...

Aplikasi PLC untuk Mengendalikan Lingkungan

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

Aplikasi PLC untuk Mengendalikan Lingkungan
Aplikasi PLC untuk Mengendalikan Lingkungan Pertumbuhan Tanaman
Krisan pada Sistem Ebb and Flow
(PLC Application to Control Growing Environment of Chrysanthemum in Ebb and Flow System)
Herry Suhardiyanto1, Heru Sukoco2, Sugi Guritman2,Yani Prabowo3, dan Hariatun Kusyunarti Saptasari4
ABSTRACT
Programmable Logic Controller (PLC) is a form of controller which can be programmed for various needs.
The basic mechanism of how PLC works is by connecting or disconnecting electric current of an instrument. The
objective of this research is to design and evaluate the performance of PLC in handling Multi Input and Multi Output
(MIMO) in floriculture for chrysanthemum. The PLC is given task to activate pump for supplying nutrient solution
periodically and to control plant environment according to specified set point. The environmental parameters are
acidity and temperature of nutrient solution, air temperature and humidity inside the greenhouse. If one of these
environmental parameters is above or below the set point, then an appropriate action will be taken according to the
programmed algorithm in the PLC. Special attention has been paid for controlling the acidity of nutrient solution. If the
acidity of nutrient solution is 5.257, then it will be corrected by opening the bases solenoid valve for 75 times until the
acidity increase to 6.017, according to the specified set point (6.0 – 6.5). If the acidity is 6.755, then it will be corrected
by opening the acids solenoid valve for 23 times until its acidity decrease to 6.505. Results showed that PLC performed
well in controlling the environment parameters of chrysanthemum grown in ebb and flow system.
Keywords: hydroponics, ebb and flow system, plant environment, PLC, acidity control
PENDAHULUAN
Bisnis tanaman bunga dalam pot (tabulampot)
dewasa ini semakin diminati. Budidaya tabulampot
secara komersial banyak dilakukan dengan sistem
hidroponik ebb and flow di dalam greenhouse. Hal ini
karena sistem ebb and flow termasuk sistem yang
efisien dalam penggunaan larutan nutrisi sedangkan
greenhouse memungkinkan tanaman terlindungi dari
faktor lingkungan yang merugikan tanaman. Pada
sistem ebb and flow akar tanaman digenangi larutan
nutrisi selama beberapa saat, kemudian larutan nutrisi
tersebut dialirkan kembali ke tangki penampungan
larutan nutrisi. Langkah tersebut dilakukan berulang
kali, berkisar tiga sampai empat kali sehari, untuk
memberikan kesempatan akar tanaman menyerap
oksigen dari udara. Frekuensi penggenangan tergantung
kepada jenis dan umur tanaman, jenis media tanam,
serta parameter lingkungan seperti temperatur dan
kelembaban udara. Pemberian larutan nutrisi tersebut
pada umumnya dilakukan secara manual oleh operator
dengan menghidupkan atau mematikan pompa
penyaluran larutan nutrisi. Pengendalian derajat
keasaman (pH) larutan nutrisi biasanya tidak dilakukan.
Penelitian mengenai rancang bangun dan uji
teknis sistem kendali berbasis PLC (Programmable
Logic Controller) pada jaringan irigasi tetes hidroponik
substrat pernah dilaporkan dalam Suhardiyanto et al.
(2006). Aplikasi PLC pada sistem kontrol yang dapat
mengendalikan lingkungan pertumbuhan tanaman pada
hidroponik ebb and flow akan membantu operator dan
dapat membantu upaya peningkatan produksi
tabulampot. Dengan sistem kontrol otomatik, pekerjaan
dapat dilakukan secara tepat, cepat, dan masal. Oleh
karena itu, diperlukan sistem otomatik untuk pemberian
larutan nutrisi dan untuk pengendalian lingkungan
pertumbuhan tanaman secara lebih akurat.
Penelitian ini bertujuan melakukan rancang
bangun dan menguji sistem kendali berbasis PLC untuk
mengendalikan derajat keasaman dan temperatur larutan
nutrisi, temperatur dan kelembaban udara di dalam
greenhouse, dan pemberian larutan nutrisi secara
terjadwal pada tanaman krisan yang dibudidayakan
secara hidroponik dengan sistem ebb and flow.
Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan alternatif
sistem kendali otomatik untuk budidaya tanaman dalam
sistem ebb and flow yang masih dilakukan secara
manual oleh operator.
TINJAUAN PUSTAKA
Sistem Kendali PLC
PLC dapat mengendalikan multi input dan
multi output, yang terdiri dari modul input, modul
output, CPU (Central Processing Unit), dan
programming device. PLC merupakan sistem kendali
berbasis digital yang hanya mengenal dua kondisi yaitu
on atau off (Swainston, 1991; Setiawan, 2006; Yulianto,
2006). PLC dapat diprogram, dikendalikan dan
dioperasikan oleh operator yang tidak ahli komputer
sekalipun karena sifatnya yang sederhana, sehingga
memungkinkan untuk diaplikasikan dalam bidang
pertanian secara luas (Suhardiyanto et al., 2006).
Penggunaan PLC dalam sistem kendali otomatik untuk
budidaya tanaman
secara
hidroponik
pernah
diujicobakan untuk pengendalian pemberian larutan
nutrisi dalam budidaya tanaman secara hidroponik pada
berbagai umur dan jenis tanaman. Sensor kelembaban
dipasang pada media tanam sebagai bagian dari sistem
kendali tersebut (Suhardiyanto et al. 2006). Apabila
sensor tersebut aktif maka PLC akan melakukan
perintah sesuai dengan hasil pengukuran oleh sensor
tersebut dan berdasarkan program yang telah dimuat
kedalam PLC. Sistem kendali pemberian larutan nutrisi
berbasis PLC yang dikembangkan telah menunjukkan
2
kinerja yang baik untuk mengontrol pemberian larutan
nutrisi pada tanaman melalui jaringan irigasi tetes. Hal
ini ditunjukkan oleh volume larutan nutrisi yang lebih
kecil dibandingkan secara manual, walaupun masih
lebih besar dibandingkan kebutuhan air tanaman
(Suhardiyanto et al., 2006).
Pengendalian Lingkungan Pertumbuhan Tanaman
Faktor lingkungan berperan penting dalam
pertumbuhan tanaman. Faktor lingkungan yang
mempengaruhi pertumbuhan tanaman hidroponik di
dalam greenhouse antara lain adalah temperatur udara,
kelembaban udara, temperatur larutan nutrisi, dan pH
larutan nutrisi. Pengendalian temperatur udara di dalam
greenhouse di daerah tropika dilakukan dengan
mempertahankan temperatur agar tidak terlalu tinggi.
Salah satu cara pendinginan udara adalah dengan
pengkabutan bertekanan tinggi, yang dapat menurunkan
temperatur antara 5-14 oC dan sangat efektif untuk
meningkatkan kelembaban relatif udara dalam
greenhouse. Pengkabutan bertekanan tinggi lebih efektif
dibandingkan dengan pendinginan menggunakan kipas
ataupun pad (Mastalerz, 1977).
Temperatur di sekitar akar (root zone)
merupakan salah satu faktor penting yang
mempengaruhi pertumbuhan akar serta penyerapan air
dan ion-ion esensial. Temperatur root zone yang
optimum tergantung pada jenis tanaman, tetapi pada
umumnya 20 oC (Jones, 2005). Derajat keasaman
larutan nutrisi yang optimal adalah pada kisaran 5,5 –
6,5. Pada kisaran tersebut daya larut unsur-unsur hara
makro dan mikro sangat baik. Bila nilai pH kurang dari
5,5 atau lebih dari 6,5 maka komposisi unsur hara dalam
larutan nutrisi tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Bahkan, unsur hara mulai mengendap sehingga tidak
dapat diserap oleh tanaman (Sutiyoso, 2003).
Tanaman menyerap unsur hara tidak dalam
jumlah yang seimbang, sehingga mengakibatkan
perubahan nilai pH pada larutan nutrisi. Untuk
mengatasinya dapat dilakukan pengontrolan nilai pH
dengan menetapkan set point pH larutan nutrisi,
kemudian dilakukan perbandingan untuk melihat
perubahan pH dari hasil pengukuran dengan set point,
bila terjadi selisih maka perlu ditambahkan larutan asam
atau basa (Glass et al., 1987; Wollenweber, 1997;
Chadirin, 1998).
METODOLOGI
Jaringan Hidroponik dan Instalasi Pengkabutan
Sistem hidroponik yang digunakan adalah ebb
and flow. Tanaman bunga krisan dalam pot diletakkan
pada bak perendaman. Perendaman tanaman dikontrol
menggunakan water level controller yang terletak pada
bak perendaman yang dihubungkan ke PLC. Setelah
larutan nutrisi merendam akar tanaman selama jangka
waktu tertentu, larutan nutrisi dikembalikan ke bak
pendingin melalui katup solenoid dengan metode
gravitasi.
Instalasi pengkabutan digunakan untuk
menurunkan temperatur udara dan menjaga kelembaban
udara di dalam greenhouse. Kelembaban udara yang
baik untuk pertumbuhan tanaman krisan adalah 70%
(Rukmana dan Mulyana, 1997). Pengkabutan dilakukan
dengan menggunakan air yang dipompa dan
disemprotkan melalui nozel sehingga dihasilkan
butiran-butiran air yang sangat lembut. Nozel ini
ditempatkan pada ketinggian tertentu di atas bak
penanaman dan dikendalikan oleh PLC dengan input
berupa nilai kelembaban udara yang diperoleh dari
pengukuran.
Dengan menjaga derajat keasaman larutan
nutrisi pada batas optimum maka tanaman akan dapat
menyerap nutrisi dengan baik. Sistem kendali yang
dikembangkan dalam penelitian ini menjaga agar derajat
keasaman larutan nutrisi berada pada pH antara 6,0
sampai 6,5. Nilai EC (Electrical Conductivity) larutan
nutrisi yang akan didistribusikan ke bak perendaman
adalah antara 1.5-2.0 mS. Larutan nutrisi tersebut
kemudian didinginkan sehingga mencapai temperatur
25 oC. Pendinginan larutan nutrisi dilakukan dengan
menggunakan sebuah mesin pendingin dengan daya 95
Watt. Pengoperasian mesin pendingin dikendalikan
sesuai dengan set point temperatur yang ditetapkan.
Temperatur larutan nutrisi diukur menggunakan
termokopel yang dihubungkan ke modul input PLC.
Rancang Bangun Perangkat Keras dan Perangkat
Lunak PLC
Rancangan fungsional menjadi landasan
pembuatan rancangan perangkat keras. Gambar 1
merupakan diagram blok dari rancangan fungsional
sistem kendali. Rancang bangun perangkat keras
meliputi rancang bangun kelistrikan yang digunakan
untuk menghubungkan seluruh komponen input, output
dan PLC. Komponen penyusun perangkat keras terdiri
dari relay-relay, kontaktor, adaptor, PLC (merk
OMRON tipe CPM1-20CDR-A series), display
temperatur, sensor kelembaban udara, sensor pH, mesin
pendingin, pompa air, temperature controller, water
level controller dan solenoid valve. Sistem kendali
diaktifkan terus menerus selama pengujian.
Rancang bangun perangkat lunak dilakukan
dengan menyusun program pengendalian untuk PLC.
Bahasa yang digunakan untuk memprogram PLC adalah
Ladder Diagram yang dibuat menggunakan program
CX Programmer v.2.1 OMRON Corporation. Perangkat
lunak dibuat melalui personal computer, kemudian
ditransfer ke PLC dan disimpan dalam CPU PLC untuk
mengendalikan PLC.
Sistem kendali dijalankan sesuai dengan
algoritma yang dibangun, yaitu sebagai berikut:
1. Jika sensor temperatur udara di dalam
greenhouse membaca nilai temperatur di atas
set point maka sistem pengkabutan akan
bekerja dan jika temperatur tersebut sama atau
di bawah set point maka sistem pengkabutan
akan tidak bekerja.
3
Gambar 1. Diagram blok rancangan fungsional
2.
Jika sensor temperatur larutan nutrisi membaca
nilai temperatur di atas set point maka mesin
pendingin larutan nutrisi akan bekerja dan jika
temperatur tersebut sama atau di bawah set
point maka mesin pendingin larutan nutrisi
akan tidak bekerja.
3. Jika sensor keasaman membaca nilai pH
larutan nutrisi di bawah batas bawah set point
maka katup solenoid larutan basa akan terbuka.
4. Jika sensor keasaman membaca nilai pH
larutan nutrisi di atas batas atas set point maka
katup solenoid larutan asam akan terbuka.
5. Jika sensor kelembaban udara membaca nilai
kelembaban udara di bawah set point maka
sistem pengkabutan akan bekerja dan jika
kelembaban udara sama atau di atas nilai set
point maka sistem pengkabutan akan tidak
bekerja.
Pada sistem ini penjadwalan pemberian larutan
nutrisi dilakukan sesuai dengan jadwal yang biasa
digunakan untuk tanaman krisan yaitu pada masa
pertumbuhan 1 sampai 4 minggu diberikan 3 kali
seminggu dan ketika tanaman berumur 5 sampai 8
minggu diberikan 2 kali seminggu. Sistem kendali
dijalankan setelah tanaman melewati masa vegetatif
yang membutuhkan pencahayaan lebih lama (long day).
Pada minggu ke 0 sampai minggu ke-4 (28 hari)
dilakukan pemberian larutan nutrisi sebanyak 3 kali
seminggu, jadi telah terjadi pemberian larutan nutrisi
pada masa ini sebanyak 9 kali. Memasuki minggu ke-5
sampai minggu ke-8 pemberian larutan nutrisi diberikan
sebanyak 2 kali seminggu. Pemberian larutan nutrisi
dihentikan setelah tanaman memasuki masa colouring
yang terjadi menjelang minggu ke-9, selanjutnya
tanaman hanya diberi air saja hingga menjelang panen.
Tempat dan Waktu Penelitian
Pengujian kinerja pengendali lingkungan
pertumbuhan tanaman bunga krisan pada budidaya
secara hidroponik dengan sistem ebb and flow
dilakukan di PT Saung Mirwan, Cisarua, Bogor pada
bulan September sampai Desember 2006 dan di
Laboratorium Lapangan Leuwikopo, Departemen
Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut
Pertanian Bogor, pada bulan Juni 2007 sampai dengan
bulan Agustus 2007.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengendalian Keasaman Larutan Nutrisi
Tabel 1 menunjukkan rentang nilai pH dan
konversi nilai pH ke bilangan biner. Pada awal
pengujian, nilai pH larutan nutrisi adalah 6.4 yaitu sama
dengan nilai pH larutan nutrisi yang biasa diberikan
pada tanaman krisan. Nilai pH tersebut masih berada
dalam rentang nilai set point, sehingga tidak ada bukaan
katup solenoid baik katup larutan asam maupun larutan
basa. Penyerapan unsur hara oleh akar tanaman
menyebabkan terjadinya perubahan nilai pH pada
larutan nutrisi. Sesudah itu, dilakukan pengukuran
terhadap keasaman larutan dan diperoleh pH 5.257.
Nilai ini berada dibawah nilai set point (6.0-6.5),
sehingga dilakukan koreksi dengan menaikkan nilai pH
menjadi 6.017 dengan menambahkan 0.2 mol larutan
4
sampai pada pH tersebut. Gambar 2 memperlihatkan
penurunan pH menjadi 6.5 dan kenaikan pH menjadi 6.0
dengan pembukaan katup larutan asam maupun katup
larutan basa.
KOH. Dalam hal ini tercatat, katup basa membuka 75
kali. Kemudian sistem diuji coba dengan menurunkan
pH larutan nutrisi dari 6.755 menjadi 6.505, dengan
membuka katup larutan asam yang berisi 1.5 mol mol
H3PO4. Ternyata katup asam membuka 23 kali untuk
Tabel 1. Rentang nilai pH dan konversi nilai pH ke dalam bilangan biner
Rentang pH
Desimal
Biner
4.000
<x≤
4.016
0
00000000
4.017
<x≤
4.032
1
00000001
4.033
<x≤
4.048
2
00000010
4.049
<x≤
4.064
3
00000011
4.065
<x≤
4.080
4
00000100
4.081
<x≤
4.096
5
00000101
4.097
<x≤
4.112
6
00000110
4.113
<x≤
4.128
7
00000111
………
.........
…….
….
…………
………
.........
……..
…..
…………
………
........
…….
….
…………
7.937
<x≤
7.952
246
11110110
7.953
<x≤
7.968
247
11110111
7.969
<x≤
7.984
248
11111000
7.985
<x≤
8.000
249
11111001
Keasam an (pH)
7
6.5
6
Kenaikan asam menuju
basa
5.5
5
Penurunan basa menuju
asam
4.5
4
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80
Kejadian Buka Katup
Gambar 2. Grafik keasaman larutan nutrisi dalam rentang set point.
Tabel 2. Hasil pengujian sistem pendinginan larutan nutrisi
Minggu
0–4
(28 hari)
5-9
( 28 hari )
*)
Tanggal
12-30 Oktober 2006
31 Okt–2 Nov 2006 *)
2 -7 November 2006
8-10 November 2006
11- 16 November 2006
17-23 November 2006
24 -28 November 2006
29-30 November 2006
1-5 Desember 2006
Frekuensi aktifnya
sistem pendingin
larutan nutrisi (kali)
21
40
30
82
20
11
8
8
Durasi aktifnya sistem
pendingin larutan
nutrisi (menit)
44
80
117
136
62
20
6
4
Sistem tidak bekerja karena mengalami gangguan
5
Tabel 3. Hasil pengujian sistem pengaduk laturan nutrisi
Minggu
0-4
(28 hari)
5-9
(28 hari )
*)
Tanggal
12-30 Oktober 2006
31 Okt–2 Nov 2006 *)
2 -7 November 2006
8-10 November 2006
11- 16 November 2006
17-23 November 2006
24 -28 November 2006
29-30 November 2006
1-5 Desember 2006
Frekuensi aktifnya
sistem pengaduk
larutan nutrisi (kali)
27
18
10
24
2
2
100
2
Durasi aktifnya sistem
pengaduk larutan
nutrisi (menit)
13
9
5
12
1
1
50
1
Sistem tidak bekerja karena mengalami gangguan
Tabel 4. Hasil pengujian sistem pengendalian temperatur dan kelembaban udara di dalam greenhouse
Kejadian
Durasi rata-rata
Durasi total
aktifnya
Minggu
tiap pengkabutan
Tanggal
pengkabutan
pengkabutan
ke(detik)
(kali)
4
10 Agustus 2007
345
3 jam 4 mnt 38 det
32
11 Agustus 2007
385
3 jam 24 mnt 32 det
32
13 Agustus 2007
406
4 jam 7 mnt 40 det
36.6
24 Agustus 2007
287
1 jam 40 menit
20.9
25 Agustus 2007
351
3 jam 7 mnt 40 det
32.1
7
14 Agustus 2007
331
2 jam 49 mnt 51 det
30.7
15 Agustus 2007
409
2 jam 15 mnt 32 det
19.9
16 Agustus 2007
414
3 jam 10 mnt 23 det
27.6
17 Agustus 2007
400
4 jam 35 mnt 10 det
41.3
21 Agustus 2007
73
30 mnt 47 det
25.3
22 Agustus 2007
326
1 jam 55 mnt 2 det
21.2
23 Agustus 2007
225
1 jam 24 mnt 30 det
22.5
Pendinginan Larutan Nutrisi
Sistem pendingin larutan nutrisi yang
diujicobakan terdiri dari termokopel yang dihubungkan
ke PLC melalui temperature level controller yang
memerintahkan PLC untuk mengaktifkan sistem
pendingin larutan yang terdiri dari elemen keramik
pendingin apabila temperatur melebihi set point yang
ditetapkan. Tabel 2 menunjukkan kinerja sistem
pendinginan larutan nutrisi.
Pengadukan Larutan Nutrisi
Pompa pengaduk larutan nutrisi yang
dikembangkan akan aktif pada setiap ada kejadian
aktifnya katup solenoid larutan asam dan larutan basa,
aktifnya katup solenoid dan pompa pemberi larutan
nutrisi dari tangki menuju bak tanaman, aktifnya katup
solenoid dan pompa pengembalian larutan nutrisi dari
bak tanaman menuju tangki. Pompa pengaduk diberi
waktu 30 detik setiap melakukan aktifitasnya, setelah
30 detik secara otomatik pompa pengaduk akan
berhenti bekerja dengan sendirinya. Unjuk kerja dari
sistem pengaduk larutan nutrisi disajikan pada Tabel 3.
Pengendalian Temperatur dan Kelembaban Udara
di dalam Greenhouse
Pengendalian temperatur dan kelembaban
udara di dalam greenhouse dilakukan dengan cara
pengkabutan.
Sistem
pengkabutan
tersebut
dihubungkan ke PLC melalui temperature level
controller yang memerintahkan PLC untuk melakukan
pengkabutan apabila temperatur udara melebihi nilai
set point atau nilai kelembaban udara berada di bawah
nilai set point. Nilai set point temperatur adalah 30 oC
dan nilai set point kelembaban adalah 70 %. Data hasil
monitoring sistem kendali temperatur dan kelembaban
udara di dalam greenhouse dapat dilihat pada Tabel 4.
Pada sistem kendali untuk umur tanaman 4
minggu, hari ke-1 pada pukul 17.00 terjadi mati listrik
selama 1 jam, maka pada saat arus listrik kembali
mengalir, dilakukan tambahan waktu 1 jam melalui
pulsa counter manual dengan cara on/off 1 kali pada
saklar manual. Hasil unjuk kerja sistem kendali
menunjukkan kejadian on/off dan durasi aktifnya
sistem
pengkabutan.
Pengkabutan
untuk
mengendalikan kelembaban udara tidak sepenuhnya
mengendalikan kelembaban udara seluruh greenhouse
akan tetapi hanya mengendalikan kelembaban udara di
sekitar meja perendaman atau di sekitar objek
percobaan.
Kelembaban udara dipengaruhi oleh faktor
cuaca, yaitu intensitas cahaya dan kecepatan angin.
Selain
itu,
evapotranspirasi
tanaman
juga
mempengaruhi
kelembaban
udara.
Hal
ini
mempengaruhi durasi dan banyaknya kejadian on/off
pompa pengkabutan. Seperti terlihat pada Tabel 4,
6
kejadian on/off pengkabutan pada tanggal 21 Agustus
2007 terjadi paling sedikit dibandingkan dengan hari
yang lain karena pada hari tersebut cuaca mendung dan
hujan. Temperatur udara rata-rata pada saat sistem
berjalan tercatat antara 27-29 oC, sedangkan rata-rata
kelembaban udara tercatat antara 73-80 %. Selang
temperatur dan kelembaban udara tersebut tergolong
baik bagi pertumbuhan tanaman krisan karena tanaman
krisan akan tumbuh baik pada temperatur 20-26 oC,
tetapi masih dapat tumbuh pada toleransi temperatur 30
o
C dan dengan kelembaban udara 70-80 %.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Rancang bangun sistem kendali berbasis PLC
untuk pengendalian derajat keasaman dan
temperatur larutan nutrisi, temperatur dan
kelembaban udara di dalam greenhouse, dan
pemberian larutan nutrisi secara terjadwal telah
berhasil dibuat.
2. PLC dapat beroperasi sesuai dengan program
yang dibuat, yaitu mengendalikan derajat
keasaman dan temperatur larutan nutrisi,
temperatur dan kelembaban udara di dalam
greenhouse sesuai dengan set point yang
ditetapkan,
serta
dapat
menjadwalkan
pemberian larutan nutrisi secara otomatik.
3. PLC tidak dapat merekam atau menyimpan
data temperatur larutan nutrisi dan kelembaban
udara serta nilai pH larutan nutrisi.
Saran
1. Perlu penelitian lebih lanjut untuk memperluas
fungsi sistem dengan kemampuan merekam
data temperatur dan derajat keasaman larutan
nutrisi, kelembaban udara serta data
lingkungan pertumbuhan tanaman yang lain.
2. Perlu dikembangkan sistem kendali jarak jauh
untuk pengendalian dan pengontrolan berbasis
PLC untuk budidaya tanaman secara
hidroponik.
DAFTAR PUSTAKA
Glass, A.D.M., M. Saccomaci, Crookall.G., M.Y.
Siddiqi. 1987. A Microcomputer-Controlled
System for the Automatic Measurement and
maintenance of Ion Activities in Nutrient
Solution during Their Absorption by Intact
Plants in Hydroponics Facilities. Plant, Cell
and Environment 10:375-381.
Jones, J. B. 2005. Hydroponics A Practical Guide for
the Soilless Grower. Second Edition. CRC
Press. United State.
Mastalerz, J. W. 1977. The Greenhouse Environment.
John Wiley & Son, Inc. United State of
America.
Setiawan, I. 2006. Programmable Logic Controller
(PLC) dan Teknik Perancangan Sistem
Kontrol. Andi. Yogyakarta.
Suhardiyanto, H., A. Sapei, C. Arief, A. Mardjani,
B.D. Astuti. 2006. Sistem Kendali Berbasis
PLC untuk Pengaturan Pemberian Larutan
Nutrisi pada Jaringan Irigasi Tetes, Jurnal
Ilmiah Ilmu Komputer 4(2): 42-47.
Swainston, F. 1991. A Systems Approach to
Programmable
Controller.
Newnes.
Butterworth-Heineman Ltd.
Rimando, T. J. 2001. Ornamental Horticulture a Little
Giant in the Tropics. SEAMEO regional
Center for Graduate Study and Research in
Agriculture. Republic of the Philippines.
Rukmana dan Mulyana. 1997. Krisan. Kanisius.
Yogyakarta.
Tatum, D., and K. Crouse. 2005. Soil pH and
Fertilizers.
http://www.
msucares.com/pubs/infosheets/is0372.pdf. [17
Mei 2008].
Yulianto, Anang. 2006. Panduan Praktis Belajar PLC
(Programmable Logic Controller). PT. Elex
Media
Komputindo.
Jakarta.
7
Fly UP