeang wahai para
software engineer Indonesia, giliran anda sudah datang!
160
BAB 4
KNOWLEDGE
(MESTINYA) IS
POWER
BAB 3: Menjadi Entrepreneur Itu Mudah — 161
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
162
Kemerdekaan
TEKNOLOGI
17 AGUSTUS bagi anak bangsa memiliki arti yang
sangat penting, suatu tanggal bersejarah dimana
republik ini menyatakan kemerdekaan.
Pernyataan merdeka mengandung makna
bahwa telah bebas, bebas bukan hanya dari satu
penjajah, tapi juga seluruh penjajah yang telah,
sedang dan akan menjajah republik kita. Bebas
memilih partner dan teman, bebas dalam
bekerjasama dengan bangsa apapun di dunia ini.
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 163
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Meskipun secara formal republik sudah merdeka, secara informal
republik ini belum bebas. Belum bebas memilih partner dan
bekerjasama dengan bangsa lain. Masih banyak tekanan dan
paksaan dari bangsa yang lebih kuat dari segi ekonomi, politik
maupun militer yang membuat kita sulit bergerak. Ini yang sering
disebut oleh para pengamat politik sebagai kita belum merdeka .
Kemerdekaan dalam sudut pandang teknologi memiliki konsep
yang sama dengan kemerdekaan berbangsa, meskipun sedikit
berbeda dalam penerapan. Kemerdekaan bagi seorang teknolog,
engineer atau profesional adalah kebebasan dalam menggunakan
teknologi, metodologi dan approach apapun dalam menyelesaikan
masalah. Teknologi, metodologi dan approach bukanlah agama
yang perlu difanatikkan, dia bukanlah sesuatu yang kekal hidup di
dunia ini. Mereka itu adalah ciptaan manusia yang bisa dihapuskan,
bisa diganti, dan bisa diperbaiki ketika mungkin sudah tidak efektif
dan efisien dalam penyelesaian masalah.
Ketika 15 tahun lalu pertama kali menggunakan PC dengan
sistem operasi MS DOS dengan dosshell-nya yang canggih, saya
berpikir bahwa dengan menguasainya saya bisa memecahkan
banyak masalah (menulis, berhitung, bermain game, dsb). Tapi
tiga tahun kemudian Windows 3.1 datang dan ini memungkinkan
pemecahan masalah dengan lebih baik lagi. Demikian juga tahun
1995 muncul satu sistem operasi buatan Microsoft yang lebih baik
lagi yaitu Windows 95. Dan saya berpikir bahwa cukup dengan
itu saya bisa melakukan banyak hal, mengerjakan laporan,
berhitung, manipulasi image, dsb. Tapi lagi-lagi meleset. Masuk
kampus di Saitama University, semua berbasis Unix (Sun
Microsystem). Saya harus mengerjakan semua tugas dengan text
editor bernama Emacs, menulis laporan dengan LaTeX, mengolah
data dengan Gnuplot, menulis code dengan C, bermain-main web
programming dengan perl dan CGInya. Di rumah karena tidak
164
mungkin saya membeli Sun Sparc, saya menggunakan Linux untuk
melanjutkan tugas-tugas kuliah. Saya mencoba berbagai distribusi
Linux dari Slackware (era itu termasuk yang populer), Redhat,
Turbolinux, Debian, Vinelinux, dsb.
Dengan menguasai MS Windows, Unix, dan Linux, saya pikir
sudah cukup matang dan luas skill saya. Sejak tingkat 2 program
undergraduate di Saitama University (1996), saya mencoba paruh
waktu (arubaito) di berbagai perusahaan IT Jepang. Saya cukup
terkejut karena saya harus mengelola mesin lain di luar itu. Berbagai
perusahaan menginginkan supaya saya juga bisa mengelola mesin
berplatform Macintosh (MAC) dan BSD Unix. Macintosh yang
pertama membingungkan saya, akhirnya menjadi sahabat saya
karena saya putuskan memakai di rumah disamping Linux dengan
distro Slackware-nya. BSD Unix saya gunakan kemudian untuk
berbagai server di kampus. Meskipun ini baru sampai ke sistem
operasi, maintenance dan pengelolaan server, saya sudah mulai
bisa menarik kesimpulan bahwa teknologi berkembang dengan
varian yang beraneka ragam. Mereka masing-masing sangat unik
dan saling melengkapi dalam proses pemecahan masalah. Sekali
lagi, secara teknologi tidak ada yang bisa mengatakan bahwa suatu
platform adalah terbaik dalam segala hal. Yang ada adalah terbaik
dalam suatu sisi. Macintosh dengan kestabilan desktopnya, Linux
dalam keterbukaan source dan kestabilan server, MS Windows
dalam kemudahan pemakaian, BSD dalam sekuriti, dsb. Kelebihan
dalam suatu sisi itu yang melengkapi penyelesaian masalah secara
global masyarakat di dunia.
Apakah hanya masalah sistem operasi? Ternyata tidak! Dalam
bahasa pemrograman juga seperti itu. Ketika saya menganggap
bahwa bahasa C dan Perl cukup, karena hampir semua laporan
dan proyek di kampus menggunakan bahasa C serta sebagian Perl.
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 165
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Saya dikejutkan karena kebutuhan perusahaan tempat saya
bekerja paruh waktu adalah bahasa Java untuk beberapa project.
Untung saya sudah membiasakan diri di semester ke 4 (awal 1997)
di mata kuliah Computer Graphics. Dan ini otodidak, karena
pemrograman berorientasi objek baru diajarkan di tingkat 3. Saya
juga mulai mengganti kebiasaan Perl dengan PHP, khusus untuk
web programming karena kebutuhan lebih banyak di situ.
Demikian juga dengan hobi saya menggunakan notasi OMT
(Object Modeling Technique) milik James Rumbaugh dalam desain
object-oriented, harus berubah karena muncul UML (Unified
Modeling Language) yang akhirnya diusulkan menjadi standard oleh
James Rumbauh, Grady Booch dan Ivar Jacobson di OMG (Object
Management Group)
Dunia penelitian juga tak lepas dari itu, kita harus lebih
banyak membaca jurnal-jurnal ilmiah terbaru untuk meng-update
informasi dan pengetahuan kita tentang berbagai approach,
teknologi, metodologi, formula baru yang telah ditemukan oleh
berbagai peneliti lain di dunia. Kadang dengan pemikiran baru
itu kita bergerak dan harus meninggalkan berbagai tema
penelitian yang sudah tidak terlalu dibutuhkan oleh masyarakat.
Mari kita renungkan bersama, suatu hal yang lucu kalau kita
terbelenggu oleh teknologi. Kalaupun kita sangat suka komputer
tabung, tentu kita tidak bisa lagi menggunakannya di era saat ini.
Kalapun kita fanatik terhadap pascal dan quickbasic, kita sudah
mulai kesulitan mencari kompilernya saat ini. Kalaupun kita sangat
lihai bermain MS DOS, ngoprek dosshell, tentu harus ditinggalkan
dengan sistem windowing (X window, Mac window, window ala
MS Windows, dsb)
Sekali lagi teknologi, approach, metodologi dalam bentuk
sistem operasi, bahasa pemrograman, software, dsb hanyalah
166
tool yang harus dikuasai dan digunakan bagi para teknolog dan
profesional untuk memecahkan masalah. Dia bersifat tidak kekal,
dia bukanlah agama yang harus dianut dan difanatikkan seumur
hidup. Ketergantungan terhadap sebuah tool adalah kebodohan.
Debat kusir tentang tool dan saling mengumpat atau membela
mati-matian sebuah tool adalah tindakan sia-sia.
Kemerdekaan bagi seorang teknolog adalah kebebasan dan
kemampuan dalam memilih, memilah dan menggunakan berbagai
teknologi, tool dan approach dalam memecahkan masalah. Ketika
kita terbelenggu dan terpaksa dalam menggunakan suatu
teknologi, maka itu menandakan bahwa kita belum merdeka, dan
perlu perdjoeangan untuk memerdekakan diri.
Tentu kemerdekaan teknologi yang lebih tinggi tingkatnya
adalah apabila kita bukan lagi sebagai pengguna, tapi juga sebagai
pencipta dari teknologi. Sehingga kita tidak perlu lagi
menggunakan teknologi enkripsi khususnya untuk kunci publik
yang diciptakan Martin Hellman dan Adi Shamir, maupun
algoritma kompresi data (misal dalam format ZIP) yang merupakan
karya Abraham Lempel dan Jacob Ziv. Perlu diketahui bahwa
empat orang yang saya sebut baru saja adalah orang Israel.
17 Agustus 2006, menyambut kemerdekaan RI yang ke-61,
jadikanlah tanggal ini suatu timing yang tepat untuk mulai
memikirkan kemerdekaan teknologi, meskipun kita mulai dari halhal kecil.
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 167
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
168
Kekuatan Kata Para
Kekuatan kata-kata telah membingkai
peradaban, membalut perjuangan, dan menggoreskan sandi munculnya para pemimpin
besar. Mengantarkan seorang mantan budak
barbar bernama Tariq bin Ziyad menjadi
pemimpin besar Islam penakluk Eropa. Dengan
ucapannya yang cukup terkenal ketika
memerintahkan pasukannya membakar kapal-
PEMIMPIN
KEPEMIMPINAN MEMBAWA arti filosofis suatu
energi untuk menggerakkan orang lain ke arah
suatu tujuan. Di sisi lain, pemimpin juga
merupakan tempat rakyat bercermin. Ketika
“perkataan” adalah implementasi strategis
untuk menggerakkan orang dan juga
membangun pondasi-pondasi sebuah bangunan cermin. Maka kasus rapor merah kepemimpinan negeri kita, bisa kita tarik ke atas seratseratnya sebagai memerahnya nilai dari
perkataan para pemimpin.
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 169
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
kapal mereka sendiri, “Kita datang ke sini tidak untuk kembali.
Kita hanya punya pilihan, menaklukkan negeri ini dan menetap
di sini, atau kita semua syahid”.
Kekuatan kata-kata para pemimpin, juga telah menjadi
sumbu keberhasilan puluhan proyek mercusuar dan “mission
impossible” di Jepang. Adalah kisah sukses pemimpin-pemimpin
tak dikenal (mumei no hitotachi), dalam pengembangan teknologi,
pembangunan fisik, perbaikan metode pendidikan, dsb. Memberi
insiprasi kepada seorang produser TV NHK Jepang (Akira Imai)
untuk menyusun acara TV berjudul Project X, dan juga menulis
sebuah buku berjudul “Project X - Rida Tachi no Kotoba”
(Perkataan Para Pemimpin)”.
Terlepas dari kesalahan politik masa lalu, harus kita akui juga
bahwa militer Indonesia (baca TNI) adalah salah satu contoh
lembaga yang cukup cerdik mewarnai sistem kaderisasi internal
dengan menggunakan metode “positive therapy” yang dilandasi
oleh kekuatan kata-kata. Maka jargon, mars, slogan, dan doktrin
170
kata-kata bijak para pendahulu adalah “makanan” sehari-hari para
taruna muda dan menjadi motivator penting penyemangat
pergerakan mereka. Menengok ke dalam sistem pendidikan Islam
yang ada, belumlah kita sampai pada suatu tahapan sistem
kaderisasi dimana hadits nabi, kata bijak para sahabat dan ulama
setelahnya, berkedudukan penting sebagai jargon, cermin
ataupun elemen motivator perjuangan kita.
Namun bagaimanapun juga kekuatan kata-kata adalah
bagaikan pedang bermata dua. Perkataan para pemimpin, di satu
sisi bisa membawa manfaat, tetapi juga bisa membawa kerusakkan
yang dahsyat bagi rakyat. Keterpurukan republik kita yang sudah
berjalan secara turun temurun, salah satunya juga diakibatkan
oleh efek negatif kekuatan kata-kata para pemimpin kita.
Lalu, bagaimana sebenarnya kita harus berkata-kata?
Konsepsi dan metode berkata-kata, telah diajarkan secara
gamblang oleh Allah kepada kita.
Konsepsi qaulan ma’rufa (perkataan yang baik) (QS. 4:5).
Perkataan baik yang mendidik, dan dapat bersifat sebagai cermin
dalam tindakan masyarakat.
Konsepsi qaulan sadida (perkataan yang tegas dan benar)
(QS. 4:9; 33:70) membawa implikasi bahwa perkataan seorang
pemimpin haruslah tegas, benar, straight to the point, dan
terbebas dari “pemerkosaan bahasa”. Pemimpin bukanlah seorang
orator yang bisanya hanya menipu rakyat dengan kata-kata yang
abstrak, “ngeles”, ataupun kata-kata ambigu yang membius. Tegas
bukan berarti keras atau kasar, tetapi tegas membawa makna
konsistensi dan keteguhan prinsip.
Konsepsi qaulan layyina (perkataan yang lemah lembut) (QS.
20:44). Dilatar belakangi oleh kisah nabi Musa dan Harun yang
diperintahkan oleh Allah untuk menghadapi Fir’aun dengan
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 171
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
perkataan yang lemah lembut. Allah memberi nasehat kepada
kita untuk tetap lembut, meskipun yang dihadapi adalah seorang
jahil dan perusak.Tentu ini tidak bisa dihantamkan dengan
konsepsi qaulan sadida. Justru ketegasan merupakan pengokoh
kelembutan.
Konsepsi qaulan maisura (perkataan yang pantas) (QS.
17:28). Janganlah menggunakan kata-kata yang tidak pantas dan
menyinggung perasaaan, meskipun itu kepada bawahan kita,
kepada penerima infaq harta-harta kita, dan juga terutama kepada
orang-orang yang lebih tua daripada kita.
Konsepsi qaulan baligha (perkataan yang membekas pada
jiwa)(QS. 4:63), adalah ucapan berbobot yang menyentuh jiwa
dan ruh para pendengarnya. Dengan menggunakan “bahasa”
sesuai dengan kemampuan massa yang dihadapi, fasih dan jelas
maknanya.
Konsepsi qaulan karima (perkataan yang mulia) (QS. 17:23)
yaitu perkataan yang penuh adab, rasa hormat dan kasih sayang.
Perkataan tidak bersifat menantang atau bahkan merendahkan
pendengar.
Mudah-mudahaan kita dan juga para pemimpin kita
mendapat bimbingan dari Allah, untuk merefleksikan keenam
konsepsi Qurani diatas dalam kehidupan nyata.
172
Genesis
Refleksi dari kepemimpinan yang efektif,
bertanggungjawab, dan terbalutnya hubungan
sinergis antara pemimpin dengan yang dipimpin,
adalah makna filosofis dari nasehat Rasulullah
SAW: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap
pemimpin bertanggungjawab terhadap
KEKUASAAN
HUBUNGAN PEMIMPIN dan kekuasaan adalah
ibarat gula dengan manisnya, ibarat garam
dengan asinnya. Dua-duanya tak terpisahkan.
Kepemimpinan yang efektif (effective
leadership) terealisasi pada saat seorang
pemimpin dengan kekuasaannya mampu
menggugah pengikutnya untuk mencapai
kinerja yang memuaskan. Ketika kekuasaan
ternyata bisa timbul tidak hanya dari satu
sumber, kepemimpinan yang efektif bisa
dianalogikan sebagai movement untuk
memanfaatkan genesis (asal usul) kekuasaan,
dan menerapkannya pada tempat yang tepat.
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 173
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
pimpinannya, seorang Amir (kepala negara) adalah pemimpin dan
ia bertanggungjawab terhadap rakyatnya ….” (HR Bukhari &
Muslim)
Genesis kekuasaan, atau dalam terminologi lain: “jenis-jenis
kekuasaan (types of power)” (Robbins-1991), atau “basis-basis
kekuasaan sosial (the bases of social power)” (French-1960), pada
hakekatnya teridentifikasi dari lima hal: legitimate power, coercive
power, reward power, expert power, dan referent power.
Legitimate Power (kekuasaan legal), yakni kekuasaan yang
dimiliki seorang pemimpin sebagai hasil dari posisinya dalam suatu
organisasi atau lembaga. Kekuasaan yang memberi otoritas atau
wewenang (authority) kepada seorang pemimpin untuk memberi
perintah, yang harus didengar dan dipatuhi oleh anak buahnya.
Bisa berupa kekuasaan seorang jenderal terhadap para prajuritnya,
seorang kepala sekolah terhadap guru-guru yang dipimpinnya,
ataupun seorang pemimpin perusahaan terhadap karyawannya.
Coercive Power (kekuasaan paksa), yakni kekuasaan yang
didasari karena kemampuan seorang pemimpin untuk memberi
hukuman dan melakukan pengendalian. Yang dipimpin juga
menyadari bahwa apabila dia tidak mematuhinya, akan ada efek
negatif yang bisa timbul. Pemimpin yang bijak adalah yang bisa
menggunakan kekuasaan ini dalam konotasi pendidikan dan
arahan yang positif kepada anak buah. Bukan hanya karena rasa
senang-tidak senang, ataupun faktor-faktor subyektif lainnya.
Reward Power (kekuasaan penghargaan), adalah kekuasaan
untuk memberi keuntungan positif atau penghargaan kepada yang
dipimpin. Tentu hal ini bisa terlaksana dalam konteks bahwa sang
pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk
memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahanarahannya. Penghargaan bisa berupa pemberian hak otonomi atas
174
suatu wilayah yang berprestasi, promosi jabatan, uang, pekerjaan
yang lebih menantang, dsb.
Expert Power (kekuasaan kepakaran), yakni kekuasaan yang
berdasarkan karena kepakaran dan kemampuan seseorang dalam
suatu bidang tertentu, sehingga menyebabkan sang bawahan
patuh karena percaya bahwa pemimpin mempunyai pengalaman,
pengetahuan dan kemahiran konseptual dan teknikal. Kekuasaan
ini akan terus berjalan dalam kerangka sang pengikut memerlukan
kepakarannya, dan akan hilang apabila sudah tidak
memerlukannya. Kekuasaan kepakaran bisa terus eksis apabila
ditunjang oleh referent power atau legitimate power.
Referent Power (kekuasaan rujukan) adalah kekuasaan yang
timbul karena karisma, karakteristik individu, keteladanan atau
kepribadian yang menarik. Logika sederhana dari jenis kekuasaan
ini adalah, apabila saya mengagumi dan memuja anda, maka anda
dapat berkuasa atas saya.
Seorang pemimpin yang memiliki jiwa leadership adalah
pemimpin yang dengan terampil mampu melakukan kombinasi
dan improvisasi dalam menggunakan genesis kekuasaan yang
berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai
situasi. Inilah yang disebut penulis dalam kalimat sebelumnya
sebagai kepemimpinan yang efektif (effective leadership), dimana
implementasinya adalah dengan “memanfaatkan genesis
kekuasaan, dan menerapkannya pada tempat yang tepat”.
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 175
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Dan marilah kita saksikan bagaimana khalifah Abu Bakar
Asshidiq, menggunakan legitimate power yang dimilikinya untuk
memerintahkan Usamah bin Zaid meneruskan rencana memimpin
pengiriman tentara ke Syria, di sisi lain menggunakan referent
power untuk meminta izin Usamah bin Zaid agar meninggalkan
Umar Bin Khattab di Madinah. Dan dalam keadaan yang berbeda,
beliau memakai expert power ketika menolak permintaan
Fathimah (putri Rasulullah) dengan landasan hukum fiqih dan
hadits shahih, berkenaan dengan masalah harta warisan setelah
Rasulullah SAW wafat.
Adalah Umar bin Abdul Aziz yang telah berhasil menggunakan
coercive power-nya ketika menjabat sebagai gubernur wilayah
Hejaz, untuk tidak memperbolehkan Hajjaj bin Yusuf Atssaqafi
(penguasa Iraq yang dzalim) melewati kota Madinah. Meskipun
secara kedudukan Hajjaj memiliki tempat istimewa di hati penguasa
Daulat Bani Umaiyah. Dan dengan kekuatan referent power dan
reward power yang dimilikinya, Umar bin Abdul Aziz telah berhasil
menyatukan kelompok-kelompok Qeisiyah, Yamaniah, Khawarij,
Syiah, Mutazilah, yang secara terus menerus bertikai pada masa
itu. Juga berhasil mengumpulkan ulama-ulama yang shaleh dan
terkemuka yang sebelumnya telah mengasingkan diri, menjauhkan
diri dari kekuasaan karena kerusakan moral kekhalifahan Bani
Umayah sebelumnya. Para ulama justru mendatangi Umar bin
Abdul Aziz, duduk bersama untuk memecahkan masalah umat.
Kita semua sangat merindukan pemimpin republik yang tidak
hanya pandai menggunakan coercive power dan legitimate power
dalam memimpin republik. Tapi juga dengan bijak dan cerdik
menggunakan expert power, referent power, ataupun reward
power dalam mempersatukan seluruh anak negeri, dan
mengangkat republik dari keterpurukan.
176
Komunitas Terdidik: Belajar
Tiada hari terlewatkan tanpa membaca
surat kabar Indonesia melalui Internet. Di sanasini bermunculan berita mengenai rusaknya
moral dan carut marutnya kepribadian
masyarakat Indonesia, layaknya sebuah bangsa
yang tidak terdidik. Dan kerusakan ini secara
signifikan dan menyeluruh melanda berbagai
golongan masyarakat Indonesia, dari pejabat
atas, menengah sampai rendah, dari anggota
DPR sampai menular ke masyarakat umum.
Kemudian kalau kita menyimak berita-berita
Internasional, sudah menjadi hal yang lazim,
DARI JEPANG
OPINI KECIL, yang saya tulis sewaktu masih
tinggal di Jepang. Pernah dimuat di kolom Opini,
Surat Kabar Republika, tanggal 15 Juli 2002.
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 177
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
bahwa Indonesia selalu memenangi kontes-kontes internasional
yang berhubungan dengan sifat buruk. Dari masalah besarnya
jumlah korupsi, pelanggaran HAM, pembajakan software, sampai
rendahnya masalah sumber daya manusia (SDM).
Pada tulisan ini, penulis mencoba menguraikan tentang
bagaimana sebuah komunitas terdidik (knowledged community)
dan beradab itu sebenarnya bisa terbentuk dari sesuatu hal yang
sangat sederhana.
Dari mengamati perilaku kehidupan masyarakat Jepang,
sebenarnya tergambar bagaimana sebuah komunitas terdidik
terlahir dari suatu sifat dan sikap yang sederhana. Yang pertama
mari kita lihat bagaimana orang Jepang mengedepankan rasa
“malu”. Fenomena “malu” yang telah mendarah daging dalam
sikap dan budaya masyarakat Jepang ternyata membawa implikasi
yang sangat luas dalam berbagai bidang kehidupan. Penulis
178
cermati bahwa di Jepang sebenarnya banyak hal baik lain
terbentuk dari sikap malu ini, termasuk didalamnya masalah
penghormatan terhadap HAM, masalah law enforcement,
masalah kebersihan moral aparat, dan sebagainya.
Bagaimana masyarakat Jepang bersikap terhadap peraturan
lalu lintas adalah suatu contoh nyata. Orang Jepang lebih senang
memilih memakai jalan memutar daripada mengganggu
pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan
raya. Bagaimana taatnya mereka untuk menunggu lampu traffic
light menjadi hijau, meskipun di jalan itu sudah tidak ada
kendaraan yang lewat lagi. Bagaimana mereka secara otomatis
langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang
membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion untuk
nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet
umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran.
Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 179
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
peraturan ataupun norma yang sudah menjadi
kesepakatan umum.
Hal menarik berikutnya adalah bagaimana orang Jepang
berprinsip sangat “ekonomis” dalam masalah
perbelanjaan rumah
tangga. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam
berbagai bidang kehidupan. Sekitar 8 tahun yang lalu, masa awalawal mulai kehidupan di Jepang, penulis sempat terheran-heran
dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket
pada sekitar pukul 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah
menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan
memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah
jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di
Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain adalah para
ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak
jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 10 atau 20 yen. Juga
bagaimana orang Jepang lebih memilih naik densha (kereta listrik)
swasta daripada densha milik negeri, karena untuk daerah Tokyo
dan sekitarnya ternyata densha swasta lebih murah daripada milik
negeri. Dan masih banyak lagi contoh yang sangat menakjubkan
dan membuktikan bahwa orang Jepang itu sangat ekonomis.
Secara perekonomian mereka bukan bangsa yang miskin
karena boleh dikata sekarang memiliki peringkat GDP yang sangat
tinggi di dunia. Mereka juga bukan bangsa yang tidak sibuk atau
lebih punya waktu berhidup ekonomis, karena mereka bekerja
dengan sangat giat bahkan terkenal dengan bangsa yang gila kerja
(workaholic). Tetapi hebatnya mereka tetap memegang prinsip
180
hidup ekonomis. Ini sangat bertolak belakang dengan masyarakat
negara-negara berkembang (baca: Indonesia) yang bersifat sangat
konsumtif. Terus terang kita memang sangat malas untuk bersifat
ekonomis. Baru dapat uang sedikit saja sudah siap-siap pergi ke
singapore untuk shopping, atau beli telepon genggam baru.
Sifat berikutnya adalah masalah “sopan santun dan menghormati
orang lain”. Masyarakat Jepang sangat terlatih refleksnya untuk
mengatakan gomennasai (maaf) dalam setiap kondisi yang tidak
mengenakkan orang lain. Kalau kita berjalan tergesa-gesa dan menabrak
orang Jepang, sebelum kita sempat mengatakan maaf, orang Jepang
dengan cepat akan mengatakan maaf kepada kita. Demikian juga apabila
kita bertabrakan sepeda dengan mereka. Tidak peduli siapa yang
sebenarnya pada pihak yang salah, mereka akan secara refleks
mengucapkan gomennasai (maaf).
Kalau moral dan sifat-sifat sederhana dari orang Jepang,
seperti malu, hidup ekonomis, menghormati orang lain sudah
sangat jauh melebihi kita, ditambah dengan majunya
perekonomian dan sistem kehidupan. Sekarang marilah kita
bertanya kepada diri kita, hal baik apa yang kira-kira bisa kita
banggakan sebagai bangsa Indonesia kepada mereka ?
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 181
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Bangsa Indonesia bukan bangsa yang bodoh dan tidak
mengerti moral. Kita bisa menyaksikan bahwa mahasiswamahasiswa Indonesia yang sedang belajar Jepang, Jerman,
Amerika dan di negara -negara lain, banyak sekali yang berprestasi
dan tidak kalah secara ilmu dan kepintaran. Demikian juga kalau
kita bandingkan bagaimana para pengamat dan komentator
Indonesia menguraiakan analisanya di televisi Indonesia. Selama
hidup 8 tahun di Jepang penulis belum pernah menemukan
analisa pengamat dan komentator di televisi Jepang yang lebih
hebat analisanya daripada pengamat dan komentator Indonesia.
Dan ini menyeluruh, dari masalah ekonomi, politik, sistem
pemerintahan bahkan sampai masalah sepak bola.
Akan tetapi sangat disayangkan bahwa fakta menunjukkan,
secara politik dan sistem pemerintahan kita tidak lebih stabil
daripada Jepang, secara ekonomi kita jauh dibawah Jepang. Dalam
masalah sepakbola juga dalam waktu singkat Jepang sudah
berprestasi menembus 16 besar pada piala dunia tahun 2002 ini,
sementara kita sendiri masih berputar-putar dengan permasalahan yang tidak mutu, dari masalah wasit, pemain sampai kisruhnya
suporter.
Mengambil pelajaran dari kasus yang telah diuraikan penulis
diatas. Ternyata kepintaran dan kepandaian otak kita adalah tidak
cukup untuk membawa kita menuju suatu komunitas yang
terdidik. Justru sikap dan prinsip hidup yang sebenarnya terlihat
sederhana itulah akan secara silmultan membentuk suatu bangsa
menjadi bangsa besar dan berperadaban.
182
Komik
PENDIDIKAN
JALAN-JALAN ke toko buku sudah menjadi ritual
bulanan sejak saya kuliah di Jepang. Dan ritual
ini kadang-kadang bisa menggerus uang belanja
istri. Dua hari lalu saya coba jalan ke arah Depok,
toko buku Gramedia di jalan Margonda. Kali ini
perjalanan besar karena membawa lima orang
anak. Masuk ke toko buku, seperti biasa kita
semua menyebar, hanya Hasan yang ikut saya
menyisir jalan sampai sudut-sudut toko buku.
Yang menarik, perhatian saya adalah pada saat
menemukan serial buku komik yang materinya
adalah pendidikan. Saya memborong seri BOS
(Biografi Orang Sukses) karya G. Wu yang
diterbitkan Grasindo dan seri 3 Menit Belajar
Pengetahuan Umum yang diterbitkan BIP
(terjemahan buku Scientific Facts at a Breath
karya Kim Seok-Ho & Kim Seok-Cheon).
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 183
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Membaca komik-komik itu, mengingatkan saya akan bukubuku Jepang. Meng-komik-kan bahan ajar bukanlah barang baru
di Jepang, dari pelajaran-pelajaran dasar seperti sejarah, biologi,
fisika sampai ilmu filsafat, banyak yang sudah membuatnya dalam
bentuk komik. Sebelum pulang ke Indonesia, selain membawa
komik tentang sejarah jepang dan ilmu filsafat, saya sempat
membawa beberapa seri komik (manga) dan buku bergambar
(zukai) bertema teknologi informasi. Dan kadang bukan materimateri di level dasar, justru komik dan buku bergambar digunakan
untuk menjelaskan konsep-konsep teknologi informasi yang rumit,
misal tentang UML, extreme programming, teknologi
telekomunikasi, dsb.
Pendekatan visualisasi dengan komik biasanya digunakan
untuk menarik minat baca kaum muda dan mempermudah
pembaca dalam memahami materi yang akan disampaikan. Dari
situ budaya baca masyarakat tumbuh, dan di Jepang kita akan
dengan mudah menemukan pembaca-pembaca buku dari
berbagai usia di setiap lorong-lorong densha (kereta listrik), bus
ataupun kursi tunggu di eki (stasiun densha).
Kembali ke Gramedia Depok, akhirnya saya membeli semua
seri BOS karya G. Wu yang ada dengan judul-judul: Henry Ford,
Soichiro Honda, Bill Gates, Akio Morita, Steven Spielberg, Chung
Ju Yung, Konosuke Matsushita, Carls Benz & Gotlieb Daimler,
Ernest, Robert Woodruff & Roberto Goizueta, Conrad Nicholson
Hilton. Saya pikir, seri BOS ini sangat menarik, saya coba jadikan
bahan cerita sebelum tidur untuk Hasan dan Irsyad. Dan besoknya
Irsyad sudah mulai bacakan cerita lainnya untuk adiknya. Istri dan
adik-adik ipar saya juga tidak sengaja keasyikan baca semua judul
yang saya beli. Gambar komik, bahasa dan tokoh-tokohnya cukup
menarik, simpel dan mudah dipahami. Cerita tetap mengalir dan
184
tidak membosankan, meskipun dimasukkan berbagai filsafat dan
konsep hidup tokoh-tokoh di atas.
Seri 3 Menit Belajar Pengetahuan Umum juga tidak kalah
menarik. Dalam satu judul bisa berisi ratusan pertanyaan
“mengapa” beserta penjelasannya yang berbentuk komik cerita.
Misalnya dalam judul 3 Menit Belajar Pengetahuan Umum:
Makanan, Kesehatan dan Olahraga, akan diceritakan dalam
bentuk komik tentang apa manfaat cuka, mengapa susu baik untuk
tubuh, mengapa warna udang berubah setelah direbus, dsb.
Mudah-mudahan ini adalah awal yang baik untuk memotivasi
penulis-penulis buku pelajaran untuk mencoba pendekatan komik
ini untuk bahan ajar pendidikan.
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 185
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
186
Langkah Para Ilmuwan Mempopulerkan
ILMU PENGETAHUAN
SAYA TERTARIK membaca tulisan ringan di Koran
Tempo 27 Januari 2008 lalu yang ditulis Dian R
Basuki dengan judul “Buku Sains Yang Populer,
Kok Langka?” Tanpa bermaksud menambah
polemik tentang pencarian ilmuwan yang
membumi Saya justru ingin belajar dan melihat
kembali bagaimana sih langkah para ilmuwan
dalam mempopulerkan ilmu pengetahuan yang
mereka miliki. Oh ya, jangan lupa saya sempat
singgung masalah mempopulerkan ilmu
pengetahuan di artikel tentang komik pendidikan, yang kita lihat akhir-akhir ini mulai
bermunculan di Indonesia. Trend ini saya pikir
sangat positif dan membantu anak muda
kita dalam membentuk budaya dan minat
dalam membaca. Mudah-mudahan bisa “menggoda” para ilmuwan, peneliti dan dosen di
Indonesia untuk mencoba “menjlentrehkan”
ilmu pengetahuan dalam bentuk yang mudah
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 187
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
dimengerti oleh masyarakat umum. Paling tidak ada tiga cara para
ilmuwan mempopulerkan ilmu pengetahuan mereka. Apa saja
itu? Yuk kita bahas …
Langkah para ilmuwan mempopulerkan ilmu pengetahuan
yang pertama adalah dengan “komikisasi” atau apalah namanya.
Intinya memaparkan ilmu pengetahuan dalam bentuk cerita
komik. Dan ini sudah merupakan hal jamak di Jepang, bahkan ini
berlanjut ke tahap meng-komik-kan bahan ajar, dari pelajaranpelajaran dasar seperti sejarah, biologi, fisika, matematika sampai
filsafat. Sebelum pulang ke Indonesia saya sempat membeli seri
komik (manga) dan buku bergambar (zukai) dengan tema sulit
seperti pemrograman, UML, extreme programming, filsafat, dsb.
Nanti saya pinjami kalau ada yang tertarik Pendekatan visualisasi
dengan komik biasanya digunakan untuk menarik minat baca
kaum muda dan mempermudah pembaca dalam memahami
materi yang akan disampaikan. Dari situ budaya baca masyarakat
tumbuh, dan di Jepang kita akan dengan mudah menemukan
pembaca-pembaca buku dari berbagai usia di setiap lorong-lorong
densha (kereta listrik), bus ataupun kursi tunggu di eki (stasiun
densha) dan halte bus.
Dari Korea, ada Kim Seok-Cheon yang
membuat seri “3 Menit Belajar Pengetahuan
Umum” yang juga tidak kalah menarik. Dalam satu
judul bisa berisi ratusan pertanyaan “mengapa”
beserta penjelasannya yang berbentuk komik cerita.
Misalnya dalam judul “3 Menit Belajar Pengetahuan
Umum: Makanan, Kesehatan dan Olahraga”, akan
diceritakan dalam bentuk komik tentang apa
manfaat cuka, mengapa susu baik untuk tubuh,
mengapa warna udang berubah setelah direbus,
188
dsb. Kim Seok-Cheon mempermudah pembahasan berbagai ilmu
pengetahuan dengan bantuan berbagai karakter komik yang dia
sebut Ding-Dong, Paman Penyihir, Pinggu, Nemo, Buxi, dsb.
Lulus SMA tahun 1993, saya teringat rela berpuasa karena
uang beasiswa STAID saya gunakan untuk membeli buku karya
Stephen Hawking berjudul “Riwayat Sang Kala”, buku terjemahan
dari “The Brief History of Time” yang waktu itu heboh dan menjadi
best seller di berbagai negara. Ini cara kedua bagaimana para
ilmuwan mempopulerkan ilmu pengetahuan mereka, yaitu
dengan menulis versi populer dari berbagai teori dan ilmu yang
mereka kuasai. Inilah yang dibahas oleh Dian R Basuki di artikel
Koran Tempo 27 Januari 2008 lalu. Seorang Stephen Hawking yang
memiliki kelemahan di fisikpun tanpa kenal lelah, masih tetap
melanjutkan usaha menjlentrehkan berbagai ilmu dan teori secara
populer di buku “Black Holes and Baby Universes and Other
Essays”.
Bagaimana dengan Einstein? Albert Einstein kabarnya
membuat versi populer dari tulisan legendarisnya “Relativity:
Special and General Theory”. Einstein juga meninggalkan berbagai
tulisan populer yang dikumpulkan dalam buku Ideas and Opinions.
Peraih hadiah nobel Fisika, Richard Feynman
memaparkan berbagai ilmunya secara jenaka lewat
buku “Surelly You’re Jouking, Mr. Feynman!”. Kita bisa
mendapatkan versi bahasa Indonesianya di toko buku
dengan judul “Cerdas Jenaka Cara Nobelis Fisika”.
Tulisannya encer, lucu dan seru. Carl Sagan, ilmuwan
astronomi tak mau kalah, dia menulis novel berjudul
Cosmos yang kemudian dibuatkan film layar lebarnya
dengan pemeran utama Jodie Foster. Selain itu masih
banyak ilmuwan lain yang dibahas oleh Dian R Basuki,
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 189
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
ada Geert Arend van Klinken yang memaparkan perkembangan
fisika sejak jaman Sumeria, Yunani kuno, Renaisans sampai teori
kuantum di abad 20 lewat bukunya berjudul “Revolusi Fisika: dari
Alam Gaib ke Alam Nyata”. Larry Gonick menuliskan berbagai
konsep penting di bidang biologi, fisika, genetika, dan kimia dalam
bentuk buku komik.
Feynman mungkin memberi kita contoh salah satu teknik lain
mempopulerkan ilmu pengetahuan. Feynman adalah dosen
favorit karena dia berhasil mengajar mata kuliah sulit dan pelik
dengan menyenangkan dan menyegarkan bagi mahasiswanya.
Selera humor dan gaya bicara yang menggelitik ternyata membuat
otak mahasiswa lebih cepat menangkap apa yang dia ajarkan.
Kemampuan verbal adalah juga faktor penting bagi seorang dosen
dan peneliti sehingga apa yang disampaikan dapat ditangkap oleh
masyarakat dengan mudah. Untuk para dosen, jangan senang
karena tidak ada pertanyaan di kelas dan jangan bangga karena
ditakuti mahasiswa. Mahasiswa adalah customer kita, banggalah
karena kita sudah membuat mahasiswa paham dan tidak sakit
kepala karena gaya bicara kita
Terakhir, mari populerkan berbagai ilmu pengetahuan
dan hasil penelitian yang sudah kita lakukan dalam bahasa yang
mudah dipahami oleh masyarakat. Saya sepakat bahwa bagi para
ilmuwan, peneliti dan dosen, publikasi di jurnal ilmiah adalah
penting dan wajib hukumnya. Tapi jangan lupa bahwa sebagian
besar masyarakat tidak membaca jurnal ilmiah dan proceeding
conference, yang mereka baca adalah majalah dan koran Diantara
masalah masih kurangnya penghargaan bagi para ilmuwan, mari
kita tetap berdjoeang mengolah dan meramu berbagai ilmu
pengetahuan yang kita miliki supaya bisa dinikmati dan
dimanfaatkan oleh seluruh segmen masyarakat. Ikatlah ilmu
dengan menuliskannya!
190
Knowledge Management dan
nowledge management adalah konsep dan
jargon besar yang susah diimplementasikan.
Betulkah? Apakah karena saking sulitnya
dipahami sehingga susah diimplementasikan?
Atau karena memerlukan tool yang mahal dan
canggih sehingga tidak mudah diterapkan? Atau
mungkin karena dosen dan pengajar knowledge
management terlalu berteori setinggi langit
sampai malah lupa untuk me-manage
pengetahuannya sendiri? Hehehe mungkin
terakhir ini jadi faktor utama. Menurut saya,
knowledge management itu mudah, murah
dan wajib menjadi perilaku keseharian kita. Ini
topik diskusi yang saya angkat ketika mengisi
Workshop yang diselenggarakan oleh Divisi
Komunikasi (Communication Team) Pertamina
beberapa waktu yang lalu. BTW, Workshop ini
dilakukan dalam rangka mensukseskan program
KIAT PRAKTISNYA
K
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 191
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Transformasi Pertamina menuju persaingan baru. Selain saya yang
membawakan tema Knowledge Management dan Learning
Organization, di jadwal tertulis nama Prof Roy Sembel yang
menyajikan tema Investor Relation.
APA ITU KNOWLEDGE MANAGEMENT
Diskusi saya awali dengan ungkapan Peter Drucker yang sangat
terkenal, yaitu:
“the basic economic resource is no longer capital,
nor natural resources, not labor. It is and will be knowledge”
Ya, perubahan dunia ini mengarah ke fenomena bahwa
sumber ekonomi bukan lagi dalam bentuk money capital atau
sumber daya alam, tapi ke arah knowledge capital. Justru karena
knowledge alias pengetahuan ini kedepannya memegang peranan
penting, maka kita harus mengelolanya.
Organisasi dan perusahaan di dunia ini sebenarnya sudah
sejak lama menderita kerugian karena tidak mengelola
pengetahuan pegawainya dengan baik. Konon kabarnya di suatu
institusi pemerintah, hanya karena PNS yang sudah 30 tahun
mengurusi listrik dan AC masuk masa pensiun, sehari setelah itu
listrik dan AC masih belum menyala ketika para pegawai sudah
masuk kantor. Ya, tidak ada yang menyalakan listrik dan AC, karena
hanya si PNS itu yang tiap pagi selama 30 tahun menyalakan listrik
dan AC. Bahasa ngoko alus-nya:
when employees leave a company, their knowledge goes
with them
192
Organisasi dan perusahaan tidak mengelola pengetahuannya
dengan baik, sehingga transfer pengetahuan tidak terjadi.
Organisasi perlu mengelola pengetahuan anggotanya di segala
level untuk:
„
Mengetahui kekuatan (dan penempatan) seluruh SDM
„
Penggunaan kembali pengetahuan yang sudah ada
(ditemukan) alias tidak perlu mengulangi proses
kegagalan
„
Mempercepat proses penciptaan pengetahuan baru
dari pengetahuan yang ada
„
Menjaga pergerakan organisasi tetap stabil meskipun
terjadi arus keluar-masuk SDM
Nah, sebenarnya yang berkewajiban mengelola pengetahuan
itu individunya atau organisasinya? Sebenarnya setiap orang harus
mengelola pengetahuan mereka sendiri, karena yang paling
berkepentingan mendapatkan manfaat dari pengelolaan
pengetahuan itu adalah individu. Semua pengetahuan yang saya
dapat ketika bekerja, part-time atau menggarap proyek saya
ekspilisitkan kedalam bentuk tulisan. Kemudian saya simpan
dengan rapi, dan apabila merasa perlu, saya database-kan
sehingga memudahkan saya pada saat mencarinya kembali. Itu
semua sangat membantu dan mempercepat kerja saya ketika
masalah serupa datang. Kalaupun pada suatu saat saya pindah
kerja, knowledge base yang saya miliki tadi menjadi “barang
berharga” yang bisa saya “jual” dalam bentuk skill dan
kemampuan ke perusahaan baru.
Knowledge management itu mudah? Ya, mudah. Dan kita
sudah melaksanakannya selama ini bukan? Kalau tidak percaya
coba perhatikan gambar di bawah ini.
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 193
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Nah, dari gambar di atas kita jadi mengetahui KNOWLEDGE
atau PENGETAHUAN yang berkali-kali kita bicarakan itu
sebenarnya “makhluk” apa. Pengetahuan itu bisa dibagi menjadi
dua:
194
1.
Explicit Knowledge, pengetahuan yang tertulis, terarsip,
tersebar (cetak maupun elektronik) dan bisa sebagai
bahan pembelajaran (reference) untuk orang lain. Dari
contoh di atas, ketika seorang member milis memberi
solusi dari buku, maka sebenarnya itu adalah bentuk
explicit knowledge.
2.
Tacit Knowledge, pengetahuan yang berbentuk knowhow, pengalaman, skill, pemahaman, maupun rules of
thumb. Nah, dari contoh di atas, ketika seorang member
milis menjawab berdasarkan pengalaman dia, hasil
ngoprek atau tidak disengaja dapat solusi misalnya, itu
semua adalah tacit knowledge. Tacit knowledge ini
kadang susah kita ungkapkan atau kita tulis. Contohnya,
seorang koki hebat kadang ketika menulis resep
masakan, terpaksa menggunakan ungkapan “garam
secukupnya” atau “gula secukupnya”. Soalnya memang
dia sendiri tidak pernah mengukur berapa gram itu
garam dan gula, semua menggunakan know-how dan
pengalaman selama sekian tahun memasak. Itulah
mengapa Michael Polyani mengatakan bahwa
pengetahuan kita jauh lebih banyak daripada yang kita
ceritakan.
MEMAHAMI KNOWLEDGE SPIRAL ALIAS SECI
Legenda knowledge management tentu tidak bisa kita lepaskan
dari Ikujiro Nonaka dengan bukunya The Knowledge-Creating
Company. Nonaka menceritakan bagaimana success story
Matsushita Electric pada tahun 1985 ketika mengembangkan
mesin pembuat roti.
Konon pada era tahun 1985, Matsushita Electric menemui
kesulitan besar dalam produksi mesin pembuat roti. Mereka selalu
gagal dalam percobaan yang dilakukan. Kulit luar roti yang sudah
gosong padahal dalamnya masih mentah, pengaturan volume dan
suhu yang tidak terformulasi, adalah pemandangan sehari-hari
dari percobaan yang dilakukan. Adalah seorang pengembang
software matsushita electric bernama Ikuko Tanaka yang akhirnya
mempunyai ide cemerlang untuk pergi magang langsung ke
pembuat roti ternama di Osaka International Hotel. Dia dibimbing
langsung oleh sang pembuat roti ternama tersebut untuk belajar
bagaimana mengembangkan adonan dan teknik khusus lainnya.
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 195
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Selesai magang dia presentasikan seluruh pengalaman yang
didapat. Para engineer Matsushita Electric menerjemahkannya
dengan penambahan part khusus dan melakukan perbaikan lain
pada mesin. Percobaan yang dilakukan akhirnya sukses. Dan
produk mesin pembuat roti tersebut akhirnya memecahkan rekor
penjualan alat perlengkapan dapur terbesar pada tahun pertama
pemasaran.
Ikujiro Nonaka membuat formulasi yang terkenal dengan
sebutan SECI atau Knowledge Spiral. Konsepnya adalah sebagai
berikut: dalam siklus perjalanan kehidupan kita, pengetahuan itu
mengalami proses yang kalau digambarkan berbentuk spiral,
proses itu disebut dengan Socialization - Externalization Combination - Internalization. Oh ya, saya pernah tulis artikel
tentang spiralisasi pengetahuan ini di IlmuKomputer.Com plus
dengan edisi yang berbeda juga saya masukkan ke Jurnal
Dokumentasi dan Informasi BACA yang diterbitkan oleh LIPI.
196
1.
Proses eksternalisasi (externalization), yaitu mengubah
tacit knowledge yang kita miliki menjadi explicit
knowledge. Bisa dengan menuliskan know-how dan
pengalaman yang kita dapatkan dalam bentuk tulisan
artikel atau bahkan buku apabila perlu. Dan tulisantulisan tersebut akan sangat bermanfaat bagi orang lain
yang sedang memerlukannya.
2.
Proses kombinasi (combination), yaitu memanfaatkan
explicit knowledge yang ada untuk kita implementasikan
menjadi explicit knowledge lain. Proses ini sangat berguna
untuk meningkatkan skill dan produktivitas diri sendiri. Kita
bisa menghubungkan dan mengkombinasikan explicit
knowledge yang ada menjadi explicit knowledge baru yang
lebih bermanfaat.
3.
Proses internalisasi (internalization), yakni mengubah
explicit knowledge sebagai inspirasi datangnya tacit
knowledge. Dari keempat proses yang ada, mungkin
hanya inilah yang telah kita lakukan. Bahasa lainnya
adalah learning by doing. Dengan referensi dari manual
dan buku yang ada, saya mulai bekerja, dan saya
menemukan pengalaman baru, pemahaman baru dan
know-how baru yang mungkin tidak saya dapatkan dari
buku tersebut.
4.
Proses sosialisasi (socialization), yakni mengubah tacit
knowledge ke tacit knowledge lain. Ini adalah hal yang juga
terkadang sering kita lupakan. Kita tidak manfaatkan
keberadaan kita pada suatu pekerjaan untuk belajar dari
orang lain, yang mungkin lebih berpengalaman. Proses ini
membuat pengetahuan kita terasah dan juga penting
untuk peningkatan diri sendiri. Yang tentu saja ini nanti
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 197
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
akan berputar pada proses pertama yaitu eksternalisasi.
Semakin sukses kita menjalani proses perolehan tacit
knowledge baru, semakin banyak explicit knowledge yang
berhasil kita produksi pada proses eksternalisasi.
KIAT MENGELOLA PENGETAHUAN
Sebelum terlalu ke langit, sebenarnya implementasi knowledge
management untuk diri kita sendiri bagimana yah? Paling tidak
jangan lupakan beberapa hal yang mungkin sepele seperti di
bawah. Saya sendiri menganggap bahwa kiat di bawah adalah best
practice knowledge management untuk individu.
198
„
Atur dan rapikan file-file yang sudah kita download dari
berbagai situs, buat kategori yang baik, masukkan filefile ke dalan kategori tersebut. Buat aturan penamaan
file yang mudah mengingatkan kita dan mempermudah
pencarian kembali. Misalnya masukkan semuanya
dalam folder bernama References
„
Usahakan menuliskan segala pengalaman yang kita
dapat, dari hal sepele pengalaman mengurus kambing
untuk Idul Adha, pengalaman mengadakan workshop
di kampus, pengalaman memimpin BEM, tips dan trik
mendapatkan IPK yang baik, dsb. Ditulis dimana? Bisa
gunakan word processor, emacs, notepad atau
apapun. Supaya pengalaman kita bisa dimanfaatkan
orang lain, sebaiknya tulis di blog kita. Bahkan dengan
blog, proses SECI atau knowledge spiral yang diteorikan
Nonaka bisa kita implementasikan dengan mudah.
Seluruh kegiatan blogosphere dari blogging,
blogwalking, kategorisasi posting, trackback,
pingback, social networking, diskusi di kolom komentar
adalah proses SECI itu sendiri. Bagi saya pribadi,
blog RomiSatriaWahono.Net adalah aktualisasi diri,
kehidupan dan karir saya
„
Simpan dan rapikan segala tugas mandiri di kampus,
paper, artikel, laporan atau buku yang kita tulis, juga
jangan lupa tugas akhir. Buatlah backup secara berkala.
Semua karya kita adalah knowledge penting yang kita
miliki, menghilangkan mereka adalah menghilangkan
sebagian pengetahuan yang kita miliki. Saya sendiri
masih menyimpan semua tulisan yang saya tulis dari
pertama kali ikut konferensi di Jepang tahun 1997
(tingkat 2 program undergraduate) sampai semua
tulisan saya sekarang. Saya biasa menyimpan dalam
folder Publications
„
Catat semua track record kegiatan kita dan karya kita
dalam Curriculum Vitae (CV) kita. Jangan sampai ada
yang terlewat, buat supaya kita bisa mengedit secara
berkala CV kita dengan mudah. Sepele bagi kita belum
tentu sepele bagi orang yang merekrut kita nanti. Siapa
tahu kegiatan kita menjadi aktivis remaja masjid di
kampus malah menjadi poin tersendiri ketika kita masuk
ke perusahaan besar yang ternyata milik keluar kerajaan
Saudi … hehehe. Saya sendiri selalu meng-update CV
secara berkala , bagi saya CV bukan hanya untuk mencari
pekerjaan, tapi untuk mengelola dan mencatat seluruh
aktivitas kita selama hidup. Jadi tidak perlu heran atau
sirik kalau CV saya mencapai 36 halaman, soalnya
memang bukan untuk mencari pekerjaan. Saya biarkan
pekerjaan yang mencari saya. Lho kok bisa? Saya biarkan
google dan seluruh mesin pencari mengindeks CV saya,
maka tanpa perlu mencari pekerjaan, pekerjaan yang
akan memburu kita
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 199
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
Maaf terlalu panjang nih. Mudah-mudahan teman-teman
semua semakin termotivasi untuk mengelola pengetahuannya
masing-masing. Ingat, tidak ada yang peduli dengan pengetahuan
kita, kecuali diri kita sendiri.
REFERENSI
1.
2.
3.
4.
200
Peter F. Drucker, The Coming of the New Organization, 1988
Ikujiro Nonaka, The Knowledge Creating Company, 1991
David A. Garvin, Building a Learning Organization, 1993
Romi Satria Wahono, Menghidupkan Pengetahuan Sudahkah
Kita Lakukan?, Jurnal Dokumentasi dan Informasi - Baca, LIPI,
2005
Konflik Dunia, Perang, dan
Konflik politik di Rwanda tahun 1994 telah
menyebabkan 1 juta penduduk etnis Tutsi tewas
mengenaskan karena dibantai lawan politiknya
yang beretnis Hutu. Di belahan bumi yang lain
lagi, konflik di Korea juga menyebabkan jutaan
orang tewas. Lebih dahsyatnya lagi, konflik ini
menyebabkan terbelahnya Korea (yang sama
GAP SOSIAL
KONFLIK DAN PERANG telah terjadi dimanamana di seluruh dunia ini. Bumi yang terkotakkotak menjadi 192 negara dimana lebih dari 6
milyar manusia hidup didalamnya, ternyata
penuh dengan konflik. Konflik antar manusia,
antar golongan, antar etnis, dan antar negara.
Steven D. Strauss dalam bukunya menyatakan
bahwa dalam setengah abad terakhir, tidak ada
dari 192 negara di dunia ini yang tidak pernah
terlibat konflik. Setiap negara pernah
mengalami konflik baik dalam negeri maupun
luar negeri, satu kali atau bahkan lebih.
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 201
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
sekali sama dalam bahasa, budaya, geografi dan agrikultur)
menjadi dua negara (Korea Utara dan Korea Selatan).
Kalau ditanya negara manakah yang paling banyak terlibat
dalam masalah konflik luar negeri setengah abad terakhir ini. Tidak
mengejutkan bahwa jawabannya adalah Amerika Serikat.
Disamping terlibat dalam 5 konflik dan peperangan penting abad
ini, antara lain dalam perang di Korea, Vietnam, Perang Dingin,
Irak dan Afganistan. Amerika juga terlibat dalam 3 invasi dan
serangan mendadak ke negara lain yaitu ke Laos, Kamboja dan
Libya. Kemudian juga terlibat dalam paling tidak 6 operasi
keamanan, yaitu ke Dominika, Lebanon, Somalia, Kosovo, dan
beberapa negara teluk. Terlibat dalam 2 misi penyelamatan di Iran
dan Mayagues, dan juga misi pengusiran pemerintah nasional di
Panama.
Negara berikut setelah Amerika, yang banyak terlibat dalam
masalah konflik antar negara adalah Israel. Setelah perang dunia
kedua selesai, paling tidak Israel terlibat dalam 6 peperangan dan
konflik. Yaitu perang kemerdekaaan (1948), perang Suez (1956),
perang 6 hari (1967), perang Atrisi (1967-1970), perang Yom Kippur
(1973), perang Lebanon (1982), dan yang sampai belum
terpecahkan adalah konflik dengan Palestina (1987-sekarang).
Menyusul kemudian Mesir, Iraq dan negara-negara lain dalam
wilayah Timur Tengah. Bagaimanapun juga, saat ini tidak ada
konflik dunia yang sedahsyat konflik di Timur Tengah [Strauss2002]. Baik dari perspektif akar permasalahan yang menyebabkan
konflik, tingkat kesulitan dalam mempertemukan pemimpinnya,
dan juga dari perspektif bagaimana metode yang tepat untuk
memecahkan masalah. Konflik di Timur Tengah juga merupakan
konflik yang paling berdarah, paling berbahaya dan paling banyak
202
dipublikasikan oleh media massa. Campur tangan Amerika dalam
konflik di Timur Tengah semakin memperparah keadaan.
PENYEBAB KONFLIK
Ada beberapa faktor yang bisa kita analisis sebagai penyebab atau
paling tidak bisa memicu terjadinya suatu konflik.
Faktor pertama adalah karena ambisi untuk menunjukkan
eksistensi dan pamer kekuatan (power showing). Kalau Woodrow
Wilson mengatakan pada saat perang dunia pertama bahwa
perang yang dia lakukan ini bertujuan untuk mengakhiri semua
peperangan (war to end all wars). Dan George W. Bush
mengatakan bahwa perang melawan terorisme adalah perang
untuk menghapuskan kejahatan (wipe out evil). Pada hakekatnya
semua ingin mengakselerasi eksistensi diri dan identitas politik
(identity politics) di mata dunia internasional. Kemudian
mengklaim bahwa tindakan (negara) mereka sendirilah yang
benar. Faktor ini juga termasuk faktor penting penyebab konflik
politik (revolusi, kudeta) ataupun fenomena ethnic cleansing dan
genocide yang beberapa dekade ini cukup marak di dunia (SerbiaBosnia, Serbia-Kosovo, Tutsi-Hutu di Rwanda).
Kedua, konflik dan perang adalah bisnis model baru yang
sangat menguntungkan. Cukup mencengangkan bahwa Amerika
sebagai negara yang paling banyak terlibat konflik dan perang,
ternyata juga sebagai penjual senjata paling banyak di dunia. Iraq
sebagai musuh tetap Amerika dalam beberapa dekade ini
mencatatkan diri sebagai negara pengimpor senjata terbesar di
dunia. Tak bisa kita pungkiri bahwa perang adalah merupakan
bisnis besar.
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 203
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
N egara Pengekspor
Senjata
(m ilyar dolar/tahun)
Am erika Serikat($18)
R usia ($4.5)
Perancis ($4)
Kuba ($2)
C ina ($2)
N egara Pengim por
Senjata
(m ilyar dolar/tahun)
Irak dan Iran ($6)
Arab Saudi($3)
India ($3)
Vietnam ($2)
Libya ($2)
Selain keuntungan dari penjualan senjata, kekayaan alam bisa
jadi daya tarik lain. Bukan suatu rahasia lagi bahwa Amerika juga
mengagendakan eksplorasi minyak dalam setiap keterlibatan
konflik dengan negara lain, khususnya negara dalam wilayah Timur
Tengah. Demikian juga dengan Australia yang “ada maunya”
dibalik dukungan terhadap kemerdekaan Timor Timur. Kini
pemerintah baru Timor Timur pusing dengan tuntutan Australia
perihal penentuan ulang batasan maritim dalam Timor Gap Treaty
1989, dan juga pembagian royalti masalah minyak di celah timor.
Faktor ketiga adalah faktor kemiskinan, ketidakadilan dan
gap sosial yang terlalu besar. Anthony Georgieff berargumentasi
bahwa pada era diatas tahun 1990, lebih dari 80% konflik dan
peperangan di dunia disebabkan karena faktor kemiskinan dan
krisis perekonomian [Georgieff-2000]. Negara miskin lebih besar
memiliki peluang konflik dibandingkan dengan negara kaya
(dengan perbandingan 3 banding 1). Sekjen PBB Kofi Annan, pada
waktu itu, menambahkan dalam salah satu pidatonya bahwa
selain faktor kemiskinan, adanya ketidakadilan dan gap sosialekonomi yang cukup besar termasuk penyebab konflik yang
penting.
Saya cukup terkejut dengan tulisan seorang jurnalis New York
Times bernama Barbara Crossette sekitar 4 tahun yang lalu
204
[Crossette-1998]. Dia menyatakan dalam laporan tentang human
development bahwa 20 persen orang terkaya di dunia
mengkonsumsi 86 persen semua barang-barang dan servis yang
ada di dunia. Sementara kebalikannya 20 persen orang termiskin
di dunia hanya mengkonsumsi 1,3 persennya. Dan lebih
dahsyatnya lagi ditambahkan bahwa, 20 persen orang terkaya di
dunia tersebut juga menkonsumsi 45 persen dari seluruh daging
dan ikan, 85 persen dari seluruh energi, 84 persen dari seluruh
kertas, menguasai 74 persen dari seluruh jaringan telepon dan
87 persen seluruh kendaraan yang ada di dunia.
Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa tiga orang
terkaya dunia memiliki aset yang sekurang-kurangnya jumlah total
dari GDP (Gross Domestic Product) 48 negara berkembang.
Kemudian Swedia dan Amerika memiliki 681 dan 626 line telepon
untuk setiap 1000 orang. Di lain pihak Afghanistan, Kamboja,
Republik Kongo hanya memiliki 1 line telepon untuk 1000 orang.
Disamping menjadi masalah serius di Indonesia, ternyata
besarnya gap kaya-miskin ini juga merupakan pekerjaan rumah
bagi dunia. Kenyataan ini terus terang membuat pertanyaan
tentang kapan konflik di dunia ini akan berakhir semakin susah
terjawab.
REFERENSI:
Crossette, Barbara. 1998. “Kofi Annan’s Astonishing Facts!” dalam
The New York Tiimes, September 27, 1998.
Georgieff, Anthony. 2000. “World: Swedish Report Emphasizes
Role Of Poverty In War” Radio Free Europe, Radio Liberty,
2000.
Strauss, Steven D. 2002. World Conflicts, Alpha Books
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 205
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
206
Indonesia
Ujian kembali melanda bangsa Indonesia
dengan belum berhasilnya membangun sebuah
bangsa dengan steady state yang hakiki, boleh
dikata sampai saat ini. Pada masa Soekarno
Mempererat Kohesi Sosial Antara Elemen Bangsa:
MERENUNGKAN KEMBALI perjalanan sejarah
perjuangan rakyat Indonesia menuju kemerdekaan. Sebuah perjalanan berat untuk
memulai babak baru kehidupan berbangsa dan
bernegara, setelah ratusan tahun menjadi
bangsa budak dan terjajah. 17 Agustus 1945,
sebuah tonggak sejarah telah ditancapkan.
Tonggak yang membawa implikasi bahwa
bangsa Indonesia siap untuk berdiri sendiri, siap
untuk duduk berdampingan dengan bangsa lain,
dan siap dengan segenap elemen bangsa yang
ada untuk menuju ke kehidupan yang lebih
mapan.
REFLEKSI 57 TAHUN
Menengok Kembali ke Belakang
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 207
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
elemen bangsa menjadi korban keegoisan suatu rezim yang
terobsesi untuk bersikap revolusioner dan anti-kapitalisme yang
berlebihan. Kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi tidak
tenang, perekonomian ambruk, kehidupan masyarakat semrawut,
masyarakat terbius masuk dalam pertikaian politik tanpa henti.
Pada masa Soeharto, rakyat kembali menjadi korban
keganasan sebuah rezim yang keliru dalam merenungi hakekat
steady state suatu bangsa. Mereka dipaksa untuk menikmati
ketenangan hidup yang semu. Ketenangan hidup dengan
penyunatan berbagai macam hak asasi manusia. Hak dalam
berdemokrasi, hak dalam beragama, maupun hak memperoleh
pendidikan politik yang sehat. Sistem ekonomi trickle down effect
yang diarsiteki rezim orde baru ternyata tidak efektif
diimplementasikan di republik yang masih banyak penganut
feodalisme garis keras. Pembesar dan orang kaya yang diberi
keleluasaan, merasa tidak ada kewajiban memberikan bantuan
untuk rakyat kecil dibawahnya. Akibatnya si kaya makin kaya, si
miskin makin menderita.
Setelah itu kepemimpinan republik silih berganti, dari Habibie,
Gus Dur dan saat ini Megawati. Borok-borok masa lalu belum juga
berhasil disembuhkan. Kalau tidak mau disebut malah menambahi
borok dengan penyakit lain yang lebih dahsyat. Mengobati penyakit
korupsi dengan korupsi baru, menambal nepotisme dengan
nepotisme baru, kolusi, kongkalingkong, kasak-kusuk dan lip service
untuk menipu rakyat yang semakin menjadi-jadi.
Menengok kembali hasil perjuangan panjang reformasi total
(total reform) yang digulirkan mahasiswa yang bergerak pada
tahun 1998. Hasil dan klasemen sementara saat ini adalah
berubahnya peta kekuasaan, naik peringkatnya kekuasaan
legislatif diatas eksekutif. Mudah-mudahan ini bukan hakekat
208
reformasi yang kita inginkan, namun hanyalah awal dari suatu
proses panjang menuju ke arah perbaikan nasib bangsa dari
keterpurukan yang berlarut-larut.
Renggangnya Kohesi Sosial
Beberapa inti permasalahan yang ingin saya angkat adalah tentang
masalah renggangnya kohesi sosial (social cohesion, kerekatan
sosial) dikarenakan jiwa feodalisme yang masih mendarah daging
di kalangan rakyat Indonesia. Menjauhnya sang pejabat atau si
kaya dari orang yang ada dibawahnya. Dengan kata lain kohesi
sosial diantara elemen-elemen bangsa ini semakin lama semakin
merenggang, baik kohesi sosial dalam perspektif horizontal
maupun vertikal.
Ada pengamat yang menilai bahwa kita kejatuhan nasib
buruk mendapatkan warisan feodalisme jaman kerajaan. Pada
masa itu raja-raja dan bupati-bupati Jawa menguasai dengan
penuh penduduk dan juga tanah pertanian. Rakyat kecil tak punya
hak atas tanah, mereka hanya sebagai buruh dan budak. Bupati
memaksa rakyat bekerja keras untuk menyenangkan sang raja
dengan upeti berlimpah, sehingga kedudukannya tetap
terlindungi. Sikap arogan, menjilat, korupsi, kolusi, dan nepotisme
yang sudah mendarah daging berabad-abad lamanya, membuat
korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) susah diberantas di republik
tercinta ini.
Di lain pihak, jargon kohesi sosial dalam perspektif vertikal
(perjuangan rakyat kecil melawan penguasa dhalim), kadangkadang dijadikan isu sesaat sebagai batu loncatan ke panggung
kekuasaan, kemudian dilupakan sama sekali. Penggagas teori the
loser democracy policy patut berbangga diri, karena ternyata
teorinya laku dipraktekkan di Indonesia. Orang-orang yang kalah
dan ada di bawah berteriak-teriak untuk mewujudkan demokrasi
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 209
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
dan pemerintan yang bersih, tetapi setelah mendapatkan
kekuasaan malah meniru atau mencontoh orang atau
pemerintahan yang dulu dikritiknya. Tokoh-tokoh bangsa yang
mengklaim diri pendukung berat demokrasi, ataupun menempeli
nama partainya dengan jargon demokrasi pun tetap gemar
memakai teori ini.
Banyak analisa tentang kohesi sosial dengan perspektif horizontal,
dimana yang diutamakan adalah mengenai manajemen konflik antar
masyarakat [Malley-2000] [Siddique-2000]. Mengamati kondisi
Indonesia, sebenarnya konflik horizontal antar elemen masyarakat
bukan hanya disebabkan oleh kohesi sosial dalam perspektif horizontal
yang renggang. Bergolaknya daerah (aceh, papua, maluku, poso, dsb.)
saya pikir lebih banyak disebabkan masalah rendahnya kohesi sosial
dalam perspektif vertikal. Masalah pemimpin yang “lupa” akan janjinya,
masalah pemimpin yang “telmi” (telat mikir) terhadap keinginan
rakyatnya, pemimpin yang lebih memikirkan bagaimana
mempertahankan kekuasaan daripada bagaimana mensejahterakan
rakyat, dan pemimpin yang terlalu luas kekuasaannya.
SteadyState, Sebuah Mimpikah
Sebuah republik dengan steady state (masyarakat adil, makmur,
tenang, tentram dan sejahtera) bukanlah hanya mimpi, namun
merupakan sesuatu yang nampak di depan mata, asal ada usaha
maksimal untuk mewujudkannya
Tidak ada alasan bangsa indonesia tidak bisa bangkit dari
keterpurukan, dengan kekayaan alam yang berlimpah ruah, 17
ribu lebih pulau-pulau yang berserakan di tanah air, dan juga
sumber daya manusia (SDM) yang malang melintang di seluruh
dunia (ingat human capital theory). Mudah-mudahan kita tidak
menjadi tikus yang mati dilumbung padi.
210
Mempererat Kohesi Sosial
Pada bagian akhir abstraksi pemikiran ini, saya mencoba
merangkum sebuah usulan tentang beberapa beberapa usaha
untuk mempererat kohesi sosial anak bangsa.
Sosialisasi Filosofi Jabatan adalah Amanah dan Bukan Hadiah
Mempertinggi kesadaran terhadap filosofi jabatan adalah sebuah
beban yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan,
bukan nikmat yang diperoleh tanpa tuntutan. Lebih pas kalau kita
melakukan “ istighfaran”, bukan malah “syukuran” saat
mendapatkan amanah menjadi pejabat atau pemimpin.
Memperbaiki Akhlak dan Moral Terhadap Orang di Sekitar Kita
Marilah jujur terhadap diri sendiri, sudahkah kita memandang
dan memperlakukan orang disekitar kita dalam kedudukan yang
sama dan sederajat ? Apakah berkurang senyum kita apabila
berbicara dengan bawahan kita ? Apakah bertambah senyum kita
apabila bertemu dengan atasan kita ? Apakah kita sudah saling
tolong diantara teman kita ? Atau apakah kita malah saling
tendang dan timpuk diantara kita?
Hakekat apa yang ingin saya ungkapkan disini adalah senada
dengan apa yang Shopie Bessis rangkumkan dalam suatu tulisan
menarik berjudul from social exclusion to social cohesion [Bessis-1996].
Yaitu ajakan untuk menuju kerekatan sosial diantara elemen bangsa
tanpa pandang bulu, dari abang becak sampai menteri atau presiden.
Mengakhiri Kebijakan yang Berimplikasi ke Kepenatan Birokrasi
Trenyuh mendengar cerita tentang dosen-dosen muda di sebuah
universitas negeri, yang harus antri berjam-jam mengambil gaji,
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 211
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
sementara atasan-atasan mereka menari-nari tanpa antri. Setelah
mereka duduk diatas, apa sudah lupa dulu semasa muda pernah
berkata, “Akan aku akhiri kebijakan dan birokrasi seperti ini!”.
Secara keseluruhan (terutama rakyat kecil) bangsa Indonesia
menderita kepenatan birokrasi. Merindukan mudahnya birokrasi
di Jepang (kepengurusan KTP, SIM, asuransi kesehatan, surat-surat
kependudukan, VISA, university transcript record, dsb.)
terimplementasikan di Indonesia. Rakyat Indonesia bukannya
tidak mampu, tapi ada oknum yang masih menikmati renggangnya
kohesi sosial, dan menikmati kehidupan feodal. Dimana dia bisa
memanfaatkan gap kaya-miskin yang besar untuk keperluan diri
dan kelompoknya sendiri.
Bangun Suasana Keterbukaan Atas Bawah
Saya tertarik dengan apa yang disampaikan Lord Acton: power
tends to corrupt and absolute power corrupt absolutely. Dulu saya
anggap ungkapan John Emerich Edward Dahlberg Acton (Lord
Acton) ini hanya retorika politik belaka, namun setelah saya resapi
maknanya, saya yakin bahwa di satu sisi ungkapan Lord Action
itu ada benarnya. Sikap corrupt itu bisa timbul tidak hanya
dipengaruhi faktor internal, tapi juga faktor eksternal. Kalau kita
amati lebih jauh, filosofi ini dipraktekan masyarakat Jepang
dengan suasana perkantoran yang terbuka. Atasan duduk dalam
satu ruangan besar bersama para staf dan bawahannya. Sehingga
niat korupsi lenyap karena malu terlihat orang banyak.
Menjaga Gerbong Tulus Perubahan Bangsa
Sejarah membuktikan bahwa gerbong dan agen perubahan ke
arah perbaikan bangsa adalah adanya gerakan mahasiswa.
212
Jatuhnya dua penguasa tiran di republik ini ataupun
terbongkarnya selingkuh politisi-politisi bermoral rendah pun tak
bisa dilepaskan dari peran mahasiswa. Menjaga ketulusan gerbong
perubahan ini adalah tugas kita semua. Jangan sampai gerakan
mahasiswa jadi terbeli. Dan jangan sampai mahasiswa kehilangan
sense of crisis ataupun kohesi sosial dengan rakyat kecil, karena
terlalu asyik menggauli buku-buku dan alat-alat penelitian.
Secara keseluruhan (terutama rakyat kecil) bangsa Indonesia
menderita kepenatan birokrasi. Merindukan mudahnya birokrasi
di Jepang (kepengurusan KTP, SIM, asuransi kesehatan, surat-surat
kependudukan, VISA, university transcript record, dsb.)
terimplementasikan di Indonesia. Rakyat Indonesia bukannya
tidak mampu, tapi ada oknum yang masih menikmati renggangnya
kohesi sosial, dan menikmati kehidupan feodal. Dimana dia bisa
memanfaatkan gap kaya-miskin yang besar untuk keperluan diri
dan kelompoknya sendiri.
Referensi
[Malley-2000] Michael Malley, Social Cohesion and Conflict
Management in Indonesia, Asian Regional Consultation on
Social Cohesion and Conflict Management, Manila,
Philippines, March 2000.
[Siddique-2000] Sharon Siddique, Social Cohesion and Social
Conflict in Southeast Asia, Asian Regional Consultation on
Social Cohesion and Conflict Management, Manila,
Philippines, March 2000.
[Bessis-1995] Sophie Bessis, From social exclusion to social
cohesion: towards a policy agenda, The Roskilde Symposium,
Management of Social Transformations, March 1995.
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 213
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
214
DAFTAR PUSTAKA
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 215
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
216
TENTANG
PENULIS
Romi Satria Wahono. Lahir di Madiun, 2 Oktober 1974.
Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di SD
Negeri Sompok 4 dan SMP Negeri 8 Semarang.
Menamatkan SMA di SMA Taruna Nusantara, Magelang
pada tahun 1993. Menempuh pendidikan S1, S2, dan
S3 (on-leave) di Department of Computer Science di
Saitama University, Jepang pada tahun 1999, 2001, dan
2004. Saat ini sebagai peneliti di Pusat Dokumentasi
Informasi Ilmiah (PDII), Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI). Cisco certified instructor lulusan
Nanyang Technological University (NTU), Singapore, dan
menjadi instruktur tetap di LIPI Cisco Regional Academy
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 217
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
(RA) dan beberapa Cisco Regional/Local Academy
lain. Kompetensi inti pada bidang Software Engineering,
eLearning System, dan Knowledge Management.
Aktif sebagai penulis, dimana ratusan tulisan berupa scientific
paper, artikel, dan tutorial telah diterbitkan dalam berbagai
proceedings conference, jurnal ilmiah, majalah, koran dan portal,
bertaraf nasional maupun internasional. Selain menulis tetap di
beberapa kolom majalah IT, juga menyempatkan diri untuk
menulis bebas di situs blog pribadi di RomiSatriaWahono.Net.
Terjun di dunia industri IT semenjak masa kuliah. Memulai karir
sebagai tester, programmer, dan system analyst di beberapa
software house di Jepang. Dan akhirnya memiliki pengalaman
sebagai engineer, konsultan, lecturer dan pembicara seminar,
workshop, serta conference baik di Indonesia maupun Jepang.
Tema yang dikuasai seputar software engineering, knowledge
management, community building, eLearning, open source,
enterpreneurship, web engineering, dan networking.
Selain tema diatas juga memiliki minat dan aktif menulis
dalam tema yang berhubungan dengan manajemen, leadership,
self improvement, motivatsi dan keorganisasian. Aktifis organisasi
kampus dan kemahasiswaan semasa menjadi mahasiswa di
Saitama University. Menjadi Ketua Umum PPI Jepang
(Perhimpunan Pelajar Indonesia di Jepang) periode tahun 20012003, dan Ketua Umum IECI Japan (asosiasi ilmiah di bidang
elektronika dan informatika) periode tahun 2001-2002. Juga
merupakan anggota dari society ilmiah: ACM, IEEE Computer
Society, IEICE, IPSJ, IECI, dan MIFTA.
Pendiri beberapa komunitas dan perusahaan yang bergerak
di bidang Teknologi Informasi diantaranya:
- IlmuKomputer.Com
218
- Brainmatics
- Gegar Technologies
Mendapat penghargaan dari PBB pada pertemuan puncak
WSIS (World Summit on Information Society) pada tahun 2003 di
Jenewa, Swiss, dengan penghargaan the Continental Best Practice
Examples in the Category eLearning (IlmuKomputer.Com). Juga
mendapatkan penghargaan e-Learning Award 2006 dari
Depdiknas untuk kategori e-Learning Provider (Brainmatics). Selain
itu juga pernah mendapatkan penghargaan sebagai peneliti
terbaik dari ISTECS dan LIPI.
Kontak dan informasi lebih lanjut dapat melalui:
Situs Blog: http://romisatriawahono.net
Friendster: http://friendster.com/romisw
Email: [email protected]
YM: romi_sw
BAB 4: Knowledge (Mestinya) is Power — 219
DAPAT APA SIH DARI UNIVERSITAS?
220
Fly UP