...

Kajian Filsafati pada Ilmu Komunikasi

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Kajian Filsafati pada Ilmu Komunikasi
Kajian Filsafati pada Ilmu
Komunikasi
Rachmat Kriyantono, Ph.D
Kajian Filsafati pada Ilmu Komunikasi
• Sejauh mana manusia membuat pilihan-pilihan nyata?
- “apakah pilihan nyata adalah mungkin?”
a. Kaum determinis:
perilaku disebabkan oleh lingkungan atau kondisi-kondisi sebelumnya
dan manusia pada dasarnya reaktif dan pasif.
b. Kaum pragmatis:
orang-orang merencanakan perilaku mereka untuk mencapai tujuan
masa datang;
manusia adalah entitas yg mengambil keputusan, entitas yang aktif
dalam memengaruhi dirinya sendiri untuk mencapai tujuan.
- Ada juga yang berdiri di tengah:
orang-orang membuat pilihan dalam jangkauan yang terbatas atau
beberapa perilaku tersebut bersifat sudah ditentukan sedangkan
perilaku yang lain bersifat dapat dilakukan secara bebas.
2. Apakah perilaku manusia sebaiknya dipahami dalam bentuk
keadaan atau sifat?
• Keadaan (State) adalah kondisi-kondisi temporer yang
memungkinkan orang-orang berubah
- manusia berubah dan memunculkan beragam kondisi dalam sehari,
setahun atau selama kehidupannya.
- karakteristik manusia bersifat dinamis.
• Sifat (traits) :
- manusia adalah bersifat dapat diprediksi karena mereka
menampilkan karakteristik konstan atau kosisten sepanjang waktu.
- Orang-orang mungkin berubah karena kepribadian (inherent
charakteristic) mereka telah berubah, tapi sifat tidak dapat berubah
dengan mudah. Untuk sebagian besar sifatnya, manusia adalah
statis.
Banyak ilmuwan sosial percaya baik sifat maupun keadaan memberi
karakter pada perilaku manusia.
3. Apakah pengalaman manusia semata-mata bersifat
individual atau sosial?
• Banyak ilmuwan sosial memandang manusia sebagai
individual. Walaupun para Ilmuwan tersebut paham bahwa
orang-orang tidak secara nyata terisolasi satu sama lainnya
dan bahwa interaksi adalah penting, mereka
menginterpretasi perilaku seakan-akan sebagai milik
individu. Unit analisis dari ilmuwan berpaham ini adalah
jiwa manusia sebagai individu (individual human life).
• Beberapa ilmuwan sosial lainnya fokus pada kehidupan
sosial sebagai unit analisis primer. Ilmuwan ini percaya
bahwa manusia tidak dapat dipahami terpisah dari
hubungan mereka dengan individu-individu lainnya dalam
kelompok dan budaya. Isu ini adalah sangat penting bagi
ilmuwan komunikasi karena fokus kita pada interaksi.
4. Apakah komunikasi menjadi kontekstual?
• Fokus pertanyaan ini adalah apakah perilaku
komunikasi diatur oleh prinsip-prinsip universal
atau apakah perilaku bergantung pada faktorfaktor situasional.
• Beberapa filosof percaya bahwa kehidupan dan
tindakan manusia sangat mudah dipahami
dengan melihat pada faktor-faktor universal.
• Beberapa filosof lainnya percaya bahwa perilaku
manusia bersifat beragam kontekstual dan tidak
dapat digeneralisasikan dalam situasi tertentu.
ONTOLOGI
TEORI KOMUNIKASI
Actional Theory atau Rules Theory
• Individu menciptakan makna, mempunyai maksud dan
mempunyai atau menentukan pilihan nyata.
• orang-orang berperilaku berbeda dalam situasi berbeda karena
aturan berubah dari satu situasi ke situasi lainnya. Perilaku
manusia merupakan hasil atau akibat dari pilihan bebas.
• Orang membuat aturan sosial yang mengatur interaksi mereka.
• Bukan “covering laws” karena mereka menilai bahwa perilaku
individu tidak seluruhnya ditentukan oleh lingkungan.
• Disebut teori-teori yang fokus pada kepentingan praktis (practical
necessity).
• Keberadaan manusia tidak dapat diukur dengan pendekatan ilmu
eksak, karena manusia dianggap berbeda dengan fenoena alam.
• Hubungan manusia dan realitas lebih bersifat alami dan
berdasarkan pengalaman subjektif individu sehingga persepsi
individu yang khas dan berbeda-beda perlu dikaji.
Nonactional Theory atau Covering Laws
• Perilaku pada dasarnya ditentukan oleh dan
respon pada biologi dan lingkungan.
• “Covering Laws” biasanya dipandang cocok untuk
tradisi ini; interpretasi aktif oleh individu tidak
dianggap. Ada relasi yang terpadu antara dua
atau lebih objek.
• Contoh: ketika A terjadi maka B terjadi. Ini adalah
pernyataan sebab-akibat yang menjelaskan
hubungan antara A dan B.
• Disebut juga teori-teori yang fokus pada sebabakibat (causal necessity).
• Proses komunikasi, dengan demikian, dipahami
sebagai proses sebab-akibat, ada peristiwa yang
didahului peristiwa lainnya.
System Theory
• Teori-teori sistem menegaskan bahwa perilaku
manusia, termasuk proses komunikasi,
merupakan bagian dari sebuah system.
• Contoh: keluarga adalah system dari relasi
keluarga, lebih dari sekedar anggota-anggota
secara individual.
• Pernyataan ini menjelaskan kompleksitas polapola komunikasi dalam keluarga.
• Fokus pada hubungan logis antara komponenkomponen system yang memiliki baik causal
ataupun practical necessity dan merupakan
pendekatan teoritis yang paling umum.
Kajian Epistemologi
Ilmu Komunikasi
1. Apakah pengetahuan karena pengalaman?
• Beberapa ilmuwan percaya bahwa semua pengetahuan
muncul dari pengalaman. Kita mengobservasi dunia dan
karena itu mengenalnya. Apakah ada sesuatu dalam diri
kita yang menyediakan tipe pengetahuan tertentu walau
kita belum mengalaminya?
• Tipe “pengetahuan” ini muncul dari mekanisme berpikir
yang inheren dalam diri dan persepsi.
• Contoh: bukti kuat menyatakan bahwa anak-anak tidak
belajar bahasa secara keseluruhan dari kegiatan
mendengarkan orang bicara. Tetapi, anak-anak
membangun bahasa dengan cara menggunakan “innate
models” (bawaan lahir) untuk mengetest apa yang mereka
dengar.
2. Apakah pengetahuan dapat dianggap pasti?
• Apakah pengetahuan pasti? Atau apakah
pengetahuan bersifat relatif dan berubah?
• Beberapa teoritisi yang mempunyai pendirian
atau sikap universal akan mengakui kesalahankesalahan dalam teori-teori mereka.
• Tetapi mereka percaya bahwa kesalahan (errors)
tersebut hanya sebuah hasil dari kebenaran yang
lengkap yang belum terungkap.
• Para relativist akan meminta kita untuk percaya
bahwa pengetahuan tidak akan pernah pasti
karena “realitas universal itu tidak ada”.
3. Melalui proses apa pengetahuan dibangun?
• Mentalisme (rationalisme): pengetahuan timbul dari kekuatan
pikiran manusia. Posisi ini menempatkan kepercayaan
fundamental (ultimate faith) pada penalaran manusia.
• Empirisme: menyatakan bahwa pengetahuan timbul dalam
persepsi kita saat mengalami dunia dan melihat apa yang
sedang terjadi.
• Konstruktivisme: menyatakan bahwa orang-orang
menciptakan pengetahuan agar berfungsi pragmatis dalam
kehidupan. Orang memproyeksikan dirinya kepada apa yang
dialaminya. Kaum konstruktivis percaya bahwa fenomena
dalam dunia dapat dikonseptualisasikan ke dalam berbagai
cara, pengetahuan menjadi sesuatu yg berperan penting bagi
seseorang untuk merekayasa dunia.
• Konstruktivisme sosial: menyatakan bahwa pengetahuan
adalah produk dari interaksi simbolik dalam kelompokkelompok sosial. Dengan kata lain, realitas adalah sesuatu
yang dikonstruksi secara sosial dan merupakan produk
kehidupan kelompok dan budaya.
3. Apakah pengetahuan sebaiknya dipahami
sebagian atau sebagai keseluruhan?
• Para kaum holistik menyatakan bahwa
pengetahuan sangat berhubungan dan bekerja
sebagai sebuah sistem, dibuat dari generalitas
dan pemahaman yang tidak dapat dibagi-bagi.
• Kaum Analis percaya bahwa pengetahuan muncul
dari pemahaman tentang bagaimana bagianbagian beroperasi secara terpisah. Mereka
tertarik dalam memisahkan, mengkategorikan
dan menganalisis komponen-komponen yang
berbeda yang bersama-sama membentuk
pengetahuan.
4. Sejauh mana pengetahuan bersifat eksplisit?
• Beberapa filosof percaya bahwa kita tidak dapat
mengetahui sesuatu kecuali kita menyatakannya
dengan jelas. Pengetahuan dengan demikian
dilihat sebagai sesuatu yang eksplisit.
• Beberapa yang lain mengklaim bahwa
pengetahuan adalah tersembunyi, bahwa orangorang mengoperasikan pengetahuan pada
sensibilitas dasar yang tidak disadari dan mereka
mungkin tidak dapat mengeskpresikannya.
Pengetahuan yg demikian dikatakan sebagai tacit
(bawah sadar).
Kajian Aksiologi Ilmu Komunikasi
1. Apakah ilmu bebas nilai?
• Ilmuwan klasik menganggap bahwa teori-teori dan riset adalah
bebas nilai, ilmu pengetahuan bersifat netral, berupaya mendapat
fakta sebagaimana tampak dalam dunia nyata. Jika pandangan
pribadi ilmuwan tercampur, maka menghasilkan ilmu yg bias.
• Posisi lain dalam isu ini adalah ilmu pengetahuan adalah tidak
bebas nilai.
2. Apakah proses penelitian memengaruhi apa yang diteliti?
• Kaum tradisional menganggap penelitian harus dilakukan tanpa
campur tangan peneliti sehingga dapat akurat.
• Tetapi, muncul kritik bahwa tidak ada metode yang benar-benar
bebas dari distorsi.
• Contoh: metode eksperimen selalu memengaruhi bagaimana
partisipan bereaksi yang berbeda dalam reaksi keseharian mereka.
3. Apakah penelitian dirancang untuk menuju
perubahan sosial atau hanya untuk membangun
pengetahuan?
• Para ilmuwan tradisional menyatakan bahwa
mereka tidak bertanggung jawab terhadap caracara penggunaan pengetahuan ilmiah.
• Sementara yang lain menganggap bahwa
pengetahuan ilmiah sangat bersifat
instrumentalis atau mempunyai tujuan.
Pengetahuan dapat dikendalikan dan
menguatkan penyusunan kekuatan dan kuasa di
masyarakat. Karena itu ilmuwan bertanggung
jawab membantu perubahan di masyarakat.
PARADIGMA
ASPEK ONTOLOGI
A. Positif/Objektif:
• Ada realitas yang nyata yang diatur oleh kaidahkaidah tertentu yang berlaku universal, walaupun
kebenaran pengetahuan tentang itu mungkin
hanya dapat diperoleh secara probabilistik.
• Realitas dianggap berada di luar dunia subjektif
ilmuwan
• Dapat diukur dengan standard tertentu,
digeneralisasi dan bebas dari konteks dan waktu.
• Pandangan ini disebut realisme.
B. Subjektif-Konstruktivis:
• Realitas merupakan konstruksi sosial.
Kebenaran suatu realitas bersifat relative,
berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai
relevan oleh pelaku sosial
• Realitas adalah hasil konstruksi mental dari
individu pelaku sosial sehingga realitas
dipahami secara beragam dan dipengaruhi
oleh pengalaman, konteks dan waktu
C. Subjektif-Kritis:
• Realitas yang teramati (virtual reality)
merupakan realitas semu yang telah terbentuk
oleh proses sejarah dan kekuatan-kekuatan
sosial, budaya, dan ekonomi politik.
Aspek Epistemologi
A. Positif/Objektif
• Ada realitas objektif sebagai suatu realitas yang eksternal di luar diri ilmuwan.
Ilmuwan harus sejauh mungkin membuat jarak dengan objek penelitian.
• Jangan ada penilaian yang subjektif atau bias pribadi
• Disebut dualist-objektivist
B. Subjektif-Konstruktif
• Pemahaman terhadap suatu realitas atau temuan penelitian merupakan produk
interaksi antara peneliti dengan yang diteliti
• Ilmuwan dan objek atau realitas yang diteliti merupakan kesatuan yang tidak
terpisahkan
• Disebut transaktionalist
C. Subjektif-Kritis
• Hubungan antara peneliti dengan realitas yang diteliti selalu dijembatani oleh nilainilai tertentu. Pemahaman tentang suatu realitas merupakan value-mediated
findings.
• Disebut transaktionalist
Aspek Aksiologis
A. Positif/Objektif:
• Nilai, etika, dan pilihan moral harus berada di luar penelitian
• Peneliti berperan sebagai disinterested scientist
• Tujuannya untuk eksplanasi, prediksi dan control realitas
B. Subjektif-Konstruktif:
• Nilai, etika, dan pilihan moral merupakan bagian takterpisahkan dari suatu
penelitian
• Peneliti sebagai passionate-participant, fasilitator, yang menjembatani keragaman
subjektivitas pelaku sosial
• Tujuannya untuk rekonstruksi realitas sosial secara dialektis antara peneliti dengan
pelaku sosial yang diteliti
C. Subjektif-Kritis:
• Nilai, etika, dan pilihan moral merupakan bagian takterpisahkan dari penelitian
• Peneliti menempatkan diri sebagai intektual transformasi, advokat daan aktivis
• Tujuannya untuk kritik sosial, transformasi, emansipasi dan social empowerment.
TERIMA KASIH
Bacaan:
- Rachmat Kriyantono (2012). Etika & Filsafat
Ilmu Komunikasi. UB Press
- West, R., & Turner, L.H. (2007). Introducing
communication theory: Analysis and
application. NY: McGraw-Hill.
- Littlejohn, S. W., & Foss, K. (2008). Theories of
human communication. California: Thomson
Wadsworth
Fly UP