...

1 PEMIMPIN DALAM PERSPEKTIF ISLAM OLEH: ENIZAR Abstrak A

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

1 PEMIMPIN DALAM PERSPEKTIF ISLAM OLEH: ENIZAR Abstrak A
PEMIMPIN DALAM PERSPEKTIF ISLAM
OLEH: ENIZAR
Abstrak
A Leader is very urgent in a community, from the smallest, more than two people to a
big scale in a country. In Islam, especially from al-Hadits (tradition of Prophet
Muhammad peace upon him) it indicates so urgent toward the problem of leader and
leadership. The Prophet Muhammad gives direction and role started from criteria of a
leader, essential of a leader to leader‟s obligation which is right of subordinates. All
those roles indicate balance between demand toward every ono that aims to operate a
duty with each position in that community.
Keywords : a leader, Islam
A. PENDAHULUAN
Pada saat ini, bangsa Indonesia dihadapkan pada pemilihan pemimpin secara
langsung dalam berbagai level kepemimpinan. Pada tataran ini pemilihan langsung
tersebut mulai dari kepala desa atau lurah sampai pada presiden. Bahkan pada
pimpinan legislatif pun masyarakat memilih secara langsung para calon yang
dicalonkan. Kenyataan seperti ini memberikan peluang bagi pemilih dan yang dipilih
untuk menggunakan haknya secara lebih terbuka. Di sisi lain, baik pemilih atau pun
yang dipilih tentunya harus memiliki pemahaman tentang apa dan bagaimana
pemimpin yang akan dipilih. Pemilihan dan penentuan pemimpin merupakan issu
yang sangat hangat dan menjadi perhatian masyarakat Indonesia, terutama dalam
pemilihan presiden dan wakil presiden pada tanggal 5 juli 2004 yang lalu dan dalam
menghadapi pemilihan kepala daerah di tingkat propinsi dan kabupaten atau kota
yang akan datang. Untuk menentukan pemimpin yang diharapkan dan dapat menjadi
pemimpin masyarakat merupakan tugas berat dan menjadi harapan seluruh
masyarakat.
Apabila kita kembali kepada masa awal Islam, sudah menjadi catatan sejarah
bahwa pada hari pertama setelah wafatnya Rasulullah Saw. persoalan yang muncul di
kalangan umat Islam bahkan sempat menjadi masalah yang diperselisihkan adalah
persoalan imamat (kepemimpinan)1 Kemudian masalah tersebut pun muncul lebih
mencuat pada masa Ali - Muawaiyah.
Namun bukan berarti bahwa masalah pemimpin ini tidak menjadi perhatian
Rasulullah Saw. pada masanya. Hal itu terlihat dari pesan, aturan dan ketentuan yang
1
ditetapkan oleh Rasulullah Saw. dalam berbagai sabdanya. Bahkan jika diperhatikan
masalah kepemimpinan tersebut dilihat dalam pengertian mikro dan makro.
Dilihat dalam kehidupan ini, eksistensi pemimpin merupakan sesuatu hal
yang sangat urgen. Hal itu terlihat dari adanya pengarahan Rasulullah Saw. agar
untuk kelompok mini, dalam hal ini diatas 2 orang saja, ada keharusan untuk
menunjuk seorang pemimpin. 2 Ini menunjukkan bahwa pemimpin adalah hal yang
tak terpisahkan dalam masyarakat, mulai dari tingkat yang paling kecil sampai pada
masyarakat luas.
Dalam khasanah Islam baik Al-Qur'an dan hadis dalam mengungkap
pemimpin terdapat beberapa istilah yang digunakan. Ada kata khalifah, sulthan, amir
dan imam yang mempunyai pengertian yang berkaitan dengan tugas seorang
pemimpin.
Kata khalifah sesuai dengan penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi,
terdapat dalam Al-Qur'an pada dua tempat3, sedangkan dalam bentuk jama‟ terdapat
pada empat tempat di tiga surat. 4 Kata ini secara etimologis mempunyai tiga makna
pokok, yaitu mengganti, belakang dan perubahan. 5 Dengan demikian kata ini
bermakna penggantian terhadap yang lain, karena ketiadaan, kematian,
ketidakmampuan dan karena kemuliaan yang diwakili. Jika dihubungkan dengan
Allah, maka pengertian terakhirlah yang lebih dekat.6 Ini dapat saja dipahami bahwa
pemimpin itu adalah wakil Allah dalam mengatur kehidupan masyarakat. Namun
apabila tidak dihubungkan dengan Allah, maka pemimpin itu adalah wakil dari orang
yang dipimpinnya untuk memperjuangkan haknya.
Pemimpin dengan penggunaan kata sulthan yang berakar huruf sin, lam, dan
tha‟ mempunyai makna kekuatan dan paksaan. 7 Kata sulthan dalam Al- Qur'an
bermakna kekuasaan, karenanya ada yang berkonotasi sosiologis yaitu kemampuan
untuk mengatasi orang lain. Dengan demikian, kata sulthan mempunyai makna
kemungkinan untuk memaksa,8 kata ini dapat juga ber makna orang yang memiliki
kekuatan dan kekuatan memaksa.9
Amir mungkin lebih dekat dengan fungsinya sebagai pemimpin yang selalu
memberikan instruksi atau perintah.10 Dapat dikatakan bahwa penamaan dengan
istilah tersebut sesuai dengan berbagai fungsi yang harus ada. Dan dimiliki oleh
seorang pemimpin.
2
B. KRITERIA PEMIMPIN DALAM ISLAM
Ada beberapa ketentuan yang ditemukan dalam hadis Rasulullah saw.
mengenai kriteria yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Kriteria tersebut
meliputi berbagai aspek, yaitu kemampuan (kapabilitas) pribadi, tidak ambisius,
perolehan dukungan, dan empati terhadap keamanan an kesejahteraan masyarakat
1. Kemampuan pribadi
Kemampuan menjadi pemimpin didukung oleh kemampuan pribadi
untuk mempengaruhi dan mengatur orang yang dipimpin. Hal itu terlihat dari
perlakuan Rasulullah Saw. terhadap Abu Zar yang dinilai oleh Rasulullah
Saw. tidak memiliki kemampuan dalam memimpin dan mengelola orang lain.
Hal itu dapat diketahui dari hadis berikut:
ِ َّ ‫سو َل‬
‫ض ِعٌفًا َو ِإ ِنًّ أ ُ ِِ ُّ ََكَ ََا‬
ُ ‫َع ْن أ َ ِبً ذَ ٍّ ّر أ َ َّن َر‬
َّ ‫صلَّى‬
َ َ‫سلَّ َم قَا َل ٌَا أَ َبا ذَ ٍّ ّر ِإ ِنًّ أَ َراك‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ٌْ ِه َو‬
َ ‫َّللا‬
11
‫أ ُ ِِ ُّ َِنَ ْف ِسً ال تَأ َ ََّ َر َّن َعلَى اثْنٌَ ِْن َوال ت ََوٌَََّ َّن ََا َل ٌَتِ ٌٍّم‬
Artinya: Dari Abi Zar sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: Hai Abu
Zar, saya melihatmu lemah dan aku menginginkan untukmu apa yang
aku inginkan untuk diriku. Janganlah engkau menjadi pemimpin untuk
dua orang dan jangan menjadi wali yang menjaga harta anak yatim
Dalam hadis di atas, Rasulullah Saw. menyatakan bahwa Abu Zar ‫ضعٌف‬
yang dalam perbendaharaan bahasa Arab kata tersebut mempunyai makna
“lawan dari kuat”, bisa lemah jiwa, badan dan kondisi.12 Dalam konteks ini
mungkin Abu Zar menurut penilaian Rasul tidak memiliki kemampuan untuk
memimpin. Ketidakmampuannya mungkin karena tidak tegas, tidak cermat
dan tidak cakap.
Hal itu terlihat dari indikasi yang diungkapkan oleh Rasul diakhir hadis
dia tidak mampu bahkan untuk memimpin dua orang. Begitu juga Abu Zar
dianggap tidak mampu untuk menjadi wali yang mengelola harta anak yatim.
Pada hal kalau dilihat kualitas pribadinya, Abu Zar termasuk sahabat yang
sangat tinggi komitmennya terhadap Islam dan memiliki keutamaaan yang
tidak sedikit. 13 Hal itu menunjukkan bahwa ketidakmampuan (da’if) dalam
penilaian Rasul mungkin dalam memimpin dan mengelola kepentingan
orang lain.
2. Tidak ambisius
3
Proses perolehan jabatan pimpinan pun merupakan perhatian serius
dalam Islam. Menjadi pemimpin tidak didasarkan pada ambisi pribadi. Hal
itu secara tegas dapat dilihat dalam berbagai ketentuan Rasul yang secara
eksplisit dan tegas melarang para sahabatnya minta diangkat sebagai
pemimpin. Hal itu dilakukan oleh Rasul dengan berbagai cara:
a. Dalam bentuk larangan yang diiringi dengan konsekwensi yang akan
diterima.
Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. berikut ini dapat dilihat pernyataan
beliau kepada Abdur Rahman:
‫ٌا عبد اَرَِن ال تسأل االَارة فانك ان أعطٌتها عن َسأَة وكلت اٌَها وان أعطٌتها عن غٌر‬
14
‫َسأَة أعنت علٌها‬
Artinya: Rasul bersabda: Hai „Abdurrahman jangan engkau memnta
menjadi pemimpin, karena jika engkau memimpin atas dasar
permintaanmu engkau akan diserahi sepenuhnya. Tapi jika engkau
diberikan kepercayaan untuk memimpin tanpa meminta engkau pasti
akan menda[patkan bantuan.
Dalam hadis di atas, seseorang dilarang untuk meminta atau berambisi
menjadi pemimpin. Larangan tersebut ditujukan pada orang yang mempunyai
ambisi untuk menjadi pimpinan, tanpa memperhatikan apakan ia mempunyai
kemampuan pribadi atau tidak. Orang yang dinilai oleh pihak lain mampu untuk
menjabat suatu jabatan tertentu.tentu tidak masuk dalam kategori ini. Jika
dikaitkan dengan proses pemilihan pemimpin pada masa sekarang, maka
meskipun seseorang meminta, ia hanya melakukan pengajuan sebagai calon,
sedangkan penetapannya didasarkan atas dasar pemilihan.
Memperhatikan hadis dia atas, dapat dipahami bahwa proses pengangkatan
pemimpin didasarkan atas permintaan pihak lain, yang menilai dan mengetahui
kemampuan seseorang untuk memimpin komunitas tersebut bukan atas dasar
permintaan pribadi kepada pengambil keputusan untuk diangkat menjadi
pemimpin.
Larangan tersebut diikuti dengan ancaman bahwa pemimpin yang diangkat
atas dasar permintaannya akan ditinggalkan dan dibiarkan sendiri melakukan
tugasnya tanpa bantuan dari Allah dan atau dari pendukung (karena tidak memiliki
pendukung) Beda dengan orang yang diangkat menjadi pemimpin atas dasar
permintaan komunitas yang dipimpin atau oleh orang lain, maka dalam hadis
4
dijanjikan akan mendapat bantuan dalam pelaksanaan tugasnya. Karena orang
yang mendukungnya secara moral merasa .memiliki tanggung jawab juga.
b. Larangan yang diikuti dengan ancaman.
Dalam hadis lain, Abu Zar diingatkan Rasul ketika ia meminta kepada
Rasul untuk diangkat menjadi pemimpin, bahwa jabatan itu adalah amanah
sementara ia dinilai sebagai orang yang tidak mampu untuk melaksanakan tugas
pemimpin tersebut. Disamping itu, diingatkan juga bahwa jabatan itu dapat
mendatangkan kehinaan dan penyesalan nanti (di akhirat), kecuali bagi orang yang
memperolehnya dengan proses yang benar dan dapat menjalankan tugas dengan
baik.15
Menurut al-Nawawi, bahwa kehinaan dan penyesalan itu ditujukan bagi
orang yang tidak memiliki kapabilitas untuk memimpin atau orang yang kapabel,
tapi tidak dapat berlaku adil dalam menjalankan tugas yang diembannya.
Sementara bagi yang mampu dan dapat berlaku adil, maka banyak hadis shahih
yang menjelaskan keutamaan yang akan diberikan kepadanya 16
Dapat dipahami bahwa larangan meminta jadi pemimpin tersebut bagi
orang yang dilihat dari realitas kesehariannya dapat dinilai tidak memiliki
kemampuan untuk memimpin dan mengurusi kepentingan orang lain. Jabatan
pimpinan apapun yang diperoleh atas dasar ambisi pribadi akan berimplikasi pada
pemenuhan kebutuhan pribadi, menjadikan jabatan sebagai sarana memperkaya
diri dsn sejenisnya. Sehingga dalam pelaksanaan tugas pemimpin sedikit sekali
memperhatikan kepentingan komunitas yang dipimpin.
c. Pernyataan Rasul tidak akan mengangkat seseorang menjadi pemimpin atas
dasar permintaan dan ambisius.
Banyak cara yang digunakan Rasulullah Saw. dalam menyampaikan pesan
keagamaan, sehingga umat Islam dapat melihat dari berbagai aspek dan sudut
pandang. Di samping dengan bentuk larangan Rasul juga memberikan ketegasan
dalam bersikap atas permintaan sahabat untuk menduduki jabatan tertentu. Hal itu
secara tegas dikemukakan Rasul dalam hadis berikut:
‫اَر ُجلٌَ ِْن ٌَا‬
َّ ‫صلَّى‬
َّ ‫الن َِ ْن َب ِنً َع ًَِّ فَقَا َل أَ َِ ُد‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ٌْ ِه َو‬
َ ‫َع ْن أ َ ِبً َُو‬
َ ًِ
ِ ‫سلَّ َم أَنَا َو َر ُج‬
ّ ‫سى قَا َل َدخ َْلتُ َعلَى اَنَّ ِب‬
ِ َّ ‫َّللاُ َع َّز َو َج َّل َوقَا َل االخ َُر َِثْ َل َذَِكَ فَقَا َل إِنَّا َو‬
ِ َّ ‫سو َل‬
‫َّللا ال نُ َو ًَِّ َعلَى َهذَا‬
ُ ‫َر‬
َّ َ‫ض ََا َو َّالك‬
ِ ‫َّللا أ َ ِ َّ ْرنَا َعلَى بَ ْع‬
17
‫ص َعلَ ٌْ ِه‬
َ ‫ْاَ َع ََ ِل أ َ َِدًا‬
َ ‫سأَََهُ َوال أ َ َِدًا َِ َر‬
5
Artinya: Dari Abu Musa: Aku datang bersama dua orang lain kepada
Rasulullah Saw. , salah seorang dari mereka berkata: ya Rasulullah Saw.
jadikanlah kami pemimpin terhadap yang lain dan yang lain berkata
seperti itu juga, lalu Rasulullah Saw. Menjawab: Demi Allah
sesungguhnya kami tidak mengangkat seseorang untuk mengurusi
masalah ini atas dasar permintaannya dan tidak juga seseorang yang
ambisi terhadap jabatan itu.
Dapat dipahami bahwa konsistensi aturan Rasul tidak memberikan peluang
kepada orang yang meminta dan orang yang berambisi untuk menduduki jabatan.
Hal itu terlihat dari ketegasan beliau untuk tidak mengangkat orang yang minta
dan orang yang berambisi terhadap jabatan itu.
3. Perolehan dukungan
Untuk memimpin atau menjadi pemimpin bukan suatu hal yang mudah,
dan tidak bisa berjalan sendiri. Tetapi tugas sebagai pemimpin akan dapat
dilakukan dengan bantuan pihak lain. Oleh sebab itu, kriteria pemimpin yang akan
berhasil adalah pemimpin yang memiliki pendukung, yang disenangi dan
menyenangi oleh dan kepada komunitas yang dipimpinnya. Hal itu secara jelas
dikemukakan oleh Rasul dalam hadis berikut:
ِ َّ ‫سو ِل‬
َ‫صلون‬
ُ ‫ف ب ِْن ََاَِكٍّ َع ْن َر‬
ِ ‫َع ْن َع ْو‬
َّ ‫صلَّى‬
ُ ٌَ‫سلَّ َم قَا َل ِخ‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ٌْ ِه َو‬
َ ٌُ‫ار أَئِ ََّتِ ُك ِم اََّذٌِنَ ت ُ ِِبونَ ُه ْم َوٌ ُِِبونَ ُك ْم َو‬
َ ‫َّللا‬
.....‫ار أَئِ ََّتِ ُك ِم اََّذٌِنَ ت ُ ْب ِغضُونَ ُه ْم َوٌُ ْب ِغضُونَ ُك ْم َوت َْل َعنُونَ ُه ْم َوٌَ ْل َعنُونَ ُك ْم‬
ُ ‫صلونَ َعلَ ٌْ ِه ْم َو ِش َر‬
َ ُ ‫َعلَ ٌْ ُك ْم َوت‬
Artinya: Dari „Auf bin Malik Rasulullah Saw. bersabda: Sebaik-baik
pemimpinmu adalah mereka yang kamu sayangi dan menyayagimu
mereka mendoakan kamu dan kamu mendo‟akan mereka. Pemimpin
yang tidak baik adalah yang kamu benci dan membenci kamu, kamu
melaknat mereka dan mereka melaknat kamu.
Dalam hadis di atas dijelaskan bahwa pemimpin terbaik adalah pemimpin
yang menyayangi dan disayangi orang yang dipimpinnya, mendoakan dan
dido‟akan orang yang dipimpinnya. Ini menunjukkan bahwa pemimpin terbaik
adalah yang mendapatkan tempat dan dukungan dari komunitas yang dipimpin.
Sebaliknya pemimpin yang terjelek adalah pemimpin yang membenci dan
dibenci orang yang dipimpinnya, dikutuk oleh dan mengutuk orang yang
dipimpinnya. Namun, dalam menghadapi pemimpin yang pada awalnya diangkat
tapi dalam perjalanan kepemimpinannya tidak baik Rasul di akhir hadis tersebut
memberikan arahan agar tetap memberikan dukungan dengan cara membenci
prilakunya yang menyimpang dari ketentuan Allah, dengan tidak menentang
dengan kekerasan terhadapnya. Bahkan dari dialog antara sahabat dengan Nabi
6
saw terlihat bahwa beliau tidak mengizinkan muslim mengangkat senjata terhadap
pemimpin yang menyimpang selama ia masih mengerjakan shalat.
Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin sekalipun, sebagai manusia biasa,
mempunyai potensi untuk berlaku tidak benar, sehingga komunitasnya
mempunyai kewajiban untuk mengingatkan bukan untuk memberontak. Hal itu
terlihat jelas dari aturan Rasul berikut:
‫سلَّ َم قَا َل ِإ َّن َِ ْن أ َ ْع َظ ِم ا ْل ِجهَا ِد َك ِل ََةَ َع ْد ٍّل ِع ْن َد‬
َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ٌْ ِه َو‬
َ ً‫َع ْن أ َ ِب‬
َ ً
ّ ‫س ِعٌ ٍّد ْاَ ُخد ِْر‬
َّ ‫ي ِ أ َ َّن اَنَّ ِب‬
18
َ ‫س ْل‬
‫ان َجائِ ٍّر‬
ُ
ٍّ ‫ط‬
Artinya: Dari Abi Sa‟id al-Khudri ses8ngguhnya Rasulullah Saw.
bersabda: Sesungguhnya jihad terbesar adalah perkataan/pernyataan
bijak terhadap pemimpin yang menyeleweng.
Dalam hadis di atas terlihat bahwa salah satu bentuk dukungan adalah
dengan cara peringatan yang diberikan berupa kata bijak, dalam hal ini
memberikan nasehat, kritik dan saran secara baik terhadap pemimpin yang
menyeleweng dari jalan Allah termasuk salah satu bentuk jihad yang terbesar.
Dalam menghadapi kesewenangan pemimpin yang lalim, dengan cara
mengingatkan mereka bukan dengan cara memerangi atau menentang dengan
kekerasan atau pun kudeta.
Berdasarkan hadis tersebut dan untuk menjaga agar dalam suatu
masyarakat atau wilayah tetap ada pemimpin, para ahli Fiqh sepakat siapa saja
yang telah menetapkan pemimpinnya haram hukumnya menentang atau
memeranginya19 Hal ini agaknya sebagai konsekwensi dari aturan sebelumnya
yaitu pemimpin diangkat bukan atas dasar permintaannya sendiri dan itu artinya
diminta atau dipilih atau ditunjuk sebagai pemimpin. Sehingga tidak pantas untuk
memerangi dan menentangnya jika kemudian ada yang tidak berkenan.
4. Empaty terhadap Keamanan dan Kesejahteraan Rakyat
Pemimpin merupakan sosok yang diharapkan dapat memberikan
perlindungan, memikirkan kepentingan yang dipmpin, dan dapat memberikan
solusi terhadap permasalahan yang dihadapi. Berbeda dengan bayangan orang
bahwa pemimpin adalah perolehan berbagai fasilitas, dalam Islam tugas pemimpin
adalah memberian pelayanan kepada masyarakat yang dipimpinnya.
Rasul dengan tegas dan jelas memberikan ancaman kepada pemimpin yang
tidak mengemban amanah dalam hadis, bahwa : pemimpin yang sudah diserahi
tampuk pemimpin, namun ia tidak mengurus kepentingan masyarakat atau tidak
7
mperhatikan keamanan dan kesejahteraan masyarakat, jika ia mati maka haram
baginya surga.20 Dalam hadis lain, dengan redaksi yang berbeda, Rasul
menjelaskan bahwa pemimpin yang seperti itu tidak akan masuk surga bersama
mereka yang dizalimi hak-haknya.21
Pernyataan dan ancaman Rasul ini memberikan arahan bahwa ketika
seorang menjabat pimpinan, tidak dapat berlaku semaunya dan memikirkan
kepentingan pribadi atau golongannya saja. Akan tetapi ia harus memikirkan
kepentingan dan kesejahteraan yang dipimpinnya.
C. LOYALITAS TERHADAP PEMIMPIN
Sebagai penyeimbang dari beban tanggung jawab dan kewajiban yang harus
dipikul oleh pemimpin di atas, maka Islam memberikan arahan yang sangat
proporsional. Ada hak yang juga harus diterima oleh pemimpin, yang merupakan
kewajiban komunitas yang dipimpinnya.
1. Esensi loyalitas terhadap pemimpin
Sangat wajar dan manusiawi, jika pemimpin menginginkan orang yang
dipimpinnya memiliki loyalitas yang tinggi terhadap dirinya. Posisi yang
diterimanya mempunyai konsekwensi bahwa ia mempunyai hak untuk didengar,
dipatuhi oleh yang dipimpinnya.
Dalam banyak hadis, Rasul menempatkan kepatuhan kepada pemimpin
pada posisi kepatuhan kepada diri Rasul dan kepatuhan terhadap Allah. Dalam
sabdanya Rasul menyatakan bahwa siapa yang mematuhiku maka ia telah
mematuhi Allah. Sebaliknya, siapa yang mendurhakaiku berarti telah mendurhakai
Allah. Siapa yang mematuhi pemimpin, maka berarti ia telah mematuhiku.
Sebaliknya, jika ia tidak patuh pada pemimpin maka berarti tidak mematuhiku.22
Al-Khaththabi menjelaskan bahwa pemberian posisi pemimpin begitu
tinggi, karena Rasul menganggap penting masalah pemimpin ini. Di samping itu,
pada saat itu bangsa Quraisy, Arab umumnya tidak mengenal kepemimpinan, dan
yang dipatuhi hanya pemimpin di kabilahnya. Ketika Islam memperkenalkan
kepemimpinan lain, mereka tidak mengakuinya dan enggan untuk mematuhinya.
23
Al-Zarqani menukil pendapat Imam Malik dan Jumhur ahli Sunnah bahwa
bila seorang pemimpin berbuat zalim terhadap yang dipimpinnya, maka ketaatan
lebih utama dari pada menentangnya.
8
Tindakan menentang berimplikasi
munculnya rasa takut, terjadinya pertumpahan darah, berkobarnya peperangan dan
menyebabkan kerusakan. Dalam hal ini dituntut kesabaran terhadap ketidakadilan
dan kefasikan.24
Bahkan Rasul dalam hadis lain mewajibkan taat dan patuh kepada
pemimpin walaupun ia hanya memikirkan kepentingannya dan tidak menjalankan
tugasnya terhadap masyarakat dengan baik. Dengan alasan mereka akan
menanggung akibat dari pelalaian tanggung jawab.25
Hadis ini memrupakan respon yang sangat mengejutkan terhadap
pertanyaan yang diajukan sahabat jika ada pemimpin yang hanya menntut haknya
tapi tidak menjalankan kewajibannya. Setiap diajukan pertanyaan sampai tiga
kali, Rasul selalu menghindar. Pertanyan yang ketiga baru dijawab agar tetap
patuh dan taat.
Dari ketentuan di atas terlihat bahwa pemimpin memiliki hak sebagai
imbalan dari kewajiban yang begitu berat, sehingga loyalitas terhadap pemimpin
merupakan suatu keharusan bagi umat Islam. Bahkan seandainya ia tidak
menjalankan kewajiban pun.
Ketentuan di atas menunjukkan proporsional dan konsistensi aturan, untuk
pemimpin ia punya berbagai kewajiban yang merupakan hak bagi yang dipimpin.
Sebaliknya, yang dipimpin juga mempunyai kewajiban yang merupakan hak
pemimpin.
2. Batas Loyalitas terhadap pemimpin
Dari uraian terdahulu terlihat bahwa pemimpin bagaimana pun karakternya
harus tetap dipatuhi oleh masyarakat yang dipimpinnya. Masyarakat harus
memiliki loyalitas yang tinggi terhadap pemimpin. Namun ketentuan itu tidak
mutlak, karena ada kebolehan untuk tidak loyal terhadap instruksi, perintah
pemimpin yang bertentangan dengan misi Islam. Seperti instruksi untuk
melakukan perbuatan maksiat yang dilarang oleh Allah dan instruksi untuk
melakukan perbuatan yang dapat membahayakan jiwa dan atau raga, yang
diperintah oleh Allah untuk menjaganya.
a. Bukan untuk melakukan perbuatan maksiat
Dalam hadisnya, Rasul menyatakan bahwa setiap muslim harus taat dan
patuh dalam hal yang disenangi atau yang dibencinya, kecuali jika ia diperintah
9
untuk melakukan maksiat. Apabila seperti itu, tidak perlu patuh dan taat.
Terlihat bahwa like and dislike bukan aspek yang
26
dijadikan dasar dalam
kepatuhan terhadap pemimpin atau tidak, karena hal itu sangat subjektif. Masingmasing akan memiliki persepsi yang beda. Orang tertentu akan disenangi oleh
yang merasa bahwa kepentingan dapat dipenuhi dengan mudah dan orang lain
akan merasakan sebaliknya. Kebolehan tidak loyal dibatasi pada isi perintah,
instruksi untuk melakukan maksiat, bukan karena orangnya.
b. Bukan untuk melakukan perbuatan yang membahayakan jiwa raga
Dalam sebuah hadis dikemukakan bahwa Rasul mengangkat seseorang
sebagai pemimpin. Pengangkatan itu membuat ia mempunyai persepsi bahwa
apapun
instruksi
yang
dikeluarkan
harus
diikuti
oleh
anak
buahnya.
Kepemimpinan yang disalahpahami itu yaitu tentang kewenangannya Ketika ia
marah, anak buahnya diminta untuk membakar diri dengan kobaran api dari kayu
yang mereka cari sendiri. Respon yang diberikan Rasul terhadap laporan tersebut
bahwa loyalitas dalam hal yang ma‟ruf.27
Terlihat bahwa loyalitas terhadap pemimpin bukan didasarkan kepada
karakter personnya, tetapi lebih kepada instruksi atau perintah, aturan dan
kebijakan yang diberikan atau dikeluarknnya, yang bersentuhan langsung dengan
masyarakat. Kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat atau merugikan
masyarakat tidak mutlak harus dipatuhi.
Solusi yang dapat ditempuh apabila pemimpin memberikan kebijakan,
instruksi, aturan yang merugikan dan membahayakan masyarakat adalah dengan
cara audiensi antara pemimpin dengan yang dipimpin untuk membicarakan secara
bijak.
D. PENUTUP
10
Hubungan pemimpin dan yang dipimpin tidak terlepas dari adanya kewajiban
salah satu pihak yang merupakan hak pihak lain, sehingga aturan yang mengatur
tentang hal itu secara komprehensif harus diungkap agar aturan tersebut tegas dan
jelas. Aturan yang tidak sefihak, tetapi menyentuh semua yang telibat di dalamnya.
1
Abu al-Fath Muhammad bin Abd al-Karim bin Abi Bakr Ahmad al-Syahrastani, al-Milal wa al-
Nihal, (Mesir: Mustafa al-Bab al Halabi wa Auladuh) juz 1, h. 24.
2
3
Q.S. al-Baqarah/2: 30 dan Q.S. Shad/38: 26.
4
Q.S. al-An‟am/6:55, Q.S.Yunus/10: 14 dan 73 dan Q.S.Fathir/35:39.
5
Abu al-Husain Ahmad Ibn Faris bin Zakariyya, (selanjutnya di sebut Ibn Faris) Mu’jam Maqayis al-
Lughat, jilid 4, Mesir: Mushthafa al-Babi al-Halabi wa Syarikah, 1972/1392, h. 210 dan al Raghib alIshfahani, Mufradat Alfaz Al-Qur'an (Beirut: Al-Dar al-Syamiyah, 1412/1992) , h. 238
6
Ibid.h. 294.
7
Ibn Faris, op.cit., juz 3, h. 95
8
ibid., h. 420
9
ibid.,
10
11
Muslim, kitab imarah, no. 3405, Abu Daud, kitab al-Washaya, no. 3607 dan al-Nasa‟i, kitab al-
Washaya, no. 2484.
12
Al-Raghib al-Ishfahani, op.cit., h. 506-507
13
Syihabuddin Abi al-Fadl Ahmad bin Ali bin Hajar al-‟Asqalani, Tahzib al-Tahzib, juz 11, India:
Dairat al-Ma‟arif, 1327, h. 90-91, Abu Muhammad bin Ahmad bin Sa‟id bin Hazm al-Thahiri, Asma’
al-Shahabah al-Ruwah, .Beirut: Dar al-Kutub al-‟Ilmiyyah, 1412/1992, h. 47 dan Khalid Muhammad
Khalid, Rijal Haul al-Rasul, Beirut: Dar al-Fikr, tt., h. 59-78
14
Al-Bukhari, kitab al-Aiman wa al-Nuzur, no. 6132, kitab Kaffarat aiman, no. 6227, kitab ahkam,,
no. 6613-6614, Muslim, kitab al-Imarah, no. 3401, 3404 dan 3405, al-Tirmizi, kitab aiman wa nuzur,
no. 1449, al-Nasa‟i, kitab adab al-Qudhah, no. 5289, Abu Daud, kitab al-Kharaj wa al-imarah wa alFai’, no. 2540, al-Darimi, kitab al-Nuzur wa al-aiman, no. 2241, dan ahmad bin hanbal, musnad alBashriyyin, no. 19704, dan 19712.
15
Muslim, Shahih Muslim, jld 3, h. 1457
16
ibid.,
17
Muslim , ibid., h. 1456
18
Al-Turmuzi, op.cit., juz 3, h. 318, Menurut al-Turmuzi Hadis ini ¦asan gar³b dari jalur ini.
Hasan gar³b dalam khasanah al-Turmuzi adalah penggabungan antara kualitas sanad dan
11
atau Hadis dengan jalur sanad. Dalam Hadis ini dinyatakan gar³b karena hanya satu jalur
sanad. Sedangkan pernyataan ¥asan karena kualitas sanadnya tidak sampai pada tingkatan
¢a¥³¥. Mu¥ammad „Ajj±j al- Kha¯³b, U،­l al-¦ad³£ ‘Ul­muh wa Mu،¯ala¥uh, (Beirut: D±r
al-Fikr, 1979 M/ 1409 H.), h. 335-336. Penilaian ¥asan itu mungkin karena salah seorang
sanadnya yaitu „A¯iyyah(w. 111 H.) dinilai «a’³f dan layyin oleh pra kritikus periwayat
Hadis. Lihat al- ,³baha‫ھ‬op.cit., juz 5, h. 100-101. Hadis ini juga diriwayatkan Ibn Majah,
op.cit., juz 2, h. 1329, dan Ahmad bin Hanbal op.cit., juz 3, h. 19, juz 4, h. 314, juz 5, h. 251
dan 256. Pada jalur sanad Ahmad bin Hanbal, Ab- al-Na«rah (w. 109 H.)salah seorang
murid Ab­ Sa‟id dinilai ‫ ثقة‬oleh semua kritikus periwayat Hadis, lihat al-‟Asqal±n³,juz 10,
h. 302-303. Dengan demikian kualitas Hadis ini ¢a¥³¥. Skema lengkap jalur Hadis ini
terlampir pada lampiran I. 12.
19
Ibn Qudamah, alMughni, juz 8, h. 104.
20
Al-Bukhari, ibid., kitab ahkam, no. 6617 dan 6618 dan Muslim, ibid, no. 3409 dan 3410
21
Muslim, ibid.
22
Muslim, ibid., h. 1466
23
Seperti yang dinukil oleh al-Nawawi dalam ibid.,
24
Al- Zarqani, al- Muwaththa’ li al-Zarqani, juz 2, h. 292.
25
Muslim, op.cit., h. 1474-1475
26
Muslim, op.cit.,h. 1469
27
ibid.,
BIBLIOGRAFI
Abu Daud, Sunan Abi Daud,
Ahmad bin hanbal, Musnad Imam Amad bin Hanbal
al-Bukhari, Shahih al-Bukhari
al-Darimi, Sunan al-Darimi.
Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad, Mu’jam Maqayis al-Lughat, jilid 4, Mesir: Mushthafa al-Babi alHalabi wa Syarikah, 1972/1392
Ibn Hajar, Syihabuddin Abi al-Fadl Ahmad bin Ali al-‟Asqalani, Tahzib al-Tahzib, juz 11, India:
Dairat al-Ma‟arif, 1327.
Ibn Hazm al-Thahiri, Abu Muhammad bin Ahmad bin Sa‟id, Asma’ al-Shahabah al-Ruwah, .Beirut:
Dar al-Kutub al-‟Ilmiyyah, 1412/1992.
Ibn Majah, Sunan Ibn Majah., juz 2, Indonesia: Maktabah Dahlan, tt.
Ibn Qudamah, alMughni, juz 8,
al-Ishfahani, al Raghib al-, Mufradat Alfaz Al-Qur'an, Beirut: Al-Dar al-Syamiyah, 1412/1992.
12
Khalid, Khalid Muhammad, Rijal Haul al-Rasul, Beirut: Dar al-Fikr, tt.
al- Kha¯³b, Mu¥ammad „Ajj±j, U،­l al-¦ad³£ ‘Ul­muh wa Mu،¯ala¥uh, (Beirut: D±r alFikr, 1979 M/ 1409 H
Muslim, Shahih Muslim,
Nasa‟i, Sunan Al-Nasa’i,
Syahrastani, Abu al-Fath Muhammad bin Abd al-Karim bin Abi Bakr Ahmad al-, al-Milal wa alNihal, juz 1, Mesir: Mustafa al-Bab al Halabi wa Auladuh, tt.
al-Tirmizi, Sunan al-Turmuzi,
al-Zahab³, juz 5,
al-Zarqani, al- Muwaththa’ li al-Zarqani, juz 2
13
Fly UP