...

Pemulihan Komunitas Karang Keras Pasca Pemutihan Karang di

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

Pemulihan Komunitas Karang Keras Pasca Pemutihan Karang di
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (JIPI), Agustus 2015
ISSN 0853-4217
EISSN 2443-3462
Vol. 20 (2): 158163
http://journal.ipb.ac.id/index.php/JIPI
DOI: 10.18343/jipi.20.2.158
Pemulihan Komunitas Karang Keras Pasca Pemutihan Karang di Amed
Bali
(Community Recovery of Hard Coral Post Bleaching Event in Amed Bali)
Omega Raya Simarangkir1*, Fredinan Yulianda2, Mennofatria Boer2
(Diterima April 2015/Disetujui Juli 2015)
ABSTRAK
Perubahan iklim telah menjadi tekanan terbesar bagi terumbu karang di seluruh dunia dengan salah satu
tekanan paling serius adalah kejadian pemutihan karang massal yang berhubungan dengan peningkatan suhu air
laut. Pada tahun 2010 terjadi pemutihan karang di beberapa kawasan terumbu karang dunia. Perairan Amed
merupakan salah satu kawasan terumbu karang yang mengalami dan terdampak kejadian tersebut. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pemulihan komunitas karang keras pasca pemutihan karang yang terjadi pada tahun
2010. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Data yang dikumpulkan terdiri dari data
primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2013 komunitas karang keras di Amed
mengalami pemulihan, yaitu rata-rata persentase tutupan karang keras mengalami peningkatan menjadi 49,00
sedangkan tutupan makroalga mengalami penurunan menjadi 0,67. Pada tahun 2013 rekrutmen karang keras juga
2
mengalami peningkatan menjadi 21 individu/m .
Kata kunci: Amed, karang keras, makroalga, pemulihan, pemutihan karang
ABSTRACT
Climate change is now recognized as one of the greatest threats to worldwide coral reefs with one of the most
serious and immediate threats of mass coral bleaching associated with increasing sea temperatures. Coral
bleaching occurred in a few coral reefs throughout the world in 2010. Coral reef in Amed’s coastal area was the one
of the reefs that experienced and affected by coral bleeching incident. This study aims to assess recovery of hard
coral community in post-bleaching in 2010. A survey method was used to collect primary data. Data sets also
supported by secondary data. This study results were hard coral community recovered in 2013, as its percentage
cover increased up to 49.00. However, macroalgae decreased up to 0.67. Hard coral recruitment in 2013
2
increased up to 21 individual/m .
Keywords: Amed, coral bleaching, hard coral, macroalgae, recovery
PENDAHULUAN
Terumbu karang di kawasan Inisiasi Segitiga
Terumbu Karang (Indonesia, Filipina, Malaysia bagian
timur, dan Timor Leste) terus mengalami penurunan
disebabkan oleh penangkapan ikan berlebih,
sedimentasi, polusi dari aktivitas perkotaan maupun
industri sebagai imbas dari pembangunan pesisir
yang berkembang sangat pesat (Wilkinson 2008).
Tekanan-tekanan tersebut diperparah dengan perubahan iklim yang telah menjadi tekanan terbesar
bagi terumbu karang secara global. Perubahan iklim
berdampak banyak bagi terumbu karang. Salah satu
yang paling serius adalah pemutihan karang (coral
bleaching) massal akibat peningkatan suhu permukaan air laut.
1
Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan
Lautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut
Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680.
2
Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor,
Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680.
* Penulis Korespondensi: E-mail: [email protected]
Pemutihan karang akibat peningkatan suhu
menyebabkan rata-rata 16 kerusakan terumbu
karang di dunia pada tahun 1998. Beberapa daerah
mengalami kerusakan 5090 (Wilkinson 2000).
Pemutihan karang merupakan gangguan alam utama
yang memengaruhi terumbu karang di beberapa
daerah Indonesia (Suharsono 1998). Pemutihan
karang kembali terjadi di tahun 2010 dan Bali ikut
terkena dampak. Rata-rata persentase pemutihan
karang di Bali sekitar 10, dengan tingkat kematian
<5. Pemutihan karang tertinggi saat itu di seluruh
Bali ditemukan di Lipah/Amed dengan pemutihan
>50 (RCFI 2012).
Hoegh-Guldberg (1999) memprediksi adanya
degradasi terumbu karang di mana kejadian serupa
akan lebih sering terjadi di masa mendatang. Berdasarkan piramida Marshall dan Schuttenberg (2006),
pemutihan sering mengakibatkan kematian karang
sebagaimana spesies/genus karang memiliki toleransi
berbeda dalam merespons panas. Kemampuan
karang untuk mengadakan penyesuaian terhadap
perubahan suhu dapat bervariasi menurut spesies,
genus, bentuk pertumbuhan, dan tempat hidupnya
JIPI, Vol. 20 (2): 158163
159
(Brown & Suharsono 1990; Siringoringo 2007).
Hingga saat ini belum diketahui cara menghentikan
fenomena pemutihan karang akibat peningkatan
suhu. Apabila hal ini terjadi akan merusak ekosistem
terumbu karang dalam skala masif, mengganggu
keseimbangan ekosistem laut dan pada akhirnya
bermuara pada kesejahteraan masyarakat.
Terumbu karang yang mengalami pemutihan
dapat pulih secara alami. Penelitian Brown dan
Suharsono (1990) menunjukkan pulihnya struktur
komunitas secara signifikan pada lokasi yang
sebelumnya mengalami pemutihan karang yang
disertai kematian 8090. Nybakken (1992) menjelaskan bahwa hewan karang dapat pulih dari
kejadian pemutihan karang dengan merekrut kembali
zooxanthella dari lingkungan perairan ketika kondisi
membaik, atau karang dapat mati jika tetap terekspos
kondisi ekstrim dalam jangka waktu yang cukup lama.
Pemulihan dapat terhambat oleh lapisan alga dan
karang lunak yang dengan cepat mengambil alih
kerangka karang yang mati dan tidak membentuk
substrat yang sesuai untuk rekolonisasi karang.
Secara alami, respons terumbu karang terhadap
perubahan dan tekanan lingkungan adalah berusaha
bertahan, pulih hingga resiliensi, yaitu membentuk
kembali komunitas yang stabil setelah mengalami
gangguan (Obura & Grimsditch 2009). Pemulihan
dapat dilihat dari peningkatan tutupan karang keras
sebagai komponen utama pembentuk terumbu.
Kembalinya tutupan karang setelah gangguan merupakan salah satu ukuran pemulihan (Berumen &
Pratchet 2006; Golbuu et al. 2007).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemulihan komunitas karang keras pasca kejadian
pemutihan dengan cara membandingkan persentase
tutupan karang keras hidup dengan makroalga. Hasil
penelitian diharapkan dapat mendukung pengelolaan
terumbu karang di Amed.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di pesisir Amed, Bali
Timur. Pesisir Amed memiliki nilai penting terhadap
perekonomian masyarakatnya sebagai nelayan
maupun pelaku wisata bahari berbasis terumbu
karang. Penelitian dilaksanakan pada bulan
JuliAgustus 2013. Pengambilan data dilakukan pada
tiga lokasi penelitian yaitu Jemeluk, Lipah, dan
Japanese Shipwreck (Gambar 1). Lokasi-lokasi
penelitian tersebut mewakili karakteristik terumbu
karang di pesisir Amed.
Metode Pengambilan Data
Metode survei digunakan dalam penelitian ini
untuk pengambilan data primer. Sementara data
sekunder diperoleh melalui penelusuran literatur.
Survei dilakukan dengan metode point intercept
transect (PIT) berdasarkan modifikasi dari Obura dan
Grimsditch (2009) mengenai protokol pengambilan
data resiliensi terumbu karang, dan disesuaikan
dengan ketersedian sumber daya yang ada. Metode
PIT sering digunakan untuk mengukur tutupan
invertebrata bentik yang menetap (sesil), alga, dan
tipe substrat (karang keras dan lunak, sponge,
makroalga, serta invertebrata bentik lainnya) karena
sifatnya yang cepat, efisien, dan memberikan estimasi
untuk tutupan komunitas bentik (Hill & Wilkinson
2004). Penelitian ini menggunakan titik variabel
substrat sebanyak 200 titik yang diperoleh dari
pencatatan disetiap 25 cm dari 2 x 25 m panjang
transek.
Data sekunder yang digunakan ialah data
pendukung yang diperoleh dari Reef Check
Foundation Indonesia (RCFI), yaitu data time series
terumbu karang (20092011). Metode dan lokasi
pengambilan data primer sama dengan metode yang
Gambar 1 Peta lokasi penelitian.
160
JIPI, Vol. 20 (2): 158163
digunakan oleh RCFI pada tahun 20092011 sehingga meminimalisir kemungkinan terjadinya bias data.
Analisis Data
Data yang diambil adalah persentase tutupan
karang keras hidup dan tutupan makroalga di tiap
lokasi pengambilan data. Data persentase tutupan
karang keras dihitung dengan rumus English et al.
(1994):
tutupan substrat
jumlah t ap komponen kategor karang
total t t k pengamatan
00
Untuk mencapai tujuan penelitian dilakukan
analisis perbandingan persentase tutupan karang
keras hidup dan makroalga dari tahun 20092013.
Dengan cara ini dapat diperoleh gambaran bahwa
selama 4 tahun pengambilan data (tahun 2012 tidak
dilakukan pengambilan data) terjadi tren perubahan
persentase tutupan pada karang keras hidup maupun
makroalga yang disebabkan berbagai faktor, salah
satunya pemutihan karang pada tahun 2010.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kejadian Pemutihan Karang Tahun 2010 di Lokasi
Penelitian
Pemutihan karang yang dimaksud dalam penelitian ini disebabkan oleh meningkatnya suhu permukaan air laut. Secara umum, pengertian pemutihan
karang adalah terpisahnya alga yang bersimbiosis
(Zooxanthellae) dari induk karang (Wilkinson 2000).
Douglas (2003) menjelaskan pemutihan karang terjadi
dikarenakan hilangnya sebagian hingga keseluruhan
populasi Symbiodinium, sehingga terdapat beberapa
macam level pemutihan karang; dari pale (pucat)
hingga putih 100. Lebih lanjut dalam skala luas,
pemutihan karang telah menjadi faktor yang mengancam dan telah merusak perekonomian di berbagai negara berkembang dan mata pencahariannya.
Kejadian tahun 2010 ini telah diprediksi oleh
NOAA
(National
Oceanic
and
Atmospheric
Administration) via data satelit SST (Sea Surface
Temperature) tentang adanya peningkatan potensi
pemutihan pada pertengahan tahun 2010. Berdasarkan virtual station NOAA Coral Reef Watch di
Bali Barat, saat itu suhu permukaan air laut di Bali
pada bulan MaretApril mengalami peningkatan
hingga melewati ambang batas karang, yaitu 30,70 C
(Gambar 2). Hal ini yang menjadi akar permasalahan
pemutihan karang massal di Bali.
Data hasil rekaman satelit NOAA (Gambar 2)
menunjukkan terjadi peningkatan suhu permukaan
laut yang melewati ambang batas selama ± 2 bulan.
Tekanan tersebut menyebabkan karang mengalami
pemutihan massal di Amed sekitar 57 (tertinggi di
Bali) (RCFI 2011).
Tutupan Karang Keras Hidup Tahun 20092013
Terumbu karang di perairan Amed merupakan
salah satu kawasan di Indonesia yang terdampak
perubahan iklim dalam bentuk pemutihan karang.
Sementara Amed sendiri sangat mengandalkan
sektor pariwisata, perikanan, dan sosial budaya dalam
pembangunannya. Pariwisata sendiri berkembang
dengan memanfaatkan jasa terumbu karang sebagai
objek utamanya. Otomatis fenomena pemutihan ini
berpengaruh signifikan terhadap pemanfaatan sumber
daya laut di Amed.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase
rata-rata tutupan karang keras hidup mengalami
penurunan pada tahun 2011 dan kemudian mengalami peningkatan pada tahun 2013. Penurunan
persentase tutupan karang keras hidup pada tahun
2011 diduga sebagai dampak pemutihan karang
tahun 2010 (Gambar 3).
Rata-rata persentase tutupan karang keras hidup
secara berurutan dari tahun 20092013 sebesar
33,67, 32,00, 28,33, dan 49,00. Pada tahun 2011
tutupan karang mengalami penurunan sebesar 3,67
selanjutnya tahun 2013 meningkat sebesar 20,67.
Penurunan persentase tutupan karang keras hidup
pada tahun 2011 karena kondisi lingkungan perairan
tidak mendukung kehidupan dan pertumbuhan karang
Gambar 2 Suhu permukaan Laut Bali Barat pada 1 Januari 201031 Desember 2011 (Coral Reef Watch 2013).
JIPI, Vol. 20 (2): 158163
161
Persentase Tutupan
Persentase Tutupan
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
2009
2010
2011
2013
Tahun
HCL
60%
Makroalga
50%
40%
30%
20%
10%
0%
2009
2010
2011
2013
Tahun
Gambar 3 Rata-rata persentase tutupan karang keras hidup
di Amed.
Gambar 4 Perbandingan persentase rata-rata
karang keras hidup dan makroalga.
meningkatnya suhu muka laut dengan durasi yang
cukup lama, yaitu sekitar 2 bulan. Kosekuensinya,
beberapa genus karang rentan tidak dapat bertahan
hidup. Namun dengan normalnya suhu disertai upaya
pengendalian oleh masyarakat di beberapa lokasi,
peningkatan persentase tutupan karang keras hidup
kembali terjadi pada tahun 2013.
menunjukkan terjadinya pemulihan pasca pemutihan
karang di Amed.
Tutupan Karang Keras Hidup dan Makroalga
Penelitian pada tahun 2011 merupakan pengambilan data pertama pasca kejadian pemutihan
karang tahun 2010. Hasil penelitian menunjukkan
kejadian pemutihan di tahun 2010 diikuti dengan
kematian beberapa koloni karang yang diindikasikan
melalui penurunan persentase tutupan karang keras
hidup. Penurunan tersebut disertai dengan peningkatan persentase tutupan makroalga.
Pada tahun 2011 persentase tutupan karang keras
hidup mengalami penurunan sebesar 3,67 disertai
peningkatan tutupan makroalga sebesar 13,16.
Menurut Diaz dan McCook (2008), penurunan tutupan
karang berbanding terbalik dengan tutupan makroalga. Dengan tingginya kematian karang maka
makroalga akan menggantikan posisi ruang karang
tumbuh. Kerangka kapur hewan karang yang telah
mati selalu memfasilitasi pertumbuhan alga. Selain
itu, karang dan makroalga merupakan dua dari
beberapa komponen bentik yang saling berkompetisi
merebut ruang. Karang dengan rata-rata pertumbuhan sangat lambat akan terhalang oleh makroalga
yang tumbuh sangat cepat terutama di lokasi-lokasi
dengan suplai dan indikator nutrient tinggi. Menurut
Jompa dan McCook (2002), tingginya tekanan dapat
menyebabkan pergantian fase komunitas dengan
dominansi makroalga di mana memiliki pertumbuhan
yang lebih cepat dibandingkan karang keras hidup.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase
tutupan karang keras hidup dari seluruh lokasi
penelitian berbanding terbalik dengan persentase
tutupan makroalga (Gambar 4). Pada tahun 2013
persentase tutupan karang mengalami peningkatan
sedangkan persentase tutupan makroalga mengalami
penurunan. Pada tahun 2013 persentase tutupan
karang hidup mengalami peningkatan sebesar
20,67 sedangkan makroalga mengalami penurunan
sebesar 12,66. Peningkatan tutupan karang keras
tutupan
Pemulihan Komunitas Karang Keras Hidup
Pemulihan terumbu karang di Amed terlihat pada
tahun 2013, yaitu peningkatan persentase tutupan
karang keras sebesar 20,67. Pemulihan ini diduga
dikarenakan komposisi genus karang di Amed didominasi oleh karang rentan. Menurut Obura dan
Grimsditch (2009), karang rentan merupakan jenis
karang yang mudah terdampak dengan adanya
kenaikan suhu air laut. Karang rentan terdiri dari
genus Acropora, Montipora, Pocillopora, Stylopora,
dan Seriatopora. Namun di sisi lain karang rentan
jenis bercabang tersebut tingkat pertumbuhannya
cepat sehingga mendukung pemulihan karang melalui
peningkatan persentase tutupan karang keras.
Karang bercabang memiliki pertumbuhan 7 cm/tahun
sedangkan yang masif 0,5 cm/tahun (Nybakken 1992;
Veron 2000).
Pemulihan komunitas karang keras di Amed
didukung oleh komposisi genus karang dan faktor
oseanografi. Komposisi genus karang jenis cepat
tumbuh diindikasikan sebagai salah satu faktor
pendukung peningkatan tutupan karang keras karena
laju pertumbuhannya lebih cepat dibanding jenis
lainnya. Letak Amed yang berada di ujung timur pulau
Bali memungkinkan kawasan tersebut secara
langsung bersinggungan dengan Arus Lintas
Indonesia (ARLINDO) yang membantu optimalisasi
kondisi suhu di terumbu. Hal ini berakibat positif bagi
lokasi penelitian ini untuk mendapatkan suplai larva
karang maupun ikan yang cukup untuk proses
pemulihan. Selain itu, ARLINDO juga menjamin
ketersediaan makanan bagi karang sehingga menjamin pertumbuhan karang yang ideal (Suharsono
2010).
Pemulihan komunitas karang keras juga diperlihatkan dengan adanya peningkatan rekrutmen
karang. Hasil penelitian menunjukkan rekrutmen
karang secara berurutan dari tahun 20092013 ialah
9, 19, 8, dan 21 individu/m2. Peningkatan rekrutmen
secara signifikan terjadi tahun 2013 sebesar 21
individu/m2 mengindikasikan terjadinya pemulihan
secara alami pasca kejadian pemutihan karang di
Amed.
162
JIPI, Vol. 20 (2): 158163
Pemulihan komunitas karang keras secara alami di
Amed terbantu oleh manusia dengan mengurangi
tekanan lokal. Wujudnya, dengan meminimalkan
tekanan aktivitas wisata menyelam maupun
snorkeling saat karang mengalami pemutihan.
Kemungkinan terjadinya kontak secara langsung
terhadap karang yang sedang mengalami pemutihan
merupakan faktor lain rusaknya karang. Sebagai
lokasi dengan pemanfaatan yang tinggi, Amed juga
menghadapi tekanan-tekanan yang bersifat lokal
sehingga menambah potensi degradasi karang.
Menurut data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Kabupaten Karangasem (2012), sarana dan prasarana penunjang pariwisata di Amed meningkat
menurut waktu. Hal ini diakibatkan oleh popularitasnya dari sisi potensi wisata bahari dan meningkatnya
kesadaran masyarakat. Cara pengelolaan tersebut di
atas akan menjamin pemanfaatan secara berkelanjutan.
Pengelolaan kawasan dengan sistem zonasi
merupakan langkah yang tepat untuk membantu
karang pulih secara alami. Data Penelitian
McClanahan et al. (2001) menunjukkan bahwa satu
tahun pasca pemutihan karang tahun 1998, tutupan
alga di dalam kawasan pengelolaan taman nasional
mengalami peningkatan lebih sedikit dibandingkan
daerah di luar kawasan. Dengan belum/tidak dapat
dicegahnya kejadian pemutihan karang hingga dapat
menyebabkan
kematian
karang,
pengelolaan
kawasan merupakan salah satu cara untuk membantu
karang dan ekosistem dapat mengalami pemulihan.
Pengelolaan kawasan dapat mengurangi tekanan
lokal dan menjamin tersedianya ikan herbivora yang
merupakan taraf tropik penting dalam menjaga batas
normal makroalga. Hughes et al. (2007) menyatakan
bahwa jika pertumbuhan makroalga tidak dikendalikan
maka komunitas makroalga akan segera mendominasi terumbu karang. Dengan jaminan kelimpahan dan biomassa ikan herbivora dapat memberikan
peluang karang dan ekosistem terumbu karang untuk
pulih secara optimal.
KESIMPULAN
Pemutihan karang pada tahun 2010 di Amed
berakibat penurunan persentase tutupan karang keras
hidup. Persentase tutupan karang keras hidup
berbanding terbalik dengan makroalga. Pasca kejadian pemutihan karang, pada tahun 2011 Amed
mengalami penurunan tutupan karang keras menjadi
28,33 sedangkan tutupan makroalga meningkat
menjadi 13,33. Pada tahun 2013 komunitas karang
keras mengalami pemulihan melalui peningkatan
persentase tutupan karang keras menjadi 49,00
sementara tutupan makroalga turun menjadi 0,67.
Pemulihan komunitas karang keras juga terlihat dari
peningkatan rekrutmen menjadi 21 individu/m2.
Terumbu karang di Amed memiliki nilai penting bagi
masyarakat Amed baik sebagai nelayan maupun
pelaku wisata bahari sehingga diperlukan pengelolaan
yang efektif agar pemanfaatan yang berkelanjutan
dapat dicapai.
DAFTAR PUSTAKA
Berumen ML, Pratchett MS. 2006. Recovery without
resilience: persistent disturbance and long-term
shifts in the structure of fish and coral communities
at Tiahura Reef, Moorea. Coral Reefs. 25(4):
647653. http://doi.org/crw3cq
Brown BE, Suharsono. 1990. Damage and recovery
of coral reefs affected by El Nino related seawater
warming in the Thousand Island, Indonesia. Coral
Reefs. 8(4): 163170. http://doi.org/dsf95b
Coral Reef Watch. 2013. Coral triangle coral
bleaching
data
products.
http://coralreefwatch.noaa.gov/satellite/vs/coraltria
ngle.php#BaliBaratNP_Indonesia, Akses tanggal
24 Juni 2013.
Diaz PG, McCook L. 2008. Makroalgae (seaweeds) in
China (ed) the State of the Great Barrier Reef OnLine. Townsville (AU): Great Barrier Reef Marine
Park Authority.
[DISBUDPAR] Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Kabupaten Karangasem. 2012. Buku data
kepariwisataan Kabupaten Karangasem tahun
2012. Bali (ID): Disbudpar.
Douglas AE. 2003. Review coral bleaching-how and
why?. Marine Pollution Bulletin. 46(4): 385392.
http://doi.org/d48bmh
English S, Wilkinson C, Baker V. 1994. Survey
manual for tropical marine resources (2 nd Edition).
Asean-Australia
Marine
Science
Project.
Townsville (AU): Australia Institute of Marine
Science.
Golbuu Y, Victor S, Penland E, Idip D, Emaurois C,
Okaji K, Yukihira H, Iwase A, Woesik RV. 2007.
Palau’s coral reefs show d fferent al hab tat
recovery following the 1998-bleaching event. Coral
Reefs. 26(2): 319332. http://doi.org/c2cz4w
Hill J, Wilkinson C. 2004. Methods for ecological of
coral reefs. A Resource for Managers, Ver 1.
Townsville (AU): Australian Institute of Marine
Science.
Hoegh-Guldberg O. 1999. Climate change, coral
bleach ng and the future of the world’s coral reefs.
Marine and Freshwater Research. 50(8): 839866.
http://doi.org/dj84cm
Hughes TP, Rodrigues MJ, Bellwood DR, Ceccarelli
D, Hoegh-Guldberg O, McCook L, Moltschaniwskyj
N, Pratchett MS, Steneck RS, Willis B. 2007.
Phase shifts, herbivory, and the resilience of coral
reefs to climate change. Current Biology. 17(4):
360365. http://doi.org/fw7mhx
JIPI, Vol. 20 (2): 158163
Jompa J, McCook LJ. 2002. The effects of nutrient
and herbivory on competition between a hard coral
(Porites Cylindrica) and a brown alga (Lobophora
variegata). Limnology and Oceanography. 47(2):
527534.
Marshall PA, Schuttenberg H. 2006. A r f ana r’s
guide to coral bleaching. Townsville (AU): Great
Barrier Reef Marine Park Authority.
McClanahan TR, Muthiga NA, Mangi S. 2001. Coral
and Algal changes after the 1998 coral bleaching:
interaction with reef management and herbivores
on Kenyan reefs. Coral Reefs. 19(4): 380391.
http://doi.org/drrbvz
Nybakken JW. 1992. Biologi laut: suatu pendekatan
ekologis. Diterjemahkan oleh Eidman HM,
Koesoebiono, Bengen DG, Hutomo M, Sukardjo S.
1992. Jakarta (ID): PT Gramedia Pustaka Utama.
Obura DO, Grimsditch G. 2009. Resilience
assessment of coral reefs-assessment protocol for
coral reefs, focusing on coral bleaching and
thermal stress. IUCN Working Group on Climate
Change and Coral Reefs. Gland (CH): IUCN.
163
[RCFI] Reef Check Foundation Indonesia. 2011. Bali
lombok reef resilience report-2011. Bali (ID): RCFI.
[RCFI] Reef Check Foundation Indonesia. 2012.
Integrasi
sains
dan
pengelolaan
AMED,
Karangasem Bali. Bali (ID): RCFI.
Siringoringo RM. 2007. Pemutihan karang dan
beberapa penyakit karang. Oseana. 32(4): 2937.
Suharsono. 1998. Condition of coral reef resources in
Indonesia. Jurnal Pesisir dan Lautan. 1(2): 4452.
Suharsono. 2010. Jenis-jenis karang di Indonesia.
Coremap Program. Jakarta (ID): LIPI Press.
Veron JEN, Terence JD. 2000. Coral and Coral
Communities of Lord Howe Island Part 30.
Townsville (AU): Australian Institute of Marine
Science.
Wilkinson CR. 2000. Status of coral reefs of the world:
2000. Townsville (AU): Australian Institute of
Marine Science.
Wilkinson CR. 2008. Status of coral reefs of the world:
2008. Townsville (AU): Global Coral Reef
Monitoring Network and Reef and Rainforest
Research Center.
Fly UP