...

59 DISTRIBUSI SPASIAL TERUMBU KARANG DI PERAIRAN

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

59 DISTRIBUSI SPASIAL TERUMBU KARANG DI PERAIRAN
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 7, No. 1, Hlm. 59-69, Juni 2015
DISTRIBUSI SPASIAL TERUMBU KARANG
DI PERAIRAN PULAU WANGI-WANGI, WAKATOBI
CORAL REEF SPATIAL DISTRIBUTION IN WANGI-WANGI ISLAND WATERS,
WAKATOBI
Yulius1*, Nadya Novianti2, Taslim Arifin1, Hadiwijaya L. Salim1, Muhammad Ramdhan1,
dan Dini Purbani1
1
Pusat Litbang Sumberdaya Laut dan Pesisir, Badan Litbang KP, KKP, Jakarta
*
E-mail: [email protected], [email protected]
2
Program Studi Ilmu Kelautan, FPIK, Universitas Padjadjaran, Jatinangor
ABSTRACT
Coral reefs contribute significant benefits in coastal area in Wangi-wangi Island, Wakatobi in terms of
their ecological functions to marine biota and socio-economical services to local coastal communities.
Therefore, it is importance to observe coral reef condition and its spatial distribution around Wangiwangi island waters, Wakatobi. In this study Point Intercept Transect (PIT) and GIS tools were used to
observe and analyze coral reef condition in Wangi-wangi island waters, Wakatobi. The results showed
that coral reef condition in Wangi-wangi island waters can be categorized into moderate and good
conditions with coverage percentage ranging from 28 – 60%. Based on spatial analysis non-acropora
coral was found in greater cover percentages in Waha village, Sombu village, and Kapota island than
other locations. Soft coral cover percentage was also found in larger cover percentage in Waha and
Sombu regions than other locations.
Keywords: coral reefs, geographic information system (GIS), Wangi-wangi Island
ABSTRAK
Terumbu karang mempunyai arti yang sangat penting oleh karena fungsi dan peranannya baik secara
ekologis, sosial, dan ekonomis bagi biota lain dan kehidupan masyarakat yang berdiam di wilayah
pesisir. Dengan demikian perlu mengetahui kondisi dan distribusi spasial tutupan terumbu karang di
perairan Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi. Pengamatan kondisi terumbu karang menggunakan metode
Point Intercept Transect (PIT) dan analisis distribusi spasial terumbu karang dilakukan dengan
menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG). Hasil penelitian menunjukkan kondisi terumbu karang
di perairan Pulau Wangi-Wangi masuk dalam kategori sedang hingga baik. Persentase tutupan
terumbu karang di lokasi pengamatan berkisar antara 28% – 60%. Berdasarkan hasil analisis secara
spasial, ternyata karang tersebar di lokasi Desa Waha, Desa Sombu, dan Pulau Kapota yang
memiliki persentase tutupan karang non-Acropora lebih besar dibandingkan lokasi lainnya. Pada
lokasi Desa Waha dan Desa Sombu juga dijumpai soft coral yang lebih banyak dibandingkan
dengan lokasi lainnya.
Kata kunci: terumbu karang, sistem informasi geografis, Pulau Wangi-wangi
I. PENDAHULUAN
Wakatobi adalah nama sebuah kepulauan dan kabupaten di wilayah Provinsi
Sulawesi Tenggara (Sultra). Wakatobi adalah
singkatan nama dari nama-nama pulau utama
yang membentuk kepulauan, yaitu: Pulau
Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Bino-
ngko. Ibu kota Kabupaten Wakatobi ada-lah
Wanci, terletak di Pulau Wangi-wangi. Kepulauan ini juga dikenal dengan sebutan
Kepulauan Tukang Besi terletak di pusat keanekaragaman hayati terumbu karang yang
dikenal sebagai Coral Triangle Initiative
(CTI) (Reef Check, 2007).
@Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia dan
Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB
59
Distribusi Spasial Terumbu Karang di Perairan Pulau Wangi-Wangi…
Kawasan ini juga telah ditetapkan se
bagai salah satu kawasan cagar biosfer dunia
melalui UNESCO. Ada tiga hal kepentingan
yang dilindungi dalam menetapkan kawasan
ini sebagai pusat cagar biosfer dunia, yaitu
kearifan lokal masyarakat, kelestarian lingkungan, dan kepentingan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan (Kompas, 2013).
Luas penutupan terumbu karang di
Indonesia diperkirakan sebesar 51.000 km2
atau sekitar 18% dari total luasan terumbu
karang dunia (Burke et al., 2002). Terumbu
karang merupakan salah satu ekosistem yang
mempunyai tingkat produktifitas paling tinggi di bumi yang didukung oleh kumpulan
biota-biota yang sangat beragam (Wu and
Zhang, 2012). Perairan di Kepulauan Wakatobi memiliki keanekaragaman terumbu karang dan jenis biota laut khususnya ikan
tertinggi di dunia (Supriatna, 2008 ). Perairan
ini mempunyai 25 gugusan terumbu karang
yang masih asli dengan terdapat 396 spesies
beraneka ragam bentuk, dari 599 spesies
karang dunia (Rangka dan Paena, 2012).
Wakatobi juga merupakan nama Kawasan
Taman Nasional Laut Wakatobi dengan luas
1.390.000 ha, ditetapkan sebagai taman nasional laut melalui Keputusan Menteri Kehutanan RI No. 393/Kpts-VI/1996 Keanekaragaman hayati laut, skala dan kondisi
karang merupakan prioritas tertinggi dalam
konservasi laut di Indonesia (Ayiful, 2004).
Terumbu karang yang tumbuh dan
juga berkembang secara maksimal di daerah
tropis, merupakan ekosistem yang sangat
komplek. Terumbu karang mempunyai arti
yang sangat penting oleh karena fungsi dan
peranannya baik secara ekologis, sosial, dan
ekonomis bagi biota lain dan kehidupan
masyarakat yang berdiam di wilayah pesisir
(Suharsono, 2007). Aktifitas manusia yang
berlangsung di darat akan mempengaruhi
ekosistem perairan disekitarnya khususnya
ekosistem terumbu karang. Menurut (Burke
et al., 2002), tekanan lingkungan akibat aktifitas di daratan tersebut, dapat menurunkan
keanekaragaman hayati di wilayah terumbu
karang sebesar 30-60%. Demikian juga de-
60
ngan kondisi terumbu karang di Kabupaten
Wakatobi yang tersebar pada kawasan sekitar
1,3 juta hektar, 22,88 persen tidak luput dari
pengaruh aktifitas manusia. Kerusakan terumbu karang di Wakatobi diakibatkan oleh
aktivitas penangkap ikan dengan cara-cara
yang tidak ramah lingkungan, seperti pemboman atau pembiusan dengan menggunakan
racun sianida. Umumnya kegiatan tersebut
dilakukan oleh nelayan dari luar pulau seperti
Kendari dan Sulawesi Selatan. Hanya beberapa penduduk lokal yang pernah melakukan
mengikuti nelayan dari luar (Hidayati, 2002).
Beberapa penelitian terumbu karang
di perairan Wakatobi sudah dilakukan
sebelumnya. Wilson et al. (2012), mendapati
rata-rata 65% karang terkena dampak pemutihan, namun mortalitasnya diperkirakan
kurang dari 5%. Genera karang yang rentan
terhadap pemutihan yang ditemukan antara
lain Pocillopora, Stylophora, Montipora berbentuk lembaran dan pada Acropora berbentuk karang meja dan bercabang. Karang
Otiolo yang terletak di ujung selatan taman
nasional, menderita pemutihan tertinggi pada
April 2010 dengan 70% karang terkena
dampaknya di rataan karang dalam. Karangkarang di Table Coral City yang didominasi
Acropora, spesies yang rentan, ditemukan
masih mengalami pemutihan pada September
2010 dengan 35% koloni tercatat berwarna
pucat.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi umum mengenai kondisi
dan distribusi spasial tutupan terumbu karang
di perairan Pulau Wangi-wangi, Wakatobi.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
dasar untuk pengelolaan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil berkelanjutan. Perencanaan
pembangunan di wilayah tersebut diharapkan
tidak membawa dampak yang lebih buruk
terhadap ekosistem perairan disekitarnya.
II. METODE PENELITIAN
2.1. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan dari tanggal
16 sampai 20 Mei 2013 di Pulau Wangi-
http://itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt71
Yulius et al.
wangi Kabupaten Wakatobi dengan posisi
geografis dari 5°14’13”sampai 5°33’48” LS
dan dari 123°27’14” hingga 123°39’7” BT
(Gambar 1).
Pemilihan lokasi pengambilan data
dilakukan di sembilan stasiun (Tabel 1). Titik
pengambilan stasiun ditetapkan berdasarkan
peta rencana tata ruang wilayah kawasan
pengembangan pariwisata pada pulau
Wangi-wangi.
laut lembar 317 ”Pulau-pulau Wakatobi”
skala 1 : 200.000 (Dishidros, 2001). Untuk
orientasi di lapangan, peralatan Scuba Diving
untuk penyelaman, Global Positioning System (GPS) untuk menentukan posisi stasiun
penelitian, kamera bawah air untuk dokumentasi bawah air, roll meter untuk transek
karang, kode pencatatan karang untuk identifikasi struktur terumbu karang, sabak dan
pensil untuk alat tulis bawah air.
2.2. Data dan Alat Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra landsat 8 tanggal pengambilan 28 Juni 2014 resolusi 30x30 m2, peta
2.3. Metode Pengamatan Kondisi Terumbu Karang
Pengamatan terumbu karang dengan
menggunakan metode Point Intercept Tran-
Tabel 1. Posisi geografis stasiun penelitian.
Stasiun Pengamatan
Stasiun 1
Stasiun 2
Stasiun 3
Stasiun 4
Stasiun 5
Stasiun 6
Stasiun 7
Stasiun 8
Stasiun 9
Lokasi
Patuno
Longa
Waha
Sombu
Kapota 1
Kapota 2
Kolo
Matahora 1
Matahora 2
Posisi Geografis
5° 15' 18" S 123° 36' 07" E
5° 15' 65" S 123° 37' 03" E
5° 14' 26" S 123° 31' 39" E
5° 16' 44" S 123° 30' 43" E
5° 20' 01" S 123° 30' 03" E
5° 20' 14" S 123° 30' 24" E
5° 20' 57" S 123° 32' 15" E
5° 18' 43" S 123° 39' 0" E
5° 20' 15" S 123° 38' 54" E
Gambar 1. Peta lokasi penelitian.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 7, No. 1, Juni 2015
61
Distribusi Spasial Terumbu Karang di Perairan Pulau Wangi-Wangi…
sect (PIT). Metode PIT merupakan salah satu
metode yang dikembangkan untuk memantau
kondisi karang hidup dan biota pendukung
lainnya di suatu lokasi terumbu karang. Dengan metode ini pencatatan dapat dilakukan
dengan cepat. Hasil dari Metode PIT juga dapat menggambarkan struktur komunitas karang dengan menghitung persen tutupan (%
cover) substrat dasar secara acak, dengan
menggunakan tali bertanda atau dengan roll
meter di setiap jarak 0,5 meter dengan membentangkan alat transek sepanjang 50 meter
(Gambar 2).
Pada metode PIT diperlukan sekurangnya dua orang penyelam dimana penyelam yang pertama bertugas membentangkan roll meter sepanjang 50 m sedangkan
penyelam yang kedua mengamati dan mencatat kondisi terumbu karang. Pemasangan
transek yaitu sejajar dengan garis pantai pada
kedalaman 5-9 m berdasarkan keberadaan
terumbu karang. Hasil pengamatan terumbu
karang dicatat berdasarkan kode pencatatan
yang lazim dilakukan dalam penelitian
terumbu karang (Tabel 2).
2.4. Analisi Data Satelit
Analisis distribusi spasial terumbu
karang dilakukan dengan menggunakan Sis-
tem Informasi Geografi (SIG), yaitu sistem
informasi spasial berbasis komputer dengan
melibatkan perangkat lunak Arc GIS 9.3 dan
ER.Mapper 7.0 (Yulius, 2009). Data yang
digunakan adalah citra satelit Landsat 8 tanggal pengambilan 6 Oktober 2013, dengan resolusi spasial 30 meter. Klasifikasi terumbu
karang diperoleh dengan menggunakan algoritma Lyzenga (1978) untuk mengkoreksi
kolom air. Selanjutnya citra Landsat tersebut
di klasifikasikan menjadi 7 kelas menggunakan metoda klasifikasi tak terawasi.
2.4.1. Koreksi Kolom Air
Algoritma Lyzenga bertujuan untuk
mendapatkan yaitu citra baru dengan cara
menggabungkan dua kanal tampak (TM1
dan TM2) yang mampu penetrasi ke dalam
tubuh air hingga pada kedalaman tertentu,
sehingga digunakan untuk mengidentifikasi
obyek-obyek yang ada di dasar perairan. Sebaran terumbu karang di sekitar pada Pulau
Wangi-Wangi ditajamkan dengan menggunakan koreksi kolom air (depth in variant
index) yang menggunakan algoritma Ly
zenga (1978). Langkah awal dilakukan penajaman citra Landsat untuk dasar perairan
menggunakan persamaan:
Gambar 2. Cara pencatatan data koloni karang (Manuputty, 2009).
62
http://itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt71
Yulius et al.
Tabel 2. Kode pencatatan pengamatan terumbu karang (Manuputty dan Djuwariah, 2009).
Kode
Kategori Biota
AC
NA
DC
Acropora
Non-Acropora
Death Coral
DCA
Death Coral Algae
SC
Soft Coral
FS
Fleshy Seaweed
R
RK
S
SI
Rubble
Rock
Sand
Silk
Y  ln TM1 
ki
kj
Keterangan
Karang Acropora
Karang Non-Acropora
Karang mati masih berwarna putih
Karang mati yang warnanya berubah karena
ditumbuhi alga filament
Jenis-jenis karang lunak
Jenis-jenis makro alga: Sargassum, Turbinaria,
Halimeda dll.
Patahan karang bercabang (mati)
Substrat dasar yang keras (cadas)
Pasir
Pasir lumpuran yang halus
* ln TM 2 ……………. (1)
dimana, keterangan: TM1= kanal band 2,
k
TM2=kjanal band 3, i = ratio koefisien
kj
atenuasi yang diperoleh dari a  a 2  1 ,
dan nilai a diperoleh dari persamaan berikut:
a
var TM1  var TM 2
……………….. (2)
2 * (covarTM1TM 2 )
2.4.2. Klasifikasi Citra
Klasifikasi citra dilakukan terhadap
citra hasil penajaman dengan koreksi kolom
air. Hasil klasifikasi, selanjutnya dilakukan
validasi dengan menggunakan data lapangan
(ground truth) yang lokasinya seperti terlihat
pada Gambar 1.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Persentase Luasan Tutupan Terumbu
Karang Hidup
Terumbu karang hidup di perairan
Pulau Wangi-Wangi dengan tutupan berkisar
antara 28%-60%. Dengan persentase tersebut
terumbu karang hidup di lokasi tersebut
dikategorikan dalam kondisi sedang hingga
baik. (Gambar 3). Berdasarkan zonasi Taman
Nasional Wakatobi, stasiun 1, 2, 5, 6, 7, 8,
dan 9 berada pada Zona Pemanfataan Lokal,
sedangkan stasiun 3 dan 4 berada di Zona
Pariwisata.
Pada stasiun 1, 2, 8, dan 9 terumbu
karangnya memiliki kesamaan yaitu tutupan
terumbu karang Abiotic lebih besar dibandingkan dengan Hard Coral. Tingginya tutupan Abiotic diakibatkan oleh aktivitas manusia seperti penangkapan ikan secara ilegal
dengan menggunakan bom (yang terjadi pada
tahun 2000). Umumnya kegiatan ini dilakukan oleh nelayan dari luar pulau seperti Kendari dan Sulawesi Selatan. Hanya beberapa
penduduk lokal yang pernah melakukan,
mengikuti nelayan dari luar (Hidayati, 2002).
Stasiun 6 dan stasiun 7 memiliki jarak
yang tidak begitu jauh, namun pada kedua
stasiun ini memiliki karakteristik yang
berbeda. Pada stasiun 6 memiliki tutupan
karang hidup sebesar 60%, sedangkan pada
stasiun 7 hanya memiliki tutupan karang
30%. Rendahnya tutupan karang hidup pada
stasiun ini diduga oleh akibat perubahan suhu
yang sangat ekstrim pada stasiun 7 dilihat
dari kondisi perairan pada stasiun ini men-
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 7, No. 1, Juni 2015
63
Distribusi Spasial Terumbu Karang di Perairan Pulau Wangi-Wangi…
Gambar 3. Persentase tutupan substrat dasar.
capai 34,32°C (Tabel 3). Perubahan suhu
secara mendadak dapat menyebabkan karang
mengalami stress dan mengeluarkan lendir
yang juga dapat menyebabkan karang mati
(Rustam, 2014). Selain itu adanya keberadaan mangrove dan pemukiman penduduk
dapat berdampak negative terhadap kondisi
karang. Ketika terjadi pasang air menggenangi mangrove kemudian pada saat surut
massa air tersebut membawa unsur nitrat ke
perairan. Hal ini dapat memicu terjadi pertumbuhan makro alga dengan begitu cepat
(Pratomo, 2012). Pada ekosistem terumbu
karang, pertumbuhan terumbu karang dapat
terganggu dengan tumbuhnya makroalga di
sekitar terumbu. Makroalga merupakan biota
yang sangat penting pada ekosistem terumbu
karang. Sebagai produsen primer, makroalga
menambah daya dukung ekosistem terumbu
karang, namun kemampuannya untuk tumbuh secara cepat dapat berdampak negatif
terhadap komunitas karang yang tumbuhnya
lambat. Jika pertumbuhan makroalga tidak
64
dikendalikan maka komunitas makroalga
akan segera mendominasi terumbu karang
(Bachtiar, 2008).
Kondisi terumbu karang akhir-akhir
ini sangat rentan terhadap gangguan perubahan lingkungan perairan. Perubahan kualitas
perairan akan mempengaruhi kondisi pada
terumbu karang disekitarnya (Siringoringo
dan Hadi, 2013). Kondisi terumbu karang
yang baik harus di dukung oleh kondisi
perairan yang baik pula. Kualitas perairan
yang baik dapat membuat terumbu karang
tumbuh dan berkembang secara optimal.
Hasil pengukuran kualitas air (Tabel
3) diperoleh yakni suhu, salinitas, kecerahan
dan kecepatan arus. Menurut pendapat Nybakken (1992) menyatakan terumbu karang
dapat mentoleransi suhu permukaan laut antara 36-40°C. Adapun menurut Kordi (2010)
menyatakan suhu yang dibutuhkan untuk
pembentukan terumbu karang adalah 2530°C. Berdasarkan hasil pengukuran menunjukkan suhu perairan di Pulau Wangi-
http://itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt71
Yulius et al.
Tabel 3. Kualitas perairan di lokasi penelitian.
Parameter
Suhu (°C)
Salinitas (ppt)
Kecerahan (%)
Kecepatan arus
permukaan (ms-1)
St. 1
30,23
30,57
100
0,90
Stasiun Pengamatan
St. 2 St. 3 St. 4 St. 5 St. 6 St. 7 St. 8 St. 9
29,33 30,03 29,51 29,9 30,83 34,32 29,97 30,07
30,47 30,43 30,43 30,23 30,43 30,47 30,27 30,42
100
100
100
100
100
100
100
100
0
1,00
Wangi berkisar antara 29,33-34,32°C dengan
rata-rata 30,589±1,23°C (Rustam, 2014).
Suhu perairan merupakan suhu alami yang
terukur secara in situ pada saat penelitian.
Berdasarkan Kepmenneg LH no 51 tahun
2004, suhu perairan yang baik untuk daerah
daerah terumbu karang adalah berkisar 2830°C. Kisaran suhu pada tahun 2012 di
perairan daerah penelitian berkisar antara
29,42-30,2°C (Rangka dan Paena, 2012).
Hasil pengukuran secara in situ yang
merupakan suhu alami terlihat lebih tinggi
untuk daerah terumbu karang dibandingkan
dengan suhu yang tercantum dalam Kepmenneg LH No. 51 tahun 2004 dan
penelitian Rangka dan Paena, 2012. Hal ini
dapat disebabkan kisaran waktu pengukuran
pada waktu siang hari yang cerah pada
lapisan permukaan air. Suhu air laut yang
naik dapat menyebabkan pemutihan karang
yang dekat dengan permukaan (coral
bleaching).
Hasil pengukuran salinitas pada setiap stasiun tidak menunjukkan nilai yang
berbeda yaitu ±30 ppt. Menurut pendapat
Kordi (2010), salinitas yang sesuai untuk
pertumbuhan karang adalah 27-35 ppt.
Kecerahan pada seluruh stasiun mencapai
100%, pada saat pengambilan data sedang
berlangsung musim peralihan satu dengan
adanya pengaruh angin musim timur, dimana
kecepatan arus permukaan berkisar antara 01,50 m s-1 sehingga hal tersebut sangat baik
untuk Zooxanthellae melakukan fotosintesis.
Kecepatan arus tertinggi (1,50 m s-1) dijumpai pada stasiun 4 (Sombu). Kecepatan arus
berpengaruh baik secara langsung maupun
1,50
0
0
0,70
0,70
0
tidak langsung bagi pertumbuhan karang karena kekuatan arus berkaitan distribusi oksigen dan unsur hara serta untuk mengurangi
laju pengendapan.
3.2. Distribusi Spasial Terumbu Karang
Hasil analisis secara spasial, menunjukkan bahwa distribusi spasial karang
tersebar di stasiun 3, 4, dan 6 yang memiliki
persentase tutupan karang non-Acropora lebih besar jika dibandingkan stasiun lainnya.
Pada stasiun 3 dan 4 juga dijumpai Soft
Coral yang lebih banyak dibandingkan dengan stasiun lainnya, seperti ditunjukan pada
Gambar 5. Melimpahnya persentase karang
lunak pada kedua stasiun ini menjadikan
kedua tempat ini menjadi kawasan wisata
bahari. Persentase tutupan karang tertinggi
berada pada stasiun 3 (Waha) dan stasiun 6
(Kapota 2) yaitu 60%, sedangkan persentase
tutupan karang terendah berada pada stasiun
8 (Matahora 1) yaitu 28%, seperti terlihat
pada Gambar 4. Tutupan karang di stasiun
1,2,5, dan 8 memiliki persentase karang nonAcropora lebih besar dibandingkan dengan
persentase karang Acropora. Struktur karang
Acropora yang mudah untuk patah akibat
pemboman yang dilakukan nelayan setempat,
menyebabkan banyaknya pecahan karang
pada stasiun ini, seperti dapat terlihat pada
Gambar 6.
Tingginya nilai non-Acropora karena
karang tersebut strukturnya lebih kuat terhadap tekanan alami maupun yang disebabkan oleh manusia seperti pada karang nonAcropora jenis Massive dan Submassive.
Berbeda dengan stasiun 9 yang memiliki
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 7, No. 1, Juni 2015
65
Distribusi Spasial Terumbu Karang di Perairan Pulau Wangi-Wangi…
Gambar 4. Peta sebaran persentase karang di Pulau Wangi-wangi.
tutupan Acropora lebih besar dibandingkan
dengan persentase tutupan karang nonAcropora dikarenakan di stasiun ini kondisi
lingkungan perairan seperti kedalaman, ketersediaan cahaya, kuat arus, dan gelombang
masih cukup baik. Koloni yang lebih muda
dan kecil cenderung lebih cepat untuk
tumbuh jika dibandingkan dengan kolonikoloni yang lebih tua, koloni yang bercabang
juga lebih cepat tumbuh daripada karang
massive (Nybakken, 1992).
Gambar 6. Kondisi terumbu karang di Pulau Wangi-wangi.
66
http://itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt71
Yulius et al.
Gambar 7. Peta sebaran terumbu karang di sekitar Pulau Wangi-wangi.
Menurut Adi (2006) analisis citra
satelit dapat digunakan untuk mengetahui
status kondisi terumbu karang dan perubahannya. Metode Algoritma Lyzenga dapat
dibandingkan dengan data in situ asalkan
menggunakan parameter yang sama, yaitu
presentase tutupan karang (Adi, 2006). Klasifikasi terumbu karang di wilayah penelitian
berdasarkan analisis Algoritma Lyzenga diperoleh bahwa untuk sebaran persentase
tutupan karang di wilayah penelitian terbagi
kedalam 6 (enam) kelas, yaitu; (1) pasir, (2)
terumbu karang 1, (3) terumbu karang 2, (4)
terumbu karang 3, (5) karang mati, dan (6)
kekeruhan, seperti terlihat pada Gambar 7.
Distribusi spasial lokasi penelitian
seperti gambar 7 diduga antara lain disebabkan beberapa faktor, yaitu; (1) adanya perbedaan dalam metode transek yang digunakan untuk analisis citra adalah metode transek yang didesain khusus untuk verifikasi
hasil klasifikasi citra, (2) adanya perbedaan
pada sistem klasifikasi yang digunakan,
penelitian ini menggunakan 6 kelas, (3) adanya perbedaan cakupan studi, (4) keterbatas-
an resolusi spasial dan spektral, (5) adanya
gangguan awan pada wilayah tropis, (6)
koreksi atmosfer yang ideal cukup kompleks
yang membutuhkan parameter-parameter cuaca yang tidak selalu tersedia dan (7) adanya
kesulitan interpretasi baik secara visual maupun digital jika ada gangguan pada kejernihan kolom air.
IV. KESIMPULAN
Kondisi terumbu karang di perairan
Pulau Wangi-wangi termasuk dalam kategori sedang hingga baik. Distribusi terumbu
karang di Desa Waha, Desa Sombu, dan Pulau Kapota (stasiun 3, 4, dan 6) memiliki
persentase tutupan karang non-Acropora lebih besar besar dibandingkan persentase yang
lainnya. Pada Desa Waha dan Desa Sombu
juga dijumpai Soft Coral yang banyak dibandingkan dengan stasiun lainnya. Persentase tutupan karang tertinggi berada pada
Desa Waha dan Pulau Kapotan yaitu 60%,
sedangkan persentase tutupan karang terendah berada pada Bandara Matahora (staisun
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 7, No. 1, Juni 2015
67
Distribusi Spasial Terumbu Karang di Perairan Pulau Wangi-Wangi…
8) yaitu 28%.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih kepada Pusat
Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya
Laut dan Pesisir, Balitbang Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan
atas bantuan dana untuk menyelesaikan penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Loka Perekayasaan Teknologi
Kelautan Wakatobi, P3TKP atas bantuan
sarana dan prasarana sehingga penelitian ini
dapat terlaksana dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Adi, N.S. 2006. Studi perubahan kondisi
terumbu karang menggunakan data
citra satelit Landsat. J. Segara, 2(1):
28-36.
Anonim. 2010. Kabupaten Wakatobi dalam
angka tahun 2010. Badan Pusat
Statistik (BPS). Wanci. 15hlm.
Ayiful, R.A. 2004. Strategi pengembangan
kegiatan pariwisata di Taman Nasional Kepulauan Wakatobi Sulawesi
Tenggara. Skripsi. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota. FT-UNDIP.
Semarang. 64hlm.
Bachtiar, I. 2008. Herbivori dalam pengelolaan terumbu karang. Pusat Penelitian
Pesisir dan Laut, Universitas Mataram.
http://mycoralreef.wordpress.
com/2008/12/20/herbivoridalam-pengelolaan-terumbu-karang/. [Diakses
21 Februari 2013].
Balai Taman Nasional Wakatobi. 2011.
Informasi Taman Nasional Wakatobi.
http://www.dephut.go.id/files/Wakato
bi.pdf. [Diakses 11 Maret 2011].
Burke, L., E. Selig, and M. Spalding. 2002.
Reef at risk in Southeast Asia. World
Resource Institute. 72p.
Dinas Hidro-Oseanografi TNI-AL (Dishidros). 2001. Peta lembar 317 ”Pulaupulau Wakatobi” skala 1 : 200.000.
68
Dinas Hidro-Oseanografi TNI-AL,
Jakarta. 1hlm.
Haris, A., S. Yusuf, dan H. Fuadi. 2010.
Distribusi spasial karang lunak Sinularia Flexibilis di perairan Pulaupulau Selayar. J. Ilmu Kelautan, 1(1):
119-130.
Hidayati, D. 2002. Data dasar aspek sosial
terumbu karang Indonesia (studi
kasus: desa Mola Utara, Kecamatan
Wangi-wangi, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara). COREMAP-LIPI.
Jakarta. 96hlm.
Kordi, K.M.G.H. 2010. Ekosistem terumbu
karang. Rineka Cipta. Jakarta. 212
hlm.
Lyzenga. 1978. Passive remote sensing techniques for mapping water depth and
bottom features. Applied Optics J.,
17(3):379-383.
Kompas. 2013.Wakatobi jadi cagar biosfer
dunia. http://www.sains.kompas.com/
[Diakses tanggal 24 Januari 2013].
Manuputty, A.E.W. dan Djuwariah. 2009.
Point intercept transect untuk masyarakat. Jakarta. COREMAP II – LIPI.
Jakarta. 32hlm.
Nybakken, J.W. 1992. Biologi laut: suatu
pendekatan ekologis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 459hlm.
Pratomo, A.F. 2012. Pengaruh sedimentasi
terhadap kondisi terumbu karang di
perairan pulau Abang Kota Batam.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelauatan, Universitas Padjadjaran. 12hlm.
Rangka, N.A. dan M. Paena. 2012. Potensi
dan kesesuaian lahan budidaya rumput laut (Kappaphycus Alvarezii) di
sekitar perairan Kab. Wakatobi Prov.
Sulawesi Tenggara. J. Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 4(2):151-159.
Reef Check Indonesia. 2007. Satu dekade
pemantauan reef check: kondisi dan
kecenderungan pada terumbu karang
Indonesia. www.reefcheck.or.id. [Diakses 1 April 2013].
Rustam, A., Yulius, M. Ramdhan, H.L. Salim, D. Purbani, dan T. Arifin. 2014.
http://itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt71
Yulius et al.
Analisis kualitas perairan kaitannya
dengan keberlanjutan ekosistem untuk kawasan budidaya perikanan di
kawasan pulau Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, Dalam: Prosiding
PIT ISOI-X, Ikatan sarjana oseanologi Indonesia. Jakarta. Hlm.:91-104.
Siringoringo, R.M. dan T.A. Hadi. 2013.
Kondisi dan distribusi karang batu
(scleractinia coral) di perairan Bangka. J. Ilmu dan Teknologi Kelautan
Tropis, 5(2):273-285.
Suharsono. 2007. Pengolaan terumbu karang
di Indonesia. Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI, Jakarta. 110hlm.
Supriatna, J. 2008. Melestarikan Alam Indonesia. Yayasan Obor Indonesia.
Jakarta. 482hlm.
Taman Nasional Wakatobi. 2013. Informasi
Taman Nasional Wakatobi. www.wakatobinationalpark.com. [Diakses 1
April 2013].
Yulius. 2009. Kajian pendahuluan pengembangan wisata pantai kategori rekreasi
di Teluk Bungus Kota Padang,
Provinsi Sumatera Barat. J. Segara,
5(1):15-23.
Wu, S.H. and W.J. Zhang. 2012. Current
status, crisis and conservation of coral
reef ecosystem in China. In: Proceedings of the international academy of
ecology and environmental sciences.
Hongkong. March 2012. 1-11pp.
Wilson, J.R., R.L. Ardiwijaya, dan R. Prasetia. 2012. Studi dampak pemutihan
karang tahun 2010 terhadap Komunitas karang di Taman Nasional
Wakatobi. The Nature Conservancy,
Divisi Indo-Pasifik, Indonesia. 25hlm.
Diterima
Direview
Disetujui
: 11 Juli 2014
: 27 Oktober 2014
: 3 Juni 2015
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 7, No. 1, Juni 2015
69
70
Fly UP