...

analisis efisiensi pemasaran kedelai di kabupaten grobogan

by user

on
Category: Documents
6

views

Report

Comments

Transcript

analisis efisiensi pemasaran kedelai di kabupaten grobogan
ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN KEDELAI DI KABUPATEN
GROBOGAN
Cindy Dwi Hartitianingtias, Joko Sutrisno, Setyowati
Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret
Jl. Ir.Sutami No 36 A Kentingan Surakarta 57126 Telp./Fax (0271) 637457
E-mail: [email protected] Telp. 085725105758
ABSTRACT: The purposes of this research were identifying marketing channel of
soybean in Grobogan Regency, identifying the function of marketing organization,
analyzing costs, benefits, and marketing margins at the institutional level in the
marketing of soybean marketing channel in Grobogan, and analyzing marketing
channels efficiency of soybean according to the economist efficiency in Grobogan
Regency. The descriptive analysis research methodology was utilized in this research.
This study was conducted in Grobogan because of the highest production in Central
Java. The descriptive analysis data consisted of marketing channel and organization
analysis, marketing margin analysis, economist efficiency of marketing channel that
was analyzed by marketing margin percentage and farmer’s share The results of data
analysis revealed that those were four marketing channel of soybean in Grobogan
Regency with the middlemen, local assemblers, merchant wholesalers, and distributor
wholesalers. Those marketing organization were doing the exchange function, physical
function, and facilities function. At first and second marketing channels had the same
total marketing margins with the value was Rp 600,00 /kg. For the third and fourth
marketing channel had the same total marketing margins with the value was Rp
700,00/kg. By the observation, the second marketing channel was the most efficient
with 91,89% for the farmer’s share value and 8,11% for marketing margin percentage.
Keywords : soybean, marketing channel, marketing margin, marketing efficiency,
farmer’s share
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saluran pemasaran kedelai di
Kabupaten Grobogan, tugas dan fungsi lembaga pemasaran, besarnya marjin
pemasaran serta efisiensinya secara ekonomis. Metode dasar yang digunakan adalah
deskriptif analitis. Metode penentuan lokasi penelitian yang digunakan adalah
purposive sampling dengan Kabupaten Grobogan dipilih sebagai lokasi penelitian.
Analisis data yang digunakan adalah analisis saluran dan lembaga pemasaran, marjin
pemasaran, persentase marjin pemasaran dan farmer’s share. Dari hasil penelitian yang
dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat empat saluran pemasaran kedelai
di Kabupaten Grobogan dengan empat lembaga pemasaran yang teridentifikasi antara
lain tengkulak, pedagang pengumpul, pedagang besar dan pedagang luar kota. Masingmasing lembaga pemasaran melakukan fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi
fasilitas. Nilai marjin pemasaran saluran I dan II memiliki nilai yang sama yaitu
sebesar Rp 600,00/kg, dan pada saluran III dan IV memiliki nilai yang sama yaitu
sebesar Rp 700,00/kg. Total biaya tertinggi terdapat pada saluran IV dengan nilai
sebesar Rp 268,11/kg serta keuntungan tertinggi pada saluran I dengan nilai sebesar Rp
466,72/kg. Keempat saluran pemasaran sudah efisien dengan nilai farmer’s share
tertinggi pada saluran II yaitu 91,89% dengan persentase marjin pemasaran terendah
sebesar 8,11%.
Kata Kunci : kedelai, saluran, marjin, efisiensi pemasaran, farmer’s share
pertanian. Keanekaragaman akan
kebutuhan serta manfaat kedelai
mendorong tingginya permintaan
kedelai di Indonesia (Direktorat
Jenderal Tanaman Pangan, 2010).
Indonesia memiliki beberapa wilayah
geografis yang mengembangkan
kedelai. Salah satu wilayah yang
mengembangkan kedelai adalah
Jawa Tengah, khususnya Kabupaten
Grobogan dengan rata-rata produksi
tertinggi selama tahun 2009-20313
sebesar 55.250 ton. Menurut
Martodireso dan Suryanto (2002),
pemasaran kedelai yang ada di
Indonesia memiliki keterkaitan dan
ketergantungan dengan produksi
kedelai. Lokasi produksi kedelai
berada di kantong-kantong kecil
dengan letak yang saling berjauhan
sehingga
menyulitkan
efisiensi
pemasarannya. Pemasaran dapat
dianggap efisien apabila mampu
mendistribusikan produk dengan
harga
terendah
dan
mampu
mengadakan pembagian yang adil
kepada semua pihak yang terlibat
dalam pemasaran tersebut (Hanafiah
dan Saefuddin, 1983). Penelitian
yang dilakukan bertujuan untuk 1)
mengetahui saluran pemasaran, 2)
mengetahui tugas dan fungsi
lembaga pemasaran, 3) menganalisis
marjin pemasaran, 4) menganalisis
efisiensi saluran pemasaran kedelai
secara ekonomis di Kabupaten
Grobogan.
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara
dengan potensi yang tinggi dalam
mengembangkan sektor pertanian,
khususnya adalah pengembangan sub
sektor tanaman pangan. Hal ini
dikarenakan
kebutuhan
akan
tanaman pangan terus meningkat dan
diiringi dengan semakin berkembang
industri
pengolahan
pangan.
Tanaman pangan menyebar hampir
secara merata di seluruh wilayah
Indonesia meskipun sentra beberapa
jenis tanaman pangan terdapat di
daerah tertentu, sebagai salah satu
contoh adalah produksi kedelai
terkonsetrasi di Jawa dan Bali
(Direktorat Pangan dan Pertanian,
2013).
Kedelai merupakan salah satu
tanaman polong-polongan yang
memiliki sumber protein nabati yang
sangat baik bagi kesehatan sehingga
menjadi bahan dasar berbagai
makanan, seperti kecap, tahu, dan
tempe (Damardjati et al., 2005).
Produksi kedelai yang dihasilkan
dalam negeri belum mampu untuk
mencukupi kebutuhan konsumsi
dalam negeri. Data mengenai
produksi dan konsumsi kedelai
dalam negeri tahun 2009-2013 dapat
dilihat pada Tabel 1.
Penyebab
dari
rendahnya
produksi kedelai dalam negeri
disebabkan oleh berkurangnya luas
lahan yang digunakan untuk lahan
Tabel 1. Produksi dan Konsumsi Kedelai Dalam Negeri Tahun 2009-2013
Tahun
2009
2010
2011
2012
2013
Produksi (Ton)
974.512
907.031
851.286
843.153
779.992
Sumber : Statistik Indonesia, 2014
Konsumsi (Ton)
2.289.132
2.647.536
2.763.273
2.971.916
3.233.857
METODE PENELITIAN
Metode dasar penelitian yang
digunakan adalah metode deskriptif
analitik. Metode ini memiliki tujuan
untuk mendeskripsikan suatu objek
penelitian melalui sampel atau data
yang telah terkumpul dan membuat
kesimpulan yang berlaku umum
(Surakhmad, 1994). Penelitian ini
dilaksanakan di Kecamatan Toroh,
Pulokulon, dan Kradenan, Kabupaten
Grobogan dengan metode purposive
karena memiliki rata-rata produksi
kedelai tertinggi selama lima tahun.
Penentuan responden petani
menggunakan metode proportional
random sampling dengan mengambil
40 orang petani. Metode enentuan
responden lembaga pemasaran yang
digunakan adalah metode snowball
sampling yaitu dengan menentukan
responden secara berantai dengan
meminta informasi kepada orang
yang telah diwawancarai (Susanto,
2006). Data yang digunakan adalah
data primer dan data sekunder.
Metode Analisis Data
Analisis data dilakukan secara
kualitatif dan kuantitatif. Saluran
pemasaran menggunakan analisis
deskriptif dari data primer. Marjin
pemasaran pada setiap saluran
pemasaran kedelai digunakan alat
analisis biaya marjin pemasaran.
Analisis marjin pemasaran
yang digunakan sebagai data harga
adalah harga ditingkat petani dan
harga di tingkat lembaga pemasaran,
secara matematika dirumuskan :
M = Pr- Pf………………………..(1)
Dimana M adalah marjin pemasaran
kedelai (Rp/kg); Pr adalah harga
kedelai di tingkat konsumen (Rp/kg);
dan Pf adalah harga di tingkat petani
(Rp/kg). Marjin pemasaran setiap
lembaga pemasaran terdiri dari biaya
pemasaran yang dikeluarkan dan
keuntungan yang diperoleh dan
dirumuskan sebagai berikut :
M= Bp + Kp……………………..(2)
Dimana
Mp
adalah
marjin
pemasaran kedelai (Rp/kg); Bp
adalah biaya pemasaran (Rp/kg); dan
Kp adalah keuntungan pemasaran
(Rp/kg).
Efisiensi pemasaran secara
ekonomis dapat dihitung dengan
persentase marjin pemasaran dan
farmer’s share. Persentase marjin
pemasaran
dapat
dihitung
menggunakan rumus :
Pr  Pf
Mp  
 × 100% ………....(3)
Pr
Dimana Mp adalah persentase marjin
pemasaran (%); Pf adalah harga
kedelai di tingkat petani (Rp/kg); dan
Pr adalah harga kedelai di tingkat
konsumen akhir (Rp/kg).
Farmer’s share dapat dihitung
dengan rumus :
Pr - Pf
F  1 
 × 100% ………..(4)
Pr
Dimana F adalah bagian yang
diterima petani; Pf adalah harga
kedelai di tingkat petani (Rp/kg); dan
Pr adalah harga kedelai di tingkat
konsumen (Rp/kg).
Analisis efisiensi pemasaran
secara ekonomis digunakan untuk
mengetahui saluran pemasaran yang
efisien secara ekonomis. Apabila
semakin rendah persentase marjin
pemasaran, maka farmer’s share
akan semakin tinggi. Menurut
Rasyaf dalam Handayani dan Ivana
(2011), apabila farmer’s share <
50% maka pemasaran belum efisien
dan apabila farmer’s share > 50%
maka pemasaran dapat dikatakan
efisien.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Saluran Pemasaran Kedelai di
Kabupaten Grobogan
Petani Kedelai
Tengkulak
Pedagang Pengumpul
Pedagang Besar
Pedagang Luar Kota
Keterangan Gambar :
: Saluran I Pemasaran Kedelai
: Saluran II Pemasaran Kedelai
: Saluran III Pemasaran Kedelai
: Saluran IV Pemasaran Kedelai
Gambar 1. Bagan Pola Saluran Pemasaran Kedelai di Kabupaten Grobogan
Saluran pemasaran kedelai
yang ada di Kabupaten Grobogan
dianalisis dengan mengumpulkan
data dari hasil penelusuran alur
pemasaran kedelai mulai dari
petani
kedelai
sampai
ke
konsumen yang ada dalam lingkup
Kabupaten
Grobogan.
Hasil
penelitian
yang
dilakukan
menunjukkan bahwa terdapat
empat saluran pemasaran yang
terjadi pada pemasaran kedelai di
Kabupaten Grobogan (Gambar
1.), yaitu 1) Petani  Pedagang
Pengumpul  Pedagang Luar
Kota, 2) Petani  Pedagang
Besar  Pedagang Luar Kota, 3)
Petani  Tengkulak  Pedagang
Besar  Pedagang Luar Kota, 4)
Petani  Pedagang Pengumpul
 Pedagang Besar  Pedagang
Luar Kota. Sistem pembayaran
yang dilakukan pada setiap
lembaga pemasaran yang terlibat
hamper sama, yaitu dengan cara
tunai ataupun kredit dengan
menunggu proses pembayaran
selanjutnya yang dilakukan dari
lembaga pemasaran yang lebih
tinggi.
Pengangkutan
yang
dilakukan dengan menggunakan
pick up dan menggunakan truk
dengan muatan 4 ton maupun 8
ton.
B. Tugas dan Fungsi Lembaga
Pemasaran
Kedelai
di
Kabupaten Grobogan
Lembaga pemasaran yang
terlibat dalam penelitian ini
meliputi tengkulak, pedagang
pengumpul, pedagang besar dan
pedagang luar kota. Tugas dan
fungsi pemasaran yang dilakukan
lembaga-lembaga yang terlibat
dapat dilihat pada Tabel 2.
Menurut Azzaino (1992), fungsi
pemasaran yang dilakukan oleh
lembaga pemasaran kedelai yang
ada di Kabupaten Grobogan
secara garis besar adalah sebagai
berikut 1) fungsi pertukaran
berupa pembelian dan penjualan
yang menciptakan kegunaan
kepemilikan, 2) fungsi fisik yang
dilakukan menciptakan kegunaan
tempat dan waktu yang terdiri
dari pengumpulan, penyimpanan,
pengemasan, bongkar muat, dan
pengangkutan, serta 3) fungsi
fasilitas berupa sortasi dan
Hasil
analisis
marjin
grading, penanggungan resiko,
pemasaran yang dilakukan dalam
serta informasi pasar mengenai
penelitian ini terlihat bahwa total
harga.
biaya pemasaran tertinggi pada
C. Marjin Pemasaran Kedelai di
saluran IV dengan nilai sebesar Rp
Kabupaten Grobogan
268,11 per kg dan jumlah total
Kegiatan pemasaran produk
keuntungan yang tertinggi adalah
dari tangan produsen hingga ke
pada saluran I dengan nilai sebesar
konsumen memerlukan biaya.
Rp 466,72 per kg. Biaya yang
Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh
dikeluarkan pada masing-masing
setiap lembaga pemasaran berbeda
lembaga pemasaran adalah biaya
sehingga keuntungan yangditerima
pengangkutan, biaya pengepakan,
lembaga
pemasaran
berbeda.
biaya bongkar muat dan biaya
Marjin pemasaran merupakan
penyusutan. Nilai total marjin
penjumlahan antara total biaya dan
pemasaran pada saluran I dan II
total keuntungan pemasaran (Dahl
adalah Rp 600,00 per kg dan
and Hammond, 1977). Nilai marjin
saluran III dan sebesar Rp 700,00
pemasaran yang semakin besar,
per kg (Tabel 3).
maka pemasaran akan semakin
tidak efisien.
Tabel 2. Tugas dan Fungsi Lembaga Pemasaran Kedelai di Kabupaten
Grobogan
Lembaga Pemasaran
Tengkulak
Fungsi Pemasaran
a. Pertukaran
b. Fisik
c. Fasilitas
Pedagang Pengumpul
a. Pertukaran
b. Fisik
c. Fasilitas
Pedagang Besar
a. Pertukaran
b. Fisik
c. Fasilitas
Pedagang Luar Kota
a. Pertukaran
b. Fisik
c. Fasilitas
Sumber : Analisis Data Primer, 2014
Aktivitas
a. Pembelian dan penjualan
b. Pengemasan, bongkar muat dan
pengangkutan
c. Penanggungan resiko dan informasi
pasar mengenai harga
a. Pembelian, dan penjualan
b. Pengumpulan, penyimpanan,
pengemasan, bongkar muat, dan
pengangkutan
c. Pengolahan (sortasi), penanggungan
resiko dan informasi pasar mengenai
harga
a. Pembelian, dan penjualan
b. Pengumpulan, penyimpanan,
pengemasan, bongkar muat, dan
pengangkutan
c. Pengolahan (sortasi dan grading),
penanggungan resiko dan informasi
pasar mengenai harga
a. Pembelian
b. Pengangkutan dan pergudangan
c. Penanggungan resiko dan informasi
pasar mengenai harga
Tabel 3.
Analisis Marjin Pemasaran pada Saluran Pemasaran Kedelai di
Kabupaten Grobogan
Uraian
Petani
Harga Jual
Kedelai
Tengkulak
Harga Beli
Biaya :
a. Pengepakan
b. Pengangkutan
c. Bongkar Muat
d. Penyusutan
Total Biaya
Keuntungan
Marjin Pemasaran
Harga Jual
Pedagang
Pengumpul
Harga Beli
Biaya :
a. Pengepakan
b. Pengangkutan
c. Bongkar Muat
d. Sortasi
e. Penyusutan
Total Biaya
Keuntungan
Marjin Pemasaran
Harga Jual
Pedagang Besar
Harga Beli
Biaya :
a. Pengepakan
b. Pengangkutan
c. Bongkar Muat
d. Sortasi dan
Grading
e. Penyusutan
Total Biaya
Keuntungan
Marjin Pemasaran
Harga Jual
Harga Beli
Pedagang Luar
Kota
Total Biaya
Pemasaran
Total Keuntungan
Pemasaran
Total Marjin
Pemasaran
Saluran I
(Rp/Kg)
(%)
6.600,00
91,67
Saluran II
(Rp/Kg)
(%)
6.800,00
91,89
Saluran III
(Rp/Kg)
(%)
Saluran IV
(Rp/Kg)
(%)
6.700,00
90,54
6.700,00
90,54
6.700,00
90,54
15,00
40,00
20,00
28,68
103,68
296,32
400,00
7.100,00
0,20
0,54
0,27
0,39
1,40
4,00
5,41
95,95
6.600,00
91,67
6.700,00
90,54
15,00
40,00
20,00
10,00
48,28
133,28
466,72
600,00
7.200,00
0,21
0,56
0,28
0,14
0,67
1,85
6,48
8,33
100,00
15,00
30,00
20.,00
10,00
44,81
119,81
330,19
450,00
7.150,00
0,20
0,41
0,27
0,14
0,61
1,62
4,46
6,08
96,62
6.800,00
91,89
7.100,00
95,95
7.150,00
96,62
20,00
40,00
20,00
0,27
0,54
0,27
20,00
40,00
20,00
0,27
0,54
0,27
20,00
40,00
20,00
0,27
0,54
0,27
0,41
0,75
2,23
5,88
8,11
100,00
100,00
30,00
35,89
145,83
154,17
300,00
7.400,00
7.400,00
0,41
0,49
1,97
2,08
4,05
100,00
100,00
30,00
38,30
148,30
101,70
250,00
7.400,00
7.400,00
0,41
0,52
2,00
1,37
3,38
100,00
100,00
7.200,00
100,00
30,00
55,21
165,21
434,79
600,00
7.400,00
7.400,00
133,28
1,85
165,21
2,23
249,51
3,37
268,11
3,62
466,72
6,48
434,79
5,88
450,49
6,09
431,89
5,84
600,00
8,33
600,00
8,11
700,00
9,46
700,00
9,46
Sumber : Analisis Data Primer, 2014
D. Efisiensi Pemasaran Kedelai
secara Ekonomis di Kabupaten
Grobogan
Tabel 4. Analisis Efisiensi Saluran Pemasaran Kedelai secara Ekonomis di
Kabupaten Grobogan
Uraian
Total Biaya Pemasaran (Rp/kg)
Total Keuntungan Pemasaran
(Rp/kg)
Total Marjin Pemasaran (Rp/kg)
Presentase Marjin Pemasaran (%)
Farmer's Share (%)
Sumber : Analisis Data Primer, 2014
Menurut Hanafiah dan
Saefuddin (1983), pemasaran
dikatakan
efisien
apabila
keuntungan yang didapatkan
wajar dan pembagian yang adil
bagi masing-masing lembaga
pemasaran yang terlibat. Efisiensi
pemasaran
kedelai
secara
ekonomis
dapat
dianalisis
melalui
persentase
marjin
pemasaran dan farmer's share.
Saluran pemasaran I, II, III, dan
IV pada pemasaran kedelai di
Kabupaten Grobogan sudah
efisien karena persentase dari
farmer’s share lebih dari 50%
dimana
diketahui
saluran
pemasaran yang paling efisien
adalah saluran pemasaran II
(Tabel 4).
Nilai persentase
marjin pemasaran pada saluran
pemasaran II lebih rendah
dibandingkan dengan saluran
pemasaran
lainnya.
Nilai
farmer’s share pada saluran
pemasaran II atau bagian yang
diterima petani yang paling tinggi
pada saluran pemasaran II, yaitu
sebesar 91,89%. Semakin besar
nilai farmer’s share, maka
semakin
efisien
saluran
I
133,28
466,72
600,00
8,33
91,67
Saluran Pemasaran
II
III
165,21
249,51
434,79
450,49
600,00
8,11
91,89
700,00
9,46
90,54
IV
268,11
431,89
700,00
9,46
90,54
pemasaran. Saluran pemasaran II
lebih
efisien
dibandingkan
dengan
saluran
pemasaran
lainnya, hal ini disebabkan oleh
rendahnya keuntungan yang
diambil
serta biaya
yang
dikeluarkan pedagang pengecer
pada saluran II.
KESIMPULAN
Kesimpulan
yang
dapat
diperoleh antara lain terdapat empat
saluran pemasaran kedelai yang ada
di Kabupaten Grobogan; tugas dari
lembaga
pemasaran
adalah
menjalankan
fungsi-fungsi
pemasaran
serta
memenuhi
keinginan konsumen, sedangkan
untuk fungsi yang dilakukan lembaga
pemasaran kedelai di Kabupaten
Grobogan adalah fungsi pertukaran
berupa, fungsi fisik, dan fungsi
fasilitas; besarnya marjin pemasaran
pada
setiap
tingkat
lembaga
pemasaran dalam saluran pemasaran
kedelai di Kabupaten Grobogan
adalah sebagai berikut pada saluran
pemasaran I, total marjin pemasaran
adalah Rp 600,00 per kg, pada
saluran pemasaran II, total marjin
pemasaran adalah Rp 600,00 per kg,
pada saluran pemasaran III, total
marjin pemasaran adalah Rp 700,00
per kg, serta pada saluran pemasaran
IV, total marjin pemasaran adalah Rp
700,00 per kg; saluran pemasaran
kedelai di Kabupaten Grobogan
sudah efisien karena persentase dari
farmer’s share lebih dari 50%
dengan nilai persentase marjin
pemasaran yang semakin rendah,
dimana diketahui saluran pemasaran
yang paling efisien adalah saluran
pemasaran II dengan persentase dari
farmer’s share sebesar 91,89% dan
persentase marjin pemasaran sebesar
8,11%.
Saran yang dapat disampaikan
adalah kedelai dapat dijual langsung
kepada konsumen akhir, contohnya
seperti menjual langsung kedelai ke
pengrajin tahu; setiap lembaga
pemasaran sebaiknya melakukan kerja
sama dalam hal pembelian dan
penjualan kedelai berdasarkan pada
ikatan langganan; keuntungan yang
diperoleh lembaga pemasaran dapat
ditingkatkan
dengan
melakukan
penyimpanan kedelai dan dijual pada
saat harga kedelai kembali tinggi; serta
efisiensi pemasaran kedelai dapat
dipertahankan dengan melakukan
penjualan secara berkelompok untuk
memperoleh posisi tawar yang lebih
baik.
DAFTAR PUSTAKA
Azzaino, Z. 1992. Pengantar Tata
Niaga
Pertanian.
Fakultas
Pertanian. Institut Pertanian
Bogor.
Dahl C. D. dan Hammond J. W.
1977. Market and Price
Analysis:
The
Agricultural
Industries. McGraw-Hill Book
Company, Inc.
Damardjati, D. S.; Marwoto D. K.;
D. Swastika; M. Arsyad dan Y.
Hilman. 2005. Prospek dan
Arah Pengembangan Agribisnis
Kedelai.
Badan
Litbang
Pertanian,
Departemen
Pertanian. Jakarta.
Direktorat
Jenderal
Tanaman
Pangan.
2010.
Rencana
Strategis Direktorat Jenderal
Tanaman Pangan Tahun 2010 –
2014. Kementerian Pertanian.
Jakarta.
Direktorat Pangan dan Pertanian.
2013. Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) Bidang Pangan dan
Pertanian 2015-2019. Badan
Perencanaan
Pembangunan
Nasional. Jakarta.
Hanafiah, A. M, dan Saefuddin A.
M. 1983. Tata Niaga Hasil
Pertanian.
Universitas
Indonesia Press. Jakarta.
Handayani, S. M. dan Ivana N. 2011.
Analisis Pemasaran Susu Segar
di Kabupaten Klaten. Sains
Peternakan, IX (1) : 41-52.
Martodireso, S. dan Suryanto, A. W.
2002. Agribisnis Kemitraan.
Usaha Bersama. Yogyakarta.
Surakhmad, W. 1994. Pengantar
Penelitiaan Ilmiah. CV Tarsito.
Bandung.
Susanto. 2006. Metode Penelitian
Kombinasi. Alfabeta. Bandung.
Fly UP