...

Kondisi Sejumlah Waduk di Tanah Air Mulai Kritis_Kapan

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Kondisi Sejumlah Waduk di Tanah Air Mulai Kritis_Kapan
Kondisi Sejumlah Waduk di Tanah Air Mulai Kritis
(Kamis, 12 Juli 2007 22:07, www.kapanlagi.com/h/0000181177.html)
I
Kapanlagi.com - Kondisi waduk di sejumlah wilayah di Indonesia kritis. Diperkirakan sejumlah
sawah irigasi yang dilayani waduk terancam mengalami puso. Para petani diharapkan menanam
sesuai masa tanam yang disyaratkan sesuai kondisi waduk masing-masing daerah.
Menurut Direktur Pengelolaan Sumber Daya Air, Iman Anshori di Jakarta, Kamis, berdasarkan
data per 25 Juni masih ada waduk-waduk di sejumlah wilayah di Indonesia berada di bawah pola
operasi normal. Terutama di daerah lumbung padi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur
serta Lampung.
"Untuk waduk Juanda di Jatiluhur Jawa Barat
Kondisi Sejumlah Waduk di Tanah Air Mulai Kritis
Kapanlagi.com - Kondisi waduk di sejumlah wilayah di Indonesia kritis. Diperkirakan sejumlah
sawah irigasi yang dilayani waduk terancam mengalami puso. Para petani diharapkan menanam
sesuai masa tanam yang disyaratkan sesuai kondisi waduk masing-masing daerah.
Menurut Direktur Pengelolaan Sumber Daya Air, Iman Anshori di Jakarta, Kamis, berdasarkan
data per 25 Juni masih ada waduk-waduk di sejumlah wilayah di Indonesia berada di bawah pola
operasi normal. Terutama di daerah lumbung padi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur
serta Lampung.
"Untuk w
ketinggian
n air idealnya 101,6 meter sementara tinggi saat ini 101,21 meter jadi ada deviasi setinggi 39 cm,
sementara untuk waduk Saguling dan waduk Cirata deviasi ketinggiannya masing-masing 38 cm
dan 27 cm," ungkap Imam Anshori.
Kondisi yang sama juga terjadi pada waduk Wonogiri di Jateng, yang mengalami deviasi
setinggi 80 cm dari ketinggian normalnya yaitu 136,17 m. Sedangkan tiga waduk lainnya di
Jateng yaitu Kedungombo, Sempor dan Wadas Lintang terpantau dalam kondisi normal.
Selain empat waduk besar tersebut, di Jateng juga banyak terdapat waduk kecil. Direktur PSDA
mengatakan, dari 13 waduk kecil di Jateng dalam kondisi normal, 17 waduk dalam kondisi
waspada dan 3 waduk lainnya dalam kondisi kering. Ketiga waduk yang kering tersebut ialah
Lowetan, Pelumbon dan Butak.
"Untuk waduk Lowetan memang sengaja dikeringkan, karena memang sedang direhabilita
asi," ucap Imam Anshor
Lebih lanjut Imam Anshori menjelaskan tiga dari lima waduk besar di Jatim dalam kondisi
waspada. Tiga waduk tersebut yaitu Sutami deviasi 9 cm, Selorejo deviasi 19 cm dan Sangiran
deviasi 6 m. Sedangkan waduk yang berkondisi normal yaitu Bening dan Wonorejo. Menurut
Direktur PSDA, ketinggian untuk Sutami dan Selorejo berdasar data 10 Juni lalu sementara
Sangiran data per 31 Juni.
Hal serupa juga terjadi untuk waduk di luar Jawa seperti Batutegi di Lampung, Bili-bili di
Sulawesi Selatan. Untuk Batutegi tinggi normalnya 257 m sementara tinggi saat ini 256,74 m
dan Bili-bili tinggi normalnya 94,97 m kondisi terpantau sekarang 94,55 m. Sedangkan kondisi
dua waduk besar di Nusa Tenggara Barat (NTB) yaitu Batujae dan Penggo dalam kondisi
normal.
"Batujae normalnya 89 meter, saat ini tingginya 92,4 meter dan Penggo normalnya 49,5 dan
kondisi sekarang 56,5 meter," terang Imam Anshori.
Masih banyaknya kondisi waduk yang di bawah tinggi muka air normal, menurut Direktur
PSDA, tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi
dan Geofisika (BMG) hingga Oktober, Indonesia masih mengalami musim kemarau basah,
sehingga peluang terjadinya hujan masih tetap ada.
Selain melakukan modifikasi cuaca, keterbatasan jumlah air menurut Imam Anshori disiasati
dengan penghematan penggunaan air. Balai Wilayah Sungai yang dibawah koordinasi Ditjen
SDA juga diminta membentuk satuan tugas penanggulangan kekeringan.
"Kami juga terus mensosialisasikan kepada para petani agar mematuhi pola aturan musim tanam
yang telah dibuat Bupatinya masing-masing, jadi jika saatnya menanam palawija jangan tanam
padi hal tersebut terkait keterbatasan suplai air," tutur Imam Anshori.
Direktur PSDA mengakui, saat ini waduk-waduk di Indonesia baru mampu melayani 800 ribu ha
dari 6 juta ha daerah irigasi yang ada di Indonesia saat ini. Sementara 5,2 juta ha persawahan
lainnya masih mengandalkan air dari air hujan dan air sungai. (*/rsd)
www.pu.go.id, 13 Juli 2006
Musim Kemarau, Perlu Penyesuaian Penggunaan Air
Direktur Bina Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Departemen PU Imam Anshori
mengatakan, untuk menyiasati berkurangnya persediaan air pada musim kemarau sekarang
ini, perlu dilakukan penyesuaian terhadap penggunaan air. Hal ini dikatakan Imam Anshori
dengan Deputi System Data dan Informasi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Sutrisno
di TVRI Jakarta 15/7)
Menurut Imam Anshori, penyebab berkurangnya air adalah faktor alam, karena memang
saat ini telah memasuki musim kemarau. Semua masyarakat juga sudah mengetahui,
sehingga apa yang harus dilakukan pada musim kemarau sudah diketahui. Demikian juga
para petani. Mestinya pada musim kemarau tidak lagi menanam padi, tetapi bisa diganti
dengan tanaman lain yang relatif sedikit menggunakan air.
Dijelaskan pula, kalau kita tidak punya tabungan air yang disimpan di waduk-waduk, maka
kita hanya mengandalkan air yang mengalir di sungai secara alami. Padahal pada musim
seperti sekarang ini air yang mengalir di sungai juga mulai berkurang, karena hujan sudah
berkurang.
Menurut Imam Anshori, daerah-daerah yang memiliki waduk dan sawahnya dialiri oleh
irigasi teknis melalui jaringan irigasi, sudah ditetapkan pola tanam dan rencana tata tanam.
Ini sudah disepakati oleh semua pihak melalui ketetapan Gubernur. “Pola tanam dan
rencana tata tanam ini sudah dimiliki setiap daerah” tegasnya. Dengan pola ini masyarakat
petani akan mendapatkan air untuk kebutuhan tanamannya dengan bergiliran, sesuai jadwal
yang sudah disepakati bersama.
Demikian juga dengan banyaknya air yang disalurkan ke suatu daerah, akan disesuaikan
dengan kebutuhan masing-masing. Bagi daerah yang sedang mengolah tanah kebutuhan
airnya mencapai 1.125 liter/detik/hektar sawah. Demikian selanjutnya pada masa tumbuh
sampai tanaman padi tumbuh butir-butir padinya kebutuhan air semakin berkurang. “Ini
harus digilir sedemikian rupa agar semua daerah irigasi mendapatkan air sesuai dengan
kebutuhannya” jelas Imam.
Sementara itu Sutrisno mengatakan, pihak BMG sudah memberikan peringatan awal
mengenai kapan musim kemarau itu dimulai. Untuk tahun 2006 ini pihaknya telah
menginformasikan sejak bulan Maret yang lalu. Sesuai prakiraan instansinya sejak Mei 2006
sudah dimulai musim kemarau. Hal ini juga sudah disosialisasikan kepada masyarakat.
Diharapkan masyarakat sudah melakukan persiapan apa-apa yang dilakukan.
Menurutnya, untuk kemarau sekarang ini lebih basah dibandingkan dengan tahun yang lalu,
namun masih normal-normal saja. Memang sejak bulan Mei, Juni, Juli dan Agustus hujan
sudah berkurang, sehingga air akan banyak hilangnya dari pada curah hujannya. Kalau ini
berlangsung lama, akan terjadi kekurangan air. Menyinggung kemungkinan dilakukan
pembuatan hujan buatan, Sutrisno mengatakan hal ini masih dilakukan pemantauan dan
kajian apakah bisa dilakukan.
Kondisi Waduk
Sesuai dengan hasil pemantauan Departemen PU hingga tanggal 14 Juli 2006 kondisi
waduk-waduk masih dalam kondisi normal, namun beberapa waduk sudah dilakukan
penyesuaian penggunnaan air yaitu dengan pola operasi kering. Dengan analisis dan
informasi cuaca dari BMG akan digunakan sebagai acuan bagi operator waduk. Pada saat
muka air di waduk berada di bawah pola operasi normal, maka operator harus mulai
mengadakan penyesuaian-penyesuaian terhadap tingkat penggunaan air, tambah Imam.
Untuk waduk Juanda menurut Imam Anshori kondisinya sedikit di bawah operasi normal.
Menurut data tinggi air di waduk Juanda pada 14 Juli 2006 tinggi muka airnya 95,84 m
normalnya 107 m. Sedangkan waduk Cirata 215 m normalnya 220 m, waduk Saguling 737 m
normalnya 643 m. Oleh karena itu para operator waduk sudah perlu melakukan
penyesuaian-penyesuaian terhadap penggunaan air.
Ditambahkan, di seluruh Indonesia terdapat 128 waduk besar dan kecil. Ini belum termasuk
situ atau telaga yang ada terutama di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dari 128 waduk tersebut
melayani areal 800.000 hektar Daerah Irigasi (DI). Padahal DI yang ada saat ini mencapai
7,7 juta hektar termasuk lahan irigasi rawa. DI non rawa sendiri sekitar 6 juta hektar.
Dengan demikian jumlah areal DI yang bisa dilayani oleh jaringan irigasi dari waduk baru
sekitar 15%. (sr)
Pusat Komunikasi Publik
150706
www.adb.org/water/champions/anshori.asp - 22k
Water for All
Homepage
Water Champion: Imam Anshori
Authorizing Water Use, Assuring Water Rights
July 2007
By: Ma. Christina Dueñas
Water Knowledge and Communications Coordinator, ADB
Fly UP