...

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan memegang

by user

on
Category: Documents
8

views

Report

Comments

Transcript

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan memegang
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan
memegang
peranan
yang
sangat
penting
dalam
meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terutama dalam proses
pembangunan nasional. Oleh karena itu upaya peningkatan mutu pendidikan
disekolah merupakan strategi dalam meningkatkan sumber daya manusia.
Pendidikan merupakan wahana utama pembangunan sumber daya manusia
berperan dalam mengembangkan peserta didik menjadi sumber yang
produktif dan memiliki kemmapuan professional dalam meningkatkan mutu
kehidupan berbangsa dan bernegara.1
Menurut Brunner dalam Dina Indriana menyatakan bahwa tujuan
pendidikan adalah untuk membebaskan masyarakat dan membantu para siswa
dalam mengembangkan potensi mereka secara penuh.2 Adapaun tujuan dari
setiap satuan pendidikan harus mengacu kearah pencapaian tujuan pendidikan
nasional, sebagaimana telah diterapkan dalam Undang-Undang RI. No. 20
tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasioanl pasal 3 yaitu:
“Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi anak
didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan
YME agar menjadi manusia yang berakhlaq mulia, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab”.3
1
Nana Sudjana, Pembinaan Dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, (Bandung:
Sinar Baru Algensindo, 1994), hal.2
2
Diana Indriana, Mengenal Ragam Gaya Pembelajaran Efektif, (Yogyakarta: Diva
Press, 2011), hal.196
3
Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum, (Yogyakarta: Teras, 2009), hal. 81
1
2
Strategi belajar membelajarkan pada hakikatnya adalah rencana
kegiatan belajar dan membelajarkan yang dipilih oleh fasilitator untuk
dilaksanakan, baik oleh peserta didik ataupun pendidik dalam upaya
mencapai tujuan pembelajaran.4
Selain strategi pembelajaran metode
mengajarpun juga sangat perlu diperhatikan. Metode dalam rangkaian sistem
pembelajaran memegang peranan yang sangat penting. Keberhasilan
implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru
menggunakan metode pembelajaran, karena suatu strategi pembelajaran
hanya mungkin dapat di implementasikan melalui penggunaan metode
pembelajaran.5 Oleh karena itu seorang guru harus dapat menyesuaikan
metode atau pun strategi yang cocok dengan situasi dan kondisi khusus yang
dihadapi.
Bahasa adalah realitas yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan
tumbuh kembangnya manusia pengguna bahasa itu. Realitas bahasa dalam
kehidupan ini semakin menambah kuatnya eksistensi manusia sebagai
makhluk berbudaya dan beragama. Bahasa, dengan demikian tidak lagi
menjadi realitas yang sederhana karena melibatkan banyak aspek yang tidak
bisa di anggap enteng.6 Dengan demikian dapat didefinisikan belajar bahasa
adalah proses terjadinya perubahan” Kebahasaan” seseorang yang relative
4
Anisah Basleman, Teori Belajar Orang Dewasa, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2011), hal.151
5
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
(Jakarta: Prenada Media Group, 2010), hal. 147
6
Chaidar Alwasilah, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2011), hal.8
3
menetap yang dihasilkan dari pengalaman berupa latihan kebahasaan atau
interaksi kebahasaan.7
Bahasa Arab merupakan suatu ilmu yang sangat penting dalam
kehidupan manusia. Secara tidak langsung kita sudah menerapkan bahasa
arab dalam kehidupan sehari-hari. Dan mutlak dibutuhkan bagi setiap
manusia terutama bagi kaum muslim baik untuk dirinya sendiri maupun
berinteraksi dengan sesama manusia. Sejak bahasa Arab yang tertuang di
dalam Al-quran di dengungkan hingga kini, semua pengamat baik barat
maupun orang muslim Arab mengganggapnya sebagai bahasa yang memiliki
standar ketinggian dan keelokan linguistic yang tertinggi tiada taranya.
Kedudukan istimewa yang dimiliki oleh bahasa Arab di antara bahasa lain di
dunia karena ia berfungsi sebagai bahasa Al-quran dan hadist serta kitab-kitab
lainnya.8
Melihat begitu pentingnya pelajaran bahasa Arab, maka bahasa Arab
diberikan sejak dari MI, bahkan semenjak TK hingga perguruan tinggi. Guru
sebagai pendidik sangat berperan dalam hal ini, terutama guru Bahasa Arab.
Bahasa Arab memiliki Alokasi waktu yang sedikit di bandingkan dengan
mata pelajaran lain. Hal ini dikarenakan mata pelajaran Umum lebih di
Utamakan dalam sistem pendidikan kita. Tetapi pada kenyataannya Bahasa
Arab justru menjadi mata pelajaran yang di anggap sulit bagi sebagian besar
siswa. Siswa cenderung takut bahkan kesulitan dalam mempelajari. Hal ini
dapat menimbulkan rendahnya motivasi, minat dan keaktifan prestasi belajar
7
Ibid., hal. 30
Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2010), hal.6-7
8
4
siswa terhadap pelajaran Bahasa Arab. Berkaitan dengan hal itu maka
menjadi tugas bagi seorang pendidik yang kreatif terampil dan professional
yang
mampu
menggunakan
pengetahuan
dan
kecakapnnya
dalam
menggunakan metode, alat pengajaran dan dapat membawa perubahan
tingkah laku peserta didiknya.
Sebagai upaya untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa,
maka perlu dikembangkan model pembelajaran yang sesuai dan tepat. Salah
satu model pembelajaran yang dapat melibatkan peran siswa adalah model
pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions (STAD) .
model
ini
memungkinkan
siswa
untuk
aktif
dalam
pembelajaran,
mengembangkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan secara mandiri. Slavin
dan Shlomo menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki pengaruh
positif dalam semua jenis hubungan sosial, dan secara spesifik terhadap
hubungan antara siswa yang tidak memiliki dan yang memiliki hambatan
akademis.9
Dalam metode ini guru membagi peserta didik menjadi beberapa
kelompok kecil/tim belajar dengan jumlah anggota setiap kelompok 4-5 orang
secara heterogen. Kemudian siswa yang pandai menjelaskan pada anggota
ataupun anggota yang lain sampai mengerti. Guru lebih dahulu menyajikan
materi baru dalam kelas, kemudian angota team mempelajari dan berlatih
untuk materi tersebut dalam kelompok mereka yang biasanya bekerja
berpasangan. Mereka melengkapi lembar kerja, bertanya satu sama lain, dan
9
33
Shlomo Sharan, Handbook Of Cooperatif Learning, (Yogyakarta: Familia, 2012), hal.
5
mengerjakan latihan yang harus dikuasai oleh setiap anggota kelompok. Pada
akhirnya guru memberikan kuis yang dikerjakan secara individu.10
Berdasarkan pengamatan di MI Hidayatul Mubtadiin Kebonagung
siswa kelas V mempunyai kesulitan dalam memahami tata bahasa (tarkib)
dan cara menghafal Mufradhat. Di dalam mempelajari materi tersebut guru
hanya sekilas menjelaskan tata bahasa dan bagaimana cara menghafal
mufradhat. tetapi guru hanya menuliskan dan membacakan materi tanpa
melibatkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar tersebut dan
metode
pembelajarannya tidak bervariasi. Prestasi belajar yang diperoleh oleh siswa
relatif rendah, ini berdasarkan nilai ulangan harian bahasa arab yang
diperoleh siswa masih kurang atau dibawah KKM (Kriteria Kentuntasan
Minimal) dengan nilai rata- rata 61,05.11 (Lamp.2) Dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini diharapkan siswa mampu aktif
dalam belajar, bekerjasama dengan teman, berinteraksi dengan guru, sehinga
pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.
Berdasarkan paparan di atas, dapat dikatakan bahwa pembelajaran
Bahasa Arab yang tepat dapat membuat siswa lebih aktif dan termotivasi
dalam menerima materi pelajaran. Oleh karena itu, peneliti merasa penting
untuk mengambil judul” Penerapan Model Pembelajaran kooperatif tipe
Student Team Achievement Divisions” (STAD) untuk meningkatkan Hasil
10
Agus Suprijono, Cooperatif Learning , (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), hal.133
– 134.
11
Pengamatan Pribadi, di kelas V MI Hidayatul Mubtadiin Kebonagung, tanggal 27
September 2014.
6
belajar Bahasa Arab pada siswa kelas V MI Hidayatul Mubadiin Kebonagung
Wonodadi Blitar.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penerapan Model pembelajaran kooperatif tipe Student Team
Achievemant Divisions (STAD) pada mata pelajaran Bahasa Arab pokok
‫ فى المدرسة‬siswa kelas V MI Hidayatul Mubtadiin Kebonagung Wonodadi
Blitar tahun ajaran 2014 - 2015 ?
2. Apakah
‫المدرسة‬
peningkatan Hasil belajar Bahasa Arab pokok bahasan
‫فى‬
pada siswa kelas V MI Hidayatul Mubtadiin Kebonagung
kec.Wonodadi Kab. Blitar dengan penggunaan model pembelajaran
kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions (STAD) tahun ajaran
2014 -2015 ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah penelitian diatas,maka tujuan penelitian adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
Student Team Achievement Divisions (STAD) pada mata pelajaran Bahasa
Arab pokok bahasan ‫ فى المدرسة‬pada siswa kelas V MI Hidayatul
Mubtadiin Kebonagung Kec. Wonodadi Kab. Blitar tahun ajaran 2014 –
2015.
2. Untuk mendeskripsikan peningkatan Hasil belajar Bahasa Arab pokok
bahasan
‫ فى المدرسة‬pada siswa kelas V MI Hidayatul Mubtadiin
7
Kebonagung Kec. Wonodadi Kab. Blitar dengan penggunaan model
pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions
(STAD) tahun ajaran 2014 – 2015.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Secara teoritis
Memberikan informasi bagaimana cara mengatasi permasalahan yang ada
dalam proses belajar mengajar,terutama dalam hal meningkatkan hasil
belajar siswa dan pembelajaran Bahasa Arab. Hasil penelitian juga dapat
menambah khasanah ilmu pendidikan dasar,khususnya mata pelajaran
Bahasa Arab dengan penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe
STAD.
2. Secara praktis
a. Bagi Lembaga MI Hidayatul Mubtadiin Kebonagung Wonodadi Blitar
Dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan menyusun kegiatan
pembelajaran dikelas V MI Hidayatul Mubtadiin Kebonagung
Wonodadi Blitar. Hasil penelitian ini juga
dapat dijadikan dasar
pengambilan kebijaksanaan dalam hal proses belajar mengajar dan
sebagai bahan pertimbangan penggunaan informasi atau menentukan
langkah-langkah penggunaan metode pengajaran mata pelajaran Bahasa
Arab khususnya dan mata pelajaran lain pada umumnya. Terlebih
madrasah ini memiliki tugas menghasilkan calon-calon generasi
penerus bangsa yang beriman dan bertaqwa. Hasil penelitian ini
8
diharapkan dapat membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar
dan diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata
pelajaran Bahasa Arab.
b. Bagi peneliti lain Bagi penulis yang mengadakan penelitian sejenis
dalam hasil penelitiannya dapat digunakan untuk menambah wawasan
tentang meningkatkan mutu pendidikan melalui pengembangan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran di madrasah
dan menjadikan bekal bagi guru yang profesional kelak.
c. Dan bagi perpustakaan IAIN Tulungagung dapat digunakan sebagai
bahan wawasan dan pengetahuan tentang system pembelajaran di
sekolah,khususnya ditingkatkan Madrasah Ibtidaiyah. Selain itu dapat
digunakan sebagai bahan kajian dan sumbangan pemikiran bagi upaya
pengembangan ilmu pendidikan guru madrasah ibtidaiyah, khususnya
pada pengembangan konsep metode belajar sehingga dapat bermanfaat
sebagai referensi dalam memilih dan menerapkan suatu strategi,
model,metode atau media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan atau
kompetensi pembelajaran tertentu.
E. Penegasan Istilah
1. Penegasan Konseptual
a. Pembelajaran
kooperatif
adalah
model
pembelajaran
mengutamakan kerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran.
yang
9
b. Student Team Achievement Division Stad adalah pembelajaran yang di
awali dengan membentuk sebuah kelompok dengan kemampuan
akademik
yang
berbeda-
beda
dan
saling
bekerjasama
untuk
menyelesaikan tujuan pembelajaran.
c. Hasil belajar adalah prestasi belajar siswa secara keseluruhan yang
menjadi indikator kompetensi dan derajat perubahan perilaku yang
bersangkutan.
2. Penegasan Operasional
Penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Student Team
Achievement division (Stad ) untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa
Arab pada siswa kelas V MI Hidayatul Mubtadiin Wonodadi Blitar. Pada
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini peserta didik di
tempatkan dalam kelompok- kelompok yang terdiri dari 4 orang. Setelah
itu guru memberikan lembar soal kepada setiap kelompok untuk di kerjkan
secara individu, setelah itu guru menilai hasil kerja setiap individu tadi dan
mengakumulasikan agar di peroleh skor dari masing- masing team.
F. Sistematika Pembahasan
Secara garis besar sistematika penulisan skripsi ini dibagi menjadi tiga
bagian yaitu : bagian awal bagian inti dan bagian akhir.
1. Bagian awal terdiri dari:halaman sampul depan, halaman judul, halaman
persetujuan, halaman pengesahan, motto, persembahan, kata pengantar
daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran, transliterasi dan
abstrak.
10
2. Bagian inti terdiri dari:
a. Bab I pendahuluan : latar belakang, rumusan masalah,tujuan penelitian,
kegunaan hasil penelitian, hipotesis tindakan,
definisi istilah,
sistematika penulisan.
b. Bab II Kajian teori : tinjauan metode pembelajaran STAD, tinjauan
hasil belajar, tinjauan pembelajaran Bahasa Arab.
c. Bab III Metode penelitian : jenis dan desain penelitian PTK, lokasi dan
waktu penelitian, prosedur penelitian, teknik pengumpulan data, teknik
analisis data.
d. Bab IV Laporan hasil penelitian : paparan data, temuan penelitian,
pembahasan temuan penelitian.
e. Bab V penutup terdiri dari : kesimpulan, saran.
3. Bagian akhir terdiri dari : daftar Rujukan, lampiran-lampiran, surat
pernyataan keaslian, daftar riwayat hidup.
11
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Tinjauan Tentang Model Pembelajaran
Model Pembelajaran perlu dipahami oleh seorang pendidik agar
dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif dalam meningkatkan hasil
pembelajaran. Dalam penerapannya, model pembelajaran harus di lakukan
sessuai kebutuhan peserta didik.
Model di artikan sebagai kerangka konseptual yang di gunakan
sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan.12 Sedangkan pembelajaran
adalah sistem atau proses pembelajaran subyek didik atau pembelajaran
yang di rencanakan atau di desain, dilaksanakan, dan di evaluasi secara
sistematis agar subyek didik atau pembelajaran dapat tercapai tujuan-tujuan
pembelajaran secara efektif dan efisien.13
Joyce dan Weil dalam Rusman berpendapat bahwa model
pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat di gunakan untuk
membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancanag
bahan- bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau
yang lain. Model pembelajaran dapat di jadikan pola pilihan, artinya para
guru memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai
12
Syaiful Sagala,Konsep dan Makna Pembelajaran Untuk Membantu Memecahkan
Problematika Belajar dan Mengajar, (Bandung:CV Alfabeta, 2011), hal.175
13
Kokom Kumalasari, Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi, (Bandung:
Refika Aditama, 2011), hal.3
12
tujuan pendidikannya.14 Pembelajaran bisa juga di pandang sebagai kegiatan
guru secara terpogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa
belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.15
2. Pembelajaran Kooperatif
a.
Pengertian
Pembelajaran
mengutamakan
Pembelajaran
kooperatif
kerjasama
kooperatif
adalah
untuk
mencapai
(cooperatif
pembelajaran dengan cara siswa
model
leraning)
pembelajaran
tujuan
yang
pembelajaran.
merupakan
bentuk
belajar dan bekerja dalam kelompok
– kelompok kecil secara kolaboratif, yang
anggotanya
terdiri
dari
4
sampai dengan 6 orang.16
Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif menurut Nurulhayati
antara lain: (1) ketergantungan yang positif suatu bentuk kerjasama yang
sangat erat kaitannya antara anggota kelompok, siswa benar- benar
mengerti bahwa kerjasama ini di butuhkan untuk mencapai tujuan. (2)
pertanggungjawaban individual dimanakelompok tergantung cara belajar
perseorangan seluruh anggota kelompok. (3) kemampuan bersosialisasi,
sebuah kemampuan bekerjasama yang biasa di gunakan dalam aktivitas
kelompok agar suatu kelompok dapat berfungsi secara efektif. (4) tatap
muka dan berdiskusi, kegiatan interaksi ini akan memberi siswa bentuk
sinergi yang menguntugkan semua anggota. (5) evaluasi proses kelompok
14
Rusman, Model- Model Pembelajaran: Mengembangkan profesionalisme Guru,
(Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2012), hal.133
15
Abdul Majid, Strategi Pembelajaran, (Bandung PT Remaja Rosdakarya, 2013), hal 4
16
Ibid., hal.174
13
guru menjadwalkan waktu untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan
hasil kerja kelompok mereka agar selanjutnya bisa bekerjasama lebih
efektif.
Secara umum ciri-ciri pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
Pembelajaran secara tim, Didasarkan pada manajemen kooperatif,
Kemauan untuk bekerjasama, dan Ketrampilan bekerjasama.17
b. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidaktidaknya tiga tujuan pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik,
penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial.
Beberapa ahli berpendapat bahwa pembelajaran ini unggul dalam
membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para ahli telah
menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat
meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan
norma yang berhubungan dengan hasil belajar.
Pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa
kelompok bawah maupun siswa kelompok atas yang bekerja bersama
menyelesaikan tugas-tugas akademik. Pembelajaran kooperatif memiliki
efek penting dalam penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda
menurut ras, budaya, klas sosial, kemampuan maupun ketidak mampuan.
Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada siswa yang berbeda
latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain
17
Rusman, Model- Model, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), hal. 202-205
14
atas tugas-tugas bersama, dan melalui struktur penghargaan kooperatif,
belajar untuk menghargai satu sama lain. Tujuan penting selanjutnya
adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan kerja sama dan kolaborasi.
18
c. Sintaks Pembelajaran Kooperatif
Terdapat 6 langkah utama di dalam pembelajaran kooperatif.
Pelajaran dimulai dengan guru menyiapkan perangkat pembelajaran .
Fase ini diikuti dengan penyajian informasi, menyampaikan tujuan
pembelajaran dan memotivasi siswa. Selanjutnya siswa dikelompokkan
ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat
siswa bekerja sama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka.
Fase terakhir meliputi presentasi hasil akhir kerja kelompok, atau
evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi
penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. Secara
singkat langkah-langkah model pembelajaran kooperatif nampak pada
Tabel 2.1 berikut:19
Tabel 2.1 Fase-fase Pembelajaran Kooperatif
Fase
Tingkah Laku Guru
Fase 1
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang
Menyiapkan perangkat
ingin dicapai pada pelajaran tersebut yang ingin
pembelajaran.
dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa
18
Ibid., hal .209-210
Saur Tampubolon, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama,
2014), hal. 89-90
19
15
belajar.
Fase 2
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan
Menyajikan informasi
demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase 3
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya
Mengorganisasikan siswa
membentuk kelompok belajar dan membantu setiap
Ke dalam kelompok-
kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
kelompok belajar
Fase 4
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada
Membimbing kelompok
saat mereka mengerjakan tugas mereka.
bekerja dan belajar
Fase 5
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang
Evaluasi
telah
dipelajari
atau
masing-masing
kelompok
mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya
Memberikan penghargaan
maupun hasil belajar individu dan kelompok.
Hasil
penelitian
yang
menunjukkan
manfaat
pembelajaran
kooperatif bagi siswa antara lain: saling berbagi kemampuan, saling
belajar berfikir kritis, saling menyampaikan pendapat, penerimaan
terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar, saling memberi
kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, sikap
apatis berkurang, pemahaman yang lebih mendalam, motivasi lebih
16
besar,hasil belajar lebih tinggi,saling menilai kemampuan dan peranan
diri sendiri maupun teman lain20.
3. Tinjauan Tentang Student Teams Achievement Division (STAD)
a. Pengertian Student Teams Achievement Division (STAD)
Model kooperatif tipe STAD yang di kembangkan oleh Robert slavin
dan kolega koleganya di universitas john hopkin merupakan salah satu
model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Model pembelajaran
ini merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang
baru menggunakan pendekatan kooperatif.21
Student Achievement Division (STAD)
merupakan pembelajaran
kooperatif yang di dalamnya terdapat beberapa kelompok kecil dengan level
kemampuan akademik yang berbeda –beda saling bekerjasama untuk
menyelesaikan tujuan pembelajaran. Tidak hanya secara akademis siswa
juga di kelompokan secara beragam berdasarkan gender, ras, dan etnis.
Dalam pembelajaran ini siswa diminta untuk membentuk kelompok
heterogen yang masing- masing terdiri dari 4-5 anggota.
b. Langkah – langkah Student Team Achievement Division (STAD)
. Setelah pengelompokan di lakukan ada beberapa tahap yang harus di
lakukan:
Tahap 1: Pengajaran, Pada tahap pengajaran guru menyajikan materi
pelajaran, biasanya dengan format ceramah-diskusi. Pada tahap ini guru
20
Daryanto, Muljo Rahardjo, Model Pembelajaran Inovatif, (Yogyakarta: Gava Media,
2012), hal. 242-243
21
Robert Slavin, cooperatif lerning: Teori, risert, dan praktik, cet.3 (Bandung: Penerbit
Nusa Media, 2008), hal.143.
17
menjelaskan kepada siswa tentang apa yang akan mereka pelajari dan
tujuan dari materi.
Tahap 2: Tim Studi, Pada tahap ini para anggota kelompok bekerja
secara kooperatif untuk menyelesaikan lembar kerja dan lembar jawaban
yang telah di sediakan oleh guru.
Tahap 3: Tes, Pada tahap ini setiap siswa secara individual menyelesaikan
kuis/ soal. Guru men-secore kuis atau soal tersebut dan mencatat perolehan
hasilnya saat itu serta hasil kuis pada pertemuan sebelumnya. Hasil tes
individu akan di akumulasikan untuk skor tim mereka.
Tahap 4: Rekognisi, Setiap tim menerima penghargaan atau reward
bergantung pada nilai- nilai skor rata- rata tim.22
c. Kelebihan dan kekurangan Student Achievement Division (STAD).
Kelebihannya adalah sebagai berikut:
1). Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama
dengan siswa lain.
2). Siswa dapat mengusai pelajaran yang di sampaikan.
3). Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif.
Adapun kekurangan dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah:
1) membutuhkan waktu yang lama.
2)
siswa pandai cenderung enggan apabila di satukan dengan temannya
yang kurang pandai, dan yang kurang pandai pun merasa minder
22
Miftahul Huda, Model- Model Pengajaran dan Pembelajaran, (Yogyakarta:Pustaka
Pelajar, 2013), hal.201-202
18
apabila di gabungkan dengan temannya yang pandai. Walaupun lama
kelamaan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya.
3)
siswa di berikan kuis dan tes secara perorangan
4) penentuan skor. Hasil kuis atau tes diperiksa oleh guru, setiap skor
yang di peroleh siswa di masukan ke dalam daftar skor individual,
untuk melihat peningkatan kemampuan individual. Rata- rata skor
peningkatan individual merupakan sumbangan bagi kinerja percapaian
hasil kelompok.
5) penghargaan terhadap kelompok. Berdasarkan skor peningkatan
individu, maka akan di peroleh skor kelompok. Dengan demikian,
skor kelompok sangat tergantung dari sumbangan skor individu.23
4. Tinjauan tentang mata pelajaran Bahasa Arab
Kegiatan pembelajaran (al-ta’lim/al-tadris), yaitu proses yang identik
dengan kegiatan mengajar yang di lakukan oleh guru sebagai arsitek kegiatan
belajar, agar terjadi kegiatan belajar. Yang di maksud dengan pembelajaran
bahasa arab adalah kegiatan mengajar yang di lakukan secara maksimal oleh
seorang guru, agar anak didiknya yang ia ajari bahasa arab melakukan kegiatan
belajar dengan baik, sehingga kondusif untuk mencapai tujuan belajar bahasa
arab.24
Pada mata pelajaran bahasa arab di kelas V pokok bahasan ‫ فى المدرسة‬lebih
membahas pada tata bahasa dan mufradatnya, dan pada bab ini lebih
23
Majid, Strategi Pembelajaran,…… hal.188
Acep Hermawan, Metodologi pembelajaran Bahasa Arab,(Bandung, PT Remaja
Rosdakarya,2011), hal.33
24
19
membahas kepada pola kalimat ‫نعة‬+ ‫خبر‬+‫مبتد ْا‬. Mubtada’ adalah isim yang
terletak di awal kalimat dan berfungsi sebagai subjek. Sedangkan khabar
adalah isim yang terletak sesudah mubtada’ dan kedudukannya sebagai
predikat. Dan nangat adalah kata sifat. Adapun khabar terdiri dari dharaf atau
huruf jer.25
Contoh: ‫ اما م‬, ‫ فو ق‬, ‫ على‬, ‫ الى‬, ‫ من‬,‫فى‬
5. Tinjauan tentang Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil belajar
Pertanyaan pokok sebelum melakukan penilaian ialah apa yang
harus di nilai itu. Terdapat pertanyaan ini kita kembali kepada unsur – unsur
yang terdapat dalam proses belajar – mengajar. Ada empat unsur utama
proses belajar mengajar, yakni tujuan, bahan, metode dan alat serta
penilaian. Sedangakan penilaian sendiri adalah upaya yang atau tindakan
untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah di tetapkan itu tercapai
atau tidak. Dengan kata lain penilaian berfungsi sebagai alat untuk
mengetahui keberhasilan proses dan hasil belajar siswa.26
Proses adalah kegiatan yang di lakukan oleh siswa dalam mencapai
tujuan pengajaran, sedangkan hasil belajar adalah kemmapuan yang dimiliki
siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.Horward Kingsley
membagi tiga macam hasil belajar, yakni:Keterampilan dan kebiasaan,
Pengetahuan dan pengertian,dan Sikap dan cita –cita.
25
Buku Fokus Bahasa Arab kelas V, (Kartasura: CV Sindunata, 2008), hal. 90
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2005), hal. 22
26
20
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan,
baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi
hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya
menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah
psikomotoris.27
Hasil belajar juga dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku
dalam bentuk penguasaan pengetahuan, ketrampilan berfikir maupun
ketrampilan motorik. Tingkat penguasaan pelajaran atau hasil belajar dalam
mata pelajaran tersebut disekolah dilambangkan dengan angka-angka atau
huruf, seperti angka 0-10 pada pendidikan sekolah dan huruf A, B, C, D
pada pendidikan tinggi.28
b. Faktor – faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Faktor – faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat di
golongkan menjadi dua yaitu faktor intern dan eksteren.29
1). Faktor intern, adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu
dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor intern
anatara lain:
a. faktor kesehatan
b. faktor psikologis seperti intelegensi, perhatian, minat, bakat,
motivasi kematangan dan kesiapan.
27
Ibid., hal. 23
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan. (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2005), hal. 102-103
29
Abu Ahmadi dan Widodo supriyanto, Psikologi Belajar (Jakarta: Rineka Cipta,
1991), hal.138
28
21
2). Faktor Eksteren yang berasal dari luar dirinya. Misalnya
lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
B. Penelitian terdahulu
Pembelajaran dengan model dan metode yang sesuai akan menghasilkan
pemahaman dan penguasaan konsep yang maksimal. Karena kesesuaian
dengan masalah yaitu rendahnya hasil belajar bahasa arab di kelas V MI
hidayatul Mubtadiin, maka akan di terapkan model kooperatif tipe STAD.
Dalam pengertiannya model kooperatif tipe STAD yaitu merupakan suatu
metode generik tentang pengaturan kelas dan bukan metode pengajaran
komprehensif untuk subjek tertentu, guru menggunakan pelajaran dan materi
mereka sendiri. Suatu metode pembelajaran akan berpengaruh terhadap sukses
tidaknya proses belajar mengajar peserta didik. Dengan demikian apabila guru
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran
bahasa arab maka akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Model kooperatif tipe STAD ini telah mampu meningkatkan hasil belajar
siswa, hal ini di buktikan dalam penelitian yang di lakukan oleh:
1. Maria kartika dalam skripsinya yang berjudul “ Peningkatan Hasil Belajar
IPA melalui model Pembelajaran kooperatif tipe Student Team
Achievement Division (STAD) siswa kelas IV MI Al- Hkmah Melis
Gandusari Trenggalek Tahun Ajaran 2011/2012”. Dalam sripsi tersebut
telah di simpulkan bahwa pembelajaran IPA dengan menggunakan model
model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil
belajar IPA. Hal ini di tunjukan dengan peningkatan rata – rata presentasi
22
setiap aspek partisipasi belajar siswa pada siklus 1 dan siklus II antara lain
sebagai berikut: aspek memperhatikan penjelasan guru dengan aktif siklus
I sebanyak 12 siswa (66,6%), meningkat menjadi 14 siswa (77,7%): aspek
mengerjakan tugas yang di berikan oleh guru siklus 1 sebanyak 13 siswa
(72%) siklus II meningkat menjadi 14 siswa (77,7%): aspek kerjasama
siswa dalam kelompok siklus I dan 12 siswa (66,6%) siklus II meningkat
menjadi 14 siswa (77,7%). Berdasarka hasil penelitian, maka dapat di
simpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaraan kooperatif
tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV MI ALHikmah Melis Gnadusari Trenggalek pada semester genap tahun ajaran
2011/2012.30
2. Mohammad Ivan Wahyudi dengan judul skripsinya “Penerapan Model
Pembelajaran cooperatif tipe Student Team Achievement Division
(STAD) untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas 3 SDI AL
munawar Karangwaru Tulungagung tahun ajaran 2012/2013”. Pada
penelitian tersebut terbukti dengan menggunakan model pembelajaran
Student team achievement division (STAD) telah mampu meningkatkan
prestasi belajar siswa. Dapat di ketahui dari hasil nilai yang di paparkan
yaitu mulai dari pretest 20% meningkat pada postest pertama 50% dan
meningkat lagi pada postest ke dua yaitu 83%.31
30
Maria Kartika, skripsi: Peningkatan Hasil Belajar IPA Melalui Model Pembelajaran
Kooperatif tipe Student Achievement Division (STAD) Siswa kelas IV MI AL- Hikmah Melis
Gandusari Trenggalek Tahun Ajaran 2011/2012, (Tulungagung: Sekripsi Tidak di terbitkan,2012).
31
Mohammad Ivan Wahyudi dengan judul skripsinya “Penerapan Model Pembelajaran
cooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) untuk meningkatkan hasil belajar IPS
siswa kelas 3 SDI AL munawar Karangwaru Tulungagung tahun ajaran 2012/2013
23
C. Hipotesis Tindakan
Hipotesis penelitian ini adalah “Jika model pembelajaran kooperatif
tipe Student Team Achievement Divisions (STAD) diterapkan pada mata
pelajaran Bahasa Arab pokok bahasan ‫ فى المدرسة‬dengan baik, maka hasil
belajar siswa kelas V MI Hidayatul Mubtadiin Kebonagung Wonodadi akan
meningkat.”
D. Kerangka Pemikiran
Pembelajaran
Bahasa Arab
Penerapan
Meningkat
Model
Minat dan
Model
Hasil Belajar
STAD
Gambar 2.1 bagan kerangka berfikir
Dalam suasana belajar mengajar di lapangan pada lingkungan
sekolah –sekolah sering kita jumpai beberapa masalah. peserta didik memiliki
sejumlah pengetahuan yang pada umumnya diterima dari guru sebagai
24
informasi dan mereka tidak di biasakan untuk mencoba membangun
pemahamannya sendiri sehingga pembelajaran menjadi tidak bermakna dan
cepat terlupakan.
Selama ini masih banyak siswa di MI Hidayatul Mubtadiin
Kebonagung Wonodadi Blitar menggangap bahwa pelajaran
yang dirasa
paling sulit adalah pelajaran bahasa arab karena penerapan metode mengajar
yang kurang bervariasi, dan
juga guru cenderung mendominasi seluruh
proses pembelajaran dan siswa langsung diberikan tugas. Akibatnya mereka
malas dan enggan untuk mempelajari bahasa arab. Permasalahan lain yang di
hadapi dalam proses pembelajaran bahasa arab yaitu kurang aktifnya siswa
saat pembelajaran berlangsung. Hal ini di sebabkan guru hanya menggunakan
metode ceramah. Pembelajaran seperti ini akan membuat suasana
pembelajaran di kelas kurang menyenangkan serta siswa menjadi
malas
belajar.
Sebagai solusinya, maka peneliti melaksanakan pembelajaran dengan
menggunakan model kooperatif tipe STAD. Guru dapat memberikan materi
kepada siswa dengan media dan model pembelajaran yang menarik serta
dapat menciptakan situasi belajar yang kondusif dalam kelas. Dengan
penerapan metode tersebut di harapkan dapat tercipta interaksi belajar yang
aktif.
25
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) yang berarti penelitian yang di lakukan pada sebuah
kelas untuk mengetahui akibat tindakan yang di terapkan pada suatu subyek
penelitian di kelas tersebut.32
Para ahli mendefinisikan penelitian tindakan berbagai sumber. Jadi, kedua
kata kunci itu perlu di artikan yaitu penelitian (research) dan tindakan (action).
Penelitian adalah kegiatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan yang benar
tentang suatu masalah, sedangkan tindakan adalah suatu gerak kegiatan yang di
sengaja di lakukan untuk memecahkan masalah dalam rangka mencapai tujuan
tertentu. Dengan demikian dapat kita kemukakan bahwa peneletian tindakan
adalah suatu pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata berupa
siklus melalui proses kemampuan mendeteksi dan memecahkan masalah.33
Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian reflektif dari secara
kolektif diri secara kolektif yang di lakukan oleh pesertanya dalam situasi
sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan serta
praktik sosial, dan pemahaman mereka terhadap praktik – praktiknya sesuai
dengan situasi tempat di lakukan. Penelitian adalah penemuan fakta – fakta dan
data atas pemecahan masalah dalam situasi sosial demi meningkatkan kualitas
32
33
Trianto, Penelitian tindakan kelas, (Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2011), hal.13
Saur Tampubolon, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Erlangga, 2014), hal.15
26
tindakan yang di lakukan di dalamnya, yang melibatkan kolaborator dan
kerjasama para peniliti, praktisi, serta orang lain.34
Penelitian tindakan kelas memiliki beberapa karakteristik antara lain:
1) Merupakan salah satu dari strategi penelitian kualitatif dengan model
kontruktivis
yang
di
gunakan
untuk
mendeskripsikan
dan
pengambilan keputusan secara kritis berdasrkan rekaman,pemantauan,
evaluasi terhadap tindakan dan hasil tindakan.
2) Bersifat siklus artinya sifatnya PTK berulang- ulang, yaitu dari tujuan,
perencanaan, pemberian, tindakan, pengamatan, refleksi, kemudian
ke perencanaan lagi (revisi perencanaan) dan seterusnya.
3) Bersifat longitudinal artinya PTK harus berlangsung dalam jangka
waktu tertentu secara kontinu untuk memperoleh data yang di
perlukan.
4) Partikular spesifik, artinya PTK sifatnya mencari jalan pemecahan
praktis dengan melihat pandangan, motivasi, tindakan yang di lakukan
siswa.
5) Bersifat partisipatoris artinya proses PTK tidak hanya di arahkan pada
upaya perubahan cara belajar siswa, tetapi juga guru (sebagai peneliti
dan pengajar yang diteliti) harus terjadi perubahan ke arah yang lebih
baik (berkualiats).
34
Ibid., hal. 16
27
6) Bersifat kolaboratif dan kooperatif artinya proses PTK selalu terjadi
kerjasama antar guru, atau antar peneliti atau pun pihak – pihak yang
terkait. Kerjasama dalam rangka mencapai keabsahan data .
7) Bertujuan mengubah keadaan nyata sehari-hari dikelas artinya proses
PTK di arahkan upaya mengubah proses pembelajaran di kelas
menjadi lebih baik, lebih bermutu, dan sesuai tuntutan zaman.35
Dalam sebuah penelitian yang di lakukan pastilah memiliki tujuan,
termasuk penelitian kelas (PTK). Sehubungan dengan itu tujuan secara umum
dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk:
a.
Memperbaiki dan meningkatkan kondisi serta kualitas pembelajaran
di kelas.
b.
Meningkatkan layanan profesional dalam konteks pembelajaran di
kelas.
c.
Memberikan kesempatan kepada guru untuk melakukan tindakan
dalam pembelajaran yang direncanakan di kelas.
d.
Memberikan kesempatan kepada guru untuk melakukan pengkajian
terhadap kegiatan pembelajaran yang di lakukan.36
Berdasarkan jenis penelitian sebagaimana dipaparkan sebelumnya,
rancangan atau desain PTK yang digunakan adalah menggunakan model PTK
35
36
155
Trianto, penelitian Tindakan,..... hal. 21-22.
E.Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hal
28
Kemmis & Mc. Taggart yang dalam alur penelitiannya yakni meliputi langkahlangkah:37
a. Perencanaan (plan)
b. Melaksanakan tindakan (action)
c. Melaksanakan pengamatan (observe), dan
d. Mengadakan refleksi/ analisis (reflection)
Sesuai jenis penelitian yang dipilih yaitu penelitian tindakan kelas, maka
penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas model spiral Kemmis dan
Taggart yaitu bentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya.
Model Kemmis dan Taggart merupakan pengembangan dari konsep daasar
yang diperkenalkan Kurt Lewin, hanya saja komponen acting dan observing
dijadikan satu kesatuan karena keduanya merupakan tindakan yang tak
terpisahkan, terjadi dalam waktu yang sama.
Dalam perencanaannya Kemmis menggunakan sistem spiral refleksi diri
yang setiap siklus meliputi rencana (planing), tindakan (acting), pengamatan
(observing), dan refleksi (reflecting).38 Langkah pada siklus berikutnya adalah
perencanaan yang sudah direvisi dari siklus spiral tahap-tahap penelitian
tindakan kelas dapat dilihat dari gambar berikut. Secara sederhana alur
pelaksanaan tindakan kelas disajikan sebagai berikut:
37
Suharsimi Arikunto, et. all., Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi Aksara,
2010), hal. 16
38
Trianto, Panduan Lengkap Penelitian dan Tindakan Kelas Teori & Praktik,
(Surabaya: Prestasi Pustakaraya, 2010), hal.30
29
Gambar 1
Siklus PTK model Kemmis dan Mc Taggart39 :
Perencanaan
Refleksi
SIKLUS I
Pelaksanaan
Pengamatan
Perencanaan yang
direvisi
Refleksi
SIKLUS II
Pelaksanaan
Pengamatan
?
B. Lokasi dan Subyek Penelitian
Penelitian dilaksanakan di MI Hidayatul Mubtadiin Kebonagung
Wonodadi Blitar kelas V dengan jumlah siswa sebanyak 19 orang. Lokasi ini
dipilih sebagai tempat penelitian dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Pembelajaran Bahasa Arab yang dilakukan selama ini lebih kearah
teacher centered yang kurang memberikan kesempatan bagi peserta
didik untuk berpartisipasi dalam pembelajaran, dan penjelasan materi
mayoritas didominasi oleh guru sehingga pembelajaran terasa sangat
39
Ibid., hal. 16
30
membosankan dan cenderung monoton bagi peserta didik dan keaktifan
peserta didik dalam pembelajaran sangatlah kurang.
2. Dalam pembelajaran Bahasa Arab materi ‫ فِى ال َم ْد َر َس ِة‬guru belum pernah
menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Dalam Penelitian ini yang menjadi Subjek Penelitian adalah peserta didik
kelas V MI Hidayatul Mubtadiin Kebonagung Wonodadi, semester II tahun
ajaran 2014/2015, pemilihan siswa kelas V karena kelas V merupakan tahapan
perkembangan berfikir konkrit yang semakin luas, rasa ingin tahu yang tinggi,
dan anak juga memiliki minat belajar yang tinggi. Dan hal ini membutuhkan
sebuah metode yang bisa lebih meningkatkan minat belajar yang tinggi,
sehingga hasil belajar yang diperoleh peserta didik menjadi meningkat. Alasan
lain di pilihnya kelas V
karena peserta didik
kelas V dalam proses
pembelajaran masih berpusat pada guru dan siswa kurang begitu aktif.
Diharapkan dengan adanya penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
STAD, peserta didik dapat lebih aktif dalam proses belajar mengajar.
C. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah prosedur sistematik dan standar untuk
memperoleh data yang diperlukan.40 Teknik yang digunakan dalam
pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1. Tes
Pengertian tes sebagai alat pengumpulan data adalah serentetan
atau latihan yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan,
40
Tanzeh, Metodologi Penelitian…, hal.83
31
sikap, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu
atau kelompok.41
Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal uraian yang
dilaksanakan pada saat pra tindakan maupun pada akhir tindakan, yang
nantinya hasil tes ini akan diolah untuk mengetahui tingkat keberhasilan
siswa
dalam
proses
pembelajaran
yang
menerapkan
model
pembelajaran tipe student team achievement division (STAD).
Tes merupakan prosedur yang sistematik dimana individual yang di tes
direpresentasikan dengan suatu set stimuli jawaban mereka yang dapat
menunjukkan ke dalam angka.42 Subyek dalam hal ini adalah siswa
kelas V harus mengisi item-item yang ada dalam tes yang telah
direncanakan, guna untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam
proses pembelajaran.
Dalam penelitian ini, tes yang diberikan ada 2 macam yaitu:43
a. Pre tes (tes awal)
Tes yang diberikan sebelum tindakan sebelum tindakan. Tujuan
dari pre tes ini adalah untuk mengetahui pemahaman siswa tentang
materi yang akan diajarkan.
b. Pos tes (tes akhir)
yaitu tes yang diberikan setiap akhir tindakan untuk mengetahui
pemahaman siswa dan ketuntasan belajar siswa pada masing-masing
41
42
Ibid.., hal. 92
Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Yogyakarta : Bumi aksara, 2008), hal
138
43
hal.100
Mulyasa, Kurukulum Berbasis Kompetensi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005),
32
pokok bahasan. Tujuan dari pos tes ini adalah untuk mengetahui
peningkatan pemahaman dan prestasi belajar siswa terhadap materi
yang akan diajarkan dengan menerapkan model Pembelajaran tipe
Student Team Achievement Division (STAD).
Tes yang diberikan berupa tes tulis dengan bentuk uraian. Tes
tersebut disusun oleh peneliti dan dikonsultasikan dengan guru
bidang studi. Pengambilan data hasil pos tes dilakukan setiap akhir
siklus. Adapun instrument tes sebagaimana terlampir.
2. Observasi
Secara umum, observasi dapat diartikan sebagai penghimpunan
bahan-bahan
keterangan
yang
dilakukan
dengan
mengadakan
pengamatan dan pencatatan secara sistamatis terhadap berbagai
fenomena yang dijadikan obyek pengamatan.44 Kelebihan observasi
adalah data yang diperoleh lebih dapat dipercaya karena dilakukan atas
pengamatan sendiri.Sedangkan kelemahannya adalah bisa terjadi
kesalahan interpretasi terhadap kejadian yang diamati.45 Jenis observasi
yamg dipakai dalam penelitian ini adalah observasi terstruktur, menurut
Burhan bungin yang disebut sebagai observasi terstruktur adalah
Peneliti telah megetahui aspek atau aktivitas, karena pada pengamatan
peneliti telah terlebih dulu mempersiapkan materi pengamatan dan
instrumen yang akan digunakan46. Jadi peneliti menyiapkan sebuah
lembar observasi yang di dalamnya mencangkup hal – hal yang akan
44
Fathurrohman dan Sutikno, Strategi Belajar…, hal. 86
Tanzeh, Metodologi Penelitian…., hal. 87
46
Bungin, Metodologi Penelitian…, hal 143
45
33
diteliti, dan bservasi dalam penelitian ini dilakukan oleh peneliti dan
teman sejawat/guru. Adapun instrument observasi
sebagaimana
terlampir.
3. Wawancara
Metode wawancara adalah
proses
memperoleh
keterangan
bertujuan untuk penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap
muka antar pewawancara dengan responden atau orang yang
diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide)
wawancara. Dalam pengertian lain, wawancara adalah suatu cara untuk
mengetahui situasi tertentu di dalam kelas dilihat dari sudut pandang
orang lain.47
Dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara dengan guru
kelas V dan siswa kelas V. Bagi guru kelas V wawancara dilakukan
untuk memperoleh data awal tentang proses pembelajaran sebelum
melakukan penelitian. Bagi siswa, wawancara dilakukan untuk
menelusuri dan menggali pemahaman siswa tentang materi yang
diberikan. Peneliti menggunakan wawancara terstruktur, wawancara
terstruktur adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan
sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan.48.
Adapun untuk instrumen wawancara sebagaimana telah terlampir.
47
Rochiati Wiriaatmajda, Metode Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2008), hal. 117
48
Ibid., hal. 190
34
4. Catatan Lapangan
Catatan lapangan menurut Bogdan dan Biklen dalam Moleong,
adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami, dan
dipikirkan dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data
dalam penelitian kualitatif.49
Catatan lapangan memuat segala kegiatan peneliti maupun siswa
selama proses berlangsungnya pemberian tindakan. Catatan lapangan
dimaksudkan untuk melengkapi data yang tidak terekam dalam lembar
observasi. Dengan demikian diharapkan tidak ada data penting yang
terlewatkan dalam kegiatan penelitian ini.
Kekayaan data dalam catatan lapangan ini yang memuat secara
deskriptif
berbagai
kegiatan,
suasana
kelas,
iklim
sekolah,
kepemimpinan, berbagai bentuk interaksi sosial, dan nuansa-nuansa
lainnya merupakan kekuatan tersendiri dari penelitian tindakan kelas.
5. Dokumentasi
Dokumentasi, dari asal katanya, yang artinya barang-barang
tertulis.50 Didalam melaksanakan model model dokumentasi, peneliti
menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, raport siwa,
majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian
dan lain sebagainya.
Di lingkungan sekolah, biasanya dijumpai dokumen-dokumen
yang tersusun secara rapi dan teratur. Hal ini akan sangat membantu
49
Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Remaja Rosdakarya,
2008), hal. 209
50
Arikunto, Prosedur Penelitian..., hal.201
35
peneliti
untuk
berkomunitas
dengan
sekolah
dalam
rangka
meningkatkan kelas dan sekolah. Data mengenai identitas siswa dan
latar belakang sosial komunitas sekolah (pimpinan, guru, karayawa,
siswa dll. )dapat menjadi acuan dalam menganalisis perilaku siswa
dikelas. Demikian halnya dengan data mengenai siswa akan sangat
membantu peneliti untuk melaksanakan PTK.
Untuk lebih memperkuat hasil penelitian ini peneliti menggunakan
dokumentasi berupa foto – foto pada saat siswa melakukan proses
pembelajaran melalui penggunaan model Pembelajaran tipe student
team achievement division (STAD). Adapun untuk data dokumentasi
tindakan sebagaimana telah terlampir.
D. Adapun Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan sejak sebelum memasuki
lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan.
Menurut Patton dalam Ahmad Tanzeh analisis data adalah proses
mengatur urutan data, mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori dan
satuan uraian dasar. Sedangkan menurut Suprayogo dalam Ahmad Tanzeh
analisis data adalah
rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan,
sistematisasi, penafsiran dan verifikasi data agar sebuah fenomena memiliki
nilai sosial, akademis, dan ilmiah.51
51
Tanzeh, Metodologi Penelitian..., hal. 95-96
36
Analisis data ini dilakukan setelah data yang diperoleh dari sample melalui
instrumen yang dipilih dan akan digunakan untuk menjawab masalah dalam
penelitian atau untuk menguji hipotesa yang diajukan melalui penyajian data.
Data yang terkumpul tidak mesti seluruhnya disajikan dalam pelaporan
penelitian, penyajian data ini adalah dalam rangka untuk memperlihatkan data
kepada para pembaca tentang realitas yang sebenarnya terjadi sesuai dengan
fokus dan tema penelitian, oleh karena itu data yang disajikan dalam penelitian
tentunya adalah data yang terkait tengan tema bahasan saja yang perlu
disajikan. Aktifitas dalam analisis data yaitu reduksi data (data reduction),
penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan/verifikasi data
(conclusion drawing/verification)52.
1. Reduksi Data
Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk
itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Mereduksi data berarti
merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang
penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah
direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah
peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya
bila diperlukan.53
2. Menyajikan Data
Penyajian data dilakukan dalam rangka mengorganisasikan hasil
reduksi dengan cara menyusun secara narasi sekumpulan informasi yang
52
Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif.(Bandung: Alfabeta,
2008), hal. 246
53
Ibid.,hal. 247
37
telah diperoleh dari hasil reduksi, sehingga dapat memberikan kemungkinan
penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Data yang sudah
terorganisir ini dideskripsikan sehingga bermakna baik dalam bentuk narasi,
grafis maupun tabel.54
Dalam penelitian, penyajian data akan memudahkan untuk
memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan
apa yang telah dipahami. Dalam melakukan penyajian data selain dengan
teks yang naratif, juga dapat berupa grafik, matrik, network dan chart.55
3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi
Penarikan
kesimpulan
dan
verifikasi
adalah
memberikan
kesimpulan terhadap hasil penafsiran dan evaluasi.Kegiatan ini juga
mencakup pencarian makna data serta pemberian penjelasan.Selanjutnya
dilakukan kegiatan verifikasi yaitu kegiatan mencari validitas kesimpulan
dan kecocokan makna-makna yang muncul dari data.
1. Indikator Keberhasilan
Kriteria keberhasilan tindakan ini akan dilihat dari indikator proses dan
indikator hasil belajar. Indikator proses yang ditetapkan dalam penelitian ini
adalah jika ketuntasan belajar siswa terhadap materi mencapai 75%. Untuk
memudahkan dalam mencari tingkat keberhasilan tindakan, E. Mulyasa
mengatakan bahwa:
“Kualitas pembelajaran dapat di lihat dari segi proses dan dari segi hasil.
Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila
54
55
Moleong, Metodologi Penelitian…,hal. 249
Sugiyono, Metodogi Penelitian…,hal. 249
38
seluruh atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara
aktif, baik fisik maupun mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran,
disamping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat, belajar
yang besar, dan rasa percaya diri sendiri. Sedangkan dari segi hasil, proses
pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan tingkah laku yang
positif pada diri peserta didik seluruhnya atau sekurang-kurangnya (75%).”56
Indikator keberhasilan penelitian ini adalah jika 75% dari siswa telah
mencapai nilai minimal 75 dalam pelajaran bahasa arab materi fil madrasati
dan apabila melebihi dari nilai minimal hasil belajar dikatakan penelitian ini
telah tuntas. Hal ini didasarkan pada pernyataan E. Mulyasa diatas, dimana
kelas yang dikatakan berhasil (mencapai ketuntasan) jika paling sedikit 75%
dari jumlah siswa mendapatkan nilai 75. Penetapan nilai 75 didasarkan atas
hasil diskusi dengan guru kelas V dan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal)
yang digunakan MI Hidayatul Mubtadiin Kebonagung Wonodadi Blitar.
Indikator proses pembelajaran yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah
jika keterlibatan guru dan siswa pada proses pembelajaran mencapai 75%
(berkriteria cukup). Indikator proses pembelajaran dalam penelitian ini akan
dilihat dari prosentase keberhasilan tindakan yang didasarkan pada data skor
yang diperoleh dari hasil observasi guru/peneliti dan siswa.
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan tindakan didasarkan pada tabel
berikut: 57
56
E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006),
hal. 101-102
57
Purwanto, Prinsip- Prinsip..., hal. 103
39
Tabel 3.3 Tingkat penguasaan (Taraf Keberhasilan Tindakan)
Tingkat Penguasaan
Nilai Huruf
Bobot
Predikat
90 % ≤ NR ≤ 100 %
A
4
Sangat baik
80 % ≤ NR < 90 %
B
3
Baik
70 % ≤ NR < 80 %
C
2
Cukup
60 % ≤ NR < 70 %
D
1
Kurang
0 % ≤ NR < 60 %
E
0
Sangat kurang
Sedangkan untuk menentukan prosentase keberhasilan tindakan di
dasarkan pada data nilai yang di peroleh dari hasil observasi, untuk menghitung
observasi aktivitas guru dan siswa peneliti menggunakan rumus prosentasi
sebagai berikut:
Proses nilai rata – rata (
X 100%
F. Tahap-tahap Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas yang peneliti lakukan terdiri dari dua siklus.
Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan indikator yang hendak dicapai oleh
peneliti yaitu prestasi belajar siswa meningkat setelah dilakukannya sebuah
tindakan. Berkaitan dengan hal tersebut maka pada tahapan penelitian ini
disajikan kegiatan pra tindakan dan kegiatan pelaksanaan tindakan. Tahaptahap penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Kegiatan Pra Tindakan
Kegiatan pra tindakan yang dilakukan peneliti yaitu melaksanakan
studi pendahuluan terlebih dahulu tentang kondisi sekolah yang akan
40
diteliti. Pada kegiatan pra tindakan ini peneliti juga melaksanakan
beberapa kegiatan lain, diantaranya:
a. Meminta surat izin penelitian kepada Institut Agama Islam Negeri
(IAIN) Tulungagung.
b. Meminta izin kepada Kepala MI Hidayatul Mubtadiin Kebonagung
Wonodadi Blitar untuk mengadakan penelitian di Sekolah tersebut.
c. Wawancara dengan guru mata pelajaran bahasa arab mengenai apa
masalah yang dihadapi selama ini selama proses belajar mengajar dan
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe student team
achievement division (STAD).
d. Menentukan subyek penelitian yaitu siswa kelas V MI Hidayatul
Mubtadiin Kebonagung Wonodadi Blitar.
e. Melakukan observasi di kelas V dan melaksanakan tes awal.
2. Kegiatan Pelaksanaan Tindakan
Sesuai
dengan
rancangan
penelitian,
penelitian
tindakan
ini
dilaksanakan dalam dua siklus.
a. Siklus 1
1). Perencanaan tindakan
Perencanaan tindakan dalam siklus kesatu disusun berdasarkan
hasil observasi kegiatan pra tindakan. Rancangan tindakan ini
disusun dengan mencakup beberapa antara lain:
41
2). Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tentang
materi yang akan diajarkan sesuai model pembelajaran kooperatif
tipe student team achievement division (STAD).
3). Mempersiapkan materi pelajaran yaitu ‫فِى الم َْدرَ َس ِة‬
4). Mempersiapkan lembar kerja siswa yaitu lembar pre test dan
lembar kerja Post Test Siklus I.
5). Menyusun dan mempersiapkan lembar observasi aktivitas peneliti
dan lembar observasi aktivitas peserta didik.
6). Pelaksanaan
Tahap ini merupakan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student team
achievement division (STAD). Diawali dengan persiapan
pembelajaran, yaitu mempersiapkan materi pelajaran ‫فِى ال َم ْد َر َس ِة‬
peneliti menyampaikan kompetensi yang akan dicapai. peneliti
menyajikan materi sebagai pengantar. Lalu peneliti menunjukkan
atau mempperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan
materi. kemudian, peneliti mulai menanamkan konsep atau materi
sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Kegiatan akhir,
peneliti mengarahkan siswa untuk menyimpulkan materi yang
telah dibahas bersama, kemudian peneliti memberikan motivasi
agar siswa lebih giat belajar. Kemudian peneliti menutup
pelajaran dengan salam.
42
Dalam pembelajaran ini juga diadakan tes secara individual (Post
Test siklus I) yang diberikan diakhir tindakan, berguna untuk
mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi.
7). Pengamatan (observing)
Pada
tahap
ini
dilaksanakan
proses
observasi
terhadap
pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi
yang telah dibuat dan mengadakan penilaian untuk mengetahui
kemampuan berpikir siswa.
Kegiatan
ini
meliputi
pengamatan
terhadap
perencanaan
pembelajaran, pelaksanaan tindakan, sikap siswa dalam mengikuti
proses pembelajaran. Kegiatan guru dan siswa dalam proses
pembelajaran ini diamati dengan menggunakan instrument yang
telah dipersiapkan sebelumnya. Untuk selanjutnya data hasil
observasi tersebut dijadikan dasar untuk menyusun perencanaan
tindakan berikutnya.
8). Refleksi
Refleksi ini dilakukan pada akhir siklus I. Tujuan dan kegiatan
yang dilakukan antara lain: a) menganalisa tindakan siklus I, b)
mengevaluasi hasil dari tindakan siklus I, c) melakukan
pemaknaan dan penyimpulan data yang diperoleh.
43
b). Siklus II
1). Perencanaan tindakan
Perencanaan tindakan siklus II ini disusun berdasarkan refleksi
hasil observasi pembelajaran pada siklus I. Perencanaan tindakan
ini dipusatkan kepada sesuatu yang belum dapat terlaksana dengan
baik pada tindakan siklus I.
2). Pelaksanaan
Dalam tahap pelaksanaan ini merupakan langkah pelaksanaan yang
telah disusun dalam rencana tindakan siklus II.
3). Observasi
Kegiatan observasi ini meliputi pengamatan terhadap perencanaan
pembelajaran, pelaksanaan tindakan siklus II, sikap siswa dalam
mengikuti proses pembelajaran.
4). Refleksi
Refleksi ini dilakukan pada akhir siklus II. Tujuan dan kegiatan
yang dilakukan antara lain:
a). Menganalisa tindakan siklus II
b). Mengevaluasi hasil dari tindakan siklus II
c). Melakukan pemaknaan dan penyimpulan data yang diperoleh
Hasil dari refleksi siklus II ini dijadikan dasar dalam
penyusunan laporan hasil penelitian. Selain itu juga digunakan
peneliti sebagai bahan pertimbangan apakah kriteria yang
ditetapkan sudah tercapai atau belum. Sesuai kriteria yang
44
ditentukan, ada 2 kriteria keberhasilan yang ditetapkan dalam
penelitian ini yaitu kriteria keberhasilan proses pembelajaran
melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe student
achievement division (STAD) sebesar 75% (kriteria cukup) dan
kriteria keberhasilan hasil belajar siswa yaitu 75% siswa
mendapat nilai minimal 75. Jika indikator tersebut telah tercapai
maka siklus tindakan berhenti. Akan tetapi apabila indikator
tesebut belum tercapai pada siklus tindakan, maka peneliti
mengulang siklus tindakan dengan memperbaiki kinerja
pembelajaran pada tindakan berikutnya sampai berhasil.
Secara umum, tahap-tahap penelitian tindakan siklus II sama
dengan siklus I. Hanya yang membedakan adalah perbaikanperbaikan rancangan pembelajaran berdasarkan tindakan pada
siklus I yang dirasa kurang maksimal.
45
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Penelitian
1.
Paparan Data Pra Tindakan
Penelitian ini dilaksanakan di MI Kebonagung Wonodadi Blitar.
Sebelum melakukan tindakan, peneliti melakukan persiapan-persiapan
yang berkaitan dengan pelaksanaan tindakan agar dalam penelitian nanti
dapat berjalan lancar dan mendapatkan hasil yang baik.
Pada hari Sabtu
tanggal
23 Januari 2015, setelah peneliti
mendapat surat izin penelitian dari IAIN Tulungagung, peneliti menemui
Kepala
MI
Kebonagung
Wonodadi
Blitar
yaitu
Bapak
Bahrul
Ngulum,S.Pd.I. Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk bersilaturrahmi
dan meminta izin melakukan penelitian di MI Kebonagung Wonodadi
Blitar
guna
menyelesaikan
tugas
akhir
program
Sarjana
IAIN
Tulungagung. Peneliti disambut baik dan beliau memberikan izin serta
menyatakan tidak keberatan apabila diadakan penelitian tindakan kelas.
Beliau menyarankan untuk menemui guru mata pelajaran Bahasa Arab
kelas V (Bu Asmaul Husna S.Pd.I) guna membicarakan langkah-langkah
selanjutnya untuk melaksanakan penelitian pada kelas V.
Pada hari Selasa tanggal 03 Februari peneliti menemui guru mata
pelajaran Bahasa Arab kelas V yaitu Bu Asmaul Husna, S.Pd.I untuk
menyampaikan rencana penelitian yang telah mendapatkan izin dari
46
Kepala Madrasah. Peneliti memberikan gambaran tentang pelaksanaan
penelitian yang akan diadakan di kelas V.
Hari berikutnya peneliti menemui guru mata pelajaran Bahasa
Arab kelas V yaitu Asmaul Husna. untuk menyampaikan rencana
penelitian yang telah mendapatkan izin dari Kepala sekolah. Peneliti
memberikan gambaran tentang pelaksanaan penelitian yang akan diadakan
di kelas V.
Peneliti juga berdiskusi dengan Bu Asmaul Husna. mengenai
kondisi siswa kelas V dan latar belakang siswa serta melakukan
wawancara pra tindakan. Adapun pedoman wawancara terhadap guru
sebaimana terlampir. Berikut kutipan wawancara yang peneliti lakukan:58
P : “Bagaimana kondisi belajar siswa kelas V pada mata pelajaran Bahasa
Arab saat pembelajaran berlangsung?”
G : “Secara umum dari mereka kurang begitu aktif, suka ramai dan
bermain sendiri dengan temannya saat pembelajaran berlangsung.
Jadi, pintar-pintarnya guru dalam mengendalikan kelas supaya mau
mengikuti proses pembelajaran dengan baik.”
P : “Kendala apa yang Ibu temukan dalam proses pembelajaran Bahasa
Arab di kelas?”
G : “Dalam proses pembelajaran Bahasa Arab siswa kurang antusias
mengikuti pembelajaran jika penyampaian pelajaran kurang begitu
menarik.
58
Hasil Wawancara bu Asmaul Husna guru kelas V mata pelajaran Bahasa Arab, MI
Hidayatul Mubtadiin Kebonagung Wonodadi Blitar.
47
P : “Dalam pembelajaran Bahasa Arab, Ibu menggunakan model atau
metode pembelajaran apa?”
G : “Ceramah, diskusi, dan penugasan.”
P : “Bagaimana hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran Bahasa
Arab?”
G : “Hasil belajar siswa ada yang meningkat ada juga yang menurun mas,
sebenarnya materi sudah tersampaikan namun dalam mengerjakan
soal banyak siswa yang masih kurang teliti dalam mengerjakan
soal.”
P : “Pernahkah Ibu menggunakan metode student team achievement
division (STAD) pembelajaran Bahasa Arab?”
G : “Belum pernah mbk.”
P : “Bagaimana kondisi siswa saat proses pembelajaran menggunakan
model dan media yang lain??”
G : “Tergantung mbk, jika metode dan media yang digunakan tidak begitu
bagus atau tidak bisa menarik minat siswa, ya siswa tidak begitu
menaruh perhatian terhadap mata pelajaran yang diajarakan.”
P : “Berapa nilai rata-rata pada mata pelajaran Bahasa Arab?”
G : “Untuk nilai rata-rata siswa selama ini tidak sedikit yang mendapat
nilai dibawah 75, sedangkan nilai 75 merupakan nilai minimal yang
harus dicapai oleh siswa pada mata pelajaran Bahasa Arab.”
Keterangan:
P : Peneliti
G : Guru kelas V
48
Berdasarkan hasil wawancara pra tindakan diperoleh beberapa
informasi bahwa penggunaan student team achievement division (STAD)
belum pernah dilakukan dalam pembelajaran Bahasa Arab di kelas V,
kemampuan siswa untuk mata pelajaran Bahasa Arab dikatakan relatif
kurang.
Peneliti juga berkonsultasi dengan guru pengampu tentang penelitian
yang akan dilakukan serta karakter siswa yang ada dikelas V tersebut.
Peneliti juga berdiskusi mengenai jumlah siswa , kondisi siswa dan latar
belakang siswa. Berdasakan data yang diperoleh, jumlah siswa kelas V
sebanyak sebanyak 19 siswa, siswa laki-laki 9 anak dan siswi perempuan
10 anak. Sesuai kondisi kelas pada umumnya kemampuan siswa sangat
heterogen dilihat dari nilai tes sebelumnya.
Sesuai dengan rencana kesepakatan dengan guru pengampu mata
pelajaran Bahasa Arab kelas V, pada hari jumat 6 Februari 2015 peneliti
memasuki kelas V untuk mengadakan pengamatan. Peneliti mengamati
secara cermat situasi dan kondisi siswa kelas V yang dijadikan subyek
penelitian. Pada hari itu juga peneliti mengadakan tes awal (pre test).
tersebut diikuti oleh 19 siswaPada tes awal ini peneliti memberikan 10
buah soal, Adapun pedoman pre test sebaimana terlampir.
49
Adapun hasil pre tes Bahasa Arab dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 4.1 Skor Tes Awal (Pre Test) Siswa
Jenis
Kode
No
Nama Siswa
Nilai
Kelami
Siswa
Keterangan
Skor
n
1
2
3
4
5
6
1
M. Hasan Baihaqi
MHB
L
60
Tidak Tuntas
2
Agung Saputra
AS
L
60
Tidak Tuntas
3
A. Abdul Mun’im
ABM
L
85
Tuntas
4
Ahmad Faid
AF
L
80
Tuntas
5
Farida Kurnia Sari
FKS
P
70
Tidak Tuntas
6
Ahmad Jamal
AJ
L
70
Tidak Tuntas
KNN
P
70
Tidak Tuntas
Kharisma Nikmatin
7
Nada
8
Khamimatus Zahro’
KZ
P
65
Tidak Tuntas
9
Lailatur Rohmah
LR
P
68
Tidak Tuntas
10
M. Romdhoni
MR
L
80
Tuntas
11
M. Dlyayul Azmi
MDA
L
65
Tidak Tuntas
12
M.Ulil Absor
MUA
L
70
Tidak Tuntas
13
M. Yoga Khoirul
MYK
L
60
Tidak Tuntas
14
M. Zaky
MZ
L
60
Tidak Tuntas
15
Nafa Nur Izzati
NNI
P
Tidak Tuntas
50
65
16
Nuril Amiratus
NA
p
65
Tidak Tuntas
17
Ratna Setyawati
RS
P
80
Tuntas
18
Siti Fatimatul Maisaroh
SFM
P
60
Tidak Tuntas
19
Siti Khamidah
SK
P
60
Tidak Tuntas
Total Skor
1293
Rata-rata
68,05
Jumlah siswa keseluruhan
19
Jumlah siswa yang telah tuntas
4
Jumlah siswa yang tidak tuntas
15
Jumlah siswa yang tidak ikut tes
0
Persentase ketuntasan
21,05%
Berdasarkan data hasil tes awal (pre test) ditemukan hasil belajar
siswa sebagai dampak dari proses pembelajaran dengan menggunakan
model pembelajaran konvensional menunjukkan belum maksimalnya hasil
belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Arab khususnya materi
‫فى‬
‫المدرسة‬. Indikasi dari 19 siswa, 21,05% (4 anak) tuntas, 78,95% (15 anak)
belum tuntas.
Hal ini jelas menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelas V
belum menguasai materi ‫ فى المدرسة‬Bahasa Arab. Dari hasil tes tersebut
peneliti mulai merencanakan tindakan yang akan dipaparkan pada bagian
selanjutnya yaitu mengadakan penelitian pada materi ‫ فى المدرسة‬metode
51
student team achievement division. Hasil tes ini nantinya akan peneliti
gunakan sebagai acuan peningkatan hasil belajar yang akan dicapai oleh
siswa.
2.
Paparan Data Pelaksanaan Tindakan
a. siklus I
Pelaksanaan tindakan pada siklus I ini terbagi dalam 4 tahap, yaitu
tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap
observasi dan tahap refleksi yang membentuk suatu siklus. Secara lebih
jelasnya masing-masing tahap dalam penelitian ini akan dijelaskan
sebagai berikut:
1). Perencanaan
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai
berikut:
a). Melakukan koordinasi dengan guru mata pelajara Bahasa Arab
kelas
V MI Hidayatul Mubtadiin kebonagung Wonodadi
Blitar.
b). Menyiapkan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran).
c). Menyiapakan materi yang akan diajarkan yaitu tentang ‫فى‬
‫المدرسة‬
d). Menyiapkan lembar tes formatif siklus I untuk mengetahui
hasil
belajar siswa setelah diterapkannya Student Team
Achievement Division
52
e).
Membuat lembar observasi terhadap peneliti dan aktivitas
siswa selama pelaksanaan proses pembelajaran di kelas.
f).
Melakukan
koordinasi
dengan
teman
sejawat/pengamat
mengenai pelaksanaan tindakan
2). Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan ini peneliti melakukan tindakan
selama 2 kali pertemuan, yaitu pada hari Jumat tanggal 13 dan 20
Februari 2015. Peneliti memulai pembelajaran pada pukul 07.3008.45 WIB. Peneliti dalam melaksankan penelitian membuat
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Adapun rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) sebaimana terlampir.
Tahap Awal. Peneliti bertindak sebagai guru, serta memulai
pelajaran dengan mengucapkan salam. Kemudian mengkondisikan
kelas agar siswa siap mengikuti pelajaran.
Selanjutnya peneliti memotivasi siswa agar bersemangat
dalam belajar, mengikuti pembelajaran dengan baik, tidak takut
untuk mengemukakan pendapat terkait dengan materi serta
menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Setelah itu
peneliti menyampaikan apersepsi berupa tanya jawab kepada siswa
mengenai materi ‫فى المدرسة‬
Berikut kutipan apersepsi yang peneliti lakukan dengan siswa:59
Guru
59
: “Sebelumnya ibu mau bertanya,
Hasil apersepsi dengan siswa kelas V MI Hidayatul Mubtadiin Kebonagung
Wonodadi Blitar pada tanggal 13 Februari 2015
53
siapa yang bisa menjelaskan tentang
mubtada’ dan khabar?”
Sebagian Siswa
: “isim bu?”
Sebagian Siswa lain
: “lupa bu”
Guru
: “siapa tadi yang menjawab isim?”
siswa
: “saya bu (Abdul Mun’im)...!”
Guru
: “tadi siapa yang menjawab belum
tahu?
Berati tadi malam tidak belajar ya?
Sekarang kalian cari jawaban dari
pertanyaan ibu tadi.”
Siswa
: “Baik bu...!!”
Kegiatan Inti. Kegiatan selanjutnya adalah kegiatan inti yaitu
peneliti menggunakan Student Team Achievement Division dalam
pembelajaran. Pada tahap ini, kegiatan pembelajaran menggunakan
Student Team Achievement Division dilaksanakan sesuai dengan
skenario pembelajaran yang telah dipersiapkan, yaitu penyampaian
kompetensi yang akan dicapai, penyajian sedikit materi sebagai
pengantar, pemberian tugas padang siswa, pembagian siswa
berkelompok dengan heterogen, memanggil perwakilan
masing-
masing kelompok untuk menyampaikan jawabannya di depan kelas,
54
pemberian tugas individu setelah pembagian tugas kelompok,
penambahan konsep atau materi sesuai dengan kompetensi yang
ingin dicapai, dan kesimpulan.
Tahap penyampaian kompetensi yang akan dicapai, kegiatan
penyampaian kompetensi yang akan dicapai diawali dengan
penyampaian kompetensi yang harus dicapai oleh siswa dalam
pembelajaran. kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa yaitu
siswa memahami pola kalimat mubtada’, khabar dan sifat.
Tahap
penyajian
materi
sebagai
pengantar,
peneliti
menjelaskan materi mengenai ‫ فى المدرسة‬. Dalam penyajian materi
peneliti hanya menyampaikan sedikit saja, tidak banyak hanya
membahas sekilas mengenai pola kalimat pada materi ini. Siswa
menyimak apa yang dijelaskan oleh peneliti.
Tahap selanjutnya pemberian tugas atau pertanyaan yang
berkaitan dengan materi. Pertanyaan tersebut difikirkan oleh masingmasing siswa. Jadi, setiap anak harus memiliki jawaban sendiri yang
nantinya akan dibahas dengan kelompok.
Tahap pengelompokan siswa, yaitu siswa dibagi menjadi 4
kelompok. Kemudian mereka akan mendiskusikan jawaban mereka
dengan
kelompoknya.
Pada
saat
berdiskusi
mereka
harus
mempunyai satu jawaban yang nantinya akan disampaikan pada
kelompok yang lain di depan kelas.
55
Pemanggilan masing- masing perwakilan kelompok agar maju
ke depan kelas untuk memyampaikan hasil diskusinya dengan
kelompok. Guru memberikan kesempatan bagi siswa yang ingin dan
berani maju terlebih dahulu. Bagi yang berani maju terlebih dahulu
akan mendapatkan nilai tambahan. Mun’im siswa yang berani maju
terlebih dahulu, kemudian menyampaikan pendapatnya. Setelah
selesai guru menyuruh siswa untuk memberi tepuk tangan karena
keberanian mereka meskipun yang disampaikan belum sempurna.
Selanjutnya
guru
memanggil
kelompok
berikutnya,
yaitu
kelompoknya ratna mereka maju dan menyampaikan pendapatnya.
Jawaban yang mereka berikan mendekati benar, dan seluruh siswa
memberi tepuk tangan. Hal ini terus dilakukan hingga semua
pasangan menyampaikan pendapatnya.
Tahap penambahan konsep atau materi sesuai dengan
kompetensi yang ingin dicapai. Peneliti menambah penjelasan materi
‫فى المدرسة‬. Peneliti memberi kesempatan kepada siswa agar bertanya
jika ada materi yang belum dipahami oleh siswa.
Tahap kesimpulan. Peneliti bersama siswa menyimpulkan
pelajaran yang telah dilakukan. Peneliti membimbing siswa untuk
menyimpulkan materi ‫فى المدرسة‬. .
Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bertanya materi yang belum difahami oleh siswa. Kemudian peneliti
menjelaskan kembali materi yang dirasa masih kurang oleh siswa.
56
Langkah selanjutnya peneliti membagikan lembar kerja pos tes (tes
akhir) untuk mengukur hasil belajar siswa setelah peneliti mengajar
materi ‫فى المدرسة‬.
Pada pertemuan kedua tanggal 20 Februari 2015 di gunakan
untuk mengerjakan postest 1 Siswa diharapkan bisa mengerjakan pos
tes dengan tepat waktu. Dalam mengerjakan pos tes siswa dilarang
untuk bekerja sama dengan teman sebangku. Pelaksanan tes berjalan
dengan baik namun beberapa siswa berusaha melihat jawaban atau
bertanya kepada teman sebangkunya. Peneliti memberi peringatan
siswa tersebut untuk tidak mencontek jawaban temannya dan
mengerjakan sendiri sesuai kemampuannya masing-masing. Hal ini
menunjukkan ada beberapa siswa kurang siap menghadapi tes yang
diberikan oleh peneliti.
Setelah tes berakhir peneliti memberi kesempatan siswa
untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami. Tidak lupa
peneliti juga menyampaikan pesan moral agar siswa patuh pada
orang tua dan menerapkan materi yang telah dipelajari dalam
kehidupan sehari-hari. Peneliti juga memberi motivasi siswa untuk
lebih giat lagi dalam belajar. Selanjutnya peneliti menutup
pembelajaran dengan membaca hamdallah bersama-sama dan
mengucap salam serta siswa menjawabnya dengan serempak.
Kemudian siswa keluar untuk isturahat dan berjabat tangan dengan
peneliti.
57
3). Tahap Observasi
Tahap observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan
tindakan. Pada tahap ini peneliti bertindak sebagai pengajar,
sedangkan observer dilakukan oleh teman sejawat sebagai
pengamat I dan pengamat II. Disini, pengamat I dan pengamat II
bertugas mengawasi seluruh kegiatan peneliti dan mengamati
semua aktfitas siswa selama pembelajaran berlangsung. Hal-hal
yang diobservasi pada pelaksanaan tindakan ini adalah cara
peneliti menyajikan materi pelajaran apakah sudah sesuai dengan
skenario pembelajaran yang telah dibuat atau belum. Selain itu
juga dilihat aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran.Jenis
observasi yang digunakan adalah observasi terstruktur dan siap
pakai, sehingga pengamat tinggal mengisi lembar observasi yang
telah disediakan.Adapun pedoman observasi aktivitas peneliti
siklus 1 sebagaimana terlampir. Hasil observasi terhadap aktivitas
peneliti pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.2 Hasil Aktivitas Peneliti Siklus I
Skor
Tahap
Indikator
Pengamat
Pengamat 2
I
1
2
Awal
1. Melakukan aktivitas rutin sehari-
3
5
5
58
hari.
2. Menyampaikan tujuan.
4
4
3. Memotivasi siswa.
4
3
3
4
4
4
4
3
4
3
3
4
3
3
3
3
1. Melakukan evaluasi.
4
4
2. Pemberian tes pada akhir tindakan
4
4
3. Mengakhiri kegiatan
5
5
50
49
4. Membangkitkan pengetahuan
prasyarat siswa.
5. Menyediakan sarana yang
dibutuhkan.
Inti
1. Menyampaikan materi pengantar
2. Pengelompokan siswa dalam
belajar
3. Pengorganisasian siswa pada saat
menyampaikan pendapat
4. Membantu siswa memahami
materi
5. Menanamkan/menambah konsep
sesuai kompetensi yang akan
dicapai
Akhir
pembelajaran
Jumlah skor
Rata-rata
54,5
59
Presentase Nilai Rata-rata =
x 100%
Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat diketahui bahwa secara
umum kegiatan peneliti sudah sesuai dengan rencana yang ditetapkan,
namun masih ada beberapa yang masih belum diterapkan. Nilai yang
diperoleh dari pengamat 1 dan pengamat 2 dalam aktivitas peneliti adalah
= 49,5,sedangkan skor maksimal adalah 65. Dengan demikian
persentase nilai rata-rataadalah
x 100% = 76,15%. Sesuai taraf
keberhasilan tindakan yang telah ditetapkan yaitu:60
Tabel 4.3 Kriteria Taraf Keberhasilan Tindakan
Tingkat Penguasaan
Nilai Huruf
Bobot
Predikat
90 % ≤ NR ≤ 100 %
A
4
Sangat baik
80 % ≤ NR < 90 %
B
3
Baik
70 % ≤ NR < 80 %
C
2
Cukup
60 % ≤ NR < 70 %
D
1
Kurang
0 % ≤ NR < 60 %
E
0
Sangat kurang
Berdasrkan taraf keberhasilan tindakan di atas, maka taraf
keberhasilan aktifitas peneliti pada siklus I termasuk dalam kategori
Cukup.
60
Ngalim Purwanto, Prinsip- Prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 103
60
Jenis pengamatan yang kedua adalah hasil pengamatan terhadap
aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Adapun
pedoman observasi aktivitas siswa siklus 1 sebagaimana terlampir
.Hasil observasi terhadap aktivitas siswa pada siklus I dapat dilihat pada
tabelberikut:
Tabel 4.4 Hasil Aktivitas Siswa Siklus I
Skor
Tahap
Deskriptor
Pengamat I Pengamat II
1
2
1.
3
Melakukan
5
5
4
4
4
4
4
4
4
3
4
4
3
4
aktifitas keseharian
2.
Memperhatikan
tujuan
3.
Memperhatikan
Awal
motivasi
4.
Memenuhi
prasyarat siswa
5.
Menyiapkan
perlengkapan untuk belajar
1.
Memperhatikan
materi pengantar
Inti
2.
Keterlibatan dalam
berdiskusi
61
3.
Menyampaikan
4
3
3
3
4
5
4
4
4
4
5
4
52
51
pendapat di depan kelas
4.
Berusaha
memahami materi
5.
Memperhatikan
konsep tambahan dari guru
1.
Menanggapi
Evalusi
2.
Mengerjakan
lembar tugas siswa pada akhir
Akhir
tindakan
3.
Mengakhiri
pembelajaran
Jumlah skor
Rata-rata
51,5
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat pada siswa secara
umum kegiatan belajar siswa sudah sesuai harapan. Sebagian
besar indikator pengamatan muncul dalam aktifitas kerja siswa.
Skor yang diperoleh dari pengamat pada aktivitas siwa adalah
= 51,5, sedangkan skor maksimal adalah 65.
Dengan
demikian persentase nilai rata-rata adalah x 100% = 79,23%.
62
Sesuai dengan taraf keberhasilan yang ditetapkan, maka taraf
keberhasilan aktifitas siswa berada pada kategori cukup.
4). Catatan lapangan
Selain dari hasil observasi, peneliti juga memperoleh data
melalui hasil catatan lapangan dan hasil wawancara. Catatan
lapangan dibuat oleh peneliti sehubungan dengan hal-hal penting
yang terjadi selama pembelajaran berlangsung tetapi tidak
terdapat dalam indikator maupun deskriptor pada lembar
observasi. Beberapa hal yang dicatat peneliti adalah:
1). Ada beberapa siswa yang belum aktif dan masih pasif dalam
dalam mengikuti pelajaran.
2). Ketika teman sedang menyampaikan pendapatnya di depan
ada beberapa siswa yang ramai sendiri, ini terlihat ada siswa
yang mengobrol sendiri.
3). Ketika mengerjakan sosal post tes masih ada yang menyontek
dan mecoba membuka buku, hal itu disebabkan karena siswa
kurang percaya diri dalam menguasai materi
5). Wawancara
Wawancara bersama siswa dilakukan peneliti setelah
pelajaran usai, tepatnya ketika jam istirahat berlangsung (jumat
tanggal 13 Februari 2015), sambil mengemasi bahan dan alat
untuk mengajar ada beberapa siswa yang masih didalam kelas dan
mendekat kepada peneliti untuk berbincang-bincang. Kesempatan
63
itu tidak dilewatkan peneliti, sambil berkenalan lebih dekat,
peneliti juga menanyakan mengenai pembelajaran yang baru saja
dilakukan.
Adapun pedoman wawancara siswa sebagaimana terlampir.
Peneliti wawancara dengan 3 siswa Mun’im (S1), Jamal (S2), dan
Hasan (S3). Hasil wawancara adalah sebagai berikut:
Peneliti
: bagaimana senang tidak tadi belajar Bahasa Arab?
Siswa
: senang bu…?
Peneliti
: senang kenapa?
Siswa
: kita jadi tahu apa yang sedang dipelajari.!
Peneliti
: apa sebelumnya kalian tidak tahu?
Siswa
: kurang tahu bu..
Peneliti
: berati kalian kurang membaca
S2
: iya bu..!
S3
: kalau cara mengajarnya seperti tadi enak bu, kita
jadi
berusaha. Kalau teman bisa menjelaskan
masak kita tidak
Peneliti
: maka dari itu, kalian harus banyak membaca agar
bisa menyampaikan pendapat di depan kelas
seperti tadi
S2
: Iya bu…pertemuan berikutnya seperti itu lagi bu..?
S1
: iya bu, seperti tadi saja biar semangat.
Peneliti
: iya, tadi sudah faham apa belum dengan
64
materinya?
S1
: belum bu, masih agak bingung. Tadi juga setengah
hafalan pas menyampaikan
Peneliti
: kenapa tidak bertanya?
Siswa
: malu bu..
Peneliti
: kenapa harus malu?
Siswa
: hehe…iya bu
Peneliti
: ya sudah besok lagi kalau gak faham tanya lo ya,
sampai jumpa minggu depan
Siswa
: Iya bu
6). Hasil tes siklus I
Adapun pedoman post tes siklus I sebagaimana terlampir.
Hasil belajar siswa pada akhir tindakan siklus I disajikan dalam
tabel berikut:
Tabel 4.5 Hasil Belajar Siswa Siklus I
Jenis
Nilai
No
Kode Siswa
Kelami
Keterangan
Skor
n
1
2
3
4
5
1
MHB
L
80
Tuntas
2
AS
L
75
Tuntas
3
ABM
L
85
Tuntas
4
AF
L
80
Tuntas
65
5
FKS
P
70
Tidak Tuntas
6
AJ
L
70
Tidak Tuntas
7
KNN
P
70
Tidak Tuntas
8
KZ
P
65
Tidak Tuntas
9
LR
P
65
Tidak Tuntas
10
MR
L
80
Tuntas
11
MDA
L
65
Tidak Tuntas
12
MUA
L
75
Tuntas
13
MYK
L
60
Tidak Tuntas
14
MZ
L
60
Tidak Tuntas
15
NNI
P
Tidak Tuntas
65
16
NA
P
65
Tidak Tuntas
17
RS
P
80
Tuntas
18
SFM
P
60
Tidak Tuntas
19
SK
P
75
Total Skor
1345
Rata-rata
70,78
Jumlah siswa keseluruhan
19
Jumlah siswa yang telah tuntas
9
Jumlah siswa yang tidak tuntas
10
Tuntas
66
Jumlah siswa yang tidak ikut
0
tes
Persentase ketuntasan
47,36%
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa hasil belajar siswa
pada siklus I lebih baik dari tes awal (pre test) sebelum tindakan.
Di mana diketahui rata-rata kelas adalah 70,78 dengan ketuntasan
belajar 47,36% (9 siswa) dan 52,64% (10 siswa) yang belum
tuntas.
Pada presentase ketuntasan belajar dapat diketahui bahwa
pada siklus I siswa kelas V belum memenuhi. Karena rata-rata
masih dibawah ketuntasan minimum yang telah ditentukan yaitu
75% dari jumlah seluruh siswa memperoleh nilai 75. Untuk itu
perlu kelanjutan siklus yakni dilanjutkan pada siklus berikutnya
untuk membuktikan bahwa pembelajaran menggunakan student
team achievement division mampu meningkatkan hasil belajar
siswa kelas V.
7). Tahap Refleksi
Refleksi
merupakan
hasil
tindakan
penelitian
yang
dilakukan untuk melihat hasil sementara dari penerapan student
team achievement division dalam meningkatkan hasil belajar
Bahasa Arab dengan materi ‫ فى المدرسة‬untuk siswa kelas V di MI
Hidayatul Mubtadiin kebonagung Wonodadi Blitar. Berdasarkan
67
kegiatan refleksi terhadap hasil tes akhir siklus I, hasil observasi,
catatan lapangan, dan hasil wawancara dapat diperoleh beberapa
hal sebagai berikut:
a). Siswa masih belum terbiasa belajar menggunakan student
team achievement division.
b). Ada beberapa siswa yang belum aktif dan masih pasif dalam
dalam mengikuti pelajaran.
c). Ketika ada teman yang maju ke depan untuk menyampaikan
pendapat masih ada beberapa siswa yang ramai sendiri, ini
terlihat ada siswa yang mengobrol sendiri.
d). Dalam menyelesaikan soal evaluasi masih ada siswa yang
belum percaya diri sehingga berusaha bekerjasama dengan
siswa lain atau melihat buku.
Hasil belajar siswa berdasarkan hasil tes siklus I
menunjukkan bahwa hasil belajar siswa belum bisa memenuhi
ketuntasan belajar yang diharapkan.
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus 1 masih
terdapat kekurangan, baik pada aktivitas peneliti maupun aktivitas
peserta didik. Hal ini terlihat dengan adanya masalah-masalah
yang muncul. Oleh karena itu, peneliti berupaya untuk
mengadakan perbaikan yang akan dilaksanakan pada siklus
selanjutnya. Upaya yang akan dilakukan peneliti diantaranya
adalah sebagai berikut:
68
a). Peneliti harus berusaha menjelaskan kepada siswa tentang
kemudahan
memahami
materi
melalui
student
team
achievement division.
b). Peneliti harus berusaha untuk membuat kondisi kelas
semenarik mungkin, sehingga peserta didik tertarik dan aktif.
c). Peneliti perlu memotivasi peserta didik agar bisa percaya diri
dengan kemampuannya sendiri.
d).
Peneliti harus berupaya memberi penjelasan yang mudah
dipahami dan mengarahkan peserta didik pada pemahaman
yang baik pada materi.
Dari uraian di atas, maka secara umum pada siklus I belum
menunjukkan adanya peningkatan partisipasi aktif dari siswa,
belum adanya peningkatan prestasi belajar siswa dan ketuntasan
belajar masih belum memenuhi standart yang diharapkan, serta
belum adanya keberhasilan pendidik dalam melaksanakan
pembelajaran menggunakan student team achievement division.
Oleh karena itu perlu dilanjutkan pada siklus II agar hasil belajar
Bahasa Arab siswa Kelas V bisa ditingkatkan sesuai dengan yang
diharapkan.
Selanjutnya setelah merefleksi hasil siklus I, peneliti
mengkonsultasikan dengan guru bidang study Bahasa Arab kelas
V untuk melanjutkan ke siklus II. Setelah memperoleh
69
persetujuan, peneliti langsung menyusun rencana pelaksanaan
siklus II.
b. Siklus II
Penelitian siklus II ini adalah penelitian yang sudah mendapat
perbaikan dari refleksi siklus I. Pelaksanaan tindakan terbagi ke dalam
empat tahap, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan
refleksi yang membentuk suatu siklus. Secara lebih rinci, masingmasing tahap dapat dijelaskan sebagai berikut:
1). Perencanaan
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan oleh peneliti adalah
sebagai berikut:
a). Melakukan koordinasi dengan guru mata pelajaran Bahasa Arab
kelas V MI Hidayatul Mubtadiin Kebonagung Wonodadi Blitar.
b). Menyiapkan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)
c). Menyiapakan materi yang akan diajarkan yaitu tentang ‫فى المدرسة‬
d). Menyiapkan student team achievement division sesuai dengan
materi dan tujuan pembelajaran
e). Menyiapkan lembar tes siklus II untuk mengetahui hasil belajar
siswa setelah diterapkannya student team achievement division
f). Membuat lembar observasi terhadap peneliti dan aktivitas siswa
selama pelaksanaan proses pembelajaran di kelas.
2). Pelaksanaan
70
Penelitian siklus II ini dilaksanakan 2 kali pertemuan, yaitu
dilaksanakan pada hari jumat tanggal 27 Februari dan 6 maret 2015
pada pukul 07.30 – 08.45 WIB. Adapun rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) siklus 2 sebagaimana terlampir.
Tahap Awal. Peneliti mengkondisikan siswa terlebih dahulu
agar siswa siap mengikuti kegiatan pembelajaran. Setelah siswa siap,
peneliti
mengucapkan
salam
serta
menyampaikan
tujuan
pembelajaran yang hendak dicapai dengan maksud agar siswa
memiliki gambaran jelas tentang pengetahuan yang akan diperoleh
setelah proses pembelajaran berlangsung. Sebelum menerangkan
materi, peneliti bertanya jawab dengan siswa mengenai ‫فى المدرسة‬
yang telah diajarkan sebelumnya. Berikut kutipan apersepsi yang
peneliti lakukan dengan siswa:61
Guru
: “Apakah kalian masih ingat mengenai khabar dan
mubtada?”
Siswa
: “khabar adalah isim yang di baca rofa’ sedangkan
mubtada’ jatuh setelah khabar..”
Guru
: “Bagus... kalau benda- benda yang ada di sekolah
itu apa saja coba sebutkan?” (menggunakan bahasa
arab).
Sebagian siswa : “hasan dan fatim,,,,lupa bu...”
Guru
61
: “Pintar... hasan dan fatim. Nah, sekarang kita
Hasil apersepsi dengan siswa kelas V MI Hidayatul Mubtadiin Wonodadi Blitar pada
hari Senin tanggal 20 Februari 2015
71
mulai pelajaran hari ini dengan metode seperti
kemarin ya?”
Siswa
: Iya bu, (terlihat senang dan gembira)
Berdasarkan dialog antara peneliti dan siswa diatas dapat
diketahui bahwa sebagian besar siswa sudah memahami materi
tersebut, namun berdasarkan hasil pos tes masih ada beberapa materi
yang belum difahami oleh siswa. Selanjutnya peneliti melakukan
langkah-langkah menggunakan student team achievement division
sama seperti siklus I, peneliti memperbaiki cara penyampaian materi,
pemberian penghargaan, komunikasi dengan siswa.
Berbeda dengan siklus I, pada siklus II ini siswa tampak lebih
bersemangat, aktif, sangat senang tetapi juga berkonsentrasi dalam
mengikuti pelajaran Bahasa Arab yang diberikan peneliti.
Pada siklus II penggunaan Student Team Achievement
Division dalam pembelajaran Bahasa Arab sama seperti silkus I,
guru memberikan tugas atau soal kepada siswa yang jawabannya
difikirkan oleh masing- masing siswa. Beberapa menit kemudian
guru menyuruh mereka berkelompok untuk mendiskusikan jawaban
dari pertanyaan tadi. Setelah mereka berdiskusi dan menemukan
jawaban yang sesuai setiap perwakilan kelompok dipanggil maju ke
depan untuk menyampaikan pendapatnya.
Setelah
semua
masing-masing
perwakilan
kelompok
menyampaikan pendapat di depan kelas, peneliti menambahkan
72
penjelasan mengenai materi ‫ فى المدرسة‬yang belum dikusai oleh
siswa.
Pada pertemuan kedua tanggal 6 maret 2015 di gunakan
untuk mengerjakan postest 2 Siswa diharapkan bisa mengerjakan pos
tes dengan tepat waktu. Peneliti mulai meminta siswa untuk
mengerjakan kuis (post tes) yang sudah disediakan oleh peneliti.
Peneliti meminta kepada siswa untuk menutup buku Bahasa Arab
dan mengatur posisi duduknya sesuai dengan tempat duduk masingmasing individu.
Setelah semua siswa siap dengan posisi dan alat tulisnya
masing-masing, peneliti membagikan lembar soal tes akhir kepada
siswa untuk dikerjakan secara individu. Dalam pelaksanan ini
peneliti di bantu oleh teman sejawat mengamati kegiatan masingmasing individu. Peneliti mempersilahkan siswa untuk bertanya jika
ada perintah yang kurang jelas.
Ketika waktu tinggal 25 menit, peneliti mempersilahkan
semua siswa untuk mengumpulkan lembar jawaban tugas postes,
karena waktu mengerjakan sudah selesai. Kemudian seluruh siswa
mengumpulkan ke depan lembar soal pos tes.
3). Tahap Observasi
Pengamatan dilakukan oleh dua orang pengamat yang sama
pada siklus I yaitu Asmaul Husna,S.Pd.I sebagai pengamat I dan
Dimas Churunia selaku teman sejawat dari mahasiswa IAIN
73
Tulungagung sebagai pengamat II. Pengamat bertugas mengamati
semua
aktivitas
siswa
selama
pembelajaran
berlangsung.
Pengamatan dilakukan dengan menggunakan pedoman pengamatan
yang telah disediakan oleh peneliti. Jika hal-hal penting yang terjadi
dalam kegiatan pembelajaran dan tidak ada dalam poin pedoman
pengamatan, maka hal tersebut dimasukkan sebagai hasil catatan
lapangan. Adapun pedoman observasi aktivitas peneliti siklus II
sebagaimana terlampir.
Hasil pengamatan kedua pengamat terhadap aktivitas peneliti
pada siklus II dapat dilihat tabel berikut:
Tabel 4.6 Hasil Aktivitas Peneliti Siklus II
Skor
Tahap
Indikator
Pengamat
Pengamat 2
I
1
2
3
1. Melakukan aktivitas rutin sehari5
5
2. Menyampaikan tujuan.
4
4
3. Memotivasi siswa.
4
4
4
4
5
4
hari.
Awal
4. Membangkitkan pengetahuan
prasyarat siswa.
5. Menyediakan sarana yang
74
dibutuhkan.
Inti
1. Menyampaikan materi pengantar
4
4
5
4
4
5
4
4
4
4
1. Melakukan evaluasi.
4
4
2. Pemberian tes pada akhir tindakan
5
5
3. Mengakhiri kegiatan
5
5
57
56
2. Pengorganisasian siswa dalam
belajar.
3. Pengorganisasian siswa dalam
menyampaikan materi di depan
4. Membantu siswa memahami
materi
5. Menanamkan/menambah konsep
sesuai kompetensi yang akan
dicapai
Akhir
pembelajaran
Jumlah skor
Rata-rata
Presentase Nilai Rata-rata =
56,5
x 100%
Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat diketahui bahwa
secara umum kegiatan peneliti sudah sesuai dengan rencana yang
ditetapkan, namun masih ada beberapa yang masih belum
diterapkan. Nilai yang diperoleh dari pengamat 1 dan pengamat 2
75
dalam aktivitas peneliti adalah
= 56,5,sedangkan skor
maksimal adalah 65. Dengan demikian persentase nilai ratarataadalah
x 100% = 86,92%. Sesuai taraf keberhasilan tindakan
yang telah ditetapkan yaitu:62
Tabel 4.7 Kriteria Taraf Keberhasilan Tindakan
Tingkat Penguasaan
Nilai Huruf
Bobot
Predikat
90 % ≤ NR ≤ 100 %
A
4
Sangat baik
80 % ≤ NR < 90 %
B
3
Baik
70 % ≤ NR < 80 %
C
2
Cukup
60 % ≤ NR < 70 %
D
1
Kurang
0 % ≤ NR < 60 %
E
0
Sangat kurang
Berdasrkan taraf keberhasilan tindakan di atas, maka taraf
keberhasilan aktifitas peneliti pada siklus II termasuk dalam kategori
Baik.
Jenis pengamatan yang kedua adalah hasil pengamatan
terhadap aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
Adapun pedoman observasi aktivitas peneliti siklus II sebagaimana
terlampir.
62
Ngalim Purwanto, Prinsip- Prinsip Dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 103
76
Hasil observasi terhadap aktivitas siswa pada siklus II dapat
dilihat pada tabelberikut:
Tabel 4.8 Hasil Aktivitas Siswa Siklus II
Skor
Tahap
Deskriptor
Pengamat I Pengamat II
1
2
1.
3
Melakukan aktifitas
5
5
4
4
4
4
4
4
5
5
4
5
5
4
4
4
keseharian
2.
Memperhatikan
tujuan
3.
Memperhatikan
Awal
motivasi
4.
Memenuhi prasyarat
siswa
5.
Menyiapkan
perlengkapan untuk belajar
1.
Memperhatikan
materi pengantar
2.
Keterlibatan
dalam berdiskusi dengan
Inti
pasangan
3.
Mengutarakan
pendapat di depan
77
4.
Berusaha
4
4
4
4
4
4
5
5
5
5
57
57
memahami materi
5. Memperhatikan konsep
tambahan dari guru
1.
Menanggapi
Evalusi
2.
Mengerjakan
lembar tugas siswa pada
Akhir
akhir tindakan
3.
Mengakhiri
pembelajaran
Jumlah skor
Rata-rata
57
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat pada siswa secara
umum kegiatan belajar siswa sudah sesuai harapan. Sebagian besar
indikator pengamatan muncul dalam aktifitas kerja siswa. Skor yang
diperoleh dari pengamat pada aktivitas siwa adalah
= 57,
sedangkan skor maksimal adalah 65. Dengan demikian persentase
nilai rata-rata adalah
x 100% = 87,69%. Sesuai dengan taraf
keberhasilan yang ditetapkan, maka taraf keberhasilan aktifitas siswa
berada pada kategori baik.
78
4). Catatan Lapangan
Selain dari hasil observasi, peneliti juga memperoleh data
melalui hasil catatan lapangan dan hasil wawancara. Catatan
lapangan dibuat oleh peneliti sehubungan dengan hal-hal penting
yang terjadi selama pembelajaran berlangsung tetapi tidak terdapat
dalam indikator maupun deskriptor pada lembar observasi. Beberapa
hal yang dicatat peneliti adalah:
a). Siswa lebih aktif dalam dalam mengikuti pelajaran.
b). Peneliti cukup mampu dalam menguasai kelas dan mengorganisir
waktu dengan baik.
c). Siswa terlihat mulai percaya diri Ketika mengerjakan sosal post
tes sudah tidak ada yang menyontek dan mecoba membuka
buku.
5). Wawancara
Wawancara ini dilakukan setelah peleksanaan post test siklus
II selesai. Wawancara dilakukan kepada subjek wawancara yang
terdiri dari beberapa anak yang telah dipilih berdasarkan beberapa
pertimbangan peneliti.
Wawancara dengan subjek penelitian. Peneliti mewawancara
dengan 3 siswa Afif (S1), Munim (S2)Hasan, dan Doni (S3) pada
tanggal 6 maret 2015. Adapun pedoman wawancara dengan siswa
sebagaimana terlampir.Hasil wawancara dengan siswa sebagai
berikut:
79
Peneliti : bagaimana senang tidak tadi belajar Bahasa Arab?
Siswa
: senang bu…?
Peneliti : senang kenapa?
Siswa
: kita jadi tahu apa yang sedang dipelajari.!
Peneliti : apa sebelumnya kalian tidak tahu?
Siswa
: kurang tahu bu..
Peneliti : berati kalian kurang membaca
S2
: iya bu..!
S3
: kalau cara mengajarnya seperti tadi enak bu, kita
jadi berusaha dan bekerjasama dengan teman satu kelompok
untuk memecahkan masalah.
Peneliti : maka dari itu, kalian harus banyak membaca agar
bisa menyampaikan pendapat di depan kelas seperti tadi
S2
: Iya bu…pertemuan berikutnya seperti itu lagi bu..?
S1
: iya bu, seperti tadi saja biar semangat.
Peneliti : iya, tadi sudah faham apa belum dengan
materinya?
S1
: belum bu, masih agak bingung. Tadi juga setengah
hafalan pas menyampaikan
Peneliti : kenapa tidak bertanya?
Siswa
: malu bu..
Peneliti : kenapa harus malu,,malu bertanya sesat di jalan lo
Siswa
: hehe…iya bu
80
Peneliti : ya sudah besok lagi kalau gak faham tanya lo ya,
sampai jumpa minggu depan
Siswa
: Iya bu
Wawancara bersama 2 siswa secara besamaan setelah
pembelajaran. Dengan siswa Ratna (A), dan Rahma (S). Wawancara
ini berlangsung pada tanggal 6 maret 2015. Adapun pedoman
wawancara dengan siswa sebagaimana terlampir. Hasil wawancara
dengan siswa sebagai berikut:
P
: “Bagaimana belajar Bahasa Arab tadi
menyenangkan tidak?”
A,S
: “Iya menyenangkan bu!.”
P
: “kalau mengenai materi ‫?فى المدرسة‬
A
: “Faham bu”
S
: “Em..tidak semua faham bu.!”
P
: “O, begitu, bagian mana yang membuat kalian
kesulitan?”
S
: “tentang pembuatan kalimat jika menggunakan
pola kalimat dan jika mengartikan bacaan!”
P
: “Kalau Ratna?”
A
: “Mana ya bu,? Tidak ada bu sepertinya”
P
: “O, begitu. Bagaimana tanggapan kamu terhadap
penggunaan metode student team achievement
division pada pembelajaran Bahasa Arab?”
81
A,S
: “Suka bu…!”
P
: “Apakah kamu mempunyai hambatan dalam
pembelajaran menggunakan metode student team
achievement division?
A,S
: “Tidak bu.!”
P
: “Apakah yang membuat kalian senang ketika
diajar dengan menggunakan metode student team
achievement division?”
A
: “Tidak bosan bu, tidak cuma duduk dan
mendengarkan!”
S
: “Karena bisa belajar kelompok dan menjelaskan
maju ke depan bu.!”
P
: “O,ya.. lain kali kita menggunakan metode itu lagi
ya”
Berdasarkan analisis dari wawancara dengan beberapa siswa
dapat dijabarkan sebagai berikut:
a). Memotivasi siswa agar rajin belajar dan teliti dalam
mengerjakan soal.
b). Siswa terlihat senang dalam pembelajaran menggunaka
student team achievement division.
c). Masih terlihat beberapa siswa yang masih bingung dengan
materi yang disampaikan.
82
d). Ada beberapa siswa yang masih belum termotivasi. Ini
terbukti ada siswa yang ramai dalam pembelajaran
berlangsung
1). Hasil tes siklus II
Adapun soal post tes siklus II sebagaimana terlampir. Hasil
belajar siswa pada akhir tindakan siklus II disajikan dalam tabel
berikut:
Tabel 4.9 Hasil Belajar Siswa Siklus II
Jenis
No
Nilai
Kode Siswa
1
2
Keterangan
Kelamin
Skor
3
4
5
1
MHB
L
75
Tuntas
2
AS
L
75
Tuntas
3
ABM
L
100
Tuntas
4
AF
L
95
Tuntas
5
FKS
P
80
Tuntas
6
AJ
L
80
Tuntas
7
KNN
P
90
Tuntas
8
KZ
P
80
Tuntas
9
LR
P
90
Tuntas
10
MR
L
100
Tuntas
11
MDA
L
90
Tuntas
12
MUA
L
85
Tuntas
83
13
MYK
L
80
Tuntas
14
MZ
L
80
Tuntas
15
NNI
P
85
Tuntas
16
NA
P
80
tuntas
17
RS
P
100
Tuntas
18
SFM
P
80
Tuntas
19
SK
P
85
Tuntas
MHB
Total Skor
1635
Rata-rata
86,52
Jumlah siswa keseluruhan
19
Jumlah siswa yang telah tuntas
19
Jumlah siswa yang tidak tuntas
0
Jumlah siswa yang tidak ikut tes
0
Persentase ketuntasan
100%
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa hasil belajar siswa
pada siklus II lebih baik dari siklus I. Di mana diketahui rata-rata
kelas adalah 86,52 dengan ketuntasan belajar 100% (19 siswa) dan
0% (0 siswa) yang belum tuntas.
Berdasarkan presentase ketuntasan belajar dapat diketahui
bahwa pada siklus II siswa kelas V telah mencapai ketuntasan
belajar, karena rata-ratanya 86,52% sudah diatas ketuntasan
84
minimum yang telah ditentukan. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa student team achievement division mampu meningkatkan
prestasi belajar siswa kelas V di MI Hidayatul Mubtadiin
Kebonagung Wonodadi Blitar.
2).Tahap Refleksi
Berdasarkan kegiatan yang dilakukan peneliti bersama
pengamat, selanjutnya peneliti mengadakan refleksi terhadap hasil
tes akhir siklus II, hasil observasi, catatan lapangan, dan hasil
wawancara dapat diperoleh beberapa hal sebagai berikut:
a). Aktivitas peneliti telah menunjukkan tingkat keberhasilan pada
kriteria sangat baik. Oleh karena itu tidak diperlukan
pengulangan siklus.
b). Aktivitas siswa telah menunjukkan tingkat keberhasilan pada
kriteria
sangat
baik.Oleh
karena
itu
tidak
diperlukan
pengulangan siklus.
c). Kegiatan pembelajaran menunjukkan penggunaan waktu sudah
sesuai dengan rencana. Oleh karena itu tidak diperlukan
pengulangan siklus.
d). Kepercayaan diri siswa sudah meningkat dibuktikan dengan
pengendalian kepada teman/orang lain berkurang, sehingga
tidak ada siswa yang kerjasama dan menyontek dalam
menyelesaikan soal evaluasi.
85
Hasil belajar siswa pada test akhir siklus II sudah menunjukkan
peningkatan yang sangat baik dari test sebelumnya, hal tersebut
dibuktikan dengan ketuntasan belajar siswa telah memenuhi KKM
yang diinginkan. Sehingga tidak perlu terjadi pengulangan siklus.
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus II, secara umum pada
siklus II ini sudah menunjukkan adanya peningkatan prestasi belajar
siswa dan keberhasilan peneliti dalam menggunakan student team
achievement division. Oleh karena itu tidak perlu dilanjutkan pada
siklus berikutnya.
3). Temuan penelitian
Beberapa temuan yang diperoleh pada pelaksanaan penelitian
ini adalah:
a). Siswa lebih mudah memahami materi dengan adanya penggunaan
student team achievement division
dalam pembelajaran
Bahasa Arab.
b). Pembelajaran Bahasa Arab melalui penggunaan student team
achievement division, semakin meningkatkan kemampuan
siswa dalam memahami materi yang diberikan. Hal ini
menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa.
c).
Pelaksanaan
pembelajaran
achievement division
menggunakan
student
team
membuat siswa menjadi lebih aktif
dalam kegiatan belajar di kelas.
86
d). Kegiatan belajar menggunakan student team achievement
division pada materi ‫ فى المدرسة‬ini mendapat respon yang sangat
positif dari siswa.
e). Melalui pembelajaran Bahasa Arab melalui penggunaan student
team achievement division dapat meningkatkan hasil belajar
siswa.
Pembelajaran menggunakan metode student team achievement
division memungkinkan untuk dijadikan alternatif metode
pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar.
B. Pembahasan hasil penelitian
Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan hasil
belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa Arab melalui penggunaan student
team achievement division. Penelitian ini dilaksanakan di kelas V yang
berjumlah 19 siswa pada mata pelajaran Bahasa Arab materi ‫ فى المدرسة‬yang
terdiri dari 2 siklus. Siklus I dilaksanakan dengan dua kali pertemuan yaitu
pada hari Jumat tanggal 13 dan 20 Februari 2015, begitu pula dengan siklus
II dilaksanakan dengan dua kali pertemuan yaitu pada hari Jumat tanggal 27
Februari dan 6 maret 2015.
Kegiatan pembelajaran dari siklus dalam penelitian ini terbagi pada
tiga kegiatan, yaitu kegiatan awal, inti, dan akhir. Kegiatan awal
dimaksudkan untuk mempersiapkan siswa baik fisik dan mental untuk
menghadapi kegiatan inti. Siswa perlu dipersiapkan untuk belajar karena
siswa yang siap untuk belajar akan belajar lebih giat daripada siswa yang
87
tidak siap. Kegagalan untuk keberhasilan belajar sangatlah tergantung kepada
kesiapan belajar peserta didik untuk mengikuti kegiatan belajar.63
Dalam pembelajaran skenario metode student team achievement
division adalah sebagai berikut yaitu penyampaian kompetensi yang akan
dicapai, penyajian materi sebagai pengantar, pemberian penugasan atau
pertanyaan kepada siswa dan difikirkan masing- masing anak, pembagian
kelompok yang terdiri dari 4-5 orang setiap kelompok untuk mendiskusikan
jawaban, masing- masing perwakilan kelompok dipanggil ke depan untuk
mempesentasikan jawaban yang disepakati dengan kelompok, penambahan
konsep atau materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai, dan
kesimpulan.
Tahap
penyampaian
kompetensi
yang
akan
dicapai,
kegiatanpenyampaian kompetensi yang akan dicapai diawali dengan
penyampaian kompetensi yang harus dicapai oleh siswa dalam pembelajaran.
kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa yaitu siswa memahami pola
kalimat mubtada’, khabar dan kata sifat.
Tahap penyajian materi sebagai pengantar, peneliti menjelaskan
materi mengenai ‫فى االمدرسة‬. Dalam penyajian materi peneliti hanya
menyampaikan sedikit saja, tidak banyak hanya membahas sekilas mengenai
materi yang di ajarkan.
Tahap selanjutnya pemberian tugas atau pertanyaan kepada siswa.
Masing- masing anak harus memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut.
63
1990), hal. 8
Herman Hudoyo, Strategi Belajar Mengajar Matematika, (Malang: IKIP Malang,
88
Jawaban tersebut nantinya akan didiskusikan dengan kelompok masing masing.
Tahap pembagian siswa menjadi kelompok. Siswa diminta untuk
berkelompok untuk mendiskusikan jawaban mereka masing- masing. Mereka
harus mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang diberikan guru.
Jawaban itu nantinya akan disampaikan siswa di depan kelas.
Tahap pemanggilan siswa untuk menyampaikan hasil diskusinya di
depan kelas. Guru memberikan kepada setiap perwakilan kelompok yang
berani maju ke depan terlebih dahulu. Apabila ada yang berani, maka akan
diberi nilai tambahan. Setelah ada salah satu yang maju dan menyampaikan
hasil diskusinya guru menyuruh teman yang lain untuk memberikan tepuk
tangan karena keberaniannya. Kemudian untuk perwakilan kelompok yang
kedua ditentukan oleh guru.
Tahap penambahan konsep atau materi sesuai dengan kompetensi
yang ingin dicapai. Peneliti menambah penjelasan materi mengenai ‫فى المدرسة‬
yang telah mereka diskusikan dengan kelompok. Peneliti memberi
kesempatan kepada siswa agar bertanya jika ada materi yang belum dipahami
oleh siswa.
Tahap kesimpulan. Peneliti bersama siswa menyimpulkan pelajaran
yang telah dilakukan. Peneliti membimbing siswa untuk menyimpulkan
materi ‫فى المدرسة‬.
Kegiatan akhir yaitu pemberian soal tes formatif secara individu
pada setiap akhir siklus. Tes tersebut dilakukan untuk mengetahui hasil
89
belajar dan ketuntasan belajar siswa setelah diterapkannya metode Student
Team Achievement Division.
Metode Student Team Achievement Division ini menuntun para
siswa untuk berfikir logis dan sistematis dalam belajar dan dengan melibatkan
siswa dalam pembelajaran siswa akan lebih termotivasi, bersemangat dan
aktif dalam mengikuti pelajaran.
Pada pelaksanaan siklus I dan siklus II tahap-tahap tersebut telah
dilaksanakan dan telah memberikan perbaikan yang positif dalam diri siswa.
Hal
tersebut
dibuktikan
dengan
keaktifan
siswa
dalam
mengikuti
pembelajaran Bahasa Arab di kelas, misalnya siswa yang semula pasif dalam
belajar menjadi lebih aktif dan siswa dalam menyelesaikan soal tes tidak ada
lagi yang bekerja sama dengan teman karena siswa sudah yakin dengan
kemampuannya sendiri untuk mengerjakan tes tersebut.
Perubahan positif pada keaktifan siswa berdampak pula pada hasil
belajar dan ketuntasan belajar. Peningkatan hasil belajar dan ketuntasan
belajar siswa disajikan dalam tabel berikut:
90
Tabel 4.10 Rekapitulasi Hasil Penelitian
No
Kriteria
Pre Test
Siklus I
Siklus II
68,05
70,84
86,05
1
Rata-rata kelas
2
Peserta didik tuntas belajar
21,05%
47,36%
100%
3
Peserta didik belum tuntas belajar
78,95%
52,64%
0%
4
Hasil observasi aktivitas peneliti
-
76,15%
86,92%
5
Hasil observasi aktivitas siswa
-
79,23%
87,69%
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, penerapan metode
Student Team Achievement Division bisa meningkatkan hasil belajar
siswa kelas V di MI Hidayatul Mubtadiin Kebonagung Wonodadi
Blitar. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan ketuntasan
belajar dari pre test ke siklus I kemudian ke siklus II, seperti pada
gambar berikut:
91
Gambar Grafik Peningkatan Hasil Belajar
Sebelum diberi tindakan diperoleh nilai rata-rata pre test siswa
kelas V MI Hidayatul Mubtadiin Kebonagung Wonodadi Blitar
dengan taraf keberhasilan hasil pre test siswa yang mencapai nilai
<75 sebanyak 15 siswa (78,95%) dan ≥75 sebanyak 4 siswa
(21,05%) dengan nilai rata-rata kelas adalah 68,05. Pada post test
siklus I nilai rata-rata kelas 70,78 siswa yang mendapat nilai ≥75
sebanyak 9 siswa (47,36%) dan <75 sebanyak 10 siswa (52,64%).
Sedangkan pada siklus II nilai rata-rata 86,05 siswa yang mendapat
nilai ≥75 sebanyak 19 siswa (100%) dan <75 sebanyak 0 siswa (0%).
Dengan demikian pada rata–rata hasil belajar siswa dari siklus I ke
siklus II meningkat.
Berdasarkan hasil nilai pos test II siswa terlihat adanya
peningkatan pemahaman siswa, ini terbukti dengan meningkatnya
92
hasil belajar siswa. Dengan demikian pembelajaran Bahasa Arab
melalui penggunaan metode Student Team Achievement Division
(STAD)
terbukti mampu membantu siswa dalam meningkatkan
hasil belajar siswa.
93
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sebagai akhir dalam pembahasan skripsi ini maka akan dikemukakan
kesimpulan yang diperoleh dari paparan data, temuan penelitian dan
pembahasan yang diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penerapan metode student team achievement division (STAD) pada
mata pelajaran bahasa Arab materi ‫ فى المدرسة‬peserta didik kelas V MI
Hidayatul Mubtadin Kebonagung Wonodadi Blitar. adalah sebagai
berikut: 1) Guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai. 2)
Guru menyajikan materi ‫فى المدرسة‬
sebagai pengantar. 3)
Guru
membuat kelompok menjadi 5 kelompok secara heterogen 6) Guru
mulai menanamkan konsep atau materi sesuai dengan kompetensi yang
ingin dicapai. 7) Mengambil kesimpulan dari pelajaran yang telah
dilakukan. 8) siswa diberikan soal-soal untuk pendalaman materi.9)
guru membahas soal yang telah di berikan. 10) Guru memberikan
reword bagi kelompok yang mendapatkan nilai yang terbaik.
2. Pembelajaran Bahasa Arab melalui penggunaan metode student team
achievement division dapat meningkatkan hasil belajar peserta didk
kelas V MI Hidayatul Mubtadiin Kebonagung Wonodadi Blitar. Hal
ini dapat dilihat dari proses belajar mengajar dan nilai tes akhir pada
proses belajar mengajar siklus 1 dan siklus 2. Pada siklus I nilai ratarata kelas 70,78 siswa yang mendapat nilai ≥75 sebanyak 9 siswa
94
(47,36%) dan <75 sebanyak 10 siswa (52,64%). Sedangkan pada siklus
II nilai rata-rata 86,52 siswa yang mendapat nilai ≥75 sebanyak 19
siswa (100%) dan <75 sebanyak 0 siswa (0%).
B. Saran
Demi kemajuan dan keberhasilan peksanaaan proses belajar mengajar
dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran, maka peneliti memberi
saran sebagai berikut:
1.
Bagi Kepala MI Hidayatul Mubtadiin Kebonagung, dengan adanya
peningkatan hasil belajar siswa, tentunya kepala Madrasah dapat
mengambil
kebijakan
untuk
mengembangkan
pembelajaran
menggunakan metode student team achievement division (STAD)
pada mata pelajaran yang lain.
2. Bagi
pendidik
MI
Hidayatul
Mubtadiin.
Guru
hendaknya
memperhatikan pemilihan metode dan media pembelajaran yang tepat
dalam menyampaikan materi pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar
proses pembelajaran dikelas dapat dicapai secara maksimal. yang
mahal dan penggunaannya tidak menyita waktu banyak. Serta guru
diharapkan
dapat
mempelajari
dan
memahami
agar
mampu
menerapkan metode student team achievement division stad (STAD)
dalam proses belajar mengajar, juga diharapkan selalu mencoba atau
meneliti setiap metode dan media pembelajaran, sehingga metode dan
media pembelajaran tersebut sesuai dengan karakteristik siswa serta
sesuai dengan materi yang diajarkan
95
3. Bagi peserta didik MI Hidayatul Mubtadiin Kebonagung, agar peserta
didik termotivasi dalam belajar, Peserta didik hendaknyan dapat
meningkatkan belajarnya demi mencapai hasil yang maksimal dan
peserta didik juga diharapkan percaya pada kemampuan dirinya
sendiri, tidak menggantungkan pada peserta didik lain.
Fly UP