...

Nurliana Yusuf - rudyct`s Academic Page

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Nurliana Yusuf - rudyct`s Academic Page
@ 2004 Nurliana
Makalah pribadi
Pengantar ke Falsafah Sains (PPS 702)
Sekolah Pascasarjana/S3
Institut Pertanian Bogor
Oktober, 2004
Dosen :
Prof.Dr.Ir. Rudy C. Tarumingkeng
Prof.Dr.Ir. Zahrial Coto
Dr.Ir.Hardijanto
TINJAUAN TERHADAP PERAN HACCP (HAZARD ANALYSIS
CRITICAL CONTROL POINT) DALAM MENGENDALIKAN
BAHAYA KIMIA PADA MAKANAN
Oleh
Nurliana
Nrp. B063040061
email: [email protected]
Pendahuluan
Semua orang sudah kenal apa itu HACCP, khususnya bagi mereka
yang berkecimpung di bidang pangan, dan lebih khusus lagi bahan pangan
asal hewan. Begitu pentingnya makanan dan keamanannya bagi kehidupan
manusia, sehingga tidak habis-habisnya peran HACCP menjadi perhatian dan
pembicaraan umum sebagai suatu alat yang digunakan untuk mengontrol
bahaya. HACCP (hazard analysis critical control point) adalah suatu prosedur
untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengontrol bahaya-bahaya, secara
langsung beresiko yang berasal dari makanan. Semua jenis makanan yang
menyebabkan penyakit manusia atau yang lebih dikenal dengan istilah food
borne disease, apapun penyebabnya (Redmond dan Griffith, 2003), baik
penyebab yang bersifat mikrobiologi (mikroba patogen), fisik maupun kimia,
serta biotoksin.
Bahaya kimia bagi HACCP pada awalnya tidak menjadi perhatian yang
khusus apabila ditinjau pada saat pertama kali dikeluarkannya sistem ini yaitu
yang berfungsi sebagai pengontrol keamanan pangan (food safety). Prosedur
HACCP lebih terfokus pada bahaya dari segi mikrobiologi dan fisik bahan
pangan, walaupun sebenarnya sistem ini sesuai untuk semua kelas bahaya,
termasuk bahaya kimia. Dulunya HACCP digunakan terbatas untuk
mengontrol bahaya kimia pada peralatan yang tidak berhubungan dengan
cara berproduksi atau bahaya kimia yang berkaitan langsung dengan para
pekerja pada suatu pabrik yang tidak berhubungan dengan pangan.
Oleh karena akhir-akhir ini banyak pendapat yang menyatakan bahwa
tingginya prevalensi penyakit pada hewan dan manusia baik secara langsung
maupun tidak langsung disebabkan oleh residu kimia berbahaya yang ada
dalam makanan, sehingga timbul keinginan penulis untuk mengupas lebih
mendalam tentang bahaya kimia dan kontrol yang dilakukan oleh suatu
system yang disebut HACCP. Oleh sebab itu dalam tulisan akan dijelaskan
bagaimana sebenarnya fungsi atau aplikasi HACCP untuk mengontrol bahaya
kimia yang mengkontaminasi makanan, serta mengidentifikasi cara-cara
pendekatan yang baik,ditinjau dari keefektifan, efisien dan secara ekonomi.
Akhirnya didapat prosedur yang sistimatis dari HACCP untuk mengontrol
bahaya kimia dalam berproduksi yang baik dan benar dari produsen sampai
ke konsumen.
Definisi HACCP
Pengertian singkat dari Hazard analysis critical control point (HACCP)
adalah maksud dari menjamin keamanan pangan. Menurut Codex
Alimentarius Commission 1997, HACCP adalah suatu sistem yang
mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan bahaya-bahaya yang
signifikan dalam keamanan pangan. HACCP menjadi begitu penting sebagai
suatu komponen dari cara-cara berproduksi pangan secara komersil,
misalnya di bidang pertanian dan produksi.
Secara umum HACCP digunakan untuk menetapkan suatu bingkai
atau sistem untuk menjalankan bagaimana implementasi dari prosedur
HACCP di setiap sektor yang dapat digunakan untuk mengembangkan
jaminan setiap rantai penyediaan mulai dari prosedur penyediaan pangan
mentah atau proses penyediaan makanan sampai ke konsumen. Pada setiap
perusahaan atau industri makanan menggunakan sistem HACCP sebagai
salah satu sistem dan erat kaitannya dengan sistem yang lain seperti GMP
(Good Manufacturing Practices), ISO (International Organization for
Standardization) dan standar-standar lain yang berlaku di negara
bersangkutan dengan tujuan untuk menjamin kualitas makanan (van der
Spiegel et al., 2003)
Deskripsi, Tujuan dan Prasyaratan dasar HACCP
Pada sektor yang diawali dari produsen sampai ke konsumen dalam
suatu rantai penyediaan makanan, maka gambaran prosedur penanganan
ditempatkan ke dalam sistem HACCP. Semua departemen atau bagian yang
berkaitan dengan makanan harus bertanggung jawab pada masing-masing
bagian seperti pembelian, transportasi, penyimpanan, marketing,
pengolahan dan pengeceran. Menurut Codex Allimentarius Commission
(1993), beberapa tujuan HACCP yang direkomendasikan mencakup deskripsi
suatu produk, termasuk semua detail-detail yang relevan mengenai
komposisi, aditif, tahap-tahap produksi, cara penanganan dan sampai ke
tahap akhir, dan harus dihasilkan untuk semua bahan makanan dalam
berbagai pertimbangan.
Begitu rumitnya komponen-komponen yang ada pada rantai
penyediaan makanan sejak dari bagian produsen sampai ke konsumen,
menyebabkan mereka membuat suatu bagan kerja yang gampang untuk
didiskusikan secara umum, yaitu dari aplikasi HACCP kimia pada bagian
perdagangan besar, distribusi, penyimpanan dan pengecer.
Sebelum kita melihat bahaya kimia apa saja yang dapat
mengkontaminasi bahan makanan, maka kita harus mengetahui komponenkomponen yang memungkinan bahaya kimia mengkontaminasi selama
pengananan makanan.
Menurut Ropkins dan Beck (2003), prosedur
penanganan dari produsen sampai ke konsumen menampilkan suatu
gambaran yang terdiri dari beberapa komponen, yaitu sebagai berikut :
• Deskripsi bahan makanan yang dibeli (jenis, jumlah, prosedur
penyediaan dan jaminan kualitas/dokumentasi control
• Pencatatan prosedur transportasi dari mulai penyediaan sampai ke
tempat penyimpanan dari pengecer
• Pencatatan prosedur penyimpanan di tempat pengecer
• Pencatatan prosedur di tempat pengecer
• Berbagai campuran yang digunakan untuk mengolah bahan makanan
selama penjualan (di restoran atau kafe)
• Informasi lain yang berkaitan dengan penanganan dan jaminan
keamanan bahan makanan di bawah pengawasan
• Gambaran aktivitas lain yang bisa mempengaruhi jaminan keamanan
bahan makanan dibawah pengawasan
Gambaran produk HACCP biasanya digunakan untuk membuat suatu
diagram alir urutan semua produksi untuk membuat satu dokumentasi yang
dapat diterima (Bryan, 1992 yang disitasi oleh Ropkins dan Beck , 2003), dan
mudah diimplementasikan serta gampang dimengerti prosedur-prosedurnya.
Prasyaratan HACCP yang lain sejak dari produsen sampai ke
konsumen adalah sebagai berikut :
• Kesehatan lingkungan kerja
• Standard operating procedures (SOPs) prosedur penanganan
• Program-program pelatihan
• Pemeliharaan kesehatan rutin, peralatan dan prosedur aturan
pembuangan
Prosedur HACCP
HACCP merupakan suatu alat manajemen bahaya.
Gambaran
prosedur penanganan dan prasyarat membentuk infrastruktur didalamnya,
dimana prosedur HACCP dapat dikembangkan dan diimplementasikan
(Untermann, 2000).
Untuk menghasilkan produk makanan yang aman dari berbagai
bahaya maka setiap prosedur pelaksanaan didasarkan pada tujuh prinsip
atau tahap dasar yang dikeluarkan oleh Codex (Forsythe dan Hayes, 1998;
Ropkins dan Beck, 2000a), yaitu :
• Prinsip 1 : Analisis bahaya
• Prinsip 2 : Identifikasi titik kendali proses (CCP)
• Prinsip 3 : Penetapan batas kritis
• Prinsip 4 : Penetapan prosedur pemantauan titik kendali kritis (CCP)
• Prinsip 5 : Penetapan tindakan koreksi
• Prinsip 6 : Penetapan prosedur verifikasi
• Prinsip 7 : Penetapan prosedur system rekaman dan dokumentasi
Selanjutnya prinsip-prinsip HACCP dikembangkan sesuai bahaya
kimia yang mungkin terpapar, karena tujuh prinsip dasar tersebut
kemungkinan tidak sesuai dengan pengguna yaitu masyarakat secara
langsung. Contoh model diagram alir yang diterapkan oleh tempat
pengolahan makanan di Inggris (hanya mengaitkan pada 5 prinsip HACCP),
dapat dilihat pada gambar 1.
Selanjutnya penetapan dari prasyarat utama untuk perkembangan
prosedur HACCP juga menyebabkan pengembang-pengembang HACCP
lebih memfokuskan pada bahan pangan dan proses penanganan melalui
investigasi, khususnya terhadap isu-isu keamanan makanan pada semua
proses.
HACCP adalah suatu alat untuk perkembangan dan implementasi dan
pengelolaan prosedur jaminan keamanan yang efektif (Ropkins dan Beck,
2000a). Alat ini semakin diminati oleh semua perusahaan terutama
perusahaan makanan, mulai dari produser, manufactur, distributor dan
retailer. Aplikasi prosedur HACCP telah juga direkomendasikan secara luas di
negara-negara berkembang, seperti Thailand dan Indonesia. Walaupun pada
awalnya prosedur tersebut didiamkan saja, namun sekarang HACCP sudah
semakin popular. Sulitnya penerapan prosedur HACCP karena kendala
budaya dan bahasa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Thailand
(Ropkins dan Beck, 2000a) menyebut beberapa kendala-kendala yang
dihadapi diantaranya :
- Pendidikan dan training, kurangnya pendidikan dan tidak adanya
pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh perusahaan makanan, ini
menjadi masalah, khususnya identifikasi bahaya dan aktivitas
penilaian
- Dokumen HACCP tidak ditemukan dalam bahasa setempat
- Informasi bahaya masih terbatas. Tidak adanya catatan tentang
laporan kejadian atau kasus penyakit yang disebabkan oleh
bahaya-bahaya dari makanan.
Skema urutan khusus untuk
implementasi HACCP
Persiapan:bagian
audit
5 prinsip HACCP
Skema secara rutin yang digunakan
dari Prosedur HACCP
Pertemuan tim HACCP
Monitoring CCPs
secara rutin
Menggambarkan produk
(kandungan dan tahaptahap proses)
apakah CCPs dalam
batas-batas yang dapat
diterima ?
Memperkenalkan
penggunaan yang
diharapkan dan target
pemakai
Ya
tidak
dokumen
dokumen
Menyusun diagram alir
Penerapan tindakan koreksi
Mensahkan diagram alir
Pada tempatnya
Mengidentifikasi semua
resiko yang memungkinkan
dan daftar ukuran-ukuran
kemungkinan pencegahan
Mengidentifikasi CCPs
(pohon putusan HACCP)
1. Analisis Bahaya
pada bahan
makanan
Efektifkah tindakan koreksi
Ya
2. Identifikasi
semua titik
terjadinya bahaya
dokumen
dokumen
3. Identifikasi CCPs
Review dan perbaikan
prosedur HACCP
Membuat batas-batas dan
toleransi untuk setiap CCPs
Menentukan peralatan
monitoring untuk setiap CCPs
tidak
4. Penerapan
kontrol dan
monitoring pada
Mengidentifikasi tindakan
koreksi untuk setiap control
yang hilang pada CCPs
secara individual
Prosedur implementasi
dokumen dan mengusulkan
pengembangan prosedur
HACCP
5. Review CCPs
secara periodik,
kontrol dan
monitoring
Review secara periodic
untuk mengetahui
efektifitas penerapan
HACCP
Gambar 1. Skema penerapan 5 prinsip HACCP dalam prosedur HACCP
Prosedur HACCP diperlukan dalam aktivitas keamanan makanan
untuk mengidentifikasi tahap-tahap kritikal operasional dan mendapatkan cara
untuk mengendalikannya (Ropkins dan Beck, 2000b). Pendekatan tersebut
dituangkan menjadi 5 prinsip yang dikembangkang sesuai untuk HACCP,
yaitu :1) analisis bahaya pada bahan makanan, 2) identifikasi semua point
atau setiap tahap pelaksanaan dimana bahaya-bahaya bisa terpapar, 3)
identifikasi kritikal point keamanan pangan (CCPs), 4) implementasi dalam
pengendalian dan prosedur monitoring pada CCPs, dan 5) Secara priodik
melakukan review bahaya pada makanan, CCPs, pengendalian dan
monitoring untuk keberhasilan jaminan selanjutnya.
Pengembangan prinsip HACCP yang dapat digunakan pada tingkat
masyarakat dengan memasukkan dalam daftar pertanyaan pada pohon
penetapan keputusan bahan makanan dan cara produksi makanan, yang
dapat dilihat pada gambar 1.
Untuk setiap bahan makanan atau prosedur
Dapatkah bahan makanan sebelumnya terkontaminasi atau dapatkah
secara nyata prosedur menghasilkan bahaya kimia yang membahayakan
konsumen?
ya
tidak
Akankah penanganan berikutnya, termasuk koreksi
pemakaian konsumen, menjamin eliminasi atau
kontaminan atau mereduksi sampai ke level yang aman
ya
Pengulangan bagi sisa bahan
makanan dan prosedur
Pengulangan bagi sisa bahan
makanan dan prosedur
tidak
Bahan makanan atau
prosedur harus di pandang
sebagai CCP
Penetapan monitoring dan
prosedur kontrol sebagai CCP
Gambar 1. Diagram Alir Pohon Penetapan Keputusan untuk Bahan
Makanan dan Prosedur Produksi Makanan
Bahaya Kimia
Bahaya-bahaya kimia pada makanan sebenarnya sudah sejak lama
didiskusikan dan dikembangkan yaitu pada saat timbulnya penyakit-penyakit
yang mengakibatkan kematian karena mengkonsumsi makanan yang
tercemar dengan berbagai macam zat kimia yang berbahaya. Permasalahan
yang ditimbulkan adalah kadang-kadang terjadinya penyakit tidak langsung
menimbulkan efek, tetapi karena zat kimia tersebut terpapar cukup lama dan
dengan level rendah. Menurut Snyder dan Juneja (2000), bahaya-bahaya
kimia dalam makanan termasuk senyawa kimia makanan tersebut, bila
dikonsumsi dengan jumlah tertentu menyebabkan terhambatnya penyerapan
atau merusak nutrisi dalam makanan, juga bersifat karsinogenik, mutagenic
dan terotogenik, atau bersifat toksik yang menyebabkan manusia sakit atau
bahkan kematian karena efek biologinya pada tubuh.
Begitu banyaknya gangguan kesehatan yang berkaitan dengan
kontaminan kimia, seperti meningkatnya kepekaan kulit dan saluran
pernafasan, karsinogenik,mutagenik dan keracunan saluran reproduksi.
Bahan makanan bisa saja terpapar oleh kimia berbahaya dalam jangka waktu
yang lama, tetapi dengan jumlah yang sedikit, sehingga tanpa terasa
konsumen sakit akibat keracunan kimia dengan dosis yang besar (Okeeffe
dan Kennedy, 1998).
Pada dasarnya zat-zat kimia yang berbahaya bukan karena
toksik,mudah terbakar atau yang lainnya, tetapi bahaya yang potensial adalah
seberapa besar derajat terpapar bagi yang terkontaminasi (Penuntun
pencegahan dan pengendalian bahaya kimia, 2004). Dalam system HACCP
perlu diketahui berbagai macam bahaya kimia dan bagaimana cara
mengkontaminasi makanan. Menurut Ropkins dan Beck (2000), cara yang
paling mudah atau metode untuk mengontrol bahaya kimia pada makanan
adalah diawali dengan mengenalkan bahaya-bahaya kimia pada sektor
domestik di lingkungan rumah tangga serta meningkatkan pengetahuan
masyarakat tentang jenis-jenis kimia yang berbahaya yang dapat ditularkan
melalui makanan.
Bahaya kimia dapat dibagi 2, yaitu bahaya kimia yang terjadi secara
alami dan bahaya kimia karena penambahan, yang keduanya dapat terjadi
karena mengkontaminasi makanan, contohnya :
- secara alami dapat terjadi : mikotoksin (misalnya aflatoksin) dari
kapang; skombrotoksin (histamin) dari dekomposisi protein;
siguatoksin dari dinoflagelata laut; spesies jamur beracun (toksik
mushroom); shellfish toksin; toksin-toksin tanaman.
- Bahan kimia pertanian, seperti pestisida, fungisida, pupuk, insektisida,
antibiotik dan hormon pertumbuhan; polychlorinated biphenyls (PCB);
bahan kimia asal industri; logam berat; bahan imbuhan pangan (food
additives).
Berdasarkan bentuk senyawanya bahaya kimia dalam system HACCP
telah membedakan bahaya kimia tersebut, yaitu anorganik dan organik.
- Bahaya kimia inorganik adalah metal, dan senyawa-senyawa seperti
merkuri, copper, iron oxide, lead sulphate, zinc phosphate; asam inorganik
seperti asam sulfur, asam hidroklorik, asam nitric; alkalis inorganik seperti
sodium hydroxide, potassium hydroxide; non metal seperti carbon,
sulphur,nitrogen, chlorine, bromine, hydrogen; dan gas-gas inorganic
seperti CO,CO2, Ammonia, H2S.
- Bahaya Kimia organik. Pada umumnya kimia organik adalah senyawasenyawa yang terdiri dari satu atau lebih atom karbon. Kimia organik yang
hanya terdiri dari atom carbon dan hydrogen disebut hidrokarbon.
Senyawa organik dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya yang
berikatan dengan rantai karbon.
Walaupun senyawa kimia tersebut secara alami ada di alam atau
berinteraksi dengan makanan, namun perlu kiranya diperkenal kepada
masyarakat bagaimana cara kontaminasi bisa terjadi. Apapun cara yang
terjadi dan bagaimana bahan kimia tersebut bisa ada pada makanan, itulah
yang perlu diketahui, “mengapa?”.
Mungkin pertanyaan tersebut timbul
setelah dampak yang terjadi akibat bahaya kimia tersebut pada manusia.
Ropkins dan Beck (2000) telah mengklasifikasikan bahaya kimia
secara umum ke dalam tiga kelas (berdasarkan paparannya atau cara
kontaminasi terjadi), yaitu i) residual chemical : kontaminan memang sudah
ada di dalam ataupun di permukaan makanan pada saat dibeli, beberapa
kontaminan ada dari hasil paparan atau rentesi senyawa kimia pada berbagai
tahap produksi makanan (pemberian bahan kimia pertanian seperti pestisida,
antibiotik dan fumigant), akhir-akhir ini menjadi fokus masyarakat karena
dampak yang ditimbulkannya. ii) introduced chemicals: paparan kontaminan
pada makanan terjadi setelah dibeli, bisa terjadi pada saat perjalanan,
penyimpanan, penanganan ataupun pengolahan, sepert jenis kimia pencuci,
desinfektan, juga bahan lain seperti cat, dll. iii) generated chemicals,
kontaminan dibentuk dalam makanan setelah dibeli, selama penyimpanan
ataupun pengolahan. Pada saat penyimpanan bisa terjadi karena salah
metode penyimpanan (refrigerator yang tidak layak), rusaknya pelindung atau
kontrol yang tidak dilakukan penyalur atau pabrik, selain itu penambahan
bahan tambahan makanan di luar batas yang sudah ditentukan atau sudah
tidak boleh digunakan lagi.
Begitu banyak kontaminan kimia yang potensial pada makanan ada
dimana-mana di alam ini dan dengan mudah bisa masuk pada rantai
makanan pada semua tahap, seperti pada tahap produksi makanan (melalui
pertanian dan pabrik-pabrik makanan), distribusi makanan (transportasi,
penyimpanan
ataupun
penyaluran),
dan
penanganan
makanan.
Kenyataannya pada beberapa kasus, tiga klas cara kontaminasi senyawa
kimia diatas kemungkinan berbeda satu dengan lainnya, dimana bisa saja
satu jenis kontaminan mengkontaminasi makanan dengan berbagai cara,
seperti polycyclic aromatic hydrocarbon, bisa ada dari hasil kontaminasi
residual, introduced dan generated. Konsentrasi polycyclic aromatic
hydrocarbon di udara, air dan makanan relatif sama walaupun itu bisa saja
berubah tergantung sumber polutannya (Asahina, 1972 yang disitasi oleh
Amigo et al., 2002).
Walaupun banyak bahan kimia terpapar pada bahan makanan
dengan berbagai cara,namun Ropkins dan Beck (2003) melengkapi
pembagian kimia organik dalam empat kelas utama yang perlu
dipertimbangkan dalam sistem HACCP, yaitu:
• Residual chemicals.
Kontaminan tersebut memang sudah ada dalam bahan makanan atau
bahan makanan yang terpapar dengan bahan lainnya atau bahan mentah
selama produksi makanan, pengolahan ataupun pengepakan. Idealnya
semua bahan makanan disuplai dengan dokumentasi yang
mengidentifikasikan semua residu potensial yang ada dan semua aktivitas,
prosedur dan pengujian untuk meminimalkan kemungkinan semua bahaya
yang ada tanpa terkecuali. Perhatian terakhir oleh HACCP kimia lebih
memfokuskan pada residual chemicals yang berasal dari pertanian, seperti
pestisida dan hormon pertumbuhan, fumigant dan beberapa toksin alami.
• Applied Chemicals
Ada beberapa kimia yang sengaja ditambahkan pada makanan misalnya
bahan imbuhan makanan (food additives) dan bahan pengawet makanan.
Hanya sedikit bahan-bahan seperti applied chemicals yang digunakan pada
sector penyediaan makanan dari produsen ke konsumen, kecuali selama
transportasi dan penyimpanan yang menggunakan pestisida dan fumigant.
ditambahnya bahan kimia ini bisa juga untuk transportasi ataupun
penyimpanan agar makanan terinfestasi.
• Accidential Chemicals
Terpapar secara tidak sengaja atau kecelakaan. Contoh-contoh termasuk
kotoran-kotoran dalam penambahan bahan kimia dan berpindahnya jenisjenis kimia dari material seperti pada saat pengepakan. Bahan makanan
dapat juga terpapar pada saat penanganan atau kecelakaan local. Bahanbahan kimia yang sering adalah material pembersih, desinfektan, dan cat.
Bahan kimia yang tidak disangka ada dalam makanan seperti produkproduk toksik proses fermentasi atau oksidasi.
• Background Chemicals
Kontaminan jenis ini ada dimana-mana, yang bisa masuk dalam rantai
makanan hampir pada semua tahap produksi makanan. Banyak penelitian
lebih terfokus pada sejumlah kecil kontaminan, seperti policyclic aromatic
hydrocarbon dan polychlorinated biphenyls, dibenzo-p-dioxins dan
dibenzofurans. Sekarang ini kontaminan kelas lain sudah banyak diteliti,
seperti volatile aromatic, chlorinated solvents, benzenes, naphthalenes dan
diphenoquinones, polychlorinated diphenyl ethers, polybrominated dioxins,
biphenyls dan biphenyls ether dan sintetik lainnya. Sebagian besar
digunakan dari sector produser ke consumer, misalnya peralatan rumah,
penyimpanan dan toko-toko retail, sanitasi selama bekerja. Umumnya cara
kontaminan masuk tidak selalu sama. Disamping itu adanya kontaminan
sejalan dengan pencemaran lingkungan, melalui tanah perairan dan hujan.
Namun rute utama dari kontaminasi jenis ini terjadi melalui udara, suplai air
dan kontak dengan permukaan dari peralatan penanganan dan alat-alat
yang lain yang berkaitan dengan penyaluran makanan.
Menurut Daniel et al. (2001), bahaya kimia yang erat kaitannnya
dengan makanan khususnya yang berasal dari bahan pangan asal hewan
(BPAH) adalah residu pestisida/insektisida, residu antibiotik, disruptor hormon
dan kimia yang terpapar selama produksi dan pengolahan.Akhir-akhir ini
penelitian-penelitian
terhadap
senyawa
kimia
berbahaya
yang
mengkontaminasi makanan difokuskan pada substansi yang menimbulkan
resiko penyakit paling besar, seperti : polyclic aromatic hydrocarbon,
polychlorinated biphenyl dan polychlorinated, dibenzo-pdioxins dan
dibenzofurans,volatile aromatic, chlorinated solvents, chlorinated benzene,
chlorinated naphtalenes, polychlorinated diphenyl ethers.
Akibatnya
meningkat pula pengetahuan untuk mengembangkan metode-metode baru
untuk mengidentifikasi secara cepat bahaya kimia tersebut. Seperti yang
dilakukan oleh Amigo et al. (2002) dan Ohura et al. (2002). Metode-metode
tersebut tentunya sangat menunjang dan erat kaitannya penerapan HACCP,
walaupun tidak ada strategi yang jelas untuk mengidentifikasi bahaya-bahaya
kimia tersebut.
Analisis Bahaya Kimia
Analisis bahaya yang diterapkan dalam prosedur HACCP, dapat
digunakan untuk identifikasi bahaya, misalnya skor bahaya secara individu
sampai ke satu skor aman maksimum. Sejumlah prosedur analisis bahaya
sudah digunakan, termasuk karakterisasi bahaya, penilaian bahaya, analisis
resiko semi-kuantitatif dan analisis resiko kuantitatif.
Kontaminan kimia sudah dipilih untuk diinvestigasi, beberapa bentuk dari
analisis bahaya dalam bentuk rumus sudah wajibkan digunakan. Dulunya
analisis bahaya di samakan dengan analisis resiko, namun kemudian
penilaian resiko secara kuantitatif mulai digunakan,terutama untuk bahaya
digunakan berdasarkan metode yang dikemukakan oleh NACMCF, yaitu :
HI =
(Food) kontaminan
MRL kontaminan
HI
: Indeks bahaya
(Food) kontaminan : konsentrasi kontaminan yang dilihat
MRL kontaminan : level residu kontaminan dalam makanan
Level residu pada makanan yang sudah ditetapkan juga harus melalui
berbagai penelitian yang kontinu. Metode-metode penilaian bahaya yang
diterapkan harus bersifat praktis, mudah diinterpretasikan dan efektif serta
hemat biaya. Evaluasi yang diikuti dengan penilaian resiko, untuk menaksir
kejadian bahaya-bahaya kesehatan yang ada dan menyederhahanakan efekefek terhadap kesehatan yang tidak baik (Untermann, 2000) Sebagian besar
bentuk penilaian yang lebih bersifat praktis yaitu gabungan dari beberapa
bentuk analisis secara rutin dapat digunakan, prosedurnya dapat dilihat pada
Gambar 3.
IDENTIFIKASI BAHAYA
PROSEDUR ANALISIS BAHAYA
Kimia yang dipergunakan dan
Identifikasi kotoran
Analisis Resiko Kuantitatif
Kotoran tidak teridentifikasi, residu bahan
mentah dan residu dari lingkungan
Penilaian Semi-kuantitatif dan
Bahaya Kualitatif
Bahaya-bahaya yang berkaitan
dengan pengolahan
Penilaian Semi-kuantitatif dan
Bahaya Kualitatif
Putusan akhir yang berbeda dari Identifikasi Bahaya
Menunjukkan bahaya dalam prosedur bahaya
Gambar 3. Analisis Bahaya Berdasarkan Gabungan Pendekatan Kuantitatif,
Semi-Kuantitatif dan Kualitatif.
Pengendalian bahaya kimia
Penilaian kendali yang lebih sesuai pada sektor produser sampai ke
konsumer, adalah jaminan pada bagian kualitas, jaminan kualitas bahan
makanan, jaminan cara penanganan yang aman, jaminan kualitas
pengepakan dan peralatan. Lebih mudah dipahami dan mengendalikan
bahaya-bahaya bersifat fisik dibanding bahaya kimia dan biologi,
Hal yang paling ideal beberapa criteria bagian kualitas/mutu perlu
dinilai dan diatur oleh suatu badan independent, seperti Inspektorat
Keamanan Pangan, namun demikian hal tersebut kurang tepat oleh karena
begitu luasnya pengawasan yang harus dilakukan oleh badan tersebut. Oleh
sebab itu tanggung jawab keamanan makanan menjadi tanggung jawab
semua orang yang berkaitan dengan produksi makanan, misalnya manajer
industri makanan, karyawan yang menangani pengolahan makanan, atau
pemilik toko penjual makanan, bahkan konsumen yang mengolah makanan
sendiri. Pengendalian titik kritis yang praktis yang sebaiknya dilakukan adalah
sebagai berikut :1) identifikasi dan penilaian titik kritis oleh badan-badan
pemerintah,2) meningkatkan pengetahuan dan juga menginformasikan
konsumer tentang pengendalian (misalnya penyebaran leaflet di supermarket,
tempat-tempat umum, sekolah, juga program pelatihan bagi orang dewasa).
Penutup
Penerapan HACCP telah terbukti efektif meningkatkan pengetahuan
produser dan konsumer di negara-negara maju, tapi belum sepenuhnya
dimengerti oleh masyarakat di negara berkembang. Sulitnya memberi
pengertian kepada masyarakat tentang keamanan pangan yang berkaitan
dengan bahaya kimia karena dampak yang ditimbulkan tidak langsung terjadi.
Metode pendekatan penyebaran selebaran serta pelatihan merupakan cara
yang mudah memperkenalkan jenis-jenis bahaya kimia yang berdampak pada
kesehatan, dan juga HACCP pada konsumer.
Daftar Pustaka
Amigo, S.G., M.A.L. Yusty and J.S. Lozano. 2002. Determination of
Polycyclic Aromatic Hydrocarbons from Buzzards (Buteo buteo) and
Tawny Owl (Strix aluco) by Liquid Chromatography with Fluorescence
Detection. Journal of AOAC International ,85(1):141-145.
CAC (Codex Allimentarius Commission). 1993. Guidelines for the Application
of the Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) Syastem,
Rome:FAO.
Daniel, Y.C Fung, M.N. Hajmeer, C.L. Kastner, J.T. Kastner, J.L.
Marsden,K.P. Penner, R.K. Phebus, J.S.. Smith,and M.A. Vanier.
2001. Meat Safety. In: Meat Science and Applications. Edited : Hui,
Y.H., Wai-Kit Nip, R.W. Rogers, and O.A. Young. MArcell Dekker,Inc.,
New York-Basel.
Forsythe, S.J. and P.R. Hayes. 1998. Food Hygiene, Microbiology and
HACCP. An Aspen Publication,Aspen Publishers Inc., Gaithersburg,
Maryland.
Ohura, T, T. Sugiyama, T. Amagai, M. Fusaya, H. Matsushita. 2002.
Simultaneous Liquid Chromatographic Determination 39 Polycyclic
Aromatic Hydrocarbons in Indoor and Outdoor Air and Application to a
Survey on Indoor Air Pollution in Fuji, Japan. Journal of AOAC
International, 85(1):188-202.
Okeeffe, M and O. Kennedy. 1998. Residues-A Food Safety Problem?
Journal of Food Safety,18:297-319.
Redmond, E.C. and C. J. Griffith. 2003. Consumer Food Handling in the
Home: A Review of Food Safety Studies. J. of Food Protection. 66
(1):130-161.
Ropkins, K. and A.J. Beck. 2000a. Evaluation of Worlwide Approaches to the
use of HACCP to Control Food Safety. Trends in Food Science &
Technology, 11:10-21.
Ropkins, K. and A.J. Beck. 2000b. HACCP in the Home: a Framework for
Omproving awareness of Hygiene and Safe Food Handling with
Respect to Chemical Risk.
Trends in Food Science
&Technology,11:105-114.
Ropkins, K. and A.J. Beck. 2003. Using HACCP to Control Organic Chemical
Hazrds in Food Wholesale, Distribution, Storage and Retail. Trends in
Food Science & Technology, 14:374-389.
Snyder, O.P. and V.K. Juneja. 2000.Hazard Appraisal (HACCP)/ Involvement
of Regulatory Bodies. In: Encyclopedia of Food Microbiology. Edited
R.K.Robinson, C.A. Batt and P.D. Patel. Vol 2. Academic Press,
London.
Untermann, F. 2000. Hazard Appraisal (HACCP)/The Overall Concept.
In:Encyclopedia of Food Microbiology. Edited R.K.Robinson, C.A. Batt
and P.D. Patel. Vol 2. Academic Press, London.
Van der Spiegel, M., P.A. Luning, G.W. Ziggers, and W.M.F Jongen. 2003.
Towards a Conceptual Model to measure Effectiveness of Food Quality
Systems. Trends in Food Science & Technology. 14:424-431.
Fly UP