...

PERAN PENYULUH PERTANIAN DALAM PENGEMBANGAN

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

PERAN PENYULUH PERTANIAN DALAM PENGEMBANGAN
PERAN PENYULUH PERTANIAN DALAM PENGEMBANGAN SISTEM
AGRIBISNIS KUBIS DI KECAMATAN TAWANGMANGU KABUPATEN
KARANGANYAR
Siska Prihantiwi, Totok Mardikanto, Agung Wibowo
Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret
Jl.Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126 Telp./ Fax.(0271) 637457
E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan sistem agribisnis kubis, peran
penyuluh, menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan peran penyuluh pertanian serta
menganalisis hubungan antara peran penyuluh dan pengembangan agribisnis kubis di Kecamatan
Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif.
Lokasi penelitian yang dipilih ialah Kecamatan Tawangmangu, yang mempunyai produksi kubis
tertinggi di Kabupaten Karanganyar. Data yang digunakan ialah primer dan sekunder. Metode
analisis data yang digunakan ialah korelasi parsial. Hasil penelitian menunjukkan pengembangan
sistem agribisnis kubis tahap ketersediaan sarana produksi dan budidaya dalam kriteria sangat
tinggi, panen dan pasca panen serta pemasaran dalam kriteria tinggi, kelembagaan penunjang
dalam kriteria rendah. Peran penyuluh pertanian sebagai motivator, mediator, supervisor dan
fasilitator berada dalam kriteria tinggi. Faktor-faktor yang berhubungan dengan peran penyuluh
yang berada dalam kriteria tinggi yakni umur petani dan pendapatan, untuk tingkat pendidikan dan
pelatihan pertanian dalam kriteria rendah. Antara peran penyuluh sebagai motivator dengan
pemasaran menunjukkan hubungan signifikan. Antara peran penyuluh sebagai mediator dengan
kelembagaan penunjang menunjukkan hubungan yang signifikan. Antara peran penyuluh pertanian
sebagai supervisor dan fasilitator dengan pengembangan sistem agribisnis kubis menunjukkan
hubungan yang tidak signifikan. Antara umur petani dan peran penyuluh menunjukkan hubungan
yang signifikan. Hubungan antara tingkat pendidikan, pendapatan dan pelatihan pertanian,
menunjukkan hubungan yang tidak signifikan.
Kata Kunci: Peran, Penyuluh, Agribisnis, Median Score, Korelasi Parsial
Abstract: This research aims to analyze cabbage agribusiness system development, the
role of educator, to analize factors related to the role of agricultural extension and relationship
roles extension with cabbage agribusiness development in Tawangmangu District, Karanganyar
Regency. This research used a quantitative approach. The research location was selected
Tawangmangu District, which has the highest production of cabbage in Karanganyar Regency.
The data was used primary and secondary. Data analysis method was used partial correlation. The
results of research showed agribusiness system development phase cabbage cultivation availability
of production facilities and the very high criteria, harvest and post-harvest and marketing in the
high criteria, institutional support in the low criteria. The role of agricultural extension as a
motivator, mediator, supervisor and facilitator are in high criteria. Factors related to the role of
agricultural extension are in the high criteria were the age and income of farmers, to the level of
agricultural education and training in low criteria. Between roles as a motivator with a marketing
instructor showed a significant relationship. Instructor's role as a mediator between the
institutional supports showed a significant relationship. Between the role of agricultural extension
as a supervisor and facilitator with cabbage agribusiness system development showed no
significant relationship. Between the ages of farmers and role of instructor showed a significant
relationship. The relationship between level of education, income and agricultural training, showed
no significant association.
Keywords: Role, Extension, Agribusiness, Median Score, Partial Correlation.
PENDAHULUAN
Sektor pertanian mempunyai
peranan penting dalam mengatasi
ancaman krisis global pada saat ini.
Peranan tersebut karena sektor
pertanian
merupakan
penyedia
pangan bagi masyarakat Indonesia.
Upaya peningkatan pembangunan
pertanian ialah dengan mengarahkan
sektor pertanian pada pembangunan
sistem agribisnis.
Konsep agribisnis adalah
suatu konsep yang utuh, mulai dari
produksi, mengolah hasil, pemasaran
dan aktivitas lain yang berkaitan
dengan
kegiatan
pertanian
(Soekartawi,
2010).
Sedangkan
menurut Arsyad, dkk (dalam
Soekartawi, 2010), agribisnis adalah
suatu kesatuan kegiatan usaha yang
meliputi salah satu atau keseluruhan
dari
mata
rantai
produksi,
pengolahan hasil dan pemasaran
yang ada hubungannya dengan
pertanian dalam arti luas.
Salah satu jenis sayuran yang
perlu
pengembangan
sistem
agribisnis ialah kubis. Kubis
merupakan salah satu jenis sayuran
yang banyak dibutuhkan oleh
masyarakat di Indonesia. Kubis dapat
manfaatkan untuk dijadikan berbagai
macam hidangan di warung makan
hingga di hotel-hotel berbintang.
Masyarakat banyak mengkonsumsi
berbagai macam masakan dari kubis
karena kubis mempunyai banyak
kandungan gizi dan manfaat bagi
kesehatan.
Salah satu daerah yang
membudidayakan tanaman kubis
ialah Kecamatan Tawangmangu,
Kabupaten
Karanganyar.
Produktivitas tanaman kubis lebih
tinggi jika dibandingkan dengan
produktivitas sayuran lainnya yang
dibudidayakan
di
Kecamatan
Tawangmangu. Hal ini dapat dilihat
pada Tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Sayur-sayuran di
Kecamatan Tawangmangu Tahun 2012
No.
Jenis Sayuran
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
Bawang merah
Bawang putih
Kentang
Kubis
Sawi
Cabai
Tomat
Terong
Buncis
Wortel
Petai
Mlinjo
Kacang panjang
Luas Panen
(Ha)
129
78
6
112
749
23
47
759
416
-
Produksi
(kw)
13.200
14.385
260
21.810
33.120
780
1.780
169.720
99
-
Produktivitas (kw/Ha)
Sumber: Kecamatan Tawangmangu dalam Angka Tahun 2013
102,33
184,42
43,33
194,73
44,22
33,91
37,87
223,61
0,24
-
Sebagian besar petani di
Kecamatan
Tawangmangu
membudidayakan sayuran kubis
karena kondisi tanah dan iklim
sangat
mendukung
untuk
pertumbuhan
tanaman
kubis,
memiliki prospek pasar yang cukup
baik,
serta
menjadi
sumber
penghasilan utama bagi petani.
Pengalaman
budidaya
kubis
diperoleh petani secara turun
temurun.
Alasan
lain
petani
membudidayakan
kubis
ialah
mudahnya penjualan hasil panen
kubis.
Salah satu upaya untuk
mempertahankan produkivitas kubis
untuk memenuhi permintaan kubis,
ialah dengan melaksanakan kegiatan
penyuluhan.
Melalui kegiatan
penyuluhan
pertanian,
petani
diharapkan
mampu
menyerap
informasi mengenai inovasi baru
dibidang pertanian dan mengadopsi
inovasi tersebut dalam usaha tani
mereka. Kegiatan tersebut dilakukan
oleh seorang yang disebut penyuluh
pertanian (Van Den Ban dan
Hawkins, 1999).
Peran
aktif
penyuluh
diperlukan dalam upaya mengatasi
kendala dalam pengembangan sistem
agribisnis, antara lain berkurangnya
produksi
kubis
pada
musim
penghujan dan adanya hama serta
penyakit pada tanaman kubis yang
belum dapat ditanggulangi. Peran
penyuluh pertanian yang diharapkan
yakni mendorong semangat petani
dalam
mengembangkan
sistem
agribisnis kubis, menjadi jembatan
antara informasi yang dibutuhkan
oleh
petani
dengan
petani,
mengawasi
ketersediaan sarana
produksi dan budidaya kubis serta
dapat melayani petani dalam
pelaksanaan
agribisnis kubis.
pengembangan
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini
antara lain:
1. Menganalisis
pengembangan
sistem agribisnis kubis di
Kecamatan
Tawangmangu,
Kabupaten Karanganyar.
2. Menganalisis peran penyuluh
pertanian dalam pengembangan
sistem agribisnis kubis di
Kecamatan
Tawangmangu,
Kabupaten Karanganyar.
3. Menganalisis faktor-faktor yang
berhubungan
dengan
peran
penyuluh
pertanian
dalam
pengembangan agribisnis kubis
di Kecamatan Tawangmangu,
Kabupaten Karanganyar.
4. Menganalisis hubungan antara
peran penyuluh pertanian dan
pengembangan sistem agribisnis
kubis
di
Kecamatan
Tawangmangu,
Kabupaten
Karanganyar.
METODE PENELITIAN
Metode dasar yang digunakan
dalam
penelitian
ini
adalah
pendekatan
kuantitatif
yaitu
penelitian yang memusatkan pada
pengumpulan data kuantitatif yang
berupa angka-angka untuk kemudian
dianalisis dengan menggunakan alatalat analisis kuantitatif yang berupa
analisis
statistika
(deskriptif,
parametrik, dan non-parametrik)
maupun
dengan
menggunakan
perhitungan
matematika
(Mardikanto,
2001).
Teknik
penelitian menggunakan teknik
survei.
Lokasi penelitian yang dipilih
adalah Kecamatan Tawangmangu.
Kecamatan Tawangmangu dipilih
karena merupakan kecamatan di
Kabupaten
Karanganyar
yang
mempunyai produksi kubis tertinggi
dibandingkan
kecamatan
lain.
Produksi kubis di Kecamatan
Tawangmangu mencapai 65,77%
dari keseluruhan produksi kubis di
Kabupaten Karanganyar.
Populasi pada penelitian ini
adalah
seluruh
petani
yang
membudidayakan tanaman kubis di
Kecamatan Tawangmangu yang
berjumlah 984 orang. Pengambilan
sampel dengan menggunakan metode
multistage cluster random sampling.
Tahap pengambilan sampel:
1) Tahap pertama, yakni memecah
populasi
petani
yang
membudidayakan
kubis
di
Kecamatan
Tawangmangu
dipecah menjadi sub populasi
petani kubis disemua desa di
Kecamatan Tawangmangu.
2) Tahap kedua, memilih dua desa
dengan jumlah petani kubis
terbanyak
di
Kecamatan
Tawangmangu
yakni
Desa
Blumbang dan Desa Kalisoro
3) Tahap ketiga, memilih petani
sampel sebanyak 65 orang yang
terdiri dari 34 petani kubis di
Desa Blumbang dan 31 petani
kubis di Desa Kalisoro secara
acak.
Jenis dan sumber data yang
digunakan ialah data primer dan data
sekunder. Teknik pengambilan data
dengan wawancara, observasi dan
pencatatan. Metode analisis data
menggunakan median score, tabel
distribusi frekuensi dan korelasi
parsial.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Variabel Penelitian
1. Deskripsi
Variabel
Pengembangan
Sistem
Agribisnis Kubis
a) Ketersediaan Sarana Produksi
Tahap ketersediaan sarana
produksi berada dalam kriteria
sangat tinggi dengan median
score 4. Hal ini menunjukkan
bahwa sarana produksi dalam
sistem agribisnis
kubis
di
Kecamatan Tawangmangu sangat
mencukupi, baik dari segi
kuantitas maupun kualitas.
b) Budidaya
Tahap budidaya berada
dalam kriteria sangat tinggi
dengan median score 4. Tahap
budidaya dalam kriteria sanggat
tinggi
menunjukkan
bahwa
budidaya tanaman kubis yang
diterapkan oleh petani sudah
sesuai dengan rekomendasi dari
Dinas Pertanian.
c) Panen dan Pasca Panen
Tahap panen dan pasca
panen berada dalam kriteria tinggi
dengan median score 3. Hal ini
berarti bahwa kegiatan panen dan
pasca panen tanaman yang
dilakukan sudah baik. Baik dari
proses pemetikan krop kubis,
pembersihan hingga pengepakan.
d) Pemasaran
Tahap pemasaran berada
pada kriteria tinggi dengan
median score 3. Pengembangan
agribinis kubis pada tahap
pemasaran berada dalam kriteria
tinggi berarti petani cukup sering
mengikuti perkembangan harga
kubis, dengan cara mencari
informasi dari pasar ataupun
e)
2.
a)
b)
c)
mencari informasi dari pasar atau
petani lain.
Kelembagaan Penunjang
Tahap
kelembagaan
penunjang berada dalam kriteria
rendah dengan median score 2.
Hal ini menunjukkan bahwa
hubungan petani dengan lembagalembaga
penunjang
sistem
agribisnis kubis, cukup rendah.
Deskripsi
Variabel
Peran
Penyuluh Pertanian
Peran Penyuluh sebagai Motivator
Peran penyuluh pertanian
sebagai motivator berada dalam
kriteria tinggi dengan median
score 3. Peran penyuluh pertanian
sebagai motivator dalam kategori
tinggi berarti semangat dan
dorongan
yang
diberikan
penyuluh pada petani dalam
sistem agribisnis kubis tergolong
tinggi.
Peran Penyuluh sebagai Mediator
Peran penyuluh pertanian
sebagai mediator berada dalam
kriteria tinggi dengan median
score 3. Hal ini menunjukkan
bahwa penyuluh sudah melakukan
tugas-tugas penyuluh sebagai
mediator dengan baik. Berbagai
informasi dan inovasi dari
lembaga
penelitian
maupun
kebijakan pemerintah disampai
oleh
penyuluh
pada
saat
penyuluhan di kelompok tani
maupun
penyuluhan
pada
pertemuan
gapoktan
yang
dilaksanakan setiap tiga bulan
sekali.
Peran
Penyuluh
sebagai
Supervisor
Peran penyuluh pertanian
sabagai
supervisor
dalam
pengembangan sistem agribisnis
kubis dalam kriteria tinggi dengan
d)
3.
a)
b)
median score 3. Peran penyuluh
pertanian sebagai
supervisor
berada dalam kriteria tinggi
menunjukkan
bahwa
peran
penyuluh
pertanian
dalam
mengawasi pengembangan sistem
agribisnis kubis sudah baik.
Peran Penyuluh Pertanian sebagai
Fasilitator
Peran penyuluh pertanian
sebagai fasilitator berada dalam
kriteria tinggi dengan median
score 3. Peran penyuluh pertanian
sebagai
fasilitator
tinggi
membuktikan bahwa perananya
dalam memfasilitasi kegiatan
petani, cukup baik. Hal ini
terbukti dalam setiap kegiatan
penyuluhan, penyuluh pertanian
selalu mempersiapkan sarana dan
prasarana yang dibutuhkan.
Deskripsi Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Peran
Penyuluh Pertanian
Umur Petani
Sebagian besar responden
berumur > 50 tahun yakni
sebanyak 32 orang. Ada juga
responden yang berumur antara
36-50 tahun, yakni sebanyak 31
orang. Pada umumnya, petani
yang membudidayakan kubis
berusia > 36 tahun. Hal ini
dikarenakan
penduduk
yang
berusia muda lebih memilih
bekerja disektor non pertanian,
dimana penghasilannya dapat
diperoleh setiap bulan.
Tingkat Pendidikan Petani
Tingkat pendidikan petani
berada dalam kriteria rendah
dengan
presentase
sebesar
43,08%. Tingkat pendidikan
dengan
kriteria
rendah
menunjukkan bahwa rata-rata
petani
responden
hanya
menempuh pendidikan sampai
tahap SMP.
c) Pendapatan Petani
Tingkat pendapatan petani
kubis
di
Kecamatan
Tawangmangu
berada dalam
kriteria tinggi dengan presentase
67,69%. Hal ini menunjukkan
bahwa petani kubis di Kecamatan
Tawangmangu
mempunyai
pendapatan yang tinggi, sehingga
dapat
memenuhi
kebutuhan
hidupnya.
d) Pelatihan Pertanian
Pelatihan pertanian yang
diikuti oleh petani berada dalam
kriteria rendah dengan presentase
52,31%. Hal ini menunjukkan
bahwa petani jarang mengikuti
pelatihan pertanian. Pelatihan pert
pertanian baik dari penyuluh.
pertanian (PNS/ Swasta) dan
lembaga penelitian sangat jarang
diadakan.
4. Analisis Hubungan Antara
Peran Penyuluh Pertanian dan
Pengembangan
Sistem
Agribisnis Kubis di Kecamatan
Tawangmangu
Kabupaten
Karanganyar
1. Hubungan
Antara
Peran
Penyuluh dan Pengembangan
Agribisnis Kubis
Analisis
hubungan
antara peran penyuluh dan
pengembangan agribisnis kubis
menggunakan alat analisis
korelasi
parsial
dengan
menggunakan program SPSS
17 for windows. Selanjutnya
untuk menguji signifikansi dari
nilai R digunakan uji T untuk
membandingkan antara thitung
dengan ttabel pada toleransi
kesalahan sebesar 5% atau taraf
kepercayaan sebesar 95%.
Hubungan
antara
peran
penyuluh
pertanian
dan
pengembangan
sistem
agribisnis kubis di Kecamatan
Tawangmangu secara rinci
dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hubungan Antara Peran Penyuluh Pertanian dan Pengembangan Sistem
Agribisnis Kubis
Peran
Penyuluh
Pertanian (Y)
Motivator (Y1)
Mediator (Y2)
Supervisor
(Y3)
Fasilitator (Y4)
Ketersediaan
Sarana
Produksi (Z1)
R
t
hitung
-0,067
-0,533
-0,114
-0,911
0,091
0,725
-0,075
-0,597
Pengembangan Sistem Agribisnis Kubis (Z)
Budidaya (Z2)
Panen dan
Pemasaran
pasca Panen
(Z4)
(Z3)
R
t
R
t
R
t
hitung
hitung
hitung
-0,070
-0,557
0,092
0,733 0,330
2,775*
-0,053
-0,421
0,067
0,533 0,159
1,278
0,041
0,326 -0,171
-1,378 0,116
0,927
0,065
0,517
Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Berdasarkan
Tabel
2,
menunjukkan adanya hubungan yang
signifikan antara peran penyuluh
pertanian sebagai motivator dan
pengembangan sistem agribisnis
kubis pada tahap pemasaran.
Sedangkan hubungan antara peran
penyuluh
pertanian
sebagai
motivator dan pengembangan sistem
agribisnis kubis tahap ketersediaan
sarana produksi, budidaya, panen dan
pasca panen serta kelembagaan
penunjang menunjukkan hubungan
yang tidak signifikan.
Hubungan
antara
peran
penyuluh pertanian sebagai mediator
menunjukkan
hubungan
yang
signifikan.
Sedangkan hubungan
antara peran penyuluh pertanian
sebagai mediator dan pengembangan
sistem agribisnis kubis tahap
ketersediaan
sarana
produksi,
budidaya, panen dan pasca panen
serta
pemasaran
menunjukkan
hubungan yang tidak signifikan.
Hubungan
antara
peran
penyuluh
pertanian
sebagai
supervisor dan sebagai fasilitator
dengan
semua
tahapan
pengembangan sistem agribisnis
kubis menunjukkan hubungan tidak
yang signifikan.
0,183
1,478
0,137
1,098
Kelembagaan
Penunjang (Z5)
R
0,096
0,212
0,177
t
hitung
0,766
1,722*
1,427
t
tabel
1,670
1,670
1,670
0,108
0,862
1,670
5. Analisis Hubungan Antara
Faktor-Fakor
yang
Berhubungan dengan Peran
Penyuluh dan Peran Penyuluh
Pertanian
Analisis hubungan antara
faktor-faktor yang berhubungan
dengan peran penyuluh dan peran
penyuluh pertanian menggunakan
korelasi parsial dihitung dengan
SPSS
17.0
for
windows.
Selanjutnya
untuk
menguji
signifikansi nilai R digunakan uji t
yang membandingkan antara thitung
dengan ttabel pada toleransi
kesalahan sebesar 5% dengan
taraf kepercayaan 95%. Hubungan
antara
faktor-faktor
yang
berhubungan
dengan
peran
penyuluh dan peran penyuluh
pertanian secara rinci dapat dilihat
pada Tabel 3.
Tabel 3. Hubungan Antara Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Peran Penyuluh (X)
dan Peran Penyuluh Pertanian dalam Pengembangan Sistem Agribisnis Kubis
(Y) di Kecamatan Tawangmangu
Faktor-Faktor yang Berhubungan
dengan Peran Penyuluh
Umur petani
Tingkat Pendidikan petani
Pendapatan petani
Pelatihan pertanian
Sumber: Analisis Data Primer, 2015
Berdasarkan Tabel 3, dapat
dilihat bahwa terdapat hubungan
signifikan antara umur petani dan
peran penyuluh pertanian. Dan
terdapat hubungan yang tidak
signifikan antara tingkat pendidikan
petani, pedapatan petani dan
pelatihan pertanian dengan peran
penyuluh pertanian.
Pembahasan
1. Pengembangan Sistem Agribisnis
Kubis
a) Ketersediaan sarana produksi
Ketersediaan
sarana
produksi berada pada kriteria
sangat tinggi, dapat dilihat dari
sarana produksi yang selalu ada
saat dibutuhkan oleh petani.
Sarana produksi pupuk, pestisida
dan alat-alat pertanian diperoleh
dari toko pertanian maupun
koperasi pertanian di wilayah
Tawangmangu, sedangkan bibit
tanaman kubis diperloeh dari
petani yang mempunyai usaha
pembibitan kubis.
b) Budidaya
Budidaya tanaman kubis
berada dalam kriteria sangat
tinggi, dapat dilihat dari tahap
budidaya yang diterapkan oleh
petani sudah sesuai dengan
rekomendasi dari Dinas Pertanian.
Mulai dari pengolahan tanah,
pemupukan hingga pemeliharaan
R
-0,209
-0,085
-0,152
0,029
Peran Penyuluh (Y)
thitung
-1,696*
-0,677
-1,221
0,230
ttabel
1,670
1,670
1,670
1,670
tanaman kubis. Responden juga
mencari informasi baru tentang
budidaya tanaman kubis melalui
kelompok tani dan gapoktan.
c) Panen dan pasca panen
Panen dan pasca panen
kubis berada dalam kriteria tinggi,
dapat
dilihat
dari
proses
pemetikan krop kubis hingga
pengepakan
sudah
baik.
Pemetikan
krop
dengan
menggunakan
pisau
dan
pengepakan
kubis
dengan
menggunakan karung plastik
dengan tujuan menjaga kualitas
kubis.
d) Pemasaran
Pemasaran kubis berada
dalam kriteria tinggi. Sebagian
besar petani memasarkan hasil
panen kubis ke tengkulak, dengan
alasan
kemudahan
dalam
penjualan hasil panen kubis.
Petani
juga
cukup
sering
mengikuti perkembangan harga
kubis, dengan cara mencari
informasi dari pasar ataupun
mencari informasi dari tengkulak
atau petani lain
e) Kelembagaan Penunjang
Tahap
kelembagaan
penunjang berada dalam kriteria
rendah. Hubungan petani dengan
lembaga-lembaga
penunjang
seperti lembaga penelitian dan
Dinas Pertanian masih rendah,
karena petani kurang aktif dalam
mencari informasi dan inovasi
tentang agribisnis kubis pada
Dinas Pertanian maupun lembaga
penelitian. Sedangkan hubungan
antara petan dengan kelompok
tani maupun gapoktan sangat erat,
terbukti
adanya
pertemuan
kelompok tani setiap sebulan
sekali dan pertemuan gapoktan
tiap tiga bulan sekali untuk
membahas permasalahan dalam
sistem agribisnis kubis.
2. Peran Penyuluh Pertanian
a) Peran
Penyuluh
Sebagai
Motivator
Peran penyuluh sebagai
motivator berada dalam kriteria
tinggi. Hal ini dapat dilihat dari
pemberian
semangat
dan
dorongan kepada petani yang
disampaikan melalui penyuluhan
kelompok maupun penyuluhan
perorangan (anjangsana). Untuk
meningkatkan motivasi petani
dalam pengembangan sistem
agribisnis
kubis,
penyuluh
memberikan kalender tanam kubis
yang tepat, pelatihan pembuatan
pupuk organik dan pengendalian
penyakit akar gada pada tanaman
kubis.
b) Peran Penyuluh Sebagai Mediator
Peran penyuluh sebagai
mediator berada dalam kriteria
tinggi menunjukkan bahwa peran
penyuluh sebagai penghubung
antara petani dengan lembaga
penelitian,
Dinas
Pertanian
maupun pemerintah sudah baik.
Lembaga penelitian yang pernah
dipertemukan
dengan
petani
dalam kegiatan penyuluhan ialah
BPTP
(Balai
Pengkajian
Teknologi
Pertanian)
yang
membahas tentang pengendalian
c)
d)
3.
a)
b)
penyakit akar gada pada tanaman
kubis.
Peran
Penyuluh
sebagai
Supervisor
Peran penyuluh sebagai
supervisor dalam kriteria tinggi.
Kenyataan
di
lapangan,
menunjukkan bahwa penyuluh
melakukan supervisi sebelum
mengadakan penyuluhan. Hal ini
dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui permasalahan dalam
pengembangan sistem agribisnis
kubis yang dihadapi oleh.
Peran Penyuluh sebagai Fasilitator
Peran penyuluh sebagai
fasilitator dalam kriteria tinggi.
Hal ini karena penyuluh pertanian
selalu memfasilitasi kegiatan
petani, baik pada saat pertemuan
kelompok
tani,
pertemuan
gapoktan
hingga
pertemuan
dengan stakeholder lain seperti
lembaga penelitian hingga dinas
pertanian.
Faktor-Faktor yang Berhubungan
dengan Peran Penyuluh Pertanian
Umur Petani
Berdasarkan analisis data
di lapang, dapat diketahui bahwa
petani yang membudidayakan
kubis
di
Kecamatan
Tawangmangu sebagian besar
berumur diatas 36 tahun. Semakin
tua umur petani, maka semakin
sulit
pemahaman
tentang
informasi dan inovasi baru
tentang pengembangan sistem
agribisnis kubis.
Tingkat Pendidikan Petani
Tingkat pendidikan petani
berada dalam kriteria rendah
(lulus SMP). Semakin rendah
pendidikan
seseorang,
maka
semakin rendah pengetahuan yang
dimiliki dan juga pemahaman
c)
d)
4.
a)
terhadap informasi atau materi
yang disampaikan oleh penyuluh
akan semakin sulit.
Pendapatan Petani
Pendapatan petani berada
dalam kriteria tinggi. Hal ini
menunjukkan bahwa petani dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya
maupun
untuk
modal
usahataninya. Pendapatan petani
diperoleh dari sektor pertanian
maupun non pertanian.
Pelatihan Pertanian
Pelatihan pertanian yang
diikuti petani berada dalam
kriteria rendah, karena petani
jarang
mengikuti
kegiatan
pelatihan. Baik penyuluh maupun
lembaga
penelitian
jarang
mengadakan
pelatihan
bagi
petani. Apabila ada pelatihan,
penyuluh menunjuk petani maju
atau ketua gapoktan untuk
mengikuti pelatihan pertanian.
Analisis Hubungan Antara Peran
Penyuluh
Pertanian
dan
Pengembangan Sistem Agribisnis
Kubis
di
Kecamatan
Tawangmangu
Kabupaten
Karanganyar
Hubungan Antara Peran Penyuluh
dan
Pengembangan
Sistem
Agribisnis Kubis
Hubungan antara peran
penyuluh sebagai motivator dan
pemasaran kubis menunjukkan
hubungan
yang
signifikan.
Penyuluh
perlu
memberikan
semangat dan dorongan pada
petani untuk memasarkan hasil
panen
kubis
ke
lembaga
pemasaran lain selain tengkulak.
Tujuannya, agar keuntungan yang
diterima petani lebih tinggi
dibandingkan memasarkan hasil
panen kubisnya pada tengkulak.
Sedangkan hubungan antara peran
penyuluh sebagai motivator dan
ketersediaan sarana produksi,
budidaya, panen dan pasca panen
serta kelembagaan penunjang
menunjukkan hubungan yang
tidak signifikan. Hal ini karena,
sarana produksi selalu ada di
pasaran saat dibutuhkan petani.
Pada saat budidaya hingga pasca
panen petani melakukan budidaya
kubis secara mandiri dengan
dorongan petani lain atau ketua
gapoktan.
Hubungan antara penyuluh
pertanian sebagai mediator dan
kelembagaan
penunjang
menunjukkan hubungan yang
signifikan, karena petani kurang
aktif dalam menjalin hubungan
dengan kelembagaan penunjang.
Sehingga penyuluh perlu menjadi
jembatan antara petani dengan
kelembagaan penunjang dalam
sistem agribisnis kubis.
Hubungan antara peran
penyuluh sebagai supervisor dan
keseluruhan tahap pengembangan
sistem
agribisnis
kubis
menunjukkan hubungan yang
tidak signifikan. Karena pada
budidaya hingga pasca panen,
petani
sudah
mempunyai
pengalaman dan keterampilan
yang cukup baik.
Hubungan antara peran
penyuluh sebagai fasilitator dan
dan
keseluruhan
tahap
pengembangan sistem agribisnis
kubis menunjukkan hubungan
yang tidak signifikan. Karena
pada proses budidaya hingga
pasca panen, petani menggunakan
fasilitasnya
sendiri
maupun
menggunakan bantuan dari petani
lain yang lebih maju maupun dari
ketua kelompok tani. Pada tahap
pemasaran, penyuluh hanya perlu
memfasilitasi kebutuhan petani
akan informasi mengenai harga
jual kubis agar tidak tetipu dengan
tengkulak yang mungkin membeli
hasil panen kubis jauh di bawah
harga pasar.
b) Hubungan Antara Peran Penyuluh
dan
Faktor-Faktor
yang
Berhubungan
dengan
Peran
Penyuluh
Hubungan antara umur
petani dan peran penyuluh
pertanian menunjukkan hubungan
yang signifikan. Hubungan antara
peran penyuluh dengan umur
petani menunjukkan hubungan
yang berkebalikan. Semakin tua
umur petani, peran penyuluh
semakin rendah. Pada kenyataan
di lapangan, petani yang berusia
tua
kurang
memperhatikan
penyuluhan pertanian. Hal ini
dikarenakan, dalam usahataninya,
petani
yang
berusia
tua
berpedoman pada pengalamannya
dan sulit untuk menerima dan
mengadopsi
informasi
atau
inovasi dari penyuluh.
Hubungan antara tingkat
pendidikan petani, pendapatan
dan
pelatihan
pertanian
menunjukkan hubungan yang
tidak
signifikan.
Cara
penyampaian
materi
dari
penyuluh menggunakan metode
pembelajaran POD (Pendidikan
Orang
Dewasa).
Dengan
menggunakan
metode
pembelajaran POD (Pendidikan
Orang
Dewasa)
diharapkan,
petani yang berpendidikan rendah
maupun
petani
yang
berpendidikan tinggi mampu
memahami materi penyuluhan.
Penyuluh juga tidak membedakan
pendapatan petani. Tidak ada
peran khusus dari penyuluh,
seperti
peminjaman
modal
usahatani bagi petani yang
berpendapatan rendah. Penyuluh
hanya berperan sebagai mediator
antara petani dengan lembaga
perkreditan dalam peminjaman
modal pertanian. Penyuluh juga
tidak membedakan petani dari
frekuensi pelatihan pertanian yang
diikuti petani. Petani yang sering
mengikuti pelatihan pertanian
maupun petani yang tidak pernah
mengikuti pelatihan pertanian
mendapatkan
penyuluhan
pertanian
yang
sama
dari
penyuluh.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pengembangan sistem agribisnis
kubis pada tahap ketersediaan
sarana produksi dan budidaya
dalam kriteria sangat tinggi.
Tahap panen dan pasca panen
serta pemasaran dalam kriteria
tinggi.
Tahap
kelembagaan
penunjang dalam kriteria rendah.
2. Peran penyuluh pertanian yang
meliputi peran sebagai motivator,
mediator,
supervisor
dan
fasilitator berada dalam kriteria
tinggi.
3. Faktor yang berhubungan dengan
peran penyuluh, yakni umur
petani rata-rata 36 tahun keatas.
Tingkat pendidikan petani dan
pelatihan pertanian dalam kriteria
rendah,
sedangkan
faktor
pendapatan petani dalam kriteria
tinggi.
4. Analisis Hubungan Antara Peran
Penyuluh
Pertanian
dan
Pengembangan Sistem Agribisnis
Kubis
a) Terdapat
hubungan
yang
signifikan
antara
peran
penyuluh sebagai motivator
dan tahap pemasaran serta
antara peran penyuluh sebagai
mediator
dan
tahap
kelembagaan penunjang
c) Terdapat hubungan yang tidak
signifikan
antara
peran
penyuluh sebagai supervisor
dan sebagai fasilitator dan
semua tahap pengembangan
sistem agribisnis kubis
5. Terdapat
hubungan
yang
signifikan antara umur petani dan
peran penyuluh pertanian.
Saran
1. Sebaiknya
pemerintah
meningkatkan hubungan dengan
petani, dengan cara melihat
secara langsung kondisi lahan
pertanian kubis di Tawangmangu.
Pemerintah
juga
dapat
mengadakan pelatihan khusus
bagi penyuluh pertanian dan
membuat
kebijakan
tentang
kemudahan akses permodalan
bagi petani dalam menjalankan
usahataninya.
2. Sebaiknya penyuluh menyusun
strategi pemasaran kubis, untuk
meningkatkan nilai jual hasil
panen kubis dan mengadakan
pelatihan pertanian bagi petani.
3. Sebaiknya petani meningkatkan
hubungan dengan kelembagaan
penunjang
seperti
lembaga
penelitian dan Dinas Pertanian
dengan cara mengikuti pertemuan
atau pelatihan dari lembaga
penelitian. Petani juga perlu
meningkatkan hubungan dengan
lembaga perkreditan dalam hal
permodalan usahatani. Kelompok
tani juga perlu membuat RDKK
(Rencana Defenitif Kebutuhan
Kelompok) secara mandiri.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen
Pertanian.
2002.
Kebijakan
Nasional:
Penyelenggaraan
Penyuluhan
Pertanian.
Departemen
Pertanian.
Jakarta.
Kartasapoetra, AG. 1994. Teknologi
Penyuluhan
Pertanian.
Bumi Aksara. Jakarta.
Kecamatan Tawangmangu dalam
Angka Tahun 2013. Luas
Panen dan Produksi Sayursayuran di Kecamatan
Tawangmangu Tahun 2012.
BPS
Kabupaten
Karanganyar. Karanganyar.
Kristanti, A. 2005. Peranan Penyuluh
Pertanian Lapangan (PPL)
dalam
Adopsi
Inovesi
Pupuk
Majemuk
di
Kecamatan
Blora
Kabupaten Blora. Skripsi.
Universitas Sebelas Maret.
Surakarta.
Mardikanto, T. 2001. 2001. Prosedur
Penelitian
Penyuluhan
Pembangunan.
Prima
Theresia
Pressindo.
Surakarta.
Markomah,
IS.
2009.
Peran
Penyuluh Pertanian dalam
Menumbuh
Kembangkan
Partisipasi Petani untuk
Menggunakan
Pupuk
Majemuk
di
Desa
Tegalmade
Kecamatan
Mojolaban
Kabupaten
Sukoharjo.
Skripsi.
Universitas Sebelas Maret.
Surakarta.
Revikasari, A. 2010. Peranan
Penyuluh Pertanian dalam
Pengembangan Gabungan
Kelompok Tani (Gapoktan)
di
Desa
Tempuran
Kecamatan
Paron
Kabupaten Ngawi. Skripsi.
Universitas Sebelas Maret.
Surakarta.
Soekartawi. 2010. Agribisnis Teori
dan Aplikasinya. PT Raja
Grafindo Persada. Jakarta.
Van,
DB.,
Hawkins.
1999.
Penyuluhan
Pertanian.
Kanisius. Yogyakarta.
Fly UP