...

Komunitas ikan karang herbivora di perairan Aceh bagian utara

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

Komunitas ikan karang herbivora di perairan Aceh bagian utara
Depik, 1(1): 37-44
April 2012
ISSN 2089-7790
Komunitas ikan karang herbivora di perairan Aceh bagian
utara
Community of herbivory reef fishes in northern Acehnese reef
Edi Rudi
1*
, Nur Fadli2
1
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Syiah Kuala, Banda Aceh 23111; 2Jurusan Ilmu Kelautan, Koordinatorat Kelautan
dan Perikanan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 23111. *Email korespondensi:
[email protected]
Abstract. Herbivory reef fish is the most important of fish tropic group in
the coral reef ecosystem.Hence, the objective of this study was to provide
reliable data and information on herbivory reef fish based on management types
in the northern Acehnese reef. Underwater Visual Census Techniques was used to
collect the data at 20 sites around Weh Island and Aceh Besar. This study
found 32 herbivory reef fishes species from five families in northern Acehnese
reef. Densities of herbivory reef fish were varied from 27 to 104
ind./transect,while
species numbers were also varied from 6 to 14
species/site. Family Acanthuriidae was the highest in species number, i.e. 19
species. Densities of herbivory reef fish in sites that were protected under
the management authority of Sabang Weh Island were not significantly higher
compare with sites from open access areas.
Keywords: herbivory reef fish, coral reef, visual census technique, Aceh
Abstrak. Ikan karang herbivora adalah kelompok tropik yang penting di
ekosistem terumbu karang. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk
memperoleh data dan informasi tentang ikan karang herbivora berdasarkan
bentuk-bentuk pengelolaan di perairan Aceh bagian utara. Teknik Visual Sensus
Bawah air digunakan untuk mengoleksi data di 20 stasiun sekitar Pulau Weh
Sabang dan Aceh Besar. Dari penelitian ini ditemukan 32 spesies dari tujuh
famili ikan karang herbivora di perairan Aceh bagian utara.
Famili
Acanthuridae adalah yang paling banyak ditemukan dalam hal jumlah spesies.
Kepadatan ikan karang yang ditemukan berkisar antara 27 hingga 104
individu/transek, sedangkan jumlah spesies berkisar antara 6 hingga 14
spesies/stasiun.
Kelimpahan ikan karang herbivora di stasiun-stasiun
penelitian yang memiliki autoritas pengelolaan (daerah dikelola) terlihat
tidak berbeda nyata dengan stasiun-stasiun yang merupakan daerah terbuka.
Kata kunci : Ikan karang herbivora, terumbu karang, teknik sensus visual, Aceh
Pendahuluan
Terumbu karang di wilayah perairan Aceh bagian utara terkenal memiliki
terumbu karang yang baik dan menjadi objek wisata serta sumber perikanan bagi
nelayan setempat (Baird et al., 2005). Habitat terumbu karang dan fauna dan
flora yang berasosiasi dengannya memberikan fungsi dan pelayanan yang penting
bagi penduduk di sekitarnya. Bencana tsunami tahun 2004 lalu tidak memberikan
dampak kerusakan yang berarti terhadap kondisi terumbu karang di kawasan ini
(Brown, 2005). Secara umum kondisi terumbu karang di perairan Aceh bagian
utara berkisar dari tingkatan buruk hingga baik (Baird et al., 2005; Campbell
et al., 2005; Rudi, 2005; Ardiwijaya et al., 2007). Kerusakan terumbu karang
yang terjadi sebelum tsunami disebabkan penangkapan ikan yang berlebihan dan
dengan cara-cara yang tidak ramah lingkungan (Baird et al., 2005).
Untuk
meningkatkan pengelolaan dan menghindari adanya kerusakan akibat illegal
fishing maka diperlukan strategi pengelolaan melalui penyediaan data,
pendidikan dan pembentukan daerah perlindungan laut. Wantiez et al. (1997) dan
Aswani et al. (2007) menyatakan bahwa kekayaan spesies dan biomassa ikan
37
Depik, 1(1): 37-44
April 2012
ISSN 2089-7790
karang di area yang dikelola akan jauh lebih tinggi dari pada wilayah terumbu
karang yang dapat diakses terbuka.
Indonesia memiliki jumlah spesies ikan karang terbanyak di dunia, Allen
& Adrim (2003) melaporkan bahwa di perairan Indonesia terdapat 2.057 spesies
ikan karang dari 113 famili. Randall (1998) mengemukakan beberapa faktor kunci
yang menyebabkan tingginya keragaman ikan karang di wilayah timur Samudera
Hindia seperti Pulau Weh, antara lain kondisi terumbu karangnya dan relung
ekologis. Lebih lanjut, Allen & Adrim (2003) memperkirakan setidaknya ada 6
species ikan karang yang endemik di perairan utara dan barat Aceh.
Ikan herbivora merupakan komponen penting dalam menjaga keseimbangan
ekosistem terumbu karang. Menurut Smith et al. (2001) dan McCook (2001),
turunnya kelimpahan herbivora dan meningkatnya konsentrasi nutrien merupakan
faktor yang menyebabkan terjadinya pergantian dari fase yang dominan karang
menjadi dominan alga di sejumlah terumbu karang wilayah tropis. Ikan herbivora
juga merupakan salah satu indikator penting dalam resiliensi terumbu karang
dari beberapa indikator penilaian resiliesi suatu terumbu karang (Obura,
2008).
Namun demikian, kajian mengenai biodiversitas ikan herbivora di
peraian Aceh belum pernah dilaporkan.
Perairan Aceh bagian utara memiliki beberapa bentuk pengelolaan, antara
lain adanya daerah yang dikelola oleh autoritas tertentu, daerah wisata,
daerah panglima laot dan daerah perairan terbuka (open access). Penelitian ini
dilakukan untuk menelaah komunitas ikan herbivora yang ada di wilayah terumbu
karang perairan Aceh bagian utara pada tempat-tempat dengan pengelolaan yang
berbeda.
Dalam hal ini bentuk pengelolaan dikelompokkan menjadi dua yaitu
daerah yang ada pengelolaan dan yang tidak pengelolaan.
Bahan dan Metode
Pengambilan data dilakukan di 20 stasiun pengamatan yang terdiri dari 17
stasiun di Pulau Weh dan 3 stasiun di Aceh Besar (Gambar 1). Stasiun-stasiun
penelitian dipilih dan ditentukan untuk mewakili wilayah dan bentuk-bentuk
pengelolaan yang ada di perairan Pulau Weh dan sekitarnya. Secara umum stasiun
penelitian dikelompokkan menjadi dua yaitu wilayah yang dikelola (terdiri dari
daerah perlindungan laut daerah/taman laut, daerah kegiatan wisata, wilayah
panglima laot) dan daerah yang dibiarkan terbuka (open access).
Pengambilan
data dilakukan dengan menggunakan metode tidak merusak yaitu teknik underwater
visual census (English et al., 1997; Hill and Wilkinson, 2004). Secara lebih
spesifik, data diambil oleh pengamat dengan posisi diam (stasionary) dan
melakukan pencatatan data dalam radius 7 m selama lebih kurang 15-20 menit per
transek.
Untuk mendapatkan keterwakilan data, transek ditempatkan di dua
kedalaman perairan, yaitu 3-4 m dan 6-8 m masing-masing dengan tiga kali
ulangan. Idenfikasi ikan herbivora dilakukan secara langsung di lapangan atau
dilanjutkan di laboratorium dengan menggunakan acuan buku identifikasi ikan
karang (Allen, 2000; Kuiter & Tonozuka, 2001; Kimura et al., 2009).
Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian ini memperlihatkan terdapat 32 spesies dengan lima
famili ikan herbivora yang ada di perairan Aceh bagian utara. Beberapa spesies
seperti Acanthurus tristis, A. leucosternon, A. tristis, Zebrasoma scopas,
Chlorurus sordidus dan Naso elegans adalah spesies herbivora yang umum
dijumpai hampir di semua stasiun pengamatan (Tabel 1 dan Gambar 2).
Bila
dilihat kelimpahan dan jumlah jenis ikan herbivora di masing-masing stasiun
(Gambar 3 dan Gambar 4), maka kelimpahan dan jumlah jenis ikan terlihat cukup
bervariasi antar stasiun pengamatan, nilainya berkisar dari 27 – 104
ind./transek, tertinggi di Gapang dan terendah di Lhok Me untuk kelimpahan,
sedangkan untuk jumlah jenis berkisar antara 6 – 14 spesies/stasiun, tertinggi
di Gapang dan terendah di Benteng. Penelitian sebelumnya memperlihatkan adanya
keterkaitan antara daerah pengelolaan dengan kelimpahan ikan secara umum,
dimana pada daerah yang dikelola kelimpahan ikan karang akan tinggi dan
sebaliknya di daerah yang dibiarkan sebagai akses terbuka, kelimpahan ikan
karang akan rendah (Rudi et al., 2009), namun dalam penelitian ini terlihat
bahwa kelimpahan ikan herbivora tidak berkaitan erat dengan tipe pengelolaan
yang ada dan kondisi terumbu karangnya (persen tutupan karang keras) (Gambar
38
Depik, 1(1): 37-44
April 2012
ISSN 2089-7790
5). Walaupun demikian, kelimpahan ikan karang di wilayah yang dikelola
(misalnya oleh panglima laot), seperti Anoi Itam, Sumur Tiga, Ujung Kareung,
Seulako Barat, Seulako Timur, Rubiah timur, Rubiah channel dan Ujung Seurawan
juga tinggi.
Di daerah-daerah yang tidak dikelola (open access), kelimpahan
ikan herbivoranya terlihat sangat bervariasi dari rendah hingga tinggi.
Tabel 1. Spesies ikan herbivora yang diperoleh di tiap stasiun di perairan
Aceh bagian utara
Stasiun
No
Taksa (Famili/Spesies)
1
I.
1
Acanthurus
auranticavus
5
6
Acanthurus lineatus
7
Acanthurus maculiceps
8
Acanthurus mata
3
4
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
+
+
+
+
14
15
16
17
+
+
+
18
19
20
Acanthuridae
Acanthurus nobilis
Acanthurus
grammoptilus
Acanthurus
leucocheilus
Acanthurus
leucosternon
2
2
9
Acanthurus nigroris
10
Acanthurus triostegus
11
Acanthurus tristis
12
Ctenochaetus striatus
13
C.
14
Naso vlamingii
15
Naso sp.
16
Naso annulatus
cyanocheilus
17
Naso caesius
18
Zebrasoma rostratum
19
Zebrasoma scopas
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
II. Ephippidae
20
+
Platax teira
III. Kyphosidae
21
Kyphosus bigibbus
22
Kyphosus vaigiensis
+
+
+
III. Scaridae
+
23
Chlorurus bleekeri
24
Chlorurus sordidus
+
25
Chlorurus troschelli
+
26
Scarus frenatus
27
Scarus ghobban
28
Scarus niger
29
Scarus schlegeli
30
Scarus altifinnis
31
Scarus tricolor
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
V. Siganidae
32
Siganus sp.
Keterangan nama stasiun: 1. Ujung Seurawan;
Gapang; 6. Batee Meurunon; 7. Lhok Weng; 8.
Ujung Kareung; 13. Reteuk; 14. Lheung Angen
Barat; 18. Lhok Me; 19. Aramayang; 20. Ujung
+
2. Rubiah Timur; 3. Rubiah Channel; 4. Pulau Klah; 5.
Benteng; 9. Anoi Itam; 10. Jaboi; 11. Sumur Tiga; 12.
2; 15. Lheung Angen 1; 16. Seulako Timur; 17. Seulako
Pancu
39
Depik, 1(1): 37-44
April 2012
ISSN 2089-7790
Gambar 1. Stasiun penelitian di Pulau Weh (Stasiun No. 1 – 17) dan Aceh
Besar(18–20). 1. Ujung Seurawan (dikelola/taman laut), 2. Rubiah Timur
(dikelola/taman laut dan wisata), 3. Rubiah Channel (dikelola/taman laut dan
wisata), 4. Pulau Klah (open access), 5. Gapang(open access), 6. Batee
Meurunon (dikelola/taman laut), 7. Lhok Weng(open access), 8. Benteng
(dikelola/panglima laot dan wisata), 9. Anoi Itam (dikelola/panglima laot
dan wisata) 10. Jaboi (open access,11. Sumur Tiga (dikelola/panglima laot
dan wisata), 12. Ujung Kareung (dikelola/panglima laot), 13. Reteuk
(dikelola/panglima laot), 14. Lheung Angen 2 (open access), 15. Lheung Angen
1(open access), 16. Seulako Timur (dikelola/taman laut dan wisata), 17.
Seulako Barat (dikelola/taman laut dan wisata), 18. Lhok Me (open
access),19. Aramayang (open access), 20. Ujung Pancu (open access)
Gambar 2. Enam dari 32 spesies ikan herbivora di terumbu karang Aceh bagian
utara: searah jarum jam dari kiri atas: Acanthurus tristis, A. leucosternon,
Zebrasoma scopas, Siganus javus, Naso elegans dan Chlorurus sordidus
40
Depik, 1(1): 37-44
April 2012
ISSN 2089-7790
Tingginya kelimpahan ikan herbivora di wilayah yang dikelola
dalam
penelitian ini sesuai dengan Wantiez et al. (1997) dan Aswani et al. (2007)
yang melaporkan bahwa keragaman jenis, kepadatan dan biomassa ikan karang di
daerah perlindungan laut akan lebih tinggi dibandingkan dengan daerah terumbu
karang yang terbuka.
Rendahnya kelimpahan ikan karang di wilayah terbuka
diperkirakan akibat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dan tidak
memperhatikan sifat-sifat biota seperti musim pemijahan dan kualitas ikan yang
ditangkap. Hal lain yang diduga menyebabkan tingginya variasi kelimpahan ikan
di wilayah terbuka adalah akibat faktor non-anthropogenic seperti migrasi,
musim dan pemangsaan. Namun hal ini perlu dibuktikan dengan penelitian lebih
lanjut.
120
80
(ind./transek)
Kelimpahan Ikan Herbivora
100
60
40
20
0
Ujung Pancu
Lhok Me
Aramayang
Seulako Barat
Seulako Timur
Lheung Angen 1
Reteuk
Lheung Angen 2
Ujung Karenung
Jaboi
Sumur Tiga
Benteng
Anoi Itam
Lhok Weng
Gapang
Batee Meuronon
Pulau Klah
Rubiah Timur
Rubiah Channel
Ujung Seurawan
Stasiun Pengamatan
Gambar 3. Kelimpahan ikan herbivora di tiap stasiun
(tidak diarsir adalah daerah dikelola)
16
Jumlah Spesies Ikan Herbivora
14
12
10
8
6
4
2
0
Gambar 4.
Aramayang
Ujung Pancu
Lhok Me
Seulako Barat
Seulako Timur
Lheung Angen 1
Lheung Angen 2
Reteuk
Sumur Tiga
Ujung Karenung
Jaboi
Anoi Itam
Benteng
Lhok Weng
Batee Meuronon
Gapang
Pulau Klah
Rubiah Channel
Rubiah Timur
Ujung Seurawan
Stasiun Pengamatan
Jumlah spesies ikan herbivora di tiap stasiun
(tidak diarsir adalah daerah dikelola)
41
Depik, 1(1): 37-44
April 2012
ISSN 2089-7790
Hasil penelitian ini memperlihatkan rendahnya keragaman dan kelimpahan
Parrotfish (Scaridae), yaitu hanya sembilan spesies dan hanya Chlorurus
sordidus dan Scarus niger yang ditemukan hampir di semua stasiun pengamatan.
Populasi ikan Scaridae adalah sangat penting sebagai ikan herbivora. Populasi
Scaridae secara umum mengalami penurunan di seluruh dunia dan ini menjadi
rentan (Bellwood et al., 2003; Aswani and Hamilton, 2004; Ferreira et al.,
2005; Floeter et al., 2006; Sabetian and Foale, 2006). Ikan ini adalah
kelompok yang bertanggungjawab untuk membuka daerah baru (kolonisasi) pada
permukaan substrat terumbu karang untuk memungkinkan terjadinya penempelan
atau rekrutmen karang baru, sehingga jumlahnya yang menurun akan menjadi
permasalahan dalam aktivitas grazing di suatu terumbu karang (McClanahan,
2008).
80%
70%
Percent Cover
60%
50%
40%
30%
20%
10%
Gambar 5.
Lhok Me
Aramayang
Ujung Pancu
Seulako Timur
Seulako Barat
Lheung Angen 1
Jaboi
Sumur Tiga
Ujung Kareung
Reteuk
Lheung Angen 2
Benteng
Anoi Itam
Batee Meuronon
Lhok Weng
P Klah
Gapang
Ujung Serawan
Rubiah Timur
Rubiah Channel
0%
Persen tutupan karang keras (± sd) di tiap stasiun
(tidak diarsir adalah daerah dikelola)
Ke depan, wacana untuk membentuk daerah perlindungan laut mesti
dijadikan langkah strategis yang dipakai dalam pengelolaan sumberdaya terumbu
karang sehingga diharapkan populasi ikan herbivora meningkat dan terumbu
karang menjadi sehat yang ditandai dengan persentase tutupan karang keras yang
tinggi (Jennings et al., 1996; Ledli et al., 2007). Hasil penelitian mengenai
ikan herbivora ini diharapkan menjadi pedoman dan masukan bagi pengelola dan
para pihak yang berkaitan dengan pemanfaatan dan pelestarian terumbu karang di
Aceh.
Dengan adanya usaha menjaga dan meningkatkan kelimpahan dan keragaman
ikan herbivora diharapkan resiliensi terumbu karang di perairan Aceh bagian
utara ini akan meningkat.
Kesimpulan
Ditemukan 32 spesies dengan lima famili ikan karang herbivora di
perairan Aceh bagian utara, Famili Acanthuridae memiliki jumlah spesies paling
banyak yaitu 19 spesies. Keragaman dan kelimpahan ikan karang herbivora
terlihat tidak berhubungan dengan persentase tutupan karang keras dan bentuk
pengelolaan yang ada, yaitu antara daerah laut yang dikelola (terdiri dari
daerah perlindungan laut daerah/taman laut, daerah kegiatan wisata, wilayah
panglima laot) dengan daerah laut yang dibiarkan terbuka (open access).
42
Depik, 1(1): 37-44
April 2012
ISSN 2089-7790
Daftar Pustaka
Allen, G.R., M.
Adrim.
2003.
Coral reef fish of Indonesia. Zoological
Studies, 42: 1–72
Ardiwijaya, R.L., T. Kartawijaya, Y. Herdiana, F. Setiawan. 2007. The coral
reefs of northern Aceh: an ecological survey of Aceh and Weh Islands,
April 2006. Wildlife Conservation Society, Bogor, Indonesia.
Aswani, S., R.J. Hamilton. 2004. Integrating indigenous ecological knowledge
and customary sea tenure with marine and social science for conservation
of bumphead parrotfish (Bolbometopon muricatum) in the Roviana Lagoon,
Solomon Islands. Environmental Conservation, 31: 69–83.
Aswani, S., S. Albert, A. Sabetian, T. Furusawa. 2007. Customary management as
precautionary and adaptive principles for protecting coral reefs in
Oceania. Coral Reefs, 26:1009–1021
Baird, A.H., S.J. Campbell, A.W. Anggoro, R.L. Ardiwijaya, N. Fadli, Y.
Herdiana, T..Kartawijaya, D. Mahyiddin, A. Mukminin, S.T. Pardede, M.S.
Pratchett, E. Rudi, A.M. Siregar. 2005. Acehnese reefs in the wake of the
Asian Tsunami. Current Biology, 16: 1926–1930
Bellwood D.R., A.S. Hoey, J.H. Choat. 2003. Limited functional redundancy in
high diversity systems: resilience and ecosystem function on coral reefs.
Ecological Letter, 6: 281–285.
Brown, B.E. 2005. The fate of coral reefs in the Andaman Sea, eastern Indian
Ocean following the Sumatran earthquake and tsunami, 26 December 2004.
The Geographical Journal, 171: 372–374
Campbell, S.J., M.S. Pratchett, A.W. Anggoro, R.L. Ardiwijaya, N. Fadli, Y.
Herdiana, T. Kartawijaya, D. Mahyiddin, A. Mukminin, S.T. Pardede, E.
Rudi, A.M. Siregar, A.H. Baird. 2005. Disturbance to coral reef in Aceh,
Northern Sumatera. Atoll Research Bulletin, 544: 55–78
English, S., C. Wilkinson, V. Baker. 1997. Survey Manual for Tropical Marine
Resources. Australian Institute of Marine Science, Townsville, Australia.
Ferreira, C.E.L., J.L. Gasparini, A. Carvalho-Filho, S.R. Floeter. 2005. A
recently extinct parrotfish species from Brazil.
Coral Reefs, 24: 128–
134.
Floeter S.R., B.S. Halpern, C.E.L. Ferreira.
2006. Effects of fishing and
protection on Brazilian reef fishes. Biological Conservation, 128: 391–
402.
Hill, J., C. Wilkinson. 2004. Methods for Ecological Monitoring of Coral
Reefs. Australian Institute of Marine Science, Townsville, Australia
Jennings, S., S.S. Marshall, N.V.C. Polunin. 1996.
Seychelles’ marine
protected areas: comparative structure and status of reef fish
communities. Biological Conservation, 75: 201–209
Kimura, S., U. Satapoomin, K. Matsuura.
2009. Fishes of Andaman Sea: west
coast of southern Thailand. National Museum of Nature and Science, Tokyo,
Jepang.
Kuiter, R.H., T. Tonozuka. 2001. Indonesian reef fishes. Zoonetics, Sydney,
Australia.
Ledlie, M.H., N.A.J. Graham, J.C. Bythell, S.K. Wilson, S. Jennings, N.V.C.
Polunin, J. Hardcastle. 2007. Phase shifts and the role of herbivory in
the resilience of coral reefs. Coral Reefs, 26: 641–653
McClanahan, T.R.
2008. Response of the coral reef benthos and herbivory to
fishery closure management and the 1998 ENSO disturbance. Oecologia,
155:169–177
McCook, L.J. 2001. Competition between coral and algal turfs along a gradient
of terrestrial influence in the nearshore central Great Barrier Reef.
Coral Reef, 19: 419–425
Obura, D. 2008. Resilience Assessment of Coral Reef – Draft Manual. IUCN –
CORDIO, Ghana.
Randall, J.E. 1998. Zoogeography of shore fishes of the Indo-Pacific region.
Zoological Studies, 37: 227-268.
Rudi, E.
2005. Kondisi terumbu karang di perairan Sabang Nanggroe Aceh
Darussalam setelah tsunami. Ilmu Kelautan, 10: 50-60
43
Depik, 1(1): 37-44
April 2012
ISSN 2089-7790
Rudi, E., S.A. Elrahimi, T. Kartawijaya, Y. Herdiana, F. Setiawan, P. Shinta,
S.J. Campbell, J. Tamelander.
2009.
Reef fish status in northern
Acehnese reef based on management type. Biodiversitas, 10: 87–92
Sabetian, A., S. Foale.
2006. Evolution for artisanal fisher: case studies
from Solomon Islands and Papua New Guinea. SPC Traditional Marine
Resources Management Knowledge Information Bulletin, 20: 3–8
Smith, J.E., C.M. Smith, C.L. Hunter. 2001. An experimental analysis of the
effect of herbivore and nutrient enrichment on benthic community dynamics
on a Hawaiian reef. Coral Reef, 19: 332–342
Wantiez, L., P. Thollot, M. Kulbicki. 1997. Effects of marine reserves on
coral reef fish communities from five islands in New Caledonia. Coral
Reefs, 16: 215–224
44
Fly UP