...

this PDF file

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

this PDF file
BARISTA,
Volume 1, Nomor 2, Desember 2014
PENGARUH MARKETING PUBLIC RELATION TERHADAP CITRA
OBJEK WISATA PANGANDARAN DI JAWA BARAT
Sukmadi
Erfin Roesfian
Ignatius Purwanggono
Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung
Jalan Dr. Setiabudhi No.186 Bandung, Jawa Barat
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis
marketing public relation, citra objek wisata dan pengaruh marketing
public relation terhadap citra objek wisata Pangandaran di Jawa Barat.
Metode penelitian yang digunakan ialah survey penjelasan pada 50
wisatawan yang berkunjung pada objek wisata Pangandaran dengan
analisis regresi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Marketing public
relation yang dilakukan oleh pengelola objek wisata berada dalam
kategori baik. Hal tersebut dapat dilihat dari segi advertising, positive
rumor dan urband legend. Dari segi advertising, maka pengelola objek
wisata dapat mempromosikan objek wisata pada pengunjung dengan baik.
Dari segi positive rumor maka rumor positif yang disampaikan oleh para
wisatawan yang berkunjung ke objek wisata pangandaran sangat efektif
dalam memasarkan objek wisata Pangandaran. Sedangkan dari segi
urband legend maka cerita tentang objek wisata Pangandaran yang
disampaikan oleh wisatawan berdampak positif terhadap peningkatan
jumlah wisatawan. Selanjutnya, marketing public relation memiliki
pengaruh terhadap citra objek wisata Pangandaran di Jawa Barat.
Kata-kata kunci: marketing public relation, citra objek wisata
Abstract: This study aims to identify and analyze marketing public
relations, image and attraction marketing public relations influence on the
image of attractions Pangandaran in West Java. The method used is the
explanation of the 50 survey of tourists visiting the tourism object of
Pangandaran with regresi.Hasil analysis showed that the marketing
research conducted by the public relations manager of attraction are in
either category. This can be seen in terms of advertising, positive rumors
and urband legend. In terms of advertising, then managers can promote
the tourism object to visitors well. Positive in terms of positive rumors
rumors then delivered by the tourists who visit the attraction is very
effective in marketing pangandaran attractions Pangandaran. In terms of
the story of the legend urband attractions tourists Pangandaran delivered
by positive impact on the increasing number of tourists. Furthermore,
marketing public relations has an influence on the image of tourism object
of Pangandaran in West Java.
Keywords: Marketing public relation, image of tourism object
Sukmadi, Erfin Roesfian, & Ignatius Purwanggono
Pengaruh Marketing Public Relation
sehinga
mempunyai
tujuan
memberikan kontribusi terhadap
efektivas dan efisiensi pemasaran
melalui komunikasi dengan berbagai
pihak yang berkepentingan.
Dalam kaitannya dengan
pariwisata, strategi marketing public
relation mampu melakukan persuasi
untuk mengubah persepsi, sikap dan
perbuatan
masyarakat
secara
langsung
maupun
tidak
langsung.Oleh sebab itu, aktivitas
promosi yang dilakukan secara
besar-besaran harus juga didukung
oleh kegiatan strategi marketing
public relation yang tepat sasaran
dan berkelanjutan. Hal ini karena
peran dominan strategi marketing
public relation dalam membentuk
citra daerah tujuan wisata, seperti
tujuan wisata di derah Jawa Barat,
yang tidak bisa dilakukan secara
utuh oleh program promosi adalah
bagaimana
mengkondisikan
informasi yang disampaikan, mampu
menembus barikade stereotype-citra
yang telah terbentuk pada setiap
individu (Weisesa, 2008: 78).
Citra
sebuah
tempat
sebetulnya dapat terbentuk dari
sekumpulan
keyakinan,
ide,
inspirasi, persepsi dan sikap yang
didapatkan seseorang mengenai
daerah
tersebut
(Weisesa,
2008:79).Untuk mengetahui citra
seseorang terhadap suatu objek dapat
diketahui dari sikapnya terhadap
objek tersebut. Efek kognitif dari
komunikasi sangat mempengaruhi
proses pembentukan citra seseorang.
Citra
terbentuk
berdasarkan
pengetahuan
informasi-informasi
yang diterima seseorang.Komunikasi
PENDAHULUAN
Dewasa ini peranan pariwisata
sangatlah penting dalam peningkatan
pembangunan nasional. Oleh karena
itu, sektor pariwisata memiliki
hubungan dan potensi yang lumayan
besar
dalam
mendukung
pertumbuhan
ekonomi
saat
ini.Berdasarkan
Undang-Undang
No.10
Tahun
2009
tentang
Kepariwisataan, Pasal 1 ayat
3Pariwisata adalah berbagai macam
kegiatan wisata dan didukung
berbagai fasilitas serta layanan yang
disediakan
oleh
masyarakat,
pengusaha,
Pemerintah,
dan
Pemerintah Daerah.” Dari pengertian
tersebut, maka Pariwisata merupakan
suatu hal yang bermuara pada
hubungan antara perjalanan dengan
hunian yang tidak bersifat permanen.
Dengan
demikian
pariwisata
sebenarnya bukan merupakan tujuan
bersifat menetap, akan tetapi terkait
dengan pengeluaran sejumlah biaya.
Untuk
mengembangkan
pariwisata maka salah satu alat yang
digunakan ialah melakukan promosi
untuk pengembangan pariwisata
tersebut.
Promosi
menunjukan
adanya lalu lintas inforrmasi
meliputi dua arah meliputi informasi
mengenai produk/jasa dan segenap
aspek informasi organisasi yang
memerlukan pengolahan dalam
keberadaannya. Komponen promosi
yang dapat membina hubungan
jangka panjang tanpa adanya
pembayaran
menunjukan
karakteristik
dari
public
relation.Public relation merupakan
salah satu komponen bauran promosi
dari komponen bauran pemasaran
243
BARISTA,
Volume 1, Nomor 2, Desember 2014
tidak secara langsung menimbulkan
perilaku tertentu, tetapi cenderung
mempengaruhi
cara
individu
mengorganisasikan citra tentang
lingkungan (Cutlip, Scott M., Allan
H. Center dan Glen M. Broom,
2008:235).
Objek wisata Pangandaran
merupakan salah satu objek wisata
andalan Jawa Barat yang terletak di
Desa
Pananjung
Kecamatan
Pangandaran kota Ciamis. Pantai
Pangandaran merupakan tujuan
wisata populer, karena pantai ini
dianggap salah satu pantai terbaik
yang ada di Jawa Barat.Sebagai
salah satu pantai terbaik di Jawa
Barat maka tentunya harus menjadi
contoh bagi objek-objek wisata
lainnya
untuk
dapat
mengembangkan pariwisata dengan
lebih baik lagi.Akan tetapi pada
kenyataannya citra objek wisata
pantai pangandaran ini masih
dianggap belum optimal. Hal ini
dikarenakan terbatasnya dukungan
sarana dan prasarana seperti jaringan
transportasi, jaringan telekomunikasi,
listrik,dan air bersih di sejumlah
daerah
tujuan
wisata
dalam
menunjang
kegiatan
pariwisata
sehingga
mengakibatkan
menurunnya daya tarik obyek
wisata. Selain itu, pada objek wisata
Pantai
Pangandaran
masih
terkendala
dengan
faktor
keselamatan, keamanan, standar
kesehatan dan kebersihan serta
ketersediaan tenaga medis di obyek
wisata tersebut masih belum
mendukung sehingga terkesan tidak
mendapat dukungan dan perhatian
serius dari Pemerintah Daerah Jawa
Barat sehingga timbul banyak
ketidakpuasan terhadap objek wisata
tersebut yang membuat citra
pariwisata di Pantai Pangandarn
semakin menurun.
Belch and Belch (2009:544)
mendefinisikan Marketing Public
Relation sebagai public relation
activities designed to support
marketing objectives. Marketing
Public Relation adalah kegiatan
public relation yang dirancang untuk
mendukung
tujuan
pemasaran.
Burnett
dan
Moriarty
(2008:111)medefinisikan Marketing
Public Relation sebagai the public
relation filed that seeks positive
publicity for product. Marketing
Public Relation adalah hubungan
masyarakat
yang
berusaha
mengajukan publisitas positif bagi
produk.
Fill
(2003:116)
mendefinisikan Marketing Public
Relation, not only concerned with
organizational success and failure
but also with specific publics:
customers, consumes, clients with
whom exchange transaction take
place. Marketing Public Relation
adalah tidak hanya peduli dengan
keberhasilan
organisasi
dan
kegagalan
tetapi
jugadenganpublikyang
spesifik:
pelanggan, mengkonsumsi, klien
dengan siapa transaksi dilakukan.
Kotler dan Keller (2009:201)
menyatakan
bahwa
Marketing
Public Relation represents an
opportunity for companies to regain
a share of voice in a massage
satiated society. It not only delivers
a strong share of voice to deliver
share of mind; it delivers a better,
Sukmadi, Erfin Roesfian, & Ignatius Purwanggono
Pengaruh Marketing Public Relation
more effective voice in many cases.
Marketing
Public
Relation
merupakan
kesempatan
bagi
perusahaan untuk mendapatkan
kembali bagian dari suara dalam
masyarakat
dan
tidak
hanya
memberikan bagian yang kuat dari
suara untuk memberikan berbagi
pikiran, melainkan memberikan
suara lebih baik, lebih efektif dalam
banyak kasus. Dari definisi yang
dikemukakan oleh Kotler dan Keller
(2009:201) mengemukakan bahwa
marketing
public
relation
berorientasi
pada
bagaimana
mendapatkan kembali dukungan dari
masyarakat
artinya
bagaimana
perusahaan memperoleh kepuasan
pelanggan yang dilakukan melalui
cara-cara
untuk
membangun
hubungan dengan masyarakat.
Berdasarkan definisi tersebut
di atas, marketing public relation
merupakan proses merencanakan,
melaksanakan dan mengevaluasi
program yang mendorong pembelian
dan kepuasan pelanggan melalui
komunikasi informasi dan impresi
yang kredibel. Seperti halnya iklan,
hubungan
masyarakat
(public
relation) juga menjadi unsur penting
pemasaran. Perusahaan tidak hanya
harus
berhubungan
secara
konstruktif
dengan
pelanggan,
pemasok dan penyalur, namun juga
harus
berhubungan
dengan
kumpulan kepentingan masyarakat
besar.
Marketing public relation
dapat dibagi menjadi dua yaitu
proactive marketing public relation
danreactive
marketing
public
relation(Shimp,2009:254).
Proactive marketing public relation
merupakan MPR yang ditentukan
oleh tujuan pemasaran perusahaan
sehingga lebih bersifat ofensif serta
mencari
peluang
ketimbang
pemecahan masalah. Sementara itu
reactivemarketing public relation
merupakan MPR yang merespons
perilaku dari luar yang biasanya
berkaitan
dengan
perubahanperubahan
yang
mempunyai
konsekuensi negatif bagi perusahaan.
Menurut Black (2003:3)
Proactive marketing public relation
is tool for communicating a brand’s
merits and is typically used in
conjunction with advertising, sales
promotion,
and
personal
selling.Proactive marketing public
relation
adalah
alat
untuk
berkomunikasi tentang manfaat
merek dan biasanya digunakan
dalam
hubungannya
dengan
periklanan, promosi penjualan, dan
penjualan personal. Menurut Sandin
(2006:20) Pro active public relation
is public relation offensive and have
theopportunity to engage primarily
used to promote products and
services. Pro active public relation
adalah hubungan masyarakat yang
bersifat ofensif dan memiliki
kesempatan
berusaha
terutama
digunakan untuk mempromosikan
produk
dan
jasa.
McCrown
(2007:54)
menyatakan
bahwa
Proactive
marketing
public
relationis defines as activities that
companies do to achieve specific
marketing objectives such as forming
a brand awareness, positioning
statement helps Proactive marketing
public relation merupakan aktivitas
245
BARISTA,
Volume 1, Nomor 2, Desember 2014
yang dilakukan perusahaan untuk
mencapai tujuan marketing tertentu
seperti
membentuk
brand
awareness, membantu positioning
statement
Sementara
itu,
Heather
(2009:106) mengemukakan bahwa
Proactive marketing public relation
is MPR which focuses its efforts on
consumers and potential consumers
are offensive to take advantage of
existing
opportunitiesMPR
yangmemfokuskanupayakonsumen
dankonsumenpotensial yang bersifat
ofensifuntuk mengambil keuntungan
daripeluang yang ada
Berdasarkan definsi-definisi
yang dikemukakan diatas maka
proactive marketing public relation
merupakanlangkah-langkah
aktif
yang dilakukan oleh suatu organisasi
untuk mencapai tujuan pemasaran
dengan pendekatan ofensif.Pada
umumnya, proactive marketing
public relationdilakukan melalui
publisitas. Publisitas merupakan
sarana proactive marketing public
relation
yang
utama
seperti
periklanan
dan
penjualan
perorangan, tujuan fundamental dari
publisitas
yang
berorientasi
pemasaran adalah meningkatkan
ekuitas merek dengan dua cara yaitu
melalui kesadaran merek dan
menambah citra merek melalui
asosiai
yang
kuat
dan
menguntungkan dengan merekmerek di benak konsumen.
Sedangkan menurut Shimp
(2009:254)Reactive
Marketing
Public Relation adalah perilaku dari
luar yang biasanya berkaitan dengan
perubahan-perubahan
yang
mempunyai konsekuensi negatif bagi
perusahaan.
Kemudian
Grunig
(2001:9) menyatakan bahwa reactive
marketing public relation is public
relation efforts undertaken in
response to a developing or actual
situation that, if left unattended, will
likely
result
in
negative
consequences for the organization.
Reactive marketing public relation
adalah upaya public relation yang
dilakukan dalam menanggapi situasi
aktual yang berkembang atau, jika
dibiarkan
tanpa
pengawasan,
kemungkinan
besar
akan
menghasilkan konsekuensi negatif
bagi organisasi. Sandin (2006:43)
menyatakan
bahwaReactivePRis
adefensive-oriented public relation
and problem solving Reactive public
relation
adalah
hubungan
masyarakat
yang
berorientasi
defensif dan pemecahan masalah.
Selanjutnya, Reactive Marketing
Public Relation is activities that
companies do to respond to outside
influences enterprises (McCrown ,
2007:54) Reactive Marketing Public
Relation merupakan aktivitas yang
dilakukan
perusahaan
untuk
menanggapi
pengaruh
luar
perusahaan
Berdasarkan definisi-definisi
yang dikemukakan di atas maka
reactive marketing public relation
merupakan
perilaku
hubungan
masyarakat yang dilakukan oleh
suatu organisasi yang bersifat
menanggapi
pengaruh
yang
datangnya dari luar.
Sekaitan
dengan
objek
wisata,
Konecnik
(2004:308)
mengemukakan bahwa A destination
Sukmadi, Erfin Roesfian, & Ignatius Purwanggono
Pengaruh Marketing Public Relation
image is defined as the sum of belief,
ideas, and impresion that people
have of place or destination. Citra
tujuan kawasan wisata
ialah
sekumpulan kepercayaan, ide, kesan
orang pada tempat dan tujuan
kawasan wisata. Lee (2011:8)
mengemukakan
bahwa
The
destination
Image is overall
representation of belief, ideas, and
impressions
of
travel
destination.Citra
tujuan
wisata
adalah
semua
yang
merepresentasikan kepercayaan, ide,
dan kesan dari kunjungan wisata.
Kemudian Ian Pau (2010:758)
menyatakan bahwa Destination
Image is defined to comprise of the
image
characteristics
of
a
destination
that
subsequently
influence tourists decision to visit
particular vacation destinationCitra
tujuan wisata adalah karakteristik
citra
suatu
tujuan
yang
mempengaruhi keputusan wisatawan
untuk mengunjungi tujuan liburan
tertentu. Sementara itu, Banyai
(2009:7)
menyatakan
bahwa
“Destination image as impression
and perception of touristshave of
place or destination.” Citra tujuan
kawasan wisata merupakan kesan
dan persepsi wisatawan terhadap
tempat dan tujuan wisata tertentu.
Selain
itu,
Vesna
(2009:1595) juga mengemukakan
bahwa A destination image can be
defined as “perceptions about a
place as reflected by the associations
held in tourist memory.Citra tujuan
kawasan
wisata
didefinisikan
sebagai persepsi tentang suatu
tempat yang tercermin dari asosiasi
memori
wisatawan.
Kemudian
Doswell dalam Watkins dan Dale,
(2006:323) Destination image as the
feeling, ideas and reaction which the
name of a place evokes. Dari uraian
tersebut maka citra tujuan wisata
merupakan perasaan, ide-idedan
reaksipada suatu tempat tertentu
yang dapat dibangkitkan.
Berdasarkan definisi citra
objek wisata di atas, dapat
diinterpretasikan
bahwa
citramerupakan kesan, gambaran,
keyakinan dari individu atau
seseorang tentang suatu objek yang
muncul sebagai hasil dari tingkat
pengetahuan dan pengalamannya.
Pengertian tersebut juga memiliki
hubungan dengan penelitian yang
akan dilakukan yaitu mengungkap
citra tujuan kawasan wisata yang
merupakan kesan dan persepsi
wisatawan terhadap tempat dan
tujuan wisata melalui nilai dan
kepercayaan yang harus dibentuk
atau dibangun oleh suatu kawasan
pariwisata.
Merujuk pada uraian di atas
serta
teori-teori
yang
telah
dikemukakan,
maka
dapat
dikembangkan kerangka pemikiran
teoretis dalam penelitian ini sebagai
berikut:
247
BARISTA,
Volume 1, Nomor 2, Desember 2014
Marketing Public
Relation
(X)
Citra objek wisata
(Y)
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
Mengacu pada tinjauan pustaka
di atas, maka peneliti merumuskan
hipotesis
yang
akan
diuji
kebenarannya,
apakah
hasil
penelitian akan menerima atau
menolak hipotesis tersebut, sebagai
berikut:
1. Marketing
Public
Relation
berada dalam kategori baik
2. Citra objek wisata berada dalam
kategori baik
3. Terdapat pengaruh positif dan
signifikan Marketing Public
Relation terhadap citra objek
wisata
Bertitik tolak pada fenomena
diatas maka penelitian bertujuan
untuk menetahui dan menganalisis
pengaruh marketing public relation
terhadap citra objek wisata Pantai
Pangandaran di Jawa Barat.
Berdasarkan latar belakang yang
telah diuraikan di atas, maka dapat
dirumuskan beberapa masalah yang
akan diteliti sebagai berikut : (1)
Bagaimana
Marketing
Public
Relation
pada
objek
wisata
Pangandaran di Jawa Barat?; (2)
Bagaimana Citra Objek Wisata pada
objek wisata Pangandaran di Jawa
Barat?; (3) Sejauhmana Pengaruh
Marketing Public Relation terhadap
Citra Objek Wisata Pangandaran di
Jawa Barat.
Penelitian merupakan suatu
kegiatan untuk mencari, menggali,
menghubungkan
dan
membuat
forecasting atas suatu kejadian.
Setiap penelitian yang dilakukan
memiliki tujuan yang jelas dan
terarah. Jadi, tujuan dari penelitian
ini adalah untuk menganalisis: (1)
marketing public relation pada
Objek Wisata Pangandaran di Jawa
Barat?; (2) Citra Objek Wisata pada
objek wisata Pangandaran di Jawa
Barat ; (3) pengaruh marketing
public relation terhadap citra objek
wisata Pangandaran di Jawa Barat.
METODE
Tujuan penelitian ini adalah untuk
membuktikan dan menganalisis
pengaruhmarketing public relation
terhadap
citra
objek
wisata.
Berdasarkan
tujuan
penelitian
tersebut, maka penelitian ini
termasuk
penelitian
kuantitatif
dengan jenis penelitian penjelasan
(explanatory research), yang akan
menjelaskan hubungan kausal antara
marketing public relationsebagai
variabel independen terhadap citra
objek wisata sebagai variabel
dependen
melalui
pengujian
hipotesis.
Apabila
dilihat
dari
tujuannya, penelitian ini bersifat
Sukmadi, Erfin Roesfian, & Ignatius Purwanggono
Pengaruh Marketing Public Relation
deskriptif dan verifikatif. Menurut
Malholtra
(2010:78)
penelitian
deskriptif
adalah “a type of
conclusive research that has as its
major objective the description of
something
usually
market
characteristic or functions.Penelitian
deskriptif adalah jenis penelitian
konklusif
yang
mempunyai
tujuanutamamenggambarkansesuatu
biasanyakarakteristikatau
fungsipasar sedangkan penelitian
verifikatif atau penelitian kausalitas
menurut Malhotra (2010:85) adalaha
type of conclusive research where
the major objective is to obtain
evidence regarding cause and effect
relathionship. Penelitian verfikatif
merupakan penelitian untuk menguji
kebenaran hubungan kausal (causeand-effect),yaitu hubungan antara
variabel
independen
(yang
mempengaruhi) dengan variabel
dependen (yang dipengaruhi).
Untuk memperoleh data
primer
atau
sekunder
yang
dibutuhkan, teknik pengumpulan
data yang dilakukan peneliti adalah :
a) Observasi
Observasi
adalah
proses
pencatatan pola perilaku subjek
(orang), objek (benda) atau
kejadian yang sistematik tanpa
adanya
pertanyaan
atau
komunikasi dengan individuindividu yang diteliti. Dengan
menggunakan teknik ini peneliti
mengamati dan melihat secara
langsung situasi dan kondisi
daripada objek dan lokasi
penelitian.
b) Wawancara/Interview
Peneliti
mengadakan
wawancara secara langsung
kepada pihak-pihak yang terkait
agar
bisa
memberikan
keterangan/informasi mengenai
masalah yang akan dibahas.
c) Angket/Kuesioner
Peneliti menyebarkan angket,
yang
disebarkan
kepada
responden yang dibuat dalam
bentuk pertanyaan-pertanyaan
yang bersifat tertutup dan setiap
subjek diminta untuk memilih
salah satu alternatif jawaban
yang ditentukan.
Sebelum
melakukan
penelitian, peneliti terlebih dahulu
menentukan populasi yang akan
diteliti
sebagai
objek
penelitian.Populasi
merupakan
keseluruhan obyek (satuan-satuan/
individu-individu)
yang
karakteristiknya
hendak
teliti.
Populasi adalah kumpulan lengkap
dari semua elemen (skor, orang,
ukuran, dan lain-lain) yang dipelajari
(Sekaran, 2003:265).Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh
wisatawan yang berkunjung ke
Pangandaran. Sampel adalah bagian
dari kumpulan elemen yang diambil
dari populasi.Sampel yang dipilih
dalam penelitian ini adalah sampel
yang diambil dari populasi, yang
karakteristiknya
diteliti,
yaitu
wisatawan
yang
berkunjung
Pangandaran. Pengambilan sampel
dilakukan dengan menggunakan
teknik sampel Accidental Sampling
yang
termasuk
teknik
Non
probability sampling. Accidental
Sampling adalah metode penentuan
249
BARISTA,
Volume 1, Nomor 2, Desember 2014
sampel berdasarkan kebetulan, yaitu
wisatawan yang secara kebetulan
bertemu dengan peneliti sedang
berwisata
mengunjungi
Pangandaran.Dalam penelitian ini,
sampel yang diambil berjumlah 50
responden karena jenis penelitian ini
adalah penelitian survey yang biasa
dipakai dalam penelitian deskriptif.
Analisis data yang digunakan
dalam penelitian ini ialah analisis
deskriptif dan verifikatif. Analisa
deskriptif
akan
memberikan
gambaran tentang marketing public
relation dan citra objek wisata.
Teknik analisa deskriptif digunakan
untuk mendeskripsikan variabel X
(marketing public relation) dan
variabel Y (citra objek wisata).
Analisa Deskriptif dilakukan dengan
menyusun tabel frekuensi distribusi
untuk mengetahui apakah tingkat
perolehan nilai (skor) variabel
penelitian yang akan masuk dalam
kategori
sangat
baik/tinggi,
cukup/sedang, tidak baik/rendah.
Cara melakukan penafsiran dalam
analisis deskriftif digunakan bantuan
tabel dalam bentuk jumlah dan
prosentase
dengan
ketentuan
pembobotan yang telah ditentukan
yaitu berkisar 1 sampai 5
menggunakan skala likert sehingga
dapat
diketahui
klasifikasi
keberadaan dari masing-masing
variabel
penelitiannya.
Dalam
menentukan klasifikasi rentang
(interval) mengacu pada ketentuan
Arikunto (2009:353) dengan formula
:
Skor tertinggi – skor terendah
Jumlah klasifikasi
Sedangkan análisis verifikatif
digunakan
untuk
mengetahui
besarnya pengaruh marketing public
relation terhadap citra objek wisata.
Metode analisis yang digunakan
ialah analisis regresi.Dalam analisis
regresi akan dikembangkan sebuah
estimating equation (persamaan
regresi) yaitu formula matematika
yang
mencari
nilai
variabel
dependent dari nilai independent
yang diketahui. Analisis regresi
digunakan
terutama
untuk
peramalan, dimana dalam model
tersebut terdapat sebuah variabel
dependent
dan
variabel
independent.Dalam penelitian ini
terdapat satu variabel dependent,
yaitu marketing public relationdan
satu variabel independent, yaitucitra
objek wisata. Berdasarkan hal
tersebut maka metode analisis yang
digunakan adalah simple regression,
yang
persamaannya
dapat
dikemukakan sebagai berikut:
Y = A + BX1+ e
Keterangan :
Y = Citra Objek Wisata
X = Marketing public relation
A = Konstanta regresi
B = Koefisien regresi
e = error term, nilai kesalaha
observasi diasumsikan nol
Sukmadi, Erfin Roesfian, & Ignatius Purwanggono
Pengaruh Marketing Public Relation
Dalam analisis data juga dihitung
koefisien
determinasi.Koefisien
determinasi (Adjusted R2) pada
intinya mengukur seberapa jauh
kemampuan
model
dalam
menerangkan
variasi
variabel
dependen (goodness of fit regression
model).
jawaban
responden
dianalisis
kemudian dilakukan kategorisasi
terhadap skor jawaban responden
yang
dikumpulkan
melalui
kuesioner
penelitian
dengan
didukung oleh teori-teori yang
relevan dengan variabel yang diteliti.
Kategorisasi skor jawaban responden
berguna
untuk
memberikan
gambaran
bagaimana
kondisi
marketing public relation dan citra
objek wisata pada objek wisata
Pangandaran Jawa Barat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Untuk mengetahui gambaran dari
marketing public relation dan citra
objek wisata
maka data hasil
Tabel 1. Kategorisasi Skor Tanggapan Responden Pada
Dimensi Marketing Public Relation
Dimensi
Hasil Penelitian
Kelas Interval
Advertising
SBr = 450 – 810
Br = 811 – 1170
C = 1171 – 1530
B = 1531 – 1890
SB = 1891 – 2250
Positive
580
SBr = 150 – 270
Rumor
Br = 271 – 390
C = 391 – 510
B = 511– 630
SB = 631 - 750
Urband
567
SBr = 150 – 270
legend
Br = 271 – 390
C = 391 – 510
B = 511– 630
SB = 631 - 750
Total Ketiga
2734
SBr = 750 – 1350
Dimensi
Br = 1351 – 1950
C = 1951– 2550
B = 2551– 3150
SB = 3151 - 3750
Keterangan : SBr= Sangat buruk, Br=Buruk, C= cukup Baik, B =Baik,
SB =Sangat Baik
Skor
1587
Pada
tabel
di
atas
menunjukkan
kategorisasi
skor
tanggapan responden pada dimensi
marketing public relation.Dimensi
Kategori
Baik
Baik
Baik
Baik
Advertising memiliki skor
termasuk dalam kategori
Artinya bahwa Advertising
dilakukan oleh pengelola
251
1587
baik.
yang
objek
BARISTA,
Volume 1, Nomor 2, Desember 2014
wisata sudah dilaksanakan dengan
efektif. Dimensi Positive Rumor
memiliki skor 580 termasuk dalam
kategori baik. Artinya rumor positif
yang disampaikan oleh para
wisatawan yang berkunjung ke objek
wisata pangandaran sangat efektif
dalam memasarkan objek wisata
Pangandaran. Sementara itu, urband
legend memiliki rentang skor 567
termasuk dalam kategori baik.
Artinya cerita tentang objek wisata
Pangandaran yang disampaikan oleh
wisatawan
berdampak
positif
terhadap
peningkatan
jumlah
wisatawan.
Adapun
total
keseluruhan pada variabel marketing
public relation ialah 2734 yang
berada dalam kategori baik. Artinya
marketing
public
relationyang
dilakukan oleh pengelola objek
wisata Pangandaran sudah baik.
Selanjutnya,
untuk
mendapatkan gambaran dimensi dari
variabel citra objek wisata dilakukan
kategori terhadap skor tanggapan
responden pada tiga dimensi citra
objek wisata dengan menggunakan
kelas interval. Hal ini dilakukan
untuk mengetahui bagaimana citra
objek wisata Pangandaran
Tabel 2. Kategorisasi Skor Tanggapan Responden
Pada Dimensi Citra Objek Wisata
Dimensi
Kepercayaan
Ide
Kesan
Total Ketiga
Dimensi
Skor
608
607
605
1820
Hasil Penelitian
Kelas Interval
SBr = 150 – 270
Br = 271 – 390
C = 391 – 510
B = 511– 630
SB = 631 - 750
SBr = 150 – 270
Br = 271 – 390
C = 391 – 510
B = 511– 630
SB = 631 - 750
SBr = 150 – 270
Br = 271 – 390
C = 391 – 510
B = 511– 630
SB = 631 - 750
SBr = 450 – 810
Br = 811 – 1170
C = 1171 – 1530
B = 1531 – 1890
SB = 1891 – 2250
Keterangan : SBr= Sangat buruk, Br=Buruk, C= cukup Baik, B =Baik,
SB =Sangat Baik
Kategori
Baik
Baik
Baik
Baik
Sukmadi, Erfin Roesfian, & Ignatius Purwanggono
Pengaruh Marketing Public Relation
Pada
tabel
di
atas
menunjukkan
kategorisasi
skor
tanggapan
responden
pada
dimensicitra objek wisata. Dimensi
kepercayaan memiliki skor 608
termasuk dalam kategori baik.
Artinya bahwa wisatawan percaya
bahwa objek wisata pangandaran
memiliki citra yang baik. Dimensi
idememiliki skor 607 termasuk
dalam kategori baik.Artinya bahwa
wisatawan beranggapan bahwa objek
wisata Pangandaran merupakan
kawasan yang aman dan terkenal
serta
memiliki
citra
yang
baik.Sementara itu, kesan memiliki
rentang skor 605 termasuk dalam
kategori
baik.Artinya
para
wisatawan memiliki kesan positif
terhadap
citra
objek
wisata
Pangandaran.
Adapun
total
keseluruhan pada variabel citra objek
wisata ialah 1820 yang berada dalam
kategori baik. Artinya citra objek
wisata Pangandaran secara umum
positif.
Analisis
regresi
dengan
program SPSS ver 16 for windows
dimaksudkan untuk menganalisis
tentang besarnya pengaruh dari
marketing public relation terhadap
citra objek wisata yaitu dengan
melihat besar koefisien determinasi
(R Square).Dalam penelitian ini
terdapat satu variabel dependent dan
satu variabel independent yaitu
marketing
public
relationdan
variabel independent yaitu citra
objek. Berdasarkan hal tersebut
maka
metode
analisis
yang
digunakan adalah regresiDari analisa
regresi yang dilakukan dengan
menggunakan bantuan Program
SPSS ve.r 16 for windows, hasil olah
data dapat terlihat seperti tabel 3
berikut:
Tabel 3. Analisis Regresi
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model
1
(Constant)
B
Std.
Error
24.221
3.167
X
.221
a. Dependent Variable: Y
.057
253
Beta
t
.488
Sig.
7.647
.000
3.876
.000
BARISTA,
Volume 1, Nomor 2, Desember 2014
Berdasarkan tabel di atas,
maka persamaan regresi yang di
dapat adalah sebagai berikut:
Y = 24.221 + 0,221X
Keterangan :
Y= Citra objek wisata
X= Marketing public relation
Persamaan regresi linear
sederhana
diatas
menunjukkan
Pengujian hipotesis secara
simultan
mempergunakan uji f.
adapun proses perhitungannya
bahwa marketing public relation
berpengaruh positif dan signifikan
(nyata) terhadap citra objek wisata
pada tingkat signifikansi (α = 0%)
sehingga pada tingkat α = 5%
marketing
public
relation
berpengaruh positif dan signifikan
terhadap citra objek wisata.
dibantu dengan Program SPSS ver.
16 for windows yang disajikan
sebagai berikut:
Tabel 4. Uji signifikansi
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model
1
(Constant)
X
B
Std.
Error
24.221
3.167
.221
.057
Beta
t
.488
Sig.
7.647
.000
3.876
.000
a. Dependent Variable: Y
Dari tabel 4 tersebut diatas,
dapat dilihat bahwa nilai probabilitas
signifikansi atau p value-nya adalah
0.000 atau lebih kecil dari 0.05 atau
5% dan koefisien regresi-nya adalah
positif 0,221 yang artinya hipotesis
yang berbunyi marketing public
relationberpengaruh positif terhadap
citra objek wisata dapat diterima.
Dengan demikian dikatakan
bahwa marketing public relation
mempunyai hubungan yang positif
dan signifikan terhadap citra objek
wisata.
Untuk mengukur seberapa
jauh kemampuan variabel bebas
dalam menerangkan variabel yang
terikat digunakan uji koefisien
determinasi
dari
harga
R2.
Perhitungan regresi hasil olah data
SPSS ver. 16
for windows
ditunjukkan pada tabel 5 berikut ini:
Sukmadi, Erfin Roesfian, & Ignatius Purwanggono
Pengaruh Marketing Public Relation
Tabel 5. Koefisien Determinasi
Model
R
R Square
Adjusted R Std. Error of
Square the Estimate
1
.688a
.738
a. Predictors: (Constant), X
Dari tampilan output SPSS
model summary, besarnya R2 adalah
0,738, hal ini berarti 73,8% variabel
marketing
public
relationdapat
dijelaskan atau dipengaruhi oleh
variabel
citra
objek
wisata
sedangkan sisanya 26,2% (100%73,8%) dijelaskan oleh sebab-sebab
yang lain di luar model. Dengan kata
laincitra objek wisata dipengaruhi
oleh marketing public relation
sebesar
73,8%.
Hal
tersebut
menunjukkan
bahwa
semakin
baikmarketing public relationmaka
semakin baik pula tingkat citra objek
wisata pada objek wisata tertentu
sebaliknya semakin buruk marketing
public relation semakin buruk pula
citra objek wisata tertentu.
Merujuk pada hasil penelitian
yang
telah
dilakukan
maka
marketing public relationtermasuk
dalam kategori baik. Artinya
pengelola objek wisata dapat
menerapkan
marketing
public
relation sehingga hal tersebut akan
dapat meningkatkan kunjungan para
wisatawan.
Strategi
Marketing
Public Relations terdiri dari usaha
yang dilibatkan dalam menciptakan
citra positif bagi wisatawan atau
kawasan tempat tujuan wisata dalam
hubungannya dengan masyarakatwisatawan, komunitas lokal dan
bisnis, media dan pemasok (Mill,
2006).Strategi
MarketingPublic
.703
2.82229
Relations adalah “about reputationthe result of what you do, what you
say and what other say about you”
(marketing public relations adalah
segala hal tentang citra dan reputasi;
hasil dari apa yang telah dilakukan,
apa yang telah diucapkan dan
bagaimana komentar masyarakat
tentangnya). Daerah tujuan wisata
yang memiliki citra positif juga
biasanya akan lebih mudah untuk
dikenang
(remember),
dikenal
(recognize) dan diingat kembali
(recall) dibandingkan dengan daerah
yang memiliki citra negatif.
Hasil penelitian selanjutnya
menemukan bahwa citra objek
wisata di Pangandaran termasuk
dalam kategori baik.Artinya bahwa
pengelola objek wisata dapat
menjaga memelihara citra dari objek
wisata tertentu.Citra ini merupakan
kesan atau persepsi yang didapat
menurut tingkatan dari pengetahuan
dan pengertian akan fakta (mengenai
orang, produk, situasi), yang dalam
hal ini adalah kesan atau persepsi
wisatawan
terhadap
kondisi
pariwisata Pangandaran Jawa Barat.
Tingkat pengetahuan dan pengertian
akan fakta ini didapat melalui
informasi-informasi melalui strategi
marketing public relations. Persepsi
wisatawan dapat terbentuk tidak
hanya melalui satu media saja
melainkan dari beberapa media.
255
BARISTA,
Volume 1, Nomor 2, Desember 2014
Selanjutnya persepsi ini akan
mengarah pada perubahan sikap
(attitude change) dari wisatawan
yang bersangkutan. Perubahan yang
terjadi pada diri seorang wisatawan
yang terwujud dalam bentuk respon
kognitif terhadap informasi yang
didapat dalam strategi marketing
public
relations,akan
sangat
bergantung
pada
pengalaman,
kebutuhan orang lain yang dianggap
perlu, media massa, institusi atau
lembaga, faktor emosi dalam diri
serta kesiapan seseorang untuk
bereaksi pada objek tertentu.
Sehingga pada akhirnya setelah
proses respon kognitif maka
wisatawan akan mengarah atau
menginterprestasikan
kognitif
responnya menjadi perubahan sikap
yang diharapkan pemberi informasi.
Sementara itu, pengaruh
marketing public relations terhadap
citra objek wisata ialah positif dan
signifikan. Hal tersebut memiliki
makna bahwa marketing public
relations yang dilakukan dengan
baik akan dapat meningkatkan citra
objek wisata tersendiri. Hasil
penelitian tersebut sesuai dengan
hasil penelitian dari Chun Fang
Chang (2008:173) yang menyatakan
bahwa marketing public relation
yang dilakukan dengan baik akan
dapat menimbulkan citra objek
wisata yang baik
pada suatu
kawasan wisata tertentu. Senada
dengan hal tersebut maka Jalilvand
(2010:240) mengemukakan bahwa
public relation berpengaruh positif
terhadap branding tujuan wisata
dalam konteks citra merk dan sikap
wisatawan. Selain itu, Bruwer
(2010:235) mengemukakan bahwa
marketing public relation memiliki
hubungan citra objek wisata.Hal
tersebut ditunjukkan dari hasil
penelitiannya yang menyatakan
bahwa public relation berpengaruh
positifterhadap strategi branding
dalam pemasaran daerah industri
sebagai tujuan wisata.Oleh karena
itu, terdapat hubungan antara
marketing public relationdengan
citra objek wisata.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan
untuk
mengetahui
pengaruh marketing public relation
terhadap
citra
objek
wisata
Pangandaran di Jawa Barat serta
pembahasan yang telah diuraikan
sebelumnya, maka dapat ditarik
beberapa
kesimpulan sebagai
berikut :
1. Marketing public relation yang
dilakukan oleh pengelola objek
wisata berada dalam kategori
baik. Hal tersebut dapat dilihat
dari segi advertising, positive
rumor dan urband legend. Dari
segi advertising, maka pengelola
objek
wisata
dapat
mempromosikan objek wisata
pada pengunjung dengan baik.
Dari segi positive rumormaka
rumor positif yang disampaikan
oleh para wisatawan yang
berkunjung ke objek wisata
pangandaran sangat efektif
dalam memasarkan objek wisata
Pangandaran. Sedangkan dari
segi urband legendmaka cerita
tentang
objek
wisata
Pangandaran yang disampaikan
Sukmadi, Erfin Roesfian, & Ignatius Purwanggono
Pengaruh Marketing Public Relation
2.
3.
oleh wisatawan berdampak
positif terhadap peningkatan
jumlah wisatawan.
Secara umum citra objek wisata
Pangandaran termasuk dalam
kategori baik. Hal tersebut dapat
dilihat dari segi kepercayaa, ide
dan
kesan.
Dari
segi
kepercayaan, maka wisatawan
percaya bahwa objek wisata
pangandaran memiliki citra
yang baik. Dari segi ide maka
wisatawan beranggapan bahwa
objek
wisata
Pangandaran
merupakan kawasan yang aman
dan terkenal serta memiliki citra
yang baik. Sedangkan dari segi
kesan, maka para wisatawan
memiliki kesan positif terhadap
citra objek wisata Pangandaran.
Marketing
public
relation
memiliki pengaruh yang positif
dan signifikan terhadap citra
objek wisata yaitu sebesar
73,8%. Artinya semakin baik
Marketing public relation yang
dilakukan oleh pengelola objek
wisata semakin baik pula citra
objek wisata tertentu.
wisatawan
mengetahui
dan
berkunjung ke tempat objek
wisata tertentu
2. Dalam usaha meningkatkan citra
objek wisata maka hendaknya
pihak pengelola objek wisata dan
pemerintah daerah setempat
dapat
meningkatkan
dan
menambah segala sarana dan
prasarana
beserta
fasilitas
pendukung untuk kenyamanan
para wisatawan yang berkunjung.
3. Hendaknya pengelola objek
wisata memberikan jaminan
keselamatan, keamanan, standar
kesehatan dan kebersihan serta
ketersediaan tenaga medis pada
obyek wisata Pangandaran.
4. Perlu adanya kerjasama antara
pemerintah daerah, pengelola
objek wisata dan masyarakat
daerah
sekitar
untuk
mengembangkan
pariwisata
dengan lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S.(2009). Manajemen
Penelitian. Jakarta: Rineka
Cipta.
Banyai, M. (2009). Dracula’s Image
in
tourism:
Western
bloggers
versus
tour
guides. European Journal
of Tourism Research
Black, L.D.(2003). Public Relations
Orientation: The Construct
And
Its
Dimensions.
Journal of Department of
Management
Monash
University
Belch, G.E., & Belch. M.A.(2009).
Advertising
and
Mengacu kepada simpulan di
atas, maka peneliti menyampaikan
beberapa saran bagi pihak-pihak
yang terkait dengan penelitian ini
antara lain sebagai berikut:
1. Dalam
usaha
memperbaiki
marketing public relation, perlu
meningkatkan jam penanyangan
Iklan di media elektronik
maupun menambah media iklan
seperti
brosur-brosur
dan
pamplet disekitar objek wisata.
Tujuannya adalah agar para
257
BARISTA,
Volume 1, Nomor 2, Desember 2014
Promition: An Integrated,
Mark.
Bruwer, J., & Johnson, R. (2010).
“Place-Based Marketing
and Regional Branding
Strategy Perspectives in
The
California
Wine
Industry”.Journal
of
Consumer
Marketing.
0736-3761.htm.
Burnett, J., & Moriarty, S. (2008).
Introduction to Marketing
Communications.
New
Jersey: Prentice Hall.
Chang,
C-F.
(2008).
Effect
Destination Branding on
Tourists’
Attitudes
Toward
Tamshui,
Taiwan.Dissertation, Lynn
University.
Chris
F.(2003).
Marketing
Communication,
Framework, Theoris and
Applications,
Prentice
Hall.
Cutlip, S.M., Center, A.H., &
Broom, G.M.. (2006).
Effective Public Relations.
Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.
Grunig, J. (2001).The Role of Public
Relations in Management
And Its Contribution to
Organizational and Societal
Effectivene. Journal of
Department
of
Communication University
of Maryland
Heather. (2009). The Relationship
between Public Relations
and Marketing in the
Nonprofit Sector: The Case
of
Hamilton
Health
Sciences and Hamilton
Health
Sciences
Foundation. Journal of
Communications McMaster
University
Jalilvand, M.R, Esfahami, S.S., &
Samiei,
N.
(2010).
“Destination Branding and
Tourists’ Attitudes (The
Case of Isfahan As a
Tourism Destionation in
Iran)”.International Journal
of Marketing Studies. Vol.
2, No. 2; November 2010.
Konecnik, M. (2004). Evaluating
Slovenia’s image as a
tourism destination: A self
analysis process towards
building
a
destination
brand. Journal of Brand
Management, April 2004;
11,4;ABI/INFORM Global
pg.307
Kotler, P., & Keller, K.L. (2009).
Marketing
Management.
New
Jersey:
Pearson
Education International.
Kotler, P., & Armstrong, G. (2009).
Principal Marketing 13th
Edition. Pearson Prentice
Hall. New Jersey.
Malholtra, N. (2010). Marketing
Research
An
Applied
Orientation.
Six
Edition.Prentice Hall
Mills, R.C. (2006). The Tourism
International
Bussines.
Jakarta: Grafindo Persada
McCrown. (2007). The Role of
Public
Relations
With
Internal Activists. Journal
of public relations research,
19(1), 47–68
Sukmadi, Erfin Roesfian, & Ignatius Purwanggono
Pengaruh Marketing Public Relation
Pau, I. (2010). Destination image
and choice intention of
university student travellers
to Mauritius. International
Journal of Contemporary
Hospitality Management.
Bradford: 2010. Vol. 22,
Iss. 5; pg. 758
Richard, L. (2005). Hallo effect of
tourist destination image on
domestic
product
perception.
Australasian
Marketing Journal; Feb
2011; 19, 1; ABI/INFORM
Global.
Sandin, D.(2006). Public Relations
As Perceived and Practiced
by Commercial Banks.
Thesis's
Industrial
Organization Department of
Business
Administration
and
Social
Sciences
Division
of
Industrial
marketing and e-commerce
Sekaran, U. (2003). Research
Methods for Business. USA:
John Wiley & Sons, Inc.
Shimp, T. (2009). Periklanan
Promosi. Jakarta : Erlangga.
Undang-Undang No. 10 Tahun 2009
tentang Kepariwisataan
Vesna Babic, H. (2009). Tourist
destination
image
and
perception:the
case
of
bosnia and Herzegovina.
Journal
School
of
Economics
and
Business.Alija Izetbegovic
1, Sarajevo, Bosnia and
Herzegovina.
Watkins, S., Hassanien, A., & Dale,
C. (2006). Exploring The
Image Of The Black
Country As a Tourist
Destination. Journal Place
Branding. Vol. 2,4, 321333.
Weisesa. (2008). Strategi Public
Relation:
Bagaimana
strategi public relation dari
36 merek global dan lokal
membangun
citra,
mengendalikan krisis dan
merebut hati konsumen.
Jakarta:
PT.Gramedia
Pustaka Utama.
UCAPAN TERIMA KASIH
Peneliti mengucapkan terima kasih
kepada dewan redaksi jurnal Barista
atas
dimuatnya
artikel
hasil
penelitian ini.
259
Fly UP