...

KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN PEMECAHAN MASALAH

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN PEMECAHAN MASALAH
KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS
MAHASISWA PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR MELALUI
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
Karlimah ([email protected])
PGSD FIP Universitas Pendidikan Indonesia
ABSTRACT
This experimental study was conducted to investigate students’ mathematical
communication and problem solving abilities by using problem based learning (PBL). The
subjects of this study were 67 student teachers from a State University in Bandung.
Instruments of this study were a mathematical communication test and a mathematical
problem solving test. The data were analyzed by using one and two path ANOVA, Mann
Whitney test and chi square test. The study found that: (1) Students’ mathematical
communication and problem solving abilities in PBL classroom were higher than those of
students of conventional classroom; (2) The advantage of PBL were also supported by the
findings that mathematical communication and problem solving abilities of students with low
initial ability were higher in PBL classroom compared to those ofconventional classroom; (3)
There was significant correlation between mathematical communication and problem solving
abilities; (4) There were no interaction between teaching approaches and prior mathematics
ability on students’ mathematical communication and problem solving abilities.
Keywords: mathematical communication, mathematical problem solving, problem-based
learning
Kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis merupakan dua kemampuan
esensial yang harus dikembangkan pada siswa dan mahasiswa calon guru sesuai dengan Kurikulum
Matematika SD, SMP, SMA tahun 2006, dan Kurikulum S1 PGSD tahun 2006. Pentingnya
kepemilikan kemampuan pemecahan masalah matematis sudah dikemukakan Branca (dalam
Sumarmo, 1994, 2006) yaitu: (1) kemampuan pemecahan masalah merupakan tujuan umum
pembelajaran matematika, bahkan sebagai jantungnya matematika, (2) penyelesaian masalah yang
meliputi metode, prosedur, strategi dalam pemecahan masalah merupakan proses inti dan utama
dalam kurikulum matematika, dan (3) pemecahan masalah merupakan kemampuan dasar dalam
belajar matematika.
Polya (Sumarmo, 1994) mendefinisikan pemecahan masalah sebagai suatu usaha untuk
mencari jalan keluar dari suatu kesulitan untuk mencapai tujuan yang tidak dengan segera diperoleh.
Lebih lanjut Polya (Sumarmo, 1994, 2006) mengemukakan langkah-langkah pemecahan masalah,
yaitu: (1) memahami masalah yang meliputi mengidentifikasi unsur yang diketahui dan yang
ditanyakan, mengidentifikasi kecukupan unsur, dan menyusun model matematika (2) menyusun
rencana pemecahan, atau memilih strategi, (3) melaksanakan perhitungan atau menyelesaikan
model matematis, dan (4) memeriksa kembali hasil yang diperoleh.
Pentingnya pengembangan kemampuan komunikasi matematis pada mahasiswa juga
tersirat ketika mahasiswa melakukan proses memecahkan masalah matematis, misalnya ketika
menggunakan konsep matematika dan merepresentasikan hasil pemecahan masalah. Dalam proses
tersebut, pada dasarnya mereka melakukan kegiatan komunikasi matematis antara lain
mentransformasikan informasi matematika, mengembangkan dan mengomunikasikan ide
matematika, berbicara dan menulis tentang apa yang sedang dikerjakan, memikirkan dan
Jurnal Pendidikan, Volume 11, Nomor 2, September 2010, 51-60
mengklarifikasi ide-ide matematika mereka, berbicara kepada dan mendengarkan penjelasan teman
lain, serta berbagi ide, strategi dan solusi.
Sumarmo (2002) mengidentifikasi indikator komunikasi matematik yang meliputi
kemampuan: (1) Menghubungkan benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide matematika; (2)
Menjelaskan ide, situasi dan relasi matematik, secara lisan dan tulisan dengan benda nyata, gambar,
grafik dan aljabar; (3) Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika; (4)
Mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematika; (5) Membaca dengan pemahaman
suatu presentasi matematika tertulis; (6) Membuat konjektur, menyusun argumen, merumuskan
definisi dan generalisasi; (7) Menjelaskan dan membuat pertanyaan tentang matematika yang
dipelajari.
Salah satu alternatif pembelajaran yang menghadapkan mahasiswa pada tantangan atau
masalah adalah pembelajaran berbasis masalah. Duch, Groh, dan Allen (2001) mengemukakan
Problem-Based Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) sebagai suatu
pembelajaran yang melibatkan formulasi masalah, tujuan pembelajaran, dan penilaian yang saling
berkaitan. Formulasi masalah merupakan bentuk masalah atau tantangan yang dihadapkan kepada
mahasiswa. Boud dan Felleti (dalam Saptono, 2003) dan Suradijono, (2004) mengemukakan
formulasi masalah dalam pembelajaran berbasis masalah hendaknya merupakan masalah dalam
kehidupan sehari-hari yang disajikan dalam konteks yang relevan. Tujuan pembelajaran berkaitan
dengan sesuatu yang harus dimiliki oleh mahasiswa setelah belajar, yaitu pengetahuan mengenai
konten atau materi matematika, keterampilan atau kemampuan yang meliputi mengajukan
pertanyaan, menyusun esai, mencari data, dan merepresentasi data serta mengomunikasikan hasil
dan sikap yang menggambarkan kebiasaan berpikir kritis, aktif mendengar dan menjelaskan, serta
menaruh perhatian terhadap argumentasi mahasiswa lain. Berkenaan dengan sikap atau aspek
afektif lainnya, Akinsola (2008) mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah mahasiswa
perlu memiliki motivasi yang tinggi dan perasaan tertekan atau perasaan cemas yang rendah.
Penilaian dalam pemecahan masalah hendaknya relevan dengan tujuan yang ingin dicapai.
Beberapa studi tentang kemampuan matematis dilaporkan oleh Kusmini (2005), yang
mengemukakan bahwa siswa kelas V SD dapat mengembangkan kecakapan matematika setelah
belajar dengan PBM. Studi lain berkenaan dengan PBM adalah Nasrun (2008) yang menyatakan
bahwa PBM dapat meningkatkan kemampuan menaksir pada penjumlahan bilangan cacah siswa
kelas V SD melalui pengarahan memahami masalah serta memberikan alasan dari setiap kali
menaksir.
Penelitian bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar mahasiswa Pendidikan Guru
Sekolah Dasar (PGSD) dengan mengimplementasikan PBM untuk mengembangkan kemampuan
komunikasi dan pemecahan masalah matematis mahasiswa PGSD. Masalah utama penelitian ini
adalah: ”Bagaimana kemampuan komunikasi, pemecahan masalah matematis mahasiswa PGSD
setelah mengikuti Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)?”. Beberapa pertanyaan penelitian yang
dirinci dari rumusan masalah utama tersebut adalah sebagai berikut.
1. Apakah kemampuan komunikasi matematis dan kemampuan pemecahan masalah matematis
mahasiswa yang mendapat PBM lebih baik dari kemampuan mahasiswa yang mendapat
pembelajaran konvensional ditinjau secara keseluruhan dan pada tiap tingkat kemampuan awal
matematis?
2. Adakah interaksi antara jenis pembelajaran dan tingkat kemampuan awal matematis masingmasing terhadap pencapaian kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis?
52
Karlimah, Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematis
3. Adakah asosiasi antara kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis
mahasiswa?
Hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Kemampuan komunikasi matematis mahasiswa yang mendapat PBM lebih baik daripada
kemampuan mahasiswa yang mendapat pembelajaran konvensional ditinjau secara keseluruhan
dan pada tiap kemampuan awal matematis.
2. Kemampuan pemecahan masalah matematis mahasiswa yang mendapat PBM lebih baik
daripada kemampuan mahasiswa yang mendapat pembelajaran konvensional ditinjau secara
keseluruhan dan pada tiap kemampuan awal matematis.
3. Terdapat interaksi antara jenis pembelajaran dan tingkat kemampuan awal matematis terhadap
masing-masing kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis.
4. Terdapat asosiasi antara kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis
mahasiswa.
Eksperimen berdisain postes kelompok kontrol sebagai berikut.
X O
O
Ruseffendi (1998)
X adalah pembelajaran berbasis masalah dan O adalah tes komunikasi matematis dan tes
pemecahan masalah matematis. Subyek penelitian dilakukan terhadap 67 orang mahasiswa PGSD
pada satu Universitas Negeri di Bandung. Penetapan subyek dilakukan secara purposif yaitu
mahasiswa yang sedang mengikuti perkuliahan Kapita Selekta Matematika. Instrumen penelitian
menggunakan dua macam tes bentuk uraian yaitu tes komunikasi matematis dan tes pemecahaman
masalah matematis. Kedua tes disusun dengan mengacu pada pedoman penyusunan tes yang
memadai (Arikunto, 2008).
Sebelum eksperimen dilaksanakan kepada kedua kelompok mahasiswa (eksperimen dan
kontrol) diberikan tes pemahaman matematika untuk mengukur kemampuan awal matematis
mahasiswa (KAM). Tes disusun sebanyak 20 soal dalam bentuk pilihan ganda beralasan.
Berdasarkan perbandingan hasil tes kemampuan awal dan skor ideal tes, mahasiswa terkelompok
pada dua kelompok yaitu level sedang (11 orang) dan level kurang (57 orang). Pada akhir
pembelajaran kedua kelas diberi tes komunikasi matematis dan tes pemecahan masalah matematis
yang sama. Data penelitian dianalisis dengan ANOVA dua jalur untuk mengetahui pengaruh
pembelajaran terhadap kemampuan komunikasi matematis, pemecahan masalah matematis.
Sebelum dilakukan uji ANOVA, dilakukan uji prasyarat, yaitu uji normalitas distribusi data dan uji
homogenitas variansi kelompok data; berturut-turut dengan uji Kolmogorov-Smirnov dan Levene.
Dilakukan uji Mann-Whitney terhadap data yang tidak memenuhi syarat atau data sangat kecil. Untuk
menguji asosiasi antar variabel penelitian digunakan uji chi-square.
53
Jurnal Pendidikan, Volume 11, Nomor 2, September 2010, 51-60
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Kemampuan Komunikasi Matematis Mahasiswa
Deskripsi kemampuan komunikasi matematis mahasiswa tercantum pada Tabel 1.
Tabel 1. Kemampuan Komunikasi Matematis Mahasiswa berdasarkan Pembelajaran dan Level
Kemampuan Awal Matematis
Kelompok Pembelajaran
Kemampuan Awal
Berbasis Masalah Konvensional
Total
p-value
Matematis (KAM)
x
SD
SD
SD
x
x
Sedang
28,33
5,35 15,40 7,09 22,45 8,94 0,016*
Rendah
20,21
7,60 10,57 4,57 15,39 7,89 0,000
Total
p-value
21,65
7,84
0,009*
11,30 5,20
0,066*
0,000
0,003
*Uji Mann-Whitney; skor ideal tes komunikasi matematis: 40
Berdasarkan data pada Tabel 1 diperoleh temuan sebagai berikut.
a) Secara keseluruhan kemampuan komunikasi matematis mahasiswa yang mengikuti PBM (21,65)
tergolong sedang dan lebih baik dari kemampuan mahasiswa kelas konvensional (11,30) yang
tergolong kurang dengan (p-value = 0,000).
b) Berdasarkan level KAM, pada tiap level yang sama kemampuan komunikasi matematis
mahasiswa kelas PBM lebih baik dari kemampuan mahasiswa kelas konvensional. Pada level
KAM sedang dengan uji Mann-Whitney (p-value 0,016), dan pada level KAM rendah dengan (pvalue 0,000),
c) Pada kedua kelas (PBM dan konvensional), makin tinggi level KAM mahasiswa diperoleh makin
tinggi pula kemampuan komunikasi matematis mahasiswa.
Kemampuan komunikasi matematis mahasiswa yang mendapat Pembelajaran Berbasis
Masalah dan yang mendapat pembelajaran konvensional, tertera pada Gambar 1.
Gambar 1. Diagram kemampuan komunikasi matematis mahasiswa
berdasarkan pembelajaran dan level KAM
54
Karlimah, Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematis
2. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Mahasiswa
Deskripsi kemampuan pemecahan masalah matematis mahasiswa tercantum pada Tabel 2.
Tabel 2. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Mahasiswa Berdasarkan Pembelajaran dan
Level Kemampuan Awal Matematis
Kelompok Pembelajaran
Kemampuan Awal
Berbasis Masalah Konvensional
Total
p-value
Matematis
SD
SD
SD
x
x
x
Sedang
35,00
9,27
24,00 10,35 30,00 11,20 0,035*
Rendah
25,46
10,65 12,89 4,79 19,18 10,35 0,000
Total
27,15
10,93 14,58 7,15
0,000
p-value
0,037*
0,019*
0,001
*Uji Mann-Whitney
Berdasarkan data pada Tabel 2. diperoleh temuan sebagai berikut.
a) Secara keseluruhan kemampuan pemecahan masalah matematis mahasiswa yang mengikuti
PBM (27,15) tergolong sedang dan lebih baik dari kemampuan mahasiswa kelas konvensional
(14, 58) yang tergolong kurang dengan (p-value = 0,000).
b) Demikian pula ditinjau berdasarkan level (KAM), pada tiap level yang sama kemampuan
pemecahan masalah matematis mahasiswa kelas PBM lebih baik dari kemampuan mahasiswa
kelas konvensional. Pada level KAM sedang dengan ujin Mann-Whitney (p-value 0,035), dan
pada level KAM rendah dengan (p-value 0,000),
c) Pada kedua kelas (PBM dan konvensional), makin tinggi level KAM mahasiswa diperoleh makin
tinggi pula kemampuan pemecahan masalah matematis mahasiswa. Sedang pada kelas
konvensional kemampuan pemecahan masalah matematis mahasiswa dengan KAM sedang dan
KAM rendah berbeda secara signifikan (p-value = 0,019).
Kemampuan pemecahan masalah matematis mahasiswa yang mendapat Pembelajaran
Berbasis Masalah dan yang mendapat pembelajaran konvensional, terltera pada Gambar 2.
Gambar 2. Diagram kemampuan pemecahan masalah matematis
mahasiswa berdasarkan pembelajaran dan level KAM
55
Jurnal Pendidikan, Volume 11, Nomor 2, September 2010, 51-60
3. Kesulitan yang Dialami Mahasiswa dalam Mengembangkan Kemampuan Komunikasi dan
Pemecahan Masalah Matematis
Beberapa temuan tentang kesulitan mahasiswa dalam menyelesaikan soal tes komunikasi
matematis yang diberikan diantaranya adalah: menyatakan suatu uraian atau paragraf matematis ke
dalam gambar matematis, dan menunjukkan algoritma matematis dalam menyelesaikan masalah.
Kesulitan tersebut mengakibatkan mahasiswa tidak mampu menyusun kalimat matematis dan
algoritma matematis yang benar dalam menyelesaikan soal.
Kesulitan lainnya adalah dalam memeriksa kebenaran hasil yaitu kemampuan
menginterpretasikan hasil sesuai permasalahan asal. Mahasiswa tidak dapat menunjukkan
interpretasi hasil sesuai permasalahan asal, atau menunjukkan cara lain dalam menemukan
jawaban.
4. Interaksi antara Pembelajaran dan Tingkat Kemampuan Awal Matematis terhadap
Pencapaian Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematis
Rangkuman hasil pengujian eksistensi interaksi pembelajaran dan tingkat kemampuan awal
matematika terhadap pencapaian kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis
terlihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Pengujian Interaksi Pembelajaran dengan Tingkat Kemampuan Awal Matematik
terhadap Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematis.
Variabel
F
p-value
H0
Komunikasi Matematis
0,630
0,430
Terima
Pemecahan Masalah Matematis
Disposisi terhadap PBM
(untuk kelas eksperimen)
0,077
0,782
Terima
0,483
0,490
Terima
H0: Tidak terdapat interaksi pembelajaran dan kemampuan awal terhadap
pengembangan kemampuan matematis
Pada tiap variabel diperoleh p-value lebih dari α = 0,05 yang berarti H0 diterima. Dengan
demikian tidak terdapat interaksi yang signifikan antara pembelajaran dan tingkat kemampuan awal
matematis mahasiswa terhadap pencapaian kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah
matematis. Demikian pula untuk kelas eksperimen, tidak terdapat interaksi yang signifikan antara
pembelajaran dan tingkat kemampuan awal matematis mahasiswa terhadap pencapaian disposisi
terhadap PBM mahasiswa.
Diagram interaksi terlukis pada Gambar 3 dan 4.
56
Karlimah, Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematis
Kelompok
Estimated Marginal Means of Kemampuan Komunikasi Matematis
30.00
Pembelajaran
Berbasis Masalah
Pembelajaran
Konvensional
25.00
20.00
15.00
10.00
Sedang
Rendah
Kemampuan_Awal_Matematis
Estimated Marginal Means of Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
Gambar 3. Diagram Interaksi antara pembelajaran dan tingkat KAM
terhadap komunikasi matematis
Kelompok
35.00
Pembelajaran Berbasis
Masalah
Pembelajaran
Konvensional
30.00
25.00
20.00
15.00
10.00
Sedang
Rendah
Kemampuan_Awal_Matematis
Gambar 4. Diagram interaksi antara pembelajaran dan tingkat KAM
terhadap pemecahan masalah matematis
5. Asosiasi antara Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematis Mahasiswa
Assosiasi antara kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis diuji melalui
tabel kontingensi dengan pengujian menggunakan chi-square test. Pengujian asosiasi tersebut
terlukis dalam Tabel 4.
57
Jurnal Pendidikan, Volume 11, Nomor 2, September 2010, 51-60
Tabel 4. Asosiasi antara Kemampuan Komunikasi dengan Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis
Kemampuan Pemecahan
Kemampuan
Masalah Matematis
Total
p-value
Komunikasi Matematis
Tinggi
Sedang Rendah
4
2
0
6
Tinggi
(66,7%) (33,3%)
(0,0%)
(100%)
8
19
8
35
Sedang
(22,9%) (54,3%) (22,9%) (100%)
0,000
2
5
19
26
Rendah
(7,7%) (19,2%) (73,1%) (100%)
14
26
27
67
Total
(20,9%) (38,8%) (40,3%) (100%)
Tabulasi silang antara kemampuan komunikasi matematis dengan kemampuan pemecahan
masalah matematis menunjukkan bahwa mayoritas responden dengan kemampuan komunikasi
matematis kategori tinggi (66,7%) memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis kategori
tinggi. Kemudian, responden dengan kemampuan komunikasi matematis kategori sedang (54,3%)
memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis kategori sedang. Begitu pula responden
dengan kemampuan komunikasi matematis kategori rendah (73,1%) memiliki kemampuan
pemecahan masalah matematis kategori rendah.
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa pada tingkat kepercayaan 95% teruji adanya assosiasi
yang signifikan antara kemampuan komunikasi matematis dengan kemampuan pemecahan masalah
matematis. Hal ini tercermin dari nilai χ 2 = 25,02 dengan indeks kontigensi sebesar C = 0,521
KESIMPULAN DAN SARAN
Kemampuan komunikasi matematis mahasiswa yang mendapat Pembelajaran Berbasis
Masalah ditinjau secara keseluruhan dan pada tiap tingkat kemampuan awal matematis mahasiswa
tergolong pada klasifikasi sedang dan ini lebih baik dari kemampuan matematis mahasiswa pada
kelas konvensional. Kesimpulan serupa terjadi untuk kemampuan pemecahan masalah matematis
mahasiswa. Penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara pembelajaran dan tingkat
kemampuan awal matematis (sedang, rendah) mahasiswa terhadap kemampuan komunikasi dan
terhadap pemecahan masalah matematis. Selain itu pada kelas eksperimen terdapat asosiasi antara
kemampuan komunikasi, dan pemecahan masalah matematis mahasiswa.
Kesimpulan yang telah dikemukakan, memberikan implikasi sebagai berikut.
1. Hasil secara keseluruhan maupun pada tiap tingkat kemampuan awal matematis mahasiswa,
menunjukkan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis mahasiswa yang
memperoleh pembelajaran berbasis masalah masih tergolong sedang. Namun demikian,
kemampuan yang didapatkan melalui pembelajaran berbasis masalah lebih unggul dibandingkan
pembelajaran konvensional. Dalam penelitian ini kemampuan awal matematis mahasiswa
sebagian besar masih tergolong kurang. Semakin tinggi kemampuan awal matematis mahasiswa
semakin tinggi pula kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis mahasiswa. Ini
berarti kemampuan awal matematis memberi peran terhadap pencapaian kedua kemampuan
58
Karlimah, Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematis
matematis tersebut. Implikasi dari analisis tersebut adalah, pembelajaran berbasis masalah
dalam perkuliahan matematika di PGSD dapat dijadikan alternatif pendekatan pembelajaran
yang disertai dengan upaya meningkatkan kemampuan awal mahasiswa lebih dahulu terutama
untuk pemahaman materi dan kemampuan prasyarat.
2. Asosiasi yang cukup tinggi antara kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis
memberi implikasi bahwa pengembangan kemampuan komunikasi matematis saling menunjang
dengan pengembangan kemampuan pemecahan masalah matematis.
REFERENSI
Akinsola, M.K. (2008). Relationship of some psychological variables in predicting problem solving
ability of in-service mathematics teachers. The Montana Mathematics Enthusiast, 5(1), 79100.
Arikunto, S. (2008). Dasar-dasar evaluasi pendidikan (Edisi Revisi). Jogja: Bumi Aksara.
Boud, D. & Felleti (1997). The challenge of problem-based learning. London: Kogapage.
Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Badan
Standar Nasional Pendidikan.
Departemen Pendidikan Tinggi. (2006). Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional
Guru Sekolah Dasar.
Duch, B.J., Groh, S.E., & Allen, D.E. (2001). Why problem-based learning?. The power of problembased learning. Virginia: Stylus Publishing.
Kusmini. (2005). Model pembelajaran berbasis masalah untuk mengembangkan kecakapan
matematika siswa SD kelas V sebagai implementasi kurikulum berbasis kompetensi (KBK).
Skripsi yang tidak dipublikasikan. Universitas Negeri Semarang.
Nasrun, H. (2008). Meningkatkan kemampuan estimasi pada penjumlahan bilangan cacah melalui
pembelajaran berbasis masalah pada siswa kelas V SD. Disertasi yang tidak dipublikasikan.
Program Pasacasarjana Universitas Negeri Malang.
Ruseffendi, E.T. (1998). Dasar-dasar penelitian pendidikan dan bidang non-eksakta lainnya. IKIP
Semarang Press.
Saptono, R. (2003). Is problem based learning (PBL) a better approach for engineering education?
CAFEO-21 (21st Conference of the Asian Federation of Engineering Organization), 22-23
October 2003, Yogyakarta.
Sumarmo, U. (2006). Berpikir matematik tingkat tinggi: Apa, mengapa, dan bagaimana
dikembangkan pada siswa sekolah menengah dan mahasiswa calon guru. Makalah disajikan
pada Seminar Pendidikan Matematika di Jurusan Matematika FPMIPA Universitas Pajajaran
Tanggal 22 April 2006: tidak diterbitkan.
Sumarmo, U. (2010). Berpikir dan disposisi matematik: Apa, mengapa, dan bagaimana
dikembangkan pada peserta didik. FPMIPA UPI: tidak diterbitkan.
Suradijono, SHR. (2004). Problem-based learning: Apa dan bagaimana? Makalah Seminar.
Penumbuhan Inovasi Sistem Pembelajaran: Pendekatan Problem-Based Learning berbasis
ICT (Information and Communication Technology), 15/5/2004, Yogyakarta.
59
Jurnal Pendidikan, Volume 11, Nomor 2, September 2010, 51-60
Lampiran 1
Contoh Instrumen
Sebagai ilustrasi berikut ini disajikan sampel instrumen yang diberikan pada penelitian ini.
Contoh butir tes komunikasi matematis:
Seseorang akan mengecat tembok rumah yang tingginya 4,5 m dengan menggunakan sapuan kuas
biasa. Alat lainnya adalah tangga bambu. Panjang tangga bambu yang digunakan adalah 3,5 m.
Posisi tangga disimpan pada tembok rumah dengan jarak ujung pijakan tangga dan lantai 210 cm.
Tinggi orang tersebut 160 cm.
a) Tunjukkan gambar geometris dari soal tersebut.
b) Tulis kalimat matematika untuk mengetahui tinggi tembok yang mudah di cat.
c) Tunjukkan perhitungan untuk menentukan posisi tangga yang memudahkan mengecat tembok
sampai ketinggian 4,5 m.
d) Gambarkan posisi tangga yang dimaksud oleh c).
Contoh butir tes pemecahan masalah matematis:
Pak Agus memiliki kebun berbentuk persegipanjang. Luasnya 1575 m² dan kelilingnya 160 m. Kebun
tersebut telah terjual, sekarang akan membeli kolam seluas kebun yang terjual.
a) Apakah soal memiliki cukup data untuk menentukan bangun yang luasnya sama? Jelaskan.
b) Tulis kalimat matematika yang dapat membantu menemukan ukuran kolam yang akan dibeli?
c) Tuliskan langkah dan hasil penyelesaian menentukan ukuran kolam.
Periksa apakah jawaban Anda benar!
60
Fly UP