...

Safrizal Ariyandi Harus Ada yang Dikorbankan Kalimat yang

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Safrizal Ariyandi Harus Ada yang Dikorbankan Kalimat yang
Safrizal Ariyandi
Harus Ada yang Dikorbankan
Kalimat yang mungkin sering kita dengar dan kita ucapkan. Sederhana
memang, tapi jika kita mendalami maksudnya maka kita akan menemukan
banyak hal yang benar-benar kita korbankan untuk pencapaian kita sejauh
ini. Boleh saja kita mengelak dan beranggapan bahwa tidak ada yang kita
korbankan, kita merasa bahwa semua yang ada di sekitar kita baik-baik
saja dan tidak merasakan kerugian darinya. Oke, dalam tulisanku ini
definisi ‘korban’ akan menjadi cukup luas dan boleh saja
Anda memaknainya berbeda. Namun, secara tulus aku ingin sedikit
mengingatkan kepada diriku sendiri dan orang-orang yang membaca
tulisan ini, bahwa secara sadar atau tidak, ada sesuatu yang kita
korbankan untuk mencapai sebuah prestasi, ada seseorang yang rugi dan
merasa sakit karena kemajuan kita. Pertama. Hal dasar yang kita
korbankan untuk menjadi seseorang yang baik adalah rasa malas, egois,
serakah dan sifat-sifat alamiah kita yang mengajak kepada kesenangan.
Kita menjadikan diri kita slalu berjalan di atas kebaikan, contohnya
mengasihi orang lain, tersenyum dan sebagainya. Kita seringkali
mendahulukan orang lain, dan mengorbankan diri kita untuk melihat
kebahagiaan orang lain. Jadi hal yang kita korbankan pertama kali adalah
diri dan sifat buruk dalam diri kita. Kedua. Di dunia ini terdapat istilah
‘searah jarum jam’ dan ‘melawan jarum jam’,
keduanya mengacu pada arah gerak putar suatu benda. Di alam semesta
ini, sadar atau tidak semua benda berputar melawan jarum jam.
Dicontohkan dengan tawaf mengelilingi ka’bah. Secara tidak sadar
kita telah melakukan hal yang sama, kita mengorbankan kesempatan
untuk berjalan ke arah yang tidak kita pilih, untuk mencapai tujuan yang
kita inginkan. Tidak mungkin kita berjalan ke dua arah sekaligus. Tidak
mungkin juga kita mencapai dua prestasi sekaligus yang sama sekali tidak
saling terkait. Selain itu, masih berhubungan dengan waktu, kita juga telah
mengorbankan waktu luang kita untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Kita memilih untuk belajar, berlatih atau bekerja daripada bermain 
game, bersenda gurau dan sebagainya. Ketiga. Jika kita mengikuti
organisasi lebih dari satu, entah itu dua, tiga, empat atau lebih. Aku berani
jamin, kalau satu di antaranya pasti ada yang kita korbankan. Contoh
kongkritnya, aku sekarang menjabat sebagai seorang Direktur di rohis,
selain itu (sebelum sertijab) aku juga seorang staf ahli di himpunan, tidak
cukup itu, aku juga seorang ketua remaja masjid (remas) di kampung.
Untuk mencapai sebuah kemajuan di rohis, aku harus fokus mengurusinya
dan melupakan amanahku di remas. Karena tentunya aku tidak bisa
berada di dua tempat sekaligus untuk mengurusinya. Dan tentunya kita
masih punya kewajiban untuk memperbaiki apa yang kita korbankan.
Contoh kedua, mungkin dari kita ada yang lebih semangat lagi, mengikuti
organisasi di dalam dan di luar kampus, katakanlah ikut himpunan, rohis
dan ormek (organisasi mahasiswa ekstra kampus). Memiliki jabatan di 2
organisasi tersebut. Untuk memajukan 2 organisasi yang kita pegang pasti
kita mengorbankan salah satu organisasi, contohnya di himpunan. Atau
bisa dibilang kita sedikit gabut (gaji buta) di sana. Keempat. Sebelum
mengulas mengenai multi-amanah di organisasi, seharusnya kita bahas
kegiatan-kegiatan selain berorganisasi. Oke, sebagai seorang mahasiswa
atau pelajar, tugas kita adalah belajar. Lalu sebagai seorang anak, tugas
kita adalah berbakti dan membantu kedua orang tua. Belum lagi kalau kita
bekerja, ikut komunitas, mengajar dan sebagainya. Di antara belajar,
berbakti, bekerja, organisasi pasti ada yang kita korbankan, entah apa itu.
Mungkin kita beranggapan kalau kita mampu mengurusi empat hal
tersebut, namun coba dipikir lagi, coba tambahkan kegiatan lagi. Pacaran,
beribadah, berlibur, atau yang lainnya. Tidak ada yang tidak kita korbankan
untuk mengikuti satu kegiatan. Kelima. Sebelum kita membahas
multi-kegiatan, seharusnya kita bahas yang ada di dalam diri. Kesehatan,
kebersihan, ruang belajar, kendaraan, penampilan, potongan rambut dan
sebagainya. Ketika kita fokus untuk belajar, organisasi, dan bekerja, ada
hal-hal yang luput dari perhatian kita. Entah itu ruang belajar kita yang
jarang kita bersihkan, kendaraan yang jarang kita cuci, kesehatan kita
mulai menurun, penampilan yang biasa-biasa saja dan sebagainya.
Banyak sekali hal kecil yang kadang kita lupakan, yang kita korbankan
untuk mencapai sesuatu. Jam tidur dan jam bangun, jadwal olahraga dan
banyak lagi contoh yang harus lebih kita pikirkan. Keenam. Selanjutnya
yang ingin aku bahas adalah mengenai pertemanan. Kita pasti pernah
memiliki seorang sahabat, teman akrab, teman biasa atau hanya kenalan.
Kadang kita mengorbankan waktu yang bisa kita habiskan dengan
seseorang untuk memilih bertemu dengan orang lain. Kadang kala lebih
ekstrim lagi, kita mengorbankan pertemanan kita karena sesuatu hal. Kita
lebih menuruti ego dan gengsi daripada sedikit memahami kemauan
teman kita. Contohnya, mungkin kita punya banyak teman, kita terkenal,
tapi ada satu-dua orang yang membenci kita karena sikap kita yang suka
pamer dan easy-going. Itu dikarenakan sifat dan prinsip hidup yang
berbeda. Kita memilih untuk mengorbankan salah satu teman kita yang
berbeda sifat dan prinsip untuk mendapatkan lebih banyak teman.
Ketujuh. Mungkin ini adalah kesimpulan dari pembahasan kita. Ibaratkan
kita adalah sebuah besi di antara dua magnet yang sama-sama menarik
kita. Kita tidak dapat berada di dua magnet tersebut. Pilihannya hanya dua,
diam atau memilih salah satu. Maka pengorbanan adalah kehidupan kita,
kita harus melaluinya. Jika ruang lingkupnya hanya untuk kita, maka kita
boleh melanjutkannya. Tetapi jika yang kita lakukan membuat orang lain
sakit hati, maka seharusnya kita introspeksi. Kedelapan. Ketika kamu
menjadi hebat, teman-temanmu mendukungmu, semuanya solid dan
kompak, ingatlah bahwa ada orang-orang yang ketika itu juga menjadi
yang paling rendah, kekompakannya hancur dan timbul
perasaan-perasaan buruk sangka, iri, dan sakit. Maka dari itu, cukuplah
prestasi itu kita pendam dan tidak kita tonjolkan dan pamerkan ke publik.
Fly UP