...

KEMAMPUAN BIOCHAR MEMEGANG AIR PADA TANAH

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

KEMAMPUAN BIOCHAR MEMEGANG AIR PADA TANAH
45
Buana Sains Vol 12 No 1: 45-52, 2012
KEMAMPUAN BIOCHAR MEMEGANG AIR
PADA TANAH BERTEKSTUR PASIR
S. Sutono dan N. L. Nurida
Balai Penelitian Tanah, Jl. Tentara Pelajar, Kampus Penelitian Pertanian, Cimanggu Bogor
Abstract
Traditionally biochar is already used for different kinds of people activities such for
cooking, cloth ironing. However, utilization of biochar in agriculture is limited only for pot
media. Application of biochar in agriculture land is a carbon conservation technology due
the long standing capacity in the soil. A laboratory study was conducted at soil physics
laboratory of Soil Research Institute, Bogor using sandy soil. A factorial experiment with
three factors was applied. The first factor was soil consisting of 20, 30, 40, 50, 60 and 92
percent of sand. The Second factor was three kinds of biochar: rice husk, palm oil, and
cocoa skin fruit. The third factor was concentrations of biochar: 0, 10, 20 and 40 t/ha.
Water holding capacity was measured by pF ceramic plate (pF1, pF 2, pF 2.54 and pF 4.2).
The results indicated that biochar made from cacao skin fruit gave high pore aeration and
increased number of water availability followed by made rice husk biochar and palm oil
biochar.
Key words: biochar, soil water holding capacity, sandy soil
Pendahuluan
Secara
tradisional
arang
(biochar)
dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia
untuk keperluan memasak dan menyeterika
pakaian.
Saat
ini
lebih
banyak
dimanfaatkan untuk memasak terutama
masakan-masakan yang dibakar seperti
sate, ikan bakar, ayam bakar, dan lain-lain.
Penggunaan arang untuk bidang pertanian
belum dikenal secara luas, masih terbatas
untuk media tanam dalam pot.
Sejak diketemukan lahan pertanian
peninggalan sebuah suku di Amazon
Tengah, arang atau terra pretta menjadi
terkenal di kalangan peneliti sebagai salah
satu bahan untuk pembenah tanah. Terra
pretta berarti tanah hitam karena arang
dijumpai mencapai kedalaman 60 cm dan
kebudayaan ini sudah ada sejak 450 tahun
lalu. Arang yang dibenamkan sebagai
pembenah tanah (soil amandement) ke dalam
bidang olah lahan pertanian merupakan
salah satu teknik konservasi karbon, dan
ternyata
mampu
bertahan
tidak
terdekomposisi selama 450 tahun.
Konservasi karbon di dalam tanah
sangat diperlukan untuk memperbaiki dan
meningkatkan sifat fisika tanah. Bahanbahan untuk dijadikan arang pun
melimpah di sekitar lokasi budidaya
pertanian. Bahan tersebut dapat berupa
sisa-sisa pertanian seperti batang dan
tongkol jagung, ranting-ranting sisa pakan
ternak, jerami dan sekam, kulit buah kakao,
tempurung kelapa, bahkan batang-batang
kayu dan kotoran hewan. Bahan-bahan
yang sulit dan sangat sulit didekomposisi
sangat cocok untuk dijadikan arang melalui
proses pembakaran tidak sempurna
(pyrolisis) sehingga diperoleh arang yang
46
S. Sutono dan N.L. Nurida / Buana Sains Vol 12 No 1: 45-52, 2012
mengandung karbon untuk diaplikasikan
ke dalam tanah. Keuntungan lain
penggunaan bahan pembenah dalam
bentuk arang adalah mengurangi laju emisi
CO2 dan meningkatkan karbon sink dalam
tanah.
Penambahan arang ke lahan pertanian
memberikan keuntungan karena (1)
berpengaruh terhadap ketersedian hara,
retensi hara dan retensi air, sulit
didegradasi mikroorganisme tanah (Glaser
et al. 2002), menciptakan habitat yang baik
bagi mikroorganisma simbiotik (Ogawa,
1994), memperbaiki pertumbuhan jagung
dan kedelai (Igarashi, 2002), meningkatkan
efiensi N pada tanaman gandum (Steiner et
al., 2008).
Hasil penelitian Nurida et al. (2009)
pembakaran tempurung kelapa, kulit buah
kakao, tempurung kelapa sawit dan sekam
padi untuk dijadikan arang berkualitas
memerlukan lama pembakaran berbeda.
Melalui proses pembakaran tidak sempurna
(pirolisis) dengan lama pembakaran 1 jam
(tempurung kelapa sawit) dan 3,5 jam
(sekam padi, tempurung kelapa dan kulit
buah kakao), jumlah arang yang dihasilkan
sekitar 18,0-53,5%. Arang tempurung
kelapa dan sawit hasil pembakaran selama
1 jam meretensi air paling tinggi.
Berdasarkan sifat fisik dan kimia arang
yang dihasilkan, kualitas arang terbaik
diperoleh dari bahan kulit buah kakao,
tempurung kelapa sawit, dan sekam padi
dengan lama pembakaran 3.5 jam. Hasil ini
belum diaplikasikan ke dalam tanah,
sehingga perlu ditelaah lebih dalam
pengaruhnya
terhadap
kemampuan
memegang air pada tekstur dengan jumlah
fraksi pasir berbeda.
Tujuan penelitian adalah (1) mencari
jenis arang yang paling baik untuk tanahtanah yang mempunyai fraksi pasir
berbeda, (2) menetapkan dosis arang
(biochar) yang paling mampu memegang air.
Bahan dan Metode
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium
Fisika Tanah Balai Penelitian Tanah, Jalan
Raya Sindangbarang No. 62 Bogor pada
bulan Maret dan April 2012. Alat yang
digunakan untuk penelitian adalah pF curve
determination
apparattus
untuk
mendeterminasi kadar air pada pF tertentu,
timbangan analitik untuk menentukan
bobot basah dan kering contoh tanah,
oven untuk mengeringkan contoh. Pasir
talings
bekas
penambangan
timah
dicampur dengan liat lateritik berasal dari
Bogor, tekstur dari kedua jenis bahan
tersebut disajikan pada Tabel 1. Arang
yang digunakan adalah arang sekam, arang
tempurung sawit, dan arang kulit buah
kakao.
Tabel 1. Tekstur pasir tailing dan liat
lateritik untuk percobaan kemampuan
tanah memegang air
Fraksi pasir (sand)
Fraksi debu (silt)
Fraksi liat (clay)
Pasir
tailing
92,0
5,5
2,5
Liat
lateritik
1,0
48,0
51,0
Metode penetapan pF, bobot isi dan berat jenis
Metode yang dipakai untuk menetapkan
kapasitas memegang air dari tanah dengan
fraksi pasir berbeda berdasarkan kepada
hasil kerja pF curve determination apparatus
pada pF 1, pF 2, pF 2,54 dan pF 4,2. Nilai
pF adalah logaritma dari tinggi tekanan air,
sehingga pF 1 setara dengan tekanan 10 cm
air, pF 2 = tekanan 100 cm air, pF 3 =
tekanan 1/3 atmosfir dan pF 4,2 = tekanan
15 atmosfir. Pemberian tekanan diarahkan
untuk mengeluarkan air dari dalam matrik
tanah. Setelah diberikan tekanan selama 48
jam kemudian ditetapkan kadar airnya.
Penetapan kadar air menggunakan metode
gravimetri, tanah basah ditimbang
kemudian dioven pada suhu 105oC setelah
47
S. Sutono dan N.L. Nurida / Buana Sains Vol 12 No 1: 45-52, 2012
beratnya tetap ditimbang lagi untuk
kemudian
dihitung
kadar
airnya
berdasarkan berat isi yang sudah
ditetapkan.
Pasir tailing dan liat lateritik dicampur
untuk memperoleh persen pasir yang telah
ditetapkan, yaitu mengandung fraksi pasir
20%, 30%, 40%, 50%, 60% sedangkan
media dengan 92% pasir adalah bahan
alami. Pencampuran berdasarkan kepada
bobot kering dari masing-masing bahan,
sehingga diperoleh persen fraksi pasir yang
diinginkan. Tekstur buatan inilah yang
digunakan dalam penelitian.
Dalam menetapkan bobot isi (bulk
density), campuran pasir dan liat lateritik
dimasukkan ke dalam gelas ukur kemudian
diketuk sampai volumenya tetap dan
ditimbang untuk mengetahui bobotnya.
Setelah ditimbang ditetapkan kadar airnya,
sehingga bobot isi dari campuran pasir dan
liat lateritik dapat dihitung. Jadi nilai bobot
isinya merupakan bobot isi campuran pasir
dan liat saja belum ditambahkan arang.
Penetapan berat jenis (particle density)
dilakukan setelah campuran pasir dan liat
lateritik ditambah arang sesuai dengan
perlakuan yang dicobakan.
Perlakuan
Perlakuan yang dicobakan terdiri atas
persen fraksi pasir, jenis dan dosis arang
disajikan pada Tabel 2. Perlakuan diulang 3
kali, sehingga terdapat 540 media yang
ditetapkan kapasitas memegang air.
Tabel 2. Perlakuan yang dicobakan untuk analisis kadar air dan pF
Fraksi pasir
P20 = 20%
fraksi pasir
P30 = 30%
fraksi pasir
P40 = 40%
fraksi pasir
P50 = 50%
fraksi pasir
P60 = 60%
fraksi pasir
P92 = 92%
fraksi pasir
Jenis arang
TA = Tanpa arang
AS = Arang sekam
AT = Arang tempurung sawit
AK = Arang kulit buah kakao
TA = Tanpa arang
AS = Arang sekam
AT = Arang tempurung sawit
AK = Arang kulit buah kakao
TA = Tanpa arang
AS = Arang sekam
AT = Arang tempurung sawit
AK = Arang kulit buah kakao
TA = Tanpa arang
AS = Arang sekam
AT = Arang tempurung sawit
AK = Arang kulit buah kakao
TA = Tanpa arang
AS = Arang sekam
AT = Arang tempurung sawit
AK = Arang kulit buah kakao
TA = Tanpa arang
AS = Arang sekam
AT = Arang tempurung sawit
AK = Arang kulit buah kakao
Dosis arang (t/ha)
D0 = 0
D10 = 10
D10 = 10
D10 = 10
D0 = 0
D10 = 10
D10 = 10
D10 = 10
D0 = 0
D10 = 10
D10 = 10
D10 = 10
D0 = 0
D10 = 10
D10 = 10
D10 = 10
D0 = 0
D10 = 10
D10 = 10
D10 = 10
D0 = 0
D10 = 10
D10 = 10
D10 = 10
D20 = 20
D20 = 20
D20 = 20
D40 = 40
D40 = 40
D40 = 40
D20 = 20
D20 = 20
D20 = 20
D40 = 40
D40 = 40
D40 = 40
D20 = 20
D20 = 20
D20 = 20
D40 = 40
D40 = 40
D40 = 40
D20 = 20
D20 = 20
D20 = 20
D40 = 40
D40 = 40
D40 = 40
D20 = 20
D20 = 20
D20 = 20
D40 = 40
D40 = 40
D40 = 40
D20 = 20
D20 = 20
D20 = 20
D40 = 40
D40 = 40
D40 = 40
48
S. Sutono dan N.L. Nurida / Buana Sains Vol 12 No 1: 45-52, 2012
Hasil dan Pembahasan
Berat isi, berat jenis dan ruang pori total
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
peningkatan fraksi pasir berbanding lurus
dengan peningkatan bobot isi dan berat
jenis, tetapi berbanding terbalik dengan
ruang pori total. Fraksi pasir merupakan
butiran masif dan padat mempunyai
jumlah ruang pori sedikit, demikian halnya
ruang pori yang dapat diisi air pun
jumlahnya sedikit. Hal inilah yang
menyebabkan bobot isi menjadi lebih
berat, sehingga makin banyak fraksi
pasirnya makin tinggi bobot isi dan berat
jenisnya (Tabel 3).
Tabel 3. Rataan bobot isi, berat jenis dan ruang pori total pada tanah dengan jumlah fraksi
pasir berbeda.
Fraksi pasir
Bobot isi (g/cc)
1,03
1,10
1,12
1,16
1,22
1,71
P20
P30
P40
P50
P60
P92
Kemampuan menyimpan air
Tanah dengan fraksi pasir 20% mampu
menyerap air dan sekaligus menyimpannya
lebih baik dibandingkan dengan tanah
fraksi pasirnya lebih banyak. Tanah dengan
fraksi
pasir
92%
paling
rendah
kemampuannya menyerap dan menyimpan
air (Gambar 1 dan Tabel 4).
pF4,2
Jumlah fraksi pasir (%)
P92
pF2,54
pF2
pF1
P60
P50
P40
P30
P20
0
15
30
45
Kadar air (% volume)
60
75
Gambar 1. Kadar air tanah bertekstur pasir
pada pF , pF 2, pF 2,54 dan pF 4,2
Berat jenis (g/cc)
2,39
2,42
2,43
2,48
2,50
2,55
Ruang pori total (% vol)
56,80
54,37
53,79
53,18
51,21
32,85
Pasir merupakan butiran yang masif dan
padat sulit ditembus oleh air, sehingga air
menempati rongga-rongga diantara butiran
pasir. Menurunkan jumlah pasir dengan
meningkatkan kadar liat mengubah
kemampuan
tanah
menyerap
dan
menyimpan air.
Arang tempurung kelapa lebih mampu
menyerap air dibandingkan dengan arang
dari kulit kakao, sekam dan tanpa arang
(Gambar 2). Tanah dengan fraksi pasir
sampai dengan 92% hanya mampu
menyerap air sampai dengan 30% volume
sedangkan arang sekam 35% volume,
arang kakao 45% vol dan arang tempurung
mencapai 55% vol.
Kemampuan menyerap air ini tidak
diimbangi
dengan
kemampuan
menyimpannya, karena arang tempurung
kelapa cepat sekali kehilangan air.
49
S. Sutono dan N.L. Nurida / Buana Sains Vol 12 No 1: 45-52, 2012
Tabel 4. Kadar air tanah pF 1, pF 2, pF 2,54 dan pF 4,2 pada tanah pasir yang diberi dosis
arang berbeda
Dosis
arang
pF 1
pF 2
pF 2,54
pF 4,2
pF 1
% volume
pF 2
pF 2,54
pF 4,2
20% pasir
50% pasir
35,30
31,44
24,56
27,26
25,05
22,16
19,27
35,92
32,03
26,15
27,73
24,95
22,48
20,20
35,18
31,09
26,48
26,91
23,03
22,04
18,73
34,93
31,09
25,83
45,49
42,22
21,06
17,95
49,56
32,04
27,35
60,67
28,44
22,92
21,28
49,66
31,79
26,37
59,95
29,04
22,70
19,79
46,18
31,92
27,35
55,79
28,58
22,27
19,78
43,75
32,27
26,37
37,06
30,90
24,16
20,42
46,42
32,27
27,02
38,02
35,34
24,37
20,31
49,39
33,34
27,80
40,82
34,57
25,97
18,63
30% pasir
60% pasir
TA
32,35
29,21
26,79
22,62
43,95
37,72
17,11
14,73
AS D10
31,86
27,93
25,44
21,96
38,48
34,20
21,57
17,58
AS D20
33,21
31,61
28,28
24,67
39,78
34,84
17,32
13,92
AS D40
35,38
32,72
29,21
25,22
40,54
36,90
18,71
14,53
AT D10
54,20
44,20
28,51
25,67
55,85
27,88
17,02
14,73
AT D20
56,17
44,24
28,86
23,68
54,14
29,27
17,53
14,33
AT D40
52,89
44,93
29,45
24,67
53,96
24,59
17,22
14,83
AK D10
45,12
42,23
30,06
24,67
33,12
26,70
19,69
14,32
AK D20
46,10
42,37
30,65
26,11
36,81
33,04
19,03
15,03
AK D40
48,20
43,81
32,96
27,14
32,93
29,18
21,24
15,75
40% pasir
92% pasir
TA
30,91
26,90
24,75
21,60
13,29
13,96
3,38
1,84
AS D10
31,39
27,94
25,31
23,00
25,01
14,50
3,73
2,31
AS D20
29,95
26,80
24,86
22,35
24,44
16,41
4,45
3,02
AS D40
29,71
27,13
24,64
20,88
28,33
17,70
4,33
2,32
AT D10
65,44
38,06
25,77
23,66
42,39
8,89
3,73
2,55
AT D20
63,96
33,39
25,44
24,00
41,36
11,58
3,61
2,55
AT D40
63,23
34,27
24,98
23,11
43,47
10,28
3,61
2,31
AK D10
38,19
35,68
26,67
21,72
13,70
10,58
4,45
3,37
AK D20
42,61
36,22
27,25
21,83
15,41
11,59
3,73
2,43
AK D40
43,40
38,89
28,88
23,21
14,49
9,38
5,29
2,66
Keterangan: TA = tanpa arang, AS = arang sekam, AT = arang tempurung kelapa, AK = arang
kulit buah kakao, D10 = 10 t/ha, D20 = 20 t/ha dan D40 = 40 t/ha
TA
AS D10
AS D20
AS D40
AT D10
AT D20
AT D40
AK D10
AK D20
AK D40
39,81
41,40
39,78
40,31
61,25
58,32
57,29
69,07
71,02
76,47
Kadar air 55% volume pada pF1 turun
menjadi 32% volume pada pF 2. Arang
sekam dan arang kakao lebih lama dalam
menyimpan air, ia mampu menyimpan air
lebih banyak walaupun telah ditekan pada
pF 2. Arang kulit buah kakao lebih mampu
menyimpan air dibandingkan dengan arang
sekam dan arang tempurung kelapa
(Gambar 2). Arang tempurung sawit
mampu menyerap air sampai > 50%
volume,
tetapi
kemampuannya
mempertahankan air tetap berada pada
pori-pori arang lebih rendah dibandingkan
dengan arang kulit buah kakao. Dalam
gambar dapat dilihat bahawa kadar air pada
pF 2, 2,54 dan 4,2 lebih rendah
50
S. Sutono dan N.L. Nurida / Buana Sains Vol 12 No 1: 45-52, 2012
dibandingkan dengan pada arang kulit
buah kakao.
pF4,2
pF2,54
pF2
pF1
Jenis arang
AK
AT
AS
TA
0
15
30
45
60
75
Kadar air (% volume)
Gambar 2. Kadar air tanah berpasir diberi
arang pada pF , pF 2, pF 2,54 dan pF 4,2
Distribusi pori
Ukuran pori tanah dapat diduga
menggunakan kadar air dan kurva pF,
berdasarkan nilai pF maka diameter pori
pada pF 1 adalah 28,6μ-296μ, pada pF 2
(8,6μ–28,6μ), pada pF 2,54 (0,2μ–8,6μ),
dan pada pF 4,2 berukuran < 0,2μ. Air
yang berada pada pori-pori berukuran
0,2μ–8,6μ adalah kadar air terpenting
karena air inilah yang berperan dalam
menumbuhkembangkan tanaman. Kadar
air tersebut dikenal sebagai air tersedia bagi
tanaman. Air yang mengisi pori air tersedia
disuplai oleh air yang berasal dari pori
drainase lambat, sedangkan air yang berada
pada pori aerasi lebih untuk memenuhi
evaporasi.
Berdasarkan jenis arang yang diberikan
ke dalam tanah bertekstur pasir, maka
tanah yang tidak diberi arang mempunyai
pori aerasi atau pori drainase cepat paling
tinggi (22% volume) diikuti oleh tanah
yang diberi arang sekam (21% volume),
diberi arang tempurung kelapa sawit (18%
volume) dan arang kulit buah kakao (17%
volume) (Gambar 3).
Jumlah pori aerasi yang tinggi tidak
diiukti oleh jumlah air tersedia yang tinggi,
tetapi terjadi sebaliknya makin tinggi pori
aerasi makin rendah pori air tersedia. Bagi
lahan pertanian jenis pori yang berperan
penting selain pori air tersedia adalah pori
drainase cepat atau pori aerasi. Pertukaran
air dengan udara terjadi pada pori aerasi,
makin tinggi jumlah pori aerasi makin
besar peluang untuk kehilangan air melalui
evaporasi.
Arang
terbaik
untuk
menurunkan jumlah pori aerasi adalah
arang kulit buah kakao dan arang
tempurung kelapa sawit, sedangkan arang
sekam tidak nyata menurunkan pori aerasi.
Jumlah pori pori drainase cepat dan pori
air tersedia pada tanah tanpa diberi arang,
dengan kandungan pasir 92% paling
rendah dibandingkan dengan tanah pasir
yang diberi arang sekam < arang
tempurung kelapa sawit < arang kulit buah
kakao. Hal ini menunjukkan bahwa untuk
meningkatkan kadar air tanah pada tanah
bertekstur pasir dapat digunakan arang
kulit buah kakao dan arang tempurung
kelapa sawit.
Gambar 3. Distribusi ruang pori pada
tanah yang mendapat perlakuan jenis arang
berbeda.
Dosis arang yang digunakan pun
berpengaruh terhadap jumlah pori pada
tanah bertekstur pasir. Penggunaan dosis
40 t arang/ha pada tanah dengan tekstur
pasir
20-40%
tidak
menyebabkan
perbedaan jumlah pori air tersedia, tetapi
pada tanah dengan tekstur pasir 50%
penggunaan arang kulit buah kakao sangat
nyata meningkatkan pori air tersedia. Pori
air tersedia pada tanah berpasir 50%
dengan dosis 10 t arang kulit buah
kakao/ha adalah 3,7% vol, pada 20 t/ha =
4,0% dan pada 40 t/ha = 7,3%.
51
S. Sutono dan N.L. Nurida / Buana Sains Vol 12 No 1: 45-52, 2012
seimbang dibandingkan dengan tanah yang
mempunyai fraksi pasir lebih rendah atau
lebih tinggi (Gambar 4 dan Tabel 5).
AT
Jumlah fraksi pasir (%)
Memperhatikan angka tersebut maka arang
kulit buah kakao lebih mampu menyerap
dan menyimpan air di dalam bidang olah
tanah. Penggunaan arang kulit buah kakao
meningkatkan pori aerasi pada tanah
bertekstur pasir 92% dan arang tempurung
kelapa sawit pada tanah bertekstur pasir
60%.
Untuk meningkatkan jumlah pori air
tersedia sebaiknya digunakan arang kulit
buah kakao, dengan dosis 20 t/ha atau
lebih karena mampu meningkatkan pori air
tersedia. Semua jenis arang pada dosis 10,
20, 40 t/ha tidak mampu meningkatkan
jumlah pori air tersedia pada tanah dengan
tekstur pasir 92%. Tanah dengan tekstur
pasir 30% merupakan tanah yang ideal
karena mempunyai jumlah pori aerase,
drainase cepat, dan air tersedia yang paling
PDL
PDC
P92
P60
P50
P40
P30
P20
0
5
10
15
20
25
30
Jumlah pori (% volume)
Gambar 4. Distribusi ruang pori pada
tanah yang mempunyai tekstur pasir
berbeda
Tabel 5. Distribusi pori pada tanah bertekstur pasir yang diberi dosis arang berbeda
Dosis
arang
PA
PDL
AT
PA
PDL
AT
PA
PDL
AT
% volume
20% pasir
50% pasir
30% pasir
TA
20,38
3,86
5,64
29,75
2,89
2,89
26,34
2,42
3,51
AS D10
18,80
3,89
5,88
30,65
2,48
2,28
20,03
2,49
3,47
AS D20
22,33
4,08
4,61
31,25
1,00
3,31
23,96
3,33
3,61
AS D40
20,96
3,84
5,26
8,45
21,16
3,11
21,28
3,50
3,99
AT D10
8,94
17,53
4,68
19,81
5,52
1,98
9,93
15,69
2,84
AT D20
8,11
17,87
5,43
25,11
6,35
3,24
11,26
15,37
5,18
AT D40
11,03
14,26
4,56
25,16
6,31
2,48
9,59
15,48
4,78
AK D10
13,43
11,48
5,90
22,58
6,74
3,74
12,89
12,17
5,39
AK D20
12,01
14,15
5,25
18,65
10,97
4,06
14,11
11,72
4,54
AK D40
5,77
16,04
5,55
18,29
8,59
7,34
11,04
10,85
5,82
60% pasir
40% pasir
92% pasir
TA
7,26
20,61
2,38
28,09
2,15
3,15
20,38
10,59
1,53
AS D10
19,43
12,63
3,99
28,00
2,63
2,31
20,64
10,77
1,42
AS D20
18,32
17,52
3,40
26,76
1,94
2,51
9,52
11,96
1,43
AS D40
15,95
18,19
4,18
26,96
2,49
3,76
17,29
13,37
2,01
AT D10
24,98
10,86
2,95
18,74
12,29
2,44
18,71
5,16
1,85
AT D20
22,87
11,74
3,20
22,50
7,95
2,44
23,02
7,97
1,73
AT D40
28,20
7,37
2,72
17,27
9,29
2,53
23,19
6,67
1,63
AK D10
25,52
7,01
5,37
20,44
9,01
4,95
23,31
6,13
1,07
AK D20
19,10
14,00
4,00
15,31
8,97
5,42
22,31
7,86
1,29
AK D40
16,20
7,94
5,49
8,56
10,01
5,66
25,25
4,09
2,63
Keterangan: TA = tanpa arang, AS = arang sekam, AT = arang tempurung kelapa, AK = arang
kulit buah kakao, D10 = 10 t/ha, D20 = 20 t/ha dan D40 = 40 t/ha
52
S. Sutono dan N.L. Nurida / Buana Sains Vol 12 No 1: 45-52, 2012
Kesimpulan
Arang yang dibuat dari kulit buah kakao
lebih mampu mempertahankan kandungan
air di dalam tanah bertekstur pasir
dibandingkan dengan arang tempurung
kelapa sawit dan arang sekam. Jumlah pori
aerasi pada tanah bertekstur pasir yang
diberi arang kulit buah kakao paling tinggi
diikuti oleh arang tempurung kelapa sawit
dan arang sekam. Arang kulit buah kakao
sangat nyata meningkatkan pori air tersedia
pada tanah bertekstur pasir 50% sampai
92%.
Tanah
yang
mempunyai
keseimbangan jumlah pori aerasi dengan
pori drainase cepat dan pori air tersedia
adalah tanah dengan tekstur pasir 30%.
Daftar Pustaka
Glaser, B., Lehmann, J. and Zech, W. 2002.
Ameliorating physical and chemical
properties of highly weathered soils in the
tropics with charcoal – a review. Biology
and Fertility of Soils 35:219-230,
Igarashi, T. 2002. Handbook for soil
amendment of tropical soil, Association for
International Cooperation of Agriculture
and Forestry p 127-134.
Nurida, N.L., Dariah, A. dan Rachman, A..
2008. Kualitas limbah pertanian sebagai
bahan baku pembenah berupa biochar
untuk rehabilitasi lahan. Prosiding Seminar
Nasional dan dialog Sumberdaya Lahan
Pertanian. Tahun 2008. Hal 209-215.
Ogawa M. 1994. Symbiosis of people and
nature in the tropics. III. Tropical
agriculture using charcoal. Farming Japan
28: 21-35.
Steiner, C., Glaser, B., Teixeira, W.G.,
Lehmann, J., Blum, W.E.H. and Zech, W.
2008. Nitrogen retention and plant uptake
on a highly weathered central Amazonian
Ferralsol amended with compost and
charcoal. Journal of Plant Nutrition and
Soil Science 171: 893-899.
Fly UP