...

Sebuah terang ilusi?

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Sebuah terang ilusi?
Surat Ensiklik
TERANG IMAN
dari Sri Paus
FRANSISKUS
Kepada Para Uskup Imam dan Diakon
Kaum Religius dan Umat Awam
Tentang IMAN
1. Terang Iman: demikianlah cara tradisi Gereja berbicara mengenai karunia besar
yang dibawa oleh Yesus. Di dalam Injil Yohanes, Kristus berkata mengenai
diriNya: “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang
percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan” (Yoh 12:46). Santo Paulus
menggunakan gambaran yang sama: “Sebab Allah yang telah berfirman, ‘Dari
dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di
dalam hati kita” (2 Kor 4:6). Kaum pagan, yang lapar akan terang, telah
menyaksikan perkembangan kultus dewa matahari, Sol Invictus, yang diseru-serukan
setiap hari saat matahari terbit. Namun demikian, meskipun matahari lahir baru
setiap pagi, jelaslah bahwa matahari tidak dapat memancarkan sinarnya kepada
seluruh keberadaan umat manusia. Matahari tidak dapat menerangi semua realita;
cahayanya tidak dapat menembus bayangan kematian, tempat di mana mata
manusia tertutup dari cahayanya. “Tidak seorangpun – tulis Santo Yustinus Martir
– yang pernah siap untuk mati demi imannya akan matahari”.[1] Sadar akan luasnya
cakrawala yang telah dibentangkan oleh iman mereka, umat Kristen menyebut
Yesus sebagai matahari yang sejati, “yang sinarnya mengaruniakan
kehidupan”.[2] Kepada Martha, yang menangisi kematian saudaranya Lazarus,
Yesus berkata: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya
engkau akan melihat kemuliaan Allah?” (Yoh 11:40). Mereka yang percaya, melihat;
mereka melihat dengan terang yang menerangi seluruh perjalanan hidup mereka,
karena terang itu datang dari Yesus yang bangkit, bintang fajar yang tak pernah
terbenam.
Sebuah terang ilusi?
2. Namun demikian saat kita berbicara mengenai terang iman, kita seringkali dapat
mendengar keberatan- keberatan dari banyak orang di zaman ini. Di zaman
modern, terang tersebut mungkin dianggap telah cukup untuk masyarakat zaman
dulu, tetapi dirasa menjadi tidak berguna untuk masa sekarang, untuk sebuah
kemanusiaan yang telah sampai pada zaman, yang bangga akan rasionalitasnya dan
begitu gelisah untuk menyelidiki masa depan dengan cara-cara yang baru. Maka
untuk sejumlah orang, iman nampak sebagai terang ilusi yang mencegah umat
manusia dari langkah yang berani dalam penyelidikan pengetahuan. Nietzsche saat
muda menyemangati saudarinya Elisabeth untuk mengambil risiko, untuk
menjalani “jalur baru… dengan segala ketidakpastian seseorang yang harus mencari
jalannya sendiri”, dengan menambahkan bahwa, “di sinilah di mana jalur-jalur
kemanusiaan berpisah jalan: jika kamu menginginkan kedamaian bagi jiwa dan
kebahagiaan, maka percayalah, tetapi jika kamu ingin menjadi pengikut kebenaran,
maka carilah”.[3] Kepercayaan akan menjadi tidak selaras dengan pencarian. Dari
titik ini Nietzsche kemudian membangun kritiknya terhadap ajaran Kristiani karena
menghilangkan arti sepenuhnya dari eksistensi manusia dan menanggalkan hal-hal
baru dan petualangan dari kehidupan. Maka iman akan menjadi terang ilusi, sebuah
ilusi yang menghalangi jalan yang menuju pembebasan kemanusiaan untuk masa
depannya.
3. Dalam prosesnya, iman jadi diasosiasikan dengan kegelapan. Dulu ada orangorang yang mencoba menyelamatkan iman dengan membuat ruang baginya sebelah
menyebelah dengan terang akal budi. Ruangan tersebut akan terbuka di saat terang
akal budi tidak dapat menembus, di mana kepastian tidak mungkin lagi. Iman
kemudian dimengerti entah sebagai loncatan dalam gelap, yang harus dilakukan saat
tidak ada terang, didorong oleh emosi yang buta, atau sebagai terang yang subjektif,
yang mungkin dapat menghangatkan hati dan membawa penghiburan pribadi,
tetapi bukan sebagai sesuatu yang dapat ditawarkan kepada orang lain sebagai suatu
terang yang objektif dan yang dapat dibagikan, yang menunjukkan jalan. Walaupun
demikan, lambat namun pasti, akan menjadi nyata bahwa terang akal budi saja tidak
cukup untuk menerangi masa depan; pada akhirnya masa depan tetaplah
merupakan bayang-bayang dan penuh dengan ketakutan akan sesuatu yang tidak
diketahui. Akibatnya, manusia mengabaikan pencarian akan sebuah terang yang
besar, [yaitu] Kebenaran itu sendiri, agar dapat puas dengan terang- terang yang
lebih kecil yang menerangi saat ini yang sedang bergulir cepat walaupun terbukti
tidak sanggup untuk menunjukkan jalan. Namun dengan tidak adanya terang
semuanya jadi membingungkan; menjadi tidak mungkin untuk membedakan yang
baik dari yang jahat, atau jalan yang menuju tujuan kita dari jalan-jalan lain yang
hanya membawa kita berputar- putar tiada akhir, yang tanpa tujuan.
Sebuah terang untuk ditemukan
4. Ada kebutuhan mendesak kalau begitu, untuk melihat sekali lagi bahwa iman
adalah sebuah terang, sebab ketika api iman ini padam, semua terang lainnya akan
mulai meredup. Terang iman ini unik, karena ia mampu menerangi setiap
aspek keberadaan manusia. Sebuah terang yang begitu hebat ini tidak mungkin
berasal dari kita sendiri tetapi dari sumber yang lebih primordial [sudah ada sejak
awal mula]: dengan kata lain, dia pasti berasal dari Allah. Iman lahir dari
perjumpaan dengan Allah yang hidup yang memanggil kita dan menunjukkan
kasih-Nya, sebuah kasih yang mendahului kita dan yang padanya kita dapat
bersandar untuk rasa aman dan untuk membangun hidup kita. Diubah oleh kasih
ini, kita mendapatkan visi yang segar, mata yang baru untuk melihat; kita menyadari
bahwa kasih-Nya mengandung sebuah janji pemenuhan yang besar, dan sebuah
penglihatan akan masa depan terbuka di hadapan kita. Iman, yang diterima dari
Allah sebagai karunia adikodrati, menjadi terang bagi jalan kita, membimbing
perjalanan kita melewati waktu. Di satu sisi, ia adalah terang yang datang dari masa
lalu, terang dari ingatan mendasar akan kehidupan Yesus yang menyatakan kasihNya yang layak untuk dipercaya secara sempurna, sebuah kasih yang mampu
mengatasi maut. Namun karena Kristus telah bangkit dan membawa kita
melampaui maut, iman juga adalah sebuah terang yang datang dari masa depan dan
membukakan di hadapan kita sebuah wawasan yang luas yang membimbing kita
keluar dari diri kita yang terisolasi menuju luasnya persekutuan. Kita menjadi
melihat bahwa iman tidak tinggal dalam bayangan dan kesedihan; ia adalah terang
bagi kegelapan kita. Dante, dalam Divine Comedy, setelah mengakui imannya di
hadapan Santo Petrus, menjabarkan bahwa terang itu seperti sebuah “percikan,
yang kemudian menjadi sebuah api yang membara dan seperti sebuah bintang
surgawi dalam diriku yang gemerlap”.[4] Terang iman inilah yang sekarang akan
saya pandang dengan seksama, supaya ia dapat tumbuh dan menerangi masa
sekarang, menjadi sebuah bintang yang menerangi cakrawala perjalanan kita di saat
umat manusia secara khusus membutuhkan terang.
5. Kristus, pada malam sebelum sengsara-Nya, meyakinkan Petrus: “Aku telah
berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur” (Luk 22:32). Ia [Kristus]
kemudian menyuruh dia untuk menguatkan saudara- saudarinya dalam iman yang
sama itu. Sadar akan tugas yang dipercayakan kepada Penerus Petrus, Paus
Benediktus XVI mengkumandangkan Tahun Iman saat ini, sebuah saat penuh
ramat yang membantu kita untuk merasakan sukacita besar dari mengimani dan
untuk memperbaharui ketakjuban kita akan luasnya wawasan yang dibuka lebar
oleh iman, untuk kemudian mengakui iman itu dalam kesatuan dan integritasnya,
dengan setia kepada kenangan akan Tuhan dan ditopang oleh kehadiran-Nya dan
oleh karya Roh Kudus. Keyakinan yang lahir dari sebuah iman yang membawa
keagungan dan pemenuhan bagi hidup, sebuah iman yang berpusat pada Kristus
dan pada kekuatan karunia-Nya, menginspirasikan misi orang- orang Kristen yang
pertama. Pada kisah para martir, kita membaca dialog berikut ini antara seorang
Prefek Romawi yang bernama Rusticus dan seorang Kristen yang bernama Hierax:
“‘Di mana orang tuamu?’, sang hakim bertanya kepada sang martir. Ia menjawab:
‘Ayah kami yang sejati adalah Kristus, dan ibu kami adalah iman akan
Dia’”.[5] Untuk orang- orang Kristen mula-mula, iman, sebagai sebuah perjumpaan
dengan Allah yang hidup, yang disingkapkan dalam diri Kristus, sungguh adalah
sebuah sosok “ibu”, karena ia [iman] telah membawa mereka kepada terang itu dan
telah memberikan kelahiran dalam diri mereka kepada kehidupan ilahi, sebuah
pengalaman baru dan sebuah visi yang bercahaya akan eksistensi yang untuknya
mereka dipersiapkan untuk memberikan kesaksian publik sampai akhir.
6. Tahun Iman diinagurasikan pada peringatan ke-50 tahun pembukaan Konsili
Vatikan II. Ini sendiri merupakan indikasi yang jelas bahwa Konsili tersebut
merupakan Konsili tentang iman,[6] sebab Konsili meminta kita untuk
mengembalikan keutamaan Allah dalam Kristus sebagai pusat dari kehidupan kita,
baik sebagai Gereja maupun sebagai individu. Gereja tidak pernah menyepelekan
iman, karena iman adalah hadiah dari Allah yang butuh dipupuk dan dikuatkan
sehingga ia dapat terus membimbing Gereja dalam peziarahannya. Konsili Vatikan
II memungkinkan terang iman untuk menerangi pengalaman manusiawi kita dari
dalam, mendampingi para pria dan wanita pada zaman kita dalam perjalanan
mereka. Hal ini jelas menunjukkan betapa iman memperkaya hidup dalam semua
dimensinya.
7. Beberapa pemikiran ini tentang iman – dalam kesinambungan dengan semua
yang telah diajarkan oleh Magisterium Gereja tentang kebajikan teologis
ini[7] dimaksudkan untuk melengkapi apa yang telah ditulis oleh Paus Benediktus
XVI dalam surat- surat ensikliknya tentang kasih dan pengharapan. Ia sendiri
hampir saja menyelesaikan draf pertama ensiklik tentang iman. Untuk hal ini saya
sangat berterima kasih kepadanya, dan sebagai saudaranya dalam Kristus saya
melanjutkan pekerjaan baiknya dan menambahkan beberapa kontribusi saya
sendiri. Penerus Petrus, kemarin, hari ini dan besok, selalu dipanggil untuk
menguatkan saudara- saudarinya dalam harta yang tak ternilai harganya dari iman
itu, yang telah diberikan oleh Allah sebagai terang bagi jalan semua umat manusia.
Dalam karunia Allah akan iman, sebuah kebajikan adikodrati yang ditanamkan, kita
menyadari bahwa sebuah kasih yang besar telah ditawarkan bagi kita, sebuah kabar
baik telah diberitakan bagi kita, dan saat kita menyambut kabar itu, [yaitu] Yesus
Kristus Sang Sabda yang menjadi daging, Roh Kudus mengubah kita, menerangi
jalan kita ke masa depan dan memungkinkan kita untuk melangkah maju sepanjang
jalan itu di atas sayap- sayap pengharapan. Kemudian iman, harapan, dan kasih
yang terajut dengan indahnya menjadi pendorong utama kehidupan Kristiani saat ia
melangkah maju menuju persekutuan penuh dengan Allah. Tetapi seperti apakah,
jalan ini yang dibukakan oleh iman di hadapan kita? Apa asal usul terang yang kuat
ini yang menerangi perjalanan dari sebuah hidup yang sukses dan berbuah limpah?
BAB SATU – KITA TELAH PERCAYA AKAN
KASIH (bdk. 1 Yoh 4:16)
Abraham, bapa kita dalam iman
8. Iman membuka jalan di hadapan kita dan mendampingi langkah kita sepanjang
masa. Karena itu, jika kita ingin memahami apa iman itu, kita perlu mengikuti rute
yang telah diambil oleh iman, jalur yang ditapaki oleh mereka yang percaya, seperti
yang disaksikan pertama- tama dalam Perjanjian Lama. Di sini, sebuah tempat unik
dimiliki oleh Abraham, bapa kita dalam iman. Sesuatu yang mengganggu terjadi
dalam hidupnya: Allah berbicara kepadanya; Ia menyatakan diri-Nya sebagai Allah
yang berbicara dan memanggil namanya. Iman dihubungkan dengan pendengaran.
Abraham tidak melihat Allah, tetapi dia mendengar suara-Nya. Oleh karena itu,
iman menyangkut aspek pribadi. Allah bukanlah allah dari suatu tempat, atau dewa
yang dihubungkan dengan waktu sakral tertentu, melainkan Allah dari seorang
pribadi, Allah dari Abraham, Ishak, dan Yakub, yang mampu berinteraksi dengan
manusia dan menetapkan perjanjian dengannya. Iman adalah tanggapan kita kepada
sebuah sabda yang menarik kita secara pribadi, kepada sebuah “Engkau” yang
memanggil kita sesuai nama kita.
9. Firman yang disampaikan kepada Abraham mengandung makna sebuah
panggilan dan sebuah janji. Pertama, sebagai sebuah panggilan untuk meninggalkan
kampung halamannya, sebuah panggilan menuju hidup yang baru, awal dari suatu
eksodus yang mengarahkan dia kepada sebuah masa depan yang tak terbayangkan.
Pandangan yang diberikan oleh iman kepada Abraham akan selalu dihubungkan
dengan kebutuhan untuk melangkah maju: iman “melihat” dalam arti bahwa ia
sendiri melakukan perjalanan, dalam arti bahwa ia memilih untuk masuk ke dalam
wawasan yang dibukakan oleh sabda Allah. Sabda ini juga mengandung sebuah
janji: Keturunanmu akan besar jumlahnya, engkau akan menjadi bapa dari sebuah
bangsa yang besar (bdk. Kej 13:16; 15:5; 22:17). Sebagai tanggapan dari sabda yang
mendahuluinya, iman Abraham akan selalu menjadi sebuah tindakan peringatan.
Namun peringatan ini tidak terpaku pada kejadian di masa lampau tetapi, sebagai
kenangan akan sebuah janji, yang mampu membuka masa depan, yang
mencurahkan terang ke jalan yang harus diambil. Kita melihat bagaimana iman,
sebagai peringatan akan masa depan, memoria futuri, oleh karena itu, terkait erat
dengan pengharapan.
10. Abraham diminta untuk mempercayakan dirinya pada sabda ini. Iman
memahami bahwa sesuatu yang nampak tidak kekal dan fana seperti kata- kata, bila
diucapkan oleh Allah yang adalah kesetiaan, menjadi sepenuhnya pasti dan tidak
tergoyahkan, menjamin keberlanjutan perjalanan kita sepanjang sejarah. Iman
menerima sabda ini seperti sebuah batu karang yang kokoh yang di atasnya kita
dapat membangun, sebuah jalan besar nan lurus yang dapat kita lalui. Dalam
Alkitab, iman diekspresikan oleh kata dalam bahasa Ibrani ’emûnāh, yang diturunkan
dari kata kerja ’amān yang akar katanya berarti “untuk menegakkan”.
Istilah ’emûnāh dapat menunjukkan kesetiaan Allah sekaligus juga iman manusia.
Manusia yang beriman menimba kekuatan dengan meletakkan dirinya dalam tangan
Allah yang setia. Bermain dengan kata yang mempunyai dua arti ini – yang juga
ditemukan dalam istilah-istilah yang sinonim dalam bahasa Yunani (pistós) dan Latin
(fidelis) – Santo Sirilus dari Yerusalem memuji martabat seorang Kristen itu yang
menerima nama Allah sendiri: keduanya disebut “setia”.[8] Seperti yang dijelaskan
oleh Santo Agustinus: “Manusia dikatakan setia saat ia percaya kepada Allah dan
janji- janji-Nya; Allah dikatakan setia saat Ia memberikan kepada manusia apa yang
telah Ia janjikan”.[9]
11. Unsur terakhir dari kisah Abraham adalah penting untuk memahami imannya.
Sabda Allah, sekalipun membawa kebaruan dan kejutan, tidaklah sama sekali asing
bagi pengalaman Abraham. Dalam suara yang berbicara kepadanya, sang patriakh
mengenali sebuah panggilan yang mendalam yang sudah selalu hadir di inti dirinya.
Allah mengikat janji-Nya pada aspek kehidupan manusia itu yang selalu nampak
paling “penuh dengan janji”, yaitu, untuk menjadi orangtua, memperanakkan
kehidupan baru: “Isterimu Sara akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau
akan menamai dia Ishak” (Kej 17:19). Allah yang meminta kepercayaan penuh dari
Abraham menyatakan diri-Nya sebagai sumber segala kehidupan. Iman, karena itu,
dihubungkan dengan ke-Bapa-an Allah, yang menghidupi segala ciptaan; Allah yang
memanggil Abraham adalah Sang Pencipta, Dia-lah yang “menjadikan apa yang
tidak ada menjadi ada” (Rm 4:17), Dia yang “telah memilih kita sebelum dunia
dijadikan… telah menentukan kita dari semula untuk menjadi anak- anak-Nya” (Ef
1:4-5). Bagi Abraham, beriman kepada Allah membuat jelas di kedalaman dirinya,
imannya memampukan dia untuk mengakui mata air kebaikan di awal mula dari
segala sesuatu dan untuk menyadari bahwa hidupnya bukanlah produk dari benda
mati atau kebetulan, tetapi buah dari sebuah panggilan pribadi dan sebuah kasih
pribadi. Allah yang misterius yang memanggilnya bukanlah dewa yang asing,
melainkan Allah yang adalah awal mula dan dasar dari segala yang ada. Ujian besar
bagi iman Abraham, pengurbanan anaknya Ishak, dapat menunjukkan sejauh mana
kasih purba ini mampu menjamin kehidupan bahkan setelah kematian. Sabda yang
dapat melahirkan seorang putra bagi dia yang “seperti sudah mati”, di dalam
“kemandulan” rahim Sarah (bdk. Rm 4:19), juga dapat memenuhi janjinya akan
masa depan melampaui segala ancaman atau bahaya (bdk. Ibr 11:19; Rm 4:21).
Iman bangsa Israel
12. Sejarah bangsa Israel dalam Kitab Keluaran mengikuti jejak iman Abraham.
Iman sekali lagi lahir dari karunia yang awali: Israel percaya kepada Allah, yang
berjanji untuk membebaskan umat-Nya dari kesusahan mereka. Iman menjadi
suatu panggilan untuk sebuah perjalanan panjang yang menuju kepada
penyembahan Tuhan di Sinai dan pewarisan sebuah tanah terjanji. Kasih Allah
dilihat seperti kasih seorang bapa yang membawa anaknya sepanjang perjalanan
(bdk. Ul 1:31). Pengakuan iman Israel terbentuk atas dasar perbuatan- perbuatan
Allah dalam membebaskan umat-Nya dan dalam bertindak sebagai penunjuk jalan
mereka (bdk. Ul 26:5-11), sebuah dasar yang diturunkan dari satu generasi ke
generasi selanjutnya. Terang Allah menerangi Israel melalui kenangan akan
perbuatan- perbuatan Allah yang ajaib, yang diingat dan dirayakan dalam
penyembahan, dan diturunkan dari orang tua kepada anak-anak. Di sini kita melihat
bagaimana terang iman dihubungkan dengan cerita kehidupan yang nyata, dengan
kenangan penuh rasa syukur atas perbuatan Allah yang ajaib dan pemenuhan terusmenerus atas janji- janji-Nya. Arsitektur gaya Gothik memberikan gambaran yang
jelas akan hal ini: dalam katedral- katedral yang megah, cahaya turun dari surga
melalui kaca- kaca jendela yang menggambarkan sejarah penyelamatan. Terang
Allah datang kepada kita melalui kisah pewahyuan diri-Nya, dan oleh karena itu
menjadi mampu untuk menerangi perjalanan kita sepanjang waktu dengan
mengenangkan anugerah- anugerah- Nya dan menunjukkan bagaimana Ia
memenuhi janji- janji-Nya.
13. Sejarah bangsa Israel juga menunjukkan kepada kita godaan untuk tidak percaya
yang kepadanya bangsa tersebut menyerah lebih dari sekali. Di sini kebalikan dari
iman ditunjukkan dengan penyembahan berhala. Sementara Musa berbicara dengan
Allah di Sinai, bangsa Israel tidak tahan dengan misteri Allah yang tersembunyi,
mereka tidak dapat bersabar menunggu saat untuk melihat wajah-Nya. Iman pada
dasarnya menuntut pengingkaran akan kepemilikan langsung yang nampaknya
ditawarkan oleh penglihatan kita; iman adalah sebuah undangan untuk berpaling ke
sumber terang tersebut, sementara menghormati misteri wajah Allah yang akan
tersingkap sendiri pada waktunya. Martin Buber sekali waktu mengutip sebuah
definisi tentang penyembahan berhala dari seorang Rabi dari Kock: penyembahan
berhala ialah “saat sebuah wajah mengacu pada sebuah wajah yang bukan sebuah
wajah”.[10] Daripada beriman kepada Allah, sepertinya lebih baik menyembah
berhala, yang wajahnya dapat kita lihat langsung dan asal muasalnya kita ketahui,
karena itu adalah hasil kerja tangan kita. Di hadapan sebuah berhala, tidak ada
risiko bahwa kita akan diminta untuk meninggalkan zona aman kita, karena
berhala- berhala “memiliki mulut, tetapi mereka tidak dapat bicara” (Mzm 115:5).
Berhala-berhala ada, kita mulai melihat, sebagai sebuah alasan untuk menempatkan
diri kita di pusat realitas dan menyembah hasil kerja tangan kita sendiri. Saat
manusia kehilangan arah dasar yang menyatukan keberadaannya, manusia terpecahpecah dalam keinginan- keinginannya yang berlipat ganda; dengan menolak untuk
menunggu waktu yang dijanjikan, kisah hidupnya terpecah belah menjadi banyak
sekali peristiwa- peristiwa yang tidak berhubungan. Oleh karena itu, berhala selalu
bersifat politeisme, sebuah peralihan dari dewa yang satu ke dewa yang lain tanpa
tujuan.
Berhala tidak menawarkan sebuah jalan melainkan banyak jalan yang tidak jelas
arah tujuannya dan yang membentuk sebuah labirin yang besar sekali. Mereka yang
tidak memilih untuk percaya kepada Allah harus mendengar hiruk pikuk dari dewadewi yang tidak terhitung jumlahnya yang berseru – seru: “Percayalah kepada saya!”
Iman, walaupun terikat kepada pertobatan, adalah kebalikan dari berhala; iman
berpisah dengan berhala, untuk berpaling kepada Allah yang hidup dalam suatu
perjumpaan pribadi. Percaya berarti menyerahkan diri kepada sebuah kasih yang
penuh pengampunan yang selalu menerima dan memaafkan, yang menguatkan dan
mengarahkan hidup kita, dan yang menunjukkan kuasanya dengan kemampuannya
untuk meluruskan kebengkokan dalam sejarah kita. Iman mengandung kesediaan
untuk membiarkan diri kita terus menerus diubah dan diperbaharui dengan
panggilan Allah. Di sinilah terdapat sebuah paradoks: dengan terus menerus
berpaling kepada Tuhan, kita menemukan sebuah jalan yang pasti yang
membebaskan kita dari kerusakan moral yang dipaksakan atas kita oleh para
berhala.
14. Dalam iman bangsa Israel kita juga berjumpa dengan figur Musa, sang
perantara. Bangsa itu tidak dapat melihat wajah Allah; Musa-lah yang berbicara
dengan Yahwe di gunung itu dan lalu memberitahukan kepada mereka kehendak
Tuhan. Dengan kehadiran seorang perantara di tengah mereka, bangsa Israel
belajar untuk berjalan bersama dalam persatuan. Tindakan iman pribadi mendapat
tempatnya dalam komunitas, dalam kebersamaan “kami” bagi bangsa itu yang,
dalam iman, menjadi seperti sebuah pribadi – “anak lelaki sulungku”, seperti
digambarkan Allah tentang Israel (bdk. Kel 4:22). Di sini perantaraan bukanlah
sebuah halangan, melainkan pintu masuk: melalui perjumpaan kita dengan orang
lain, pandangan kita terangkat kepada sebuah kebenaran yang lebih besar daripada
diri kita sendiri. Rousseau pernah sekali meratap bahwa ia sendiri tidak dapat
melihat Allah: “Berapa banyak orang yang berdiri antara Allah dengan aku!”[11] …
“Bukankah itu sungguh sangat sederhana dan alamiah bahwa Allah seharusnya
akan mencari Musa untuk berbicara dengan Jean Jacques Rousseau?”[12] Atas
dasar konsep pengetahuan yang individualistis dan sempit, seseorang tidak dapat
menghargai pentingnya pengantaraan, kapasitas ini untuk mengambil bagian dalam
cara pandang orang lain, pengetahuan bersama ini, yang merupakan pengetahuan
yang tepat untuk kasih. Iman adalah anugerah gratis dari Allah, yang meminta
kerendahan hati dan keberanian untuk percaya dan untuk berpasrah; iman
memampukan kita untuk melihat jalan terang yang mengarahkan kita ke
perjumpaan antara Allah dan umat manusia: sejarah penyelamatan.
Kepenuhan iman Kristiani
15. “Abraham bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku; ia telah melihatnya dan
bersukacita” (Yoh 8:56). Berdasarkan kata-kata Yesus ini, iman Abraham telah
merujuk kepada Diri-Nya; dalam arti hal tersebut telah meramalkan misteri-Nya.
Maka Santo Augustinus memahami itu ketika ia menyatakan bahwa para patriakh
telah diselamatkan oleh iman, bukan iman akan Kristus yang telah datang
melainkan akan Kristus yang masih akan datang, sebuah iman yang menekankan ke
arah masa depan Yesus.[13] Iman Kristiani berpusat pada Kristus; itu merupakan
pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan dan bahwa Allah telah membangkitkan Dia
dari antara orang mati (bdk. Rom 10:9). Semua jalur benang dari Perjanjian Lama
bertemu menjadi satu pada Kristus; Dia menjadi “Ya” yang definitif untuk semua
janji-Nya, dasar utama “Amin” kita kepada Allah (bdk. 2 Kor 1:20). Sejarah Yesus
adalah manifestasi lengkap keandalan Allah. Jika bangsa Israel terus mengingat
perbuatan-perbuatan besar kasih Allah, yang telah membentuk inti dari pengakuan
imannya dan memperluas pandangannya dalam iman, kehidupan Yesus sekarang
muncul sebagai wadah dari campur tangan Allah secara definitif, manifestasi
tertinggi dari kasih-Nya untuk kita. Sabda yang Allah katakan kepada kita dalam
Yesus bukanlah hanya satu sabda di antara banyak [sabda], melainkan Sabda-Nya
yang kekal (bdk. Ibr 1:1-2). Allah tidak dapat memberikan jaminan lebih besar
daripada Kasih-Nya, sebagaimana Santo Paulus ingatkan pada kita (bdk. Rom 8:3139). Dengan demikian, iman Kristiani adalah iman akan sebuah kasih yang
sempurna, akan kekuatannya yang menentukan, akan kemampuannya untuk
mengubah dunia dan untuk mengungkap sejarahnya. “Kita mengenal dan percaya
akan kasih Allah kepada kita” (1 Yoh 4:16). Dalam kasih Allah yang dinyatakan
dalam Yesus, iman menyadari pondasi itu yang padanya bersandar semua realitas
dan tujuan akhirnya.
16. Bukti yang paling jelas dari keandalan kasih Kristus dapat ditemukan dalam
kematian-Nya demi kita. Jika seseorang memberikan nyawanya untuk sahabatsahabatnya adalah bukti terbesar dari kasih (bdk. Yoh 15:13), Yesus
mempersembahkan hidup-Nya sendiri bagi semua [orang], bahkan bagi musuhmusuh-Nya, untuk mengubah hati mereka. Hal ini menjelaskan mengapa para
penginjil dapat melihat waktu penyaliban Kristus sebagai puncak dari tatapan iman;
pada saat itu kedalaman dan luasnya kasih Allah bersinar keluar. Saat itulah
kemudian Santo Yohanes mempersembahkan kesaksiannya yang sungguh-sungguh,
saat ia bersama-sama dengan Ibu Yesus memandang kepada Dia yang telah ditikam
(bdk. Yoh 19:37): “Orang yang melihat hal ini sendiri telah memberikan kesaksian,
supaya kamu juga percaya. Kesaksiannya adalah benar, dan ia tahu bahwa ia
mengatakan kebenaran” (Yoh 19:35). Dalam The Idiot karya Dostoevsky, Pangeran
Myshkin melihat sebuah lukisan yang dibuat oleh Hans Holbein Muda, yang
menggambarkan Kristus yang wafat di dalam kubur, dan [ia] berkata: “Melihat pada
lukisan itu mungkin dapat menyebabkan seseorang kehilangan
imannya”.[14] Lukisan itu adalah sebuah gambaran mengerikan dari efek- efek yang
menghancurkan dari kematian pada tubuh Kristus. Namun justru dalam
merenungkan kematian Yesuslah maka iman bertambah kuat dan menerima sebuah
terang yang mempesonakan; lalu ia [iman] dinyatakan sebagai iman akan kasih setia
Kristus bagi kita, sebuah kasih yang mampu merangkul kematian untuk membawa
kita kepada keselamatan. Kasih ini, yang tidak undur terhadap kematian agar dapat
menunjukkan kedalamannya, adalah sesuatu yang dapat kupercayai; pemberian diri
total Kristus mengatasi setiap kecurigaan dan memungkinkan aku untuk
mempercayakan diriku sendiri kepada-Nya sepenuhnya.
17. Kematian Kristus memperlihatkan keandalan yang sempurna dari kasih Allah
yang terpenting dalam terang kebangkitan-Nya. Sebagai Seorang yang bangkit,
Kristus adalah saksi yang dapat dipercaya, patut diimani (bdk. Why 1:5; Ibr 2:17),
dan sebuah pendukung yang kuat untuk iman kita. “Jika Kristus tidak dibangkitkan,
maka sia-sialah kepercayaanmu”, kata Santo Paulus (1 Kor 15:17). Seandainya kasih
Bapa tidak menyebabkan Yesus bangkit dari kematian-Nya, seandainya kasih itu
belum mampu mengembalikan tubuh-Nya untuk hidup kembali, maka itu tidak
akan menjadi sebuah kasih yang benar-benar dapat diandalkan, yang mampu
menerangi juga kegelapan dari kematian. Ketika Santo Paulus menggambarkan
hidup barunya di dalam Kristus, ia berbicara tentang “iman di dalam Putera Allah
yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20). Jelas,
“iman di dalam Putera Allah” ini berarti iman Paulus di dalam Yesus, tetapi iman
itu juga mengambil dasar jaminan bahwa Yesus sendiri adalah layak untuk diimani,
atas dasar bukan hanya bahwa Ia telah mengasihi kita bahkan sampai mati, tetapi
juga atas dasar status keputraan ilahi-Nya. Tepatnya karena Yesus adalah PuteraNya, karena Dia secara keseluruhan didasarkan dalam Allah Bapa, Dia mampu
menaklukkan kematian dan membuat kepenuhan hidup bersinar keluar. Budaya
kita telah kehilangan arti kehadiran nyata dan aktivitas Allah di dunia kita. Kita
berpikir bahwa Allah dapat ditemukan di luar sana, pada tingkatan lain dari realitas,
jauh terpisahkan dari hubungan-hubungan relasi kita sehari-hari. Tapi jika ini
terjadi, jika Allah tidak bisa bertindak di dunia ini, kasih-Nya tidak akan menjadi
benar-benar kuat, benar-benar nyata, dan dengan demikian bahkan tidak benar,
sebuah kasih yang mampu mengantarkan kebahagiaan yang dijanjikannya. Keadaan
ini tidak akan membuat perbedaan sama sekali apakah kita telah percaya kepadaNya atau tidak. Sebaliknya, umat Kristiani, mengakui iman mereka dalam kasih
Allah yang nyata dan kuat yang benar-benar bertindak dalam sejarah dan
menentukan tujuan akhirnya: sebuah kasih yang dapat dijumpai, sebuah kasih yang
sepenuhnya terungkap dalam sengsara, kematian dan kebangkitan Kristus.
18. Kepenuhan ini yang Yesus bawa kepada iman, memiliki aspek yang
menentukan lainnya. Dalam iman, Kristus bukan hanya yang di dalam-Nya kita
percaya, manifestasi tertinggi dari kasih Allah itu; Dia juga adalah Seorang yang
dengan-Nya kita bersatu, justru dengan maksud untuk percaya. Iman tidak hanya
memandang kepada Yesus, tetapi melihat hal-hal sebagaimana Yesus sendiri
melihat mereka, dengan mata-Nya sendiri: itu adalah sebuah partisipasi dalam cara
Ia melihat. Di banyak area dalam hidup kita, kita percaya kepada orang lain yang
tahu lebih banyak daripada yang kita sendiri ketahui. Kita percaya kepada arsitek
yang membangun rumah kita, apoteker yang memberikan kita obat untuk
penyembuhan, pengacara yang membela kita di pengadilan. Kita juga perlu
seseorang yang bisa dipercaya dan berpengetahuan luas sehubungan dengan Allah.
Yesus, Putera Allah, Dialah yang menyatakan Allah kepada kita (bdk. Yoh 1:18).
Hidup Kristus, cara-Nya mengenal Bapa-Nya dan hidup dalam hubungan yang
lengkap dan konstan dengan Bapa-Nya, membuka rangkaian pandangan yang baru
dan yang mengundang bagi pengalaman manusia. Santo Yohanes menyatakan
pentingnya sebuah hubungan pribadi dengan Yesus bagi iman kita dengan
menggunakan berbagai bentuk kata kerja “percaya”. Selain “percaya bahwa” apa
yang Yesus katakan kepada kita adalah benar, Yohanes juga berbicara tentang
“percaya” Yesus dan “percaya akan” Yesus. Kita “percaya” Yesus ketika kita
menerima Sabda-Nya, kesaksian-Nya, karena Dia berkata benar. Kita “percaya
akan” Yesus ketika kita secara pribadi menyambut-Nya ke dalam hidup kita dan
melakukan perjalanan ke arah-Nya, dengan melekat kepada-Nya dalam kasih dan
mengikuti jejak-Nya sepanjang jalan-Nya. Untuk memampukan kita mengenal,
menerima dan mengikuti-Nya, Putera Allah mengambil daging kita [menjadi
manusia]. Dengan cara ini Dia juga melihat Bapa-Nya dengan cara manusiawi,
dalam kerangka sebuah perjalanan yang menjadi jelas dalam waktu. Iman Kristiani
adalah iman akan inkarnasi dari Sang Sabda dan kebangkitan Tubuh-Nya; itu
adalah iman akan Allah yang berada begitu dekat dengan kita sehingga Dia masuk
ke dalam sejarah manusia. Jauh dari memisahkan kita dengan realitas, iman kita
kepada Putera Allah yang menjadi manusia dalam Yesus dari Nazaret
memungkinkan kita untuk memahami makna terdalam dari realitas dan untuk
melihat betapa besar Allah mengasihi dunia ini dan terus membimbingnya ke arah
Diri-Nya sendiri. Hal ini menuntun kita, sebagai umat Kristiani, untuk menjalani
hidup kita di dunia ini dengan komitmen dan intensitas yang semakin besar.
Keselamatan oleh iman
19. Atas dasar partisipasi dalam cara Yesus melihat hal-hal ini, Santo Paulus telah
meninggalkan kita sebuah uraian kehidupan iman. Dalam menerima karunia iman,
orang-orang percaya menjadi sebuah ciptaan baru; mereka menerima sebuah
keberadaan baru; sebagai anak-anak Allah, mereka sekarang adalah “para putera di
dalam Sang Putera”. Ungkapan “Abba, Bapa” itu, yang menjadi ciri khusus dari
pengalaman Yesus sendiri, sekarang menjadi inti dari pengalaman Kristiani (bdk.
Rom 8:15). Kehidupan iman, sebagai sebuah eksistensi hubungan antara anak dan
bapa, adalah pengakuan dari sebuah karunia primordial [sejak awal mula] dan
radikal yang menjunjung tinggi hidup kita. Kita lihat hal ini dengan jelas dalam
pertanyaan Santo Paulus kepada jemaat di Korintus: “Apakah yang engkau punyai
yang tidak engkau terima?” (1 Kor 4:7). Hal ini merupakan inti pokok perdebatan
Paulus dengan orang- orang Farisi: masalah tentang apakah keselamatan dicapai
dengan iman atau dengan perbuatan-perbuatan sesuai dengan hukum Taurat.
Paulus menolak sikap dari mereka yang menganggap diri mereka dibenarkan di
hadapan Allah atas dasar perbuatan-perbuatan mereka sendiri. Orang-orang
semacam itu, bahkan ketika mereka mematuhi perintah-perintah dan melakukan
perbuatan-perbuatan baik, berpusat pada diri mereka sendiri; mereka gagal untuk
menyadari bahwa kebaikan datang dari Allah. Mereka yang hidup dengan cara ini,
yang ingin menjadi sumber dari kebenaran mereka sendiri, menemukan bahwa yang
terakhir ini akan segera habis dan bahwa mereka bahkan tidak mampu menjaga
hukum. Mereka menjadi terperangkap dalam diri mereka sendiri dan terisolasi dari
Tuhan dan dari orang lain; hidup mereka menjadi sia-sia dan perbuatan-perbuatan
mereka tandus, seperti sebatang pohon jauh dari air. Santo Agustinus mengatakan
kepada kita dengan caranya yang ringkas dan mengejutkan seperti biasa: ”Ab eo qui
fecit te , noli deficere nec ad te“, “Jangan berpaling dari Dia yang telah menciptakan
kamu, bahkan untuk menuju ke arah dirimu sendiri”.[15] Pada saat aku berpikir
bahwa dengan berpaling dari Allah, aku akan menemukan diriku sendiri, hidupku
mulai hancur berantakan (bdk. Luk 15:11-24). Awal keselamatan adalah
keterbukaan terhadap sesuatu sebelum kepada diri kita sendiri, kepada sebuah
karunia sejak awal mula yang menyatakan kehidupan dan menopangnya dalam
keberadaannya. Hanya dengan menjadi terbuka dan mengakui karunia ini kita dapat
diubah, mengalami keselamatan dan menghasilkan buah yang baik. Keselamatan
oleh iman berarti mengakui keutamaan karunia Allah. Sebagaimana Santo Paulus
katakan itu: “Dengan rahmat kamu diselamatkan oleh iman, dan ini bukan hasil
usahamu sendiri, melainkan pemberian Allah” (Ef 2:8).
20. Cara pandang yang baru dari iman untuk melihat segala sesuatu adalah berpusat
pada Kristus. Iman dalam Kristus membawa keselamatan karena di dalam Dia
hidup kita menjadi terbuka secara radikal terhadap sebuah kasih yang mendahului
kita, sebuah kasih yang mengubah kita dari dalam, yang bertindak di dalam kita dan
melalui kita. Hal ini jelas terlihat dalam penafsiran Santo Paulus akan sebuah teks
dari kitab Ulangan, sebuah tafsir yang sesuai dengan inti dari pesan Perjanjian
Lama. Musa memberitahu orang-orang bahwa perintah Allah tidaklah terlalu sukar
ataupun tidaklah terlalu jauh. Tidak perlu untuk mengatakan: “Siapakah yang akan
naik ke surga bagi kita dan membawanya kepada kita?” atau “Siapakah yang akan
menyeberang ke seberang laut bagi kita, dan membawanya kepada kita?” (Ul 30:1114). Paulus menginterprestasikan kedekatan Sabda Allah ini dalam arti kehadiran
Kristus di dalam diri orang Kristen. “Jangan katakan di dalam hatimu: Siapakah
yang akan naik ke surga?” (yaitu, untuk membawa Yesus turun), atau ‘Siapakah
yang akan turun ke jurang maut? “(yaitu, untuk membawa Kristus bangkit dari
antara orang mati)” (Rom 10:6-7). Kristus turun ke bumi dan bangkit dari dunia
orang mati; oleh inkarnasi dan kebangkitan-Nya, Sang Putera Allah telah memeluk
seluruh hidup dan sejarah manusia, dan sekarang berdiam di dalam hati kita melalui
Roh Kudus. Iman tahu bahwa Allah telah mendekat kepada kita, bahwa Kristus
telah diberikan kepada kita sebagai sebuah pemberian yang luar biasa besar yang
mengubah kita dari dalam, [bahwa Kristus] berdiam dalam diri kita dan dengan
demikian melimpahkan kepada kita, terang yang menerangi asal-usul dan akhir
kehidupan.
21. Maka, kita dapat melihat perbedaan itu, yang dibuat oleh iman bagi kita. Mereka
yang percaya diubah oleh kasih itu yang kepadanya mereka telah membuka hati
mereka dalam iman. Dengan keterbukaan mereka terhadap tawaran kasih yang
terdapat sejak awal mula ini, kehidupan mereka diperbesar dan diperluas. “Bukan
lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20).
“Semoga Kristus berdiam di dalam hatimu melalui iman” (Ef 3:17). Kesadaran diri
dari orang percaya itu sekarang meluas karena kehadiran Seseorang yang lain; ia
sekarang tinggal di dalam Seorang yang lain ini dan dengan demikian, dalam kasih,
hidup memperoleh sebuah nafas baru yang utuh. Di sini kita melihat Roh Kudus
bekerja. Seorang Kristen dapat melihat dengan mata Yesus dan mengambil bagian
dalam pikiran-Nya, sikap batin yang berkenaan dengan keputeraan-Nya, karena ia
mengambil bagian dalam kasih-Nya, yang adalah Roh. Dalam kasih Yesus, kita
menerima visi-Nya dengan sebuah cara tertentu. Tanpa menjadi serupa dengan Dia
dalam kasih, tanpa kehadiran Roh, adalah mustahil untuk mengakui Dia sebagai
Tuhan (bdk. 1 Kor 12:3).
Bentuk gerejawi dari iman
22. Dengan cara ini, hidup orang percaya menjadi sebuah eksistensi gerejawi,
sebuah kehidupan dihidupi dalam Gereja. Ketika Santo Paulus memberitahukan
umat Kristiani di Roma bahwa semua yang percaya kepada Kristus membentuk
satu tubuh, ia mendesak mereka untuk tidak membanggakan akan hal ini;
melainkan, masing-masing harus memikirkan dirinya sendiri “menurut ukuran iman
yang dikaruniakan Allah ” (Rom 12:3). Mereka yang percaya dapat melihat diri
mereka sendiri dalam terang iman yang mereka nyatakan: Kristus adalah cermin di
mana mereka menemukan gambaran mereka sendiri yang sepenuhnya terwujud.
Dan sama seperti Kristus mengumpulkan kepada Diri-Nya semua orang yang
percaya dan menjadikan mereka tubuh-Nya, sehingga orang Kristen itu dapat
melihat dirinya sendiri sebagai sebuah anggota dari tubuh ini, dalam sebuah
hubungan relasi yang penting dengan semua orang percaya lainnya. Gambaran dari
sebuah tubuh tidak berarti bahwa orang percaya itu adalah hanya satu bagian dari
suatu keseluruhan yang anonim, semata-mata sebuah roda penggerak belaka dalam
sebuah mesin yang besar; melainkan ia [gambaran tubuh itu] menyatakan kesatuan
yang sangat penting antara Kristus dengan orang-orang percaya dan antara orang
percaya di kalangan mereka sendiri (bdk. Rom 12 :4-5). Umat Kristiani adalah
“satu” (bdk. Gal 3:28), namun dengan sebuah cara yang tidak membuat mereka
kehilangan individualitas mereka; dalam pelayanan kepada orang lain, mereka
datang ke dalam milik mereka sendiri di tingkat yang tertinggi. Hal ini menjelaskan
mengapa, terlepas dari tubuh ini, di luar kesatuan Gereja di dalam Kristus ini, di
luar Gereja ini yang – menurut kata-kata Romano Guardini – “adalah pembawa
dalam sejarah tatapan lengkap [sempurna] Kristus atas dunia”[16] – iman
kehilangan “ukuran”-nya; ia [iman itu] tidak lagi menemukan keseimbangannya,
ruang yang diperlukan untuk menopang dirinya sendiri. Iman adalah harus
gerejawi, itu dinyatakan dari dalam tubuh Kristus sebagai sebuah persekutuan yang
nyata dari orang percaya. Adalah berlawanan dengan latar belakang gerejawi ini
bahwa iman membuka seorang Kristen secara individu itu ke arah semua orang
lain. Sabda Kristus, begitu didengar, oleh karena kekuatan batinnya yang bekerja
dalam hati orang Kristen itu, menjadi sebuah tanggapan, sebuah kata yang
diucapkan, sebuah pengakuan iman. Seperti yang Santo Paulus katakan: “seseorang
percaya dengan hatinya … dan mengaku dengan bibirnya” (Rom 10:10). Iman
bukanlah sebuah masalah pribadi, sebuah gagasan yang sepenuhnya individualistik
atau sebuah pendapat pribadi: iman datang dari pendengaran, dan itu dimaksudkan
untuk menemukan ekspresi dalam kata-kata dan untuk diwartakan. Karena
“bagaimana mereka percaya kepada-Nya, jika mereka tidak pernah mendengar
tentang Dia? Dan bagaimana mereka mendengar tentang Dia jika tidak ada yang
memberitakan-Nya?” (Rom 10:14). Iman menjadi berpengaruh di dalam diri orang
Kristen atas dasar dari kasih karunia yang diterima, kasih yang menarik hati kita
kepada Kristus (bdk. Gal 5:6), dan memungkinkan kita untuk menjadi bagian dari
ziarah besar Gereja melalui sejarah sampai akhir dunia. Bagi mereka yang telah
diubah dengan cara ini, sebuah cara pandang yang baru terbuka sama sekali, iman
menjadi terang bagi mata mereka.
BAB DUA: JIKA KAMU TIDAK PERCAYA, KAMU
TIDAK AKAN MENGERTI (bdk. Yes 7:9)
Iman dan kebenaran
23. Jika kamu tidak percaya, kamu tidak akan mengerti (bdk. Yes 7:9). Versi Yunani
dari Alkitab Ibrani, terjemahan Septuaginta yang dibuat di Aleksandria,
memberikan gambaran kata-kata di atas yang diucapkan oleh nabi Yesaya kepada
Raja Ahas. Dengan cara ini, persoalan pengetahuan tentang kebenaran menjadi
pusat bagi iman. Namun demikian, teks Ibrani, membacanya berbeda, nabi itu
berkata kepada raja: “Jika kamu tidak percaya, kamu tidak akan teguh jaya”. Di sini
ada permainan kata-kata, didasarkan pada dua bentuk kata kerja’amān :”Kamu akan
percaya” (ta’amînû) dan “Kamu akan teguh jaya” (tē’āmēnû). Karena ketakutan
dengan kekuatan musuh-musuhnya, raja itu mencari keamanan yang dapat
ditawarkan oleh sebuah aliansi dengan kerajaan Asyur yang besar. Sebaliknya, nabi
itu memberitahukan raja untuk percaya sepenuhnya kepada batu yang kokoh dan
tetap teguh yang adalah Allah Israel. Karena Allah dapat dipercaya, adalah wajar
untuk memiliki iman kepada-Nya, untuk berdiri teguh pada sabda-Nya. Dia adalah
Allah yang sama yang nantinya disebut oleh Yesaya, dua kali dalam satu ayat, Allah
yang adalah Amin, “Allah kebenaran” (bdk. Yes 65:16), pondasi yang tetap
bertahan bagi kesetiaan perjanjian itu. Mungkin kelihatannya, dengan
menerjemahkan “teguh jaya” sebagai “mengerti”, Alkitab versi Yunani tersebut,
secara mendalam telah mengubah makna teks dengan bergerak menjauh dari
gagasan alkitabiah akan kepercayaan kepada Allah, menuju kepada sebuah gagasan
Yunani akan pemahaman intelektual. Namun terjemahan ini, yang sementara tentu
mencerminkan sebuah dialog dengan budaya Helenistik, adalah tidak asing dengan
semangat yang mendasari teks Ibrani itu. Pondasi yang kokoh, yang Yesaya janjikan
kepada raja itu memang didasarkan pada sebuah pemahaman tentang perbuatan
Allah dan kesatuan yang Dia berikan kepada kehidupan manusia dan kepada
sejarah umat-Nya itu. Nabi ini menantang raja, dan kita, untuk memahami cara-cara
Tuhan, dengan melihat di dalam kesetiaan Allah, rencana yang bijaksana yang
mengatur zaman ke zaman. Santo Agustinus mengambil perpaduan dari ide-ide
“pengertian” dan “menjadi teguh jaya” ini dalam Pengakuan-Pengakuan-nya
(Confessions) ketika ia berbicara tentang kebenaran yang atasnya seseorang dapat
bersandar agar dapat berdiri teguh: “Selanjutnya aku akan dibentuk dan
ditempatkan dengan kokoh dalam cetakan kebenaran-Mu”.[17] Dari konteks
tersebut kita tahu bahwa perhatian Agustinus adalah untuk menunjukkan bahwa
kebenaran Allah yang dapat dipercaya ini adalah, sebagaimana Alkitab jelaskan,
kehadiran-Nya sendiri yang setia sepanjang sejarah, kemampuan-Nya untuk terus
memelihara waktu dan zaman, dan untuk mengumpulkan menjadi satu, untaian
yang tersebar dari hidup kita.[18]
24. Membaca dalam terang ini, teks nubuat itu mengarah kepada satu kesimpulan:
kita membutuhkan pengetahuan, kita membutuhkan kebenaran, karena tanpa ini
kita tidak bisa berdiri teguh, kita tidak bisa bergerak maju. Iman tanpa kebenaran
tidak menyelamatkan, hal itu tidak menyediakan sebuah pijakan yang pasti. Ia [iman
tanpa kebenaran] tetap menjadi sebuah cerita yang indah, proyeksi dari kerinduan
kita yang mendalam untuk kebahagiaan, sesuatu yang mampu memuaskan kita
sampai-sampai kita bersedia untuk menipu diri kita sendiri. Entah itu, atau iman
direduksi menjadi sebuah perasaan yang tinggi sekali, yang membawa penghiburan
dan kegembiraan, namun tetap menjadi kurban karena fantasi dari roh kita dan
perubahan musim, yang tidak mampu mempertahankan sebuah perjalanan yang
mantap di sepanjang kehidupan. Seandainya yang semacam itu adalah iman, Raja
Ahas akan menjadi benar untuk tidak mempertaruhkan hidup dan keamanan
kerajaannya pada sebuah perasaan. Tapi justru karena hubungannya yang mendasar
dengan kebenaran, sebaliknya iman mampu menawarkan sebuah terang yang baru,
yang lebih unggul dari perhitungan- perhitungan raja itu, karena iman melihat lebih
lanjut dalam kejauhan dan memperhitungkan tangan Allah, yang tetap setia kepada
perjanjian dan janji-janji-Nya.
25. Saat ini lebih dari sebelumnya, kita perlu diingatkan tentang ikatan antara iman
dan kebenaran ini, mengingat krisis kebenaran dalam zaman kita. Dalam budaya
kontemporer, kita sering cenderung untuk mempertimbangkan satu-satunya
kebenaran nyata adalah [kebenaran] dari teknologi itu: kebenaran adalah apa yang
berhasil kita bangun dan ukur dengan pengetahuan ilmiah kita, kebenaran adalah
apa yang berhasil dan apa yang membuat hidup lebih mudah dan lebih nyaman.
Dewasa ini, hal ini muncul sebagai satu-satunya kebenaran yang pasti, satu-satunya
kebenaran yang bisa dibagikan, satu-satunya kebenaran yang dapat berfungsi
sebagai sebuah dasar untuk diskusi atau untuk karya bersama. Namun di ujung lain
dari timbangan tersebut, kita bersedia untuk memperbolehkan kebenarankebenaran subjektif dari perorangan, yang terdapat dalam kesetiaan kepada
keyakinan-keyakinannya yang terdalam, namun demikian ini adalah kebenarankebenaran yang berlaku hanya untuk pribadi orang itu dan tidak dapat untuk
diusulkan kepada orang lain dalam upaya untuk melayani kepentingan bersama.
Tapi Kebenaran itu sendiri, kebenaran yang secara komprehensif akan menjelaskan
kehidupan kita sebagai individu dan dalam masyarakat, dipandang dengan
kecurigaan. Tentunya kebenaran semacam ini – kita dengar itu dikatakan – adalah
apa yang diklaim oleh gerakan-gerakan totaliter yang besar di abad terakhir, sebuah
kebenaran yang mengenakan pandangan dunianya sendiri agar menghancurkan
kehidupan-kehidupan nyata dari orang per orang. Pada akhirnya, apa yang tersisa
pada kita adalah relativisme, di mana pertanyaan tentang kebenaran universal itu –
dan akhirnya hal ini berarti pertanyaan tentang Allah – tidak lagi relevan. Akan
menjadi logis, dari sudut pandang ini, untuk mencoba memutuskan ikatan antara
agama dan kebenaran, karena ikatan itu tampaknya terletak pada akar fanatisme,
yang membuktikan penindasan bagi siapa pun yang tidak mempunyai keyakinankeyakinan yang sama. Meskipun demikian, dalam hal ini, kita dapat berbicara
tentang sebuah amnesia yang sangat besar dalam dunia kontemporer kita.
Persoalan tentang kebenaran adalah benar-benar sebuah persoalan memori/
kenangan, kenangan yang mendalam, karena hal itu berhubungan dengan sesuatu
yang lebih awal dari diri kita sendiri dan dapat berhasil dalam mempersatukan kita
dengan cara yang melampaui kesadaran individu kita yang kecil dan terbatas. Ini
adalah sebuah persoalan tentang asal-usul dari semua yang ada, yang dalam
cahayanya kita dapat sekilas melihat tujuan itu dan dengan demikian, makna dari
jalan yang kita tempuh bersama.
Pengetahuan kebenaran dan kasih
26. Ini menjadi masalahnya, dapatkah iman Kristiani memberikan sebuah
pelayanan untuk kepentingan bersama berkaitan dengan cara yang benar untuk
memahami kebenaran? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu merenungkan
jenis pengetahuan yang terlibat dalam iman. Berikut sebuah perkataan Santo Paulus
yang dapat membantu kita: “Seseorang percaya dengan hatinya” (Rom 10:10).
Dalam Alkitab, hati adalah inti dari pribadi manusia itu, di mana semua dimensinya
yang berbeda bersinggungan: tubuh dan jiwa, interioritas dan keterbukaan terhadap
dunia dan orang lain, kecerdasan, kemauan dan ungkapan kasih. Jika hati mampu
memegang semua dimensi ini bersama-sama, itu adalah karena kita menjadi terbuka
kepada kebenaran dan kasih, di mana kita membiarkan keduanya menyentuh kita
dan dengan mendalam mengubah kita. Iman mengubah keseluruhan pribadi
seseorang tepatnya dalam artian bahwa ia menjadi terbuka terhadap kasih. Melalui
perpaduan iman dan kasih ini kita dapat melihat jenis pengetahuan yang dibawa
oleh iman, kekuatannya untuk meyakinkan dan kemampuannya untuk menerangi
langkah-langkah kita. Iman mengetahui, karena iman terikat kepada kasih, sebab
kasih itu sendiri membawa pencerahan. Pengertian iman lahir ketika kita menerima
cinta kasih Allah yang begitu besar yang mengubah kita dari dalam dan
memungkinkan kita untuk melihat realitas dengan mata yang baru.
27. Penjelasan tentang hubungan antara iman dan kepastian yang diajukan oleh
filsuf Ludwig Wittgenstein cukup dikenal dengan baik. Bagi Wittgenstein, percaya
dapat dibandingkan dengan pengalaman jatuh cinta: itu adalah sesuatu yang
subjektif yang tidak dapat diusulkan sebagai sebuah kebenaran yang valid bagi
semua orang.[19] Memang, kebanyakan orang dewasa ini tidak akan menganggap
cinta kasih berhubungan dengan kebenaran dalam cara apapun. Cinta kasih
dipandang sebagai pengalaman yang diasosiasikan dengan dunia emosi sesaat, tidak
lagi dengan kebenaran.
Tapi apakah ini adalah sebuah penjabaran yang memadai tentang kasih? Kasih tidak
dapat direduksi menjadi sebuah emosi yang singkat. Benar, kasih terkait dengan
pengaruh emosi kita, tetapi untuk membukanya kepada orang yang dikasihi dan
dengan demikian menjadi pemicu jalur yang menjauh dari keterpusatan kepada diri
sendiri dan mengarah kepada orang lain, dalam upaya untuk membangun sebuah
hubungan yang abadi; kasih bertujuan kepada persatuan dengan sang kekasih. Di
sini kita mulai melihat bagaimana kasih mensyaratkan kebenaran. Hanya dalam
artian bahwa kasih didasarkan pada kebenaran, kasih dapat bertahan dari waktu ke
waktu, dan dapat melampaui saat yang bergulir dan menjadi cukup kuat untuk
menopang sebuah perjalanan bersama. Jika kasih tidak terikat pada kebenaran, ia
menjadi korban emosi-emosi yang berubah-ubah dan tidak dapat bertahan dalam
ujian waktu. Kasih sejati, di sisi lain, menyatukan semua elemen pribadi kita dan
menjadi sebuah terang baru yang menunjukkan jalan kepada sebuah kehidupan
yang besar dan lengkap. Tanpa kebenaran, kasih tidak mampu membentuk sebuah
ikatan kuat; ia tidak dapat membebaskan ego kita yang terisolasi atau
membebaskannya dari momen yang cepat berlalu, agar menciptakan kehidupan dan
menghasilkan buah.
Jika kasih membutuhkan kebenaran, kebenaran juga membutuhkan kasih. Kasih
dan kebenaran tidak dapat dipisahkan. Tanpa kasih, kebenaran menjadi dingin,
impersonal (bukan bersifat pribadi) dan menindas kehidupan manusia sehari- hari.
Kebenaran yang kita cari, kebenaran yang memberikan makna pada perjalanan kita
sepanjang kehidupan, menerangi kita setiap kali kita disentuh oleh kasih. Seseorang
yang mengasihi menyadari bahwa kasih adalah sebuah pengalaman akan kebenaran,
bahwa kasih membuka mata kita untuk melihat realitas dengan cara yang baru,
dalam persatuan dengan sang kekasih. Dalam pengertian ini, Santo Gregorius
Agung dapat menulis bahwa “amor ipse notitia est“, kasih itu sendiri adalah sejenis
pengetahuan yang dimiliki logikanya sendiri.[20] Ini merupakan sebuah cara
relasional yang memandang dunia, yang kemudian menjadi sebuah bentuk
pengetahuan bersama, visi melalui mata orang lain dan sebuah visi bersama dari
semua yang ada. Santo William dari Thierry, pada abad pertengahan, mengikuti
tradisi ini ketika dia memberikan komentar pada ayat Kidung Agung di mana sang
kekasih berkata kepada kekasihnya, “Matamu bagaikan merpati” (Kid
1:15).[21] Dua mata itu, kata William, adalah akal budi dan kasih yang dipenuhi
oleh iman, yang kemudian menjadi satu dalam pendekatan kepada kontemplasi
Allah, ketika pemahaman kita menjadi “sebuah pemahaman tentang kasih yang
dicerahkan [oleh pandangan pengetahuan dan spiritual] “.[22]
28. Penemuan kasih ini sebagai sumber ilmu pengetahuan, yang merupakan bagian
dari pengalaman primordial [terdapat sejak awal mula dahulu] dari setiap pria dan
wanita, menemukan ekspresi otoritatif dalam pemahaman tentang iman secara
alkitabiah. Dalam menikmati kasih yang dengannya Allah telah memilih mereka dan
membuat mereka menjadi sebuah bangsa, Israel sampai pada pemahaman tentang
keseluruhan kesatuan rencana ilahi itu. Pengetahuan iman, karena lahir dari kasih
perjanjian Allah, adalah pengetahuan yang menerangi sebuah jalan dalam sejarah.
Itulah sebabnya, dalam Alkitab, kebenaran dan kesetiaan berjalan bersama-sama:
Allah yang benar adalah Allah kesetiaan yang menepati janji-janji-Nya dan
membuatnya mungkin, tepat pada waktunya, sebuah pemahaman yang lebih dalam
akan rencana-Nya. Melalui pengalaman para nabi, dalam kepedihan hati dari
pengasingan dan dengan pengharapan akan kembalinya ke kota suci secara pasti,
Israel sampai pada penglihatan bahwa “kebenaran” ilahi ini telah melampaui batasbatas sejarah bangsa itu sendiri, untuk merangkul keseluruhan sejarah dunia, yang
dimulai dengan penciptaan. Pengetahuan- iman tidak hanya memperjelas nasib dari
satu bangsa tertentu, tetapi seluruh sejarah dari dunia yang diciptakan, dari asalusulnya sampai kepada penyempurnaannya.
Iman karena pendengaran dan penglihatan
29. Tepatnya karena pengetahuan- iman terkait dengan perjanjian dengan Seorang
Allah yang setia yang masuk ke dalam suatu hubungan kasih dengan manusia dan
mengatakan sabda-Nya kepada manusia, Alkitab menghadirkannya sebagai sebuah
bentuk pendengaran, hal ini terkait dengan indera pendengaran. Santo Paulus ingin
menggunakan sebuah rumusan yang menjadi klasik: fides ex auditu, “iman timbul
dari pendengaran” (Rom 10:17). Pengetahuan yang terkait dengan sebuah kata
adalah selalu pengetahuan yang bersifat personal; yang mengenali suara dari
seseorang yang berbicara, membukakan kepada orang itu dalam kebebasan dan
mengikuti dia [laki-laki atau perempuan] dalam ketaatan. Paulus bisa dengan
demikian berbicara tentang “ketaatan iman” (bdk. Rom 1:5; 16:26).[23] Iman juga
sebuah pengetahuan yang terikat pada jalur waktu, karena kata-kata membutuhkan
waktu untuk diucapkan, dan iman adalah sebuah pengetahuan yang diserap hanya
sepanjang perjalanan permuridan. Karena itu, pengalaman dari pendengaran dapat
membantu untuk menghasilkan dengan lebih jelas ikatan antara pengetahuan dan
kasih itu.
Seringkali, di mana pengetahuan akan kebenaran dirisaukan, pendengaran telah
dipertentangkan dengan penglihatan; telah diklaim bahwa penekanan pada
penglihatan merupakan karakteristik kebudayaan Yunani. Jika terang membuat
mungkin bahwa kontemplasi akan keseluruhan yang kepadanya umat manusia
selalu bercita-cita, itu juga akan nampaknya tidak meninggalkan ruang bagi
kebebasan, karena ia [terang itu] turun dari surga secara langsung ke mata, tanpa
menuntut sebuah tanggapan. Ia [terang] juga nampaknya menuntut semacam
kontemplasi yang tidak berubah, jauh terpisah dari dunia sejarah dengan segala
sukacita dan penderitaannya. Dari sudut pandang ini, pemahaman Alkitab tentang
pengetahuan menjadi bertentangan dengan pemahaman Yunani, karena yang
terakhir ini [paham Yunani] telah mengaitkan pengetahuan kepada penglihatan
dalam upayanya untuk mencapai sebuah pemahaman yang komprehensif dari
realitas.
Pertentangan yang terduga ini, bagaimanapun, tidak sesuai dengan fakta Alkitab.
Perjanjian Lama telah menggabungkan kedua jenis pengetahuan, sejak pendengaran
sabda Allah disertai dengan keinginan untuk melihat wajah-Nya. Oleh karena itu,
dasar telah diletakkan untuk sebuah dialog dengan budaya Helenistik, sebuah dialog
hadir di inti Kitab Suci. Pendengaran menekankan panggilan pribadi dan ketaatan,
dan fakta bahwa kebenaran dinyatakan dalam waktu. Penglihatan memberikan
sebuah visi dari keseluruhan perjalanan dan menerima perjalanan tersebut untuk
ditempatkan dalam rencana Allah secara keseluruhan; tanpa visi ini, yang tersisa
pada kita hanyalah bagian-bagian yang tidak berhubungan dari sebuah keseluruhan
yang tidak diketahui.
30. Ikatan antara penglihatan dan pendengaran dalam pengetahuan-iman yang
paling jelas terbukti dalam Injil Yohanes. Bagi Injil ke-Empat ini, percaya adalah
mencakup hal mendengar maupun melihat. Pendengaran iman muncul sebagai
sebuah bentuk dari pengenalan yang layak bagi kasih: pendengaran ini merupakan
sebuah pendengaran pribadi, seseorang yang mengenali suara Sang Gembala Yang
Baik (bdk.Yoh 10:3-5); sebuah pendengaran yang menuntut pemuridan, seperti
halnya dengan para murid-murid Kristus yang pertama: “Mendengar apa yang
dikatakan-Nya itu, [lalu] mereka pergi mengikuti Yesus” (Yoh. 1:37). Namun iman
juga dihubungkan dengan penglihatan. Melihat tanda-tanda yang telah diperbuat
Yesus seringnya menimbulkan iman, seperti dalam kasus orang-orang Yahudi yang,
setelah kebangkitan Lazarus, “setelah menyaksikan apa yang Dia lakukan, percaya
kepada-Nya” (Yoh 11:45). Di saat-saat yang lain, iman itu sendiri mengarah kepada
visi yang lebih dalam: “Jikalau kamu percaya, kamu akan melihat kemuliaan Allah”
(Yoh 11:40). Pada akhirnya, kepercayaan dan penglihatan bersinggungan:
“Siapapun yang percaya kepada-Ku, percaya kepada Dia yang telah mengutus Aku.
Dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia yang telah mengutus Aku.” (Yoh
12:44-45). Digabungkan dengan pendengaran, penglihatan kemudian menjadi
sebuah cara dari mengikuti Kristus, dan iman muncul sebagai sebuah proses dari
tatapan, yang di mana mata kita berangsur terbiasa dengan memandang dengan
tajam jauh ke dalam. Maka, Paskah pagi diteruskan dari Yohanes yang, berdiri di
kegelapan awal pagi di hadapan makam yang kosong, “melihat dan percaya” (Yoh
20:8), kepada Maria Magdalena yang, setelah melihat Yesus (bdk. Yoh 20:14) dan
ingin memegang-Nya, diminta untuk memandang-Nya saat Dia naik kepada BapaNya, dan akhirnya, kepada pengakuan penuh Maria Magdalena dihadapan para
murid-Nya: “Aku telah melihat Tuhan!” (Yoh 20:18).
Bagaimana seseorang mencapai perpaduan antara pendengaran dan penglihatan ini?
Hal ini menjadi mungkin melalui pribadi Kristus sendiri, yang dapat dilihat dan
didengar. Dia adalah Sang Sabda yang menjadi daging, yang kemuliaan-Nya telah
kita lihat (bdk. Yoh 1:14). Terang iman adalah terang dari sebuah wajah yang di
dalamnya Bapa terlihat. Dalam Injil ke-Empat, kebenaran yang dicapai oleh iman
adalah wahyu dari Bapa dalam Sang Putra, dalam daging-Nya dan perbuatanperbuatan-Nya di bumi, sebuah kebenaran yang dapat didefinisikan sebagai
“kehidupan yang dipenuhi terang” dari Yesus.[24] Ini berarti bahwa pengetahuaniman tidak mengarahkan pandangan kita kepada sebuah kebenaran dalam batin
belaka.
Kebenaran yang diungkapkan iman kepada kita adalah sebuah kebenaran yang
berpusat pada sebuah perjumpaan dengan Kristus, pada kontemplasi hidup-Nya
dan pada kesadaran akan kehadiran-Nya. Santo Thomas Aquinas berbicara
tentang fides oculata para rasul – sebuah iman yang melihat! – dalam kehadiran tubuh
Tuhan yang bangkit.[25] Dengan mata kepala mereka sendiri mereka melihat Yesus
yang bangkit dan mereka percaya; dengan kata lain, mereka mampu untuk melihat
lebih tajam ke kedalaman pemahaman dari apa yang telah mereka lihat dan untuk
mengakui iman mereka kepada Putera Allah, yang duduk di sebelah kanan BapaNya.
31. Hanya dengan cara inilah, dengan menjadi daging, dengan berbagi kemanusiaan
kita, maka Pengetahuan yang tepat untuk kasih itu bisa sampai kepada buah hasil
yang penuh. Karena terang Kasih lahir ketika hati kita tersentuh dan kita membuka
diri kita terhadap kehadiran sang Kekasih itu di dalam hati, yang memampukan kita
untuk mengenali misteri-Nya. Dengan demikian kita dapat memahami mengapa,
bersama-sama dengan pendengaran dan penglihatan, Santo Yohanes dapat
berbicara tentang iman sebagai sentuhan, saat ia berkata dalam Surat Pertamanya:
“Apa yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami dan yang
telah kami raba dengan tangan kami, tentang Firman hidup” (1 Yoh 1:1). Dengan
menjelma menjadi daging dan datang di antara kita, Yesus telah menyentuh kita,
dan melalui sakramen-sakramen Dia terus menyentuh kita bahkan sampai hari ini,
dengan mengubah hati kita, Dia tak henti-hentinya memampukan kita untuk
mengakui dan menyatakan diri-Nya sebagai Putera Allah. Dalam iman, kita dapat
menyentuh-Nya dan menerima kekuatan rahmat-Nya. Santo Agustinus,
berkomentar tentang wanita yang menderita pendarahan yang telah menyentuh
Yesus dan disembuhkan (bdk. Luk 8:45-46), mengatakan: “Untuk menyentuh-Nya
dengan hati kita: itulah apa yang dimaksud dengan percaya”.[26] Kerumunan orang
mendesak Yesus, tetapi mereka tidak menggapai-Nya dengan sentuhan iman secara
pribadi, yang menangkap misteri bahwa Dia adalah sang Putera yang menyatakan
Bapa-Nya. Hanya ketika kita dibentuk menjadi satu dengan Yesus kita memperoleh
mata yang dibutuhkan untuk melihat-Nya.
Dialog antara iman dan akal budi
32. Iman Kristiani, karena ia mewartakan kebenaran akan kasih Allah yang total
dan membukakan kita kepada kekuatan kasih itu, menembus kepada inti dari
pengalaman manusiawi kita. Masing-masing dari kita datang kepada terang itu
karena kasih, dan masing-masing dari kita dipanggil untuk mengasihi agar tetap
berada di dalam terang itu. Berhasrat untuk menerangi seluruh realitas dengan kasih
Allah yang dimanifestasikan dalam Yesus, dan berusaha untuk mengasihi orang lain
dengan kasih yang sama itu, jemaat Kristiani perdana menemukan dalam dunia
Yunani itu, dengan kehausannya akan kebenaran, sebuah pasangan ideal dalam
dialog. Perjumpaan pesan Injil dengan budaya dunia kuno yang filosofis telah
membuktikan sebuah langkah yang menentukan dalam evangelisasi bagi semua
bangsa, dan telah membangkitkan suatu interaksi yang berhasil antara iman dan
akal budi yang telah terus berlanjut selama berabad-abad sampai ke zaman kita
sendiri. Beato Yohanes Paulus II, dalam Surat Ensiklik Fides et Ratio [Iman dan
Akal budi], telah menunjukkan bagaimana iman dan akal budi saling memperkuat
satu sama lain.[27] Saat kita menemukan terang yang penuh dari kasih Kristus, kita
menyadari bahwa setiap kasih di dalam kehidupan kita sendiri selalu telah
mengandung seberkas terang itu, dan kita memahami tujuan akhirnya. Fakta itu
bahwa kasih manusiawi kita mengandung berkas terang itu juga membantu kita
untuk melihat bagaimana semua kasih dimaksudkan untuk mengambil bagian di
dalam pemberian diri yang seutuhnya dari Putera Allah demi kita. Di dalam gerakan
yang melingkar ini, terang iman menerangi semua hubungan manusiawi kita, yang
kemudian dapat dihidupi dalam persatuan dengan kelembutan kasih Kristus.
33. Dalam kehidupan Santo Agustinus kita menemukan sebuah contoh yang
signifikan dari proses ini di mana akal budi, dengan hasratnya akan kebenaran dan
kejelasan, telah diintegrasikan ke dalam wawasan iman dan dengan demikian
memperoleh pemahaman baru. Agustinus menerima filsafat Yunani tentang terang,
dengan desakannya kepada pentingnya penglihatan. Perjumpaannya dengan
Neoplatonisme telah memperkenalkannya kepada paradigma terang itu yang, turun
dari tempat tinggi untuk menerangi semua realitas, adalah sebuah simbol dari Allah.
Maka Agustinus sampai kepada penghargaan akan transendensi Allah dan
mendapati bahwa segala sesuatu memiliki sebuah transparansi tertentu, sehingga
mereka dapat merefleksikan kebaikan Allah. Realisasi ini membebaskannya dari
paham Manikeisme yang dianutnya sebelumnya, yang telah menyebabkannya untuk
berpikir bahwa kebaikan dan kejahatan seterusnya ada dalam pertentangan,
tercampur baur dan terjalin satu sama lain. Realisasi bahwa Allah adalah terang
telah memberikan Augustinus sebuah arah baru dalam hidup dan memampukannya
untuk mengakui kedosaan-nya dan untuk beralih menuju kebaikan.
Namun demikian, momen yang menentukan dalam perjalanan iman Agustinus,
sebagaimana dikatakannya kepada kita dalam Pengakuan-pengakuannya [Confessions],
bukanlah dalam penglihatan akan Allah yang di atas dan melampaui dunia ini,
melainkan di dalam sebuah pengalaman mendengarkan. Di taman itu, ia [St.
Agustinus] mendengar sebuah suara yang mengatakan kepadanya: “Ambil dan
bacalah”. Ia kemudian mengambil buku itu yang berisi surat-surat yang ditulis oleh
Santo Paulus dan mulai membaca bab ketiga belas dari Surat kepada jemaat di
Roma.[28] Dengan cara ini, pribadi Allah dari Alkitab telah menampakkan Diri
kepadanya: Allah yang dapat berbicara kepada kita, datang turun untuk tinggal di
tengah-tengah kita dan menemani perjalanan kita melalui sejarah, yang membuat
diri-Nya dikenal di waktu mendengar dan merespon.
Namun perjumpaan dengan Allah yang berbicara ini tidak menyebabkan Agustinus
menolak terang dan penglihatan. Ia telah mengintegrasikan kedua perspektif dari
pendengaran dan penglihatan, yang secara terus menerus dibimbing oleh wahyu
kasih Allah di dalam Yesus. Dengan demikian Agustinus telah mengembangkan
sebuah filosofi terang yang sanggup merangkul keduanya, baik hubungan timbal
balik yang tepat bagi firman itu, maupun kebebasan yang lahir untuk mencari
terang itu. Sama seperti firman menuntut sebuah respon yang bebas [tidak
terpaksa], begitu juga terang memperoleh sebuah respon di dalam gambaran yang
memantulkannya. Karena itu, Agustinus dapat menghubungkan pendengaran dan
penglihatan, dan berbicara tentang “firman yang bersinar ke luar dari
dalam”.[29] Terang itu menjadi, seolah-olah, terang dari sebuah firman, karena ini
adalah terang dari sebuah raut wajah personal, sebuah terang yang, bahkan ketika ia
menerangi kita, memanggil kita dan berharap agar dipantulkan pada wajah-wajah
kita dan bersinar dari dalam diri kita. Namun demikian kerinduan kita akan
penglihatan keseluruhan itu, dan bukan hanya dari fragmen-fragmen sejarah, tetap
ada dan akan digenapi pada akhirnya, ketika, seperti dikatakan Agustinus, kita akan
melihat dan kita akan mengasihi.[30] Bukan karena kita akan dapat memiliki semua
terang itu, yang mana selalu akan tidak ada habisnya, melainkan karena kita akan
masuk seluruhnya ke dalam terang itu.
34. Terang kasih yang tepat untuk iman dapat menerangi pertanyaan-pertanyaan
dari zaman kita sendiri tentang kebenaran. Kebenaran saat ini sering direduksi
menjadi keaslian subyektif dari individu itu, yang berlaku hanya untuk kehidupan
individu tersebut. Suatu kebenaran umum mengintimidasi kita, karena kita
mengidentifikasi itu dengan tuntutan-tuntutan yang tak kenal kompromi dari
sistem-sistem totaliter [pengendalian kebebasan, kehendak, pikiran orang lain].
Tetapi jika kebenaran adalah sebuah kebenaran kasih, jika itu adalah sebuah
kebenaran yang diungkapkan dalam perjumpaan pribadi dengan Yang Lain-Nya
dan dengan sesama lainnya, maka itu dapat dibebaskan dari keterbatasan dalam
pribadi- pribadi dan menjadi bagian dari kebaikan bersama. Sebagai sebuah
kebenaran kasih, ia [kebenaran kasih itu] adalah bukan sesuatu yang bisa
diberlakukan dengan paksa, ia bukan suatu kebenaran yang mencekik individu
tersebut. Karena kebenaran lahir dari kasih, ia [kebenaran] dapat menembus ke
dalam hati, ke inti pribadi dari setiap pria dan wanita. Maka, jelaslah, iman bukanlah
bersikeras pada pendiriannya sendiri, tetapi bertumbuh dalam keberadaan bersama,
yang penuh hormat dengan orang lain. Orang yang percaya tidak boleh pongah;
sebaliknya, kebenaran membawa kepada kerendahan hati, karena orang-orang yang
percaya tahu bahwa, bukannya diri kita sendiri yang memiliki kebenaran, melainkan
kebenaran-lah yang merangkul dan memiliki kita. Jauh dari membuat kita jadi tidak
fleksibel, jaminan iman meletakkan kita pada sebuah perjalanan; ia memungkinkan
kesaksian dan dialog dengan semua.
Tidaklah juga terang iman, yang digabungkan dengan kebenaran kasih, tiada
berhubungan dengan dunia materi, karena kasih selalu dihidupi keluar dari tubuh
dan roh; terang iman adalah terang yang berinkarnasi, yang memancar dari
kehidupan Yesus yang bercahaya. Terang iman juga menerangi dunia materi itu,
mempercayai ketertiban yang melekat di dalamnya dan mengetahui bahwa ia
[terang iman] memanggil kita kepada sebuah jalur yang meluas tentang keteraturan
dan pengertian. Maka pandangan ilmu pengetahuan memperoleh manfaat dari
iman: iman meneguhkan hati ilmuwan untuk tetap selalu terbuka terhadap realitas
dengan segala kekayaannya yang tidak ada habisnya. Iman membangkitkan rasa
kritis dengan mencegah penelitian dari rasa puas dengan rumusannya sendiri dan
membantu penelitian untuk menyadari bahwa alam adalah selalu lebih besar.
Dengan membangkitkan rasa takjub di hadapan misteri yang mendalam akan
penciptaan, iman memperluas wawasan-wawasan akal budi untuk memancarkan
terang yang lebih besar kepada dunia yang mengungkapkan dirinya sendiri kepada
penyelidikan ilmiah.
Iman dan pencarian akan Allah
35. Terang iman dalam Yesus juga menerangi jalan semua orang yang mencari
Allah, dan memberikan sebuah kontribusi Kristiani yang khusus untuk dialog
dengan para penganut agama-agama yang berbeda. Surat kepada jemaat Ibrani
berbicara tentang kesaksian dari orang-orang benar itu yang, sebelum perjanjian
dengan Abraham, sudah mencari Allah dalam iman. Dari Henokh “ia memperoleh
kesaksian bahwa ia telah berkenan kepada Allah” (Ibr 11:5), sesuatu yang mustahil
terpisah dari iman, karena “barangsiapa mendekati Allah harus percaya bahwa
Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada mereka yang mencari Dia” (Ibr
11:6). Kita dapat melihat dari ini bahwa jalan manusia yang religius melintas
melewati pengakuan akan Allah yang memelihara kita dan yang tidak mustahil
untuk ditemukan. Apa upah lainnya yang dapat Allah berikan kepada mereka yang
mencari Dia, jika bukan membiarkan Diri-Nya ditemukan? Bahkan sebelumnya,
kita menjumpai Habel, yang imannya dipuji dan yang pemberian-pemberiannya,
[yaitu] korban persembahan dari anak-anak sulung kambing dombanya (bdk. Ibr
11:4), telah berkenan bagi Allah. Manusia yang religius berusaha untuk melihat
tanda-tanda Allah dalam pengalaman-pengalaman hidupnya sehari-hari, dalam
siklus musim, dalam kesuburan bumi dan dalam pergerakan kosmos. Allah adalah
terang dan Ia dapat ditemukan juga oleh mereka yang mencari-Nya dengan hati
yang tulus.
Sebuah gambaran dari pencarian ini dapat dilihat pada orang-orang Majus, yang
dituntun ke Betlehem oleh bintang itu (bdk. Mat 2:1-12). Bagi mereka terang Allah
tampak sebagai sebuah perjalanan untuk dilakukan, sebuah bintang yang menuntun
mereka pada sebuah jalan penemuan. Bintang itu merupakan sebuah tanda dari
kesabaran Allah terhadap mata kita yang perlu untuk bertambah terbiasa dengan
keadaan terang-Nya. Manusia religius adalah seorang musafir, ia harus siap untuk
membiarkan dirinya dituntun, untuk keluar dari dirinya sendiri dan untuk
menemukan Allah dari kejutan-kejutan yang abadi. Penghormatan ini kepada peran
Allah bagi mata manusiawi kita, menunjukkan kepada kita bahwa ketika kita
mendekat kepada Allah, terang manusiawi kita tidak terurai dalam terang-Nya yang
maha besar, seperti sebuah bintang yang ditelan oleh fajar, melainkan, semakin
mereka mendekati api yang sudah ada sejak awal mula itu, semakin bersinarlah
mereka dengan terangnya seperti sebuah cermin yang memantulkan cahaya. Iman
Kristiani dalam Yesus, Sang Juruselamat dunia, mewartakan bahwa semua terang
Allah terpusat dalam Dia, dalam “kehidupan terang”-Nya yang mengungkapkan
asal-usul dan akhir sejarah.[31] Tidak ada pengalaman manusia, tidak ada perjalanan
manusia kepada Allah, yang tidak dapat dimulai, diterangi dan dimurnikan dengan
terang ini. Semakin umat Kristiani membenamkan dirinya dalam lingkaran terang
Kristus ini, semakin mampulah mereka untuk memahami dan menyertai jalan dari
setiap pria dan wanita menuju kepada Allah.
Karena iman adalah sebuah jalan, iman juga harus berguna bagi kehidupan para
pria dan wanita itu yang, meskipun bukan orang- orang percaya, namun demikian
memiliki keinginan untuk percaya dan terus mencari. Dalam artian bahwa mereka
dengan tulus terbuka untuk mencintai dan berangkat dengan terang apa-pun yang
dapat mereka temukan, mereka sudah, walau tanpa mengetahuinya, berada di jalan
yang menuntunnya kepada iman. Mereka berusaha untuk bertindak seolah-olah
Allah telah ada, berkali-kali karena mereka menyadari betapa pentingnya Dia demi
mendapatkan sebuah kompas yang pasti bagi kehidupan kita bersama atau karena
mereka mengalami sebuah keinginan akan terang di tengah kegelapan, tetapi juga
karena dalam menyadari kemegahan dan keindahan hidup, mereka mengetahui
secara intuitif bahwa kehadiran Allah akan membuat itu semua semakin indah.
Santo Ireneus dari Lyons menceritakan bagaimana Abraham, sebelum mendengar
suara Allah, telah mencari Dia “di dalam keinginan yang bersemangat dari hatinya”
dan “telah pergi ke seluruh penjuru dunia, dengan menanyakan kepada dirinya
sendiri di mana Allah bisa ditemukan”, sampai “Allah merasa kasihan kepadanya
yang, hanya seorang diri, telah mencari-Nya dalam keheningan”.[32] Setiap orang
yang memulai suatu perjalanan dengan melakukan perbuatan baik kepada orang
lain sudah mendekat kepada Allah, sudah ditopang oleh Pertolongan-Nya, sebab
adalah sifat dari terang ilahi untuk menerangi mata kita setiap kali kita berjalan
menuju kepenuhan kasih.
Iman dan teologi
36. Karena iman adalah terang, ia menarik kita ke dalam dirinya, untuk
mengundang kita menjelajahi dengan lebih penuh lagi, wawasan yang ia terangi,
lebih baik lagi untuk mengetahui tujuan dari kasih kita. Teologi Kristiani lahir dari
keinginan ini. Jelaslah, teologi adalah mustahil tanpa iman; teologi adalah bagian
dari proses yang sebenarnya dari iman, yang mencari sebuah pengertian yang lebih
dalam secara terus menerus dari pengungkapan Diri Allah yang memuncak pada
Kristus. Karena itu, teologi adalah lebih dari hanya sekedar sebuah upaya akal budi
manusia untuk menganalisa dan memahami, sepanjang garis- garis ilmu
pengetahuan eksperimental. Allah tidak dapat direduksi menjadi sebuah obyek. Dia
adalah subyek yang membuat Diri-Nya sendiri dikenal dan dirasakan dalam sebuah
hubungan interpersonal. Iman yang benar mengarahkan akal budi untuk membuka
dirinya kepada terang yang datang dari Allah, sehingga akal budi, yang dibimbing
oleh kasih akan kebenaran, dapat sampai kepada sebuah pengetahuan yang lebih
mendalam tentang Allah. Para teolog abad pertengahan dan para pengajar secara
benar telah berpegang bahwa teologi, sebagai sebuah ilmu iman, adalah sebuah
partisipasi dalam pengetahuan Allah sendiri tentang Diri-Nya. Ini bukan hanya
pembicaraan kita tentang Allah, tapi pertama-tama dan terutama penerimaan dan
pengejaran dari sebuah pemahaman yang lebih dalam akan sabda yang Allah
katakan kepada kita, sabda yang Allah katakan tentang Diri-Nya sendiri, karena Dia
adalah sebuah dialog abadi dari Persekutuan, dan Dia mengizinkan kita untuk
masuk ke dalam dialog ini.[33] Teologi dengan demikian menuntut kerendahan hati
untuk “disentuh” oleh Allah, dengan mengakui keterbatasan-keterbatasannya
sendiri di hadapan misteri tersebut, sementara terus berjuang untuk menyelidiki,
dengan disiplin yang cocok dengan akal budi, kekayaan yang tidak ada habisnya dari
misteri ini. Teologi juga mengambil bagian dalam bentuk gerejawi dari iman;
terang-nya adalah terang dari subjek yang percaya, yang adalah Gereja. Hal ini
mengimplikasikan, pada satu sisi, bahwa teologi harus berada pada pelayanan iman
umat Kristiani, bahwa ia harus bekerja secara rendah hati untuk melindungi dan
memperdalam iman dari setiap orang, terutama orang-orang biasa yang percaya. Di
sisi lain, karena ia mengambil kehidupannya dari iman, teologi tidak dapat
menganggap Magisterium Paus dan para Uskup di dalam persekutuan dengan-nya
sebagai sesuatu yang ekstrinsik, sebuah batasan dari kebebasannya, melainkan
sebagai salah satu sifat kodratinya, dimensi-dimensi pembentuk-nya, karena
Magisterium memastikan hubungan kontak kita dengan sumber yang sudah ada
sejak dahulu kala itu dan dengan demikian menyediakan adanya kepastian
pencapaian kepada sabda Kristus di dalam segala keseluruhannya.
BAB KETIGA – AKU MENYAMPAIKAN
KEPADAMU APA YANG TELAH KU TERIMA (bdk.
1Kor 15:3)
Gereja, bunda iman kita
37. Mereka yang telah membuka hati mereka kepada kasih Allah, yang telah
mendengar suara-Nya dan telah menerima terang-Nya, tidak dapat menyimpan
karunia ini untuk diri mereka sendiri. Karena iman adalah pendengaran dan
penglihatan, iman juga disampaikan sebagai perkataan sabda dan terang. Berbicara
kepada jemaat di Korintus, Santo Paulus menggunakan dua gambaran ini. Di satu
sisi ia mengatakan: “Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada
tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata – maka kami juga percaya, dan
sebab itu kami juga berkata-kata” (2 Kor 4:13). Sabda itu, ketika diterima, menjadi
sebuah tanggapan, sebuah pengakuan iman, yang menyebar kepada orang lain dan
mengundang mereka untuk percaya. Paulus juga menggunakan gambaran terang:
“Semua dari kita, dengan muka yang tidak berselubung, melihat kemuliaan Tuhan
seolah-olah dipantulkan dalam sebuah cermin, maka kita diubah menjadi serupa
dengan gambar-Nya” (2 Kor 3:18). Ini adalah sebuah terang yang dipantulkan dari
satu wajah ke wajah yang lain, sama seperti Musa sendiri memberikan sebuah
pantulan dari kemuliaan Allah setelah berbicara dengan Dia: “Allah … telah
membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari
pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus” (2 Kor
4:6). Terang Kristus bersinar, seperti dalam sebuah cermin, pada wajah umat
Kristiani, ketika Terang itu menyebar, ia datang kepada kita, sehingga kita juga bisa
mengambil bagian dalam visi itu dan memantulkan terang itu kepada orang lain,
dengan cara yang sama seperti, dalam liturgi Paskah, cahaya dari lilin Paskah
menyalakan lilin-lilin lainnya yang tak terhitung jumlahnya. Iman disampaikan,
boleh kita katakan, melalui hubungan kontak, dari satu orang kepada seorang
lainnya, seperti ketika satu lilin dinyalakan dari lilin yang lain. Umat Kristiani, dalam
kemiskinan mereka, menanam sebuah bibit yang begitu unggul sehingga itu
menjadi sebatang pohon yang besar, yang mampu mengisi dunia dengan buahnya.
38. Penyampaian iman tidak hanya membawa terang kepada para pria dan wanita di
setiap tempat; penyampaian itu berjalan melintasi waktu, yang melewati satu
generasi ke generasi lainnya. Karena iman lahir dari sebuah perjumpaan yang
berlangsung dalam sejarah dan menerangi perjalanan kita melalui waktu, iman
harus disampaikan dalam setiap zaman. Melalui rantai yang tak terputus dari para
saksi itulah, kita dapat melihat wajah Yesus. Tapi bagaimana ini mungkin terjadi?
Bagaimana kita bisa yakin, setelah berabad-abad lamanya, bahwa kita telah
berjumpa dengan “Yesus yang sesungguhnya”? Jika kita hanya individu-individu
yang terisolasi, jika titik awal kita hanya ego pribadi kita sendiri yang mencari dalam
dirinya sendiri dasar pengetahuan yang pasti secara absolut, [maka] sebuah
kepastian semacam ini akan menjadi mustahil. Saya tidak mungkin dapat
membuktikan untuk diri saya sendiri sesuatu yang telah terjadi di masa yang begitu
lampau. Namun ini bukan satu-satunya cara kita memperoleh pengetahuan. Pribadi
orang-orang selalu hidup dalam hubungan relasi. Kita berasal dari orang lain, kita
milik orang lain, dan kehidupan kita diperbesar oleh perjumpaan kita dengan orang
lain. Bahkan pengetahuan kita sendiri dan kesadaran diri adalah relasional; mereka
terhubung dengan orang lain yang telah pergi mendahului kita: di tempat utama,
orang tua kita, yang telah memberi kita kehidupan kita dan nama kita.
Bahasa itu sendiri, kata-kata yang dengannya kita dapat memahami kehidupan kita
dan dunia di sekitar kita, datang kepada kita dari orang lain, yang dipelihara dalam
ingatan yang hidup dari orang-orang lain. Pengetahuan tentang diri sendiri hanya
mungkin bila kita mengambil bagian dalam sebuah ingatan yang lebih besar. Hal
yang sama berlaku untuk iman, yang membawa pengertian manusia kepada
kepenuhannya. Masa lalu iman, tindakan kasih Yesus itu yang membawa kehidupan
baru ke dunia, datang turun kepada kita melalui ingatan/ kenangan orang-orang
lain – para saksi – dan tetap hidup dalam satu subyek yang mengingat itu, yang
adalah Gereja. Gereja adalah Ibu yang mengajarkan kita untuk berbicara bahasa
iman. Santo Yohanes memunculkan ini dalam Injilnya dengan mempersatukan
iman dan kenangan secara erat dan menghubungkan keduanya dengan karya Roh
Kudus yang, seperti Yesus katakan, “akan mengingatkan kamu tentang semua yang
telah Aku katakan kepada kamu” (Yoh 14:26). Kasih yang adalah Roh Kudus dan
yang berdiam dalam Gereja mempersatukan setiap zaman dan membuat kita
sezaman dengan Yesus, dengan demikian membimbing kita sepanjang ziarah iman
kita.
39. Adalah mustahil untuk percaya menurut diri kita sendiri. Iman bukanlah hanya
sebuah keputusan individu yang berlangsung di kedalaman hati orang yang percaya,
atau juga bukan sebuah hubungan relasi yang privat antara “aku” sebagai orang
yang percaya dan “Engkau yang ilahi”, antara subyek yang otonom dan Allah. Dari
sifat dasarnya sendiri, iman terbuka kepada “Kita” dari Gereja; iman selalu terjadi
dalam persekutuan Gereja. Kita diingatkan akan ini dengan format dialogis dari
kredo yang digunakan dalam liturgi baptisan. Kepercayaan kita dinyatakan sebagai
tanggapan atas sebuah undangan, kepada sebuah sabda yang harus didengar dan
yang bukan merupakan kepunyaan saya sendiri, ia [kepercayaan kita] ada sebagai
bagian dari sebuah dialog dan tidak dapat hanya merupakan sebuah pengakuan
iman yang berasal dari perseorangan. Kita dapat merespon dalam bentuk tunggal –
“Aku percaya” – hanya karena kita adalah bagian dari suatu persekutuan yang lebih
besar, hanya karena kita juga mengatakan “Kami percaya”. Keterbukaan ini
terhadap “Kami” secara gerejawi mencerminkan keterbukaan kasih Allah sendiri,
yang tidak hanya merupakan hubungan relasi antara Bapa dan Putera, antara “aku”
dan “Engkau”, tetapi juga, dalam Roh, sebuah “Kami”, sebuah persekutuan
pribadi- pribadi. Di sini kita melihat mengapa mereka yang percaya tidak pernah
sendirian, dan mengapa iman cenderung untuk menyebar, karena ia mengundang
orang lain untuk mengambil bagian dalam sukacitanya. Mereka yang menerima
iman menemukan bahwa wawasan- wawasan mereka meluas saat hubunganhubungan relasi yang baru dan memperkaya menjadi hidup. Tertullian menyatakan
ini dengan baik ketika ia menggambarkan para katekumen yang, “setelah
pembasuhan yang memberikan kelahiran baru” disambut ke dalam rumah ibu
mereka dan, sebagai bagian dari sebuah keluarga baru, berdoa Bapa Kami bersamasama dengan saudara-saudari mereka.[34]
Sakramen-sakramen dan penyampaian iman
40. Gereja, seperti setiap keluarga, menyampaikan kepada anak-anaknya
keseluruhan simpanan akan kenangan-kenangannya. Tetapi bagaimana ini bisa
terjadi dalam sebuah cara sehingga tidak ada sesuatu pun yang hilang, namun
sebaliknya segala sesuatu dalam warisan iman menjadi dapat untuk dimengerti lebih
dalam lagi? Adalah melalui Tradisi apostolik-lah yang dipelihara dalam Gereja
dengan bantuan Roh Kudus, kita memiliki sebuah hubungan kontak yang hidup
dengan kenangan yang mendasar itu. Apa yang diwariskan oleh para rasul – seperti
dinyatakan oleh Konsili Vatikan Kedua – “meliputi segala sesuatu yang melayani
untuk membuat umat Allah menjalani hidup mereka dalam kekudusan dan
meningkatkan iman mereka. Dengan cara ini Gereja, dalam ajarannya, kehidupan
dan ibadah-nya, mengabadikan dan menyampaikan kepada setiap generasi segala
yang adalah dirinya sendiri, semua yang ia percayai”.[35]
Iman, dalam kenyataannya, membutuhkan sebuah keadaan yang di dalamnya ia
dapat disaksikan [kepada orang lain] dan dikomunikasikan, sebuah cara yang sesuai
dan proporsional dengan apa yang dikomunikasikan. Untuk menyampaikan sebuah
isi doktrinal murni, sebuah ide mungkin sudah cukup, atau mungkin sebuah buku,
atau pengulangan dari sebuah pesan yang diucapkan. Tetapi apa yang
dikomunikasikan dalam Gereja, apa yang disampaikan secara turun menurun dalam
Tradisinya yang hidup, adalah terang baru yang lahir dari sebuah perjumpaan
dengan Allah yang sejati, sebuah terang yang menyentuh kita pada inti keberadaan
kita dan melibatkan pikiran-pikiran, keinginan-keinginan dan emosi-emosi kita,
yang membuka kita kepada hubungan-hubungan relasi yang dihidupkan di dalam
persekutuan. Ada sebuah cara khusus demi mewariskan secara turun-menurun
kepenuhan ini, sebuah cara yang mampu melibatkan seluruh pribadi, tubuh dan
roh, kehidupan batin dan hubungan-hubungan relasi dengan orang lain. Cara
khusus itu adalah sakramen-sakramen, yang dirayakan dalam liturgi Gereja.
Sakramen-sakramen tersebut mengkomunikasikan sebuah kenangan inkarnasi, yang
dihubungkan dengan waktu-waktu dan tempat-tempat dari kehidupan kita, yang
dihubungkan dengan semua indera kita; yang di dalam mereka seluruh pribadi
dilibatkan sebagai anggota dari subjek yang hidup dan bagian dari sebuah jaringan
hubungan-hubungan relasi komunitarian. Walaupun sakramen-sakramen tersebut
adalah memang sakramen-sakramen iman,[36] dapat juga dikatakan bahwa iman itu
sendiri memiliki sebuah struktur sakramental. Bangkitnya iman dihubungkan
dengan munculnya pengertian sakramental yang baru dalam kehidupan kita sebagai
manusia dan sebagai umat Kristiani, yang di dalamnya realitas-realitas yang
kelihatan dan yang bersifat materi dilihat untuk menandai yang melampaui diri
mereka sendiri, kepada misteri kekekalan.
41. Penyampaian iman terjadi pertama dan terutama dalam baptisan. Sejumlah
orang mungkin berpikir bahwa baptisan hanyalah sebuah cara yang melambangkan
pengakuan iman, sebuah alat pedagogis untuk mereka yang membutuhkan gambargambar dan tanda-tanda, walaupun di dalam dirinya sendiri pada akhirnya tidak
perlu. Sebuah pengamatan Santo Paulus tentang baptisan mengingatkan kita bahwa
ini bukanlah demikian. Paulus menyatakan bahwa “kita telah dikuburkan bersamasama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah
dibangkitkan dari antara orang mati demi kemuliaan Bapa, demikian kita juga akan
hidup dalam hidup yang baru” (Rom 6:4). Dalam baptisan kita menjadi ciptaan
baru dan anak-anak angkat Allah. Rasul tersebut meneruskan dengan mengatakan
bahwa umat Kristiani telah dipercayakan kepada sebuah “standar pengajaran” (týpos
didachés), yang sekarang mereka taati dengan hati (bdk. Rom 6:17). Dalam baptisan
kita menerima keduanya, baik sebuah pengajaran untuk dinyatakan secara terbuka
maupun sebuah jalan hidup khusus yang menuntut keterlibatan seluruh pribadi dan
yang meletakkan kita pada jalan menuju kebaikan. Mereka yang dibaptis diatur
dalam sebuah konteks yang baru, yang dipercayakan kepada sebuah lingkungan
baru, sebuah cara bertindak yang baru dan yang dimiliki bersama, dalam Gerejanya. Baptisan membuat kita melihat, selanjutnya, bahwa iman bukan merupakan
pencapaian individu-individu yang terisolasi; iman bukan sebuah tindakan yang
mana seseorang dapat melakukannya sendiri, melainkan sesuatu yang harus
diterima dengan masuk ke dalam persekutuan gerejawi yang menyampaikan karunia
Allah. Tidak seorang pun yang membaptis dirinya sendiri, sama seperti tidak
seorang pun yang datang ke dunia dengan sendirinya. Baptisan adalah sesuatu yang
kita terima.
42. Elemen-elemen baptisan apa yang memperkenalkan kita ke dalam “standar
pengajaran” yang baru ini? Pertama, nama Tritunggal – Bapa, Putera dan Roh
Kudus – didoakan pada katekumen tersebut. Dengan demikian, dari sejak awal,
sebuah sintesis perjalanan iman disediakan. Allah yang telah memanggil Abraham
dan ingin dipanggil sebagai Allahnya, Allah yang telah mengungkapkan Nama-Nya
kepada Musa, Allah yang, dengan memberikan kita Putera-Nya, telah
mengungkapkan sepenuhnya misteri Nama-Nya, kini melimpahkan kepada
seseorang yang dibaptis sebuah identitas sebagai anak yang baru. Ini secara jelas
terlihat dalam tindakan baptisan itu sendiri: pencelupan ke dalam air. Air sekaligus
adalah simbol kematian, yang mengundang kita untuk melewati perubahan diri
kepada sebuah identitas baru dan lebih mulia, dan juga sebuah simbol kehidupan,
simbol rahim yang di dalamnya kita dilahirkan kembali dengan mengikuti Kristus
dalam kehidupan-Nya yang baru. Dengan cara ini, melalui perendaman dalam air,
baptisan berbicara kepada kita tentang struktur iman yang diekspresikan dalam
tubuh. Karya Kristus menembus kedalaman diri kita dan mengubah kita secara
radikal, dengan membuat kita menjadi anak-anak angkat Allah dan pengambil
bagian dalam kodrat ilahi-Nya. Ia [karya Kristus] dengan demikian memodifikasi
semua hubungan-hubungan relasi kita, tempat kita di dunia ini dan di alam semesta,
dan membuka mereka kepada kehidupan persekutuan Allah sendiri. Perubahan ini
yang terjadi dalam baptisan membantu kita untuk menghargai makna penting yang
luar biasa dari katekumenat – yang dengannya semakin bertambah jumlah orang
dewasa, bahkan dalam masyarakat- masyarakat dengan akar-akar Kristiani yang
kuno, kini mendekati sakramen baptisan – karena evangelisasi baru itu.
Katekumenat merupakan jalan persiapan untuk baptisan, untuk perubahan dari
keseluruhan hidup kita di dalam Kristus.
Untuk memahami hubungan antara baptisan dan iman ini, kita dapat mengingat
sebuah teks nabi Yesaya, yang telah dikaitkan dengan baptisan dalam literatur
Kristiani awali: “Benteng mereka ialah kubu di atas bukit batu…. air minumnya
terjamin” (Yes 33:16).[37] Orang yang dibaptis, yang diselamatkan dari perairan
kematian, sekarang telah diletakkan pada sebuah “benteng yang terbuat dari batu”
karena mereka telah menemukan sebuah pondasi yang kokoh dan dapat dipercaya.
Perairan kematian dengan demikian telah diubah menjadi perairan kehidupan. Teks
Yunani, dalam pembicaraan tentang air yang “terjamin” itu, menggunakan
kata pistós, [yang berarti] “setia”. Perairan baptisan memang setia dan dapat
dipercaya, karena mengalir dengan kekuatan kasih Kristus, sumber dari jaminan
kita dalam perjalanan hidup.
43. Struktur baptisan, yang bentuknya seperti sebuah kelahiran kembali yang di
dalamnya kita menerima sebuah nama baru dan sebuah hidup baru, membantu kita
untuk memahami arti dan pentingnya baptisan bayi. Anak-anak belum mampu
untuk menerima iman melalui sebuah tindakan bebas, mereka juga belum dapat
mengakui iman itu dengan diri mereka sendiri, sehingga iman itu diakui oleh orang
tua dan wali baptis mereka atas nama mereka. Karena iman adalah sebuah realitas
yang dihidupkan dalam komunitas Gereja, bagian dari sebuah “Kita” bersama,
anak-anak dapat didukung oleh orang lain, orang tua dan wali baptis mereka, dan
disambut ke dalam iman mereka, yang adalah iman Gereja, ini disimbolkan oleh
lilin yang ayah dari anak itu nyalakan dari lilin Paskah. Struktur baptisan, kemudian,
menunjukkan sangat pentingnya kerjasama antara Gereja dan keluarga dalam
menyampaikan iman. Orang tua dipanggil, seperti Santo Augustinus pernah
katakan, tidak hanya untuk membawa anak-anak ke dalam dunia tetapi juga untuk
membawa mereka kepada Allah, sehingga melalui baptisan mereka dapat dilahirkan
kembali sebagai anak-anak Allah serta menerima karunia iman.[38] Dengan
demikian, bersama dengan kehidupan, anak-anak diberi sebuah orientasi
fundamental dan diyakinkan akan sebuah masa depan yang baik; orientasi ini akan
lebih diperkuat dalam sakramen Penguatan dengan meterai Roh Kudus.
44. Sifat sakramental dari iman mencapai puncaknya dalam Ekaristi. Ekaristi
merupakan makanan berharga untuk iman: sebuah perjumpaan dengan Kristus
yang sungguh hadir dalam perbuatan terbesar dari kasih-Nya, karunia yang
memberi hidup dari Diri-Nya sendiri. Dalam Ekaristi kita menemukan titik
pertemuan dari dua dimensi iman. Di satu sisi, terdapat dimensi sejarah: Ekaristi
merupakan sebuah perbuatan peringatan, sebuah penghadiran misteri yang di
dalamnya masa lalu, sebagai sebuah peristiwa kematian dan kebangkitan,
menunjukkan kemampuannya untuk membukakan sebuah masa depan, untuk
menggambarkan puncak pemenuhan. Liturgi mengingatkan kita akan hal ini
dengan pengulangan dari kata hodie, [yaitu] “hari ini” bagi misteri-misteri
keselamatan. Di sisi lain, kita juga menemukan dimensi yang menuntun dari dunia
yang terlihat menuju yang tak terlihat. Dalam Ekaristi kita belajar untuk melihat
ketinggian-ketinggian dan kedalaman- kedalaman dari realitas. Roti dan anggur
diubah menjadi tubuh dan darah Kristus, yang menjadi hadir dalam perayaan
Paskah-Nya kepada Bapa-Nya: gerakan ini menarik kita, tubuh dan jiwa, ke dalam
gerakan dari semua ciptaan ke arah pemenuhannya di dalam Allah.
45. Dalam perayaan sakramen-sakramen, Gereja mewariskan kenangannya
terutama melalui pengakuan iman. Kredo (Syahadat) tidak hanya melibatkan
pemberian persetujuan seseorang kepada sebuah kumpulan dari kebenarankebenaran yang abstrak; sebaliknya, ketika itu didaraskan keseluruhan hidup ditarik
ke dalam sebuah perjalanan menuju persekutuan penuh dengan Allah yang hidup.
Kita dapat berkata bahwa dalam Kredo umat beriman diundang untuk masuk ke
dalam misteri yang mereka akui dan untuk diubah olehnya. Untuk memahami apa
artinya ini, mari kita lihat pertama-tama pada isi dari syahadat itu. Syahadat
memiliki struktur Trinitaris: Bapa dan Putra bersatu dalam Roh kasih. Maka orang
yang percaya menyatakan bahwa inti dari semua makhluk, rahasia terdalam dari
semua realitas, adalah persekutuan ilahi. Syahadat ini juga berisi sebuah pengakuan
kristologis: yang membawa kita melalui segala misteri-misteri kehidupan Kristus
sampai kepada kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga sebelum
kedatangan-Nya kembali yang terakhir dalam kemuliaan. Ia [Syahadat]
memberitahu kita bahwa Allah dari persekutuan ini, kasih timbal balik antara Bapa
dan Putera dalam Roh, mampu merangkul semua sejarah manusia dan menariknya
ke dalam kesatuan ke-Allahan-Nya yang dinamis, yang memiliki sumber dan
pemenuhan-nya di dalam Bapa. Orang percaya yang menyatakan imannya diangkat,
seolah-olah demikian, ke dalam kebenaran yang diakui. Ia tidak dapat dengan jujur
mendaraskan kata-kata syahadat itu tanpa [ia sendiri] diubah, tanpa menjadi bagian
dari sejarah kasih itu yang memeluk kita dan memperluas keberadaan kita, yang
membuatnya menjadi bagian dari sebuah persaudaraan yang besar, subyek utama
yang mendaraskan syahadat itu, yaitu, Gereja. Semua kebenaran-kebenaran yang di
dalamnya kita percaya menunjuk kepada misteri kehidupan iman yang baru sebagai
sebuah perjalanan persekutuan dengan Allah yang hidup.
Iman, doa, dan Dekalog
46. Ada dua elemen lain yang sangat penting dalam penyampaian yang setia dari
kenangan Gereja. Pertama, Doa Tuhan Yesus, [yaitu] Doa “Bapa kami”. Di sini
umat Kristiani belajar untuk mengambil bagian dalam pengalaman rohani Kristus
sendiri dan untuk melihat segala sesuatu melalui mata-Nya. Dari Dia yang adalah
terang dari terang, Sang Putera Allah Bapa yang Tunggal, kita sampai kepada
pengenalan akan Allah dan dengan demikian dapat menyalakan di dalam diri orang
lain keinginan untuk mendekat kepada-Nya.
Hampir sama pentingnya adalah hubungan antara iman dan Dekalog [Sepuluh
Perintah Allah]. Iman, seperti yang telah kita katakan, mengambil bentuk dari
sebuah perjalanan, sebuah jalan yang harus diikuti, yang mulai dengan sebuah
perjumpaan dengan Allah yang hidup. Adalah dalam terang iman, dari penyerahan
sepenuhnya kepada Allah yang menyelamatkan, bahwa Sepuluh Perintah Allah
memperoleh kebenaran mereka yang terdalam, seperti yang terlihat dalam katakata-Nya yang memperkenalkan mereka: “Akulah Tuhan Allahmu, yang telah
membawa engkau keluar dari tanah Mesir” (Kel 20:2). Dekalog bukanlah
seperangkat perintah-perintah negatif, melainkan arahan-arahan yang konkret
untuk keluar dari gurun sifat mementingkan diri sendiri dan ego yang menutup diri
sendiri, supaya dapat masuk ke dalam dialog dengan Allah, untuk dipeluk oleh
belas kasih-Nya dan kemudian membawa belas kasih itu kepada orang lain.
Dengan demikian iman menyatakan kasih Allah, asal mula dan penopang dari
segala sesuatu, dan membiarkan dirinya sendiri dibimbing oleh kasih ini untuk
melakukan perjalanan menuju kepenuhan persekutuan dengan Allah. Dekalog
muncul sebagai jalan rasa syukur, tanggapan kasih, yang dimungkinkan karena
dalam iman kita siap menerima pengalaman kasih Allah yang mengubah bagi kita.
Dan jalan ini menerima terang baru dari pengajaran Yesus dalam Khotbah-Nya di
Bukit (bdk. Mat 5-7).
Hal-hal ini, selanjutnya, merupakan empat elemen yang mencakup tempat
penyimpanan kenangan yang diwariskan Gereja: pengakuan iman, perayaan
sakramen-sakramen, jalan sepuluh perintah Allah, dan doa. Katekese Gereja secara
tradisional telah terstruktur di sekitar keempat elemen ini; ini termasuk Katekismus
Gereja Katolik, yang merupakan sebuah bantuan fundamental untuk ketentuan yang
menyatukan itu, yang dengannya Gereja mengkomunikasikan seluruh isi imannya:
“semua yang adalah dirinya sendiri, dan semua yang dia percaya”.[39]
Kesatuan dan keseluruhan iman
47. Kesatuan Gereja dalam waktu dan ruang dihubungkan dengan kesatuan iman:
“satu tubuh dan satu Roh … satu iman” (Ef 4:4-5). Dewasa ini kita dapat
membayangkan sekelompok orang yang dipersatukan dalam alasan yang umum,
dalam kasih timbal balik, dalam berbagi nasib yang sama dan satu tujuan. Tetapi
kita merasanya sulit untuk memahami satu kesatuan dalam satu kebenaran. Kita
cenderung untuk berpikir bahwa persatuan semacam ini adalah tidak sesuai dengan
kebebasan berpikir dan otonomi pribadi. Namun pengalaman kasih menunjukkan
kepada kita bahwa sebuah visi bersama adalah mungkin, karena melalui kasih kita
belajar bagaimana untuk melihat realitas melalui mata orang lain, bukan sebagai
sesuatu yang memiskinkan tetapi sebaliknya memperkaya visi kita. Kasih sejati,
menurut gaya kasih Allah, pada akhirnya mensyaratkan kebenaran, dan
permenungan bersama tentang kebenaran yang adalah Yesus Kristus
memungkinkan kasih untuk menjadi mendalam dan abadi. Ini juga merupakan
sukacita besar dari iman: sebuah persatuan visi dalam satu tubuh dan satu roh.
Santo Leo yang Agung boleh berkata: “Jika iman tidak satu, maka itu bukan
iman”.[40]
Apakah rahasia dari kesatuan ini? Iman adalah “satu”, pertama-tama, karena keEsaan Allah yang dikenal dan diakui. Semua pasal dari iman berbicara tentang
Allah, mereka adalah cara-cara untuk mengenal Dia dan karya-karya-Nya. Sebagai
akibatnya, kesatuan mereka jauh lebih unggul dibandingkan dengan gagasan akal
budi manusia apapun yang mungkin. Mereka memiliki kesatuan yang memperkaya
kita karena ia [kesatuan itu] diberikan kepada kita dan membuat kita satu.
Iman juga satu karena diarahkan kepada satu Tuhan, kepada kehidupan Yesus,
kepada sejarah yang konkret di mana Ia mengambil bagian bersama kita. Santo
Ireneus dari Lyons membuat hal ini jelas di dalam perjuangannya melawan
Gnostisisme. Kaum Gnostik menyatakan bahwa ada dua macam iman: sebuah
iman yang mentah, yang tidak sempurna yang cocok dengan orang banyak, yang
tetap pada tingkat kedagingan Yesus dan perenungan misteri-misteri-Nya; dan
sebuah iman yang lebih dalam, yang sempurna, yang dikhususkan bagi sekelompok
kecil orang yang memiliki pengetahuan rahasia, yang secara intelektual telah
mampu melampaui kedagingan Yesus, untuk menuju ke misteri-misteri ilahi yang
tidak dikenal. Bertentangan dengan tuntunan ini, yang bahkan pada masa kini
memberikan sebuah daya tarik tertentu dan memiliki pengikut-pengikut-nya, Santo
Ireneus bersikeras bahwa hanya ada satu iman, karena itu didasarkan pada peristiwa
konkret dari Inkarnasi dan tidak pernah dapat melampaui daging dan sejarah
Kristus, karena Allah berkehendak untuk mengungkapkan Diri-Nya sendiri
sepenuhnya dalam daging itu. Karena alasan ini, katanya, tidak ada perbedaan iman
antara “mereka yang mampu bercakap-cakap tentang iman secara panjang lebar”
dan “mereka yang berbicara namun sedikit”, antara yang lebih besar dan yang
kurang: Yang pertama tidak dapat menambah iman, begitu pula yang kedua tidak
dapat menguranginya.[41]
Akhirnya, iman adalah satu karena itu dimiliki bersama oleh keseluruhan Gereja,
yang merupakan satu tubuh dan satu Roh. Dalam persekutuan dari satu subyek
yang adalah Gereja, kita menerima sebuah pandangan umum bersama. Dengan
mengakui iman yang sama, kita berdiri teguh pada batu yang sama, kita diubah oleh
Roh kasih yang sama, kita memancarkan satu cahaya dan kita mempunyai satu
pemahaman yang tunggal terhadap realitas.
48. Karena iman adalah satu, iman harus dinyatakan secara terbuka dalam segala
kemurnian dan keseluruhan-nya. Justru karena semua pasal iman saling
berhubungan satu sama lain, untuk menyangkal salah satu dari mereka, bahkan dari
yang tampaknya paling tidak penting, adalah sama saja dengan membelokkan
keseluruhannya. Setiap periode sejarah dapat menemukan poin iman ini atau itu,
yang lebih mudah atau lebih sulit untuk diterima: oleh karena itu diperlukan
kewaspadaan dalam memastikan bahwa perbendaharaan iman diteruskan secara
keseluruhan (bdk. 1 Tim 6:20) dan semua aspek dari pengakuan iman ditekankan
sebagaimana mestinya. Memang, karena kesatuan iman adalah kesatuan Gereja,
[maka] mengurangi sesuatu dari iman adalah mengurangi sesuatu dari kesesuaian
terhadap kebenaran di persekutuan tersebut. Para Bapa Gereja telah
menggambarkan iman sebagai tubuh, tubuh kebenaran yang terdiri dari berbagai
anggota, menurut analogi dengan tubuh Kristus dan perpanjangannya dalam
Gereja.[42] Keseluruhan iman juga dikaitkan dengan gambaran Gereja sebagai
seorang perawan, dan kesetiaannya dalam kasih Kristus, pasangan hidupnya.
Melukai iman berarti melukai persekutuan dengan Tuhan.[43] Maka, kesatuan
iman, merupakan kesatuan dari tubuh yang hidup; ini telah secara jelas dinyatakan
oleh Beato Yohanes Henry Newman ketika ia menempatkan di daftar catatancatatan sifat untuk membedakan kesinambungan ajaran dari waktu ke waktu,
kekuatannya untuk mengasimilasi segala sesuatu yang bertemu dalam berbagai
keadaan yang di dalamnya ia [ajaran tersebut] menjadi hadir dan di dalam beragam
budaya yang dijumpainya,[44] dengan memurnikan segala hal dan mengarahkan
mereka kepada pernyataan diri mereka yang terbaik. Dengan demikian, iman
terbukti bersifat universal, katolik, karena terangnya menyebar guna menerangi
seluruh kosmos dan semua sejarah.
49. Sebagai sebuah pelayanan kepada kesatuan iman dan penyampaiannya yang
utuh, Tuhan telah memberikan Gereja-Nya karunia suksesi apostolik. Melalui cara
ini, kelangsungan kenangan Gereja dijamin dan jalan masuk yang pasti dapat
diperoleh sampai kepada mata air yang darinya iman mengalir. Maka, jaminan
kesinambungan dengan asal-usulnya diberikan oleh pribadi-pribadi yang hidup,
dalam sebuah jalan yang sesuai dengan iman yang hidup, yang mana Gereja
dipanggil untuk menyampaikannya. Gereja tergantung pada kesetiaan dari para
saksi yang dipilih oleh Tuhan untuk tugas ini. Karena alasan ini, Magisterium selalu
berbicara dalam ketaatan kepada sabda yang mendahului yang padanya iman
didasarkan. Ia [Magisterium] dapat diandalkan karena kepercayaan-nya kepada
sabda yang ia dengar, lestarikan dan uraikan.[45] Dalam percakapan perpisahan
Santo Paulus kepada para penatua Efesus di Miletus, yang dituturkan Santo Lukas
dengan panjang lebar untuk kita dalam Kisah Para Rasul, ia [Paulus] membuktikan
bahwa ia telah melakukan tugas yang Tuhan telah percayakan kepadanya untuk
“memberitakan seluruh nasihat Allah” (Kis. 20:27). Berkat Magisterium Gereja,
nasihat ini bisa sampai kepada kita dalam keseluruhannya, dan bersama dengan itu,
suka cita untuk dapat mengikutinya sepenuhnya.
BAB EMPAT – ALLAH MEMPERSIAPKAN SEBUAH
KOTA BAGI MEREKA (bdk. Ibr 11:16)
Iman dan kebaikan bersama
50. Dalam menampilkan kisah para patriarkh dan para laki-laki dan perempuan
yang berbudi dari Perjanjian Lama, Surat kepada jemaat Ibrani menyoroti sebuah
aspek penting dari iman mereka. Iman itu tidak hanya ditunjukkan sebagai sebuah
perjalanan, tetapi juga sebagai sebuah proses pembangunan, persiapan untuk
sebuah tempat yang di mana umat manusia dapat tinggal bersama-sama satu
dengan yang lainnya. Pembangun pertama adalah Nuh yang menyelamatkan
keluarganya dalam bahtera (Ibr 11:7). Lalu tampillah Abraham, yang tentangnya
dikatakan bahwa karena iman ia tinggal di kemah-kemah, sebab ia menantinantikan kota dengan pondasi-pondasi yang kokoh (bdk. Ibr 11:9-10). Dengan
iman datanglah sebuah reliabilitas baru, sebuah keteguhan baru, yang hanya dapat
diberikan oleh Allah sendiri. Jika seorang beriman menemukan penopang dalam
kesetiaan Allah, Allah yang adalah Amin (bdk. Yes 65:16), dan karena itu, menjadi
teguh sendiri, kita sekarang dapat juga mengatakan bahwa keteguhan iman
menandai kota itu yang Allah sedang persiapkan bagi umat manusia. Iman
mengungkapkan betapa kokohnya ikatan-ikatan antara orang-orang itu dapat
terjadi, ketika Allah hadir di tengah- tengah mereka. Iman tidak hanya memberikan
keteguhan batin, sebuah keyakinan yang teguh di sisi orang yang percaya; tetapi
juga memperjelas setiap hubungan relasi manusia karena hal itu lahir dari kasih dan
mencerminkan kasih Allah sendiri. Allah yang Diri-Nya dapat diandalkan memberi
kita sebuah kota yang handal.
51. Tepatlah, karena dihubungkan dengan kasih (bdk. Gal 5:6), terang iman secara
konkret ditempatkan pada pelayanan untuk keadilan, hukum dan perdamaian. Iman
lahir dari sebuah perjumpaan dengan kasih Allah yang sudah ada sejak awal mula,
di mana di dalamnya makna dan kebaikan hidup kita menjadi jelas; hidup kita
diterangi dalam artian bahwa ia masuk ke dalam ruang yang dibuka oleh kasih itu,
dalam artian bahwa ia [hidup kita] menjadi, dengan kata lain, sebuah jalan dan
latihan yang mengarahkan kepada kepenuhan kasih. Terang iman mampu
meningkatkan kekayaan hubungan- hubungan manusia, kemampuan mereka untuk
bertahan, untuk menjadi dapat dipercaya, untuk memperkaya kehidupan kita
bersama. Iman tidak menarik kita menjauh dari dunia atau terbukti tidak relevan
terhadap masalah-masalah konkret dari para pria dan wanita di zaman kita. Tanpa
sebuah kasih yang dapat dipercaya, tidak ada yang benar-benar dapat
mempertahankan para laki-laki dan perempuan untuk bersatu. Kesatuan manusia
akan dipahami hanya atas dasar manfaat satu sama lain, pada sebuah perhitungan
dari kepentingan- kepentingan yang bertabrakan atau pada ketakutan, tapi tidak
pada kebaikan dari kehidupan bersama, bukan pada sukacita yang dapat diberikan
semata-mata dari kehadiran orang lain.
Iman membuat kita menghargai arsitektur dari hubungan-hubungan relasi manusia
sebab iman menggenggam landasan utama dan tujuan akhir mereka dalam Tuhan,
dalam kasih-Nya, dan dengan demikian memperjelas seni bangunan itu; dengan
demikian ia [iman] menjadi sebuah pelayanan untuk kebaikan bersama. Iman
benar-benar adalah sebuah kebaikan untuk setiap orang; iman adalah sebuah
kebaikan bersama. Terangnya tidak hanya menerangi bagian dalam Gereja, juga
tidak melayani hanya semata-mata untuk membangun sebuah kota yang kekal di
akhirat; melainkan membantu kita membangun masyarakat- masyarakat kita
sedemikian rupa sehingga mereka dapat melakukan perjalanan menuju sebuah masa
depan yang berpengharapan. Surat kepada jemaat Ibrani menawarkan sebuah
contoh dalam hal ini ketika menyebutkan, di antara laki-laki dan perempuan yang
beriman, Samuel dan Daud, yang imannya memungkinkan mereka untuk
“menegakkan keadilan” (Ibr 11:33). Ungkapan ini merujuk kepada keadilan mereka
di pemerintahan, kepada kebijaksanaan itu yang membawa damai kepada
bangsanya (bdk. 1 Sam 12:3-5; 2 Sam 8:15). Tangan-tangan iman tersebut terangkat
ke surga, bahkan saat mereka mengambil tugas membangun dalam amal kasih
sebuah kota yang didasarkan pada hubungan-hubungan relasi yang di dalamnya
kasih Allah diletakkan sebagai pondasi.
Iman dan keluarga
52. Dalam perjalanan Abraham menuju kota masa depan, Surat kepada jemaat
Ibrani menyebutkan berkat itu yang disampaikan dari para ayah kepada para
puteranya (bdk. Ibr 11:20-21). Keadaan pertama yang di dalamnya iman menerangi
kota manusia itu adalah keluarga. Saya berpikir pertama-tama dan terutama tentang
kesatuan yang stabil antara laki-laki dan perempuan dalam perkawinan. Kesatuan
ini lahir dari kasih mereka, sebagai tanda dan kehadiran kasih Allah sendiri, dan dari
pengakuan dan penerimaan tentang kebaikan dari pembedaan seksual, di mana
pasangan bisa menjadi satu daging (bdk. Kej 2:24) dan dimungkinkan untuk
melahirkan sebuah kehidupan baru, sebuah manifestasi dari kebaikan,
kebijaksanaan dan rencana kasih Sang Pencipta. Beralaskan kasih ini, seorang pria
dan seorang wanita dapat berjanji satu sama lain untuk saling mengasihi dalam
sebuah tanda yang melibatkan seluruh hidup mereka dan mencerminkan banyak
ciri khas iman. Menjanjikan kasih untuk selamanya menjadi mungkin bila kita
menyadari sebuah rencana yang lebih besar daripada ide-ide dan usaha-usaha kita
sendiri, sebuah rencana yang menopang kita dan memampukan kita untuk
memasrahkan masa depan kita sepenuhnya kepada orang yang kita kasihi. Iman
juga membantu kita untuk memahami dalam semua kedalamannya dan
kekayaannya [tentang] melahirkan anak-anak, sebagai sebuah tanda kasih dari Sang
Pencipta yang mempercayakan kita dengan misteri seorang pribadi yang baru itu.
Jadi demikianlah bahwa Sarah, oleh iman, menjadi seorang ibu, karena ia telah
percaya kepada kesetiaan Allah akan janji-Nya (bdk. Ibr 11:11).
53. Di dalam keluarga, iman menyertai setiap zaman kehidupan, dimulai dengan
masa kanak-kanak: anak-anak belajar untuk percaya kepada kasih orang tua mereka.
Inilah sebabnya mengapa itu demikian penting bahwa dalam keluarga mereka orang
tua mendorong ungkapan-ungkapan iman yang dimiliki bersama, yang mana dapat
membantu anak-anak secara bertahap untuk menjadi dewasa dalam iman mereka
sendiri. Orang muda khususnya, yang akan melalui sebuah periode dalam hidup
mereka yang demikian kompleks, kaya dan penting bagi iman mereka, harus
merasakan kedekatan yang konstan dan dukungan dari keluarga mereka dan Gereja
dalam perjalanan iman mereka. Kita semua telah melihat, selama Hari Orang Muda
seDunia (World Youth Days), sukacita yang kaum muda tunjukkan dalam iman
mereka dan keinginan mereka untuk sebuah kehidupan iman yang lebih solid dan
murah hati. Orang-orang muda ingin menghidupi kehidupan sampai kepada
kepenuhannya. Perjumpaan dengan Kristus, yang membiarkan mereka sendiri
tertangkap di dalam kasih-Nya dan dipandu oleh kasih-Nya itu, memperbesar
wawasan- wawasan keberadaan, memberikannya sebuah pengharapan yang teguh
yang tidak akan mengecewakan. Iman bukan tempat perlindungan bagi mereka
yang kurang berani, melainkan sesuatu yang menjadikan kehidupan kita lebih baik.
Iman membuat kita menyadari sebuah panggilan yang demikian besar, panggilan
pengabdian dari kasih. Iman meyakinkan kita bahwa kasih ini dapat dipercaya dan
layak dipeluk, karena didasarkan pada kesetiaan Allah yang lebih kuat daripada
setiap kelemahan kita.
Sebuah terang bagi kehidupan dalam masyarakat
54. Diserap dan diperdalam dalam keluarga, iman menjadi sebuah terang yang
mampu menerangi semua hubungan-hubungan relasi kita dalam masyarakat.
Sebagai sebuah pengalaman belas kasih Allah Bapa, ia [iman] meletakkan kita di
jalan persaudaraan. Zaman modern berusaha untuk membangun sebuah
persaudaraan universal berdasarkan atas kesetaraan, namun kita lambat laun
menyadari bahwa persaudaraan ini, yang kekurangan acuan kepada seorang Bapa
bersama sebagai pondasi utamanya, tidak dapat bertahan. Kita perlu kembali ke
dasar yang sejati bagi persaudaraan. Sejarah iman telah sejak awal mula adalah
sebuah sejarah persaudaraan, meskipun bukan tanpa konflik. Allah memanggil
Abraham untuk pergi dari negerinya dan berjanji untuk membuat darinya sebuah
bangsa yang besar, bangsa yang besar yang padanya berkat ilahi terus berada (bdk.
Kej 12:1-3). Ketika sejarah keselamatan berlangsung, menjadi jelas bahwa Allah
ingin membuat semua orang mengambil bagian sebagai saudara dan saudari dalam
satu berkat itu, yang mencapai kepenuhannya dalam Yesus, sehingga semua dapat
menjadi satu. Kasih yang tak terbatas dari Bapa kita juga datang kepada kita, dalam
Yesus, melalui saudara-saudari kita. Iman mengajarkan kita untuk melihat bahwa
setiap laki-laki dan perempuan melambangkan sebuah berkat bagi-ku, bahwa terang
wajah Allah bersinar padaku melalui wajah-wajah dari saudara-saudariku.
Betapa banyak manfaat-manfaat yang telah dibawa oleh tatapan iman Kristiani ke
kota manusia untuk kehidupan mereka bersama! Berkat iman kita telah sampai
kepada pemahaman tentang martabat yang unik dari setiap orang, sesuatu yang
tidak secara jelas dilihat di zaman dahulu. Pada abad ke-dua Celsus seorang kafir
mencela orang-orang Kristiani untuk sebuah gagasan yang dianggapnya sebagai
kebodohan dan khayalan: yaitu, bahwa Allah telah menciptakan dunia untuk
manusia, yang menempatkan manusia pada puncak dari seluruh kosmos. “Mengapa
mengklaim bahwa [rumput] tumbuh untuk kepentingan manusia, bukan untuk
kepentingan dari binatang-binatang buas yang paling biadab itu?”[46] “Jika kita
melihat ke bawah ke Bumi dari ketinggian-ketinggian langit, akankah benar-benar
ada perbedaan antara kegiatan-kegiatan kita dan kegiatan-kegiatan semut dan
lebah?”[47] Di inti iman yang alkitabiah adalah kasih Allah, perhatian-Nya yang
konkret untuk setiap orang, dan rencana penyelamatan-Nya yang mencakup
seluruh umat manusia dan semua ciptaan, yang berpuncak dalam inkarnasi,
kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Tanpa pemahaman ke dalam realitasrealitas ini, tidak ada kriteria untuk membedakan apa yang membuat kehidupan
manusia berharga dan unik. Manusia kehilangan tempatnya di alam semesta, ia
terombang-ambing di alam, baik dengan melepaskan tanggung jawab moralnya
sama sekali atau sebaliknya, dengan menganggap diri menjadi semacam hakim yang
absolut, yang dianugerahi dengan sebuah kekuasaan yang tak terbatas untuk
memanipulasi dunia di sekelilingnya.
55. Iman, di sisi lain, dengan mengungkapkan kasih Allah Sang Pencipta,
memampukan kita untuk menghargai alam seluruhnya secara lebih, dan untuk
membedakan di dalamnya sebuah tata bahasa yang ditulis oleh tangan Allah dan
sebuah tempat tinggal yang dipercayakan perlindungannya dan perawatannya
kepada kita. Iman juga membantu kita untuk merancang model-model
perkembangan yang didasarkan tidak hanya pada manfaat dan keuntungannya,
melainkan mempertimbangkan ciptaan sebagai sebuah karunia yang untuknya kita
semua berhutang; ia [iman] mengajarkan kita untuk menciptakan bentuk-bentuk
pemerintahan yang adil, di dalam kesadaran bahwa otoritas berasal dari Allah dan
dimaksudkan untuk pelayanan bagi kebaikan bersama. Iman juga menawarkan
kemungkinan pengampunan, yang seringnya menuntut waktu dan usaha, kesabaran
dan komitmen. Pengampunan adalah mungkin, ketika kita menemukan bahwa
kebaikan selalu ada lebih dulu dan lebih kuat daripada kejahatan, dan bahwa sabda
yang dengannya Allah menopang hidup kita adalah lebih dalam daripada setiap
penolakan kita. Dari sebuah sudut pandang antropologis secara murni, persatuan
lebih baik dari konflik; daripada menghindari konflik, kita perlu menghadapinya
dalam upaya untuk menyelesaikan dan bergerak melampauinya, untuk membuat
nya sebuah hubungan dalam sebuah rantai, sebagai bagian dari sebuah kemajuan
menuju persatuan.
Ketika iman melemah, pondasi-pondasi kehidupan juga beresiko melemah, ketika
penyair T.S. Eliot memperingatkan: “Apakah engkau perlu diberitahu bahwa
bahkan pencapaian-pencapaian sederhana itu /Seperti yang engkau dapat
banggakan dalam cara masyarakat yang sopan/ Akan hampir tidak dapat hidup
lebih lama daripada iman yang kepadanya mereka mendapatkan arti pentingnya
mereka?”[48] Jika kita menyingkirkan iman akan Allah dari kota-kota kita, rasa
saling percaya akan melemah, kita akan tetap bersatu hanya oleh rasa takut dan
stabilitas kita akan terancam. Dalam Surat kepada jemaat Ibrani kita baca bahwa
“Allah tidak malu disebut Allah mereka; sesungguhnya, Ia telah mempersiapkan
sebuah kota bagi mereka” (Ibr 11:16). Di sini ungkapan “tidak malu” dihubungkan
dengan pengakuan publik. Maksudnya adalah untuk mengatakan bahwa Allah, oleh
tindakan-tindakan nyata-Nya, membuat sebuah pengakuan publik secara terangterangan bahwa Ia hadir di tengah-tengah kita dan bahwa Ia berkeinginan untuk
memperkuat setiap hubungan relasi manusia. Dapatkah itu terjadi, sebaliknya,
bahwa kita-lah yang malu untuk memanggil Allah kita [sebagai] Allah? Bahwa kita
adalah orang-orang yang gagal untuk mengakui Dia sedemikian dalam kehidupan
publik kita, yang gagal untuk menawarkan kebesaran kehidupan bersama yang
dibuat-Nya menjadi mungkin? Iman menerangi kehidupan dan masyarakat. Jika ia
[iman] memiliki cahaya kreatif untuk setiap momen sejarah yang baru, itu karena
iman meletakkan setiap peristiwa dalam hubungan relasi dengan asal usul dan
tujuan dari segala sesuatu dalam Sang Bapa.
Penghiburan dan Kekuatan di tengah-tengah penderitaan
56. Dengan menulis kepada umat Kristiani di Korintus tentang penderitaan dan
penindasannya, Santo Paulus menghubungkan imannya dengan khotbahnya
tentang Injil. Dalam dirinya sendiri ia melihat telah terpenuhilah bagian Alkitab
yang berbunyi: “Aku percaya, dan oleh sebab itu aku berkata-kata” (2 Kor 4:13).
Acuannya adalah sebuah ayat dalam Mazmur 116, di mana sang pemazmur berseru:
“Aku percaya, sekalipun aku berkata: “Aku ini sangat tertindas.” (ayat 10).
Berbicara tentang iman sering kali melibatkan pembicaraan tentang ujian yang
menyakitkan, namun justru dalam pengujian sedemikian, maka Paulus melihat
adanya pewartaan yang paling meyakinkan dari Injil, sebab dalam kelemahan dan
penderitaan kita menemukan kuasa Allah yang menang atas kelemahan dan
penderitaan kita. Rasul itu sendiri mengalami sebuah kematian yang akan menjadi
kehidupan bagi umat Kristiani (bdk. 2 Kor 4:7-12). Pada waktu pencobaan, iman
membawa terang, sementara penderitaan dan kelemahan membuatnya jelas bahwa
“kita tidak mewartakan diri kita sendiri, kita mewartakan Yesus Kristus sebagai
Tuhan” (2 Kor 4:5). Bab ke-sebelas dari Surat kepada jemaat Ibrani mengakhiri
dengan sebuah referensi kepada mereka yang menderita demi iman mereka (bdk.
Ibr 11:35-38); yang luar biasa di antara mereka ini adalah Musa, yang telah
menderita perlakuan kejam demi Kristus itu (bdk. ay 26). Umat Kristiani tahu
bahwa penderitaan tidak dapat dihapuskan, namun penderitaan dapat memiliki
makna dan menjadi sebuah tindakan kasih dan kepasrahan ke dalam tangan Allah
yang tidak meninggalkan kita; dengan cara ini penderitaan dapat berfungsi sebagai
sebuah momen pertumbuhan dalam iman dan kasih. Dengan merenungkan
persatuan Kristus dengan Bapa bahkan pada puncak penderitaan-Nya di kayu salib
(bdk. Mrk 15:34), umat Kristiani belajar untuk mengambil bagian dalam tatapan
yang sama dari Yesus. Bahkan kematian diterangi dan dapat dialami sebagai
panggilan terakhir kepada iman, [sebagai] yang terakhir “Pergilah dari negerimu”
(Kej 12:1), yang terakhir “Datanglah!” dikatakan oleh Bapa, yang kepada-Nya kita
menyerahkan diri kita dalam keyakinan bahwa Dia akan membuat kita setia bahkan
di jalan kita yang terakhir.
57. Terang iman juga tidak membuat kita lupa akan penderitaan-penderitaan dunia
ini. Betapa banyaknya para laki-laki dan perempuan beriman yang telah
menemukan para perantara terang dalam diri mereka yang menderita! Demikian
halnya dengan Santo Fransiskus dari Asisi dan si penderita kusta, atau dengan
Bunda Teresa yang Terberkati dari Kalkuta dan para kaum miskinnya. Mereka telah
memahami misteri itu berkarya di dalam mereka. Dalam mendekatkan diri kepada
penderitaan, mereka tentu tidak bisa melenyapkan semua rasa sakit mereka atau
menjelaskan setiap kejahatan. Iman bukanlah sebuah terang yang menghalau semua
kegelapan kita, melainkan sebuah pelita yang membimbing langkah kita di malam
hari dan mencukupi untuk perjalanan itu. Kepada mereka yang menderita, Allah
tidak memberikan argumentasi-argumentasi yang menjelaskan semuanya;
sebaliknya, tanggapan-Nya adalah tanggapan dari sebuah kehadiran yang menyertai,
sebuah sejarah berisi kebaikan yang menyentuh setiap kisah penderitaan dan
membuka keluar seberkas sinar terang. Dalam Kristus, Allah sendiri ingin untuk
berbagi jalan ini dengan kita dan menawarkan kepada kita tatapan-Nya agar kita
bisa melihat terang itu di dalamnya. Kristus adalah Seorang yang, setelah bertahan
dalam penderitaan, merupakan “pendahulu dan penyempurna iman kita” (Ibr 12:2).
Penderitaan mengingatkan kita bahwa pelayanan iman untuk kebaikan bersama
merupakan satu dari pengharapan – sebuah pengharapan yang selalu melihat ke
depan dalam pengetahuan bahwa hanya dari Allah, dari masa depan yang berasal
dari Yesus yang bangkit, masyarakat kita dapat menemukan pondasi-pondasi yang
kuat dan abadi. Dalam pengertian ini iman dihubungkan dengan pengharapan,
karena sekalipun tempat tinggal kita di dunia ini merana, kita memiliki sebuah
tempat tinggal abadi yang Allah telah siapkan dalam Kristus, dalam tubuh-Nya
(bdk. 2 Kor 4:16-5:5). Karena itu, dinamika iman, harapan dan kasih (bdk. 1 Tes
1:3; 1 Kor 13:13) menuntun kita untuk merangkul keprihatinan-keprihatinan semua
pria dan wanita pada perjalanan kita menuju kota itu “yang arsitek dan pembangunnya adalah Allah” (Ibr 11:10), karena “pengharapan tidak mengecewakan” (Rom
5:5).
Dalam persatuan dengan iman dan amal kasih, pengharapan mendorong kita
menuju sebuah masa depan yang pasti, siap melawan sebuah wawasan yang
berbeda berkaitan dengan bujukan-bujukan ilusi dari berhala-berhala dunia ini
namun memberikan momentum dan kekuatan baru kepada kehidupan sehari-hari
kita. Mari kita menolak untuk kehilangan pengharapan, atau membiarkan
pengharapan kita diredupkan oleh jawaban-jawaban dan solusi-solusi yang mudah
diperoleh [atau mudah dikerjakan] namun menghalangi kemajuan kita, “yang
memecah-belah” waktu dan yang mengubahnya menjadi jangka waktu. Waktu
selalu jauh lebih besar daripada jangka waktu. Jangka waktu mempersulit proses-
proses, sedangkan waktu mendorong menuju masa depan dan membesarkan hati
kita untuk maju dalam pengharapan.
Berbahagialah ia yang telah percaya (Luk 1:45)
58. Dalam perumpamaan tentang penabur, Santo Lukas telah mewariskan pada kita
kata-kata Tuhan ini tentang “tanah yang baik”: “Mereka adalah orang-orang yang
setelah mendengar mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang jujur dan
baik, dan mengeluarkan buah dalam ketekunan” (Luk 8:15). Dalam konteks Injil
Lukas, penyebutkan dari sebuah hati yang jujur dan baik ini yang mendengar dan
menuruti firman adalah sebuah gambaran implisit dari iman Perawan Maria.
Penginjil sendiri membicarakan kenangan Maria, bagaimana ia menyimpan dalam
hatinya semua yang telah ia dengar dan lihat, sehingga firman itu dapat berbuah
dalam hidupnya. Ibu Tuhan adalah ikon sempurna iman, seperti Santa Elizabeth
katakan: “Diberkatilah ia yang telah percaya” (Luk 1:45).
Dalam Maria, Puteri Sion, dipenuhilah sejarah panjang iman dari Perjanjian Lama,
dengan riwayatnya dari begitu banyak kaum perempuan yang beriman, dimulai
dengan Sarah: para perempuan yang, berdampingan dengan para patriark, adalah
mereka yang kepadanya janji Allah telah digenapi dan hidup baru telah berbunga.
Dalam kepenuhan waktu, firman Allah telah berbicara kepada Maria dan ia telah
menerima firman itu ke dalam hatinya, seluruh keberadaannya, sehingga dalam
rahimnya firman itu dapat menjadi daging dan dilahirkan sebagai terang bagi umat
manusia. Santo Yustinus Martir, dalam dialognya dengan Trypho, menggunakan
sebuah ungkapan yang menyolok; ia memberitahu kita bahwa Maria, yang
menerima pesan dari malaikat, telah mengandung “iman dan sukacita”[49] Dalam
diri Ibu Yesus itu, iman mempertunjukkan kesuburannya; saat kehidupan rohani
kita sendiri berbuah kita menjadi dipenuhi dengan sukacita, yang adalah tanda yang
paling jelas dari keagungan iman itu. Dalam hidupnya sendiri Maria telah
menyelesaikan penziarahan iman itu, dengan mengikuti jejak kaki
Putranya.[50] Maka, dalam dirinya, perjalanan iman dari Perjanjian Lama itu telah
diteruskan dengan mengikuti Kristus, dengan diubah oleh-Nya dan dengan masuk
ke dalam tatapan Sang Putera Allah yang berinkarnasi.
59. Kita dapat mengatakan bahwa dalam Santa Perawan Maria, kita menemukan
sesuatu yang telah saya sebutkan sebelumnya, yaitu bahwa orang yang percaya
benar-benar diangkat ke dalam pengakuan imannya. Karena ikatan eratnya dengan
Yesus, Maria dihubungkan secara tegas dengan apa yang kita percayai. Sebagai
Perawan dan Ibu, Maria menawarkan kepada kita sebuah tanda yang jelas dari
keputeraan Kristus yang ilahi. Asal mula yang kekal dari Kristus adalah di dalam
Bapa. Ia adalah Sang Putera dalam sebuah arti yang total dan unik, sehingga Ia lahir
dalam waktu tanpa campur tangan seorang manusia. Sebagai Sang Putera, Yesus
membawa ke dunia sebuah awal yang baru dan sebuah terang yang baru,
kepenuhan kasih setia Allah dianugerahkan kepada umat manusia. Tetapi keibuan
sejati Maria juga telah menjamin bagi Sang Putera Allah sebuah sejarah manusia
yang otentik, benar-benar daging yang di dalamnya Ia akan mati di kayu salib dan
bangkit dari kematian-Nya. Maria menemani Yesus sampai di kayu salib (bdk. Yoh
19:25), yang darinya keibuannya diteruskan kepada masing-masing dari muridmurid-Nya (bdk. Yoh 19:26-27). Maria juga akan hadir di ruang atas setelah
kebangkitan dan kenaikan Yesus, bergabung dengan para rasul dalam memohon
karunia Roh (bdk. Kis 1:14). Gerakan kasih antara Bapa, Putera dan Roh
menembus sejarah kita, dan Kristus menarik kita kepada Diri-Nya untuk
menyelamatkan kita (bdk. Yoh 12:32). Di pusat iman kita ada pengakuan Yesus,
Putera Allah, yang dilahirkan dari seorang perempuan, yang membawa kita, melalui
karunia Roh Kudus, untuk diangkat sebagai putra dan putri-Nya (bdk. Gal 4:4).
60. Mari kita kembali dalam doa kepada Maria, Bunda Gereja dan Bunda iman kita.
Bunda, bantulah iman kami!
Bukalah telinga kami untuk mendengar firman Allah dan mengenali suara dan panggilan-Nya.
Bangkitkanlah dalam diri kami sebuah keinginan untuk mengikuti langkah-langkah kakiNya, untuk keluar dari negeri kami sendiri dan menerima janji-Nya.
Bantu kami untuk disentuh oleh kasih-Nya, sehingga kami boleh menyentuh-Nya dalam iman.
Bantu kami untuk memasrahkan diri kami sepenuhnya kepada-Nya dan untuk percaya akan
kasih-Nya, terutama di saat-saat pencobaan, di bawah bayangan salib-Nya, ketika iman kami
dipanggil untuk menjadi dewasa.
Taburkan dalam iman kami sukacita dari Ia Yang Bangkit.
Ingatkanlah kami bahwa mereka yang percaya tidak pernah sendirian.
Ajarkan kami untuk melihat segala sesuatu dengan mata Yesus, agar Ia boleh menjadi terang
bagi jalan kami. Dan semoga terang iman ini selalu bertambah dalam diri kami, sampai fajar
hari abadi itu, yang adalah Kristus sendiri, Putera-Mu, Tuhan kami!
Diberikan di Roma, di Basilika Santo Petrus,
pada tanggal 29 Juni,
Hari Raya Rasul Kudus Petrus dan Paulus,
dalam tahun 2013, tahun pertama kepausan saya.
Fly UP