...

1 permasalahan dan solusi dalam pemungutan pajak bumi dan

by user

on
Category: Documents
6

views

Report

Comments

Transcript

1 permasalahan dan solusi dalam pemungutan pajak bumi dan
1
PERMASALAHAN DAN SOLUSI DALAM PEMUNGUTAN PAJAK BUMI
DAN BANGUNAN PADA DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN
KEUANGAN DAN ASET
KOTA SURAKARTA
Tugas Akhir
Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan
untuk mencapai derajat Ahli Madya Program Studi Diploma III Akuntansi
Keuangan
Oleh:
RATNA NUR ATIKAH
F 3307180
PROGRAM STUDI DIPLOMA III AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010
2
ABSTRACT
PROBLEMS AND SOLUTIONS OF COLLECTION LAND
AND BUILDING TAX IN DPPKA SURAKARTA
Ratna Nur Atikah
F3307180
Land and building tax is a part of balance fund constituting one important
income source in the attempt of funding local government and local development
implementation. Land and building tax is the tax levied over the land and
permanent building ownership that has gotten IMB (building license).
The objective of final project is to find out the emerging problems as well
as the attempt the DPPKA does in encountering and minimizing such problems.
The legal foundation used was Act No. 12 of 1985 as amended with Act No. 12 of
1994. The design of this final project was observation that was conducted by
carrying out apprenticeship for 1 month in Income, Financial and Asset
Management Service. Techniques of collecting data used were interview with
several staff of DPPKA, and discussion technique using descriptive method, the
system employed in land and building tax withdrawal is Official Assessment
System is the tax collection system, the outstanding tax amount of which is
estimated and determined by the tax office.
The procedure of determining the amount of land and building tax is NJKP
X tax tariff, the tax tariff prevailing is single tariff of 0.5%. The largest obstacles
the DPPKA encounter the taxpayer’s lower awareness of fulfilling the tax
obligation. The attempts taken to minimize the problems emerging include to hold
safari program in the purpose of making the taxpayer close to the payment place,
to carry out the more intensively socialization, and to impose fine of 2% each
month delay up to maximal limit of 48 months or 2 years.
Keywords: land and building tax, official assessment system, tariff.
3
4
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
5

Kita menikmati kehangatan karena kita pernah kedinginan, kita menghargai cahaya
karena kita pernah dalam kegelapan, maka begitu pula kita dapat menikmati
kebahagiaan karena kita pernah merasakan kesedihan

Antara tangan kanan yang memberi dan tangan kiri yang menerima terdapat jarak
yang amat jauh, hanya dengan membuat keduanya memberi dan menerima kita dapat
mengangkatnya ke ruang tak terbatas, sebab hanya dengan menyadari tak satupun
yang dapat kau beri dan tak satu pula yang dapat kau terima maka kita akan
mampu hidup lebih baik

Mencintai seseorang berarti mengambil resiko yang sangat besar. Cinta berarti
menyerahkan masa depan dan kebahagiaan seseorang ke tangan orang lain. Cinta
membuat seseorang harus mempercayai orang lain tanpa keraguan. Cinta membuat
seseorang rela menerima kesedihan.
Dan…karena itulah aku mencintaimu
PERSEMBAHAN
Penulis Persembahkan kepada:
 Bapak dan Ibu tercinta
 Kakakku Tiyas dan adikku Icha tersayang
 Mbah kakung, mbah putri dan keluarga besarku
 Teman-teman Akuntansi 2007
 Almamaterku
KATA PENGANTAR
6
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayah dan inayah-Nya, serta shalawat salam kepada
Nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir
sebagai salah satu syarat tugas akhir perkuliahan Program Studi Diploma III
Akuntansi Universitas Sebelas Maret Surakarta periode 2009 – 2010.
Penulis sadar bahwa tersusunnya Tugas Akhir ini tidak lepas dari bantuan
beberapa pihak, oleh karena itu dengan penuh rasa cinta,sayang dan hormat,
penulis menghaturkan terima kasih yang tak terhingga kepada :
1.
Prof. DR. Bambang Sutopo, M. Com., Ak, selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2.
Drs. Santoso Tri Hananto, M.Si, Ak, selaku Ketua Program Diploma III
Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.
3.
Sri Murni, SE, M.Si, Ak, selaku Ketua Jurusan Akuntansi Keuangan
Program Diploma III Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
4.
Alm.Ibu Rani Rahmantari SE,AK selaku pembimbing akademis penulis.
Semoga Ibu mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Terimakasih atas
semua ilmu dan waktu yang telah ibu berikan kepada penulis selama ini.
5.
Drs. Sri Hanggana, M.Si, Ak, selaku Dosen Pembimbing magang dan tugas
akhir yang telah memberikan arahan serta bimbingannya sehingga Tugas
Akhir ini dapat terselesaikan dengan baik.
6.
Bapak Kinkin Sultanul Hakim, SH, MM, selaku Kepala Bagian Penagihan
Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Pemerintah Kota
7
Surakarta beserta jajarannya yang telah memberikan bimbingan serta
ilmunya kepada penulis.
7.
Bapak Taufik, Pak Siswoko, Pak Pramudya, Pak Agus, Pak Mulyono, Pak
Jujut, Pak Suratno, Pak Suranto, Pak Sunarwan, Pak Triyono, Ibu Endang,
Bu Rina, Bu Dwi Dan Bu Warsini atas semua ilmu yang diberikan kepada
penulis selama magang di DPPKA Kota Surakarta.
8.
Bapak ibu dosen DIII Akuntansi Keuangan UNS yang telah memberikan
ilmunya kepada penulis.
9.
Bapak, Ibu, Mbak tiyas, Dek icha dan keluargaku yang telah memberikan
do‟a restu serta dukungan moral kepada penulis.
10.
Vika, Retno, Yeni, Tika, Oviek, Nia, Puri, Arumi dan teman – teman satu
kampus angkatan 2007 yang telah memberikan saran, cinta serta semangat
bagiku.
Semoga segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis akan mendapat
ridho dari Allah SWT dan dibalas dengan balasan yang baik. Amin.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari
kesempurnaan dan masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang menunjang dari semua pihak untuk perbaikan
dan penyempurnaan Tugas Akhir ini. Kritik dan saran bisa di alamatkan ke
[email protected] Akhir kata penulis mohon maaf yang sebesar – besarnya
bila terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan. Semoga Tugas Akhir
ini bisa bermanfaat bagi penulis sendiri, dan bagi semua pihak yang
berkesempatan mempelajarinya. Amin ya robbal „alamin.
8
Surakarta,
Juli 2010
RATNA NUR ATIKAH
F3307180
DAFTAR ISI
9
Halaman
HALAMAN JUDUL.............................................................................................
ABSTRAK ............................................................................................................ ii
HALAMAN PERSETUJUAN .............................................................................. iii
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........................................................................ v
KATA PENGANTAR .......................................................................................... vi
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ................................................................................................. xii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xiii
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xiv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Gambaran Umum DPPKA Kota Surakarta ................................... 1
1. Sejarah Pelaksanaan Pemungutan PBB pada DPPKA
Kota Surakarta .......................................................................... 1
2. Kedudukan, Tugas Pokok, Fungsi DPPKA Bidang
Penagihan .................................................................................. 5
3. Struktur Organisasi ................................................................... 6
4. Deskripsi Jabatan Struktural ..................................................... 7
B. Latar Belakang Masalah ................................................................ 8
C. Rumusan Masalah ......................................................................... 9
D. Tujuan Penelitian ........................................................................... 10
E. Manfaat Penelitian ......................................................................... 10
10
F. Metodologi Penelitian ................................................................... 11
G. Sistematikan Penulisan .................................................................. 13
BAB II
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Tinjauan Pustaka ........................................................................... 14
1. Dasar Hukum Pajak Bumi dan Bangunan ................................ 14
2. Istilah – Istilah dalam PBB ....................................................... 15
3. Definisi Pajak Bumi dan Bangunan .......................................... 17
4. Subyek Pajak Bumi dan Bangunan........................................... 17
5. Obyek Pajak Bumi dan Bangunan ............................................ 18
6. Dasar Pengenaan dan Penghitungan PBB ................................ 18
7. Pembagian Hasil Penerimaan PBB ........................................... 19
8. Tata Cara Pembayaran dan Penagihan PBB ............................. 20
9. Prosedur Penagihan PBB .......................................................... 20
B. Analisis Data dan Pembahasan ......................................................
1. Mekanisme Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan
di Bidang Penagihan DPPKA ................................................... 25
2. Tabel Jumlah Wajib Pajak, Target dan Realisasi
Penerimaan PBB Tahun 2006 – 2009 ....................................... 26
3. Permasalahan yang Timbul dalam Pelaksanaan
Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan ................................... 27
4. Upaya yang Dilakukan Bidang Penagihan DPPKA untuk
Mengatasi Masalah yang Timbul dalam Pelaksanaan
11
Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan ................................... 34
BAB III TEMUAN
A. Kelebihan ....................................................................................... 44
B. Kelemahan ..................................................................................... 45
BAB IV PENUTUP
A. Simpulan ........................................................................................ 46
B. Rekomendasi ................................................................................. 47
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
12
Halaman
II.1. Jumlah wajib pajak, target dan realisasi penerimaan PBB
tahun 2006 – 2009 .......................................................................................
II.2. Perbandingan jumlah wajib pajak terdaftar dengan jumlah
wajib pajak yang membayar PBB tahun 2006 – 2009.................................
II.3. Perbandingan jumlah petugas dengan jumlah obyek pajak
tahun 2006 – 2009 .......................................................................................
DAFTAR GAMBAR
13
Halaman
1.1
Struktur Organisasi Bidang Penagihan DPPKA Kota Surakarta .................
2.1
Alur Penyelesaian Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan Lewat
Program Safari .............................................................................................
2.2
Alur Penyelesaian Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan Lewat
Bank Persepsi...............................................................................................
2.3
Prosentase Alasan Wajib Pajak Menghindari Kewajiban Pajaknya ............
DAFTAR LAMPIRAN
14
1. Surat Pernyataan Penulisan Tugas Akhir
2. Surat Keterangan Penelitian dari DPPKA Kota Surakarta
3. Undang – Undang No. 12 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas Undang –
Undang No. 12 Tahun 1985
4. Dokumen – Dokumen
15
BAB I
PENDAHULUAN
A. Gambaran Umum DPPKA Kota Surakarta
1. Sejarah Pelaksanaan Pemungutan PBB pada Dinas Pendapatan,
Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kota Surakarta
Dimulai pada tahun 1985 setelah UU No 12 tahun 1985 dikeluarkan,
dinas pendapatan daerah menyerahkan segala urusan mulai dari penagihan
hingga pembayaran pajak bumi dan bangunan kepada satu bidang yaitu bidang
penagihan. Semua urusan yang berkaitan dengan pajak ini ditangani langsung
oleh staf bidang penagihan dibawah koordinator kepala bidang yang
bertanggungjawab langsung kepada kepala dinas pendapatan daerah. Bidang
ini dibagi lagi dalam dua seksi yaitu seksi penagihan dan keberatan dan seksi
pengelolaan penerimaan sumber pendapatan lain yang masing-masing
dipimpin oleh kepala seksi dan bertanggungjawab kepada kepala bidang
penagihan. Seksi penagihan dan keberatan mempunyai tugas melakukan
penagihan pajak bumi dan bangunan beserta tunggakan kepada wajib pajak dan
melayani permohonan keberatan dan penyelesaiannya. Seksi Pengelolaan
penerimaan sumber pendapatan lain mempunyai tugas menangani semua hal
yang berhubungan dengan administrasi pajak dan surat-surat. Prosedur
penagihan pajak bumi dan bangunan ini dimulai dari diterbitkannya surat
penagihan pajak terutang (SPPT) oleh KPP Pratama. Kemudian SPPT tersebut
diserahkan kepada bidang penagihan DPPKA untuk disebar oleh petugas
1
16
pemungut kepada wajib pajak melalui petugas kelurahan masing-masing
wilayah. Pembayaran pajak bumi dan bangunan dilakukan melalui bank
persepsi atau bank yang ditunjuk sebagai bank tempat pembayaran pajak bumi
dan bangunan. Untuk wilayah Surakarta terdapat 19 unit bank persepsi yang
melayani pembayaran pajak bumi dan bangunan terdiri dari 18 unit bank BRI
dan 1 unit bank Mandiri. Daftar bank yang melayani pembayaran pajak bumi
dan bangunan adalah sebagai berikut :
1.
Bank BRI unit Kleco
2.
Bank BRI unit Laweyan
3.
Bank BRI unit Pajang
4.
Bank BRI unit Pasar Kembang
5.
Bank BRI unit Sumber
6.
Bank BRI unit Pasar Nongko
7.
Bank BRI unit Ngemplak
8.
Bank BRI unit Pasar Legi
9.
Bank BRI unit Selokaton
10. Bank BRI unit Serengan
11. Bank BRI unit Pasar Kliwon
12. Bank BRI unit Jurug
13. Bank BRI unit Jebres
14. Bank BRI unit Ledoksari
15. Bank BRI unit Mojosongo
16. Bank BRI unit Slamet Riyadi
17
17. Bank BRI unit Nusukan
18. Bank BRI unit Sudirman
19. Bank Mandiri
Selain pembayaran langsung melalui bank, untuk wilayah kota
Surakarta pembayaran dapat dilakukan melalui petugas pemungut yang
melakukan safari / jemput bola di kelurahan setempat sesuai jadwal tanggal
masing-masing. Safari ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
1. safari reguler : bertujuan mempermudah wajib pajak dalam pembayaran
pajak bumi dan bangunan. Wajib pajak tidak perlu jauh jauh datang ke
bank persepsi, mereka bisa datang ke kelurahan sesuai jadwal tanggal
safari yang tertera pada undangan dan membayar lewat petugas pemungut.
2. Safari pasar : agenda kegiatan safari pasar ini adalah membagi SPPT
langsung dan menagihnya secara langsung pula. Sasaran kegiatan dari
safari ini adalah pasar-pasar yang terdapat banyak transaksi yang berkaitan
dengan uang. Sehingga wajib pajak dapat langsung membayar kepada
petugas pemungut saat itu juga.
3. Safari tunggakan : pokok kegiatan dari safari ini adalah menagih wajib
pajak yang mempunyai tuggakan pajak bumi dan bangunan. Penagihan ini
difokuskan pada buku 4 dan 5 yang berisi daftar wajib pajak dengan
tunggakan pajak yang besar sehingga mengurangi kemungkinan terdapat
utang pajak dalam jumlah besar yang belum tertagih.
Untuk meningkatkan semangat membayar pajak, berbagai cara
dilakukan oleh bidang penagihan ini antara lain dengan mengadakan pekan
18
keteladanan atau panutan dengan memberikan penghargaan kepada wajib pajak
yang taat membayar lebih awal akan mendapat sebuah piagam / penghargaan
dari walikota. Selain itu ada pula undian berhadiah bagi yang membayar
sebelum jatuh tempo. Hadiah yang disediakan pun bermacam-macam seperti
motor, TV, kulkas dan lain-lain.
Untuk meningkatkan penerimaan dari sektor pajak bumi dan bangunan
ini selain dengan safari yang dilakukan petugas, bidang penagihan juga
menerapkan sangsi tegas dan denda maksimal 48% kepada wajib pajak yang
tidak mau membayar sesuai dengan UU yang berlaku yaitu UU No 12 tahun
1985 yang diperbaharui lagi dengan UU no 12 tahun 1994. Dalam pasal 8 ayat
(2) undang-undang Nomor 19 tahun 1997 sebagaimana telah dirubah terakhir
dengan undang-undang nomor 19 tahun 2000 terdapat aturan low investment
yaitu penerapan hukum apabila wajib pajak tidak mau membayar dengan
tunggakan tiga tahun keatas, hal pertama yang dilakukan adalah memberikan
tanda peringatan pembayaran atau surat teguran. Apabila dalam jangka waktu
satu bulan tidak juga membayar maka berkas tunggakan tersebut akan
direkomendasikan ke KPP Pratama untuk diterbitkannya surat paksa yang bisa
digunakan untuk penyitaan dan pelelangan obyek pajak.
19
2. Kedudukan, Tugas Pokok, Fungsi DPPKA Bidang Penagihan
1. Kepala Bidang
Kepala bidang mempunyai tugas antara lain :
1) Menyusun rencana strategis dan program kerja tahunan bidang sesuai
dengan program kerja yang telah disusun awal periode
2) Membagi tugas kepada bawahan sesuai tugas agar tercipta pemerataan
tugas
3) Memberi petunjuk dan arahan kepada bawahan guna kejelasan
pelaksanaan tugas
2. Seksi Penagihan dan Keberatan
Seksi ini mempunyai tugas antara lain :
1) Melakukan penagihan pajak bumi dan bangunan beserta tunggakan
kepada wajib pajak
2) Melayani permohonan keberatan dan penyelesaiannya
3. Seksi Pengelolaan Penerimaan Sumber Pendapatan Lain
1) Mengumpulkan data sumber-sumber penerimaan PBB sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
2) Mengurus administrasi dan arsip
4. Staf
1) Melaksanakan tugas dari kepala seksi masing-masing
2) Melakukan pemantauan dan terjun langsung ke lapangan untuk
menagih pajak bumi dan bangunan yang terutang
20
3. Struktur Organisasi
Struktur organisasi yang baik perlu diterapkan untuk mempermudah
dalam pengawasan managemen agar pelaksanaan suatu kegiatan dapat berjalan
dengan lancar. Penetapan Struktur Organisasi yang jelas sangat diperlukan
sesuai dengan bagian masing-masing.
Adapun tujuan disusunnya Struktur Organisasi adalah untuk:
1) Mempermudah pelaksanaan tugas dan pekerjaan
2) Memudahkan pimpinan dalam mengawasi pekerjaan bawahan
3) Mengkoordinasi kegiatan untuk mencapai tujuan yang diharapkan
Menentukan kedudukan seseorang dalam fungsi dan kegiatan, sehingga
mampu menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya.
Berikut adalah Struktur Organisasi yang dibentuk oleh Bidang
Penagihan Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Surakarta
Gambar 1.1 Stuktur organisasi bidang penagihan DPPKA Kota Surakarta
21
4. Deskripsi Jabatan Struktural
1. Kepala bidang
Kepala bidang mempunyai tugas antara lain :
a. Menyusun rencana strategis dan program kerja tahunan bidang
sesuai dengan program kerja yang telah disusun awal periode
b. Membagi tugas kepada bawahan sesuai tugas agar tercipta
pemerataan tugas
c. Memberi petunjuk dan arahan kepada bawahan guna kejelasan
pelaksanaan tugas
2. Sie penagihan dan keberatan
Seksi ini mempunyai tugas antara lain :
a. Melakukan penagihan pajak bumi dan bangunan beserta tunggakan
kepada wajib pajak
b. Melayani permohonan keberatan dan penyelesaiannya
3. Sie Pengelolaan Penerimaan Sumber Pendapatan Lain
a. Mengumpulkan data sumber-sumber penerimaan PBB sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
b. Mengurus administrasi dan arsip
4. Staf
a. Melaksanakan tugas dari kepala seksi masing-masing
b. Melakukan pemantauan dan terjun langsung ke lapangan untuk
menagih pajak bumi dan bangunan yang terutang
22
B. Latar Belakang Masalah
Dalam menjalankan suatu pemerintahan dan pembangunan, pemerintah
membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dana tersebut dikumpulkan dari
segenap potensi sumber daya yang dimiliki baik berasal dari pendapatan asli
daerah, dana perimbangan ataupun dari lain-lain pendapatan yang sah. Semua
dana tersebut dikelola dan digunakan untuk kepentingan pembangunan daerah.
Sebagian besar penerimaan daerah Kota Surakarta berasal dari bagian dana
perimbangan yang salah satunya adalah penerimaan dari sektor pajak bumi dan
bangunan (PBB). Pajak bumi dan bangunan adalah pajak yang dikenakan atas
kepemilikan tanah dan bangunan permanen dan telah mendapat IMB (ijin
mendirikan bangunan). Pajak ini dikenakan setahun sekali dengan tarif yang
telah ditetapkan sesuai dengan Undang-undang
No 12 tahun 1985
sebagaimana telah dirubah dengan UU No 12 tahun 1994 yang mengatur
tentang PBB.
Pajak Bumi dan bangunan adalah salah satu jenis pajak yang cukup
penting yang ada di Indonesia. Pajak bumi dan bangunan selama ini di
identikkan dengan pajak lempung karena obyek utamanya berupa tanah atau
bumi dengan wajib pajak yang meliputi seluruh golongan masyarakat dari
golongan rakyat jelata sampai dengan pejabat tinggi Negara. Kontribusi
penerimaan pajak terhadap penerimaan Negara diharapkan semakin meningkat
dari tahun ke tahun. Namun kenyataannya kontribusi finansial untuk
penerimaan Negara yang berasal dari PBB masih relatif kecil dibandingkan
dengan jenis pajak lainnya. Kecilnya kontribusi pemasukan tersebut tercipta
23
karena struktur pengenaan pajak PBB yang memang kecil (0,5%).
Kenyataannya ada saja hal-hal yang mengakibatkan penerimaan pajak
khususnya dari PBB tidak sesuai dengan target yang ditetapkan dan penyebab
paling dominan adalah masalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk
memenuhi kewajiban pajaknya
Dalam penulisan tugas akhir ini penulis membatasi masalah hanya
mengenai masalah dalam pelaksanaan pemungutan pajak bumi dan bangunan
serta solusi yang dilakukan bidang penagihan Dinas Pendapatan Pengelolaan
Keuangan dan Aset Kota Surakarta untuk meminimalis dampak dari masalah
tersebut. Masalah ini perlu dibahas secara lebih mendalam dan perlu ada solusi
yang tepat karena pajak bumi dan bangunan merupakan penerimaan yang
memberikan kontribusi cukup besar terhadap penerimaan daerah Kota
Surakarta, Sehingga perlu pengelolaan yang lebih baik dan efektif agar
diperoleh hasil yang maksimal.
Atas dasar latar belakang tersebut diatas, penulis dalam menyusun tugas
akhir mengambil judul : “PERMASALAHAN DAN SOLUSI DALAM
PEMUNGUTAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PADA DINAS
PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET KOTA
SURAKARTA”
C. Rumusan Masalah
Dalam penulisan tugas akhir ini penulis membatasi masalah hanya pada
penerimaan dana perimbangan dari sektor pajak bumi dan bangunan yang
24
penerimaannya dikelola oleh bidang penagihan Dinas Pendapatan Pengelolaan
Keuangan dan Aset Kota Surakarta. Berdasarkan latar belakang diatas, maka
rumusan masalahnya adalah :
1. Apa saja permasalahan yang dihadapi bidang penagihan pada Dinas
Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Surakarta dalam
pelaksanaan pemungutan pajak bumi dan bangunan?
2. Solusi apa yang dilakukan bidang penagihan pada Dinas Pendapatan
Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Surakarta untuk mengatasi masalah
tersebut?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja masalah yang
timbul dalam pelaksanaan pemungutan pajak bumi dan bangunan serta solusi
yang dilakukan bidang penagihan pada Dinas Pendapatan Pengelolaan
Keuangan dan Aset Kota Surakarta untuk mengatasi masalah tersebut.
E. Manfaat Penelitian
Melalui penelitian ini, penulis berharap dapat memberikan manfaat kepada
beberapa pihak sebagai berikut :
1. Bagi penulis
Dapat menambah pengetahuan dan menerapkan ilmu pengetahuan dalam
bidang perpajakan yang telah diperoleh di bangku kuliah ke dalam
25
kenyataan yang sesungguhnya khususnya dalam bidang pajak bumi dan
bangunan.
2. Bagi Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Surakarta
Diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan dan masukan dalam
penyusunan kebijaksanaan yang berkaitan dengan pemungutan pajak bumi
dan bangunan agar sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
3. Bagi pihak lain
Dapat dijadikan bahan pertimbangan dan menjadi dasar bagi penelitian
selanjutnya.
F. Metodologi Penelitian
Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penyusunan Tugas
Akhir ini adalah metode pengumpulan data primer, yaitu data yang diperoleh
secara langsung dari sumbernya, diamati dan dicatat untuk pertama kalinya.
Data primer diperoleh melalui beberapa metode yang dilakukan, antara lain :
metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi.
– Metode Observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematik
fenomena – fenomena yang diselidiki (Hadi, 1996 : 13). Observasi ini
dilakukan dengan cara memeriksa menggunakan panca indera terutama
mata, yang dilakukan secara kontinyu selama kurun waktu tertentu untuk
membuktikan sesuatu keadaan atau masalah.
Penulis mencari dan mengumpulkan data berdasarkan pengamatan serta
praktek langsung yang dilakukan ketika pelaksanaan program magang
26
selama 1 bulan dari bulan Februari hingga bulan Maret 2010 di Bidang
Penagihan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota
Surakarta. Adapun data yang diperoleh dari observasi, antara lain : proses
filling STTS (Surat Tanda Terima Setoran) atau pengelompokan STTS
berdasarkan kecamatan dan kelurahan; proses entry data dari STTS yang
telah dikelompokkan; proses penandaan pelunasan pajak di buku DHKP
(Daftar Hukum Ketetapan Pajak); dan pelaksanaan program safari/jemput
bola di kelurahan.
– Metode Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara
untuk memperoleh informasi dari yang terwawancara (Arikunto Suharsimi,
2002 : 201). Wawancara dilakukan secara face to face antara peneliti dengan
responden untuk mendapatkan informasi secara lesan dengan tujuan untuk
memperoleh
data
yang dapat
menjelaskan
atau
menjawab
suatu
permasalahan berkaitan dengan penelitian.
Penulis menginterview pegawai Bidang Penagihan DPPKA Kota Surakarta
termasuk Kepala Bidang Penagihan berkenaan dengan sistem pemungutan
Pajak Bumi dan Bangunan yang diterapkan selama ini. Hasil yang diperoleh
dari wawancara, yaitu : permasalahan dan solusi dalam pemungutan pajak
bumi dan bangunan pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan
Aset Kota Surakarta .
– Metode Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel
yang berupa catatan, transkrip buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen,
legger, agenda, dsb (Arikunto Suharsimi, 2002 : 236).
27
Dalam penelitian ini data yang digunakan oleh penulis yaitu tentang
permasalahan yang terjadi dan solusi yang dilakukan dalam pemungutan
pajak bumi dan bangunan pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan
Dan Aset Kota Surakarta .
G. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut :
BAB I
: PENDAHULUAN
Bab ini menerangkan tentang gambaran umum Bidang Penagihan
DPPKA Kota Surakarta, latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi
penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II
: ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Bab ini menerangkan tentang tinjauan pustaka berkaitan dengan
masalah yang diangkat, dan pembahasan masalah.
BAB III : TEMUAN
Bab ini memaparkan kelebihan dan kelemahan yang terdapat
dalam proses pemungutan pajak bumi dan bangunan pada Dinas
Pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Kota Surakarta
BAB IV : PENUTUP
Bab ini berisikan kesimpulan serta rekomendasi dari penulis
berkaitan dengan hasil penyusunan tugas akhir ini.
28
BAB II
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Tinjauan Pustaka
1. Dasar Hukum Pajak Bumi dan Bangunan
Dasar hukum yang mengatur tentang pajak bumi dan bangunan adalah
Undang – Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang perubahan atas
Undang – Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang PBB. Dalam
pelaksanaannya, PBB juga diatur dengan Peraturan Pemerintah serta
Keputusan Menteri Keuangan. Secara lengkap dasar hukum PBB adalah
sebagai berikut :
1) Undang – Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang PBB sebagaimana
telah diubah dengan Undang – Undang Nomor 12 Tahun 1994.
2) Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 1985 tentang persentase nilai
jual kena pajak untuk PBB.
3) Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1002/KMK.04/1985 tentang
tata cara pendaftaran obyek PBB.
4) Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1006/KMK.04/1985 tentang
tata cara penagihan PBB dan penunjukan pejabat yang berwenang
mengeluarkan surat paksa.
5) Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1007/KMK.04/1985 tentang
pelimpahan wewenang penagihan PBB kepada Gubernur Kepala
14
29
Daerah Tingkat I dan/atau Bupati / Walikota Madya Kepala Daerah
Tingkat II.
6) Keputusan Menteri Keuangan Nomor 523/KMK.04/1998 tentang
penentuan klasifikasi dan besarnya NJOP sebagai dasar pengenaan
PBB.
2. Istilah – Istilah dalam PBB
 Bumi
Yang dimaksud bumi dalam Undang – Undang Nomor 12 Tahun 1994
tentang Pajak Bumi dan Bangunan adalah permukaan bumi dan tubuh
bumi yang ada di bawahnya. Permukaan bumi meliputi tanah dan
perairan pedalaman (termasuk rawa – rawa tambak pengairan) serta
laut wilayah Republik Indonesia.
 Bangunan
Yang dimaksud dengan bangunan adalah konstruksi teknik yang
ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan atau perairan
untuk tempat tinggal, tempat usaha dan tempat yang diusahakan.
 PBB
Adalah Pajak Bumi dan Bangunan yang administrasi pemungutannya
dikelola
oleh
Direktorat
Jenderal
Pajak
dan
seluruh
hasil
penerimaannya dibagi hasilkan kepada daerah.
 Nilai Jual Obyek Pajak
Yang dimaksud dengan Nilai Jual Obyek Pajak adalah harga rata –
rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar,
30
dan bilamana tidak terdapat transaksi jual beli, nilai jual obyek pajak
ditentukan melalui perbandingan harga dengan obyek lain yang
sejenis atau nilai perolehan baru, atau nilai jual obyek pajak
pengganti.
 Surat Pemberitahuan Obyek Pajak (SPOP)
Yang dimaksud dengan Surat Pemberitahuan Obyek Pajak adalah
surat yang digunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan data obyek
pajak menurut ketentuan Undang – Undang.
 Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)
Yang dimaksud dengan Surat Pembertahuan Terutang adalah surat
yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk memberitahukan
besarnya pajak terutang kepada wajib pajak.
 Surat Ketetapan Pajak (SKP)
Yaitu surat keputusan KP PBB yang memberitahukan besarnya pajak
yang terutang termasuk denda administrasi kepada wajib pajak.
 Surat Tagihan Pajak (STP)
Adalah surat keputusan KP PBB untuk menagih pajak terutang yang
tidak atau kurang dibayar ditambah denda administrasi sebesar 2% per
bulan dengan denda maksimal sebesar 48%.
 Surat Tanda Terima Setoran (STTS)
Merupakan bukti pembayaran yang diserahkan kepada Wajib Pajak
yang telah membayar pajaknya.
31
 Daftar Penerimaan Harian (DPH)
Adalah dokumen yang digunakan oleh petugas pemungut untuk
menyetorkan hasil penerimaan PBB ke tempat pembayaran.
3. Definisi Pajak Bumi dan Bangunan
Menurut Munawir (1992 : 308) Pajak Bumi dan Bangunan
merupakan pajak tidak langsung yang dipungut oleh pemerintah pusat
dan hasil penerimaan pajak ini diarahkan kepada tujuan untuk
kepentingan masyarakat di daerah yang bersangkutan.
Sedangkan dalam Undang – Undang No. 12 Tahun 1994 tentang
Perubahan Atas Undang – Undang No. 12 tahun 1985 tentang Pajak
Bumi dan Bangunan Pasal 1 Ayat 2 dijelaskan bahwa Pajak Bumi dan
Bangunan adalah pajak negara yang sebagian besar penerimaannya
merupakan pendapatan daerah yang antara lain dipergunakan untuk
penyediaan fasilitas yang juga dinikmati oleh Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah.
4. Subyek Pajak Bumi dan Bangunan
Subyek PBB adalah orang pribadi atau badan yang secara nyata :
1) Mempunyai suatu hak atas bumi dan/atau
2) Memperoleh manfaat atas bumi dan/atau
3) Memiliki, menguasai atas bangunan dan/atau
4) Memperoleh manfaat atas bangunan
32
5. Obyek Pajak Bumi dan Bangunan
Yang menjadi obyek PBB adalah Bumi dan/atau Bangunan. untuk
menentukan besarnya nilai bumi dan/atau bangunan, obyek pajak
diklasifikasikan. Klasifikasi bumi dan bangunan adalah pengelompokan
bumi dan bangunan menurut nilai jualnya dan digunakan sebagai
pedoman serta untuuk memudahkan penghitungan pajak terutang.
6. Dasar Pengenaan dan Penghitungan PBB
Dasar pengenaan pajak adalah Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP),
yaitu pada harga rata – rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang
terjadi secara wajar, dan bilamana tidak terdapat transaksi jual beli,
NJOP ditentukan melalui perbandingan harga dengan obyek lain yang
sejenis atau nilai perolehan baru, atau NJOP pengganti.
Adapun untuk dasar penghitungan pajak adalah Nilai Jual Kena
Pajak yang ditetapkan serendah – rendahnya 20% dan setinggi –
tingginya 40% dari NJOP.
Penetapatan besarnya persentase Nilai Jual Kena Pajak, yaitu :
1) Sebesar 40% dari NJOP untuk :
a. Obyek pajak perkebunan,
b. Obyek pajak kehutanan, dan
c. Obyek pajak lainnya, yang wajib pajaknya perorangan dengan
NJOP atau bumi dan bangunan sama atau lebih besar dari Rp.
1.000.000.000,00 (Satu Milyar Rupiah).
2) Sebesar 20% dari NJOP untuk :
33
a) Obyek pajak pertambangan, dan
b) Obyek
pajak
lainnya
yang
NJOP-nya
kurang
dari
Rp.
1.000.000.000,00 (Satu Milyar Rupiah).
Tarif pajak yang dikenakan atas obyek pajak adalah tarif tunggal,
yaitu sebesar 0,5%. Besarnya pajak terutang dihitung dengan cara
mengalikan tarif pajak dengan NJKP.
Pajak Bumi dan Bangunan
= Tarif Pajak x NJKP
= 0,5% x 20% x NJOP
= 0,5% x 40% x NJOP
NJOP = (NJOP Bumi + NJOP Bangunan) – NJOPTKP
7. Pembagian Hasil Penerimaan PBB
Sesuai dengan peraturan pemerintah no. 16 tahun 2000, hasil
penerimaan PBB merupakan penerimaan Negara. Hasil penerimaan PBB
dibagi untuk pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan imbangan :
1. 10% untuk pemerintah pusat, alokasi pembagiannya :
a) 65% dibagikan secara merata untuk daerah kabupaten /kota
b) 35% dibagikan insentif untuk daerah kabupaten / kota yang
relaisasi penerimaan PBB sektor pedesaan dan perkotaan pada
tahun anggaran sebelumnya mencapai / melampaui rencana
penerimaan yang ditetapkan
2. 90% untuk pemerintah daerah
a) 16,2% untuk provinsi
b) 64,8% untuk kabupaten / kota
34
c) 9% untuk biaya pungut
8. Tata Cara Pembayaran dan Penagihan PBB
1) Pajak yang terutang berdasarkan SPPT harus dilunasi selambat –
lambatnya 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya SPPT oleh wajib
pajak.
2) Pajak yang terutang berdasarkan SKP harus dilunasi selambat –
lambatnya 1 (satu) bulan sejak tanggal diterimanya SKP oleh wajib
pajak.
3) Pajak yang terutang yang pada saat jatuh tempo pembayarannya tidak
dibayar, dikarenakan denda administrasi sebesar 2% sebulan, yang
dihitung dari saat jatuh tempo sampai dengan hari pembayaran, untuk
jangka waktu paling lama 24 bulan.
4) Denda administrasi sebagaimana dimaksud dalam no. 3 di atas,
ditambah dengan utang pajak yang belum atau kurang bayar ditagih
dengan Surat Tagihan Pajak (STP) yang harus dilunasi selambat –
lambatnya 1 (satu) bulan sejak tanggal diterimanya STP oleh wajib
pajak.
9. Prosedur Penagihan PBB
Tindakan penagihan pajak yang selama ini dilaksanakan adalah
berdasarkan pada Undang-undang No.19 Tahun 1997 yang telah diubah
dengan Undang-undang No.19 Tahun 2000 tentang Penagihan Pajak
dengan Surat Paksa. Dengan Undang-undang penagihan pajak yang
demikian itu diharapkan dapat memberikan penekanan yang lebih pada
35
keseimbangan
antara
kepentingan
masyarakat
wajib
pajak
dan
kepentingan negara. Keseimbangan kepentingan dimaksud berupa
pelaksanaannya hak dan kewajiban oleh kedua belah pihak yang tidak
berat sebelah atau tidak memihak, adil, serasi dan selaras dalam wujud
tata urutan yang jelas dan sederhana serta memberikan kepastian hukum.
Adapun Prosedur Penagihan Pajak Bumi dan Bangunan
berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. KEP-14/PJ.6/1990
adalah :
1) Penerbitan Surat Teguran
Penerbitan Surat Teguran sebagai langkah awal dari tindakan
pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan segera setelah 7 (tujuh)
hari sejak saat jatuh tempo pembayaran STP PBB atau SK.
Pembetulan/SK, Keberatan/Putusan Banding yang menyebabkan
jumlah pajak yang harus dibayar bertambah.
2) Penerbitan Surat Perintah Penagihan Pajak Seketika dan Sekaligus
Surat Perintah Penagihan Pajak Seketika dan Sekaligus diterbitkan
tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran STP PBB dan SK.
Pembetulan/SK. Keberatan/Putusan Banding yang menyebabkan
jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, apabila :
a) Penanggung pajak akan meninggalkan Indonesia untuk selamalamanya.
b) Penanggung pajak menghentikan atau secara nyata mengecilkan
kegiatan perusahan, atau pekerjaan yang dilakukannya di
36
Indonesia, ataupun memindahkan barang yang dimiliki atau
dikuasainya.
c) Terdapat tanda-tanda bahwa penanggung pajak akan membubarkan
badan usahanya.
d) Badan usaha akan dibubarkan oleh negara.
e) Terjadi penyitaan atas barang penanggung pajak oleh pihak ketiga
atau terdapat tanda-tanda kepailitan.
Dalam hal terdapat penanggung pajak telah diterbitkan Surat
Teguran, maka Penagihan Seketika dan Sekaligus dilakukan tanpa
menunggu lewat tenggang waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak Surat
Teguran diterbitkan. Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus
diterbitkan sebelum penerbitan Surat Paksa. Oleh karena itu
pengecualian jadwal waktu penagihan tersebut hanya berlaku sebelum
diterditkannya Surat Paksa, sedangkan jadwal waktu penagihan Surat
Paksa mengikuti jadwal waktu normal.
3) Penerbitan Surat Paksa
Surat Paksa diterbitkan segera setelah lewat 21 (dua puluh satu) hari
sejak diterbitkan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus.
4) Pelaksanaan Sita
Penyitaan terdapat barang milik penanggung pajak dilaksanakan oleh
juru sita pajak berdasarkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan.
Penyitaan dilaksanakan apabila utang
pajak tidak dilunasi dalam
37
jangka waktu 2x24 jam sejak tanggal surat paksa diberitahukan
kepada penanggung pajak.
5) Pengajuan/Permintaan Jadwal Waktu dan Tempat Pelelangan
Kepala Kantor Pelayanan PBB sebagai penjual atas barang yang disita
mengajukan permintaan jadwal waktu dan tempat pelelangan kepada
Kantor Lelang dengan menggunakan surat permintaan jadwal waktu
dan tempat pelelangan apabila utang pajak dan atau biaya
penagihannya tidak dilunasi setelah dilaksanakan penyitaan. Dalam
jangka waktu antara pengajuan permintaan dan ditetapkannya jadwal
waktu dan tempat pelelangan, Kepala Kantor Pelayanan PBB dapat
memberitahukan kesempatan terakhir kepada wajib pajak/penanggung
pajak dan biaya penagihannya.
6) Pengumuman Lelang
Setelah mendapat kepastian jadwal waktu dan tempat pelelangan dari
Kepala Kantor Lelang, Kepala Seksi Penerimaan dan Penagihan (P2)
membuat konsep pengumuman lelang dan meneruskannya kepada
Kepala Kantor Pelayanan PBB untuk selanjutnya diumumkan melalui
surat kabar, kemudian mencatat tanggal pemuatannya didalam daftar
pengawasan tindakan penagihan Pajak Bumi dan Bangunan.
Pengumuman lelang dilaksanakan sekurang-kurangnya 14 (empat
belas) hari setelah penyitaan, sedangkan lelang dilaksanakan
sekurang-kurangnya 14 (empat belas) hari setelah pengumuman
lelang.
38
7) Pelaksanaan Penjualan Barang Sitaan secara Lelang
Ketentuan pelaksanaan penjualan barag sitaan secara lelang mengacu
pada Surat Edaran Bersama Direktur Jenderal Pajak dan Kepada
Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara Nomor SE-214/PJ/1999 Jo.
SE-17/PN/1999 tanggal 25 Agustus 1999 tentang Lelang Eksekusi
Pajak. Pada dasarnya, tujuan utama lelang untuk melunasi biaya
penagihan pajak dan hutang pajak. Akan tetapi lelang tidak
dilaksanakan atas :
a) Apabila penanggung pajak telah melunasi utang pajak dan biaya
penagihannya.
b) Berdasarkan putusan pengadilan yang mengabulkan gugatan pihak
ketiga atas kepemilikan barang yang disita.
c) Berdasarkan putusan Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP)
yang
mengabulkan
gugatan
penanggung
pajak
terhadap
pelaksanaan penagihan pajak.
d) Apabila objek sita yang akan dilelang musnah karena terbakar atau
bencana alam.
e) Pelaksanaan Penjualan Barang Sitaan yang Dikecualikan dari
Penjualan secara Lelang.
39
B. Analisis Data dan Pembahasan
1. Mekanisme pemungutan pajak bumi dan bangunan di bidang penagihan
DPPKA
Mekanisme pemungutan pajak bumi dan bangunan yang diterapkan bidang
penagihan DPPKA terdapat dua macam cara :
1.
Alur penyelesaian pemungutan pajak bumi dan bangunan lewat
program safari di RT / RW
Gambar 2.1 Alur penyelesaian pemungutan pajak bumi dan
bangunan lewat program safari
2.
Alur penyelesaian pemungutan pajak bumi dan bangunan lewat Bank
Persepsi
Gambar 2.2 Alur penyelesaian pemungutan pajak bumi dan
bangunan lewat Bank Persepsi
40
2. Tabel jumlah wajib pajak, target dan realisasi penerimaan PBB tahun
2006-2009
Tabel II. 1
Jumlah Wajib Pajak, Target dan Realisasi Penerimaan PBB
Tahun 2006-2009
Tahun
jumlah WP
Target Penerimaan
Realisasi Penerimaan
2006
112.088
21.683.491.095
15.270.892.220
2007
108.621
23.963.409.750
18.540.539.606
2008
114.496
25.024.965.610
19.853.013.882
2009
114.134
31.247.560.600
24.661.753.066
Sumber: Dinas Pendapatan, Pengelolaan, Keuangan dan Aset Kota
Surakarta
Dari tabel II.1 diatas terlihat jelas jumlah wajib pajak bumi dan bangunan
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun namun realisasi penerimaan
PBB justru dibawah target yang ditetapkan. Hal tersebut terjadi karena
dalam pemungutan pajak tersebut terdapat berbagai hambatan dan
kesulitan. Semakin banyak wajib pajak yang harus ditangani semakin
banyak pula kesulitan yang dihadapi petugas. Permasalahan yang ada tidak
hanya berasal dari wajib pajak, namun juga masalah administrasi.
Tentunya hal seperti ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus karena akan
menimbulkan kerugian yang besar. Permasalahan yang timbul dan solusi
yang dilakukan bidang penagihan DPPKA dalam pemungutan pajak bumi
41
dan bangunan akan dibahas lebih lanjut dan lebih rinci dalam pembahasan
selanjutnya.
3. Permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan pemungutan pajak bumi dan
bangunan
Permasalahan yang timbul dalam pemungutan pajak bumi dan bangunan
bermacam-macam dan di tiap prosesnya masalah yang timbul berbedabeda. Oleh karena itu permasalahan dan solusi dalam pemungutan pajak
bumi dan bangunan dibedakan menjadi empat bagian yaitu dalam
pendaftaran dan pendataan, dalam penghitungan, dalam pembayaran dan
dalam penagihan.
1. Dalam pendaftaran dan pendataan
a. Kurangnya kesadaran wajib pajak dalam membayar pajak
Kebanyakan wajib pajak di kota Surakarta ini belum mempunyai
kesadaran yang cukup tentang pentingnya membayar pajak. Mereka
cenderung acuh tak acuh dan mengabaikan anjuran membayar pajak
dengan alasan yang beragam. Padahal hasil dari penerimaan pajak
ini akan dikembalikan kembali kepada wajib pajak dalam bentuk
pelayanan umum yang lebih baik seperti perbaikan sarana umum,
tunjangan pelayanan kesehatan yang lebih baik dan pembangunan
kota. Hal seperti inilah yang memicu tidak tercapainya target
penerimaan pajak yang telah ditetapkan. Rata-rata realisasi
penerimaan masih berada dibawah targetnya. Hal ini dapat dilihat
pada tabel di bawah ini
42
Tabel II. 2
Perbandingan Jumlah Wajib Pajak Terdaftar dengan Jumlah Wajib
Pajak yang Membayar PBB
Tahun 2006-2009
Tahun
jumlah WP terdaftar jumlah WP membayar Prosentase ( % )
2006
112.088
76.380
68%
2007
108.621
76.500
70%
2008
114.496
73.618
64%
2009
114.134
74.985
66%
Sumber: Dinas Pendapatan, Pengelolaan, Keuangan dan Aset Kota
Surakarta
b. Masih ada permasalahan dalam pengajuan pemecahan obyek pajak
Misalnya wajib pajak mengajukan pemecahan karena warisan. Satu
obyek pajak dipecah menjadi dua. Pada tahun regular atau tahun
pemecahan hal tersebut bisa terlaksana tetapi untuk tahun-tahun
berikutnya induk obyek yang dipecah muncul lagi sehingga wajib
pajak menerima dua SPPT.
c. Masih terdapat beberapa data wajib pajak yang diterbitkan KPP
belum valid
Beberapa data wajib pajak yang diterbitkan KPP ada yang belum
valid karena banyak obyek pajak yang sudah pindah tangan atau
berganti kepemilikan tanpa melapor, terkadang terdapat juga ukuran
43
obyek yang berbeda dan alamat wajib pajak tidak diketahui/ pindah
alamat. Kira-kira sebesar 9% terdapat data yang belum valid.
d. Antara pendataan dengan pertumbuhan obyek pajak tidak seimbang
Antara pendataan dengan pertumbuhan obyek pajak tidak seimbang
karena perkembangan pertumbuhan sangat pesat, baragam dan
bertambah banyak sementara jumlah petugas pendata tidak
bertambah. Saat ini terdapat 51 kelurahan yang menjadi tanggung
jawab 16 petugas pemungut. Semakin banyak jumlah obyek yang
harus didata semakin tinggi pula kesulitan yang akan dihadapi
petugas sehingga dapat dikatakan dalam hal pendataan cenderung
tetap dan kurang berkembang dibandingkan pertumbuhan dan
perkembangan obyek pajak.
Tabel II. 3
Perbandingan Jumlah Petugas dengan Jumlah Obyek Pajak
Tahun 2006-2009
Tahun
jumlah petugas
jumlah obyek pajak
2006
16
112.088
2007
16
108.621
2008
16
114.496
2009
16
114.134
Sumber: Dinas Pendapatan, Pengelolaan, Keuangan dan Aset Kota
Surakarta
44
2. Dalam penghitungan
a. Harga nilai jual obyek pajak (NJOP) terkadang tidak sesuai dengan
harga pasar yang berlaku saat itu.
Antara harga NJOP dengan harga pasar seringkali berbeda. Hal ini
disebabkan karena harga tanah yang semakin lama semakin naik dan
diminati banyak orang. Contohnya harga tanah di kampung sewu,
Jebres pada tahun 2008 harga NJOP nya Rp. 128.000,- dan harga
pasarnya Rp. 250.000,- sementara tahun 2009 harga NJOP nya Rp.
160.000,- dan harga pasarnya naik menjadi Rp. 300.000,3. Dalam pembayaran
a. Tidak mau membayar dengan berbagai macam alasan seperti belum
menerima SPPT dari kelurahan atau sedang sibuk/ tidak ditempat
Kondisi orang yang berbeda-beda terkadang menyulitkan petugas
pemungut dalam melakukan tugasnya. Belum tentu hari yang
ditetapkan petugas dan kelurahan sebagai hari pembayaran
merupakan hari kosong bagi wajib pajak. Terkadang pada saat itu
mereka sedang sibuk dengan pekerjaan atau berada diluar kota. Ada
juga wajib pajak yang belum menerima SPPT dari kelurahan sampai
tanggal pembayaran karena wajib pajak tersebut baru saja kembali
dari luar kota dan petugas kelurahan belum sempat menyampaikan
lagi kepada wajib pajak sehingga SPPT tersebut belum sampai ke
tangan wajib pajak yang bersangkutan. Selain itu wajib pajak
cenderung menunda membayar sampai tanggal jatuh tempo.
45
b. Banyak wajib pajak yang enggan pergi ke bank tempat pembayaran
dengan alasan jauh atau repot
Bank persepsi yang ditunjuk sebagai tempat pembayaran PBB belum
tentu ada di setiap kelurahan. Wajib pajak yang tinggal jauh harus
menempuh jarak yang lumayan untuk mencapai bank tempat
pembayaran tersebut. Belum lagi apabila mereka mempunyai banyak
urusan yang harus segera diselesaikan dalam waktu yang bersamaan.
Kondisi seperti inilah yang seringkali menjadikan wajib pajak
enggan datang ke bank dan membayar pajaknya.
Prosentase bermacam-macam alasan wajib pajak menghindari
kewajiban pajaknya dapat dilihat pada diagram dibawah ini
Pergi Ke Luar Kota
16%
19%
30%
S ibuk Dengan
Pekerjaan 14%
16%
14%
21%
Enggan Pergi Ke
Bank 21%
Menunggu Waktu
Jatuh Tempo 30%
Menunggu Didatangi
Petugas 19%
Gambar 2.3 Prosentase Alasan Wajib Pajak Menghindari Kewajiban
Pajaknya
Sumber : Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota
Surakarta
46
4. Dalam penagihan
a. Wajib pajak menghindar saat ditagih
Ada kalanya terkadang wajib pajak belum mempunyai uang untuk
membayar pajaknya pada hari yang telah ditetapkan. Untuk
menghindari petugas penagih mereka seringkali beralasan tidak
berada ditempat atau sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Namun
ada juga wajib pajak yang benar-benar tidak berada ditempat pada
waktu pembayaran sehingga petugas tidak dapat menagih saat itu
juga dan harus ditunda sampai wajib pajak yang bersangkutan
kembali.
b. Adanya kumulatif pembayaran tunggakan
Jika wajib pajak mempunyai tunggakan dalam waktu yang cukup
lama dan jumlahnya cenderung besar mereka biasanya tidak
melunasi tunggakan pajaknya sekaligus. Misalnya wajib pajak A
mempunyai tunggakan 5 tahun dan jumlah tunggakannya mencapai
jutaan rupah biasanya mereka membayar untuk 2 atau 3 tahun dulu
dan membayar setengah dari jumlah keseluruhan tunggakan dengan
alasan dana yang tersedia saat itu hanya cukup untuk membayar
setengahnya saja. Tentunya hal seperti ini akan berpengaruh pada
penerimaan pajak tahun yang bersangkutan.
c. Kurangya jumlah petugas pemungut dan juru sita pajak
Kurangnya jumlah petugas pemungut dan juru sita pajak yang
dimiliki kota Surakarta ini juga menjadi salah satu kendala dalam
47
pelaksanaan penagihan pajak. Banyaknya petugas yang sudah
memasuki masa pensiun dan belum adanya petugas pengganti
menjadikan petugas yang ada harus bekerja lebih keras untuk
menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawab mereka. Dengan
jumlah petugas yang kurang memadai sementara tugas yang harus
diselesaikan cukup menyita waktu dan pikiran kinerja dari para
petugas terkadang menjadi kurang maksimal.
d. Sanksi yang tegas belum sepenuhnya diterapkan
Terkadang sanksi yang diterapkan dalam Undang-undang dinilai
terlalu berat dan bersifat memaksa apabila diterapkan sepenuhnya
kepada wajib pajak. Oleh karena itu petugas juga kadang-kadang
merasa tidak tega untuk menindak wajib pajak yang tidak
menyelesaikan kewajiban pajaknya sesuai sanksi yang berlaku
namun hal seperti inilah yang justru menjadikan wajib pajak merasa
dibebaskan dari hukuman yang seharusnya mereka terima dan
bukannya sadar mereka malah menjadi-jadi kelakuan buruknya yaitu
mengingkari kewajiban membayar pajaknya.
48
4. Upaya yang dilakukan bidang penagihan pada DPPKA untuk mengatasi
masalah-masalah yang timbul dalam pelaksanaan pemungutan pajak bumi
dan bangunan
1. Dalam pendaftaran dan pendataan
a. Memberikan penyuluhan / sosialisasi kepada wajib pajak khususnya
mengenai
cara
mengisi
formulir,
penyampaian
SPPT
dan
mendatangi langsung wajib pajak
Bidang penagihan harus lebih aktif mengadakan sosialisasi dan
berinteraksi dengan masyarakat umum. Saat ini masih banyak wajib
pajak dan petugas kelurahan yang belum faham tentang tata cara
pengisian formulir dan pembayaran pajak. Sosialisasi bisa dilakukan
dengan mendatangkan wajib pajak dan petugas kelurahan ke tempat
diadakannya sosialisasi ataupun petugas dapat mendatangi wajib
pajak dan petugas kelurahan sewaktu-waktu untuk memberikan
pengarahan secara langsung.
b. Menyebarkan brosur lewat kelurahan yang berisi tentang ketentuan
PBB
Selain mengadakan sosialisasi bidang penagihan juga menyebarkan
brosur tentang semua hal yang berhubungan dengan pajak bumi dan
bangunan. Brosur ini disebarkan lewat kelurahan masing-masing
wilayah untuk diteruskan ke wajib pajak ataupun secara langsung
dibagikan kepada wajib pajak saat sosialisasi berlangsung.
49
c. Pihak
bidang
penagihan
DPPKA
membantu
menyelesaikan
klarifikasi
Untuk masalah pemecahan obyek pajak yang rancu sebaiknya wajib
pajak datang langsung ke KPP Pratama untuk mengklarifikasi hal
tersebut. Jika memerlukan bantuan dari pihak bidang penagihan
DPPKA, petugas siap untuk membantu menyelesaikan hal tersebut
ke KPP
d. Pemeriksaan pembukuan secara berkala, peremajaan data serta
pendataan lebih intensif
Pemeriksaan pembukuan secara teratur dan berkala dilakukan untuk
memeriksa apakah terjadi suatu perubahan data yang perlu
diperbaharui atau tidak. Peremajaan data juga dilakukan setiap
beberapa bulan sekali karena perubahan obyek pajak bisa terjadi
setiap saat dan kapan saja. Oleh karena itu pendataan yang lebih
intensif pun terus dilakukan oleh petugas bidang penagihan untuk
mengurangi resiko adanya wajib pajak yang tidak melaporkan
perubahan obyek pajaknya kepada petugas misalnya apabila obyek
pajak berpindah tangan atau berganti kepemilikan. Hal-hal seperti ini
sangat perlu dilakukan untuk memaksimalkan penerimaan pajak
bumi dan bangunan karena selama ini penerimaan selalu berada
dibawah target yang ditetapkan.
e. Mulai tahun 2009 akhir jika pindah nama obyek pajak harus
dilengkapi dengan tanda lunas PBB minimal lima tahun dengan
50
bukti STTS asli atau tanda lunas PBB 10 tahun dengan bukti Surat
keterangan pelunasan PBB
Mulai tahun 2009 akhir bidang penagihan menerapkan suatu aturan
yaitu apabila wajib pajak akan menjual obyek pajaknya atau pindah
kepemilikan maka obyek pajak tersebut harus dilampiri dengan
tanda lunas PBB minimal lima tahun dengan bukti Surat Tanda
Terima Setoran (STTS) asli atau tanda lunas PBB 10 tahun dengan
bukti Surat keterangan pelunasan PBB. Hal ini dilakukan karena
banyak terdapat obyek pajak yang berganti kepemilikan tanpa
melapor dan nantinya akan menyulitkan petugas apabila akan
menyampaikan SPPT berikutnya karena ternyata obyek pajak
tersebut telah berganti kepemilikan.
f. Menghimbau agar jika terjadi perubahan pada obyek pajak segera
melapor
Jika terjadi perubahan pada obyek pajak sebaiknya wajib pajak
segera melapor kepada petugas seperti apabila terjadi perubahan
ukuran atau berganti hak kepemilikan. Hal ini sangat penting
dilakukan untuk memudahkan petugas dalam pendataan dan
pembaharuan data yang digunakan untuk penyampaian SPPT tahun
pajak berikutnya agar tidak terjadi kesalahan penyampaian SPPT dan
jumlah tagihan pajak yang harus dibayar.
51
2. Dalam penghitungan
a. Pihak penagih pajak menghitung ulang NJOP dan disesuaikan
dengan harga pasarnya yang berlaku saat itu
Jika harga NJOP tidak disesuaikan dengan harga pasar yang berlaku
saat itu dikhawatirkan akan mempengaruhi minat beli tanah dan
bangunan masyarakat, misalnya harga NJOP lebih tinggi dari harga
pasar yang berlaku saat itu maka calon pembeli akan berpikir ulang
untuk membeli sesuai harga NJOP. Oleh karena itu penyesuaian
harga obyek pajak sangat penting untuk dilakukan dan diperbaharui
secara berkala.
3. Dalam pembayaran
a. Petugas terjun langsung ke lapangan untuk menyampaikan SPPT
dengan benar ke masing-masing kelurahan
Petugas
diterjunkan
ke
masing-masing
kelurahan
untuk
menyerahkan SPPT kepada petugas kelurahan. Selanjutnya petugas
kelurahan memilah-milah SPPT per RT dan yang terakhir petugas
RT menyampaikan SPPT tersebut ke wajib pajak. Petugas RT harus
memastikan bahwa SPPT tersebut telah diterima oleh wajib pajak
yang benar sesuai dengan nama yang tertera dalam SPPT tersebut
dan jumlahnya sudah sesuai dengan jumlah tagihan yang harus
dibayar sesuai dengan perhitungan yang sudah dilakukan.
52
b. Melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada wajib pajak agar
tercipta hubungan yang baik sehingga wajib pajak menyadari bahwa
membayar pajak adalah suatu kewajiban dan bukan paksaan
Antara wajib pajak dengan petugas pemungut hendaknya menjalin
suatu hubungan yang baik karena berawal dari hubungan yang baik
inilah tujuan baik bisa tercapai. Wajib pajak yang mengenal baik
petugas tentu akan merasa sungkan apabila tidak membayar
pajaknya tepat waktu dan ini bisa menjadi suatu cara untuk
memaksimalkan penerimaan pajak dari sektor pajak bumi dan
bangunan sehingga nantinya realisasi penerimaan bisa mencapai
target yang telah ditetapkan.
c. Memasang spanduk tentang himbauan membayar PBB di setiap titik
kecamatan
Agar wajib pajak semakin merasa tergugah hatinya untuk membayar
pajak, bidang penagihan juga memasang spanduk yang berisi
imbauan untuk membayar pajak bumi dan bangunan di setiap titik
kecamatan yang berbeda. Hal ini dimaksudkan apabila wajib pajak
tidak sempat membaca brosur yang telah disebarkan petugas atau
undangan untuk membayar PBB ke kelurahan mereka dapat
membacanya sewaktu berada dijalan. Spanduk ini biasanya dipasang
di dekat lampu merah atau di tempat keramaian seperti pasar
tradisional, swalayan atau pusat perbelanjaan terkemuka sehingga
orang-orang dapat membacanya dengan mudah. Selain spanduk yang
53
berisi imbauan untuk membayar pajak tepat waktu setelah masa
pembayaran telah usai bidang penagihan ini memasang spanduk lagi
yang berisi ucapan terima kasih atas partisipasi masyarakat dan
kesadaran dalam membayar pajak. Hal ini dimaksudkan agar
masyarakat merasa dihargai dan diperlakukan dengan baik oleh
petugas pemungut pajak sehingga nantinya mereka akan membayar
tepat waktu untuk tagihan pajak berikutnya.
d. Menerjunkan petugas pemungut ke kelurahan masing-masing
wilayah untuk melakukan safari / jemput bola dengan tujuan
mendekatkan wajib pajak dengan tempat pembayaran sehingga wajib
pajak yang jauh dengan bank tempat pembayaran bisa membayar
lewat petugas pemungut.
Wajib pajak yang jauh dengan bank persepsi tempat pembayaran
pajak bumi dan bangunan dapat membayar lewat petugas pemungut
yang ada di kelurahan dan siap melayani pembayaran dari wajib
pajak. Safari ini menjadi salah satu cara efektif untuk mendongkrak
penerimaan pajak bumi dan bangunan karena tujuan diadakannya
safari atau jemput bola ini adalah mendekatkan wajib pajak dengan
tempat pembayaran sehingga wajib pajak yang jauh dengan bank
tempat pembayaran bisa membayar lewat petugas pemungut dan
penerimaan PBB pun bisa lebih maksimal.
54
e. Mengadakan pekan panutan/ pekan keteladanan dengan memberikan
penghargaan kepada wajib pajak yang taat membayar lebih awal
Di setiap periode pembayaran pajak bidang penagihan mengadakan
suatu pekan yang diberi nama pekan panutan atau yang lebih dikenal
dengan nama pekan keteladanan. Pekan ini adalah pekan dimana
wajib pajak yang membayar pajaknya lebih awal dan tidak pernah
menunggak akan diberikan suatu penghargaan berupa piagam dari
walikota yang diserahkan secara langsung. Hal seperti ini tentunya
menjadi suatu kebanggaan tersendiri dan akan menggugah semangat
wajib pajak yang lain untuk taat membayar pajak dan memperoleh
piagam penghargaan tersebut.
f. Mengadakan undian berhadiah untuk pembayaran sebelum jatuh
tempo
Selain mengadakan pekan insentif / pekan keteladanan, bidang
penagihan juga mengadakan undian berhadiah bagi wajib pajak yang
membayar pajak sebelum jatuh tempo. Wajib pajak yang membayar
sebelum jatuh tempo tanggal pembayaran akan diberi satu nomor
undian yang nantinya akan diundi pada akhir periode pembayaran
pajak. Hadiah yang disediakan pun bermacam macam antara lain
satu buah unit sepeda motor, lima unit kulkas dan 20 unit televisi,
hadiah ini dapat berubah baik jenisnya ataupun jumlahnya setiap
tahun. Terbukti dengan undian berhadiah ini wajib pajak menjadi
lebih bersemangat dalam memenuhi kewajiban pajaknya.
55
5. Dalam penagihan
a. Melakukan metode door to door untuk wajib pajak dengan
kredibilitas buruk dan tunggakan besar
Wajib pajak yang terkenal dengan kredibilitas yang buruk dan selalu
mempunyai alasan untuk menghindar dari kewajiban membayar
pajaknya biasanya petugas akan langsung mendatangi kediaman
wajib pajak tersebut dan menagih pajaknya saat itu juga. Jika wajib
pajak tersebut masih saja mangkir dan belum mau membayar
petugas akan memberi waktu beberapa hari sesuai kesepakatan
kedua belah pihak untuk melunasi pajaknya dan kembali lagi pada
hari yang telah disepakati sebagai hari pembayaran.
b. Memberi penghargaan untuk pegawai yang berprestasi dan
berdedikasi tinggi
Penghargaan ini diberikan untuk pegawai yang mempunyai track
record yang bagus dan menonjol. Pegawai yang tidak pernah datang
terlambat ke kantor, yang disiplin dalam menjalankan tugas dan
yang selalu menyelesaikan tugas secara cepat dan baik sebaiknya
diberikan suatu penghargaan bisa berupa piagam yang diserahkan
langsung oleh walikota Surakarta. Tentunya hal ini akan memicu
semangat kerja pegawai yang lain untuk mendapatkan penghargaan
tersebut.
c. Sepanjang ada itikad baik dari wajib pajak untuk menyelesaikan
tunggakan pajak pada tahun yang bersangkutan, kumulatif dapat
56
diberikan kepada wajib pajak mengingat kondisi wajib pajak yang
tidak selalu stabil
Kondisi keuangan yang tidak selalu stabil menjadi pertimbangan
tersendiri bagi bidang penagihan apabila wajib pajak tidak dapat
melunasi kewajiban pajaknya sekaligus. Sepanjang ada itikad baik
yang ditunjukkan oleh wajib pajak untuk melunasi pajaknya
pembayaran kumulatif dapat diberikan yakni wajib pajak dapat
membayar tunggakan pajaknya sesuai kemampuan finansial saat itu.
Hal ini dilakukan karena apabila wajib pajak malah beritikad buruk
tidak melunasi kewajiban pajaknya sama sekali sampai batas
daluwarsa dan tidak akan tertagih lagi maka penerimaan pajak dari
sektor pajak bumi dan bangunan ini justru semakin menurun dan
tidak maksimal.
d. Mengadakan kerjasama dengan pihak terkait seperti kelurahan dan
pihak RT masing-masing wilayah dalam pelaksanaan pemungutan
pajak bumi dan bangunan agar petugas tidak kewalahan dalam
menangani pembayaran
Dalam menangani pembayaran pajak dalam bulan-bulan pembayaran
seringkali petugas yang ada kurang jumlahnya dan mengakibatkan
antrian panjang bagi yang akan membayar. Hal seperti ini tentu
menjadikan wajib pajak enggan membayar karena harus mengantri
lama dan petugas pun pastinya akan kelelahan menangani sekian
banyak pembayaran. Untuk mengantisipasi hal seperti ini petugas
57
mengadakan kerjasama dengan pihak kelurahan dan RT masingmasing wilayah untuk membantu petugas dalam hal mengurus
pembayaran jadi antrian yang panjang dapat dihindari dan pelayanan
yang maksimal pun dapat diberikan kepada wajib pajak.
e. Lebih cermat lagi dalam hal penerapan sangsi sesuai dengan ijin dari
KPP seperti misalnya dalam hal penyitaan dan pelelangan obyek
pajak
Penerapan sanksi yang lebih tegas dan cermat telah dilakukan bidang
penagihan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti
wajib pajak yang tidak mau membayar ataupun menunggak
pembayaran sampai hampir daluwarsa. Selama ini bidang penagihan
telah lebih cermat dalam menyikapi kasus seperti ini dan untuk
pelelangan dan penyitaan telah melaksanakan sesuai prosedur yang
berlaku yaitu mengajukan permohonan penyitaan dan pelelangan
terlebih dahulu sesuai dengan ijin dari pihak KPP.
58
BAB III
TEMUAN
Berdasarkan analisis dan pembahasan yang penulis lakukan, dapat
ditemukan adanya kelebihan dan kelemahan dalam pemungutan pajak bumi dan
bangunan pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota
Surakarta. Adapun kelebihan dan kelemahannya adalah berikut ini :
A. Kelebihan
1. Bidang penagihan DPPKA memiliki prosedur yang cukup mudah
dalam pemungutan pajak bumi dan bangunan karena selain membayar
langsung lewat bank persepsi, bidang penagihan juga mempunyai
program safari yang mendekatkan wajib pajak dengan tempat
pembayaran.
2. Bidang penagihan menerjunkan langsung petugasnya ke lapangan
dalam program safari dengan tujuan mendekatkan wajib pajak dengan
tempat pembayaran sehingga wajib pajak yang enggan pergi ke bank
persepsi karena jauh dapat membayar lewat petugas yang berada di
kelurahan pada tanggal safari yang ditentukan.
3. Bidang penagihan termasuk aktif dalam melakukan sosialisasi dan
pendekatan kepada wajib pajak demi tercapainya target pajak yang
ditentukan.
44
59
4. Pengadaan pekan panutan/ keteladanan dan undian berhadiah oleh
bidang penagihan DPPKA mampu meningkatkan semangat dalam
membayar pajak.
B. Kelemahan
1. Pengetahuan dan wawasan wajib pajak mengenai pajak bumi dan
bangunan masih sangat minim.
2. Kesadaran wajib pajak dalam pemenuhan kewajiban perpajakan masih
kurang.
3. Masih terdapat data wajib pajak yang belum valid dan belum
diperbaharui.
4. Masih kurangnya petugas yang melakukan pemungutan pajak dan juru
sita pajak.
5. Masih ada wajib pajak yang tidak melaporkan obyek pajaknya
60
BAB IV
PENUTUP
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang penulis lakukan, maka
dapat ditarik simpulan yang berkenaan dengan analisis pemungutan pajak bumi
dan bangunan pada bidang penagihan Dinas Pendapatan Pengelolaan
Keuangan dan Aset Kota Surakarta.
A.
Simpulan
1. Hambatan terbesar dalam pemungutan pajak bumi dan bangunan
disebabkan oleh para wajib pajak yang kurang menyadari kewajiban
perpajakannya dan kurang pengetahuan tentang pajak bumi dan
bangunan itu sendiri. Bukan hanya itu saja, masih kurangnya petugas
pemungut dan juru sita pajak menjadi salah satu kendala juga dalam
pelaksanaan pemungutan pajak bumi dan bangunan.
2. Dalam mengatasi hambatan yang timbul dalam pemungutan dan
pembayaran pajak bumi dan bangunan, ada beberapa upaya yang
dilakukan oleh bidang penaguhan Dinas Pendapatan Pengelolaan
Keuangan dan Aset Kota Surakarta, seperti mengadakan program safari
per kelurahan, pengadaan pekan panutan dan undian berhadiah bagi
wajib pajak yang membayar lebih awal dan pelayanan yang baik bagi
46
61
wajib pajak juga menjadi prioritas utama agar wajib pajak merasa
nyaman dan tidak enggan melaksanakan kewajiban perpajakannya.
3. Mekanisme pemungutan dan pembayaran pajak bumi dan bangunan
pada bidang penagihan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan
Aset Kota bisa dikatakan mudah dan cepat karena selain pembayaran
melalui bank persepsi, bidang penagihan Dinas Pendapatan Pengelolaan
Keuangan dan Aset Kota Surakarta menerapkan program safari untuk
mempermudah pembayaran.
B. Rekomendasi
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka penulis dapat
memberikan rekomendasi sebagai berikut :
1. Agar bidang penagihan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan
Aset Kota Surakarta lebih giat untuk mengadakan sosialisasi dan
memberikan pelayanan yang lebih memuaskan kepada wajib pajak.
2. Lebih tegas dalam menerapkan sanksi, dan menyediakan lebih banyak
tenaga lapangan untuk melaksanakan pemungutan pajak bumi dan
bangunan.
3. Peremajaan data dan peninjauan ulang harga NJOP sebaiknya dilakukan
secara berkala dan rutin diperbaharui.
4. Membuka website yang berisi tentang semua hal mengenai pajak bumi
dan bangunan untuk kota wilayah Surakarta sehingga wajib pajak bumi
62
dan bangunan kota Surakarta dapat memperoleh informasi lebih cepat
dan jelas tanpa harus datang ke kantor.
5. Untuk wajib pajak agar dapat lebih mentaati peraturan yang berlaku
sehingga terjadi kerjasama yang baik antara wajib pajak, bidang
penagihan DPPKA , dan masyarakat umum.
63
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Pemeriksaan Penyidikan dan Penagihan Pajak. 2005. Pedoman
Penagihan Pajak. Jakarta : Departemen Keuangan Republik Indonesia
Direktorat Jenderal Pajak.
Mardiasmo. 2002. Perpajakan. Edisi Revisi. Yogyakarta : Andi.
Munawir, Slamet.1992. Perpajakan. Yogyakarta : BPFE.
Undang–Undang No. 12 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas
Undang – Undang No. 12 Tahun 1985.
Waluyo dan Wirawan B. Ilyas. 2000. Perpajakan Indonesia. Jakarta : Salemba
Empat.
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
Fly UP