...

Lima Tanda Pemimpin Tak Kompeten

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Lima Tanda Pemimpin Tak Kompeten
Candle Light
LIMA TANDA PEMIMPIN TAK KOMPETEN
Dermawan Wibisono
D
alam gonjang-ganjing
nasional dengan hadirnya
kasus Nazarudin, pemalsuan
surat di Mahkamah Konsitusi
sehingga orang yang tidak berhak jadi
anggota legislatif bisa menggantikan
posisi orang yang berhak, hiruk pikuk
biaya pendidikan nasional mahal yang
ditentukan oleh setiap sekolah dari
jenjang SD sampai perguruan tinggi
bukan oleh pemerintah, tampak
tersirat adanya 'ketidakberdayaan'
kepemimpinan dalam berbagai level
kehidupan. Kepemimpinan sudah
lama menjadi hot issue dan melahirkan bepuluh provider pelatihan
untuk menghasilkan pemimpin yang
andal. Namun sampai saat ini tak
kunjung kita temui hasilnya, lebihlebih di level nasional. Apa yang
menjadi kendalanya? Pemimpin itu
dilahirkan ataukan dilatih?
Pada dasarnya dalam diri manusia
terdapat bakat ke-pemimpinan
t e r p e n d a m ya n g d a p a t d i g a l i
potensinya. Yang jadi masalah adalah
seberapa dalam bakat itu terpendam.
Apakah bakat yang ada begitu dalam
seperti layaknya sumur dalam dasar
samudra ataukah dipermukaan yang
tinggal diungkit saja? Hal kedua
adalah pada saat digali, akankah bakat
itu kemudian menjulang setinggi
Himalaya atau hanya sebatas lereng
Bojong Koneng. Artinya, seringkali
orang yang potensi kepem i m p i n a n n ya b a g u s d i l e v e l
manajerial namun tidak klop jika
dipaksakan untuk diangkat menjadi
direktur, orang yang levelnya kepala
desa tidak akan bagus jika dipaksakan
menjadi gubernur, orang yang
levelnya ketua partai politik tidak
akan bagus diangkat jadi presiden,
orang yang levelnya menjadi ketua
peneliti tidak akan bagus untuk
menjadi rektor dan sebagainya. Dalam
istilah saat ini, fenomena ini sering
dimaknai sebagai 'memahkotai diri
VOLUME 6 NO. 2 2011
sendiri' dengan mahkota yang terlalu
besar sehingga seperti dapat
dianalogikan seperti dalam cerita
pewayangan 'Petruk dadi Ratu' atau
dalam sarkas peribahasa bahasa Jawa
sering disamakan dengan istilah 'kere
munggah bale'. Orang yang tidak
kompeten memegang jabatan yang
terlalu tinggi sehingga hasilnya kacau
balau.
Dalam artikel Ten Signs of an
Incompetent Leader, Chris Ortiz
mengemukakan opininya yang
menarik akan 10 tanda-tanda
pemimpin yang tidak kompeten,
yang dalam tulisan ini akan dikaji 5
bagian saja. Menurut Ortiz, pemimpin
yang buruk adalah pemimpin yang
fokus pada kepentingannya sendiri
tidak pada kebutuhan profesional
ya n g d i b u t u h k a n o l e h
l e ve l
bawahnya. Biasanya pemimpin yang
buruk ini mendapatkan kesulitan
untuk mengembangkan organisasi
karena mereka kurang memiliki
kemampuan teknis manajerial untuk
hal tersebut. Pemimpin adalah orang
yang anda ikuti dan anda tahu akan
kemana organisasi menuju. Jadi
kepemimpinan adalah tentang aksi
bukan sekedar status symbol atau batu
loncatan untuk menggapai hal lain
lebih tinggi. Masalahnya adalah
bagaiman kita tahu bahwa kita sedang
menghadapai individu yang
merupakan oknum penunggang
jabatan karena seringkali orang seperti
ini tampak kelihatan begitu sibuk
dalam organisasi dan dibutuhkan di
mana-mana serta pandai memoles
dirinya sehingga membuat banyak
orang jatuh cinta kepadanya. Petunjuk
singkat dari Chris Otiz untuk
mengenalinya dikupas dalam alinea
berikut..
Seorang pemimpin yang tidak
kompeten akan:
49
1.
Mendelegasikan pekerjaan
daripada menyeimbangkannya.
Artinya semua bawahan
langsungnya akan diberikan
predikat 'jenderal' oleh yang
bersangkutan, dalam arti bahwa
pekerjaan harus diselesaikan oleh
bawahannya itu, tidak perlu
panduan, tidak perlu bertanya,
tidak perlu arahan tapi jika terjadi
kesalahan maka bawahan itulah
yang harus menanggung akibatnya
dengan menerima kemarahan dan
konsekuensi pahit lainnya. Praktik
semacam ini akan menimbulkan
pekerjaan yang tidak seimbang, ada
bagian sangat sibuk, sehingga perlu
lembur yang tidak perlu dan ada
bagian yang menganggur. Seorang
pemimpin yang baik adalah orang
yang mem-perhatikan kemampuan
dan kompetensi orang yang bekerja
di bawahnya dan menempatkan
orang sesuai dengan keah-liannya
sambil memperkaya potensi setiap
orang untuk lebih produktif.
Dengan model kepemimpinan yang
gagal semacam ini maka
kompetensi tidak dilihat,
penempatan dilakukan secara acak,
detail tidak diperhatikan karena
yang menjadi fokus adalah bagi
habis pekerjaan kepada orangorang dibawahnya.
2.
C e n d e r u n g m e n j a wa b
persoalan menjadi jawaban 'ya' atau
'tidak' dari pada mencoba mencari
sebab dan menerangkannya lebih
jauh. Ini adalah contoh pemimpin
dalam krisis, yang tidak mampu
berfikir jauh ke depan kecuali hanya
beberapa jam ke depan saja.
Pemimpin semacam ini cenderung
melihat orang yang mencari
penjelasan lebih detail, hanya
menghabiskan waktu. Oleh karena
itu, seringkali pemimpin semacam
ini memiliki jawaban yang berbeda
di dalam dan di luar ruangan,
tergantung dari mood dan
kepentingana sesaat yang
dibawanya, karena memang pada
dasarnya dia tidak memiliki set of
a r g u m e n t ya n g k u a t u n t u k
menjelaskan issue yang sedang
dihadapi.
3.
Tidak memisahkan
masalah personal dari masalah
profesional yang dihadapi. Mereka
cenderung membawa persoalan
pribadi ke tempat kerja. Bekerja
dengan pemimpin semacam ini
bisa menjadi sangat dramatis. Di
antaranya akan tercampur
penggunaan fasilitas kantor untuk
keperlun pribadi dan institusi, dan
istri/ suaminya akan turut menjadi
atasan bagi bawahannya saat ini
yang boleh ikut memerintahkan
untuk memenuhi keperluan yang
tidak ada hubungannya dengan
keperluan kantor. Mereka tidak
mampu me-misahkan
ketidakseimbangan emosi saat
memimpin. Mereka tidak akan
memberikan perhatian dan arahan
bagi anda untuk berhasil, Fokus
dari pemimpin semacam ini adalah
asal kepentingan pribadinya tidak
terganggu. Alih-alih memperbaiki
sistem penggajian dan
penghargaan secara keseluruhan
dalam organisasi, pemimpin
semacam ini tidak akan peduli
selama gajinya sendiri tidak
terganggu atau bahkan naik. Atau
yang lebih ektrim lagi adalah
pemimpin semacam ini akan
antusias memimpin orang-orang di
sekitarnya untuk demo dan
melakukan mosi tidak percaya jika
gajinya dipotong, namun tidak
akan peduli dengan gaji yang
diterima orang lain.
4.
Jika organisasi anda dalam
masa krisis, maka selamat
mengucapkan selamat tinggal pada
inovasi dan kemajuan jika memiliki
pemimpin semacam ini. Inovasi
50
dan kemajuan ini juga harus
diartikan secara benar, karena
konsep yang berubah dengan cepat
dan berkali-kali, bisa diartikan
bahwa kita bukan inovatif tetapi
sebaliknya kita tidak memilki
konsep dan pendirian yang kuat.
Perubahan yang terlalu sering
dalam jangka waktu yang pendek
akan mudah tersapu karena tidak
dapat diim-plementasikan secara
solid. Pemimpin yang berorientasi
pada aspek inovatif dan kreatif,
punya karakter, di antaranya
dengan senang hati memiliki
bawahan yang lebih pandai yang
mau berdebat dan diskusi atas
berbagai ide dan konsep. Bukan
pemimpin yang senang dengan
kualifikasi bawahan yang jauh di
b a wa h n ya s e h i n g g a m u d a h
disuruh-suruh dan mengikuti apa
maunya sang pemimpin saja.
5.
Tidak berdiri di belakang
bawahan jika gagal. Orientasi
pemimpin yang baik adalah tidak
hanya menghukum kesalahan
karena kegagalan bawahan dan
hanya mengambil moment saat
tampil dan dilihat banyak orang
saja. Biasanya pemimpin gagal
semacam ini akan cukup puas jika
melihat anak buah harus berdiri dan
membuat pengakuan ke-gagalanya
dalam sebuah forum, tidak peduli
betapa malunya anak buah tersebut
dan berdiri di depan menyematkan
tanda penghargaan ketika media
m a s a m e l i p u t m o m e n ya n g
dirasanya akan mengangkat nama
dan dirinya ke jaringan publikasi.
Jadi, who is a leader? A leader is one
who, knows the way, shows the way and
goes the way. Tapi hidup memang
pilihan, apakah anda ingin menjadi
seorang great leader atau menjadi free
rider. Sejarah akan mencatat.
MBA-ITB BUSINESS REVIEW
Fly UP