...

Topik 1: ANALISIS POTENSI ANTIBIOTIKA SECARA HAYATI

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Topik 1: ANALISIS POTENSI ANTIBIOTIKA SECARA HAYATI
Topik 1: ANALISIS POTENSI ANTIBIOTIKA
SECARA HAYATI
Potensi Antibiotika :
Adalah kekuatan suatu antibiotika dalam menghambat
atau membunuh pertumbuhan mikroba. Satuannya
dalam IU/mg atau ug/mg
Penetapan potensi antibiotika secara mikrobiologi
merupakan metode penetapan hayati, sebagai jasad
renik digunakan mikroorganisme.
Sebagai pembanding digunakan antibiotika yang telah
diketahui kemurnian dan kekuatan/potensinya.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
ANALISIS POTENSI ANTIBIOTIKA
SECARA HAYATI
Prinsipnya:
Adalah membandingkan respon dari mikroba uji yang
peka dalam kondisi percobaan yang sama terhadap zat
baku standar dan zat uji.
Sebagai zat baku standar digunakan zat/senyawa yang
telah diketahui kemurnian dan kekuatan/potensinya.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
ANALISIS POTENSI ANTIBIOTIKA
SECARA HAYATI
Respon yang diamati :
Adalah berupa efek hambatan terhadap pertumbuhan
mikroba uji yang ditunjukkan oleh daerah bening
(inhibition zone) di sekeliling zat uji (Cara Difusi)
atau kekeruhan (turbiditas) yang ditimbulkan oleh
pertumbuhan mikroba dalam medium cair (Cara
Turbidimetri).
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Cara Analisis :
Analisis potensi antibiotika yang dilakukan selama ini
dapat dikelompokkan atas 2 bagian yaitu
1.
Cara Difusi Agar (Cara Lempeng)
Prinsipnya, yaitu zat yang akan diuji berdifusi dari pencadang (reservoir)
ke dalam medium agar yang telah diinokulasi dengan mikroba uji.
Inkubasi selama waktu tertentu dan kemudian diamati adanya hambatan
pertumbuhan mikroba uji dan diukur diameter hambatannya.
Diameter hambatan yang terbentuk
dibandingkan dengan diameter
baku standar
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
2. Cara Turbidimetri (Cara Tabung)
Dengan cara ini digunakan media cair, hambatan
pertumbuhan mikroba uji diukur dengan menentukan
kekeruhan (turbiditas) larutan dengan suatu alat yang
cocok, misalnya spektrofotometer.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Beberapa faktor penting yang diperlukan dalam
analisis potensi antibiotika:
1. Mikroba Uji
- Mikroba uji yang digunakan harus berasal dari galur
murni
- Dapat memberikan respon yang bertingkat antara
peningkatan konsentrasi dengan peningkatan daerah
hambatannya.
- Untuk penetapan dengan cara difusi, daerah hambatan
yang terbentuk harus jelas dan mudah diukur,
- Untuk penetapan cara tabung (turbidimetri) perbedaan
kekeruhan pada tingkat dosis tertentu harus terlihat jelas.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Beberapa faktor penting yang diperlukan dalam
analisis potensi antibiotika:
2. Baku Pembanding Biologi
Sebagai baku pembanding biologi (biological reference)
digunakan antibiotika yang telah diketahui kemurniaan
dan potensinya secara pasti.
Baku pembanding ini direkomendasi oleh Badan
Kesehatan Dunia (WHO) dan di Indonesia melalui Badan
POM RI (SBI, SPI, SBN, SPN, SBL)
Baku ini diberikan dalam bentuk baku sekunder atas
permintaan laboratorium-laboratorium penelitian atau
Perguruan Tinggi.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
3. Media Perbenihan
Media perbenihan yang digunakan harus
mendukung pertumbuhan mikroba uji atau
dapat menumbuhkan mikroba uji dengan baik.
Media perbenihan tidak boleh mengandung zat yang
bersifat antagonis ataupun mempengaruhi aktivitas
antimikroba dari antibiotika yang diperiksa.
Di pasaran banyak ditemui media perbenihan dengan
berbagai merek dengan kode Antibiotic Medium No. 1, 2,
3 dan sebagainya.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
4. Larutan Dapar
Digunakan untuk melarutkan antibiotika yang akan
diperiksa,
baik baku pembanding maupun sampel uji.
Pemilihan larutan dapar yang digunakan disesuaikan
dengan sifat dan stabilitas bahan yang akan diuji.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Pemilihan terhadap metode
Pemilihan metode mana yang akan dipakai pada penetapan
potensi antibiotika, apakah cara difusi atau cara tabung
tergantung pada pengalaman yang dimiliki dan fasilitas
laboratorium yang ada.
Akan tetapi untuk zat-zat tertentu pemilihan tidak dapat
dilakukan sekehendak hati, karena sifat bahan yang akan diuji
tersebut.
Misalnya tirotrisin karena difusinya yang jelek tidak akan
memberikan hasil yang memuaskan bila menggunakan cara
difusi,
sebaliknya sefaloridin dengan cara tabung tidak cocok bila
sampel mengandung hasil urainya yang menyebabkan sampel
tetap keruh pada berbagai tingkat pengenceran.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Kelebihan dan kekurangan
dari kedua metode
1. Cara turbidimetri, biasanya mempunyai range daerah
pengerjaan yang sempit dengan perbandingan tingkat
dosis kurang dari 5 : 1.
Sebaliknya pada cara difusi, range tersebut lebih lebar
sehingga dimungkinkan perbandingan tingkat dosis
sampai 100 : 1.
2. Cara turbidimetri, hanya memerlukan waktu inkubasi
kurang dari 4 jam, sedangkan cara difusi memerlukan
waktu paling kurang 18-24 jam.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Kelebihan dan kekurangan
dari kedua metode
3. Cara turbidimetri adalah mengukur aktivitas total dari
antibiotika yang diuji, sedangkan cara difusi tergantung
pada kecepatan difusi zat aktif, sehingga ada
kemungkinan tidak mengukur aktivitas
totalnya.
4. Cara turbidimetri tidak dipengaruhi oleh sifat
difusibilitas dari zat aktif, sedangkan cara difusi sangat
dipengaruhi oleh hal lain tersebut.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Disain Analisis Potensi Antibiotika
Dalam penentuan potensi antibiotika secara mikrobiologi,
disain percobaan yang digunakan tergantung pada
ketepatan hasil yang diinginkan.
Biasanya digunakan tiga tingkat dosis , baik untuk
sediaan uji maupun pembanding.
Pengulangan dilakukan masing-masing 2-8 kali untuk cara
difusi dan 2-6 kali untuk cara turbidimetri.
Pada penetapan rutin seperti Laboratorium Kontrol
Kualitas Obat Pemerintah, biasanya dipakai susunan
dosis 3 : 3 tersebut.
Tingkat dosis yang berdampingan harus tetap, misalnya
2 : 1 atau 4 : 3.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
METODE DIFUSI AGAR
Metode analisis potensi antibiotioka dengan cara
difusi agar merupakan cara yang sederhana dan hasil yang
diperoleh cukup teliti.
Cara ini merupakan cara terpilih (selected method) dan
direkomendasi oleh International Collaborative Study di Swedia
dan Food and Drug Administration di Amerika Serikat untuk
pengujian mutu antibiotika.
Prinsip penetapannya, yaitu mengukur luas hambatan
pertumbuhan mikroba uji yang disebabkan oleh zat baku standar
dan zat yang diuji.
Dalam range konsentrasi tertentu, terdapat hubungan yang linier
antara peningkatan konsentrasi dengan luas daerah hambatan
pertumbuhan mikroba uji.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Faktor yang dapat mempengaruhi luas daerah
hambatan dengan cara difusi-agar :
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Faktor yang dapat mempengaruhi
luas daerah hambatan dengan
cara difusi-agar :
1. Ingredien Medium Pertumbuhan
Komposisi ingredien yang umum terdapat pada medium pertumbuhan
mikroorganisme adalah :
- pepton
- agar
- tripton
- mineral
- ekstrak ragi
Banyak mineral yang dapat mempengaruhi aktivitas antibiotika,
misalnya kalsium, magnesium dan besi akan mempengaruhi sensitifitas
pertumbuhan daerah hambatan yang dihasilkan oleh tetrasiklin dan
gentamisin.
Natrium klorida mengurangi aktivitas antibiotika golongan
aminoglikosida dan menambah aktivitas fersidin.
Karbohidrat pada uji difusi dapat mempertinggi aktivitas nitrofurantoin
atau ampisilin.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
2. Pemilihan Medium Pertumbuhan
Untuk memperoleh hasil yang tetap dan reprodusibel,
diperlukan persiapan medium yang cocok bagi pertumbuhan
mikroorganisme,
demikian pula ketebalan dan konstituen harus merata pada
medium agar.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
3. Pengaruh pH
Pengaruh pH terhadap luas daerah hambatan
disebabkan oleh aktivitas antibiotika yang tergantung
pada pH medium.
Aktivitas antibiotika golongan aminoglikosida diperkuat
dalam suasana asam, sedangkan aktivitas tetrasiklin
berlaku sebaliknya.
Gas karbondioksida yang ada alam atmosfir dapat pula
menambah keasaman larutan atau medium yang
digunakan pada penetapan.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
4. Ukuran Inokulum
Luas daerah hambatan akan semakin kecil, jika inokulum
semakin besar kandugnan mikroorganismenya.
Suatu inokulum dikatakan ideal apabila kandungan
mikroorganisme homogen.
Akibat pertumbuhan yang rapat dapat menyebabkan terjadinya
penumpukan pada tempat-tempat tertentu.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
5. Stabilitas Mikroorganisme
Resistensi mikroorganisme terhadap suatu antibiotika dapat
terjadi dalam kondisi pertumbuhan tertentu.
Oleh sebab itu regenerasi mikroorganisme perlu dilakukan
secara periodik dan sewaktu-waktu diuji kemurnian dan
kepekaannya.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
6. Aktivitas Antibiotika
Untuk mendapatkan daerah hambatan yang baik dalam suatu
penetapan, terlebih dahulu perlu ditentukan kadar hambat
minimum (Minimal Inhibition Concentration) dari antibiotika yang
akan diuji.
Pengaruh pre-difusi larutan antibiotika yang terjadi sebelum
inkubasi, harus dihilangkan atau dikurangi dengan tekhnik
pengisian larutan antibiotika ke dalam medium agar.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
7. Waktu Inkubasi
Inkubasi inokulum dilakukan dalam waktu yang optimal,
sehingga keseimbangan antara aktivitas antibiotika dengan
daya tumbuh mikroorganisme dapat menghasilkan daerah
hambatan yang baik bagi pengukuran.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Cakram (Reservoir)
pada cara difusi agar
Cakram : Adalah tempat meletakkan sampel antibiotika yang akan
dianalisis potensinya di atas medium agar yang telah memadat.
1.
Silinder gelas/logam
Silinder gelas/logam tahan karat dengan diameter 6-8 mm dapat
digunakan sebagai pencadang antibiotika.
Keuntungan:
Jumlah larutan antibiotika dalam silinder dapat diperbanyak untuk
menjamin ketersediaan antibiotika dalam cadangan selama waktu
inkubasi sesuai dengan daya tampung silinder.
Diameter hambatan yang terbentuk, semata-mata hanya disebabkan
oleh difusi antibiotika selama masa inkubasi.
Kerugian:
Adalah sukar mengatur kedalaman silinder secara manual, sehingga
difusi yang terjadi ada kemungkinan tidak homogen yang ditunjukkan
oleh diameter hambatan yang tidak merupakan lingkaran.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
2.
Cakram Kertas (Paper Disc)
Dengan menggunakan cakram kertas ini, jumlah larutan
antibiotika yang diserap dapat diatur homogen sesuai dengan
kapasitas dan daya serap kertas, tgt pada diameter dan
ketebalan cakram.
Akan tetapi bila komposisi kertasnya kurang baik,
maka dapat berpengaruh terhadap difusi zat uji sehingga
diameter hambatan yang terbentuk akan bervariasi.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
3.
Cetak Lobang (Punched Holes)
Dapat dilakukan dengan melobangi medium agar yang
telah diinokulasi dengan alat pengisap agar.
Keuntungannya:
Jumlah larutan antibiotika yang berdifusi dapat terukur
jumlahnya dan medium yang digunakan tidak terlalu
tebal.
Kerugiannnya:
Lobang yang terbentuk sering kurang sempurna
akibatnya juga akan mempengaruhi difusi zat uji.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Susunan Dosis untuk analisis :
1. Untuk Susunan Dosis 2 : 2
Baku
Dosis Tinggi
Dosis Rendah
s2 (5)
s1 (6)
Sampel-1 Sampel-2
u2 (1)
u1 (2)
z2 (3)
z1 (4)
2. Untuk Susunan Dosis 3 : 3
Dosis Tinggi
Dosis Menengah
Dosis Rendah
Baku
s3 (4)
s2 (5)
s1 (6)
Sampel
u3 (1)
u2 (2)
u1 (3)
Posisi masing-masingnya dalam cawan Petri dapat
dilakukan secara
acak
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Prosedur Uji Potensi Antibiotika
Menurut Farmakope Indonesia Edisi 3 (1979) :
Penetapan potensi dengan cara difusi dilakukan dengan
cara sebagai berikut :
Dituangkan inokulum tertentu sejumlah diperlukan ke
dalam cawam Petri atau suatu lempeng bujur sangkar
hingga tebal inokulum 3 sampi 4 mm.
Dasar cawan Petri atau lempeng harus rata dan letaknya
horizontal supaya inokulum sama tebalnya. Biarkan pada
suhu kamar selama 30 menit.
Jika digunakan cawan Petri, 6 silinder besi tahan karat
atau kaca porselin dengan diameter luar 8 mm, diameter
dalam 6 mm dan tinggi 10 mm, dijatuhkan ke permukaan
inokulum.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Jarak antara titik tengah silinder dengan yang lainnya
lebih kurang 28-30 mm.
Silinder diisi dengan larutan pembanding dan sediaan uji
dengan susunan dosis 3:3
sedemikian rupa hingga letak silinder yang berisi larutan
pembanding dan sediaan uji harus berselang-seling.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Begitu juga halnya dengan dosis tinggi, dosis menengah
dan dosis rendah.
Jika menggunakan lempeng bujur sangkar 36 silinder
dijatuhkan ke permukaan inokulum hingga tiap deret dan
kolom terdapat masing-masing 6 silinder.
Silinder diisi dengan larutan pembanding dan sediaan uji
dengan susunan dosis 3:3 sedemikian rupa hingga tiap
dosis harus terdapat pada setiap deret dan kolom.
Biarkan cawan Petri atau lempeng pada suhu kamar
selama 2 jam
Kecuali dinyatakan lain, inkubasi pada suhu 30-35oC
selama 16-18 jam.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Setelah masa inkubasi selesai, diangkat silinder, ukur
dengan seksama diameter daerah hambatan sampai 0,1
mm.
Hitung potensi menurut pola blok rawu untuk cawan Petri
dan kuadrat latin untuk lempeng bujur sangkar.
Perhitungan potensi dengan pola blok rawu, yaitu dengan
cara menentukan berbagai variasi blok dari hasil
pengukuran diameter daerah hambatan untuk
menentukan harga rasio potensi dan batas kepercayaan
rasio potensi.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Prosedur Metode Analisis potensi
Secara Turbidimetri :
Disiapkan beberapa tabung, sesuai dengan didisain
percobaan yang telah dirancang.
Diisi dengan larutan uji dan larutan pembanding dengan
susunan dosis tertentu dan kemudian ditambahkan
medium cair yang telah diinokulasi dengan mikroba uji.
Selanjutnya tabung diinkubasi pada suhu 37oC dan diaduk
pada suatu shaker inkubator selama 3-4 jam.
Setelah inkubasi, pertumbuhan mikroba uji dihentikan
segera dengan jalan merendamkan tabung-tabung
tersebut ke dalam penangas air suhu 80oC atau dengan
penambahan larutan formaldehid ke dalam masing-masing
tabung.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Suhu penangas air tidak boleh melebihi 80oC, karena
akan menyebabkan koagulasi protein. Selanjutnya
kekeruhan yang disebabkan oleh pertumbuhan mikroba
uji diukur menggunakan spektrofotometer uv-vis pada
panjang gelombang 530 nm.
Perhitungan potensi sama dengan cara difusi, dalam hal
ini data kekeruhan menggantikan data diameter
hambatan.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Sebanyak 36 tabung ditaruh dalam rak tabung, hingga pada
setiap deret dan kolom terdapat 6 tabung.
Tabung diisi secara acak dengan larutan pembanding dan
sediaan uji sejumlah 0,1 ml dengan susunan dosis 3 : 3
sedemikian rupa sehingga tiap dosis terdapat dalam setiap
deret dan kolom. Ditambahkan pada setiap tabung masingmasing 0,9 ml inokulum.
Siapkan dua tabung blanko, pada satu tabung tuangkan 10 ml
inokulum dan pada tabung yang lainnya tuangkan 10 ml
inokulum dan 0,5 ml larutan formaldehid P.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Inkubasi dalam tangas iar suhu 37±0,5oC selama 3-4 jam.
Setelah inkubasi pada masing-masing tabung, kecuali tabung
blanko, tambahkan masing-masing 0,5 ml larutan formaldehid P.
Selanjutnya dengan menggunakan spektrofotometer, ukur
transmittan pada panjang gelombang 530 nm terhadap blanko
tabung yang berisi inokulum dan larutan formaldehid P.
Hitung potensi dengan cara Biometri.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Faktor yang harus diperhatikan pada penentuan
potensi antibiotika dengan cara turbidimetri:
1. Gunakan tabung-tabung dengan ukuran dan ketebalan
yang seragam sehingga rambatan panas yang
diterimanya juga sama.
2. Medium perbenihan yang telah diinokulasi hendaknya
didinginkan sebelum dimasukkan ke dalam tabung.
3. Gunakan bejana inkubasi/shaker incubator dg
kapasitas yang memadai, sehingga tabung-tabung
dapat diaduk dengan kapasitas yang sama.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
4. Pertumbuhan mikroba uji diakhiri pada waktu yang
sama.
Bila menggunakan panas, pakailah penangas air yang
besar dengan suhu 80Csehingga rak tabung dapat
dicelupkan secara sempurna pada waktu yang sama.
Bila menggunakan formalin, sebelum pemberian
formalin rak tabung diangkat dari bejana inkubasi,
lalu dicelupkan ke dalam air es, baru kemudian
diberikan formalin.
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Kurva Dosis-Respon pada penentuan
potensi antibiotika dengan cara turbidimetri:
Kurva antara dosis dan respon yang diberikan
umumnya linier pada range dosis tertentu.
Dosis kerja harus dipilih pada daerah linear ini.
Sebelum analisis harus ditentukan kurva ini dulu
untuk pemilihan
dosis yang tepat.
Kurva diplot konsentrasi sel = transmittan sebagai
sumbu y dan log dosis pada sumbu x
Prof. Dr. Akmal Djamaan, MS, Apt
Tabel 1: Hasil Pengukuran Diameter Hambatan Pertumbuhan Mikroba
Uji Terhadap antibiotika Rimfapisina dan Baku Pembanding
No.
Diameter Hambatan ( mm/10)
Baku (S)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Jumlah
Blok
Uji (U)
S-1
S-2
S-3
U-1
U-2
U-3
152
152
148
147
150
149
166
164
162
163
164
163
172
176
170
172
180
171
149
152
140
142
146
148
162
163
161
164
159
162
174
172
170
170
179
174
898
982
1041
885
971
1039
975
979
959
968
978
957
Jumlah Respon dan kontras adalah sebagai berikut:
Sediaan Baku
S
Dosis rendah
Dosis menengah
Dosis tinggi
Jumlah sediaan
Kontras linear
Kontras kuadrat
898
982
1041
S = 2921
Ls = 143
Qs = -25
Sediaan Uji
U
Jumlah
885
971
1039
U = 2895
Lu = 154
Qu = -18
Y = 5816
L = 297
Q = -43
S = S1 + S2 + S3
U = U1 + U2 + U3
Ls = S3 – S1
Lu = U3 – U1
Qs = S1 – 2S2 + S3
Qu = U1 – 2U2 + U3

1). Perhitungan Rasio Potensi
I = log 4/3 = 0,1249
ΣL = Ls + Lu = 297
b = ΣL / (d-1) Inh
= 297 / (3-1) x 0,1249 x 6 x 2 = 99,079
Ys = S / nd = 2921 / 6 x 3 = 162,277
Yu = U / nd = 2895 / 6 x 3 = 160,833
M‘u= Yu – Ys / b = -0,014574
Ru = anti log M‘u = 0,9669
Rasio potensi 96,69% terhadap pembanding diketahui potensi
pembanding Badan POM 985 UI/mg.
Didapatkan potensi rimfapisina sebesar 952,39 UI/mg.
2). Nilai koreksi
K = Y2 / n = (5816)2 / 36 = 939607,111
3). Nilai jumlah kuadrat
Sediaan = S2 + U2 _ K = 18,73
d–n
Regresi
(E)
Kesejajara
Kuadrat
Beda
Perlakuan
Jumlah

n
(Kd)
kuadrat




(Ls
Ls
2
2
Qs
2
2
 Qu
6 n
S 2
2


E

 Qu)
6n - h
S 2
4
3675
, 375
2
(Qs


25 , 681

Kd
S 2
0

5 , 041
 U

0 , 681
2
1
 U
2
2
 U
2
0
n
2 ) 
  (V


 Lu
2 n
 (152
Blok
2
 Lu)
2 n  h
R 2
1
(975
2

2
K

3725
2

 148
R 2
3
 979
2

2
R 2
4
k
 .......
 .......

R 2
5
 967
3 x 2
2 ) 
 172

R 2
6

K

K
2 )  939607
, 111
 73,563
Deviasi
 Kuadrat
, 563
K
 152
R 2
2

Jumlah
- (perlakuan
 blok)
 155,75
4154
, 895
Analisis Variansi
Sumber Variansi
Derajat bebas
Jumlah
kuadrat
Kuadrat
rata-rata
F
P
Sediaan
Regresi
Kesejajaran
Kuadrat
Beda kuadrat
Perlakuan
Blok
Deviasi
h–1=1
1
h–1=1
1
h–1=1
k–1=5
n–1=5
25
18,75
3675,375
5,041
25,681
0,681
745,113
14,713
6,23
18,75
3675,375
5,041
25,681
0,681
745,113
14,713
6,23
589,948
0,809
4,122
0,109
0,05
0,05
0,05
0,05
2,362
0,01
35
3984,875
Keterangan: F =nilai yang didapat dari rata-rata tiap variabel yang diuji.
dinyatakan sebagai rasio terhadap s2 (jumlah kuadrat rata-rata
deviasi)
P =probalitas
4). Batas Keyakinan Rasio Potensi
C 8
3
t  2,06
E
3675,375
C

2 2
(E - s t ) (3675,375  (6,23) 2 (2,06) 2
 1,04691
Ao  anti log C.M'  (C - 1) (C.M. 2  C.I 2
 anti log - 0,0320998 dan anti log 0,0027223
 0,9287 dan 1,0062
Batas keyakinan rasio potensi 0,9287 - 1,0062
Batas keyakinan ini 96,14% - 104,04% dari rasio potensi yang diperoleh pada penetapan.
Keterangan Simbol
b
c
d
h
k
s2
t
C
E
I
K
= slop regresi respon logaritma dosis semua sediaan
= koefisien evaluasi batas keyakinan (dafrar 45-1)
= banyaknya ragam dosis tiap sediaan
= banyaknya sediaan termasuk sediaan pembanding
= banyaknya ragam perlakuan banyaknya pengadaan tiap perlakuan
= varian
= koefisien student (daftar 2-1)
= koefisien dalam perhitungan batas keyakinan
= kuadrat jumlah regresi
= interval log dosis yang berdampingan
= koefisien korelasi dalam analisis varian
Fly UP