...

Pen Bivalvia Krakal

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Pen Bivalvia Krakal
STRUKTUR KOMUNITAS BIVALVIA
DI DAERAH INTERTIDAL PANTAI KRAKAL YOGYAKARTA
Satino, dkk
I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pantai Krakal merupakan salah satu pantai di wilayah Kabupaten Guning
Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki potensi keanekaragaman hayati
sangat besar. Wilayah ini meliputi bentangan yang cukup luas dan merupakan pantai
berbatu dengan tingkat kemiringan rendah. Kondisi ini menyebabkan Pantai Krakal
menjadi tempat tujuan wisata yang sangat diminati oleh berbagai kalangan.
Sebagai ekosistem pantai berbatu, Pantai Krakal memiliki ciri khas dengan
komunitas flora dan fauna karang. Pada saat air laut surut sebagian kawasan pantai ini
akan merupakan wilayah terbuka (tidak terendam air) dan menjadi wilayah yang sangat
menarik untuk perburuan maupun kepentingan lainnya. Berbagai komunitas biota yang
dapat ditemukan di Pantai Krakal saat ini antara lain adalah Komunitas Algae (rumput
laut), Bivalvia, Terumbu karang, Ikan hias karang dan berbagai organisme invertebrata
lainnya.
Sebagai daerah tujuan wisata, Kekayaan flora dan fauna Pantai Krakal dari
tahun-ketahun terus mengalami tekanan yang sangat signifikan. Pengambilan organisme
intertidal dilakukan oleh wisatawan dan masyarakat sekitar Pantai Krakal secara terus
menerus sepanjang tahun, menjadi salah satu faktor penyebab menurunnya potensi
hayati yang dimiliki. Hal ini dapat dilihat dari menurunnya living cover rumput laut,
terumbu karang dan berubahnya struktur komunitas berbagai organisme invertebrata
lainya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama kondisi ini akan merubah tingkat
1
keseimbangan ekosistem yang pada akhirnya akan menurunkan dan merusak potensi
hayati.
Pantai Krakal, khususnya zona intertidal merupakan daerah yang paling
mudah dan paling banyak berinteraksi dengan aktivitas manusia, karena daerah ini
merupakan wilayah peralihan antara ekosistem perairan dengan ekosistem daratan.
Wilayah ini akan terendam air laut pada waktu air pasang dan akan menjadi daerah
terbuka pada saat air laut surut. Kondisi ini menjadikan pantai Krakal sebagai tempat
yang paling mudah untuk dieksploitasi. Selain itu, daerah intertidal juga merupakan
wilayah laut yang paling besar memperoleh tekanan baik secara fisik maupun kimia.
Bivalvia merupakan salah satu kelompok organisme invertebrata yang banyak
ditemukan dan hidup di daerah intertidal. Hewan ini memiliki adaptasi khusus yang
memungkinkan dapat bertahan hidup pada daerah yang memperoleh tekanan fisik dan
kimia seperti terjadi pada daerah intertidal. Organisme ini juga memiliki adaptasi untuk
bertahan terhadap arus dan gelombang. Namun, bivalvia tidak memiliki kemampuan
untuk berpindah tempat secara cepat (motil), sehingga menjadi organisme yang sangat
mudah untuk ditangkap (dipanen).
Berdasar dari faktor faktor tersebut di atas maka dirasa perlu untuk meneliti
struktur komunitas Bivalvia di daerah intertidal khususnya di pantai krakal. Data
penelitian ini akan sangat diperlukan untuk memonitor perubahan komunitas bivalvia di
pantai krakal terutama akibat tekanan dan eksploitasi wisatawan dan masyarakat sekitar,
sehingga dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk menentukan kebijakan
pengelolaan selanjutnya.
2
B. Permasalahan
1. Bagaimanakah struktur komunitas bivalvia yang meliputi komposisi jenis,
densitas, indeks (dominansi, keanekaragaman, dan pemerataan) di daerah
intertidal pantai Krakal Wonosari Gunung Kidul Yogyakarta
2. Bagaimanakah pola distribusi bivalvia di daerah intertidal pantai Krakal
Gunung Kidul Yogyakarta
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui struktur komunitas bivalvia yang meliputi komposisi jenis,
densitas, indeks (dominansi, keanekaragaman, dan pemerataan) di daerah
intertidal pantai Krakal Gunung Kidul Yogyakarta
2. Untuk mengetahui pola distribusi bivalvia di daerah intertidal pantai Krakal
Gunung Kidul Yogyakarta
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai informasi dasar
untuk memonitor secara berkelanjutan komunitas bivalvia di pantai Krakal sehingga
dapat dipergunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam pengelolaan pantai Krakal
secara lestari dan berkelanjutan.
3
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Intertidal
Intertidal merupakan wilayah peralihan antara ekosistem laut dan ekosistem
daratan (terestrial). Sebagai wilayah peralihan, maka intertidal merupakan wilayah yang
sangat menekan baik bagi organisme terestrial maupun organisme laut. Hanya
organisme yang memiliki kemampuan adaptasi terhadap tekanan akibat perubahan fisik
dan kimia lingkungan intertidal yang dapat menghuni wilayah ini (Sumich, 1999;
Nybakken, 1992; Dahuri, dkk, 2001)
Wilayah intertidal secara periodik akan mengalami perubahan mendasar sebagai
sebuah ekosistem peralihan. Aktivitas pasang air laut yang periodik berlangsung dua
kali dalam sehari semalam, menyebabkan daerah intertidal juga mengalami perubahan
sebanyak dua kali dalam sehari semalam sebagai ekosistem daratan dan juga lautan.
Aktivitas pasang air laut yang terjadi pada siang yang terik menyebabkan intertidal
menjadi wilayah daratan yang terbuka dan panas atau sebaliknya aktivitas pasang yang
terjadi pada saat turun hujan deras menyebabkan intertidal menjadi wilayah laut dengan
kadar salinitas yang rendah karena bercampurnya air hujan. Tekanan-tekanan fisik di
atas secara langsung akan menyebabkan perubahan pada parameter kimia intertidal, dan
hanya organisme dengan adaptasi tertentu yang mampu hidup di daearah intertidal ini.
B. Struktur Komunitas
Komunitas adalah kumpulan dari populasi-populasi yang terdiri dari species
berbeda yang menempati daerah tertentu. Menurut Odum (1994), komunitas dapat
diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau sifat struktur utama seperti species dominan,
bentuk-bentuk hidup atau indikator-indikator, habitat fisik dari komunitas, dan sifatsifat atau tanda-tanda fungsional.
4
Komunitas menurut dapat dikaji berdasarkan klasifikasi sifat-sifat struktural
(struktur komunitas). Struktur komunitas dapat dipelajari melalui komposisi, ukuran dan
keanekaragaman species. Struktur komunitas juga terkait erat dengan kondisi habitat.
Perubahan pada habitat akan berpengaruh terhadap struktur komunitas, karena
perubahan habitat akan berpengaruh pada tingkat species sebagai komponen terkecil
penyusun populasi yang membentuk komunitas.
C. Bivalvia
Bivalvia merupakan salah satu dari lima anggauta dari Fillum Molusca yang
memiliki nilai ekonomis. Menurut Ponder (1998), bivalvia (pelecypoda) terdiri dari
clams, mussels, oyster dan scallops. Sejumlah dari mereka merupakan kerang-kerangan
komersial yang penting.
Bivalvia mempunyai dua keping cangkang yang setangkup. Diperkirakan
terdapat sekitar 1000 jenis yang hidup di perairan Indonesia. Mereka menetap di dasar
laut, membenam di dalam pasir, lumpur maupun menempel pada batu karang. Bivalvia
melekatkan diri pada seubstrat dengan menggunakan byssus yang berupa benangbenang yang sangat kuat. Cangkang bivalvia berfungsi untuk melindungi diri dari
lingkungan dan predator serta sebagai tempat melekatnya otot. Cangkang bivalvia
merupakan engsel secara dorsal dan terbuka di sekitar katup margin ketika terbuka
(Meglitsch, 1972)
Bivalvia bernafas dengan menggunakan insang yang terdapat dalam rongga
mantel dan memperoleh makanan dengan menyaring partikel-partikel yang terdapat
dalam air. Dari semua anggauta Mollusca, bivalvia lebih dikategorikan sebagai deposit
feeder ataupun suspension feeder (Stanley, 1970 dalam Peterson & Wells, 1998)
5
III. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan September – Nopember 2003. Tempat
penelitian di daerah intertidal Pantai Krakal Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta.
Pengambilan sampel dilakukan pada saat pasang purnama dengan membagi daerah
penelitian menjadi 7 transek, dengan jarak masing-masing transek 100 meter. Masingmasing transek dibagi menjadi beberapa plot. Luas plot 2 m 2 dan jarak masing-masing
plot sejauh 2 m, dengan jumlah plot disesuaikan dengan kondisi pasang air laut.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Peralatan yang dipergunakan terdiri dari: Pipa paralon, tali plastik, botol sampel,
kaos tangan, tali meteran, ember plastik, hand refraktometer, pipet tetes dan buku
identifikasi bivalvia.
2. Bahan
Bahan-bahan yang dipergunakan dalam penelitian adalah formalin 4% untuk
mengawetkan sampel bivalvia.
C. Cara Kerja
Data species bivalvia dan parameter fisiko-kimia intertidal diperoleh dengan
cara sebagai berikut:
1.
Bivalvia
Pengambilan sampel bivalvia dilakukan pada masing-masing plot pada tiap-tiap
transek. Jumlah individu pada masing-masing species tiap plot dalam transek dihitung
dan species yang belum teridentivikasi diberi label dan di bawa ke Laboratorium untuk
dilakukan identifikasi
6
2.
Pengukuran parameter fisika dan kimia intertidal
Pengukuran parameter fisika dan kimia intertidal dilakukan dengan ulangan tiga kali.
Parameter yang diukur adalah salinitas, dan intensitas cahaya matahari.
a. Salinitas
Pengukuran salinitas dilakukan dengan menggunakan refraktometer type S-50.
b. Fosfat, Kalsium dan nitrogen dilakukan di Laboratorium Teknologi Pertanian
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Pengukuran salinitas air laut dilakukan setiap pengambilan sampel dengan
masing-masing pengukuran diulang 3 kali. Pengukuran kadar Fosfat, kalsium, dan
nitrogen dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada awal dan akhir penelitian.
D. Analisis Data
1. Densitas bivalvia
D =
ni
V
ni = Cacah individu jenis i
V = Luas/volume ruang yang ditempati
(Ludwiq & Reynold, 1988)
2. Indeks keanekaragaman
Keanekaragaman
bivalvia
dihitung
dengan
menggunakan
indeks
keanekaragaman dari Shannon dan Wiener (1963) dalam Odum 1994) dengan
rumus :
H' = - (  pi ln pi )
Keterangan :
H' = Indeks keanekaragaman jenis
Pi = Probabilitas penting untuk tiap species = ni/N
ni = Jumlah individu dari masing-masing species
N = Jumlah seluruh individu
7
Angka indeks keanekaragaman tersebut selanjutnya dinilai berdasarkan
klasifikasi menurut Krebs (Barus, 2002) sebagai berikut:
Tabel 3.1. Klasifikasi nilai indeks keanekaragaman (H')
Nilai H'
Klasifikasi keanekaragaman
Rendah
0 < H' < 2,302
Sedang
2,302 < H' < 6,907
Tinggi
H' > 6,907
3.
Indeks dominansi
Indeks dominansi menggambarkan komposisi species dalam komunitas.
Indeks dominansi dihitung menurut indeks Simpson
C=(
ni
N
)2
C = Indeks dominansi
N = Total individu komunitas
4.
(Krebs, 1978)
Indeks pemerataan
Indeks ini menggambarkan penyebaran individu-individu di antara jenis
e =
H'
ln S
e = Indeks pemerataan
H' = Indeks diversitas Shannon-Wiener
S = Jumlah semua jenis
(Krebs, 1978; Odum 1995)
8
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian yang dilakukan terhadap struktur komunitas bivalvia selama
bulan September – Nopember 2003 di pantai Krakal Gunungkidul Daerah Istimewa
Yogyakarta diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.1. Densitas dan frekuensi bivalvia yang ditemukan di pantai Krakal pada bulan
September – Nopember 2003
No
Species
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Atrina vexillum
Acrosterigma rugosa
Cardita calyculata
Fimbria sowerbyi
Periglypta purpurea
Mytilus sp
Barbatia fusca
Pinna muricata
Septifer bilocularis
Tridacna sp
Total
Densitas
(10-3)
17,857
10,417
5,952
8,929
2,976
6119,048
4040,179
40,179
927,083
1,488
11174,108
DR
0,160
0,093
0,053
0,080
0,027
54,761
36,157
0,359
8,297
0,013
100
Frekuensi
0,571
0,429
0,286
0,286
0,286
0,857
0,714
0,571
0,714
0,143
4,857
FR
11,756
8,833
5,888
5,888
5,888
17,645
14,700
11,756
14,700
2,944
99,998
Tabel 4.2. Index diversitas, Index dominansi dan Index pemerataan bivalvia yang
ditemukan di pantai Krakal pada bulan September – Nopember 2003
No
Species
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Atrina vexillum
Acrosterigma rugosa
Cardita calyculata
Fimbria sowerbyi
Periglypta purpurea
Mytilus sp
Barbatia fusca
Pinna muricata
Septifer bilocularis
Tridacna sp
Index
diversitas
(H')
0,0102895
0,0065049
0,0040153
0,0056988
0,0021919
0,3297663
0,3678250
0,0202367
0,2065307
0,0011886
0,9542477
Index
Dominansi
dominansi
Relatif
-3
(10 )
0,002554
0,000584
0,000869
0,000199
0,000284
0,000065
0,000638
0,000149
0,000071
0,000016
299,876712 68,542062
130,729972 29,880619
0,012929
0,002955
6,883523
1,573349
0,000018
0,000004
99.997047
Index
Pemerataan
0,001153
0,000729
0,000449
0,000639
0,000246
0,036953
0,041218
0,002314
0,023143
0,000133
0,106977
9
A. Komposisi Jenis dan Densitas
Daerah intertidal pantai Krakal berdasarkan penelitian ini dihuni oleh 10
species bivalvia yang terdiri dari 8 familia yaitu famili fimbriidae, veneriidae, arcidae,
pinniidae, mytilidae, tridacnidae cardiidae dan carditidae. Dari 10 species tersebut
didapatkan 7.509 individu dengan densitas total sebesar 11,174 ind/m2.
Famili mytilidae yang terdiri dari species Mytilus sp dan Septifer bilocularis
memiliki kepadatan 6,119 ind/m2 (Mytilus spp) dan 0,927 indv/m2) atau jumlahnya
mencapai 63,058% (4.735 individu) dari seluruh individu yang ditemukan. Hal ini
kemungkinan disebabkan karena beberapa hal antara lain:
1. Mytilus spp dan Septifer bilocularis merupakan species yang memiliki kemampuan
hidup pada rentangan salinitas yang lebar. Pantai krakal bagian paling timur terdapat
sungai bawah tanah yang memasok air tawar ke pantai ini sehingga salinitas di daerah
ini hanya berkisar antara 6‰ pada waktu air laut surut dan 31‰ pada waktu air laut
pasang. Rentangan salinitas yang lebar dan terjadi pada waktu yang relatif singkat (3 – 6
jam) dan terjadi secara periodik sepanjang tahun menyebabkan daerah ini hanya dihuni
oleh organisme-organisme yang memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan
salititas yang ekstrem atau organisme eurihalin. Salah satu species yang ditemukan
paling dominan di daerah ini adalah Mytilus spp. Menurut Sivalingam (1977); Widdows
(1994); dan Smaal (1994), Mytilus spp selain dapat hidup dan berkembang biak pada
kedalaman 0 meter pada surut maximum sampai dengan kedalaman 11 meter di bawah
permukaan air laut juga sangat toleran terhadap perubahan salinitas. Secara ekologis
menurut Odum (1994), lingkungan dengan parameter pembatas yang ekstrim hanya
akan dihuni oleh sedikit species, yaitu species yang memiliki kemampuan adaptasi
terhadap faktor pembatas tersebut. Suatu habitat yang dihuni oleh sedikit species maka
kompetisi dalam memperebutkan ruang dan sumber nutrisi akan semakin kecil, dengan
10
demikian organisme yang tinggal di dalamnya memiliki kesempatan untuk berkembang
dengan baik. Di pantai Krakal hal ini dapat dilihat pada transek I, yaitu daerah paling
timur yang dihuni oleh koloni Mytilus spp dan Septifer bilocularis dalam jumlah yang
sangat melimpah.
Foto: Koloni Mytilus spp di pantai Krakal
2. Larva Mytilus spp dan Septifer bilocularis sangat tolerans terhadap perubahan
salinitas dan kondisi kekurangan oksigen. Kemampuan bertahan hidup pada oksigen
rendah disebabkan karena larva ke dua species ini hanya membutuhkan sedikit nutrien
dan bentuk polisakarida proporsinya juga relatif kecil dari total energi cadangannya.
Selain itu, juga karena kemampuannya dalam melakukan metabolisme anaerob. Larva
selalu mengalirkan air dengan silianya atau berenang ke tempat lain untuk mengurangi
anoksia (Gilek, et al., 1997). Pantai Krakal, khususnya daerah intertidal pada saat surut
maksimal akan berada dalam kondisi yang ekstrim. Pada musim penghujan pada saat
surut, salinitas di daerah ini menjadi sangat rendah dan pada musim kemarau kondisi
terbuka terhadap matahari dan sedikit air menyebabkan DO menjadi rendah
3. Famili mytilidae khususnya Mytilus spp sangat efisien dalam memanfaatkan sumber
nutrisi. Sebagai biofiltration dan biodeposition yang hidup sesil umumnya sumber
nutrisinya relatif minim dan Mytilus hanya
membutuhkan sedikit nutrisi untuk
11
hidupnya dan mampu melepas kembali bahan organik ke dalam lingkungan melalui
feses. Penelitian yang dilakukan Camacho et al., (1994), Mytilus memiliki efisiensi
pakan mencapai 13,5% dan efisiensi assimilasi mencapai 79%. Sisa pakan akan dilepas
kembali ke dalam lingkungan perairan dalam bentuk senyawa carbon, fosfat, NO2 +
NH4-N, dan silikat. Senyawa-senyawa tersebut terutama N dan P menurut Gahnstrom et
al., (1993), merupakan limiting faktor bagi phytoplankton, dan dengan melepaskan
senyawa-senyawa tersebut maka kebutuhan yang mendukung pertumbuhan dan
regenerasi
phytoplankton
akan
terpenuhi.
Pertumbuhan
phytoplankton
akan
menyediakan sumber nutrisi bagi organisme herbivor dan Mytilus sendiri serta
memberikan tambahan oksigen terlarut dalam perairan sebagai hasil fotosintesis.
Efisiensi nutrisi juga ditunjukkan oleh hasil penelitian Smaal (1994), di Sea Wedden.
Hanya mengkonsumsi 300 mg C/hari, kerang Mytilus perhari mampu melepas 56 mg
NH4-N, 21 mg NO2 + NO3, 15 mg fosfat dan 70 mg silikat.
4. Mytilus spp dan Septifer bilocularis memiliki bisus, yaitu organ yang menyerupai
akar serabut pada tumbuhan tingkat tinggi, yang berfungsi sebagai alat melekatkan diri
pada substrat yang keras. Adanya organ ini menyebabkan Mytilus spp dan Septifer
bilocularis dapat beradaptasi dan hidup di daerah dengan ombak dan arus yang besar
seperti di daerah intertidal pantai Krakal.
Pada penelitian ini selain ke dua species di atas, salah satu species yang
ditemukan cukup banyak adalah Barbatia fusca, dengan densitas 4,04 ind/m2 atau
sebanyak 2.715 individu (36,157%). Menurut Roberts (1982), Barbatia fusca memiliki
habitat di daerah intertidal pantai berbatu atau diantara batu karang. Species ini secara
umum memiliki ciri-ciri yang hampir sama dengan Mytilus, yaitu mampu beradaptasi
terhadap perubahan salinitas, memiliki cangkang keras dan tebal serta dilengkapi bisus
sehingga dapat bertahan pada habitat dengan ombak dan arus yang besar serta berbatu.
12
Di pantai Krakal juga ditemukan species Pinna muricata dan Atrina vexillum,
yang merupakan anggauta dari famili pinnidae. Anggauta dari famili ini memiliki ciriciri cangkang tipis, agak transparan, sedikit rapuh serta melebar pada salah satu sisinya
sehingga disebut juga cangkang kipas atau cangkang sayap.
Memiliki bisus pada
bagian anterior. Habitat kerang ini adalah di perairan pantai berlumpur, pasir atau
kerikil dan juga pantai berbatu.
Pada pantai berbatu (berkarang), kerang ini
memanfaatkan bisus untuk melekatkan diri pada celah-celah batu sehingga terhindar
dari hempasan ombak, sedangkan pada pantai berpasir atau berlumpur kerang ini hidup
menguburkan dirinya ( J.D. Fish and S. Fish, 1996).
Species lain yang ditemukan di daerah intertidal pantai Krakal meskipun dalam
jumlah yang relatif sedikit antara lain: Fimbia sowerbyi, Periglypta purpure, Tridacna
sp, Cardita calyculata, dan Acrosterigma rugosa. Ditemukan dalam jumlah yang relatif
sedikit kemungkinan tidak disebabkan oleh faktor internal kerang-kerang tersebut atau
kondisi fisiko-kimiawi lingkungannya, tetapi lebih disebabkan karena faktor eksternal.
Kerang-kerang ini memiliki ukuran yang cukup besar sehingga menarik bagi wisatawan
yang datang ke pantai Krakal atau dipanen oleh penduduk setempat untuk dikonsumsi
dan cangkangnya banyak dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan.
B. Diversitas
Diversitas atau keanekaragaman merupakan karakteristik yang unik dalam
organisasi biologi yang diekspresikan melalui struktur komunitas. Keanekaragaman
biasanya dinyatakan dengan indeks keanekaragaman, yaitu suatu pernyataan secara
matematis yang dimaksudkan untuk mempermudah dalam menganalisis informasi
tentang jenis dan densitas organisme dalam suatu komunitas. Komunitas dikatakan
memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi apabila terdapat banyak jenis dengan
jumlah individu yang relatif merata ( Barus, 2002). Dalam studi ekologi, jenis yang
13
dimaksud dalam keanekaragaman lebih ditekankan pada jenis dalam arti fungsional
organisme, atau jenis tidak selalu berarti species dalam tingkatan taksonomik. Menurut
Soetjipta (1993), keanekaragaman jenis adalah pernyataan kuantitatif struktur
komunitas dalam kaitan cacah jenis dan bagian taksonomik individu. Keanekaragaman
yang besar mengekspresikan hubungan rantai makanan dalam tingkatan trofik, yaitu
ketersediaan kebutuhan makanan dan sumber nutrisi.
Di pantai Krakal berdasarkan penelitian ini, nilai indeks keanekaragaman yang
dihitung berdasarkan rumus dari Shannon-Wiener sebesar 0,954. Menurut klasifikasi
dari Krebs dalam Barus (2002), maka keanekaragaman bivalvia di daerah intertidal
pantai Krakal dikategorikan rendah. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal
antara lain: Bentangan daerah intertidal pantai krakal yang cukup luas sebenarnya
memungkinkan untuk habitat berbagai macam jenis bivalvia, namun faktor fisik dan
kimiawi seperti keseragaman substrat, variasi salinitas, ombak, pasang-surut, dan
aktivitas manusia menjadi faktor pembatas bagi kehidupan bivalvia di daerah ini.
Hampir seluruh bentangan intertidal pantai krakal berupa substrat berbatu.
Menurut Nybakken (1993), organisme yang hidup di daerah intertidal berbatu harus
memiliki kemampuan adaptasi terhadap: (a). perubahan suhu yang drastis antara waktu
pasang dan surut. Pada waktu air laut pasang maka wilayah intertidal akan terendam air,
maka suhu di daerah ini akan sama dengan suhu perairan. Pada saat air laut surut
maksimal dan terjadi pada siang hari, daerah ini akan terbuka terhadap sinar matahari
dan suhu menjadi tinggi (identik dengan suhu lingkungan terrestrial) dan sebaliknya
apabila surut maksimal terjadi pada malam hari maka suhu akan menjadi rendah.
Fluktuasi suhu harian seperti ini membutuhkan daya adaptasi yang baik pada semua
organisme di daerah intertidal. Sebenarnya bivalvia memiliki kemampuan adaptasi yang
baik terhadap kondisi ini dengan cara membuka dan menutup cangkangnya. Pada
14
kondisi suhu ideal bivalvia akan membuka cangkangnya dan melakukan aktivitas hidup,
namun pada saat suhu naik atau turun drastis bivalvia akan menutup katup cangkang
dan menyimpan air dalam cangkangnya sehingga suhu tubuhnya relatif stabil. Pada
stadium larva dimana valve atau cangkang belum terbentuk maka kondisi perubahan
suhu yang drastis secara periodik akan menjadi pembatas yang mematikan. Kondisi
inilah yang mungkin menjadi salah satu penyebab rendahnya keanekaragaman bivalvia
di pantai Krakal. (b). Ombak yang secara periodik menuju pantai merupakan faktor fisik
yang kekuatannya dapat menghancurkan kehidupan organisme. Di daerah intertidal
pantai berbatu, hanya bivalvia yang memiliki adaptasi khusus seperti cangkang yang
tebal, dan daya rekat yang kuat terhadap substrat yang dapat hidup di daerah seperti ini.
(c). Variasi salinitas. Pantai krakal terutama daerah intertidalnya, secara fisik sangat
terpengaruh oleh ekosistem terrestrial. Kombinasi antara aktivitas pasang surut dengan
musim dan juga adanya sungai bawah tanah yang bermuara ke pantai ini sangat
mempengaruhi variasi salinitas. Pada sisi timur pantai krakal bermuara sungai bawah
tanah yang berakibat terhadap penurunan salinitas secara drastis. Pada saat musim
penghujan salinitas di daerah ini rata-rata mencapai 6‰. Kondisi tersebut
menyebabkan daerah ini hanya didominasi oleh species bivalvia yang memiliki daya
adaptasi yang baik terhadap kadar salinitas yang rendah
terutama dari genus Mytilus
dan Barbatia.
C. Dominansi
Species paling dominan di pantai Krakal pada penelitian ini adalah Mytilus sp
yang mencapai 68,54%. Hal ini disebabkan karena species tersebut mempunyai
kemampuan adaptasi terhadap berbagai faktor pembatas yang ada di daerah intertidal
pantai Krakal, seperti: fluktuasi periodik salinitas, kondisi oksigen yang minimalis, dan
daya tahan terhadap hempasan ombak dengan bisus dan cangkang yang tebal serta
15
ukuran tubuhnya yang lebih kecil dibanding species yang sama yang hidup di daerah
lain. Organisme ini juga memiliki warna cangkang yang mirip dengan substrat dan
bahkan sebagian besar ditumbuhi algae sehingga sulit dikenali dengan mudah. Hal ini
juga merupakan salah satu penyebab species ini masih ditemukan melimpah di pantai
Krakal.
D. Distribusi
Data yang diperoleh pada penelitian ini angka indeks pemerataan sebesar
0,106977 yang berarti distribusi bivalvia di pantai Krakal terjadi secara beraturan. Hal
ini kemungkinan disebabkan karena faktor salinitas dan aktivitas pengunjung pantai
krakal dan pemanenan oleh penduduk setempat. Perbedaan salinitas yang mencolok
antara transek I dengan transek II sampai dengan transek VII menyebabkan adanya
seleksi, terutama pada kemampuan stadium larva untuk bertahan hidup pada seluruh
bentangan pantai Krakal. Akibat aktivitas manusia juga menyebabkan data distribusi
menjadi beraturan. Seperti yang terjadi pada transek III s/d taransek VI, kondisi fisikokimiawi perairan sebenarnya relatif sama dengan transek II dan transek VII, namun
karena aktivitas manusia terutama wisatawan menyebabkan daerah bentangan antara
transek III s/d transek VI mengalami tekanan eksternal yang berakibat pada struktur
komunitas bivalvia yang ada.
E. Kondisi Fisiko-kimiawi Perairan
Hasil pengukuran faktor fisik perairan yang meliputi salinitas, Nitrogen,
phosphor, dan kalsium dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3. Kisaran faktor kimiawi perairan daerah intertidal pantai Krakal pada bulan
September – Nopember 2003
Parameter
Kisaran
Rerata ± SD
5
–
38
22
± 12,73619
Salinitas (‰)
Nitrogen (ppm)
0,6875 – 0,9166
0,7830 ± 0,086237
Phosphor (P2O5) (ppm)
0,1678 – 0,1845
0,1756 ± 0,006198
Kalsium (Ca) (ppm)
0,7350 – 0,8820
0,8085 ± 0,055956
16
Berdasarkan data pada tabel 4.3 tersebut di atas maka terlihat bahwa faktor
pembatas utama di daerah intertidal pantai Krakal adalah salinitas. Sedangkan nitrogen,
phosphor dan kalsium berada pada kisaran yang sangat baik untuk kehidupan bivalvia
maupun organisme lain.
Konsentrasi nitrogen alam air laut daerah intertidal pantai Krakal berkisar
antara 0,6875 – 0,9166 ppm yang berarti dilihat dari kandungan nitrogennya perairan ini
memiliki daya dukung yang besar terhadap kehidupan bivalvia. Nitrogen memegang
peranan penting dalam daur organik untuk menghasilkan asam-asam amino penyusun
protein, sehingga keberadaannya dalam ekosistem perairan sangat penting. Menurut
Dawes (1981), dalam perairan laut secara umum kandungan nitrogen berkisar antara
0,001 – 0,043 ppm. Tingginya kandungan nitrogen dalam air di intertidal pantai Krakal
kemungkinan berasal dari proses pembusukan oranisme yang mati dan dapat juga
berasal dari faeces organisme yang hidup di dalamnya. Perlu diketahui bahwa pantai
Krakal merupakan pantai yang sangat subur dan dihuni oleh berbagai jenis algae laut,
Echinodermata, Molusca, terumbu karang, ikan karang, berbagai jenis cacing dan lainlain.
Kadar fosfat di daerah intertidal pantai Krakal rata-rata 0,1756 ppm jauh diatas
rata-rata kadar fosfat dalam air laut yaitu sebesar 0,07 ppm (Romimohtarto dan Sri
Juwana (2001). Tingginya kandungan fosfat ini kemungkinan berasal dari kotoran
hewan di perairan ersebut, proses pembusukan jaringan organisme yang mati atau ada
masukkan dari luar yaitu dari daratan maupun dari dasar laut yang terbawa ombak
pasang.
17
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:
1.
Komunitas bivalvia di daerah intertidal pantai Krakal Yogyakarta tersusun dari 10
species. Kehadiran bivalvia paling dominan adalah dari species Mytilus sp baik
densitas maupun keanekaragamannya
2.
Distribusi bivalvia di daerah intertidal pantai Krakal Yogyakarta memiliki pola
beraturan
B. Saran
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dalam waktu yang cukup panjang sehingga
dapat diketahui pengaruh musim terhadap struktur komunitas bivalvia di daerah
intertidal pantai Krakal Yogyakarta
2. Diperlukan adanya pusat data dari berbagai penelitian yang dilakukan di daerah
intertidal pantai Krakal Yogyakarta, sehingga dapat memudahkan pengelolaan dan
monitoring kualitas ekosistem pantai ini
18
DAFTAR PUSTAKA
Camacho, A.P., Gonzalez, R. and Fuentes, J. 1994. Mussel Culture in Galiacia (N.W.
Spain). Aquaculture. 94: 263 – 278
Dahuri, R., J. Rais.,S.P. Ginting., dan Cahyani. 1992. Pengelolaan Sumer Daya Wilayah
Pesisisr dan Lautan Secara terpadu. Cetakan Kedua. Pradnya Paramita. Jakarta
J.D. Fish and S. Fish., 1996. A Student's Guide to the Seashore. Second Edition.
Cambridge University Press
Gahnstrom, G., Peter, B., and Siegfried, F. 1993. Are Key Nitrogen Fluxes Changed in
the Acidified Aquatic Ecosystem?. Ambio. 22: 318 – 324
Kramer, K.J.M.; Uwe, H.B and Richard, M.W., 1994. Tidal Estuaries: Manual of
Sampling and Analytical Procedures. AA. Balkema. pp: 59 – 62
Krebs, J. C., 1978. Ecology. The Experimental Analysis of Distribution and Abundance.
Harper and Row Publisher, London. pp: 395 – 399
Meglitsch, P.A. 1972. Invertebrata Zoology. Oxford University Press. London
Nybakken, J.W. 1993. Marine Biology: An Ecological Approach. Third Edition. Harper
Collins College Publishers.
Odum, E.P., 1994. Dasar-dasar Ekologi (Terjemahan) Edisi ke tiga. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta: pp 174 – 200
Peterson, C.H. , & Wells,F.E. 1988. Mollucs in Marine and Estuarine Sediments. In
Beesley, P.L., G.J.B., & A. Wells (eds). Mollusca: The Southern Syntetsis,
Fauna of Australia. Vol.5. CSIRO Publising. Melbourne
Ponder, W.F. 1998. Clasification of Mollusca in Beesley, P.L., G.J.B. Ross & A. Wells.
(eds). Mollusca: The Southern Syntetsis, Fauna of Australia. Vol.5. CSIRO
Publising. Melbourne
Romimohtarto, K dan Sri Juwana. 2001. Biologi Laut. Penerbit Djambatan, Jakarta
Smaal, A.C. 1994. The Ecology and Cultivation of Mussels: New Advances.
Aquaculture. 94: 245 – 261
Sivalingam. 1977. Aquaculture of The Green Mussel Mytilus viridis L. in Malaysia.
Aquaculture. 11: 297 – 312
Sumich, J. L., 1999. An Introduction to The Biology of Marine Life. 7 th. ed. McGrawHill. New York. pp: 73 – 90; 239 – 248; 321 - 329
Thurman, H.V. and Webber, H.H., 1984. Marine Biology. Charles E. Merrill Publishing
Company, USA. pp: 116 – 117
Widdows, J. 1994. Physiological Ecology of Mussel Larvae. Aquaculture. 94: 147 –
163
19
20
Lampiran 2. Foto beberapa species bivalvia yang ditemukan di daerah intertidal pantai
Krakal Gunungkidul DIY pada bulan September – Nopember 2003
Mytilus sp
Periglypta purpurea
Acrosterigma rugosa
Fimbria sowerbyi
Cardita calyculata
Septifer bilocularis
Tridacna sp
Atrina vexillum
Pinna muricata
Barbatia fusca
21
Lampiran 3. Mahasiswa yang terlibat dalam penelitian "Research Grant"
Nama
Merita Diana
NIM
Prodi
Judul Penelitian
003414083
Bio. NR
Keanekaragaman
Karang
Intertidal
di
Keterangan
Ikan Dalam proses
Daerah penyelesaian
Pantai
di laporan hasil
Kabupaten Gunungkidul penelitian
DIY
Agus Rismanto
003414091
Bio. NR
Keanekaragaman
Bivalvia
di
Dalam proses
Daerah penyelesaian
Intertidal Pantai Krakal laporan hasil
Gunungkidul DIY
Sri Pamuji
003414101
Bio. NR
Struktur
Bivalvia
penelitian
Komunitas Dalam proses
di
Daerah penyelesaian
Intertidal Pantai Sundak laporan hasil
Gunungkidul DIY
penelitian
22
Fly UP